zac-durant-FGrlQJs-dos-unsplash

Rasa Cinta dan Derita pada Dakwah

Tanya: Bagaimana metode mendapatkan hati manusia yang dilakukan Rasulullah dan para Ashabul Kiram, sebagai sosok yang senantiasa hidup dengan kecintaan dan nyeri tabligh? Apakah perjuangan mencari dada yang bisa memahami diskusi selama 30-40 menit dalam sebuah perjalanan kereta api pun dihitung sebagai cerminan dari cinta dan rasa sakit itu? Apa peran dari pendekatan individu (dakwah fardiyah) dalam usaha ini?

Jawab: Ya, diriwayatkan bahwa Rasul & Ashabul Kiram senantiasa hidup dalam semangat tablig & menanggung deritanya. Pertama-tama, sangat penting untuk meyakini urgensi berdakwah dan yakin akan adanya ganjaran yang dijanjikan kepada para pelaku dakwah. Ya, mereka meyakininya. Seberapa percaya? Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah hari ini akan datang hari esok. Mereka lebih percaya pada dakwah daripada pada fakta bahwa setelah matahari tenggelam malam akan tiba.

Matahari bisa saja tidak terbit, malam bisa saja tidak datang. Seberapa besar kemungkinannya matahari tidak terbit dan malam tidak datang? Mungkin hanya 1/1triliun. Kemungkinan itu muncul seperti saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan matahari sebagai salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga malam pun tidak datang. Atau kiamat pecah, sehingga malam tidak datang karena yang datang adalah hal lain.

Namun, mereka sangat percaya pada tujuan mereka sehingga mereka mempercayainya dengan pasti seperti percaya pada hasil hitungan matematika. Mungkin terdapat keraguan pada hasil hitung dua kali dua sama dengan empat. Akan tetapi, kami tidak ragu pada akhir perjalanan kami. Kami tidak sedikit pun ragu pada yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami. Mereka meyakini hakikat itu. Ini adalah perkara yang sangat penting.

Mungkinkah kepercayaan ini muncul secara tiba-tiba? Allah ketika mengutus Rasulullah di waktu yang sama Dia juga mengirim orang-orang yang akan menyambutnya. Anda tidak bisa menjelaskan perkara ini dari sudut pandang lainnya. Rasulullah dibekali mungkin dengan satu ayat atau satu surat. Rasulullah mengambil pesan ini dengan semangat untuk menyampaikan apa saja yang dijanjikan oleh pesan ini kepada orang lain. Beliau menyampaikannya kepada Sayyidah Khadijah.

Semoga Ummul Mukminin Khadijah mengampuni kita dan berkenan memasukkan kita dalam naungan pengayomannya. Semoga beliau berkenan mengusap rambut kepala kita di akhirat nanti. Dan mengakui kita sebagai anak-anaknya, insya Allah.

Tanpa keraguan, ia meletakkan telapak tangan di dadanya dan berkata: “Sampaikan kepadaku…! Sekali-kali Allah tidak akan merendahkanmu! Sesungguhnya engkau menyambung hubungan keluarga, menafkahi kerabat, dan membantu orang-orang tidak mampu. Memberikan jamuan kepada tamu serta menolong orang-orang yang tertimpa musibah. Allah tidak akan mengizinkan setan mengganggumu, mereka tidak akan membuatmu tenggelam dalam khayalan. Tidak bisa diingkari lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilih engkau untuk memberi petunjuk kepada kaummu. Jalan yang engkau tempuh selalu merupakan jalan menuju kekamilan.. Ufukmu senantiasa merupakan ufuk yang agung…” Ini merupakan respon dan pemikiran yang luar biasa. Dialah orang yang pertama kali menghibur Rasulullah.

Orang yang kedua adalah Sayyidina Abu Bakar. Dia adalah orang yang pertama kali ditemui Rasulullah ketika keluar rumah pasca beliau menerima wahyu. Ia adalah sosok yang dikenal dan sering membersamainya sejak masa kecilnya. Jarak umurnya 2-3 tahun lebih muda. Beliau menanyai Sayyidina Abu Bakar: “Kepada siapakah akan kusampaikan pesan ini?” Sayyidina Abu Bakar menjawab tanpa ragu: “Kepadaku Ya Rasulullah!”

Ketika melihat peristiwa itu dari perspektif ini, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengirimkan sosok yang akan membawa pesan yang akan mengubah warna dunia, ketika Allah mengirimkan seorang insan kamil untuk membawa pesan agung ini, sejak awal Dia menyiapkan sosok-sosok dengan karakter khusus yang akan menyambut pesan dari utusan-Nya. Demikianlah Allah memprogram dan menakdirkannya. Beberapa dari mereka hanya membutuhkan satu ayat untuk melejit, misalnya Abu Bakar, Ali, dan Usman radhiyallahu anhum. Tiga-empat tahun kemudian Sayyidina Umar menyusul. Demikian juga para Asyarah Mubasyarah, mereka semua merupakan sahabat muhajirin. Anda juga dapat mengkaji mereka dengan kriteria yang serupa.

Faktor kedua, seperti yang dibahas Badiuzzaman, yaitu faktor insibag (celupan). Kepada siapa pun Rasulullah menggoreskan kuas pesan, perasaan, dan pemikirannya, seakan mereka yang digores mengalami proses melangit. Mereka yang menyaksikan sikap, perilaku, dan tatapan matanya akan berseru: “Tidak ada kebohongan padanya”. Apabila mereka yang menyaksikannya tidak memiliki praduga, mereka akan takjub & jatuh hati kepadanya. Dan berseru: “Beliau sosok terpercaya yang layak untuk diyakini”. Demikianlah besaran kekuatan magnetnya. Mereka yang tadinya hidup di dalam jelaga hitam pun seketika rontok noda-nodanya. Seakan disucikan oleh telaga kautsar di surga sehingga mereka layak bersanding bersama malaikat. Teruntuk mereka yang meyakini adanya kehidupan setelah mati dengan segala kriterianya dan mereka yang meyakini Rasulullah serta pesan-pesan yang dibawanya, sungguh terdapat ganjaran atas apa yang mereka yakini sebagai kabar gembira yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, terdapat ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Di satu sisi, mereka yang meyakininya akan berangkat menuju kebahagiaan abadi. Mereka menjadi calon orang beruntung yang akan menyaksikan jamaliyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berangkat menuju ufuk untuk meraih rida Allah. Sedangkan mereka yang tidak meyakininya akan mendapat hal yang sebaliknya. Jika kelompok yang satu melangit, menyerupai malaikat, berangkat menuju derajat malakut. Maka kelompok yang ini akan terpuruk dan tergelincir ke derajat asfala safilin. Kini jika kita melihat perbedaan dari dua keadaan ini secara bersamaan, maka kelompok yang berhati bersih ini akan dengan penuh semangat menyebarkan pesan-pesan ini kepada manusia. Aku tidak bisa menggunakan analogi yang sama untuk Rasulullah. Namun, Al Qur’an menjelaskan kondisinya dalam dua ayat Fa la’allaka bākhi’un nafsak (QS al Kahfi 18:6) yang artinya Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu”

Beliau sangat ingin agar umatnya memilih jalan yang pertama supaya umatnya melejit ke derajat ‘alaya iliyin, supaya umatnya dimuliakan dengan surga. Dengan demikian mereka akan dimahkotai kesempatan menyaksikan jamaliyahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau berharap umatnya untuk meyakininya sehingga mereka pun menjadi layak dimahkotai dengan Ridwan. Beliau berseru “Orang ini juga harus yakin/beriman… Orang itu juga harus yakin/beriman…” . Bukan seperti apa yang dikatakan sebagian teolog islam masa kini: “Allah juga punya neraka. Buat apa kamu terlalu semangat berdakwah dan mengundang orang-orang?” Ungkapan ini merupakan wujud ketidaksadaran diri dan ketidakpahaman akan makna neraka.

Nadanlar eder sohbeti nadan ile telezzüz

Divanelerin hemdemi divane gerektir.

Hanya orang tak berilmu yang menikmati perbincangan dengan orang dungu.

Dan kawan orang gila adalah juga orang yang tak berminda.

Ziya Pasa

Di sisi lain, orang-orang yang tidak beruntung berarti kehilangan kebahagian abadinya. Sebagaimana dibahas dalam tafsir. “… Lābiṡīna fīhā aḥqābā.”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya (QS An Naba 78:23)

Serta ayat: Innallażīna kafarụ bi`āyātinā saufa nuṣlīhim nārā, kullamā naḍijat julụduhum baddalnāhum julụdan gairahā liyażụqul-‘ażāb, innallāha kāna ‘azīzan ḥakīmā,  Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab (QS. An-Nisa 56). Ya, Setiap kali kulitnya hangus, Allah akan ganti kulitnya dengan kulit yang lain sehingga mereka bisa merasakan azab.

Ketika melihat gambaran dari ancaman ini, hati kita bergidik “Ampun Ya Allah..!” Ternyata kita harus merangkul dan menyelamatkan orang-orang. Kini menghadapi masalah yang demikian jika Anda masih memiliki hati nurani, Apakah Anda tidak akan membunuh diri Anda sendiri seperti yang dirasakan oleh Rasulullah? Inilah yang dirasakan dan dipikirkan para sahabat. Di satu sisi mereka memandang surga dengan mata kepalanya. Mereka tidak akan menyia-nyiakannya. Di sisi lain mereka menyaksikan neraka seperti digambarkan oleh Al Qur’an. “Ampun beribu ampun! Jangan sampai Allah menjebloskan kita ke tempat ini!” Jangan sampai satu orang pun jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, kita harus mengulurkan tangan.

Kemudian ia tidak menikmati waktu untuk pribadinya. Ia menggunakannya untuk kebutuhan orang lain. Mereka rela mati asal orang lain bisa bangkit hidup. Mereka hidup untuk orang lain. Hidup yang tak digunakan untuk hidup orang lain tak layak disebut hidup. Hidup yang demikian adalah hidup yang rugi. Dan mereka tak tinggal diam di derajat yang rendah itu. Mereka selalu hidup di derajat alaya iliyyin, menuju kekamilan hidup.

Pertama-tama, permasalahannya perlu ditinjau dari sudut pandang ini. Demikianlah Rasulullah dan ashabul kiram hidup dalam semangat dan pilunya dakwah dan cara memenangkan hati manusia.

Selain itu, yang ketiga adalah mulayamah (lemah lembut). Ia merupakan faktor penting lainnya. Ia dibahas dalam Al-Qur’an dalam bentuk anjuran kepada Nabi Musa supaya berlaku dengan Qawl Layyin. Jika Anda menunjukkan kebaikan, kelembutan, dan toleransi dalam wajah dan pemikiran Anda, jika Anda memiliki rasa hormat terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, pihak lain tidak akan tidak menghormati Anda, mereka juga akan menghormati Anda. Ini akan menjadi kisah penuh hormat yang disampaikan kepada pihak yang penuh rasa hormat juga. Ia disebut Qawl Layyin, yaitu tutur kata yang lembut.

Misalnya Anda pergi menemui Amenophis II atau Firaun. Lalu Anda berseru: “Wahai orang merugi yang merasa dirinya adalah tuhan! Saya mengundangmu kepada hidayah. Jika menolak, dirimu akan dijebloskan ke dalam neraka.”

Namun, perintah Al-Qur’an berkata: “Fa qụlā lahụ qaulal layyinal la’allahụ yatażakkaru au yakhsyā ~ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha 44)”.

Dengan adanya perintah ini, maka kita perlu sesuaikan apa yang akan kita sampaikan. Mungkin disampaikan: “Wahai hamba Allah…”

Saya rasa pemilihan kata yang tepat juga merupakan faktor yang sangat penting. Apabila Anda merangkul semua orang, termasuk kepada mereka yang menghina Anda, maka alam semesta pun akan merangkul Anda. Lewat pendekatan Rumi dan Yunus Emre kita rangkul semua orang. Kita harus mampu berkata:”Nilai yang saya yakini telah mentarbiyah sikap saya.” Bukankah ini cukup meyakinkan?

“Saya pun juga seorang manusia, saya pun bisa marah. Namun nilai yang saya yakini telah membentuk karakter saya sedemikian rupa. Meskipun Anda menghina saya sedemikian rupa, saya tetap ingin merangkul Anda.”

Pada akhirnya, mereka juga manusia; Sebagai apresiasi mereka pun akan memberi respon positif. Apalagi dengan beragamnya perbedaan yang ada dewasa ini. Misalnya perbedaan agama, mazhab, dan suku. Di satu sisi kita perlu menutup mata pada perbedaan tersebut untuk kemudian mengundangnya minum teh. Kita pun perlu datang juga memenuhi undangannya, atau mengunjunginya sambil membawa bingkisan. Kita juga bisa memanfaatkan hari-hari besar agama.

Contoh lainnya bisa Anda tambah sendiri. Misalnya kita membuat program untu memperingati waktu wahyu pertama turun atau lazim disebut Nuzulul Qur’an. Itulah hari di mana pintu langit dibuka kepada kita. Kita harus memaksimalkan dan manfaatkan hari ketika wahyu pertama turun di singgasana Hira tersebut melalui peringatan yang penuh makna.

Contoh berikutnya, kita buat peringatan hari di mana Rasulullah diboikot misalnya.

Berikutnya yaitu peringatan Maulid Nabi. Tentu program maulid kita sudah rutin melakukannya; atau peringatan Isra Mikraj.

Contoh berikutnya, membuat peringatan wafatnya Sayyidah Khadijah. Dalam program tersebut kita bsia membaca manaqibnya. Kita sampaikan kisah hidup Ummul Mukminin yang agung.

Contoh berikutnya, membuat peringatan tahun baru hijrah yang dimulai perhitungannya pada masa Sayyidina Umar. Ketika membahas tahun baru hijriah otomatis kita akan membahas kemuliaan hijrah. Hijrah merupakan awal keberadaan dan awal pembentukan negeri madani. Di dalamnya terdapat peristiwa dipersaudarakannya muhajirin dan ansar, serta hal agung lainnya.

Kita bisa memanfaatkan beragam peristiwa serupa. Misalnya iduladha, idulfitri, nisfu syaban, dsb. Di masyarakat kita terdapat penghormatan terhadap hari-hari besar itu. Itu juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menyampaikan rasa hormat kepada hari-hari besar tersebut. Di hari tersebut bisa kita bawakan bubur sumsum, bubur candil, bubur baro-baro, dsb. Kita masakkan juga rendang, dan nasi liwet. Melalui sarana ini kita coba menunjukkan bahwasanya kita dekat. Kunjungan ini kita jadikan sebagai jembatan penghubung. Dengan jembatan yang dibangun itu mereka pun bisa datang mengunjungi kita. Di hari berikutnya Anda akan menyaksikan mereka membawakan teh dan kopi untuk Anda. Saya pikir hal-hal ini sangatlah penting untuk mengenalkan dunia Anda, Wallahu alam.

narrow-street-of-jerusalem-at-night-2021-08-30-02-12-28-utc

Mensyukuri Hadiah Mi’raj

Cara mensyukuri hadiah Mikraj adalah beribadah sampai pagi tiba[1]

Cemil Tokpınar

Agenda kita sangat padat. Acara-acara menarik datang satu demi satu. Coronavirus lalu datang di tengah kesibukan tak terhitung masyarakat dunia. Ia telah berhasil menarik perhatian seluruh dunia kepada dirinya. Nyawa terasa manis. Betapa indahnya hidup. Tidak ada satu pun manusia yang mau mati.

Itulah sebabnya setiap hari semua orang belajar informasi baru tentang penyakit ini. Mereka mencoba menerapkan informasi tersebut, memperhatikan kebersihan pribadi, memperkuat sistem kekebalan tubuh, berolahraga, tidak meninggalkan rumah, menyimpan makanan, dan entah apa lagi yang telah lakukan.

Meskipun semua itu dilakukan, umur kehidupan yang bisa tetap dijalani dengan produktif maksimum bisa dilakukan hingga kita berusia 70 sampai 80 tahun. Tentu saja melindungi nyawa dan kesehatan merupakan kewajiban kita sebagai manusia. Ia juga merupakan bagian dari perintah agama.

Namun, sebagaimana kita memberi perhatian besar kepada kehidupan dunia yang sementara ini bukankah seharusnya kita juga memberikan perhatian besar kepada kehidupan abadi kita nanti? Selain itu, bukankah virus ini telah menunjukkan ketidak berdayaan manusia, betapa fana-nya dunia, serta betapa besar nikmat kesehatan yang kita miliki?

Persis ketika berada di dalam pemikiran-pemikiran seperti ini, satu demi satu datang kesempatan untuk mengubah kehidupan yang fana menjadi kehidupan yang abadi. Pertama-tama, kita kedatangan rangkaian penuh kesempatan untuk meraih pahala dan berkah, yaitu Tiga Bulan Suci yang mulia.  Kita baru saja menjalani malam raghaib di awal Februari kemarin. Sedangkan hari senin lusa, insya Allah kita akan menghidupkan malam mikraj, insya Allah.

Beliau naik ke puncak kebahagiaan di tahun kesedihan (amul huzni)

Satu setengah tahun sebelum peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah, Nabi kita SAW menjalani salah satu mukjizat terbesar di malam ke-27 bulan Rajab, yaitu Isra dan Mikraj. Peristiwa mikraj yang terjadi setelah kematian sosok-sosok yang paling dicintai oleh Rasulullah yaitu wafatnya istri beliau, Sayyidah Khadijah, dan  pamannya Abu Talib sangatlah bermakna. Sang Pencipta menghibur Rasulullah dengan menjamunya di hadapan-Nya. Dia memuliakannya dengan rahmat-Nya yang paling agung.

Apabila datang masa di mana kepedihan demi kepedihan datang beruntun yang membuat diri ini menggeliat dengan kepedihan dan keprihatinannya lalu kita bertawajuh kepada Sang Pencipta memohon rahmat dan tajali inayat-Nya apakah kita akan terhalang dari pertolongan-Nya?

Demikianlah, pada malam itu Malaikat Jibril datang dan membawa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di al Quds dengan mengendarai Buraq.  Ia menjemputnya dari Masjidil Haram dan membawanya ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem dengan mengendarai Buraq. Dari sana, beliau dibawa ke langit untuk ditunjuki ayat-ayat dan bukti-bukti ke-Mahakuasa-an Allah SWT. Di setiap level langit Beliau dipertemukan dengan para nabi.

Setelah itu, beliau tiba di maqam qāba qausaini (sejarak dua ujung busur panah, An Najm 53: 9).“ Beliau diperlihatkan beragam hal luar biasa. Beliau menyimak kalam-Nya yang kita tidak bisa ketahui komposisinya, melalui cara yang tidak bisa kita pahami, dari Dia yang suci dari tempat dan waktu secara langsung. Beliau menyaksikan jamaliyah-Nya yang tanpa akhir. Mikraj menurut konsep waktu kita berlangsung begitu singkat sehingga beliau pun pulang ke kediamannya yang mulia pada malam yang sama.

Senin malam esok lusa merupakan malam terjadinya mukjizat mikraj ratusan tahun yang lalu. Malam ini adalah malam yang luar biasa, malam di mana Sang Pencipta menyambut Nabi Besar Muhammad al Mustafa SAW baik secara jasmani sekaligus secara ruhani. Malam di mana Dia mengajaknya bertemu, berbicara, serta menunjukkan  nikmat dan kabar gembira yang tak terhitung banyaknya.

Isra dan Mikraj dalam Quran

Langkah awal mukjizat mikraj hingga tiba di Masjidil Aqsa dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..” (Surah Isra’, 17:1).

Langkah kedua dari mikraj adalah ketika Nabi Muhammad SAW memulai perjalanannya dari Masjidil Aqsa menuju seluruh tingkatan langit hingga akhirnya beliau tiba di hadapan ilahi. Bagian ini juga diceritakan dalam Surat Najm sebagai berikut:

“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (Surah Najm, 53: 7-18)

Tiga anugerah besar telah diberikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW pada malam ini. Ini merupakan pertemuan terbesar dalam sejarah umat manusia. Tiga anugerah tersebut adalah: salat yang lima waktu, dua ayat terakhir surat Al Baqarah yaitu Amanarrasulu, dan yang terakhir yaitu anugerah di mana semua umat Rasulullah yang tidak syirik kepada Allah akan diampuni (HR Muslim, Iman: 279).

Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam hadisnya yang mulia, “Salat adalah mikrajnya orang mukmin”. Melalui hadisnya tersebut, beliau mengisyaratkan bahwasanya salat merupakan pertemuan, perjumpaan, dan perbincangan kita sebagai hamba dengan Sang Pencipta.

Amanarrasûlu: Ayat-ayat doa yang unik tiada banding

Kemuliaan dua ayat terakhir dari Surat Al Baqarah yang juga merupakan salah satu anugerah yang didapat dari malam mikraj dijelaskan dalam sebuah hadis sebagai berikut:

“Terdapat dua ayat di akhir surat Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya (untuk kebutuhan hidupnya di dunia maupun akhirat atau untuk Al Quran yang akan dibacakannya di malam tersebut), maka cukuplah hal tersebut baginya. (HR Bukhari, Fadailul-Qur’an: 10)

Beberapa ulama menjelaskan bahwa ungkapan “cukup” di sini adalah “menghidupkan malam”.

Rasulullah SAW dalam hadis lainnya menyampaikan urgensi dari mempelajari maupun mengajarkan dua ayat ini:

“Allah Yang Mahakuasa menutup Surat Al-Baqarah dengan dua ayat ini. Barang siapa membacanya akan diberikan pahala dari perbendaharaan Arsy A’la. Pelajarilah dua ayat ini, ajarkan ia kepada wanita-wanita dan anak-anakmu.”

Itu berarti mempelajari dan mengajarkan dua ayat tersebut merupakan perintah dari Rasulullah SAW. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk mengingatkan keluarga dan orang-orang terdekat kita dan mendorong mereka untuk mempelajarinya.

Sekali lagi terdapat berita gembira dalam hadis luar biasa berikut ini:

“Allah SWT 1000 tahun sebelum menciptakan menciptakan bumi dan langit menulis sebuah kitab. Ia menurunkan dua ayat dari kitab tersebut. Dua ayat tersebut dijadikan sebagai akhir dari surat Al Baqarah.  Jika ayat-ayat itu dibaca selama tiga malam di sebuah rumah, maka setan tidak akan mendatangi rumah tersebut. “ (Tirmizi, Sawwabul-Qur’an: 4)

Mukjizat Mikraj membuktikan bahwa semua prinsip iman, terutama keberadaan dan keesaan Sang Pencipta merupakan kebenaran dan hakikat. Ini karena Nabi Muhammad SAW yang sepanjang hidupnya senantiasa berbicara tentang kebenaran dan hakikat serta tidak pernah berbohong meski bercanda sekalipun menyampaikan bahwa dirinya menemui Sang Pencipta dan telah melihat akhirat dengan mata kepalanya sendiri.

Bagaimana mungkin Sang Muhbir Sadiq SAW yang tidak pernah berbohong bahkan dalam hal paling remeh sekali pun di sepanjang hidupnya kemudian akan berkata bohong dalam perkara besar seperti ini? Ya, sebagaimana dia telah melihat hakikat dan kebenaran, dia pun mengatakan hakikat dan kebenaran.

Ibadah apa yang harus kita lakukan di malam ini?

Kita harus menghidupkan malam mikraj dengan Al-Qur’an, salat sunah, dan doa. Sedangkan pagi harinya kita lanjutkan dengan berpuasa. Supaya kita bisa tahan begadang di malam harinya, hendaknya kita beristirahat dengan cukup sebelum malam tersebut tiba. Jika dimungkinkan, lakukan tidur qailullah. Setelah makan malam, kita bisa mengonsumsi sesuatu yang bisa mengusir kantuk seperti teh dan kopi. Saat kantuk tiba, kita bisa menyegarkan diri dengan memperbaharui wudu.

Meskipun keesokan hari dari malam mikraj adalah hari selasa, amatlah dianjurkan untuk berpuasa di hari senin dan selasanya. Mereka yang berhalangan bisa saja berpuasa hanya pada hari senin atau hari selasanya saja. Mereka yang lebih banyak berpuasa akan mendapat pahala lebih juga.

Malam tersebut yaitu senin malam harus kita hidupkan dengan Al-Qur’an, salawat, tobat dan istigfar, serta salat dan doa. Untuk ini perlu dilakukan persiapan dan perencanaan terlebih dahulu. Dari segi motivasi, alangkah baiknya jika bisa menghabiskan malam dalam sebuah program yang diikuti banyak orang. Akan tetapi, karena kita harus berhati-hati terhadap penularan virus corona, maka kita bisa membuat program tersebut di lingkup keluarga. Kita bisa memotivasi bahkan memberi penghargaan kepada anak-anak kita yang aktif sesuai proporsinya.

Dalam surat yang ditulis Badiuzzaman saat beliau dan murid-muridnya berada di Penjara Afyon, terdapat hal-hal menarik perhatian terkait ibadah-ibadah apa saja yang dapat dikerjakan di malam ini:

“Lailatul Mikraj layaknya Lailatul Qadar yang kedua. Ikhtiar maksimal yang bisa dikerjakan pada malam ini bisa diberi 1000 ganjaran.  Berkat rahasia perusahaan maknawi, insya Allah setiap diri kalian layaknya lisan 40.000 malaikat yang bertasbih, Anda pun di tempat pesakitan ini akan berdoa dan beribadah dengan lisan 40.000 orang di malam yang agung dan penuh pahala ini” (Syua ke-14)

Supaya peluang luar biasa ini tidak terlewatkan, mari kita manfaatkan malam tersebut sebagai berikut:

  1. Mari tidak mengabaikan penunaian salat fardhu secara berjamaah, yang diikuti salat sunah awwabin, tasbih, hajat, dan tahajud.
  2. Lakukan khataman Al Qur’an dengan jalan membagi-bagikan juz. Selain itu, kita juga bisa membaca surat-surat pilihan seperti Yasin, al-Fath, Ar-Rahman, Al-Mulk, An-Naba, dan Jausyan.
  3. Jika mampu, kita bisa mengkhatamkan Jausyan yang lengkap dan Al Qulubud Daria.
  4. Kita harus bertobat, beristigfar, dan mengirimkan banyak salawat kepada Baginda Nabi SAW.
  5. Di penghujung malam, kita perlu mengajak anggota keluarga bangun sahur dan membaca niat puasa bersama-sama. Dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah dan membaca tasbihat panjang.
  6. Di setiap kesempatan pada malam tersebut kita harus mendoakan negeri kita serta semua orang-orang tak berdaya, tak bersalah yang teraniaya dan terzalimi di seluruh penjuru dunia. Di setiap akhir salat dan wirid mari kita doakan kebahagiaan dan jalan keluar bagi mereka.
  7. Selain itu, mari kita bagikan informasi ini kepada teman-teman lainnya supaya kita menjadi sarana bagi orang lain untuk menghidupkan malam mikrajnya.

Sumber: Tr724 | Cemil Tokpınar

[1] Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/mirac-hediyelerine-sukur-sabaha-kadar-ibadetle-olur/

mengembangkandiri.com splashes-of-watercolor-paint-and-painting-supplies-2021-09-02-14-39-48-utc

Menyikapi Kesalahan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Kesalahan dan Cara Menyikapinya

Manusia adalah makhluk Tuhan yang tak bisa terhindar dari kekhilafan. Baik disengaja maupun tak disengaja, manusia melakukan kesalahan, manusia lupa dan alfa, manusia menyimpang dan melakukan dosa.

Kesalahan diidentikkan dengan perbuatan setan. Sebuah dosa atau kesalahan terjadi karena manusia mengikuti bujukan, rayuan, dan ajakan setan. Setelah manusia melakukan kesalahan, setan akan mengajak manusia melakukan pembenaran.

Bagi orang yang taat dan memiliki karakter kuat, setelah melakukan kesalahan, alih-alih mencari pembenaran, mereka akan kembali kepada Rabbnya untuk mencari pintu maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Dalam al-Quran ditegaskan,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q.S 3:135).

Memohon ampun ketika melakukan kesalahan bukan perkara mudah. Kesalahan akan membawa manusia kepada lingkaran fasid. Fasid adalah perbuatan, pekerjaan, isi hati yang rusak atau busuk. Berada dalam lingkaran fasid membuat manusia akan selalu berada dalam lingkungan yang rusak dan busuk. Hal ini menyebabkan manusia sangat rentan untuk terus melakukan kesalahan dan sulit keluar darinya.

Seperti kita ketahui, manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Dalam diri manusia terdapat sifat berlian dan juga sifat arang. Lingkungan yang akan menentukan sifat mana yang akan lebih dikedepankan. Jika manusia berada dalam lingkaran fasid, sudah barang tentu sifat buruklah yang akan lebih menonjol. Sifat arang akan lebih terlihat dan menutupi sifat berlian yang ada pada dirinya.

Setiap kesalahan yang dilakukan manusia akan membuat noda hitam dalam diri manusia. Noda yang akan membekas di benak manusia, sekecil apapun noda itu ditorehkan. Noda kecil akan membesar jika tidak segera dibersihkan. Oleh karenanya, sekecil apapun kesalahan tidak seharusnya diremehkan. Kesalahan yang besar maupun yang kecil sekalipun, seharusnya bisa dibersihkan dengan segera melakukan taubat dan permintaan ampun kepada-Nya.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, maka yang seharusnya dilakukan adalah bermuhasabah dan kembali kepada Rabbnya, meminta maaf dan bertobat dengan sebenar-benarnya. Namun sayangnya, terkadang kita melupakannya. Terkadang kita lebih sibuk melakukan pembelaan diri, merasa diri tak bersalah, dan melakukan pembenaran.

Kita seolah tidak menyadari atas kesalahan yang kita lakukan.

Jika muhasabah benar-benar dilakukan, maka akan terbentuk perasaan bersalah dalam diri. Seseorang yang sadar atas kesalahan yang dilakukan akan fokus mengarahkan dirinya untuk bertobat dan hidup dalam pengharapan untuk mendapatkan maaf dari Rabbnya walaupun ia sendiri tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan tersebut.

Oleh karenanya, agar terhindar dari melakukan kesalahan, manusia harus terus berhati-hati. Manusia seharusnya menghindar dari lingkaran fasid yang ada dihadapannya, menjauh dari perbatasan untuk masuk kedalamnya. Berjalan di perbatasan, sewaktu-waktu bisa membuat manusia tergelincir ke dalamnya, masuk ke dalamnya tanpa ia sadari.

Ya, terkadang kita memang tak sadar dalam melakukan kesalahan, tak sadar masuk ke lingkaran fasid yang bisa membuat kita justru melakukan pembenaran terhadap kesalahan yang kita lakukan. Bahkan bisa saja kita justru sibuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan.

Hal ini sesuai dengan sebuah kaidah bahwa seseorang yang sibuk dengan menyalahkan orang lain, tak akan mampu melihat kesalahan dirinya sendiri.

Seseorang yang selalu mencari-cari noda dalam diri orang lain, tak akan menyadari dirinya yang berada dalam kubangan lumpur yang penuh dengan noda.

Alhasil, kita harus sangat berhati-hati dalam kehidupan. Kita harus berusaha menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan dan kekhilafan. Kita juga harus menyadari bahwa kita hidup di dalam dunia yang licin, yang sewaktu-waktu bisa membuat kita tergelincir ke dalam kesalahan.

Selain itu, kita juga seharusnya bisa mengulurkan tangan kepada orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk tergelincir di tempat yang sama, karena inilah yang dibutuhkan dari keimanan dan kasih sayang kita kepada sesama manusia.

ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Membaca Risalah Nur Setiap Hari

Sebaiknya Dalam Sehari Kita Baca Risalah Nur Berapa Halaman?[1]

Penulis | Cemil Tokpınar

Beberapa tahun yang lalu, kami pernah bertamu ke rumah salah satu teman yang berprofesi sebagai seorang guru. Di rak bukunya terdapat set risalah nur.

Ketika senggang, kami membaca sebuah pelajaran dari buku tersebut.

Buku terlihat baru, masih mulus. Mungkin baru dibeli.

Karena penasaran, aku pun bertanya:

“Apakah Anda telah selesai membaca semua set buku risalah nur?”

“Belum” jawabnya.

“Apakah Anda telah menyelesaikan seri-serinya yang paling tebal? Misalnya al Kalimat, al Maktubat, atau judul risalah lainnya?” tanyaku lagi.

“Saya belum pernah menyelesaikan buku-buku yang tebal. Di program-program membaca, saya biasanya membaca atau menyimak buku-buku risalah yang tipis.

Rupanya ia sudah berkenalan dengan buku-buku Risalah Nur sepuluh tahun lamanya.  Apabila ia membaca sedikitnya sepuluh halaman per hari, pastilah dalam setahun ia telah menyelesaikan semua set setidaknya sebanyak satu kali.

Sebenarnya, ada beberapa contoh serupa yang saya temui. Pada diri pribadi, keluarga, dan lingkaran pertemanan dapat ditemui mereka yang sudah mengenal risalah nur tetapi belum cukup dalam membacanya.

Pada hari ini saya ingin membahas kuantitas dalam memaksimalkan pelajaran-pelajaran iman secara harian.

Waktu mengalir seperti air.

Hari-hari ketika kita tidak mampu menyisihkan waktu untuk membaca risalah nur akan ditulis sebagai kerugian dalam hidup kita. Karena membaca karya-karya tersebut menjadi sarana bagi peningkatan kualitas iman, ibadah, ikhlas, ketakwaan, dan akhlak, maka tidak membacanya akan meninggalkan kerugian yang amat serius.

Seberapa banyak kita membaca dalam sehari tergantung pada target yang kita tentukan. Pada hari ini, coba kita mulai dari target yang paling rendah.

Seperti yang Anda ketahui, setetes demi setetes lama-lama menjadi samudera.  Meskipun sedikit, apabila kita tidak mencicil apa yang kita targetkan maka kita akan kehilangan samudera.

Orang-orang di masa kini memiliki banyak kesibukan. Terdapat nasihat dan motivasi penting dari Ustaz Said Nursi tentang berapa banyak waktu yang harus kita curahkan untuk membaca atau menyimak Risalah Nur di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.

Dalam sebuah surat yang dikutip dalam Lampiran Emirdag (Emirdağ Lâhikası), Ustaz membahas sebuah peringatan spiritual yang diterimanya. Ketika memberikan motivasi untuk membaca setiap hari, Beliau memberikan kabar gembira yang luar biasa:

“Apabila seorang lelaki di rumahnya terdapat 4-5 anak, hendaknya ia mengubah rumahnya tersebut menjadi Madrasah Nuriyah. Apabila ia tinggal sendirian, ia bisa mengundang 3-4 tetangganya yang paling akrab dan mengondisikan tempatnya berkumpul sebagai Madrasah Nuriyah mini. Jika itu juga tidak memungkinkan, setidaknya ia menyisihkan waktu meskipun hanya 5-10 menit untuk membaca, menyimak, atau menulis risalah nur. Dengan demikian ia bisa mendapat pahala dan kemuliaan penuntut ilmu yang hakiki. Ia juga bisa meraih lima jenis ibadah seperti yang ditulis di risalah ikhlas. Dalam hatiku muncul peringatan bahwa sebagaimana para penuntut ilmu yang hakiki, muamalah agung yang mereka kerjakan untuk mendapat penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari pun dapat dianggap sebagai salah satu jenis ibadah.”

Apabila pernyataan tersebut memerlukan penjelasan ringkas, kita dapat melihat aktivitas membaca ini akan dilakukan dengan siapa, dimana, bagaimana, minimal seberapa banyak, dan kabar gembira bagi mereka yang melaksanakannya.

Bagaimana membaca buku dan dengan siapa saja:

Pertama-tama, ia disarankan untuk dilakukan bersama keluarga. Apabila ia tinggal sendirian, disarankan untuk membacanya bersama para tetangga. Apabila cocok, aktivitas menuntut ilmu ini bisa dilakukan baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman lainnya. Pernyataan ini juga dapat kita pahami bahwasanya proses membaca disarankan menggunakan metode muzakarah. Cara membaca yang demikianlah yang dianggap memenuhi kriteria membaca harian. Namun, apabila kesempatan seperti itu sulit untuk dilaksanakan, maka aktivitas membaca bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun ketika sempat.

Aktivitas membaca baiknya dilakukan di mana: 

Apabila ruang institusi resmi seperti pusat kebudayaan atau pun ruang belajar tidak tersedia, aktivitas membaca bisa dilaksanakan di rumah-rumah atau di mana saja boleh dilakukan, menyesuaikan dengan kondisi. Sebagai langkah antisipasi pandemi global yang sedang kita hadapi, alangkah indahnya jika kita berhasil mengkreasikannya dengan sistem digital dan menggubah seluruh penjuru bumi menjadi dershane.

Dalam satu hari sebaiknya membaca berapa halaman:

Dalam surat yang ditulis Ustaz tersebut, disampaikan sedikitnya membaca selama 5-10 menit. Bila kita konversi waktu 5-10 menit tersebut menjadi jumlah halaman, kita dapati dalam durasi waktu tersebut kita telah membalik 2-4 halaman. Apabila kebiasaan ini bisa dilakukan secara kontinu, maka ia bisa digunakan sebagai target harian. Ungkapan “setidaknya” menyampaikan pesan bahwa durasi ini bisa ditambah jika sedang senggang.

Apa saja kabar gembira yang bisa diraih:

Mereka yang membaca secara rutin setiap hari akan meraih kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu. Selain itu, mereka juga meraih lima jenis ibadah yang dijelaskan dalam risalah ikhlas.

Kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu telah dijelaskan dalam banyak hadis.  Demikian banyak kemuliaannya, tidurnya para penuntut ilmu yang hakiki dan ikhlas pun bernilai ibadah, apabila meninggal mereka meraih derajat syahid, amalan duniawi yang mubah akan terhitung sebagai ibadah.

Sedangkan lima jenis ibadah yang dibahas dalam risalah ikhlas adalah sebagai berikut:

  1. Ia merupakan bentuk jihad maknawi yang merupakan perjuangan terpenting dalam menghadapi kaum yang sesat.
  2. Ia merupakan pengabdian dalam bentuk bantuan bagi ustadz untuk menyebarluaskan kebenaran
  3. Ia merupakan pengabdian bagi seluruh kaum muslimin dari sisi keimanan
  4. Ia merupakan bentuk pemerolehan ilmu lewat tulisan
  5. Ia merupakan bentuk ibadah tafakkur yang satu jam darinya senilai dengan satu tahun ibadah.

Kini mari kita melakukan muhasabah dan menanyakan pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri:

Berapa tahun kita telah mengenal Risalah Nur? Berapa kali kita mampu menyampaikan Risalah Nur? Melalui kehidupan dan ilmu, seperti apa kita telah menjadi teladan bagi anggota keluarga dan lingkungan masyarakat? Apakah kita memiliki jadwal membaca dan menyimak harian yang rutin? Apabila masih belum ada, kira-kira kapan akan dimulai?

Umur akan segera berlalu layaknya angin. Apabila kita menyisihkan 5-10 menit waktu yang dimiliki untuk membaca Risalah Nur, dalam 5 tahun kita akan menyelesaikan membaca semua setnya setidaknya sekali. Dalam 50 tahun, artinya kita akan menyelesaikan semua setnya sebanyak 10 kali. Dengannya kita akan meletakkan pelajaran-pelajaran dan tafsir dari ribuan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas iman ke dalam akal, kalbu, dan perasaan kita. Apakah kita tidak memiliki setidaknya 5-10 menit dalam sehari untuk meraih iman dan makrifat, mendaki anak tangga ketenteraman dan ihsan, menyelamatkan iman diri kita sendiri serta menjadi sarana bagi terselamatkannya iman orang lain?

Kita sedang hidup di periode masa di mana semua set risalah baik dalam bentuk tulisan ataupun audio dapat diakses melalui telepon genggam. Di mana pun kita bisa temukan kesempatan, ia dapat segera digunakan untuk membaca risalah sebanyak 3-4 halaman. Apalagi, setiap hari terdapat lebih dari 5-10 menit yang kita gunakan untuk singgah pada hal-hal tidak perlu yang bahkan merugikan.

Apabila saat ini kita tidak mengatakan “cukup” pada kebiasaan kita yang absen dari rutinitas membaca, lalu akan kita mulai kapan?

[1] Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/gunde-kac-sayfa-risale-i-nur-okuyalim/

mengembangkandiri.com ramadan-kareem-greeting-photo-2022-02-02-20-57-31-utc

Tiga Bulan Suci dan Malam Raghaib

Musim Berlimpahnya Rahmat:  Tiga Bulan Suci dan Malam Raghaib

Cemil Tokpınar

Sesaat lagi kita akan memasuki musim penuh berkah yang datang untuk menyelamatkan kita di hari-hari di mana semua umat manusia, terutama masyarakat negara kita dan dunia Islam yang tengah menghadapi berbagai masalah dan bencana.

Tiga bulan suci yang bernama Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Pada hari Kamis tanggal 26 Januari 2023 biasa disebut dengan Lailatul Raghaib, malam Jumat pertama di bulan Rajab.

Tiga bulan suci merupakan musim penuh berkah dan istimewa di mana Allah SWT mencurahkan rahmat, maghfirah, dan inayat-Nya.  Kita dapat mengatakan bahwa Tiga Bulan Suci adalah rentetan peluang yang datang berturut-turut di mana bulan yang datang berikutnya nilainya semakin berharga. Ia merupakan tempat berlalu lalangnya siang dan malam penuh berkah di mana satu amalan di dalamnya akan mendapatkan 1000 ganjaran.

Sebagaimana halnya pasar dan pekan raya yang digelar pada hari dan musim tertentu memamerkan produk terbaru dan inovasi terkini serta mengobral banyak diskon dan doorprize, demikian juga bulan rajab, sya’ban dan ramadan atau lazim kita sebut sebagai dengan tiga bulan suci, di dalam hari-hari dan malam-malamnya terdapat banyak promo dan hadiah kejutan yang melebihi besaran hadiah dan diskon di hari-hari lainnya.

Ketika tiga bulan suci datang, demi mendapatkan rahmat dan berkat melimpah di dalamnya Rasulullah SAW berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (Musnad Imam Ahmad: 1: 259).

Menghidupkan tiga bulan suci dan berjumpa dengan bulan ramadan merupakan suatu nikmat luar biasa dan anugerah yang istimewa.

Badiuzzaman Said Nursi yang merupakan teladan dalam ibadah dan doa serta panutan dalam perjuangan dan iman selalu melaksanakan program khusus untuk menghidupkan Tiga Bulan Suci, khususnya di bulan Ramadhan dan malam-malam mulia di dalamnya. Beliau juga menyemangati murid-muridnya untuk melakukan hal yang sama.

Dalam sebuah surat yang beliau tulis ketika sedang berada di Penjara Afyon, tempat di mana beliau dan murid-muridnya mengalami tekanan berat dan perampasan hak-hak sebagai manusia, seolah-olah sedang merasakan kegembiraan di hari lebaran beliau tak bisa menahan diri untuk tidak memberikan kabar gembira berikut ini:

“Lima hari lagi syuhur-u tsalâsa (tiga bulan suci) yang penuh berkah dan berlimpah pahala akan datang. Jika di waktu lain setiap amal ibadah dan kebajikan mendapat ganjaran 10 pahala, di bulan Rajab yang mulia ia akan diganjar 100 pahala, di bulan Sya’ban yang istimewa akan dibalas lebih dari 300 pahala, dan di bulan Ramadhan al Mubarakah ia akan mendapatkan 1000 pahala. Pahala ini akan meningkat ribuan kali lipat pada setiap malam jumat di dalamnya dan menjadi 30.000 ganjaran di malam lailatulqadar. Tiga bulan suci ini merupakan bazar suci yang memperjualbelikan komoditas yang berguna bagi kehidupan ukhrawi. Ia merupakan pameran sempurna bagi para ahli hakikat dan ahli ibadah. Menjalani tiga bulan suci menjanjikan ganjaran besar, seakan-akan ia telah menunaikan ibadah selama 80 tahun bagi setiap ahli iman yang menghidupkannya, apalagi di dalam Madrasah Yusufiyah di mana beramal di dalamnya bernilai 10 kali lipat dibandingkan beramal di luar. Ini tentu saja merupakan suatu keberuntungan yang sangat besar.  Betapa pun sulit untuk, tetapi kesulitan yang dijalani merupakan rahmat itu sendiri.” (Kitab Syualar, Syua ke-14)

Berdasarkan hal tersebut maka dua rakaat salat yang ditunaikan di bulan Rajab akan bernilai sebesar 200 rakaat. Satu puasa yang ditunaikan di bulan Rajab akan bernilai sebesar 100 puasa. Sedangkan sedekah sebesar seribu rupiah di bulan Rajab akan bernilai sebesar 100.000 rupiah. Pada bulan Sya’ban besaran ganjaran dinaikkan tiga kali lipat bila dibandingkan dengan pahala yang diberikan di bulan Rajab. Setiap ibadah akan diganjar pahala 300 kali lipat.

Dari kalimat dalam surat ini dapat kita pahami bahwa bulan-bulan ini adalah rangkaian peluang yang sangat besar sehingga menghidupkannya bahkan dalam kondisi di dalam penjara yang keras akan menambah jumlah ganjaran dan pahala yang diberikan oleh Allah sebanyak sepuluh kali lipat lagi.

Badiuzzaman dalam kondisi di dalam penjara yang dinginnya menusuk tulang dan pada kondisi diracun serta mendapat beragam siksaan lain sekalipun tidak mengabaikan ibadah-ibadahnya meski hanya sedikit. Dalam kondisi tersebut beliau tetap meneruskan usahanya dalam menulis karya yang berjudul “Al Hujjatuz Zahra” serta memberikan pelajaran agama meski melalui metode korespondensi surat-menyurat. Beliau menyambut datangnya tiga bulan suci ini seperti menyambut kehadiran hari raya. Ini merupakan teladan bagus dan penuh pelajaran bagi kita.

Tidak hanya hari-hari di dalam tiga bulan suci tersebut yang penuh berkah. Keberadaan malam-malam istimewa seperti malam raghaib dan mikraj di bulan rajab, lalu lailatul bara’ah di nisfu sya’ban, dan lailatulqadar di bulan ramadan menambah kemuliaan dan keistimewaan dari tiga bulan suci ini.

Malam Mulia Pertama di Bulan Rajab: Malam Raghaib

Malam Raghaib adalah malam Jum’at pertama di bulan Rajab, yaitu malam yang menghubungkan hari Kamis besok dengan hari Jumat. Di dalamnya terdapat ganjaran tambahan sebanyak seratus kali lipat pahala bagi setiap amal kebajikan dan ibadah yang diamalkan.

Raghaib, adalah sebuah kata dalam bahasa Arab. Ia berarti “sesuatu yang dicari, diinginkan, dituntut, bernilai tinggi, dan berlimpah dalam kebajikan”.

Malam Regâib mendapatkan kemuliaannya berkat kehadiran Nabi Muhammad SAW di salah satu sudut alam.

Terkait hal tersebut, Badiuzzaman mengutip salah satu memorinya ketika berada di kota Emirdag sebagai berikut:

“Saya menulis dua surat untuk Anda tepat enam jam sebelum Lailatul Raghaib tiba.   Setelah menyerahkan “Hizbun Nuriye”[1], menurut hemat saya ia merupakan sejenis Mukjizat Muhammadiyah. Kekeringan dan ketiadaan hujan selama dua bulan berturut-turut, ketika di semua wilayah doa-doa yang dipanjatkan setelah salat terasa mandul, semua orang kalbunya merintih karena putus asa dengan kekhawatiran masa depan rejekinya, tiba-tiba Lailatul Ragaib – yang belum pernah saya dengar sebelumnya sepanjang hidup saya dan yang belum pernah didengar orang lain – melalui puji-pujian tasbih yang keras dan intens dari para malaikat ar-ra’d[2]  hujan rahmat pun turun sekitar seratus kali selama tiga jam lamanya. Bahkan orang yang paling keras kepala sekalipun menyaksikan kesucian malam Raghaib dan kenabian Muhammad SAW sampai tingkat tertentu. Turunnya Rasulullah ke alam syahadah[3] di satu sisi menunjukkan bahwa dirinya adalah rahmat bagi semesta alam yang akan disaksikan keagungannya di sepanjang zaman. Alam semesta pun bertepuk tangan kepada malam terjadinya peristiwa tersebut.” (Kitab Emirdağ Lahikası, hlm.638).

Dalam riwayat Abdullah ibn-i Umar (r.a.) dan Abu Umama (r.a.), Nabi Muhammad SAW menyebutkan lima malam di mana doa tidak akan ditolak:

“Terdapat lima malam di mana doa yang dipanjatkan di waktu tersebut tidak akan ditolak: Malam pertama bulan Rajab, Malam Nisfu Sya’ban, Malam Jumat, Malam Idulfitri, dan Malam Iduladha.” (Jalaluddin Suyuti, Jâmius-Saghir, 3/454)

Bagaimana Cara untuk Menghidupkan Malam Ragaib?

Alangkah baiknya jika pada malam-malam penuh berkah ini diisi dengan banyak ibadah dari awal malam hingga datangnya waktu subuh. Usaha untuk menghidupkannya sendirian biasanya akan mudah disisipi oleh kantuk yang dihembuskan nafsu dan setan. Untuk itu, usaha yang terbaik adalah menghidupkannya dalam program bersama di masjid ataupun di suatu majelis ilmu. Dengan demikian, satu sama lain bisa saling memotivasi. Satu sama lain juga bisa saling mendoakan.

Namun, karena pandemi yang terus meliputi seluruh penjuru dunia maka kita harus mengikuti rekomendasi ahli kesehatan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan kita.

Terdapat lima ibadah penting yang dapat dikerjakan di malam-malam yang penuh berkah tersebut.

Bertaubat dan beristigfar: Rasulullah SAW menyampaikan bahwa dirinya bertobat dan beristigfar sehari sebanyak 70 kali. Dari sisi ini dapat diketahui bahwasanya kapan pun itu tobat dan istigfar tetap merupakan suatu ibadah yang penting. Tobat dan istigfar yang dibacakan di malam-malam mulia ini semakin menambah kemuliaannya dan insya Allah mudah untuk diterima.

Membaca Al-Qur’an: Khataman Al-Qur’an dengan jalan membagi juz. Selain itu, membaca atau menyimak surat-surat pilihan seperti Yasin, Al Fath, Ar Rahman, Al Mulk, dan An Naba juga sangat utama.

Mendirikan salat: Selain menunaikan salat fardhu diiringi zikir tasbihat panjang, mendirikan salat sunah awwabin, tahajud, taubat, tasbih, dan hajat sangatlah berfadilah.

Membaca salawat kepada Rasulullah sebanyak mungkin adalah suatu bentuk ibadah yang sangat penting di setiap waktu. Tentu saja akan ada pahala berlipat ketika ia dibacakan di malam-malam penuh berkah ini.

Berdoa: Membaca doa yang dikutip dalam Al-Qur’an dan Hadis, membaca jausyan dan doa-doa yang dibaca oleh para wali, serta memanjatkan doa yang berasal dari pengharapan hati kepada Sang Pencipta juga penting adanya. Karena doa-doa yang dipanjatkan di malam-malam penuh berkah ini akan dikabulkan. Wabil khusus berdoa kepada-Nya hingga pagi tiba supaya kita bisa terbebas dari jeratan ifrit yang mencengkeram diri.

Berpuasa di Tiga Bulan Suci

Berpuasa di pagi hari pasca malam raghaib adalah ibadah yang penuh dengan fadhilah.  Puasa dilaksanakan bukan sebelum malam tiba, melainkan setelahnya. Ini karena kalender ibadah dalam suatu hari dimulai dengan azan maghrib. Ia berakhir pada azan maghrib berikutnya.  Misalnya awal mula Ramadan dimulai dengan tarawih di malam hari dilanjutkan dengan berpuasa di pagi harinya. Namun, mereka yang sanggup menunaikan puasa sebelum dan sesudah malam ragaib tentu saja berarti telah menunaikan amal-amal yang paling utama.

Apalagi puasa sebelum malam ragaib yang jatuh pada hari kamis memang disunahkan.  Mereka yang tidak sempat berpuasa di hari kamis, tetapi hanya mampu berpuasa di hari jumat saja pun tidak mengapa. Ini dikarenakan ia jatuh bertepatan dengan hari Jum’at, tidak bisa jatuh pada pilihan hari yang lain. Ia termasuk perbuatan makruh yang mendekati halal. Pagi setelah malam raghaib selalu bertepatan dengan hari jumat, oleh karena itu tidak ada pilihan lain. Oleh karena itu, mereka yang terpaksa hanya bisa berpuasa di hari jumat karena tidak sempat berpuasa di hari kamis sebenarnya juga tidak termasuk dalam kategori makruh tanzih.

Berpuasa di tiga bulan suci selain merupakan ibadah yang penuh dengan fadhilah, ia juga merupakan sarana bagi terkabulnya doa-doa Mereka yang mampu bisa menargetkan diri untuk berpuasa sehari dalam seminggu atau bahkan beberapa hari dalam seminggu.

[1] Hizb-i Nurî  adalah hasil tafakkur Ustaz dalam Bahasa Arab. Ia membahas hakikat-hakikat dalam Risalah Nur. RIngkasan pendeknya terdapat dalam Syua ke-15, tepatnya di makam ke-2. Saat ini ringkasan dari  Hizbi Nuriye adalah wirid Khulasatul Khulasah. Ia terdapat pada kitab wirid “Hizbu Anwaril Haqaiq Nuriyah/Hizbu Envari’l Hakaiki’n- Nuriyevcuddur.

[2] Malaikat yang di berikan tugas untuk mengatur awan dan hujan di mana ia mengaturnya dengan menggunakan petir sebagai cambuk

[3] yaitu peristiwa ditanamkannya janin Nabi Muhammad ke rahim ibunya

mengembangkandiri.com glass-of-water-with-ice-cubes-2021-08-29-06-09-57-utc

Menyikapi Kebencian

Karya Pembaca: Mahir Martin

Sebagai umat Islam, kita pasti sering mendengar kisah Nabi Adam As. dengan kedua anaknya Habil dan Qabil. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa terjadi konflik antar keduanya. Karena konflik tersebut, Qabil akhirnya membunuh Habil. Peristiwa ini yang diyakini sebagai peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi.

Banyak sudah pembunuhan terjadi di muka bumi. Tidak hanya pembunuhan, banyak juga jenis kejahatan lain yang terjadi di muka bumi ini. Jika kita perhatikan, kejahatan itu bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh rasa kebencian yang timbul dalam diri seseorang.

Rasa Benci

Tak bisa dipungkiri, nafsu manusia yang dikelilingi dengan rasa iri, dengki, hasad, atau kecemburuan akan membawa kepada kebencian. Rasa benci yang akan membuat pembenci berani melakukan tindakan apapun demi orang yang dibenci.

Pembenci tak akan melihat kebaikan orang yang dibenci, walaupun terkadang kebaikannya justru dilakukan terhadap dirinya. Misalnya, ketika orang yang dibenci menyapa, pembenci akan bermuka masam atau mungkin saja berbalik muka, tak ingin menghiraukan.

Pembenci, pemikirannya berpola tetap.

Di matanya, apapun yang dilakukan orang yang ia benci adalah salah, tak ada benarnya. Ia tak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan lagi. Ia ibarat melihat dengan kaca mata yang dipenuhi dengan kotoran sehingga tidak bisa melihat lagi dengan jernih.

Lebih jauh lagi, sikap membenci terkadang membuat pembenci melakukan tindakan yang tidak rasional, dan di luar nalar akal sehat. Mereka bahkan rela menghalalkan segala cara demi melakukan pembenaran terhadap dirinya, dan menyalahkan orang yang ia benci. Kebohongan, kemunafikan, bahkan perilaku anarkis bisa saja ia lakukan.

Rasa benci itu juga tidak melihat hubungan dan kedekatan seseorang. Kebencian bisa menjadi gunting pemutus ikatan antar sesama kita. Seseorang bisa sangat mudah membenci temannya, sahabatnya, kerabatnya, bahkan saudara kandungnya. Jika sudah kadung benci, hubungan dan ikatan sudah tak memiliki makna lagi.

Sikap Kita

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika kita dibenci?

Hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah intropeksi diri. Lihat kembali ke dalam diri kita, apakah kita benar-benar sudah menjadi insan yang baik? Apakah kita bisa menjaga tingkah laku kita sehingga orang tidak membenci kita? Jangan-jangan kebencian seseorang timbul disebabkan oleh diri kita sendiri.

Intropeksi diri ini seharusnya dilakukan setiap saat, terlepas kita mengetahui apakah ada orang yang membenci kita atau tidak. Ada atau tidak pembenci, introspeksi dan mawas diri harus terus dilakukan. Sejatinya, rasa benci itu berpotensi untuk ada pada siapapun yang ada di sekitar kita, apalagi jika kita tidak mampu menjaga sikap kita, tidak mampu mengintrospeksi diri kita.

Hal kedua yang perlu kita lakukan jika kita memiliki pembenci adalah sabar menghadapinya. Kebencian yang mengarah kepada kita adalah sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Jangan sampai kita terbawa emosi dan perasaan, yang justru bisa melahirkan kebencian juga dalam diri kita. Kebencian tak akan hilang jika dihadapi dengan kebencian juga.

Kesabaran sangat penting karena pembenci pasti akan menyerang dari berbagai sisi dalam diri kita. Jika diri kita kurang sabar, dan benteng pertahanan kita kurang kuat, kita akhirnya bisa terbawa emosi dan perasaan. Jika hal ini terjadi, diri kita sendiri yang akan menderita kerugiannya. Kita bisa saja semakin terpuruk dengan adanya kebencian itu.

Hal ketiga adalah perlu adanya kekuatan mental dalam diri kita. Kekuatan mental sangat diperlukan agar kita tidak terpengaruh dengan adanya para pembenci di sekitar kita. Hanya memikirkan para pembenci akan membuat diri kita lebih terpuruk dan tidak bisa produktif dalam kehidupan.

Memfokuskan perhatian kepada tugas dan kewajiban kita dalam kehidupan bisa menjadi kekuatan terbesar dalam melawan para pembenci kita. Kita harus bisa membuktikan diri bahwa kita masih tetap bisa move on walaupun para pembenci tidak memberikan dukungan kepada kita. Tanpa mereka, kita masih bisa memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita.

Sebuah Refleksi

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan agar tidak ada kebencian dalam kehidupan kita?

Komunikasi yang baik, yang dilakukan dari hati ke hati, akan bisa melelehkan es kebencian dalam hati manusia. Tidak mudah melakukannya ketika ada api kebencian yang membara. Terkadang diperlukan sarana mediator untuk bisa melakukannya. Dengan adanya komunikasi dua arah, kita akan bisa mengetahui apa sebenarnya sumber kebencian yang mungkin timbul dalam hati seseorang.

Kebencian baru bisa dihilangkan dengan adanya kesadaran dalam diri pembenci dan orang yang dibenci. Kesadaran akan terbentuk setelah adanya komunikasi efektif yang dilakukan secara intensif, komunikasi yang tidak hanya dilakukan sesekali atau sekali saja.

Karena kebencian adanya di hati, sebagai manusia sebaiknya kita bisa menjaga hati kita dari belenggu kebencian itu. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Menjaga hati memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Menjaga hati ibarat menjaga diri dari gigitan kalajengking dan ular kobra, yang bisa saja menyerang tanpa kita sadari.

Alhasil, bersikap seperti Habil dalam kisah Nabi Adam As. di dalam Al-Quran kiranya bisa menjadi sikap yang seharusnya dikedepankan dalam melawan kebencian. Dalam Al-Quran diabadikan bagaimana sikap yang dilakukan Habil ketika berkonflik dengan saudaranya Qabil.

Habil berkata, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (QS 3:28).

Sikap Habil ini memberikan pembelajaran kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang ingin melakukan keburukan kepada kita. Seorang ksatria adalah seorang yang mampu menjawab keburukan yang dilakukan terhadap dirinya dengan kebaikan, mampu menjawab kebencian dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Al-Quran sebagai pedoman hidup, pastinya memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Setiap ayat Al-Quran terkadang tidak langsung kita pahami, perlu penghayatan,  dan perenungan untuk bisa memahami benar-benar apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya.

Kiranya, kisah Habil dan Qabil bisa membuka perspektif kita bagaimana seharusnya kita memahami dan bersikap menghadapi kebencian yang mungkin saja terjadi kepada diri kita.