mengembangkandiri.com map-7106584_960_720

MENGAPA ORANG MENOLONG?

Pada pertengahan tahun 1992, terjadi pembantaian warga Bosnia oleh Kroasia. Pada saat itu, seorang reporter TV Inggris Michael Nicholson, berusaha menyelamatkan seorang anak berusia 8 tahun yang telah kehilangan kedua orang tuanya keluar dari Bosnia, dengan cara memalsukan namanya dalam paspor sebagai anaknya. Tindakannya tersebut sangatlah berbahaya, karena ia bisa saja ditangkap oleh pemerintah setempat yang saat itu sangat tidak ramah pada wartawan asing. Selain itu ia juga akan menghadapi masalah besar ketika tiba di Inggris, karena telah menyelundupkan warga asing.[1]

kisah yang serupa juga terjadi pada tahun 1950 tentang seorang tentara Turki yang menyelamatkan gadis kecil asal Korea, yang kemudian kisah ini diangkat menjadi sebuah film yang berjudul, “Ayla: The Daughter ofWarr”. Film asal Turki yang dirilis pada tahun 2017 ini mengisahkan pertemuan antara seorang prajurit Turki dengan gadis kecil asal Korea Selatan bernama Ayla. Film ini memang diangkat dari kisah nyata seorang sersan Turki yang ditugaskan untuk membantu peperangan saudara diKorea Selatan pada tahun 1950an.

Kisahnya bermula saat Suleyman (İsmail Hacıoğlu) datang ke sebuah desa yang seluruh masyarakatnya telah habis dibantai dalam perang. Tanpa terduga, di sana Suleyman menemukan seorang anak kecil yang selamat dari pembantaian bernama Ayla (Kim Seol). Saat itu Ayla tengah menangis sambil menggenggam erat tangan ibunya yang telah meninggal. Melihat keadaan tersebut Suleyman pun bergegas membawa Ayla ke Kamp untuk menyelamatkannya. Pada mulanya pimpinan Suleyman tidak mengizinkan Ayla tinggal di Kamp, namun berkat keteguhan hati Suleyman, sang pimpinan akhirnya memperbolehkannya.

Di Kamp tersebut Suleyman mengasuh Ayla seperti anaknya sendiri, mulai dari mengajak bermain hingga berjalan-jalan, sampai akhirnya Ayla memanggil Suleyman dengan panggilan kata Baba. Usai perang Suleyman bermaksud membawa Ayla pulang ke Turki tetapi tidak diperbolehkan. Dengan berat hati, Suleyman menitipkan Ayla di Panti Asuhan dengan janji akan kembali suatu saat nanti. 60 tahun kemudian, Suleyman tidak lupa janjinya kepada Ayla, ia terus berusaha mencari keberadaannya. Hingga pada akhirnya salah satu stasiun televisi yang mendengar kisah ini dengan usaha kerasnya berhasil mempertemukan Suleyman dan Ayla yang keduanya telah lama berpisah.[2]

Kemudian timbullah pertanyaan dari benak hati yang paling dalam,

Mengapa dua orang tokoh yang sudah kita sebutkan di atas mereka berani mengambil sebuah tindakan yang beresiko tinggi demi menyelamatkan seorang anak yang tidak dikenalnya?

Apa motivasi yang mendasari tindakannya ini?

Apakah demi popularitas semata (karena ia dapat membuat kisah nyata yang sangat menarik) atau memang tindakannya ini didasari oleh niat yang tulus untuk menolong?

Tingkah laku menolong yang tidak sedramatis cerita di atas sesungguhnya merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Diantaranya; Seperti membukakan pintu untuk orang lain yang sedang membawa banyak barang di sebuah Supermarket, memberi uang untuk pengemis yang ada di jalanan, mengantar seorang kakek/nenek lansia untuk menyeberangi sebuah jalan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tingkah laku menolong, atau dalam psikologi sosial dikenal dengan tingkah laku prososial, adalah tindakan individu untuk menolong orang lain tanpa adanya keuntungan langsung bagi si penolong. Contoh dari tingkah laku menolong yang paling jelas adalah altruisme, yaitu motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Pada altruistik, tindakan seseorang untuk memberikan bantuan pada orang lain adalah bersifat tidak mementingkan diri sendiri (selfish).[3]

Jika kita pernah membaca buku cerita sejarah kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, maka kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memberikan banyak contoh Sifat altruisme ini. Salah satu diantaranya adalah kisah sahabat Rasulullah Utsman bin ‘Affan yang dikenal sebagai saudagar kaya raya dan paling dermawan di kala itu. Pada masa Kekhalifahan Amirul Mukminin Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin pernah dilanda krisis kekeringan yang begitu dahsyat, akibatnya banyak lahan pertanian yang tidak dapat menghasilkan apa-apa. Dalam kondisi sulit seperti ini, menyebabkan para pedagang melakukan banyak cara untuk melipat gandakan harga-harga yang tak sewajarnya.

Pada suatu hari, kapal-kapal niaga milik Usman bin ‘Affan yang mengangkut komoditas pangan seperti jagung, minyak (mentega), dan kismis yang baru tiba, yang di mana jumlahnya hanya bisa diangkut oleh seribu unta, para pedagang penyalur (distributor) dan broker[4] yang ada pada saat itu mendatanginya untuk menawarkan jasa dengan harga tawaran sepuluh kali lipat dari harga biasanya. Akan tetapi ia menolaknya dan berkata, “Adakah yang berani membeli barang-barang ini dengan harga lebih dari 700 kali lipatnya”?, semua pedagang hanya diam terpana. Mereka membayangkan, jika harga setinggi itu di manipulasi dengan selicik apa pun, tak akan pernah ada orang yang dapat meraih laba dan keuntungan. Kemudian Utsman berkata lagi, “Bila tidak ada yang mampu, maka semua ini akan kujual kepada Allah,” seraya membagi-bagikan barang-barang dagangan miliknya kepada orang-orang miskin begitu saja secara cuma-cuma. Angka 700 yang Utsman sebutkan ialah sebuah isyarat yang merujuk kepada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261 tentang ganjaran berinfak di jalan yang Allah rida’i.[5]

Sifat altruisme dalam kisah ini menggambarkan begitu sangat luar biasa dermawannya seorang Utsman bin ‘Affan demi mensejahterakan kehidupan orang-orang yang susah dan sedang membutuhkan pertolongan. Bisa kita bayangkan, bila volume satu truk container setara dengan muatan 25 unta, maka lebih kurang ia telah menyedekahkan harta miliknya sebanyak 40 kontainer jumlahnya. Lalu, di zaman sekarang ini, pernahkah kita melihat konvoi container sebanyak itu yang dimiliki oleh hanya seorang pedagang saja?, adakah pernah kita mendengar ada barang import sebanyak itu yang diinfakkan begitu saja oleh pemiliknya?, yang bahkan pada saat itu harga-harga barang sedang melambung tinggi dan suplai dipasar nyaris tidak ada?.

Sosok Utsman adalah manusia langka, seorang saudagar kaya raya yang tidak pernah silau dengan laba di dunia. Karena ia tahu, sebanyak dan sebesar apa pun untungnya, harta itu tak akan pernah bisa dibawa ketika ajal dan keputusan Allahﷻ mendatangi dan menjemputnya. Ia sangat yakin bahwa simpanan yang sejati dan akan kekal selamanya adalah harta benda yang ia infakkan, diwakafkan, disedekahkan, dan dipinjamkan di jalan Allahﷻ.

Kisah ini hanyalah salah satu dari banyaknya contoh sifat kedermawanan yang dimiliki oleh Utsman, hingga tak heran jika Utsman adalah salah satu dari 10 orang sahabat Rasulullah yang telah dijamin masuk Surga. Ibnu Umar r.a pernah berkata, “Saya datang kepada Nabi SAW bersama sembilan orang sahabat, lalu salah seorang sahabat dari Anshar berkata: “Siapakah orang yang paling pandai dan paling mulia Ya Rasulullah?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak ingat kematian di antara mereka dan paling sangat persiapannya untuk kematian itu. Merekalah orang-orang yang pandai. Mereka pergi dengan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat”.[6]

Terakhir, orang yang telah diberi nikmat begitu banyak oleh Allahﷻ dan kemudian menjadi tumpuan bagi orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, jika ia mau membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Membantu kesulitan orang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara dan tentu saja dilakukan tanpa pamrih. Lakukan saja apa yang bisa kita berikan secara ikhlas. Ingatlah bahwa Allahﷻ adalah Zat Yang Maha Mengetahui segala hal yang dilakukan oleh setiap makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allahﷻ dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 9, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. Dengan demikian, jika semua hal yang kita lakukan diniatkan hanya untuk mengharapkan rida dari Allahﷻ semata, maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah ketika dikerjakan.

[1] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 122.

[2]https://www.kompas.com/hype/read/2021/07/20/091753466/sinopsis-ayla-the-daughter-of-war-kisah-mengharukan-tentara-turki-dan-gadis?page=all. Diakses pada pukul 11.08 WIB, Minggu 4 November 2022.

[3] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. hlm. 125.

[4]broker/bro·ker/ n pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual beli atau antara penjual dan pembeli (saham dan sebagainya); cengkau; makelar; pialang. Lihat https://kbbi.web.id/broker.

[5]Wiwid Prasetyo, Utsman bin Affan Akhir Tragis Sahabat Paling Dermawan, (Solo: Tinta Medina, 2015), hlm. 201.

[6]Asy Syaikh Zuhair Syafiq Al-Kubbiy, Sakaratul Maut wa Syiddatuhu, judul terjemah, Imam Al Ghazali Berbicara Tentang Saakaratul Maut dan Kekerasannya, penerjemah Ahmad Sunarto, (Semarang: CV. Surya Angkasa Semarang, 1995), hlm. 6-7.

mengembangkandiri.com feather-g8127c7e69_1920

AKTIVASI MEMBACA

Pertanyaan: Penghormatan terhadap “Gerakan Hati” terlihat meningkat berlipat ganda dari hari ke hari di seluruh penjuru dunia. Dari segi ini hal apa saja yang sebelumnya harus dianjurkan guna tidak membuang kesempatan yang ada dan mempersiapkan kebahagiaan dunia-akhirat seorang lawan bicara?

Jawaban: Esensinya perluasan geometri dewasa ini menjadi pokok pembicaraan. Pribadi kita dalam kondisi sudah mencapai ke 150-160 negara di seluruh wilayah muka bumi. Layaknya hampir tidak ada suatu tempat yang kalian tidak perdengarkan hempasan suara kalian. Sebagai pengutaraan nikmat bisa dikatakan bahwa, kita mendapatkan penghargaan anugerah yang serupa dengan anugerah yang dimuliakan kepada para sahabat. Secara mutlak bahwa skema ini, seutuhnya merupakan sebuah anugerah dan karunia Allahﷻ.

Mengapa anugerah dan karunia ini -diberikan- kepada kita, kita tidak tahu?

Insyallah ini bukanlah sebuah istidraj; ialah bukan karena secara hasil tidak memikat hati kita begitu mengarahkannya kedalam kebanggaan diri.

SEBUAH AKTIVASI RUH YANG BARU  

Berlawanan dengan ukuran ini yakni perluasan geometri saat ini, jika kuantitas dan kualitas orang-orang yang akan melakukan bimbingan masih dalam kondisi matematis (masih bisa dihitung), ketika itu rasa cinta dan kerinduan akan sebuah aktivasi baru dalam hati mereka perlu dihias kembali saat meninjau kondisi yang ada, sama seperti teman-teman di awal tahun 90-an yang mengorganisir kolonisasi ke luar negeri begitu menuturkan pahala hijrah. Al-Quran berpesan وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ “Orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,” menunjukkan kepada kita tujuan ini. Yakni, orang-orang mendapatkan sebuah nilai di sisi Allahﷻ dengan berhijrah. Setelah itu saat mengungkapkan inilah hak sebuah perjalanan hijrah, mereka berjuang di jalan untuk mempertemukan kembali hati orang-orang dengan Allahﷻ begitu menyisihkan hambatan-hambatan yang berada diantara Sang Pencipta dengan hambanya di tempat mereka berhijrah. Oleh karena itu, berhubungan dengan adanya perluasan geometri, merunduk kedalam kehidupan kalbu dan ruh dengan bimbingan yang akurat sama seperti di Periode Kebahagian, kerja keras dalam poin untuk mengarahkannya secara langsung kepada Allahﷻ dalam orbit kalbu dan ruh begitu menggeliat dari kejasmanian, mengeluarkannya dari perihal hewani merupakan hal yang sangat penting. Di masa terakhir sahabat, di awal periode tabiin beberapa pendatang baru yang masuk Islam karena tidak mampu menelaah ruh agama menyebabkan keluarnya aliran seperti Khawarij, Rafidhi dan Batini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika mengungkapkan kondisi ini, bersabda; “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Quran padahal yang mereka baca tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”

Kalian juga bisa berpikir dalam makna ini untuk periode kalian sendiri yang diungkapkan didalam Hadits Syarif. Beberapa orang bisa jadi dahi dan lutut mereka berbelulang karena sholat; tetapi karena tidak mampu sampai kedalam intisari pemahaman hakikatnya mereka tidak bisa lepas dari ifrath dan tafrith. Berlawanan dengan tampilan mereka layaknya mendekatkan diri secara hakikat kepada Allahﷻ dengan tenangnya, mereka mampu mengatakan kafir kepada para paduka seperti Abu Baqar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam limpahkan kabar gembira dengan Surga. Lihatlah bagaimana mereka berada dalam sebuah kontradiksi. Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang kalian kaitkan kedalam agama memberikan kabar gembira -kepada- sepuluh orang dengan Surga, tetapi beberapa menggerutu akan mereka dengan keluhan yang mampu membuat bulu kuduk merinding begitu melontarkannya. Ini merupakan sebuah kejahilan yang bersumber dari ketidaksadaran akan ruh dan intisari agama serta ketidaktahuan akan masalahanya.

Oleh karena itu, ketika sebuah ruh aktivasi yang kedua kembali dipaparkan, supaya tidak terjerumus kedalam deformasi dan perubahan dalam perbedaan kultur dan pemahaman, kita harus mencari celah menumbuhkan insan kamil. Untuk itu yang pertama, individu yang bisa kita katakan sebagai mursyid dan pembimbing harus mengetahui dengan baik Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sumber utama agama. Pada waktu yang sama mereka harus mengetahui lawan bicara yang berada di tempat mereka pergi dengan skema karakteristik dan garis dasar mereka. Disamping ini semua, dalam ukuran tertentu mengetahui akan ilmu sains, yakni sedikit banyak mereka harus meneguk ilmu-ilmu seperti fisika, kimia, matematika dan antropologi. Ya, seorang insan yang akan menjadi pembimbing, harus pergi sebagai seorang individu yang terdidik secara sempurna ketempat ia pergi. Mereka yang pergi sebagai perintis telah pergi dengan iman yang murni, nyata dan tulus dan dengan inayah Allahﷻ menjadi wasilah untuk banyak kebaikan. Namun setelah ini ketika terbuka ke seluruh penjuru dunia maka akan di perlukan sebuah kedalaman, keluasan dan atribut yang berbeda.

YANG MEREKA JANJIKAN DARI MEMBACA DENGAN BERTUKAR PIKIRAN

Ketika karya-karya tuntunan yang kita miliki dibaca untuk kedalaman, keluasan dan atribut ini bukan seperti adat/kebiasaan, melainkan dengan perspektif yang komparatif dan analitik, kita harus membacanya dengan kegigihan dan kerja keras untuk sampai kedalam analisis dan sintesis yang baru.

Lihatlah akan sejarah tafsir; dari hari Al-Quran turun hingga sekarang terdapat banyak tafsir yang telah ditulis, terdapat banyak hasyiah yang disusun. Ya, tafsir yang ditulis tentang Al-Quran kini sudah sampai hingga ribuan jilid. Di satu sisi setiap mufassir yang merupakan “ibnu zaman” sambil memperkukuh tafsiran yang ia ilhamkan sesuai dengan kondisi di masanya berkata, “Dari ayat ini dipahami seperti itu, sampai kedalam kesimpulan yang seperti itu.” ; mengatakannya dan demi pemahaman Al-Quran menawarkan beberapa inisiatif yang baru. Jika kita sudah pernah memadukan beberapa tafsir yang berbeda, kita akan melihat perbedaan ini. Misalkan Razi, menafsirkan sebuah ayat, tetapi Zamakhsyari mengutarakan sebuah makna yang berbeda darinya. Sedangkan al-Bayzawi mengambilnya dengan analisis yang lain. Meskipun biasanya Abu Suud bertopang kepada al-Bayzawi, ia juga memiliki tafsiran khasnya sendiri. Yakni tafsir Al-Quran terus berlanjut tanpa henti hingga ulama Hamdi Yazar yang ada di abad ini dan secara pasti akan terus berlanjut setelahnya. Kita semua harus bergerak dengan cara pandang ini dan kita harus menumbuhkan insan-insan yang membaca dengan baik buah -yang diperoleh dari- eranya, yang sanggup sampai kedalam determinasi dan analisis yang berbeda, yang mampu melihat kedalam makna dengan lebih luas, lebih merangkul dan lebih tajam. Karena para pembina ini akan berhadapan dengan anak-anak dalam atmosfer kultur yang berbeda. Oleh karena itu seorang manusia, jika tidak memiliki persiapan dan berkapasitas terhadap permasalahan beragam yang pemahaman dan kultur itu lontarkan kehadapannya maka ia akan terkena pukulan knockout.

Oleh sebab itu kita mengatakan bahwa, Allahﷻ bisa saja menganugerahkan wasilah yang berbeda yang kalian dapat suarakan petunjuk hati kalian ditempat yang dituju. Tetapi kalian, ketika mengevaluasi wasilah ini, petunjuk ruh kalian, bukan menurut Turki dan kondisi kultur kalian, melainkan harus menyuarakannya menurut kondisi kultur yang kalian pijak didalamnya. Menunjukkan bahwa perlunya pembimbing yang mampu melihat benda dan peristiwa secara lebih komperehensif, yang bisa merangkul lawan bicara lebih luas, yang memiliki hati nurani yang lapang. Untuk memenuhi kebutuhan ini harus dimulai kembali aktivasi membaca dan berpikir.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mendekati permasalahannya dengan kosa kata “tadzakur.” Makna kosa kata ini ialah bertukar pikiran atas beberapa permasalahan dengan keikutsertaan paling sedikit dua atau lebih orang. Dari segi ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengungkapkan juga apakah orang-orang yang berada dalam tukar pikiran akan terangkul dengan rahmat ilahi begitu membentuk halaqah diantara mereka dan ditempatkan di bawah perlindungan. Di sisi lain Ia Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira, untuk majlis yang seperti ini لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” Yakni mau tidak mau sesuatu dari kelompok masyarakat mampu tercampur ke semua yang berada dalam majlis tersebut, masuk kedalam kepala atau kalbunya. Mungkin juga individu tersebut masuk dengan pertimbangan duniawi kedalam perhimpunan tersebut, berupaya untuk mengikat dan memutuskan beberapa manfaat material. Tetapi sambil bertukar pikiran bersama orang-orang itu sesuatu pun akan tercampur kedalam dirinya. Lebih tepatnya individu tersebut, akan merasakan celupan perhimpunan. Satu kuas Syakhsiah Ma’nawiyah pun terambang kepadanya dan dengan ini ia pun akan tercelup dengan celupan ma’nawiyah. Dari segi ini dengan pertolongan dan anugerah Allahﷻ, para mursyid dan pembimbing, dengan wasilah bertukar pikiran, harus ditunjukkan kedalam tingkatan untuk mampu meletakan jalan keluar setiap permasalahan, mencari solusi setiap persoalan, menjawab setiap pertanyaan.

Namun sayangnya kini kita sebagai masyarakat menjauh dari metode membaca seperti ini. Bahkan kalamullah Al-Quran pun menjadi korban kebiasaan, habituasi dan keteledoran. Mungkin ia, tertata dalam sarung beludru di samping tempat tidur kita. Bangsa kita memiliki sebuah rasa hormat dan takzim yang mutlak seperti ini terhadapnya. Aku pun mengapresiasi rasa hormat tersebut. Namun kini orang-orang kita tidak mengetahui akan maknanya. Sedangkan itu adalah sebuah pesan yang datang dari Allahﷻ kepada kita. Namun sayangnya, kita tidak berusaha untuk memahaminya begitu berkata: “Kira-kira dalam pesan ini apa yang diinginkan Allahﷻ dari kita?.” Kita menjadi asing seperti ini terhadap kitab kita sendiri. Ya, kebiasaan dan habituasi telah membutakan mata kita, tidak mengetahui makna kitab agung kita, hanya mencukupi dengan sebuah rasa hormat yang datar seperti ini. Aku sampaikan kembali bahwa aku pun mengapresiasi rasa hormat yang seperti itu. Namun rasa hormat yang sebenarnya akan terwujud dengan menyelusuri ruh, makna dan intisarinya.

Di era ini, bisa dikatakan bahwa kita pun merasakan kebutaan yang sama terhadap karya-karya yang menggambarkan kepada kita akan hakikat Al-Quran dan Sunnah. Melakukan pelajaran secara rutin begitu mengambil salah satu dari karya-karya tersebut pada waktu subuh, tidaklah cukup guna memahaminya. Hakikat yang seharusnya ialah melihat kedalaman hikmah pemikiran dan pemahaman yang dikemukakan dalam karya-karya tersebut dan berusaha untuk memahaminya dengan cara melakukan perbandingan dengan bahasan yang lain. Misalkan kita bisa melakukan interpretasi komparatif dalam ukuran sanggup mengatakan “Imam Ghazali di topik ini mengatakan seperti ini, tetapi Bediüzzaman Said Nursi mendekatkan permasalahan ini dengan sudut pandang yang berbeda” dan meningkatkan sebuah sistem interpretasi yang baru. Pikirkanlah, karya yang memiliki nilai yang agung ini, pertama kali di periode kalian mendengarnya bagaimana ia menggugah perasaan hati kalian, memacu dan menggerakkan kalian? Namun apa yang telah terjadi sehingga karya-karya itu berubah menjadi layaknya sebuah adat? Padahal karya-karya ini yang merupakan kebutuhan pokok bak roti dan air seharusnya diambil lebih dalam lagi dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan harus berusaha juga untuk menangkap cakrawala yang ia tunjukkan begitu merasa tidak cukup dengan yang ia ungkapkan; meningkatkan cara membaca dengan analisa dan sintesis saat berusaha.

KEDALAMAN YANG BERBANDING LURUS DENGAN PERLUASAN

Kita membutuhkan pembimbing dan mursyid yang mampu menerangi jalan kita saat membaca karya-karya dalam metode dan keluasan ini yang sebanding dengan perluasan geometri. Sedangkan ketika kita mencukupi dengan kondisi matematis, karena tidak adanya penyaluran (bimbingan) yang serius bisa jadi terbentuk banyak sekali kerusakan. Bahwasanya kerusakan yang sering keluar pun secara prinsip bersumber dari kealfaan akan kerja keras untuk membaca dengan sungguh-sungguh akan intisari dan perolehan nilai-nilai pribadi kita. Terpaku terhadap simbol dan bentuk, bersandar hanya kedalam lapisan luarnya saja, merupakan perkara pokok yang terletak di dasar permasalahan yang seperti ini. Ustad Said Nursi, membaca 115 kali Risalah Ihlas yang ia tulis sendiri. Seorang profesor sambil menyatakan keheranannya berkata: “Apakah mungkin seorang manusia membaca karya yang ia tulis sendiri sebanyak ini?” Menurut saya karya itu harus dibaca, jika memang ia mengimplementasikannya sebanyak itu. Ustad Said Nursi, di setiap membacanya, terbuka kedalam cakrawala lain dengan mawarid dan mawahib (pemberian dan anugerah Allahﷻ) yang lahir kedalam hati dan mengitari layar kedalaman yang berbeda. Namun sayangnya, meski terdapat kesempatan yang luas saat ini, saya merasa bahwa kita tidak sanggup membaca dengan sudut pandang yang tajam dalam keluasan “Topik ini disana dibahas seperti ini. Sedangkan ditempat yang lain dalam bentuk rangkuman mengemukakannya seperti ini. Diantara yang disana dengan yang disini memiliki hubungan yang seperti ini.”

Kini sebagai masyarakat, kita membutuhkan mursyid dan pembimbing yang menjadikannya sebagian dari tabiatnya sambil memasukkan, menyerap dan mencerna karya-karya yang telah dilakukan penafsiran dan penjelasan dalam esensi yang khas baik itu menurut Al-Quran, Sunnah atau era kita. Jika tidak, ketika di satu sisi terwujud perluasan dengan kecepatan akhir, di sisi lain kita berhadapan dengan lima puluh permasalahan yang berbeda di lima puluh tempat dalam bentuk yang tidak kita tunggu. Kali ini kalian akan berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan itu, menghabiskan energi kalian dengan hal tersebut dan mungkin sebagian besar tidak akan mampu untuk mencari solusinya.

Ya, saya ungkapkan sekali lagi bahwa, sepanjang sejarah, orang-orang yang belum terdidik matang selalu mengeluarkan masalah. Ribuan Khawarij memiliki anggapan menurut mereka sendiri begitu berpadu. Ketika Ibnu Abbas yang dimuliakan dengan julukan ulama ummat berkata saat pergi kehadapan mereka “Kalian mengklaim seperti ini namun masalah yang sebenarnya ialah seperti itu” ratusan dari mereka menjawab, “Benarkah? Kita tidak pernah memahami permasalahannya seperti ini!.” Mungkin ada beberapa diantara mereka ini yang sholat seratus rakaat setiap hari, menghatamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari. Namun orang mereka memandang kafir para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr Ibnu Ash.

Topik yang perlu diketahui oleh setiap orang jika tidak diketahui dengan benar dan utuh dan jika tidak berjalan menurut maklumat yang benar itu dapat keluar sebagai masalah setiap saat. Dalam kondisi ini kuantitas akan menunjukan perkembangan meskipun serampangan dan hafidzanallah permasalahan akan masuk kedalam sebuah titik yang mana mengharuskan kalian mengatakan “Seandainya tidak terdapat sebuah perkembangan kuantitas dalam ukuran ini!.” Oleh karena itu untuk tidak memberikan celah kepada orang lain, kalian perlu mengetahui hal-hal yang harus kalian ketahui, membangkitkan kedalam kehidupan kalian sesuatu yang seharusnya kalian bangkitkan. Ketika kalian menunaikan sholat kalian harus menunaikan dalam tamkin (mencapai ketenangan) dan kesadaran berada dihadapan Allahﷻ; ketika kalian bersujud hati kalian harus mendidih layaknya panci panas yang mendidih.  Orang-orang harus melihat kalian seperti itu; berkata “Mereka ini benar-benar orang yang beriman dari dalam hati kepada Allahﷻ,” dan mengagumi sholat kalian. Secara pasti kita tidak melakukan ini semua supaya mereka mengatakannya. Tetapi kita harus menjadikannya salah satu dari tabiat dan kedalaman kita. Oleh karena itu ketika orang-orang mengetahui banyak akan kedalaman dan kuantitas ini yang dijadikannya sebagai tabiat, layaknya terperangkap ke dalam jazibah kudsiyah (tarikan suci) mereka akan mengatakan “Inilah sesuatu yang aku cari, aku telah menemukan yang aku cari!”

Akhirnya disamping kecerahan pikiran, kejernihan dan pengungkapan permasalahannya dengan benar, daya tarik yang ada dalam tamsil (contoh) memiliki pengaruh dan kedalaman tersendiri. Dari segi ini ketika memulai aktivasi yang baru atas nama kemanusiaan, kita harus berdedikasi dengan penuh semangat layaknya baru memulainya kembali secara dunia ruh dan alam jiwa begitu berkata “Bismillah.” Keidealan ini, ketika dimisalkan dalam contoh Hulusi Efendi, Hafiz Ali dan Husrev Efendi, orang-orang yang melihatnya akan datang sambil berlari dan seorang yang datang pun tidak akan pergi begitu berpaling. Kita harus tahu bahwa orang-orang yang pergi begitu berpaling, pergi karena tidak menemukan yang mereka cari. Yakni dia akan masuk kedalam pertimbangan “Mengapa saya harus membuang waktu dengan sia-sia? dan menjauh. Oleh karena itu meski diri kita dan hawa nafsu, dalam topik ini yang seharusnya kita lakukan ialah harus hidup untuk menghidupkan, bangkit begitu jatuh dan sepanjang hidup meletakkan kerja keras dan harapan yang sungguh-sungguh.

(Diterjemahkan dari artikel “Okuma Sefebirliği” dari buku Kırık Testi 11; Yaşatma İdeali)