mengembangkandiri.com pexels-rodrigo-arrosquipa-14579361

BIARLAH ADABMU BERBICARA DAN LIDAHMU DIAM

Dalam Islam tindakan dan perilaku adalah prinsip-prinsip penting. Dua elemen yang paling mempengaruhi orang adalah perilaku dan sikap. Dalam menyampaikan kebenaran dan kesalehan kepada orang-orang, alat utama bagi umat Islam bukan hanya kata-kata, melainkan tindakan atau perilaku yang mengarahkan pada jalan keimanan. Di balik tuntunan orang yang menjalankan iman, ada hal yang lebih efektif dari sekedar kata-kata dan ini adalah representasi Islam melalui kehidupan spiritualnya. Ketika para murid Nabi Isa Alaihissalam dan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai bangsa dan menjelaskan kebenaran kepada mereka, mereka tidak tahu bahasa mereka dan mereka adalah orang asing bagi kebiasaan mereka. Namun, mereka memasuki hati orang-orang ini dengan tata krama mereka dan perilaku yang baik.

Ini berarti bahwa perilaku seorang muslim harus didahulukan sebelum ucapannya. Perbuatannya harus meneguhkan ucapannya, agar tidak dicap sebagai pendusta di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak kehilangan reputasinya di mata manusia. Dalam agama kita, terlihat sebagai orang yang benar bukanlah hal yang terpenting, tetapi menjadi orang yang benar adalah hal yang paling penting. Dalam Al-Qur’an-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Hud 11:112). Ayat diatas tidak mengatakan: “Jujurlah dalam kata-katamu dan cobalah untuk meyakinkan orang lain dengan kebenaranmu.” Dikatakan: “Jadi tetaplah di jalan yang benar seperti yang telah diperintahkan” dengan tindakan dan perilaku anda.

Memang, dalam agama kita, memaparkan itu tidak penting, “keberadaan” itu penting; berdakwah dan mengadvokasi tidak penting tetapi menghidupkan dan role model itu penting. Untuk alasan ini, menjadi efektif dalam berceramah bergantung pada representasi. Jadi kata-kata hanya dapat berdampak jika tercermin pada perilaku dan juga jika diucapkan dengan niat untuk mendapatkan keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

mengembangkandiri.com

ORANG-ORANG YANG BERIMAN SEPERTI ORGAN-ORGAN DARI TUBUH YANG SAMA

Suatu hari organ tubuh mengadakan pertemuan di antara mereka sendiri. Mereka semua mengeluh tentang pekerjaan untuk perut. Perut tampaknya tidak melakukan banyak hal dan tanpa istirahat ia tidak dapat melakukan apa-apa. Semua organ tampak sangat kesal. Di akhir pertemuan, semua organ memutuskan bahwa mereka tidak akan lagi memenuhi semua permintaan perut. Mereka tidak akan menghabiskan semua upaya mereka untuk perut.

Mata mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat lagi, tangan menekankan bahwa mereka tidak akan menggenggam, mulut menyatakan bahwa ia tidak akan menyantap lagi, gigi memutuskan untuk tidak mengunyah dan kaki mengklaim bahwa mereka tidak akan lagi berjalan untuk perut.

Mereka melakukan apa yang mereka klaim dan meninggalkan perut tanpa makanan. Namun, tak lama kemudian, mata mulai kabur, tangan mulai bergetar, mulut mengering, gigi mulai rusak dan kaki bahkan tidak bertenaga untuk melangkah. Jelas bahwa meski perut tidak bisa bertahan tanpa mereka, untuk bertahan hidup mereka juga membutuhkan perut.

Mereka menyadari bahwa semua organ tubuh saling mendukung satu sama lain dan tidak mungkin mempertahankan kehidupan tanpa keharmonisan dan kesatuan tersebut. Ini berarti bahwa setiap orang bekerja untuk satu sama lain dan ketiadaan satu organ akan dirasakan oleh yang lainnya.

Dalam sabda Nabi kita, keadaan orang beriman dalam hubungannya satu sama lain sama dengan hubungan antara organ dan sel-sel tubuh. Seperti halnya ketika ada rasa sakit di satu bagian tubuh, seluruh tubuh merasakannya dan dengan demikian berusaha untuk menyingkirkannya, semua muslim juga harus merasakan sakit yang dirasakan saudaranya dan karenanya mereka harus bertindak dengan tanggung jawab dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah.  Keburukan yang terjadi kepada seorang muslim mendorong semua muslim untuk saling membantu dalam segala situasi.

mengembangkandiri.com ha-giang-7947012_1920

BUKU ADALAH SEORANG SAHABAT YANG SETİA

Almarhum Cemil Meriç mengatakan “Aku hidup dengan buku-buku, aku menemukan ketenangan dengan buku-buku. Aku lebih mencintai orang yang di buku dibandingkan dengan orang yang di jalanan” begitulah ia mengungkapkan betapa setianya buku sebagai seorang sahabat.

Ya, buku-buku adalah seorang sahabat yang selalu setia bersama kita di setiap waktu. Terkadang kita tidak menemukan sahabat kita untuk mengadu di saat-saat kita mendapat masalah. Akan tetapi mereka tidaklah begitu. Kapanpun kita inginkan ia langsung berada di sebelah kita. Bahkan jika kita berkhianat serta kita tidak memperhatikan mereka dalam waktu yang lama, mereka dengan sabarnya menunggu kita dirak-rak yang sudah berdebu, mereka tidak tersinggung dan mereka tidak berkhianat. Dia akan membuka dadanya yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan. Dia akan menenangkan dan mengenyangkan ruh kita, serta membentuk kehidupan kita.

Ketika melakukan semua ini, mereka juga tidak pernah meminta. Selalu menjadi pemberi. Karena mereka adalah sahabat tercinta kita. Oleh karena itu, yang paling baik adalah agar kita tidak menyia-nyiakan mereka. Jangan kita membiarkan buku-buku sebagai sahabat lama kita berada di rak-rak yang berdebu, di sela-sela atap atau didalam kardus-kardus. Lihatlah Al-Câhiz salah satu ulama islam, ia menyewa pustaka-pustaka untuk membaca buku hingga pagi, apa yang dikatakannya tentang buku-buku : “umurnya masih muda, segar, murah dan mudah ditemukan disetiap tempat yang memiliki kejadian yang menarik dan pengetahuan yang belum pernah ada sebelumnya, karya-karya dari orang-orang yang memiliki otak yang cerdas dan dari pengalaman-pengalaman yang memiliki hikmah, dan aku tidak tahu jika ada sesuatu yang lain seperti buku yang bisa mengumpulkan kabar dan berita-berita dari abad-abad yang lalu dan dari negara-negara yang jauh. Siapa yang tidak mau untuk memiliki seorang sahabat yang ketika kamu inginkan kamu jarang mengunjunginya, jika kamu menginginkan ia menjadi seperti bayangan yang tidak pernah berpisah darimu dan menjadi seperti salah satu dari anggota tubuhmu..!

Buku, ketika kamu menyuruh dia untuk diam dia terdiam membisu, ketika kamu menyuruhnya berbicara ia berbicara, ia yang tidak memulai obrolan ketika kamu memiliki kesibukan, ia yang membiarkan kamu sendiri di waktu-waktu kamu bekerja, ia seorang tamu yang berhias untuk dirinya sendiri dan yang tidak memiliki rasa keberatan dan malu ; teman yang tidak menjadi penjilat bagimu; seorang sahabat yang tidak menghasut dan menyesetkan; yang tidak membosankan; seorang rekan yang tidak munafik dan bukan pembohong.”

mengembangkandiri.com a-book-1760998_1920

MENGAPA SEORANG SİSWA HARUS MEMBACA BUKU?

Membaca buku, memberi pikiran kepada siswa sekaligus meningkatkan fungsi berpikir. Disamping itu, dari fakta-fakta yang di ketahui, membaca menjadi perantara untuk memperkaya pikiran dan mengaktifkan kinerja otak. Di dalam masa pendidikan, anak-anak yang membaca buku lebih mempermudah pekerjaan orang tua mereka dan para pengajar. Orang tua yang menginginkan hasil dari investasi yang diberikan untuk pendidikan anak mereka, seperti menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang mahal dan mencukupi segala sesuatu yang diinginkan anak-anaknya tidaklah memadai. Karena anak-anak yang tidak memiliki kebiasaan membaca, akan susah untuk menjadi seorang siswa yang berhasil.

Generasi-generasi yang tidak membaca buku berefek kepada fungsi pemikiran mereka yang menjadi tumpul, bakat-bakat memunculkan ide-ide baru memburuk, gagal menjalin komunikasi dikalangannya disebabkan kurangnya kosa kata keilmuan. Untuk memperoleh nilai hukum universal, pengembangan diri dan karakter, penguasaan sejarah dan budaya hanya bisa diperoleh oleh generasi-generasi yang suka membaca, meneliti dan menyukai pengetahuan. Di dalam proses pendidikan, kita harus mengembangkan anak-anak kita dengan membaca. Sayangnya dengan menonton televisi, bermain game di komputer, anak-anak kita yang dalam masa pertumbuhan, mereka kehilangan bakat membaca dan mendapatkan kesempatan untuk membaca. Anak-anak yang membaca dan dibacakan buku, pemikiran mereka lebih luas dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Anak-anak bisa berpikir dengan bebas jika ia tumbuh dengan ilmu. Pemikiran yang tidak didukung dengan ilmu ia menjadi dangkal. Dengan membaca akan menambah harta karun kosa kata anak-anak dan menjadikan bakat komunikasi mereka kepada manfaat yang positif. Anak yang membaca akan menambah kapasitas mereka untuk berkomunikasi. Bisa kita tekankan bahwa pada masa sekarang ini orang-orang yang sukses adalah orang yang mengambil manfaat dari kumpulan masyarakat yang berilmu dan saling berkomunikasi.

Anak-anak yang membaca dengan teratur akan mudah dengan belajar dan mengembangkan bakat mereka untuk memberikan hukum yang benar. Kekuatan otak yang didapatkan dari membaca buku-buku; akan berpengaruh positif terhadap proses seseorang dalam belajar, meneliti dan memberikan keputusan serta memperoleh manfaat bagi seseorang menuju insan kamil.

“Otak akan bekerja aktif ketika membaca buku. Dalam keadaan ini, beberapa fungsi pelaksana, akal yang memproses pengetahuan dan proses pengumpulan memori digunakan secara aktif. Di beberapa tempat di dalam otak, terjadi peningkatan penggunaan glukosa saat membaca dan berfikir. Dan hasil akhir dari membaca  akan meberikan perkembangan ke arah positif terhadap fungsi kepintaran seperti konsentrasi, ketelitian, memahami dan memberikan makna dengan menyadari apa yang di lihatnya.”

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

SETAN SANG PENGAHALANG UJIAN DUNIA

Bahkan, setan tergolong kedalam pengahalang penting yang tertera di depan jalan kehidupan kita. Kehidupan juga termasuk kedalam kompetisi dan ujian. Persis seperti kompetisi yang mempunyai rintangan. Mari kita lihat siapakah yang akan tersandung dan terjatuh di rintangan tersebut dan siapa yang akan melompati lalu melalui untuk melaju ke target.

Apakah kalian pernah melihat rintangan-rintangan di lapangan latihan para prajurit tentara?

Bermacam ragam rintangan memenuhi lapangan tersebut. Diantaranya ada rintangan yang tinggi dan harus melompatinya. Sedangkan yang lain ada jurang yang dalam, lalu harus melompat dan keluar dari dalamnya. Bahkan juga ada tangga, harus memanjatinya dan juga masih banyak rintangan-rintangan lain. Semua ini tentunya bukanlah untuk menyiksa para prajurit tentara yang sedang berlatih. Namun pada setiap rintangan akan membantu mengembangkan organ-organ tubuh, otot dan meningkatkan bakat gerakan tentara yang berlatih. Sebagaimana lapangan Pentatlon (panca lomba) sebutan dari tempat latihan ini, jika ia bisa mengembangkan bakat dan kekuatan serta menambah kesuksesan para tentara; maka begitu juga sebagian rintangan dalam lapangan kehidupan, akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman untuk menguatkan kepercayaan dan akhlaknya.

Nah, setan termasuk kedalam salah satu rintangan tersebut. Bahkan termasuk kedalam golongan rintangan yang sangat besar. Nafsu yang terdapat dalam diri manusia,  yang menginginkan keburukan dan juga perasaan yang kuat merupakan dukungan setan yang sangat besar. Untuk melawan persatuan kekuatan-kekuatan jahat ini haruslah dengan daya tahan yang kuat, kukuh dan matang. Namun sebaliknya, jika seperti seorang atlet yang jarang latihan akan sangat mudah tersandung dan ketinggalan di rintangan-rintangan tersebut.

Orang-orang yang mengenal setan dan segala jebakan-jebakannya juga orang-orang yang selalu dalam keadaan siap berjuang berhadapan dengannya, mereka dengan mudahnya melewati rintangan-rintangan setan. Akan tetapi, di setiap sesi latihan, pastilah sebuah perjuangan sangat dibutuhkan, akan ada keringat yang keluar dan sedikit kelelahan. Namun, ketika mangatasi rintangan tersebut lalu tidak kalah terhadap jebakan setan, maka keberhasilan yang diperoleh merupakan salah satu kenikmatan yang paling besar. Kerena ini merupakan ujian manusia itu sendiri. Dengan artian, iradahnya mengukur daya tahannya secara pribadi. Kekuatan iradah, perasaan-perasaan yang sehat dan ujian keimanan yang diberikan ketentramannya bukanlah suatu kenikmatan yang kebetulan.

Bakat manusia akan berkembang secara relatif ketika melewati rintangan yang datang dihadapannya.

Mengembangkandiri.com trees-7847672_1920

MENGHINDARI GIBAH DAN KRITIK BERLEBIHAN DALAM MASYARAKAT

 

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menemukan orang yang suka mengkritik dan menggunjing saudara-saudaranya. Apalagi dalam lingkup masyarakat yang masih memiliki sikap terbuka terhadap gibah dan kritik yang berlebihan. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi tercapainya tujuan pembinaan yang ditujukan kepada kita.

Menganggap sikap mengkritik dan gibah sebagai hal yang lumrah dapat membuat masyarakat menjadi tidak sensitif terhadap tindakan tersebut. Padahal, Al-Quran, Hadits, dan Risalah yang sudah sering kita baca telah menyampaikan bahwa kita harus memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif, mengabaikan kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Masa kini memang lebih menonjolkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai Islam seperti kasih sayang, kelembutan, tenggang rasa, dan toleransi. Namun, hal ini tidak berarti kita harus membiarkan kritikan. Berbagai macam pemikiran, celah-celah kesalahan bisa diberikan kritik yang membangun seraya menawarkan alternatif yang tepat.

Namun, dalam memberikan kritik, kita harus berhati-hati. Hal ini dikarenakan jika kita tidak hati-hati, kritik yang kita sampaikan dapat memunculkan gibah dan kritik yang berlebihan. Kita harus belajar untuk memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif. Kita juga harus selalu mengingatkan diri kita untuk tidak terjerumus dalam perilaku mengkritik yang berlebihan.

Bahkan, menurut Ustaz Said Nursi dalam Risalahnya, meskipun benar, seseorang yang mengkritik tetaplah salah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan tidak sembarangan dalam memberikan kritik kepada saudara-saudara kita.

Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa membicarakan keburukan orang lain merupakan sebuah gibah. Tetapi membicarakan orang-orang yang sudah menyatukan hatinya pada Hizmet merupakan perilaku gibah yang berlebihan. Begitu pula dengan mengkritik orang lain. Tetapi mengkritik orang-orang yang ada dalam Hizmet merupakan kritik yang berlebihan.

Oleh karena itu, kita harus berusaha menghindari gibah dan kritik yang berlebihan dalam masyarakat. Sebagai masyarakat yang saling mendukung dan membangun, kita harus selalu mengingatkan diri kita untuk tidak terjerumus dalam perilaku mengkritik yang tidak sehat. Kita harus belajar untuk menghargai dan memandang saudara-saudara kita dengan sudut pandang yang positif, dan memberikan kritik yang membangun serta menawarkan alternatif yang tepat. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.

“Aku memohon kepada kalian, demi cinta Allah jangan sampai kita menghilangkan ribuan keberkahan yang ada pada Hizmet. Janganlah saling membicarakan keburukan orang lain, janganlah saling mengkritik, janganlah menggandakan musibah. Jangan sampai kesalahan perilaku kita seperti kesalahan teman² kita membuat kepala mereka terpukul. Sehingga membuat semangat mereka pun tururn, jangan sampai mempermalukannya di hadapan orang lain. Mari kita sampaikan keindahan-keindahan yang nantinya akan menjadi sumber bagi usaha, perjuangan dan gairah mereka. Kita persembahkan pemikiran kita sebagai alternatif yang sesuai. Dan mengantarkan keberuntungan mereka pada kehidupan kita semua.”