Mengembangkandiri.com wooden-hut-7884975_1920

DUNIA ADALAH TEMPAT UJIAN

Manusia selalu diuji setiap saat, dan dengan ujian tersebut manusia bisa menjadi mulia atau hina. ini menunjukkan bahwa kehidupan di dunia adalah tempat ujian, bukan tempat untuk mencari imbalan semata. Namun, pada kenyataannya, kita juga mendapatkan ganjaran dan manfaat di dunia ini, seperti lahirnya kita sebagai manusia, beragama Islam, menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ, mengenal Al-Qur’an dan melihat alam semesta berdasarkan petunjuknya.

Dalam kehidupan ini, ujian yang kita hadapi sesuai dengan tingkat keimanan kita kepada Allah ﷻ dan keluhuran hati kita. Seperti Nabi Muhammad ﷺ yang diuji dengan ujian yang sangat berat, tetapi Ia tidak pernah gentar dengan ujian tersebut. Ia selalu teguh dalam tugas, kokoh dalam pendirian, dan yakin dalam penghambaan.

Kita harus mengingat bahwa kehidupan di dunia ini adalah tempat berkhidmah, bukan tempat untuk mencari imbalan semata. Seperti Ustadz ucapkan bahwa jika kita ingin menikmati kenikmatan, kelezatan, dan kesenangan, maka harus berada dalam lingkupan dan ketentuan yang dibolehkan oleh Al-Qur’an. Sebagai seorang muslim, kita harus menjalankan tabligh dan tamsil yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Jika kita benar-benar beriman kepada Allah ﷻ, maka kita tidak perlu merasa lemah atau khawatir menghadapi ujian. Kebenaran selalu menang, dan tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya.

“Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka.” (Q.S An – Naml : 70)

Firman Allah ﷻ telah menjelaskan bahwa janganlah kita bersedih hati, karena Allah ﷻ selalu membersamai kita dan memberikan kekuatan yang tak tertandingi.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita harus selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan menjalankan tugas dengan penuh penghambaan kepada Allah ﷻ. Kita harus teguh dalam pendirian dan tidak gentar menghadapi masalah dan musibah. Kita harus mengingat bahwa kebenaran itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha untuk hidup dalam kebenaran dan menjalankan segala tugas dengan sepenuh hati, serta yakin dalam penghambaan kepada Allah ﷻ.

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

PARA TENTARA SUKARELA SETAN

Orang yang menjadi tentara dan selalu berada di belakang setan, ia telah mengundurkan diri menjadi manusia sejati dan telah menjadi makhluk asing. Bahkan sebagian darinya dengan rela hati mau menjadi makhluk asing tersebut.

Mengapakah kira-kira?

Karena, penciptaan mereka sudah rusak dan kehilangan dasar-dasar karakteristiknya, lebih menyukai keburukan dari kebaikan, senang mengikuti setan dibandingkan taat kepada Allah. Dan salah satu dari orang-orang yang seperti ini, ia penasaran dengan setan, penasaran dengan kecintaannya kepada setan, selalu memikirkan bagaimana simbol kejahatan setan, bagaimana setan melakukannya, bagaimana cara untuk mempengaruhi manusia. Dan suatu hari akan datang suatu makhluk yang aneh dihadapan orang tersebut. Dengan perasaan takut, bingung dan sedikit keheranan ia pun bertanya :

  • Siapa kamu?
  • Sayalah setan.
  • Hah!!! Jadi kamu ini setan! Saya sangat senang bertemu denganmu. Saya sangat cinta juga sangat penasaran dengan mu. Bahkan kamu tidak tahu bagaimana senangnya saya bisa kenalan denganmu. Namun ada satu permintaanku padamu.
  • Apakah itu?
  • Saya sangat penasaran denganmu, bagaimana caramu bekerja dan bagaimana caramu mendorong manusia kedalam perbuatan dosa. Maka hari ini sembari berjalan-jalan denganmu maukah kamu menunjukkan kepadaku apa saja yang kamu lakukan?
  • Dengan senang hati, jawab setan. Mereka pun mulai berangkat. Maka setan memperliatkan semua jalan kejahatan dan dosa serta bagaimana ia mengahasut manusia-manusia kedalam dosa dan kejahatan.

Orang yang mengambil kenikmatan dari dosa tersebut, sangat senang menjadi teman setan. Menjelang malam, “untuk kali ini kita cukupkan sampai disini” kata setan. Orang tersebut sangat senang, bahkan tidak mau berpisah dengan setan.

  • “Baiklah! Tapi saya punya pertanyaan terakhir untukmu, maka sebelum berpisah berikanlah jawabannya”, kata orang tersebut
  • “Tanyakan” kata setan.
  • Saya melihat bermacam-macam tali di tubuhmu. Apakah semua ini? Apa fungsinya?

Setanpun tertawa dengan garing lalu ia mengatakan :

  • Saya menggunakan semua ini untuk mengikat dan menyeret manusia ke jalan dan jejakku.

Dengan sedikit keheranan, orang ini berkata :

  • Tapi sepanjang hari kamu telah mengajakku berkeliling, namun kamu tidak mengikatku dengan tali-tali ini.

Maka sebelum setan menghilang dari pandangan, setan menjawab kepada orang tersebut :

  • Saya memasangkan tali ini kepada orang-orang yang tidak ingin dan tidak rela untuk menjadi pengikut saya. Saya menggunakan tali-tali ini untuk memaksa mereka. Tapi kamu dan orang-orang yang sepertimu memang telah menjadi tentara-tentara sukarelaku. Untuk apa saya mengikat dan meliliti kalian? Bukannya kalian memang datang dengan sukarela.

                                                                                           * * *

Nah! Begitulah orang yang memudahkan pekerjaan setan, ada yang terjatuh dalam bujuk rayu dan jebakan setan. Sungguh kasihan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, sebagiannya lagi lebih buruk. Tanpa harus diseret dan diingatkan kejahatan-kejahatan itu oleh setan, mereka sendiri telah terjatuh kedalam kejahatan-kejahatan tersebut. Bahkan mereka mengajak orang lain kedalam kejahatan dan  bertanggung jawab atas tugas setan. Dengan begini, setan dengan hati yang tenang pergi berlibur. liburan yang sangat panjang. Sungguh kasihan orang-orang yang seperti ini.

Sebaagian manusia adalah para tentara sukarelanya setan. Mereka merasakan kenikmatan dari kejahatan dibandingkan dengan kebaikan.

mengembangkandiri.com austria-7507345_960_720

PUASA MERESTORASI KE PENGATURAN PABRIK

Ditulis Oleh : Ashraf Kitaka MSc. Nutrition

Sejauh ini, manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling menakjubkan. Allah sendiri bersaksi tentang ini di dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an yang di dalamnya ia berfirman; “Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Rancangan tubuh manusia yang rumit telah memesona para ilmuwan selama beberapa generasi sebelumnya dan akan terus berlanjut hingga generasi mendatang. Otak manusia khususnya, telah menarik banyak perhatian lalu melahirkan ilmu Neurologi. Otak yang merupakan pusat koordinasi tubuh manusia ternyata mengandung miliaran jalur saraf. Jalur yang berfungsi sebagai penyedia penghargaan otak/reward-system yang berfungsi untuk bertanggung jawab dalam mengendalikan dan mengatur kemampuan kita untuk merasakan kesenangan. Hal ini telah banyak dipelajari oleh para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir. Jalur ini terkait dengan mencari tiga rewards terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan yaitu; makanan, air dan pasangan. Persepsi penghargaan pada otak diatur dalam sebuah sistem kompleks yang melibatkan hormon dopamin, yakni zat kimia yang juga bertanggung jawab untuk membuat kita tetap termotivasi. Dopamin pada tingkat optimalnya membantu kita mencari kebutuhan rasa senang alami dalam rangka untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Namun, masalah biasanya muncul ketika kita secara berlebihan mencari rasa senang ini dan mendapatkannya secara berlebihan juga. Tingkat dopamin melonjak dan sistem rasa senang akhirnya terkesampingkan.

Dewasa ini, dunia telah menjadi salah satu pelopor kebebasan hidup berlebihan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi. Dunia adalah tempat penuh kekurangan beberapa abad lalu, namun kini ia telah berubah menjadi tempat serba ada. Akses dalam mengonsumsi makanan dan minuman dengan rasa dan warna yang beraneka ragam, telah membuat kita kecanduan. Kemampuan kita untuk menemukan pasangan melalui internet sekarang ini pasti membuat nenek moyang kita merasa iri. Selain manfaat tersebut, melonjaknya angka, variasi dan potensi akan tingginya rangsangan rasa senang begitu mengejutkan. Bermain Faceebook, Instagram, Youtube, Tweeter, berbelanja online, berkirim pesan, bermain game, dan membaca berita itu memang sangat menyenangkan, tak aneh jika kita sulit melepaskan diri kita dari hal-hal tersebut. Namun apakah mungkin rangsangan ini mengalahkan sistem Dopamine-reward kita?

Dalam waktu singkat, bayangkan kita ingin memperbaiki dominasi pada system reward otak kita ke dalam mode “Pengaturan pabrik”. System reward otak kita akan kembali kepada keadaan fungsi optimal, yang membuat kita tetap termotivasi untuk mencari kesenangan dengan jumlah yang tepat. Untuk mencapainya, otak kita harus belajar kembali untuk merasakan kenikmatan yang datang dari frekuensi ambang rendah. Penjelasan mudahnya, otak kita belajar untuk makan dan minum dalam porsi sedikit dan mencari pasangan dengan cara yang sehat namun tetap bisa membuat kita bahagia. Dengan kata lain, kita belajar bahwa kita bisa bertahan tanpa harus memenuhinya dalam jumlah berlebih. Bukankah praktik ini dinamakan puasa?

Tentu saja ini bukan kebetulan dimana puasa Ramadhan dalam islam melarang umatnya untuk makan,  minum dan berhubungan intim selama 12-14 jam sehari. Pada dasarnya, proses ini turut membantu memperbaiki arus system-reward / hasrat kita dalam berupaya untuk mengembalikannya pada setelan pabrik. Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa muslim begitu berenergi selama bulan suci?. Orang-orang, yang merasa begitu malasnya sebelum Ramadhan kini tiba-tiba menjadi penuh semangat dalam menghidupkan malam, membaca berlembar-lembar Al-Qur’an dan berdoa sebanyak-banyaknya. Alasannya mungkin berkaitan dengan meningkatnya motivasi sebagai hasil dari pengembalian dopamine kepada tingkat tertingginya. Kini orang tahu mengapa kita sangat dianjurkan untuk melakukan berbagai ibadah dan menghindari perbuatan dosa. Ketika sistem reward dibuat tumpul karena rangsangan yang melemahkan hubungan kita dengan Allah, dalam waktu bersamaan, kita secara spontan akan mulai merasa senang untuk beribadah yang mana hal ini dapat memperkuat hubungan kita dengan Allah. Hal ini terus berlaku selama 30 hari. Mencoba untuk menjauh dari tingginya rangsangan nafsu sebagaimana telah disebutkan diatas akan mampu mempercepat proses ini. Kini anda tahu mengapa anda harus melempar HP anda ke air…. Just kidding!

Untuk menggapai manfaat secara maksimal karena berhasil mengembalikan iman kita ke setelan pabrik, kita harus mempertahankan apa yang telah kita upayakan dalam mencapai titik ini. Untuk menanamkannya dalam pikiran, jika puasa tujuannya adalah mengurangi dan menjinakkan nafsu makan ketika dimana jika hal ini terpenuhi maka kita akan menggapai respons nikmat tertinggi, lalu mengapa kita perlu berbuka puasa dan makan seakan-akan itu merupakan “balas dendam” karena telah seharian menahan lapar. Ini sama seperti ketika kita menyiapkan makanan yang begitu lezat dan tepat sebelum menyajikannya, kita malah membuangnya ke tempat sampah dengan sengaja. Mungkin contoh barusan sedikit ekstrim namun mengena. Manfaat dari menahan diri terhadap makan berlebih saat buka puasa memang tak bisa diremehkan. Ingat, kita memenuhi hasrat kepuasan dari sedikit makan dan minum.

Resep puasa atas kita yang diperintahkan oleh tuhan kita adalah manifestasi dari rahmat dalam dan dari dzat-Nya sendiri. Ketetapan puasa atas kita ini seperti cara Allah berfirman kepada hamba-hamba-Nya: “Jauhkanlah sejenak dirimu dari hal-hal yang sangat menyenangkan bagimu hanya agar kamu tidak kebergantungan kepadanya, berhubunganlah dengan-Ku melalui ibadah dan menahan diri dari dosa seperti ini. jalan yang paling bermanfaat dari apa pun yang pernah Anda ketahui, berbagilah dengan apa yang telah aku berikan kepadamu dengan hamba-hamba-Ku dan lepaskan diri Anda dari kesenangan sia-sia yang darinya karena engkau tidak akan pernah mencapai kebahagiaan sejati”.

Ketika kita masih merasa ingin makan, minum, dan menggunakan perangkat kita secara berlebihan, hal ini bisa jadi merupakan indikator hambatan dalam perjalanan memulihkan sirkuit nafsu kita ke pengaturan pabrik. Berpuasa dengan ikhlas, makan secukupnya, tahan diri dari maksiat dan batasilah penggunaan internet dan media sosial mungkin dapat menjadi cara agar kita bisa menuai panen secara maksimal di bulan suci Ramadhan ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa kita.

pexels-ali-karim-5798526

USLUB DALAM BERKHIDMAT

Tanya: Apa saja sarana yang diperlukan untuk mendapatkan inayah Ilahi dalam menggapai ufuk keridaan-Nya?

A. TAWAJUH KEPADA ALLAH
Tawajuh kepada Allahﷻ adalah hal yang sangat penting bagi para pahlawan cinta, serta penyandang kasih sayang yang bertekad meraih rida Allahﷻ. Sebagaimana perkembangan karakteristik personal dari umat manusia dapat terwujud berkat tawajuh kepada Allahﷻ, demikian juga perkembangan usaha khidmat –dakwah– sebagaimana bunga-bunga yang mekar menghadap ke arah matahari, dan hanya mungkin akan terjadi berkat bertawajuh kepadaNya.
Jika seandainya umat manusia memutus tawajuhnya kepada Allahﷻ, maka ia akan masuk dalam ketergelinciran cara pandang terhadap Allahﷻ dan akan terbelenggu oleh angan-angan dunianya fana. Untuk itu, tawajuh kepada Allahﷻ dalam dimensi tauhid, rida, dan keikhlasan amatlah penting demi terraihnya inayat Ilahi yang merupakan salah satu jalan yang tak bisa diabaikan demi menjaga nur kehidupan.
Orang-orang suci yang telah menyerahkan hatinya untuk tujuan yang mulia – dakwah – selama mereka mengikuti prinsip penting ini, maka setiap khidmat yang mereka lakukan, sudah pasti akan mendapat keuntungan dalam kehidupan personal walaupun mungkin mereka tidak mampu menggapai kesuksesan dari segi materi.

B. SESUAI DAN MENGIKUTI SUNATULLAH
Hal lain yang juga diperlukan guna meraih inayat Ilahi adalah mengikuti sunatullah. Allahﷻ menciptakan kita lewat tabir berbagai sebab. Sedangkan perkembangan nama Allahﷻ al-Qudrah akan dimanifestasikan di akhirat. Di akhirat, segala sesuatu terjadi dengan sangat mengagumkan dan hal-hal menakjubkan senantiasa berlangsung disana. Sedangkan dunia ini merupakan alam hikmah sehingga segala sesuatunya terbungkus oleh tabir sebab. Mengabaikan tabir sebab walaupun sebab-sebab itu nyata tidak lain merupakan tindakan jabariah.
Jika demikian, maka sebab demi sebab harus dengan sensitif diikuti dan gerakan demi gerakan harus disusun tanpa cela sesuai dengan sebab-sebab yang berlaku, sehingga mereka yang mengamatinya akan berkata: “Orang-orang ini tidak lain adalah orang-orang yang mencintai sebab-sebab”. Mereka juga harus bertawakal dan bertawajuh kepada Musabbibul Asbab, yaitu Allahﷻ, sembari menihilkan sebab-sebab, sehingga kali ini orang-orang yang menyaksikannya akan berkata: “Mereka seperti jabari yang tidak menerima satupun sebab dan menyerahkan segala-galanya kepada Allahﷻ.” Perilaku yang seperti ini merupakan sesuatu yang amat penting dalam menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Sang Musabbibul Asbab dan sebab-sebab yang diciptakanNya.
Kita juga dapat menyaksikan keseimbangan ini pada kehidupan Baginda Nabi. Baginda Nabi di perang yang satu dan di medan perang lainnya senantiasa membangun benteng-benteng kokoh dan mengenakan dua lapis baju zirah.[2] Contoh ini dan juga banyak contoh lainnya menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengikuti sunatullah dalam derajat yang luar biasa sensitif. Di sisi lainnya beliau juga mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan bermunajat: “Ya Allah, janganlah Engkau datangkan kekalahan bagi pasukanku ini!”. Seakan beliau tidak melakukan persiapan apa-apa. Dengan demikian, kehalusan dan ketelitian Baginda Nabi dalam mengikuti sunatullah serta kepasrahan totalnya kepada Sang Musabbibul Asbab telah sampai pada titik koheren. Ya, beliau telah sampai pada titik koheren dan dengan demikian telah berhasil menjaga keseimbangan sebagai penggambaran dari pemahaman tauhid hakikinya yang sempurna.

C. KEBERLANGSUNGAN DAN KONTINUITAS
Salah satu dinamika terpenting yang perlu dikerjakan demi diraihnya inayat Ilahi adalah keberlangsungan serta kontinuitas usaha dan upaya seseorang dalam mencapai tujuan yang diharapkannya. Perlu diingat juga betapa banyak sosok yang memulai pekerjaan ini dengan penuh kebanggaan, namun tiga langkah kemudian disebabkan oleh kelelahan, kebosanan, kejenuhan, serta ditinggalkannya aktivitas suci ini karena merasa ia tidak berbeda dengan aktivitas lainnya tepat sesaat sebelum datangnya masa ‘panen’, lalu mereka pun tergusur dan hanya menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar secuil penggalan sejarah belaka.

D. PEMUFAKATAN DAN PERSATUAN
Selain tiga sarana yang telah disebutkan sebelumnya, pemufakatan dan persatuan adalah sebuah sarana yang amat penting guna menggapai inayat Ilahi. Walaupun kekuatan setiap individu yang berkumpul bersama ataupun kemampuan suatu masyarakat yang berkumpul bersama, kekuatannya tak diragukan lagi. Hal ini adalah sebuah fakta bahwasanya anugerah Allahﷻ kepada suatu jamaah lebih besar dibandingkan dengan kumpulan andil dari setiap individu yang berkumpul dalam satu kesatuan tersebut. Karena Allahﷻ telah menyatukan syarat terwujudnya kesuksesan pemakmuran dunia dan tersebarnya ruh Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perjuangan kaum mukminin yang terbungkus dalam pemufakatan dan persatuan. Maka saat ia – pemufakatan dan persatuan – diabaikan, walaupun kumpulan mukminin tersebut diisi oleh sosok-sosok agung dan intelek seperti Imam Hasan Syadzili, Imam Ahmad Badawi, dan Syekh Abdul Qadir Jailani, kesuksesan tidak akan mungkin bisa dicapai. Ya, Allahﷻ telah mensyaratkan pemufakatan dan persatuan untuk tercapainya kesuksesan tersebut. Anugerah Allahﷻ yang luas kualitasnya melebihi ke-qutb-an[3] dan ke-ghauts-an[4]. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ “Tangan Allahﷻ berada di atas tangan mereka”[5] serta sabda Baginda Nabi: “Inayat dan kodrat Ilahi ada bersama jamaah”[6]. Maka dari itu sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, permohonan terbaik guna dikabulkannya pertolongan dan inayat Ilahi adalah pemufakatan dan persatuan.
Kesimpulannya, barangsiapa yang ingin meraih inayat Allahﷻ, maka dia harus mengikuti nasihat-nasihat ini; khidmah-khidmah yang akan dikerjakan harus dijalankan di atas petunjuk dan bimbingan ini.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Hizmette Üslup’ Dari Buku Prizma 4)

EVALUASI
Apa hubungan inayah Allah dan tawajuh kepadaNya?
Apakah yang dimaksud dengan sunnatullah? Jelaskan!
Sebutkan empat langkah untuk mendapatkan inayah Ilahi!

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

SETAN BAGAIKAN KARUNG PASIRNYA PETINJU

Berarti, walau bagaimanapun, pisau itu digunakan untuk memotong roti, karena memang fungsinya untuk itu. Api diperlukan untuk memasak makanan, jika kita memasukkan tangan kedalamnya maka akan mengerang kesakitan, karena bukanlah untuk itu kegunaannya.

Maka dari itu, sebab dari penciptaanya setan bukanlah untuk patuh dan mengikutinya; namun disetiap kedatangannya kita mengusir dan melakukan kebalikan dari apa yang dikatakannya. Dari perspektif ini setan terlihat bagaikan karung pasirnya petinju.

Coba perhatikan, karung pasir bagi petinju yang handal sangatlah berguna dan bermanfaat untuk latihannya. Semakin dipukul atau ditinju maka otot-otonya akan berkembang, sistem pernafasan akan terbuka dan bakatnya bertambah, karena memang inilah fungsinya, yaitu agar para petinju melakukan latihan dan semakin handal. Akan tetapi jika petinju yang tidak cekatan, maka karung pasirnya bisa menjadi musibah baginya. Misalnya ketika melakukan latihan, ia berbicara dengan orang lain atau sedang memerhatikan sesuatu lalu ia tidak melakukan pukulan ke karungnya secara teratur, maka karungnya yang akan memukulinya dan bisa jadi babak belur. Nah, sekarang jika petinju yang seperti ini mengatakan “keluarkan karung ini dari tempat latihan karena sangat berbahaya”, apakah ini benar?

Benar jika bagi dirinya karung itu berbahaya akan tetapi ini karena kecerobohonnya dalam memakai dan sangatlah bermanfaat bagi petinju yang cekatan. Maka karung tinju bisa jadi sesuatu yang berbahaya bagi yang tidak bisa menggunakannya atau bisa menggunakan namun tidak dengan hati-hati.

Nah, anak-anak! Setan itu bagaikan karung tinju bagi kita. Apabila di setiap kedatangannya kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan, menjauh dan mengusirnya maka itu sangat bermanfaat, sangat penting dan menjadi sesuatu yang baik untuk kita. Karena kita akan mendapatkan pahala dan maknawi kitapun bertambah jika kita tidak mendengarkan bisikannya dan tidak mengikuti pekerjaannya.

Tapi jika seperti yang dilakukan petinju ceroboh tadi, jika kita behadapan dengan tidak hati-hati dan ceroboh, mendengar dan mengikutinya maka kita akan memperoleh dosa. Dengan begini kita telah menjadikan setan sesuatu yang jelek dan berbahaya bagi kita.

Mari kita lihat, siapa saja yang berhati-hati dan menjadi petinju yang handal, yang bisa meninju setiap kedatangan setan kepadanya dan siapa yang bakalan di tinju hingga sengsara?. Nah, inilah petualangan dunia yang sangat penting. Akan tetapi siapa yang bisa dihajar oleh setan sangatlah lebih buruk dibandingkan dihajar manusia. Karena pukulan setan bukanlah melukai atau menghancurkan wajah dan mata kita, melainkan ruh, jiwa hati nurani bahkan iman kita.

Para petinju berlatih dengan karung pasir. Petinju yang tidak berlatih dengan karung pasir, maka akan mudah K.O dihadapan lawan.

mengembangkandiri.com ringlet-7861419_960_720

PENCIPTAAN SETAN BUKANLAH SESUATU YANG BURUK

Pertanyaan :   Apakah penciptaan setan merupakan hal yang bagus atau jelek? mengapa Allahﷻ menciptakan setan? apakah agar manusia melakukan kejahatan atau selalu melakukan dosa?

Jawaban : Beberapa muridku yang bisa memahami inti pada contoh-contoh yang sebelumnya mengangkat tangan lalu memberikan jawaban. Mereka hampir menangkap hikmah dari penciptaan setan. Setelah panjang lebar hasil yang kita sepakati bersama, bahwasanya penciptaan setan bukanlah hal yang buruk, jelek atau tidak perlu.

Allahﷻ menciptakan setan dengan satu sebab, dan sebab ini sangatlah penting dan juga sangat diperlukan. Karena Allahﷻ sangat mencintai hamba-hambanya. Dia menginginkan hamba-hambanya yang baik, bermanfaat dan layak ditempatkan di surganya. Maka setanlah yang akan menjadi penengah dari urusan ini agar kebaikan dan pahala manusia terus bertambah; mereka meraih dan mendapatkan kelayakan menjadi hamba-hambanya.

Sebab itulah Allahﷻ menciptakan manusia yang terkadang bisa naik dan turun derajatnya. Maka dari itu, jika manusia bisa menaikkan derajatnya, ia akan mampu mencapai puncak tertinggi dari hakikat kemanusiaan, bahkan ia bisa menjadi tetangga para kekasih Allahﷻ. Namun, jika derajat kemanusiaan itu turun dan jatuh, maka ia bisa berada pada level hewan, bahkan lebih rendah dari itu. Nah, setan dalam hal ini sangatlah menguntungkan bagi manusia ketika ia terjatuh lalu bangkit dan menuju puncak tertinggi. Selama tidak mendengar, menahan diri dari kejelekan-kejelekan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang diinginkan setan, maka manusia menjadi mulia, menjadi seperti malaikat, bahkan melebihi itu semua ia bisa mencapai ke puncak dengan tingkat maknawi yang tinggi. Akan tetapi, jika ia mendengar, melakukan kelakuan-kelakuan buruknya setan, maka ia akan terjatuh ke tempat yang rendah, menjadi seperti hewan bahkan lebih rendah dari itu, seperti layaknya setan itu sendiri. Jika manusia sudah berprilaku seperti setan dan perilaku ini sudah mewabah, maka setan sangatlah senang, bahkan yang banyak berlibur itu setan sendiri dari pekerjaan buruknya, karena manusia-manusia sepertinya terus bertambah dan melakukan  semua tugas-tugasnya secara sukarela. Maka setan akan datang dari sebelah kanan dan bersenang-senang.