mengembangkandiri.com map-7106584_960_720

MENGAPA ORANG MENOLONG?

Pada pertengahan tahun 1992, terjadi pembantaian warga Bosnia oleh Kroasia. Pada saat itu, seorang reporter TV Inggris Michael Nicholson, berusaha menyelamatkan seorang anak berusia 8 tahun yang telah kehilangan kedua orang tuanya keluar dari Bosnia, dengan cara memalsukan namanya dalam paspor sebagai anaknya. Tindakannya tersebut sangatlah berbahaya, karena ia bisa saja ditangkap oleh pemerintah setempat yang saat itu sangat tidak ramah pada wartawan asing. Selain itu ia juga akan menghadapi masalah besar ketika tiba di Inggris, karena telah menyelundupkan warga asing.[1]

kisah yang serupa juga terjadi pada tahun 1950 tentang seorang tentara Turki yang menyelamatkan gadis kecil asal Korea, yang kemudian kisah ini diangkat menjadi sebuah film yang berjudul, “Ayla: The Daughter ofWarr”. Film asal Turki yang dirilis pada tahun 2017 ini mengisahkan pertemuan antara seorang prajurit Turki dengan gadis kecil asal Korea Selatan bernama Ayla. Film ini memang diangkat dari kisah nyata seorang sersan Turki yang ditugaskan untuk membantu peperangan saudara diKorea Selatan pada tahun 1950an.

Kisahnya bermula saat Suleyman (İsmail Hacıoğlu) datang ke sebuah desa yang seluruh masyarakatnya telah habis dibantai dalam perang. Tanpa terduga, di sana Suleyman menemukan seorang anak kecil yang selamat dari pembantaian bernama Ayla (Kim Seol). Saat itu Ayla tengah menangis sambil menggenggam erat tangan ibunya yang telah meninggal. Melihat keadaan tersebut Suleyman pun bergegas membawa Ayla ke Kamp untuk menyelamatkannya. Pada mulanya pimpinan Suleyman tidak mengizinkan Ayla tinggal di Kamp, namun berkat keteguhan hati Suleyman, sang pimpinan akhirnya memperbolehkannya.

Di Kamp tersebut Suleyman mengasuh Ayla seperti anaknya sendiri, mulai dari mengajak bermain hingga berjalan-jalan, sampai akhirnya Ayla memanggil Suleyman dengan panggilan kata Baba. Usai perang Suleyman bermaksud membawa Ayla pulang ke Turki tetapi tidak diperbolehkan. Dengan berat hati, Suleyman menitipkan Ayla di Panti Asuhan dengan janji akan kembali suatu saat nanti. 60 tahun kemudian, Suleyman tidak lupa janjinya kepada Ayla, ia terus berusaha mencari keberadaannya. Hingga pada akhirnya salah satu stasiun televisi yang mendengar kisah ini dengan usaha kerasnya berhasil mempertemukan Suleyman dan Ayla yang keduanya telah lama berpisah.[2]

Kemudian timbullah pertanyaan dari benak hati yang paling dalam,

Mengapa dua orang tokoh yang sudah kita sebutkan di atas mereka berani mengambil sebuah tindakan yang beresiko tinggi demi menyelamatkan seorang anak yang tidak dikenalnya?

Apa motivasi yang mendasari tindakannya ini?

Apakah demi popularitas semata (karena ia dapat membuat kisah nyata yang sangat menarik) atau memang tindakannya ini didasari oleh niat yang tulus untuk menolong?

Tingkah laku menolong yang tidak sedramatis cerita di atas sesungguhnya merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Diantaranya; Seperti membukakan pintu untuk orang lain yang sedang membawa banyak barang di sebuah Supermarket, memberi uang untuk pengemis yang ada di jalanan, mengantar seorang kakek/nenek lansia untuk menyeberangi sebuah jalan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tingkah laku menolong, atau dalam psikologi sosial dikenal dengan tingkah laku prososial, adalah tindakan individu untuk menolong orang lain tanpa adanya keuntungan langsung bagi si penolong. Contoh dari tingkah laku menolong yang paling jelas adalah altruisme, yaitu motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Pada altruistik, tindakan seseorang untuk memberikan bantuan pada orang lain adalah bersifat tidak mementingkan diri sendiri (selfish).[3]

Jika kita pernah membaca buku cerita sejarah kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, maka kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memberikan banyak contoh Sifat altruisme ini. Salah satu diantaranya adalah kisah sahabat Rasulullah Utsman bin ‘Affan yang dikenal sebagai saudagar kaya raya dan paling dermawan di kala itu. Pada masa Kekhalifahan Amirul Mukminin Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin pernah dilanda krisis kekeringan yang begitu dahsyat, akibatnya banyak lahan pertanian yang tidak dapat menghasilkan apa-apa. Dalam kondisi sulit seperti ini, menyebabkan para pedagang melakukan banyak cara untuk melipat gandakan harga-harga yang tak sewajarnya.

Pada suatu hari, kapal-kapal niaga milik Usman bin ‘Affan yang mengangkut komoditas pangan seperti jagung, minyak (mentega), dan kismis yang baru tiba, yang di mana jumlahnya hanya bisa diangkut oleh seribu unta, para pedagang penyalur (distributor) dan broker[4] yang ada pada saat itu mendatanginya untuk menawarkan jasa dengan harga tawaran sepuluh kali lipat dari harga biasanya. Akan tetapi ia menolaknya dan berkata, “Adakah yang berani membeli barang-barang ini dengan harga lebih dari 700 kali lipatnya”?, semua pedagang hanya diam terpana. Mereka membayangkan, jika harga setinggi itu di manipulasi dengan selicik apa pun, tak akan pernah ada orang yang dapat meraih laba dan keuntungan. Kemudian Utsman berkata lagi, “Bila tidak ada yang mampu, maka semua ini akan kujual kepada Allah,” seraya membagi-bagikan barang-barang dagangan miliknya kepada orang-orang miskin begitu saja secara cuma-cuma. Angka 700 yang Utsman sebutkan ialah sebuah isyarat yang merujuk kepada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261 tentang ganjaran berinfak di jalan yang Allah rida’i.[5]

Sifat altruisme dalam kisah ini menggambarkan begitu sangat luar biasa dermawannya seorang Utsman bin ‘Affan demi mensejahterakan kehidupan orang-orang yang susah dan sedang membutuhkan pertolongan. Bisa kita bayangkan, bila volume satu truk container setara dengan muatan 25 unta, maka lebih kurang ia telah menyedekahkan harta miliknya sebanyak 40 kontainer jumlahnya. Lalu, di zaman sekarang ini, pernahkah kita melihat konvoi container sebanyak itu yang dimiliki oleh hanya seorang pedagang saja?, adakah pernah kita mendengar ada barang import sebanyak itu yang diinfakkan begitu saja oleh pemiliknya?, yang bahkan pada saat itu harga-harga barang sedang melambung tinggi dan suplai dipasar nyaris tidak ada?.

Sosok Utsman adalah manusia langka, seorang saudagar kaya raya yang tidak pernah silau dengan laba di dunia. Karena ia tahu, sebanyak dan sebesar apa pun untungnya, harta itu tak akan pernah bisa dibawa ketika ajal dan keputusan Allahﷻ mendatangi dan menjemputnya. Ia sangat yakin bahwa simpanan yang sejati dan akan kekal selamanya adalah harta benda yang ia infakkan, diwakafkan, disedekahkan, dan dipinjamkan di jalan Allahﷻ.

Kisah ini hanyalah salah satu dari banyaknya contoh sifat kedermawanan yang dimiliki oleh Utsman, hingga tak heran jika Utsman adalah salah satu dari 10 orang sahabat Rasulullah yang telah dijamin masuk Surga. Ibnu Umar r.a pernah berkata, “Saya datang kepada Nabi SAW bersama sembilan orang sahabat, lalu salah seorang sahabat dari Anshar berkata: “Siapakah orang yang paling pandai dan paling mulia Ya Rasulullah?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak ingat kematian di antara mereka dan paling sangat persiapannya untuk kematian itu. Merekalah orang-orang yang pandai. Mereka pergi dengan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat”.[6]

Terakhir, orang yang telah diberi nikmat begitu banyak oleh Allahﷻ dan kemudian menjadi tumpuan bagi orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, jika ia mau membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Membantu kesulitan orang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara dan tentu saja dilakukan tanpa pamrih. Lakukan saja apa yang bisa kita berikan secara ikhlas. Ingatlah bahwa Allahﷻ adalah Zat Yang Maha Mengetahui segala hal yang dilakukan oleh setiap makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allahﷻ dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 9, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. Dengan demikian, jika semua hal yang kita lakukan diniatkan hanya untuk mengharapkan rida dari Allahﷻ semata, maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah ketika dikerjakan.

[1] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 122.

[2]https://www.kompas.com/hype/read/2021/07/20/091753466/sinopsis-ayla-the-daughter-of-war-kisah-mengharukan-tentara-turki-dan-gadis?page=all. Diakses pada pukul 11.08 WIB, Minggu 4 November 2022.

[3] Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial. hlm. 125.

[4]broker/bro·ker/ n pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual beli atau antara penjual dan pembeli (saham dan sebagainya); cengkau; makelar; pialang. Lihat https://kbbi.web.id/broker.

[5]Wiwid Prasetyo, Utsman bin Affan Akhir Tragis Sahabat Paling Dermawan, (Solo: Tinta Medina, 2015), hlm. 201.

[6]Asy Syaikh Zuhair Syafiq Al-Kubbiy, Sakaratul Maut wa Syiddatuhu, judul terjemah, Imam Al Ghazali Berbicara Tentang Saakaratul Maut dan Kekerasannya, penerjemah Ahmad Sunarto, (Semarang: CV. Surya Angkasa Semarang, 1995), hlm. 6-7.

mengembangkandiri.com feather-g8127c7e69_1920

AKTIVASI MEMBACA

Pertanyaan: Penghormatan terhadap “Gerakan Hati” terlihat meningkat berlipat ganda dari hari ke hari di seluruh penjuru dunia. Dari segi ini hal apa saja yang sebelumnya harus dianjurkan guna tidak membuang kesempatan yang ada dan mempersiapkan kebahagiaan dunia-akhirat seorang lawan bicara?

Jawaban: Esensinya perluasan geometri dewasa ini menjadi pokok pembicaraan. Pribadi kita dalam kondisi sudah mencapai ke 150-160 negara di seluruh wilayah muka bumi. Layaknya hampir tidak ada suatu tempat yang kalian tidak perdengarkan hempasan suara kalian. Sebagai pengutaraan nikmat bisa dikatakan bahwa, kita mendapatkan penghargaan anugerah yang serupa dengan anugerah yang dimuliakan kepada para sahabat. Secara mutlak bahwa skema ini, seutuhnya merupakan sebuah anugerah dan karunia Allahﷻ.

Mengapa anugerah dan karunia ini -diberikan- kepada kita, kita tidak tahu?

Insyallah ini bukanlah sebuah istidraj; ialah bukan karena secara hasil tidak memikat hati kita begitu mengarahkannya kedalam kebanggaan diri.

SEBUAH AKTIVASI RUH YANG BARU  

Berlawanan dengan ukuran ini yakni perluasan geometri saat ini, jika kuantitas dan kualitas orang-orang yang akan melakukan bimbingan masih dalam kondisi matematis (masih bisa dihitung), ketika itu rasa cinta dan kerinduan akan sebuah aktivasi baru dalam hati mereka perlu dihias kembali saat meninjau kondisi yang ada, sama seperti teman-teman di awal tahun 90-an yang mengorganisir kolonisasi ke luar negeri begitu menuturkan pahala hijrah. Al-Quran berpesan وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ “Orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,” menunjukkan kepada kita tujuan ini. Yakni, orang-orang mendapatkan sebuah nilai di sisi Allahﷻ dengan berhijrah. Setelah itu saat mengungkapkan inilah hak sebuah perjalanan hijrah, mereka berjuang di jalan untuk mempertemukan kembali hati orang-orang dengan Allahﷻ begitu menyisihkan hambatan-hambatan yang berada diantara Sang Pencipta dengan hambanya di tempat mereka berhijrah. Oleh karena itu, berhubungan dengan adanya perluasan geometri, merunduk kedalam kehidupan kalbu dan ruh dengan bimbingan yang akurat sama seperti di Periode Kebahagian, kerja keras dalam poin untuk mengarahkannya secara langsung kepada Allahﷻ dalam orbit kalbu dan ruh begitu menggeliat dari kejasmanian, mengeluarkannya dari perihal hewani merupakan hal yang sangat penting. Di masa terakhir sahabat, di awal periode tabiin beberapa pendatang baru yang masuk Islam karena tidak mampu menelaah ruh agama menyebabkan keluarnya aliran seperti Khawarij, Rafidhi dan Batini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika mengungkapkan kondisi ini, bersabda; “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Quran padahal yang mereka baca tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”

Kalian juga bisa berpikir dalam makna ini untuk periode kalian sendiri yang diungkapkan didalam Hadits Syarif. Beberapa orang bisa jadi dahi dan lutut mereka berbelulang karena sholat; tetapi karena tidak mampu sampai kedalam intisari pemahaman hakikatnya mereka tidak bisa lepas dari ifrath dan tafrith. Berlawanan dengan tampilan mereka layaknya mendekatkan diri secara hakikat kepada Allahﷻ dengan tenangnya, mereka mampu mengatakan kafir kepada para paduka seperti Abu Baqar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam limpahkan kabar gembira dengan Surga. Lihatlah bagaimana mereka berada dalam sebuah kontradiksi. Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang kalian kaitkan kedalam agama memberikan kabar gembira -kepada- sepuluh orang dengan Surga, tetapi beberapa menggerutu akan mereka dengan keluhan yang mampu membuat bulu kuduk merinding begitu melontarkannya. Ini merupakan sebuah kejahilan yang bersumber dari ketidaksadaran akan ruh dan intisari agama serta ketidaktahuan akan masalahanya.

Oleh karena itu, ketika sebuah ruh aktivasi yang kedua kembali dipaparkan, supaya tidak terjerumus kedalam deformasi dan perubahan dalam perbedaan kultur dan pemahaman, kita harus mencari celah menumbuhkan insan kamil. Untuk itu yang pertama, individu yang bisa kita katakan sebagai mursyid dan pembimbing harus mengetahui dengan baik Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sumber utama agama. Pada waktu yang sama mereka harus mengetahui lawan bicara yang berada di tempat mereka pergi dengan skema karakteristik dan garis dasar mereka. Disamping ini semua, dalam ukuran tertentu mengetahui akan ilmu sains, yakni sedikit banyak mereka harus meneguk ilmu-ilmu seperti fisika, kimia, matematika dan antropologi. Ya, seorang insan yang akan menjadi pembimbing, harus pergi sebagai seorang individu yang terdidik secara sempurna ketempat ia pergi. Mereka yang pergi sebagai perintis telah pergi dengan iman yang murni, nyata dan tulus dan dengan inayah Allahﷻ menjadi wasilah untuk banyak kebaikan. Namun setelah ini ketika terbuka ke seluruh penjuru dunia maka akan di perlukan sebuah kedalaman, keluasan dan atribut yang berbeda.

YANG MEREKA JANJIKAN DARI MEMBACA DENGAN BERTUKAR PIKIRAN

Ketika karya-karya tuntunan yang kita miliki dibaca untuk kedalaman, keluasan dan atribut ini bukan seperti adat/kebiasaan, melainkan dengan perspektif yang komparatif dan analitik, kita harus membacanya dengan kegigihan dan kerja keras untuk sampai kedalam analisis dan sintesis yang baru.

Lihatlah akan sejarah tafsir; dari hari Al-Quran turun hingga sekarang terdapat banyak tafsir yang telah ditulis, terdapat banyak hasyiah yang disusun. Ya, tafsir yang ditulis tentang Al-Quran kini sudah sampai hingga ribuan jilid. Di satu sisi setiap mufassir yang merupakan “ibnu zaman” sambil memperkukuh tafsiran yang ia ilhamkan sesuai dengan kondisi di masanya berkata, “Dari ayat ini dipahami seperti itu, sampai kedalam kesimpulan yang seperti itu.” ; mengatakannya dan demi pemahaman Al-Quran menawarkan beberapa inisiatif yang baru. Jika kita sudah pernah memadukan beberapa tafsir yang berbeda, kita akan melihat perbedaan ini. Misalkan Razi, menafsirkan sebuah ayat, tetapi Zamakhsyari mengutarakan sebuah makna yang berbeda darinya. Sedangkan al-Bayzawi mengambilnya dengan analisis yang lain. Meskipun biasanya Abu Suud bertopang kepada al-Bayzawi, ia juga memiliki tafsiran khasnya sendiri. Yakni tafsir Al-Quran terus berlanjut tanpa henti hingga ulama Hamdi Yazar yang ada di abad ini dan secara pasti akan terus berlanjut setelahnya. Kita semua harus bergerak dengan cara pandang ini dan kita harus menumbuhkan insan-insan yang membaca dengan baik buah -yang diperoleh dari- eranya, yang sanggup sampai kedalam determinasi dan analisis yang berbeda, yang mampu melihat kedalam makna dengan lebih luas, lebih merangkul dan lebih tajam. Karena para pembina ini akan berhadapan dengan anak-anak dalam atmosfer kultur yang berbeda. Oleh karena itu seorang manusia, jika tidak memiliki persiapan dan berkapasitas terhadap permasalahan beragam yang pemahaman dan kultur itu lontarkan kehadapannya maka ia akan terkena pukulan knockout.

Oleh sebab itu kita mengatakan bahwa, Allahﷻ bisa saja menganugerahkan wasilah yang berbeda yang kalian dapat suarakan petunjuk hati kalian ditempat yang dituju. Tetapi kalian, ketika mengevaluasi wasilah ini, petunjuk ruh kalian, bukan menurut Turki dan kondisi kultur kalian, melainkan harus menyuarakannya menurut kondisi kultur yang kalian pijak didalamnya. Menunjukkan bahwa perlunya pembimbing yang mampu melihat benda dan peristiwa secara lebih komperehensif, yang bisa merangkul lawan bicara lebih luas, yang memiliki hati nurani yang lapang. Untuk memenuhi kebutuhan ini harus dimulai kembali aktivasi membaca dan berpikir.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mendekati permasalahannya dengan kosa kata “tadzakur.” Makna kosa kata ini ialah bertukar pikiran atas beberapa permasalahan dengan keikutsertaan paling sedikit dua atau lebih orang. Dari segi ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengungkapkan juga apakah orang-orang yang berada dalam tukar pikiran akan terangkul dengan rahmat ilahi begitu membentuk halaqah diantara mereka dan ditempatkan di bawah perlindungan. Di sisi lain Ia Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira, untuk majlis yang seperti ini لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” Yakni mau tidak mau sesuatu dari kelompok masyarakat mampu tercampur ke semua yang berada dalam majlis tersebut, masuk kedalam kepala atau kalbunya. Mungkin juga individu tersebut masuk dengan pertimbangan duniawi kedalam perhimpunan tersebut, berupaya untuk mengikat dan memutuskan beberapa manfaat material. Tetapi sambil bertukar pikiran bersama orang-orang itu sesuatu pun akan tercampur kedalam dirinya. Lebih tepatnya individu tersebut, akan merasakan celupan perhimpunan. Satu kuas Syakhsiah Ma’nawiyah pun terambang kepadanya dan dengan ini ia pun akan tercelup dengan celupan ma’nawiyah. Dari segi ini dengan pertolongan dan anugerah Allahﷻ, para mursyid dan pembimbing, dengan wasilah bertukar pikiran, harus ditunjukkan kedalam tingkatan untuk mampu meletakan jalan keluar setiap permasalahan, mencari solusi setiap persoalan, menjawab setiap pertanyaan.

Namun sayangnya kini kita sebagai masyarakat menjauh dari metode membaca seperti ini. Bahkan kalamullah Al-Quran pun menjadi korban kebiasaan, habituasi dan keteledoran. Mungkin ia, tertata dalam sarung beludru di samping tempat tidur kita. Bangsa kita memiliki sebuah rasa hormat dan takzim yang mutlak seperti ini terhadapnya. Aku pun mengapresiasi rasa hormat tersebut. Namun kini orang-orang kita tidak mengetahui akan maknanya. Sedangkan itu adalah sebuah pesan yang datang dari Allahﷻ kepada kita. Namun sayangnya, kita tidak berusaha untuk memahaminya begitu berkata: “Kira-kira dalam pesan ini apa yang diinginkan Allahﷻ dari kita?.” Kita menjadi asing seperti ini terhadap kitab kita sendiri. Ya, kebiasaan dan habituasi telah membutakan mata kita, tidak mengetahui makna kitab agung kita, hanya mencukupi dengan sebuah rasa hormat yang datar seperti ini. Aku sampaikan kembali bahwa aku pun mengapresiasi rasa hormat yang seperti itu. Namun rasa hormat yang sebenarnya akan terwujud dengan menyelusuri ruh, makna dan intisarinya.

Di era ini, bisa dikatakan bahwa kita pun merasakan kebutaan yang sama terhadap karya-karya yang menggambarkan kepada kita akan hakikat Al-Quran dan Sunnah. Melakukan pelajaran secara rutin begitu mengambil salah satu dari karya-karya tersebut pada waktu subuh, tidaklah cukup guna memahaminya. Hakikat yang seharusnya ialah melihat kedalaman hikmah pemikiran dan pemahaman yang dikemukakan dalam karya-karya tersebut dan berusaha untuk memahaminya dengan cara melakukan perbandingan dengan bahasan yang lain. Misalkan kita bisa melakukan interpretasi komparatif dalam ukuran sanggup mengatakan “Imam Ghazali di topik ini mengatakan seperti ini, tetapi Bediüzzaman Said Nursi mendekatkan permasalahan ini dengan sudut pandang yang berbeda” dan meningkatkan sebuah sistem interpretasi yang baru. Pikirkanlah, karya yang memiliki nilai yang agung ini, pertama kali di periode kalian mendengarnya bagaimana ia menggugah perasaan hati kalian, memacu dan menggerakkan kalian? Namun apa yang telah terjadi sehingga karya-karya itu berubah menjadi layaknya sebuah adat? Padahal karya-karya ini yang merupakan kebutuhan pokok bak roti dan air seharusnya diambil lebih dalam lagi dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan harus berusaha juga untuk menangkap cakrawala yang ia tunjukkan begitu merasa tidak cukup dengan yang ia ungkapkan; meningkatkan cara membaca dengan analisa dan sintesis saat berusaha.

KEDALAMAN YANG BERBANDING LURUS DENGAN PERLUASAN

Kita membutuhkan pembimbing dan mursyid yang mampu menerangi jalan kita saat membaca karya-karya dalam metode dan keluasan ini yang sebanding dengan perluasan geometri. Sedangkan ketika kita mencukupi dengan kondisi matematis, karena tidak adanya penyaluran (bimbingan) yang serius bisa jadi terbentuk banyak sekali kerusakan. Bahwasanya kerusakan yang sering keluar pun secara prinsip bersumber dari kealfaan akan kerja keras untuk membaca dengan sungguh-sungguh akan intisari dan perolehan nilai-nilai pribadi kita. Terpaku terhadap simbol dan bentuk, bersandar hanya kedalam lapisan luarnya saja, merupakan perkara pokok yang terletak di dasar permasalahan yang seperti ini. Ustad Said Nursi, membaca 115 kali Risalah Ihlas yang ia tulis sendiri. Seorang profesor sambil menyatakan keheranannya berkata: “Apakah mungkin seorang manusia membaca karya yang ia tulis sendiri sebanyak ini?” Menurut saya karya itu harus dibaca, jika memang ia mengimplementasikannya sebanyak itu. Ustad Said Nursi, di setiap membacanya, terbuka kedalam cakrawala lain dengan mawarid dan mawahib (pemberian dan anugerah Allahﷻ) yang lahir kedalam hati dan mengitari layar kedalaman yang berbeda. Namun sayangnya, meski terdapat kesempatan yang luas saat ini, saya merasa bahwa kita tidak sanggup membaca dengan sudut pandang yang tajam dalam keluasan “Topik ini disana dibahas seperti ini. Sedangkan ditempat yang lain dalam bentuk rangkuman mengemukakannya seperti ini. Diantara yang disana dengan yang disini memiliki hubungan yang seperti ini.”

Kini sebagai masyarakat, kita membutuhkan mursyid dan pembimbing yang menjadikannya sebagian dari tabiatnya sambil memasukkan, menyerap dan mencerna karya-karya yang telah dilakukan penafsiran dan penjelasan dalam esensi yang khas baik itu menurut Al-Quran, Sunnah atau era kita. Jika tidak, ketika di satu sisi terwujud perluasan dengan kecepatan akhir, di sisi lain kita berhadapan dengan lima puluh permasalahan yang berbeda di lima puluh tempat dalam bentuk yang tidak kita tunggu. Kali ini kalian akan berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan itu, menghabiskan energi kalian dengan hal tersebut dan mungkin sebagian besar tidak akan mampu untuk mencari solusinya.

Ya, saya ungkapkan sekali lagi bahwa, sepanjang sejarah, orang-orang yang belum terdidik matang selalu mengeluarkan masalah. Ribuan Khawarij memiliki anggapan menurut mereka sendiri begitu berpadu. Ketika Ibnu Abbas yang dimuliakan dengan julukan ulama ummat berkata saat pergi kehadapan mereka “Kalian mengklaim seperti ini namun masalah yang sebenarnya ialah seperti itu” ratusan dari mereka menjawab, “Benarkah? Kita tidak pernah memahami permasalahannya seperti ini!.” Mungkin ada beberapa diantara mereka ini yang sholat seratus rakaat setiap hari, menghatamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari. Namun orang mereka memandang kafir para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr Ibnu Ash.

Topik yang perlu diketahui oleh setiap orang jika tidak diketahui dengan benar dan utuh dan jika tidak berjalan menurut maklumat yang benar itu dapat keluar sebagai masalah setiap saat. Dalam kondisi ini kuantitas akan menunjukan perkembangan meskipun serampangan dan hafidzanallah permasalahan akan masuk kedalam sebuah titik yang mana mengharuskan kalian mengatakan “Seandainya tidak terdapat sebuah perkembangan kuantitas dalam ukuran ini!.” Oleh karena itu untuk tidak memberikan celah kepada orang lain, kalian perlu mengetahui hal-hal yang harus kalian ketahui, membangkitkan kedalam kehidupan kalian sesuatu yang seharusnya kalian bangkitkan. Ketika kalian menunaikan sholat kalian harus menunaikan dalam tamkin (mencapai ketenangan) dan kesadaran berada dihadapan Allahﷻ; ketika kalian bersujud hati kalian harus mendidih layaknya panci panas yang mendidih.  Orang-orang harus melihat kalian seperti itu; berkata “Mereka ini benar-benar orang yang beriman dari dalam hati kepada Allahﷻ,” dan mengagumi sholat kalian. Secara pasti kita tidak melakukan ini semua supaya mereka mengatakannya. Tetapi kita harus menjadikannya salah satu dari tabiat dan kedalaman kita. Oleh karena itu ketika orang-orang mengetahui banyak akan kedalaman dan kuantitas ini yang dijadikannya sebagai tabiat, layaknya terperangkap ke dalam jazibah kudsiyah (tarikan suci) mereka akan mengatakan “Inilah sesuatu yang aku cari, aku telah menemukan yang aku cari!”

Akhirnya disamping kecerahan pikiran, kejernihan dan pengungkapan permasalahannya dengan benar, daya tarik yang ada dalam tamsil (contoh) memiliki pengaruh dan kedalaman tersendiri. Dari segi ini ketika memulai aktivasi yang baru atas nama kemanusiaan, kita harus berdedikasi dengan penuh semangat layaknya baru memulainya kembali secara dunia ruh dan alam jiwa begitu berkata “Bismillah.” Keidealan ini, ketika dimisalkan dalam contoh Hulusi Efendi, Hafiz Ali dan Husrev Efendi, orang-orang yang melihatnya akan datang sambil berlari dan seorang yang datang pun tidak akan pergi begitu berpaling. Kita harus tahu bahwa orang-orang yang pergi begitu berpaling, pergi karena tidak menemukan yang mereka cari. Yakni dia akan masuk kedalam pertimbangan “Mengapa saya harus membuang waktu dengan sia-sia? dan menjauh. Oleh karena itu meski diri kita dan hawa nafsu, dalam topik ini yang seharusnya kita lakukan ialah harus hidup untuk menghidupkan, bangkit begitu jatuh dan sepanjang hidup meletakkan kerja keras dan harapan yang sungguh-sungguh.

(Diterjemahkan dari artikel “Okuma Sefebirliği” dari buku Kırık Testi 11; Yaşatma İdeali)

mengembangkandiri.com pexels-miguel-á-padriñán-194094

INTENSITAS DAN KASIH SAYANG DALAM KEPEMIMPINAN

Pertanyaan: Jika seorang pemimpin memiliki sifat yang lembut dan fleksibel, terlihat bahwa orang-orang akan mudah berpadu dengannya, namun mereka bisa saja menyikapinya tanpa ada rasa kerja keras yang disiplin; sedangkan jika memiliki sifat yang keras mereka akan bekerja dengan serius tetapi kali ini mereka tidak dapat mencurahkan rasa kasih mereka terhadap atasan, merubahnya kedalam kondisi ruh yang kaku dan mudah tersinggung. Sikap yang bagaimana dalam situasi ini yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin yang ideal?

Jawab: Kepemimpinan, merupakan sebuah tugas dan tanggung jawab yang pertama kali dimulai oleh ayah dan ibu, yang kemudian berlanjut sesuai usia dalam keluarga, yang nantinya akan kita jumpai dalam hampir setiap tahapan kehidupan. Untuk itu, sama halnya kepala sekolah yang ada di sekolah, guru yang ada di kelas, komandan yang ada di barak, direktur yang memberikan pekerjaan di pabrik; seseorang yang memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan individu juga merupakan pemimpin. Namun kepemimpinan, apalagi sebuah kepemimpinan yang adil bukanlah pekerjaan yang mudah seperti yang dibayangkan; merupakan hal yang benar-benar sulit dan secara hakikat jumlah orang yang berhasil dalam kepemimpinan sangatlah sedikit.

‘GILA’ ATAU SOSOK JAWARA DALAM PEKERJAAN?

Untuk sebuah kepemimpinan yang ideal, memiliki etika kerja yang tangguh dan bergerak dengan disiplin sangatlah penting. Namun sifat ini tidak cukup untuk sebuah kepemimpinan yang sempurna di level yang diinginkan. Misalkan ada beberapa orang yang bertugas sebagai pemimpin yang telah mendedikasikan dirinya dalam pekerjaan dan menunaikan tugasnya dengan kedisiplinan tinggi. Ia menjalankan tugas selama dua puluh jam, bahkan begitu pergi ke rumah, ia pun masih melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Namun sayang, manusia-mansuia semacam ini justru dianggap sebagai orang yang gila kerja oleh lingkungannya. Ia merasa terganggu dan terasingkan dengan kondisi ini. Padahal seseorang yang bekerja keras untuk sebuah keidealan yang agung, berambisi dan gemar terhadap pekerjaan yang ia lakukan, bahkan menjadikannya tergila-gila akan pekerjaan tersebut bukan merupakan hal yang seharusnya dikucilkan begitu dianggap sebagai sifat yang negatif. Ya, yang bekerja keras siang-malam untuk menunaikan tugas yang ia ambil dalam bentuk yang paling sempurna, layaknya meniadakan dirinya dalam pekerjaan itu, orang-orang yang menghabiskan waktunya supaya tidak terwujud kerusakan di lingkup tanggung jawab yang ia jalani dan agar tidak merasakan kegagalan bukanlah seorang yang gila kerja, mungkin harus dilihat sebagai jawara pekerjaan, -dengan kata lain- individu yang menjadi contoh dalam pekerjaannya.

Apalagi disaat keengganan dan kemalasan dalam menjalankan tugas menjadi trand topic pada masa ini, andai semua orang bisa menjalankan pekerjaan yang ia lakukan sambil memiliki etika kerja yang begitu luhur dengan kesensitifan yang penuh dan keseriusan yang tinggi, tanpa harus mengurangi hak orang tua, anak-cucu, dan semua orang yang berada pada tanggung jawabnya. Manusia semacam itu tidak bisa dikategorikan sebagai “gila kerja,” sebaliknya itu adalah sebuah ahlak agung yang dikhususkan kepada orang-orang yang luhur dan sifat mulia yang perlu diapresiasi.

Orang-orang yang memiliki ahlak mulia ini mereka begitu menghayati pekerjaannya itu, sehingga ia pun tak henti berpikir bahkan ketika ia wudhu atau melakukan istibra. Meski pun pertimbangan sejenis itu, dalam lingkup kebutuhan tersebut terlihat tidak sesuai, namun mereka memikirkan rencana dan projek yang berhubungan dengan pekerjaan itu guna tidak berdiam diri disana. Jika seseorang menyatu begitu tergetarkan jiwanya dengan pekerjaan -apalagi jika pekerjaan tersebut berkaitan dengan sebuah keidealan agung dan luhur- yang ia pikul, orang itu akan menjalankan kehidupannya sibuk dengan mencari solusi permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Kalian dapat melihat seseorang yang seperti ini yang dimuliakan dengan etika kerja begitu membuang bagian “gila”nya, dengan pertimbangan sebagai pahlawan yang telah menyatu dengan tugasnya dan kalian dapat mengungkapkan kondisi ini dengan perkataan “Sungguh merupakan sebuah karakter yang mulia, sebuah sikap yang luhur!.”

METODE PERSUASI DAN KESAMAAN DERITA

Namun pemimpin yang sebenarnya bukanlah seseorang yang berjalan sendiri. Ia, adalah seseorang yang menempuh jarak  dengan orang-orang menurut kekuatan dan kesanggupan, kemampuan dan kapasitas mereka yang ada bersamanya, yang mengantarkan serta mengarahkan orang-orang yang ada dibelakangnya kedalam tujuan yang agung dan luhur, yang menggandeng saat membawa mereka dalam sebuah keistiqamahan tujuan. Ini pun akan terwujud dengan penyampaian seorang pemimpin kepada pemikiran orang-orang yang berada bersamanya, masuk kedalam hatinya, menjelaskan deritanya dan pada akhirnya membuatnya menerima saat membujuk mereka kedalam pekerjaan yang mereka lakukan dan pentingnya pekerjaan tersebut.

Ya, pemimpin yang nyata menggetarkan jiwa yang ada dalam hatinya, dan menebarkannya kepada ruh orang-orang yang berada bersamanya, menanamkan kedalam pemikiran mereka dan menjadikan asas yang ia getarkan sebagai derita alam. Misalkan sambil berkata, “Allahﷻ telah memberikan kesempatan dan anugerah sebanyak ini kepada kita. Melimpahkan atmosfer pekerjaan yang indah seperti ini. Oleh karena itu yang layak kita lakukan ialah menggunakan kesempatan dan anugerah ini dengan sesuai tanpa harus menguranginya sedikit pun.

Jika saja kita tidak menggunakan kesempatan ini dan menyia-nyiakannya, apakah Allahﷻ tidak akan menanyakan satu per satu hisab ini semua kepada kita?

Bagaimana kita bisa bangkit dibawah tanggungan ini, bagaimana kita akan memberikan hisabnya?

Harus membangkitkan kesadaran lawan bicara dalam hal pekerjaan yang mereka lakukan, membuat mereka menerimanya begitu membujuknya. Dan juga, pesan yang ingin disampaikan hanya dengan menyampaikan satu kali seperti itu, bisa jadi tidak akan terpantul dalam hati mereka. Oleh sebab itu layaknya melakukan rehabilitasi, permasalahan harus diungkapkan berulang kali dengan metode yang sesuai.

Di sisi lain seseorang yang bertugas sebagai pemimpin, jika permasalahan ini dengan pengutaraannya sendiri mampu menjadikan sebab reaksi, ketika saat itu yang harus dilakukan adalah menemukan seseorang yang tidak akan memberikan reaksi kepada orang-orang itu, kemudian membiarkan orang tersebut menyampaikan perihal yang penting ini. Jika perlu dalam perihal ini berusaha mengadakan satu kali atau beberapa seminar, mengorganisir konferensi dan menjelaskan pentingnya permasalahan ini. Jika seorang pemimpin terus memegang satu sisi penekanan pada dirinya namun yang ada disampingnya selalu bersandar dibelakangnya, guna menjalankan pekerjaan dalam bingkai yang sesuai ia seharusnya memundakkan beban kepada orang yang ada bersamanya dan membawanya saat menariknya, ini pun setelah beberapa waktu berarti menjadikan pekerjaan tersebut tak dapat lagi dikerjakan. Oleh karena itu pemimpin, harus mengajak orang yang ada dibelakangnya untuk berlari, menanamkan kepada mereka perasaan dan pemikiran untuk menjadi pelari dalam sebuah maraton dan untuk itu harus menyediakan keberlangsungan sebuah pekerjaan dalam jangka waktu yang panjang dengan usaha dan kerja keras yang sama.

Seorang pemimpin untuk dapat mewujudkannya, jangan sampai memandang kecil dan rendah pendapat dan pemikiran orang lain serta harus mengapresiasi begitu menerima dengan bijak apa yang mereka lakukan, menghembuskan kerja keras dan gairah mereka. Misalkan, meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan, dengan mengatakan; “Teman-teman! Saya berterima kasih atas kerja keras dan semangat yang telah kalian upayakan dalam perihal ini. Sebenarnya yang seharusnya dilakukan adalah hal lain tetapi apa yang kalian lakukan pun tidak mungkin untuk tidak diapresiasi,” harus mengetahui untuk meletakkan sebuah sikap yang struktural dan positif bahkan dihadapan banyak kekurangan. Dengan ini tidak mendorong adanya rasa tidak hormat dan reaksi orang-orang akan dirinya serta tidak sampai menjatuhkan wibawanya sendiri dihadapan mereka. Karena ketika seorang pemimpin selalu menyalahkan orang-orang yang ada bersamanya, akan memacu perasaan bersalah yang ada dalam diri mereka, menjauhkannya dari dirimu dan bahkan dapat mengarahkan mereka menuju jalan yang akan memutuskan hubungannya denganmu.

KASIH SAYANG YANG LEBIH LUAS DARI ORANGTUA

Seorang pemimpin yang hakiki, sifat-sifat yang satu sama lain dapat berkembang secara berkebalikan, yang terlihat kontras, di waktu yang sama adalah pahlawan keseimbangan yang menempatkan dirinya tepat di jalan tengah. Dari segi ini, disamping kesadaran yang luhur, keseriusan yang tinggi dan kedisiplinan yang matang, ia bersikap dengan cinta dan kasih sayang sedapat mungkin kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Yakni, di satu sisi menjaga kedewasaan dan keseriusan yang tugas haruskan, tidak berbaur berlebihan dengan orang-orang yang ada bersamanya dalam ukuran yang akan meretakkan kedewasaan dan keseriusan itu, tidak masuk kedalam perbincangan yang sia-sia. Namun di sisi lain layaknya malaikat yang penuh dengan kasih sayang selalu berada disamping mereka dalam segala jenis derita dan permasalahan dan bergetar diatasnya. Misalkan, ketika kamu sadar bahwa mukanya terlihat masam di saat salah satu diantara mereka datang ke kantor, segera mendekatinya dengan sebuah kasih sayang yang lebih dari kasih sayang orang tua; berusaha untuk mempelajari begitu memahami apakah ada masalah dengan istri, anak atau masalah dengan salah seorang atau juga sebuah hutang. Yang mana ia akan menyikapinya dengan penuh perhatian dalam ukuran yang orang tuanya pun sendiri tidak akan mampu menyikapinya seperti itu, membakar hatinya dan mencari jalan solusi alternatif. Dan sikap ini tidak hanya sekali, tetapi mengetahuinya sebagai tugas yang harus dilakukan dalam setiap derita dan permasalahan.

Kita bisa memperbanyak contohnya. Jika kalian seorang guru, kalian bisa mengatur jarak tertentu terhadap siswa kalian, kalian tidak akan bersama dengan mereka dalam permainan dan hiburan yang akan meretakkan sikap kedewasaan dan keseriusan kalian. Karena yang berbagi sikap kelalaian dengan siswa-siswanya dengan jalur permainan, dalam artian yang bersikap kekanak-kanakan seperti mereka, sangatlah sulit untuk menjaga sikap keseriusan, sulit membuat mereka mendengarkan perkataan di kesempatan lain begitu menjaganya. Namun dihadapan derita dan permasalahan mereka layaknya malaikat pelindung segera menunjukan dirinya disamping mereka dan mengepakan sayap kedalam diri mereka. Ketika kalian melihat seorang siswa yang memasamkan mukanya kalian akan mengelus rambutnya dan meluapkan kasih sayang dan kehangatan yang dapat membuka permasalahannya kepada kalian. Yang mana ia akan membuka dengan mudahnya kepada kalian derita dan permasalahan yang bahkan ia tidak sampaikan kepada ayah ibunya, kalian akan dijadikan sebagai teman penjaga rahasia dan memiliki derita yang sama. Dalam setiap unit apapun ia berada, jika seorang pemimpin dapat membawa dua masalah ini dengan seimbang berarti ia telah berhasil dalam kepemimpinan di ukuran tersebut. Jika permasalahan hanya bergantung dengan keseriusan dan kekerasan kalian, akan dianggap oleh para lawan bicara sebagai bentuk kebencian, terbesit komentar aneh berhubungan dengan yang kalian lakukan, menghubungkannya kedalam bait negatif seperti “gila kerja” dan pada akhirnya kalian akan jatuh kedalam posisi seorang pemimpin yang tidak didengar perkataannya sambil merasakan kehilangan kewibawaan. Yang mana meski kalian dalam kondisi berlari mati-matian, apa yang kalian lakukan akan tertindas kedalam pandangan yang negatif begitu tersohor dengan sifat-sifat yang negatif pula.

Selain itu, ketika seseorang melakukan kesalahan saat tidak mampu menjaga keseimbangan ini ia pun seharusnya tidak bersikap keras kepala dalam kesalahannya dan seharusnya mencoba untuk memperbaiki kesalahannya itu. Mari kita katakan bahwa, kalian telah memarahi siswa kalian karena kesalahan yang ia lakukan, ketika kalian sebenarnya mampu untuk memperingatinya dengan bujukan yang logis, kalian telah mematahkan hatinya dengan sikap yang keras. Dihadapan kondisi yang seperti ini, pertama yang harus dilakukan, kalian perlu membuka dompet kalian dengan murah hati begitu menggandengnya dengan segera, menjamunya dan berusaha mengambil hatinya dengan cara memberikan uang jajan dan kalian harus mampu mengatakan “Maafkanlah saya.” Kalian akan mengatakan “Jika kamu tidak memaafkan saya, saya tidak akan meninggalkan kamu!.” Dengan ini, jika kesalahan yang dilakukan segera diperbaiki, hati yang terpatahkan itu pun akan kembali terangkul dan hubungan dengan kalian akan tersegarkan kembali. Ya, salah satu asas yang paling penting tugas kita adalah kasih sayang. Kasih sayang disamping kedisiplinan, kasih sayang disamping etika kerja, kasih sayang disamping hidup secara teratur… kasih sayang, kasih sayang, kasih sayang…

Apakah kalian tidak melihat kedalam kehidupan Nabi Muhammad SAW! Ia selalu mengatakan apa yang ia katakan kepada khalayak umum, ia tidak pernah berbicara menjurus langsung kepada seseorang. Ketika melihat seseorang dikucilkan ia segera bergerak melindunginya. Misalkan, suatu hari seseorang yang baru masuk Islam, meminta bantuan dari Nabi Muhammad SAW begitu datang kehadapan Beliau. Rasulullah memberikan apa yang orang tersebut inginkan. Namun ia, mengungkapkan ketidakpuasannya sambil merasa tidak cukup dengan hal ini. Oleh karena itu beberapa dari para sahabat bergerak untuk memberi hukuman akan ketidakhormatannya ini, mereka berjalan menuju orang itu. Namun Nabi Agung yang dikirimkan sebagai rahmat untuk seluruh alam, menghalangi mereka dan membahagiakan orang tersebut sambil memberikan sesuatu yang lain. Setelah itu Beliau memberikan sebuah contoh begitu kembali kepada para sahabat seperti ini : “Seseorang melepaskan seekor unta dan orang-orang berlari untuk menangkap unta tersebut. Namun unta yang bergairah itu semakin menjadi-jadi dan lari sekuat tenaga. Pemilik unta datang dengan segenggam rumput ditangannya dan berkata : ‘Jangan mencampuri urusanku dengan untaku!.’ Setelah itu mendekati untanya secara perlahan, memasang tali ke lehernya dan membawanya begitu mengambilnya.” Nabi Muhammad SAW, setelah memberikan contoh ini ia kembali ke para sahabat dan bersabda: “Jika kalian tidak membiarkan orang itu kepada saya, kalian pun akan semakin menjauhkannya dan kalian telah melemparkannya kedalam api. Janganlah kalian ikut campur urusan ummatku!.”

Dari segi ini kita bisa mengatakan bahwa jika kita menunjukkan kebencian dan amarah begitu berkata, “kita akan bersikap disiplin, kita akan membawa orang-orang kedalam barisannya begitu bersikap disiplin” kita akan membuat mereka lari dari kita dan menjauh. Daripada itu, tanpa harus menjauhkan sikap keseriusan dari genggaman, kita harus memeluk mereka dengan rasa cinta yang dalam dan kasih sayang yang luas dan mengepakkan sayap untuk mereka. Yang mana, mereka harus melihat kedalam mata kita dan membuat mereka menunggu dari kita apa yang mereka tunggu dari ayah-ibu mereka.

Pada akhirnya, dalam pemahaman ahlak yang kita miliki secara mutlak harus ada sebuah kedisiplinan, secara pasti harus menjaga sikap keseriusan, namun di sisi lain harus memiliki rasa kasih sayang dan rangkulan yang luhur. Ketika kedua ini dibawa dalam ukuran yang seimbang itu berarti telah meletakkan sebuah kepemimpinan yang ideal. Karena sebuah sanjungan akan menghasilkan sanjungan. Ini adalah ahlak Ilahi. Allah SWT bersabda: فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” Dari segi ini jika kita memeluk orang-orang yang ada dibawah tangan kita, membukakan hati kita, merangkul mereka dengan kasih sayang dan kedekatan, mereka pun akan memaparkan kesetiaan dalam ukuran yang diinginkan dan berusaha untuk menunaikan tugasnya semampu mungkin dalam bentuk yang sempurna.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul “İdarecilikte Ciddiyet ve Şefkat” dari buku Kırık Testi 10; Cemre Beklentisi)

mengembangkandiri.com pexels-eugene-golovesov-14762148

CARA MENGHINDARI DOSA

Pertanyaan: Apa saja yang harus kita perhatikan terhadap sebuah dosa?                                   Apa langkah-langkah kita untuk bertaubat dari dosa-dosa?

Taubat adalah benteng perlindungan kita yang paling besar ketika kita berhadap-hadapan dengan dosa. Dalam hal ini, kita sangat perlu memperhatikan hal-hal berikut untuk kehidupan kalbu dan jiwa kita:

1. REAKSI DI HADAPAN DOSA

Hal ini berkaitan erat dengan keadaan ruhani manusia pada saat itu. Kadang hal seperti ini terjadi. Yaitu ketika Anda melakukan dosa, maka kepala Anda tertunduk, lalu Anda mulai berdoa dan memohon-mohon agar dosa Anda diampuni. Terkadang juga, tangisan dan rintihan yang Anda lakukan tidak juga menenangkan kalbu Anda. Teriakan yang Anda suarakan pun tidak dapat memadamkan api di dalam hati Anda. Tapi semoga saja rasa sedih yang selalu mengganggu batin Anda untuk sebuah taubat akan lebih makbul dan lebih valid di sisi Allahﷻ.

Ketika melewati pasaran dan pekan, jika tanpa disengaja mata Anda tergelincir dan membuat Anda berpikiran seperti ini: “Aduh! Apa yang telah kulakukan! Harusnya aku bertawajjuh kepada Allahﷻ di setiap saat sebanyak partikel tubuhku, aku malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat dan berbuat dosa. Sedangkan aku bisa saja menutup mata. Harusnya aku bisa memilih jalan yang lebih selamat dan aman meskipun jalannya jauh dst.” dan Anda segera menghamparkan sajadah serta bersujud sembari merintih memohon ampunan atau dengan kesedihan yang menyelimuti batin membuat dunia Anda semakin menghimpit, artinya pada saat itu Anda telah mencapai taubat yang hakiki. Ya. Taubat sebenarnya adalah sebuah penyesalan dan api yang membara di dalam hati.

Dalam hal ini yang terpenting adalah mampu menerima dan menganggap hidup bersama dosa-dosa sama dengan hidup bersama ular dan kelabang. Pandangan seorang Mukmin terhadap dosa adalah seperti ini dan harus seperti ini. Sebaliknya, ini berarti ia memiliki keraguan atas akibat dan konsekuensi dari dosa.

Kemampuan untuk merespon setiap dosa dalam bentuk perubahan arus dan perputaran darah di dalam ritme dan pembuluh darah hati dengan sebuah penyesalan batin adalah sangat penting.

2. DOSA BERUMUR PENDEK

Ketika Anda jatuh pada sebuah dosa dan terpeleset dalam atmosfer dosa, maka Anda harus segera bangkit dan melakukan pembersihan diri dengan taubat dan istighfar. Anda harus segera membersihkan diri dan mestinya tidak menunda-nunda. Karena satu jam setelahnya tidak ada dalil dan kepastian bahwa kita tidak akan menghadap ke hadirat Rabb. Jiwa-jiwa yang bersih tidak akan mendapatkan kenyamanan dan tidak akan bisa tidur jika tidak membersihkan dulu dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Meskipun memberikan kesempatan selama satu detik untuk sebuah dosa, sama dengan melakukan sesuatu yang menyerang diri sendiri. Dan yang terpenting dari ini adalah berusaha menunjukkan rasa hormat terhadap ketidak-adaan rasa hormat kepada Allahﷻ. Tidak ada hak untuk melakukan sebuah dosa bahkan untuk sedetik pun. Karena jika tidak segera dihapus dengan taubat, dosa akan seketika berubah menjadi seekor ular beracun yang menggigit kalbu. Dan ketika hati telah ternodai sekali, maka kalbu akan terbuka untuk noda-noda yang baru. Dengan demikian manusia akan jatuh ke dalam ruangan keburukan. Setiap satu dosa melahirkan dosa baru yang lain. Pada akhirnya rahasia ayat, “Tidak, tidak, kalbu mereka telah berkarat.” (QS. Al Muthaffifin 83/14) akan muncul.

Oleh karena itu, perasaan dan pemikiran yang ada dalam diri manusia harus ditarik ke pemahaman ini. Menjelaskan hakikat kepada mereka dan berusaha menyadarkan mereka di hadapan dosa-dosa adalah suatu hal yang sangat penting. Bahkan jika Anda memiliki kekuatan yang mencukupi atau sebuah makam kewalian pun, Anda harus menunjukkan sisi buruk dari sebuah dosa. Hal ini harus dilakukan, hingga Anda benar-benar dapat menghentikan mereka untuk melakukan dosa tersebut.

Ya, orang-orang yang memiliki kalbu yang terjaga dan jiwa yang peduli seolah-olah seperti orang yang mencium bau aneh ketika sedang dekat dengan setiap dosa.

3. MEMBENCI DOSA

Salah satu hal terpenting dalam taubat yang akan kita lakukan adalah melihat dosa dengan kebencian.  Jika dosa tersebut tidak dibenci, maka keinginan untuk menghindari dosa tidak akan pernah terlihat seperti menghindar dan lari dari ular maupun kelabang. Ketika tidak bisa lari dari dosa maka taubat dengan keinginan dan kesungguhan kuat untuk tidak melakukan dosa pun tidak mungkin terjadi. Misalnya, ada sebuah vas kristal yang sangat langka di tangan Anda. Kemudian Anda menjatuhkannya dan pecah. Anda pun akan sangat menyesali dan merintih karenanya. Sama seperti itu. Setiap dosa yang Anda kerjakan akan mengotori dan memecahkan lentera kehidupan Anda. Maka setidaknya Anda perlu bisa merasakan pengaruh seperti pecahnya sebuah kristal materi, ketika berhadapan dengan sebuah dosa. Jika tidak Anda berarti meremehkan dan mengabaikan sebuah dosa.

4. KESEIMBANGAN DOSA DAN TAUBAT

Dosa sangatlah dalam, kotor, dan menjijikkan. Setiap dosa memerlukan taubat yang setimpal. Karena setiap dosa seperti jatuh ke dalam sumur yang penuh dengan kotoran. Sangatlah mudah untuk jatuh ke dalam sumur seperti ini. Namun membutuhkan usaha yang besar untuk mentas darinya.

5. MELIHAT SEBUAH DOSA SEBAGAI DOSA

Setiap pemikiran yang terlintas di benak kita tentang kritikan pada hukum dosa paling tidak sama seperti mengerjakan dosa itu sendiri.

Misalnya, seseorang yang melakukan perzinahan, suatu waktu terlintas: “Mengapa Allah melarang zina? Betapa indahnya kita menikmatinya!” atau seseorang yang terbiasa makan dan minum tanpa mempertimbangkan halal-haram berpikiran, “Andai saja tidak ada hak manusia, alangkah indahnya!” adalah dosa yang lebih besar daripada melakukan dosa tersebut.

Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap tegas terhadap dosa. Kita harus menanamkan prinsip seperti ini: “Hai dosa, kau tidak perlu lelah-lelah. Pintu-pintu telah terkunci. Kau tidak akan bisa masuk!”

Dalam hal dosa perumpamaan yang telah disampaikan Ustaz Badiuzzaman sangat penuh dengan makna: “Larilah kamu dari dosa seperti kamu lari dari ular maupun kelabang. “Mengapa menggunakan ungkapan ular dan kelabang, tidak menggunakan ungkapan kata singa dan harimau yang bahkan sangatlah menarik. Karena, singa dan harimau akan menyerang dengan berani dan gagah. Sebelum kedatangannya Anda bisa merasakan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tapi ular dan kelabang tidak seperti itu. Kapan dan dari mana mereka menyerang tidak diketahui dengan jelas. Maka seperti itulah dosa, licik seperti ular dan kelabang.

Kesimpulannya, selalu waspada dan sadar terhadap dosa-dosa. Jangan pernah lupa: Kewaspadaan terhadap dosa sama dengan kesetiaan kepada Allahﷻ.

Kita bisa melihat permasalahan dosa sebagai dosa dalam hadis, “Adznaba ‘abdii dzanban”.  Yaitu, hadis yang menjelaskan bahwa seorang hamba mengerjakan dosa berkali-kali dan Allahﷻ pun akan mengampuni setiap ia melakukan itu. Maksudnya: “Zanb” dan “Zanab” berasal dari satu akar kata yang sama. Zanb artinya dosa. Sedangkan Zanab artinya ekor. Dengan begitu: Seorang hamba yang berkata, “Ya Rabbi aku telah melakukan dosa.” “Ya Allah, aku kembali memperpanjang ekorku. Dalam kondisiku yang seperti ini lihatlah aku, baik aku sebagai seekor rubah yang berekor atau seekor kalajengking yang menyengat manusia, ataupun seekor ular yang merupakan ekor itu sendiri! Itulah aku.” Yaitu seorang hamba mengakui dosanya. Tingkatan manusia yang mulia dan diberikan kepadanya seolah dilempar ke sebuah sudut dan terhina. Ia mengakui dirinya telah menjadi hewan dan jatuh ke tingkatan ini.

Sedangkan orang yang telah melakukan dosa dan tidak menyadarinya, ia sebenarnya telah mendapatkan tamparan “kal an’ami balhum adhall” (QS. Al A’raf 7/179) dan terjatuh pada tingkatan yang lebih rendah dari hewan. Pada sebuah hasil survei di kalangan anak muda di Eropa di tahun-tahun sebelumnya menggambarkan sebuah perumpaan yang cocok dengan hal ini. Dalam hasil tersebut, spesifikasi yang dimiliki anak muda Eropa sama dengan spesifikasi anjing jalanan yang liar. Karena sesungguhnya jalan dan cara selain hakikat akan membawa pada hasil di luar hakikat…

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Günahlardan Çıkış Yolları’ Dari buku ‘Prizma – 1’)

mengembangkandiri.com tiga manusia dalam gua

TIGA MANUSIA DI DALAM GUA

Sekelompok manusia melakukan perjalanan bersama, mereka berjumlah tiga orang. Setelah berjalan selama berjam-jam sampailah mereka pada suatu wilayah pegunungan. Matahari sudah hampir terbenam, letih dan lelah sudah mereka rasakan. Nasib, awan hitam juga mulai nampak dan hujan mulai turun. 

Salah seorang dari mereka berkata:

“Kita sudah cukup jauh berjalan hari ini. Sekarang sudah mulai gelap dan hujan mulai turun. Kita bisa melanjutkan perjalanan esok hari saja. Ada sebuah gua di atas gunung ini, kita bisa makan dan berteduh di sana untuk malam ini.”

Dengan bersusah payah mereka bertiga pun sampai ke gua tersebut. Baju mereka basah kuyup. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera menghidupkan api. Tiba-tiba terdengar suara sangat keras yang membuat mereka terkejut. Awalnya mereka mengira terjadi gempa bumi.

Ternyata, telah jatuh sebongkah batu yang sangat besar dari atas gunung karena hujan yang deras. Bongkahan batu tersebut menutup akses keluar dari gua. Dikarenakan besarnya batu dan gelapnya situasi di luar gua, tidak nampak sedikitpun cahaya dari luar gua. Tiga orang tersebut sangat ketakutan. Namun karena lelah yang mereka rasakan, mereka memutuskan untuk tidur terlebih dahulu dan mencari jalan keluar dari gua pada esok harinya.

Pagi hari pun datang, sinar tipis cahaya matahari pagi merangsek masuk diantara celah bongkahan batu dan dinding gua. Tiga orang tersebut mencoba mendorong batu dengan sekuat tenaga, namun bongkahan batu tersebut tidak bergeser sedikitpun. Mereka mencoba lagi, lagi, dan lagi, namun tetap saja bongkahan batu tersebut tidak bergeser.

Mereka mulai khawatir. Mereka mencoba berteriak, namun tidak ada yang mendengar mereka. Daerah tersebut sangatlah sepi dan tidak umum untuk dilewati manusia. Persediaan makan dan minum mereka hanya cukup untuk kebutuhan dua hari. Semua cara yang mereka lakukan untuk keluar dari gua tidak berhasil.

Salah seorang diantara mereka memiliki sebuah ide:

“Berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa adalah kesempatan terakhir kita. Jika setiap dari kita mempersembahkan suatu itikad baik yang pernah kita yakini akan diterima Tuhan, dan kemudian dengan rahmat tersebut, kita berdoa agar batu besar ini bergeser, Tuhan mungkin akan memberikan belas kasih-Nya kepada kita.”

Mereka pun setuju, mengingat harapan yang mereka miliki hanyalah dengan berserah kepada Yang Maha Kuasa, yang menciptakan semua hakikat dan solusi kehidupan.

Yang pertama dari mereka berkata:

“Ibu dan Ayahku  sudah sangat tua. Aku tidak pernah mengizinkan anak-anakku untuk makan sebelum orang tuaku makan. Suatu hari, aku pergi untuk mengumpulkan kayu bakar. Itu memerlukan waktu lebih dari yang aku perkirakan, aku pulang ke rumah terlambat. Setibanya di rumah, aku langsung memeras susu kambing dan menyiapkannya untuk orang tuaku. Namun, karena sudah larut malam, mereka sudah tertidur. Mereka tertidur sangat nyenyak, aku tidak tega untuk membangunkan mereka, lalu aku duduk disamping mereka sambil membawa semangkuk susu tersebut dan menunggu. Aku duduk disana hingga pagi keesokan harinya. Mereka pun terbangun dan aku suguhkan susu tersebut untuk mereka minum. Ya Tuhanku, aku lakukan itikad baik tersebut untuk meraih rida-Mu. Aku memohon kepadamu, Ya Tuhan, gerakan batu besar ini dengan kuasa dan rahmat-Mu dari itikad baik yang telah aku lakukan.”

Mereka melihat bongkahan batu tersebut bergeser sedikit. Mereka sangat senang dan segera berlari menuju ke arah keluar gua. Mereka memastikan bahwa batu tersebut telah bergeser, namun masih tidak mungkin untuk mereka keluar gua.

Kemudian orang kedua berkata:

“Pamanku mempunyai anak perempuan, aku sangat terpesona oleh putrinya dan aku mengharapkan hubungan yang lebih dekat dengan dia. Namun, setiap kali aku berjumpa dengan dia, dia menolak diriku. Beberapa waktu setelahnya, terjadi kekeringan di daerah kami. Pamanku sudah sangat miskin, dan dengan kurangnya ketersediaan makanan, mereka menjadi semakin miskin lagi. Putrinya terpaksa untuk mendatangiku dan meminta bantuan. Aku dalam kondisi berkecukupan waktu itu. Waktu itu adalah kesempatan emas bagiku, aku katakan kepada dia bahwa aku dapat membantu keluarganya dengan syarat dia mau menyerahkan dirinya kepadaku dan aku tidak akan membantunya jika dia menolakku lagi. Wanita malang itu tidak punya pilihan lain kecuali dengan menerima tawaranku atau dia dan keluarganya tidak mungkin akan bertahan. Saat diriku sedang berdua dengan dirinya, disaat terakhir itu dia berkata: “Takutlah kepada Tuhan! Kamu paham benar dengan apa yang akan kamu lakukan itu salah, dan tugas kita untuk menjauhi apapun larangan Tuhan.” Imanku tergerak karena ucapannya, meskipun aku memiliki kesempatan untuk memenuhi hasratku, aku berubah pikiran. Aku memberinya uang dan menyuruhnya pulang, aku katakan kepada keponakanku itu untuk tidak mengembalikan uang tersebut sepeserpun. Ya Tuhanku! Aku lakukan perbuatan tersebut hanya demi ridha-Mu. Aku bersimpuh memohon pertolongan-Mu, dengan rahmat-Mu dari perbuatan baik yang aku lakukan, selamatkan kami dari gua ini. “

Tiba-tiba bongkahan batu tersebut bergeser lagi, namun sayang, mereka masih tidak bisa keluar dari gua dengan celah sekecil itu.

Kemudian orang ketiga bercerita juga:

“Aku mempekerjakan beberapa orang untuk beberapa waktu kala itu. Aku memberikan upah setiap dari mereka segera setelah pekerjaan mereka selesai, kecuali ada satu pekerja yang tidak mengambil upahnya. Dengan asumsi bahwa dia akan kembali dalam waktu dekat untuk mengambil upahnya, aku membelikannya seekor sapi dengan uang tersebut. Beberapa tahun pun berlalu, dari seekor sapi sudah beranak pinak menjadi beberapa sapi. Dari keuntungan beberapa hewan ternak tersebut, seekor sapi sudah menjadi satu peternakan besar. Beberapa tahun kemudian, pekerja tadi datang kembali dan menagih upahnya yang belum dia ambil dariku. Dengan menunjukan sebuah peternakan yang besar, aku katakan kepadanya bahwa semua hewan ternak ini adalah miliknya. Pekerja itu kaget dan berkata, “Tolong jangan bercanda. Aku tahu ini sudah lewat beberapa tahun, tapi aku hanya ingin mengambil upahku yang lalu.” Aku membalasnya, “Tidak, kamu sudah salah paham. Aku sedang tidak bercanda. Aku sudah membelikan seekor sapi dengan upahmu dahulu. Setelah bertahun-tahun, jumlah hewan ternaknya terus bertambah, dan sudah berubah menjadi peternakan yang besar. Semuanya adalah milikmu. Ambil semuanya dengan ridaku.” Maka pekerja beruntung tersebut mengambil semua hewan ternaknya, berterima kasih kepadaku, dan pergi meninggalkanku. Ya Tuhan, aku lakukan itu semua tulus karena hanya mengharap rida-Mu. Aku bersimpuh, berdoa kepada-Mu, tolonglah kami dengan rahmat-Mu dari perbuatan baikku ini.”

Setelah doa dan pengharapan mereka, bongkahan batu yang menutup akses keluar gua tersebut bergeser lagi. Celah untuk keluar dari gua sekarang sudah cukup besar untuk mereka keluar dari gua. Dengan penuh rasa syukur mereka keluar dari gua dan merasa sangat lega.

Refleksi diri

  • Ayah dan ibu kita telah diamanahi anak-anak seperti kita oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Menghormati mereka adalah kewajiban untuk kita, selain itu, kita sebaiknya sadar bahwa membuat mereka rida juga berarti bahwa kita sedang mencari rida Tuhan.
  • Dalam kondisi yang mendorong kita untuk melakukan dosa, menghindari perbuatan dosa tersebut karena takut kepada Tuhan dapat membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Kita dapat menjadi lebih terpuji dihadapan Tuhan dan hamba-Nya yang mulia.
  • Seorang pengusaha sebaiknya memberikan hak-hak para pekerja yang dimilikinya, dan jangan sampai menyudutkan mereka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Jangan menahan hak orang lain.”1 dan “jangan menuntut yang bukan hakmu.” Seorang pekerja harus menyelesaikan tugas-tugasnya, dan sebaiknya diberikan upah sebelum keringatnya kering. Seorang pengusaha harus melihat pekerjanya sebagai saudaranya sendiri, dan memastikan mereka mendapatkan manfaat atau imbalan dari keuntungan yang dihasilkan usahanya.

Masing-masing pengusaha dan pekerja harus yakin bahwa mereka selalu dalam pengawasan Tuhan. Setiap modal dan aset pengusaha sekaligus tenaga setiap pekerja akan menjadi nilai yang saling menguntungkan. Perselisihan tentang eksploitasi tenaga dan laporan kehilangan karena pencurian seharusnya tidak terjadi.

Pada akhirnya, masing-masing dari kita harus merenungi diri sendiri. Jika saja, kita yang berada dalam kondisi malang di dalam gua seperti ketiga manusia dalam cerita, adakah perbuatan mulia yang dapat menjadi perantara antara kita dan pertolongan Tuhan? Jika kita rasa sudah memiliki perbuatan yang mulia dan bisa menjadi perantara itu, kita harus tetap terus memperbanyak dan meningkatkannya lagi. Jika kita rasa belum cukup tulus dalam melakukan perbuatan baik, dan dirasa mungkin tidak ada yang bisa kita jadikan perantara, kita tidak boleh putus asa, kita harus lebih keras lagi dalam mendapatkan rida Allah SWT.

Diterjemahkan dari buku Essence of Wisdom – Kemal Turan

1 Bukhari, Adab, 86,; Tirmidhi Zuhd 64.