mengembangkandiri.com (4)

BEKALI DIRI DENGAN ILMU PENGETAHUAN

Ditulis oleh : Muhammad Fethullah Gülen Hocaefendi

Semua jenis ilmu mempunyai definisi tersendiri, dan setiap pengamalan juga mempunyai caranya tersendiri. Tanpa mengetahui definisi dan cara pengamalannya, maka seseorang tidak patut membicarakan satu bidang ilmu apa pun, serta tidak patut pula membicarakan pengamalannya sedikit pun. Disebabkan masalah dakwah adalah tugas seorang muslim saja, maka untuk pelaksanaannya, ia mempunyai berbagai pokok dan cara tersendiri pula. Setiap dakwah yang tidak mengindahkan cara-cara yang telah dituntunkan, maka tidak akan ada keberhasilannya sedikit pun, selain kesia-siaan. Apabila padanya ditemukan sejenis keberhasilan, maka nilai keberhasilan itu tidak akan pernah berlangsung lama.

Dalam kesempatan ini, perlu saya sampaikan berbagai cara berdakwah, meski sesungguhnya tata cara berdakwah tidak hanya terbatas seperti apa yang saya sampaikan saja. Sebab, apa yang saya sampaikan di sini hanyalah bagian-bagian terpentingnya saja. Sedangkan secara lengkap dapat ditemukan di dalam firman Allah Swt. dan sabda Rasulullah Saw., yang memberi penjelasan tentang cara berdakwah secara lebih luas serta komprehensif.

Setiap da’i yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, disyaratkan harus mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Sebab, hubungan antara ilmu pengetahuan dengan cara berdakwah sangat erat. Terutama, mempunyai pengetahuan tentang ilmu agamanya, sehingga ia dapat menerangkan seputar ajaran agamanya itu dengan gamblang dan jelas. Kalau tidak, maka dakwah yang ia sampaikan tidak akan berguna, bahkan akan menjadikan orang lain lari (menjauh) dari ajaran agama yang disampaikannya. Yang demikian itu tidak lain karena da’i-nya tidak menguasai ilmu pengetahuan untuk menerangkan materi dakwahnya secara baik dan tepat sasaran.

Saya akan terangkan sedikit saja tentang ilmu ini, terutama yang terkait dengan dakwah. Juga akan dijelaskan cara pengamalannya. Sebenarnya ilmu di alam semesta ini laksana mihrab bagi Nabi Allah Adam as. Setelah itu, tugas berdakwah dilanjutkan oleh para Nabi dan Rasul setelah beliau. Jika demikian, apakah makna ilmu yang sesungguhnya? Arti ilmu adalah pengenalan seseorang kepada Sang Maha Pencipta, kemudian mengenalkan Sang Pencipta kepada orang lain. Dan hendaknya mereka meyakini bahwa Tuhan kita mempunyai sifat-sifat dan nama-nama yang Mahamulia. Berikutnya, hendaklah ia mengenal Tuhan-nya dengan sebenar-benar pengenalan. Adapun ungkapan, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya,” sebenarnya ucapan sebenar ini sangat dalam artinya, bahkan hampir sama derajatnya dengan sabda Nabi, meskipun sebenarnya ia bukan termasuk jajaran di dalam sabda Nabi. Akan tetapi, Al-Qur’an mendukungnya, sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini: “Dan janganlah engkau seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik,” (QS al-Hasyr [59]: 19).

Jika kalian melalaikan Allah, maka pasti Allah akan melalaikan kalian. Jika kalian telah dilalaikan oleh Allah, maka sudah tentu kalian akan jauh dari sisi-Nya. Sehingga kalian akan menjadi orang yang terasing, bahkan kalian tidak akan ingat kepada diri kalian sendiri. Siapa saja yang telah masuk ke dalam lingkaran setan, maka ia akan sangat berat untuk bisa melepaskan dirinya dari lingkaran itu. Bahkan ia akan menjauh dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi-Nya.

Janganlah kalian melupakan Allah Swt. sedetik pun, agar kalian tidak dilupakan oleh-Nya kapan saja. Sebab, jika kalian telah lalai dari mengingat Allah, maka kalian akan menjauh dari sisi-Nya. Berapa banyak orang yang rajin membicarakan Al-Qur’an dan ajaran Islam, akan tetapi ia justru menunggu orang lain yang mengerjakannya? Bahkan, ada sekelompok orang yang justru melupakan ajaran Islam dengan menghinakannya di rumahnya sendiri. Berapa banyak orang yang mengelu-elukan ajaran Al-Qur’an dan al-Sunnah, akan tetapi mereka justru melupakan diri mereka sendiri? Sehingga mereka tidak pernah mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Perumpamaan kita di dalam kehidupan ini sama dengan seseorang yang tengah mendaki ke sebuah bukit yang tinggi. Kalau kita tidak berhati-hati menempatkan telapak kaki kita di posisi yang sebenarnya, maka sudah tentu kita akan terpeleset atau bahkan bisa terjatuh ke jurang, yang itu bisa menyebabkan kebinasaan diri kita. Berapa banyak orang yang lalai terhadap dirinya sendiri? Terutama pada saat mereka berada di tempat-tempat suci, seperti di tempat ibadah, di masjid, di Ka’bah, di Raudah, dan lain sebagainya. Sungguh amat mengherankan betapa banyak di antara mereka yang melalaikan dirinya sendiri di tempat-tempat yang suci seperti itu. Sungguh, alangkah meruginya orang-orang yang seperti itu.

Setiap ilmu pasti mempunyai tujuan tersendiri, yaitu mendorong seseorang untuk mengenal dan mencintai Tuhannya. Karena, jika ilmu tidak mendorong seseorang (pemiliknya) untuk mencintai Tuhannya, maka ilmu itu tidak berguna baginya. Sebab, ilmu harus menjadi sumber kehidupan bagi jiwa dan perasaannya. Jika seseorang telah kehilangan sentuhan dari perasaannya, maka ilmu yang tersedia pada dirinya sama sekali tidak berguna bagi dirinya. Adapun ilmu yang sangat dianjurkan oleh Al-Qur’an dan al-Sunnah untuk menuntutnya adalah ilmu yang dapat mengenalkan seseorang kepada Tuhannya. Selain itu, Al-Qur’an dan al-Sunnah tidak menganjurkan untuk mengetahuinya (tidak mewajibkan untuk menuntut ilmu tersebut).

Sehubungan dengan pembahasan kita kali ini, maka kita perlu memahami seputar berbagai ayat dan hadis yang menganjurkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam firman-Nya berikut ini: “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang mau menggunakan akalnyalah yang dapat menerima pelajaran,” (QS al-Zumar [39]: 9).

Firman Allah Swt. di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa ilmu yang membawa manusia untuk mengenal Tuhannya dengan ilmu yang menghalangi manusia dari mengenal Tuhannya tidaklah sama. Orang yang membolak-balikkan halaman-halaman buku tanpa berusaha memahami isinya laksana seekor binatang pengerat yang mencari rahasia di balik tumpukan suatu benda. Sehingga ia tidak akan sempat memetik segaris pun manfaat dari sejumlah buku yang dipegangnya. Menurut bahasa Al-Qur’an, ia bagai seekor keledai yang memikul sejumlah buku. Dengan kata lain, buku-buku yang meski mengandung banyak sekali ilmu pengetahuan itu pun menjadi tidak berguna bagi seekor keledai. Akan tetapi, berbeda jauh dengan seorang yang rajin membaca ilmu pengetahuan, dan ilmu itu menyebabkan ia mengenal Allah. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman: “Sesungguhnya mereka yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fâthir [35]: 28).

Jelas sekali bahwa firman Allah Swt. di atas memuji orang-orang yang berilmu, yang dengan ilmunya mereka dapat mengenal Allah dengan baik. Sehingga mereka selalu bertata-krama dan bersikap khusyu’ terhadap Tuhannya. Firman Allah di atas didukung oleh sabda Rasulullah Saw. berikut ini: “Sesungguhnya para ulama itu adalah para pewaris para Nabi.”

Menurut hadis di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada sekelompok manusia yang mengenal Allah melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki. Mereka itu adalah para Nabi. Sedangkan kita –sebagai umat beliau– tidak sampai pada tingkatan seperti mereka. Kita dapat mengenal Allah ‘Azza wa Jalla melalui perantaraan cahaya yang keluar dari lisan para Nabi dan Rasul. Sebab, tidak seorang pun mampu mencapai pengenalan diri kepada Tuhannya, kecuali melalui sabda-sabda yang meluncur melalui lisan para Nabi dan Rasul.

Adakalanya sebagian orang dapat mengenal Allah melalui usaha maupun jerih payahnya sendiri. Akan tetapi, untuk lebih mengenal Allah dengan jelas dan gamblang tidak dapat ditembus oleh seorang pun, kecuali melalui petunjuk-petunjuk dari para Nabi dan Rasul. Sebab, mereka adalah para pihak yang telah mendapatkan warisan pengetahuan langsung dari sisi Allah Yang Maha Mengetahui.

Strata selanjutnya (setelah mereka) adalah para hamba Allah yang shalih, yang oleh Al-Qur’an diisyaratkan bahwa mereka itu merupakan pewaris isi bumi. Hubungan antara sabda Rasulullah dan firman Allah di atas sangat terkait erat, karena hamba-hamba Allah yang shalih adalah orang-orang yang paling pantas menjadi khalifah Allah di muka bumi. Mereka adalah para ulama, dan mereka merupakan pewaris para Nabi, bukan yang lain. Sebab, para Nabi adalah penyampai pilihan atas firman-firman Allah.

Demikian pula halnya dengan para ulama. Karena, para ulama adalah pewaris para Nabi, mereka akan mendalami firman Allah dan menyampaikannya kepada orang lain. Adapun kebangkitan seorang hamba itu dimulai dari keberhasilan pemilik ilmu dalam mendalami dan memahami apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Referensi :

[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-‘Ilmu, hadis nomor 10. Juga oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan yang sama, al-‘Ilmu, hadis nomor 19
[2] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-‘Ilmu, hadis nomor 19.
[3] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-‘Ilmu, hadis nomor 1. Juga oleh Imam Abu Dawud, juga pada pembahasan yang sama, mengenai al-‘Ilmu, hadis nomor 9. Diriwayatkan pula oleh Imam Ibnu Majah di dalam Muqaddimah kitab miliknya, halaman 24. Dan pula dirujuk dalam kitab Majma’ al-Zawâid, karya Imam al-Haitsami, Jilid 1, halaman 163.

mengembangkandiri.com (3)

DELINKUENSI REMAJA, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Bagi pembaca berusia 40 hingga 60 tahun, besar kemungkinan memiliki anak remaja. Kadang kita terkaget-kaget dengan kenakalan remaja zaman ini, yang tak pernah terbayangkan oleh generasi yang lahir 40 atau 60 tahun lalu. Jika anak kecil berbuat nakal, sejatinya mereka hanya memiliki banyak akal. Namun, kenakalan remaja berbeda karena berdampak tidak hanya pada dirinya, tetapi juga pada lingkungan sekitar.

Sering kali, kita terjebak dalam pikiran negatif yang menghakimi kenakalan remaja hanya pada individunya, seolah merekalah satu-satunya yang paling bertanggung jawab atas segala kekacauan. Namun, apakah benar demikian? Apakah remaja yang bangga menjadi begal atau merasa keren dengan kenakalannya harus memikul tanggung jawab sendirian?

Pemuda dan Potensinya

Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah mereka yang berusia 10 hingga 19 tahun. Sementara itu, Peraturan Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2014 mendefinisikan remaja dalam rentang usia 10-18 tahun, sedangkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) menetapkan rentang usia remaja adalah 10-24 tahun bagi yang belum menikah. Kementerian Pemuda dan Olahraga menetapkan rentang yang lebih panjang, yakni 16 hingga 30 tahun. Dalam Islam, usia 15 tahun bagi laki-laki dan 9 tahun bagi perempuan menandai jatuhnya kewajiban syariat, meski belum menunjukkan tanda-tanda baligh.

Bung Karno pernah menyampaikan, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Meski terkesan hiperbolik, pernyataan ini mengandung pesan bahwa masa depan bangsa bergantung pada pemudanya. Dengan makna serupa, Sayidina Ali juga berkata, “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”

Jika kita melihat sejarah, banyak pemuda yang berperan penting dalam memajukan peradaban. Sultan Muhammad al-Fatih, misalnya, naik tahta pada usia 12 tahun dan pada usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel. Lalu ada Abdurrahman Ad-Dakhil yang menjadikan Andalusia sebagai pusat peradaban dunia di masa remajanya. Salahuddin al-Ayubi pun dikenal sebagai pemimpin muda yang berhasil menyatukan umat Islam, menghidupkan semangat persatuan dan perjuangan di kalangan umat.

Nama-nama pemuda seperti mereka bersinar di zamannya, tidak hanya menerangi satu sudut kecil peradaban, tetapi menyinari setiap sisi dari bangunan besar peradaban. Dari sejarah ini, kita bisa melihat sulitnya menemukan delinkuensi atau kenakalan remaja dalam setiap episode kehidupan mereka. Apakah cahaya serupa bisa bersinar dari remaja yang nakal di abad ini?

Peran Sentral Pendidikan

Jika remaja adalah mereka yang berusia 12 hingga 30 tahun, maka sebagian besar dari mereka masih berada dalam usia belajar. Faktanya, banyak remaja yang melakukan kenakalan adalah mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Karena itu, menghakimi individu atau menumpuk tanggung jawab hanya pada pelaku kenakalan menjadi kurang bijak.

Jika pendidikan berjalan pada haluan yang benar, cerita kenakalan remaja seharusnya tak perlu terjadi. Pendidikan seharusnya mampu melahirkan insan kamil, manusia sejati dengan jiwa kemanusiaan. Mari kita bebaskan diri dari prasangka dan sikap menghakimi. Kita perlu menyadari bahwa selalu ada tanggung jawab kita dalam kekacauan yang dilakukan orang lain, karena sejatinya kita terikat dalam berbagai ikatan: Unity of God, Unity of Cosmos, Unity of Ecosystem, Unity of Mankind, Unity of People, Unity of Family, hingga ikatan terkecil yaitu Unity of Self.

Jauh sebelum ini, Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama dengan konsep tripusat pendidikan: Lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat. Lalu, bagaimana peran ketiga elemen ini?

Peran Lembaga Pendidikan

KH Imam Zarkasih pernah memberikan nasihat kuat, “Metode lebih penting daripada materi (bahan ajar),” yang kemudian ditambahkan oleh KH Hasan Abdullah Sahal, “Guru lebih penting dari metode, dan yang terpenting dari segalanya adalah jiwa sang guru.” Nasihat ini tepat, mengingat peran sentral pendidikan dipegang oleh guru. Sayangnya, masih banyak guru yang tak sadar akan besarnya peran mereka sehingga hanya mencukupkan diri pada proses transfer pengetahuan.

Muhammad Fethullah Gulen, tokoh asal Turki yang fokus pada pembinaan generasi muda, merumuskan kriteria guru ideal yang mampu menempati hati siswanya. Menurutnya, guru adalah generasi Rabbani, penerus tugas mulia para Nabi. Mereka konsisten dalam kebenaran dan menghidupkan nilai-nilai luhur. Mengajar adalah tugas besar yang tak dapat dipikul oleh mereka yang terjerat urusan duniawi.

Guru adalah rajul al-Qolb (kesatria hati), yang berpikir, melihat, dan bertindak dengan komponen hati. Kehadirannya adalah rahmat; kata-katanya menyejukkan. Ia mengajarkan rahasia penciptaan dari dalam diri manusia, menunjukkan tujuan hakiki dari penciptaan. Cita-cita tertinggi dari guru Rabbani adalah menghantarkan setiap jiwa menuju keabadian, menghadirkan hikmah dalam jiwa manusia, dan menuntun setiap insan mendekat kepada Tuhan.

Guru adalah arsitek rohani yang mendesain masa depan murid dengan teliti, sosok yang menginspirasi hingga ke dalam relung hati. Ia adalah pribadi yang tak segan menggenggam tangan generasi muda, bagaikan tukang kebun yang menanam benih-benih kemanusiaan sejati. Guru adalah pemandu berpengalaman yang membantu peserta didik keluar dari jalan panjang yang membingungkan. Mereka menghidupi anak didiknya tanpa mengharap pamrih, karena mereka tahu:

“Kita adalah hasil dari apa yang telah ditanam oleh para pendahulu; sementara generasi sesudah kita kelak adalah buah dari jerih payah kita saat ini.”

Referensi

Majalah Mata Air Anakku Banyak (N)Akal vol. 6 No 22

Dina Rahmawati, (2021).  Memahami Pengertian Remaja dan Perkembangannya, SehatQ. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.sehatq.com/artikel/memahami-pengertian-remaja-dan-tahap-perkembangannya. Di akses pada Kamis, 18 Juli 2023. Pukul 13.42

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pasal 1 ayat 1

Salim Bin Sumair Al Hadhrami, Safinatun Najah, (Lebanon: Darul Minhaj, 2009) hal. 17

Nur Dinah Fauziah , Muhammad Mujtaba Mitra Zuana. Jurnal Syariah dan Hukum Islam Al-Adalah, Peradaban Islam di Andalusia. Vol.1,No.1, Maret 2016- hal 80-91

AM Ash-Shallabi , Salahuddin al-Ayubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. (Kairo: Darul Ibnu Jauzi. 2007) hal.303

Syair bijak di atas, dipopulerkan pertama kali oleh K.H Imam Zarkasih yang pada awalnya hanya sebatas “ At-thariqah ahammu mina-l-maddah” lalu kemudian dilanjutkan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal sehingga menjadi kata mutiara yang seperti di atas. Lihat Binhadjid : Pondok Moderen Gontor “Interpretasi Makna Atariqoh Ahammu Minal Maadah” https://gontor.ac.id/interpretasi-makna-at-toriqoh-ahammu-min-al-maddah/ (dilihat pada Rabu, 28 Juni 2023. Pukul 22.43

Rabbani secara bahasa berarti orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Secara istilah Ali bin Abi Thalib ra., mendefinisikan “rabbani” sebagai: Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas ra. Dan Ibnu Zubair ra. mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya

Fethullah Gulen, Generasi Rabbani, Para Arsitek Rohani. Majalah Mata Air, Vol. 6 No. 21 Tahun 2019, hlm 4

Kata mutiara ini dikutip dari buku M. Fethullah Gulen, Dari Benih ke Pohon Cedar, (Jakarta: Republika Penerbit, 2018), hlm 1. Buku ini merupakan terjemahan dari Cekirdekten Cinara (Bir Baska Acidan Aile Egitimi), Izmir: Nil Yayinlari, 2002

 Lihat Majalah Mata Air, pada artikel berjudul Rasa Tanggung Jawab. 

Lihat Majalah Mata Air, Pada artikel Bagaimana Mau Tak Peduli

mengembangkandiri.com (2)

GURU SEJATI DALAM SOROTAN ZAMAN

Bagi mereka yang memperhatikan perkembangan zaman dengan hati dan pikiran, tentu risau melihat banyaknya sosok yang disebut “guru” justru terjerat dalam berbagai masalah sosial hingga amoral. Di masa lalu, kata “guru” begitu sakral, berakar dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna mendalam. Kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: gu dan ru. Gu berarti kegelapan, kejumudan, dan kelemahan, sedangkan ru bermakna cahaya, penyibak, pengungkap, dan pembebas. Maka, seorang guru adalah sosok yang menyibak kegelapan dengan cahaya ilmu. Sayangnya, kesakralan sosok guru kini terkikis oleh perilaku yang jauh dari moral.

Dalam terminologi Jawa, kata guru dikaitkan dengan istilah digugu lan ditiru — sosok yang dapat dijadikan teladan dalam gerak-gerik, perilaku, dan sopan santun. Namun, dalam dekade terakhir, kata “guru” kerap disandingkan dengan istilah-istilah yang merendahkan. Kini, kita tak lagi asing mendengar istilah seperti “guru cabul,” “guru gabut,” dan “guru tanpa prestasi.” Sementara itu, jarang terdengar lagi istilah “guru berprestasi,” “guru teladan,” atau “guru inspiratif.” Media sosial dan massa lebih gemar membahas perilaku negatif para guru daripada menyoroti guru-guru inspiratif. Apakah benar bahwa guru sejati kini telah menjadi langka sehingga sulit menjadi tajuk utama media?

Memahami Makna Guru

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan guru sebagai seseorang yang profesinya mendidik atau mengajar. Dalam pengertian undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dengan demikian, guru adalah orang yang berprofesi sebagai pendidik, yang bertugas mendidik, mengarahkan, mengajar, dan membimbing peserta didik.

Dalam bahasa Arab, kata “guru” memiliki beberapa padanan kata yang berbeda seperti mu’alim, mu’addib, murabbi, mursyid, dan ustadz. Meski memiliki kemiripan makna, istilah-istilah ini memiliki titik tekan yang berbeda. Mu’alim berarti orang yang mengajar dan memiliki ilmu pengetahuan luas. Murabbi adalah orang yang memelihara dan menjaga murid agar mencapai pertumbuhan moral dan intelektual. Mudarris adalah sosok yang meninggalkan bekas positif dalam hati peserta didiknya, baik dalam perilaku maupun ilmu. Mu’addib adalah orang yang melatih adab, sedangkan mursyid adalah sosok yang memberi petunjuk, mengarahkan, dan membimbing murid menuju keinsyafan serta kedewasaan berpikir.

Guru sebagai Pewaris Warisan Para Nabi

Nabi Muhammad SAW, sebagaimana nabi lainnya, diutus untuk membimbing kaum jahiliyah yang tidak memiliki harapan dan terombang-ambing dalam kebingungan. Nabi datang dengan keteguhan hati dan kelapangan dada, membimbing mereka menuju keluhuran, dan mengangkat derajat mereka dari keterbelakangan menjadi umat yang memimpin peradaban. Nabi tidak hanya mengeja hakikat iman, penciptaan, dan keberadaan, tetapi juga menekankan pentingnya pena, buku, dan membaca. Amanah pertama yang beliau terima adalah perintah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”

Nabi Muhammad SAW adalah guru sejati yang menguasai semua kompetensi hakiki seorang pendidik. Sebelum metodologi mengajar dirumuskan, Rasulullah telah mempraktikkannya, menjadikan muridnya tidak hanya cerdas, tetapi juga luhur. Kurikulum yang diterapkannya mampu mengubah pribadi bengis menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, jauh sebelum ada standar kompetensi guru masa kini.

Pada awal masa kenabiannya, Rasulullah mengenalkan dirinya sebagai Muallim (guru), karena tugas utama sang Nabi adalah mengajar dan membangun peradaban melalui iman. Pendidikan adalah profesi yang diamanahkan kepada para Nabi karena tujuannya selaras dengan hakikat penciptaan alam semesta: mengenalkan manusia kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Walaupun para Nabi telah tiada, kewajiban mendidik tetap relevan, karena kematangan manusia membutuhkan proses panjang.

Kompetensi Guru Sejati

Profesi guru melibatkan hampir semua aspek kehidupan. Guru sejati menyerahkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan terkadang jiwa dan hartanya untuk memastikan generasi tumbuh sebagaimana mestinya. Jika pandai besi harus serius menempa pedang, maka guru harus lebih sungguh-sungguh dalam menempa pribadi. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang guru harus hidup sesuai dengan apa yang diajarkannya. Ia menggambarkan guru sebagai tongkat, dan murid sebagai bayangannya — bayangan tidak akan lurus dari tongkat yang bengkok. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya kasih sayang, kezuhudan, menghindari dosa, serta kebijaksanaan dalam mengajar.

Muhammad Fethullah Gulen, ulama kharismatik masa ini, menjelaskan bahwa guru ideal harus terus menambah wawasan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu. Pertama, guru harus membekali diri dengan ilmu yang luas. Kedua, hati guru harus selaras dengan Al-Qur’an, sumber ilmu bagi orang beriman. Ketiga, metode yang digunakan harus sesuai dengan syariat. Keempat, guru perlu menjaga keikhlasan, hanya mengharapkan ganjaran dari Allah. Kelima, guru harus melakukan apa yang diajarkannya, karena tidak boleh ada pertentangan antara ucapan dan batin seorang pendidik.

Fethullah Gulen juga menegaskan bahwa guru teladan adalah sosok yang hatinya penuh kasih sayang, rela berkorban untuk memastikan generasi berkembang sebagaimana mestinya. Mereka selalu memanjatkan doa untuk muridnya, toleran, empati, lapang dada, dan memiliki kesucian hati tanpa prasangka, kebencian, atau iri. Guru teladan menjalankan amanah dengan penuh kerinduan, mengutamakan pendidikan generasi di atas kepentingan pribadinya.

Guru Sejati di Tengah Keramaian Zaman

Guru sejati tidak pernah hilang, meski terkadang tersembunyi dari keramaian zaman. Jika kita masih melihat generasi yang tumbuh, maka itu adalah tanda bahwa guru sejati masih ada. Guru sejati ibarat tanah yang, meski jarang dipuji, konsisten menumbuhkan bunga-bunga indah.

Terima kasih kepada para guru sejati, yang dedikasinya akan terus hidup abadi di dalam hati. “Jadilah tanah, agar kamu menumbuhkan mawar; tak ada selain tanah yang mampu menumbuhkan mawar.”

 

Referensi

Fakhrul Rijal. Guru Profesional Dalam Konsep Kurikulum 2013. Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam. Vol 8, No. 2 (2018). Hal 330. Lihat juga Amka Abdul Aziz, Guru Profesional Berkarakter, (Klaten: CempakaPutih, 2012), hlm. 1.

Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa. KBBI Online. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/guru. Diakses pada 22 Agustus 2023. Pukul 09.52

Undang-undang No. 14. Tahun 2005. Lihat https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40266/uu-no-14-tahun-2005.  Di akses pada 28 Agustus 2023 pukul 10.29

 Samsul Nizar, Fisafat Pendidikan Islam ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002) , h. 43

Adib Bisri dan Munawwair A. Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2012), h. 229, dan lihat Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h.139

Al-Mu‟jam al-Wasit, Kamus Arab, (Jakarta: Matha Angkasa, tt), hlm. 1

QS Al-a’laq ayat 1-5

 Hadits Ibnu Majah No 229

Mokhamad Ali Musyaffa, Hakikat Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Imam al-Ghazali. Dar al-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan Pendidikan dan Humaniora. Vol 9 No. 1 (April 2022). Hal 22. Lihat juga al-Ghazali Ihya Ulumuddin ilid I, Alih bahasa Moh. Zuhri (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993) hal 42

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Juz I, terj. Ismail Yakub, (Jakarta: CV. Faizan, 1994) hlm. 58

Abu Yahya Al Nawawi, Al Tibyan fi Adab H m l t Al Qur’ n, (Damaskus; Dar Al Bayan, 1985), h23

Lihat buku Dakwah: Jalan terbaik dalam berpikir dan menyikapi hidup. Bagian kedua dan bagian ketiga.

Syekh Sadi dalam karyanya Gulistan.

 

mengembangkandiri.com

MENYULAM PENDIDIKAN DENGAN BENANG SPIRITUAL

Ditulis Oleh : Ikhsannudin Nur Amri

Ilmu adalah sebuah kata yang memiliki marwah luar biasa. Kebersihan dan kelapangan hati sebagai wadah pengetahuan sangat penting untuk menjaga kesucian ilmu. Kebersihan ini bukan hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga kebersihan hati dan jiwa, yang menjadi tanda penghormatan terhadap ilmu. Tumpuan ilmu tidak hanya terletak pada intelektualitas, tetapi juga pada kelapangan jiwa yang mampu menerima pengetahuan. Ilmu yang sejati selalu mengarah pada hakikat hidup, pemahaman, pencerahan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.[1]

Ya, konsep sulaman pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan dunia, tetapi juga tentang keberlanjutan suburnya jiwa. Apabila hati dan jiwa tidak andil dalam pemahaman ilmu, maka kebodohanlah yang diperoleh dari hasil ilmu itu. Oleh karena itu, kendati akal dan pikiran, pendidikan juga harus mengarah pada terpenuhinya hasrat jiwa, menuntun pada tujuan yang utama, yakni mengenal dan mendekatkan diri pada-Nya.[2] Seperti alunan orkestra yang menyejukkan, integrasi ilmu duniawi dan spiritual berharmoni. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan senantiasa beriringan.

Namun, di dunia modern ini, ilmu pengetahuan dan spiritualitas seringkali dipisahkan. Terutama pendidikan yang bertumpu pada rasionalitas dan empirisme murni yang sering mengesampingkan ajaran agama dan etika. Ketika hal ini terjadi terus-menerus dan berlangsung lama, generasi selanjutnya tidak akan merasakan harmoni yang luar biasa ini. Parameter majunya sebuah negara dilihat dari penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan kekayaan. Sangat disayangkan apabila negara-negara Islam tidak terdapat dalam jajarannya. Sebab, negara-negara mayoritas Islam tidak mengenal bahkan tidak maksimal diperkenalkan kepada ajaran sejati mereka sehingga tidak mengikuti perintah agamanya untuk membanca dan bekerja.[3]

Kemudian, pendidikan agama dihadirkan sebagai salah satu syarat terlengkapinya pendidikan karakter, tetapi seolah hanya formalitas saja sehingga kebutaan menerpa. Apa sebenarnya tujuan menempuh pendidikan di dunia? Jawabannya sudah ada di depan mata. Tidak hanya mencapai kemajuan material dari hasil mengeksploitasi alam saja, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami esensi ke-Illahian yang hadir pada setiap aspek kehidupan. Hal ini akan sangat sulit terealisasi apabila tidak ada minat yang utuh terhadap pendidikan agama. Selain sebab diatas, masih ada faktor lain sehingga minat ini mengikis setiap waktunya. Sudah semestinya situsasi ini menjadi derita untuk kita semua.

Problematika Pendidikan Agama

Peran pendidik mengambil bagian besar atas masalah ini. Pendidikan agama adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik sikap serta keterampilan untuk menerapkan ajaran Islam pada setiap aspek yang bertujuan untuk meningkatkan spiritual, pemahaman, pengalaman, dan penghayatan peserta didik tentang agama sehingga memiliki karakter taat dan berbudi pekerti luhur dalam diri mereka.[4] Dalam pendidikan akhlak, disiplin menjadi hal yang paling utama. Hal seperti ini harus menjadi identitas pada setiap pendidik. Konsep siswa dalam memperhatikan gurunya adalah melihat, memproses, dan melakukan. Siklus ini terlahir secara alamiah selama tumbuh kembang mereka. Interpretasi dari seorang guru sangat penting dalam memperkenalkan seribu satu kebaikan sebuah agama.

Selanjutnya, dalam pendidikan dan pengajaran ada dua prinsip penting yang tidak boleh diabaikan. Pertama adalah motivasi dan peringatan. Kedua adalah insentif dan peneguran.[5] Namun, sebagai seorang guru harus berhati-hati dalam menggunakan metode ini. Alih-alih membenahi, bisa saja memperkeruh keadaan. Sampaikan nasihat dan kritik dengan lembut, jangan sampai apa yang disampaikan merendahkan martabat siswa. Ini akan menjadi teladan akhlak bagaimana seorang guru, terutama guru agama dalam bersikap. Namun, jika seorang guru tidak memahami dasar-dasar ini, tentu akan menjadi masalah selanjutnya. Seorang guru agama yang tidak kompeten, terlebih bukan ahli di bidangnya, akan menurunkan kualitas pendidikan spiritual. Sedangkan guru pendidikan agama memiliki tugas yang lebih penting dibandingkan pelajaran umum lainnya dari segi hasil. Kasus seperti ini banyak ditemukan di sekolah-sekolah umum.[6]

Tidak hanya tahu mengenai tanggungannya sendiri, seorang guru harus memahami bagaimana situasi siswa. Pendidikan agama memerlukan penerimaan ruhaniah secara utuh, bukan berarti pembelajaran harus berjalan kaku dan monoton. Model pembelajaran harus bervariasi tentunya. Hanya saja, alokasi waktu dan suasana yang mendukung untuk menempatkan pelajaran agama memerlukan perencenaan ketika bersanding dengan pelajaran lainnya. Sedangkan kebanyakan sekolah umum menempatkan pelajaran ini pada waktu-waktu krusial[7] seperti di akhir jam sekolah.[8] Konsentrasi siswa tidak maksimal pada waktu ini. Sehingga pada poin ini, pendidik harus memahami bagaimana situasi siswa. Secara psikologis, perkembangan emosional siswa lebih dulu daripada perkembangan mental.[9] Memahami emosional siswa adalah hal yang penting untuk menargetkan kapan siswa dapat menyerap materi agama secara maksimal.

Selain itu, guru pertama, yaitu orang tua, berperan penting terhadap pengenalan pembelajaran agama terhadap siswa. Penanaman karakter dimulai dari sini. Pola fikir orang tua yang senantiasa mendampingi dalam setiap perkembangan anak akan memberikan dampak luar biasa terhadap cara berpikir anak. Oleh karena itu, setelah menjadi orang tua seharusnya sudah mempersiapkan ilmu dalam menjalankan peran. Karena sebagai amanah, anak harus dibesarkan dan dididik sesuai dengan kaidah agama. Seperti Luqman dalam mendidik anaknya untuk tidak menyekutukan dan tetap di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ayat berikut:

 وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’”.[10]

Karena sejatinya apa yang orang tua telah persiapkan, kelak akan menjadi kesan pertama tentang ilmu apa yang orang tua berikan kepada anaknya.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertanyaan ini sudah memiliki jawaban. Pembenahan terhadap sistem pendidikan harus lebih ditingkatkan. Metode penyampaian dan pendidikan agama setidaknya selaras dengan situasi dan suasana siswa. Serabut generasi terdahulu akan senantiasa mengakar dan berkontribusi terhadap pembentukan fondasi generasi yang baru. Ya, yang membentuk fondasi generasi yang baru adalah generasi sebelumnya. Maka pilihlah sistem generasi terbaik diantara generasi terdahulu, yaitu sistem Baginda Nabi Muhammad SAW yang merupakan generasi terbaik sepanjang masa.

Seperti yang dikatakan oleh seorang cendekiawan mulia, “Menanamkan cahaya iman kepada generasi baru dan membantu agar iman itu mengakar kuat dalam dada mereka adalah hal teristimewa yang amat penting.”[11] Dari kutipan ini, urgensi pengenalan iman kepada anak usia dini harus dilakukan untuk meluruskan niat dari pendidikan. Penderitaan tentang tujuan yang menyimpang dari hakikatnya seharusnya melekat pada pundak para guru sebagai pengemban profesi kenabian.

[1] Şükran Vahide, Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi, terj. Sugeng Haryanto, Sukono, h. 122

[2] Ibid

[3] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h.24-25.

[4] Suprapto, “Kebutuhan Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah,” Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, Vol. 16, No. 2 (2018)

[5] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h.48

[6] Mu’allimah, Problematika pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 3 Medan, (Thesis UIN Sumatera Utara, 2014)

[7] Waktu krusial adalah momen yang dapat menentukan hasil atau arah suatu situasi

[8] Tsalitsa, A., dkk, Problematika Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum Tingkat SMA, Jurnal Ilmu Pendidikan. 2020, Vol. 04, No. 1.

[9] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h. 104.

[10] Q.S Luqman (31) ayat 13

[11] Muhammad Fethullah Gulen, “Mewujudkan Cita-Cita”, Majalah Mata Air, Vol. 8, No. 29, Januari-Maret 2021, hal. 5.

mengembangkandiri.com

LIMA HARI DI PHNOM PENH

Di tulis Oleh : Muhamad Andika Saputra

Bepergian ke luar negeri merupakan salah satu mimpi yang sudah lama ku idamkan. Keluar dari zona nyaman untuk membuka cakrawala kalbu. Melihat-lihat belahan lain dari dunia fana dan mentafakuri hikmah atas penciptaan-Nya. Inilah tujuan utama yang kuinginkan ketika diberi kesempatan oleh Sang Maha Kuasa.

Hari pertama, aku berangkat ke bandara bersama ketujuh orang temanku yang berasal dari berbagai daerah. Kami berdelapan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pagi hari yang cerah. Karena ini merupakan pertama kalinya bagi kami untuk pergi ke luar negeri, kami tentu tak ingin ada halangan apapun yang menghambat perjalanan kami. Sesuatu yang ditakutkan adalah bagian imigrasi yang terdengar cukup ketat bagi individu yang pertama kali melakukan perjalanan lintas negara. Kami memasuki pengecekan barang dan paspor, kemudian melanjutkan ke pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Syukur Alhamdulillah kami bisa melewati gerbang otomatis jadi tidak perlu melakukan wawancara seperti interogasi yang dibicarakan orang-orang. Salah seorang petugas hanya menanyakan negara tujuan ke mana dan apa alasan kami ke sana. Kami menjawab negara Kamboja dan tujuan kami ialah ingin melakukan studi banding tentang pendidikan di sana. Kami juga diundang oleh salah satu kampus terbaik di Phnom Penh, yaitu Paragon International University untuk melihat kondisi pedagogi serta fasilitasnya.

Setelah mengudara selama 4 jam, akhirnya kami mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh. Kami dijemput oleh teman kami yang merupakan mahasiswa di Paragon University yang bernama Akhyar. Selain Akhyar, ada juga Ranang yang keduanya adalah sama-sama mahasiswa Indonesia di Kamboja. Oh ya, perkenalkan namaku Andika serta ketujuh temanku dari Indonesia, yaitu Falih, Danar, Rafif, Beta, Akmal, dan Bayu. Setelah sampai di tempat penginapan yang merupakan asrama kampus tersebut, kami langsung disambut dengan teman-teman yang tidak lain adalah mahasiswa-mahasiswa internasional dari berbagai negara. Kami dijamu dengan makanan-makanan khas timur tengah. Malam ini, kami hanya berkenalan satu sama lain dan mengobrol santai.

Hari kedua, kami awali dengan membaca buku bertajuk “Etika Sosial dalam Islam” sebagai pembuka hari yang cerah nan memesona. Membaca sumber ilmu sebagai awal kegiatan adalah langkah awal untuk membuka lembaran-lembaran cahaya ilmu lainnya yang akan diperoleh sepanjang hari itu. Kami membaca buku sampai azan Zuhur tiba, lalu kami bersiap untuk salat Zuhur berjamaah. Setelah salat, kami berkeliling kota Phnom Penh dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang biasa dikunjungi oleh turis. Pertama, kami mengunjungi Euro Park, taman ala Eropa yang di dalamnya terdapat berbagai bangunan khas Eropa, seperti menara Eiffel di Paris dan Jam besar di London. Kami menghabiskan sekitar 1 jam di sana.

Setelah berkeliling di Euro Park, kami melanjutkan perjalanan ke Royal Palace, tempat bersejarah di Phnom Penh yang tidak akan dilewatkan oleh para turis yang berkunjung ke Kamboja. Royal Palace adalah istana megah berwarna emas yang sangat berkilau. Kami berfoto-foto di depannya. Kemudian seiring mentari menepi, kami menuju pinggir sungai Mekong yang terkenal sangat panjang. Kami menghabiskan petang di tepi sungai sembari menikmati pemandangan sungai dan gedung-gedung kota Phnom Penh, serta burung-burung berkicau menepikan diri ke sungai. Sungguh elok pemandangan sore ini. 

Setelah puas menikmati petang di tepi sungai, kami kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan bersiap untuk salat. Malam ini kami diundang untuk makan malam di rumah salah satu guru yang bekerja di Paragon International School. Kami memakan makanan khas Asia Tengah, tetapi suatu hal yang jarang kurasakan di Indonesia adalah budaya makan malam yang tidak hanya satu babak saja, melainkan minimal terdapat 3 babak. Pertama dimulai dengan makanan pembuka, kedua makanan berat, dan ketiga makanan penutup seperti buah-buahan dan teh. Kami sangat kenyang malam itu karena penyajian yang diberikan. Guru tersebut juga bercerita tentang hidupnya. Ia bercerita bagaimana seseorang bisa menjadi guru dan bermanfaat bagi orang lain. Ia juga berkata bahwa menjadi guru dapat menjadi ladang dakwah bagi insan cendekia untuk mengenalkan Tuhan kepada manusia lainnya. Ia seorang muslim yang mengajar di sekolah umum dengan rata-rata siswa yang juga beragama Budha, agama mayoritas di negara tersebut. Pesan yang menggugah hati ketika ia berkata bahwa pelayanan terbaik terhadap agama adalah bagaimana kita bisa membuat orang yang sebelumnya tidak mengenal agama, lalu menjadi tahu dan berkenalan dengan agama tersebut. Ada banyak cerita inspiratif yang kami dapati malam itu.

Hari ketiga, kami mempunyai agenda untuk berkunjung ke Museum Genosida di Phnom Penh. Sangat kurang rasanya bila berkunjung ke suatu daerah atau negara, tetapi tidak mengunjungi museumnya agar mengetahui sejarah tempat tersebut. Museum Genosida adalah tempat yang dulunya sekolah, lalu dijadikan sebagai tahanan oleh Rezim Pol Pot yang berkuasa saat itu. Di museum ini banyak sekali turis mancanegara yang belajar mengenai sejarah museum tersebut. Melalui secarik denah pemandu untuk pengunjung, kami memulai posnya satu demi satu. Di dalam ruangan museum ini berisikan kondisi tempat tidur dan tempat tinggal tahanan saat itu dengan properti yang asli serta ada beberapa gambar yang ditangkap. Ada juga lukisan-lukisan yang menggambarkan kondisi penyiksaan tahanan oleh Rezim Pol Pot saat itu. Jujur suasana hati ini tak sanggup untuk mengelilingi seluruh sudut ruangan yang ada di museum. Perasaan luluh nan pilu membayangkan betapa kejamnya penyiksaan yang mereka rasakan saat itu.

Setelah lama dan puas mempelajari sejarah di museum tersebut, kami melanjutkan perjalanan sejarah Rezim Pol Pot berikutnya, Lapangan Pembantaian atau biasa disebut Killing Field dalam bahasa Inggris. Berdasarkan sejarah, ada lebih dari 2 juta orang yang disiksa dan dibantai secara massal di lapangan ini. Lapangan ini hanya berisi beberapa tugu dan kuburan massal. Lagi dan lagi kami bersedih mendengar cerita pembantaian di lapangan ini melalui audio pemandu. Kami tak terlalu lama di sini.

Kami melanjutkan kunjungan ke asrama-asrama mahasiswa lainnya yang ada di Phnom Penh. Kami berkenalan satu sama lain dan berbagi cerita terkait dunia pendidikan dan dunia Islam. Tak hanya itu, kami juga berdiskusi mengenai kebudayaan negara kami masing-masing. Senang sekali rasanya dapat mengenal dan bercerita satu sama lain. 

Hari keempat, tiba waktunya kami berkunjung ke kampus-kampus Paragon yang dimulai dari tingkat TK sampai dengan universitas. Kami mengawali hari dengan mengunjungi universitasnya terlebih dahulu. Kami diajak mengelilingi ruangan yang ada di kampus dan kami juga dijamu oleh rektor kampus tersebut. Kami berdiskusi mengenai dunia pendidikan. Setelah itu, kami beranjak mengunjungi TK yang tidak jauh dari sana. Saya tidak mengira kalau itu adalah gedung taman kanak-kanaknya. Awalnya saya mengira ini adalah Sekolah Dasar. Sebab gedungnya cukup besar dan fasilitas di dalamnya lengkap. Kami diajak berkeliling ke setiap ruangan, kami takjub dengan sekolah ini. Biasanya TK di Indonesia hanya sampai jam 10 pagi atau sampai jam 12 siang, kemudian pulang. Namun, murid di sini berada di sekolah sampai jam 3 petang. 

Kemudian kami beranjak berjalan kaki mengunjungi sekolah dasarnya yang sangat dekat di sana. Sekolah dasar (SD) di sini juga sangat menakjubkan dengan fasilitas dan materi pembelajaran yang ditawarkannya. Siswa sudah diajarkan untuk mengoperasikan komputer, bahkan diajarkan untuk menjalankan aplikasi pemrograman. Di sini juga ada kelas robotik dan siswanya juga rutin mengikuti perlombaan robotik yang ada. Selain itu, ada berbagai laboratorium di sini, seperti laboratorium Komputer, Kimia, Fisika, Biologi, dan sebagainya. Selain itu, untuk menunjang aktivitas olahraganya, di sini cukup lengkap dengan berbagai fasilitas lapangan serta terdapat juga kolam renang di dalam sekolahnya. Dari segi fasilitas dan kurikulum yang ditawarkan, sekolah ini sangat modern dan canggih.

Setelah takjub dengan SD-nya, kami selanjutnya mengunjungi gedung SMP dan SMA-nya yang disatukan dalam satu gedung yang sama. Fasilitas di sekolahnya lebih lengkap daripada sekolah dasar sebelumnya tadi. Kami bertemu guru yang berasal dari Indonesia dan diajaknya berkeliling sekolah. Hari ini kami menghabiskan waktu berkeliling kampus yang membuat kami belajar banyak mengenai pendidikan yang berkualitas.

Hari kelima, kami mengawali pagi dengan membaca buku sampai jam 12 siang. Buku yang kami baca sebelumnya sungguh menginspirasi dan terkadang menyayat hati. Meresapi inti sarinya membuat air mata merintih. Membaca buku terkadang baik sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Hari ini, kami diajak jalan-jalan dan berbelanja di pusat oleh-oleh untuk persiapan kepulangan esok. Hingga hari mulai petang, kami berniat ingin bermain wahana hiburan seperti ice skating, tetapi ternyata waktu kami terlalu mepet. Kami pulang ke asrama dan malam ini kami mengadakan fun football bersama mahasiswa-mahasiswa Kamboja di sana. Seru sekali rasanya dapat mengakrabkan diri melalui permainan sepak bola. Kami dapat mengobrol dan bercerita lagi satu sama lain.

Keesokan harinya, kami menyiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Setelah selesai salat Jumat, kami bergegas menuju ke bandara. Lima hari berkunjung ke negeri orang tak terasa lamanya. Kami sangat bersyukur atas kesempatan yang kami dapatkan ini. Melalui perjalanan ini, kami dapat memahami satu sama lain. Mengunjungi belahan dunia yang lain memang memberikan pembelajaran yang berarti. Kami dapat belajar banyak hal baru yang menjadikan semangat kami untuk masa depan lebih membara. Sedih rasanya berpisah dengan teman-teman di Kamboja. Namun, setiap pertemuan adalah awal dari perpisahan. Kami tetap bisa saling berkomunikasi dan berbagi tawa meskipun melalui media daring. Terima kasih atas lima hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup ini!

mengembangkandiri.com

PARA PEWARIS GEN LUQMAN AL-HAKIM

Pernahkah kita bertanya, mengapa nama Luqman diabadikan dan diukir dalam Firman-Nya yang suci? Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Sejatinya, nama-nama yang ada dalam ukiran kalam Nya tersebut memiliki keistimewaan yang luar biasa. Kehadirannya memiliki peran penting karena kemuliaannya merupakan jembatan antara manusia dengan Sang Pencipta. Ya, ada seorang dari kalangan hamba-Nya yang mulia dan memiliki keistimewaan khusus, sehingga namanya terukir dalam firman-Nya yang mulia. Nama ini sering digunakan ketika berbicara mengenai pendidikan, terutama pendidikan pada anak.

Luqman Al-Hakim, yang memiliki nama asli Luqman Bin Unqa’ Bin Sidran, adalah seorang insan sholeh, yang mulia akhlak dan tutur katanya. Ia memiliki wawasan yang luas, kaya akan ilmu pengetahuan, dan ahli spiritual. Sosoknya menjadi pedoman dan teladan bagi banyak kalangan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Meskipun pada zamannya ia hanya seorang penggembala dan budak. Luqman memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, diiringi dengan akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Hal ini menjadikannya pribadi yang taat beragama dan pekerja keras. Mendengar ketenarannya, Nabi Daud AS segera memerintahkan ajudannya untuk menjemputnya dan menebusnya serta memerdekakannya. 

Kedalaman ruhani dan spiritual Luqman didorong oleh ilmu pengetahuan yang luas serta ketekunan dalam hal-hal kecil. Ia memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, dan dididik langsung oleh Insan yang mulia Rasulullah Saw. Nabi Daud AS, hingga menjadi sosok yang mulia karena budi pekertinya. Kharisma akan ilmu pengetahuan dan spiritualitasnya membuat pandai dalam membaca situasi dan kondisi pada zamannya. Luqman menjadi pendidik bagi keluarganya, terutama anak-anaknya, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam mendidik generasi muda. Gelar “Al-Hakim” yang disematkan pada namanya menjadi bukti bahwa ia adalah sosok yang penuh hikmah dalam menuntun anak-anak dan generasi muda pada saat itu. 

Sosok Luqman Al-Hakim seharusnya menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam mendidik generasi muda di masa depan. Ia mengayomi, menyayangi, dan melayani segala kebutuhan mereka, guna menunjang aktivitas belajar dan pertumbuhan mereka. Harapannya, mereka akan menjadi penerus yang rela mendedikasikan hidupnya seperti Luqman Al-Hakim, yang dengan tulus memberikan contoh, inspirasi, serta mendermakan hartanya demi mendidik generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan berorientasi kepada nilai-nilai Rabbani. 

Setiap insan harus memiliki tujuan dan pondasi yang kuat dalam hidupnya, karena hidup tanpa tujuan, visi dan misi hanyalah sebuah ilusi belaka. Akhirat harus menjadi fokus utama dengan berbuat banyak kebaikan di dunia. Saat ini, dunia membutuhkan sosok guru dan orang tua seperti Luqman Al-Hakim, yang tidak hanya sekedar mendidik dari segi jasmani dan duniawinya saja, atau hanya sekedar melakukan transfer of knowledge tanpa memperhatikan aspek ruhani dan spiritualitasnya. Guru dan orang tua harus mengayomi, menyayangi, serta melayani dengan ikhlas, membayangkan bahwa generasi yang dididik akan menjadi generasi pemimpin masa depan yang Rabbani, berwawasan luas, kaya akan ilmu pengetahuan serta memiliki akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Sejatinya, orang tua dan guru pasti menginginkan anak-anak atau muridnya menjadi generasi yang unggul di dunia dan akhirat. Tanpa disadari, mereka seolah mendirikan istana yang megah di akhirat dengan memiliki anak yang sholeh, berbuat baik kepada sesama, berintelektual tinggi yang diiringi dengan akhlak mulia. Setiap insan yang dikaruniai akal yang sempurna oleh Allah, dengan cakrawala pemikirannya yang luas, harus menyadari bahwa mereka memiliki amanah dan peran masing-masing. Namun, menjadi pendidik adalah tugas setiap insan, karena sejatinya, dunia ini adalah tentang toleransi, perjuangan, persaudaraan, harmoni, dan tolong-menolong, yang pada akhirnya membentuk masyarakat yang beradab dan berkemajuan.

 

REFERENCE:

Ma’shum Muhammad Khalaf_Filsafat_Mataair_September 2019

Ustadz Fethullah Gulen_Istiqamah_Bkit-Bukit Zamrud Kalbu_Mataair Maret 2019

Asyari, H. (2020). Pembentukan Spiritualistas dan Karakter Anak dalam Perspektif Lukman al-Hakim. Jurnal At-Tarbiyat: Jurnal Pendidikan Islam3(2), 159-171.

Seyda Okcu_Mendidik Pikiran Kita_Mataair Maret 2019