mengembangkandiri.com[Downloader.la]-639d5bdf5b288

KREDIT TERBESAR BAGI PARA KAFILAH DAKWAH

Tanya: Apa saja pondasi dasar yang harus dimiliki jiwa-jiwa yang bertekad untuk mempertemukan umat manusia dengan hakikat kebenaran?

Jawab: Ubudiyah manusia yang beriman terhadap zat yang mutlak disembah, harus diletakkan sebagai penghambaan mutlak kepada-Nya. Maksudnya, dalam penghambaan dirinya, ia tak boleh tercampur dengan hal selain-Nya. Karena kita sebenarnya adalah budak-Nya dimana terdapat tali kekang di leher-leher kita. Kelemahan, kepapaan, kealpaan, dan ketidakmampuan kita, serta bagaimana kita tidak memiliki kuasa untuk meraih apa yang kita cita-citakan tanpa inayah-Nya; kadang sesuatu sudah diraih namun ia lepas lagi dari genggaman tangan kita; Apa yang kita harapkan ternyata tak mampu kita raih; fakta tersebut sebenarnya menunjukkan betapa papanya kita. Telah jelas bahwasanya kita tidak menguasai dan memiliki diri kita sendiri. Oleh karena itu, sudah pasti ada suatu kekuasaan di atas kita.

Dan memang manusia seringkali tidak menyadari hakikat ini. Manusia kadang melakukan kalibrasi atau peneraan dalam frekuensi tertentu, tetapi ketika proses kalibrasi tidak dilakukan dengan tepat, maka dari kanan kiri akan masuk berbagai lintasan pikiran. Ia akan mempengaruhi cara berpikir dari seseorang. Oleh karena itu, manusia harus berusaha menemukan suara kebenaran lewat proses kalibrasi yang serius. Ya, sebelumnya manusia harus menimbang pemikirannya, gagasannya, dan kata-katanya di atas timbangan yang dimiliki oleh sosok-sosok yang memahami nilai hati nurani. Setelah semua ini ditunaikan, lalu jika dalam perjalanannya masih terdapat sekelebat lintasan pikiran yang mengganggu kemurnian penghambaan kita, hal selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mengharap pengampunan dari-Nya. Jika tidak, maka kita akan dimasuki perasaan telah melakukan semua pekerjaan dengan sempurna, dimana ia bertentangan dengan kesadaran untuk menghamba.

GADA DEMI GADA

Ketika Anda bersujud dalam shalat, Anda menumpahkan segala isi perasaan Anda kepada Allahﷻ selama lima sampai sepuluh menit. Akan tetapi di saat yang sama, setan membisikkan: “Sungguh kamu telah melakukan penghambaan yang baik.” Jika lintasan pikiran seperti itu muncul di dalam hati, segeralah jawab ia dengan jawaban: “Wahai Allahﷻ, satu-satunya Zat yang patut disembah, sungguh kami tak mampu menghamba dengan sempurna! Wahai Allahﷻ, Zat yang namanya diagungkan oleh makhluk bumi dan langit, sungguh kami tak mampu men-zikir-kan Nama-Mu dengan layak! Wahai Tuhanku yang harusnya dipuja-puji dengan segala macam bahasa, sungguh kami tak mampu bersyukur kepada-Mu dengan baik! Wahai Allahﷻ, Zat yang Maha Suci dari segala kekurangan, sungguh kami tak mampu bertasbih dan mensucikan Nama-Mu dengan baik!.” Jawaban ini bagaikan gada. Dengannya kita mennghantam lintasan pikiran yang tidak diridai oleh-Nya hingga ia tak mampu lagi menegakkan tulang punggungnya.

Namun, walaupun Anda telah menghantamnya dengan Gada terbesar setan bagaikan makhluk bernyawa seribu, ikalipun, perlu diketahui bahwasanya  lewat waswas dan nafsu ammarah serta segala taswilat dan tazyinat[1]nya senantiasa menghantui dan siap menerkam di tempat dan waktu yang tak terduga. Demikian siaganya mereka, bahkan saat kita tawaf di Kabah; berdoa dan wukuf di Arafah; bermalam di Muzdalifah; ataupu saat melempar jumroh di Mina sekalipun, setan dan nafsu tidak pernah beristirahat; mereka selalu berusaha membuat kaki kita tergelincir.

Oleh karena sebab itulah, dalam Alquranul Karim diperintahkan:

فَٱستَقِم كَمَا أُمِرتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطغَواْ (١١٢)

Artinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu. (QS Hud 11: 112)

 Sehingga, kita pun dalam setiap shalat berdoa:

ٱهدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلمستَقِيمَ (٦)

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS Al Fatihah 1: 6)

Jika kita mendirikan shalat fardhu beserta rawatibnya, kita mengulangi doa ini sebanyak empat puluh kali dalam sehari[2]. Jika kita menunaikan shalat-shalat nafilah lainnya seperti Isyrak, Dhuha, Awwabin, dan Tahajjud, maka itu artinya kita mengulang doa agar Allahﷻ senantiasa berkenan membimbing kita di jalan yang lurus sebanyak 60 kali dalam sehari[3]. Jika Allahﷻ tidak berkenan untuk membimbing kaki kita menuju jalan-Nya yang lurus, maka langkah perbaikan kita akan terhenti di rutenya nafsu ammarah. Ya, jika Dia ﷻ tidak membimbing langkah kaki kita, demikian banyaknya kecelakaan lalu lintas yang akan kita alami, sehingga kerusakan yang dialaminya pun tidak akan bisa diperbaiki dengan mudah.

MEREKA YANG MENGHARGAI PENGABDIANNYA KEPADA AGAMA DENGAN ‘TARIF’ TERTENTU, TIDAK AKAN PERNAH SUKSES     

Di sisi lain, jika kita senantiasa mengeja nama agung-Nya dan menghabiskan malam-malam kita bersama-Nya; jika ketika berada di mana pun kita senantiasa menzikirkan  “Dia” dan menghirup nafas “Huwa” maka di waktu dimana kita berada dalam ruang manusiawi[4] kita,  hubungan kita dengan-Nya akan senantiasa berlanjut. Misalnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah menyampaikan kabar gembira, bahwasanya mereka yang setelah menunaikan salat isya lalu sebelum tidurnya berniat untuk bangun salat tahajjud dan menghidupkan malam, namun karena kantuk yang amat berat lalu ia tidak sanggup untuk bangun tahajjud, beliau katakan bahwasanya tidurnya tersebut merupakan sedekah dari Allahﷻ untuknya.[5] Hal tersebut adalah hadiah yang dianugerahkan Allahﷻ dari rahmat-Nya yang luas kepada kita. Ya, rahmatNya tak memiliki akhir, Dia tidak meminta pertanggungjawaban atas apa-apa yang kita tidak mampu memikulnya, melainkan memberikan mukallafiyah[6] sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Seperti diisyaratkan dalam ayat:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفسًا إِلَّا وُسعَهَا (٢٨٦)

Artinya: Allahﷻ tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al Baqarah 2: 286)

Dalam agama tidak terdapat kewajiban yang tak mampu dipikul umatnya.

Jika demikian, kita tidak boleh memiliki harapan selain keridaan-Nya, mengingat demikian luasnya anugerah dan tak terbatasnya rahmat dari-Nya. Karena tidak ada harapan yang lebih agung dari mengharap keridaan-Nya. Hadiah terbesar kedua dari Allahﷻ kepada para penghuni surga setelah tajalli jamaliyah adalah firman-Nya: “Aku rida kepadamu.” Kita tak akan mampu menjelaskan dampak yang ditimbulkan oleh wangi aroma Ilahi yang bersumber dari-Nya terhadap ruh manusia. Barangkali sosok waliyullah seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani, Abu Hasan as Syadzili, Muhammad Bahauddin an Naqsyabandi, Maulana Khalid al Baghdadi, Imam Rabbani, dan Bediuzzaman Said Nursi; mereka mungkin telah bermusyahadah –menyaksikan– nikmat tersebut dalam takaran sketsa yang dapat ditanggung oleh kemampuan dunia. Sedangkan saya tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan ataupun menggambarkan kelezatan yang didapatkan oleh mereka yang menerima nikmat tersebut. Karena Sang Pemilik Syariat Shalallahu Alaihi Wassalam sendiri ketika beliau menjelaskan nikmat-nikmat di dalam surga.

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ  يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى

“Allahﷻ berfirman: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia.”[7]

Dalam kerangka yang digambarkan disini dapat kita pahami bahwasanya  kenikmatan surga adalah sebuah topik yang melewati batas pikiran dan khayalan manusia.

Dari sisi ini, baik di dunia dan di akhirat, tidak ada sesuatu yang lebih besar dan bernilai dibandingkan dengan mengemis kasih kepada Allahﷻ serta mengingatkan orang-orang di sekitar kita untuk turut mengemis kasih dari-Nya. Oleh karena itulah, seluruh umur kehidupan dari para nabi digunakan untuk mengenalkan Allahﷻ dan mengarahkan umat manusia agar mencintai Allahﷻ, serta memperkuat hubungan mereka dengan Allahﷻ; dan untuk usahanya tersebut, para Nabi tidak mengharapkan imbalan apapun dari umatnya. Karena pamrih dapat mencederai keikhlasan dan menghilangkan keutamaan dari amal perbuatan. Selain itu, manusia yang mengharapkan imbalan dari setiap pengabdian yang dilakukannya tidak akan sukses. Mereka bisa jadi nampak sukses untuk sementara waktu. Akan tetapi saat angin kritik mulai menghembus, maka mereka akan terguling-guling seperti gulungan jerami.

SEMUA NABI MENYAMPAIKAN HAKIKAT YANG SAMA

Allahﷻ Yang Maha Mulia dalam surat Syura, setelah menyebutkan nama para Nabi Agung seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Salih, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib secara berurutan, Dia berfirman:

وَمَا أَسٔلُكُم عَلَيهِ مِن أَجرٍ إِن أَجرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلعَٰلَمِينَ (١٠٩)

Artinya: Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (QS. Asy-Syu’ara: 109) [8] Mereka melakukan tugasnya hanyalah untuk Allahﷻ; Mereka selalu mengarahkan pandangannya hanya kepada-Nya; dan tidak pernah memiliki pamrih apapun walau hanya sebesar biji Żarrah atas semua pengabdian yang mereka lakukan.

Walaupun mereka hidup di masa yang berbeda, dengan kondisi dan kebutuhan sosio-kultur masyarakat yang berbeda, tetapi para nabi-nabi yang dibahas dalam ayat tersebut tetap menyampaikan pesan yang sama. Apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh, juga disampaikan oleh Nabi Hud, Nabi Salih, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib Alaihisalam. Padahal masalah yang dimiliki setiap masyarakatnya berbeda-beda. Ini artinya apapun masalahnya, solusinya tetap sama, yaitu ikhlas dan tanpa pamrih.

Misalnya, kaum Nabi Nuh Alaihisalam, mereka menuhankan para tokoh masyarakat di antara mereka; mereka menamai tuhan-tuhan mereka dengan nama-nama seperti Wadd, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka menyampaikan salam kepada tokoh-tokoh yang jasadnya sudah di kubur di dalam tanah ini dan mengharapkan sesuatu sebagai balasannya.[9] Kondisi tersebut merupakan ancaman bahaya yang dapat ditemukan di setiap periode masa.

Kamu ‘Aad, merasa bangga dengan kehebatannya. Mereka memiliki kemampuan memahat gunung batu dan menjadikannya tempat tinggal. Demikian angkuhnya mereka oleh kehebatannya, sampai-sampai mereka merasa tidak ada satupun dari apa yang ada di langit dan di bumi yang dapat mencelakakan mereka. Mereka merasa yakin, walaupun semua patahan bumi berkumpul di bawah tanah yang mereka pijak dan bergeser di waktu yang sama, rumah-rumah yang mereka bangun tidak akan runtuh karenanya. Dengan demikian masalah yang dihadapi Nabi Hud berbeda dengan masalah yang dihadapi Nabi Nuh. Nabi Hud Alaihisalam sambil mengacuhkan ancaman demi ancaman yang dilancarkan kaum ‘Aad kepadanya, terus-menerus menyampaikan betapa salahnya pemahaman mereka dan dalam melakukannya beliau senantiasa tidak mengharap pamrih apapun.[10]

Ketika kita sampai pada pembahasan Nabi Salih, kita akan melihat bahwa masalah yang dihadapi oleh beliau juga berbeda. Kaumnya hanyut dalam keindahan duniawi taman-taman dan kebun-kebunnya serta ranumnya bebuahan yang dihasilkannya; mereka pun mulai hidup di dalam kesenangan dan kebanggaan dalam rumah-rumah yang dimilikinya. Nabi mereka Salih Alaihisalam, menghadapi semua kesulitan sambil berusaha menegakkan dadanya; ia menunaikan tugas agungnya tanpa mengharap imbalan apapun, dan mengundang kaumnya menuju tauhid. Beliau juga mengingatkan kaumnya agar tidak menjadi orang-orang yang musrif (ahli mubazir) dan mufsit (sesat).[11]

Nabi Luth Alaihisalam  yang datang setelahnya, menghadapi kaum yang tenggelam di dalam akhlak yang menjijikkan. Sebagaimana nabi-nabi sebelumnya, Nabi Luth pun mengabaikan ancaman dari kaumnya, beliau mengundang mereka menuju jalan yang benar dan tauhid, serta tak mengharapkan imbalan apapun sebagai balasannya.[12]

Lalu kita pun sampai pada pembahasan kaum Nabi Syuaib Alaihisalam. Di masa itu, takaran dan timbangan di pasar dan pertokoan tidak dikalibrasi dengan benar. Timbangannya pun tidak jelas, yang sebelah mana yang menjadi ukuran, yang sebelah mana yang digunakan untuk menimbang. Kehidupan perdagangan penuh dengan spekulasi. Selang (kemakmuran) hanya ada di tangan-tangan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dimana ia digunakan untuk memenuhi tangki-tangki penyimpanan pribadinya. Nabi Syuaib dengan nasihat-nasihatnya: “Sempurnakanlah takaran dan janganlah memakan hak orang lain dengan mengurangi takarannya. Timbanglah dengan benar dan janganlah mengurangi hak orang lain. Janganlah merusak sistem dengan perilaku buruk itu.” Memperingatkan kaumnya dan atas ajakannya ini beliau tidak meminta imbalan apapun dari mereka.[13]

Surat Asy-Syura ketika menceritakan kisah lima Nabi ini tidak menyebutkan Nabi Besar Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Akan tetapi dalam ayat lainnya disebutkan bahwa pesan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya:

ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Asy-Syura 42:23)

Lewat nasihatnya tersebut, disampaikan bahwasanya beliau tidak mengharapkan imbalan apapun dari kaumnya di Mekkah yang selama tiga belas tahun lamanya tak pernah berhenti memberikan beragam masalah, memaksanya untuk hijrah, dan membuatnya merasakan makna sedih karena perpisahan. Ya, walaupun beliau telah menjadi wasilah kebahagiaan dunia dan akhirat bagi umatnya, namun beliau tak mengharapkan apapun dari mereka sebagai imbalannya; beliau merebahkan tubuhnya di atas anyaman tikar tipis, beliau juga melewati hari-hari dengan perut lapar, tetapi tidak pernah sekalipun beliau ubah perilaku dan perbuatannya.

MENIADAKAN REPUTASI DIRI DAN JALAN TERJAL YANG MENGHADANGNYA

Meniadakan reputasi diri adalah satu-satunya jalan asas agar lawan bicara mempercayai dan meyakini pesan yang kita sampaikan. Karena mereka yang mengharap pamrih dan manfaat parsial dari pengabdian yang dilakukannya otomatis akan kehilangan reputasi serta mematahkan rasa hormat orang lain pada dirinya. Jika Anda memasuki medan pengabdian ini dengan “Bismillah!”, maka Anda tidak boleh menjauhi jalan kenabian. Mereka yang menyaksikan Anda harus bisa berkata: ”Ketika dulu pertama kenal dengan orang-orang ini, saya lihat ia hanya memiliki beberapa rupiah di kantongnya. Kini ketika ia pamit untuk pergi mengabdi di tempat lainnya, uang di kantongnya tak bertambah, bahkan berkurang. Ini artinya, ia pun tak bisa menahan uang pribadinya. Uang pribadinya pun terpakai untuk pengabdian yang dia lakukan. ”Prinsip tanpa pamrih dan istighna[14] sebagaimana merupakan karakteristik yang perlu dimiliki oleh para abdi negara mulai dari level lurah hingga presiden, ia juga merupakan karakter yang perlu dimiliki oleh jiwa-jiwa yang berdedikasi untuk menjelaskan hakikat kebenaran. Karena dinamika terbesar dari para pengabdi adalah tanpa pamrih dan penuh dedikasi.

Kesuksesan mereka yang mendedikasikan dirinya untuk melayani umat manusia agar usahanya tetap lestari, bergantung pada sejauh mana mereka terus berjalan di atas jalan kenabian. Jika tidak, mereka bisa jadi memulai jalannya sebagai Harun namun mengakhiri perjalanannya sebagai Karun yang ditenggelamkan ke dalam harta bendanya dan diingat masyarakat dengan kutukan. Jika di dalam lidahku terdapat tempat untuk mengutuk, maka teruntuk mereka yang mengaku melayani masyarakat namun ternyata mengambil manfaat pribadi dari simpati masyarakat, mereka yang senantiasa memperhitungkan segala sesuatu dengan hitungan untung dan rugi, mereka yang mengambil komisi pribadi dari  berbagai tender, dan kepada mereka yang menempatkan para munafik itu di posisi para sultan, akan kukatakan: “Semoga Allah menenggelamkan dan menghancurkan pamrih dan keinginan-keinginan Anda ke lubang bumi yang paling dalam bersama anak cucu Anda!.” Namun, karena mengutuk tidak memiliki tempat di dalam lidahku, maka aku akan mengatakan apa yang dikatakan Iqbal,[15] aku pun hanya memanjatkan doa, dan tidak mengucap “amin” untuk kutukan.

Dari sini, maka orang-orang yang berada di lingkaran penuh berkah, sosok-sosok yang mendedikasikan diri untuk mengabdi kepada iman dan Al Quran, tidak boleh sedikitpun terbersit dalam pikiran mereka untuk memanfaatkan kredit atas pengabdian yang mereka lakukan untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak boleh menggunakan reputasinya untuk memenangkan tender proyek tertentu yang bukan haknya, pun untuk manfaat pribadi lainnya. Mereka tidak boleh mengorbankan dinamik terbesarnya, yaitu dedikasi dan tanpa pamrih, untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Allahﷻ telah menganugerahkan kepada mereka berbagai nikmat-Nya, dan menguntungkan mereka dalam kehidupan dunianya; dan Allahﷻ masih berkenan menganugerahkannya. Mereka pun menggunakan nikmat dan rizkinya di jalan Allahﷻ. Ketika pembahasannya sampai kepada mereka yang bertanggungjawab di bidang bimbingan dan konseling, maka sesungguhnya kekayaan terbesar mereka adalah sifat tanpa pamrihnya. Jika mereka terjatuh ke posisi dimana mereka mengejar hal lainnya, maka sesungguhnya mereka telah meninggalkan sesuatu yang banyak demi mendapatkan sesuatu yang sedikit.

AKHIR MENYEDIHKAN DARI PARA PELAKU JALAN RUSAK (KORUP)

Merekalah para tokoh yang perlu diteladani. Jalan dan cara yang benar adalah jalan yang mereka ambil. Jalan yang selain jalan mereka adalah jalan rusak (korup). Orang yang keluar dari jalan yang benar, tanpa sadar terpeleset ke berbagai macam jalan rusak. Korupsi yang mereka lakukan, mungkin awalnya hanya jadi bahan tertawaan, namun akan datang suatu hari yang berat, dimana di hari itu akan membuat mereka yang mendengarnya menangis dan berkata:

يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

Artinya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah” dan tidak mendengarnya. (QS An Naba 78:40)

Oleh karena itu, orang-orang yang berada di dalam “komisi mulia” ini hendaknya mengacuhkan segala hal duniawi yang mungkin nampak indah oleh hawa nafsu namun pada hakikatnya tidaklah lebih mulia dari sayap nyamuk. Ada sebuah kalimat yang dikatakan sebagai hadits, dunia tak lebih dari seonggok bangkai; semua aktivitas, rencana, roda, atau mesin, serta orang-orang yang digunakan untuk meraihnya bagaikan anjing-anjing yang berebut untuk mendapatkan bangkai tersebut[16].

Andai kita mampu melupakan dunia yang penuh tipu daya ini dan hal lain di luar hal yang harusnya menjadi fokus kita. Mereka yang tidak mampu melupakannya sesungguhnya telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, bangsanya, dan sejarahnya. Istana Topkapi telah berhasil mengikuti jalan para sahabat dan membawa bangsa yang penuh berkah ini menjadi penguasa dunia. Di sana dunia ruh kita dipantulkan ke luar. Di sana terdapat cita-cita Fatih Sultan Mehmet, Sultan Bayezid ke-2, Yavuz Sultan Selim yang agung, serta Kanuni Sultan Sulaiman. Mereka meniti jalan ini, pergi menuju belahan dunia lainnya, melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menciptakan keseimbangan dunia, membuat orang-orang zalim  bertekuk lutut, memberi nafas kehidupan kepada orang-orang yang dizalimi. Namun, sekembalinya dari tugas, mereka pulang ke istana yang sederhana ini. Di Istana Topkapi ini mereka melanjutkan tugas mereka. Sebaliknya, istana-istana seperti Dolmabahce dan Yildiz, walaupun penuh dengan kilau kemewahan dan kebanggaan, mereka justru meredupkan cahaya bintang kita. Walaupun mereka di satu sisi menampilkan dunia seperti surga, sesungguhnya mereka telah membuat kita melupakan Allahﷻ dan surga yang sejati.

(Diterjemahkan dari Yolun Kaderi hlm. 213 artikel berjudul Irsad Yolculari icin en Buyuk Kredi: Beklentisizlik)

mengembangkandiri.com ian-keefe-OgcJIKRnRC8-unsplash

RUMAH CAHAYA DARI MASA KE MASA

Tanya: Apa esensi dari rumah cahaya dan apa saja yang bisa diuraikan terkait dengan misi yang diembannya?

Jawab: Topik dan gagasan yang paling sering saya sampaikan dan paling jelas saya kemukakan hingga saat ini salah satunya adalah rumah cahaya. Tidak mungkin saya bisa mengingat keseluruhan penjelasan saya di masa lalu untuk kemudian mengulangi menjelaskannya kembali secara sistematik saat ini. Akan tetapi, karena kembali ditanyakan, maka saya akan berusaha menjelaskannya sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya, mohon maklum jika tidak tertib.

BENIH MUNGIL YANG DI LEMPAR DI PADANG KETIADAAN

Semua institusi yang kita kelola pada hari ini, dapat diibaratkan seperti pohon besar yang tumbuh dari sebuah benih mungil yang dilempar di atas padang ketiadaan.

Ya, di masa dimana sebuah lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang semakin pekat melingkupi – perlahan ia menyirnakan kegelapan pekat tersebut; ruang mungil yang dibangun pelan-pelan  ia menjadi sebuah  rumah cahaya, lalu menjadi kompleks perumahan yang lebih besar; persis seperti karakter fitri sebuah sperma yang mengandung cahaya dari Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai sebab pertama dari penciptaan dasar langit dan bumi, ia pun lewat perwalian Nurul Adzam yang melakukan hal kurang lebih sama.

RASULULLAH MEMBANGUNNYA DARI SEBUAH RUMAH

Jika kita melihat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memulai usaha ini, beliau juga memulainya dari rumah-rumah ini. Ya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  memulainya dengan sebuah rumah, maka bumi berubah menjadi masjid, dimana Mekkah menjadi mihrabnya, Madinah menjadi mimbarnya. Semua manusia di seluruh penjuru dunia, dari yang berumur tujuh hingga tujuh puluh tahun, dari laki-laki hingga perempuan, satu per satu menjadi santri yang juga jamaah dari masjid ini serta membenarkan pesan dari madrasah irsyad dan tablig ini. Yaitu usaha dakwah dan mematangkan jiwa manusia.

PARA PEMBAHARU DI SETIAP MASA MENGIKUTI JEJAK LANGKAH RASULULLAH

Di masa-masa setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berpulang ke rahmatullah, metode ini tetap diikuti. Misalnya, di masa dimana Bani Umayyah perlahan mengalami kemunduran, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz r.a. bersama 3-5 orang di sekitarnya memulai usaha perbaikan dengan sejumput orang ini. Beliau memulainya dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam dua setengah tahun, beliau telah mencapai prestasi yang bahkan tidak akan mampu disamai oleh mereka yang bekerja selama seratus tahun. Beliau membangun usaha agungnya tersebut dari tempat yang kecil dengan dukungan sejumput orang-orang di sekitarnya saja. Kemunduran yang dimaksud disini adalah kemunduran di bidang keinsafan beragama.

Imam Ghazali juga mengikuti jalan yang sama. Ya, beliau juga bersama beberapa orang dari masyarakat yang dipanggilnya, menjelaskan falsafah khidmah kepada para manusia; beliau menunjukkan jalan “ihya” ilmu-ilmu agama  dan ketika beliau mengerahkan penanya untuk menulis “al Munqidhu minad Dhalal” sebagai usaha dengan tujuan menghidupkan ilmu-ilmu agama tadi; Di sisi yang lain, dengan kitab-Nya yang berjudul “Ihya Ulumuddin” beliau membakar suluh kebangkitan kehidupan Islami di kalbu kaum mukminin.

Sebenarnya, mulai dari masa dimana cahaya awal itu berpendar hingga masanya Imam Rabbani; dari masa beliau hingga ke masanya Sang Penderita Agung di masa kita ini, Bediuzzaman Said Nursi; Mereka yang berperan sebagai mursyid kepada umatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di berbagai masa, sosok-sosok agung tersebut senantiasa mengikuti jalan yang sama.

Ya, alam semesta yang luar biasa ini; Sebagaimana sistem tata surya dan galaksi disusun oleh beragam atom berukuran mini. Demikian juga sebuah dakwah agung, ia dibangun dari usaha-usaha kecil tadi yang menggemakan[1] (pesan dakwahnya) ke setiap kalbu. (Atom-atom mini penyusun alam semesta tadi) Menjadi buku yang penuh makna, (ia) berisi berbagai macam galeri[2] (seni yang agung).

ISYARAT HALUS DARI AL QURAN

Ketika pembahasannya sampai di masa kita ini; Cahaya yang terdapat di Surat An Nuur ~ yang berarti Cahaya;

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ

Artinya: Di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allahﷻ buat ditinggikan dan disebut nama-Nya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan nama-Nya di dalamnya, baik pagi atau petang. (QS Nur:36)

Menurut saya, rumah-rumah cahaya ini memiliki korelasi dekat dengan ayat ini; rumah-rumah cahaya ini menunaikan tugas seperti menara masjid yang sekali lagi memperdengarkan apa makna dari potret seorang muslim.

Bukankah sosok yang berada di garda terdepan dalam pekerjaan ini ketika memperkenalkan dirinya berkata: “Saya berada di ujung menara abad ke-13 H. Saya mengundang mereka yang secara tersurat seperti orang berpendidikan, tetapi secara tersirat adalah orang terbelakang untuk datang ke masjid.”

Sebenarnya ketika beliau menyampaikan hal tersebut, bukan berarti beliau benar-benar berdiri di atas menara lalu menutup telinganya (seperti bilal yang akan mengumandangkan azan) dengan jemarinya untuk berteriak. Akan tetapi, beliau dengan menaranya di Barla, menara yang memanggul peran mulia – Pada hari ini pun ia masih tetap berdiri kokoh dengan segala wibawanya di sisi pohon Platanus orientalis – dari tempatnya beristirahat itu, beliau berusaha untuk memperdengarkan suaranya kepada umat manusia.

Tempatnya beristirahat tersebut, –menurutku– Darul Arqam, lalu kediaman mulianya Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, rumah Imam Ghazali, rumah Imam Rabbani, dan rumah-rumah lainnya yang digunakan untuk tujuan yang sama, merupakan sebuah menara agung yang menjelaskan makna kecemerlangan dengan segala sisinya sebagaimana dijelaskan QS An Nur: 36  Yaitu di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allahﷻ buat ditinggikan dan disebut nama-Nya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan nama-Nya di dalamnya, baik pagi atau petang.

KARAKTERISTIK RUMAH CAHAYA

Rumah Cahaya ini memiliki karakteristik yang khas. Di sanalah tempat dimana kekosongan jiwa yang bisa muncul karena sisi manusiawi mereka diisi. Ia adalah tempat suci, dimana rencana dan proyek (kemanusiaan) diciptakan; tempat dimana tegangan metafisik terus-menerus dialirkan; tempat matangnya sosok-sosok beriman sekuat baja, berjiwa kokoh, dimana Ustadz menjelaskan mereka yang matang tersebut dengan kalimat: “mereka yang berhasil merengkuh iman yang hakiki, akan sanggup membaca semua kebutuhan dunia.”

Dan memang sekarang, penakhlukkan dunia tak lagi dilakukan dengan berkuda seperti halnya berlaku di masa lalu; tak juga dengan pedang di tangan, belati di pinggang, ataupun busur panah di punggung; Sudah jelas bahwa di masa kini kalbu-kalbu manusia hanya bisa dimasuki dengan Al Quran di tangan kanan, dan logika di tangan kiri.

Demikianlah pemuda makna dan ruh matang di rumah cahaya. Merekalah yang akan memakmurkan jiwa-jiwa yang kosong dengan cahaya yang dianugerahkan Allahﷻ kepadanya, di atas jalan menuju pembebasan di dalam makna dan di dalam jiwa. Jika demikian, rumah-rumah ini merupakan sebuah madrasah atau meja kerja, dimana generasi yang latah dengan godaan dunia yang memikat dan anak-anak yang kehilangan arah kemudian dimakmurkan dan dikembalikan ke akar makna dan jiwanya.

Khususnya di masa dimana madrasah dan majelis zikir dilarang, apa yang diharapkan dari rumah-rumah tersebut adalah ditunaikannya misi mulia tersebut, yaitu untuk mengisi peran madrasah dan majelis zikir. Rumah-rumah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan positif kepada para penghuninya; Ini artinya, selain menjalankan tugas sebagai majelis zikir dan majelis taklim, ia juga menjalankan tugas sebagai madrasah.

Sebenarnya ayat Al Quran mengisyaratkan semua ini:  Penggunaan kata بُيُوتٍ “Büyutün” secara nakroh (tidak spesifik), mengindikasikan bahwa kata ini dipakai untuk menjelaskan bahwa kata yang dimaksud adalah “sesuatu” selain masjid. Yaitu, ia bukanlah musholla dan masjid dimana azan dikumandangkan lewat menara-menaranya sebagaimana yang kita ketahui; Ia adalah tempat yang tidak spesifik.

Rumah-rumah ini pun seiring berjalannya waktu juga tidak memiliki spesifikasi tertentu. Rumah-rumah ini tidak memiliki spesifikasi yang jelas, karena mereka yang keluar-masuk ke dalamnya senantiasa diawasi.

Walaupun demikian, ada satu yang spesifik dan jelas darinya, yaitu di masa dimana kesulitan menghimpit, rumah demi rumah yang dibuka telah berhasil mendapatkan kemuliaan dan anugerah di masa-masa sulit itu. Tanpa terpaku pada masalah yang sederhana dan sementara, pada masa dimana kumandang azan di menara-menara dan aktivitas mulia lainnya dibungkam, rumah mulia ini menjadi terpuji lewat izin tersirat Allahﷻ: “Untuk saat ini biarlah Nama-Ku dipuji dan digaungkan di rumah-rumah ini”; ia adalah tempat luar biasa, dimana buku-buku dibaca dan kebenaran dikaji. Setelah ini, kajian-kajian tentang ruh beragama yang tadinya dilakukan di masjid, ia akan dilakukan di rumah-rumah ini. Dengan pertimbangan ini, rumah-rumah ini adalah tempat yang berkah, yang disebut sebagai “penerjemah wilayah hakikat yang agung.”

KARAKTERISTIK PEMUDA YANG TINGGAL DI RUMAH CAHAYA

Keadaan rumah-rumah ini senantiasa cocok dengan apa yang digambarkan Sayyidina Abu Bakar r.a.: “Ketika kita masuk rumah, kita tidak yakin apa masih bisa keluar.  Demikian juga saat kita keluar rumah, kita tidak yakin apakah masih bisa masuk rumah lagi.”

Ya, adalah sebuah kemungkinan yang sangat terbuka bagi kita untuk ditangkap saat kita menuntut ilmu di dalam rumah; Demikian juga saat kita keluar rumah, juga sangat mungkin penghuni rumah-rumah ini untuk diculik oleh mobil tak dikenal.  Oleh karena itu, Kita harus selalu berlindung kepada Allahﷻ dengan berdoa: “Tidak ada sekutu bagi-Mu, segala sesuatu ada dalam genggaman-Mu. Jika Engkau tidak mengizinkan, tidak ada satu keburukan pun yang dapat mencelakakan kami.” Dengan doa tersebut, kita menyerahkan keamanan rumah ini dan penghuninya kepada penjagaannya Allahﷻ.

Menyingkirkan semua “sekutu”, sepenuhnya berserah diri dan bertawakal kepada Allahﷻ, atau dalam istilah lainnya, duduk dan bangkit “bersama” Allahﷻ, adalah tabiat dari para penghuni rumah-rumah ini.

PERAN WANITA DI RUMAH CAHAYA

Di sisi lain, ayat Al Qur’an ini menggambarkan bagaimana dakwah ini berjalan di masa-masa awalnya, dimana ketika itu hanya sedikit dari kaum wanita yang mengambil peran, atau dengan kaidah taglib[3] dalam bahasa Arab.

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ

Artinya: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan  dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allahﷻ, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (QS Nur: 37)

Dimana dalam ayat ini seakan-akan hanya kaum lelaki saja yang dibahas. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwasanya ayat ini dengan kaidah taglib juga mengisyaratkan kepada kaum wanita. Dengan demikian kata “rijalun” juga bermakna “wanita yang tangguh seperti lelaki”. Yakni, ketika orang lain mengejar jabatan dan kebanggaan diri, tenggelam dengan penampilan jasmani, sibuk dengan anak-anaknya, sosok-sosok dalam ayat tadi terbang dengan keagungan yang digambarkan ayat tersebut; ia juga bermakna bahwa ada juga wanita-wanita dengan iradah kuat sekuat kaum lelaki sebagaimana dibahas dalam ayat tersebut.

Ya, pada masa permulaannya, bersama para pahlawan dari kaum lelaki seperti Sidik Sulaiman, Hulusi Efendi, dan Husrev Efendi, terdapat pula para pahlawan wanita yang kita kenal, walau jumlahnya sedikit. Mereka bagaikan berada di bawah bayangan Sayyidah Nasibah dan Sumaira yang juga turut terlibat dalam Perang Badar dan Uhud.

Ya, walaupun mereka wanita, mereka tidak ketinggalan dalam memanggul dakwah yang mulia ini. Pada hari ini pun, rumah-rumah cahaya bertindak sebagai tuan rumah bagi para pahlawan ini.

PERAN YANG DIPIKUL RUMAH CAHAYA

Saya rasa, selama rumah cahaya ini dijalankan sesuai dengan tujuan pendiriannya, ia akan mencapai titik-titik yang tak mampu dicapai oleh tekke (majelis taklim) dan zawiyah (majelis zikir), dan di waktu yang sama ia akan menjadi sebaik madrasah dalam mencetak generasi (emas). Dari rumah-rumah ini akan lahir generasi seperti Abdul Qadir Jailani, Gelenbevi (Professor Matematika Usmani), Ali Kuscu (Ahli Astronomi), Molla Husrev (Syaikhul Islam), Molla Gurani (Guru Para Putra Mahkota Usmani), Ebu Suud (Syaikul Islam di zaman Kanuni Sultan Sulaiman), Ibrahim Hakki dari Erzurum.

Jika tidak, hafizanallah, bisa saja ia berubah menjadi gubuk miskin. saya rasa, sebagian besar dari mereka yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama denganku, akan lebih memilih mati daripada harus menyaksikan keadaan rumah cahaya berubah menjadi gubuk-gubuk miskin.

Rumah-rumah yang memiliki peran dan tujuan seperti rumah Ibnu Arqam selalu dibuka di berbagai masa, di mulai dengan di masanya Baginda Nabi, pada hari ini pun ia masih melanjutkan tugas dan peranannya.

Rumah-rumah ini, di hari-hari dimana layar mulai terkembang untuk kebangkitan yang ketiga (Kebangkitan pertama adalah masa Sahabat. Kebangkitan kedua adalah masa Usmani, penerj), ia akan menjadi tempat dimana generasi pembangkitnya dilengkapi dan disempurnakan, insyaAllah…

Di satu masa, Tekke dan Zawiyah menjadi tempat yang sangat penting dalam menghasilkan generasi pembangkit. Lewat sosok-sosok bercahaya yang dihasilkannya, ia membangkitkan Anatolia. Dalam kriteria tertentu, lewat penunaian tugas dan fungsinya, ia juga menjadi sumber keberkahan bagi kita.

Dan kini, tidak hanya Anatolia. Bagaimana rumah-rumah ini sanggup mencetak pemuda ruh dan makna yang membangkitkan seluruh penjuru dunia, adalah sangat penting untuk menilai rumah-rumah ini memiliki (peranan yang) setara dengan madrasah, tekke, dan zawiyah.

Para rijalullah yang dihasilkan dari rumah-rumah ini, sambil mempelajari semua aspek dari ilmu positif, dilengkapi dengan hadis, tafsir, fiqih, dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka harus hidup dengan kehidupan ruh Islam yang amat luas, mereka harus menampilkan makna dan jiwa dari ruh para pendahulunya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Jika tidak dilakukan, ia bagaikan pengkhianatan kepada rumah cahaya ini, kepada pemilik rumah ini (Bediuzzaman), kepada inspirasi rumah ini yaitu Arqam, dan kepada Sang pemberi arti, Baginda Muhammad Mustafa Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Tamsil (perwakilan) dari ruh tersebut, sebagai bentuk dari kedalaman maknawinya, ia harus menunaikan shalat dengan amat dalam, kalau perlu ketika meletakkan kepalanya ke tanah ia sanggup mengatakan “Ya Allah, Andai Engkau tidak menakdirkanku untuk mengangkat kepalaku ini. Andai sujudku ini menjadi titik dimana aku kembali kepadaMu!.”

Ia tidak akan mengalihkan pandangan matanya ke hal lain, ia berdiri dengan tulus di hadapan Ilahi, ia menutup dirinya untuk hal-hal yang tidak berfaedah, dan seakan ia sedang menyaksikan keindahan (jamal) nya Allahﷻ di dalam surga, ia memasuki fase konsentrasi, mempertemukan tangan di atas lututnya, ia keluar dari “ana” (saya) dan “nahnu”  (kami – kita),  dan menjadi mata yang memandang “Huwa” (Dia).

Ya, mengarahkan diri kepada-Nya dengan kriteria ini…

Ya, bukan dengan pemikiran: “Azan sudah dikumandangkan. Aku masih perlu melakukan beberapa kegiatan. Kalau demikian biar aku selesaikan dengan cepat salat ini.”

Melainkan: demi bisa berjalan menuju mikraj, seakan ia turun ke jalanan landai (menurun), ia melupakan dirinya, menuju serta mencapai fana fillah, baqa billah, menunaikan salat dalam atmosfer kebersamaan dengan-Nya, tanpa memikirkan diri sendiri.

Yakni, menuju Rabb sebagaimana Zübeyr Gündüzalp, Hüsrev Efendi meretakkan kalbunya. Dan dengan awradu azkar (wirid dan zikir), tasbihu takdis (tasbih), di bawah bimbingan cemerlang dari Al Quran, demi bisa mencapai Allahﷻ, rumah-rumah cahaya ini dirubah menjadi pelabuhan dan galangan kapal yang tidak ada bandingannya.

Ya, jika rumah cahaya dijalankan seperti tadi, maka ufuk pun akan mencapai Allahﷻ.

TEMPAT MENUTRISI GENERASI PEMBAWA PANJI KEBENARAN

Hari ini, mereka yang memiliki mimpi untuk membawa hakikat dan kebenaran ke tujuh benua, mereka wajib dinutrisi oleh rumah-rumah yang berperan bagai penghasil air susu ibu yang berkah.

Untuk mereka yang tinggal bertahun-tahun di tempat suci tersebut namun tetap tidak memahami Allahﷻ, mereka yang tak mampu meraih kecintaan dan hasrat kepada-Nya, mereka di satu kriteria merupakan orang-orang yang tidak beruntung dan menyedihkan.

Mereka yang memiliki keadaan demikian, mirip bayi yang berada dalam timangan ibunya, namun tak mampu meraih ASI dari ibunya. Mereka yang demikian, tidak mendapatkan keuntungan apapun, pun tidak akan mampu mengantarkan umat manusia menuju apapun.

KESUNGGUHAN DALAM MENDIRIKAN SALAT

Ketika sampai disini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Ketika aku melihat orang yang sedang salat, namun ia salat sambil tengok kanan-kiri, aku merasakan, jika boleh dikatakan demikian, seakan kemuliaan Tuhanku sedang direndahkan.  Saat itu aku bergumam: “Andai saja orang ini melemparkan sumpah serapahnya saja kepadaku, namun tak menengokkan matanya ke kanan dan ke kiri saat salat.” Menurutku, sumpah serapah tersebut masih ringan dibandingkan salat tanpa keseriusan seperti itu.

Ya, orang yang ketika menghadap kepada Allahﷻ melakukan gerakan seperti ini, aku secara pribadi menganggapnya sebagai sumpah serapah kepada-Nya. Seandainya mereka menusuk jantungku saja, mungkin mereka akan menjadi pembunuh, tetapi aku akan berdoa: “Ya Allahﷻ, jika Engkau tidak memaafkan orang ini, –andai aku bisa– aku tidak ingin menghadap kepada-Mu.”

Seperti yang Anda saksikan, aku sangat terganggu oleh mereka yang tidak serius dalam salatnya.

Tanpa doa dan salat, atau menunaikan salat tanpa ruhnya, tak mungkin seseorang bisa menjadi mukmin sejati. Allahﷻ berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”. (QS Al Mukminun : 1-2)

Salatnya mereka yang tinggal di rumah-rumah suci tersebut, lebih penting daripada penakhlukkan dunia tanpa salat. Dan memang, selama mereka tidak menjadikan salat sebagai hal paling penting dalam kehidupannya, tidak mungkin dibayangkan mereka akan meraih kesuksesan.

RUMAH CAHAYA DIBUKA UNTUK MENGKOMPENSASI PEKERJAAN YANG TERABAIKAN

Kesimpulannya, untuk topik tadi, saya senantiasa merasa terluka. Rumah-rumah cahaya ini dibuka untuk mengkompensasi apa yang telah diabaikan oleh sejarah; barangkali aku tidak tahu seberapa tepatnya ia dijalankan sesuai dengan tujuan awalnya; namun, aku ingin tetap berhusnuzan sambil berkata: “teman-teman pasti menunaikan haknya rumah-rumah cahaya ini.”

Jangan lupakan semua umat yang sedang dan akan berada dalam kehancuran dunia, mereka sedang menunggu pemuda irsyad yang matang di rumah-rumah ini untuk membangkitkan mereka. Dan demikian ia dipahami, bahwasanya fungsi dari rumah-rumah ini tidak akan pernah selesai.

Jika demikian, maka demi Allahﷻ, datanglah, tunaikanlah salat dengan haknya, berpuasalah; Dan tunaikanlah salat dan puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga malaikat yang sedari ia diciptakan tak pernah bangkit dari rukuknya pun akan berkata: “Luar biasa! ternyata ada yang menunaikan shalat lebih baik lagi.” Demikian baiknya kita melebur ke dalam zikir dan fikir, para penghuni langit yang menyaksikan kita pun akan berkata: “merekalah yang akan membangkitkan dunia!.”

Sebagai manusia yang beruntung, atau sebagai hamba Allahﷻ, mari kita manfaatkan rumah-rumah –keran air susu ibu– yang diliputi berkah tersebut dengan maksimal. Jangan sia-siakan waktu kita dengan canda tawa seperti orang-orang bodoh, atau dengan kata-kata yang tak bermakna, yang tak memberikan manfaat dunia dan akhirat. Marilah kita jadikan rumah-rumah cahaya ini sebagai sumber cahaya yang akan menerangi seluruh dunia.

Semoga Allahﷻ menjadi Penolong bagi kita semua! Aaminn

(Diterjemahkan dari Prizma 2 artikel berjudul ‘Dünden Bugüne İbn Ebi’l-Erkam Evleri’)

[1] Menggemakan: menjadikan bergema; gema: bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung; memantul bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi (KBBI).

[2] Galeri: ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI).

[3] Taglib : disebabkan suatu hubungan, suatu kata digunakan untuk makna lainnya dengan mengambil makna dari kata tersebut. Misalnya, untuk kata ayah yang berhubungan dengan ibu selaku orang tua, digunakan kata abawayn.

mengembangkandiri.com andrew-seaman-ey5zZOkYL0Q-unsplash

USLUB DALAM BERKHIDMAT

Tanya: Apa saja sarana yang diperlukan untuk mendapatkan inayah Ilahi dalam menggapai ufuk keridaan-Nya?

TAWAJUH KEPADA ALLAHﷻ

Tawajuh kepada Allahﷻ adalah hal yang sangat penting bagi para pahlawan cinta, serta penyandang kasih sayang yang bertekad meraih rida Allahﷻ. Sebagaimana perkembangan karakteristik personal dari umat manusia dapat terwujud berkat tawajuh kepada Allahﷻ, demikian juga perkembangan usaha khidmat –dakwah– sebagaimana bunga-bunga yang mekar menghadap ke arah matahari, dan hanya mungkin akan terjadi berkat bertawajuh kepada-Nya.

Jika seandainya umat manusia memutus tawajuhnya kepada Allahﷻ, maka ia akan masuk dalam ketergelinciran cara pandang terhadap Allahﷻ dan akan terbelenggu oleh angan-angan dunianya fana. Untuk itu, tawajuh kepada Allahﷻ dalam dimensi tauhid, rida, dan keikhlasan amatlah penting demi terraihnya inayat Ilahi yang merupakan salah satu jalan yang tak bisa diabaikan demi menjaga nur kehidupan.

Orang-orang suci yang telah menyerahkan hatinya untuk tujuan yang mulia –dakwah– selama mereka mengikuti prinsip penting ini, maka setiap khidmat yang mereka lakukan, sudah pasti  akan mendapat keuntungan  dalam kehidupan personal  walaupun mungkin mereka tidak mampu menggapai kesuksesan dari segi materi.

SESUAI DAN MENGIKUTI SUNATULLAH

Hal lain yang juga diperlukan guna meraih inayat Ilahi adalah mengikuti sunatullah. Allahﷻ menciptakan kita lewat tabir berbagai sebab. Sedangkan perkembangan nama Allahﷻ al-Qudrah akan dimanifestasikan di akhirat. Di akhirat, segala sesuatu terjadi dengan sangat mengagumkan dan hal-hal menakjubkan senantiasa berlangsung disana. Sedangkan dunia ini merupakan alam hikmah sehingga segala sesuatunya terbungkus oleh tabir sebab. Mengabaikan tabir sebab walaupun sebab-sebab itu nyata tidak lain merupakan tindakan jabariah.

Jika demikian, maka sebab demi sebab harus dengan sensitif diikuti dan gerakan demi gerakan harus disusun tanpa cela sesuai dengan sebab-sebab yang berlaku, sehingga mereka yang mengamatinya akan berkata: “Orang-orang ini tidak lain adalah orang-orang yang mencintai sebab-sebab”. Mereka juga harus bertawakal dan bertawajuh kepada Musabbibul Asbab, yaitu Allahﷻ, sembari menihilkan sebab-sebab, sehingga kali ini orang-orang yang menyaksikannya akan berkata: “Mereka seperti jabari yang tidak menerima satupun sebab dan menyerahkan segala-galanya kepada Allahﷻ.” Perilaku yang seperti ini merupakan sesuatu yang amat penting dalam menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Sang Musabbibul Asbab dan sebab-sebab yang diciptakan-Nya.

Kita juga dapat menyaksikan keseimbangan ini pada kehidupan Baginda Nabi. Baginda Nabi di perang yang satu dan di medan perang lainnya senantiasa membangun benteng-benteng kokoh dan mengenakan dua lapis baju zirah.[2]  Contoh ini dan juga banyak contoh lainnya menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengikuti sunatullah dalam derajat yang luar biasa sensitif. Di sisi lainnya beliau juga mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan bermunajat: “Ya Allah, janganlah Engkau datangkan kekalahan bagi pasukanku ini!”. Seakan beliau tidak melakukan persiapan apa-apa. Dengan demikian, kehalusan dan ketelitian Baginda Nabi dalam mengikuti sunatullah serta kepasrahan totalnya kepada Sang Musabbibul Asbab telah sampai pada titik koheren. Benar, beliau telah sampai pada titik koheren dan dengan demikian telah berhasil menjaga keseimbangan sebagai penggambaran dari pemahaman tauhid hakikinya yang sempurna.

KEBERLANGSUNGAN DAN KONTINUITAS

Salah satu dinamika terpenting yang perlu dikerjakan demi diraihnya inayat Ilahi adalah keberlangsungan serta kontinuitas usaha dan upaya seseorang dalam mencapai tujuan yang diharapkannya. Perlu diingat juga betapa banyak sosok yang memulai pekerjaan ini dengan penuh kebanggaan, namun tiga langkah kemudian disebabkan oleh kelelahan, kebosanan, kejenuhan, serta ditinggalkannya aktivitas suci ini karena merasa ia  tidak berbeda dengan aktivitas lainnya tepat sesaat sebelum datangnya masa “panen”, lalu mereka pun tergusur dan hanya menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar secuil penggalan sejarah belaka.

PEMUFAKATAN DAN PERSATUAN

Selain tiga sarana yang telah disebutkan sebelumnya, pemufakatan dan persatuan adalah sebuah sarana yang amat penting guna menggapai inayat Ilahi. Walaupun kekuatan setiap individu yang berkumpul bersama ataupun kemampuan suatu masyarakat yang berkumpul bersama, kekuatannya tak diragukan lagi. Hal ini adalah sebuah fakta bahwasanya anugerah Allahﷻ kepada suatu jamaah lebih besar dibandingkan dengan kumpulan andil dari setiap individu yang berkumpul dalam satu kesatuan tersebut. Karena Allahﷻ telah menyatukan syarat terwujudnya kesuksesan pemakmuran dunia dan tersebarnya ruh Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perjuangan kaum mukminin yang terbungkus dalam pemufakatan dan persatuan. Maka saat ia –pemufakatan dan persatuan– diabaikan, walaupun kumpulan mukminin tersebut diisi oleh sosok-sosok agung dan intelek seperti Imam Hasan Syadzili, Imam Ahmad Badawi, dan Syekh Abdul Qadir Jailani, kesuksesan tidak akan mungkin bisa dicapai. Allahﷻ telah mensyaratkan pemufakatan dan persatuan untuk tercapainya kesuksesan tersebut. Anugerah Allahﷻ yang luas kualitasnya melebihi ke-qutb-an[3] dan  ke-ghauts-an[4]. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ “Tangan Allahﷻ berada di atas tangan mereka”[5] serta sabda Baginda Nabi: “Inayat dan kodrat Ilahi ada  bersama jamaah”[6]. Maka dari itu sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, permohonan terbaik guna dikabulkannya pertolongan dan inayat Ilahi adalah pemufakatan dan persatuan.

Kesimpulannya, barangsiapa yang ingin meraih inayat Allahﷻ, maka dia harus mengikuti nasihat-nasihat ini; khidmah-khidmah yang akan dikerjakan harus dijalankan di atas petunjuk dan bimbingan ini.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Hizmette Üslup’ Dari Buku Prizma 4)

EVALUASI

Apa hubungan inayah Allah dan tawajuh kepadaNya?

Apakah yang dimaksud dengan sunnatullah? Jelaskan!

Sebutkan empat langkah untuk mendapatkan inayah Ilahi!

[1] Uslub berarti jalan, cara, atau mazhab. Uslub juga berarti fann (seni). Menurut ahli balaghah, Uslub adalah sebuah metode dalam memilih  redaksi dan menyusunnya , untuk mengungkapkan sejumlah makna, agar sesuai dengan tujuan dan  pengaruh yang jelas. Dalam bahasa Arab, Uslub adalah makna yang terdapat dalam suatu bentuk susunan lafaz-lafaz (kalimat) agar dapat lebih mudah mencapai tujuan yang dimaksud pada diri pendengar atau pembaca. Kesimpulannya, uslub adalah cara yang dipilih penulis di dalam menyusun lafaz-lafaz untuk mengungkapkan suatu tujuan dan makna dari apa yang disampaikannya

[2] HR Abu Daud, Bab Jihad 75; HR Ibnu Majah, Bab Jihad 18

[3] Qutub secara istilah adalah manusia terbaik yang mengumpulkan seluruh keutamaan. Baik dalam kemanusiaan, ibadah, dan kedekatannya dengan Allah. Seorang qutub merupakan Khalifah Rasulullah dalam menjaga keseimbangan alam. Setiap masa hanya ada satu orang qutub. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata abdal telah masyhur dalam sejumlah khabar dan qutub telah ditemukan dalam beberapa atsar.

[4] Ghauts merupakan sosok qutub yang sempurna.  Kemutlakan ghauts atau al qutub al jami’ adalah istilah yang muncul di antara para wali

[5] QS Fath 48: 10

[6] HR Tirmizi, Bab Fitan 7; HR Ibnu Hibban, as sahih 10/438

mengembangkandiri.com cover Tanya Jawab Masalah Kontemporer 2

Tanya Jawab Masalah Kontemporer Bagian 2