mengembangkandiri.com pexels-jacob-morch-572780

Woles

Setiap orang memiliki cita-cita dalam hidupnya, ada yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan, ada juga yang menjadikan jabatan, ketenaran dan popularitas sebagai pencapaian yang paling utama. Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk mendapatkan ketenangan yang merupakan pangkal dari kebahagiaan.

Mereka yang berfikir bahwa ketenangan ada pada harta, maka ia akan menjadikan harta tersebut sebagai juru selamatnya. Mereka yang berfikir ketenangan ada pada kedudukan dan jabatan, maka ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan semuanya. Dan mereka yang menjadikan kecantikan, popularitas sebagai sudut pandang manusia, maka mereka akan merasa ujub terhadap dirinya sendiri.

Namun, apakah ketenangan itu benar-benar hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas?

Jika benar, ketenangan itu hanya ada pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu, mengapa banyak pengusaha kaya, artis ternama dan para pejabat yang mati bunuh diri?

Sebut saja Michael Jackson, Marilyn Monroe, Chester Bennington, Kurt Cobain dan masih banyak artis terkemuka lainnya.

Bukankah mereka telah memiliki semua yang diperlukan untuk bahagia?

Lalu kenapa mereka justru memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak semestinya?

Hal ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa ternyata ketenangan jiwa yang merupakan pangkal dari kebahagiaan tidak terletak pada harta, kedudukan, jabatan, kecantikan dan popularitas.

Lalu dimanakah ketenangan yang di damba kan semua orang itu?

Rahmat Tuhan Bagi yang Beriman

Ketenangan merupakan rahmat dari Allahﷻ yang di berikan kepada hamba nya yang beriman. Semakin besar kadar keimanan seseorang, maka ia akan semakin tenang. Dan ketenangannya seakan menjadi stempel yang melekat pada keimanan. Syekh Badiuzzaman Said Nursi dalam kitab-Nya Al-kalimat bahasan tentang mensifati karakteristik orang yang beriman dengan sikap ketenangannya beliau menyampaikan.

“Andai kan bola bumi menjadi bom yang dapat meledak, barang kali ia tidak akan membuat takut sang abid yang memiliki kalbu yang bersinar. Bahkan bisa jadi ia melihatnya sebagai salah satu kodrat tuhan yang luar biasa sehingga ia akan merasa kagum dan senang. Sebaliknya, seorang fasik yang memiliki kalbu mati, meski ia seorang filsuf yang dianggap cerdas, apa bila melihat meteor di angkasa ia akan merasa takut dan cemas“ .

Bahaya dan kecemasan luar biasa pernah meliputi kaum muslimin pada saat peristiwa badar, saat itu kaum muslimin harus berhadapan dengan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih besar, dengan persenjataan dan akomodasi perang yang sangat minim. Tak ada pilihan lain, dengan segala keterbatasan kaum muslimin harus menang. Saking gentingnya kondisi saat itu, hingga membuat Rida “Sorban” Baginda mulia Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ter jatuh saat berdo’a, “Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tiada lagi ada yang beribadah kepada-mu”.

Kemudian, alih-alih Allahﷻ memberi pertolongan kepada kaum muslimin pada saat itu, dengan menurunkan hujan dan kantuk sebagai pertolongan pertamanya. Dari pertolongan yang diberikan Allahﷻ, hati kaum muslimin diselimuti ketenangan yang pada akhirnya membuahkan kemenangan. Dalam firman-nya : “Sesungguhnya Allahﷻ menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari nya dan Allahﷻ menurunkan kepada mu hujan dari langit untuk membersihkan mu. Karena dengan air hujan itu, Allahﷻ menghilangkan gangguan syaitan dari mu dan menguatkan hatimu serta memper teguh  kedudukan mu” (Q.s. Al-anfal : 11).

Menjemput ketenangan

Jika ketenangan dapat dibeli harusnya hanya si kaya yang boleh bahagia, Jika ketenangan dapat direkayasa, harusnya kebahagiaan hanya untuk segelintir penguasa. Mungkin ada yang percaya bahwa ketenangan dapat dibeli dan direkayasa. Namun, ketenangan yang hakiki hanya milik Allahﷻ, dan akan hanya diberi kepada mereka yang beriman.

Sejenak mari kita renung kan kembali perjalanan hijrah nya sang Baginda Nabi bersama seseorang sahabat.

Mengapa beliau memilih Abu Bakar r.a sebagai teman perjalanan?.

Seolah beliau ingin mengajarkan kepada umatnya jika ketenangan ada pada kekuatan maka beliau akan memilih Umar dan Hamzah r.a sebagai pendampingnya. Jika ketenangan ada pada harta mungkin Abdurrahman Bin Auf lah yang akan dipilih nya. Namun karena ketenangan ada pada iman, maka Ash-Shiddiq lah yang dipilih. Sosok yang tak akan bertambah keyakinannya meski hijab antaranya dan surga dibuka, sebab keimanan nya telah paripurna. Seraya mengulang firman Allahﷻ, baginda Nabi menguatkan “ jangan bersedih sesungguhnya Allahﷻ Bersama kita “.

Ketenangan juga dapat dijemput dengan sikap bertawakal seraya berserah diri kepada Allahﷻ dan berusaha menyertakan Allahﷻ dalam segala urusan.

Bukankah mereka yang berpergian dengan menyandang nama penguasa akan merasa aman dan mendapat jaminan perlindungan?

Bukankah setiba nya ditempat tujuan mereka akan disambut dan dilayani selayaknya utusan sang raja?

Begitulah gambaran orang yang menyertakan Allahﷻ dalam segala aktivitasnya. Kondisi sebaliknya akan menimpa mereka yang enggan menyandang nama penguasa dalam perjalanannya. Rasa cemas, takut dan bingung akan selalu menyertai perjalanannya yang Panjang.

Ketenangan dan Kebahagian.

Semua orang mendambakan kebahagiaan, namun banyak yang mencari kebahagiaan ditempat yang salah sehingga mereka tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Bukankah sudah menjadi tabiat bahagia datang setelah tenang?

Bagi mereka yang memahami hakikat penciptaan akan menjadikan ke ridaan Allahﷻ sebagai tujuan untuk mendapatkan ketenangan. Seperti hal nya menghadapkan wajah pada Mentari, maka akan mendapatkan pancaran sinar ke hangatan yang hakiki. Namun bagi mereka yang membelakangi Mentari, hanya bayangan semu yang ia dapat kan.

Bukankah mengejar bayangan merupakan kesia-siaan belaka?

Setiap insan merindukan kebahagiaan, namun banyak yang lupa jika kebahagiaan datang setelah ketenangan. Maka, sebuah kepalsuan bagi mereka yang mengejar kebahagiaan namun membiarkan perpecahan, peperangan dan kekacauan terjadi. Maka, pastikan diri kita menjadi bagian dari hadirnya ketenangan bagi keluarga kita, bagi tetangga kita dan bagi masyarakat lingkungan kita.

Semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan hamba nya yang memiliki kedalaman iman, sehingga dapat merasakan gelombang ketenangan jiwa yang dengannya dapat menjemput sebuah kebahagiaan hakiki.

 woles dan bahagia lah.

Mengembangkandiri.com[Downloader.la]-635797bdc99ab

Prioritas Membaca dan Menjadi Mentor

Artikel pertama dari seri artikel ini membahas tentang “Rumah”. Oleh karena itu, di artikel seri kedua, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana seharusnya orang-orang yang tinggal di Rumah tersebut dididik dan dibina, serta apa saja buku-buku yang harus mereka dibaca?.

Fungsi utama dari Rumah adalah untuk mendidik dan membina orang-orang yang tinggal didalamnya, agar mengagungkan sang pencipta mereka, serta berkomitmen penuh dalam mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sehingga, mereka yang tinggal di Rumah ini adalah “individu” yang telah menetapkan hati mereka pada i’lâ-ı kalimatullah (mengagungkan Allah), yang berempati kepada sesama dimanapun ia berada, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, mengorbankan kenyamanan pribadi demi terciptanya perdamaian umat manusia dan berdiri di garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Sebagai relawan Hizmet, panduan utama kita adalah Risalah Nur. Tanpa membaca dan memahami Risalah Nur dengan baik, mustahil untuk bisa memahami Hizmet secara mendalam.

APA ITU RISALAH NUR?

Risalah Nur bukanlah sekedar sumber pengetahuan yang biasa saja. Tidaklah cukup hanya menganggapnya sebagai karya yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara logika saja. Risalah Nur adalah sumber yang menjelaskan tentang ‘ma’rifatullah‘ secara rinci. Risalah Nur adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Risalah Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang menerangi zaman ini. Oleh karena itu, ia berisi ilham serta memiliki pesona dan celupan dari Al-Quran. Sebagai contoh, jika anda membaca Risalah Ikhlas anda akan menemui setiap kalimatnya adalah kata-kata mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti itulah setiap bagian dari Risalah Nur. Risalah Nur ditulis dengan kezuhudan yang tinggi dan dengan rahmat Allahﷻ, sehingga Risalah Nur menjadi sumber inspirasi Ilahi.

Apakah ada mahakarya yang seperti Risalah Nur ini dalam sejarah?

Selama lebih dari 60 tahun telah dibaca dan didiskusikan ribuan kali bahkan ratusan ribu kali dan bahkan sampai jutaan kali, baik di Rumah-rumah di Turki maupun di seluruh dunia dan hal ini masih terus berlanjut hingga hari ini.

Penerimaan yang baik ini merupakan anugerah Ilahi atas kebulatan tekad, kebaikan, dan kezuhudan serta keikhlasan penulisnya.

Allahﷻ menganugerahkan pesona yang luhur kepada “Risalah Nur”. Disaat anda membacanya dan pikiran anda sibuk dengan kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia memperbaiki hati anda. Disaat anda mencoba memahami kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia merekonstruksi pikiran anda. Bahkan ketika anda menyelesaikan suatu topik pembahasan dalam Risalah Nur, namun anda tidak mengerti apa-apa, pada hakikatnya tanpa anda sadari ia memenuhi alam pikiran anda dengan cahaya. Dan dengan cahaya itu akan memberikan panduan yang sempurna kepada jiwa anda untuk berperilaku positif. Semua ini akan terwujud selama Risalah Nur dijadikan wasilah dan sarana menuju Allahﷻ.

Tetapi, ketika anda mendekati teks-teks Risalah Nur dengan kesombongan, kefanatikan, dan keinginan menjadi orang ternama dalam masyarakat, maka pesonanya akan hilang. Ketika anda menjadikan Risalah Nur sebagai tujuan bukan sebagai sarana, mengubahnya menjadi komoditas komersial, atau menjadikan Risalah Nur hanya sebagai alat untuk mempublikasikan pengetahuan yang anda miliki, maka Risalah Nur yang luar biasa ini menutup pintunya bagi anda. Sihir dan celupannya akan hilang, penunjuk arahnya akan buram. Jika seperti ini, meskipun Risalah Nur ada dalam hafalan anda, namun anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari Risalah Nur.

BUKU PIRLANTA

Setelah Risalah Nur menenangkan jiwa dan menjadikan tawajjuh kepada Allahﷻ sebagai sifat serta karakternya, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mewujudkannya dalam bentuk amal saleh. Untuk melakukan amal saleh dan kedisiplinan ada seri buku Prisma, seperti: Buku Dakwah, Cahaya Al-Qur’an, Cahaya Abadi dan Kriteria.. Namun sebelum membaca buku-buku yang disebutkan di atas, buku pertama yang perlu dibaca dan diselesaikan terlebih dahulu adalah seri buku Pirlanta.

Menjaga keikhlasan saat menulis sesuatu, mudah jika hanya dalam ucapan saja, namun dalam pelaksanaanya sangatlah sulit. Prinsip dalam meneliti sebuah karya adalah seseorang tidak boleh mencampurkan keinginan pribadinya pada sebuah karya yang ia teliti. Cobalah telaah kumpulan ceramah yang sudah disampaikan 50 tahun yang lalu dan telitilah dengan prinsip tersebut diatas. Jika anda adalah orang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, anda akan dapat membedakan kalimat-kalimat yang bercampur dengan keinginan pribadi pembicara. Sosok yang sudah berbicara selama puluhan tahun dan apa yang ia sampaikan tidak ada unsur keinginan diri pribadinya meskipun satu kalimat, hal ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembicara tersebut berbicara dengan keikhlasan dan ketulusan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan celupan keikhlasan yang sama, membukukan dan membacanya adalah wasilah yang sangat membahagiakan.

Seperti yang diajarkan oleh Risalah Nur kepada kita yaitu perbedaan antara “makna huruf” dan ” makna ismi”, dalam pandangan kami, karya-karya ini juga demikian:

“Alam semesta harus dimaknai dengan makna huruf dan melihatnya berdasarkan pandangan tersebut. Adalah suatu kesalahan jika memahami alam semesta dengan makna ismi dan sebab-sebabnya.”

Merupakan suatu hal yang berbahaya, jika memuliakan karya-karya ini dan penulisnya dengan makna ismi. Memuliakannya dengan sebutan wali atau sosok yang bebas dari kesalahan, bahkan menyebutnya dalam setiap majelis sebagai manusia luar biasa dan mengagungkannya dengan makna ismi sebagai manusia suci. Pernyataan-pernyataan ini dan yang serupa dengannya dapat berujung pada kemusyrikan. Hal ini juga menyebabkan hilangnya cahaya dari karya-karya ini.

Selain daripada itu, jika hanya berfokus pada bagian luar saja, bukan pada makna yang terkandung didalamnya. Hanya terpaku pada satu dari delapan Risalah atau hanya terpikat dengan pola formal buku yang dibaca, terpesona dengan fiksi teksnya, tertarik pada sajak-sajak puisinya. Hal ini ibaratkan memakan madu yang ada dalam sebuah botol dengan menjilati bagian luar botolnya saja.Ketika perhatian hanya terfokus pada sastra, gaya bahasa dan kefasihannya saja, maka esensi yang ada didalamnya akan terlupakan.

Setelah membangun sebuah pondasi yang kokoh dengan semua karya-karya ini, setiap orang harus mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah secara proporsional sesuai dengan cakrawala mereka. Lalu setiap orang perlu membaca karya klasik dunia dan karya klasik lokal dari negara asal mereka masing-masing agar dapat mengenal dan memahami manusia lain yang ada disekitarnya. Namun hal-hal yang juga perlu diingat adalah, bahwa setiap orang perlu menguasai sejarah, filsafat, ilmu logika dan bidang ilmu pengetahuan lainnya pada tingkatan tertentu.

KAKAK PEMBINA

Membaca sangatlah penting, tetapi membaca bukanlah segalanya. Jika karya yang dibaca tidak dihayati dalam kehidupan, jika semua sikap dan tingkah laku tidak berubah menjadi amal saleh, maka menjadi nyata kebenaran ayat berikut: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat- ayat Allahﷻ. Dan Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Jumu’ah ayat 5).

Seorang kakak pembina harus mengisi waktunya dengan amal saleh agar tidak terlena oleh godaan hawa nafsu.

Siapa yang akan mendidik dan membina kakak pembina?

Seperti yang disebutkan dalam sebuah paradoks “Apakah ayam yang keluar dari telur atau telur yang keluar dari ayam”. Sama halnya, bahwa siswa yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kakak pembina (mentor) yang berwibawa dan berkualitas atau dalam arti kiasan “idola” yang mendidik dan membimbing mereka dengan baik. Kakak pembina (mentor) yang berkualitas hanya dapat dibentuk oleh sosok yang berkualitas juga. Jika tidak ada siklus yang benar seperti ini, rumah- rumah tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat ini, kakak pembina (mentor) adalah aspek yang sangat dibutuhkan, terutama bagi siswa yang pergi ke luar negeri dan mencoba untuk belajar bahasa dan beradaptasi dengan sekolah asing.

Membina generasi tidak bisa dilakukan secara paketan. Membina secara paketan sama seperti membuat patung secara grosir. Patung buatan bisa diproduksi secara langsung dalam jumlah yang banyak tetapi tidak memiliki nilai seni. Membina secara paketan tidak bisa melahirkan “Individu” yang dapat menjadi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia.

Apakah Kamp itu mesin cetak?

Kamp adalah program kolektif yang sangat penting dan tak tergantikan. Sudah barang tentu program ini memberikan nilai-nilai yang positif. Tetapi kamp bukanlah “mesin cetak”. Jika tidak ada bimbingan terhadap siswa secara individu, mendengarkan permasalahan yang mereka alami satu persatu, memahami apa yang mereka inginkan dan membangun ukhuwah yang kokoh, maka efek kamp akan seperti api yang membakar daun kering yang membesar seketika lalu habis dengan sekejap. Jika kamp yang dilakukan selama 10 hari merupakan kelanjutan atau bagian dari apa yang dilakukan pada 355 hari lainnya dalam setahun, maka efisiensi nyata akan dapat diperoleh. Jika tidak, bimbingan yang dilakukan selama kamp akan seperti hujan dimusim panas yang turun tiba-tiba kemudian deras sekejap lalu mengering dengan cepat.

Pertanyaan tes kualitas pembinaan

Apakah pembinaan atau Hizmet di kota tersebut ada atau tidak?

Tes ini dapat dilakukan dengan mudah, ada dua aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur:

Pertama: Ada berapa Rumah yang sesuai dengan ketentuan ideal ?

Kedua: Berapa banyak pembina yang memenuhi syarat yang anda miliki?

Aspek-aspek lainnya adalah data statistik saja.

Jika tidak ada pembinaan seperti ini, maka sekolah maupun lembaga lain yang kita miliki tidak lebih berharga daripada sekolah biasa atau lembaga biasa. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa Rumah yang ideal lebih berharga daripada sekolah yang besar atau institusi yang megah sekalipun.

********

Makna Huruf (Simbolik): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah dari Allahﷻ dan Allahﷻ lah yang menciptakan itu semua. Artinya, segala sesuatu tidak memiliki makna jika tidak dinisbatkan kepada sang penciptanya yaitu Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel, maka ada ratusan simbol yang menunjukkan bahwa sang penciptanya adalah Allahﷻ. Maka dari itu, ratusan simbol yang menunjukan adanya sang maha pencipta disebut dengan makna huruf.

Makna Ismi (Hakiki): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah sebuah hakikat dan bukan dari Allahﷻ. Dengan kata lain, melihat makhluk dan alam semesta atas nama mereka sendiri dan tidak menisbatkannya kepada Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel dan menilai bahwa apel itu ada dengan sendirinya, maka hal ini adalah peniadaan terhadap ribuan simbol yang menunjukan sang maha pencipta yaitu Allahﷻ. Makna ismi (hakiki) hanya milik Allahﷻ.

pexels-oleksandr-pidvalnyi-2781814

Puncak Masa Depan Yang Didambakan

Karya Pembaca : Imam H.

Mungkin kita pernah berharap pada suatu hari nanti kita bercita-cita ingin menjadi seorang guru, dosen, dokter, insinyur, pelaut, petani dll. Hal tersebut kita lakukan tidak lain agar mempunyai tujuan yang jelas di masa yang akan datang sehingga kita bisa mempersiapkannya dengan lebih matang.

Akan tetapi pada akhirnya mungkin kita akan bertanya-tanya, masa depan itu apa?

Atau apakah masa depan itu mempunyai batas?

Kalaupun iya, lalu apa puncak dari masa depan itu?

Ada yang mendefinisikan bahwa masa depan itu adalah: (1) Periode kehidupan yang akan kita jalani dan berakhir ketika kita meninggal nanti. (2) Periode mendatang yang membutuhkan perencanaan yang bisa dipersiapkan dan bisa dirancang untuk mencapainya.

Semua itu mungkin saja benar karena setiap orang mempunyai definisi yang berbeda akan masa depan. Yang jelas masa depan adalah suatu kejadian yang akan terjadi.

Masa depan berkaitan erat dengan keinginan dan harapan. Terkadang harapan dan keinginan itu menjadi benang merah tolak ukur tercapainya masa depan yang kita dambakan. Apapun yang kita lakukan di detik ini adalah demi terwujudnya masa depan yang lebih baik, ntah apa yang kita ingin dan harapkan akan terwujud atau tidak. Yang jelas setiap detik kedepannya adalah masa depan yang akan kita lalui.

Akan tetapi setiap kali kita mencapai apa yang kita inginkan di masa depan, semua itu pun menjadi masa kini, baik itu  hari yang sedang kita jalani, kepuasan yang sedang kita nikmati, harapan-harapan masa kecil yang telah kita capai, semua itu akan menjadi masa kini atau masa lalu yang telah berlalu.

Terkadang kita pun tidak menyadari ternyata kita sedang ataupun sudah berada di masa lalu yang dahulu kita ingin dan harapkan. Tetapi, waktu tidak peduli, dia tetap akan berjalan. Meskipun kita sadar atau tidak, waktu tidak akan peduli dan terus akan berjalan.

Ketika kita masih kecil, melihat orang-orang dewasa bisa berjalan dengan baik, memperhatikan mereka melakukan segala sesuatu dengan mudahnya, kita pun berharap agar segera tumbuh seperti mereka. Masa itu kita ingin sekali mempercepat waktu dan pada akhirnya ketika kita mencapai apa yang kita inginkan, masa itu pun menjadi masa kini dan waktu pun terus berlanjut. Ketika kita mulai menuntut ilmu dari taman kanak-kanak (TK) kemudian melanjutkan ke jenjang SD,SMP,SMA, sampai mendapatkan gelar sarjana,  semua itu demi masa depan. Ketika kita berharap mendapatkan pekerjaan, menikah, mendambakan keturunan, mempunyai anak, cucu, cicit semuanya demi masa depan.

Ketika semua itu sudah tercapai, masa lalu itu menjadi masa kini.

Masa depan tetap berlanjut, kita selalu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga kita mati pun, masa depan tetap berlanjut sampai pengadilan Allahﷻ ditetapkan.

Apakah kita dimasukkan ke dalam Surga atau neraka?

Hey, ternyata masih berlanjut. Lalu puncak masa depan itu sampai dimana?

Semua orang mempunyai pendapat atau pemikirannya masing-masing. Sebagai umat Muslim kita akan berpikir lebih mendalam lagi, melihat, membaca, merujuk, dan menelaah dari kitab suci Al-qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa puncak dari masa depan adalah ketika kita mampu meraih rida Allah سبحانه وتعالى. Puncak dari masa depan yang kita ingin dan harapkan adalah sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى :

 {يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ المطمئنة (27) ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضية مرضية (28) فَادْخُلِي فِي عِبادِي (29) وَادْخُلِي جنتي (30)}.

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

“Wahai jiwa yang tenang!” para mufassir berkata ini adalah perkataan malaikat maut ketika ingin mencabut nyawa-nyawa orang yang beriman. Wahai jiwa yang tenang, wahai jiwa yang beriman, Kalimat tersebut dikatakan kepada orang mukmin, karena mereka yakin terhadap janji Allahﷻ. Mereka yakin terhadap apa yang dilakukan tidak pernah sia-sia. Mereka yakin terhadap amal saleh yang mereka kerjakan akan diberi ganjaran oleh Allahﷻ. Hati mereka tenang dengan iman dan amal saleh yang mereka lakukan, serta tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati mereka.

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” Betapa bahagianya seseorang ketika malaikat membisikan kalimat ini kepadanya. Dia akan pulang dalam keadaan rida dan gembira terhadap apa yang menantinya. Bukan hanya sampai disitu, Allahﷻ pun rida terhadap kepulangannya.

Jiwa mana yang tidak bahagia ketika kedatangannya sudah dinanti dan diperlakukan dengan istimewa oleh sang pemilik alam semesta. Terlebih lagi akan diberikan ganjaran yang sangat besar dari amal saleh yang pernah dia kerjakan.

Ketika Allahﷻ berfirman kepadanya, “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”, Allahﷻ berkehendak agar dia tidak merasa sendiri. Karena akan ada orang-orang saleh bersamanya dari kalangan ulama, para mujahidin, orang yang sering bersedekah, orang yang taat kepada kedua orang tuanya, para hafiz al-Quran dll. Selain itu, ketika ia akan masuk ke surga, Allahﷻ menyebutnya secara khusus. Dia akan merasa sangat spesial dan istimewa karena perlakuan tersebut.

Di dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 185 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ayat ini menjadi pengingat yang kuat akan masa depan yang sebenarnya kita dambakan. Bukan berarti kita melupakan dunia begitu saja, akan tetapi kita mensyukuri yang menjadi bagian kita, sembari menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang kekal abadi.

Marilah kita bermuhasabah diri, setiap kegiatan yang kita lakukan, setiap prestasi yang kita raih, setiap ibadah yang kita persembahkan, setiap kebaikan yang kita usahakan, apakah semua itu karena Allahﷻ?

Apakah semua itu demi mendapatkan rida-Nya?

Apakah hanya ingin mendapatkan pujian dari manusia atau hanya untuk kepentingan dunia yang bersifat sementara saja?

Aduhai, betapa malangnya ketika apa yang kita usahakan semua itu sia-sia belaka. Lelah, letih, kucuran keringat, tetesan air mata, luka dan darah yang kita alami ternyata bukan karena Allahﷻ. Akhirnya semua itu seperti debu yang beterbangan, tidak ada yang tersisa.

Pengadilan yang Maha Agung, tidak akan pernah salah walaupun sekecil apapun. Pengadilan yang menampakkan sejatinya kita di dunia. Mungkin saja di dunia kita nampak sebagai orang baik, namun di pengadilan ini kita adalah orang yang sebaliknya. Begitupun sebaliknya, orang yang nampak buruk di dunia ternyata di akhirat dia dikumpulkan bersama orang-orang saleh.

Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allahﷻ agar diberikan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Diberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya agar kita dapat menggapai hakikat masa depan yang sebenarnya kita dambakan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Aamiin

wallahu a’lam….

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-6328082ce580d

Hikmah Sejarah

Karya Pembaca : Saeful Arif

Apa Itu sejarah?

Terkadang datang tanpa rencana, berlalu begitu saja, perginya meninggalkan cerita, itulah sejarah, semua peristiwa yang telah berlalu hakikatnya adalah sejarah, tak peduli seberapa singkat peristiwa itu terjadi jika telah terlewati maka ia telah menjadi bagian dari keping sejarah yang mungkin bisa saja terulang dengan aktor dan pemeran yang berbeda.

J.Bank, Sir Charles Firt, Jhon Tosh dan para ahli sejarah lainnya mencoba mendefinisikan sejarah sebagai semua kejadian atau peristiwa masa lalu. Sejarah berfungsi untuk memahami perilaku masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, sejarah dapat juga diartikan sebagai memori kolektif maupun pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial manusia dan prospek manusia tersebut pada masa yang akan datang.

Kenapa perlu belajar sejarah?

Disadari atau tidak sebenarnya kehidupan kita senantiasa dipandu oleh sejarah, seorang anak gadis belajar tahu bagaimana caranya menjadi ibu yang baik karena ada memori sejarah dari orang tuanya terdahulu, anak kecil yang pernah secara tak sengaja menyentuh api maka ia akan tahu bagaimana panasnya api, singkatnya semua rangkaian episode kehidupan yang telah dilewati dapat menjadi sejarah yang bisa saja menjadi pemberi warna tertentu bagi kehidupa-Nya.

Sebuah bangsa yang mempelajari dan mengetahui sejarahnya akan lebih memiliki karakter yang kuat dan menjadikan sejarahnya sebagai motivator abadi, sebagai contoh misalkan, Sebagian penduduk Thaif yang membaca serta merenungi sejarah nenek moyangnya akan merasa malu dan bersalah terhadap Rasulullah SAW atas peristiwa pengusiran dimasa lalu, namun peristiwa itu mendorong mereka saat ini untuk senantiasa memuliakan Rasulullah SAW. Contoh lainnya adalah bangsa Yahudi yang merasa berhak atas tanah Palestina, hal itu didorong oleh sejarah masa lalunya yang menumbuhkan keyakinan akan hak kepemilikan atas tanah Palestina.

Sejarah merupakan Tsaqofah wajib para sultan, ilmu akidah, ilmu fikih, ilmu Al-Qur’an Hadit, ilmu Bahasa, ilmu geografi dan ilmu sejarah , menjadi bekal ilmu yang wajib dikuasai oleh para sultan, bukankah sultan Muhammad al-Fatih juga mempelajari sejarah penyebab kegagalan para pendahulu-Nya dalam membebaskan Konstantinopel?

Hikmah sejarah

Sejati-Nya ada banyak hikmah dalam mempelajari sejarah, namun kita akan coba membatasi hanya pada apa yang dikabarkan Allah SWT dalam firmanya, dalam Al-Qur’an Allah SWT memberitahu kita hikmah mempelajari sejarah.

“Dan semua kisah Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Q.S Hud ayat 120)”

Berdasarkan ayat diatas kita dapati hikmah pertama dari mempelajari sejarah adalah adanya keteguhan hati, teguh hati berarti memiliki hati yang kokoh  dan tidak mudah goyah, tidak gamang dan latah dalam menyikapi peristiwa, orang yang memahami sejarah seolah-olah memiliki buku panduan dalam bersikap disegala keadaan, karena hakikatnya sejarah senantiasa berulang yang berbeda hanya pemeranya. Orang yang tidak memahami sejarah akan panik, bingung dan canggung dalam menghadapi peristiwa,  dan bukankah Nabi kita juga menjadikan sejarah sebagai tuntunan dalam menyikapi sesuatu?

Dikisahkan setelah perang Hunain Rasulullah kemudian membagikan ghanimah dengan kadar dan takaran tertentu, namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka ada yang memprotes pembagian tersebut karena dirasa tidak adil, seketika wajah mulia sang Nabi menjadi merah karena marah, kemudian beliau bersabda “semoga Allah merahmati saudaraku Nabi Musa, beliau telah disakiti lebih dari ini dan bersabar“ disini Rasulullah menggunakan sejarah Nabiyullah Musa AS sebagai acuan dalam bersikap.

Contoh lainnya datang dari Sayyidah Aisyah radhiAllahu anha Ketika Sebagian masyarakat Madinah menggunjing dan memfitnah beliau telah berselingkuh dengan salah seorang sahabat, beliau pun menyikapi masalah ini dengan petunjuk sejarah, bukan marah atau pembelaan yang ia lakukan melainkan ia berkata “ aku tidak akan mengatakan perkataan apapun kecuali apa yang telah dikatakan Nabiyullah Ya’qub “Fasobrun jamil wallahul musta’an“ dari dua kisah ini kita dapat mengetahui bahwa sejarah telah memberikan keteguhan dalam hati sehingga sesorang tidak gamang dan serampangan dalam menyikapi sebuah kejadian.

Fungsi sejarah yang selanjutnya adalah sejarah sebagai nasihat dan peringatan, sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan sejarah terulang sama persis, karena sejarah terikat oleh ruang dan waktu, namun kemungkinan sejarah terulang dari prespektif kemiripan-Nya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu menjadikan sejarah sebagai juru nasihat dan pengingat tidaklah salah. Bukankah seorang muslim seharusnya tidak terjerumus dalam lubang yang sama dua kali ?. Ulama terkemuka asal Turki Syekh Muhammad Fethullah berkata :

“Manusia juga perlu membaca lembaran sejarah yang menakutkan dan menyeramkan, selain membaca halaman yang membahagiakan dan menentramkan, agar ia bisa mengambil langkah antisipasi yang diperlukan. Kalau tidak, ia akan tetap tidak dewasa layaknya anak-anak dalam pemikirannya”

Semoga kita semua dianugerahkan kedalaman hati sehingga dapat merenungi dan mentadaburi setiap keping sejarah yang telah terlewati, karena hidup adalah tempat belajar maka belajarlah dari kehidupan.

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-632809c0b3d45

Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

Tidaklah ada bangunan yang dibangun tanpa pondasi. Jika anda ingin membangun gedung 10 lantai, anda perlu menggali sedalam mungkin dan meletakkan pondasinya dengan kokoh. Sehingga tidak rusak dan roboh pada saat terjadi gempa atau bencana lainnya. Basis gerakan Hizmet adalah manusia, yaitu manusia yang terampil. Sebagaimana yang Mulia Alvarlı Efe ia selalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan kita manusia yang mulia!” Dasar utama Hizmet adalah “manusia” dalam kualitas ini. Manusia dengan kualitas ini hanya dididik dan dibina di Rumah-rumah. Jika orang-orang yang tinggal di Rumah-rumah memiliki kualitas seperti ini maka Hizmet akan ada, Jika tidak, maka Hizmet tidak akan ada.

Rumah, tapi rumah yang bagaimana?

Sebuah rumah di mana lima atau enam orang tinggal didalamnya. Sebuah rumah di mana penghuninya menghabiskan waktu bersama-sama sebanyak mungkin dengan salat berjamaah dan berdoa bersama serta membaca buku, setidaknya setiap hari tiga dari mereka yang tinggal di rumah ini salat berjamaah bersama dan kemudian membaca buku. Rumah yang di mana semua kamar dan ruangannya bersih dan tertata dengan sangat rapi serta dapur yang juga sangat rapi dan bersih. “Cahaya” Allahﷻ tidak termanifestasikan di tempat-tempat yang kotor, berantakan dan kumuh. Cahaya iman tidak dapat terpancar di tempat yang berantakan dan kumuh.

Mendekatkan diri dan dzikir kepada Allahﷻ adalah anugerah yang sangat berharga. Rumah-rumah ini adalah tempat istimewa di mana nikmat berharga ini terus turun.

Al-Qur’an menyebut rumah ini dengan sebutan “Rumah Cahaya”:

(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allahﷻ untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (mensucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allahﷻ, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). (QS. An- Nur Ayat 36 dan 37)

Rumah yang tidak memenuhi persyaratan diatas bukanlah Rumah Cahaya tapi “kos-kosan”, Ini adalah kebenaran yang menyedihkan. Jika rumah-rumah yang memenuhi persyaratan diatas ada, maka Hizmet akan tetap ada. Jika tidak, Hizmet tidak akan ada meskipun kelihatannya ada.

Hocaefendi menggambarkan rumah-rumah ini sebagai berikut:

“Rumah Cahaya adalah bangunan suci yang pernah ada; rumah yang paling efektif untuk generasi yang bercahaya yang menyibak kegelapan. Di rumah-rumah ini, setiap paginya dipenuhi dengan semangat kemenangan dan harapan baru. Di setiap sudutnya, evrad-u ezkar digaungkan, penghuni rumah yang diberkati ini setiap hari bagun dengan perasaan dan semangat baru yang penuh dengan rasa percaya diri. Semua sisi kehidupan mereka dipenuhi cahaya. Saat berkumpul, mereka berkumpul untuk belajar dan tarbiah diri; Saat mereka berpisah, mereka berpisah untuk memperoleh keutamaan dari perasaan yang bersih, pemikiran yang jernih, akhlak yang baik, iman yang kokoh, dan kedekatan dengan sang pencipta Allahﷻ yang sudah mereka dapatkan dari majlis belajar dan tarbiah.”

Rumah adalah universitas kecil kehidupan. Rumah adalah laboratorium di mana ma’rifatullah, manajemen kehidupan dan empati serta “bermuamalah dengan orang lain” dipelajari dan dipraktekkan. Sekolah maupun asrama tidak dapat menggantikan peran rumah. Manusia tidak tumbuh dan dididik dengan cara paketan. Sebuah perusahaan bisa memproduksi “patung” dalam jumlah yang banyak secara langsung namun tidak dengan manusia.

Saya pernah mencoba menguji kualitas rumah. Saya bertanya kepada salah satu lulusan yang tinggal di rumah.

Dialognnya sebagai berikut:

– Berapa lama anda tinggal di rumah? Apa yang anda lakukan?

– 5 tahun. Selama 3 tahun ini saya sebagai “imam rumah” .

– Apakah anda sudah menyelesaikan buku Ar-Risalah?

– Secara keseluruhan saya belum menyelesaikannya, tapi bisa dikatakan saya sudah menyelesaikannya.

– Apa yang dimaksud dengan ijtihad?

– … Aku tidak bisa menjelaskannya.

– Baik, ada di buku manakah Risalah icraat?

– Saya tidak ingat secara pasti, tapi bisa jadi ada di buku Al-Lama’at.

– Apakah ada kalimat yang anda ingat dari Risalah Ikhlas?

– Ya, itu Risalah yang harus dibaca setiap 15 hari sekalikan ya?

– Ya, betul sekali?

– Aku tidak

Saat dialog semakin memburuk, saya harus mengajukan pertanyaan berikut:

– Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

– Kalau tidak salah Al-Kalimat lebih tebal.

Saya tidak berbicara tentang satu contoh saja, tetapi ada banyak contoh dialog yang serupa. Dan anda menjadikan orang-orang ini sebagai penanggung jawab. Anda menjadikannya sebagai guru, kemudian anda mengharapkan pekerjaan yang sesuai dengan yang dijelaskan dalam Risalah ikhlas dari mereka.

Izinkan saya menambahkan satu kisah lagi.

Sebuah rumah yang sudah 20 tahun saya tidak datang dan melihatnya. Saat saya mengantar seorang kerabat saya yang baru memulai sekolah hukum ke rumah tempat ia tinggal. Saat itu sekitar jam 11 malam, saya berpikir untuk keluar dan melihat rumah tersebut. Lalu saya keluar dan melihat rumah Itu, saya melihat rumah itu adalah rumah yang mewah. Rumah Itu sebesar rumah tempat kami dahulu yang mana dihuni oleh 11 orang siswa. Kami menggunakan tempat tidur kayu seperti peti dengan penutupnya. Sedangkan mereka memiliki set sofa dan tempat tidur yang lengkap. Di rumah sebesar itu hanya dihuni oleh 4 orang saja. Imam rumahnya sudah menikah, oleh karena itu ia jarang datang ke rumah tersebut. Dua orang lainnya, di akhir pekan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Rumah itu persis seperti kos-kosan. Kemudian saya bertanya “Apakah ada tamu yang datang?”. Tidak ada, jawab mereka. Bahkan dalam istilah kebiasaan mereka tidak ada kata tamu. Rumah itu mungkin akan bisa dikata bersih setelah disapu dan dipel selama tiga jam. Yang paling menakutkan adalah dapur. Di atas kompornya ada sisa-sisa bekas makanan yang sudah lama dan mengeras. Di satu sisi dapurnya terdapat sampah yang bertumpuk-tumpuk. Kulkasnya kotor dan penuh dengan bekas makanan yang sudah lama. Saya perkirakan jika saya membersihkan rumah itu mungkin sampai waktu subuh datang baru selesai.

Dikatakan bahwa “bagian dari sesuatu menunjukan keadaan keseluruhannya”. Ada berapa jumlah rumah yang sama dengan yang saya sebutkan diatas? Bahkan jika ada 20 % dari 100% rumah dengan keadaan seperti diatas, maka ini adalah sebuah bencana besar. Bagaimana jika anda memiliki ribuan rumah seperti itu sekarang? Apalah artinya meskipun puluhan ribu orang di rumah yang seperti itu? Jika dikumpulkan ratusan rumah yang ada, apakah ratusan rumah itu bisa menggantikan satu rumah dengan kualifikasi yang saya sebutkan di awal? jika hanya fokus kepada angka dan jumlah yang banyak maka membuka rumah hanya akan menjadi perlombaan

banyak-banyakan tanpa memperhatikan kualitas isinya. Berkaitan dengan hal ini disebutkan dalam Al-Quran dengan sangat jelas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur ayat 1). Di rumah ini adalah tempat “mengagungkan Allah” serta “memuliakan dan menghormati manusia”

RUMAH ADALAH YANG UTAMA

Jika kita memiliki sepuluh sekolah dan dua puluh asrama di sebuah kota, namun jika tidak ada rumah yang merupakan pondasi Hizmet seperti yang saya jelaskan sebelumnya, maka bisa dikatakan Hizmet tidak ada di kota tersebut. Hal terpenting yang diajarkan oleh Risalah adalah untuk tidak terpaku pada sebab-sebab saja. Jika kita berhasil memahami sebab-sebab ini, kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita dimulai dengan hilangnya rumah-rumah. Institusi dapat bertahan jika bersandar pada rumah-rumah yang menjadi pondasi dasarnya. Institusi yang dibangun oleh individu- individu yang belum mematangkan jiwanya di rumah, maka ini adalah institusi yang tidak berdasar. Institusi yang tanpa “dasar” menjadi rentan terhadap kehancuran dan serangan musuh yang sebanding dengan ukuran dan tingginya. Tidak ada institusi yang akan maju ke masa depan jika kita tidak membangun pondasi serta tiang bangunannya dengan orang-orang yang terampil dan terlatih di rumah-rumah.

Sebelum ‘Rumah yang berkualitas di setiap tempat’ menjadi target utama bagi setiap penanggung jawab, maka Hizmet yang dilakukan tidak mungkin sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat Al-Quran. Jika kriteria sukses di Hizmet adalah institusi, jumlah dan ekonomi, bukan kualitas, Maka diperlukan koreksi yang sangat serius.

Ini adalah target yang bagus untuk anda:

Tempat dimana anak-anak dari semua suku, bangsa dan negara bisa datang, belajar, membaca buku…

Tempat yang selalu dikunjungi oleh pria, wanita, pengusaha dan orang tua minimal satu kali dalam seminggu….

Dan rumah-rumah dimana nama Allahﷻ selalu di agungkan …

Institusi yang terbuat dari batu bata tentu saja berharga, tetapi rumah yang seperti ini lebih berharga dari pada emas yang bertumpuk- tumpuk.

Mengembangkandiri.com qibla001

Barometer Keimanan

Urgensi Beriman

Tujuan dari penciptaan manusia salah satunya adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allahﷻ. Untuk menuju penghambaan yang sempurna maka setiap manusia wajib memiliki keimanan yang kuat. Iman merupakan satu satunya perkara yang tidak bisa dihadirkan kehadapan Allahﷻ dalam keadaan cacat. Jika salat wajib belum sempurna maka masih bisa disempurnakan dengan salat sunnah, jika puasa belum sempurna maka bisa ditutupi dengan puasa sunnah, jika zakat belum sempurna maka bisa disempurnakan dengan sedekah. Namun, jika seseorang mukmin menghadap Allahﷻ dengan iman yang tidak sempurna, maka tertolak semua amalnya.

Lalu Bagaimana Cara Menjaga dan Memperbaiki Iman?

Jauh–jauh hari baginda Muhammad ﷺ telah mengabarkan pada kita bahwa selagi Ruh belum melewati tenggorokan maka potensi iman bertambah atau berkurang senantiasa ada. Namun bersamaan dengan itu beliau juga memberitahukan kita solusi meningkatkan iman, Sabdanya.

Perbaharuilah iman kalian dengan kalimat laa ilaaha illAllaah”. Hadits ini dapat dimaknai secara tersurat maupun tersirat, secara tersurat hadits ini menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dengan memperbanyak zikir dan menyebut Allahﷻ, sementara makna tersuratnya iman dapat bertambah dengan mengaplikasikan lafadz “laa ilaaha illAllaah” ada dua substansi yang terkandung dalam lafadz tersebut. Pertama penafian, maksudnya adalah menafikan keterkaitan segala sesuatu dalam hidup kita dan substansi kedua adalah penyandaran yaitu menyandarkan segala sesuatu pada Allahﷻ. Maksudnya setelah kita menafikan keterkaitan Zat lain selain Allahﷻ kemudian kita menyandarkanya kepada Allahﷻ.

Contoh sederhana pengaplikasian lafadz “laa ilaaha illAllah“ dalam kehidupan kita sebagai berikut. Suatu hari terjadi kecelakaan di depan halte bus, secara kebetulan di dalam halte ada 3 orang yang sedang menunggu bus. Orang pertama seorang dokter karena profesinya seorang dokter maka ia mengambil kesimpulan awal “mungkin sang driver sedang kurang sehat sehingga terjadi kecelakaan“, sementara orang kedua yang merupakan seorang mekanik bliaupun berkesimpulan “mungkin ada yang tidak beres dengan mesin nya“. orang ketiga berpendapat “bisa jadi kecelakaan ini terjadi karena faktor jalan yang bergelombang atau kontruksi jalan yang tidak pas” hal ini wajar karena latar belakang orang ke tiga ini seorang insinyur kontruksi.

Lalu siapakah yang benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan semua benar atau semua salah karena ini hanya kesimpulan sementara berdasarkan latar belakang keahlianya, namun jika kita ingin mengaplikasikan substansi hadits di atas maka yang seharusnya dipikirkan di awal adalah “ kecelakaan ini terjadi karena kehendak dan takdir dari Allahﷻ, namun sebab yang menjadi wasilahnya adalah bisa jadi karena faktor kesehatan driver, faktor kondisi mesin atau factor kontruksi jalan” jika kita senantiasa mengaitkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allahﷻ terlebih dahulu baru kemudian mencari sebab atau faktor lain yang menjadi asbab.

Menakar keimanan

Keikhlasan dan kesabaran bagaikan saudara kembar yang senantiasa mendampingi iman. Bagaikan mustahil seseorang mendeklarasikan keimananya tanpa ada ujin dari Allahﷻ. Ujian bagi orang yang beriman bagaikan stempel dan sekaligus barometer untuk mengukur kadar keyakinan seorang mu’min. Dalam QS. Al -Angkabut Allahﷻ berfirman :

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Dari ayat ini seolah Allahﷻ ingin mengabarkan kepada orang–orang yang berkeluh kesah terhadap ujian setelah beriman, agar berhenti berkeluh kesah dan bersabarlah, karena ujian adalah tabiat keimanan, maka semakain seseorang ikhlas, ridho dan sabar atas ujian yang ada maka hal itu menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Kualitas keimanan sesorang tidak bisa dilihat dari seberapa besar wawasanya terhadap pengetahuan agama, juga tidak bisa diukur berdasarkan ilmu dan pakaiannya. Jika barometer iman adalah wawasan, ilmu dan pakaian , maka kenapa iblis yang wawasanya melebihi Nabi Adam, dan yang lebih dahulu diciptakan Allahﷻ justru menolak printah Allahﷻ untuk bersujud kepada Adam?

Ujian dapat berupa sesuatu yang terlihat buruk seperti musibah, kesulitan dan kefakiran, dan dapat juga berupa segala sesuatu yang terlihat baik seperti kemudahan, kelapangan kekayaan. Keduanya tetaplah ujian keimanan, keridhoan, keikhlasan dan kesabaranlah barometernya. Jadi barometer bagi keimanan adalah kesabaran, semakin tinggi kadar keyakinan seseorang terhadap Tuhan-nya maka semakin besar pula tingkat kesabarnya, semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan orang–orang yang beriman dan bersabar.