mengembangkandiri.com_four-gingerbread-cookies-on-green-childrens-hand-2022-02-24-06-34-41-utc

Kasih Sayang dan Kekerasan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Dunia memang selalu berubah, bergerak dengan dinamis untuk mencari keseimbangan baru. Beragam peristiwa silih berganti, datang dan pergi membuat kita terkadang harus berada pada kondisi terjepit antara hitam dan putih, gelap dan terang, peperangan dan perdamaian, permusuhan dan persahabatan.

Di tengah kondisi yang terkadang begitu memilukan, hanya ada satu obat penawar bagi segala kemuraman, cahaya bagi kegelapan, kesepakatan bagi peperangan, dan persaudaraan bagi permusuhan. Obat penawar itu adalah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang akan menggerus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Pancaran Kasih Sayang

Kasih sayang adalah pancaran dari cahaya akhlak Ilahi yang direpresentasikan dengan hati. Layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, seorang guru kepada murid-muridnya, seorang atasan kepada bawahannya.

Seseorang yang sanubarinya diliputi oleh rasa kasih sayang, tidak akan pernah meminta balasan apapun darinya. Kasih sayang akan menjadi kekuatan bagi yang lemah, penghangat bagi yang kedinginan, teman bagi yang kesepian, dan kehadiran bagi seseorang yang tak memiliki siapapun dalam kehidupannya.

Bukankah Nabi berkata bahwa barangsiapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka bukanlah bagian dari kita? Ya, begitu pentingnya nilai kasih sayang, sampai-sampai Nabi pun memberikan peringatan ini.

Dengan kekuatan kasih sayang, hati yang keras pun akan menjadi lembut, kepedulian sosial akan muncul, dan saling tolong-menolong akan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan kekuatan kasih sayang juga, negara akan menjadi tempat dimana ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, hikmat dan kebijaksanaan, dan keadilan sosial akan dielu-elukan oleh rakyatnya.

Ya, kasih sayang adalah pancaran suci dari langit kepada kita semua. Jika kita ada pada hari ini dan mampu bertahan dalam kehidupan ini, itu karena kasih sayang-Nya; Jika kita saling menyayangi dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, itu juga karena rahmat-Nya.

Nabi kita juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup dan bermuamalah dengan penuh kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan dalam beragama. Dalam beragama tidak boleh ada paksaan, penekanan, menyusahkan dan menyulitkan.

Kekerasan dalam Beragama

Ajaran dan teladan Nabi dalam beragama tersebut memang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan. Namun sayangnya, ada sebagian dari kita yang gagal memahami ajaran agama, gagal merepresentasikannya. Sehingga karena rasa takut yang dirasakan dari paksaan dan kekerasan yang dilakukan, banyak orang-orang yang akhirnya salah mengenali kita. Bukankah pepatah mengatakan bahwa manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalinya?

Ya, hal ini terjadi karena kita tidak mampu untuk keluar dari daerah kita, kita cenderung menutup diri, dan gagal mengedepankan komunikasi dan dialog yang sehat dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Akhirnya akan selalu muncul percikan api pertikaian antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak memiliki keimanan yang sama.

Orang-orang yang beragama terkadang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kekerasan sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia yang memiliki iradah dan kebebasan berpikir.

Cara seperti itulah yang sangat bertentangan dengan akal dan logika manusia. Cara itu bukanlah cara yang berdasarkan dengan hasil pemikiran yang benar. Cara itu bisa saja menjadi bumerang yang justru dampak buruknya akan kembali kepada siapa yang melakukannya.

Hal ini yang akhirnya menyebabkan profil seseorang yang beragama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Jika ini terjadi, maka kedepannya untuk merubah keadaan ini akan semakin sulit dilakukan, dan mungkin kekuatan kita tidak akan mampu menghadapinya.

Sebuah Refleksi

 Bagi orang yang beriman, menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya, sebenarnya menunjukkan betapa lemah keimanannya. Artinya, ia tidak benar-benar yakin dengan keimanannya sehingga ia harus membuktikannya dengan memaksakannya kepada orang lain.

Seorang mukmin sejati akan begitu percaya dengan nilai-nilai yang ia miliki dan yakini. Ia akan mengubahnya menjadi pandangan hidup sehingga ia tidak akan takut untuk hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki pandangan keimanan yang berbeda.

Ia berani untuk berdialog dengan mereka, meskipun terkadang berada di bawah naungan mereka. Karena seseorang yang tidak ragu dengan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, ia tidak akan merasa tertekan dengan melihat kehidupan dan keimanan orang lain.

Apakah ini berarti bahwa nilai-nilai keimanan tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain yang belum mendapatkan petunjuk keimanan?

Sudah menjadi tabiat manusia ingin menjelaskan atau mengajak orang lain kepada sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, dengan adab dan cara yang benar, dengan tetap menghormati iradah dan kebebasan berpikir yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan sangat salut, menghargai, dan mengambil contoh dari nilai-nilai keimanan tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka akan mengakui nilai-nilai keimanan tersebut dengan menggunakan iradah dan kebebasan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Alhasil, setiap orang berhak memiliki nilai-nilai yang ia yakini, hidupi, dan mungkin ia ingin bagikan kepada orang lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika cara-cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan telah digantikan dengan kekerasan dan paksaan dalam menyikapinya.

Oleh karenanya, yang perlu kita kedepankan adalah iradah dan kebebasan berpikir manusia dalam memandang sesuatu. Seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai-nilai yang kita anggap benar adalah suatu kewajaran dan menjadi kekayaan keberagaman yang ada di kehidupan bermasyarakat.

mengembangkandiri.com_children-are-tired-of-learning-and-sleepy-2021-09-01-01-43-52-utc

Sebagai Pengingat

Karya Pembaca: Habib A.S

Tidaklah terasa, tahun Masehi 2022 telah berlangsung, seakan – akan waktu berlalu dengan begitu cepat. Suka duka, manis pahit, kucuran keringat, tetesan air mata, dan semuanya yang terjadi pada tahun sebelumnya, akan menjadi sebuah kenangan sekaligus menjadi bekal untuk menjalani kehidupan di tahun berikutnya sebagaimana yang telah Dia tetapkan. Entah apa yang akan terjadi besok, seorang hamba harus siap menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan problematika. Memang, dunia ini adalah tempatnya lelah. Dunia bukanlah tempat untuk manusia beristirahat dengan tenang, apalagi untuk bersenang – senang, terlebih bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

Sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Wahai Imam, kapankah waktu istirahat itu?”

Kemudian beliau menjawab, “Istirahat yang sesungguhnya ialah pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Ya, kadang kala dunia dan segala kesibukan yang dibuatnya, membuat seorang hamba lupa akan akhirat dan segala hal yang terkait dengannya, meskipun pada nantinya akan segera teringat. Hal tersebut tidaklah lain tergantung dari kadar keimanan dan ketakwaan, serta kuantitas dan kualitas dzikir seorang hamba kepada-Nya.

“Sebagai pengingat”, tulisan ini akan mengingatkan tentang sesuatu yang sangat penting nan agung yang tidak lama lagi akan datang membersamai kehidupan. Ia adalah tamu yang mulia yang sangatlah perlu disambut dengan sambutan yang mulia pula. Ia bagaikan hujan yang kedatangannya sangat dinantikan oleh sekelompok manusia yang telah lama hidup dalam kondisi kekeringan. Ia bagaikan anak burung yang menanti kedatangan induknya dengan membawa makanan yang siap untuk disuapkan kepadanya. Ia bagaikan seorang ayah yang kehadirannya sangat dirindukan oleh buah hatinya setelah sekian lama berpisah.

Lalu, apakah sesuatu yang dimaksudkan itu?

Apakah kalian tahu?

Jika belum, tulisan “Sebagai Pengingat” ini yang akan memberi tahu.

Baik, dalam kalender Masehi, ada suatu waktu dimana sebagian besar manusia tidaklah lupa untuk memperingatinya. Suatu waktu yang begitu dinantikan saatnya oleh hampir seluruh manusia di dunia, terutama semenjak matahari terbenam hingga menuju waktu puncaknya. Dinantikannya percikan api yang menghiasi langit bumi, tiupan terompet dan teriakan manusia yang turut memeriahkannya, dan diramaikan dunia maya dengan ucapan “Happy New Year” beserta kreasi lainnya yang tidak melenceng jauh dari maksud utamanya. Meskipun ia hanya berlangsung semalam, namun kedatangannya begitu dinantikan. Hal tersebut tidaklah lain dikarenakan oleh keistimewaan yang dimilikinya.

Jikalau demikian, suatu waktu yang masanya berlangsung jauh lebih lama, yaitu sekitar tiga puluh hari, dan ia memiliki nilai dan keistimewaan yang jauh lebih besar dibandingkan malam tersebut, tentunya akan sangat dinantikan kedatangannya bukan?

Benarkah begitu?

Jika memang benar, maka “sesuatu” yang menjadi pertanyaan di awal telah terjawab. Dan bagi seorang hamba yang beriman, tentu ia telah mengetahuinya terlebih dahulu sebelum sesuatu tersebut disebutkan dengan jelas.

Langsung saja, sesuatu tersebut adalah Ramadhan. Suatu waktu yang kedatangannya sangatlah dinantikan oleh mereka yang benar – benar menantikannya. Suatu waktu dengan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu – waktu lainnya, keistimewaan yang tidak dibuat – buat dan tidak diada – ada, keistimewaan yang langsung diberikan oleh Tuhan Semesta Alam dengan dasar firman-Nya dan dilengkapi oleh sabda rasul-Nya. Suatu waktu yang kehadirannya menjadi harapan bagi mereka yang beriman dan berserah diri kepada-Nya, yang dengan perantaranya dijadikanlah berlipat ganda seluruh amal kebaikan yang dilakukan, yang dihapuskannya dosa – dosa, yang diturunkannya al qur`an sebagai keterangan yang jelas bagi seluruh manusia dan menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yang di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yang dibukakannya pintu – pintu surga, ditutupnya pintu – pintu neraka, dibelenggunya setan, dibebaskannya seorang hamba dari neraka, dikabulkannya doa, dan berbagai keutamaan lainnya yang tidak sempat tertuliskan.

Sebagai pengingat, ia akan segera datang dalam kehidupan. Terhitung tujuh puluh tiga hari sejak dituliskannya tulisan ini, ia akan membersamai seorang hamba selama tiga puluh hari ke depan dengan membawa nuansa kehidupan yang berbeda dari biasanya, membawa kenikmatan, ampunan, rahmat, serta ridho Tuhannya.

Lantas, sudahkah seorang hamba mempersiapkan sesuatu yang indah untuk menyambut kedatangannya?

Atau jangan – jangan, ia belum tahu apa yang perlu dipersiapkan olehnya?

Ya, sesuatu yang perlu dipersiapkan tidaklah lain adalah dirinya sendiri. Diri yang hampir satu tahun ditinggalkan olehnya, mungkin saja mengalami perubahan ke arah yang tidak diinginkan olehnya selepas kepergiannya. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri untuk menyambut kedatangannya sekaligus membersamainya dalam kehidupan yang sebatas tiga puluh hari saja.

Tidaklah etis bukan, apabila seseorang tidak mempersiapkan sesuatu untuk ia dihidangkan kepada tamu yang telah memberikan kabar sebelumnya?

Tentu tamu tersebut akan merasa sedih, kecewa, atau bahkan merasa tidak dihargai.

Dan tidaklah tepat pula bukan, jika seseorang tidak mempersiapkan dirinya dengan belajar untuk menghadapi ujian kelulusan di sekolah?

Tentu kelulusan seseorang tersebut akan sangat diragukan. Sama halnya, ketika seorang hamba tidak mempersiapkan dirinya dengan memperbaiki dan membenahi diri untuk menyambut kedatangan Ramadhan yang agung nan mulia. Tentu ia akan membuatnya kecewa. Dan lebih dari sekadar itu, ia akan membuat kecewa Tuhan yang telah memberikan kesempatan untuk berjumpa kembali dengannya. Namun, sejatinya ia sama sekali tidak membuat keduanya kecewa. Sebab, ia justru telah membuat dirinya sendiri menyesal dan merugi di hari kemudian karena telah menyia – nyiakannya.

Maka dari itu, perlu bagi seorang hamba untuk memperbaiki, membenahi, dan memantaskan diri sebelum kedatangannya. Agar pada nantinya, ia benar – benar bisa membersamainya dengan baik, mendapatkan apa yang dibawanya dari Tuhannya, baik berupa rahmat, ampunan, pahala yang berlipa ganda, dan bahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Benarkah demikian?

Tulisan ini dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC 2022 edisi bulan Februari

mengembangkandiri.com_father-and-son-using-air-masks-2021-09-02-10-31-03-utc

Musibah Kehidupan

Musibah dalam Kehidupan Pribadi dan Kehidupan Agama

Entah mengapa, ketika kita membicarakan musibah, maka yang terbersit di kepala kita adalah musibah yang menerpa kehidupan kita di dunia. Musibah yang biasa dikaitkan dengan bencana. Bencana yang bisa disebabkan oleh faktor alam, non-alam, atau konflik sosial. Padahal ada musibah bentuk yang lain, yang mungkin bisa lebih berbahaya dampaknya.

Semua kita sepakat bahwa musibah adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, dan harus kita hadapi. Musibah terkadang ada yang menimpa diri, keluarga, atau masyarakat luas. Dampak dari musibah pun sangat beragam macamnya.

Bagi individu, musibah bisa membuat seseorang jatuh ke jurang keterpurukan atau sebaliknya musibah juga bisa menjadi titik balik baginya untuk menjadi insan yang lebih baik lagi menjalani kehidupan. Semua itu tergantung apakah individu tersebut mampu mengambil hikmah atau tidak dari musibah yang sedang dihadapinya.

Musibah dalam Kehidupan Pribadi Manusia

Seperti yang dikatakan di awal, musibah tidak hanya dibatasi dengan peristiwa alam, non-alam ataupun konflik sosial. Musibah juga bisa menimpa sisi kehidupan pribadi manusia. Salah satu musibah yang sering menimpa sisi pribadi kehidupan manusia adalah rasa ketakutan, kekhawatiran, atau kegelisahan dalam menjalani kehidupan. Takut adalah sifat dasar manusia, tetapi jika salah disikapi, akhirnya ketakutan bisa menjadi musibah besar dalam kehidupan.

Misalnya, di masa pandemi seperti saat ini, seseorang bisa saja dirundung ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi masa depan yang tidak menentu dan tidak bisa diprediksi akan seperti apa. Rasa takut ini bisa berubah menjadi sebuah tekanan, stress, dan akhirnya bisa membuat seseorang tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang.

Selain rasa takut, salah satu musibah besar dalam kehidupan pribadi adalah ketika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Jika semua itu tidak terpenuhi, maka musibah besar bisa terjadi pada manusia. Hal ini yang membuat orang berlomba-lomba dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

Hal lain yang bisa dikategorikan musibah yang menimpa sisi kehidupan pribadi manusia adalah kekurangan harta. Di era yang serba glamor dan hedon seperti saat ini, hidup pas-pasan bisa membuat seseorang merasa dirinya terkucilkan. Meskipun kebutuhan pokok sudah terpenuhi, seseorang pasti menginginkan hal lainnya, yang jika dipikirkan sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang penting dan utama bagi dirinya.

Misalnya, banyak orang yang merasa dirinya tertekan jika tidak memiliki gawai. Tak bisa dipungkiri, di era digitalisasi teknologi, gawai seakan-akan menjelma menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang. Jika seseorang tidak bisa menyikapi hal ini dengan baik, maka ia bisa melakukan apapun dan mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Musibah dalam Kehidupan Agama

Sebenarnya, musibah yang menimpa kehidupan duniawi kita, apapun bentuknya, masih terbilang kecil jika dibandingkan musibah yang menimpa kehidupan agama kita. Musibah yang  menimpa kehidupan agama memiliki dampak yang jauh lebih besar, karena tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga kehidupan di akhirat kelak. Dampaknya tidak sementara, tetapi berdampak kekal dan abadi.

Lantas, apa saja contoh musibah dalam kehidupan agama? Keraguan dalam keimanan, hidup dalam lingkaran dosa, tidak mementingkan ibadah, lemahnya hubungan dengan Tuhan, mangabaikan generasi penerus dan membiarkan mereka hidup jauh dari Tuhannya adalah beberapa contoh musibah dalam kehidupan agama. Jika kita memahami betapa bahayanya semua itu, maka musibah yang menimpa dunia kita tidak akan ada artinya.

Terkadang kita meremehkan dan tidak memperhatikan musibah kita dalam beragama. Padahal musibah ini sebenarnya musuh terbesar yang ada di dalam diri kita. Jika kita tidak mampu menghadapi dan kalah darinya, maka musibah-musibah duniawi lain akan datang menyertainya.

Agar kita bisa terhindar dari musibah dalam kehidupan agama dibutuhkan kepekaan diri dalam menyikapinya. Kepekaan akan muncul bergantung dengan bagaimana keseharian kita dalam menjalani kehidupan. Jika kita tenggelam dalam diskursus masalah-masalah aktual terkini dengan menyibukkan diri di media sosial, jika kita hidup dalam pikiran yang dikotori oleh dedikodu dan pikiran buruk lainnya, atau jika kita tidak pernah serius, menganggap enteng, dan selalu bercanda dalam kehidupan keseharian kita, maka kepekaan yang diharapkan tidak akan muncul dalam diri kita.

Oleh karenanya, dibutuhkan para ksatria yang selalu mampu menata hatinya untuk berhati-hati menjalani kehidupan, selalu menginstropeksi diri atas apa yang telah diperbuat, dan selalu menengadahkan kedua tangan seraya berdoa agar diberikan petunjuk jalan yang benar, jalan yang lurus, dan jalan yang diridhai-Nya.

Sebuah Refleksi

Ya, musibah akan datang dan menghampiri kita. Jalan yang tepat untuk menghadapi musibah adalah dengan kesabaran. Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Tuhan yang Mahakuasa, dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Maka, sebagai orang yang beriman, sikap sabar adalah sebuah keharusan karena kita tak pernah tahu apa skenario Tuhan yang sedang dijalankan dalam kehidupan kita.

Setelah kita memahami hal ini, maka kesabaran perlu diiringi dengan sikap keridhaan. Ridha atas segala takdir yang telah digariskan dalam kehidupan kita. Ridha atas segala konsekuensi yang akan kita dapati dalam setiap musibah yang kita terima.

Sabar dan ridha tidak berarti kita berpangku tangan atas segala musibah yang menimpa kita. Sabar dan ridha adalah puncak dari ikhtiar kita dalam rangka menjauhkan diri dari segala bala dan musibah. Sabar dan ridha seakan menjadi dua senjata ampuh yang dimiliki seorang yang beriman dalam menghadapi dampak buruk bala dan musibah. Dengan sabar dan ridha manusia akan menunjukkan sisi kemalaikatannya dan bisa mengambil hikmah dari bala dan musibah yang dihadapinya.

mengembangkandiri.com_moon-and-clouds-in-the-night-moonlight-and-road-b-2021-09-01-21-14-33-utc

Nisfu Syaban: Malam Ampunan dan Penentuan Takdir

Karya: Cemil Tokpınar

Di hari ketika agenda duniawi dan politik membuat sibuk banyak orang, tanpa disadari kita semakin dekat dengan bulan Ramadhan. Kami berharap kita dapat memahami urgensinya dan menghidupkan kembali Malam Nisfu Sya’ban pada jumat malam ini sebagai pelita terakhir dari tiga bulan suci yang penuh berkah sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Di malam ini terdapat kesempatan untuk meraih ampunan dan magfirah universal. Untuk itu, mari kita memahami nilai dan urgensi dari malam ini untuk kemudian menyambutnya dengan beragam persiapan beberapa hari sebelumnya seperti berpuasa serta merencanakan program ibadah semalam suntuk di malam tersebut dan berpuasa di pagi harinya. Karena negara kita dan dunia Islam sedang menggeliat dalam beragam masalah serius, maka malam-malam penuh fadilah dengan puluhan ribu keutamaan ini merupakan kesempatan yang tak ternilai harganya.

Aku mempunyai kebiasaan yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Yang pertama kali saya lihat ketika kalender baru datang adalah mengecek hari-hari penuh berkah bertepatan dengan tanggal dan bulan apa. Jika keesokan hari setelah malam penuh berkah ini adalah hari libur, saya akan bergembira. Kebetulan keesokan hari setelah malam nisfu sya’ban pada tahun ini adalah hari sabtu. Jadi saya memiliki kesempatan untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban hingga pagi tiba.

Malam Takdir

Terkait malam ke-15 bulan Sya’ban atau disebut juga dengan istilah Lailatul Bara’ah, Allah SWT berfirman:

“Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS Ad-Dukhan: 2-4).

Beberapa ulama menyatakan bahwa malam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah lailatulqadar, sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah nisfu sya’ban. Jika digunakan metode jam’ur riwayat, yaitu mengumpulkan beberapa riwayat lain dan berusaha memberi jalan tengah pemahaman, maka pernyataan ulama bahwa takdir dan ketetapan Allah diputuskan serta dicatat di malam Nisfu Sya‘ban bisa dibenarkan.

Dari Ibnu Abbas, “Sungguh Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sya‘ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar”.

Menurut Ibnu Abbas r.a., dipisahkannya pekerjaan penuh hikmah yang satu dengan pekerjaan hikmah lainnya berarti:

  • Semua peristiwa yang akan terjadi dari tahun ini hingga tahun depan ditulis satu demi satu pada buku catatan takdir oleh malaikat.
  • Hal-hal seperti rezeki, ajal, kekayaan, kemiskinan, kematian, kelahiran dicatat selama periode waktu ini. Bahkan jumlah orang yang akan berhaji pada tahun tersebut pun ditetapkan pada periode waktu tersebut.  Nasib setiap orang dan segala sesuatu yang akan terjadi di tahun itu dicatat pada periode ini (Khulasatul Bayan, 13:5251).

“Adakah orang yang meminta ampun di malam ini?”

Malam ini disebut sebagai lailatul bara’ah karena orang-orang yang beriman berharap untuk menyucikan dirinya dari kotoran dosa serta memperoleh ampunan dan magfirah dari Sang Pencipta.

Terdapat beberapa hadis di mana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus pada beragam berkah dan keutamaan dari Malam Nisfu Sya’ban:

“Berjagalah kalian dalam keadaan beribadah ketika malam kelima belas bulan Sya’ban datang. Berpuasalah pada siang harinya. Setelah matahari pada malam itu terbenam, Allah melalui rahmat-Nya akan termanifestasikan dan bertajali ke langit dunia dan berseru:

‘Adakah orang yang meminta ampunan-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku ampuni dan Aku maafkan. Adakah orang yang meminta rezeki-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri rezeki. Adakah orang yang meminta pertolongan dari musibah yang menimpanya di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri kesehatan dan afiyah. Begitulah keadaannya hingga pagi tiba.” (HR Ibnu Majah, Iqamah: 191).

Pada suatu malam nisfu Sya’ban, Sayyidah Aisyah yang terbangun tidak menemukan Nabi SAW di sampingnya. Ummul Mukminin Aisyah kemudian bangun dan keluar untuk mencari beliau. Ia akhirnya menemukan Sang Rasul di pemakaman Jannatul Baqi.

Nabi SAW kemudian menjelaskan keutamaan Lailatul Bara’ah kepada istrinya yang mulia:

“Sesungguhnya (rahmat) Allah Tabaraka wa Taaala turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban. Dia kemudian memberi ampunan bagi beberapa orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu domba milik bani Kalb” (HR Tirmizi, Saum: 39).

Ungkapan “bulu domba” di sini merupakan kinayah dari jumlah yang sangat banyak. Jadi, Allah SWT pada malam ini akan mengampuni semua hamba-Nya yang dengan tulus menginginkan maaf dan pengampunan. Ampunan akan diberikan selama seorang hamba memenuhi syarat-syarat tobat dan istigfar serta melakukannya dengan benar.

Siapa Saja Yang Tidak Akan Dimaafkan pada Malam Ini

Siapa saja yang tidak mendapatkan ampunan pada malam ini dijelaskan dalam beberapa hadis berikut ini:

“Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan dan permusuhan” (HR Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal).

Malam ini telah dibukakan 300 pintu rahmat dan pintu ampunan. Allah SWT mengampuni dosa sekalian orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Kecuali seorang ahli sihir, tukang ramal, orang yang suka bermusuhan, orang yang suka mengadu domba, pemabuk, orang yang durhaka pada kedua orang tuanya, dan orang yang memutuskan silaturahim. Mereka tidak akan diampuni Allah.” (Ibnu Majah, iqamah: 191).

“Terdapat Ganjaran 50 Tahun Ibadah Bagi Mereka yang Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban”

Ustaz Badiuzzaman dalam surat yang ditulis untuk murid-muridnya menceritakan tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban sebagai berikut:

“Lailatul Bara’ah ibaratnya sebuah benih suci dari satu tahun yang komplit. Dari segi di mana ia merupakan masa diprogramkannya takdir umat manusia, nilainya setara dengan kesucian Lailatul Qadar. Apabila setiap kebajikan yang dikerjakan di Lailatulqadar memiliki nilai ganjaran sebesar tiga puluh ribu, setiap amal saleh yang dikerjakan di Lailatul Bara’ah dan setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memiliki nilai ganjaran sebesar dua puluh ribu. Apabila di waktu lain kebajikan yang dilakukan dibalas dengan 10 pahala, pada syuhuru tsalatsah (tiga bulan suci)  ganjarannya naik menjadi seratus bahkan seribu. Pada malam-malam suci yang terdapat dalam bulan suci ini ganjarannya akan naik lagi menjadi sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau hingga mencapai tiga puluh ribu. Beribadah di malam-malam yang mulia ini nilainya setara dengan beribadah selama lima puluh tahun.  Untuk itu, ia harus dihidupkan dengan membaca Al-Qur’an, beristighfar, dan salawat sebanyak mungkin.  Beribadah di Lailatul Bara’ah akan memberikan seorang ahli iman lima puluh tahun umur ibadah.  (Syualar, Syua ke- 14).

Bagaimana cara menghidupkan malam yang mulia ini?

Sebisa mungkin malam-malam yang penuh berkah ini dihidupkan dengan ibadah semalam suntuk hingga pagi tiba.  Aktivitas ibadah yang dikerjakan seorang diri akan memudahkan nafsu dan setan menghembuskan kantuk dan mengganggu semangat kita.  Oleh karena itu, sebaiknya ia dihidupkan dengan berkumpul di masjid atau suatu majelis ilmu bersama para sahabat terdekat. Dengan demikian, para peserta bisa saling memotivasi. Mereka juga bisa saling bahu-membahu dalam menyelesaikan pembacaan doa-doa.

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, ada lima ibadah penting yang dapat dilakukan pada malam-malam ini:

  1. Bertobat dan beristigfar: Tobat dan istigfar yang paling singkat adalah “Astaghfirullah wa atubu ilaih…” Ada juga istigfar-istigfar lainnya yang lebih panjang lagi beragam variasinya.
  2. Membaca Al-Qur’an: Khususnya surat-surat pilihan seperti Yasin, Al-Fath, Ar-Rahman, Al-Mulk, An-Naba, dan sebagainya.
  3. Mendirikan salat: Di samping menunaikan salat fardhu secara berjamaah, mari kita tunaikan juga salat sunah awwabin, tahajud, tobat, tasbih, dan hajat.
  4. Membaca salawat kepada Rasulullah sebanyak-banyaknya.
  5. Berdoa: Membaca doa yang terdapat pada Al-Qur’an dan hadis, jausyan, doa-doa yang dibaca wali-wali agung, serta menyampaikan munajat dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Berpuasa di pagi harinya sangatlah utama. Waktu puasanya bukanlah sehari sebelum datangnya malam nisfu sya’ban, melainkan keesokan harinya.

Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/berat-af-ve-kader-gecesi/

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Rahasia Kekuatan – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-Salawat-

Menghadapkan diri, hanya kepada Allah ketika menjalankan tugas mereka para nabi dan rasul tak pernah menunggu upah atau imbalan tertentu baik berupa materi maupun non-materi. Salah satu semboyan mereka yang diabadikan oleh Alquran dalam beberapa ayatnya adalah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh beberapa rasul yang berbunyi “Upahku tidak lain hanyalah dari Allah saja.” Q.S. Yunus ayat 72 Hud ayat 29. 

Sementara kita, kalau pun tak mengharap imbalan materi atas sebuah amal maka kita sering mengharapkan imbalan nonmateri dalam bentuk pahala hal seperti itu sama sekali tidak pernah ada pada diri para rasul mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan dari siapapun karena apa yang mereka lakukan sepenuhnya merupakan perintah Allah. Kalaupun kita ingin membayangkan sesuatu yang mustahil seperti misalnya andai saja para nabi dan rasul tahu     bahwa mereka akan masuk ke dalam neraka, maka hal itu pastilah tidak akan membuat mereka ragu untuk menunaikan tugas mereka dan tidak akan membuat mereka lari dari tujuannya meski hanya sesaat. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang selalu siap siaga, mereka selalu mengorbankan seluruh jiwa raga mereka di jalan dakwah yang mereka tempuh. Jadi harapan masuk Surga atau takut akan Neraka bukanlah faktor yang menggerakkan mereka untuk berusaha melaksanakan tugas berat yang mereka pikul alih-alih berharap pamrih. Keridhaan Allah dan perkenan-Nya merupakan puncak dari segala yang mereka harapkan begitulah semua amal yang dilakukan para nabi memang ikhlas dilakukan hanya karena Allah terlebih pada diri Rasulullah SAW prinsip seperti ini telah mencapai puncaknya ketika masih di dunia.

 Rasulullah berkata: “Umatku.”

Dan kelak di padang mahsyar hari kiamat beliau kembali berkata: “Umatku… umatku..”

Jadi silakan Anda bayangkan betapa Tingginya tingkat keikhlasan Rasulullah. Ketika pintu Surga telah terbuka lebar merindukan beliau masuk ke dalamnya, ternyata beliau justru terus saja masgul dengan nasib umat Islam. Demi kitalah kelak Rasulullah rela berlama-lama di padang mahsyar, daripada berleha-leha di dalam Surga. Dan hebatnya Rasulullah tidak melakukan semua itu hanya untuk para kerabat Beliau saja, melainkan juga terhadap seluruh umat beliau termasuk para pendosa di antara mereka.

Demikianlah jendela-jendela jiwa para nabi dan rasul memang hanya terbuka bagi satu tujuan yang sama yaitu keridhaan Allah. Sedangkan terhadap segala yang lain itu jiwa mereka selalu tertutup rapat. Oleh sebab itu, bagi siapapun yang saat ini melakukan dakwah dan tabligh seperti yang dulu dilakukan para Rasul hendaklah mereka selalu berhati-hati dan peka terhadap masalah ini. Sebab, ia merupakan sebuah perkara yang sangat penting dan sensitif. Ingat, besar atau kecilnya efek dari ucapan yang dilontarkan seseorang tidak bergantung pada kefasihan dan kecanggihan struktur bahasanya melainkan berhubungan langsung dengan keikhlasan orang yang mengucapkannya. Al Quran menyinggung hal ini dalam ayat 

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk Quran Surat Yasin ayat 21 

Benar, ikutilah para nabi yang bertahta di ketinggian langit penyerahan diri dan hidayah Allah, karena mereka tidak pernah meminta imbalan duniawi dari kalian. Pertimbangkanlah masak-masak sebelum anda mengikuti jejak seseorang, sosok yang anda ikuti haruslah orang yang selalu berserah diri kepada Allah. Hari-harinya hanya diisi dengan amal baik di jalan Allah, tidak silau pada gemerlap dunia dan selalu mencurahkan segenap energinya demi kejayaan generasi mendatang. Sosok yang Anda jadikan panutan tidak boleh memiliki sifat hubbud dunya, cinta dunia, dan hatinya harus dilingkupi sikap berserah kepada Allah. 

Oleh sebab itu, telitilah para pemimpin Anda siapa diantara yang memiliki sifat seperti itu, sebelum Anda memilih seorang panutan. Rasulullah adalah pribadi yang selalu Berserah diri kepada Allah, perut beliau tidak pernah kenyang walau hanya dengan roti gandum kasar sekalipun. Seringkali hari, pekan, bahkan bulan berlalu tanpa ada asap yang mengepul dari dapurnya, dari dapur Rasulullah SAW. 

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan 

“Suatu ketika aku menemui Rasulullah yang sedang salat sambil duduk. 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah kulihat kau salat sambil duduk, ada apa denganmu?” 

Rasulullah menjawab, “Aku kelaparan.”

 Aku pun menangis mendengar itu. 

Tetapi, Rasulullah menukas, “Jangan kau menangis karena kerasnya hisab di hari kiamat tidak akan menyentuh orang yang kelaparan. Jika dia bersabar di dunia dan apa yang menimpanya itu.”

Ummul mukminin Aisyah r.a. meriwayatkan, “Suatu ketika seorang wanita Anshar menemuiku dan melihat alas tidur Rasulullah berupa kain kasar. Beberapa saat kemudian wanita itu mengirimkan alas tidur berlapis wol. Rasulullah lalu datang dan bertanya apa ini wahai Aisyah? 

Aku menjawab wahai Rasulullah tadi ada seorang wanita Anshor yang datang ke sini lalu melihat alas tidurmu. Setelah dia pulang dia mengirimkan ini ke sini. Rasulullah pun menukas, “Kembalikanlah alas tidur ini.” Tapi aku tidak mengembalikan alas tidur itu dan ternyata Hal itu membuat Rasulullah terkejut, sehingga Beliau kembali memerintahkan agar aku mengembalikan alas tidur itu. Beliau mengulang itu sampai tiga kali. Rasulullah SAW berkata, “Kembalikanlah alas tidur itu wahai Aisyah demi Allah Andai saja aku mau Allah pasti bersedia memberiku gunung emas dan perak.”

Benar seandainya Rasulullah SAW mau beliau sebenarnya dapat menjalani hidup yang menyenangkan dan sejahtera. Tapi beliau tidak menginginkan itu.

Abu Hurairah meriwayatkan, “Suatu ketika Jibril duduk bersama Rasulullah SAW, sesaat kemudian tampak malaikat dari langit. Jibril berkata malaikat itu tidak pernah turun sejak diciptakan kecuali hanya saat ini. Sesampainya malaikat itu di hadapan Rasulullah ia berkata, “Wahai Muhammad Tuhanmu telah mengirimkan ku padamu untuk bertanya, apakah kau ingin menjadi seorang raja yang sekaligus nabi? ataukah seorang hamba yang sekaligus Rasul? Jibril menukas, “Bertawadhu lah pada rabbmu wahai Muhammad.” Rasulullah menjawab, “Aku ingin menjadi hamba yang sekaligus Rasul.” 

Hingga akhir hayatnya tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW makan sampai kenyang.

Abu Umamah meriwayatkan, “Suatu ketika ada seorang wanita yang ucapannya busuk dan gemar mencaci kaum laki-laki. Wanita itu lewat di dekat Rasulullah yang sedang menyantap bubur di atas roti kering. Wanita itu berkata, “Lihatlah orang itu! Dia duduk seperti duduknya seorang hamba atau budak, dan makan seperti makannya seorang hamba. Rasulullah menyahut, “Apakah ada hamba yang lebih hamba dibandingkan aku?”

Lembaran kehidupan Rasulullah memang penuh dengan contoh sikap berserah diri kepada Allah. Siapapun yang ingin mempelajari contoh teladan itu dapat menemukan penjelasan di ratusan kitab yang ada ya semua nabi dengan Rasulullah menjadi yang terdepan memang hidup dalam penyerahan diri kepada Allah mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan dunia dan akhirat atas semua yang mereka lakukan. Inilah sebenarnya rahasia, dibalik kekuatan yang mereka miliki dalam mempengaruhi dan meyakinkan umat. Siapapun yang ingin ucapannya memiliki daya ubah, serta dapat menjadi obat penawar kehidupan. Hendaklah ia mengenyampingkan harapan akan imbalan atau upah dari apa yang dilakukannya.

Diambil dari Cahaya Abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia 

mengembangkandiri.com_QADAR

Qadar – Fethullah Gülen