mengembangkandiri.com (18)

MENYULAM CINTA DALAM SETIAP AYAT-NYA

Ditulis Oleh : Febrian Suhud

Di dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur’an terukir petunjuk hidup yang abadi, sebuah permata yang tak terperi indahnya, yang diterangi oleh cahaya Ilahi. Khidmah kepada Al-Qur’an bukanlah sekadar tindakan, tetapi sebuah perjalanan batin yang mengalir dalam denyut nadi umat manusia, sebuah rasa yang menyelimuti jiwa dan meresap dalam kalbu. Sebuah pengabdian yang sejatinya adalah pengorbanan tanpa pamrih, yang tiada akhir, yang menuntun umat menuju jalan kebahagiaan yang hakiki.

Khidmah kepada Al-Qur’an bermula dari sebuah cinta yang murni dan tulus, cinta yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terasa dalam setiap hela nafas yang kita hirup. Cinta kepada Al-Qur’an adalah cinta yang melampaui waktu, yang tidak mengenal batas ruang dan zaman. Ia adalah cinta yang menjelma dalam setiap titian langkah, dalam setiap detik yang kita jalani, sebuah hubungan antara hamba dan Tuhan yang tiada terungkap oleh dunia. Seperti lautan yang dalam, cinta ini tak terukur, tak ternilai harganya, tetapi ia mampu menenangkan gelora jiwa dan menyegarkan raga yang letih.

Di setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, terdapat gema suara Ilahi yang menyapa jiwa kita. Bagaikan sebuah angin damai yang mengalun lembut, tiap kata dalam Al-Qur’an menyentuh relung-relung terdalam hati, mengundang nurani untuk merenung dan menghayati betapa Maha Agung-Nya Allah. Inilah cinta yang tak tampak dengan kasat mata, namun terasa dalam getaran hati yang bergetar setiap kali kita membacanya, dan setiap kali kita menghayati maknanya.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah amanah yang disandangkan kepada setiap hati yang beriman. Sebagaimana bumi yang menjaga tanaman dan bunga-bunga dengan penuh kasih sayang, begitu pula kita harus menjaga kemurnian wahyu ini dengan segenap jiwa raga. Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang abadi, yang tidak pernah lekang oleh zaman. Setiap hurufnya adalah cahaya yang memancar dari Tuhan, dan menjaga Al-Qur’an berarti menjaga api tersebut agar tetap menyala dengan terang di setiap relung hidup kita.

Salah satu bentuk khidmah yang paling mulia adalah menghafal Al-Qur’an, sebuah ibadah yang bukan hanya melibatkan ingatan, tetapi juga jiwa dan hati. Menghafal Al-Qur’an adalah menanamkan cahaya Ilahi dalam diri, sebuah komitmen untuk mengingat-Nya dalam setiap helaan nafas, untuk menghidupkan kata-kata-Nya dalam setiap langkah hidup. Sebab, dalam setiap ayat yang terpatri di dalam dada seorang penghafal, terdapat cahaya yang tidak akan pernah padam, dan itulah pengabdian yang tiada bandingannya.

Khidmah kepada Al-Qur’an tidak hanya tertuang dalam kata-kata atau sekadar hafalan. Ia adalah sebuah perjalanan hidup yang mengalir dalam setiap tindakan. Sebagaimana bunga yang mekar dengan indah, setiap amalan yang terinspirasi oleh Al-Qur’an adalah buah dari cinta yang kita tanam dengan penuh kesungguhan. Setiap petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah bimbingan bagi kehidupan yang penuh tantangan ini. Dalam setiap persoalan hidup, Al-Qur’an adalah penyuluh yang tidak pernah pudar, memberikan kita cahaya untuk menapaki jalan yang gelap.

Al-Qur’an mengajarkan kita tentang kebijaksanaan yang tiada tara, tentang kesabaran yang mengalir seperti sungai yang tenang, tentang kejujuran yang menghiasi setiap tindakan. Ia bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga kitab yang harus dihidupkan. Menjadi seorang yang berakhlak mulia, meneladani sifat-sifat Rasulullah yang terpatri dalam Al-Qur’an, adalah bentuk nyata dari khidmah kita kepada kitab yang mulia ini. Kita menjadikan setiap ajaran-Nya sebagai pedoman hidup, menyelami maknanya dalam setiap langkah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama, sebagaimana Al-Qur’an yang selalu menyapa hati manusia dengan kedamaian.

Khidmah kepada Al-Qur’an juga terwujud dalam sikap kita yang senantiasa ingat kepada-Nya, dalam setiap hembusan angin kehidupan. Di tengah deru gelombang dunia yang tak terduga, Al-Qur’an adalah jangkar yang menenangkan, pelita yang tak pernah padam. Setiap ayat yang terukir di dalamnya adalah sumber kekuatan yang tiada terhingga. Ia menjadi obat bagi luka-luka batin, penghibur bagi hati yang gundah, dan cahaya bagi jiwa yang tersesat.

Khidmah yang terakhir, yang tak kalah penting, adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi yang akan datang. Sebagaimana seorang pelita yang memberikan cahaya kepada yang lain, begitu pula kita harus menjadi penyebar cahaya wahyu Allah kepada orang lain. Mengajarkan Al-Qur’an adalah tugas mulia yang membawa pahala yang tiada terhingga, dan dengan mengajarkannya, kita menanamkan benih-benih kebaikan yang akan berkembang hingga ke anak cucu kita. Mengajarkan Al-Qur’an adalah menyebarkan kasih sayang-Nya, membimbing umat menuju kehidupan yang penuh berkah.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah pengabdian yang tiada batas. Sebagaimana langit yang tak mengenal ujung, begitu juga pengabdian ini, yang terus mengalir dan menghidupkan dunia. Setiap langkah kita dalam mengikuti Al-Qur’an adalah langkah menuju kebahagiaan abadi, sebuah kebahagiaan yang melampaui dunia, yang hanya bisa diraih dengan cinta yang mendalam kepada kitab-Nya. Al-Qur’an adalah petunjuk yang selalu menemani, sebuah cahaya yang tak akan pernah padam, dan khidmah kita kepadanya adalah perjalanan yang tiada akhir, yang akan membawa kita menuju kasih-Nya yang tak terhingga.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, “Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” Di situlah letak hakikat khidmah yang sebenarnya: menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap detik kehidupan, menjadikannya sebagai pelita, dan melaksanakan ajarannya dengan hati yang penuh cinta. Inilah pengabdian yang sejati, yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Mengembangkandiri.com (17)

PENGELOLAAN TUGAS DAN KEHIDUPAN BERKELUARGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Kendi Yang Retak.

Pertanyaan: Selain tugasnya sebagai Rasulullah dan pemimpin negara, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam  juga memiliki peran sebagai seorang ayah, suami, serta teman terdekat bagi para Sahabat-nya. Beliau membagi waktunya dengan sangat adil antara peran-peran tersebut hingga tidak ada seorangpun yang haknya terlanggar. Karena itu, bagaimanakah seorang mefkure insanı[1] seharusnya mengelola waktu mereka sehingga dapat menciptakan suatu keseimbangan dalam memenuhi hak-hak setiap orang atas dirinya?

Jawaban: Pengelolaan waktu artinya adalah mengetahui segala sesuatu yang harus dilakukan, menentukan urutan kepentingannya, dan merencanakan kegiatan sehari-hari berdasarkan hal tersebut. Hal ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga peribadatan kita semisal shalat, dzikir dan do’a juga termasuk di dalamnya. Begitu juga kewajiban terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita semisal keluarga dan anak-anak, hal-hal tersebut haruslah kita perhatikan.

Sebagai contoh, seseorang yang beriman tidak boleh meninggalkan ibadah malamnya dengan alasan telah atau akan melakukan pelayanan sepanjang hari. Seseorang yang benar-benar beriman haruslah tetap melakukan ibadah di malam hari  meskipun hanya berupa dua rakaat shalat. Seseorang yang bangun di malam hari dan menyisihkan 10-15 menit untuk shalat tahajud dan berdo’a pada Allah tidak akan kehilangan apapun dalam pelayanannya, bahkan sebaliknya akan mendapatkan banyak hal; karena orang yang menggunakan malam harinya untuk beribadah dihitung sebagai seseorang yang menapakkan kakinya pada jalur kebangkitan. Ibadah malam merupakan salah satu amal  perbuatan yang sangat dibanggakan di Mele-i âlâ[2]. Mendekatkan diri kepada Allah dengan bersujud dan merendahkan diri di hadapan Yang Maha Kuasa sembari meneteskan beberapa tetes air mata dalam keheningan malam merupakan suatu bentuk kesalehan yang tak dapat dibandingkan dengan perbuatan  apapun di waktu yang lain. Oleh karena itu, ibadah malam tidak boleh ditinggalkan ketika seseorang merencanakan kegiatan dalam mengisi umur kehidupannya.

Berikan pada Setiap Orang Hak Mereka!

Sebagaimana seseorang tidak boleh mengabaikan ibadah yang menyuburkan hati dan jiwa mereka, mereka juga harus memenuhi setiap kewajiban yang harus dipenuhi dalam kehidupan sosial yang mereka jalani. Hal-hal tersebut harus dimasukkan dalam suatu skala prioritas dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Sebagaimana yang telah kita ketahui, berkenaan dengan seorang Sahabat yang meninggalkan keluarganya untuk beribadah, Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam  bersabda: “Jiwamu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu punya hak atas dirimu, begitu pula Allah Subhanahu Wa Ta’ala  juga punya hak atas dirimu, maka berikanlah pada masing-masing dari mereka haknya.”[3]Sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits ini, bahkan ibadah kita pun jangan sampai menelantarkan hak-hak mereka yang memiliki hak terhadap kita, seperti pasangan, anak-anak, dan juga termasuk diri kita sendiri.

Shalat lima waktu yang ditugaskan pada waktu tertentu dalam satu hari memberikan pelajaran yang berharga pada orang yang beriman mengenai pengelolaan waktu. Ayat yang berhubungan dengan kebijaksanaan dalam penciptaan malam dan siang juga memberikan petunjuk mengenai hal ini. Dinyatakan dalam surat al-Qasas:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّیْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِیهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

’’Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam hari dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qasas 28:73).

Melalui ayat ini dan ayat-ayat lain yang serupa, Al-Qur’an menuntun kita dalam pengelolaan waktu dan memberikan kita pesan berikut: jika kita menjalani hari-hari kita dengan teratur, melakukan apa yang perlu dilakukan dalam waktu yang tepat setiap harinya,  serta memanfaatkan dengan baik setiap waktu di siang dan malam hari yang dianugerahkan kepada kita, maka kita akan terselamatkan dari kehidupan yang serampangan, akan terhalang oleh rintangan yang muncul akibat kurangnya perencanaan, dan pada akhirnya kita akan memiliki kehidupan yang lebih produktif.

Merencanakan Dua Puluh Empat Jam Kita

Agar dapat disiplin dan efisien dalam menggunakan waktu, kita bisa menuliskan rencana kita dalam menggunakan 24 jam yang kita punya setiap harinya. Hal ini dilakukan dengan merencanakan waktu untuk berkumpul bersama teman, waktu untuk berbicara dengan orang-orang yang kita cintai, waktu untuk membaca buku sendirian, waktu untuk membersihkan kamar kita, waktu untuk berzikir, waktu untuk mengaji serta menghafal Al Quran, waktu untuk berdiskusi dengan pasangan dan juga anak-anak kita, hingga akhirnya datang waktu untuk beristirahat dan merencanakan kembali hal apa yang akan dikerjakan esok hari dengan jelas. Bahkan waktu yang akan digunakan untuk minum teh atau makan haruslah dimasukkan dalam rencana pengelolaan waktu ini. Sebagai contoh, jika 20 menit cukup untuk makan, seseorang haruslah menggunakannya dengan efisien dan tidak menggunakannya untuk mengobrol kesana kemari. Bahkan merupakan hal yang penting untuk menyediakan waktu darurat dalam perencanaan 24 jam kita sehingga faktor-faktor eksternal yang tiba-tiba muncul tidak merusak program harian kita.

Dari hal yang penting ke hal yang tidak terlalu penting, jika segala sesuatu dapat direncanakan dan dilakukan dengan pendekatan tersebut, maka waktu kita akan lebih produktif dan hasil yang diperoleh akan meningkat dari satu menjadi sepuluh kali lipat. Ketika kehidupan seseorang bisa menjadi seperti itu, maka ke depannya orang tersebut akan menjadi orang disiplin yang sukses, terbiasa bekerja sesuai program dan penuh motivasi, orang tersebut akan mampu melakukan apa yang perlu dilakukan tanpa kesulitan berarti. Namun, Jangan sampai hal ini disalahartikan bahwa program-program tersebut akan membuat kita menyerupai mesin atau robot. Bahkan sebaliknya, seseorang yang disiplin dan menjalani hidup yang sangat teratur tidak akan melewatkan ibadah personal maupun tugas-tugas pekerjaannya serta tidak akan melanggar hak-hak orang lain atas dirinya.

Meyakinkan Orang-orang yang Berjalan Bersama Kita

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam hal pengelolaan waktu adalah seseorang haruslah mengungkapkan rencana mereka pada orang-orang yang ada dalam hidupnya, yang memiliki hak atas dirinya, mempelajari pemikiran dan pandangan mereka, kemudian meyakinkan mereka baik pikiran maupun perasaannya akan pentingnya kewajiban yang dia miliki. Seiring dengan hak pasangan, anak dan orang tua, penting untuk menjelaskan sejelas mungkin bahwa Allah, agama dan Al-Qur’an juga mempunyai hak atas diri seseorang. Jika seseorang dapat mempertahankan kesepahaman mengenai masalah ini dengan orang-orang di sekitarnya, maka hal ini akan memungkinkan terlaksananya tugas-tugas yang harus dilakukan  tanpa adanya hambatan yang disebabkan perkataan dan respon negatif dari lingkungan keluarga, ataupun orang-orang terdekat kita.

Bayangkan seseorang yang telah meyakinkan dirinya bahwa dia harus mengorbankan satu bagian penting dari waktunya untuk mengagungkan nama Allah dan memiliki keyakinan yang kuat mengenai hal ini. Bayangkan orang tersebut adalah orang yang telah menginternalisasi idealisme ini hingga dalam menunaikan memenuhi tugasnya dia rela mengorbankan segala sesuatu yang sebenarnya juga adalah haknya. Namun, jika mereka yang berbagi kehidupan bersama orang tersebut tidak menyadari hak Allah dan urgensi menggemakan Nama-Nya di seluruh penjuru dunia, tidak memahami fakta bahwa agama ini merupakan warisan yang dipercayakan pada kita dan memerlukan usaha yang konsisten untuk memperjuangkannya, serta tidak memahami pentingnya tugas untuk mengembalikan benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, dari esensi hingga detail-detailnya, maka mereka tidak akan mau berjalan bersama dirinya. Orang tersebut, karena hal ini, perlu memberikan suatu usaha ekstra untuk dapat berjalan bersama mereka. Kalau tidak, hal ini akan menghasilkan suatu kelelahan dan kejenuhan dalam perjalanan kehidupannya.

Jika orang tersebut dapat membuat mereka percaya pada idealisme yang dia miliki, kemudian bisa berbagi perasaan dan pemikiran yang sama, serta mampu  menggugah perasaan untuk memperjuangkan pelayanan yang dia lakukan, maka dia akan benar-benar dimudahlan dalam penunaian tugas dan pengelolaan waktunya. Ketika dia tidak memenuhi kewajiban yang harusnya dia penuhi, misalnya dia tidak menghadiri sebuah rapat atau program baca buku yang harusnya dia hadiri, dia akan memperoleh teguran pertama kali dari orang-orang tersebut (dari istri atau ibunya), hal yang akan menjadi penguat motivasi bagi dirinya.

Sebaliknya, jika pasangan kita, anak-anak kita atau orang lain yang hidup bersama kita tidak memahami pengelolaan tugas yang kita miliki serta urgensi dalam melaksanakannya, maka munculnya suatu konflik dalam pemikiran dan perasaan tidak dapat terhindarkan, dan hal ini dapat menghambat pertolongan Allah untuk diri kita, karena petunjuk Yang Agung  serta pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  datang dari persatuan dan kesatuan. Jika kau berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan menyukseskanmu, kamu pertama-tama harus menjaga kesatuan dan persatuan dengan orang-orang di sekitarmu, tak peduli bagaimanapun keadaannya.

Mengorbankan Waktu Extra untuk Hizmet

Hal lain yang mesti diperhatikan di sini adalah durasi dari waktu yang kita alokasikan untuk penunaian idealisme luhur ini. Jika seseorang dengan serius menyisihkan tujuh hingga delapan jam untuk bekerja menggunakan logika pekerja biasa, apa yang akan dia lakukan untuk idealisme hizmetnya akan terhambat oleh sempitnya logika tersebut. Jika seseorang mengemban tiga hingga empat tanggung jawab untuk idealismenya dan jika mengerjakannya membutuhkan waktu sekitar 13-15 jam, maka orang tersebut harus mencoba memenuhinya dengan suatu manajemen tugas yang lebih efektif. Perlu dipertimbangkan bahwa di satu sisi dia harus menyerahkan waktunya sebanyak mungkin untuk menghambakan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  tanpa membuang satu detik pun dari waktunya, namun di sisi yang lain dia juga harus berusaha untuk menggunakan waktunya seefektif mungkin dengan menentukan apa yang harus dia selesaikan dalam suatu urutan skala prioritas tertentu.

Khususnya pada zaman sekarang ini, seiring dengan adanya tugas untuk memperbaiki benteng spiritual yang telah rusak selama berabad-abad, orang-orang yang memutuskan untuk melayani Al-Qur’an dan keimanan harus memberikan pengorbanan yang lebih dari pengorbanan yang telah dilakukannya selama ini dan harus bekerja lebih giat lagi. Mereka haruslah membuat suatu resolusi dalam bekerja yang harus dilaksanakan dengan konsisten. Sebagai contoh, seseorang berkata bahwa dia dapat meluangkan 12 jam sehari untuk melayani masyarakat, orang yang lain mengambil tugas 13 jam sehari dan yang lain berjanji untuk bekerja 14 jam di jalan Allah setiap harinya. Secara singkat, barang siapa dengan kerelaan hati  meyakinkan diri untuk menginfakkan berapapun jumlah waktu yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu tugas, dia akan merancang dan menggunakan waktu tersebut dengan orientasi Hizmet dan berusaha keras untuk memenuhinya secara konsisten. Hal ini merupakan suatu pemahaman yang dimiliki orang-orang yang benar-benar beriman. Jika konsep bekerja ini tidak dilakukan, berarti aspek pengamalan Islam yang satu ini tidak dipahami dengan baik.

Meskipun mampu melakukannya, jika sejumlah orang tidak menginfakkan waktunya untuk melayani iman sesuai yang diharapkan dari mereka, maka mereka sangat perlu untuk diyakinkan kembali. Merupakan hal yang amat penting untuk mencapai suatu kesepahaman dengan orang-orang tersebut mengenai masalah ini. Namun, tak seorang pun boleh membuat pelanggaran akan suatu hak setelah adanya kesepakatan atas sebuah topik tugas. Setiap orang haruslah sangat teliti dalam memenuhi kewajibannya, hingga dengan pasangan dan anak-anaknya mereka tidak saling melanggar hak masing-masing; begitu juga dengan yang terjadi antara pekerja dan atasannya, tidak boleh ada ketidakadilan dan tidak boleh ada kewajiban yang terlanggar.

Ketika berbicara tentang jam kerja, jika kita bertindak dengan logika pekerja yang lebih sederhana, yaitu memanjakan diri setelah tujuh hingga delapan jam kerja, makan dan jalan-jalan sesuka hati, atau duduk diam menghabiskan waktu, atau sibuk menikmati hiburan dan games, atau bahkan ikut serta dalam suatu aktivitas duniawi yang merusak, maka kita sebenarnya tidak memahami betapa pentingnya  masalah ini. Seseorang yang berkelakuan dan bermental seperti itu tidak akan mampu untuk bahkan melakukan sepersepuluh dari apa yang seharusnya dia lakukan untuk kebaikan  umat manusia. seseorang dengan pemahaman yang semacam  itu tidak akan  ragu untuk berlibur ataupun pulang kampung kapanpun  ia inginkan. Ia justru akan pergi ketika ada suatu permasalahan penting yang harus diselesaikannya, hingga akhirnya mengacaukan tanggung jawab krusial yang sedang menunggunya.

Ini bukanlah suatu pemahaman akan penunaian tugas yang diharapkan dari seorang relawan Hizmet. Mereka mencoba untuk memenuhi tanggung jawab mereka dalam melayani keimanan, dan mereka tidak akan pergi di tengah jalan saat melaksanakan tugas yang telah mereka mulai. Begitu juga, ketika mereka gagal untuk memperhatikan hak-hak pasangannya, anak-anaknya dan keluarganya, mereka akan segera memperbaikinya, mencoba untuk memperoleh kembali hati dari orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah ditelantarkan. Sebagai contoh, kadang mereka datang di hadapan mereka dengan sepaket bunga mawar, menjelaskan alasan kenapa mereka terlambat dan ketika datang suatu kesempatan mereka langsung memenuhi janji-janji yang mereka punya, serta mengganti kesalahan dan keteledoran yang dilakukan tanpa disengaja.

Karena itu, pasangan harus bertindak dengan penuh toleransi terhadap satu sama lain pada keterlambatan yang diakibatkan oleh penunaian beberapa tugas yang perlu untuk dipenuhi. Janganlah sampai terlupakan bahwa selama masa penantian tersebut, setiap jam, menit dan bahkan detik akan dihitung sebagai pahala ibadah bagi mereka yang sabar menunggu; tentu saja, penantian tersebut merupakan suatu pengorbanan yang serius. Setiap pasangan tentulah saling membutuhkan satu sama lain. Ada hal-hal yang perlu utuk didiskusikan bersama pasangan. Meskipun memerlukan kehadiran pasangan di rumah, detik-detik dari seorang yang beriman yang digunakan untuk menunggu pasangan yang sedang bekerja dalam rangka melayani iman tanpa disadari dapat menjadi tahun-tahun penghambaan yang berharga karena nilai dari niat seorang yang beriman jauh lebih baik daripada perbuatannya. Sembari pasangannya sibuk dengan perbuatan yang penuh kebajikan dia memberikan dukungan baik material maupun spiritual pada pasangannya tersebut, kemudian dengan izin Allah, mereka berdua menjadi sosok-sosok yang berhak atas  pahala agung dikarenakan kesabaran dan amalan-amalan lainnya tersebut.

Referensi :

[1] Manusia  yang mempertimbangkan idealisme tinggi.

[2] Majelis agung tempat dimana ruh para nabi-nabi dan para malaikat agung berada.

[3] Sahih al-Bukhari, Adab, 86.

Mengembangkandiri.com (2)

BERJALAN DI TAMAN SURGA

Ditulis oleh Fethullah Gülen Diterbitkan pada Makalah.

Mataku terpejam, ku bayangkan masa depan bahagia kan terbentuk di “tanah harapanku”. Keindahan di setiap jenis yang keluar dari sudut eksistensi yang berlari melalui rumah-rumah dan jalanan, juga melalui lembaga-lembaga pendidikan dan sholat kita. Merefleksikan kembali pada kamar-kamar di dalam rumah kita, mereka adalah sampul kita yang dibanjiri cahaya. Dikombinasikan dengan warna, cahaya ini membentuk pelangi, yang ketika saya berjalan di bawahnya terus-menerus men-set-up mata dan jiwa saya sebagai lengkungan dari kebahagiaan akhirat. Meski kita berada di lapisan kedua di bawah lengkung buatan manusia, tampaknya kita tidak mungkin melewati bagian bawah lengkung surgawi (naik) atas kita. Saat kita berjalan di bawahnya, kita merasa bersatu dengan semua kehidupan kita dalam aliran tanpa batas dari sebuah eksistensi. Mengalir kembali pada hiburan yang kita tonton setelah berhenti sejenak pada kedua sisi untuk menyapa kita, dan kemudian diganti dengan yang baru. Kita terpesona dengan aliran baru yang datang dari kesenangan material dan keintiman antara mereka dengan kita.

Pepohonan bergoyang lembut bersama angin, bukit berwarna hijau dan bercahaya, domba merumput di sini dan melompat ke sana kemari sambil mengembek, dan desa-desa di lereng-lereng, dataran-dataran dan lembah berserakan. Kita amati dengan riang bagaimana semua ini berkontribusi pada keharmonisan universal, dan komentar yang satu ini tidak akan cukup mampu bagi usia kita untuk dapat menghirup semua kesenangan ini. Warna-warni lampu dan suara, aktif melompat dari perasaan eksistensi, yang tercermin dalam dunia emosi kita. Kita merasa seolah-olah kita mendengarkan lirik yang terdiri dari lamunan kenangan manis yang mengalir dalam gelombang. Kita telah menyerap luas Kitab Alam, yang membangkitkan dalam diri kita kesenangan spiritual Surga dan Bumi beserta semua isinya. Buku ini mengisi kita dengan kenikmatan dan kegembiraan yang tak terlukiskan, dan mengangkat kita ke alam yang lebih tinggi dari keberadaan.

Setiap musim baru, kita menemukan diri kita seolah-olah terbangun dari tidur kematian dan menghadapi berbagai warna yang berbeda mulai dari ungu ke hijau. Kita serasa membelai angin untuk menebarkan aroma bunga, buah-buahan dan biji-bijian telinga. Ini kacamata luar biasa, yang tersimpan di dalam rasa jiwa keindahan, bahkan untuk memberikan beberapa bantuan mereka pesimis selalu melihat segala sesuatu melalui jendela jiwa yang gelap dan kewalahan dengan pikiran yang jahat dan penuh kecurigaan. Sebagai orang yang beriman, waktu mengalir di dalam mereka dan melodi hidup bergema di setiap sel mereka. Pagi hari datang kepada mereka dengan lagu-lagu lembut bak angin bertiup melalui daun pohon, sungai bergumam, burung berkicau, dan teriakan anak-anak. Matahari terbenam di cakrawala mereka, membangkitkan di dalamnya perasaan memiliki yang berbeda dari cinta dan kegembiraan. Malam membawa mereka, di berbagai lapangan musik, melalui terowongan waktu misterius dan kacamata alam yang paling romantis.

Setiap tontonan yang kita amati dalam cakrawala keyakinan dan harapan, dan setiap deru suara yang kita dengar, Menghapus dari jiwa kita dan membawa kita melalui semua kerudung waktu lembah yang bercahaya dan lembut, murni dan tenang, menyenangkan firdausnya dimanapun tak terhingga. Kedamaian ini menarik kita ke dunia tarik-menarik, setengah terlihat, setengah tidak, yang telah lama kita tonton dengan mata hati kita, seolah-olah itu dari balik tirai renda. Pada titik ini, ketika roh terpesona dengan kesenangan, mengamati, lidah diam, mata terpejam, dan telinga tak lagi menerima suara. Semuanya menyuarakannya dengan lidah hati. Pikiran murni dan ungkapan perasaan sukacita dan kegembiraan menyelimuti sebagian orang, dan dalam menghadapi kacamata yang seperti menyilaukan itu, semangat merasa seolah-olah berjalan diantara kebun surga.

mengembangkandiri.com (16)

KONSEP ALAM SEMESTA DALAM AL-QUR’AN DAN SAINS MODERN

Alam semesta, dalam wujudnya yang sangat luas dan penuh dengan keteraturan, sering kali menjadi bahan perenungan mendalam bagi manusia. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ menggambarkan alam semesta sebagai sebuah karya penciptaan yang sempurna dan terstruktur, yang tidak hanya mencerminkan kebesaran-Nya, tetapi juga menunjukkan hakikat hubungan antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Ketika kita memasuki ruang kajian sains modern, kita menemukan pandangan yang mirip namun berbeda dalam menjelaskan struktur alam semesta, yang berfokus pada hukum-hukum fisika dan perubahan yang dapat diobservasi. Dengan demikian, pemahaman tentang alam semesta dalam Al-Qur’an dan dalam sains modern mengungkapkan suatu realitas yang lebih dalam: bahwa alam semesta adalah sebuah harmoni yang mengandung keteraturan mutlak, namun penuh dengan dimensi ketidakpastian yang hanya bisa dimengerti melalui pertanyaan tentang asal-usul, keberadaan, dan tujuan hidup.

Al-Qur’an menegaskan bahwa alam semesta bukanlah sekadar kumpulan benda mati yang eksis begitu saja, melainkan sebuah ciptaan yang penuh makna dan tujuan, sebagaimana Allahﷻ berfirman,

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ وَالۡفُلۡكِ الَّتِىۡ تَجۡرِىۡ فِىالۡبَحۡرِ بِمَا يَنۡفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنۡ مَّآءٍ فَاَحۡيَا بِهِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَمَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيۡهَا مِنۡ کُلِّ دَآ بَّةٍ وَّتَصۡرِيۡفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ السَّمَآءِوَالۡاَرۡضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّعۡقِلُوۡنَ

Artinya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah 2:164)

Ayat ini mencerminkan sebuah konsep dunia yang dinamis dan penuh keteraturan, yang tidak hanya ada karena kebetulan semata, tetapi disusun sedemikian rupa oleh Pencipta-Nya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allahﷻ seringkali mengaitkan keindahan dan keteraturan alam semesta dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terhingga, mengajak umat manusia untuk merenungkan tujuan di balik setiap ciptaan.1

Sains modern, di sisi lain, melihat alam semesta dengan pendekatan yang lebih analitis, berbasis pada hukum-hukum fisika dan teori-teori ilmiah. Dalam kosmologi, sebagai contoh, penemuan tentang Big Bang dan perluasan alam semesta menggambarkan bahwa alam semesta memiliki titik awal yang sangat spesifik, yang dimulai dengan ledakan besar yang menciptakan ruang dan waktu. Seiring waktu, alam semesta terus berkembang dan berubah, mengikuti hukum-hukum yang berlaku, yang di antaranya adalah hukum gravitasi, hukum termodinamika, dan interaksi kuantum yang mempengaruhi semua materi dan energi yang ada. Alam semesta ini, dalam pandangan sains, tampak sebagai suatu kesatuan yang memiliki keteraturan yang terstruktur melalui prinsip-prinsip fisika yang sangat fundamental.2

Namun, meskipun Al-Qur’an dan sains modern tampak memberikan penjelasan yang berbeda tentang alam semesta, keduanya pada dasarnya menunjukkan konsep yang serupa: adanya keteraturan yang mengatur setiap elemen alam semesta, serta keterbatasan pemahaman manusia dalam menjelaskan hakikat keberadaan alam semesta itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

اَوَلَمۡ يَرَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ كَانَـتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰهُمَا‌ ؕ وَجَعَلۡنَا مِنَالۡمَآءِ كُلَّ شَىۡءٍ حَىٍّ‌ ؕ اَفَلَا يُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?.”(QS. Al-Anbiya 21:30)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa alam semesta pada asalnya adalah satu kesatuan yang utuh, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah bagian dari proses penciptaan yang lebih besar. Di sini, Allahﷻ mengisyaratkan tentang hukum-hukum yang mengatur kosmos, yang seiring waktu manusia akan temukan, meskipun dalam batasan-batasan kemampuan pengetahuan mereka.1

Dalam sains, teori tentang asal-usul alam semesta, yang dikenal dengan Big Bang Theory, memberikan perspektif yang menarik. Teori ini menjelaskan bahwa sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, alam semesta bermula dari suatu singularitas, titik yang memiliki kepadatan dan suhu tak terhingga, yang kemudian mengembang dan mendingin, membentuk galaksi, bintang, dan planet yang ada sekarang. Konsep ini, meskipun berfokus pada penjelasan materialistik, mengarah pada pemahaman bahwa alam semesta memiliki suatu titik awal, yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

قُلْ لَّنۡ يُّصِيۡبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوۡلٰٮنَا ‌ ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”(QS. At-Tawbah 9:51)

Dari ayat ini, kita diperingatkan bahwa meskipun kita mengkaji dan memahami hukum-hukum alam semesta, pada akhirnya kita akan menemui sebuah misteri yang hanya bisa dijelaskan dengan pengakuan terhadap kekuasaan-Nya.1

Apabila kita mengamati konsep alam semesta ini lebih dalam, kita akan menyadari bahwa ada keselarasan yang mendalam antara pandangan Al-Qur’an dan sains. Dalam sains, kita melihat keteraturan kosmos yang didasarkan pada hukum-hukum alam, yang membawa kita untuk memahami dunia ini sebagai sesuatu yang terstruktur dengan sangat tepat. Namun, pada saat yang sama, Al-Qur’an mengajak kita untuk merenung lebih jauh, bahwa keteraturan tersebut adalah manifestasi dari kebesaran Tuhan yang tiada tara, yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar keberadaan fisik. Dalam Al-Qur’an, Allahﷻ berfirman,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِىۡ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوٰى عَلَى الۡعَرۡشِيُغۡشِى الَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهٗ حَثِيۡثًا ۙ وَّالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُوۡمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمۡرِهٖ ؕ اَلَالَـهُ الۡخَـلۡقُ وَالۡاَمۡرُ‌ ؕ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الۡعٰلَمِيۡنَ

Artinya: “Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Ar-A’raf 7:54)

Ayat ini, dalam konteksnya, menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa tujuan, melainkan merupakan sebuah kesatuan yang tak terpisahkan, yang berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.1

Melalui pemahaman ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa alam semesta, baik dalam perspektif Al-Qur’an maupun sains modern, adalah sebuah entitas yang tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Alam semesta adalah sebuah harmoni yang menggabungkan hukum-hukum alam yang dapat dipelajari dengan sains, tetapi pada saat yang sama juga mengandung dimensi spiritual yang mengingatkan kita akan keterhubungan kita dengan Pencipta. Dalam memahami keduanya, kita diajak untuk merenung tentang keteraturan kosmos sebagai bukti kebesaran Tuhan, serta batasan-batasan pemahaman manusia yang terus berkembang dalam mengejar pengetahuan.3

Referensi:

[1] Ünal, A. (2008). The Qur’an with Annotated Interpretation in Modern English. Tughra Books.

[2] Carroll, S. (2016). The Big Picture: On the Origins of Life, Meaning, and the Universe. Dutton.

[3] Hawking, S. (1988). A Brief History of Time. Bantam Books.

mengembangkandiri.com (15)

ILMU MEKANIKA DALAM BINGKAI PABRIK ILAHI

Alam semesta ini adalah mahakarya Pabrik Ilahi, tempat segala sesuatu bekerja dalam keteraturan yang sempurna. Sebagaimana ilmu mekanika mengajarkan tentang gerak, gaya, dan interaksi benda-benda di dunia fisik, alam semesta juga mengikuti hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Dalam kerangka ini, manusia diajak untuk merenungi posisinya dalam sistem yang lebih besar, di mana segala sesuatu memiliki peran yang saling mendukung. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

وَمَا خَلَقۡنَا السَّمَآءَ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَاطِلًا

Artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia” (QS. Sad [38] : 27).

Menegaskan bahwa setiap elemen dalam alam semesta ini memiliki tujuan yang jelas dan tidak diciptakan secara kebetulan. Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan yang luhur, setiap makhluk dan peristiwa memiliki hikmah dan peranannya masing-masing dalam mewujudkan kebesaran-Nya. Bumi, langit, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya adalah bagian dari sistem yang saling terkait, yang berfungsi dengan sangat teratur. Bahkan manusia, sebagai ciptaan yang paling mulia, diciptakan untuk mengenal Tuhan, menjaga bumi, dan melaksanakan tugas sebagai khalifah. Oleh karena itu, setiap tindakan kita di dunia ini juga memiliki tujuan dan tanggung jawab, yang harus kita jalani dengan penuh kesadaran akan peran kita dalam sistem ciptaan yang lebih besar.

Bumi, sebagai bagian kecil dari sistem kosmik–segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta, termasuk ruang, waktu, bintang, planet, galaksi, dan segala bentuk kehidupan yang ada di luar bumi–ini, menjadi tempat bagi manusia untuk memahami makna hidup melalui interaksi dengan hukum-hukum alam. Tanah, air, dan udara bekerja sama untuk menumbuhkan kehidupan, sebagaimana mekanika mesin yang membutuhkan roda-roda gigi yang berputar harmonis. Namun, ketika manusia melupakan posisi ini dan melanggar keseimbangan yang telah Allah tetapkan, konsekuensinya pasti terjadi. Prinsip ini mengingatkan kita pada tulisan Ustadz Badiuzzaman Said Nursi dalam Al-Kalimat, bahwa setiap makhluk diciptakan untuk memanifestasikan nama-nama Allah yang agung. Dalam keteraturan alam, ada tanda-tanda keagungan-Nya, dan dalam kekacauan yang dibuat manusia, ada teguran Ilahi.

Dalam kehidupan modern, salah satu tantangan besar adalah kegalauan generasi muda. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kali kehilangan arah. Kegalauan ini bisa dilihat sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam mekanika kehidupan. Generasi muda seperti mesin yang kehilangan pelumasnya; ia tetap bergerak tetapi dengan suara gesekan yang memekakkan. Kondisi tersebut terjadi akibat kegelisahan yang berasal dari kurangnya kesadaran akan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ustadz Badiuzzaman Said Nursi menegaskan bahwa jiwa manusia hanya akan tenang ketika ia kembali pada fitrahnya, yaitu mengenali dirinya sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya pada Allah.

Namun, dibalik kegalauan ini tersimpan potensi besar. Generasi muda memiliki kekuatan untuk menjadi “roda penggerak” dalam sistem kehidupan yang lebih baik, asalkan mereka menemukan keseimbangan dalam hati dan pikirannya. Mekanika Pabrik Ilahi mengajarkan bahwa setiap bagian, sekecil apa pun, memiliki peran vital. Begitu pula dengan setiap individu. Ketika mereka menemukan hubungan dengan Allah, mereka akan mampu melihat dunia sebagai tempat untuk menjalankan tugas-tugas mulia, bukan sekadar ruang kosong yang diisi dengan hiburan tanpa ilmu.

Pesan utama yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju keseimbangan. Sebagaimana roda mesin berputar dalam harmoni, manusia harus menemukan sinkronisasi antara akal, hati, dan amal. Kehidupan dunia ibarat ladang, tempat manusia menanam benih amal untuk dipanen di akhirat. Maka, generasi muda harus menyadari bahwa setiap keputusan, tindakan, dan langkah mereka adalah bagian dari mekanika besar yang memengaruhi kehidupan di masa depan.

Ketika kita merenungkan bagaimana sebuah mesin bekerja dengan sempurna, kita seharusnya lebih kagum pada sistem alam yang diciptakan oleh Allah. Apakah kita telah berperan sebagai “roda gigi” yang mendukung harmoni Pabrik Ilahi ini, atau justru menjadi bagian yang memperlambat geraknya? Allah berfirman,

الَّذِىۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا‌ ؕ مَا تَرٰى فِىۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ‌ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَۙهَلۡ تَرٰى مِنۡ فُطُوۡرٍ

Artinya: “Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (QS. Al-Mulk [67] : 3).

Ayat ini menjelaskan bahwa ciptaan Allah, baik langit maupun seluruh alam semesta, diciptakan dengan kesempurnaan yang tidak ada cacatnya. Allah menantang manusia untuk memperhatikan dan merenungkan kebesaran ciptaan-Nya, yang bekerja dalam keseimbangan yang luar biasa. Setiap elemen alam, dari yang paling besar hingga yang terkecil, berfungsi dengan cara yang sangat teratur dan sesuai dengan hukum-Nya. Ketidakseimbangan atau kerusakan hanya terjadi ketika manusia mengabaikan hukum-hukum ini atau merusak keseimbangan tersebut. Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan peran kita dalam menjaga keharmonisan alam dan mempertanyakan apakah kita sudah berperan sesuai dengan kehendak Allah atau malah menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem-Nya.

Semoga kita mampu mengambil peran yang seharusnya, semoga kita mampu menjaga keseimbangan ini, dan kembali pada fitrah sebagai makhluk yang tunduk kepada-Nya. Sebab, hanya dengan memahami mekanika kehidupan yang telah ditetapkan Allah, kita dapat meraih kedamaian sejati dan menunaikan tugas sebagai hamba dan khalifah di bumi.

 

Referensi:

Al-Qur’anul Karim. (n.d.). QS. Sad: 27 & QS. Al-Mulk: 3.

Nursi, B. S. (2008). Al-Kalimat (Terj. A. Izzudin). Risale-i Nur Press.

Newton, I. (1999). Mathematical principles of natural philosophy (A. Motte, Trans.). University of California Press.

mengembangkandiri.com (11)

HADAPILAH KETAKUTAN DENGAN KEBERANIAN

Jangan biarkan diri terperangkap dalam rasa takut yang berlebihan. Jika kita selalu membiarkan diri terjebak dalam ketakutan, maka kita hanya akan memicu hal yang kita takutkan itu menjadi nyata. Dalam semangat berani, ada pesan mendalam dari para tokoh yang memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan keberanian, seperti yang diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi. Beliau menegaskan, “Jikalau pun seluruh kekuatan dunia digunakan untuk melawan saya, kepala yang rela dikorbankan demi kebenaran Al-Qur’an ini tak akan menyerah kepada para Zindik.” Ungkapan ini mengajak kita untuk tak gentar, meski menghadapi ancaman yang tampaknya besar dan tak terkalahkan.

Baniuzzaman Said Nursi dengan lantang menyampaikan bahwa kematian bukanlah akhir dari perjuangan, justru sebaliknya, ia akan menjadi ledakan semangat yang menghancurkan kezaliman. “Setelah membunuh satu orang yang setia, kalian tidak akan hidup tenang. Kematian saya akan meledak seperti bom yang menghancurkan kepada kalian. Jika kalian ingin hidup tenang, jangan ganggu saya,” ungkapnya. Pesan ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak takut menghadapi kezaliman dan ancaman, tetapi sebaliknya, hadapi dengan keyakinan dan keteguhan iman. Ketahuilah, pembalasan dari Allah bagi ketidakadilan akan datang, bahkan dengan kekuatan yang berkali-kali lipat.

Harapan beliau pada Allah adalah bahwa kematian dapat lebih melayani agama daripada hidupnya sendiri. Ucapan ini menegaskan pengorbanan total, bahkan hingga titik terakhir, demi keyakinan. Semangat seperti ini harus diwarisi oleh generasi setelahnya, untuk tidak takut atau gentar melawan ketidakadilan dan kezaliman. Keberanian yang terpancar dalam kata-kata tersebut menyiratkan bahwa setiap dari kita memiliki potensi untuk menjadi suara zaman, menghadapi tantangan dengan keteguhan yang kuat.

Ketika kota Istanbul diduduki, tampak di tengah-tengah tentara penjajah seorang uskup Gereja Anglikan dengan keangkuhan dan pertanyaan menantang kepada umat Islam. Pada saat seperti inilah seorang “Pahlawan Zaman” muncul dan mengangkat suaranya dengan penuh keteguhan. Dalam kondisi di mana ketangguhan dan perlawanan mutlak diperlukan, beliau memberikan perlawanan yang nyata.

Bisa saja, dalam keadaan penuh tekanan dan intimidasi, Badiuzzaman memilih untuk menjawab tantangan itu dengan tindakan, yaitu meludah. Meludah bukan pada orang, tetapi pada wajah ketakutan, pada wajah ancaman, pada wajah pengusiran, kehancuran, perbudakan, dan kezaliman. Sebuah simbol dari ketidakpatuhan terhadap ancaman yang menindas. Inilah bentuk keberanian dan keyakinan yang luar biasa, bahwa rasa takut harus dilawan, bukan ditakuti.

Siapakah yang benar di antara mereka yang berjuang untuk kebenaran dan mereka yang menyebarkan kezaliman? Hanya waktu yang akan menunjukkan kebenarannya. Waktu tidak pernah berdusta; ia adalah saksi yang selalu akurat dalam menafsirkan hasil dari setiap tindakan. Keberanian yang dibarengi dengan kebenaran akan tetap bersinar, meskipun mungkin harus melewati jalan panjang.

Percayalah pada tafsiran waktu, karena waktu adalah manifestasi dari kehendak, kekuasaan, perlindungan, dan pertolongan Allah. Semoga Allah tidak mencabut keberanian dan keyakinan itu dari kita semua, karena keberanian adalah kunci untuk mengalahkan ketakutan dan menghadapi segala rintangan dengan hati yang mantap. Aamiin.