mengembangkandiri.com-jembatan

Kisah Jembatan yang Terbangun Sendiri

Bisakah sebuah jembatan membangun dirinya sendiri?

Saat Imam Abu Hanifah masih muda, datang seorang saudagar majusi mengunjungi kota Basrah untuk berdagang. Si pedagang gemar memprovokasi orang-orang muslim dengan ucapannya, “Aku menyembah api. Api itu nampak, maka aku percaya padanya. Tampakkanlah kepadaku Allah yang kalian sembah itu. Kalian jelas tidak dapat melakukannya karena Dia tidak ada. Bawalah ulama-ulama kalian ke sini dan aku akan membuktikan bahwa Dia tidak ada.”  

Beberapa  masyarakat muslim di wilayah itu menantang si pedagang dengan berkata, “Jika Anda bisa membuat Abu Hanifah sepakat dengan ucapan Anda atau Anda berhasil mematahkan argumen-argumen Beliau, maka kami akan membawakan ulama-ulama ternama ke sini untuk beradu argumen dengan Anda.”

Melihat Abu Hanifa yang masih begitu muda, orang majusi itu meremehkannya dengan berkata: “Seorang anak kecil ini?! Aku tidak akan membuang waktuku dengan mendebat anak kecil!”

Akan tetapi, disebabkan oleh dorongan masyarakat di sana maka si majusi dan Abu Hanifah memutuskan untuk berdebat di masjid esok hari selanjutnya.

Ternyata Abu Hanifah datang terlambat hari itu, sehingga si majusi mengolok-oloknya: “Lihatlah, dimana anak kecil kemarin? dia takut untuk datang ke sini. Aku tidak ingin berdebat dengan anak-anak. Cepat panggil ulama-ulama besar kalian ke sini!”

Semua yang hadir sedikit panik dan khawatir. Tiba-tiba, Abu Hanifah akhirnya datang dengan pakaian yang basah kuyup karena keringatnya.

“Saya mohon maaf karena terlambat! Saya tadi sedang berada di seberang sungai. Tidak ada perahu yang bisa saya pakai untuk menyeberanginya. Maka saya perintahkan pepohonan di tepi sungai untuk berubah menjadi sebuah perahu agar saya dapat menyeberang. Pohon-pohon itu menuruti perintah saya, berubah menjadi perahu, dan saya akhirnya bisa datang ke tempat ini. Itulah mengapa saya terlambat. Saya mohon maaf!”

Sambil tertawa terbahak-bahak, si majusi berucap: “Apakah kalian mendengar apa yang anak kurang waras ini kisahkan kepada kita? Bagaimana mungkin pohon terangkai menjadi sebuah perahu dengan sendirinya?”

Mendengar pendapat orang itu, Abu Hanifah menjawab: “Anda berasumsi bahwa sebuah perahu tidak mungkin dapat dibuat tanpa ada pembuatnya. Lalu, bagaimana mungkin Anda percaya bahwa seluruh semesta bisa eksis tanpa ada pembuatnya?

Masyarakat yang hadir sepakat dengan yang Abu Hanifah jelaskan. Hanya saja, si majusi masih berargumen:

“Lalu, mengapa Allah tidak dapat dilihat? Semua benda yang eksis pasti terlihat.”

Abu Hanifah lalu menanyai orang itu: “Apakah Anda mempunyai akal?”

“Sudah pasti punya,” jawabnya. 

“Kalau begitu tunjukkanlah pada kami!” desak Abu Hanifah.

Seketika dia terpaksa mengakui, “Aku tidak bisa menunjukkannya.”

Balas Abu Hanifah: “Mungkin Anda tidak mempunyainya! Ya, beberapa entitas seperti ruh dan akal tidak bisa kita lihat, tetapi eksistensinya dapat kita rasakan, artinya tidak semua entitas itu harus dapat dilihat oleh mata manusia.”

Demi menunjukkan kesepahaman mereka dengan penjelasan Abu Hanifah, masyarakat  yang hadir menyorakan syahadat dengan lantang.

Sedang lelaki majusi tadi menjadi semakin marah. Dia bertanya: “Allah sedang apa saat ini?”

“Turunlah dari mimbar dan saya akan menjawab pernyataan Anda setelah saya naik ke sana,” balas Abu Hanifah.

Ketika Beliau sampai di mimbar, Abu Hanifah menjelaskan: “Tepat saat ini Allah sedang membuat seorang bodoh sepertimu turun dari mimbar lalu menaikkan anak kecil sepertiku untuk memberi pelajaran kepada semua orang.”

Menyadari kecerdasan Abu Hanifah, saudagar itupun menyerah.

Dia berterima kasih kepada Abu Hanifah dan masuk Islam saat itu juga yang disaksikan oleh semua orang yang hadir.

Apakah Alam Semesta Tercipta dengan Sendirinya, secara Kebetulan?

Ada sistem dan keteraturan dalam tubuh manusia sehingga tidak satupun sel yang dapat bertindak dengan sendirinya. Sistem seperti ini memperlihatkan kesinambungan dan kolaborasi yang sungguh sempurna. Seolah-olah setiap sel memiliki fungsi seperti makhluk yang bernyawa dan cerdas.

Mari kita amati satu buah sel saja sebagai contoh. Jika kita tidak setuju bahwa sel adalah pelayan Al-Qawiy (Yang Maha Kuat), dengan kata lain, sama saja dengan kita setuju dengan pernyataan ini: Setiap sel makhluk hidup dapat melihat dan sadar terhadap tubuh tempatnya menetap dan paham dengan segala aturan dan bahan pembuat tubuh tersebut.

Jika kita amati sistem pencernaan, misal, nampak semua organ dari mulut hingga usus besar bekerja dalam harmoni yang sempurna. Ditambah lagi, berdasarkan hubungannya dengan semesta, sistem tersebut bahkan memiliki mata yang dapat melihat seluruh semesta dan akal yang paham akan struktur, tugas, dan keseimbangan seluruh tubuh.

Jadi bisa dikatakan bahwa, berdasarkan perhitungan ini, sebuah sel harus memiliki akal setingkat jenius dan kekuatan setingkat Tuhan.

Maka, manusia yang menolak adanya Pencipta Tunggal akan jatuh ke dalam situasi bahwa dirinya -diharuskan- menerima eksistensi tuhan yang banyaknya sejumlah seluruh sel di semesta.

Sungguh tubuh manusia itu seperti istana dengan seribu kubah, setiap kubahnya ditopang oleh ratusan batu yang saling mendukung.

Tubuh kita mempunyai kualitas yang ribuan kali lebih menakjubkan daripada sebuah istana termegah sekalipun, seolah-olah ia diperbaharui secara terus-menerus. Jika kita beranggapan bahwa sel-sel yang menyusun tubuh manusia bukanlah pelayan dari Zat Yang Tanpa Batas, maka sebuah sel harus menguasai sel-sel lain dan selalu mengikat mereka. Dengan kata lain, setiap sel harus memerintah sel-sel lain untuk memastikan sel-sel itu berpindah ke tempat yang tepat, serta, di saat yang sama sel itu yang memerintah juga ikut berpindah ke tempat yang menurut sel lain adalah tempat yang tepat.

Jelas hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, sebab masing-masing sel akan bergerak berdasarkan pemikiran yang berbeda-beda.

mengembangkandiri-cinta-kekuatan

Cintaku Kekuatan

Kekuatan Cinta

Karya Pembaca: Mahir Martin

“Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal.”

Ini adalah kalimat yang dikutip dari perkataan ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang tertulis pada salah satu buku karangannya.

Cinta yang dimaksud Hojaefendi ini, bukanlah cinta yang berisi roman picisan atau cinta yang mengedepankan nafsu jasmaniyah belaka. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang memiliki dimensi yang lebih luas dan dalam.

Dalam kutipan, dikatakan bahwa cinta dapat menjadi kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Artinya, cinta bisa dijadikan alat dan cara yang dapat menyelesaikan segala problematika, dan segala permasalahan yang ada di dunia.

Permasalahan Dunia

Dunia yang kita tinggali adalah memang dunia yang tak lepas dari problematika dan permasalahan.

Setiap zaman memiliki permasalahan yang datangnya bertubi-tubi menghantam dunia kita. Dari waktu ke waktu seolah permasalahan tak pernah berhenti datang ke dalam kehidupan manusia.

Anehnya, manusia itu sendiri yang selalu menjadi aktor utama pada permasalahan yang terjadi. Sayangnya banyak manusia yang tidak menyadarinya.

Menurut ustad Bediuzzaman Said Nursi, setidaknya ada tiga permasalahan besar yang ada di dunia kita saat ini, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan.

Ketiga permasalahan ini saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membuat permasalahan semakin sulit dipecahkan bak benang kusut yang sulit untuk diurai.

Misalnya saja permasalahan kebodohan. Kebodohan bukan disebabkan karena tidak adanya pendidikan, tetapi hakikat pendidikan yang tidak dimaknai dengan benar. Di dalam institusi pendidikan modern sekarang jarang sekali kita dapatkan kecintaan yang mendalam kepada ilmu pengetahuan. Akhirnya, pendidikan hanya menjadi formalitas belaka.

Pendidikan yang hanya menjadi formalitas, pada akhirnya tidak akan mampu  mewujudkan generasi yang hidup dengan rasa cinta. Yang terjadi adalah ilmu pengetahuan hanya dijadikan alat untuk melakukan kerusakan di muka bumi yang diawali dengan rusaknya generasi yang ada di dalamnya.

Hal yang sama terjadi pada permasalahan kemiskinan. Kemiskinan bukan disebabkan karena kekurangan materi atau harta kekayaan, tetapi yang terjadi adalah kemiskinan akhlak atau degradasi moral yang terjadi pada generasi. Akibatnya, nilai-nilai kebaikan yang seharusnya diusung tinggi menjadi barang mahal yang sulit untuk didapatkan. Cinta kepada kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan menjadi sebuah utopia yang sulit untuk bisa digapai.

Nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang tercermin dari rasa saling tolong-menolong, bantu-membantu, dan saling memberikan perhatian antar sesama semakin jarang dilakukan dan sering terlupakan. Kini, yang selalu dikedepankan adalah hanya ego pribadi dan golongan. Prinsipnya, asal diri sendiri senang dan bahagia, maka tujuan hidup telah tercapai dan tidak perlu lagi memikirkan yang lain.

Begitu juga halnya dengan permasalahan perpecahan, setali tiga uang dengan kebodohan dan kemiskinan. Perpecahan tidak terjadi karena disebabkan adanya konflik atau konfrontasi, tetapi perpecahan terjadi pada dimensi pemikiran, ideologi, dan sudut pandang. Meskipun sekelompok orang berasal dari keluarga yang sama, dari suku yang sama, dan disatukan dalam bangsa dan negara yang sama, terkadang perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan.

Perpecahan seperti ini hanya bisa diatasi dengan komunikasi, dialog, dan adanya kesepakatan bersama. Perbedaan pemikiran, ideologi, dan sudut pandang harus bisa dipersatukan demi hadirnya sebuah kedamaian dalam kehidupan. Semua itu harus dilandasi dengan rasa cinta perdamaian yang seharusnya ada pada setiap benak masyarakat.

Revolusi Mental

Merujuk pada uraian-uraian tersebut, maka problematika dunia, berupa kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan sebenarnya tidak terjadi pada dimensi fisiknya, tetapi terjadi pada dimensi mental. Oleh karenanya, solusi yang tepat untuk mengatasinya adalah dengan adanya revolusi mental.

Revolusi mental yang akan membawa seseorang memiliki rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kemanusiaan, dan cinta perdamaian.

Ketiga rasa cinta inilah yang akan menjadi kekuatan dahsyat yang bisa melawan dan mengatasi semua permasalahan yang terjadi di dunia saat ini, seperti halnya dikatakan Hojaefendi.

Ketiga rasa cinta itu bisa muncul dari rasa keprihatinan atau kesedihan mendalam terhadap permasalahan manusia di dunia. Keprihatinan ini didasari oleh rasa cinta kita kepada manusia. Jadi, rasa cinta kepada manusia akan menyebabkan timbulnya keprihatinan, dan akhirnya memunculkan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Dari pembahasan ini, dapat kita pahami bahwa inti dari revolusi mental adalah cinta. Cinta yang memiliki dimensi yang sangat luas dan dalam. Cinta yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Cinta yang merasuki semua sendi kehidupan. Cinta yang apinya harus selalu dihidupkan di dalam sanubari masyarakat.

Rasa cinta yang seperti ini akan timbul dari sebuah mental yang mengedepankan rasa cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan yang seharusnya menjadi akar dari sebuah pohon cinta yang memiliki cabang dan ranting yang dialiri oleh rasa cinta. Pohon cinta ini yang akan memberikan buah cinta yang bisa kita nikmati bersama.

Sebuah Refleksi

Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi juga pernah berkata, “Memang benar, tanpa memperhatikan Allah, cinta apapun terhadap obyek apapun akan sia-sia, tidak menjanjikan, patut diragukan, dan tak menghasilkan apa-apa. Di atas segalanya, orang yang beriman harus mencintai-Nya, dan menyukai orang lain hanya karena mereka adalah manifestasi yang penuh warna dan refleksi dari nama dan sifat-Nya.”

Ya, sangat benar yang dikatakan beliau. Rasa cinta yang tertinggi, yang pertama dan utama, adalah rasa cinta kepada-Nya. Rasa cinta inilah yang seharusnya bisa dibangkitkan kembali di dalam kehidupan masyarakat.

Alhasil, cinta memang memiliki kekuatan. Apalagi jika rasa cinta tersebut didasari oleh keprihatinan dan kesedihan yang mendalam atas sebuah permasalahan, maka rasa cinta akan semakin kuat terasa.

Namun, yang membawa kekuatan cinta bukanlah cinta itu sendiri, tetapi cinta yang diarahkan kepada Sang Pencipta. Cinta dari-Nya, cinta untuk-Nya, cinta karena-Nya, dan cinta kepada-Nya.

mengembangkandiri-pemuda

Demi Pemuda

Bagi mereka yang ingin memprediksi masa depan sebuah bangsa, bisa dengan mudah dan akurat mengamati sistem pendidikan yang diajarkan ke generasi mudanya.


Nafsu layaknya manisan, dan kebaikan seperti makanan yang kadang sedikit asin bahkan masam. Jikalau pemuda diberikan pilihan, yang mana akan mereka lebih sukai? Karena itulah, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan mereka menjadi sahabat bagi kebaikan dan musuh dari kebiasaan buruk dan tak bermoral.


Sampai kita menyelamatkan generasi muda kita melalui pendidikan, mereka masih akan terus tertawan oleh lingkungan, nafsu serta kesenangan dunia. Mereka hanyut tanpa tujuan, terpengaruh oleh nafsu dan jauh dari ilmu dan akal budi. Sebenarnya, mereka mampu menjadi contoh sebagai pemuda yang gagah berani yang berprinsip dan berjiwa kebangsaan, namun, hanya jika pendidikan yang mereka tempuh mampu merawat potensi mereka dan mengembangkannya dengan cermat demi masa depan.


Bayangkan, semisal masyarakat sebagai sebuah cangkir terbuat dari kristal, dan generasi mudanya adalah cairan yang dituangkan kedalamnya. Perhatikan bahwa cairan mengikuti bentuk dan warna wadahnya. Namun disisi lain, apabila ada kelompok dengan pemikiran yang melenceng menjerumuskan para pemuda untuk patuh kepada mereka ketimbang kebenaran sejati. Apakah orang seperti mereka tak pernah bertanya ke dalam benaknya sendiri? Bukankah mereka seharusnya juga berada dalam jalan kebenaran?


Maju atau mundurnya sebuah bangsa tergantung pada semangat dan kesadaran pada bidang pendidikan yang diberikan kepada para generasi muda. Bangsa yang berhasil membangun generasi mudanya dengan baik, akan selalu siap untuk maju, sedangkan bangsa yang gagal dalam mendidik generasi mudanya, akan sadar bahwa mustahil untuk maju, bahkan mustahil hanya untuk mengambil satu langkah kedepan.


Hanya sedikit perhatian yang kita berikan tantang pentingnya nilai-nilai budaya dalam pendidikan, yang sebenarnya merupakan intisari dari pendidikan. Saat kita sudah sadar dan memberikan porsinya dengan tepat, kita akan meraih tujuan utama pendidikan.


Generasi muda adalah sumber tenaga, kekuakatan dan kecerdasan masa depan suatu bangsa. Jika dilatih dan dididik dengan tepat, mereka bisa menjadi “pahlawan”, yang menghadapi rintangan dan yang berpemikiran cemerlang sebagai cahaya bagi hati dan kedamaian dunia.

mengembangkandiri-iman

Bagaimana Imanmu?

Hakikat Iman, Apa itu Iman?

Iman secara bahasa berarti percaya atau yakin. Adapun secara istilah berarti percaya pada sesuatu tanpa ragu-ragu, memberikan keyakinan,  menjamin keselamatan dan keamanan orang lain, serta dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan jujur.

Dalam konteks agama, iman bermakna keyakinan dengan sepenuh hati atas keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kenabian Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam,  beserta risalah yang beliau bawa.

Tingkatan Iman

Ulama membagi iman dalam dua tingkatan, yaitu iman ijmali dan iman tafsili. Iman  ijmali bermakna mengimani Allah secara garis besar melalui risalah kenabian. Dengan kata lain, ucapan syahadat, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, merupakan bentuk iman ijmali.

Iman ijmali yang merupakan rukun Islam pertama tak lain adalah tingkatan pertama keimanan seorang hamba. Perlu dicatat bahwa seseorang memang telah dianggap sebagai mukmin jika sekadar beriman secara ijmali. Kendati demikian, ia diwajibkan mempelajari dan mengamalkan pilar keimanan lainnya beserta syariat agama.

Di sisi lain, iman tafsili, beriman secara komprehensif, bermakna mengimani Allah beserta rukun iman lainnya secara mendalam. Termasuk pula semua ajaran Rasulullah. Iman tafsili terwujud dalam rukun iman dan rukun Islam. Dalam cakupan yang lebih luas, seseorang yang beriman kepada Allah secara tafsili akan berusaha melaksanakan perintah-Nya, seperti shalat fardu, puasa, sedekah, dan haji sekaligus menjauhi larangan-Nya seperti minum minuman keras, berjudi, dan bermaksiat.

Seorang hamba, tanpa terkecuali, harus mengamalkan iman tafsili dalam kehidupan kesehariannya. Seorang kafir akan mudah mengusik keimanan  seseorang melalui tingkat keimanan pertama, yang beriman hanya dalam lisannya. 

Seseorang yang wafat dalam kondisi kalbu penuh dengan iman akan memasuki surga-Nya. Kendati demikian,  keimanan seorang Muslim dapat menjadi lebih tinggi derajatnya dengan keyakinan yang komprehensif (iman tafsili)  yang dibangun di atas fondasi yang kuat.

Ustadz Said Nursi menggambarkan tingkat keimanan seseorang dalam satu cerita berikut:

Mari kita misalkan ada beragam jenis barang-barang antik milik seorang raja atau sultan yang diperjualbelikan di suatu pasar.

Keaslian barang, bahwa barang tersebut adalah milik seorang raja atau sultan, dapat diketahui melalui dua cara.

Yang pertama, percaya secara lugu, berdasarkan penalaran umum, dari perkataan yang ada di khalayak ramai, seperti, “Beragam barang dengan kualitas baik dan jumlah yang banyak seperti ini sudah sewajarnya milik seorang sultan. Tak ada yang lain.”

Akan tetapi, penalaran seperti demikian tidak mampu menghindarkan seseorang dari keraguan.

Misalkan saja ada orang lain lagi yang datang kemudian berkata, “Barang ini sepertinya bukan hanya milik sang sultan, melainkan milik si fulan atau si fulan.” Lantas orang yang berpikir demikian mulai ragu dan akhirnya beralih percaya kepada pemikiran yang baru.

Yang kedua, melalui penalaran secara komprehensif. Seseorang akan memeriksa secara teliti setiap label yang ada di setiap barang, yang dapat membedakan barang asli milik sultan atau milik orang lain. Dengan seperti ini tidak akan ada keraguan dan ketidakpastian sedikitpun.

Tiada seorangpun yang mampu menipu orang yang memiliki level kepercayaan seperti ini.

Seumpama ada lagi seseorang yang datang dan berkata, “Barang ini sebenarnya milik sang sultan dari istana ini dan itu.” Dia pun langsung mampu menimpali, “Anda tidak benar. Barang ini bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain.”

Demikianlah betapa jelasnya perbedaan antara iman ijmali (tingkat dasar) dengan iman tafsili (tingkat komprehensif).

Seseorang dengan iman tingkat dasar mungkin akan berpikiran, “Allah-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, tiada yang lain.”

Namun, orang tersebut tidak terjamin akan terhindar dari segala bentuk keraguan. Adapun jika didatangi orang lain lagi dan dia berkata bahwa, “tidak, Allah tidak menciptakan alam semesta.” dan dijelaskan lebih lanjut dengan pemikiran seperti itu, orang dengan keimanan tingkat dasar ini akan mudah percaya dan menjadi kafir.

Sementara orang dengan tingkat keimanan komprehensif (iman tafsili) tentu akan mentafakuri Allah beserta ciptaan-Nya. Ia akan membuktikan dengan akal dan kalbu bahwa segalanya merupakan ciptaan-Nya. Demikian kuat keimanannya hingga tidak ada keraguan sedikitpun dalam relung kalbunya. Imannya tak akan goyah bahkan di hadapan seorang filsuf ateis durjana.

mengembangkandiri-akhlak-yang-baik

8 Sebab tentang Pentingnya Akhlak yang Baik

Mengapa Akhlak yang Baik Begitu Penting?

“Warisan terbaik yang ditinggalkan orang tua kepada anaknya adalah akhlak yang baik”[1]

Mengapa Akhlak Baik?

Tidak ada agama atau sistem lain yang lebih mementingkan akhlak yang baik selain Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah akhlak yang baik.”

Memiliki akhlak yang baik adalah bukti terbaik yang bisa ditunjukan oleh setiap orang bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Ada banyak hadits (kebiasaan) Nabi SAW yang mendorong perilaku yang baik.

Misalnya, “Yang paling sempurna imannya di antara orang-orang mukmin adalah yang berakhlak baik.”

Nabi SAW, yang menekankan pentingnya perilaku baik di atas iman, menyampaikan bahwa sarana untuk menjadi dekat dengannya adalah dengan berakhlak yang baik. Seperti yang tertuang dalam hadits berikut: “Pada Hari Pembalasan, orang yang paling saya sayangi dan paling dekat dengan saya adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang terbaik.”

Di dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang mendorong akhlak yang baik seperti menepati janji, memaafkan, kerendahan hati, menaati orang tua, amanah, kasih sayang, persaudaraan, kedamaian, ketulusan, kedermawanan, kasih sayang, toleransi, berbicara dengan santun, menjadi orang yang ramah, dan hati yang bersih.

Selain itu, banyak juga ayat-ayat Al-Qur’an tentang menghindari akhlak tercela dan perilaku yang buruk seperti penindasan, kesombongan, kekejaman, keserakahan, keegoisan, kecemburuan, keangkuhan, permusuhan, kecurigaan, pemborosan dan membuat kerusakan, yang juga menandakan bahwa bagaimana sangat diperlukannya iman dan keislaman dalam mewujudkan perilaku dan akhlak yang baik.

Jadi mengapa kita harus berakhlak baik? Kita dapat membahas topik ini dalam beberapa uraian berikut:

  1. Selain ibadah, aqidah Islam sangat mementingkan hubungan sosial, dan tidak mungkin bagi mereka yang tidak memiliki akhlak yang baik untuk menjalankan agamanya dengan sempurna.
  2. Nabi Muhammad SAW merepresentasikan akhlak yang baik. Untuk menjadi penghuni surga, perlu dihiasi dengan akhlak yang baik. Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan bahwa Nabi yang mulia adalah suri tauladan yang paling baik bagi setiap orang beriman. Dalam ayat lain Al-Qur’an mengungkapkan, “Kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (al-Qalam 68:4). Satu-satunya cara seseorang dapat hidup seperti Rasulullah adalah dengan meniru akhlak dan perilakunya yang baik.
  3. Ketika seorang mukmin memiliki akhlak yang baik, ia dapat diangkat ke derajat orang-orang yang muqarrabun. Nabi mulia mendefinisikan hal ini dalam salah satu hadis dengan sabdanya berikut: “Dengan akhlaknya yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat orang yang shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari.” Ini tidak boleh disalahartikan. Ibadah sangat penting dalam hal menampilkan pengabdian kepada Allah. Tetapi di samping itu, seorang mukmin yang hidup dalam suatu masyarakat harus mematuhi perilaku yang diperlukan dalam hubungan antara orang-orang di dalam masyarakat itu. Ketika dia mencapai ini, atau dengan kata lain, ketika dia adalah orang yang berakhlak dan berperilaku baik, maka ibadahnya akan mencapai kesempurnaan.
  4. Memiliki akhlak yang baik adalah sarana yang dengannya seorang mukmin bisa masuk surga. Suatu ketika seorang laki-laki bertanya kepada Nabi yang mulia, tentang perbuatan apa yang paling banyak membawa manusia ke surga, dia menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik”, yang menandakan pentingnya akhlak yang baik diiringi dengan ibadah.
  5. Akhlak yang baik menandakan kesempurnaan dan kedewasaan dalam beragama dan beriman. Nabi yang mulia mengidentifikasi dua karakteristik yang tidak ditemukan pada seorang mukmin—ketamakan dan akhlak yang buruk. Sekali lagi, dia menegaskan bahwa yang terbaik di antara orang-orang beriman dalam hal iman adalah mereka yang berakhlak baik.
  6. Akhlak dan perilaku yang baik juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Dengan kata lain, memiliki akhlak yang baik adalah salah satu bentuk ibadah. Bahkan Nabi SAW mengatakan bahwa bentuk ibadah yang paling sederhana adalah menahan diri dari berbicara yang tidak perlu dan perilaku yang baik.
  7. Menampilkan akhlak yang baik adalah tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini secara jelas dijelaskan dalam hadis yang menyatakan bahwa orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada Hari Pembalasan adalah orang-orang yang berakhlak baik. Ketika Allah mencintai hamba-Nya, Dia memberinya akhlak yang baik.
  8. Akhlak yang baik menghilangkan dosa sebagaimana seperti matahari menghilangkan embun beku: akhlak yang baik mencairkan dosa seperti air mencairkan es. Nabi yang mulia menjelaskan bahwa akhlak yang buruk merusak perbuatan baik seperti halnya cuka merusak madu. Oleh karena itu, kita semua harus membaca doa Nabi SAW: “Ya Tuhan! Saya memohon kepadaMu atas kesehatan, menahan diri, amanah, akhlak yang baik dan ridha terhadap takdir. Wahai Yang Maha Penyayang! Saya memohon kepada-Mu dengan kebaikan dari kasih sayang-Mu.”

[1]Sunan at-Tirmidzi, Birr, 33.

mengembangkandiri-HUT-RI

Nasionalisme, Perjuangan, dan Kemerdekaan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Nasionalisme dan Perjuangan

Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan negara kita. Tahun ini, negara kita telah memasuki usia yang ke-76. Usia 76 tahun kemerdekaan bukanlah usia yang pendek bagi negara kita Indonesia untuk membangun bangsanya.

Banyak hal yang sudah dilakukan bangsa ini dalam rangka mengisi kemerdekaannya. Orang tua ataupun anak muda, laki-laki ataupun perempuan, di kota ataupun di desa, semua bahu-membahu dan berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Kemerdekaan dan Nasionalisme

Atmosfer peringatan HUT kemerdekaan mulai terasa ketika kita memasuki bulan Agustus. Di bulan ini, kita diingatkan lagi dengan nilai-nilai nasionalisme. Nilai-nilai nasionalisme yang tumbuh jauh sebelum diproklamirkannya kemerdekaan negara ini. Nilai-nilai nasionalisme yang masih tetap kita jaga dan lestarikan hingga saat ini.

Sejatinya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga dan merawat nilai-nilai nasionalisme. Misalnya, memasang bendera, umbul-umbul, spanduk, dan baliho bertemakan kemerdekaan menjadi kegiatan rutin yang kita lakukan. Warna merah putih menjadi begitu dominan di sepanjang jalan utama ataupun di gang-gang kecil, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Masyarakat bekerja bakti untuk membuat gapura dan menghias lingkungan sekitar. Semua bekerja sama dan memberikan kontribusi apapun yang bisa dilakukan. Semua dilakukan dengan semangat gotong royong yang memang sudah menjadi ciri khas warisan budaya nenek moyang bangsa ini.

Ya, gotong royong adalah interpretasi dari rasa nasionalisme kita kepada bangsa dan negara. Gotong royong yang didasari persatuan dan kesatuan, kebersamaan, dan persaudaraan. Gotong royong yang telah menjadi bagian dari jati diri bangsa. Gotong royong yang tidak membuka celah terhadap nasionalisme negatif yang justru bisa menghancurkan bangsa dan negara ini.

Nasionalisme negatif biasanya terjadi karena adanya sikap cinta tanah air yang berlebihan. Nasionalisme negatif membuat masyarakat merasa bahwa hanya bangsa dan negaranya yang paling unggul, dan mereka menutup mata terhadap bangsa yang lain. Nasionalisme negatif ini dikenal dengan nama chauvinisme.

Ada banyak contoh dalam sejarah yang menunjukkan bahwa chauvinisme tidak akan bertahan lama. Sebut saja, chauvinisme Adolf Hitler dengan nazi-nya di Jerman, chauvinisme Mussolini dengan fasisme-nya di Italia, ataupun chauvinisme bangsa Jepang ketika menjajah negara-negara jajahannya.

Kemerdekaan dan Perjuangan

Selain nasionalisme, kemerdekaan juga bermakna perjuangan. Perjuangan adalah nilai penting dalam kemerdekaan. Tidak akan ada kemerdekaan tanpa adanya perjuangan. Keduanya menjadi satu kesatuan, berjuang untuk menggapai kemerdekaan.

Peristiwa kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa penting yang diperingati secara seremonial setiap tahunnya. Kemerdekaan memang seremonila, tetapi perjuangan untuk menggapainya seharusnya tidak bermakna seremonial.

Kemerdekaan memang seharusnya bukanlah tujuan utama perjuangan. Perjuangan harus terus dilakukan, ada atau tidak ada kemerdekaan. Berapa banyak pahlawan yang gugur tanpa merasakan manisnya kemerdekaan. Bagi mereka, bisa berjuang dan gugur untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa, sudah menjadi tujuan mulia kehidupan. Bangsa ini menghargai mereka sebagai pahlawan, bukan karena kemerdekaan, tetapi karena perjuangan yang mereka lakukan.

Kini, meskipun bangsa ini sudah merdeka, perjuangan harus tetap dilanjutkan. Kita sebagai penerus para pahlawan, seharusnya bisa terus berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif di bidang yang kita geluti masing-masing.

Misalnya saja, baru-baru ini di Olimpiade Tokyo, kita diperlihatkan dengan perjuangan heroik ganda putri andalan Indonesia Greysia Polii dan Apriani yang berhasil mendapatkan medali emas di perhelatan olahraga terbesar di dunia itu. Perjuangan mereka terasa lebih istimewa karena mereka sebenarnya tidak diunggulkan.

Mereka berhasil menembus batas dan akhirnya mendapatkan hasil terbaik, jauh melampaui apa yang diharapkan dari mereka. Oleh karenanya, begitu banyak apresiasi yang diberikan kepada mereka. Sejatinya, mereka telah menyelamatkan wajah perbulutangkisan Indonesia dengan mempertahankan tradisi emas di Olimpiade disaat yang diunggulkan justru harus berguguran.

Perjuangan Greysia Polii dan Apriani memang luar biasa. Disaat dunia memandang mereka dengan sebelah mata, mereka mampu membalikkan semua prediksi dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menjadi juara. Pastinya, ini diraih dengan persiapan yang matang.

Ya, bagi seseorang yang benar-benar ingin berjuang, segala sesuatunya memang perlu dipersiapkan dengan matang.

Kemerdekaan yang kita dapat 76 tahun lalu, tidak begitu saja didapatkan. Ada persiapan panjang dalam melakukan perjuangan. Begitu juga Greysia Polii dan Apriani. Menjelang olimpiade pastinya mereka sudah berlatih keras dan telah mengeluarkan kemampuannya secara maksimal.

Dalam perjuangan memang perlu adanya persiapan. Persiapan yang bisa dijadikan amunisi ataupun senjata andalan untuk bisa memberikan hasil yang terbaik. Dalam persiapan, diperlukan perencanaan yang matang, strategi yang baik, dan semangat yang kuat untuk melakukan perjuangan. Ketika semua itu dilakukan, maka perjuangan akan berbuah manis. Proses tidak akan mengkhianati hasil yang akan dicapai.

Sebuah Refleksi

Dalam kehidupan, kita akan melihat pola yang sama. Dengan perjuangan, kehidupan pun akan terasa manis. Hidup memang perlu diperjuangkan. Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan dapat dimenangkan.

Ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya pernah menuliskan, “Perjuangan seorang insan bagi agama, bangsa, negara, generasi penerus, dan masa depan adalah sebuah prinsip.”

Ya, perjuangan adalah sebuah prinsip kehidupan yang mendorong kita untuk mengorbankan apapun demi sesuatu yang kita perjuangkan. Apapun rintangannya, kita tak akan pernah berhenti berjuang. Bahkan demi nilai-nilai suci yang kita miliki, bukan hanya harta, terkadang nyawa pun bisa kita berikan.

Disisi lain, perjuangan bagi agama, bangsa, negara, dan generasi penerus di masa depan harus dilakukan secara bersama. Hal ini sejalan dengan nilai gotong royong yang merupakan interpretasi nasionalisme positif yang juga merupakan bagian penting dari makna kemerdekaan.

Alhasil, kemerdekaan memang memiliki banyak makna bagi masyarakat yang mau menghayatinya dan merenunginya. Jiwa nasionalisme dan jiwa-jiwa penuh perjuangan adalah diantaranya. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa jiwa nasionalisme dan perjuangan itu seyogyanya bisa keluar dari dorongan internal dalam diri masyarakat untuk melakukannya.

Dorongan internal yang didasari dengan hati yang dipenuhi dengan niat yang tulus. Niat yang diarahkan hanya untuk Allah SWT semata. Ya, hanya bagi-Nya yang Mahakuasa, yang telah memberikan nikmat kemerdekaan kepada kita.

Mungkin ini adalah bentuk rasa syukur terbaik yang bisa kita lakukan kepada-Nya di hari kemerdekaan yang kita peringati setiap tahunnya.

Merdeka!