Pertolongan-Nya dalam Mengabdi di Jalan-Nya

Allah Azza wa Jalla dalam Al Quran berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS.Ali Imran : 102)

Ayat ini memiliki makna yang begitu dalam.

Semua orang beriman harus memiliki pijakan yang kuat; berusaha menjaga kesucian hati; selalu mengingat makna penciptaan;  sekuat tenaga memenuhi janji pada-Nya.

Senada dengan ayat dalam surat Al-baqarah, “…penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja.” (Al-baqarah : 40)

Kita sudah berjanji untuk mengenal-Nya, mengenalkan-Nya pada insan lainnya, dan menyembah-Nya dengan sebaik-baik penyembahan. Jika janji kita ini terpenuhi, niscaya Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya dan menganugerahkan indahnya surga.

Memiliki pijakan yang kuat memiliki makna tersendiri. Makna tersebut termaktub dalam ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Tidak ada seorang hamba pun yang mampu menolong Allah dan Allah tidak membutuhkan pertolongan dari siapapun. Ayat ini bermakna bahwa kita harus menolong agama Allah dan berjuang untuk mensyiarkan keagungan nama-Nya. Barangsiapa yang menolong agama-Nya pasti akan mendapat ampunan Allah kelak di akhirat. Mereka akan meninggalkan dunia fana ini dengan iman di kalbunya. Allah akan meneguhkan kedudukannya sepanjang hayatnya.

Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak, pihak yang membimbing dan pihak yang dibimbing.

Di akhirat, begitu banyak balasan yang tidak terduga menunggu hamba-hamba yang seperti ini.

Ada satu kisah yang sangat menarik.

Seorang pemuda bernama Safa yang sedang menempuh studinya di Asia Tengah bercerita,

“Saya memiliki seorang teman yang mendapat beasiswa pemerintah. Kita berada di jurusan dan kelas yang sama. Ia lulusan dari sekolah menengah teknik sebelumnya.

Ia tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak perguruan tinggi.

Selama liburan musim panas, ia pulang kampung halaman dan ayahnya merasa anaknya itu telah berubah.

Sang ayah berkata, “Nak, saya pikir, sepertinya disana, semua sudah menjadi terlalu bebas bagimu. Ayah tidak akan mengirimmu kembali lagi ke sana.”

Ia bersikeras agar ayahnya mengizinkannya kembali berkuliah, dengan dalih bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang begitu berarti baginya.

Ayahnya menimpali, “Saya akan mengizinkanmu dengan satu syarat. Kamu harus selalu berbuat baik dan berteman dengan orang-orang saleh, kemudian saya akan mempertimbangkannya.”

Ia pun menerima syarat itu.

Awal semester telah tiba. Ia mendatangiku dan menceritakan segalanya.

Ia meminta agar dapat tinggal bersama di kontrakan saya waktu itu.

“Begitulah syarat ayahku.  Untuk melanjutkan studiku, Aku harus tinggal bersama kalian.” ucapnya.

Saya pun menjawab, “Itu bisa diatur. Namun sebelumnya Aku harus berbicara kepada penghuni yang lainnya.”

Langsung, setelah itu saya menemui teman-teman dan menjelaskan kondisinya. Mereka berpendapat bahwa ia memiliki reputasi yang buruk, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh pada kami. Sekuat apapun saya membujuk teman kontrakan, mereka tetap bersiteguh dengan keputusan tidak menerimanya.

Setiap hari ia terus mengajak saya berbicara, hanya berdua dan bertanya, “Apa yang terjadi? Apakah kamu sudah berbicara dengan mereka?”

Saya terus membuat alasan dengan mengatakan, “Aku akan segera berbicara dengan mereka.”

Saya pikir perlahan-lahan ia akan menyerah. Namun, hal itu tidak terjadi.

Saya pun sedikit lebih memaksa penghuni kontrakan.

Salah seorang menjawab, “Jika memang benar kamu begitu ingin membantunya, mengapa kamu tidak pergi saja dan tinggal bersamanya.”

Saya pun setuju. Saya pergi bersama beberapa teman yang sepemahaman dan menyewa sebuah rumah. Dengan begitu, saya dapat mengajaknya untuk tinggal bersama kami.

Tidak lama kemudian, sikap dan perilaku teman saya tadi mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ia meninggalkan beberapa kebiasaan buruknya dan mulai memperbaiki diri. Tidak hanya itu, kini ia menjadi sosok baru, yang raut wajah dan rohaninya seperti memancarkan cahaya. Semua tetangga dan teman kami menyukainya.

Suatu hari ia menderita sakit parah. Kami pun membawanya ke rumah sakit terdekat. Setibanya di sana, dokter berkata, “Kalian sudah terlambat, usus buntunya sudah pecah.”

Entah mengapa ia tidak menyadari penyakit ini. Kebocoran ususnya sudah menyebabkan luka yang serius di organ lainnya. Tidak ada harapan baginya. Dokter pun menyarankan agar kami memberi tahu keluarganya untuk mendampinginya untuk yang terakhir kali. Sang ayah tiba dan melihatnya menghembuskan napas terakhir.

Beberapa bulan kemudian, saya bermimpi bertemu dengannya.

Ia sedang duduk beralaskan tanah menikmati teh sementara kami saling berbincang-bincang. Ia duduk di sebelah saya. Di sebelah saya juga terdapat teman yang lain.

Saya bertanya, “Bagaimana mereka memperlakukanmu disana?”

“Aku diperlakukan seperti saat bersama diantara kalian. Mereka tidak menjerumuskan orang-orang sepertimu ke dalam jurang neraka. Itulah mengapa aku juga dianugerahi Surga.”

Saya pun terbangun, dan menangis tanpa henti.

Sang Bediuzzaman menyampaikan kabar gembira kepada kita semua. Dalam kondisi zaman dan era seperti ini, siapa saja yang mengabdi kepada iman dan Al Quran niscaya ia akan ditolong oleh-Nya.

Beliau menjuluki mereka yang berkhidmah sebagai “Orang-orang beriman dan penyelamat”

Allah berkuasa untuk membalas sekecil apapun usaha dari hamba yang berjuang di jalan-Nya dengan imbalan yang lebih besar. Dialah Yang Maha Kuasa. Pintu ampunan selalu terbuka lebar kepada siapa pun yang mengetuknya dengan penuh keikhlasan. Selama mereka tidak menyimpang dari jalan cahaya, rombongan keabadian, keadilan dan kebenaran.

mengembangkandiri-tahun-baru-niat-baru

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Karya Pembaca: Mahir Martin

Niat Dalam Beragama dan Berorganisasi

Dalam agama, niat merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami. Ketika seseorang melakukan ibadah, maka ibadah harus diawali dengan niat. Meskipun ada perbedaan bagaimana cara mengucapkan atau melafalkan niat, tetapi tak ada yang menafikan pentingnya kedudukan niat dalam ibadah.

Terkait niat ini, Rasulullah SAW pernah bersabda,

”Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan).

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Niat, tidak hanya penting dalam amalan beragama. Dalam berorganisasi niat juga memiliki peran yang sangat penting. Mungkin sebagian kita tidak menyadarinya. Hal ini disebabkan karena biasanya kita terlalu fokus pada hal-hal yang bersifat formal. Dan niat bukan suatu hal yang formal untuk dilakukan.

Sebagai contoh, dalam berorganisasi, formalnya ada tiga fase penting yang perlu dilewati. Ada fase perencanaan (planning), fase aksi (action), dan fase evaluasi (evaluation). Berbagai macam teori, metode, dan model tentang ketiga hal tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita bisa mempelajarinya baik melalui buku, internet, maupun sumber-sumber lainnya.

Lantas, apa korelasi niat dengan rencana, aksi, dan evaluasi?

Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan perkataan ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang dikutip dari bukunya yang berjudul Islam Rahmatan Lil Alamin.

Beliau berkata, “Segala sesuatu bermula dalam bentuk gambaran di dalam benak, yang kemudian berkembang menjadi rencana, kemudian beralih kepada upaya untuk mewujudkannya dengan tekad dan kesungguhan.”

Artinya, sebuah rencana harus didahului oleh bentuk gambaran yang ada di dalam benak. Bentuk gambaran dalam benak inilah yang diartikan dengan niat. Tanpa adanya niat, tak ada satu pekerjaan pun yang bisa dimulai dan diselesaikan dengan baik. Sejujurnya, dapat dikatakan bahwa niat itulah sumber kekuatan yang tersimpan yang akan membuat sesuatu bisa terjadi.

Jarang sekali para ahli ilmu manajemen organisasi yang menjelaskan dan membahas tentang niat ini. Padahal, kunci berjalannya perencanaan, aksi, dan evaluasi terletak pada motivasi dan semangat pada individu-individu yang memiliki tekad, dan kesungguhan untuk menjalankannya. Dengan kata lain individu-individu yang memiliki niat yang kuat.

Yang sering terjadi, sistem berorganisasi yang telah dirancang sempurna dengan fase perencanaan, aksi, dan evaluasi yang dipersiapkan dengan begitu matang, ternyata dalam pelaksanaanya terdapat banyak kendala disebabkan karena tidak adanya motivasi dan semangat dari individu dalam menjalankan organisasi.

Inilah apa yang dimaksud dengan niat adalah sumber kekuatan dari segala sesuatu untuk terwujud. Tanpa adanya niat, segala sesuatu tak akan berjalan dengan lancar dan sempurna.

Sejatinya, niatlah yang akan menimbulkan motivasi dan semangat yang tak akan pernah luntur pada diri seseorang dalam berorganisasi.

Niat dan Proses Dalam Berorganisasi

Di sisi lain, selain niat itu penting sebelum perencanaan, adanya niat yang kuat juga penting agar individu dalam organisasi memahami dan mencermati proses dalam berorganisasi.

Lantas, bagaimana niat seseorang bisa mempengaruhi seluruh proses dalam organisasi?

Dengan niat yang kuat dalam benaknya, seseorang akan memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan hakiki dirinya melakukan kegiatan dalam berorganisasi. Sejatinya, proses perencanaan, aksi, dan evaluasi hanyalah dijadikan wasilah baginya untuk menggapai niat dan maksud yang paling tinggi.

Niat dan maksud yang tidak bisa dibandingkan dengan niat dan maksud yang bersifat duiniawi.

Dengan pemahaman seperti ini, maka tak akan ada rasa kecewa, takut, dan khawatir ketika menjalankan kegiatan dalam berorganisasi tersebut.

Intinya, niat yang kuat menyebabkan individu-individu yang ada di dalam organisasi mampu menyandarkan segalanya kepada Zat yang menjadi niat dan maksud yang paling tinggi dalam kehidupan.

Oleh karenanya, dalam sebuah organisasi, sebelum memulai sebuah proses, bukan perencanaan yang harus didahulukan, tetapi terlebih dahulu perlu dilakukan penanaman niat, kehendak, kemauan, tekad, dan kesungguhan bagi individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut.

Setelah semua individu dalam organisasi memiliki kekuatan niat yang sama, barulah proses perencanaan dibuat. Perencanaan yang didasari niat yang kuat akan mempermudah berjalannya proses aksi. Pada akhirnya, proses evaluasi yang dilakukan pun akan berjalan dengan baik. Inilah gambaran nyata bagaimana proses dalam berorganisasi dipengaruhi oleh niat yang kuat.

Sebuah Refleksi

Niat, ibarat dinamo sentral dalam sebuah organisasi. Niat ini yang akan menentukan arah sebuah organisasi untuk bergerak. Niat ini yang akan terus menjaga kobaran motivasi dan semangat yang ada di dalam proses berorganisasi.

Ya, dengan niat, yang kecil dapat bernilai besar. Sebaliknya yang besar bisa tak bernilai apa-apa, apabila salah niatnya. Niat juga yang sangat menentukan baik tidaknya sesuatu. Jika sudah ada niatan baik, walaupun jalan yang harus ditempuh terkadang berkelok, namun hasilnya pasti akan membawa kebaikan.

Jika niat itu bersih, yang diharapkan pasti akan terealisasi.

Yang perlu kita ingat bersama adalah bahwasanya hanya mengandalkan niat saja tidaklah cukup.

Seperti halnya perkataan Imam Al-Ghazali, niat harus diikuti dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu dan amal, niat yang baik pun bisa menjadi bagaikan harapan hampa yang tidak akan menghasilkan apa-apa dalam realitanya, melainkan hanya pahala niat melakukan kebaikan.

Oleh karenanya, yang terbaik untuk dilakukan adalah mengamalkan setiap niat baik yang ada di dalam benak kita. Mengamalkannya dengan cara yang benar, dan dengan ilmu yang dipelajari dengan benar.

Alhasil, membahas tentang niat dalam beragama dan berorganisasi dapat membuat kita memahami bahwa betapa pentingnya memahami ilmu agama.

Ilmu agama terlalu sempurna jika dibandingkan dengan ilmu duniawi. Banyak hal penting dan krusial yang terkadang tidak bisa diakomodir oleh ilmu duniawi. Perlu ada sentuhan nilai agama di dalamnya.

Seperti halnya, rencana, aksi, dan evaluasi yang perlu didahului dengan niat yang baik, yaitu niat yang diajarkan oleh ilmu agama.

Oleh karenanya, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh sekali-kali meninggalkan agama. Agama harus selalu menjadi titik pusat dalam mempertimbangkan proses dalam setiap kegiatan yang akan kita lakukan.

close-up-students-writing-reading-exam-answer-sheets-exercises-classroom-school-with-stress

Pejuang Altruistik Risalah Nur

Ustadz Bediüzzaman, sosok teladan yang menghabiskan kehidupannya di bawah naungan Al-qur’an dan sunnah, tidak hanya seseorang yang penuh semangat dan ambisi, tetapi juga seseorang yang penuh logika dan gagasan.

Dalam mahakaryanya, beliau mempersembahkan luasnya iman, akhlak, dan kalbu Islami dalam bentuk yang begitu murni. Beliau adalah sosok yang luar biasa pada zamannya. Sosok yang dijiwai oleh rasa kemanusiaan, kesetiaan, kerendahan hati, kesucian, dan keikhlasan, beliau adalah sosok yang luar biasa.

Meskipun tampilan luarnya amat sederhana, beliau adalah sosok  yang memiliki visi dan kedalaman baik dalam pemikiran maupun perilakunya. Beliau terus-menerus menggali solusi permasalahan umat di bawah semarak cahaya Al-qur’an dan sunnah. 

Tidak hanya sebagai ulama yang ahli berlogika, beliau juga mampu mencerminkan satu karakter kuat dalam pemikiran dan perilakunya. Beliau mampu merangkul semua umat dengan pemikiran tajamnya dan melawan dengan keras kekufuran, kesewenang-wenangan, dan penyimpangan.

Mereka yang sungguh beruntung  berada di sisinya telah melihat kedalaman spiritual, kebijaksanaan, kesederhanaan, keikhlasan, dan kerendahan hati sosok ini. Merekalah murid Risalah Nur. 

Salah satu ciri-ciri utama mereka yang menjadi murid pertama Ustad Said Nursi adalah sifat kepekaan dalam mengabdi kepada agama dan Islam yang begitu dalam, dan tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka yang tidak pernah bergumam “Aku telah mengabdi” ternyata sukses besar dalam perjuangannya, mengingat mereka menjauhkan diri kekayaan dunia, kemunafikan, dan kepuasan diri.

Mereka adalah para profesional di bidangnya masing-masing. Tatkala mereka menghadapi cobaan dan kesulitan, mereka akan mengalahkannya dengan kekuatan iman dan keikhlasan. Tentu hal ini terjadi dengan izin Allah Azza wa Jalla.

Para pejuang generasi pertama Risalah Nur, yang sangat meneladani guru mereka, mereka menempuh jalan penuh kebaikan dan aksi positif dengan tujuan menjaga ketertiban dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Dengan berlandaskan pada intisari Risalah Nur, mereka memiliki sasaran untuk mengabdi kepada agama dan Alquran atas nama-Nya yang agung tanpa menyinggung  siapapun, dengan penuh kedamaian.

Mereka tidak menaruh nilai pada pribadi diri mereka.

Begitulah jalan khidmah:

Seseorang harus mengabdikan imannya semata-mata demi Tuhan, setiap tindakannya adalah penghambaan yang tulus dan murni.

Seseorang harus berhati-hati dalam menjaga keikhlasannya, karena alasan inilah, ia harus mampu menjauhkan diri dari keinginan duniawi, pangkat, ketenaran, dan kemakmuran.

Benih-benih khidmah yang telah menyinari dunia bagai sang surya, ternyata ditabur oleh segelintir orang, yang mereka memandangi dunia yang sementara ini seperti sesuatu yang tidak mempunyai nilai apapun.

Mereka adalah orang yang berhati mulia, tanpa gelar dan pangkat duniawi. Keikhlasan, altruisme,  pengorbanan, dan bantuan harta dan amal mereka telah membuahkan perkembangan khidmah sampai hari ini, yang begitu indah penuh makna. 

Tren untuk hijrah  atau berpindah tempat tinggal dalam kalangan Muslim sekarang semakin meluas ke seluruh empat penjuru dunia, ini semuda masih terus terjaga karena kekuatan nilai-nilai terpusat ini.  

Tanpa keraguan sedikitpun, di belakang kekuatan ini berdirilah Ustadz Bediüzzaman, yang menolak untuk menerima imbalan meski sebesar biji gandum.

Di sisinya, berdirilah murid-muridnya yang istimewa: Hulusi Yahyagil, Hüsrev Altmbak, Hafiz Ali, Tahiri Mutlu, Zübeyir Gündüzalp, Ceylan Callkan, Mustafa Sungur, Bayram Yüksel, Hüsnü Bayram and Abdullah Yeğin.

Seperti yang dijelaskan oleh Osman Yüksel Serdengeçti, Ustadz Bediüzzaman, yang dikelilingi orang-orang dengan rentang usia delapan hingga delapan puluh tahun, memiliki kebijaksanaan yang tinggi dalam berkhidmah untuk Al-qur’an dan Islam.

Mereka yang berada dekat dengannya memiliki kualitas iman yang tidak dapat digambarkan. Tidak peduli berbagai halangan yang merintang dihadapannya, hati yang haus akan iman terus mengalir dalam semangat kalbu mereka. Mereka yang mengamalkan Risalah Nur sejatinya menempuh jalan kebahagiaan abadi. 

Dengan jiwa yang suci nan mulia dan keyakinan yang terhubung dengan kebenaran abadi,  putra-putra Anatolia yang tulus dan setia telah berkumpul di sekitar pejuang khidmah.  Seorang pria beruntung yang hidup dalam rentang  Era Konstitusi, periode Komite Persatuan dan Kemajuan dan Republik untuk turun dari dataran tinggi di timur dengan iman yang tak tergoyahkan yang membuatnya tetap tegak sementara lainnya banyak yang menghilang tertelan dalam lembaran sejarah.

Orang-orang yang beruntung ini selalu berada di sisi sang Bediüzzaman, meskipun beliau dipenjara dan diseret jasmaninya ke panggung eksekusi. Di sampingnya, mereka telah menghadapi berbagai bentuk ancaman. Kendati demikian, dengan berlandaskan pada kekuatan iman, mereka tetap berdiri tegak dan tetap mengabdi hingga akhir hayat nanti.

mengembangkan-diri-toleransi

Toleransi, Agama dan Integrasinya Dalam Kehidupan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Semua agama pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Dalam membahas tentang agama dan nilai kehidupan, ada salah satu nilai yang paling penting yang perlu diperhatikan, yaitu toleransi. Setiap agama dengan pendekatannya masing-masing memiliki cara untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan, yang dari sana menuntut kita untuk bersikap saling toleransi antar umat beragama. Bisa dimaknai bahwa agama dan toleransi adalah dua hal yang bisa diibaratkan seperti dua sisi pada koin yang sama.

Agama dan Toleransi

Indonesia, sebagai negara yang mengakui keberagaman agama, menuntut pemahaman masyarakat yang kuat dan benar tentang makna toleransi antar umat beragama. Masyarakat harus benar-benar memahami bahwa toleransi adalah salah satu cara memaknai agama di dalam kehidupan. Toleransi merupakan nilai yang perlu dikedepankan di setiap sendi kehidupan, di negara kita. Pendidikan bertoleransi pun seharusnya bisa dilakukan sedini mungkin di institusi-institusi pendidikan, baik formal maupun non formal. Pemerintah dan masyarakat pun harus bahu membahu menanamkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Lantas, bagaimana sebenarnya kedudukan toleransi itu sendiri dalam agama?

Semua agama menjunjung tinggi toleransi. Tak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk bertindak intoleransi yang bisa mengarah kepada paham radikalisme. Yang menjadi permasalahan adalah, terkadang, masih ada segelintir umat yang mengaku beragama, telah salah memahami makna dari toleransi yang diajarkan agamanya. Akhirnya, paham radikalisme dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat di berbagai belahan dunia.

Paham radikalisme, sebagai perwujudan gagalnya penganut agama memahami toleransi, tidak hanya tertuju kepada satu agama. Tak bisa dipungkiri, setiap agama memiliki potensi dimana penganutnya bisa saja salah dalam memahami ajaran agamanya. Yang pada akhirnya akan memabawa mereka pada paham radikalisme.

Jadi, radikalisme itu tidak identik pada satu agama. Radikalisme bukan hanya musuh satu agama atau golongan tertentu. Justru, paham radikalisme adalah musuh kita bersama, musuh semua umat beragama, musuh kemanusiaan umat manusia di seluruh belahan dunia. Dan, radikalisme hanya akan hilang, jika ada kebersamaan antar umat beragama untuk melawannya.

Agama dan Integrasi Dalam Kehidupan

Solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan intoleransi yang mengarah kepada paham radikalisme adalah dengan mengajak para penganut agama untuk memahami ajaran agama dengan baik. Selain itu, nilai-nilai agama juga seharusnya bisa benar-benar diintegrasikan di dalam kehidupan.

Jika saja, nilai-nilai toleransi yang diajarkan agama bisa benar-benar diintegrasikan dalam kehidupan, maka tidak akan ada lagi paham radikalisme yang tumbuh dan berkembang dalam beragama. Para penganut paham radikalisme pun tidak akan memiliki tempat untuk hidup di dunia kita.

Akhirnya, meskipun dunia diisi dengan beragam agama dan penganutnya yang berbeda-beda, namun dengan adanya integrasi agama dalam kehidupan, para penganut agama yang berbeda-beda itu akan memiliki tujuan kehidupan yang sama, nilai-nilai kebaikan yang sama, dan keyakinan yang sama berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Intinya ada pada cara seorang penganut agama -apapun agamanya- mampu memahami agamanya dengan baik dan benar. Setelah memahaminya, maka para penganut agama tersebut seharusnya bisa menghidupi agama tersebut, dan yang tak kalah pentingnya mereka juga akan berjuang mengintegrasikan agama dalam kehidupan.

Dalam artikel “Makna Agama dan Kehidupan” dikatakan, “Religiusitas umat manusia harus memiliki perwujudan konkritnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Kebenaran agama akan kosong dan menjadi candu ketika agama hanya sebatas doktrin yang berada di luar kehidupan keseharian.”

Ya, beragama memang memerlukan perwujudan konkrit dalam kehidupan. Beragama tidak cukup hanya dilakukan dengan mengunci diri, menutup pintu rumah untuk beribadah kepada Tuhan. Beragama perlu berintegrasi dengan kehidupan. Prinsipnya, dalam beragama perlu ada aksi nyata dalam kehidupan. Jika tidak, beragama akan terasa hampa, bahkan bisa menjadi candu, seperti halnya yang dikatakan filusuf Karl Marx dengan Marxismenya.

Sebuah Refleksi

Ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya “Islam Rahmatan Lilalamin” merangkum semua ini dari sudut pandang agama Islam yang dipeluknya. Beliau berkata, “Hanya ada dua jalan untuk lepas dari beban tanggung jawab pada Hari Kiamat: hidup bersama Islam secara sempurna atau berjuang mengembalikan Islam ke dalam kehidupan.”

Artinya, agama harus dihidupi dengan sempurna dengan keimanan dan keyakinan yang hakiki, bukan hanya sebagai identitas belaka. Lalu, agama harus diperjuangkan untuk diintegrasikan ke dalam kehidupan. Integrasi agama dalam kehidupan inilah yang bisa kita interpretasikan dalam berdakwah ataupun melayani agama (khidmah). Alhasil, agama dan toleransi memang akan selalu menjadi perbincangan hangat selama masih ada paham intoleransi, paham radikalisme di dalam kehidupan.

Agama yang diintegrasikan dan diwujudkan secara konkrit dalam kehidupan akan menjadi solusinya. Jika ini terjadi, maka dunia akan terbebas dari konflik dan polarisasi, dan kita semua akan bisa hidup dalam suasana yang diliputi dengan kedamaian. Semoga.

muslim-praying-mosque-traditional-ground-carpet

UNDANGAN BERDOA DAN SHOLAT HAJAT

Assalamualaikum Saudara/i inspirasi kami yang terhormat,

Seperti yang kita ketahui, bahwa saat ini di Indonesia sedang terjadi pelonjakan yang tinggi berkaitan dengan kasus Covid-19. Tanpa terelakkan, akhir-akhir ini semakin banyak dari teman-teman, keluarga dan kerabat kita yang terpapar virus tersebut, bahkan beberapa dari mereka masih dalam proses perawatan.

Datangnya waktu musibah, di saat yang sama mengisyaratkan perlunya waktu untuk berdoa dan bertaubat.

Untuk itu, mari kita memohon perlindungan dari Allah ta’ala dan juga mengharapkan kesembuhan bagi saudara-saudara kita. Adapun berikut doa-doa yang dianjutkan setelah melaksanakan sholat hajat dan doa-doa yang dianjurkan dibaca setiap harinya.

Semoga Allah ta’ala mengabulkan doa kita semua.

???? Saudara/i bisa membaca doa yang ada di bawah ini setelah melaksanakan dua raka’at sholat hajat setiap harinya:

???? Juga disarankan untuk membaca dua doa yang ada di bawah ini (minimal 11 kali setiap setelah sholat) sesuai dengan kesanggupan masing-masing setiap harinya.

magnifying-glass-white-puzzle-blue-background

Mencari Makna yang Hilang

Karya Pembaca: Haerul Al Aziz

Namanya Andre, 30 tahun. Kini ia tertegun dengan secarik kertas dan pena yang ada di hadapan matanya, penuh rasa khawatir dan bimbang. Sosoknya yang terkenal sebagai pemuda paruh baya itu konon telah menjalankan hidupnya penuh dengan limpahan harta dan kekayaan. Anak konglomerat dari salah satu daerah di Indonesia tersebut, tak merasa sukar jika ia harus menikmati segala macam jenis kenikmatan dunia. Pendidikan dengan fasilitas terbaik telah ia tempuh. Segala jenis makanan ternikmat di dunia juga mungkin telah ia rasakan. Tempat-tempat terindah yang ada di dunia pun mungkin pernah ia jelajahi.

Tetapi ada sesuatu yang ia anggap masih kurang. Ia masih merasa belum puas dengan semua itu. Seolah seluruh kenikmatan yang telah ia cicipi itu, tak bernilai. Ia belum merasakan suatu yang hingga saat ini ada, menghantui benaknya. Terpantul jelas dalam lorong-lorong bayangan rasa penasarannya di dalam relung jiwanya saat itu. Suatu hal yang justru orang lain malah lari, karena takut darinya. Ya, ia menginginkan kematian. Sesuatu yang dianggap sebagai pemutus segala kenikmatan. Dan telah ia tuliskan dalam secarik kertas sebagai petuah, pantulan dari kegelisahannya saat itu :

Saat menemui ajal kelak, mungkinkah ada kenikmatan lain yang belum pernah aku rasakan? Mungkinkah kenikmatan sejati dapat diraih setelah aku masuk ke dimensi itu?  Adakah makna dari penciptaan kehidupan baru di alam lain tersebut?

Terbesit sebuah pertanyaan besar dalam kepalanya yang hampir linglung karena telah muntah harta dan bosan akan kenyamanan dunia. Namun tak ada seorang pun yang mampu menjawab keraguan itu, kecuali mereka yang meyakini bahwa hal itu memang benar adanya. Karena yang pergi, telah pergi. Tak akan pernah kembali untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Menunggu ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat di dimensi alam ini.

Tujuan dan tugas istimewa yang dimiliki manusia di muka bumi ini

Apa yang sebenarnya manusia cari? Atau apa yang hilang, hingga ia merasa belum puas dengan kenikmatan yang ia raih di bumi ini? Benarkah dimensi lain itu lebih indah dan abadi?

Jika melihat ke semua makhluk yang ada, bisa kita pastikan bahwa kehadiran mereka ke dunia ini tentunya memiliki sebuah tujuan. Dimulai dari bulan yang menerangi langit di kala malam, hingga matahari yang menyinari siang di setiap harinya. Dari tanaman hias hingga pohon-pohon besar yang menyelimuti bumi ini. Dari seekor semut hingga hewan-hewan berkaki empat yang memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup makhluk yang lain. Lalu bagaimana dengan tujuan penciptaan manusia?

Ketika berencana untuk membangun sekolah, kita perlu memahami terlebih dahulu alasan mengapa dan untuk apa kita ingin membangunnya. Pasti ada tujuan yang termaksud, yang mungkin setara atau bahkan lebih besar dari apa yang ingin kita rencanakan sebelumnya. Begitu pula dengan penciptaan alam semesta ini dan juga makhluk istimewa yang merupakan wujud intisari darinya yang kita sebut sebagai manusia. Sebagai bentuk alam kecil yang mempunyai arti yang lebih luhur dari pada alam yang besar ini, tak mungkin hadir jika tanpa sebuah tujuan.

Setiap insan yang datang ke ruang tamu dan kerajaan dunia ini, setiap kali membuka kedua matanya ia akan melihat berbagai jamuan yang sangat mulia, pameran yang penuh seni, kemah dan tempat latihan yang menakjubkan, tempat rekreasi yang sangat mengagumkan, tempat tafakkur yang penuh hikmah dan bermakna. Tetapi sesuai dengan keahliannya tersebut, dibalik tujuan pengirimannya ke dunia ini, tentunya manusia juga tak lepas dari tugas yang perlu ia emban.

Karena ia memiliki pikiran untuk memilih mana yang terbaik baginya. Memiliki hati nurani untuk menyadari apakah ada hikmah dibalik semua yang ia lihat dan rasakan dalam kehidupannya. Bersikap sadar di antara makhluk yang tak memiliki kesadaran akan esensi dari penciptaannya. Dengan kehendak parsialnya itu, ia berusaha menjawab pertanyaan dari ujian yang ada di lembaran muka bumi ini, untuk mencari makna yang sebelumnya hilang karena terpaku oleh nilai yang sifatnya material semata. Mengajaknya untuk meneliti lebih jauh makna yang ada dalam dirinya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tepat :

“Siapa ia sebenarnya? Untuk apa ia diciptakan?  Adakah pemilik hakiki dari semua ciptaan ini? Apa yang harusnya ia lakukan di muka bumi? Akan sampai kapan ia hidup? Ke mana ia akan pergi setelahnya? Bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya dari segala jenis kekhawatiran yang ada ini?”

Memahami makna dari arti kehidupan    

Mungkin setangkai bunga sudah merasa puas dengan kehadirannya di taman, menghiasi kebun-kebun. Bisa jadi seekor sapi merasa lega saat memakan rumput dan menganggap tugasnya telah usai saat dagingnya berhasil disantap oleh manusia. Namun  manusia tidak akan pernah puas meski seluruh isi dunia menjadi miliknya. Ia memiliki harapan dan keinginan yang abadi. Karena memang ia diciptakan untuk keabadian. Untuk itu, kita perlu menawarkan kenikmatan yang sifatnya abadi pula, atau setidaknya mengarah pada keabadian itu sendiri. Karena kenikmatan duniawi tak akan pernah cukup untuk memuaskan hasrat keabadiannya itu.

Kita hidup di dunia modern yang dengan fasilitasnya mampu memanjakan manusia yang hidup di masanya. Namun sayang, dunia yang berkembang saat ini dengan segala kemegahannya itu dalam beberapa hal hanya mampu menawarkan kenikmatan sementara yang mengantarkan individunya pada sikap narsisme, bangga diri dan tertipu oleh tampilan luar semata. Tampilan luar yang menyodorkan iming-iming palsu dengan menampilkan diri mereka yang seolah merepresentasikan sebuah nilai luhur, tapi melupakan makna yang ada di dalamnya. Sedangkan makna, mengindikasikan sebuah keabadian. Oleh karena itu, tampilan luar yang kehilangan makna tidak akan sanggup memuaskan hasrat manusia secara utuh.

Kunci untuk Meraih Makna

Kenikmatan yang dirasakan di dunia ini bagi sosok manusia, masing-masing sebenarnya merupakan permisalan. Bahwa ada hal yang lebih indah lagi yang dapat mereka rasakan di dimensi yang lain. Yang ada di dunia ini hanyalah contoh. Di samping mereka tidak akan pernah puas meski sudah mencicipi segala kenikmatan yang ada di dunia ini, di sisi lain mereka juga termasuk orang yang tak tahu diri, jika tidak mengenal siapa sesungguhnya yang memberikan seluruh nikmat tersebut dan hanya menghabiskan itu semua dengan penuh kerakusan.

Selain itu manusia tidak dikirimkan ke dunia ini hanya untuk merasakan kenikmatan belaka. Karena dengan kepedihan yang telah ia lewati atas masa lalu dan kekhawatiran yang ia rasakan akan masa depan, membuatnya tak akan sepenuhnya puas merasakan kenikmatan itu. Bersamaan dengan hal tersebut, kebutuhan, keinginan, dan harapan yang diharapkan manusia, melebihi dirinya sendiri. Maka, tak salah jika makhluk yang paling banyak kebutuhannya ialah manusia. Tetapi ia pun sebenarnya lemah dan papa, bahkan ia tak mampu memenuhi hidupnya atau menghadapi musuhnya sendirian. Untuk itulah dia butuh tempat bersandar yang maha agung dan kokoh dari manifestasinya yang lemah dan papa.

Di saat yang sama, manusia layaknya benih. Benih yang membutuhkan cahaya, air, tanah, dan pupuk yang sesuai, sehingga akan menghasilkan buah layaknya tujuan. Cahaya dalam bentuk maknawi yang mampu menerangi hidupnya. Air yang mampu memberikan nutrisi agar ia tetap bisa hidup dengan kapasitas yang ia miliki. Tanah yang dapat memberikan tempat untuk bisa menjulang tinggi dan wadah baginya untuk berkreasi menampilkan kedermawanan pemiliknya. Pupuk yang membantunya agar lebih subur dan rindang. Pada akhirnya menghasilkan buah manis dan bergizi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Padanya juga terdapat kunci, yang mana jika ia mampu menggunakannya dengan benar maka ia pun akan melihat esensi dari seluruh penciptaan alam semesta ini, termasuk dirinya sendiri. Tetapi jika ia salah dalam menggunakannya, semoga Allah ta’ala melindungi kita, ia akan menjadikannya dirinya sebagai firaun-firaun yang ada di zamannya masing-masing. Itulah yang dinamakan ego manusia. Manusia yang terpaku pada egonya, tidak akan mudah untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka yang tak mampu mengenali diri, atas tujuan apa mereka dikirimkan ke dunia, tentunya akan sulit untuk mencari makna dari eksistensinya. Mereka yang tak mampu mendeteksi makna tersebut akan sukar untuk mengenal siapa sebenarnya yang memiliki kerajaan ini. Untuk itu, mari kita merefleksikan diri, sudah seberapa jauh kita mengendalikan ego ini untuk mencari makna yang hilang itu? Dan menyelamatkan Andre dari pikiran konyolnya tersebut.