TAJWID

Tajwid

Sesi Judul Lesson Plan Materi PPT Video Audio
1 Pengantar Ilmu Tajwid dan Urgensinya Lesson Plan Materi PPT Video Audio
2 Hukum Ta’awudz Basmalah dan Pengaruh dialek Lesson Plan Materi PPT Video Audio
3 Huruf Arab Sifat dan Makhraj Lesson Plan Materi PPT Video Audio
4 Tajwid, Huruf dan Hukum Ghunnah Lesson Plan Materi PPT Video Audio
5 Idbilabikh Fasyamighun Lesson Plan Materi PPT Video Audio
6 Idbilabikh Fasyamighun 2 Lesson Plan Materi PPT Video Audio
7 Macam-macam Mad Lesson Plan Materi PPT Video Audio
8 Macam-macam Mad 2 Lesson Plan Materi PPT Video Audio
9 Waqaf dan Ibtida’ Lesson Plan Materi PPT Video Audio
10 Idgham Shagir, Saktah, Tafkhim dan Tarqiq Lesson Plan Materi PPT Video Audio
11 Musykilatul Kalimat & Arti Lahn (kesalahan membaca) Lesson Plan Materi PPT Video Audio
papaioannou-kostas-tysecUm5HJA-unsplash

Ciri-ciri Generasi Muda Yang Dinanti-nanti

Ciri-ciri Generasi Muda Yang Dinanti-nanti


Dan sekarang pertanyaan dari Anda,

Yang pertama: Ustadz yang mulia, pada beberapa kesempatan anda berkata, “semoga jalan dakwah ini menjadi takdir hidup kalian”. Apa saja nasihat Anda agar kami bisa sampai ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini? Secara kebetulan sama seperti kemarin, saya telah menjelaskan sifat-sifat anak muda sebagai catatan awal. Sekarang akan saya bahas mengenai sifat-sifat kesatria muda sebagaimana yang diinginkan.

Apa yang kita harapkan dari para pemuda? Ketika saya mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka mereka bertanya lagi, bisakah Anda menjelaskan sifat generasi muda seperti yang dinanti-nanti. Juga dengan persoalan hari ini; dakwah ini harus menjadi takdir kalian. Seseorang haruslah mencintai sesuatu yang mulia, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal yang murah, harga diri seseorang bukan bernilai dengan ijazahnya, jabatannya dan tempat dia bernaung. Harga diri seseorang bukanlah bernilai karena menjadi anggota dewan, perdana menteri maupun seorang presiden. Bila takdir membuatku jadi presiden hanya karena nilai diri, sungguh aku akan marah terhadap diri ini dan berkata: “Ya Allah kenapa Engkau menciptakanku tidak beruntung seperti ini”. Aku ke Hammam (pemandian air panas) pada musim panas, malah udara jadi dingin. Memangnya ada yang mau jadi presiden? Biarkan hancur rata dengan tanah. Yang aku inginkan dari Engkau adalah Engkau (Allah) yaitu menjelaskan tentang-Mu hingga nafasku terputus-putus, Aku ingin jadi lidah-Mu, kalau tidak maka biarkanlah lidahku yang putus. Aku ingin di mana-mana itu melihat-Mu, kalaupun tidak bisa, ambillah mataku ini supaya aku tidak akan melihat hal yang haram ketika masih muda. Aku ingin mendengar-Mu, bila tidak maka tulikanlah saja telingaku ini. Aku ingin bernafas di sisi-Mu, kalau tidak biarkanlah saja nafasku ini terhenti.

Bisakah aku sampaikan ini dengan jelas? Insan dakwah bukanlah orang yang sekedar makan minum dan tidur. Insan dakwah bukanlah orang yang hidup terikat dengan kebutuhannya saja. Insan dakwah adalah orang yang telah melupakan nikmat kehidupan dan gila memberikan kehidupan bagi yang lain. Insan dakwah itu seperti Majnun, tanpa mencari Laila ia tidak bermakna. Dan juga seperti Farhat yang tiap hari melubangi gunung yang berbeda untuk mencari jalan bertemu Syirin. Seperti Emrah yang rela terbakar seperti serpihan api demi Aslı. Itulah insan dakwah.

“Apa saja nasihat Anda agar bisa ke puncak yang ideal dan tetap terikat dalam Hizmet ini?” Beberapa generasi sebelumnya menjadi harapan bagi kita untuk mencapai kualitas yang bagus dan menjadi teladan buat generasi yang kita tunggu. Saya berharap meraka menjadi contoh yang baik. Dan Insya Allah semoga kalian berada di jalan seperti itu. Saya rasa saya telah menjelaskan hal yang semestinya saya jelaskan. Apakah saya melakukan sebuah kesalahan bapak doktor? Kalau tidak, saya rasa saya sudah menyampaikan hal-hal yang mungkin saja belum saya sampaikan sebelumnya.

Kalau ada penjelasan yang bertentangan, sungguh hanya Allah yang mengetahui semua yang nampak dan rahasia, Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosaku.. Kumemohon pada-Mu ya Rabb, kuberharap pada-Mu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Semoga Allah isikan hati kami ini dengan iman, dan kenyangkan kami dengan iman. Bangkitkanlah kami sekali lagi, hilangkanlah kehinaan, sehingga membuat kami mencapai mimpi kami yang ingin memiliki peran cukup besar di dunia. Kumemohon pada-Mu ya Rabb, kuberharap pada-Mu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dari-Mu ketika Kau memberi. Wahai Tuhanku, buatlah diri kami menjadi lupa terhadap nafsu kami, dan tingkatkanlah derajat hati dan jiwa kami, dan jadikanlah nafas kami seperti nafasnya para malaikat. Engkau memberikan kami semangat untuk berlari di Jalan-Mu ibarat Kuda, jadikan kami tidak merasa kelelahan hingga jantung berhenti berdetak sekalipun.

Kumemohon padaMu ya Rabb, kuberharap padaMu ya Rabb, kabulkanlah, tidak ada yang kurang dariMu ketika Kau memberi. Dan jika saja yang aku ucapkan ini merupakan ucapan yang berisi kesombongan maka ampunilah dosaku. Terimalah doa kami ini sebagaimana engkau menerima doa-doa sebelumnya. Ini adalah generasi harapanku yang terakhir. Jika generasi ini tidak melakukan apa yang mesti dilakukan sekarang, maka kita pun harus menunggu setengah abad lagi, 50 tahun. Maka umur saya dan sebagian besar kita tidak akan cukup untuk itu

 

eva-blue-2yc0Jofvezo-unsplash

Bunuh Diri

Bunuh Diri

(Diterjemahkan dari Kırk Testi artikel berjudul ‘Intihar)

Tanya: Bagaimana perspektif Islam tentang bunuh diri yang kini telah menjadi bencana sosial di zaman kita? Apa alasan yang mendasari seseorang untuk melakukan bunuh diri?

Jawab: Meskipun tidak ada pernyataan eksplisit di dalam Al-Qur’an, dapat kita katakan bahwasanya larangan menghilangkan nyawa juga berlaku bagi seseorang yang ingin menghilangkan nyawanya sendiri secara sengaja. Bunuh diri adalah pembunuhan. Bunuh diri sama halnya dengan membunuh orang lain, yakni ia juga adalah pembunuhan. Allah Subhanahu wa ta’ala menganggap menghilangkan satu nyawa kehidupan sama dengan membunuh seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” (QS Al Maidah 5: 32)

Seperti yang diketahui, kehidupan manusia adalah salah satu dari lima hal mendasar dimana seseorang bertanggung jawab untuk melindunginya. Dapat dikatakan juga – sebagaimana Imam Syathibi menguraikannya secara sistematis di dalam kitabnya Muwafaqat – semua hukum Islam didasarkan pada usaha melindungi lima hal paling mendasar tadi, yaitu untuk melindungi nyawa seseorang, agama, harta, akal, dan keturunan. Perlindungan terhadap nyawa adalah yang paling utama di antara hal-hal paling mendasar tadi. Demikian pentingnya urusan melindungi nyawa ini sehingga seseorang yang diserang diperbolehkan untuk membalasnya sebagai usaha membela diri.

Pengkhianatan terhadap Amanah

Kehidupan manusia adalah amanah penting dari Allah. Yakni, sebagaimana halnya iman, agama, serta pelayanan terhadap agama merupakan amanah yang dipercayakan kepada manusia, nyawa kehidupan yang membuat semua amanah-amanah tersebut bisa dijaga pun termasuk amanah juga. Atas dasar ini, jika seseorang menghilangkan nyawanya sendiri dengan sengaja berarti ia mengkhianati amanah Ilahi dimana nyawa tersebut seharusnya digunakan untuk memenuhi tanggungjawabnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Manusia datang ke dunia ini bagaikan seorang prajurit. Ia dikirim ke dunia dengan memikul sebuah tugas. Apa yang perlu dilakukannya adalah menunaikan tugas ini sambil bersabar menunggu datangnya waktu dimana mereka dipanggil untuk kembali ke hadirat Ilahi. Persis seperti seorang prajurit. Jika prajurit itu meninggalkan resimennya tanpa mengantongi tandatangan izin dari komandannya, ia akan dianggap sebagai buronan. Maka orang yang meninggalkan tugas kehidupannya sebelum datang panggilan Ilahi pun dapat dianggap sebagai buronan yang layak dihukum. Saat itu semua amal baiknya akan sia-sia. Bahkan adalah berdosa jika seseorang berharap agar Allah Subhanahu wa ta’ala mencabut nyawanya dikarenakan dirinya sudah tidak sabar lagi menerima musibah-musibah yang menimpanya. Ini karena permintaan seperti itu berarti menyiratkan penentangan dan penolakan terhadap qada dan kadar dari Allah. Oleh karena itu, seseorang yang lidahnya tergelincir sehingga terucap kata-kata yang mengharapkan agar Allah mengambil nyawanya disebabkan tidak tahan dengan musibah yang dialaminya, ia harus segera menyungkurkan kepalanya untuk bersujud, memohon ampun dan bertaubat dengan penuh kesadaran bahwasanya ia baru saja melakukan dosa yang amat besar. Jika keinginan seperti itu saja mengharuskan pertobatan yang demikian, maka bunuh diri, dimana perbuatan tersebut seperti seorang prajurit yang meninggalkan kewajibannya sebelum dikatakan bahwa tugasnya sudah selesai, adalah perbuatan tidak menunjukkan rasa hormat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Wewenang untuk meneruskan atau menyelesaikan tugas seorang makhluk hanya ada padaNya. Yang mengirimkan makhluk ke dunia adalah Dia, maka yang berwewenang untuk mengirimkan makhluk ke akhirat pun Dia. Tidak ada satupun anak manusia yang diberi hak untuk mengintervensiNya.

Pada kenyataannya, seseorang bisa kehilangan nyawanya saat ia membela dan mempertahankan nyawa, agama, ataupun hartanya. Meskipun dari sini tampak ada intervensi manusia yang menyebabkannya kehilangan nyawa, namun ia sebenarnya pergi menuju ke dunia berikutnya dalam kerangka perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasulullah menyatakan dalam sabdanya yang mulia :

منْ قُتِل دُونَ مالِهِ فهُو شَهيدٌ، ومنْ قُتلَ دُونَ دِينِهِ فهُو شهيدٌ، وَمَنْ قُتِل دُونَ دمِهِ فَهو شهيدٌ، ومنْ قُتِل دُونَ أهْلِهِ فهُو شهيدٌ

“Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR Tirmizî, Diyât 22; Nasâî, Tahrimu’d-dam 23).

Oleh karena itu, mereka yang kehilangan nyawanya dengan sebab demikian berarti meninggal dunia atas ‘seizin’ dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Beberapa ahli fikih mengatakan bahwa orang-orang yang meninggal dunia karena bunuh diri dihukumi seperti orang yang murtad. Jenazahnya tidak boleh dishalatkan. Namun, ada juga pertimbangan bahwa ada kemungkinan seseorang menderita penyakit gila sementara. Mereka ini memiliki kemungkinan melakukan tindakan bunuh diri saat penyakit gilanya sedang kambuh. Mereka yang berada dalam kondisi demikian, sebenarnya tidak dalam kondisi sadar dengan apa yang dilakukannya dikarenakan telah kehilangan keseimbangan akal sehatnya. Oleh karena tidak ada seorangpun yang dapat memastikan apa latar belakang yang menyebabkan seseorang melakukan usaha bunuh diri, maka tidak ada celaan bagi kita untuk berhusnuzan terhadapnya, dan mengerjakan perintah agama yaitu untuk menyalati jenazahnya.

Terkadang, penderitaan yang amat besar akan membuat seseorang bunuh diri. Memang, insiden semacam itu juga terjadi pada masa Nabi SAW. Seseorang bernama Quzman terluka dalam Perang Uhud. Untuk mengakhiri penderitaannya, ia bunuh diri dengan menyadarkan tubuhnya di ujung runcing pedangnya. Melihat ini, Rasulullah menyatakan bahwa orang itu adalah penghuni neraka. Bayangkanlah, ia berjuang hebat di dekat Nabi tercinta untuk membela Madinah dan menderita luka berat yang dapat membuatnya syahid. Akan tetapi manusia malang ini menjadi pecundang di saat akan menang karena tidak sabar dengan penderitaannya. Tanpa menunggu keputusan Ilahi, ia membuat keputusannya sendiri dan dengan demikian iapun layak untuk menjadi penghuni neraka. Musibah apapun yang menimpa seorang mukmin, bagaimanapun, tetap harus dilalui dengan penuh kesabaran. Seseorang seharusnya tetap bersabar menghadapi segala rintangan, sampai kehendak Ilahi memanggil mereka. Dengan kata lain, jika kita harus mati, kita akan mati karena kehendak Ilahi. Ayat suci yang tertuang di dalam Al Quran pun mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Al Imran 3: 102).

Ayat ini juga menyiratkan bahwa seseorang tidak boleh mengakhiri kehidupan mereka sendiri. Karena perbuatan bunuh diri merupakan hasil dari ketidakmampuan manusia untuk berserah diri kepadaNya. Padahal Allah telah berfirman agar tidak manusia tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepadaNya. Selain itu, bunuh diri berarti menyia-nyiakan seluruh masa lalunya. Bunuh diri berarti mengakhiri hidup dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.

Serangan Bunuh Diri: Sebuah Pembunuhan Massal

Hari ini ada kemasan lain dari perbuatan bunuh diri yang disebut ‘serangan bunuh diri.’ Serangan bunuh diri pertama kali muncul di Barat dan kemudian, sayangnya, muncul juga di beberapa negara Muslim. Mereka yang melakukan serangan bunuh diri ini menjustifikasi tindakannya tersebut dengan menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bunuh diri yang bermanfaat. Dengan kata lain, serangan ini mereka jalankan demi membela ideologi mereka. Dengannya mereka menyematkan makna positif dan nilai mulia, jika dengan usaha ‘serangan bunuh diri’ ini mereka dapat melindungi agama. Namun, saat kita melihat ke dalam hakikat dari permasalahan ini, kita dapat melihat bahwa bom bunuh diri tersebut tidak ada bedanya dengan usaha bunuh diri yang telah dijelaskan sebelumnya.

Serangan bunuh diri bahkan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pembunuhan, karena perbuatannya sama seperti yang dilakukan para pembunuh keji lainnya yang tidak memahami makna kemanusiaan serta tidak memahami spirit Islam yang sebenarnya. Mereka akan dikirim ke neraka dengan kepala masuk ke dalamnya terlebih dahulu. Saat membunuh dirinya sendiri, mereka juga membunuh banyak orang tidak bersalah lainnya. Di hari perhitungan, mereka akan menghadapi pertanggungjawaban yang amat berat. Pertama dikarenakan mereka membunuh diri mereka sendiri. Kedua, karena mereka membunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap korban mereka, baik anak-anak, wanita, pria, Muslim, maupun non-Muslim satu per satu.

Dalam Islam, peraturan dan hukum secara eksplisit mendefinisikan tindakan apa saja yang boleh dilakukan, baik selama masa damai maupun masa perang. Tidak ada yang bisa menyatakan perang atau memutuskan untuk membunuh orang lain hanya dengan keputusannya sendiri, dan tak ada seorang pun memiliki hak untuk membunuh anak-anak, perempuan, atau orang tua dari pihak lawan selama masa perang. Oleh karena itu, dipandang dari manapun serangan bunuh diri atau tindakan terorisme serupa tidak pernah sesuai dengan Islam. Dalam haditsnya yang mulia Junjungan Kita Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

لَا يَزْنِي العَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهو مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَقْتُلُ وَهو مُؤْمِنٌ

“Seorang hamba tidak akan berzina sebagai orang beriman, tidak akan minum alkohol sebagai orang beriman, tidak akan mencuri sebagai orang beriman, dan tidak akan melakukan pembunuhan sebagai orang beriman” (HR Nasai, Qasama 48,49).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang pembunuh ketika melakukan pembunuhan bukanlah seorang mukmin. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan dosadosa ini tidak bisa disebut seorang Muslim. Mereka tidak disebut dengan istilah muslim ketika mereka sedang melakukan apa yang mereka maksud dan niatkan tersebut. Ketika Anda mempelajari karakter mereka pada saat itu, apa yang muncul di depan anda bukanlah potret seorang Muslim; memang, karakter tersebut tidak akan sesuai dengan kerangka Islam. Untuk alasan ini, mari kita tekankan sekali lagi bahwa seseorang yang bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri dan membunuh orang yang tidak bersalah, tidak peduli dari negara atau kelompok agama mana mereka berasal, pembunuhan yang mereka melakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan syarat untuk menjadi seorang Muslim. Seseorang yang membunuh begitu banyak orang, tidak akan selamat di akhirat. Tentu saja, selalu ada kemungkinan bagi orang yang melakukan dosa-dosa besar untuk bertobat dan meminta pengampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Tuhan Yang Mahakuasa dapat mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui bagaimana mereka akan diperlakukan di akhirat.

Di sisi lain, adalah realita bahwa pembunuhan massal tersebut mencoreng wajah indah agama Islam. Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang muncul sebagai seorang muslim dimana perbuatan tersebut diteriakkan demi membela agamanya, akan dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam di mata mereka yang tidak mengenal ajaran Islam yang asli. Oleh karena itu, mengubah citra keliru ini akan jadi lebih sulit dilakukan oleh kaum mukminin. Membersihkan pikiran orang dari citra negatif ini akan membutuhkan usaha yang intensif selama bertahun-tahun. Untuk alasan ini, tidak peduli siapa yang melakukan serangan-serangan bunuh diri, mereka bisa disebut sebagai dua kali lebih buruk, atau lebih tepatnya pembunuhan terburuk. Beberapa orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang ajaran asli Islam pernah bertanya padaku, “Apakah cinta akan surga yang memotivasi umat Islam untuk menjadi pelaku bom bunuh diri?” Aku pun menjawab pertanyaan mereka dengan berkata, “Jika orang-orang itu melakukannya disebabkan motif tersebut, maka mereka sedang mengada-ada. Para pelaku serangan bunuh diri tidak akan pergi ke surga, melainkan pergi neraka dengan kepala masuk terlebih dulu.”

Kesimpulannya, pembunuhan keji yang dibungkus dalam serangan bunuh diri membawa dimensi yang lebih berbahaya terlebih ketika dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama. Mari kita nyatakan sekali lagi bahwa tidak peduli apa pun motif yang melatarbelakanginya, atau metode apa yang digunakannya sehingga kebrutalan ini dilakukan, perbuatan itu adalah tindakan terkutuk yang tidak disukai dan diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dipandang dari sudut manapun, ia juga merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

SIUM 6

SIUM MINGGU VI

Akses Link Zoom Meeting harian dapat dengan klik “Nama Hari” pada tabel di bawah ini.
Zoom Password : SIUM(spasi)2020 Klik Sharing Untuk Link Zoom Sharing Session
Download Jadwal

SIUM (Seminar Istimewa Untuk Mengembangkandiri) 27 April – 02 Mei 2020
WAKTU SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT
08.15-09.15 TAFSIR PRISMA RISALAH PRISMA HIKMAH
Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT
09.30-10.30 FIQIH HIKMAH HADITS TAJWID SEJARAH
Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT
10.45-11.45 RISALAH TAFSIR SEJARAH HADITS FIQIH
Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT Lesson Plan Materi PPT
16.20-17.20 Sharing Sharing Sharing Sharing Sharing
  Video Video Video Video Video

Ujian Sium Pada Hari Sabtu Pukul 17.00 – 22.00 WIB

Fiqih Hadits Hikmah Prisma Risalah Sejarah Tafsir Tajwid
inbal-malca-NhlKx6Uvm3E-unsplash

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Rasulullah dan Para Delegasi Asing 

Tanya: Rasulullah SAW, khususnya setelah Fathul Mekah, menyambut delegasi tamu yang datang dari berbagai negara dan kabilah tetangga dengan sangat baik. Beliau memuliakan para tamu ini dengan penuh ketulusan. Selain itu, beliau juga ingin agar kebiasaan ini dapat menjadi budaya yang diterapkan oleh para penggantinya. Di saat-saat terakhir kehidupannya, ia mengulangi permintaan ini sebagai bagian dari wasiatnya. Apa hikmah dari peristiwa tersebut? Jika kita menafsirkan peristiwa tersebut sesuai masa ini, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil?

Jawab: Kebiasaan Rasulullah seharusnya menjadi titik perhatian bagi kita semua pada saat ini. Untuk itu, kita benar-benar harus menjalankannya dengan baik.

Rasulullah tidak hanya menjamu delegasi tamu, beliau juga memberi perhatian di level tertinggi bagi mereka yang mau mempelajari dan memeluk agama Islam.  Misalnya, ketika para tokoh-tokoh Mekkah seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan Usman bin Talhah datang ke Madinah, demikian istimewanya Rasulullah menjamu dan mengistimewakan mereka, Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab (radiyallahu anhum) pun belum pernah menerima keistimewaan tersebut.

Nabi SAW bersabda kepada Sayyidina Khalid:  “Aku heran bagaimana mungkin sosok jenius seperti Khalid dapat tinggal di dalam kekufuran!”  Selang tak berapa lama kemudian, beliau menobatkan Sayyidina Khalid dengan sebutan “Pedang Allah”.

Amr bin Ash adalah sosok yang selalu berbuat keburukan kepada umat Islam.  Hingga masa itu, sosok Amr bin Ash menggunakan kejeniusannya untuk melawan Islam. Akan tetapi, ketika dia menjadi seorang Muslim dan datang ke Madinah, Rasulullah SAW menyambutnya dengan penuh hangat dan kemuliaan, beliau tidak pernah mengungkit masa lalunya walau sekecil apapun. Sebagai jawaban dari permohonan doanya Rasulullah SAW, “Tidak tahukah kamu jika Islam menghapus dan membersihkan semua dosa yang dilakukan seseorang sebelum masuk Islam.”

Ketika Sayyidina Abdullah bin Jarir al-Bajali ra masuk ke dalam majelisnya Rasulullah, Beliau memberi isyarat agar salah satu jamaah berdiri dan memberi tempat duduk kepada Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali ra. Ketika tidak ada jamaah yang memahami isyaratnya, beliau segera bergerak dan melepas jubahnya untuk dijadikan sebagai alas duduk Sayyidina Abdullah bin Jarir al Bajali.  Kemudian beliau menyampaikan nasihatnya yang abadi tentang kewajiban menyambut dan memuliakan pemimpin suatu kaum. Bagaimana Rasulullah menjamu Ikrimah putra Abu Jahal dengan kata-kata pujian adalah pelajaran penuh hikmah lainnya yang beliau tunjukkan kepada kita.[1]

Ya, kebiasaan Rasulullah ini adalah prinsip-prinsip yang tidak akan berubah. Bagaimana Rasulullah menyambut individu dan delegasi tamu yang datang dengan kerangka prinsip-prinsip tersebut, sesungguhnya terdapat banyak tujuan yang penuh hikmah di dalamnya:

Pertama: Orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam tetapi masih belum merasakan kehangatan Islam, jika di dalam fase ketidaknyamanan dan kecemasan tersebut mereka tidak menemukan sosok dengan atmosfer hangat serta penuh rasa aman yang dapat menyelamatkan mereka dari kecemasan itu, maka mereka bisa menggunakan preferensinya dengan cara lain di mana hal itu adalah kerugian bagi mereka. Begitulah Rasulullah SAW menunjukkan perhatiannya bahkan kepada mereka yang keinginan berislamnya sekecil apapun; perhatiannya telah menyelamatkan mereka dari pengambilan keputusan yang salah. Prinsip tersebut merupakan prinsip penting yang harus diperhatikan baik di masa kini maupun di masa mendatang.

Yang kedua: Di antara anggota delegasi yang datang, selalu ada orang yang dihormati di dalam kaum mereka. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan penghormatan dan perhatian seperti itu di dalam kaum mereka. Karena itu,  kemuliaan dan penghormatan harus dipersembahkan kepada mereka dalam takaran yang sama, sehingga mereka tidak merasa asing ketika tiba di lingkungan baru. Maksudnya, pemuliaan dan penghormatan ini seharusnya dapat menyingkirkan rasa tidak nyaman yang dapat muncul dari lingkungan baru serta menjamin rasa aman ke dalam hati mereka.

Ketiga: Sebagian besar delegasi ini adalah utusan resmi. Ketika Islam diumumkan sebagai sebuah sistem pemerintahan, maka kabilah-kabilah dan negara-negara di sekitarnya mengirimkan delegasi ke Madinah untuk melakukan perundingan. Orang-orang yang berada dalam delegasi ini juga bukan orang biasa; kurang lebih hampir semuanya memiliki wawasan luas akan dunia dan memiliki kemampuan mengevaluasi nilai dari sudut pandang mereka sendiri. Dan ketika orang-orang ini kembali ke tempat asal mereka, mereka akan kembali dengan kesan yang mereka bawa… Pendapat mereka akan mempengaruhi urusan-urusan di negara atau kabilah tempat mereka berasal. Jika demikian, maka orang-orang ini harus diyakinkan dengan opini-opini positif. Ini bergantung sekali dengan penghormatan yang ditunjukkan dan penyampaian masa depan yang menjanjikan.

Keempat: Akhlak dan karakter mulia Baginda Nabi telah dikenal dan diketahui oleh para Ahli Kitab. Karena akhlak dan karakter tersebut dijelaskan di dalam kitab-kitab mereka. Beberapa delegasi datang untuk menyelidiki kebenaran ini. Rasulullah SAW sendiri percaya akan dirinya sendiri. Beliau adalah nabi yang diberitakan dalam Taurat dan Injil. Beliau menganggap mereka yang datang untuk melihatnya dari dekat berarti telah menerima pesannya.

Ya, Rasulullah SAW menerima mereka dari dekat seakan membantu mereka untuk dapat menyaksikan tanda-tanda kenabiannya. Dengan demikian, sikap dan tindak tanduknya yang penuh berkah tersebut telah mencabik-cabik segala macam keraguan dan kebimbangan. Sebagian besar dari mereka yang datang lalu mengubah pandangan awalnya untuk kemudian bersiap melaksanakan misi tablig di tempat asal mereka.

Penafsiran pembahasan itu untuk kebutuhan masa kini:

Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa meniru sikap Rasulullah ini dengan sempurna. Karena tidak ada manusia yang memiliki daya dan kemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan saja, beliau adalah sosok yang mampu memanggul Al Quran dengan segala keagungan dan kemuliaannya yang bahkan tak mampu dipikul oleh gunung-gunung. Kedua kakinya berdiri di tempat yang kokoh, sehingga tidak ada satu pun peristiwa ataupun perlakuan yang mampu membuatnya berpaling dari prinsip-prinsipnya. Sedangkan pada diri kita terdapat kelemahan yang bisa membuat kita jenuh dan frustrasi. Akan tetapi, membayangkan kelemahan seperti itu terdapat pada Sang Nabi saja sudah tidak mungkin.

Dalam hal ini, baik untuk kehangatan penyambutan beliau terhadap delegasi tamu, ataupun penerimaan dan pemaafan beliau kepada tokoh-tokoh yang di masa lalu melakukan kesalahan fatal sekalipun, rasanya tidak mungkin bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Namun, wajib bagi kita untuk melakukan hal yang sama semaksimal mungkin. Jika tidak, maka kita bisa menunjukkan hizmet yang sudah dikenal di seluruh dunia pada level yang tidak semestinya sehingga dengan demikian seakan kita telah mengkhianati hizmet yang mulia ini.

Baginda Nabi SAW memberikan arahan untuk menunjukkan sensitivitas yang diperlukan dalam menerima tamu delegasi, menjadikannya sebagai bagian dari wasiat terakhirnya[2], serta betapa dalam dimensi yang akan diraih oleh sikap ini di masa depan, menunjukkan betapa pentingnya hal ini dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Padahal di masa itu pengaruh beliau masih belum keluar dari Jazirah Arab. Surat dan hadiah dari beberapa kepala negara yang dikirimkan masih berada dalam kerangka penghormatan kepada sosok beliau sebagai individu. Akan tetapi, di masa depan, Islam sebagai negara menyebar ke seluruh penjuru dunia sehingga mengharuskannya menjadi tuan rumah dan menjamu ratusan bahkan ribuan delegasi dari berbagai negara. Sebenarnya hal itu adalah bagian dari protokoler kenegaraan, tetapi sekali lagi dasarnya juga telah diletakkan pondasinya oleh Baginda Nabi SAW. Memang dalam masa kenabiannya selama 23 tahun, dalam skala mikro, tidak ada satu pun masalah yang tidak diselesaikan olehnya… Protokol menjamu delegasi pun hanyalah salah satu masalah yang berhasil diselesaikan olehnya…


[1] “Maka Ikrimah masuk Islam dan dia datang menemui Rasulullah SAW pada waktu Penakhlukkan Mekah. Tatkala Rasulullah SAW melihatnya, beliau langsung bangun karena amat gembiranya, dan beliau tidak memakai surban hingga dia membaiatnya. (at Tamhid; Muwaththa’ Imam Malik)

[2] 38.252/2825. Telah bercerita kepada kami Qobishah telah bercerita kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Sulaiman Al Ahwal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa dia berkata; Hari Kamis dan apakah hari Kamis?. Lalu dia menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Dia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bertambah parah sakitnya pada hari Kamis lalu Beliau berkata: Berilah aku buku sehingga bisa kutuliskan untuk kalian suatu ketetapan yang kalian tidak akan sesat sesudahnya selama-lamanya. Kemudian orang-orang bertengkar padahal tidak sepatutnya mereka bertengkar di hadapan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Mereka ada yang berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah terdiam. Beliau berkata: Biarkanlah aku. Sungguh aku sedang menghadapi perkara yang lebih baik daripada ajakan yang kalian seru. Beliau berwasiat menjelang kematiannya dengan tiga hal; Usirlah orang-orang musyrikin dari jazirah ‘Arab, hormatilah para tamu (duta, utusan) seperti aku menghormati mereka dan aku lupa yag ketiganya. Dan berkata Ya’qub bin Muhammad, aku bertanya kepada Al Mughiroh bin ‘Abdur Rohman tentang jazirah ‘Arab, maka dia menjawab; Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman. Dan berkata Ya’qub; Dan ‘Aroj yang merupakan permulaan Tihamah (HR Bukhari).