tj-k-349056-unsplash

MASA DEPAN DAN KEWAJIBAN KITA

Masa Depan dan Kewajiban Kita

 

Tanya: “Di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam”. Usaha apa yang harus kita kerjakan agar pernyataan ini dapat terwujud?

Jawab: Sebelum hal lainnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar umat Nabi Muhammad tidak menanti lebih lama lagi dan semoga nikmat ini segera dianugerahkan-Nya kepada kita. Terkait permasalahan ini, di satu sisi merupakan tugas bagi seorang hamba, di sisi lainnya merupakan keharusan dari perwujudan sifat Rububiyah Allah SWT. Kita akan berusaha menjawab pertanyaan ini dari sisi kedua.

Pertama-tama, di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam merupakan kabar yang disampaikan Allah SWT di dalam al Quran. Dalam sebuah ayat yang mulia, Allah SWT berfirman bahwasanya nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada Nabi Daud dan Sulaiman juga akan dianugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah  berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai (QS An Nur 24:55).

Ini adalah aturan Ilahi. Demikianlah, terkait permasalahan tersebut, ketika hal-hal yang diinginkan Allah dapat kita penuhi, suara teragung dan terlantang yang akan terdengar dalam perubahan-perubahan masa depan akan berupa suara Islam. Ayat mulia lain yang menguatkan makna tersebut di antaranya adalah:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِـُٔوا۟ نُورَ اللَّهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ

”Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai (QS at Taubah 9:32).

Tanpa bersandar pada asas yang kokoh, dengan slogan kosong yang hanya bergulir di lidah, mereka berusaha memadamkan Islam ad dinul mubin (Islam, agama yang jelas). Allah sama sekali tidak mengizinkan hal itu untuk terjadi. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, kehendak Allah adalah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka ingin memadamkannya dengan segenap daya, upaya, gagasan, dan ungkapan.

Allah SWT, mengirimkan Sang Habibi SAW dengan hidayah-Nya yang murni, dengan asas-asas yang akan mengeluarkan umat manusia menuju cahaya, dengan agama yang benar dan sangat cocok dengan fitrah manusia, serta dengan prinsip-prinsip yang cocok dengan agama, tabiat, dan syariat fitriah. Allah mengirim dan di waktu yang sama menjaganya. Allah pun melanjutkan penjagaan-Nya. Sebagaimana bintang-bintang lenyap setelah terbitnya matahari, ketika pemiliknya telah merentangkan sayap agungnya, agama ini dengan maknanya yang hakiki akan mengalahkan segala macam ideologi. Dengan istilah lain, saat Allah mengecambahkan benih di suatu tempat, saat Allah menyiapkan telur-telur untuk dierami dan kemudian menetaskan anak-anak ayam, Allah akan menjaga mereka dari kekuatan-kekuatan jahat. Penjelasan lain dalam makna yang sama terdapat pada ayat mulia lainnya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya” (QS Ash Shaf 61:9)”.

Suatu hari Baginda Nabi SAW bersabda, ”Seandainya aku bisa menyaksikan saudara-saudaraku!”. Para sahabat dengan sedikit heran bertanya kepada Baginda Nabi, ”Ya Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudaramu?”. Baginda Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku belum datang, mereka akan datang setelahku…”[1]. Dari sini dapat dipahami bahwasanya Allah SWT  akan menganugerahkan kemuliaan-kemuliaan yang setara baik kepada umat terdahulu maupun untuk umat yang akan datang kemudian.

Di hadits lainnya, Baginda Nabi bersabda, “Jihad dimulai denganku dan akan berlanjut hingga datang hari pertempuran umat terakhirku dengan Dajjal.”[2] Dari hadits ini dapat dipahami bahwa umat terakhir yang memanggul kewajibannya kepada Allah di pundaknya akan menjunjung tinggi agama ini. Mereka akan melawan orang-orang yang mengingkari keilahiatan Allah, orang-orang yang mengaku sebagai nabi, orang-orang yang menentang kenabian, baik dari kalangan orang-orang lugu maupun dari kalangan mereka yang telah keluar dari agama. Dengan demikian, representasi agama ini sekali lagi akan berlanjut dengan kecemerlangannya. Ya, Baginda Nabi lewat haditsnya membahas tentang adanya kumpulan orang yang akan terus mendukung agama ini hingga datangnya hari kiamat. Tidak bisa dibayangkan jika orang-orang yang demikian tidak ada. Komunitas itu mungkin di suatu periode waktu tertentu melemah, tetapi seiring berjalannya waktu kekuatan mereka akan kembali terpulihkan. Mereka akan memikul agama ini hingga sangkakala kiamat dibunyikan.

Jika kita melihat semua sisi tersebut, di tengah-tengah terjadinya pergolakan masa depan, akan nampak bahwa suara Islam akan menjadi suara yang teragung dan terlantang, keadaan yang ada saat ini pun seakan membenarkan dan mengonfirmasinya. Kita telah menjadi saksi terurai dan mundurnya dunia Islam di abad ke-18 hingga abad 19.  Angin topan nilai-nilai asing betul-betul bertiup kencang dan orang-orang kita selangkah demi selangkah menjauhi nilai-nilai mulianya sendiri. Ada banyak intelektual yang menganggap tindakan menjauhi agama sebagai kemuliaan dan kebajikan. Sedangkan sisanya, yaitu mereka yang terpengaruh oleh intelektual-intelektual itu sayangnya kemudian terperangkap oleh perasaan rendah diri dan lebih memilih untuk mengikuti langkah para intelektual tersebut. Akan tetapi, di seperempat akhir abad ke-20, kita melihat kecemerlangan dari sebagian kilatan cahaya menuju arah kita. Orang-orang beriman sekali lagi bersatu dan bangkit untuk melawan ateisme dan keingkaran terhadap keilahiatan Allah. Kaum muslimin yang ada di masa ini bukan lagi sosok seperti kaum muslimin di abad 18-19. Kaum muslimin di masa ini, walaupun  sendirian, mereka memiliki iradat, merasa kuat, dan memiliki harapan untuk memanggul tugas dakwahnya Baginda Nabi SAW.

Penjelasan saya adalah salah satu sisi dari permasalahan yang sedang kita bahas. Sisi lainnya adalah sebagai berikut: Kita memiliki kewajiban untuk menghidupkan Islam yang menjadi garansi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Inilah yang disyaratkan oleh keikhlasan kepada kita. Kewajiban kita adalah menunaikan tugas, sedangkan untuk hasilnya kita tidak memiliki ruang untuk ikut campur. Kita tidak bisa mengetahui apa saja yang terjadi dan diperdebatkan di alam malaikat. Baginda Nabi bersabda, ”Saya bangun pada suatu malam dan salat semampu saya, kemudian saya mengantuk dan merasa berat. Tiba-tiba Rabb-ku muncul dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan berfirman: Wahai Muhammad, tahukah kamu tentang apa para malaikat itu berdebat? Aku menjawab: Tidak, Ya Rabb.  Kemudian tangannya diletakkan di antara dua bahuku, aku merasakan kesejukan di antara dua belikat atau di dadaku. Peristiwa itu terjadi di antara waktu magrib dan isya. Setelahnya, aku jadi mengetahui segala macam hal. Kemudian datang suara: ”Wahai Muhammad!” Aku jawab: ”Aku dengar dan aku taat, wahai Tuhanku”. Dia melanjutkan firman-Nya: ”Saat ini apakah kamu tahu hal apa saja yang diperdebatkan di alam malaikat?” Aku menjawabnya: ”Derajat dan kafarat, berjalanlah menuju jamaah dan masjid, mengambil wudu dengan sempurna walaupun kondisinya amat sulit, dan tentang menantikan salat dengan penuh semangat setelah menunaikan satu waktu salat.” Barangsiapa yang mengerjakannya, ia akan hidup dalam kebaikan, mati di dalam kebaikan, dia akan disucikan dan dibersihkan dari beragam kesalahan dan dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.”[3]

Seorang manusia akan menunjukkan gairahnya untuk mati di jalan Allah dan dalam semangat tersebut ajal akan menemuinya sehingga ia pun bisa bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang melewati kuburnya tidak akan lewat tanpa mengirimkan pahala surat Al-Fatihah untuknya. Balasan dari derajat yang diraihnya tersebut akan diberikan di akhirat. Sedangkan orang lainnya mungkin tidak bisa selamat sepenuhnya dari dosa-dosa. Akan tetapi, sedari awal ia bagaikan bara dari api unggun, ia memeluk erat agamanya, ia mungkin akan kehilangan pangkat dan jabatannya, perniagannya mungkin akan merugi, beberapa di antaranya mungkin akan menerima perlakuan buruk. Walaupun demikian, ia tetap memegang erat agamanya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak sekali-kali berkenan untuk melepaskan agamanya begitu saja. Terkait mereka, pembahasannya juga akan dilakukan oleh Allah dan para malaikatnya. Baik kita ketahui ataupun tidak, itulah yang akan terjadi. Kewajiban kita adalah berusaha dan berikhtiar sebaik-baiknya. Itulah tugas kita satu-satunya.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Istikbal ve Bize Dusen” di buku Bahar Nesidesi, hlm. 161-165

[1] HR Muslim, bab taharah, 39; HR Nasai, bab taharah, 113

[2] HR Abu Daud, Jihad 35

[3] HR Tirmizi, bab tafsirul quran, surat Shad

luka-vovk-1311079-unsplash

SAAT SALJU MULAI MENCAIR

Para pembaca sekalian, Allah SWT membangun alam semesta untuk memperkenalkan dirinya kepada kita. Allah SWT telah menjadikan makhluk berakal dan tak berakal untuk berzikir dan memuji nama agung-Nya. Keteraturan, harmoni, dan alam semesta membicarakan keagungan Allah SWT. Karena manusia adalah makhluk yang berakal, maka ia berkewajiban untuk menjadi penerjemah keagungan-Nya.

Sebagai mahkluk yang memiliki kemampuan berbicara, manusia diciptakan untuk menceritakan keagungan nama Allah SWT. Manusia adalah makhluk istimewa yang mengandung intisari segala ciptaan. Allah SWT ingin memperkenalkan diri-Nya melalui keteraturan megah dan tatanan harmonis spektakuler yang diciptakan-Nya. Allah ingin memperkenalkan diri lewat kesempurnaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu manusia, serta lewat Al Qur’an-Nya dan melalui lisan mulia Rasul-Nya.

Saat waktu itu tiba, yaitu saat salju mulai mencair, mulai bermunculan orang-orang yang mengenal-Nya. Seperti pengikut Nabi Adam, pengikut Nabi Nuh, serta ratusan pengikut nabi-nabi lainnya. Pengikut dan umat Nabi Muhammad SAW dimana para nabi pun menjadi pengikutnya SAW bagaikan salju yang mencair, mereka seperti sungai yang mengalir deras menuju hak dan hakikat. Ketika diserukan kepada mereka, “Allah!”, mereka pun berseru: “Allah”. Begitu juga ketika diminta untuk mengucapkan, “La ilaha illallah”, mereka pun mengucapkannya, “La ilaha illallah”.

Namun, salju mencair di musim semi, burung bulbul pun berkicau di musim semi. Waktu digemakannya kalimat tauhid “La ilaha illallah” pun akan terjadi saat musim semi tiba. Benih akan ditaburkan dan tunas akan berkecambah. Musim semi  tiba selangkah demi selangkah, saat itulah anda mendengar ribuan “La ilaha illallah” di tiap lembah. Era yang mengingatkan pada era kebahagiaan, adegan yang serupa dengan adegan ketika orang-orang di sekitar Nabi Muhammad mulai mencair hatinya. Anda akan melihat, mungkin itu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup.

Saat itu, anda akan melihat ratusan ribu tangan diangkat untuk memanjatkan doa dan mengemis asa sembari meggemakan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah…”. Seandainya saya bisa mengintip dari lubang kecil peristiwa agung nan manis tersebut, sungguh saya akan merasa teramat senang seolah-olah saya berada di surga. Peristiwa manis saat kalimat suci “La ilaha illallah”  bergema di setiap lembah.

Era Nabi Muhammad adalah era kesabaran dan berlapang dada menghadapi ujian. Era dimana terjadi ribuan kesulitan, era dimana nyawa dipertaruhkan demi hidupnya Islam. Mereka terus bertahan, kesabaran pun melewati batasnya dan berada di atas level yang diperkirakan. Akhirnya, musim semi itu pun tiba, semua lembah Makkah dipenuhi orang-orang yang menggemakan kalimat “La ilaha illallah”. Betapa banyak tokoh yang tidak diperkirakan kemudian luluh hatinya kepada Islam. Apa rahasianya? Tak ada satu pun yang tahu. Tetapi, peristiwa ini menjelaskan banyak hal untuk kalimat tauhid .

Peristiwa ini juga menjelaskan urgensi kalimat tauhid di muka bumi. Hakikat peristiwa ini memiliki nilai amat penting di hadapan Allah. Apa arti peristiwa ini di masa depan, saya serahkan kepada alam pikir para pembaca sekalian di masa depan. Perang Badar telah dimenangkan, kaum kafir tak lagi bisa menyombongkan diri. Islam pun sudah mulai bisa berjalan seperti mesin yang berfungsi dengan harmonis. Orang-orang kafir marah dan ingin membalas dendam karena mereka telah dipermalukan.

Safwan bin Umayyah bin Khalaf, yang akan masuk Islam setelah Pertempuran Hunain, menahan kemarahannya kepada Nabi Muhammad SAW. Umair ibn Wahb pun tidak kalah marahnya, dia adalah sepupu Safwan, mereka siap berbuat keburukan apapun untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW. Setelah Badar usai, mereka duduk dan berbicara dengan hati yang sedih dan penuh duka. Sedangkan di Madinah, para sahabat merayakan kemenangan dengan hati gembira dan ungkapan-ungkapan manis. Mereka berdoa semoga Allah berkenan menganugerahi kembali nikmat-nikmat yang seperti ini.

Rekan-rekan Umair serta Safwan ibn Umayyah menceritakan kesedihan-kesedihannya pasca Perang Badar, putra Amr ibn Wahb ditawan, sedangkan ayah Safwan terbunuh dalam pertempuran Badar. Keduanya menahan dada penuh dendam di masa jahiliyah,  Umair ibn Wahb dijuluki sebagai iblisnya kaum Quraisy, dialah setan dari kaum Quraisy. Tetapi perhatikanlah, saat takdir berkehendak, iblisnya Quraisy pun menjadi penolong Sang Nabi SAW. Ia berbicara dengan Safwan dan merencanakan rencana mereka; dia akan pergi ke Madinah untuk menengok putranya, ia berencana mendekati Nabi dengan dalih untuk menebus putranya. Jika berhasil, ia akan membunuh Nabi Muhammad dengan pedang yang telah dilumuri dengan racun.

Dengannya ia akan membalaskan dendam semua orang Quraisy, dia pergi ke Madinah dengan niat itu. Ketika ia mengikat untanya di depan Masjid, Umar ibn al-Khattab melihat orang berjulukan setan Quraisy ini. “Berlindunglah ke masjid sebelum sosok buas ini masuk!” serunya kepada para sahabat. Dia akan menyakiti Nabi, ada tanda-tanda pedang di balik pakaiannya. Betapa dahsyatnya kepekaan, kehati-hatian, dan kewaspadaannya! Orang berjiwa buas itu masuk, tetapi Umar sudah masuk sebelum dia masuk. “Ya Rasulullah, seseorang yang buas akan datang ke sini, semoga dia tidak menyakitimu!”, kata Umar kepada baginda Nabi. Nabi tersenyum dan berkata, “Tinggalkan aku bersamanya, wahai Umar! Biarkan dia masuk!”.

Umair ibn Wahb mendekati Nabi, kemudian Nabi pun bertanya, “Umair, kenapa kamu kemari?”. “Aku datang ke sini untuk membayar uang tebusan dan menjemput putraku.”, jawab Umair. Percakapan antara Nabi dan Umair pun berlanjut:

 

Nabi       : “Katakan padaku alasan sebenarnya! Kenapa kamu datang ke sini?”

Ketika Umair terus berbicara tanpa menyatakan alasan sebenarnya, Nabi Muhammad pun berkata,

Nabi      : “Jika kamu mau, saya dapat memberitahumu! Anda berdiskusi dengan Safwan ibn Umayyah di pinggir Ka’bah. Rencanamu adalah datang kemari sambil menyuguhkan alasan ingin menebus putramu, lalu membunuhku dengan pedang yang telah kau rendam dengan racun selama berhari-hari.”

Rasulullah belum selesai berbicara, tetapi setannya Quraisy ini tiba-tiba bangkit terkaget-kaget, kemudian berkata,

Umair   : “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Apakah anda mengizinkan ya Rasulullah jika saya tinggal bersamamu? Izinkan saya menggunakan pedang tajam ini di jalan Allah!”

Nabi       : “Pelajarilah Al Qur’an!”

Ia pun mempelajari Al-Qur’an di Masjid Nabawi. Setannya Quraisy menjadi murid Sang Nabi,  ia mengambil tempat di samping Umar. Akhirnya dia mempelajari Al-Qur’an sebanyak yang dia bisa. Sementara itu di Makkah, Safwan berjalan mondar-mandir, ia menyusuri jalanan Makkah sambil menunggu kejadian luar biasa yang akan terjadi di Madinah. Berita yang akan datang itu penting baginya, bagi orang-orang Makkah dan bagi sejarah. Ia menantikan kabar kematian Sang Nabi, dia menanyakan setiap kafilah yang lewat, tetapi berita yang dinanti tak kunjung datang. Apa yang dia harapkan tidak terjadi.

“Ada apa di Madinah? Apakah ada berita?”, pada suatu hari dia bertanya pada seorang pria. Dia menjadi sangat bersemangat dan lega ketika pria itu berkata “Ada berita besar ini!”. Dia berpikir bahwa peristiwa yang akan membuat Quraisy sangat senang telah terjadi. “Bagaimana itu bisa terjadi? Bisakah kamu memberitahuku kejadian hebat itu?”,  “Ya, coba saya jelaskan!” jawab si pria.

Umair ibn Wahb mengunjungi Nabi, kemudian ia meninggalkannya seperti bola salju yang berpisah dari gunung esnya. Setelah mendengarkan sabda Sang Nabi, hatinya mencair dan berubah menjadi air terjun. “Ketika dia kembali, anda akan berada dalam kesulitan! Itulah kejadiannya.” kata pria tadi kepada Safwan. Dia pun bagai disambar petir di siang bolong, berita yang didengarnya tidak sesuai dengan harapannya. Sementara itu, kalbu Umair ibn Wahb begitu penuh. Ia tak tahan hanya berdiam diri di Madinah, seseorang yang tadi hatinya penuh dendam kini berubah menjadi tambang emas yang amat berharga, ia ingin menunaikan kewajibannya. “Jika anda izinkan, saya ingin kembali ke Makkah dan menuntaskan tugas dari pedang ini.”

Sang Nabi mengetahui reputasi Umair. Beliau tahu takkan ada orang yang sanggup melawannya. Umair ibn Wahb adalah seorang yang pemberani mengingat namanya berarti Umar kecil, akhirnya Nabi mengizinkannya. Safwan adalah orang yang paling pertama bertemu dengan Umair ketika dia tiba di Makkah sepulangnya dari Madinah. Safwan tidak mampu berkata dan bertanya apapun kepadanya. Dia menantang masyarakat Makkah, dia akan menunaikan tugas pedangnya sama seperti yang Umar lakukan ketika dia meninggalkan Makkah. Dia juga menjelaskan agama kepada orang-orang, dia menyampaikan keterikatan dirinya dengan kalimat “La ilaha illallah.”

Setelah satu atau dua tahun kemudian, dia kembali ke Makkah bersama kumpulan orang yang mengikutinya. Di sisi lain, Safwan masih bertahan, dia seperti es batu yang tidak akan pernah mencair dan tetap membeku. Makkah ditaklukkan, banyak hati pun turut takluk, tetapi Safwan masih menolak panggilan itu. Dia menyiapkan barang-barangnya dan menata diatas untanya. Dia memutuskan untuk melarikan diri dan menghilang di negeri yang jauh. Hati Umair ibn Wahb terasa sedih karena sepupunya belum beriman, dia menemui Nabi dan berkata,

Umair    : “Ya Rasulullah, Safwan adalah orang yang memiliki kebanggaan diri”.

Nabi       : “Mungkin ia memiliki egoisme. Tolong beri tahu dia bahwa dia aman di negeri ini.”

Umair    : “Saya percaya bahwa dia akan sangat berarti bagi Islam. ”

Nabi       : “Dia benar-benar aman untuk tinggal di sini.”

Umair    : “Tapi dia tidak akan tahu keputusanmu, bagaimana dia tahu?”

Nabi       : “Apa lagi yang bisa saya lakukan?”, tanya Nabi.

Umair       : “Semua orang melihat sorban hitam di kepala anda yang anda kenakan saat memasuki Makkah.  Jika anda berkenan, tolong berikan kepada saya, akan saya bawa kepadanya. Itu merupakan tanda bahwa anda membolehkannya tinggal di sini.”

Setelah itu dia mengambil sorban Nabi dan memakainya. Dia berbicara dengan Safwan, menjelaskan situasinya dan meyakinkannya untuk mengunjungi Nabi. Safwan pun akhirnya menemui Nabi SAW, dia sangat malu dan selalu menatap ke bawah, tidak bisa melihat ke wajah Nabi.

Safwan    : “Ya Rasulullah, dia mengatakan bahwa anda mengizinkan aku tinggal di sini, apa itu benar?”

Nabi          : “Ya itu benar.”

Safwan    : “Ya Rasulullah, aku menerima bahwa apa yang anda bawa dan katakan itu benar, tapi beri aku waktu dua bulan, jadi aku bisa berpikir.”

Nabi          : “Aku memberimu empat bulan!”, Nabi tersenyum karena beliau bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nabi bisa melihat bagaimana Safwan nanti bertempur dalam Perang Yarmuk di perbatasan Roma. Nabi bisa melihat bagaimana putra bangsawan Quraisy bertempur sebagai prajurit biasa tanpa mengharap posisi komandan. Dia tersenyum dan berkata, “Kamu ingin dua bulan tapi ini empat bulan untukmu, ambillah!”. Ketika dia melihat kebaikan dan kemurahan hati Nabi, beberapa hari kemudian dia mendekati Sang Nabi dan mengucapkan kata-kata yang membuat Umair menangis, “Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, saya bersaksi, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”. Safwan bin Umayyah membuka dadanya, menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta Mutlak yang berhak disembah.

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ  * وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, 110: 1-2). Kini yang masuk bukan satu per satu lagi, melainkan berbondong-bondong. Laju orang yang menerima agama ini kini berlipatganda seperti deret geometrik, lebih dalam, lebih luas, lebih berdimensi. Kata-kata “La ilaha illallah” pun kini bisa didengar di setiap lembah. Kita sekarang dalam keadaan gembira di lingkaran atmosfer majelis Sang Nabi. Pujian hanya kepada Allah karena menunjukkan jalan Sang Mawar saat kita berada dalam kubangan lumpur. Pujian hanya bagi Allah yang telah memberikan awan rahmat saat topan kekufuran menyelimuti kami. Pujian bagi Allah yang menunjukkan manifestasi kebangkitan saat bunga dan pepohonan tercabut bersama akarnya. Berbagai peristiwa telah kita hadapi, bibir terkulai karena putus asa, hati penuh luka.

Kini hati penuh dengan harapan, setelah wajah-wajah penuh hakikat yang mengingatkan Eranya Sang Nabi mulai terlihat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan dimana memori-memori indah itu akan kembali muncul. Semoga Allah membimbing generasi kita ke jalan yang benar. Semoga Dia memberkati kita, hamba-Nya yang lemah, dengan keberanian dan keamanan dalam perjuangan besar ini. Semoga Dia membuat kita termasuk orang-orang yang tunduk pada kalimat tauhid. Jika kita bersandar padanya, kita dapat menunaikan tugas dan membuat zaman ini bekerja membantu kita. Jika kita mengandalkan diri sendiri, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Semoga Allah tidak membiarkan diri kita sendirian dengan nafsu kita, walau hanya sekejap mata.

 

rembesan 2 cober

Rembesan 2

rembesan 1 cover

Rembesan 1

luca-baggio-112868-unsplash (1)

Guru di Perantauan

ashkan-forouzani-1169045-unsplash

Merekatkan Ukhuwah dengan Cahaya Iman dan Al-quran

Biismihi Subhanah…

Saudara-saudaraku yang mulia!

Oleh karena kali ini aku melihat Risalah Ikhlas pada tulisan kalian, dengan memasrahkan kalian kepada risalah-risalah seperti risalah ikhlas tersebut, aku merasa tidak perlu lagi membuat pengajian tambahan. Akan tetapi, aku ingin memberi peringatan: Karena pekerjaan kita bersandar pada rahasia keikhlasan, karena pekerjaan kita merupakan iman kepada hakikat, tanpa perlu mencampuri kehidupan duniawi dan masyarakat lainnya, kita berkewajiban untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat persaingan, partisan, dan perselisihan. Sayang seribu sayang, ketika sedang diserang habis-habisan oleh serangan ular yang teramat dahsyat, para ahli ilmu dan ahli agama dengan menggunakan alasan remeh seremeh gigitan nyamuk, justru membantu pengrusakan yang dilakukan kaum munafik, zindik, dan para  ular dengan jalan saling kritik satu sama lain; tanpa disadari mereka telah membantu kaum tersebut untuk membunuhi sesamanya.

(Lampiran Kastamonu, hlm. 212)

* * *

Penjelasan:

Oleh karena prinsip dari pekerjaan ini adalah menjelaskan hakikat iman dengan bersandar kepada rahasia keikhlasan, maka kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membahayakan pengabdian-pengabdian mulia ini. Untuk itu, sebelum terlambat kita harus:

  1. Tidak turut campur dalam kehidupan duniawi dan kehidupan sosial
  2. Menjauhkan diri dari persaingan, partisan, dan perselisihan

Pekerjaan ini mewajibkan kita untuk berlaku demikian. Sayangnya karena permasalahan ini tidak diperhatikan, di saat ular menyerang dengan dahsyatnya, dengan membesarkan permasalahan sepele seremeh gigitan nyamuk dan menggunakan kesalahan parsial sebagai alasan, para guru dan tokoh-tokoh spiritual sibuk mengkritik satu sama lain. Dengan demikian, tanpa disadari mereka telah memberi kesempatan kepada orang-orang tak beriman untuk melakukan aktivitas pengrusakannya. Keadaan ini mirip seperti memberi senjata kepada orang yang ingin membunuhi kita.

Demi menghindari perselisihan dan kontroversi, Ustadz pun tidak mengizinkan beberapa risalah untuk diterbitkan. Beliau tidak masuk ke dalam isu-isu kontroversial. Bahkan di tahun-tahun awal kehidupannya di Barla, Husrev Altinbasak abi datang mengunjunginya. Beliau adalah pensiunan tentara dengan pangkat terakhir kapten. Beliau juga merupakan sosok terkemuka di Isparta. Saat itu beliau bertanya kepada Ustaz, apakah diperbolehkan mengusap khuf (sepatu kulit tebal), serta pertanyaan berkenaan tentang syarat-syarat pendirian shalat jumat apakah mengharuskan seseorang sedang berada di kota tempat mukimnya, Ustaz menjawabnya: “Saudaraku, di masa ini membimbing hakikat iman dan al Quran ke setiap kalbu adalah pekerjaan yang sangat penting. Pandangan materialis sedang berusaha mendiktekan ketidakberimanan. Di masa ini, pengabdian yang paling penting adalah pengabdian iman. Jika kita sibuk dengan perihal ikhtilaf fikih, beragam pintu perdebatan akan terbuka di antara pandangan-pandangan fikih. Untuk saat ini, mari kita tidak menyibukkan diri dengannya. Mari kita bersama-sama  mengabdikan diri untuk iman dengan bimbingan cahaya al Quran.” Lewat jawabannya ini Ustaz meyakinkan Husrev abi sehingga ia pun tidak masuk ke masalah-masalah ikhtilaf. Beliau pun dipindahtugaskan dari Barla ke Isparta –sebagai juru tulis ‘Pabrik Mawar’– lewat pena berliannya, ia beralih pada penulisan Risalah Nur.

Diterjemahkan dari buku Seputar Panduan Berkhidmah, oleh Bediuzzaman Said Nursi.

Pemilihan artikel dan penjelasan oleh Abdullah Aymaz.

Aymaz, Abdullah, 2010, Hizmet Rehberi Uzerine, Istanbul: Sahdamar Yayinlari, hlm. 82-83