david-monje-671441-unsplash

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan salabatud diniyah dan bagaimana ia harusnya dipraktikkan?

Jawab: Tidaklah tepat jika kosakata salabatud diniyah dimaknai sebagai fanatik buta, keras kepada yang berbeda pendapat dengannya, serta merasa dirinya paling benar dengan menyalahkan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat yang diyakininya. Kita menggunakan kosakata kefanatikan lebih kepada keras kepala, berpikiran tertutup, membela pendapat pribadinya dengan membabi buta, tanpa adanya dalil dan sumber yang mendasarinya. Kata kefanatikan juga dapat dimaknai sebagai tidak toleran dan menghargai, serta menolak pendapat lain tanpa ampun. Dari penjelasan ini, maka istilah salabatud diniyah tidak bermakna fanatik buta dan berpikiran tertutup, melainkan bermakna memegang erat prinsip agama dengan teguh dan konsisten. Perihal tersebut digambarkan surat ِAl Baqarah sebagai berikut :

لَٓا اِكْرَاهَ فِي الدّ۪ينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ لَا انْفِصَامَ لَهَاۜ وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS  Al Baqarah 2: 256)

Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu alayhi wasallam lewat hadis mulianya menyampaikan amanatnya kepada kita,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّوَاجِذِ

Artinya: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.”[1]

“Gigitlah dengan geraham” yang terdapat dalam hadis tersebut adalah sebuah gaya bahasa atau idiom yang digunakan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu, ketika berusaha untuk memahaminya, ia harus dipahami sebagai orang Arab memahaminya.

Idiom “Gigitlah dengan geraham” dapat dipahami sebagai: “Pegang eratlah prinsip–prinsip agamamu, seperti kamu memegang erat sesuatu dengan alat catut”.Jadi, dari teks hadis tersebut dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan salabatud diniyyah adalah: memegang teguh perintah–perintah agama, loyal dan setia kepadanya; konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti iman, akhlak, dan kehormatan diri; serta menjaga diri dari kelalaian dan keteledoran. Sedangkan berpikiran tertutup serta fanatisme buta dalam beragama, memaksa orang lain untuk menerima pendapat dan keyakinannya, sebagaimana kami sampaikan di awal, ia  bukanlah salabatud diniyah, melainkan fanatik buta belaka.

Jangan Jadi Sebab Seseorang Membenci Agamamu ketika Dirimu Berusaha Mengabdi kepada Agama

Jika seseorang  merasa bahwa memaksakan pendapat, bersikeras dengan pandangan pribadinya, dan berlaku kasar kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya adalah bagian dari salabatud diniyyah;  dan jika dengan pemahaman tersebut ia berpikir bahwa ia telah berkhidmat kepada agamanya, sungguh ia sedang berada dalam kekhilafan yang nyata. Laku tersebut dapat memancing reaksi  negatif. Bukannya simpati dan diterima dengan hangat, lakunya tersebut justru akan membuat lawan bicaranya benci dan semakin menjauhkan diri dari agama.  Oleh sebab itu, jika Anda tidak menjelaskan kedalaman ruh serta esensi pokok dalam agama; Jika Anda tidak menyampaikan makna dan intisari serta kebaikan dan keindahan seperti apa yang bisa umat manusia capai dengan agama; Jika Anda tidak mampu membangkitkan rasa ketertarikan pada agama dalam hati mereka; maka Anda akan mendapati respon yang mungkin tidak Anda bayangkan sebelumya. Ketika Anda bermaksud mengabdi kepada agama, tanpa disadari, Anda sedang membuat orang–orang di sekitar Anda menjauhi agama. Ya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan pikiran tertutup dan pemaksaan kehendak lebih besar kerugiannya daripada keuntungannya.

Ya, semua orang tahu bagaimana hasil akhir dari pelaksanaan beragam “isme” yang berusaha dikukuhkan lewat kekuatan dan kekuasaan di abad ke-20. Seperti Anda ketahui, ada satu negara di mana 40-50 juta orang dibunuh demi dipraktikkannya “isme” ini. Seakan sistem tersebut dibangun di atas tengkorak – tengkorak rakyatnya. Apa yang disisakan dari kezaliman, penindasan, dan kekerasan tersebut hanyalah kebencian dan dendam. Ya, walaupun sistem tersebut berusaha ditegakkan lewat kekerasan, kebengisan, dan penindasan, 50-60 tahun kemudian sistem tersebut akhirnya runtuh. Setelah sistem runtuh, orang – orang yang ditekan itu kemudian kembali ke keyakinan lamanya.  

Kriteria Hakiki Loyalitas kepada Agama

Jika demikian, seorang mukmin pemilik salabatud diniyah tidak boleh melakukan kesalahan semisal hanya menggunakan perasaannya saja, tanpa diimbangi pertimbangan lain seperti akal dan logika, lalu menyampaikan pesannya dengan teriakan–teriakan.  Metode seperti ini hanya akan memicu kebencian dari lawan bicara serta menambah resistensinya kepada agama. Kebencian dan resistensinya tersebut perlahan menumpuk di dalam dirinya, bahkan bisa berubah menjadi permusuhan dan agresi. Agar jalan bagi reaksi-reaksi negatif serta komplikasinya tidak terbuka, maka kita harus mengambil asas gerakan positif, memegang teguh nilai-nilai suci agama kita, berkonsentrasi padanya, memposisikan diri sebagai petugas pengundang agar lawan bicaranya berkenan melirik nilai–nilai mulia agamanya, dan di waktu yang sama, ia harus berupaya untuk menampilkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang paling indah dengan bahasa sikap dan kalbu. Pada masa dimana ilmu pengetahuan, mantik, dan logika berada di garda terdepan serta pada zaman dimana penaklukan peradaban diwujudkan dengan jalan persuasif, seorang manusia yang religius serta memiliki salabatud diniyyah harus mengetahui dengan baik nilai–nilai suci dalam agamanya. Ia harus mempelajarinya dengan baik serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari–hari sampai nilai–nilai tersebut menjadi sifat tabiatnya. Jika usaha ini mengharuskan seseorang untuk membaca seratus judul buku, maka seseorang yang ingin berkhidmat kepada agamanya harus mendedikasikan 2–3 tahun dari umur kehidupannya untuk mempelajari serta memahami isi dari buku–buku tersebut. Jika diperlukan, buat ringkasannya, lakukan analisis atasnya, dan praktikkan hasil temuan Anda dari buku–buku tersebut. Selain itu, jangan lupa dimensi maknawiyahnya. Dengan keteguhan serta konsistensi tinggi, dirikanlah salat tahajud dan hajat selama empat puluh tahun. Panjatkanlah doa dalam sujud–sujudnya: “Ya Allah, hanya kepada-Mulah aku berserah diri! Kumohon lembutkanlah hati orang-orang ini untuk beriman!”

Jika untuk mempelajari nilai–nilai suci dan meresapinya sebagai sifat tabiat membutuhkan usaha yang demikian keras, maka sesuai dengan kriteria itulah Anda harus membaca dan mendedikasikan diri. Di waktu yang sama, gentingnya persoalan ini tidak hanya membutuhkan usaha perseorangan. Jadi ia tidak cukup disiapkan dengan usaha membaca perseorangan saja. Anda harus mengundang teman–teman Anda untuk bermusyawarah dan berdiskusi dengannya terkait persoalan ini, serta mengevaluasinya bersama–sama. Anda akan terjun ke lapangan dakwah berbekal motivasi dan kekuatan maknawi yang dihasilkan lewat diskusi bersama dan proses tukar pikiran tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Anda juga harus memelihara hubungan Anda dengan Sang Pencipta serta senantiasa berusaha menjadi hamba-Nya yang baik demi diraihnya inayat Ilahi. Dengannya, Allah Subhanahu wa ta’ala  akan mendukung usaha–usaha yang tulus serta akan memberi pengaruh pada tutur kata Anda, sehingga setiap kata yang keluar akan meniupkan semangat kebangkitan serta membangunkan motivasi diri di hati para pendengarnya. Seperti yang dapat dilihat, persoalan yang ada tidak diselesaikan dengan emosi–perasaan– belaka. Ia harus diselesaikan dengan mantik logika serta pemikiran yang mendalam. Bukankah ini jalannya Nabi Muhammad SAW? Beliau dalam kurun waktu 23 tahun menyajikan  pesan-pesannya dalam bentuk yang dapat diterima oleh lawan bicaranya. Beliau senantiasa bergerak dengan akal dan logika dari Al Quran. Beliau menyampaikan wahyu Ilahi ke setiap hati pendengarnya tanpa perlu membangkitkan reaksi negatif dari orang–orang yang menerima pesannya.

Khususnya di zaman ini, tanpa mengikuti kaidah mantik dan logika, tanpa kerangka dari kitabullah, kita tidak bisa menjelaskan sesuatu ataupun menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan menggunakan kekerasan, kekuasaan, dan perilaku kasar. Ya, jika Anda bertekad untuk melakukan pengabdian kepada agama dan bangsa walau ia harus mengorbankan kehidupan Anda, maka Anda harus dilengkapi dengan pemikiran dan spiritualitas yang luhur. Anda harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah  Subhanahu wa ta’ala, keprihatinan, dan kepedulian yang tinggi atas segala permasalahan umat. Perkara representasi Islam yang semakin langka di permukaan bumi telah menjadikannya sebagai masalah bagi seluruh umat Islam. Hal yang demikian tentunya tidak bisa ditangani secara individu. Seringkali laku individu berujung pada kesalahan fatal yang aibnya harus ditanggung oleh seluruh umat Islam di seantero dunia. Misalnya, seseorang menduga bom bunuh diri adalah jalan untuk membela Islam. Sayangnya apa yang diperbuatnya itu telah mencoreng wajah Islam. Hal tersebut membuat masyarakat Islam di berbagai penjuru dunia pun akhirnya kesulitan untuk menjelaskan keagungan dan keluhuran agama Islam yang sebenarnya. Apa yang mereka lakukan telah membuat masyarakat dunia berpersepsi negatif kepada kaum muslimin lainnya: “Pelaku bom bunuh diri itu mengaku sebagai muslim. Gaya pakaiannya pun menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.” Agama yang merupakan representasi dari kebenaran, keadilan, dan rahmat pun mendapatkan stigma negatif dari masyarakat dunia. Kesalahan yang akibatnya harus ditanggung oleh semua umat muslim ini bersumber dari tidak dipahaminya semangat agama, tidak dianalisisnya definisi dari siratalmustakim, ditinggalkannya mantik dan logika Al Quran serta didahulukannya emosi dan perasaan. 

Dinamisme Emosi Jiwa yang Diperbaiki dengan Akal dan Logika

Dari apa yang saya katakan ini, janganlah dipahami bahwasanya saya sedang mendorong Anda untuk meminggirkan emosi dan perasaan. Perasaan tentu saja merupakan sebuah faktor yang sangat penting untuk menjelaskan dan membela agama Islam. Seorang manusia, harus sangat bersemangat ketika menjelaskan nilai–nilai yang diyakininya kepada orang lain. Jika terdapat musibah yang akan menimpa agamanya, ia harus gemetar seakan dirinya yang akan menemui ajal. Namun di waktu yang sama, ia harus senantiasa menjaga keseimbangan motivasinya dengan akal dan logika. Ia juga harus mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan motivasinya tersebut dengan benar.

Izinkan saya menjelaskannya dengan sebuah contoh: Bayangkan terdapat sebuah pemukiman di tepi puncak gunung yang tinggi. Di musim dingin, salju lebat menutupi puncak gunung tersebut. Saat musim semi datang, salju yang mencair menciptakan potensi banjir dahsyat yang dapat menyapu bersih seluruh pemukiman. Secara logika, hal yang harus dikerjakan dengan segera adalah membuat bendungan. Bendungan tersebut nantinya menampung salju yang mencair. Setelah itu, saluran irigasi juga harus dibangun untuk mengalirkan air di bendungan ke wilayah–wilayah yang membutuhkannya. Seperti halnya masyarakat di pemukiman tersebut yang sangat bergairah membangun bendungan demi menyelamatkan pemukimannya dari banjir, seorang mukmin juga harus memiliki gairah yang sama untuk menyelamatkan agamanya. Jika ada sesuatu yang mengancam agamanya, ia harus diselimuti rasa khawatir yang amat sangat. Rasa kantuknya akan segera hilang. Ia akan segera bangkit dari ranjangnya dan jalan mondar–mandir di koridor seperti orang gila. Ia tidak akan melakukan laku sia–sia seperti berteriak tanpa gerak. Demikianlah, ia akan berusaha melakukan hal yang harusnya dilakukan, yakni solusi logis dan masuk akal, untuk mengatasi masalah tersebut. Ia akan mengubah gairahnya yang membara menjadi aksi dan gerakan positif. Akan tetapi, saat melakukannya ia sama sekali tidak diperbolehkan melakukan gerak secara individu, hanya berdasar pada perasaan belaka, serta tanpa pemikiran yang matang.

Meskipun emosi dan semangat merupakan rasa yang layak dipuji, ia tetap harus diletakkan di bawah kendali akal dan logika sehingga manfaatnya dapat dimaksimalkan. Segala peristiwa yang menimpa dunia Islam dewasa ini atau bahkan segala peristiwa yang menimpa kemanusiaan dewasa ini seharusnya sudah cukup membuat kita gemetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki serta membuat kita sangat bergairah untuk segera memberikan kontribusi. Akan tetapi, jika seseorang bergerak hanya sebatas karena faktor emosional belaka, maka orang–orang di sekitarnya akan terancam terkena dampak turbulensi dari gerakannya. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya justru bisa jadi antipati dan membencinya. Lebih buruk lagi, gerakannya tersebut dapat memancing orang–orang di sekitar untuk memusuhi bahkan menyerangnya. Ya, jika perasaan dan emosi jiwa tidak diselaraskan dengan pertimbangan akal dan logika; jika ia tidak disalurkan melalui kanal yang telah dievaluasi keamanannya oleh akal dan logika; perasaan dan emosi tersebut akan berubah banjir bandang yang siap menyapu bersih apa yang dilewatinya. Bukannya memberi manfaat, ia justru akan mendatangkan mara bahaya yang teramat besar bagi lingkungan sekitarnya.

Dari sini, tidaklah mungkin bagi kita untuk melupakan respon hebat yang ditunjukkan oleh Ustaz Said Nursi. Seperti yang Anda ketahui, beliau adalah sosok manusia yang penuh semangat dan bermotivasi tinggi. Bisa dikatakan pada masa itu sudah tidak tersisa lagi orang dengan semangat dan motivasi yang setara frekuensinya dengan beliau. Di waktu yang sama, juga tidak ada orang yang mampu bergerak seseimbang dirinya. Ya, walaupun seluruh umur kehidupannya dipersembahkan untuk kemajuan bangsanya sehingga harusnya ia layak untuk dimuliakan dan diapresiasi perjuangannya, ia malah menghabiskan sisa umur kehidupannya di penjara, tepatnya saat umur beliau di kisaran 75–80an tahun. Walau perlakuan seperti ini yang diterimanya, beliau tidak pernah bertindak gegabah dan emosional. Sosok agung ini selain tahu kapan harus mengerem dirinya, beliau juga mengetahui bagaimana cara mengerem orang–orang di sekitarnya. Padahal di sekitarnya berjajar sosok–sosok pemberani nan gagah berani yang siap membela dan melindunginya. Ustaz Said Nursi mengetahui dengan baik bahwasanya bergerak secara perseorangan dan reaktif tidak akan menuai hasil yang baik. Sebaliknya, beliau mengarahkan potensi emosi dan semangat ini dengan mantik dan logika Al Quran serta menstimulasinya ke berbagai saluran. Semua perkembangan dan kemajuan pada hari ini di bidang ilmu pengetahuan dan agama tak mungkin dilepaskan dari strategi–strategi yang dikembangkannya di masa itu.

Pada akhirnya dapat kita katakan bahwasanya emosi jiwa dan semangat merupakan dinamika yang sangat penting untuk menyampaikan pesan–pesan agama ke setiap relung jiwa serta melindungi nyalanya agar tak padam. Akan tetapi, dinamika tersebut harus dimodifikasi dengan ilmu pengetahuan, akal salim, mantik, pemikiran yang mendalam, musyawarah untuk mencapai mufakat, serta keputusan kolektif. Lewat modifikasi ia diubah menjadi bentuk yang paling efektif dan efisien sehingga bisa memberikan manfaat maksimal.

[1] Tirmizi Kitab Ilm 16, Abu Dawud Kitab sunnah 5, Ibnu Majah Kitab Mukaddimah 6

oase air wudu

OASE AIR WUDU

Para pembaca yang terhormat, ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat. Kunci untuk membuka pintu ibadah shalat adalah persiapan ruhani serta persiapan jasmani, yaitu dengan berwudu. Mengambil wudu merupakan penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya, dan mengembangkan sisi kemalaikatan.

Berwudu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana tersebut memiliki penjelasan secara ilmiah, demikian juga dengan wudu, ia membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siap menerima berbagai anugerah Ilahi.

Penyucian dengan level dan kualitas semacam ini akan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin’ “, umat Muhammad akan diseru sebagai Ghurran Muhajjaliin. Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Mereka adalah orang-orang  yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, hakikat cahaya yang muncul dari anggota wudu ini adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW.

 

  • Ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat
  • Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi
  • Ghurran Muhajjaliin adalah orang-orang yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya dari anggota wudu

 

Anggota wudunya bercahaya. Di satu sisi  sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudunya jadi cemerlang karena bekas wudu, barangsiapa hendak menambah cahayanya, hendaklah ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan secara lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Suatu ketika Rasulullah mengajak sahabat untuk pergi ke Baqiul Gharqad, sejarawan mengungkapkan bahwa terdapat 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini. Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu saat memasuki Baqiul Gharqad, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini! InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!”. Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya.

Saat itu tampaknya terjadi musyahadah, pandangan Rasulullah SAW lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian melalui bibir mulianya beliau berkata, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami ini saudaramu ya Rasulullah?”, “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih, saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”, jawab Nabi. Kemudian para sahabat bertanya dengan heran, “Bagaimana anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang?”, baginda Nabi bersabda, “Bayangkan, jika seorang laki-laki memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang, kakinya jenjang dan berwarna putih bersih, jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?”, “Tentu” jawab sahabat.

 

  • Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud
  • Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba. Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia.
  • “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku,” “saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”

 

Rasululllah bersabda, “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”, aku akan melihat mereka saat berjalan ke hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya. Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya. Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya. Aku adalah farat haudh dari mereka. Akulah yang paling dahulu menuju haudh! Makna dari Farat adalah “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya sebagaimana tuan rumah menjamu tamu. Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti.” Kurang lebih seperti itulah yang ingin disampaikan Rasulullah.

“Akulah farat dari umatku di Haudhku”. Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya. Akulah farat dari mereka yang berwudu di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya. Akulah farat bagi mereka, umatku  yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudunya ketika banyak orang terusir dari haudhku. “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya, kepada merekalah aku memberi syafaat! Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku.” Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan baginda Nabi, tetapi dikarenakan oleh wudu dan shalatnya, karena senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri.

Kepada orang-orang yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut, maka ketika Nabi menemui penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan mengirimkan salam kerinduan, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad, seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian dengan jasmaninya. Sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya seperti panggilan terakhir dari komandan tertinggi kepada umatnya, “Bersiap siagalah!”

 

  • Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya
  • “Akulah farat dari umatku di Haudhku”
  • Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca

 

Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya, memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya, beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku.” Para pembaca yang budiman! Ini adalah isytiak dari baginda Nabi, sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan  sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya.

Apakah anda merindukan kami ya Rasulullah? Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringat kami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai mulianya hati sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu. Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah, ketika kita mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam maka kita telah menjawab salam Nabi tersebut. Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,”  kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah.

 

  • Isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat
  • Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,” kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita
  • Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi.

 

Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut, masjid menjadi sarana agar  tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar menjadi sarana agar nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Ka’bah dan menziarahi makam baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Ya Allah, jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut[1]. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

 

[1] Alam Lahut adalah salah satu istilah pembagian alam dalam ilmu sufi, ia adalah alam ghaibul ghaib yang maksudnya ialah alam yang lebih bersifat ghaib di dalam ghaib.

MURSYID HAKIKI

MURSYID HAKIKI

Tanya: Apa saja karakteristik mursyid hakiki?

Jawab: Seorang mursyid ketika menunaikan tugasnya,  yaitu memberikan pengarahan kepada mereka yang ingin mendapat bimbingan untuk dapat melakukan perjalanan kalbu dan kehidupan ruh, akan memperhatikan kondisi si murid secara umum. Mursyid sejati adalah orang yang mengetahui cara memberi atau cara membentuk dunia ruh, struktur berpikir, dan dunia pikiran murid yang diterimanya. Dia adalah sosok insan yang mampu memasuki kalbu murid-muridnya, dan bukan orang yang sekedar membagikan jumlah tasbih dan zikir kepada orang-orang yang mendatanginya. Dia adalah figur  agung yang mengetahui bagaimana si murid harus mengembangkan potensi dirinya, entah dengan sejumlah bacaan tasbih, ataukah dengan riyadhah, ataupun dengan berkhalwat. Jika sang mursyid mampu mendeteksi dan mampu memasuki kalbu murid-muridnya, maka ia akan dapat mengarahkan murid-muridnya. Membagi-bagikan sejumlah tasbih kepada setiap murid yang datang kepadanya adalah kemursyidan yang polos. Menepikan diri setelah menerima sejumlah tasbih pun merupakan kepolosan dalam menjadi murid.

Ya, hubungan antara seorang mursyid dan murid bergantung pada pengetahuan yang mumpuni. Seorang mursyid harus mengetahui kondisi kejiwaan muridnya. Ia harus mengarahkan dan menjadi sarana bagi kebangkitan muridnya. Sebenarnya seorang murid yang berkonsultasi kepada seorang guru bagaikan seorang pasien yang menemui seorang dokter. Pertama, sang mursyid akan mendiagnosa penyakit si murid yang datang kepadanya. Obat yang sama tidak bisa diberikan begitu saja kepada setiap murid yang datang tanpa ditemukan penyakitnya terlebih dahulu. Solusi dari setiap penyakit berbeda-beda. Ziya Pasa berkata:

Ketahuilah penyakitnya, baru mulai usaha pengobatannya

Apakah kau kira semua balsem merupakan obat bagi setiap penyakit?

Pertama, penyakit harus diketahui baru kemudian cara pengobatan yang tepat dapat dipraktikkan. Jika penyakitnya adalah kekufuran dan keingkaran, walaupun Anda memberinya jutaan tasbih sekalipun tidak akan memberi manfaat. Pengobatan yang harusnya dilakukan kepada orang yang demikian adalah dengan menghilangkan keraguan dan kebimbangan di dalam dirinya. Izinkan saya memberikan contoh dari Era Kebahagiaan:

Sayyidina Julaibib, salah satu di antara sahabat Baginda Nabi, adalah seorang pemuda yang saat itu masih berada di bawah pengaruh watak manusiawinya. Selang berapa lama kemudian, kekurangannya ini menjadi pembicaraan di antara masyarakat. Untuk itu, Baginda Nabi memanggil Sayyidina Julaibib agar menemuinya. Bagaimana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus kepada dirinya saja sudah cukup untuk menyihir dirinya. Baginda Nabi kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada sosok manusia yang telah tersihir ini:

  • Apakah kamu mau jika hal itu dilakukan kepada ibumu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada ibunya. Andai kamu memiliki anak perempuan, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada anak perempuanmu?
  • Biarlah jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Rasul Allah! Jelas aku tidak menginginkannya.
  • Tidak ada satu seorangpun yang mau hal itu dilakukan kepada anak perempuannya. Lalu, maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada saudara perempuanmu?
  • Tidak, ya Rasulullah! Aku tidak mau!
  • Maukah kamu jika hal itu dilakukan kepada bibimu?
  • Tidak! Tidak! Aku tidak mau!
  • Demikianlah, tidak ada seorangpun manusia yang mau hal itu terjadi kepada ibu, bibi, dan anak perempuannya

Ya, lewat diskusi ini Baginda Nabi berhasil membujuk akal si pemuda dan memberikan kepadanya pemahaman yang cukup. Kemudian beliau meletakkan tangan mulianya ke atas dada sang pemuda dan mendoakannya:

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya! Bersihkanlah kalbu  dan jagalah kehormatannya!”

Setelah didoakan, Sayyidina Julaibib berubah menjadi seorang teladan dalam  menjaga ifah[1]. Mungkin ia telah menjadi teladan dalam usaha menjaga ifah, tetapi karena orang-orang mengetahui reputasinya sebelum ini, tidak ada seorang pun yang berkenan menikahkan putrinya kepadanya. Baginda Nabi kemudian sekali lagi menjadi obat bagi permasalahan yang dihadapi sahabat yang akalnya telah direformasi ini. Beliau mengirim utusan kepada seorang ayah untuk menyampaikan niat melamar anak gadisnya guna dinikahkan dengan Sayyidina Julaibib (HR Imam Ahmad, al Musnad 4/442).

Selang beberapa waktu kemudian, Sayyidina Julaibib jatuh sebagai syahid di salah satu medan pertempuran. Di akhir pertempuran, Baginda Nabi bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:”Apakah ada yang hilang di antara kalian?” Para ashabu kiram menjawab: ”Tidak, Ya Rasulullah. Jumlah kita lengkap.” Baginda Nabi bersabda: ”Tetapi ada yang hilang dari diriku!” dan beliaupun segera menuju tempat dimana Sayyidina Julaibib gugur sebagai syahid. Beliau meletakkan kepala Sayyidina Julaibib di atas paha mulianya dan bersabda: ”Julaibib berasal dariku dan Aku berasal dari Julaibib.” Sayyidina Julaibib pun terbang ke alam lainnya dengan akhir yang terpuji (HR Muslim, Fadhailus Sahabah, 131).

Demikianlah profil seorang mursyid hakiki, ia adalah insan yang mampu membujuk serta meyakinkan akal dan kalbu; Ia juga sosok yang mampu menyingkirkan masalah yang dihadapi muridnya. Pandangan merupakan hal yang penting. Pandangan seorang wali dapat menjadi sarana bagi melembutnya dan berubahnya hati seorang murid. Akan tetapi, membujuk dan meyakinkan akal adalah prioritas. Manusia bukanlah sekedar makhluk yang tersusun atas kalbu dan perasaan saja. Hampir seperlima bagian dari Al Quran berisi ajakan kepada manusia untuk memanfaatkan pandangannya dengan bertafakur dan menyajikan halaman-halaman buku alam semesta kepada setiap mata yang memandangnya.

Ya, pertama-tama, akal, kalbu, dan perasaan harus dibujuk dan diyakinkan. Kita bukanlah makhluk yang muncul dari perasaan, kalbu, atau pun akal belaka. Jika semua latifah (sederhananya dapat disebut sebagai panca indera ruhani) sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT, maka kita akan menjadi seorang mukmin yang tak mudah terguncang atas inayat Ilahi.

Karakteristik yang kita harapkan dimiliki oleh seorang mursyid di antaranya sebagai berikut: Pertama-tama, seorang mursyid harus menguasai ilmu positif yang berkembang di masanya. Dengan pengetahuannya tersebut, ia harus berusaha menjadi obat penawar bagi setiap permasalahan yang dihadapi semua orang. Jika demikian, luka-luka materi dan maknawi yang tadinya dianggap tidak bisa disembuhkan perlahan akan membaik atas taufik dan inayat dari Allah. Di waktu yang sama, seorang mursyid harus mampu menyingkirkan keraguan dan kebimbangan yang bersumber dari falsafah dialektika. Selain itu, memberikan resep wirid sesuai kebutuhan si murid juga merupakan salah satu tugas dari seorang mursyid. Sang mursyid harus memberi si murid wirid yang paling cocok dengan levelnya.

Sebenarnya semua orang dapat membaca beragam wirid, entah ia mengaitkan dirinya dengan seorang mursyid ataupun tidak. Menurut beberapa pendapat, untuk bisa membaca Awradu Qudsiyah dan Awradu Syah Naqsyabandi seseorang harus mengambil izin. Saya sendiri tidak menemukan landasan perlunya izin untuk dapat mempraktikkan suatu wirid, entah itu dari Al Quran, sunnah, ijma ulama, maupun jalannya para salafus salih. Menurut saya, pendapat ini tidak memiliki dasar. Tidak diperlukan izin khusus untuk berdoa kepada Allah SWT. Inilah jalannya Baginda Nabi, para sahabat, dan salafus salih.

Akan tetapi, tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk tidak rutin membaca wirid yang telah diniatkannya. Wirid yang telah diniatkannya harus dibaca secara rutin, dimana pembacaan di hari kedua harus lebih baik daripada hari pertama. Baginda Nabi sangat menekankan urgensi dari hal ini. Ummul Mukminin Aisyah ra menyampaikan bahwasanya Baginda Nabi mengganti ibadah ketaatan di hari berikutnya jika di hari sebelumnya beliau berhalangan (HR Muslim, Salatul Musafirin, 297-298). Demikian sensitifnya beliau dalam menjaga ibadah salat sunah rawatib, dalam kitab-kitab hadist yang terpercaya kita dapat menemukan peristiwa mencengangkan berikut ini: Suatu hari, Baginda Nabi menunaikan dua rakaat salat sunah setelah menunaikan salat ashar. Kepada mereka yang bertanya salat apa ini, jawaban beliau: Ada rombongan tamu dari suatu tempat. Karena sibuk menjamu mereka, aku tidak sempat menunaikan salat bakdiyah zuhur. Jadi selepas salat ashar tadi, aku tunaikan salat bakdiyah zuhur tersebut (HR Bukhari, Mawaqit 33; HR Tirmizi, Salat 21).”

Sebenarnya menurut kitab-kitab fikih, kita tidak perlu mengqadha shalat sunah jika waktu salatnya telah lewat. Akan tetapi, sosok agung yang memiliki hubungan istimewa dengan Tuhannya tersebut, dimana saja beliau memulai hubungan dengan Tuhannya, beliau senantiasa memperdalam hubungannya dan dengan demikian derajat beliau pun melejit.

Ya, Baginda Nabi SAW senantiasa rutin dalam mengerjakan hal-hal yang telah dimulainya. Seandainya kita mampu menyelesaikan doa jausyan sehari sekali, mari kita rutinkan kebiasaan tersebut. Jika tidak mampu membaca sekaligus, ia dapat kita bagi. Sebagian di waktu pagi, sebagian di waktu sore, sebagian lagi di waktu malam. Akan tetapi, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki wirid yang kita baca sehari-hari. Apa yang mampu kita baca harus direncanakan dalam suatu program dan harus kita rutinkan pembacaannya setiap hari.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul Hakiki Mursyid, dari Buku Bahar Nesidesi.

[1] Pengekangan hawa nafsu, pertarakan (KBBI)

afdhalul fadhail 2

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

APA ITU AFDHALUL FADHAIL?

Baginda Rasul al Akram S.A.W bersabda: “Fadhilah yang paling utama ialah menyambung kasih kepada orang yang memotong hubungan dengan anda, berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada anda, dan santun kepada orang yang mencaci maki anda” (HR Ahmad No. 15065), dan dalam riwayat lainnya: “memaafkan mereka yang berbuat zalim kepada anda”. Berkenankah Anda menjelaskan intisari pesan dan hakikat yang terkandung di dalam hadis ini? Apa yang dimaksud dengan fadhilah?

Fadhilah yang di zaman sekarang ini mereka katakan sebagai keutamaan atau kalau memang maknanya sepadan, anda dapat menyebutnya dengan “keutamaan yang paling utama”. Prinsipnya, di satu sisi pemilik fadhilah adalah sang pahlawannya pahlawan. Maksudnya, pahlawan dengan bakat di atas kemampuan pahlawan biasa, dengan kata lain merekalah yang dimuliakan dengan bakat kemampuan yang melampaui kemampuan orang-orang pada umumnya. Merekalah yang dimuliakan dengan berbagai macam kelebihan oleh Penciptanya (SWT).

Dari sisi pendefinisian ini, maka dapat diketahui bahwa kata “utama” tidak mungkin sepadan dengan kata “fadhilah”. Disabdakan bahwasanya fadhilahnya fadhilah (أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ) yang pertama adalah أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ (An tashila man qatha ak). Jadi maksudnya, tugas mendasar anda adalah untuk tidak pernah memutuskan hubungan dengan yang memutuskan silaturahminya dengan anda. Sekarang bagaimana kita tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang yang memutuskan hubungan dengan kita? Kita harus tetap mempererat tali kasih sayang seerat hubungan orang-orang yang tidak bercerai-berai, sebagaimana di dalam hati nurani kita yang sebenarnya senantiasa terpatri perasaan untuk saling terhubung. Entah itu kerinduan kepada tanah air, sedangkan untuk kerinduan kita kepada ayah dan ibu, kita menyebutnya: “ikatan kepada ayah dan ibu”.

Terkadang dalam satu frame, semua tempat yang pernah kita kunjungi, hampiri, dan tinggali semuanya menjadi satu dalam sebuah keinginan, meliputi pikiran kita. Seringkali kita pun mengerang menahan kerinduan terhadap tempat-tempat itu, oleh karena itulah jangan sampai kita mengizinkan perpisahan dan perpecahan muncul di tengah kita. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan mereka (yang memutuskan hubungan dengan kita) dalam kesendiriannya. Kalau hati mereka cenderung kepada perpisahan, mereka bagai melepaskan diri mereka, seperti dahan yang menggugurkan daunnya, hingga sang daun pun membusuk di tanah. Maka kita pun dengan segala daya yang ada di tangan, kita harus bisa menjadi penghalang terjadinya perpecahan. Jangan sampai memberi kesempatan kepada timbulnya perpecahan, kalau anda bisa melakukannya, maka itulah yang disebut “fadhilahnya fadhilah” untuk anda.

Kesendirian adalah masalah yang amat krusial, ketika anda mengatakan: “afdholul fadhooili an tashila man qatha ak…”, maka sebenarnya kalimat itu menitikberatkan pada masalah bersendiri (krn berpisah). Tetapi masalahnya tidak hanya sampai disitu, poin tadi hanyalah salah satu dari 4 asas fadhilah, akan tetapi jika ada satu orang yang memilikinya, maka itulah sifat mukmin sejati, itulah akhlaknya Al Quran, akhlak Nabawiyah SAW.

Kemudian yang kedua: “wa tu’tiya mammana ‘aka”. Ketika seseorang tidak memberi anda, baik itu berupa penghargaan atau pemuliaan, baik itu berupa pemberian satu sama lain, kalau misalnya ada kebutuhan anda mungkin berupa sedekah kalau ada keperluan yang lain, misalnya berupa zakat, kalau misalnya ketika ada sebuah pekerjaan, mungkin berupa support dukungan. Mungkin dia tidak melakukan hal tersebut, dia mungkin tidak membantu anda dalam kasus ini, dia bisa dikatakan tidak menunaikan tugasnya untuk membantu sesama muslim. Akan tetapi walaupun demikian, anda harus tetap meneruskan bantuan anda kepadanya di dalam kasus itu, demi terwujudnya perasaan memberi kepada sesama, anda harus hadir menghadapi sikapnya yang tidak mau memberi dengan tetap berbagi.

Dia mungkin tidak memperhatikanmu, acuh tak acuh, dia mungkin juga tidak menghargai anda. Meski demikian tetaplah tunjukkan perhatian anda kepadanya dan hargailah ia, pastikan tangan dan hati anda selalu terbuka untuknya. Tetaplah berprasangka baik saat berhadapan dengannya, jangan sembunyikan senyum diwajahmu saat berpapasan dengannya, jangan menyimpan uluran tanganmu untuknya, demikian juga dengan sifat suka memberimu. Inilah poin kedua hadis ini, poin ini pun membahas topik “kesendirian”. Lagi-lagi merupakan hal yang penting, ini pun adalah sifat seorang mukmin, bersamaan dengan itu inilah khuluqul Quran (akhlak Ilahi). Mengapa demikian? Karena Allah Jalla Jalaluhu, walaupun syukur kita sedikit tetapi Dia tetap senantiasa membagikan rizki-Nya, tak pernah meninggalkan kita sehingga tidak mendapat kebagian.

Mengenai hal ini saya memohon izin untuk menyampaikan sebuah riwayat, Sayyidina Hz Ibrahim as ketika ada tamu yang datang, beliau senantiasa menghidangkan jamuan, itulah Hz Ibrahim yang masyhur dengan kedermawanan dan kemuliaan hatinya. Sebagaimana beliau as masyhur dengan ketulusannya, kesetiaannya, dan kehangatannya terhadap sahabat-sahabatnya, beliau pun terkenal dengan kedermawanannya, memberi makanan kepada semua orang, beliau menyuapi masyarakatnya dengan apapun yang dimilikinya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa malaikat berkata: “Ya Rabbi, kekasihmu ini (Hz Ibrahim) kalau dilihat dari status kedekatannya dengan-Mu, bagaimana bisa mempunyai dunia (materi) begitu banyak?”. Dengan level kedekatannya yang seperti ini, bagaimana bisa beliau as mempertahankan memiliki harta duniawi yang banyak sekaligus juga menjadi khalilullah? Disini Allah SWT mengirimkan malaikatnya, sebenarnya dalam kisah ini kita tidak perlu memfokuskan pada apa yang dikatakan secara zahir oleh para malaikat, kita harus melihat hakikat apa yang sebenarnya terjadi dalam riwayat ini. Malaikat mendatanginya, kemudian para malaikat mengatakan kepada Hz Ibrahim: “Subbuhun Quddusu Rabbuna Wa Rabbil Malaikatu Warruh…”, dan tentu saja Hz Ibrahim as bukanlah sosok yang tidak paham makna dari kalimat ini. Beliau as, menghambakan diri dalam bentuk yang paling cocok dengan bayangan Zat Ilahi. Maka, demikian bersemangatnya di dalam penyucian dan penghambaan kepada Allah, Hz Ibrahim (demi mendengar tasbih yang dibacakan malaikat) mengatakan: “Biarlah 1/3 dari hewan ternakku ini untukmu saja”.

Demikian mulia hatinya, demikian dermawan dirinya. Hz Ibrahim berkata: “Bisakah anda membacakan kalimat tasbih tersebut sekali lagi?”, ini maknanya apa? Demikian besarnya pengaruh kalimat tasbih yang diucapkan dari lisan malaikat kepada hati hz Ibrahim. Kata-kata ini pasti bukan karena Hz Ibrahim tidak mengerti kedalaman maknanya sehingga minta diulangi agar bisa dimengerti, tetapi Beliau as ingin mendengarnya lagi (keluar dari lisan para malaikat). Maka ketika dibacakan kembali untuknya sekali lagi, Hz Ibrahim berkata: “Sisa ternak 1/3nya lagi untuk anda”. Sekali lagi dibacakan  untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Semua ternak saya untuk anda saja”, dan  ketika keempat kalinya dibacakan lagi untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Biarlah saya menjadi budak anda (karena hartanya sudah habis)”. Demikianlah, kemuliaan dan kedermawanan hati hz Ibrahim as sudah memasuki level yang sangat tinggi.

Lokasi Kejadian Bi'ru Maunah

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Tahun Kenabian           : 17
Tahun Hijriah                : 4
Bulan                                 : Safar
Hari                                    : –
Hari dalam Minggu     : –

Di bulan Safar tahun keempat Hijriah datang seorang pemuka kabilah Banu Amir bin Sa’sa yang bernama Abu Barra’ Amir bin Malik ke kota Madinah. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Islam dan mengajaknya untuk menjadi seorang muslim. Namun Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan penolakan terhadap ajakan tersebut. Ia tampak bimbang dan ragu. Mungkin Ia membutuhkan wakt. Walaupun Ia tidak mengatakan “Aku menerima” namun Ia menginginkan agar orang-orang terdekatnya bertemu dengan agama yang di bawa Rasulullah SAW ini. Oleh karenanya Ia mengatakan :

“Wahai Rasulullah, jika seandainya engkau mengutus sahabat-sahabatmu kepada penduduk Najd untuk menjelaskan Islam, Aku merasa mereka akan menyambut ajakan ini.”

Rasulullah SAW berkata : “Aku khawatir penduduk Najd akan berlaku buruk terhadap mereka”. Lalu Amir bin Malik menjawab :

“Aku yang akan menjamin (keamanan) mereka. Kirimlah mereka untuk mengajak kepada Islam.”[1]

Sikap umum yang di ambil Rasulullah SAW adalah memanfaatkan segala kesempatan dan mengetengahkan segala usaha untuk menjelaskan sesuatu (Islam) kepada seluruh manusia. Disamping itu hingga hari ini kabar yang datang ke madinah dari daerah tersebut menjelaskan tentang masalah dari segi keamanan yang di hadapi oleh muslim-muslim yang menetap disana. Bahkan kabilah-kabilah seperti Ri’l, Zakwan, Usayyah dah Lihyan mengirimkan kabar dan tentang masalah keamanan ini mereka meminta bantuan dari Rasulullah SAW.[2]

Setelah itu Rasulullah SAW memilih 70 orang sahabat agar berangkat ke penduduk Najd untuk menjelaskan Islam didaerah tersebut. [3] juga dititipkan surat untuk diberikan kepada para pembesar kaum ditempat-tempat yang mereka singgahi. Selanjutnya Munzir bin Amr r.a di ta’yin sebagai pemimpinnya.[4] Semua yang dipilih adalah para sahabat yang sangat bagus pemahamannya terhadap Firman Allah dan Hadis Rasulullah SAW. Mereka adalah para Qari dari Ashabus Suffah.[5]

Setelah melakukan perjalanan mereka tiba di sebuah tempat untuk istirahat, tempat tersebut bernama Bi’r Ma’unah. [6]  Amr bin Umayyah r.a dan Munzir bin Amr r.a memperistirahatkan unta mereka dan membiarkannya untuk mencari makan.[7] Saat itu juga mereka ingin mengirim surat-surat yang diberikan Rasullah SAW kepada orang-orang yang di tuju. Kemudian Haram bin Milhan r.a dengan dua orang sahabat bersedia untuk mengirim surat tersebut.

Pertama sekali mereka memberikan kepada Amir bin Malik dan Ia pun membaca suratnya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kepada keponakannya yang bernama Amir bin Tufail. Ketika mendekati kediaman Amir, Haram r.a mengatakan kepada dua orang sahabat yang bersamanya :

“Kalian tetaplah berada disini sampai Aku berada disisi mereka! Jika mereka memberikan keamanan kepadaku maka kalian akan mengetahuinya; akan tetapi jika mereka membunuhku, maka segeralah pergi dan kabari kepada para sahabat-sahabat yang lain.”

Kemudian Ia berjalan sendiri. Setelah tiba di hadapan Amir bin Tufail Ia memberikan surat Rasulullah SAW dan mengajak mereka masuk islam. Amir yang menerima surat dari Rasulullah SAW, tanpa membaca surat tersebut Ia langsung memberikan perintah untuk membunuh Haram. Setelah itu Jabbar bin Sulma mengambil tombak dan menusukkannya dari belakang. Utusan Rasulullah SAW tersebut bersimbah darah, tombak yang menusuk dari belakangnya menembus dadanya.  Haram megusap wajahnya dengan tangan yang penuh darah, dan diwaktu itu juga ketika sedang menangani ujung tombak yang ada di dadanya, dengan hati yang senang Ia mengucapkan kata-kata yang mengambil perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya :

“Allahu Akbar! Aku bersumpah kepada Rabbnya Ka’bah bahwa Aku telah selamat!” [8]

Haram bin Malik r.a syahid dengan seketika. Namun kebencian Amir bin Tufail tidak bisa di tenangkan dengan mudah. Ia memerintahkan kepada kabilahnya (Banu Amir) untuk menuju kepada para sahabat yang lain. Akan tetapi Banu Amir tidak menuruti permintaan tersebut karena janjinya Amir bin Malik kepada Rasulullah SAW.

Oleh Karena itu Amir bin Tufail meminta bantuan kepada kabilah Usayyah, Ri’l, Kare dan Zakwan untuk menyerang utusan Rasulullah SAW. Mereka menerima ajakan tersebut dan mengepung para sahabat.

Sahabat-sahabat yang melihat mereka mengatakan :

“Wallahi Kami tidak memiliki urusan dengan kalian! Kami hanya berangkat untuk melaksanakan tugas yang di berikan Rasulullah SAW. Kami adalah utusan Rasulullah SAW.”

Akan tetapi mereka adalah para bandit yang telah merah matanya  dan tidak mau mendengarkan apapun lagi sehingga dengan segala rasa kebencian itu juga mereka menyerang para sahabat Rasulullah SAW. Di tempat yang tidak ada keseimbangan kekuatan ini para sahabat yang dipilih khusus untuk menyampaikan pesan Allah SWT dan Rasulullah SAW, pesan yang memberikan kehidupan. Ya, walaupun mereka ingin melakukan pertahanan namun hingga akhirnya semuanya di hunus pedang dan mati syahid  kecuali Amr bin Umayyah r.a.[9]

Para Syahid Bi’ru Ma’unah

Berikut adalah beberapa nama para sahabat dari 69 sahabat “Qurra” pilihan Rasulullah SAW dari Ashabus Suffah yang dikirim untuk menyampaikan pesan-pesan universal islam ke kabilah Najd dan di jebak di Bi’ru Ma’unah hingga mati syahid :

Munzir bin Amr al-Ansari r.a,

Aus bin Muaz bin Aus al-Ansari r.a,

Hakam bin Kaysan al-Mahzumi r.a,

Haris bin Simmah al-Ansari r.a,

Sahl bin Amir al-Ansari r.a,

Pamannya Sahl bin Amr r.a,

Haram bin Milhan r.a,

Saudaranya Sulaim bin Milhan r.a,

Urwah bin Asma’ bin Salt as-Sulami r.a,

Nafi’/Rafi’ bin Budail bin Warqa’ al-Huzai r.a,

Amir bin Fuhairah r.a,

Qutbah/Dahhak bin Abdu Amr bin Mas’ud r.a,

Malik bin Sabit al-Ansari r.a,

Saudaranya Sufyan bin Tsabit al-Ansari r.a,

Mas’ud bin Sa’ad bin Qais r.a,

Muaz bin Mais/Nais r.a,

Munzir bin Muhammad r.a,

Abu Syaikh/Ubay bin Tsabit r.a,

Abu Ubaidah bin Amr r.a,

Abu Amr bin Ka’ab bin Mas’ud r.a,

Ubay bin Muaz bin Anas r.a,

Saudaranya Anas bin Muaz bin Anas r.a,

Basyir al-Ansari r.a,

Tsabit bin Khalid r.a,

Khalid bin Tsabit r.a,

Khalid bin Ka’ab bin Amr r.a,

Ri’ab bin Hunaif bin Ri’ab r.a,

Sa’ad bin Amr bin Saqf r.a,

Anaknya Tufail r.a,

Sufyan bin Khatib bin Umayyah r.a,

Suhail bin Amir bin Sa’ad al-Ansari r.a,

Aiz bin Mais bin Qais r.a,

Ubadah bin Amr r.a,

Abdullah bin Qais bin Sirmah r.a,

Atiyyah bin Amr al-Ansari r.a,

Al-Muttalib as-Sulami r.a,

Mas’ud bin Khalid r.a


[1] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabari, Tarikh 3/85, 86; Wakidi, Maghazi 261; Tabrani, Kabir 20/356 (841)

[2] Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064)

[3] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12088); Baihaqi, Kubra 9/377 (18822); Waqidi, Maghazi 261; Tabari, Tarikh 2/86. Ada yang mengatakan 40. Lihat. Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357(841)

[4] karena Munzir r.a adalah seseorang yang terbakar dengan keinginan untuk mati syahid, maka hari itu untuknya di sebut Mu’iqu li Yamuta, yang artinya orang yang menyerahkan dirinya untuk mati. Lihat Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hajar, Isabah 6/217 (8230)

[5] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12087); Waqidi, Maghazi 261.

[6] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262.

[7] Waqidi, Maghazi 262

[8] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 20/420 (13195); Nasa’I, Kubra 7/367 (8239), 9/377 (18823); Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86. Haram bin Milhan, merupakan saudara dari (Ibunda Kita) Ummu Sulaim. Lihat, Baihaqi, Sunan 9/225; Ibnu Abdilbarr, Isti’ab, 1/337.

[9] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064); Tabrani, Kabir 6/125 (5724), 20/357 (841); Baihaqi, Kubra 2/284 (3096); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86.

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a Masuk Islam

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a Masuk Islam

Tahun Kenabian          : 1
Tahun Hijriah               : -1
Bulan                                : Tidak di ketahui
Hari                                   : Tidak di ketahui
Hari dalam Minggu    : Tidak di ketahui

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a masuk Islam sebelum masuk ke dalam Darul Arkamnya Rasulullah SAW.[1]

 

[1] Ibnu Sa’d, Tabaqat 3/298; Ibnul Asir, Usdul Ghaba 5/403; Ibnu Abdilbarr, Istiab 4/1550