kane-reinholdtsen-LETdkk7wHQk-unsplash

Etika dalam berbicara

Dalam pergaulan sehari-hari, etika berbicara itu penting, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin tinggi pula etikanya dalam berbicara. Kelas pendidikan dan sosial sering menjadi faktor pembeda dalam berbicara.

Bahkan bahasa yang digunakan dan cara berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita akan berbeda dengan bahasa dan cara berbicara kepada teman sebaya, begitu juga dengan orang yang lebih tua dari kita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berbicara :

  1. Jangan gunakan nada bicara yang tinggi

Nada bicara yang tinggi biasanya mencerminkan emosi kemarahan. Lawan bicara akan merasa seperti di marahi atau dianggap mengalami kekurangan pendengaran. Cara ini akan mengurangi respon positif dari lawan bicara. Nada bicara yang normal dan jelas akan lebih enak didengarkan dan lebih berkenan di hati lawan bicara, terutama saat berbicara dengan guru di kelas dan orang yang lebih tua. Komunikasi akan lebih lancar dan apa yang disampaikan akan lebih di pahami.

  1. Berkata baik atau diam, gunakan kata yang halus (bahasa yang baik dan benar)

Berpikir sebelum berbicara akan lebih baik dari pada harus salah bicara karena tidak dipikir dulu. Dengan berpikir, kita akan menemukan kata yang lebih halus untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Kata yang lebih halus akan lebih enak didengar dan lebih mudah mendapatkan respon positif dari pendengar. Bahasa dapat menunjukan kualitas kepribadian dan latar belakang seseorang. Dan tentunya tidak boleh menggunakan kata-kata yang kasar, apalagi yang meninggung hati lawan bicara. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Terakhir jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna atau sia-sia. Sedikit Bicara Lebih Utama

  1. Jangan memotong pembicaraan

Komunikasi yang baik adalah 2 arah. Orang yang hanya banyak bicara dan tidak mau mendengarkan pembicaraan lawan bicara akan memunculkan pikiran tentang karakter egois pada diri kita. Berilah kesempatan pada lawan bicara untuk menyampaikan pertanyaan atau opini maka dia akan merasa lebih dihargai.

  1. Tatap mata lawan bicara

Yang dimaksud disini bukan memelototi tetapi menatap dengan tatapan wajar. Lawan bicara akan merasa tidak dihargai jika kita melengos memperhatikan hal lain dalam waktu cukup lama. Orang akan merasa tidak dihargai jika yang diajak bicara membagi fokusnya pada hal lain seperti gadget.

  1. Sebut nama mereka dengan awalan Pak atau Bu

Menyebut nama akan lebih sopan dan lebih enak di dengar dari pada menggunakan kata “kamu”. Berikan panggilan Bapak, Ibu, Mas, Mbak atau Abi yang diikuti namanya.

  1. Dilarang Membicarakan Setiap yang Didengar

Dunia kata di tengah umat manusia adalah dunia yang campur aduk. Seperti manusianya sendiri yang beragam dan campur aduk; shalih, fasik, munafik, musyrik dan kafir. Karena itu, kata-kata umat manusia tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk.

  1. Jangan Senang Berdebat Meski Benar

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah bahkan malah digalakkan. Ada debat calon presiden, debat calon gubernur dan seterusnya. Pada kasus-kasus tertentu, menjelaskan argumentasi untuk menerangkan kebenaran yang berdasarkan ilmu dan keyakinan memang diperlukan dan berguna.

Tetapi, berdebat yang didasari ketidaktahuan, ramalan, masalah ghaib atau dalam hal yang tidak berguna hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

  1. Dilarang Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digemari oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah lawak. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa

  1. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba

Ghibah adalah membicarakan orang lain di belakang orang yang kita bicarakan

jisun-han-cl9KWGDf52E-unsplash

Potret Maknawi Sang Bediuzzaman : Tidak Takut Akan Siksa Neraka, Tidak Berhasrat Akan Kenikmatan Surga

     Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan perasaan rohaniah dan pemikirannya yang begitu dalam kepada Esref Edip mengenai pengabdian terhadap agama : “Satu-satunya hal yang membuatku menderita ialah bahaya yang sedang dihadapi umat Islam. Pada masa silam, bahaya berasal dari luar. Namun sekarang, berbagai bahaya itu berasal dari umat Islam sendiri. Sangat sulit untuk melawannya.  Diriku amat takut bila umat tidak mampu menahannya, dikarenakan mereka tidak mengetahui keberadaan musuh. Mereka seolah-olah menganggapnya sebagai teman.”

     Beliau melanjutkan, “Apabila pandangan masyarakat telah buta, benteng keimanan umat Islam akan berada dalam bahaya. Hanya itulah yang kupedulikan sekarang. Diriku bahkan tidak pernah punya waktu untuk memikirkan semua siksaan and penghinaan yang telah kurasakan. Yang kuinginkan hanyalah keselamatan umat. Itu sudah cukup bagiku. Apabila hal tersebut terwujud, diriku tidak akan keberatan dan bersedia untuk mengalami penderitaan yang lebih pedih.”

     “Yang sedang kubicarakan adalah pondasi utama masyarakat Islam. Iman, kalbu, dan nilai-nilai keislaman. Ketiga hal tersebut kuajarkan di bawah naungan persatuan dan keimanan sebagaimana termaktub dalam Alquran. Ketiga hal inilah yang menjadi pilar utama umat Islam. Tanpanya, umat akan hancur suatu saat nanti.”

     Mereka bertanya kepadaku, “Mengapa Anda mengambil barang ini dan itu?”. “Aku bahkan tidak menyadari hal ini. Kobaran api menyala-nyala di hadapanku, membumbung ke atas langit. Anak-anakku terbakar membara dalam api kekufuran. Begitu pula diriku. Kucoba berlari mendekati kobaran api dan memadamkannya. Aku akan menyelamatkan agamaku sendiri.” Ia beralasan, “Apakah masuk akal bila ada seseorang yang ingin berurusan dengan orang yang berhasrat menjebaknya? Dalam keadaan bahaya ini, seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari setiap perbuatan kecil manusia?”

     Bediuzzaman dengan tegas berkata, “Apakah mereka berpikir diriku adalah seseorang yang egois? Seseorang yang hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Tentu saja tidak. Kukorbankan seluruh dunia dan akhiratku untuk menolong umat. Diriku tidak takut pada siksa neraka dan tidak berhasrat akan kenikmatan surga. Untuk keselamatan dua puluh lima juta orang Turki, tidak hanya satu Said yang akan mengorbankan dirinya. Pasti ada ribuan Said lain yang akan melakukan hal sama. Apabila tidak ada seorang pun yang tunduk pada ajaran Alquran, diriku tidak akan menginginkan kenikmatan surga. Itu akan menjadi penjara bawah tanahku. Lebih baik diriku terbakar api neraka.”

     “Dalam 80 tahun kehidupanku, diriku tidak prnah mengetahui secuil pun kenikmatan duniawi. Hidupku habis di dalam penjara bawah tanah, pengadilan, dan pengasingan. Ditambah lagi, kehidupanku dipenuhi dengan kesedihan, penderitaan, dan kesulitan. Kukorbankan semua jiwa dan ragaku untuk keselamatan umat. Lisanku bahkan tidak mampu mengutuk kezaliman mereka. Hanya satu alasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan umat melalui buku Risalah Nur karanganku.”  Memang hal itu sebuah fakta. Berdasarkan penuturan jaksa Afyon, Said Nursi telah menyelamatkan iman 500.000 Muslim atau mungkin lebih banyak, MasyaAllah.

     Bediuzzaman adalah seseorang yang siap mengobankan jiwa dan raganya untuk keselamatan umat Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, beliau tidak tanggung-tanggung. Beliau melakukan perjaanan ke puncak maknawi tertinggi, Beliau memaafkan semua orang yang telah menyiksanya. Begitu mulianya pribadi beliau!

     Beliau melupakan semua rasa sakit dan derita yang dialaminya dengan penerimaan satu orang akan keimanan yang suci. Beliau menganggapnya sudah cukup untuk membalas semua penderitaan yang beliau alami. Beliau berjalan di atas cakrawala Baginda Rasulullah yang bercahaya. Siapakah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang yang memiliki kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Tuhannya? Bagaimana gelapnya ruang pengadilan, penjara, atau kematian dapat melukainya?

     Beliau dengan rasa rendah hati menuturkan, “Sejak diriku tahu bahwa Risalah Nur menyelamatkan kalbu orang-orang yang membutuhkan rasa iman, maka biarkanlah seribu Said mengorbankan dirinya. Diriku telah memaafkan siapa saja yang menzalimi dan menyiksaku selama 28 tahun lamanya. Tidak perlu diragukan, diriku telah memaafkan siapa pun yang mengusirku dari satu kota ke kota lainnya. Kumaafkan semua orang yang menghina dan menuduhku atas banyak hal sehingga membuatku dipenjara! Kumaafkan mereka yang telah melemparkan ragaku yang lemah ini ke dalam penjara bawah tanah!”

   “Kukatakan kepada takdir yang selalu adil, diriku pantas menerima tamparan kasih sayang. Jikalau diri ini hidup seperti kebanyakan orang, yang melulu berpikir tentang dirinya sendiri dan selalu mengambil jalan termudah tanpa adanya pengorban jiwa dan raga, niscaya diriku akan kehilangan kekuatan untuk mengabdi kepada agama. Aku telah mengorbankan semuanya. Aku berhasil bertahan dari semua penderitaan pahit. Aku bersabar atas semua siksaan yang pedih. Pada giliranya, realita keimanan sudah tersebar ke segala penjuru. Lembaga pendidikan berbasis Risalah Nur telah berkembang menjadi ribuan dengan jutaan murid yang berdatangan. Mulai sekarang, mereka akan melanjutkan jalan pengabdian ini. Mereka tidak akan menyimpang dari misi pengorbanan ini. Mereka akan melakukan semuanya hanya untuk meraih rida Ilahi semata.” 1

1. Nursi, Bediuzzaman Said, Risale-i Nur Kulliyati-2. Istanbul: Nesil, 1996, hal. 2206

corina-ardeleanu-sWlxCweDzzs-unsplash

Kesabaran

Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk mentolerir setiap jenis masalah dan kesulitan, dan mampu menanggung situasi yang tidak menyenangkan tanpa terganggu. Orang yang mengalami musibah atau malapetaka dan mampu menanti hasil tanpa mengeluh dan mampu mengatasi hambatan yang muncul di hadapan mereka untuk mencapai hasil.

Manusia dikirim ke dunia ini sebagai ujian. selama masa ujian, kemampuan seseorang berkembang dan akibatnya, dia akan menjadi layak untuk mendapatkan Ridho Allah dan melihat keindahan suci dan tak terbatas. Sebagai suatu ujian di jalan ini, melampaui masalah dan kesulitan hanya dapat dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran adalah sifat baik yang akan membawa orang beriman ke cakrawala kebersamaan dengan Tuhan dan akan memungkinkannya untuk mendapatkan kabar baik dari Tuhan. Keberadaan kesetiaan orang beriman kepada Tuhan terkait dengan kesabaran. Kesetiaan tidak bisa dicapai tanpa ada kesabaran.

Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengetahui mereka yang sabar dan yang tidak. Dia memberi kabar baik kepada orang-orang yang sabar, memberi tahu kami bahwa penerimaan dan ridho-Nya bersama dengan mereka yang memiliki kesabaran, dan Dia menyatakan bahwa Dia akan memberikan pahala yang tidak terbatas kepada hamba yang sabar.

Bersabar adalah menerima dengan senang hati segala kehendak Tuhan yang maha bijaksana serta maha pengasih di alam semesta yang merupakan milik-Nya. Ketidaksabaran adalah penolakan dan pemberontakan. Penting untuk menunjukkan kesabaran dengan kesulitan yang Tuhan kirimkan sebagai cobaan.

Kesabaran membutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan, resolusi, kekuatan kemauan dan tekad yang kuat. Kesabaran terletak pada fondasi dari setiap jenis kesuksesan material dan spiritual. Untuk alasan ini, kesabaran adalah kunci dari setiap jenis keselamatan.

Jenis Kesabaran

Bediuzzaman Said Nursi membagi kesabaran menjadi tiga jenis:

  1. Kesabaran melawan dosa: Seorang beriman menunjukkan kesabaran untuk melawan daya tarik provokatif dari setiap jenis dosa dan berusaha untuk tidak melakukan dosa.
  2. Sabar melawan malapetaka: Jenis kesabaran ini dibuat sebelum berbagai malapetaka materi dan spiritual dan bencana yang ditemuinya dalam kehidupan duniawi.
  3. Sabar dalam beribadah: Ibadah memberi beban yang nyata pada seseorang seperti shalat lima waktu setiap hari, berwudhu, dan berpuasa. Seorang mukmin juga harus menunjukkan kesabaran terhadap ini dan mendapatkan surga.

Fethullah Gulen menambahkan jenis kesabaran lain pada tiga kategori ini yaitu kesabaran terhadap keindahan dunia yang menarik ini. Ini adalah masalah yang sangat penting terutama bagi umat Islam saat ini. Standar hidup mereka telah meningkat pesat, dan rumah, mobil, rumah musim panas, retret musim dingin, dll. Sayangnya hal ini menjauhkan beberapa orang dari perasaan memikiran tentang kehidupan lain. Ini ditunjukkan dalam ayat ini, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Al Imran 3:14). Ungkapan “Dijadikan indah pada (pandangan)” menekankan bahwa tidak mungkin orang tidak terpesona oleh hal-hal indah ini. Mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran yang sangat kuat sehingga membuat keyakinan terus menerus dikerjakan.

Sabar terhadap kemarahan zaman, kesabaran dalam bentuk ketidakpedulian terhadap perbedaan spiritual. Nyatanya, kesabaran untuk memaksa diri tetap berada di dunia penderitaan ini sekalipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar demi pelayanan di jalan Tuhan adalah jenis lain dari kesabaran.

Ada konsep dalam literatur kami yang dikenal dengan “kesabaran aktif”. Mari kita pikirkan seekor ayam betina yang bertelur. Melihat ayam betina dalam keadaan ini, kita berkata, “Hewan ini berbaring malas di atas telurnya.” Namun, selama tiga minggu ia mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa. Ayam betina berhati-hati dalam menjaga telur pada suhu tertentu; sementara dia membaliknya, ayam betina menunjukkan usaha maksimal untuk tidak menyakiti atau menghancurkannya. Jadi, dengan sikap yang sangat sensitif, hati-hati dan aktif ini, ayam ini menunjukkan contoh kesabaran yang aktif.

Contoh lain misalkan untuk membuat makan malam, seorang ibu menyiapkan sayuran, daging, minyak, bawang, rempah-rempah … apa pun yang ada, meletakkannya di atas kompor dan mulai menunggu makanannya matang. Kesabaran aktif adalah melanjutkan keinginannya setelah makanan diletakkan di atas kompor dengan berdoa agar tujuannya didapat saat dia menunggu.

Dalam contoh yang berbeda, dua orang berbicara, setuju dan menikah. Masa menunggu buah hati adalah masa aktif sabar. Pasangan itu tidak bisa berbuat banyak, tetapi mereka berdoa agar bayinya selamat dan sehat.

Singkatnya, seseorang menyajikan makanan yang sudah dimasak, memulai makan dengan bismillah, menyusui bayi yang baru lahir, merawatnya. Ini semua membutuhkan persiapan. Pada titik ini, individu bertanggung jawab untuk melanjutkan tugasnya dengan tekad dan kesabaran, dan dengan memeluk doa dan mengenakan pakaian kesalehan, untuk berdiri kokoh di tempatnya. Mungkin beberapa peristiwa akan terjadi, badai akan mengamuk dan gelombang akan naik. Namun, seorang mukmin akan berdiri kokoh bagaikan bintang kutub dan secara aktif menunggu badai berlalu.

Terjemahan: Wildan Abi

chris-lejarazu-08wxrVv5rp8-unsplash

10 Cara Terbaik Berbakti Kepada Orangtua

Kita lahir ke dunia ini berkat siapa? Pastinya berkat orangtua kita. Kita dapat tumbuh hingga dewasa sampai sekarang berkat siapa? pastinya berkat orangtua. Jika kita adalah seorang anak yang sering diajarkan orangtua tentang berbuat baik, tentunya pasti orang yang paling harus diutamakan dalam mengamalkan kebaikan adalah kepada mereka berdua, ya mereka adalah ayah dan ibu kita. Jika kita mendurhakai orangtua maka pasti kita akan tahu adzab yang akan diberikan. Dalam ajaran islam, berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang paling utama. Dalam menempuh hidup di dunia ini, pastinya setiap orang ingin menjadi orang yang berhasil, di dunia maupun di akhirat nanti kelak.

  1. Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orangtua.

Jagalah setiap tutur kata kepada mereka berdua. Senantiasalah berkata secara lemah lembut tatkala berbicara dengan keduanya dan jauhilah berkata dengan nada tinggi, apalagi dengan kata-kata yang kasar. Kepada bos tempat kerja atau pimpinan saja berbicara dengan sopan santun, seharusnya ketika berbicara kepada orangtua lebih sopan lagi.

  1. Membantu Meringankan Pekerjaan Rumah.

Siapa yang tahu apa saja pekerjaan orangtua ketika di rumah? Untuk yang belum tahu, mulai dari urusan kebersihan rumah, kerapihan rumah, urusan perut, dan lainnya sebagai yang kalau disebutkan pastinya banyak. Apalagi seorang ibu yang hampir setiap hari tugas hariannya berada di rumah. Jika kita bertanya kepada ibu kita tentang aktivitasnya di rumah pasti dia akan bingung menjawabnya. Kenapa bingung? Karena pekerjaan di rumah sangatlah banyak. Apakah ibu kita akan mengeluh akan pekerjaannya yang banyak? Tentu tidak, tetapi dia akan sangat senang jika anaknya mau membantu dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahnya.

  1. Gampang-Gampang Di Suruh Membantu Orangtua.

Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain. Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain.

Dulu waktu kita masih kecil, kita meminta apa saja kepada orangtua (selama itu baik buat kita) pastinya orangtua tidak akan menolaknya begitu saja. Sekarang kita yang sudah menjadi dewasa ketika orangtua meminta sesuatu atau meminta tolong masihkah mau menolak?

  1. Senantiasa Bersikap Sabar dan Sopan Santun.

Tidak hanya sekedar lemah lembut dalam tutur kata, tetapi kelakuan kita haruslah juga sopan santun terhadap mereka. Semisalnya memjawab salam kepada mereka ketika mereka pulang dari suatu tempat, mencium tangan mereka jika hendak pergi ke suatu tempat dan lain-lain. Jauhilah sikap keterlaluan dan kurang ajar kepada mereka berdua.

  1. Perbanyak Interaksi dengan Orangtua.

Jika kita perlu teman untuk mengobrol maka mereka pun juga membutuhkan teman untuk mengobrol. Teman terbaik mereka ketika mengobrol adalah anak-anak mereka. Sempatkanlah untuk mereka berbicara ria, menanyakan tentang keadaan, dan lainnya.

Tidak harus menatap mukanya langsung, via telepon juga sudah cukup bagi mereka. Dengan mendengar suaramu yang jauh disana mereka sudah cukup merasa senang.

  1. Menjaga Silaturrahmi dengan Orangtua Ketika Sudah Dewasa.

Dengan kedatanganmu ke rumah orangtua, kapanpun dan dimanapun itu merupakan sebuah hadiah yang terbaik bagi mereka, apalagi dengan membawa kesuksesan dan prestasi tentunya kesenangan orangtua akan bertambah. Ketika sudah mulai dewasa maka jangan pernah tinggalkan orangtua begitu saja. Mereka akan merasakan rindu yang sangat jika tidak bertemu dengan anaknya dengan kurun waktu yang lama.

  1. Mendoakan Mereka Di Setiap Ibadah.

Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini? Jika belum maka doakanlah mereka yang sudah mendoakan di setiap malam katika kita sedang tertidur pulas di atas kasur.

  1. Tidak menyia-nyiakan Kerja Keras Orangtua.

Namun apa daya masih banyak anak yang maih membolos ke sekolah, menghambur-hamburkan uang, malas belajar, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya sebagai anak untuk tidak menyia-nyiakan itu semua dengan begitu saja. Orangtua akan senang jika usaha mereka dalam mencari nafkah tidak sia-sia berkat prestasi dan kesuksesanmu. Sudah sering kita temui anak yang tidak menghargai perjuangan orangtuanya dalam mencari nafkah dan menafkahi anak mereka, menyekolahkan, memberikan makan dan pakaian.

  1. Berilah Hadiah Terbaik Untuk Mereka.

Orangtua kita sudah memberikan banyak untuk kita, sekarang apa yang dapat kita berikan kepada mereka, carilah yang terbaik untuk mereka. Memberi hadiah bisa berbagai macam, bisa dalam berbentuk barang bisa juga dalam bentuk sebuah yang tidak berbentuk, misalkan prestasi atau kesuksesan ketika sudah dewasa. Hadiah itu tidak harus mahal ataupun susah, cukuplah orangtua itu bangga kepadamu maka itu merupakan sebuah hadiah.

  1. Bersikap Sabar Dalam Merawat Orangtua.

Ini dipicu oleh kondisi kesehatan yang mulai sudah tidak prima, terkadang semakin rentanya seseorang maka ia akan menjadi lebih sensitiv dan cepat marah. Dalam masa-masa ini kita harus menyikapi dengan sabar dan berusaha untuk menahan diri. Layaknya orangtua kita yang bersabar dalam membesarkan kita ketika kita masih kecil, mereka pun sabar dalam menghadapi kebandelan anak mereka.

Dengan mendengar dan melihatnya langsung kita dapat berpikir bahwa orangtua kita semakin lama semakin bertambah usia mereka, mereka akan kembali lagi ke masa yang mana akan rewel kembali, seperti anak kecil.

Mungkin dari ini semua marilah kita untuk tidak lupa akan jasa-jasa mereka dalam menghidupi kita, memberi semangat kita ketika sedang berjuang, mendoakan kita setiap malam, dan yan paling terpenting ialah tidak mungkin kita bisa hidup di dunia ini tanpa ada mereka berdua, ayah dan ibu.

shane-rounce-DNkoNXQti3c-unsplash

TANGGUNG JAWAB DAN MELAYANI AGAMA

Mengambil langkah di jalan Allah dengan niat untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kebaikan umat manusia lebih diberkati daripada segala sesuatu di dunia.

Apa Arti Kata “Menjadi Sadar akan Tanggung Jawab”?

Para ahli telah mendefinisikan tanggung jawab sebagai akuntabilitas dan kewajiban seseorang terhadap kewajiban tertentu seperti keyakinan, praktik, perilaku, tindakan, dan ucapan. Nyatanya, menyadari tanggung jawab adalah salah satu kualitas terpenting yang membedakan manusia dengan hewan, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kecerdasan, kemauan bebas, tanggung jawab, dan keyakinan. Orang yang beriman adalah orang yang bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, Nabi yang mulia dan saudara-saudari Muslim. Terkadang tanggung jawab ini memanifestasikan dirinya sebagai upaya di jalan Allah dan terkadang sebagai perilaku yang baik.

Semua Muslim diwajibkan untuk menepati janji mereka kepada Allah dan berperilaku dengan cara menyadari tanggung jawab mereka. Jadi, janji apa yang kita buat untuk Allah ini? Jika kita merenungkan janji yang kita buat kepada Allah, kita perlu menyadari Allah menjadi Illah kita, dan tentang alasan penciptaan kita yaitu penyembahan dan pelayanan, dengan itu kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab kita. Allah SWT menjelaskan ini dengan ayat berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (al-Baqarah 2:286).

Seseorang yang menyadari tanggung jawabnya tidak akan pernah melupakan ayat tersebut, malah akan bertindak sesuai dengannya. Karena ayat ini memberikan rambu-rambu bagi orang yang ingin mengabdi pada agamanya, ayat ini juga menjelaskan sebuah dekrit penting: Seorang manusia bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dititipkan kepadanya.

Sudah menjadi hal yang jelas, iman adalah berkat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Rasa syukur yang sejati atas anugerah iman hanya dapat ditunjukkan dengan membawa berkat ini kepada jiwa yang membutuhkannya. Aspirasi dan perasaan ini adalah tanggung jawab terbesar seorang mukmin. Tugas mulia yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi pada suatu waktu, kini telah ditempatkan di pundak orang-orang beriman saat ini sebagai berkah dari Allah. Tentu saja, mengambil peran sebagai Sahabat adalah tugas yang sulit tetapi juga merupakan tugas yang paling mulia.

Seorang mukmin yang sadar akan tanggung jawabnya adalah orang yang tulang punggungnya berderak di bawah beban berat sebagai hamba dan menjalani kehidupannya dalam dua rangkap dalam pemahaman makna ibadah. Karenanya, Nabi kita yang mulia bersabda: “Jika kamu tahu apa yang saya ketahui, kamu akan banyak menangis dan lebih sedikit tertawa.” ‘Nabi yang mulia mengerang di bawah beban pengabdian dan tanggung jawab. Bagaimana dengan kita? Seberapa sadar kita akan tanggung jawab kita?

Kita tidak boleh lupa, seperti yang dijelaskan dengan indah oleh Fethullah Gülen Hocaefendi (diucapkan sebagai “Hodjaefendi,” sebuah kehormatan yang berarti “guru yang dihormati”), “Kita dituntut dengan tanggung jawab untuk menganugerahi dunia kita dengan semangat baru yang segar, terjalin dari cinta iman, cinta sesama manusia, dan cinta kebebasan. Kita selanjutnya telah diberi tanggung jawab untuk menjadi diri kita sendiri, terhubung dengan prinsip dari tiga cinta ini, dan untuk mempersiapkan tanah untuk tunas, akar murni dari pohon surgawi yang diberkati, sehingga akan dipelihara dan tumbuh di tanah cinta yang subur ini. Hal ini tentu saja bergantung pada keberadaan pahlawan yang akan bertanggung jawab dan melindungi nasib negara dan sejarah, agama, tradisi, budaya, dan segala hal sakral yang menjadi milik rakyat; Hal ini akan bergantung pada orang-orang hebat yang penuh dengan kecintaan pada sains dan pengetahuan, berkembang dengan pemikiran konstruktif, tulus dan saleh tanpa batas, patriotik dan bertanggung jawab, dan, oleh karena itu, selalu teliti dalam bekerja, bertanggung jawab, dan saat bertugas.

Terima kasih kepada para pahlawan ini dan upaya tulus mereka, sistem pemikiran dan pemahaman yang layaknya pohon berbuah akan selalu tumbuh bersama rakyat kita; rasa mengabdikan diri kepada orang lain dan komunitas akan menjadi terkenal; pemahaman tentang pembagian kerja, pengelolaan waktu, dan membantu serta berhubungan satu sama lain akan dihidupkan kembali; semua hubungan rakyat dengan pemerintah, majikan dengan karyawan, tuan tanah dengan penyewa, artis dengan para pengagumnya, pengacara dengan klien, guru dan murid akan menjadi aspek yang berbeda dari kesatuan secara keseluruhan; semua ini pasti terjadi setidaknya sekali lagi dan semua harapan kita dari masa lampau akan menjadi kenyataan, satu demi satu. Kami sekarang hidup di era di mana impian kami terwujud dan kami percaya bahwa dengan pengaturan waktu yang tepat, setiap tanggung jawab zaman ini akan tercapai pada saat harinya tiba.”

Karenanya, kita harus mengesampingkan kenyamanan dan kesenangan duniawi, menyucikan diri kita dari pikiran setan seperti “bodo amat” dan memenuhi tanggung jawab kita.