jeremy-bishop-iftBhUFfecE-unsplash

BERAKSI DAN BERGERAK DENGAN DINAMIKA-DINAMIKA DASAR

Tanya: Dalam berhizmet kepada agama, apakah rahasia untuk bisa selalu menjadi manusia aksi dan penuh semangat yang cocok dengan kebutuhan dan kondisi dewasa ini? Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?

Pentingnya Menyandarkan Segala Daya Kepada Pemiliknya, yaitu Allah SWT

Aksi adalah kata yang diserap dari bahasa Perancis. Berikutnya, kita bisa menggunakan istilah gerakan untuk menggantikannya. Di dalam hizmet-hizmet yang dibuat demi agama kita, ketika kita menyebut aksi ataupun gerakan, kita dapat memikirkan makna-makna seperti: tidak melihat cukup apa yang sudah ada; menggenggam usaha di posisi tertinggi; tidak pernah berhenti, jenuh, dan bosan dalam usaha mengubah dunia menjadi koridor surga, ataupun mengantarkan pekerjaan ini hingga tercapai tujuan akhirnya.  Sedangkan akhir dari pekerjaan ini adalah – sesuatu  sehingga jawaban rahasia dari pertanyaan di atas adalah – untuk  menangkap titik ufuk yang dijelaskan oleh ayat:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”[1]

Jadi, maksudnya adalah mengantarkan penghambaan dengan semua ketulusan dan keaktifan sehingga ia menjadi kokoh sampai ajal datang nanti. Ya, mengantarkan penghambaan hingga ajal datang adalah gerakan dan aksi yang sebenarnya. Baik secara individu maupun secara kelompok masyarakat, jika seorang hamba memikirkan tugas dan kewajiban yang diharapkan dari dirinya dengan sepenuh jiwa dan hatinya serta berjuang untuk menunaikannya, maka sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, ia telah memahami dan hidup dengan gerakan dan aksi yang sejati. Sebaliknya, jika permasalahannya hanya diambil dari satu dimensi tunggal belaka dan dengan pengabdian-pengabdian materi yang mereka kerjakan sejak awal, walaupun nantinya mereka berhasil membawa Turki menjadi negara paling makmur di dunia serta, sebagaimana disampaikan dalam beberapa karya tulis, andai pedang-pedang digantung di atas menara Masjid Blue Mosque, pekerjaan itu akan tergelincir. Sedangkan sisanya akan mundur dengan teratur. Bahkan andai dalam satu gerakan mereka menyelamatkan dunia lalu mereka yakin dan percaya pada kapasitas perbuatannya, dapat dengan mudah saya sampaikan bahwa segala yang mereka kerjakan tersebut tidak akan dianggap sedikitpun di sisi Sang Haq.

Di bagian kedua pertanyaan dikatakan “Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?” Pertama-tama, untuk bisa melanjutkan semangat dan ruh tersebut berhubungan dengan faktor-faktor berikut ini:

1. Amaliyatul Fikriyah :

 Ya, tampaknya kekurangan terbesar kita adalah jauhnya dan lalainya kita dari tafakur dan tadqiq[2]. Selebihnya disebabkan oleh jauhnya kita dari muraqabah (autokontrol) kehidupan hati dan kubur.

2. Rabitatul Maut :

Yaitu senantiasa memikirkan kematian, bersatu dengannya; mempersiapkan diri untuk memenuhi janji pertemuan dengan Malaikat Izrail. Untuk itu, rumah sakit harus dijenguk…, berempati dan menyatu dengan para pasien pengidap berbagai penyakit. Harus mengingat kembali bahwasanya dunia ini fana dan senantiasa mengalami dekadensi dengan menziarahi kuburan serta memikirkan kondisi di liang lahat di mana di sana kita tinggal tulang belulang mengering belaka. Di sisi lain, mengingat pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” kita harus berjuang meninggalkan karya dan jasa, dengannya kita berusaha memenuhi umur kehidupan kita. Perhatikanlah kehidupan Sang Kebanggaan Alam Semesta! Di akhri kehidupannya, di waktu perjumpaan dengan Sang Rafiq al Ala semakin dekat pun beliau menyiapkan pasukan untuk melawan Bizantium.[3] Beliau juga mengangkat putra dari syuhada Mu’tah[4], yang dicintainya seperti cintanya kepada cucu-cucu kandungnya, yaitu Sayyidina Usamah bin Zaid[5] r.a. sebagai komandan pasukan. Di waktu-waktu akhir saat sakitnya semakin parah, beliau pingsan, sadar, pingsan lagi, dan setiap sadar beliau selalu bertanya apakah pasukan sudah berangkat atau belum. Saya mohon izin, apakah hal tersebut lazim dipikirkan dan dikalutkan oleh orang-orang yang sedang menghadapi sakaratul maut? Tetapi tidak bagi para pegiat dakwah. Dibutuhkan pekerja magang yang layak untuk disandingkan dengan Sultan seperti Beliau! Dan dari negeri ini muncul satu jenius yang amat cemerlang: Murad Hudavendigar[6]. Beliau membatasi hidupnya dengan jalan meletakkan ganjal di perut sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi. Sebelum menyerahkan ruhnya kepada Tuhannya di medan perang, orang-orang terdekatnya, yaitu Gazi Mihal[7] dan Gazi Evranos[8] bertanya: “Sultan, apa ada permintaan terakhir Anda?” Jawaban Sang Sultan adalah jawaban yang nanti  ditulis oleh tinta emas dalam lembaran sejarah manusia:”Attan inmeye inmeyesüz, kılıcınızı kınına koymayasuz! ~ Kita tidak boleh turun dari punggung kuda, kita tidak boleh sarungkan pedang!”. Beliau tidak berwasiat untuk memakamkan jasadnya di Bursa ataupun supaya penerusnya membalaskan dendamnya. Sebaliknya, dengan apa yang disampaikannya tersebut beliau sedang menghembuskan semangat aksi di jalan dakwah dimana beliau jatuh syahid. Salah satu jalan untuk bisa meraih titik ufuk tersebut adalah dengan menghadapi kematian dengan senyuman serta menerima kematian sebagai hari raya dan pesta resepsi purna tugas kita di muka bumi.

3. Tidak tertinggal dari profit yang didapat dari hasil kerja kolektif.

Barangkali sebagian dari kita telah runtuh kehidupan kalbuya. Kita harus memperbaikinya dengan jalan hadir di dalam atmosfer yang penuh berkah, yaitu tempat di mana orang-orang baik berkumpul. Terkadang di dalam atmosfer negatif dimana kita terdapat di dalamnya, mata kita, telinga kita, tangan hingga kaki kita sendiri tidak cukup bagi kita. Di waktu itulah genggaman tangan, tatapan mata, serta perhatian dari telinga para sahabat dapat mewujudkan apa yang kita butuhkan serta membantu kita meraih keadaan di atas kekuatan dan kemampuan kita.

4. Untuk bisa selalu berada dalam skema hizmet kepada bangsa yang hidup dan aktif, secara mutlak kita harus ambil bagian dalam tugas dengan penuh semangat tanggungjawab

            Ya, sejumlah orang yang berniat untuk melakukan hizmet kepada bangsanya berkumpul dalam frekuensi sering; mereka sibuk menelaah dan membahas hasil kerja serta program lanjutannya, seminggu penuh mereka bangun dan tidur dengan kesibukan tersebut; tanpa membiarkan waktu berlalu percuma mereka hembuskan nafas-nafas hizmet. Ketika mereka berlaku demikian, maka Allah SWT pun memberkahi gairah dan semangatnya, atau dengan kata lain memberkati gerakan dan aksinya. Barangkali ini adalah ungkapan hakikat dari hadis qudsi:”…Jika ia datang kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari...”[9]

            Kesimpulan; ketika penindasan disungkurkan ke tanah; para ksatria yang menyumbangkan bahunya untuk memikul pekerjaan yang amat indah ini pertama-tama melalui tafakur akan menyadari betapa berharganya nilai-nilai yang mereka miliki… dengan rabitatul maut, mereka akan melampaui fana dan dekadensi dunia… bahkan mereka akan menunjukkan jalan untuk menjadi eksis di tengah-tengah kefanaan dan dekadensi dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka akan menunjukkan kepada orang lain jalan untuk menjadi eksis di dalam kumpulan rekan-rekan yang membersamainya bahu-membahu di jalan hizmet kepada bangsa. Bersama mereka melewati setiap kesulitan, cobaan, ujian, juga kebahagiaan di setiap tempat dan waktu. Dengan jalan ini angka satu akan mencapai seribu. Para pahlawan futuwah yang menjadi representasi dari loyalitas akan berlari menuju hizmet-hizmet berikutnya dengan penuhsemangat dan gairah seolah berangkat menuju pertemuan dengan tokoh-tokoh besar nan jadi panutan di dunia pembimbing dan penunjuk jalan keselamatan. Betapa banyak pahlawan yang akan menampilkan gerakan di atas gerakan untuk mewujudkan kabar gembira yang telah dikirimkan ke alam dunia berabad-abad yang lalu.

            Ya Allah, angkatlah generasi kami dengan anugerah, kemurahan, serta inayatMu! Berkat Kemahakuatan serta KeperkasaanMu, dukunglah kami di jalan dan perjuangan besar yang mana ia tak mampu kami lalui dengan kekuatan dan kemampuan kami! Jadikanlah kami dan generasi kami sebagai bagian yang melanjutkan tugas besar ini! Ya Allah, selama agama ini eksis di muka bumi, bahagiakanlah mereka baik yang ada di atas maupun di dalam permukaan bumi!

 

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Temel Dinamikleri Ile Aksiyon”, yang terdapat di buku Prizma 1, hlm. 24


[1]Surat al Hijr 15:99

[2] Pemeriksaan secara seksama dan detil

[3] Bukhârî, mağâzî 87; Müslim, fazailü’s-sahâba 63.

[4] Bukhârî, mağâzî 44; Müslim, janâiz 30

[5] Bukhârî, adab 22, Ahmad Ibn Hanbal, al-Musnad 5/205.

[6] Murat Hudavendigar adalah Sultan Murad I. Hudavendigar berasar dari bahasa Persia yang bermakna “Yang Taat Kepada Tuhannya”. Tetapi dalam konteks ini bermakna Khalifahnya Allah. Adalah sultan ke-3 Usmani setelah Osman Gazi dan Orhan Gazi. Beliau syahid setelah berhasil menakhlukkan Kosovo

[7] Abdullah Mihal Gazi adalah sahabat seperjuangan Sultan Murad. Beliau adalah komandan bizantium pertama yang memilih Islam dan bergabung dengan pasukan Usmani. Bernama asli Mikhael Kosses, setelah bersyahadat beliau menerima nama yang diusulkan oleh Sultan Muran, yaitu Abdullah. Beliau kemudian dikenal dengan nama Abdullah Mihal Gazi

[8] Komandan Perang di masa Sultan Murad I, Bayezid I, Suleyman Celebi, dan Mehmed I

[9] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”(HR Bukhari no 6970 dan Muslim no. 2675)

jesse-roberts-146556-unsplash

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

Rumah Cahaya dari Masa ke Masa

(Diterjemahkan dari Prizma 2 artikel berjudul Dünden Bugüne İbn Ebi’l-Erkam Evleri)

Tanya: Apa esensi dari Rumah Cahaya dan apa saja yang bisa diuraikan terkait dengan misi yang diembannya?

Jawab: Topik dan gagasan yang paling sering saya sampaikan dan paling jelas saya kemukakan hingga saat ini salah satunya adalah rumah cahaya. Tidak mungkin saya bisa mengingat keseluruhan penjelasan saya di masa lalu untuk kemudian mengulangi menjelaskannya kembali secara sistematik saat ini. Akan tetapi, karena kembali ditanyakan, saya akan berusaha menjelaskannya kembali sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran saya, mohon maklum jika tidak tertib.

Benih mungil yang di lempar di padang ketiadaan

Semua institusi yang kita kelola pada hari ini, dapat diibaratkan seperti pohon besar yang tumbuh dari sebuah benih mungil yang dilempar di atas padang ketiadaan.

Ya, di masa dimana sebuah lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang semakin pekat melingkupi – perlahan ia menyirnakan kegelapan pekat tersebut; ruang mungil yang dibangun, pelan-pelan  ia menjadi sebuah  rumah cahaya, lalu menjadi kompleks perumahan yang lebih besar; persis seperti karakter fitri sebuah sperma yang mengandung cahaya dari Baginda Nabi Shallallahu  Alayhi Wasallam sebagai sebab pertama dari penciptaan dasar langit dan bumi, ia pun lewat perwalian Nuru Adzam  melakukan hal yang kurang lebih sama.

Rasulullah membangunnya dari sebuah rumah

Jika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW memulai usaha ini, beliau juga memulainya dari rumah-rumah ini. Ya, ketika Rasulullah SAW memulainya dengan sebuah rumah, maka bumi berubah menjadi masjid, dimana Mekkah menjadi mihrabnya, Madinah menjadi mimbarnya. Semua manusia di seluruh penjuru dunia, dari yang berumur tujuh hingga tujuh puluh tahun, dari laki-laki hingga perempuan, satu per satu menjadi santri yang juga jamaah dari masjid ini serta membenarkan pesan dari madrasah irsyad dan tablig ini. Yaitu usaha dakwah dan mematangkan jiwa manusia.

Para Pembaharu di setiap masa mengikuti jejak langkah Rasulullah

Di masa-masa setelah Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah, metode ini tetap diikuti. Misalnya, di masa dimana Bani Umayyah perlahan mengalami kemunduran, Sayyidina Umar bin Abdul Aziz r.a. bersama 3-5 orang di sekitarnya memulai usaha perbaikan dengan sejumput orang ini. Beliau memulainya dan dalam waktu yang amat singkat, yaitu dalam dua setengah tahun, beliau telah mencapai prestasi yang bahkan tidak akan mampu disamai oleh mereka yang bekerja selama seratus tahun. Beliau membangun usaha agungnya tersebut dari tempat yang kecil dengan dukungan sejumput orang-orang di sekitarnya saja. Kemunduran yang dimaksud disini adalah kemunduran di bidang keinsafan beragama.

Imam Ghazali juga mengikuti jalan yang sama. Ya, beliau juga bersama beberapa orang dari masyarakat yang dipanggilnya, menjelaskan falsafah khidmah kepada para manusia; beliau menunjukkan jalan ‘ihya’ ilmu-ilmu agama  dan ketika beliau mengerahkan penanya untuk menulis  ‘al Munqidhu minad Dhalal’ sebagai usaha dengan tujuan menghidupkan ilmu-ilmu agama tadi; Di sisi yang lain, dengan kitabnya yang berjudul ‘Ihya Ulumuddin’ beliau membakar suluh kebangkitan kehidupan Islami di kalbu kaum mukminin.

Sebenarnya, mulai dari masa dimana cahaya awal itu berpendar hingga masanya Imam Rabbani; dari masa beliau hingga ke masanya Sang Penderita Agung di masa kita ini, Bediuzzaman Said Nursi; Mereka yang berperan sebagai mursyid kepada umatnya Nabi Muhammad SAW di berbagai masa, sosok-sosok agung tersebut senantiasa mengikuti jalan yang sama.

Ya, alam semesta yang luar biasa ini; Sebagaimana sistem tata surya dan galaksi disusun oleh beragam atom berukuran mini. Demikian juga sebuah dakwah agung, ia dibangun dari usaha-usaha kecil tadi yang menggemakan[1] (pesan dakwahnya) ke setiap kalbu. (Atom-atom mini penyusun alam semesta tadi) Menjadi buku yang penuh makna, (ia) berisi berbagai macam galeri[2] (seni yang agung).

Isyarat halus dari Al Quran

Ketika pembahasannya sampai di masa kita ini; Cahaya yang terdapat di Surat An Nuur ~ yang berarti Cahaya;

ف۪ي بُيُوتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ ف۪يهَا اسْمُهُۙ يُسَبِّحُ لَهُ ف۪يهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ ﴿٣٦﴾

Artinya: di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang (QS Nur:36).

 Menurut saya, rumah-rumah cahaya ini memiliki korelasi dekat dengan ayat ini; rumah-rumah cahaya ini menunaikan tugas seperti menara masjid yang sekali lagi memperdengarkan apa makna dari potret seorang muslim.

Bukankah sosok yang berada di garda terdepan dalam pekerjaan ini ketika memperkenalkan dirinya berkata: ”Saya berada di ujung menara abad ke-13 H. Saya mengundang mereka yang secara tersurat seperti orang berpendidikan, tetapi secara tersirat adalah orang terbelakang untuk datang ke masjid.”

Sebenarnya ketika beliau menyampaikan hal tersebut, bukan berarti beliau benar-benar berdiri di atas menara lalu menutup telinganya (seperti bilal yang akan mengumandangkan azan) dengan jemarinya untuk berteriak. Akan tetapi, beliau, dengan menaranya di Barla, menara yang memanggul peran mulia – Pada hari ini pun ia masih tetap berdiri kokoh dengan segala wibawanya di sisi pohon Platanus orientalis – dari tempatnya beristirahat itu, beliau berusaha untuk memperdengarkan suaranya kepada umat manusia.

Tempatnya beristirahat tersebut, – menurutku – Darul Arqam, lalu kediaman mulianya Baginda Nabi SAW, rumah Imam Ghazali, rumah Imam Rabbani, dan rumah-rumah lainnya yang digunakan untuk tujuan yang sama, merupakan sebuah menara agung yang menjelaskan makna kecemerlangan dengan segala sisinya sebagaimana dijelaskan QS An Nur: 36  Yaitu di rumah-rumah yang diberi izin oleh Allah buat ditinggikan dan disebut namaNya. Yaitu rumah-rumah yang disucikan namaNya di dalamnya, baik pagi atau petang.

Karakteristik Rumah Cahaya

Rumah Cahaya ini memiliki karakteristik yang khas. Di sanalah tempat dimana kekosongan jiwa yang bisa muncul karena sisi manusiawi mereka diisi. Ia adalah tempat suci, dimana rencana dan proyek (kemanusiaan) diciptakan; tempat dimana tegangan metafisik terus-menerus dialirkan; tempat  matangnya sosok-sosok beriman sekuat baja, berjiwa kokoh,  dimana Ustadz menjelaskan mereka yang matang tersebut dengan kalimat:  ‘mereka yang berhasil merengkuh iman yang hakiki, akan sanggup membaca semua kebutuhan dunia.’

Dan memang sekarang, penaklukkan dunia tak lagi dilakukan dengan berkuda seperti halnya berlaku di masa lalu; tak juga dengan pedang di tangan, belati di pinggang, ataupun busur panah di punggung; Sudah jelas bahwa di masa kini kalbu-kalbu manusia hanya bisa dimasuki dengan Al Quran di tangan kanan, dan logika di  tangan kiri.

Demikianlah pemuda makna dan ruh matang di rumah cahaya. Merekalah yang akan  memakmurkan jiwa-jiwa yang kosong dengan cahaya yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepadanya, di atas jalan menuju pembebasan di dalam makna dan di dalam jiwa. Jika demikian, rumah-rumah ini merupakan sebuah madrasah atau meja kerja, dimana generasi  yang latah dengan godaan dunia yang memikat dan anak-anak yang kehilangan arah kemudian dimakmurkan dan dikembalikan ke akar makna dan jiwanya

Khususnya di masa dimana madrasah dan majelis zikir dilarang, apa yang diharapkan dari rumah-rumah tersebut adalah ditunaikannya misi mulia tersebut, yaitu untuk mengisi peran madrasah dan majelis zikir. Rumah-rumah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan positif kepada para penghuninya; Ini artinya, selain menjalankan tugas sebagai majelis zikir dan majelis taklim, ia juga menjalankan tugas sebagai madrasah.

Sebenarnya ayat Al Quran mengisyaratkan semua ini:  Penggunaan kata بُيُوتٍ ‘Büyutün’ secara nakiroh (tidak spesifik), mengindikasikan bahwa kata ini dipakai untuk menjelaskan bahwa kata yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ selain masjid. Yaitu, ia bukanlah musholla dan masjid dimana azan dikumandangkan lewat menara-menaranya sebagaimana yang kita ketahui; Ia adalah tempat yang tidak spesifik.

Rumah-rumah ini pun seiring berjalannya waktu juga tidak memiliki spesifikasi tertentu. Rumah-rumah ini tidak memiliki spesifikasi yang jelas, karena mereka yang keluar-masuk ke dalamnya senantiasa diawasi.

Walaupun demikian, ada satu yang spesifik dan jelas darinya, yaitu di masa dimana kesulitan menghimpit, rumah demi rumah yang dibuka telah berhasil mendapatkan kemuliaan dan anugerah di masa-masa sulit itu. Tanpa terpaku pada masalah yang sederhana dan sementara, pada masa dimana kumandang azan di menara-menara dan aktivitas mulia lainnya dibungkam, rumah mulia ini menjadi terpuji lewat izin tersirat Allah SWT:”Untuk saat ini biarlah NamaKu dipuji dan digaungkan di rumah-rumah ini”; ia adalah tempat luar biasa, dimana buku-buku dibaca dan kebenaran dikaji.  Setelah ini, kajian-kajian  tentang ruh beragama yang tadinya dilakukan di masjid, ia akan dilakukan di rumah-rumah ini. Dengan pertimbangan ini, rumah-rumah ini adalah tempat yang berkah, yang disebut sebagai “penerjemah wilayah hakikat yang agung”.

Karakteristik Pemuda yang Tinggal di Rumah Cahaya

Keadaan rumah-rumah ini senantiasa cocok dengan apa yang digambarkan Sayyidina Abu Bakar r.a.: “Ketika kita masuk rumah, kita tidak yakin apa masih bisa keluar.  Demikian juga saat kita keluar rumah, kita  tidak yakin apakah masih bisa masuk rumah lagi.“

Ya, adalah sebuah kemungkinan yang sangat terbuka bagi kita untuk ditangkap saat kita menuntut ilmu di dalam rumah; Demikian juga saat kita keluar rumah, juga sangat mungkin penghuni rumah-rumah ini untuk diculik oleh mobil tak dikenal.  Oleh karena itu, Kita harus selalu berlindung kepada Allah SWT dengan berdoa: ”Tidak ada sekutu bagiMu, segala sesuatu ada dalam genggamanMu. Jika Engkau tidak mengizinkan, tidak ada satu keburukan pun yang dapat mencelakakan kami.“ Dengan doa tersebut, kita menyerahkan keamanan rumah ini dan penghuninya kepada penjagaannya Allah SWT.

Menyingkirkan semua ‘sekutu’, sepenuhnya berserah diri dan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, atau dalam istilah lainnya, duduk dan bangkit ‘bersama’ Allah Subhanahu wa ta’ala, adalah tabiat dari para penghuni rumah-rumah ini

Peran Wanita di Rumah Cahaya

Di sisi lain, ayatul karim ini menggambarkan bagaimana dakwah ini berjalan di masa-masa awalnya, dimana ketika itu hanya sedikit dari kaum wanita yang mengambil peran, atau dengan kaidah taglib[3] dalam bahasa Arab.

رِجَالٌۙ لَا تُلْه۪يهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَا۪يتَٓاءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ ف۪يهِ الْقُلُوبُ وَالْاَبْصَارُۙ ﴿٣٧﴾

QS Nur: 37 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan  dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu)…” dimana dalam ayat ini seakan-akan hanya kaum lelaki saja yang dibahas. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwasanya ayat ini dengan kaidah taglib juga mengisyaratkan kepada kaum wanita. Dengan demikian kata ‘rijalun’ juga bermakna ‘wanita yang tangguh seperti lelaki’. Yakni, ketika orang lain mengejar jabatan dan kebanggaan diri,  tenggelam dengan penampilan jasmani, sibuk dengan anak-anaknya, sosok-sosok dalam ayat tadi terbang dengan keagungan yang digambarkan ayat tersebut; ia juga bermakna bahwa ada juga wanita-wanita dengan iradah kuat sekuat kaum lelaki sebagaimana dibahas dalam ayat tersebut.

Ya, pada masa permulaannya, bersama para pahlawan dari kaum lelaki seperti Sidik Sulaiman, Hulusi Efendi, dan Husrev Efendi, terdapat pula para pahlawan wanita yang kita kenal, walau jumlahnya sedikit. Mereka bagaikan berada di bawah bayangan Sayyidah Nasibah dan Sumaira yang juga turut terlibat dalam Perang Badar dan Uhud.

Ya, walaupun mereka wanita,  mereka tidak ketinggalan dalam memanggul dakwah yang mulia ini. Pada hari ini pun, rumah-rumah cahaya bertindak sebagai tuan rumah bagi para pahlawan ini.

Peran yang dipikul Rumah Cahaya

Aku rasa, selama rumah cahaya ini dijalankan sesuai dengan tujuan pendiriannya, ia akan  mencapai titik-titik yang tak mampu dicapai oleh tekke (majelis taklim) dan zawiyah (majelis zikir), dan di waktu yang sama ia akan menjadi sebaik madrasah dalam mencetak generasi (emas). Dari rumah-rumah ini akan lahir generasi seperti Abdul Qadir Jailani, Gelenbevi (Professor Matematika Usmani), Ali Kuscu (Ahli Astronomi), Molla Husrev (Syaikhul Islam), Molla Gurani (Guru Para Putra Mahkota Usmani), Ebu Suud (Syaikul Islam di zaman Kanuni Sultan Sulaiman), Ibrahim Hakki dari Erzurum.

Jika tidak, hafizanallah, bisa saja ia berubah menjadi gubuk miskin. Aku rasa, sebagian besar dari mereka yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama denganku, akan lebih memilih mati daripada harus menyaksikan keadaan rumah cahaya berubah menjadi gubuk-gubuk miskin.

Rumah – rumah yang memiliki peran dan tujuan seperti rumah Ibnu Arqam selalu dibuka di berbagai masa, di mulai dengan di masanya Baginda Nabi, pada hari ini pun ia masih melanjutkan tugas dan peranannya.

Rumah-rumah ini, di hari-hari dimana layar mulai terkembang untuk kebangkitan yang ketiga (Kebangkitan pertama adalah  masa Sahabat. Kebangkitan kedua adalah masa Usmani, penerj.), ia akan menjadi tempat dimana generasi pembangkitnya dilengkapi dan  disempurnakan, insya Allah..

Di satu masa, Tekke dan Zawiyah menjadi tempat yang sangat penting dalam menghasilkan generasi pembangkit. Lewat sosok-sosok bercahaya yang dihasilkannya, ia membangkitkan Anatolia. Dalam kriteria tertentu, lewat penunaian tugas dan fungsinya, ia juga menjadi sumber keberkahan bagi kita.

Dan kini, tidak hanya Anatolia. Bagaimana rumah-rumah ini sanggup mencetak pemuda ruh dan makna yang membangkitkan seluruh penjuru dunia, adalah sangat penting untuk menilai rumah-rumah ini memiliki (peranan yang ) setara dengan madrasah, tekke, dan zawiyah.

Para rijalullah yang dihasilkan dari rumah-rumah ini, sambil mempelajari semua aspek dari ilmu positif,  dilengkapi dengan hadis, tafsir, fiqih, dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka harus hidup dengan kehidupan ruh Islam yang amat luas, mereka harus menampilkan makna dan jiwa dari ruh para pendahulunya yang tak pernah lekang oleh waktu.

Jika tidak dilakukan, ia bagaikan pengkhianatan kepada rumah cahaya ini, kepada pemilik rumah ini (Bediuzzaman), kepada inspirasi rumah ini yaitu Arqam,  dan kepada Sang pemberi arti, Baginda Muhammad Mustafa Shallallahu alayhi wa salllam.

Tamsil (perwakilan) dari ruh tersebut, sebagai bentuk dari kedalaman maknawinya, ia harus menunaikan shalat dengan amat dalam, kalau perlu ketika meletakkan kepalanya ke tanah ia sanggup mengatakan ‘Ya Allah, Andai Engkau tidak menakdirkanku untuk mengangkat kepalaku ini. Andai sujudku ini menjadi titik dimana aku kembali kepadaMu!’

Ia tidak akan mengalihkan pandangan matanya ke hal lain, ia berdiri dengan tulus di hadapan Ilahi, ia menutup dirinya untuk hal-hal yang tidak berfaedah, dan seakan ia sedang menyaksikan keindahan (jamal) nya Allah SWT di dalam surga, ia memasuki fase konsentrasi , mempertemukan tangan di atas lututnya, ia keluar dari ‘ana’ (saya) dan ‘nahnu’  (kami – kita),  dan menjadi mata yang memandang ‘Huwa’ (Dia)

Ya, mengarahkan diri kepadaNya dengan kriteria ini…

Ya, bukan dengan pemikiran:’Azan sudah dikumandangkan. Aku masih perlu melakukan beberapa kegiatan. Kalau demikian biar aku selesaikan dengan cepat shalat ini.’

Melainkan: demi bisa berjalan menuju mikraj, seakan ia turun ke jalanan landai (menurun), ia melupakan dirinya, menuju serta mencapai fana fillah, baqa billah, menunaikan shalat  dalam atmosfer kebersamaan denganNya, tanpa memikirkan diri sendiri…

Yakni, menuju Rabb sebagaimana Zübeyr Gündüzalp, Hüsrev Efendi meretakkan kalbunya. Dan dengan awradu azkar (wirid dan zikir), tasbihu takdis (tasbih), di bawah bimbingan cemerlang dari Al Quran, demi bisa mencapai Allah SWT, rumah-rumah cahaya ini dirubah menjadi pelabuhan dan galangan kapal yang tidak ada bandingannya.

Ya, jika rumah cahaya dijalankan seperti tadi, maka ufuk pun akan mencapai Allah SWT;

Tempat Menutrisi Generasi Pembawa Panji Kebenaran

Hari ini, mereka yang memiliki mimpi untuk membawa hakikat dan kebenaran ke tujuh benua, mereka wajib dinutrisi oleh rumah-rumah yang berperan bagai penghasil air susu ibu yang berkah.

Untuk mereka yang tinggal bertahun-tahun di tempat suci tersebut namun tetap tidak memahami Allah SWT, mereka yang tak mampu meraih kecintaan dan hasrat kepadaNya, mereka di satu kriteria merupakan orang-orang yang tidak beruntung dan menyedihkan.

Mereka yang memiliki keadaan demikian, mirip bayi yang berada dalam timangan ibunya, namun tak mampu meraih ASI dari ibunya. Mereka yang demikian, tidak mendapatkan keuntungan apapun, pun tidak akan mampu mengantarkan umat manusia menuju apapun.

Kesungguhan Dalam Mendirikan Shalat

Ketika sampai disini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Ketika aku melihat orang yang sedang shalat, namun ia shalat sambil tengok kanan-kiri, aku merasakan, jika boleh dikatakan demikian, seakan kemuliaan Tuhanku sedang direndahkan.  Saat itu aku bergumam:’Andai saja orang ini melemparkan sumpah serapahnya saja kepadaku, namun tak menengokkan matanya ke kanan dan ke kiri saat shalat.” Menurutku, sumpah serapah tersebut masih ringan dibandingkan shalat tanpa keseriusan seperti itu.

Ya, orang yang ketika menghadap kepada Allah melakukan gerakan seperti ini, aku secara pribadi menganggapnya sebagai sumpah serapah kepadaNya. Seandainya mereka menusuk jantungku saja, mungkin mereka akan menjadi pembunuh, tetapi aku akan berdoa:’Ya Allah, jika Engkau tidak memaafkan orang ini,–andai aku bisa – aku tidak ingin menghadap kepadaMu.‘

Seperti yang Anda saksikan, aku sangat terganggu oleh mereka yang tidak serius dalam shalatnya.

Tanpa doa dan shalat, atau menunaikan shalat tanpa ruhnya, tak mungkin seseorang bisa menjadi mukmin sejati. Allah SWT berfirman: ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS Al Mukminun : 1-2).

Shalatnya mereka yang tinggal di rumah-rumah suci tersebut, lebih penting daripada penakhlukkan dunia tanpa shalat. Dan memang, selama mereka tidak menjadikan shalat sebagai hal paling penting dalam kehidupannya, tidak mungkin dibayangkan mereka akan meraih kesuksesan.

Rumah Cahaya Dibuka Untuk Mengkompensasi Pekerjaan Yang Terabaikan

Kesimpulannya, untuk topik tadi, saya senantiasa merasa terluka. Rumah-rumah cahaya ini dibuka untuk mengkompensasi apa yang telah diabaikan oleh sejarah; barangkali aku tidak tahu seberapa tepatnya ia dijalankan sesuai dengan tujuan awalnya; namun, aku ingin tetap berhusnuzan sambil berkata:’teman-teman pasti menunaikan haknya rumah-rumah cahaya ini’

Jangan lupakan semua umat yang sedang dan akan berada dalam kehancuran dunia, mereka sedang menunggu pemuda irsyad yang matang di rumah-rumah ini untuk membangkitkan mereka. Dan demikian ia dipahami, bahwasanya fungsi dari rumah-rumah ini tidak akan pernah selesai

Jika demikian, maka demi Allah, datanglah, tunaikanlah shalat dengan haknya, berpuasalah; Dan tunaikanlah shalat dan puasa dengan sebaik-baiknya, sehingga malaikat  yang sedari ia diciptakan tak pernah bangkit dari rukuknya pun akan berkata:’Luar biasa! ternyata ada yang menunaikan shalat lebih baik lagi.’  Demikian baiknya kita melebur ke dalam zikir dan fikir, para penghuni langit yang menyaksikan kita pun akan berkata:’merekalah yang akan membangkitkan dunia!’

Sebagai manusia yang beruntung, atau  sebagai hamba Allah, mari kita  manfaatkan rumah-rumah – keran air susu ibu – yang diliputi berkah tersebut dengan maksimal. Jangan sia-siakan waktu kita dengan canda tawa  seperti orang-orang bodoh, atau dengan kata-kata yang tak bermakna, yang tak memberikan manfaat dunia dan akhirat. Marilah kita jadikan rumah-rumah cahaya ini sebagai sumber cahaya yang akan menerangi seluruh dunia.

Semoga Allah menjadi Penolong bagi kita semua! Amin

 

[1] Menggemakan: menjadikan bergema; gema: bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung; memantul bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi (KBBI)

[2] Galeri: ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya (KBBI)

[3] Taglib : disebabkan suatu hubungan, suatu kata digunakan untuk makna lainnya dengan mengambil makna dari kata tersebut. Misalnya, untuk kata ayah yang berhubungan dengan ibu selaku orang tua, digunakan kata abawayn