photo-1510784722466-f2aa9c52fff6

Tauhid 8 – Bahasa Sikap

Orang-orang yang memiliki atusiasme tinggi akan menceritakan kondisi mereka, kegembiraan dan keadaan hati mereka. Mereka akan memproyeksikan superiotas perasaan mereka ke sekitar. Mereka akan melakukannya baik dengan kata-kata atau perilaku mereka. Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah menyebutkan bahwa yang pertama adalah tentang pandai berbicara. Kita juga telah menyebutkan bahwa mereka yang menjalankan misi dakwah dengan kata-kata, mereka disebut pandai berbicara. Jika perilaku tidak sejalan dengan perkataan, dengan kata lain berwajah dua, mereka akan mencoba untuk membungkam lawan bicaranya atau menipu orang lain.

Ketika perilaku sesuai dengan perkataannya, maka segala sesuatu yang ingin diceritakan masuk ke dalam hati dan diterima. Hanya dengan begitu lingkaran cahaya akan terbentuk di sekitarnya seperti yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. Karena alasan inilah perilaku dan kemurnian hati dianggap sebagai faktor terpenting dalam menceritakan kebenaran. Hal itu membutuhkan struktur hati dan struktur spritual yang bebas dari dendam, permusuhan, amarah, iri hati dan hanya memikirkan Allah yang Maha Esa. Untuk itulah, Guru kita Ustad Said Nursi memberikan kabar gembira:

“Bila kita memperlihatkan kesempurnaan akhlak Islamiyah dan hakikat keimanan dengan perilaku, maka pasti para pengikut agama lain akan masuk Islam secara berbondong-bondong.”

Suatu ketika, Umar r.a. naik ke atas mimbar. Tanpa harus menunggu untuk khutbah di hari jumat, Umar r.a terkadang memanfaatkan waktu naik ke mimbar. Ia menjelaskan dan menceritakan beberapa masalah agama kepada publik seperti yang telah dilakukan Rasulullah Saw. Suatu hari ia naik ke mimbar dan berpidato kepada jama’ah: “Jamaah! Dengarkan dan pahami”, dia berkata. “Setelah anda mempelajarinya, bertindaklah sesuai dengan itu!”. Tiba-tiba terdengar suara yang merobek keheningan di dalam masjid. Pertahian seluruh masyarakat tertuju kepada pemilik suara. Seorang sahabat ini berdiri di depan mimbar menentang Umar: “Tidak! aku tidak akan mendengarkan dan aku juga tidak mau memahaminya!” katanya. Tidak ada yang tahu mengapa dia menolak Sayyidina Umar dan mengatakan semua hal ini. Tetapi hanya beberapa menit kemudian semuanya akan terungkap. Umar mengenakan kemeja mewah hari itu. Umar r.a sedang memberikan khutbah kepada publik dengan kemeja pertamanya. Kain baju itu adalah salah satu potongan kain yang dibagi dari hasil ghanimah perang sehari sebelumnya. Sahabat yang menolak Umar juga diberi selembar kain itu. Tapi dia tidak bisa menjahit kemeja itu karena tidak cukup untuk kemeja. Mungkin dia hanya bisa menjahit kemeja untuk salah satu anaknya. Ketika sahabat itu melihat baju utuh dipakai Umar, dia keberatan. Ini merupakan sebuah ketidakadilan, ia telah menyaksikan perlakuan penghinaan terhadap keadilan. Karena alasan ini, dia tidak mau mendengarkan Umar dan menyatakan bahwa dia tidak akan mendengarkan. Dia berkata “Saya tidak akan mendengarkan.” “Kenapa kamu tidak mau mendengarkan”, kata Umar. Khutbah tidak lagi didengarkan. Mereka fokus pada dialog antara salah satu sahabat dengan Umar. “Wahai Umar, takutlah kepada Allah”, katanya. “Kamu melakukan kezhaliman”, katanya. “Kemarin kamu memberiku sepotong kain, kamu juga mengambilnya. Kenapa saya tidak bisa menjahit kemeja untuk diri sendiri, sedangkan kamu bisa jadikan satu kemeja? Kemudian kamu berdiri di depan saya dan berkata “dengarkan saya dan pahami”. Saya tidak akan mendengarkan maupun memahami”. Umar r.a adalah orang yang tidak diam terhadap ketidakadilan. Dia sangat senang melihat sahabat seperti itu, yang blak-blakan mengatakan yang sebenarnya. Tapi dia perlu mengklarifikasi masalah tersebut. “Putraku Abdullah, berdiriilah, ceritakan tentang kisah baju ini”, kata Umar kepada putranya. Abdullah r.a pun berdiri dan menjelaskan kepada jamaah: “Ayahku mendapatkan sepotong kain, begitu pun saya, tetapi tidak ada yang cukup untuk menjadi sebuah kemeja. Oleh sebab itu, saya memberikan bagianku kepada ayahku agar dia punya baju baru saat memberikan khutbah kepada jamaah pada hari jumat. Inilah yang terjadi. Kalau tidak, bagian kain yang diperoleh ayahku tidak cukup untuk menjadi kemeja”. Sahabat yang tadi berkata dengan nada yang sama “Bicaralah Umar! Aku sedang mendengarkan sekarang” katanya. “Saya mendengarkan karena saya melihat kebenaran anda, karena saya melihat keadilan anda”, katanya.

Umar r.a menjalankan apa yang dia katakan. Satu yang dia katakan tetapi 10 yang ia lakukan. Perilakunya lebih benar dari pada perkataannya. Mungkin ada beberapa kesalahan dalam perkataannya, tetapi perilakunya adalah ekspresi, monumen kebenaran. Kita harus menjadi orang yang pandai bersikap, berteladan. Maka orang akan percaya pada kita, maka kebenaran akan menunjukkan efek yang diharapkan darinya. Maka hati akan menerima kebenaran yang mereka butuhkan dan akan menerimanya. Ketika perkataan kita ada di suatu lembah dan perilaku kita di lembah yang lain, tidak ada yang akan percaya pada kita selama kita hidup dengan cara munafik, berwajah dua, orang-orang tidak akan mengikuti kita.

Ya, saya ulangi sekali lagi perkataan yang sama. Para nabi telah meyatukan kata-kata dan perilaku. Mereka telah mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sendiri apa yang mereka sampaikan kepada orang lain. Mereka tidak berwajah dua. Karena itu orang-orang mengikuti merekadan membentuk komunitas besar dan jamaah di sekitar mereka. Itu telah terjadi sampai abad ini. Orang-orang yang perilakunya sama jujurnya dengan perkataannya telah memobilisasi komunitas. Saat ini, jika ada seorang remaja yang kejujuran bisa dilihat dari wajah mereka, ini karena mereka yang tindakannya sama jujurnya dengan perkataannya. Ini telah disadari oleh mereka yang telah meninggalkan kesenangan duniawi, meninggalkan keinginan-keinginan mereka. Mereka yang tidak dapat menemukan apapun selain kardigan tua (pakaian yang dirajut) untuk dikenakan di punggung mereka, mereka yang meninggalkan kenikmatan duniawi, mereka yang sama sekali tidak melakukan ketidakadilan, mereka yang tindakannya bahkan lebih jujur dari perkataannya telah melakukannya dengan berkat dan pertolongan Allah SWT.

Jika anda ingin kata-kata anda memberi ruang di hati, -mungkin saya tidak akan bisa melakukannya sama sekali- tetapi jika anda benar-benar menginginkannya, maka anda harus memperhatikan penyatuan perilaku dan perkataan anda. Hindari sifat munafik dan mencoba untuk hidup dalam persatuan internal & eksternal. Jangan lupa bahwa Allah tidak mencintai mereka yang menjalani kehidupan ganda. Dalam Al-Quran mereka disebut dengan munafik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat munafik, berwajah dua, menjalani kehidupan ganda. Semoga Allah menganugerahi kita hidup dalam persatuan saat kita pergi menghadap-Nya.

photo-1585517342886-1f076085742a

Tauhid 7 – Profil Seorang Mukmin dan Bahasa Sikap

Al-Qur’an Mu’jizul Bayan, memiliki narasi dan ekspresi gaya muslim sendiri. Ia menyebut mukmin dengan beberapa kualitas mereka, beberapa sisi keunggulan mereka, dan memperkenalkan gaya mukmin kepada kita. Ia menunjukkan gaya ini kepada orang-orang sebagai panduan dan pengajaran, sebagai contoh, juga sebagai pemimpin yang membimbing jemaah menuju kebenaran. Dalam hal ini, kita dan para pendahulu kita sebagai muslim, pendahulu dan pentabligh kita yakni Rasulullah SAW, memiliki dua macam cara dalam membimbing orang-orang menuju kebenaran. Pertama, kita belajar dan menceritakan masalah yang harus kita sampaikan dengan cara yang terbaik. Dalam hal ini, kita dapat menghadapi semua tantangan. Kita mengarungi lautan darah dan nanah, terbang di atas ladang yang berduri, kita berhadapan dengan kesulitan yang tak terkira. Kita berdakwah karena kita percaya kepada Allah yang membuat kita merasakan kehadiran diri-Nya dalam setiap peristiwa. Kita menggunakan lisan kita, menggunakan kepala kita, menggunakan perasaan kita dan mencoba untuk menyampaikan dakwah. Cara penyampaian yang paling hidup, paling efisien, dan paling efektif adalah bahasa sikap. Menjelaskan Allah dengan bahasa sikap, menjelaskan dan menafsirkan al-Qur’an dengan bahasa sikap dan menjadi cermin Nabi Muhammad SAW dengan bahasa sikap.

Al-Qur’an menerangkan pentingnya bahasa sikap. Selama ini jemaah al-Qur’an telah dibagi menjadi dua bagian: “Mereka yang pandai bersikap dan pandai berbicara”. Mereka yang pandai berbicara bisa berceramah dengan baik dan mengedepankan gagasan dan pernyataan yang tinggi. Tetapi mereka yang pandai bersikap selalu tampil cerah, menonjol dan membelakangi orang-orang yang pandai berbicara. Siapapun yang jujur, siapapun yang tulus, siapapun yang mengarahkan dirinya kepada Allah dengan segenap perasaannya, Allah yang Maha Kuasa telah menyerahkan semua hati kepadanya. Untuk itulah, misi yang menyulut kehebatan al-Qur’an Mu’jizul Bayan dan meningkatkan keyakinan di dalam hati adalah milik mereka yang pandai bersikap, bukan yang pandai berbicara.

Ketika al-Qur’an mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (al-Anfal: 2). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (As-Saff-11). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al Furqan-63). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Ia menempatkan gaya teladan di depan orang-orang. Ia menekankan di keimanan kepada Allah SWT yang menarik orang dan menjelaskan aspek mukmin ini. Mereka yang mengganggu, mereka yang berpikir bahwa mereka dapat melakukan sesuatu dengan perkataan saja, mereka yang tidak memiliki keimanan kepada Allah akan menyendiri dan tidak akan ada orang di sekitar mereka padahal mereka mengedepankan ide-ide cemerlang. Bahkan mereka tidak akan mampu memiliki jama’ah walaupun hanya semobil angkot.

Rasulullah SAW adalah pribadi yang berharga dan unik, yang bersandar pada Allah, yang memadukan perilaku dan perkataan. Dia telah menyatukan perilaku dengan perkataan. Orang-orang di sekitarnya menggambarkannya sebagai “ketika ia menjelaskan dan memberitahu kami sesuai dengan kehebatannya, bahkan air yang mengalir akan berhenti, air yang mengalir akan berhenti saat dia berbicara. Tetapi perilaku rasulullah lebih jelas, lebih berpengaruh, dan lebih manis daripada kata-katanya. Di sini saya akan mencoba menyampaikannya dengan contoh kecil, sebagai berikut.

Ketika beliau SAW memuliakan Madinah dengan kehadirannya, banyak orang berlarian untuk menemuinya. Semua orang berlari untuk melihat siapa pria yang mampu menyeret orang-orang di belakangnya, yang membuat mereka meninggalkan anak-anaknya, wanita menjadi janda, anak-anak yatim. Siapa lelaki yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya melupakan diri mereka sendiri. Semua orang bergegas untuk melihatnya gunung batu berlari melihatnya, mereka harus lari, mereka pun berlari. Seandainya bisa, kita juga berlari untuk menemuinya. Anak-anak menyambutnya di bukit dengan tepuk tangan, mereka berseru: “Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita, dari lembah Wada’” sedang menabuh genderang dan rebana, menyanyikan lagu dan melantunkan sanjungan sambil menyambutnya hanya karena penguasa zamannya telah datang. Di Madinah saat itu ada banyak orang yang telah mendalami ilmu pengetahuan, mengembangkan dunia ide mereka sendiri. Ada orang-orang yang mengetahui Taurat, mengetahui dunia, di Madinah saat itu juga ada yang mengetahui nabi-nabi. Di antara mereka adalah Abdullah bin Salam, yang dihitung oleh sebagian ulama sebagai seorang dari sepuluh sahabat dengan kabar gembira surga. Ia bercerita, “Saya sedang berada di kebun anggur saya, saya melihat bahwa para sahabat yang berlari untuk menyambutnya sedang berbicara satu sama lain. Saya melihat suku Aus dan Hazraj berlarian di Madinah dalam kegembiraan yang luar biasa ketika menuju Aqabah. Saya menanyakan alasannya, mereka menjawab: “Nabi datang ke Madinah.” Saya juga memutuskan pergi untuk melihatnya. Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Salam mangajukan 3 pertanyaan kepada Rasulullah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini hanya seorang Nabi lah yang mengetahui jawabannya. Karena Rasulullah menjawab mereka semua jadi ia beriman dengan megatakan La ilaha illahlah. Dalail menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW sedang duduk di masjid, Abdullah bin Salam masuk. Dia melihat wajah terpancar dan bercahaya Nabi, memperhatikan pidatonya, suasana hatinya, sikap dan perilakunya. Dia mengamati Nabi yang dalam setiap perilakunya dapat dirasakan kristal-kristal iman kepada Allah. Kemudian dia datang ke hadapannya, berlutut dan berkata: “Demi Allah, aku bersumpah, tidak ada kebohongan di wajah ini ini pastilah Nabi”  لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ.

Seorang ulama yahudi, orang yang sadar, dia akrab dengan kebenaran. Dia adalah seorang yang mengenal nabi dan dia pembaca al-kitab. Bahkan jika tidak ada bukti yang lain satu perilaku Rasulullah cukup menjadi sebab untuk seorang beriman dan cukup untuk membuktikan keberadaan Allah SWT. Izinkan saya menyampaikan tentang Zayd bin Sun’a. Ada banyak suku yang percaya kepada Rasulullah SAW tetapi mereka tidak dapat menemukan jalan untuk datang ke hadapannya dan tidak bisa melihat wajanya yang seperti bunga mawar, duduk di hadapannya, dan tidak bisa mengambil faedah darinya. Mereka berada di tempat yang sangat terpencil. Zayd bin Sun’a menyampaikan kepada kita: Pada suatu hari, waktu itu saya belum menjadi muslim, saya sedang menyelidiki.” “Seorang yang sangat sedih, seolah seluruh dunianya hancur. Ia mendekati Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, setelah saya memiliki keyakinan kepada Allah, saya pergi ke suku saya yang sangat membutuhkan dakwah, saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu rezeki.” Saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu kebahagiaan. “Wallahi, wahai Rasulullah, mereka semua telah beriman kepada Allah tetapi mereka masih dalam kesulitan. Saya takut, hatiku tidak tenang, saya khawatir mereka akan keluar kembali dari agama, mereka akan kehilangan Anda. Wahai Rasulullah, bisakah Anda membantu kami secara finansial dan menyelamatkan mereka dari masalah?” Rasulullah berpikir dalam, apakah dia punya sesuatu di rumahnya sendiri. Tidak ada apapun di rumahnya, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengenyangkan perut dan membahagiakan mereka walaupun untuk sementara itu saja. Dia sangat sedih dan patah hati. Saat aku pergi aku mendekatinya dan berkata: “Wahai Muhammad,” dia memanggil Nabi dengan namanya karena dia belum menjadi muslim. “Wahai Muhammad, jika Anda mau, saya akan memberikan Anda uang dan kurma sebagai ganti uang dan kurma yang akan Anda peroleh dan panen di masa depan. Sekarang saya akan memberikan kepada Anda dan Anda akan membayar kembali ke saya di masa depan.” Rasulullah pun menyetujui ketentuan dan syarat kesepakatan dengan mengikuti akad Salam. Beberapa hari telah berlalu, jangka waktu kesepakatan belum jatuh tempo. Kurma di pohon belum cukup matang untuk dipanen. Belum ada apapun yang bisa diperoleh Rasul yang akan pergi dan ambil, tetapi saya pergi. Rasulullah duduk di suatu tempat bersama Abu Bakar dan Umar, seperti biasa saya mendekatinya. Keluarga Abu Thalib adalah keluarga yang sangat terhormat. Mereka menepati kata-kata mereka “Anda membeli kurma dari saya, Anda sama sekali tidak mengeluarkan suara, apakah Anda ingin memakan hak saya? Kapan kamu akan membayarnya kembali?” tanya saya. Utusan Allah, SAW berpaling pada saya, melihat wajah saya dan tersenyum. Dia memberi isyarat kepada Umar dan berkata kepadanya: “Bawa dia dan berikan apa yang dia inginkan dan berikan kepadanya sedikit lebih banyak apa yang dia inginkan!” Umar meraih tangan saya dan membawa saya ke suatu tempat mengembalikan kurma saya dan memberikan sedikit lebih banyak dari apa yang telah saya berikan sebelumnya. Rasulullah SAW tersenyum. “Mengapa Anda memberikan kelebihan ini?”, kata saya. “Rasulullah memerintahkan begitu”, kata Umar radhiyallahu ‘anhu. “Wahai Umar, apakah Anda mengenali saya? Saya seorang Kristen atau pemuka Yahudi Zayd bin Sun’a,” kata saya. “Ya, saya kenal Dan mengapa Anda bersikap tidak hormat kepada Rasulullah? Mengapa Anda bersikap sombong?”. Kemudian ia melanjutkan, “Demi Allah, saya telah membaca kitab-kitab para nabi terdahulu, dan saya telah melihat semua ciri-ciri nabi akhir zaman ada pada dirinya. Kecuali satu hal, kelembutannya akan mengalahkan amarahnya, dia tidak akan marah atas nama dirinya walaupun dunia akan hancur atas kepalanya dia tidak akan marah atas nama dirinya. Saya berperilaku seperti itu karena saya ingin mengetahuinya.Terlepas dari semua kesombongan saya, dia tersenyum dan berkata, “beri dia sedikit lagi,” katanya. Jelaslah ini, dengan kelembutannya, kesabaran yang mengatasi amarahnya inilah yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab itu. Kemudian Zayd bin Sun’a datang ke hadapan Rasulullah SAW dan berucap لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰه.

Ini adalah pelajaran tentang bahasa sikap, penyampaian dengan teladan. Ada banyak orang telah belajar banyak hal, membuat dialektika, mempelajari masalah dengan tujuan membungkam lawan bicara mereka. Dan mereka tidak bisa membuat diri mereka disukai oleh orang non muslim, bahkan orang mukmin saja tidak bisa. Ada orang yang berhati sempit, hatinya tidak berkembang, belum mendapatkan “alam nasyrah laka” (al-Insyirah). Yang hatinya tertutup kepada cahaya langit dan cahaya wahyu bahwa mereka mencoba berdebat dengan diri mereka sendiri ketika mereka tidak dapat menemukan orang lain. Betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan, tetapi karena cemoohnya, sikap keras dan kasarnya menjadi penghalang terlihat indahnya kemusliman dan keislaman itu sendiri.

Bahasa yang paling berpengaruh adalah bahasa sikap sekalipun hanya diam bahasa yang paling berpengaruh adalah hati. Bahasa yang paling berpengaruh adalah luapan air mata. Bahasa yang paling berpengaruh adalah adanya kepala yang mengerang yang merenung di bawah kegelapan malam.

Saat Anda mendapatkan dan menerapkannya dengan benar, komunitas bangsa lain, negara-negara di dunia akan menerima Islam dalam gerombolan-gerombolan. Meskipun banyak orang yang pendiam menyeret massa, orang-orang seperti saya yang berbicara dengan sastra berkhutbah, tidak bisa mendakwahi seorang pun tentang Allah bahkan mereka tidak mampu memiliki jemaah walaupun hanya semobil angkot.

photo-1573887128210-844f9b4018ee

Tauhid 6 – Tanggung Jawab untuk Menjelaskan Iman dalam Kondisi Apapun

Atas nama kebenaran, seseorang juga akan menyampaikan apa yang telah diketahui dan diperolehnya kepada orang lain. Dan mencoba memastikan bahwa mereka juga mendapat faedah sebagaimna ia mendapatkannya. Beginilah seharusnya sifat kemanusian. Kata Insan (manusia) berasal dari kata “uns” yang berarti makhluk yang mampu bergaul dengan baik dengan orang lain, berdamai dengan mereka, berkemanusian, memelihara cinta dan kasih sayang, dan makhluk yang bersosial. Insan, melihat alam semesta dalam perspektif persaudaraan. Mereka memandang satu sama lain seperti anak-anak yang tumbuh dirawat di bawah perlindungan orang tua di rumah. Jika seseorang memahami makna kemanusiaan, dia tidak hanya berhubungan dengan manusia lain, tetapi dia juga menjalin hubungan dengan hewan, pohon, hingga rumput, gunung, batu, semuanya dilihat dalam pandangan penciptaan makhluk Allah SWT. “Tuhanku Pencipta gunung-gunung, sungai-sungai, pohon-pohon, rerumputan, dedaunan, makanan, buah-buahan, makhluk-makkhluk yang tidur nyenyak dan orang-orang yang bekerjasama denganku untuk memahami makna alam semesta, Pencipta manusia”. Jika seseorang melihat alam semesta atas nama Allah, maka dia akan memiliki relevansi seperti ini.

Sementara kufur, karena memutuskan hubungan dengan Allah, ia ibarat menabur benih asing di antara makhluk lainnya, mengubahnya menjadi musuh satu sama lain. Suatu pohon, yang terikat dengan kuat pada akarnya, dahan dengan daunnya, buah dengan tangkainya, beginilah perumpamaan manusia yang seharusnya bisa membangun ikatan kasih sayang. Tetapi jika akarnya dipotong dari tempat ia bertahan, jika Allah dikeluarkan dari hati mereka, jika hati membangkang kepada Allah, maka tidak akan ada cinta dan kasih sayang di antara sesama manusia. Bom-bom akan meledak, orang-orang akan saling membunuh, yang kuat akan menindas yang lemah, tangisan dan rintihan orang-orang lemah akan menjadi melodi dan kesenangan bagi mereka.

Karena alasan inilah, seorang muslim harus menjadi pelayan (pendakwah) setelah dia mempelajarinya dari Allah dan Nabi SAW. Lalu mencoba menyebarkan pemahaman tentang persaudaraan ini di muka bumi.

Dan alasan inilah para nabi dan sahabat mereka paling menderita dalam masalah ini. Lingkaran cahaya yang berkembang di sekitar Rasulullah SAW, menelan semua kezaliman dan semua kegelapan. Nabi Muhammad SAW telah mencapai posisi itu hingga 3/4 dunia mengatakan apa yang dia katakan dan bergabung dengannya, mereka membaiatnya dan tunduk padanya. Allah telah menganugerahi mereka hari-hari yang diberkati itu. Kami memohon darinya hal yang sama. Ini semua tergantung bagaimana kita berusaha untuk mendapatkannya.

Untuk tujuan ini, Rasulullah SAW telah mengirim muridnya yang mulia yaitu Mus’ab ke Madinah.  Mus’ab berasal dari salah satu anggota keluarga ternama di kota Mekah. Bahkan dia biasanya memakan makanannya sendiri dan tidak suka duduk di meja yang sama dengan orang lain. Allah telah memperkenalkan dia kepada Rasulullah SAW pada usia 17-18 tahun, yaitu di puncak hidupnya. Tiba-tiba, hatinya menjadi luluh. Mus’ab yang kasar, keras, dan yang tidak bersosial dengan orang lain tiba-tiba berubah menjadi seperti malaikat. Setelah dia mulai mengikuti majelis Rasulullah dia terus maju. Tidak ada lagi Mus’ab yang dilihat orang dari balik tirai. Tidak ada lagi wanita yang melambaikan serbet mereka, dan tidak ada lagi Mus’ab yang bangga dan bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Berbalut mentel kambing ia berdiri diam dan ia mendengar dengan khusyu pada Rasulullah yang sedang berbicara tentang alam semesta. Dia mendengarkan Rasulullah, yang merupakan burung Bulbul alam semesta.  Utusan Allah yang membelah bulan dengan mengangkat jarinya, dengan jari tersebut menunjuk ke arahnya dan berkata “lihat ini”! Saat Mus’ab berkeliling di jalan-jalan Mekah, jendela-jendela terbuka dan semua orang akan melihatnya. Dia bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Ketika dia berumur 18 tahun yang merupakan periode paling matang, dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan menerima Islam.

Mayoritas orang yang menempuh jalan kebenaran mempunyai usia yang hampir sama. Mus’ab pergi ke Madinah dan ia membimbing orang-orang menuju kepada kebenaran. Mereka tidak lama melihat keadaan Mus’ab yang seperti ini. Di Perang Uhud, dia melakukan tugas terakhirnya dan pergi ke hadapan Allah. Mungkin dia belum berusia 25 tahun, dia telah syahid dan menghadap Allah SWT. “Pedang berputar di kepalaku, pisau diasah dengan kebencian.” “Tetapi aku dengan satu pengawas berdakwah tentang Allah yang aku imani di Madinah.” “Saya mencoba untuk menceritakan tentang Allah, yang tanpa-Nya hati manusia menjadi hancur berkeping.” “Saya mencoba untuk menceritakan Allah yang dengannya kedamaian dan ketenangan dapat dicapai.

As’ad ibn Zurarah adalah salah satu dari mereka yang menanggung banyak penderitaan dan tidak sempat melihat kejayaan islam. Dia tidak sempat melihat perang badar ataupun Uhud. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, dia sudah lebih dulu hijrah kepada Allah SWT. Tapi dia telah melindungi Mus’ab, saat itu ia hampir menjulurkan kepalanya sebagai perisai ke arah pedang yang dihunus kepada Mus’ab, karena Mus’ab saat itu sedang menjelaskan tentang Allah dan Rasulullah. Madinah tiba-tiba tergoncang, di setiap jalan kota Madinah semua orang dari yang besar hingga anak kecil mengatakan Allah, dan mengatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jalan yang gelap itu, bahkan jika anda pergi hari ini akan terlihat terang benderang di malam hari. Mereka telah diterangi dengan cahaya Muhammad SAW. Bahkan jika tidak ada fajar atau bulan di malam hari, cakrawala kota Madinah berkilauan. Seolah-olah semua bintang dunia sedang melihat ke sana. Mereka mencari di sana, karena bintang dari semua bintang SAW ada di sana. Semua orang datang ke Mus’ab dengan kemarahan. Mereka yang menceritakan kebenaran, mereka yang melindungi kebenaran harus memperhatikan dengan cermat penjelasan ini. Mereka perlu menyadari tanggung jawab untuk berdakwah, dan menceritakan tentang Allah dalam kondisi apapun.

Usaid bin Hudhair, pemuda terhormat suku Esyhel, segera menghunus pedangnya di hadapan Mus’ab; “Aku tidak bisa membiarkanmu menyebarkan perpecahan di dalam kaumku, aku akan tusuk kamu dengan tombakku ini.” Pelindung menceritakan tentang perilaku Mus’ab pada kondisi itu: “Duduklah disampingku, dengarkan kata-kata yang akan kuucapkan! Jika anda tidak setuju dengan apa yang kukatakan, silakan lakukan apa yang anda inginkan. Tetapi jika saya benar, tidak ada maknanya untuk berdebat di sini dengan sia-sia.” Mus’ab telah mendudukkannya dengan manis di sampingnya. As’ad ibn Zurarah menyampaikan kepada kami: “Wallahi, ia memulai membaca: “Haa Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhan – 44). Saat Mus’ab terus membaca ayat-ayat tersebut, wajah Usayd bin Hudhair mulai berubah. Orang yang datang ke sana dengan sikap kasar, liar bak hewan tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Wajahnya dan sikapnya tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Di wajahnya sudah mulai terpancar cahaya Rasulullah. Setelah ia mendengarkan Al-Qur’an dan penjelasan Mus’ab, ia bertanya: “Apa yang kamu ingin aku katakan?” Allah menginginkan dari semua orang untuk mengucapkan kalimat ini:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ

Penawar hati yang hancur, obat hati bagi yang jauh dari pada keyakinan kepada Allah SWT. Begitu dia bangun, Usayd memutuskan untuk pergi menemui putra pamannya Sa’ad bin Mu’adz. “Demi Allah, jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang, -ia yang akan menjadi pahlawan dalam pertempuran Perang Khandaq, Uhud dan Badar,- jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang ia yang akan menyelesaikan permasalahan orang Anshar dan Esyhel.” Dan benar, Sa’ad bin Mu’adz juga datang dengan pedangnya. Dia juga mengancam Mus’ab, entah sudah berapa kali dia menghujamkan pedangnya ke kepala Mus’ab. Tetapi Mus’ab yang manis, Mus’ab yang terkasih, Mus’ab yang ahli di surga menjawabnya: “Duduk dan dengarkanlah terlebih dahulu, setelah itu silakan katakan apapun yang kamu mau!

Wahai semua yang menceritakan tentang hakikat kebenaran, dengarkanlah dengan baik! Mereka semua perlu menyadari pentingnya menjalankan dakwah dalam kondisi apapun. Saya sendiri juga akan mendengarkan. Duduklah, saudaraku! Saudaraku yang terluka! Saudaraku, yang hatinya telah terkoyak! Saudaraku yang tidak percaya pada Allah! Saudaraku yang gelisah! Duduk dan biarkan aku menjelaskannya. Jika kamu tidak menerimanya silakan setelah itu lakukan apapun yang kamu mau!” Mus’ab membacakan ayat-ayat dari Al-Qur’an kepadanya. Hatinya mulai luluh. Sa’ad bin Mu’adz, ia hampir saja mencium tangan dan kaki Mus’ab. Beberapa saat kemudian, cahaya Al-Qur’an dan iman juga mulai muncul di wajahnya. Dia juga berkata dengan sepenuh hati bahwa لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهTiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.”

Dalam seminggu Mus’ab berhasil meyakinkan suku Esyhel. Sebuah kelompok bernama Anshar telah muncul. Mereka menyambut Rasulullah pada tahun berikutnya dengan 70  orang di ‘Aqabah. 70 orang berjabat tangan dengan Rasulullah. Mereka menjanjikan kepadanya dalam perjuangan untuk hidup dan mati. Kami akan mati, tapi kami tidak akan mundur”. “Kami akan melindungi Anda dan tidak akan meninggalkan yang haq”. “Kami akan menjadi pelayan Al-quran dan agama islam, dan kami tidak akan menahan diri untuk memenuhi janji ini” kata mereka. Dan benar, mereka memenuhi janji mereka. Kami juga mengatakan “ya” dalam “Qalu bala” (langkah awal dalam penciptaan manusia). Kami juga telah mengatakan dari bagian terkecil dari tubuh kami dan jiwa kami. Kami membenarkan perkataan kami dengan datang ke masjid. Semoga Allah menganugerahkan juga kepada kita untuk berada di jalan yang sama, memenuhi janji yang sama hingga nafas terakhir. Dan menganugerahi hati kita dengan antusiasme dan cinta untuk berdakwah, menceritakan tentang Allah SWT dalam suasana kebebasan yang luas ini. Semoga Allah SWT memberkati semua orang untuk menceritakan dan menjelaskan hakikat kebenaran ini di manapun ia berada dan sesuai dengan kemampuan dan sarana yang mereka miliki.

photo-1615716450567-de83e9246aab

Tauhid 5 – Iman Butuh Pengorbanan

Kita berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran (al-haq) yang kita dengar. Kita juga bertanggung jawab untuk menyampaikan apa yang kita petik dari pengalaman hidup kita (ibrah untuk orang lain). Merupakan kewajiban bagi kita menyampaikan manfaat hidayah yang kita dapat ke orang lain. Ini lah tugas kemanusian, ini lah tugasnya seorang muslim. Setiap orang bertanggung jawab dan wajib menyampaikan hal-hal yang didengarnya atas nama kebenaran dan realitas, atas nama Al-Quran, juga atas nama islam kepada hati siapa saja yang membutuhkannya. Itu adalah misi untuk menyampaikannya kepada orang lain yang telah dibebankan kepada anda oleh Allah SWT. Misi ini juga merupakan makna dan pancaran dari misi profetik, yang telah dipercayakan kepada mereka yang telah menjadi yang terbesar, paling terhormat dan paling dermawan dari semua manusia. Semoga Allah SWT memungkinkan kita untuk meraihnya dengan sukses.

Jika sesuatu yang kita dengarkan, hal-hal yang kita pelajari tidak bisa bermanfaat bagi orang lain, jika perilaku kita tidak membawa kita pada hasil, jika tidak ada rencana untuk mencapai hasil dalam perbuatan kita maka kita melakukan hal yang sia-sia. Itu berarti kita telah membuang-buang waktu dan menghabiskan waktu kita dengan sia-sia. Mempelajari sesuatu memiliki arti dan tujuan. Mendengarkan sesuatu memiliki arti dan juga tujuan. Jika memperhatikan adalah arti mendengarkan, kemudian melakukan sesuatu yang muncul sebagai hasil dari mendengarkan ini adalah ekspresi (hasil) dari tujuan ini. Makna memahami sesuatu bukanlah dengan tujuan tidak melakukan apa pun. Memahami sesuatu hal adalah mampu mengaplikasikan apa yang kita pahami, mencapai sesuatu yang lain dari apa yang kita pahami dan mampu menarik kesimpulan lain. Mengapa kita menyebut Allah SWT? Mengapa kita menyebut Nabi Saw? Mengapa kita menyebut Al-Quran? Mengapa kita membuktikan bahwa dunia diciptakan dan menunjukkan Kebesaran Allah?  Mengapa kita mengambil kepemilikan dari asbab dan memberikannya kepada Allah atau mencoba melihatnya dan mencoba untuk mematahkan lain yang bertentangan dengannya? Tujuan kita adalah untuk membuat pengetahuan tentang Allah berakar di dalam diri kita. Kita memiliki tujuan dalam semua ini untuk membawa hati mereka yang membutuhkan cahaya itu. Semoga Allah memberikan kita tujuan ini!

Jika kita mendengarkan dan memahami tujuan ini, Allah SWT akan memberikan dan membuat kita mencapai hasilnya. Ini adalah hukum-Nya dan kita berharap dan memohon belas kasihannya agar ia melimpahkannya kepada kita. Rasulullah Saw telah berubah menjadi bara setelah dia memahami Wajibul wujud dan Quddus. Ia telah menyempurnakan pembelajarannya dari alam semesta dan memahami kandungannya ini melalui Alquran dan akhirnya ia tidak bisa berdiam diri. Kemanapun ia menghadap, “Allah” lah yang ia katakan. Dia berdakwah dalam penderitaan dan cobaan tanpa henti.

Setiap individu yang mengambil pelajaran kebenaran dari Rasulullah akan menjadi sekeping api. Tanah gelap dan waktu diterangi bersama mereka, mencapai cahaya. Hati yang gelap tercerahkan bersama mereka, kuburan yang diduga gelap juga akan diterangi mereka. Orang-orang mulai menjalani kehidupan seperti surga di sini dan di akhirat. Ribuan penderitaan dan cobaan sedang dipertahankan. Namun, orang-orang yang beriman semuanya akan bahagia. Mereka percaya bahwa mereka akan hadir di hadapan Allah dan mereka akan bahagia dengan kebahagiaan surga. Selama Allah ada, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ribuan penderita, ribuan orang yang menanggung musibah pada zaman Rasulullah, mereka tetap mengatakan “Allah” dan “Rasululullah.” Mereka memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Kita melihat keluarga Yasir yang merupakan salah satu dari golongan yang pertama kali beriman. Mereka telah mencapai cahaya islam dan kemudian beberapa rintangan muncul di hadapan mereka. Ketika ada orang tersesat, tidak ada yang mengatakan kepada mereka mengapa memilih jalan itu. Tidak ada yang mengatakan mengapa kamu berjalan di jalan yang berkelok ini? Tapi begitu ia mulai istiqamah dalam hidupnya, maka ribuan rintangan, ribuan halangan akan muncul di hadapannya.

Keluarga Yasir datang ke Madinah dari tempat yang jauh, tanpa pelindung dan terlantar di Madinah. Mereka bekerja untuk seseorang dan berusaha mencari nafkah. Dia mengambil seorang wanita dari tuannya. Sumayyah adalah seorang wanita Islam yang terhormat. Dia adalah wanita Syahid Islam pertama dan dia telah melahirkan seorang anak yang terhormat. Ammar yang menjadi syahid di depan Sayidina Ali. Ammar Agung, Amar bin Yasir.

Keluarga yang kuat, yang telah mengambil hikmah kebenaran dari Rasulullah, mulai berputar di sekitar cahaya islam. Mereka telah memutuskan untuk tetap bertahan dalam keimanannya walapun bila ada musibah atau api yang akan membakar mereka. Namun, manusia memiliki batas ketahanan, sampai pada titik dimana dia tidak bisa lagi menanggungnya. Ketika penyiksaan terhadap mereka mencapai tingkat tertentu yang tidak dapat mereka tahan, Rasulullah saat itu lewat disana: Tangan kaki dan kepala Yasir dicelupkan kedalam air yang mendidih, Yasir diseret dengan tali yang diikatkan di kakinya. Mereka melakukan hal yang sama kepada wanita itu tanpa malu. Mereka menyiksanya dengan penyiksaan yang sama. Mereka melakukan hal yang sama kepada anak muda Ammar. Ketika penyiksaan mencapai tingkat yang ekstrem, ketika Rasulullah lewat, Yasir tidak tahan dan berkata: “Wahai Rasulullah”. Dia sedang menunggu bantuan. Mungkin, dia mengharapkan Rasulullah untuk mengangkat tangannya berdoa untuk mereka, meminta sesuatu dari Allah, semoga yang menyiksa ini dikutuk oleh Allah dengan bala-Nya. Rasulullah menjawab: “Sabar, wahai keluarga Yasir” Tapi sabar ada batasnya, Bisakah mereka bertahan lebih dari itu? Ya, mereka tetap bertahan dengan keimanannya, siksaan seperti dalam neraka, dalam penderitaan, dia melihat mereka dengan senyum pahit, mereka memutuskan untuk bertahan.

Beberapa hari kemudian Yasir dibunuh di depan mata istrinya. Iya dibunuh dengan berbagai bentuk penyiksaan yang di luar akal. Istrinya tidak hancur, seorang wanita pemberani yang mendapatkan keyakinan sejati dari beberapa ayat yang telah turun, dengan beberapa ayat yang telah ia dapati dan berbalik kepada Allah dan tidak menghianati keyakinannya ia memutuskan untuk bertahan dengan keimanannya. Saat kepala dimasukkan ke dalam air panas rambutnya rontok dan kepala botak yang muncul. Tapi perhatikanlah, bahwa wanita hebat itu lagi-lagi berkata: “Tiada Tuhan selain Allah Muhammad adalah Rasulullah”. Hal-hal yang menusuk tubuhnya membuatnya berbicara, dan dia terus-menerus mengatakan “Allah”. Dari beberapa riwayat yang dijelaskan tentang penyebab kematiannya, dari seluruh riwayat dikatakan penyiksaannya semuanya sungguh mengerikan. Penyiksaan berupa mengikatnya pada hewan, merenggangkan kakinya. Mereka mengatakan bahwa mereka membunuhnya seperti ini. Dikatakan juga bahwa Abu Jahal menancapkan tombak di dadanya yang mulia. Ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal karena setelah kepalanya dicelupkan ke dalam air mendidih dan daging wajahnya terkelupas. Terlepas dari penyebab kematiannya, kami melihatnya saat dia berkata: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Nya” dengan sepenuh hati.” “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Ankabut 69). Allah beserta orang-orang yang berbuat baik, yaitu mereka yang beribadah seakan-akan melihat-Nya dan tidak akan berpaling dari-Nya.

Mereka melakukan penyiksaan yang sama kepada anaknya. Besi panas ditempel di dadanya, tetapi dia berdiri kokoh bagaikan gunung. Entah bagaimana dia bisa berdiri di hadapan Rasulullah dengan perasaan penyesalan yang serius karena pepatah bahwa dia mundur padanya dengan setengah hati. Dengan menangis ia berkata: “Aku hancur ya Rasulallah.” Itu adalah jamaah yang terhubung ke Allah dan Rasulullah sedemikian rupa. Itu adalah jamaah yang telah menghadapi segala macam cobaan dan bahaya untuk menjalani apa yang mereka yakini, untuk mendorong orang lain untuk menghidupinya dan untuk berdakwah ke orang lain. Jika jamaah yang berbaris bershaf seperti di belakang sahabat melawan kesesatan, kekufuran, dan hujatan di abad ke-20, mendengar hal yang sama, menjalani hal yang sama, dan menunjukkan kesabaran dengan cara yang sama dengan pertolongan dan anugrah Allah. Jamaah itu, sekaligus mereka juga akan melihat mentari yang telah terbit untuk para sahabat. Musim seminya akan lebih cerah dari pada hari-hari surga, alam kuburnya akan lebih cerah dari pada dunia. Pasti akan menemukan inayah dan kelembutan Allah dengan sendirinya. Allah memberitahu kita dengan bersumpah: “Mereka yang melakukan jihad di jalanku, Saya meminta mereka berjalan dalam jalan yang beragam, membimbing mereka dalam berbagai cara, dan sebagai hasilnya Aku membuat mereka mencapai rahmat dan bimbinganKu. Jangan lupa bahwa Allah bersama orang-orang yang ihsan.” Allah bersama mereka yang mengembangkan iman yang mereka miliki, terus beramal dengan cara yang kondusif bagi keyakinan yang maju dan tidak meninggalkan jalan-Nya.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa menjaga kita dalam suasana ilahi dan membuat kita berhasil. Semoga Allah SWT menganugerahkan kita cinta dalam berdakwah apa yang kita dengar kepada orang lain. Semoga Dia melindungi kita dari bencana yang tidak dapat hikmah setelah kita meninggalkan masjid.

Menjelaskan kepada orang yang lain hal yang telah kita pelajari adalah syiarnya orang mukmin, syiarnya orang muslim. Bermalas-malasan ini adalah sifatnya orang-orang kafir.

Semoga Allah melindungi kita dari sifat-sifat orang kafir, dan melengkapi kita dengan ciri-ciri orang beriman.

photo-1499209974431-9dddcece7f88

Tauhid 4 – Hadiah Terbaik

Setiap orang memiliki hubungan dengan orang lain mulai dari yang paling dekat hingga yang paling jauh. Dalam kaitan ini, ia memiliki respon sesuai dengan tawajjuh yang diberikan karena itu hubungannya beragam. Karena hubungannya beragam, respon terhadap tawajjuh ini pun juga beragam. Hubungan orang tua kepada anak-anaknya sangat kokoh, kuat dan merupakan fitrah. Jadi tawajjuh mereka sesuai dengan itu dan tingkat pengorbanan mereka untuk anak-anak mereka pun sesuai dengan itu (tinggi). Bahkan hubungan seorang anak kepada ibu dan ayahnya, bisa saja berubah. Seorang anak tidak memberikan perhatian pada pamannya seperti halnya ia memberikan perhatian kepada ayahnya. Ia tidak menunjukkan hubungan dan perhatian yang sama kepada istri pamannnya seperti halnya terhadap pamannya. Perhatian dan respon yang ditampilkan semuanya berbanding lurus.

Kita memahami bahwa saat kita bergerak dari lingkaran jauh hingga mendekati ke dalam, hubungan meningkat, begitu juga tawajjuh. Dan ini membutuhkan respon terhadap peningkatan perhatian pada tingkat itu. Dengan kata lain kita selalu diwajibkan menunjukkan perhatian dan rasa hormat kepada orang di sekitar kita. Kita pun harus membalas kembali perhatian dan rasa hormat yang diberikan kepada kita. Karena tanggapan ini mungkin didasarkan pada langkah-langkah kita, penilaian kita atas peristiwa di dunia -pada saat yang sama- itu didasarkan pada kriteria Ilahi yang berada di atas ukuran, penghargaan, dan nilai-nilai kita. Sikap saling santun yang ditampilkan di antara umat islam sesuai dengan perintah Allah, meskipun hukum yang melekat memainkan peran yang menarik di sini. Kita melakukan sikap tawajjuh sesuai dengan perintah kehendak Allah. Dalam agama Islam disebut “mencintai karena Allah” dan kita juga menghentikannya dalam batas yang ditunjukkan oleh Allah dan kita menyebutnya “membenci karena Allah”. Kita mencintai karena Allah, kita bermuamalah dan bertukar hadiah satu sama lain karena Allah, dan karena Allah juga kita memutuskan hubungan. Jadi kita harus menaggapi orang-orang sesuai dengan kedekatan mereka dengan kita, sesuai dengan tawajjuh mereka.

Sebagai seorang muslim, untuk mengevaluasi dan mengatasi ini dalam timbangan Allah akan menjadi bentuk respon paling bijaksana dan paling tepat untuk mendapatkan ridha Allah. Hadiah yang akan anda berikan satu sama lain, hubungan kedekatan yang akan anda bangun antara satu sama lain, harus menemukan nilai dalam kriteria yang ditetapkan oleh Allah dan harus disajikan dengan nilai-nilai seperti itu. Semoga Allah membawa kita ke pemahaman seperti ini. Di satu sisi, saya ingin menyampaikan dengan poin-poin ini, yang merupakan dasar dari ide tersebut. Kita pada dasarnya wajib memberikan sikap saling santun seperti itu kepada orang-orang di sekitar kita dari yang paling dekat hingga paling jauh. Anda akan menanggapi orang yang anda cintai -kalau boleh diungkapkan dengan bertukar hadiah- berilah hadiah terbesar yang membuat Allah juga senang, berilah hadiah yang dapat membuat anda dan orang yang anda cintai menjadi hubungan yang abadi serta tercatat di akhirat nanti.

Hadiah terbesar adalah perbuatan yang anda lakukan hanya karena Allah. Dan yang terpenting adalah menjelaskan Allah yang Maha Kuasa dalam konteks pemahaman, filosofi dan kriteria zaman ini. Dengan begitu anda memberikan hadiah tentang ma’rifatullah kepada orang lain.

Hadiah terbesar seorang istri kepada suaminya adalah memberikan hadiah ini kepadanya. Ini juga akan menjadi hadiah terbesar yang akan suami berikan kepada istrinya. Ini juga akan menjadi hadiah seorang anak kepada ayahnya dan juga hadiah seorang ayah kepada anaknya. Hubungan yang anda bangun dengan orang-orang di sekitar anda, bertukar pikiran dalam hal pengetahuan tentang Allah SWT, menjelaskan pemahaman tentang Allah. Ini akan memberi anda keabadian.

Nabi Muhammad Saw yang telah memahami kebijaksanaan ini dengan mendalam, ia diperintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (An Nahl; 125). Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya SAW untuk mengajak orang-orang ke jalan-Nya dengan menghindari ribuan jalan yang bathil, dalam konteks pemahaman era tertentu dan tingkat ilmu. Ada yang berbondong-bondong ke dakwah ini. Tetapi ketika orang meninggalkan rumahnya, ada di antaranya yang meninggalkan ibu mereka di sana, beberapa meninggalkan suami mereka, beberapa meninggalkan anak-anak mereka, dan beberapanya meninggalkan istri mereka. Mereka meninggalkan orang-orang terdekat dengan mereka untuk mengikuti cahaya ilahi yang abadi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Kita perhatikan Abu Huraira ra. orang hebat yang disebut “Bapak Kucing” oleh Rasulullah SAW atau “Kucing Kabilah Daws” oleh para sahabat. Orang yang luar biasa ini hampir mendengar setengah dari seluruh hadits-hadits Nabi SAW. Ia juga mentransfer unsur-unsur dasar agama kepada kita. Orang Shuffah miskin ini tidak memiliki pakaian untuk menutupi punggungnya, tidak meninggalkan Rasulullah bahkan untuk sesaat. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya dan membawanya pulang dari waktu ke waktu. Dia telah menemukan cahaya yang dia cari sebagai kupu-kupu dan berputar di sekelilingnya, tetapi dia memiliki seorang ibu di rumah yang terlepas dari semua desakannya, belum menerima hakikat kebenaran dan melempar dirinya ke dalam api. Dia telah memohon, banyak menangis, agar ia menerima hadiah karunia Ilahi ini, sebagai bentuk perhatian yang paling indah, tetapi ibunya belum menerimanya. Suatu hari dia berkata; “Saya datang kepada Rasulullah, dengan mata menangis. ‘Wahai Rasulullah’ sapa saya. ‘Bisakah anda berdoa untuk ibunya Abu Hurairah agar Allah membimbingnya pada kebenaran!’ Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunya Abu Hurairah! Rasanya senang sekali, saya pun pulang ke rumah dengan hati yang lega. Saya berlari hingga ke depan pintu, ketika itu pintunya tertutup. Ketika saya menyentuhnya ada suara yang mengatakan: “Diam di tempat!” Ketika saya mendengarkan dengan hati-hati, saya mendengar percikan air dari belakang pintu, saya mengerti bahwa dia sedang mandi wajib. Saya masuk setelah ia mengenakan pakaiannya kemudian ia duduk tepat di hadapan saya. Kemudian ia bertanya “Katakan nak, apa yang kamu inginkan?” “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku juga bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Secara jujur dan spontan ia mengatakannya. Saya bangun dan pergi ke Rasulullah sambil menangis kegirangan, menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam dan saya meminta permintaan; “Ya Rasulallah, Allah mengabulkan doamu, doakan supaya Allah membuatku dan ibuku dicintai orang-orang.” Kemudian Abu Hurairah mengatakan; “Setelah ini, siapapun yang mendengar namaku, maka ia akan memberikan kasih sayang kepadaku.” Oleh karena itu barang siapa yang tidak memiliki perasaan kasih sayang kepada Abu Hurairah, berarti ia memiliki hubungan yang lemah dengan Rasulullah.

Ketika Mekkah ditaklukkan – seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya – semua es mencair, gunung-gunung yang akan menambahkan tanah ke tanah melebur menjadi tanah, dan dunia berubah ke dunia yang lain. Mereka yang kejam lagi liar, ladang-ladang berduri itu berubah menjadi padang rumput, burung bulbul mulai bernyanyi. Kemudian, seperti dijelaskan Al-Qur’an: “Dan engkau akan melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (Qs: An Nasr:2). Dan Islam mulai berkembang dan mendapatkan kekuatan secara besar-besaran.

Saat itu ada yang menutup mata, telinga, dan hati mereka menuju cahaya Islam dan Al Quran. Beberapa dari mereka melarikan diri dan mencari perlindungan di Ka’bah. Beberapa seperti Wahsyi pergi dan kemudian datang dan meminta perlindungan (masuk islam). Itu akan menjadi penghinaan bagi sahabat besar seperti Ikrimah -putra kafir besar Abu Jahl- untuk mengatakan namanya sebegai referensi kepada ayahnya setelah ia menjadi seorang muslim. Sampai penaklukan Mekkah, dia adalah musuh utama Rasulullah SAW dan memiliki keinginan untuk membunuhnya. Dia lari dari Mekah setelah penaklukan Mekah. Tetapi istrinya, Ummu Hakim, wanita pintar, memintakan permohonan maaf kepada Rasulullah SAW, yang merupakan pusat pengampunan. Dia berucap: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya

Ketika dia melihat bahwa Rasulullah menerima permintaannya, dia merasa sangat lega dan bertanya-tanya apakah beliau akan memaafkan Ikrimah juga. Dia bertanya: “Wahai Rasulullah, Ikrimah telah melarikan diri. Apakah anda akan menerimanya juga jika dia kembali?” Rasulullah tidak menolak siapapun yang datang ke pintunya, Rasulullah juga akan menerima Ikrimah. Mereka memberikan isyarat mempersilakan. Ummu Hakim sudah memutuskanuntuk pergi hingga ke Yaman. Dia menyebrangi gurun besar itu, berpergian bersama orang-orang yang berbahaya. Kesejahteraan dan kesuciannya juga berkali lipat dalam keadaan bahaya. Namun, dia akan memberikan hadiah kepada suaminya, hadiah kebahagian abadi, karunia Ilahi, Makrifah Ilahi. Dia akan membuatnya mendengar apa yang telah ia dengar, memberinya ilmu apa yang telah ia dapat. Tanpa memberikan ini, hatinya tidak akan merasa tenang. Karena itu dia menanggung banyak penderitaan dan menyampaikan permintaan dari Rasulullah. Sampailah ia ke hadapan suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk naik perahu dan melarikan diri ke tempat yang lain, Ikrimah berkata: “Apakah dia benar-benar menerimaku?” Istrinya menjawab: “Ya, dia menerima. Dia memaafkanmu dan dia sedang menunggumu (masuk Islam).” Dia mengikuti jalan panjang itu dengan suaminya dalam sukacita besar. Ikrimah, komandan agung yang datang ke hadapan Rasulullah, tidak bisa melihat wajah Rasulullah. Bahkan pada hari penaklukan, dia menggunakan pedangnya, dan bahkan pada hari penaklukan, dia telah membantai beberapa sahabat. Tetapi dia ada di hadapan orang yang pemaaf, di hadapan Allah yang berbelas kasih. Dia ada di hadapan Rasulullah. Meskipun dia tidak bisa melihat wajahnya, dia ditutupi dengan rahmat di sekitarnya. Rasulullah memandangnya dari kepala ke kaki. Seolah-olah dia sedang membersihkan dan menghilangkan semua hal yang disebabkan oleh hal yang nista. Ikrimah, yang kemudian mengangkat kepalanya bertanya: “Wahai Rasulullah, wanita ini telah mengatakan sesuatu. Apakah itu benar bahwa Anda memaafkan saya?”Ya, saya memaafkanmu.” “Baik, terus apa yang anda inginkan dariku?” “Aku menginginkan apa yang Allah inginkan darimu.” Kemudian Ikrimah: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya.” Ikrimah mengatakan itu dengan sepenuh hati. Sekarang Ikrimah adalah Ikrimah yang lain. “Tolong biarkan aku menghabiskan hartaku dan semua yang kumiliki di jalan dakwahmu, wahai Rasulullah!” katanya. Dia meminta Rasulullah untuk berdoa kepada Allah agar dia menjadi syahid sebagai penebusan atas semua perbuatan jahatnya. Ketika Rasulullah wafat, ia berlari kesana kemari mencari mati syahid. Dalam pertempuran Yamamah, dia bertarung dengan sengit. Banyak sahabat dicincang seperti daging di atas telenan kayu, tetapi Ikrimah kesal dalam perjalanan kembali ke Madinah karena dia tidak menemukan kesyahidan yang dia cari. Setelah wafatnya Rasulullah, betapa banyak tempat yang ia pergi, betapa banyak ia bertempur, tetapi apa yang ia cari tidaklah ia dapatkan. Ketika pertempuran Yarmuk pecah, dia berdiri kokoh tanpa mundur selangkah pun di bawah bendera Rasulullah SAW. Para sahabat menggambarkan adegan itu kepada kami. Pada saat-saat nafas terakhirnya dia berteriak memanggil: “Wahai yang menjabat tangan Rasulullah di Hudaybiyyah, yang berperang Badar di barisan depan, yang bersama dengannya di perang Uhud, kemarilah kalian di bawah bendera Rasulullah, biarlah kita mati tercincang tetapi jangan sampai bendera ini terjatuh ke tanah.”  Ya, dia tercincang. Bendera itu jatuh tetapi jatuh ke atas jenazah Ikrimah. Ia bagaikan dalam bentuk daging cincang di atas telenan kayu. Tetapi itu adalah tumpukan daging yang pada waktu itu, mungkin dia terbang ke hadapan Rasulullah dengan sayap hijau. Dia begitu keras kepala sampai pada saat penaklukan Mekah tetapi cahaya telah melelehkan semua yang ada di dalam dirinya dan dia menjadi pengembara ke arah cahaya.

Bayangkan betapa kita sangat membutuhkan pelajaran Al Quran yang sangat bijak, di abad ke 20, ketika gunung-gunung muncul kembali dan lautan menjadi dingin. Dengan hatimu, putar tanganmu menghadap Allah dan memungkinkan dirimu dan kami menyatakan bahwa kita mencari perlindungan kepada-Nya. Semoga Allah melelehkan es kita dan memberi kita antusiasme yang sama. Di bawah nama Rasulullah yang mulia, marilah kita mati di bawah bendera yang berkibar untuk Allah SWT, jangan sampai bendera itu terjatuh. Mari kita kibarkan bendera itu di cakrawala kita. Mari kita berusaha mati dengan mulia. Semoga Allah membantu kita.

photo-1457269449834-928af64c684d

Tauhid 3 – Ajaklah dengan Hikmah

Allah Swt menunjukkan diri-Nya kepada alam semesta dengan menciptakan manusia untuk mengamati kenikmatan seni-Nya, membuat mereka bertepuk tangan, dan memberi makna pada pengamatan mereka. Dia menciptakan manusia agar mereka dapat mengetahui alam semesta Di alam semesta mereka dapat mengerti arti ma’rifatullah sehingga dapat beribadah kepada-Nya. Karena mata manusia tidak mampu melihat dengan cermat anugerah melimpah di alam semesta, mereka tidak dapat memahami banyak kebenaran yang telah Dia perlihatkan kepada mereka. Dan menyatakan diri-Nya kepada mereka di alam semesta dengan nama Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Dia maha peyayang bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al-Ahzab; 43).

Dia mengutus Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya ke bumi ini untuk mengajari manusia dan untuk menjelaskan arti alam semesta bagi mereka. Para nabi menjelaskan kepada manusia makna alam, makna manusia dan berusaha menunjukkan kepada manusia jalan menuju kepada Allah SWT.  Jika seseorang tidak memasuki jalan menuju Allah seperti yang ditunjukkan, dijelaskan dan diarahkan oleh para nabi. Berarti dia telah menyimpang dari jalan dan masuk ke dalam hal yang bertentangan dengan ciptaan dan fitrahnya. Orang itu akan dikatakan sesat. Jika seseorang memasuki jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan, diarahkan, dan menuju jalan hidayah melalui wasilah nabi, maka dia telah memasuki jalan yang diridhai Allah SWT dan merupakan jalan tujuan diciptakannya alam semesta. Seperti bahasa Al Quran, seperti juga dalam kitab-kitab yang lain, Allah SWT memerintahkan para nabi, memerintahkan nabi-Nya, untuk menjadi penunjuk dan penuntun bagi jalan-Nya. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran (nasihat) yang baik” (Qs. An Nahl; 125).

Ajaklah orang-orang ke jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan untuk memahami tujuan Allah menciptakan alam semesta, untuk memahami keagungan Allah, untuk bersimpuh di hadapan kebesaran ini, bersujud, dan mengakui peghambaan kepada-Nya. “Ajaklah orang-orang ke jalan ini”. Begitulah Ia memerintahkan nabi-Nya. “Ajaklah dengan hikmah” (penuh kebijaksanaan). Firman-Nya, “Ajaklah mereka dengan menjelaskan kepada mereka tujuan penciptaan mereka, dengan menjelaskan makna alam semesta, dengan menunjukkan kebijaksanaan-Ku di alam semesta, dengan menunjukkan manfaat maslahat pada objek benda, dengan menguraikan isi suatu objek hingga ke bagian terkecilnya, dengan menceritakan makna pergerakannya, kelebihan-kelebihan dan kapasitasnya, panggil mereka ke jalan-Ku dengan menanamkan makna semua ini sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka!” Perintah Allah. Rasulullah saw, telah menyampaikan Hakikat kepada orang-orang yang berada pada zamannya dengan tingkat pemahaman mereka. Faktanya adalah bahwa beliau telah melakukan tugasnya dengan cara yang menyenangkan semua hati. Hati kami juga senang. Semoga Allah memberinya tempat terpuji, menganugerahkan beliau lingkaran cahaya syafaat, dan membuat kita mencapai syafaatnya.

Rasulullah SAW menyampaikan al-Quran dengan cara yang diperintahkan al-Quran, dalam waktu singkat menjadi wasilah pembentukan lingkaran yang terbuat dari cahaya di sekitarnya. Lingkaran cahaya ini terus mengembang tiap harinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Naabi (penyair Turki terkemuka 1642-1712), “Dia bukan bulan yang telah mengumpulkan lingkaran cahaya di sekelilingnya dan duduk di dalamnya. Ia adalah bintang.” Nabi Muhammad saw adalah seorang pengkhutbah yang menjelaskan kebenaran kepada orang-orang. Beliau menjelaskannya dengan ungkapan, “Para sahabatku bagaikan bintang-gemintang.” Sebagaimana juga beliau menjelaskan hakikat kebenaran kepada bintang-bintang. Bintang-bintang ini seperti kilau di sekitar bulan, telah menunjukkan kompetensi berkembang di sekelilingnya setiap hari. Banyak potongan es mencair, banyak batuan padat melebur menjadi tanah, dan padang rumput mulai berfungsi menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga.

Anak dari Abu Jahal (Ikrimah), hatinya penuh dengan permusuhan dan kebencian. Dulunya adalah batuan padat. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, dari mulut beliau yang menuangkan kebijaksanaan dan kebenaran. Ketika beliau membuka mulut, hati Ikrimah yang keras pun luluh dan berubah menjadi padang rumput dan menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga. Salah satu dari mereka yang menentang Rasulullah, yang menutupi telinga dan hatinya dari hikmah, adalah Khalid ibn Al Walid yang tumbuh dalam ras itu dan seorang politikus besar lainnya Amr ibn Al Ash.

Setelah Hudaibiyah, Khalid ibn Al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash juga luluh hatinya. Sebenarnya sudah lama petir melintas di kedua pikiran mereka, tetapi karena keras kepala mereka bertahan, tetap menentang Rasulullah. Amr ibn Al ‘Ash telah pergi ke Abyssinia bertahun-tahun yang lalu. Dia telah melihat Amr bin Umayyah ra di sana. Dia meminta izin dari Negus untuk memenggal sahabat Rasulullah. Dan kemudian dinukilkan kepada kita: “Perkenankan saya wahai raja yang mulia untuk memukul kepala ummat shabiin ini. Biarkan aku memenggal Amr bin Umayyah!” Saat dia mengangkat tangannya dan hendak memukul hidungnya dengan keras, dalam kebingungan dan kemarahan itu, jantungku mau loncat karena kaget, takut aku pikir dia akan memenggal aku. Lalu dia berkata; “Bagaimana bisa! Seorang nabi yang menceritakan apa yang dikatakan Nabi Musa, seorang nabi yang adalah pertanda kabar gembira dari Isa, seorang nabi penguasa alam semesta, seorang nabi yang aku imani ini, bagaimana mungkin aku serahkan kepadamu?” “Tuanku yang mulia, apakah anda percaya padanya?” “Aku percaya padanya” katanya. Bahkan Amr ibn Al ‘Ash berkata; “Aku mengulurkan tanganku di sana, memberi penghormatan kepada penguasa.” Setelah itu, menyalalah di benaknya kebenaran cahaya di sana.

Adapun Khalid ibn Al Walid menceritakan situasinya di Hudaibiyah: Ketika utusan Allah membuat kesepakatan di sana, saya memutuskan untuk menyerang dari belakang dengan pasukan berkuda saya. Mereka berdiri untuk shalat, mereka melaksanakan shalat khauf. Sebagian tentara berdiri di hadapan kami dan sebagian lagi shalat bersama jamaah lainnya di belakang. Kemudian mereka bertukar. Saya tidak diberikan kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bingung tentang apa yang harus dilakukan ketika muslim dan musyrik mencapai kesepakatan.  Sampai hari itu, selama 5-6 tahun saya selalu menarik tirai ke matahari, kututup mataku, tutup telingaku pura-pura tidak mengenalnya. Rasa kantuk seketika hilang, saya merasa tidak nyaman dengan berpikir kemana harus pindah, ke Abyssinia atau Damaskus. Suatu hari, Walid ibn Al Walid, yang adalah saudara saya, lebih duluan pergi dari pada saya mencapai kebahagiaan cahaya. Dia pergi sebelum saya dan masuk ke dalam lingkaran cahaya Rasulullah. Dia menulis surat untuk saya. Dalam surat itu, saudara saya berkata: “Ketika Rasulullah telah melakukan umrah pada tahun berikutnya yang tidak bisa dia lakukan di Hudaybiyah, Dia mengatakan kepadaku “Kenapa orang seperti Khalid yang cerdas berakal masih musyrik? Bukankah seharusnya orang seperti Khalid masuk ke dalam lingkaran cahaya ini? Bukankah seharusnya dia berada di pasukan ini? Bukankah seharusnya dia termasuk di antara para utusannya? Dia menulis dalam suratnya. Ketika saya mendengar ini, saya merasa seperti dunia diberikan kepada saya. Saya telah diliputi oleh kegelisahan, saya lelah pergi ke kedai minum setiap hari, saya lelah melakukan hal-hal kekufuran, saya lelah tanpa sujud, tidak mengingat Allah, hati nurani saya membuat saya malu. Saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Saya memutuskan untuk pergi, tetapi bagaimana saya bisa pergi sendiri? Saya pikir saya akan pergi, namun saya akan membawa orang lain. Saya pergi ke Safwan bin Umayyah yang cerdas. Dia telah banyak menentang. “Demi Allah, walaupun aku akan tinggal sendirian aku tidak akan percaya padanya” katanya. Dan saya katakan kepadanya: “Dunia sedang berantakan, pelan-pelan semua orang akan mengikutinya.”

Seolah-olah dia telah melihat hari ini. Seolah-olah dia telah melihat bahwa dua pertiga dari dunia akan berada di bawah kedaulatannya SAW. Es akan mencair, bebatuan akan berubah menjadi tanah lunak. “Semua orang akan tunduk kepadanya, ayuk kita pergi”. Khalid bin Walid kemudian mendatangi Ikrimah dan mencoba meyakinkannya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa selain kata-kata Safwan. Akhirnya, beliau pergi ke Talhah bin Utsman, dan menawarkan ajakan, dia menerima untuk ikut Bersama Khalid bin Walid. “Kami pergi dalam gelap di malam hari tanpa terlihat. Saya khawatir apa yang akan terjadi jika mereka berada di hadapan kami, jika kami tidak bisa mencapai kapal (hidayah), atau jika mereka menghalangi kita untuk menjangkaunya, bagaimana jika kematian menangkap kita sebelum kita mencapainya. Pada malam hari kami meluncur di kegelapan, kami mendirikan tenda di lembah yang gelap, kami mulai beristirahat.

Utusan Allah juga pernah melewati lembah-lembah gelap di malam yang begitu gelap. Beberapa tahun kemudian, Khalid al Walid bersama Thalhah mengikutinya dalam kondisi pikiran yang sama, di udara yang sama, melewati lembah yang sunyi. Saat mereka bisa berhenti dan istirahat di sana. Malam itu dalam kekhawatiran yang sama Amr bin Al ‘Ash juga berangkat, “Aku muak dengan kekufuran ini, aku jenuh dengan kondisi tanpa shalat ini, aku bosan dengan keadaan hatiku ini yang tiada Allah di dalamnya. Aku mau pergi untuk merasakan ketenangan di kota Madinah. Aku akan bergabung mengikutinya (Rasulullah).”

Semua orang bergabung dengannya dan menemukan kebahagiaan. Dia juga muncul dari lembah gelap lain dalam sensasi dan emosi yang sama. Amr ibn Al ‘Ash berkata: “Ketika aku melihat bayangan di depan dalam kegelapan, aku berkata ‘Duh, aku tertangkap!’ Perlahan aku mendekati tenda, untuk memeriksa siapa yang ada di dalamnya. Aku berhadapan dengan Khalid ibn Al Walid. Kami telah berhadapan dengan Rasulullah di Badr. Kami berperang melawannya. Dulu kami menentang orang Muslim di Badr. Di Uhud, bersama-sama kami telah menyerang Rasulullah dari belakang. Di Khandaq kami juga bersama. Di Hudaibiyah kami juga dalam permainan yang sama, kami bermain bersama (perang).” Kami terkejut ketika kami bertemu. “Pergi kemana kamu, Khalid?” Tidak, aku hanya keluar jalan-jalan” “Dan bagaimana denganmu?” “Aku juga lagi jalan-jalan” Seorang yang lalai, seseorang yang tidak percaya kepada Allah, mengembara, berjalan dan hanya berkeliling sia-sia. Perlahan hati mereka terbuka, “Wahai Khalid, aku sudah bosan, aku sudah bosan dengan hidup dalam kekufuran. Aku juga ingin pergi ke Rasulullah untuk mengikutinya, aku akan pergi dan mengatakan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, yang menyembuhkan segala penyakit.”Betulkah? Aku juga keluar karena itu, aku juga sedang pergi ke arah sana.” Kedua komandan saling berpelukan. Mereka menangis di pundak mereka dan berjalan beriringan bersama dalam perjalanan mereka menuju kekekalan.

Berita itu sudah sampai ke Rasulullah. Allah, yang kebesaran-Nya menghubungkan langit dan bumi, memusatkan dan menentukan barat dan timur. Allah telah mengirim malaikat-Nya dan telah memberitakan kabar ini. Khalid bertemu dari jauh, dan mengatakan bahwa dia sedang ditunggu oleh Rasulullah. Khalid begitu bahagia. “Kami tinggal di Aqabah, ada orang yang datang menemui kami, lalu kami pergi ke Madinah, memasuki hadirat Rasulullah. Beliau Saw. menyambut kami dengan senyum di wajahnya. Ketika duduk langsung saya ucapkan:    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله

Khalid ibn al Walid mengatakan: “Saya merasa seolah-olah memasuki surga, tetapi ada masalah dalam diriku. Baik saya maupun Amr ibn Al Ash tidak dapat mengangkat kepala dan memandang wajah beliau.” Terutama yang dikatakan Amr ibn Al ‘Ash, “Wahai Rasulullah, saya telah melakukan banyak hal jahat kepadamu sehingga tak mampu melihat wajahmu, doakan saya! Begitupun Khalid al Walid juga mengatakan hal yang sama, meminta dimohonkan ampunan dari Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya: “Ya Allah, ampunilah Khalid. Sejak hari itu, Rasulullah menggambarkan Khalid sebagai pedang yang ditempatkan melawan kekufuran. Ia menjulukinya Saifullah. Tentara ciut di hadapannya, batu-batu melebur. Nama Allah berkibar di bahu dan di embara. Nama Allah adalah yang tertinggi, ditunjukkan di alam semesta sebagai yang tertinggi oleh Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash.

Ya, ceritakan kebenaran dengan kebijaksanaan, ceritakan Al-Quran dengan kebijaksanaan. Ceritakan nabi kita Muhammad SAW yang mulia yang telah melakukan misinya dengan kebijaksanaan. Es akan mencair, gunung-gunung akan meleleh, batu-batu akan melebur, semua orang dan segala sesuatu di alam semesta akan datang dan  mengatakan Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Rahasia “tidak ada yang tidak memuliakan Dia dengan pujian-Ny” akan dipahami. Dia yang ditinggikan dan dimuliakan oleh segala hal akan dinyatakan, semuanya akan berlutut di hadapan Allah. Anda hanya perlu memberitahu tentang-Nya kepada semua orang di mana pun anda berada. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi hati dari petunjuk yang buruk, hasrat kepada-Nya, dan memberikan semangat ini kepada mereka yang hatinya telah terjepit dan membusuk di abad ini. Terutama Muslim yang menderita, dengan memberi mereka makan dengan inspirasi ini. Semoga Dia memberi kepercayaan kepada hati. Semoga Dia menganugrahkan antusiasme menjadi orang yang percaya setelah mendengar kebenaran iman dan menceritakannya kepada yang lain!