yasmine-arfaoui-1392471-unsplash

Salat Jumat Rasulullah SAW

“Salat Jumat Rasulullah SAW”

Jamaah Muslim yang terhormat! Kita akan memanfaatkan jalan yang ditunjukkanNya, memanfaatkan anugerah yang diberiNya kepada kita. Dengan jalan yang ditunjukkanNya, kita akan termuliakan saat mendekatkan diri di hadapan Allah. Dengan perintah Allah dan jalan Baginda Nabi, kita akan meraih syafaat Rasulullah. Allah telah menunjukkan jalan keselamatan, langkah menjadi manusia, muncul dengan kalbu dan ruhani. Jalan bagi kita agar  layak mendiami alam abadi. Allah SWT telah menunjukkan jalan yang akan mengantarkan kita ke keabadian. Jalan raya tersebut bernama siratal mustaqim. Siratal mustaqim adalah jalan yang mengandung banyak rukun. Ketika berjalan di atasnya, tanpa merasa putus asa menghadapi segala hal yang perlu dilakukan. Mereka yang demikian akan meraih tujuan dan cita-citanya, yaitu Allah.

Pintu menuju surga bergantung pada bagaimana hidup dengan jalan ini. Untuk meneladani Baginda Nabi, maka ia bergantung pada pada sejauh mana kita mengikuti rukun jalan ini. Syarat untuk bisa menyaksikan jamaliyah Allah yang merupakan sumber dari segala keindahan, bergantung pada bagaimana kita hidup dengan rukun dari jalan itu. Mengikuti rukun jalan ini tidak begitu mudah. Hidup dengan rukun jalan ini sangatlah berat, tetapi orang-orang mukmin dan muslim, akan meringankannya.

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ 

” Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan itu sungguh berat kecuali bagi orang yang khusyuk (QS 2:45)”

Dengan ayat itu, Allah menjelaskan beratnya salat bagi sebagian orang. Allah mengecualikan mereka yang kalbunya penuh rasa takut, hormat, khusyuk, dan kerendahan hati. Inilah jalan yang memiliki banyak adab dan rukun, tetapi manusia yang bertekad meniti jalan ini, akan hidup dengan tenteram berkat taufik dari Allah SWT. Saya hingga saat ini selalu berusaha menyampaikan salah satu rukun penting dari jalan ini.

Salat adalah pilar bagi kapal bernama agama, dengannya agama dapat berlayar. Salat bagaikan kompas yang membantu orang mukmin mengarahkan kapalnya. Salat adalah tangga bagi mukmin untuk melakukan mikraj dimana satu ujungnya di tangan Allah, sedangkan ujung lainnya ada di tangannya sebagai ikatan yang kuat. Salat adalah bentuk ibadah yang membawa seseorang bersedekap di hadapan Allah atas izinNya, dan model serta ringkasan terbaik salat adalah topik pembahasan kita hari ini, yaitu salat jumat!

Penunaian salat jumat adalah ungkapan hasrat dan gairah kolektif nurani dalam bentuk jamaah. Menurut Ibnu Hajar, Sang Kebanggaan Semesta diwajibkan mengerjakan salat jumat di Kota Mekkah. Pernyataan imam agung ini pasti memiliki dasar, tetapi ada sesuatu yang jelas, yang tak bisa dipahami oleh umum. Di lokasi dimana syaratnya tak bisa dipenuhi, tidak mungkin memahami kewajiban dari Allah tersebut. Sudah jelas Baginda Nabi tidak akan bisa menunaikan salat jumat karena syaratnya belum terpenuhi. Lalu mengapa Allah mewajibkan beliau menunaikan salat jumat?

Ya, tidak mungkin kita memahaminya. Ada sesuatu yang kita ketahui Rasul Akram SAW tidak pernah menunaikan salat jumat walau hanya sekali ketika di Mekkah. Dan salat jumat pertama dikerjakan setelah Rasulullah meninggalkan masjid Kuba. Dari sini kita pahami bahwa salat jumat adalah salat yang terbentuk oleh jamaah. Untuk itu, jika orang-orang tidak terkumpul sebagai jamaah yang cukup, maka salat jumat tidak wajib. Salat jumat memiliki syarat. Ia didirikan oleh imam dan jamaah.Salat jumat mensyaratkan adanya imam, mensyaratkan adanya masyarakat. Jumatan mensyaratkan seseorang yang menyerahkan hatinya kepada Rabb, yang memimpin dan mengatur, serta mensyaratkan adanya jamaah yang mentaati dan mematuhi Allah.

Salat jumat adalah salat berjamaah. Jika jamaah tidak terbentuk mereka tidak bisa menunaikan salat jumat. Jamaah ini terbentuk dari kelompok selain wanita, budak, dan orang sakit. Salat jumat mensyaratkan perbaikan, kepemimpinan, masyarakat, dan jamaah. Untuk itu Baginda Nabi tidak wajib mengerjakan salat jumat ketika masih di Mekkah. Ketika jalan ke Madinah terbuka dan Rasul Akram SAW diperintahkan untuk berhijrah, Beliau datang ke kota suci bernama Kuba, dan tinggal di sana pada hari senin, selasa, rabu, hingga kamis. Beliau membangun Masjid Kuba dengan tangannya sendiri. Masjid kemudian mengalami renovasi hingga mencapai bentuknya hari ini. Ganjaran salat di masjid itu setara dengan pahala umrah. Sang Kebanggaan alam semesta SAW setiap jumat pergi ke masjid Kuba dan menunaikan salat di sana. Sejak hari itu hingga sekarang disunahkan salat di Masjid Kuba. Semoga Allah menakdirkan mereka yang berziarah untuk bisa salat di situ, dan bagi yang belum semoga bisa berziarah ke sana.

Mereka tinggal di Kuba selama empat hari. Masyarakat Kuba dan Madinah pun dipenuhi oleh “perhiasan”. Mereka meninggalkan Kuba di hari jumat. Ketika mereka sampai di Lembah Bani Salim bin Auf, Malaikat Jibril membawa kabar dan Baginda Nabi pun menunaikan salat jumatnya di situ. Jika Anda ke Kuba, pemandu akan menunjukkan tempat ditunaikannya salat jumat pertama itu. Rasul Akram SAW telah mendapatkan jamaah. Kini Nabi berkesempatan untuk mengumumkan wajibnya salat jumat secara terang-terangan. Wilayahnya ada di perbatasan kota yang akan dibangunnya. Di sana beliau akan mengecapkan stempelnya, jamaah akan menyimaknya, beliau akan mengimami salat jumat. Saat posisi imam telah boleh diumumkan, dan orang-orang yang akan menjadi jamaah berhasil dikumpulkan, Allah pun mewajibkan salat jumat. Salat sebelumnya dilaksanakan sebagai sunah. Beliau melaksanakan salat jumat pertamanya.

Orang-orang mukmin masuk ke Kota Madinah dalam keadaan tenteram, senang, dan bahagia. Hal pertama yang dikerjakan Sang Kebanggaan Alam Rasulullah SAW setelah memasuki Kota Madinah adalah membeli sebagian reruntuhan milik yatim dan membangunnya sebagai masjid. Setelah itu salat jumat akan dikerjakan di sana seterusnya. Kita menyebutnya sebagai Masjid Nabawi, Kita menyebutnya sebagai Raudhah Thahirah. Apa yang bisa kita katakan, tak ada kata yang cocok untuk memahami makna hakiki dan menjelaskannya. Walaupun Makkah amat suci dan Ka’bah merupakan mihrab bagi manusia dan malaikat, Tak mungkin membandingkan tanah tempat bersemayamnya Rasul SAW dengan tanah lain di dunia. Tak peduli ia datang dari surga ataupun diciptakan khusus dari cahaya Ilahi. Apapun itu, kita tak akan pernah memahami makna agung dari Masjid Nabawi. Kita akan mencukupkan diri dengan penjelasan tentang sebagian sifatnya hingga kiamat tiba.

Masjid yang menaungi Raudhah Thahirah, Masjid suci yang amat agung. Rasulullah SAW bersabda bahwa hanya tiga masjid yang layak untuk diziarahi. Ini ada di Bukhari, Muslim, dan Musnad Ahmad Hanbal.[1] “Tidak boleh melakukan perjalaan jauh untuk menunaikan salat di masjid yang agung dan mulia, Akan tetapi, dibolehkan melakukan perjalanan jauh untuk menunaikan salat di tiga masjid tersebut. Untuk tiga masjid itu, jika perlu juga diperbolehkan menantang bahaya di tengah perjalanan.” Yang pertama, Masjidil Haram. Yang kedua, Masjid Nabawi, tempat yang kita sebut Raudhah Tahirah. Yang ketiga, Masjidil Aqsa, yang sayangnya hari ini ia tak dalam pengelolaan kita. Ia sedang menunggu kaum Muslim merdeka. Masjidil Aqsha sedang menanti sosok seperti Salahuddin al Ayyubi dan Muhammad al Fatih. Kaum mukminin tidak bisa berangkat ke Masjidil Aqsha walaupun berniat untuk pergi. Kaum mukminin tak bisa salat di tempat yang ditunjuk Rasulullah itu, padahal pahalanya ribuan kali lipat. Kondisi mukmin sedang buruk, kaum mukmin tertindas dan di posisi rendah! Di abad ke-21 ini mereka dijauhkan untuk bisa salat di Masjidil Aqsha. Tetapi kaum mukmin tidak menyadari penderitaan ini.

Perjalanan boleh dilakukan untuk salat di tiga masjid Itulah sabda Rasulullah SAW, salah satunya adalah Masjid Nabawi karena Ustaz serta mandor dari masjid itu adalah Ustaz serta mandornya umat manusia, Rasulullah SAW. Rasul SAW memanggul batu bata di punggungnya bersama Salman al Farisi dan Bilal Habasyi. Bersama Ammar, Rasulullah SAW mengaduk adonan lumpur dan menyekopnya ke cetakan. Pondasi dari masjid diletakkan di atas ketakwaan. Ia dibangun di atas kebaikan. Dua rakaat salat yang didirikan di Masjid Nabawi setara dengan ratusan rakaat salat di masjid lain. Semoga Allah mengabadikan anugerah itu hingga kiamat tiba. Semoga Allah tidak membiarkan tangan orang kafir, fajir, dan fasik mengusiknya. Semoga tempat-tempat suci tersebut tidak terkotori di abad 21, Semoga tangis darah kedua tidak ditumpahkan.

Yang dikerjakan pertama kali oleh Baginda Nabi adalah membangun Masjid Nabawi. Dibangunlah dan disitu beliau menyampaikan khutbahnya. Jamaahnya adalah pasukan pertama penakhluk dunia. Jangan kira jumlahnya ribuan atau ratusan ribu. Setelah masjid dibangun, jumlah sahabat yang memasukinya untuk menyimak khutbah Sang Nabi, sebagaimana yang Anda lihat di Medan Badar, tak lebih dari 313. Yakni sepersepuluh dari jumlah kalian, itulah jumlah jamaah yang menyimak Baginda Nabi. Masjid itu tidak memiliki mimbar, pilar, dan tiang spektakuler seperti yang dimiliki masjid masa kini. Dindingnya dibangun dari bata dan lumpur, langit-langitnya ditutup pelepah kurma. Ketika hujan, pelepah itu jatuh dan membuat lantai masjid becek. Setelah Rasul Akram SAW sujud, beliau bangkit dengan lumpur yang menempel di wajah mulianya. Mereka menunaikan salat dalam keadaan hujan. Mereka rukuk dan sujud dalam keadaan hujan dan berlumpur. Masjid yang sederhana, dimana mimbarnya terbuat dari batang kurma. Sang Kebanggaan Semesta bersandar padanya dan berkhutbah kepada jamaah.

Beberapa bulan kemudian, Rasul SAW meminta seorang wanita Ansar yang anaknya itu tukang kayu, “Sampaikan pada putramu, buatkan aku mimbar dengan 3-4 anak tangga, agar jamaah bisa menyimakku saat berkhutbah.” Mimbar dibuat dan diletakkan pada posisinya. Sejak hari itu, para pecinta Rasul berkhutbah dengan bersandar pada pilar dan tiang marmer. Mimbar dibuat dari marmer. Sejak saat itu menapakkan kaki di anak tangga mimbar itu dianggap tidak sopan secara akhlak. Umat Islam memuliakan mimbar sang Nabi. Kaum muslimin sejak saat itu hingga saat ini sangat menghormati mimbar Baginda Nabi.

Mimbar pertama adalah batang kurma. Batang kurma tidak menginginkan pesaing. Batang kurma ingin agar Nabi dengan cahaya langit dan berkah tetap menggunakannya hingga lapuk. Si batang kurma tidak mau tempatnya digantikan. Masjid sekalinya dibangun seperti itu ingin tetap begitu. Sisi manapun dari masjid yang dibangun oleh Rasulullah hendak Anda ubah, maka bagian masjid itu akan berteriak. Tetapi pada waktu itu yang diubah hanya batang mimbar saja. Karena yang diubah hanya batang mimbar, maka teriakan hanya muncul dari batang mimbar saja. Menurutku, andai tiang-tiang kurma itu juga diubah, mereka juga pasti akan berteriak. Jika pelepah kurma sebagai atap itu juga diganti, mereka juga pasti akan berteriak. Karena tidak satupun dari mereka yang sanggup berpisah dari Baginda Nabi.

Mimbar baru diletakkan di samping batang kurma lama. Rasul Akram SAW menaiki tangga mimbar. Hampir 20 sahabat yang meriwayatkannya. Riwayat ini diceritakan secara mutawatir oleh Bukhari Muslim serta kitab hadis lainnya. Mereka yang tidak mempercayai peristiwa ini dari perspektif ahli kalam bisa jadi dihukumi kafir. Semoga Allah menjaga kita.

Ini bukan seperti mukjizat lainnya. Peristiwa ini mutawatir. Rasulullah berkhutbah di mimbar barunya. Si batang kurma ditinggalkan. Jamaah memusatkan perhatian untuk menyimak Rasul Akram SAW. Tiba-tiba muncul suara yang tensinya lebih tinggi daripada suara Baginda Nabi. Setiap sahabat menceritakan peristiwa ini dengan penjelasannya masing-masing. Ada yang menceritakan suaranya mirip anak unta yang ditinggal induknya, ada yang bilang suaranya mirip suara rintihan manusia. Demikian tinggi tensi suaranya, masjid seperti terguncang. Jamaah pun teralihkan fokus perhatiannya. Suara berasal dari batang kurma. Bahkan beberapa sahabat mencatatkan bahwa batang kurma itu terbelah.

Rasul Akram SAW memahami pokok permasalahannya. Beliau turun dari mimbar. Dengan penuh keseriusan beliau mendekati si batang kurma. Beliau mengelus si batang kurma sambil menyampaikan sesuatu. Bibir mulianya komat kamit menjanjikan sesuatu pada si batang kurma. “Mana yang kamu pilih, kuletakkan dirimu di salah satu sudut masjid hingga dirimu lapuk, atau biar Allah menjadikanmu sebagai pohon abadi yang memberi buahnya kepada penghuni surga. Mana yang kamu pilih, disini saja atau fana di tempat lainnya.”

Si batang kurma memilih untuk menjadi pohon yang menghasilkan buah di surga. Elusan Baginda Nabi membuat teriakan berhenti dan Beliau bersabda, “Jika aku tidak mengelusnya, kalian akan mendengar teriakan itu hingga kiamat datang.” Si batang kurma berteriak. Posisinya diubah Seakan dikatakan, “Minggirlah! Mimbar telah menggantikan posisimu.” Ia tak mampu menahan perpisahan dengan Sang Nabi. Pergilah ke Masjid Nabawi. Sentuhlah pilar dan dindingnya, akan terdengar teriakan mereka semua. Jika ada telingamu, kalbumu, kesadaran dan perasaanmu, maka inderamu akan mendengarnya. Padahal selain batang kurma, ada banyak hal yang dulu dibangun Sang Nabi kini telah diruntuhkan. Selain batang kurma, betapa banyak hal yang dibuang, betapa banyak hal telah disingkirkan. Betapa banyak hal yang telah disingkirkan, termasuk cahaya bagi jiwa dan mataku, yaitu al Quran. Kepada generasi kita, bukan si batang kurma saja yang diminta untuk dilupakan, melainkan Baginda Nabi. Nama Agungnya diusahakan untuk dilupakan. Allah dan NabiNya berusahauntuk diingkari.

Bagaimana benda-benda dan peristiwa berteriak? Bagaimana Masjid Nabawi menjerit? Bagaimana semua yang dibangun Baginda Nabi SAW menjerit? Seseorang harus menjadi ahli nurani agar ia bisa mendengar dan terpengaruh oleh jeritan tersebut, dan untuk bisa mengatakan, “Malulah diriku, malulah jamaahku, malulah umat manusia!”

Jamaah Muslim Yang Mulia! Aku membuat pembukaan dari masjidnya Baginda Nabi. Dari mimbar tempat beliau berkhutbah kepada jamaahnya, hingga akhirnya sampai ke titik ini. Pembahasan utama kita adalah salat jumat dan jamaah. Rasulullah SAW dengan mengambil jamaah yang bersatu dan memiliki kesadaran sama, di hari dimana para hamba berkumpul & menghadap Allah, dimana pertemuan itu setara dengan mikraj, yaitu salat jumat. Menit ini, detik ini, saat ini, memiliki makna besar dan agung seperti itu. Bertawajuhlah kepada Allah dengan kalbu sadar. Semoga berkat rahmat Ilahi mempertemukan kita dengan waktu dimana doa-doa dikabulkan.

Saya juga ingin memberi kabar gembira ini juga, sekali lagi di salah satu hadits sahih, Rasulnya para rasul bersabda, “Di hari jumat ada suatu waktu dimana tidaklah seorang hamba berdoa, melainkan Allah memberi apa yang dipintanya.”[2] Mengenai waktu tersebut, para sahabat, tabiin, dan fukaha menyebutkan waktu yang berbeda-beda. Menurutku waktu tersebut mirip Lailatul Qadar, ia berganti-ganti di antara hari bulan Ramadhan. Seperti Nabi Khidir as, ia berjalan di antara manusia. Untuk merasakan menit tersebut, fokuskanlah tawajuhmu kepada Allah pada hari jumat. Nabinya para nabi dan mereka yang makbul doanya berhasil meraih menit, detik, dan waktu tersebut. Di waktu tersebut, mereka memanjatkan doa kepada Allah, dan Allah pun mengabulkan doa-doa mereka.

Menurut kebanyakan fukaha, waktu tersebut adalah saat ketika khatib berkhutbah. Waktu tersebut dikonfirmasi dengan diangkatnya kedua tangan Baginda Nabi untuk beroda di saat berkhutbah. Beliau berkhutbah di atas mimbar, lalu masuk seorang badui. Ia mengeluhkan kekeringan, “Ya Rasulullah! Semua hewan dan makhluk hidup mati kekeringan. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah?” Rasulullah SAW mengangkat tangannya dan berdoa agar Allah menurunkan hujan. Sahabat berkata, “Saya bersumpah kepada Allah, di langit tak ada sedikitpun awan, Padahal ketika Rasul SAW turun dari mimbar dengan senyumannya, air hujan mengalir deras dari janggutnya. Hujan turun seminggu penuh, lembah Madinah dipenuhi banjir seminggu penuh. Seminggu penuh jalan tertutup.

Jumat berikutnya, Baginda Nabi kembali berkhutbah di atas mimbar. Seorang Badui kembali berdiri dan berkata, “Ya Rasululah! Terjadi banjir dimana-mana, tidakkah Engkau berkenan untuk berdoa kepada Allah!” Rasulullah kembali meraih waktu mustajab tersebut dan mengangkat kedua tangannya, “Ya Allah, turunkan hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami.” Sahabat kembali bersumpah, kegelapan di atas Madinah segera terbuka, hujan pun berhenti. Awan pergi ke sekitar. Pendatang membahas hujan deras, tetapi di Madinah tak ada hujan walau setetes. Karena ada yang mengangkat tangannya agar tidak jatuh setetespun hujan, Allah pun membuka pintu rahmatNya dan mengijabah permintaan dan permohonannya.

Di hari jumat ada suatu waktu yang jika seorang hamba berdoa maka Allah akan mengijabahnya. Jika demikian, maka hargailah waktu jumat dengan tawajuh penuh agar doamu kepada Allah diijabah, sehingga satu hari jumatmu menerangi hari-harimu dalam seminggu. Agar salat lima waktu kita tak memiliki kekurangan apapun, sehingga kita menjadi orang bersujud dan terang nuraninya. Semoga Allah menebarkan cahaya pada kalbu kalian, menjadikan kalian sukses secara materi dan maknawi. Semoga Allah menjadikan kita layak menjadi umat Nabi Muhammad yang dibanggakan semesta lagi mulia. Aamiin.

——————————————————————————-

[1] Salah satu riwayat dari hadis tentang ini yaitu Nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)

[2] Dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jumat, lantas beliau bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari 935, Muslim 2006, Ahmad 10574 dan yang lainnya).

samuel-scrimshaw-361567-unsplash

Istiqomah di Jalan Dakwah

“Istiqomah di Jalan Dakwah”

 

Tafsir al Fatihah dan Jalan Kenabian

Jika Anda mendengarkan diri, mungkin ini subjektif, saat salat Anda mengingat sifat AgungNya Allah. Anda membaca ayat “ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (Alhamdulillahi rabbil ‘alamin).” Segala pujian dari seluruh alam, dari masa azali hingga keabadian, hanyalah milik Allah. Segala pujian hanya ditujukan kepada Allah. Hak dipuji hanya milik Allah. Pujian ini adalah kalimat penting yang memiliki makna penghormatan, pengagungan, dan pemuliaan Zat Uluhiyah. Tapi tidak cukup sampai disitu. ZatNya jauh lebih agung dari puji-pujian itu.

Kemudian dikatakan, ” ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (ar Rahman, ar Rahim).” Rahman-nya diberikan di dunia dan di akhirat, sedang Rahimnya di akhirat. Semoga Allah memperlakukan kita di akhirat dengan sifat ar RahimNya. Semoga Allah menganugerahi kita dengan tajali al Jamal-Nya. Dan semoga Allah tidak mengutuk kita dengan tajali al Jalal-Nya. Dikatakan, ” ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ(Arrahmanir rahiim).” Demikianlah Dua sifat agung ini dizikirkan. Ismul Dzat diikuti oleh Ismul Sifat, “ٱلرَّحۡمَٰنِ (ar Rahman)” dan “ٱلرَّحِيمِ (ar Rahim).”

Tidak cukup dengan itu, lalu dilanjutkan, ” مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ(Maaliki yawmid diin).” Setelah mengagungkanNya lewat lafal Sifat dan KedudukanNya, barulah penghambaan kita nyatakan.

Kemudian dilanjutkan dengan ” إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ(iyyakana’ budu wa iyyaaka nasta’in).” Kata “ إِيَّاكَ (iyyaka)”, telah menjadi karunia bagi kita. Ia disebut “at tanazzalutal ilahiyyatu ila ukuli basar.” Karena kemampuan memahami manusia tak mampu menyentuh Zat Uluhiyah dan Subhani-nya Allah, Tanazzulat Ilahi jadi cermin bagi terpantulnya cahaya mentari  ke cermin mungil manusia. Seakan Allah berfirman, “Ayo, sebut Aku dengan kata ‘Engkau’.” Setelah menyebut keagungan SifatNya, Allah lalu membuka pintu agar kita menyebutNya “Engkau.” Biarlah kukorbankan nyawaku untukNya.

” إِيَّاكَ نَعۡبُدُ (iyyaka na’budu)” Hanya kepada Engkaulah kami menyembah. Setelah kita melihat dan mendengar keagungan dan kebesaranNya, merasakannya dengan hati nurani, Anda saksikan penghambaan Anda kepadaNya hanyalah bagaikan setetes air di samudera.

Akan saya gambarkan lewat ungkapannya Bediuzzaman. Bayangkan semua orang yang sedang bersedekap khusyuk untuk ibadah. Maka Anda akan mulai membayangkan mereka yang ada di saf terdepan, lalu yang di masjid. Lalu mereka yang beribadah di seantero bumi, serta para penduduk langit. Lalu para malaikat, lalu para pemanggul arsy, lalu mereka yang keluar masuk Sidratul Muntaha. Anda membaca “Iyyakana’budu” atas nama triliyunan makhluk yang menyembahNya. Andai kumampu, triliunan pujian ini aku saja yang menzikirkannya, karena itu pun sedikit untukMu! Karena anugerahMu tak ada batasnya, dan Engkau selalu memberinya dengan “majjanan (cuma-cuma).”

Mulai sekarang, standar ibadahku akan kunaikkan selayak mungkin! Aku berusaha menjelaskan hakikat ” إِيَّاكَ نَعۡبُدُ (iyyakana’budu)” lewat gaya penjelasannya Bediuzzaman. Akan tetapi Ya Rabbi, ternyata beribadah sebanyak itu amatlah susah! Amat susah untuk memuji dan bersyukur kepadaMu sebanyak lisan semua malaikat & zarah di alam! Untuk mengakui bahwasanya “kami adalah hambaMu” nyatanya amat sulit!

Untuk itu dilanjutkanlah dengan, ” وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (wa iyyaka nasta’in)”, kami mohon pertolonganMu. Ketika demikian, maka konsentrasi penuh dalam ibadah akan diraih. Di sana Anda menumpahkan isi hati Anda Ketika membaca ” إِيَّاكَ (iyyaka)”, Anda menyatakan bahwa Anda adalah budak dengan tali kekang di leher. Budak dengan rantai di kaki. Budak penjaga pintu. Iyyakana’budu. Kami adalah budak-budak yang setia menunggu di pintuMu.

Tepat saat konsentrasi sedang di puncak, Andapun membaca “Iyyakana’budu waiyyaka nasta’in.” Disanalah gangguan setan paling kuat muncul. Barangkali Anda juga menyadarinya. Anda bisa mengalami lupa. Kadang ia muncul, “apa maksud kalimat ini? Apa ikrarku ini bisa kuingat?” Apalagi bagi orang seperti saya. Saat dibaca, mungkin bertepatan saat saya lalai (menguap). Jika bersin asalnya dari Sang Rahman, maka menguap asalnya dari setan (Hadits). Ada orang berkata, “Setiap sampai di iyyakana’budu waiyya kanasta’in, aku selalu menguap!” Pertanyaannya, di tempat dimana kita harusnya berkonsentrasi, layakkah kita menguap? Orang lalai itu lalu bertanya, “Lalu apa yang harus kulakukan?” Kujawab, “Baca lagi iyyakana’budu waiyya kanasta’in.” Awalnya belum fokus, tapi akhirnya dibaca kembali.

Juga saat membaca tahiyat, ada pujian Allah untuk Baginda Nabi dalam “percakapan agung” di Mikraj, “Duhai Nabi Agung yang akan menyampaikan RisalahKu kepada hamba-hambaKu! Salam atasmu! Kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah milikmu!” Disini adalah titik fokus! Disini Allah sedang berfirman, seakan-akan Anda sedang bertatapan dengan Baginda Nabi dan berkata dengan firman Ilahi tersebut. “Assalamu’alayka Yaa Ayyuhan Nabiyy…”

Tapi sayangnya puncak kantuk dan lalai menyerang tepat di waktu itu. Seperti yang tadi saya jelaskan, katakanlah, “Kamu  mengalangi fokus konsentrasi dan melalaikanku!” Maka kuulangi salamku, “Assalamualayka ya ayyuhan nabi…” Seakan jemari di ‘tempat’ tersebut tiba-tiba jelas nampak di mata. Seakan tempat wafatnya Baginda Nabi tiba-tiba bisa disaksikan. “Assalamu ‘alayka ya ayyuhan nabiy wa rahmatullahi wa barakatuhu…” Jika Anda menyentuhnya dengan kalbu, dengan yang Anda ambil dari Allah, dengan pujian Allah kepadanya, “Kuambil pujian Allah padamu itu sebagai amanah & kusuguhkan padamu SAW” dengan penuh khusyuk, Anda seakan mendengar jawabanNya SAW, “Assalamu’alayna wa’ala ‘ibadillahis salihin.” Semoga keselamatan dunia akhirat tercurah padaku, padamu, dan pada semua yang beriman! Amin. alfu alfi amin. Jutaan kali amiin. Ganjaran yang dijanjikan tak terbatas.

Jawaban terlayak atas kesetiaan Rasulullah SAW hanya kesetiaan meniti jalannya dengan usaha dan gairah yang tinggi. Andai seluruh dunia menjadi Yazid, Hajjaj, Hitler, dan Anda menjadi orang paling terzalimi di antara manusia, maka Anda tetap akan berseru, “radhina billahi rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyya wa rasula.” Dengannya Anda mengungkapkan keridaan Anda atas segala suratan takdir dari Allah. “Allahumma al ikhlas, wa ridhaak, wa khaalis al isyq wal isytiya ila liqaaik.” Ya Allah buat kami bisa mengucapkannya dengan lisan dan kalbu kami! Jadikan kami istikamah bertawajuh kepadaMu! Jangan pisahkan kami dari jalan KekasihMu!

 Ingatlah! Nabi hidup dalam kezaliman musuh selama 13 th di Mekkah dan 5 th di Medinah! Total 18 th! 18 tahun dari 23 tahun kenabiannya, beliau merasakan kezaliman dari antek-anteknya setan. Sedangkan antek setan muncul di setiap zaman, dan mereka yang menerima kezaliman antek setan di masa kini pun harus bersabar. Mereka harus bersabar dan membaca doa tadi, “radhina billahi rabba.” Letakkan keluhan itu di bawah kaki & injaklah. Ia harus digilas&diganti dengan bergembira atasnya! Kita harus berseru kepada keluhan, “Kamu memang layak untuk digilas!” Kita harus menggilas keluhan kita dan memperkuat hubungan kita dengan Allah, dengannya kita wujudkan amanah QS 3:103.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا

Dan berpegangteguhlah kamu pada tali agama Allah

Anda adalah pejalan di jalan tersebut. Dulu pernah diselenggarakan konferensi “Jalan Kenabian” di Turki. Tajuk konferensinya sangat cocok, demikian juga topik-topik yang dibahas di dalamnya. Tajuk dan topiknya dirasa cocok bila diukur dengan kemampuan kita. Membahas & menggambarkan keagungan Nabi SAW dengan sempurna bukanlah jangkauan kita. Semoga Allah izinkan kita bisa memujinya dengan sempurna. Tanpa memujinya, manusia takkan sadar sedang dibelakangnya SAW. Perhatikan! Jangan sampai kita meniti jalan selain jalannya SAW.

Mana yang layak? Melangkahkah, atau mengelap jalannya dengan wajah kita? Ya, kita harus meniti jalannya dengan tepat, langkah demi langkah. Demikian juga dengan jalannya Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk! “Ikutilah jalanku dan jalan Khulafaur Rasyidin sesudahku!”[1] Yaitu jalannya Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali radhiyallahu anhum ajmain. Tokoh cemerlang itu mengambil arahan Allah langsung dari Sang Nabi dengan sempurna, insya Allah. Dan mereka senantiasa istikamah menjalankannya. Sesungguhnya mereka melihat, merasakan, dan mendengarkan segala yang dilihat, dirasakan, dan didengar Baginda Nabi.

Dalam hadits sahih muslim, dari berbagai saluran sanad bisa kita simak, Nabi bersabda, “Jika aku bisa mengambil sahabat, aku akan mengambil Abu Bakar sebagai sahabatku. Aku akan membangun tali kasih persahabatan dengannya. Tetapi, Allah adalah Halil-ku (sahabat).”[2]

[1]Salah satu hadis dengan makna yang sama diriwayatkan sebagai berikut:

 عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِيْ اخْتِلاَفاً شَدِيْدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَاْلأُمُوْرَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه ابن ماجه)

“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Ibnu Majah. Hadis senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

[2]Hadis ini ada dalam sahih Bukhari dan Muslim

 لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَابَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي، وَقَدِ اتَّخَذَاللهُ ﻷصَاحِبَكُمْ خَلِيلًا

“Sekiranya aku diizinkan oleh Allâh untuk menjadikan seseorang sebagai khalîl, niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalîlku, akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan sahabat kalian ini (diriku) sebagai khalîlnya” [HR. al-Bukhâri, no. 3656, Muslim, no. 2383]

Photo by Saffu on Unsplash

Mereka yang Merasakan Manisnya Iman

“Dawai Kalbu: Mereka Yang Merasakan Manisnya Iman”

Dalam sabda Nabi SAW disebutkan bahwa: Barangsiapa memiliki 3 ciri ini, berarti dia telah merasakan manisnya iman[1]. Ciri-ciri tersebut antara lain:

  1. Mencintai Allah dan RasulNya atas segalanya
  2. Mencintai sesuatu hanya karenaNya
  3. Benci kembali ke kesesatan seperti bencinya ia jika dilempar ke neraka

Jika pada diri seseorang ada tiga ini, maka pemiliknya akan merasakan manisnya iman. Mereka yang merasakan manisnya iman, imannya di atas segalanya, serta memahkotai imannya dengan makrifat. Iman yang tak bersandar pada makrifat selalu mudah ambruk oleh sedikit guncangan.

Kondisinya mirip seperti hari ini, dimana kita diguncang oleh perilaku setan dan bala bencana. Di sisi lain, guncangan itu menguji siapa saja yang teguh di jalanNya, sebagaimana ampas dan residu terpisah dari emas dan perak saat diekstraksi.

وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَمۡحَقَ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

“Agar Allah membersihkan orang beriman dan membinasakan orang kafir” (QS 3:141).

Orang-orang terjungkal karena sikapnya, mereka menunjukkan siapa dan kemana mereka bersandar. Ternyata karakternya menunjukkan bahwa mereka tak siap menghadapi persoalan-persoalan serius. Andai mereka hidup di masa Nabi mereka akan membuat fiasko dan blunder di Badar dan Uhud. Di Medan Khandaq, mungkin mereka akan membuat skenario untuk berlepas diri. Sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Mungkin dia hanya satu, tetapi di sekitarnya ada banyak orang lugu yang hanyut bersamanya. Kini dunia kita mengalami inflasi karena banyaknya sosok seperti Abdullah bin Ubay bin Salul muncul.

Demikianlah, tanda dirasakannya manisnya iman adalah dicintainya Allah dan RasulNya di atas segalanya. Pertama iman kepada Allah, lalu memahkotai iman dengan makrifat. Kemudian menjaga agar makrifat dan mahabatullah senantiasa terkembang. Memahkotai mahabatullah dengan rasa cinta dan istiyak kepadaNya. Topik ini banyak dibahas dalam tasawuf, tetapi tidak di kitab fikih dan akhlak. Rasa cinta dan istiyak kepada Allah kemudian melahirkan zawq ruhani yang dibahas oleh Ustaz: “Imani billah, makrifatullah, mahabbatullah, dan zawq ruhani.”

Tetapi, dari perspektif Qitmiriyah, Zawq Ruhani hanya dicapai jika tak diharapkan, tetapi datang sendiri. Segala amal hanya untukNya. Saat datang, kita hanya bisa berkata: “ini semua adalah anugerah, rahmat, kemurahan dari Allah SWT.” Semoga Allah tak membatasi anugerah ini pada kita, semoga Allah senantiasa menganugerahinya pada kita Imani billah, marifatullah, mahabatullah, zawq ruhani, dan rasa cinta dan istiyak padaNya.

Mencintai Allah dan RasulNya lebih dari apapun. Sebagai contoh, seperti yang kusampaikan di ceramah yang agak berantakan waktu itu. Ketika Sayyidina Umar tiba-tiba mahabah serta rasa cinta dan istiyaknya terkembang. Lalu ia menatap wajah cemerlang secerah mentari dari Baginda Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah! Aku mencintaimu lebih dari segalanya, dari keluargaku, anakku, kecuali diriku.” Pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat penting. Andai kita mendengar langsung pernyataan serta kehalusan, kedalaman, serta keindahannya, maka pasti kita akan berdiri dan berputar layaknya para darwish murid Rumi. Tetapi Baginda Nabi memberikan jawaban yang tak disangka. “Tidak beriman salah seorang dari kamu hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Istimewanya sistem respon Sayyidina Umar, ia bisa menerima pesan dari seribu lokasi berbeda sekaligus. Pesan tersebut dengan segera diolah dan diberi respon. Ia memiliki kapasitas untuk berkembang serta melejit secara instan dan seketika. Seketika ia berkata:”Ya Rasulullah, kini aku mencintaimu bahkan lebih dari diriku.”[2] Aku tak pernah berpikir walau satu banding sejuta kata-katanya akan menyalahi realita. Ia adalah Umar. Semoga Allah anugerahi kita keistimewaan itu.

 

[1] Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.”

Hadits Shahih, diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43), At-Tirmidzi (no. 2624), An-Nasa`i (VIII/95-96), dan Ibnu Majah (no. 4033).

[2] Kisah ini diriwayatkan pada HR. Bukhari [Bukhari: 86-Kitabul Iman wan Nudzur, 2-Bab Bagaimana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersumpah]

neven-krcmarek-175845-unsplash

Bangkit Bersama Tahajud

“Bangkit Bersama Tahajud”

Jamaah Muslim yang Terhormat! Sebagai manusia yang mengingat sisi-sisi kemanusiaannya, Sebagai manusia yang merasakan naluri kalbu, karena meneliti jalan untuk meraih kembali apa-apa yang hilang merupakan keharusan bagi manusia, maka kita akan berusaha meneliti dan menemukan jalan untuk meraih kembali apa yang telah hilang. Itu adalah potensi yang harus berusaha kita keluarkan dan wujudkan.

Kita berusaha mencari jalan untuk menghembuskan kehidupan kepada alam Islam yang sedang mati. Kita harus berusaha menunjukkan hal-hal menyenangkan nan segar lewat generasi muslim yang baru. Ini bergantung pada bagaimana kita hidup dan berkesadaran dengan nafas Islam. Bergantung pada bagaimana kita mampu menjadi Jamaah Qur’ani, bukan dengan memahami dan menjalankan Islam sekehendak hawa nafsu. Tetapi dengan kriteria dan sudut pandang dari Nabi Muhammad SAW-lah kita harus memahami Islam. Kita juga berkewajiban untuk menjelaskannya, kita berhadapan dengan kewajiban seperti itu, dan kita merasakannya sebagai tugas yang amat agung.

Agar mampu menjalankan tugas berat dan agung ini, kita harus menyandarkan diri kepada Sang Rabb sebagaimana prajurit yang bersandar kepada sultannya. Sebagaimana prajurit yang berhasil menawan raja karena mereka bersandar pada sultannya. Dengan bersandar padaNya dan kedekatan pada Rabb, kita bisa membuat segala sesuatu bertekuk lutut. Dengan bersandar padaNya, kita bisa menggeser gunung. Dengannya kita akan meraih kekuatan. Dengan bersandar kepadaNya, kita bisa membuat air mengalir hingga menjadi air terjun. Tanpa bersandar kepadaNya, bahkan kita tak akan mampu melakukan hal sepele sekalipun.

Kita, yaitu takdir alam Islam, betul-betul bergantung kepada ikatan dan tawajuh kepada Quran. Masa lalu dan masa depan Islam, bergantung pada tawajuh kita dengan Al Quran dan Pemiliknya. Di belakang Saf Nabi Muhammad SAW, di bawah bimbingan Al Quran. Selama kita tunaikan kewajiban penghambaan kepadaNya, maka Allah akan meninggikan & memuliakan kita. Jika tidak, pintu yang kita ketuk itu akan dilemparkan ke muka kita, harapan tak akan dikabulkan. Keinginan kita akan dicampakkan ke wajah kita, kehinaan dalam 2-3 abad terakhir ini akan ditambah.

Sebagai umat Islam yang agung, sebagai umat Islam yang mulia, Bangsa Islam yang pernah menjadi pemimpin selama 9 abad, kini tak bisa lepas dari status pengemis. Padahal Allah SWT telah mensyaratkan bahwa kemenangan dan kebahagiaan bergantung pada hubungan kita denganNya. Semoga Allah SWT menganugerahi kita dengan kebangkitan dan kebahagiaan. Kita akan bertawajuh kepada Sang Rabb. Kita akan bertawajuh kepadaNya di waktu malam, dengan doa dan munajat kita bertawajuh kepadaNya. Kita berusaha membuat suara ini didengar Allah SWT dengan memanjatkannya dalam keheningan. Aku betul-betul menekankan pentingnya hal ini. Sebagaimana ditekankan oleh Al Quran, aku pun menekankan pentingnya hal ini.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا 

Dan di sebagian malam, bersujudlah kepadaNya, dan bertasbihlah kepadaNya di bagian malam yang panjang (QS Insan 76:26).

“Bertasbihlah kepada RabbMu di sebagian malam! Bertasbihlah kamu pada bagian yang panjang di malam hari!”

Masih di awal masa kenabiannya,masih di waktu ‘dhuha’.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk salat pada waktu malam, kecuali sebagian kecil”

“yaitu separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran dengan perlahan-lahan

Diperintahkan: “Bangunlah! Hidupkan malammu!”

Bangun dan bersedekaplah di hadapan Tuhan di sebagian besar waktu malam

Dengan perintah: “Atau separuhnya, atau lebih dari seperdua itu, beribadahlah kepada RabbMU”

Ditetapkanlah waktu berdoa dan bermunajat bagi Rasulullah SAW. Karena kamu sibuk dengan hal lain di waktu siang, malam adalah waktu mengajukan permohonan. Agar bisa memikul beratnya tugas kenabian di siang hari, malam adalah waktu untuk memohon & berdoa

“Wahai mata, apa itu kantuk? Bangun dan berzikirlah!”

Pandangilah bintang gemintang dan tafakurilah ayat-ayatNya. Perhatikanlah alam semesta, tafakurilah hikmah-hikmahNya! Tafakurilah! Maka akan kamu pahami Mahakudratnya Allah SWT…”

Kamu menjadi tamu dunia di siang hari, maka kamu akan jadi tamuNya di waktu malam! Saat mengetuk pintuNya, Dia akan mempersilahkanmu masuk. Sebagaimana seorang pemandu melayani tamunya, Dia akan memperlakukanmu seperti itu juga. Dia tidak akan membiarkanmu tanpa jamuan, tanpa penghormatan, tanpa penghargaan. Akan kamu tinggalkan rasa kantuk demi pertemuan dengan Rabbmu. FirmanNya di al Quran:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا 

“Dan di sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai tambahan bagimu, Mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Isra 17: 79)

Bertahajudlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Bertawajuhlah kepada Rabbmu di waktu malam!

Ikatkanlah dirimu kepada perintah-perintah Rabbmu di waktu malam. Bertawajuhlah kepada Allah di waktu malam, yang akan menjadi mihrab abadimu nanti. Sehingga dirimu naik ke derajat ‘makam-mahmuda’, yaitu derajat dimana dirimu layak dipuji. Sebagai individu, anggota keluarga, dan masyarakat dirimu naik ke derajat terpuji. Dirimu akan naik ke derajat yang dirindukan dan diinginkan alam semesta. Semua itu bergantung kepada permohonan kepada Rabbmu di waktu malam. Keutamaan ini tak bisa diraih dengan kelalaian. Derajat ini tak bisa dicapai dengan kesia-siaan. Ia tak bisa dicapai dengan tidur di ranjang yang hangat. Hanya dengan mencium sajadah dengan keningmu hal itu bisa diraih. Ia hanya bisa diraih dengan menabung modal abadi demi alam abadi dunia kita nanti. Ia hanya bisa diraih dengan bertawajuh kepada Rabbmu di saat tak ada orang lain yang melihat. Semoga Allah menyadarkan & membuat kita mampu menjelaskan cara meraihnya kepada orang lain.

Semoga Allah menganugerahi kita siratal mustaqim. Rasulullah SAW memiliki sensitivitas serius pada tawajuh dan taat pada perintah-perintahNya. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Saat kiamat datang Allah akan berfirman dari posisi tertinggi: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh takut & harap.[1]

“Dimanakah hamba-hamba yang mengharapkan rahmat, takut akan azab, dan meninggalkan selimutnya di waktu malam?

Dimanakah hamba-hamba yang meninggalkan kenyamanannya demi beribadah kepada Rabbnya?

Dimanakah mereka yang bangkit untuk salat subuh setelah melewati pendeknya malam?

Dimanakah mereka yang meramaikan masjid?

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya:

“Mereka berkumpul di hadapan Tuhannya sebagai kelompok kecil, Rabb memberikan perintahNya kepada kelompok kecil ini.

Dia memberi perintahNya kepada kelompok kecil yang menghidupkan waktu malamnya:

فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ

..Maka mereka akan masuk surga, di dalamnya mereka diberi rizki yang tidak terhingga (QS 40:40)

Mereka akan masuk surga tanpa hisab. Mereka yang beribadah kepada Tuhannya di waktu malam. Di hari dimana para siddiqin dan syuhada dihisab, mereka masuk surga tanpa hisab.

Kemudian Baginda Nabi bersabda: “Lainnya dipanggil untuk dihisab”.

Demi tahajud, Baginda Nabi bahkan meninggalkan kenikmatan jasmani paling lezat. Beliau berpaling dari kenikmatan jasmani menuju puncak dari kedudukan kalbu dan jiwa. Di titik itu, beliau menatap Sang Rabb, dan meletakkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Sayyidina Aisyah as Siddiqah menceritakan dalam sahihain: “Aku kehilangan dirinya di waktu malam. Pelita yang menyala di rumah pun tidak ada.” Begini ia menceritakan rumah dan ruangan mulianya “Demikian sempitnya ruangan kamar kami, Ketika hendak kerjakan salat dari tengah malam hingga subuh, aku julurkan kakiku ke tempat sujudnya.” Kita dapat melihat penjelasan ini di Sahih Bukhari dan Muslim.

“Saat sujud, beliau mendorong kakiku dengan punggung tangannya dan bersujud di tempat kakiku tadi.” Demikianlah gambaran ruangan Sang Nabi. “Aku terkejut melihatnya tak ada di sampingku, Sebagaimana fitrah wanita, rasa cemburuku muncul. Apakah beliau pergi ke istrinya yang lain? Rasa cemburu meliputiku. Aku mengecek lagi dengan merabakan tanganku. Tanganku menyentuh kakinya saat beliau bersujud. Tanganku menyentuh kaki mulia Rasulullah SAW. Beliau sedang bersujud. Telingaku mendengar dengan jelas, aku memahami apa yang beliau panjatkan. Bagaimana beliau tersedu sedan, beliau dalam sujudnya berdoa seperti ini:”

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Ya Allah, kuberlindung di balik ridaMu dari murkaMu, Kuberlindung pada keselamatanMu dari pedihnya azabMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu, aku berlindung kepada sifat Jamal dari sifat JalalMu.

Aku berlindung kepada rahmatMu dari sifat al QahharMu, Aku berlindung kepada tawajuhMu dari alpanya tawajuhku. “Aku berlindung kepada anugerah MahasuciMu, Aku memohon kepadaMu, Ya Allah” demikian munajatnya.

Beliau bermunajat kepada Rabbnya. Sayyidah Aisyah meriwayatkan:

“Aku berlindung kepadaMu dariMu”

“Aku tak mampu memujiMu, Ya Allah,” keluh beliau

“Aku tak sanggung memuji dan mengagungkanMu dengan layak”

“Aku tak mampu memujiMu sebagaimana diriMu memujiMu, Aku tak mampu menjelaskanmu seperti diriMu menjelaskanMu”

Bahasanya Sayyidah Aisyah: “Seseorang yang tunduk, tawaduk, dan dengan sujudnya ia menyembah Rabbnya”

Semoga Allah SWT mengbangkitkan kalbu kita dari kematiannya. Semoga Allah SWT anugerahi kita dengan penghambaan sempurna. Semoga Allah SWT menganugerahi jalan keselamatan kepada bangsa ini, Serta memberikan hidayah di jalan lurusNya. Semoga Allah SWT menyelamatkan mereka yang fakir dan pendosa dari sifat riya dan kemunafikan. Jika saya naik mimbar tanpa menghidupkan malam, kuanggap diriku telah berlaku munafik. Kuanggap diriku munafik, karena aku berwajah dua. Semoga Allah lewat hidayahNya, meluruskan hidup yang tidak bisa saya luruskan selama 40 tahun umurku.

Semoga Allah menyelamatkanku dari ketenggelaman dalam kesalahan saat berusaha menyelamatkan diri. Semoga Allah menyelamatkan mereka yang keadaannya mirip denganku. Saya rasa banyak orang yang saya kenal memiliki kegelisahan yang sama. Lewat bait Yunus Emre, yang keindahannya membuat bunga berbicara.

Aku bertanya kepada satu bunga mengapa kamu menunduk. Bunga berkata: Wahai Darwis, aku menunduk di hadapan al Haq

Dan refrein pun dimulai: Aku adalah budakMu yang tak berdaya, Banyak sekali dosanya. Sebesar gunung besarnya satu dosa. Duhai Allah ampuni hamba. Demikian bunyi refreinnya.

Betapa banyak orang yang saat kulihat, Ia seperti budakNya yang tak berdaya, banyak berdosa, dimana satu dosa setara gunung besarnya. Betapa banyak orang, kulihat mereka seperti halnya diriku yang tak mencium sajadah di tengah malam. Keningnya tidak mencium sajadah.

Betapa banyak orang, bertahun-tahun sajadahnya kering dari air matanya. Betapa banyak orang, di gelap rumahnya tak muncul gelombang semangat, tak terdengar rintihan kalbu.

Betapa banyak orang hidup dengan kalbu yang mati, berkeliling dengan kalbu yang mati, Bangun dan tidur sebagai orang dengan kalbu yang mati. Semoga Allah memberikan irsyad dan hidayah kepada orang-orang yang mirip denganku, Juga kepada mereka yang seperti halnya kita, terjatuh dalam sebagian sifat nifak.

Saat sosok seperti Sayyidina Umar & Sayyidatina Aisyah khawatir ada ciri nifak dalam dirinya, Pun saat aku mengkhawatirkan ciri nifak pada diriku, hendaknya tidak membuat kalian putus asa. Hal itu terkait padaku, mungkin hal itu adalah kesalahan. Tetapi demikianlah aku memandang diriku, aku tak ingin memandang diriku dari perspektif lainnya.

Demi generasiku, ketika aku menjelaskan keadaan mereka, Sebagai seseorang dari mereka yang tampil di hadapan Baginda Nabi, penjelasanku meraih suatu bentuk yang berbeda. Walau aku merasakan hal berbeda saat mengimami salat, aku tak pernah lupa akan sifat nifakku.

Atas nama generasiku, Jika aku mengulurkan keningku untuk dicium Baginda Nabi, Aku melakukannya atas nama generasiku, serta atas nama mereka yang melayani Al Quran dan iman. Tetapi tak pernah saya lupa, bahwa saya bahkan bukan sesuatu dibandingkan Qitmirnya Ashabul Kahfi. Di akhir zaman, Allah SWT akan menghembuskan nafas kehidupan kepada umat manusia. Andai aku dijadikan keledainya al Masih, aku akan menganggapnya sebagai kemuliaan dan berharap bisa masuk surga karenanya. Demikianlah saya melakukan perhitungan pada diri saya. Demikianlah saya menutup buku amal saya. Saya juga ingin agar nanti dapat mati seperti itu. Itulah dua sisi kehidupanku.

Ketika mempersembahkan keadaan generasiku di hadapan Rabbku, Ketika menghadap Baginda Nabi dengan leher menunduk dan punggung membungkuk, Aku berusaha menjelaskan keadaan dan derita yang dirasakannya. Kepada generasi yang menderita, Kepada penerjemah generasi yang rasakan derita! Seandainya Allah menjadikannya merasakan derita yang sejati, seandainya sebagaimana dulu, Allah membuatku menangis dalam setiap segmen kehidupan. Seandainya Allah membuatku mampu melihat ciri nifakku lebih serius lagi sebagaimana dulu kala. Seandainya Allah menganugerahiku akhir yang baik dari kehidupan yang fana ini, Aku akan menganggapnya sebagai kebahagiaan terbesar.

Aku menyandarkan harapanku pada derajat yang akan diraih jamaah ini di hadapan Allah. Generasi yang dengan semangatnya dapat meraih siratal mustakim & kecintaan untuk pahami Quran. Jika mereka masuk surga, mereka akan melihatku di belakangnya. Barangkali mereka tak akan memasuki surga tanpa mengajakku juga. Demikianlah saya menyandarkan harapanku.

Aku menyandarkan harapanku kepada mereka yang tak berdosa. Semoga Allah menghidupkanku dengan harapan ini, serta mencabut nyawaku dengan harapan ini. Semoga Allah SWT terus hidupkan rasa ini pada diriku, rasa tak berdaya, papa, & remeh di hadapanNya. Semoga Allah anugerahi kita dengan pemahaman dan kesadaran ini!

[1] QS As-Sajdah ayat 16

screen

Kedalaman Makna dalam Tahiyat

“Kedalaman Makna dalam Tahiyat”

Jamaah Muslim yang terhormat! Dengan menunaikan salat secara istikamah, seorang mukmin akan meraih posisi yang harusnya ia raih, yaitu di belakang Rasulullah. Persis seperti derajat beliau SAW yang naik di mikraj berkat penghambaannya. Salat menjadi momen tanya jawab, dimana Rasul bercengkerama dengan Allah SWT secara langsung. Ketika seorang mukmin menunaikan salatnya dengan istikamah demi meraih derajat yang tinggi untuk meraih kedekatan dengan Allah, maka ia harus menunaikan salat, menemui Sang Ilahi dengan penuh gairah.

Seorang mukmin hadir ke hadapan Allah dan menunaikan salat dengan hasrat untuk dapat menyaksikan JamaliyahNya. Mukmin demi meraih janji-janji Allah, ia laksanakan perintah & kewajiban kepada Rabbnya. Mukmin itu akan mendengar dan pasti mendengar kelezatan abadi dari manisnya rukun salat karena di balik itu ada pertemuan dengan Allah. Setelah itu terdapat penyaksian Jamaliyah Allah, dan ketika menunaikan tugas agung ini, ada Baginda Nabi Muhammad SAW di saf terdepan.

Barang siapa memiliki hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menemui Allah, Allah SWT menyukai pertemuan dengannya, Allah SWT senang untuk menyambutnya. Allah SWT amat sudi untuk menjamu dan memuliakannya. Allah SWT cinta untuk mengagungkan si mukmin dengan jalan merangkulnya. Akan Anda saksikan anugerah Ilahi turun sesuai jumlah langkahmu, bahkan lebih banyak berkali lipat. Anda akan saksikan rahmat Allah menghampirimu dalam salat.

Salat adalah bangkit dan duduknya hamba hingga tahiyat. Sebuah usaha dan kerja keras untuk meraih kenaikan derajat. Ungkapan dari habisnya energi diri untuk menghamba. Ada berapa jumlah energi dalam tubuhmu? Ada berapa kadar sensitivitas dalam dadamu? Ada berapa kadar kegembiraan dan kehebohan dalam jiwamu? Seberapa sadar naluri indramu? Semua itu akan digunakan untuk menuju Rabbmu, dan kemudian kamu akan duduk dalam tahiyat.

Apalagi peristiwa mikraj diabadikan dalam tahiyat. Buah perjalanan penghambaan Baginda Nabi diabadikan disana. Saat manusia memalingkan muka, langit justru tersenyum kepada Baginda Nabi. Terbukanya pintu mikraj dan penyambutanNya “Datanglah!” juga diabadikan di sana. Di tahiyat, Nabi memberikan salam kepada Allah dengan salam yang layak dengan keagunganNya. Setiap mukmin sesuai keluasan hati dan kemampuannya. Sesuai sensitivitas nalurinya, sesuai kepekaan indranya.

Setelah menunaikan salat dengan segala tanjakan dan turunannya, baik ia duduk tak bisa bangkit disebabkan membayangkan beratnya perhitungan amal, maupun duduk tenteram bebas dari apapun dalam atmosfer berhasil meraih segala macam nikmat. Biarlah ia duduk seperti yang dijelaskan oleh Kesucian Hukum dan FirmanNya. Yaitu, biarlah ia duduk di atas sofa-sofa surga,

مُّتَّكِ‍ِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ

”…sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah,”(QS: Al-Kahfi 31)

Dan seperti dijelaskan oleh Surat al Isra:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram…”(QS: Al-Isra’ 1).

Ia meraih tempat  dan posisi di hadapan Rabb. Biarlah ia duduk di kursi agung, berdiskusi dengan Rabbnya secara langsung,  sesuai keluasan kalbunya, sesuai kepekaan nalurinya. Dengan tanjakan dan turunannya, belokan dan tikungannya, dengan beban serta beratnya materi, barangkali setelah menunaikannya dalam kelapangan jiwa, akan dibacakan epos mikraj.

Tahiyat menjelaskan peristiwa mikraj. Dipahami bahwa pintu untuk hadir ke hadapan Allah SWT terkunci dan tertutup jika kita usaha sendiri. Dipahami juga, walaupun kita banyak beribadah, tanpa perantara Nabi SAW yang lebih dulu tiba, meninggalkan jejak, membuka jalan besar untuk kita, tanpa memberi salam kepadanya SAW, tanpa perantaraannya SAW, Tidak mungkin kita bisa meraih mikraj ke hadapan Allah SWT. Untuk itu, setelah mempersembahkan tahiyat, Ibadah materi dan badani, serta menghidangkan segala sesuatu khusus untukNya, lalu kita berikan salam kepada Nabi Kita SAW.

Gambaran makna dari penjelasan ini sebagai berikut.

Kita berangkat ke hadapan Ilahi dengan segala dosa, kekurangan, kesalahan, serta kealpaan kita. Masuk ke saf Baginda Nabi Muhammad SAW, fokus menyimak sabda mulianya sambil menahan lisan kita, dan berbicara manis di pertemuan manis ini, fokus pada pembahasan di dalamnya, dan berusaha memahami sabda-sabdanya. Rasulullah SAW melakukan mikraj, Salat adalah buah mikraj. Di mikraj, salat adalah hadiah Allah SWT untuk umatnya Nabi Muhammad SAW.

Di serah terima hadiah salat terjadi transaksi jual beli. Rasulullah mengirimkan salam kepada Allah SWT, Allah SWT menerima salam Baginda Nabi. Peristiwa tersebut terjadi di tempat dan kedudukan yang tak bisa dicerna dan dibayangkan oleh akal. Dan ketika peristiwa itu terjadi, sambil berlindung dan berseru untuk meminta perlindungan Nabi, Kita berusaha untuk memfokuskan diri pada suara dan kata-kata ini.

Rasulullah memberi salam kepada Allah, Allah SWT membalas salam Baginda Nabi

Ibadah yang kami lakukan dengan segenap tubuh dan sel-selnya kami persembahkan untukMu!

Segala yang kami habiskan dari harta yang kami kumpulkan semuanya untukMu, demi keridaanMU!

Semua ibadah badani dan materi kami peruntukkan untukMu, Ya Allah!

Segala sesuatu yang kulakukan dengan segala pemberianMu, dijalanMu, kulakukan untukMu!

Untuk bisa menunjukkan kesetiaan pada janjiku, aku mengirim salam di hadapanMu

Allah membalas salam tersebut:

“Duhai Nabi yang Agung! Salam juga untukmu!”

السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salam dijawab dengan salam, sebagaimana salam ‘assalamualaikum’ dari seseorang dijawab ‘wa’alaikumsalam’ oleh kawannya. Zat Uluhiyat dengan kesempurnaan hikmahNya membalas salam Nabi Muhammad SAW:

Semoga salam, rahmat, berkah, salam, dan penjagaan Allah keselamatan dari kesusahan dan kesulitan di dunia dan akhirat ketenteraman dan kebahagiaan tercurah untukmu”

Kita dan para malaikat menyaksikan dan berusaha menyimak perbincangan ini, para malaikat menambahkan suatu harmoni ke dalam simfoni manis ini. Semua permukaan langit dan bumi seakan berdering gemerincing berseru:

أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ

Kami bersaksi bahwasanya satu-satunya Zat yang layak dan mutlak disembah hanya Engkau, Ya Allah!

Engkaulah Sesembahan di langit dan di bumi, Ya Allah!

Engkaulah Pencipta dan Pemberi Makna, Ya Allah!

Engkaulah Yang Mahamelihat dan Mahamendengar, Ya Allah!

Engkaulah ahsanul khaliqin!

Kami bersaksi dengan penuh kesadaran bahwa Engkaulah Zat yang mutlak layak disembah!

وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ

Dan kembali kami bersaksi, bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah utusanMu yang agung!

Beliau telah memenuhi hak dari tugasnya, Beliau meraih kedudukan sebagai imamnya umat manusia dan juga dengan mikraj salat, membawa mereka ke hadapan Allah. Semoga Allah SWT yang Mahasuci berkenan menganugerahi kita salat dengan kesadaran ini di duduk tahiyat.

Tahiyat berasal dari impian dan harapan akhir dari Mikraj. Tahiyat ibarat pengabadian kenaikan kedudukan hamba karena penghambaanya kepada Allah. Kalbu dengan semangat ini, dengan kepekaan dari semua indra, manusia seakan fokus padanya dengan segala atributnya. Meninggalkan jasmani, berpisah dengan badani, hingga hanya tersisa ruh dan kalbunya saja ketika menunaikan penghambaan yang layak dengan keagungan Rabbnya yang Mahabesar. Semoga Allah menganugerahi kita penunaian salat dengan hawa dan atmosfer seperti ini.

Desain tanpa judul

Perpisahan Terakhir dengan Salat

“Perpisahan Terakhir dengan Salat”

Jamaah Muslim yang terhormat! Salat yang merupakan ringkasan segala ibadah, mengandung kabar gembira, keselamatan bagi kaum mukmin. Dengan hati yang penuh rasa takut dan hormat, Kita menunaikan penghambaan kita lewat salat kepada Rabb yang Maha Rahmat dan Karim. Ia mengandung kabar gembira keselamatan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Kabar gembira ini disampaikan Al Quran pada kita. Kabar Qurani untuk mereka yang hatinya penuh rasa takut dan takzim, baik di dalam maupun di luar. Dengan segala macam dosa dan kekurangannya, mereka sadari posisinya di hadapan keagungan Allah. Untuk itu, di antara ibadah-ibadah personal, tak ada ibadah yang bisa menyaingi keutamaan salat.

Salat memiliki makna menyeluruh, ia memiliki ringkasan dari segala macam ibadah lainnya. Ibadah lain wajib dikerjakan saat seseorang jadi mukalaf atasnya. Setelah mengerjakannya maka kewajiban pun gugur. Namun, kewajiban salat terus berlanjut, ia memelihara hubungan antara hamba dengan Allah. Salat memelihara ikatan antara manusia dengan Sang Rahmat. Manusia mengerjakan salat sehari 5 kali, kadang 10 kali, bahkan mereka rela meninggalkan keadaan hidup yang paling manis demi memelihara ikatan ini. Untuk itu salat sebagai kewajiban terbesar ditujukan kepada manusia yang datang dengan tugas teragung.

Baginda Nabi SAW memberikan porsi terpenting kepada salat. Ketika Al Quran menjelaskan urgensi salat dengan sangat serius, Rasulullah SAW tidak menerima sesuatu dari orang yang tidak salat. Beliau juga menghukumi bahwa tidak ada satupun darinya yang akan diterima oleh Allah. Beliau memberikan perhatian khusus terkait permasalahan ini.

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ  

Dari Abi Huraitah R.A Berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal yang seorang hamba yang pertama kali dihisab di hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya bagus, maka ia menang dan sukses. Dan jika shalatnya rusak, maka ia menyesal dan rugi. Maka jika ada yang kurang dari shalat fardunya, Tuhan Azza Wa jalla berfirman, “Lihatlah kalian, apakah hambaKu mempunyai (amal) shalat sunnah, maka itulah yang dapat menyempurnakan kekurangan fardhunya, kemudian semua amalnya (juga) seperti itu.”[1] (H.R Tirmidzi)

 .Mungkin ini sudah sering, atau ratusan kali kalian dengarkan. Beliau tidak mencukupkan diri dengan salat yang 5 waktu saja. Beliau ingin melanjutkan munajat dan pertemuan dengan Rabbnya di malam yang gelap, dan beliau berusaha melakukannya. Andai beliau sedang tidak bisa menunaikan salat malam yang dianggap wajib bagi dirinya, beliau meng-qadhanya di siang hari untuk menambal lubangnya. Tidak ada ibadah yang sudah beliau mulai kemudian diberi jeda, apalagi ditinggalkan. Kecuali untuk memberi umatnya kemudahan, maka beliau kadang meninggalkan yang kiranya bisa ditinggalkan. Kekosongan dari yang ditinggalkan itupun diganti berkali lipat dengan ibadah di malam hari. Beliau hidup dengan semangat dan kesadaran ini. Beliau  selalu merentangkan sayap dan berusaha terbang naik menuju Allah.Tak mungkin saat wafat beliau memikirkan hal lain.

Mari kita pelajari menit-menit akhir kehidupan mulianya dari Sayyidah Aisyah ra. Pintu rumah mulianya terbuka ke arah pintu masjid. Beliau memikirkan satu kaki di rumah, di dalam keluarga, satu kakinya lagi di masjid. Ketika beliau memasuki masjid untuk itikaf, terkadang beliau mengulurkan kepala atau kakinya ke dalam rumah. Seakan tubuh mulianya dibagi dua, separuh di rumah, separuhnya lagi di masjid yang penuh berkah. Ketika berangkat kerja beliau melewati masjid. Beliau salat lalu pergi Sebelum masuk rumah beliau mampir ke masjid. Salat, kemudian baru masuk ke rumah. Baginya salat menjadi sebuah jalan, sedangkan masjid menjadi tempat beliau mampir. Tempat melejit baginya adalah derajat antara Pencipta dan yang dicipta. Beliau maju di atas jalan ini tanpa henti. Beliau SAW  melewati menit-menit akhirnya dengan semangat atau impiannya tersebut, yaitu salat.

Para sahabat tidak ingin menunaikan salat tanpa kehadiran Beliau SAW. Setiap sahabat mendenyutkan harapan ini di hatinya, Allah menerima ibadah setiap hamba tanpa perlu perantara. Akan tetapi, salat di belakang Sang Pembimbing Kamil adalah suatu kebahagiaan luar biasa. Saat bertawajuh pada Mihrab Abadi SWT, seakan kita berlindung di belakang Rasul SAW, seakan kita menyuguhkan ibadah lewat bimbingan dan naungannya SAW. Tanpanya, kita tak akan mampu merasakan. Apa yang kita dengar saat beliau ada di sisi kita tak akan bisa kita dengar saat dirinya tak ada. Saat itu, waktu salat telah masuk, dan hampir habis. Para sahabat tetap tidak mau menunaikan salat tanpanya. Sahabat selalu melihat Rasul di depan mereka, dan mereka terbiasa salat di belakang Sang Rasul.

Harmoni sedih kadang berlalu-lalang, mereka seakan kehilangan kesadaran dan segera bersujud. Untuk itu mereka tidak ingin berpisah dari Sang Nabi SAW. Beliau pun berpikir untuk mengimami mereka salat. Akan tetapi, rasa sakit yang dahsyat membuatnya lelah dan tak sanggup untuk datang ke masjid. Demam tinggi betul-betul melingkupinya. Ia tidak membiarkan Sang Nabi untuk menapakkan langkahnya.

Di Sahih Bukhari, Sayyidah Aisyah:”Saat Nabi sedikit sadar, beliau langsung berseru:’Salat!’ “

“Tolong siramkan air seember agar aku dapat sadarkan diri”

“Kepala beliau lalu kita siram. Beliau sedikit sadar dan bangkit, tetapi akhirnya beliau pingsan lagi”

Para sahabat menunggu imam di masjid, sedang imam menunggu waktu ia mampu bangkit ke masjid. Walaupun seperti itu, itu adalah kebangkitan dan pingsannya yang terakhir. Beliau tidak akan bisa mengimami dan sujud bersama jamaahnya lagi. Beliau sedang di menit akhir kehidupannya.

“Tolong siramkan lagi air seember!” sabdanya.

Ember demi ember air menumpahi kepala mulianya. Para sahabat pun menumpahkan air matanya ember demi ember. Imam tidak datang, tidak datang, tidak datang. Jamaah merindukan kehadiran imam. Imam pun menahan nyeri demi salat berjamaah. Demikianlah potret jamaah dan imamnya. Kita mengetahui dan mengenal jamaah dan imam yang seperti itu. Semoga Allah menganugerahi kita makna salat seperti itu walau hanya sebesar zarah.

Hari terakhir, hembusan ajal sudah mengelusnya. Takdir langkah demi langkah mendekatinya, sangkakala bagi beliau mulai terdengar. Semua tanda-tanda kiamat kecil bagi Rasulullah mulai muncul. Jamaah masih menanti. Saat tirai diangkat, wajah-wajah pun tersenyum. Karena terangkat, mereka pikir imam akan datang, sehingga mereka pun mulai gembira. Beliau mengangkat tirai kamarnya. Telah dikatakan kepada beliau bahwa waktu kembali telah tiba. Para penghuni langit telah menunggunya dengan segala sambutan perhiasannya. Kini giliranmu memberi kemuliaan kepada langit. Duhai manusia bumi & langit, bumi telah cukup.

“Waktumu telah tiba!”

Nuraninya mendengar seruan ini. Beliau mengangkat tirainya, dilihatnya keadaan jamaah amat sempurna. Di mimbar ada Abu Bakar sebagai imam yang mulia. Ia mengangkat tangan untuk takbir dan mengimami salat.Rasulullah bergumam: “Jamaah ini bisa mengatasi segala permasalahan.” Beliau tersenyum seperti mawar yang merekah. Beliau menurunkan tirai dan tak ada yang bisa melihat wajah indahnya lagi.Hanya Abu Bakar yang dapat melihatnya, beberapa jam setelah kembali dari desanya, Sunh. Itupun ketika mengangkat penutup jasad mulianya. “Ya Rasulullah, engkau indah saat hidup maupun saat wafat!” dan mencium kening mulianya.

Rasulullah di akhir kehidupannya pun merasakan semangat salat. Beliau saat hidup mengatakan “Salat! Salat!” Di akhir hidupnya, Beliau minta disiram air dan kembali menyeru salat saat sadar. Ketika beliau pulang ke Rabbnya pun berseru, “Salat…! Salat…!”

Sayyidina Umar dadanya ditusuk belati, beliau  meregang nyawa. Lalu suara azan terdengar dari menara. Diserukan “Salat, wahai Amirul mukminin!!”

“Inilah aku  sudah sadarkan diri!” jawabnya.

Beliau berdiri dengan susah payah. Setiap bergerak, darah keluar darinya, membuatnya tak mampu lagi menggerakkan bibirnya. Dengan bibirnya yang pucat, beliau berseru dengan semangat “Salat…!” Sambil menggeliat ia berseru “Salat…!” Beliau menggeliat seakan bisa bangkit, padahal ia tak mampu.Sayyidina Umar juga menyerahkan ruhnya kepada Allah sambil berseru: “Salat…!” Belati menusuk dada Sayyidina Umar pun ketika beliau sedang salat. Pecinta salat, menemui takdirnya juga di saat salat. Sayyidina Umar ketika meletakkan wajahnya, yaitu di waktu yang terdekat dengan Tuhannya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Dari Abi Hurairah R.A, Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. Bersabda: “Waktu paling dekat dengan Tuhan adalah saat bersujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya” (H.R Muslim)

Ketika bibirnya dihiasi oleh senyum ini, dadanya ditusuk belati. Mungkin saja saat segala sebab diam membisu, ia berteriak: “Ya Allah!” Siapa yang tahu teriakan ini terdengar dan memantul di langit serta alam lahut, kita tak bisa membayangkannya. Ia pun berseru:”Salat!” lalu masuk ke majelis, berseru, “Salat!” dan menjalankan hidup. Ia juga masuk ke hadapan Ilahi dengan berseru: “Salat!”

Siapa pun yang berseru “Salat..!”, kalian akan menemukan profil yang sama. Salat bukanlah sebuah beban yang hendak kita singkirkan dari diri dan bahu kita. Salat adalah ungkapan kedekatan dengan Tuhan. Tak ada hal yang lebih manis selain mendekatkan diri kepada Tuhan lewat sujud secara tersembunyi. Sujud secara tersembunyi, di lokasi dimana tak ada orang yang melihat. Ketika dadamu menggeliat, ketika kalbumu telah mengenal Allah, maka seperti itulah kedekatanmu dengan Allah saat sujud. Saat Anda dekat dengan Allah, setan akan berteriak dan menjauhkan diri.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إذا قرأ ابن آدم السجدة فسجد اعتزل الشيطان يبكي يقول : يا ويلي ، أمر ابن آدم بالسجود فسجد فله الجنة ، وأمرت بالسجود فأبيت فلي النار  

Rasulullah SAW bersabda: “Saat seorang mukmin membaca ayat Sajdah dan mendekatkan diri kepada Rabb dengan bersujud, setan akan melarikan diri sambil berteriak histeris” Manusia diperintahkan sujud dan mereka pun sujud sehingga menjadi ahli surga. Mereka meraih rida Sang Rabb. Sebelumnya saya diwajibkan tetapi mengingkarinya. Akibatnya saya ditakdirkan sebagai penghuni neraka.[2] Mereka akan berteriak, menangis, dan menjauhkan diri

Wahai Mukmin! Janganlah kalian tinggalkan salat yang dapat mendekatkan diri kalian dengan Rabb. Berilah keutamaan kepada sujud. Sebenarnya tidak ada sunah dan mustahab seperti ini. Tetapi carilah alasan untuk bersujud dan menyungkurkan kepala di hadapan keagungan Ilahi, untuk menjelaskan keadaanmu.

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang memahami perasaan ini.”

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang mendengarkan jeritanku ini.”

“Dengarkanlah Ya Rabb! Tak ada yang mampu menjawab permasalahanku.”

Bukalah kalbumu kepada Tuhanmu!

“Rabbi, tak ada yang bisa mengampuniku selain diriMu, Aku telah menzalimi diriku, mengotori dahiku.

 Tanpa melihat kecilnya diriku, aku telah berbuat dosa besar.

Maka aku masuk dalam keagunganMu, kuremukkan rasa banggaku, Kuletakkan kepalaku di tanah dan kumohon ampunanMu.

Aku tak tahu pintu yang lain. Andai ada, aku akan meletakkan kepalaku di depannya. Andai ada, aku akan bersujud padanya.

Padahal Engkau Maha Menyaksikan dan Mengetahuinya Walau saya pendosa, aku tak pergi ke selainMu untuk meletakkan kepala dan memohon ampun.

Aku tak pernah mengetuk pintu yang lain, demikian juga aku tak sujud dan rukuk kepada selainMu

Andai ada yang mencampuri urusanku, aku berusaha tak memalingkan sujudku kepada selainMU

Ketika setan berteriak dan melarikan diri, Aku mendengar seruan “Fa firra ilallah” dan aku mentaatinya

Aku pun berlari menujuMu, aku berlindung kepadaMu

Semoga dengan keberangkatan, perjalanan, mikraj, dan kenaikan menuju Allah ini

Semoga dengan salat, Allah perdengarkan kalimat suciNya kepada hati nurani kita. Semoga Allah mengenyangkan hati kita dengan semangat ibadah. Semoga mereka yang asing dari ketaatan beribadah, dan yang menunaikannya secara formalitas, Allah beri kesadaran agar menemukan makna sejati salat.

Aamiin!

[1] (Al-Jami’ Al-Kabir At-Tirmidzi Juz 1 Hadis Nomor 413)

[2] Shahih Ibn Huzaymah cetakan AL-Maktab Al-Islamy 1424 H. Juz 1 Halaman 303