Untitled design

Sudah Benarkah Salatmu?

“Sudah Benarkah Salatmu?”

Jamaah Muslim yang terhormat! Penunaian salat dengan penuh kesadaran akan membantu menata kehidupan kita jadi lebih teratur. Ia akan membawa keseimbangan dan keteraturan bagi hati kita yang berantakan. Ia akan membangkitkan rasa maknawi kita yang tadinya luluh lantak. Ia akan menerangi bagian hidup kita yang suram. Berkat salat, kita akan meraih penglihatan, pemikiran, dan pembicaraan yang benar. Semuanya berkat salat yang ditunaikan dengan penuh kesadaran. Semuanya berkat kedatangan kita ke hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan hidup kita.

Kemudahan mengatur diri akan tercapai berkat terjaganya kekuatan hubungan dengan Rabb kita. Berkat anugerah Allah, kita meraih keseimbangan dan keteraturan jiwa serta kebenaran dalam berpikir. Kita akan meraih harmoni baik dalam kehidupan materi maupun maknawi. Salat mengandung dan mengikat makna-makna tadi. Semoga Allah merahmati mereka yang menunaikan salat tetapi jauh dari makna-makna ini, berkenan memberi mereka ampunan-Nya. Kepada mereka yang kalbunya mati semoga diberi kehidupan, cahaya, dan nyawa.

Sayyidah Aisyah ra: “Ketika salat, kami mendengar seperti ada suara beban berputar dari dada Nabi. Ketika salat, kami mendengar dari dada nabi seperti ada suara air mendidih.”

Saat menghadap Tuhannya beliau bagai tungku yang mengepul, lalu kepulan keagungan muncul darinya.

Sayyidah Aisyah: Suatu malam Rasulullah berkata ‘Wahai Aisyah! Jika engkau mengizinkan, aku ingin beribadah kepada Rabbku.”

Pernyataan tersebut adalah ungkapan kesopanan dan kehalusan yang telah mencapai level puncak.

“Wahai Aisyah! Jika engkau mengizinkan, aku ingin beribadah kepada Rabbku.”

Di tengah malam, Nabinya para Nabi ingin menjauhi peraduannya. Beliau meminta izin dari istrinya: “Jika engkau izinkan, kuingin meletakkan wajahku di tanah untuk menghamba kepada Rabbku.”

“Ya Rasulullah! Dibanding hal lainnya, aku lebih ingin jika engkau ada di sampingku. Tetapi, aku juga menyukai jika engkau beribadah kepada Rabbmu. Lakukanlah apa yang engkau sukai!”

Beliau bangun di malam yang gelap. Beliau bersedekap di hadapan Rabbnya. Aku tidak bisa mengetahui berapa lama beliau berdiri dan ruku. Yang kuketahui adalah ketika beliau berdiri, beliau membuat dadanya basah oleh air matanya. Sajadahnya yang basah ketika beliau bersujud. Pakaiannya yang basah ketika beliau duduk bersimpuh. Beliau beribadah dengan keadaan demikian hingga masuk waktu subuh. Setiap hari beliau beribadah, tetapi di hari itu beliau beribadah tanpa jeda. Begitu fokusnya beliau dalam beribadah, seakan tidak melihat dan tidak mendengar sekelilingnya. Apa yang harusnya dilihat dan didengar pun menjadi fana, tenggelam di dalam mahabah ilahi.

Saat Sayyidina Bilal berseru “as Salah!” di depan pintu, Nabi masih tenggelam dalam mahabahNya.

“Ya Rasulallah, apa yang terjadi? Mengapa Anda tenggelam dalam tangis dan keprihatinan yang amat dalam?”

“Sebuah ayat telah turun”

الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau terbaring. Mereka mentafakuri penciptaan langit dan bumi.”[1]

Makna ini yang dijelaskan di awal (QS 3:190)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”

Tetapi pada ayat kedua, Rasulullah mengerjakan persis seperti apa yang diharapkan darinya. Merekalah orang-orang yang bertafakur, dan sadar terhadap tujuan hidupnya. Merekalah sosok yang berlari ke ufuk ideal yang dirajut Tuhan pada dirinya. Merekalah sosok yang terengah-engah untuk meraih rida dari Rabbnya.

“Mereka mengingat Allah sambil berdiri”

Rasulullah mengingat Rabbnya ketika berdiri, beliau menumpahkan air matanya. “Mereka duduk…,” beliau pun duduk mengingat Tuhannya dan menumpahkan air matanya. Mereka mengingat Tuhannya dalam keadaan berbaring ataupun  dalam keadaan sujud. Beliau letakkan kepalanya di tanah.

“Keadaan terdekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud.” Beliau pun menjalankan sesuai dengannya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan dari Rasulullah SAW bersabda: “Keadaan terdekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya.”[2]

Mungkin menit demi menit terlalui. Wajah mulia Rasulullah tersungkur di atas tanah. “Allah! Allah! Aku tidak menyekutukanMu dengan suatu apapun. Ya Allah, aku telah menzalimi diriku sendiri! Ampunilah aku!” Maha Suci Engkau, betapa agung perbuatanMu. Mahasuci, Maha Quddus, Rabbnya para malaikat dan ruh Menzikirkan kalimat:

Maha Suci Rabbku Yang Mahatinggi,

Penguasa Yang Mahaagung, Pemilik Kerajaan,

Penguasa Kesombongan dan alam jabarut

Dengan mengingat Rabb

dengan segala keagunganNya

akan menghasilkan  kekhidmatan dan kedahsyatan di dalam diri

Beliau menangis ketika berdiri, duduk, rukuk, demikian juga saat sujud. “Malam ini ayat itu turun. Betapa ruginya mereka yang membaca tetapi tidak mentafakuri ayat tersebut. Betapa ruginya mereka yang membaca tetapi tidak meraih getaran jiwa di dalam dirinya.” Rasul dengan takut dan hormat datang ke hadapan Rabbnya. Beliau berusaha memenuhi adab hamba di depan Tuhannya. Beliau tak lupa posisi dirinya sebagai hamba walau hanya sesaat. Beliau beribadah seperti seharusnya seorang hamba lakukan pada Rabbnya.

Memang seorang manusia saat memenuhi kewajibannya di hadapan Tuhan, tak mungkin ia memikirkan hal lain. Jika ia memikirkan hal lain, berarti dia tidak berada di hadapan Tuhan. Penjelasannya seperti ini:

Manusia jika tidak sedang di hadapan Tuhan bersama kalbunya, ia pasti sedang berada di alam lainnya. Jika ia datang ke hadapan Tuhan bersama kalbunya, artinya ia berpaling dari hal lain, karena ia sedang terbakar cinta Ilahi. Jika hatinya tak terbakar, berarti hatinya tidak hadir di hadapan Tuhannya. Kalbu di lembah yang satu, sedangkan jasad di lembah lainnya. Apa yang Allah ciptakan utuh, dibaginya jadi dua. Tanpa sadar, ia melakukan syirik khafi. Tanpa kesadaran, ia datang ke hadapan Tuhannya.

Sahabat bercerita kepada kita. Sahabat menceritakan Abbad bin Bisyri kepada kita. Mereka menceritakan bahwa ia tidak pernah terlihat menguap ketika menunaikan salat. Itulah salat yang dimaksud. Mereka tak pernah melihatnya menguap karena ia betul-betul sedang di hadapan Allah. Ketika Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud menceritakan peristiwa ini. Mereka tak memberi nama, tetapi penulis maghazi memberi tahu siapa nama sahabat itu. Ammar ra adalah Muhajir utama dari yang terutama.

Abbad bin Bisyr pun demikian dari kalangan Ansar. Abbad adalah salah satu murid dari Mus’ab. Di Aqabah, Mus’ab berkata:”Ya Rasulallah! Engkau telah memberiku tugas. Aku pergi ke Madinah. Aku jelaskan agama ini sesuai arahanmu. Aku ke Aqabah bersama mereka yang mengimanimu. Mereka mau ulurkan tangan untuk baiat.”

Abbad bin Bisyr juga hadir dalam kumpulan orang ini. Ia adalah salah satu syahid Yamamah. Dengan pedang dan perisainya, Ia adalah salah satu orang yang menjadi korban si nabi palsu. Ia adalah salah satu yang berteriak “Ansar!” di perbukitan. Lalu, Abbad bin Bisyr pun jadi korban dari angin topan mengerikan itu. Bani Mustalik sedang kembali dari perjalanannya. Rasul SAW menugaskan dua sahabat terpercaya sebagai petugas piket. Petugas piket di tempat tugasnya membagi peran di waktu malam, “Ketika satunya istirahat, satu lagi berjaga.”

Abbad berkata: Saya berkata kepada sahabatku Ammar bin Yasir “Kamu istirahat saja dulu, biar saya yang berjaga. Nanti gantian.” Ketika ia beristirahat, setelah mengecek sekeliling dan merasa aman dari musuh, saya menunaikan salat. Aku membaca surat al Kahfi. Aku tenggelam di dalamnya. Ternyata disitu ada pasukan kafir yang mengetahui pos jaga kita. Ia mendekat hingga masuk jangkauan anak panah. Ketika aku tenggelam dalam syahdunya bacaan Surat al Kahfi, tiba-tiba anak panah menusuk tubuhku. Pikirku, apakah kutangani panah, kubangunkan Ammar, atau kulanjutkan bacaanku? Kucabut panah dan kulanjutkan bacaanku. Aku membaca surat al Kahfi. Aku tenggelam dalam kesyahduan salat yang panjang. Aku rukuk, ketika i’tidal satu anak panah lagi menusuk tubuhku. Kucabut ia agar tidak merusak salatku. Sekali lagi aku tenggelam dalam rukuk. Ketika akan sujud, entah darahku yang membangunkannya ataukah gerakanku. Ketika Ammar membuka mata, ia melihat posisiku yang akan jatuh.

“Demi Allah, mengapa engkau tidak membangunkanku?”

“Wallahi, demikian dalamnya aku tenggelam dalam kesyahduan Al Quran, aku tidak ingin merusaknya. Aku tidak ingin merusak ketenteraman di hadapan Allah SWT.” Ammar membuat serangan balasan hingga pasukan kaum kafir itu pun kabur.

Seorang mukmin ketika mendirikan salat ia melupakan keadaan sekelilingnya. Aku tidak mengenal diriku seperti itu. Apakah dia itu aku atau aku itu dia? Apakah dia adalah kamu, ataukah kamu adalah dia? Itulah ambiguitas dan kesamaran dari hakikat ini. Penunaian salat seperti inilah yang akan menemukan makna sejatinya. Menghapuskan diri. Disitu hanya menyendiri bersama Tuhan, mengeluarkan dunia dan segala sesuatunya dari dalam kalbu. Berusaha keras untuk bisa menunaikan salat seperti ini walau hanya sekali.

Dalam ungkapan yang dikaitkan kepada Baginda Nabi dikatakan “Salatlah kamu seakan ini salat terakhirmu!”[3] Jaga-jaga, mungkin nanti tak bisa lagi, coba kusempurnakan salatku sebagai hadiah untuk Tuhanku. Andai ungkapan itu betul dari Rasulullah, maka itu adalah nasihat yang amat besar dan menyeluruh. Salatlah kamu seakan ini salat terakhirmu! Tunaikanlah salat jumat ini seakan ia salat perpisahan. Anda tidak memiliki garansi bisa hidup berapa lama lagi. Bisa jadi ini adalah salat terakhirmu. Salatlah dengan motivasi seperti ini di setiap salatmu.

Tunggulah waktu salat keduamu dengan atmosfir motivasi seperti ini, bersiaplah. Salat memberi rasa takut, ketenteraman, dan penghormatan yang demikian. Semoga Allah memberi keberhasilan pada kita untuk menunaikan salat seperti ini insya Allah. Semoga kita selalu ada di jalanNya ini, dan anugerahi kita untuk bisa menuaikan salat demi meraih kemenangan.

[1]. QS Al Imran: 191

[2]. HR.MUSLIM

[3]. Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401)

luka-vovk-1311079-unsplash

SAAT SALJU MULAI MENCAIR

Para pembaca sekalian, Allah SWT membangun alam semesta untuk memperkenalkan dirinya kepada kita. Allah SWT telah menjadikan makhluk berakal dan tak berakal untuk berzikir dan memuji nama agung-Nya. Keteraturan, harmoni, dan alam semesta membicarakan keagungan Allah SWT. Karena manusia adalah makhluk yang berakal, maka ia berkewajiban untuk menjadi penerjemah keagungan-Nya.

Sebagai mahkluk yang memiliki kemampuan berbicara, manusia diciptakan untuk menceritakan keagungan nama Allah SWT. Manusia adalah makhluk istimewa yang mengandung intisari segala ciptaan. Allah SWT ingin memperkenalkan diri-Nya melalui keteraturan megah dan tatanan harmonis spektakuler yang diciptakan-Nya. Allah ingin memperkenalkan diri lewat kesempurnaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu manusia, serta lewat Al Qur’an-Nya dan melalui lisan mulia Rasul-Nya.

Saat waktu itu tiba, yaitu saat salju mulai mencair, mulai bermunculan orang-orang yang mengenal-Nya. Seperti pengikut Nabi Adam, pengikut Nabi Nuh, serta ratusan pengikut nabi-nabi lainnya. Pengikut dan umat Nabi Muhammad SAW dimana para nabi pun menjadi pengikutnya SAW bagaikan salju yang mencair, mereka seperti sungai yang mengalir deras menuju hak dan hakikat. Ketika diserukan kepada mereka, “Allah!”, mereka pun berseru: “Allah”. Begitu juga ketika diminta untuk mengucapkan, “La ilaha illallah”, mereka pun mengucapkannya, “La ilaha illallah”.

Namun, salju mencair di musim semi, burung bulbul pun berkicau di musim semi. Waktu digemakannya kalimat tauhid “La ilaha illallah” pun akan terjadi saat musim semi tiba. Benih akan ditaburkan dan tunas akan berkecambah. Musim semi  tiba selangkah demi selangkah, saat itulah anda mendengar ribuan “La ilaha illallah” di tiap lembah. Era yang mengingatkan pada era kebahagiaan, adegan yang serupa dengan adegan ketika orang-orang di sekitar Nabi Muhammad mulai mencair hatinya. Anda akan melihat, mungkin itu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup.

Saat itu, anda akan melihat ratusan ribu tangan diangkat untuk memanjatkan doa dan mengemis asa sembari meggemakan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah…”. Seandainya saya bisa mengintip dari lubang kecil peristiwa agung nan manis tersebut, sungguh saya akan merasa teramat senang seolah-olah saya berada di surga. Peristiwa manis saat kalimat suci “La ilaha illallah”  bergema di setiap lembah.

Era Nabi Muhammad adalah era kesabaran dan berlapang dada menghadapi ujian. Era dimana terjadi ribuan kesulitan, era dimana nyawa dipertaruhkan demi hidupnya Islam. Mereka terus bertahan, kesabaran pun melewati batasnya dan berada di atas level yang diperkirakan. Akhirnya, musim semi itu pun tiba, semua lembah Makkah dipenuhi orang-orang yang menggemakan kalimat “La ilaha illallah”. Betapa banyak tokoh yang tidak diperkirakan kemudian luluh hatinya kepada Islam. Apa rahasianya? Tak ada satu pun yang tahu. Tetapi, peristiwa ini menjelaskan banyak hal untuk kalimat tauhid .

Peristiwa ini juga menjelaskan urgensi kalimat tauhid di muka bumi. Hakikat peristiwa ini memiliki nilai amat penting di hadapan Allah. Apa arti peristiwa ini di masa depan, saya serahkan kepada alam pikir para pembaca sekalian di masa depan. Perang Badar telah dimenangkan, kaum kafir tak lagi bisa menyombongkan diri. Islam pun sudah mulai bisa berjalan seperti mesin yang berfungsi dengan harmonis. Orang-orang kafir marah dan ingin membalas dendam karena mereka telah dipermalukan.

Safwan bin Umayyah bin Khalaf, yang akan masuk Islam setelah Pertempuran Hunain, menahan kemarahannya kepada Nabi Muhammad SAW. Umair ibn Wahb pun tidak kalah marahnya, dia adalah sepupu Safwan, mereka siap berbuat keburukan apapun untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW. Setelah Badar usai, mereka duduk dan berbicara dengan hati yang sedih dan penuh duka. Sedangkan di Madinah, para sahabat merayakan kemenangan dengan hati gembira dan ungkapan-ungkapan manis. Mereka berdoa semoga Allah berkenan menganugerahi kembali nikmat-nikmat yang seperti ini.

Rekan-rekan Umair serta Safwan ibn Umayyah menceritakan kesedihan-kesedihannya pasca Perang Badar, putra Amr ibn Wahb ditawan, sedangkan ayah Safwan terbunuh dalam pertempuran Badar. Keduanya menahan dada penuh dendam di masa jahiliyah,  Umair ibn Wahb dijuluki sebagai iblisnya kaum Quraisy, dialah setan dari kaum Quraisy. Tetapi perhatikanlah, saat takdir berkehendak, iblisnya Quraisy pun menjadi penolong Sang Nabi SAW. Ia berbicara dengan Safwan dan merencanakan rencana mereka; dia akan pergi ke Madinah untuk menengok putranya, ia berencana mendekati Nabi dengan dalih untuk menebus putranya. Jika berhasil, ia akan membunuh Nabi Muhammad dengan pedang yang telah dilumuri dengan racun.

Dengannya ia akan membalaskan dendam semua orang Quraisy, dia pergi ke Madinah dengan niat itu. Ketika ia mengikat untanya di depan Masjid, Umar ibn al-Khattab melihat orang berjulukan setan Quraisy ini. “Berlindunglah ke masjid sebelum sosok buas ini masuk!” serunya kepada para sahabat. Dia akan menyakiti Nabi, ada tanda-tanda pedang di balik pakaiannya. Betapa dahsyatnya kepekaan, kehati-hatian, dan kewaspadaannya! Orang berjiwa buas itu masuk, tetapi Umar sudah masuk sebelum dia masuk. “Ya Rasulullah, seseorang yang buas akan datang ke sini, semoga dia tidak menyakitimu!”, kata Umar kepada baginda Nabi. Nabi tersenyum dan berkata, “Tinggalkan aku bersamanya, wahai Umar! Biarkan dia masuk!”.

Umair ibn Wahb mendekati Nabi, kemudian Nabi pun bertanya, “Umair, kenapa kamu kemari?”. “Aku datang ke sini untuk membayar uang tebusan dan menjemput putraku.”, jawab Umair. Percakapan antara Nabi dan Umair pun berlanjut:

 

Nabi       : “Katakan padaku alasan sebenarnya! Kenapa kamu datang ke sini?”

Ketika Umair terus berbicara tanpa menyatakan alasan sebenarnya, Nabi Muhammad pun berkata,

Nabi      : “Jika kamu mau, saya dapat memberitahumu! Anda berdiskusi dengan Safwan ibn Umayyah di pinggir Ka’bah. Rencanamu adalah datang kemari sambil menyuguhkan alasan ingin menebus putramu, lalu membunuhku dengan pedang yang telah kau rendam dengan racun selama berhari-hari.”

Rasulullah belum selesai berbicara, tetapi setannya Quraisy ini tiba-tiba bangkit terkaget-kaget, kemudian berkata,

Umair   : “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Apakah anda mengizinkan ya Rasulullah jika saya tinggal bersamamu? Izinkan saya menggunakan pedang tajam ini di jalan Allah!”

Nabi       : “Pelajarilah Al Qur’an!”

Ia pun mempelajari Al-Qur’an di Masjid Nabawi. Setannya Quraisy menjadi murid Sang Nabi,  ia mengambil tempat di samping Umar. Akhirnya dia mempelajari Al-Qur’an sebanyak yang dia bisa. Sementara itu di Makkah, Safwan berjalan mondar-mandir, ia menyusuri jalanan Makkah sambil menunggu kejadian luar biasa yang akan terjadi di Madinah. Berita yang akan datang itu penting baginya, bagi orang-orang Makkah dan bagi sejarah. Ia menantikan kabar kematian Sang Nabi, dia menanyakan setiap kafilah yang lewat, tetapi berita yang dinanti tak kunjung datang. Apa yang dia harapkan tidak terjadi.

“Ada apa di Madinah? Apakah ada berita?”, pada suatu hari dia bertanya pada seorang pria. Dia menjadi sangat bersemangat dan lega ketika pria itu berkata “Ada berita besar ini!”. Dia berpikir bahwa peristiwa yang akan membuat Quraisy sangat senang telah terjadi. “Bagaimana itu bisa terjadi? Bisakah kamu memberitahuku kejadian hebat itu?”,  “Ya, coba saya jelaskan!” jawab si pria.

Umair ibn Wahb mengunjungi Nabi, kemudian ia meninggalkannya seperti bola salju yang berpisah dari gunung esnya. Setelah mendengarkan sabda Sang Nabi, hatinya mencair dan berubah menjadi air terjun. “Ketika dia kembali, anda akan berada dalam kesulitan! Itulah kejadiannya.” kata pria tadi kepada Safwan. Dia pun bagai disambar petir di siang bolong, berita yang didengarnya tidak sesuai dengan harapannya. Sementara itu, kalbu Umair ibn Wahb begitu penuh. Ia tak tahan hanya berdiam diri di Madinah, seseorang yang tadi hatinya penuh dendam kini berubah menjadi tambang emas yang amat berharga, ia ingin menunaikan kewajibannya. “Jika anda izinkan, saya ingin kembali ke Makkah dan menuntaskan tugas dari pedang ini.”

Sang Nabi mengetahui reputasi Umair. Beliau tahu takkan ada orang yang sanggup melawannya. Umair ibn Wahb adalah seorang yang pemberani mengingat namanya berarti Umar kecil, akhirnya Nabi mengizinkannya. Safwan adalah orang yang paling pertama bertemu dengan Umair ketika dia tiba di Makkah sepulangnya dari Madinah. Safwan tidak mampu berkata dan bertanya apapun kepadanya. Dia menantang masyarakat Makkah, dia akan menunaikan tugas pedangnya sama seperti yang Umar lakukan ketika dia meninggalkan Makkah. Dia juga menjelaskan agama kepada orang-orang, dia menyampaikan keterikatan dirinya dengan kalimat “La ilaha illallah.”

Setelah satu atau dua tahun kemudian, dia kembali ke Makkah bersama kumpulan orang yang mengikutinya. Di sisi lain, Safwan masih bertahan, dia seperti es batu yang tidak akan pernah mencair dan tetap membeku. Makkah ditaklukkan, banyak hati pun turut takluk, tetapi Safwan masih menolak panggilan itu. Dia menyiapkan barang-barangnya dan menata diatas untanya. Dia memutuskan untuk melarikan diri dan menghilang di negeri yang jauh. Hati Umair ibn Wahb terasa sedih karena sepupunya belum beriman, dia menemui Nabi dan berkata,

Umair    : “Ya Rasulullah, Safwan adalah orang yang memiliki kebanggaan diri”.

Nabi       : “Mungkin ia memiliki egoisme. Tolong beri tahu dia bahwa dia aman di negeri ini.”

Umair    : “Saya percaya bahwa dia akan sangat berarti bagi Islam. ”

Nabi       : “Dia benar-benar aman untuk tinggal di sini.”

Umair    : “Tapi dia tidak akan tahu keputusanmu, bagaimana dia tahu?”

Nabi       : “Apa lagi yang bisa saya lakukan?”, tanya Nabi.

Umair       : “Semua orang melihat sorban hitam di kepala anda yang anda kenakan saat memasuki Makkah.  Jika anda berkenan, tolong berikan kepada saya, akan saya bawa kepadanya. Itu merupakan tanda bahwa anda membolehkannya tinggal di sini.”

Setelah itu dia mengambil sorban Nabi dan memakainya. Dia berbicara dengan Safwan, menjelaskan situasinya dan meyakinkannya untuk mengunjungi Nabi. Safwan pun akhirnya menemui Nabi SAW, dia sangat malu dan selalu menatap ke bawah, tidak bisa melihat ke wajah Nabi.

Safwan    : “Ya Rasulullah, dia mengatakan bahwa anda mengizinkan aku tinggal di sini, apa itu benar?”

Nabi          : “Ya itu benar.”

Safwan    : “Ya Rasulullah, aku menerima bahwa apa yang anda bawa dan katakan itu benar, tapi beri aku waktu dua bulan, jadi aku bisa berpikir.”

Nabi          : “Aku memberimu empat bulan!”, Nabi tersenyum karena beliau bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nabi bisa melihat bagaimana Safwan nanti bertempur dalam Perang Yarmuk di perbatasan Roma. Nabi bisa melihat bagaimana putra bangsawan Quraisy bertempur sebagai prajurit biasa tanpa mengharap posisi komandan. Dia tersenyum dan berkata, “Kamu ingin dua bulan tapi ini empat bulan untukmu, ambillah!”. Ketika dia melihat kebaikan dan kemurahan hati Nabi, beberapa hari kemudian dia mendekati Sang Nabi dan mengucapkan kata-kata yang membuat Umair menangis, “Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, saya bersaksi, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”. Safwan bin Umayyah membuka dadanya, menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta Mutlak yang berhak disembah.

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ  * وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, 110: 1-2). Kini yang masuk bukan satu per satu lagi, melainkan berbondong-bondong. Laju orang yang menerima agama ini kini berlipatganda seperti deret geometrik, lebih dalam, lebih luas, lebih berdimensi. Kata-kata “La ilaha illallah” pun kini bisa didengar di setiap lembah. Kita sekarang dalam keadaan gembira di lingkaran atmosfer majelis Sang Nabi. Pujian hanya kepada Allah karena menunjukkan jalan Sang Mawar saat kita berada dalam kubangan lumpur. Pujian hanya bagi Allah yang telah memberikan awan rahmat saat topan kekufuran menyelimuti kami. Pujian bagi Allah yang menunjukkan manifestasi kebangkitan saat bunga dan pepohonan tercabut bersama akarnya. Berbagai peristiwa telah kita hadapi, bibir terkulai karena putus asa, hati penuh luka.

Kini hati penuh dengan harapan, setelah wajah-wajah penuh hakikat yang mengingatkan Eranya Sang Nabi mulai terlihat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan dimana memori-memori indah itu akan kembali muncul. Semoga Allah membimbing generasi kita ke jalan yang benar. Semoga Dia memberkati kita, hamba-Nya yang lemah, dengan keberanian dan keamanan dalam perjuangan besar ini. Semoga Dia membuat kita termasuk orang-orang yang tunduk pada kalimat tauhid. Jika kita bersandar padanya, kita dapat menunaikan tugas dan membuat zaman ini bekerja membantu kita. Jika kita mengandalkan diri sendiri, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Semoga Allah tidak membiarkan diri kita sendirian dengan nafsu kita, walau hanya sekejap mata.

 

oase air wudu

OASE AIR WUDU

Para pembaca yang terhormat, ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat. Kunci untuk membuka pintu ibadah shalat adalah persiapan ruhani serta persiapan jasmani, yaitu dengan berwudu. Mengambil wudu merupakan penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya, dan mengembangkan sisi kemalaikatan.

Berwudu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana tersebut memiliki penjelasan secara ilmiah, demikian juga dengan wudu, ia membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siap menerima berbagai anugerah Ilahi.

Penyucian dengan level dan kualitas semacam ini akan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin’ “, umat Muhammad akan diseru sebagai Ghurran Muhajjaliin. Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Mereka adalah orang-orang  yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, hakikat cahaya yang muncul dari anggota wudu ini adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW.

 

  • Ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat
  • Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi
  • Ghurran Muhajjaliin adalah orang-orang yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya dari anggota wudu

 

Anggota wudunya bercahaya. Di satu sisi  sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudunya jadi cemerlang karena bekas wudu, barangsiapa hendak menambah cahayanya, hendaklah ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan secara lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Suatu ketika Rasulullah mengajak sahabat untuk pergi ke Baqiul Gharqad, sejarawan mengungkapkan bahwa terdapat 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini. Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu saat memasuki Baqiul Gharqad, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini! InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!”. Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya.

Saat itu tampaknya terjadi musyahadah, pandangan Rasulullah SAW lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian melalui bibir mulianya beliau berkata, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami ini saudaramu ya Rasulullah?”, “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih, saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”, jawab Nabi. Kemudian para sahabat bertanya dengan heran, “Bagaimana anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang?”, baginda Nabi bersabda, “Bayangkan, jika seorang laki-laki memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang, kakinya jenjang dan berwarna putih bersih, jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?”, “Tentu” jawab sahabat.

 

  • Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud
  • Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba. Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia.
  • “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku,” “saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”

 

Rasululllah bersabda, “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”, aku akan melihat mereka saat berjalan ke hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya. Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya. Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya. Aku adalah farat haudh dari mereka. Akulah yang paling dahulu menuju haudh! Makna dari Farat adalah “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya sebagaimana tuan rumah menjamu tamu. Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti.” Kurang lebih seperti itulah yang ingin disampaikan Rasulullah.

“Akulah farat dari umatku di Haudhku”. Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya. Akulah farat dari mereka yang berwudu di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya. Akulah farat bagi mereka, umatku  yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudunya ketika banyak orang terusir dari haudhku. “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya, kepada merekalah aku memberi syafaat! Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku.” Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan baginda Nabi, tetapi dikarenakan oleh wudu dan shalatnya, karena senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri.

Kepada orang-orang yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut, maka ketika Nabi menemui penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan mengirimkan salam kerinduan, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad, seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian dengan jasmaninya. Sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya seperti panggilan terakhir dari komandan tertinggi kepada umatnya, “Bersiap siagalah!”

 

  • Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya
  • “Akulah farat dari umatku di Haudhku”
  • Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca

 

Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya, memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya, beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku.” Para pembaca yang budiman! Ini adalah isytiak dari baginda Nabi, sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan  sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya.

Apakah anda merindukan kami ya Rasulullah? Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringat kami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai mulianya hati sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu. Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah, ketika kita mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam maka kita telah menjawab salam Nabi tersebut. Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,”  kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah.

 

  • Isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat
  • Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,” kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita
  • Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi.

 

Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut, masjid menjadi sarana agar  tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar menjadi sarana agar nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Ka’bah dan menziarahi makam baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Ya Allah, jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut[1]. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

 

[1] Alam Lahut adalah salah satu istilah pembagian alam dalam ilmu sufi, ia adalah alam ghaibul ghaib yang maksudnya ialah alam yang lebih bersifat ghaib di dalam ghaib.

jordan-rowland-eAiNt7N5FaA-unsplash

Guru adalah Profesi Agung Yang Dimuliakan Oleh Allah dan RasulNya

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah  yang mengajar kebaikan kepada sesamanya”.

Apa yang dimaksud kebaikan disini?

Mengajarkan dan Mempelajari Al-Quran dan intisari merupakan kebaikan. demikian juga mempelajari Fikih dan Hadis, Al Quran bersumber dari mana? Tanpa ragu sedikitpun, kita menjawab berasal dari sifat Allah, Al Kalam, karena sifat Allah Al Kalam untuk mengatur kehidupan manusia, maka Allah “Berbicara” kepada manusia melalui perantara para nabi.

Al Quran adalah firman Allah, sebagaimana manusia juga mengucapkan sesuatu. Jika ada seseorang yang setelah membaca Al Quran bersumpah bahwa ia baru berbicara dengan Allah, para fukaha berpendapat: “Sesungguhnya dia tidak berbohong atas sumpahnya.”

Benar, dia berbicara dengan Allah, karena dia membaca firman-firman Allah. Al Quran adalah firman Allah yang berasal dari sifat Allah Al Kalam.

Jika ia bersandar pada Ilmu-Nya Allah, lalu bagaimana dengan kitab alam semesta dengan nama lain (sunnatulah, atau ayatul kauniyah).  Prinsip-prinsip yang menjadi sandaran ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Biologi, Geometri dan Alam semesta yang seperti laboratorium. Milik siapakah ini semua? Apakah ada orang lain yang menuliskannya? Alam semesta, juga kitab Allah yang berasal dari sifat Allah lainnya seperti Al Ilmu, Al Kudrat dan Al Iradah. Tidak ada perbedaan di antara dua kitab ini, kita berkewajiban untuk membaca dan mematuhi apa saja yang ditulis dalam dua kitab ini.

Ulama besar abad ini, Bediuzzaman  Said Nursi berkata tentang dua kitab ini, terdapat dua jenis kitab Allah.

Pertama, kitab yang membentuk asas-asas ilmu Fisika, Kimia, Matematika, Geometri dan  kedokteran yang merupakan kumpulan ayat kauniyah, mengatur  alam semesta yang mirip dengan laboratorium ini. Penjelasan ini apakah bisa dipahami? Terkadang dalam artikel ini kami menggunakan istilah lama yang tidak dipahami, tapi saya berusaha mengulang penjelasannya.

Kitab kedua adalah Al Quranul Karim  yang berasal dari sifat Allah, Al Kalam, sebelumnya terdapat  Taurat, Zabur, Injil, dan Suhuf-suhuf.  Jadi ada dua jenis kitab Allah Dan kita wajib untuk mengikuti setiap perintah yang ditulis di keduanya.

Barangsiapa yang mengikuti kitab Al Quran, dia akan mendapat ganjarannya di dunia dan akhirat. Namun, sebagian besar ganjaran  mentaati Al Quran, diberikan nanti di akhirat, jika mentaati, sebagian kecil ganjaran diberikan di dunia. Jika melanggar, sebagian kecil hukuman diberikan di dunia, sebagian besar hukuman  diberikan di akhirat.

Pesan apa yang dapat kita ambil? Dari segi ini, ada sedikit perbedaan antara Kitab Al Quran dan Alam Semesta. Hukuman bagi yang melanggar kitab alam semesta, sebagian besarnya diberikan di dunia, hanya sedikit saja hukumannya ditangguhkan di akhirat. Jika mentaatinya, sebagian besar ganjarannya  diberikan di dunia,  ganjaran yang diberikan nanti di akhirat porsinya lebih sedikit.

Yang mentaati kitab alam semesta, yang Anda sebut sebagai kafir, Allah memberi mereka ganjaran di dunia, jika mereka meneliti hukum alam sedetail-detailnya, mencari  dengan sungguh-sungguh. Jika mereka membangun jembatan antara manusia dengan ciptaan lainnya. Jika tanpa sadar, mereka menghayati ayat  Al Quran dalam setiap ciptaanNya. Allah akan mengganjar mereka, karena Allah Maha Adil, bagaimana kaum muslim? Karena tidak mematuhi  kitab alam, hukuman pun menanti mereka.

Kita kembali lagi ke pembahasan awal.

Rasul bersabda:

“Manusia terbaik adalah yang mengajarkan kebaikan”.

Bagi kita umat muslim, mengajarkan Al Quran dan mengajar Kitab Alam Semesta adalah sama pentingnya oleh karena dua kitab tersebut berasal dari Allah, maka menghormati dua kitab tersebut berarti menghormati Allah, dan acuh kepada dua kitab ini  merupakan sikap yang tidak sopan kepada Allah. Dari sisi tersebut, sebenarnya  pemahaman takwa kita amat luas. Orang yang bertakwa adalah selain mengerjakan yang wajib serta menjauhi yang haram, juga mengikuti prinsip-prinsip kitab alam semesta.

Anda bisa saja mengerjakan yang wajib, menjauhi yang haram, dengannya anda bisa saja masuk surga, tetapi anda tidak bisa bertakwa dengan sempurna, kalau anda tidak mematuhi kitab alam semesta.

Membaca alam semesta di masa ini memiliki posisi yang amat penting,  kini umat muslim mulai merasakan akibatnya. Umat muslim di masa lalu mengabaikan pentingnya penelitian dalam setiap benda dan peristiwa, sedangkan umat lain melakukan Renaissance dengan menggunakan prinsip kalian. Lalu mereka melakukan pembaharuan industri, sedangkan kalian masih terbuai dan mabuk  dengan kesuksesan masa lalu,  mereka membuat pembaharuan teknologi dan pembaharuan ilmu pengetahuan.

Dan kalian hanya menjadi penonton.

Semua ini dilakukan dengan mengamati denyut nadi dan detak jantung alam semesta,  dan sekarang mereka sedang memetik buahnya.

Pada saat seperti ini dimana posisi kalian ?

Jelas, kalian terpeleset ke lubang terdalam, sekarang mereka melihat kalian dari posisi atas dan Anda kini mengetuk pintu mereka untuk mendapatkan makan dan uang, kalian hanya menjadi buruh. Kalian bekerja hanya untuk mengisi perut, kalian adalah seorang muslim.

Menurut kalian, bagaimana mereka melihat kalian?

Mereka akan memandang kalian sebagaimana majikan memandang seorang hamba. Mereka memandang kalian seperti memandang petugas kebersihan, mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang hidup di bawah jembatan. Mereka memandang kalian sebagai orang-orang yang terhimpit kemiskinan, tidak satupun mau menerima nasehat dari orang-orang berlevel di bawahnya.

Apa kalian rela menerimanya?

Misalnya pembantumu berkata: “Tuanku, bosku, presidenku, bagaimana kalau pakai taksi saja?” “Ada hal yang Anda tidak ketahui. Maka dengarkan saran saya!”

Bagaimana Anda menanggapinya?? Artinya, kalau kalian kalah di bidang tersebut, walau kalian memiliki nilai luhur seperti Islam. Mereka tetap memandang kalian dari atas, itu bermakna  kalian membuat nilai luhur tersebut menjadi hina, apakah kalian bisa memahaminya?

Seandainya kalian menjaga wibawa kalian sebagai bangsa besar di antara bangsa lainnya. Sehingga ketika kalian bisa merepresentasikan Al Quran dan menyampaikan pesan Rasulullah dengan sempurna.

Anda akan lebih berhasil menyampaikan pesan kalian.

Artinya, membaca buku alam semesta dengan benar mempengaruhi tersampaikannya pesan Al Quran. Jika sebaliknya, maka akan merugikan Al Quran. Karenanya, arti takwa juga melingkupi kewajiban membaca kitab alam semesta, ia penting demi memahami Al Quran dengan sempurna. Jika kita tak mengaplikasikannya secara sempurna, tak mungkin kita terbebas dari kemiskinan & kesengsaraan.

Arsitek masa depan adalah para guru,

Arsitek yang membangun peradaban madani adalah para guru.

Ya, mereka yang akan membangkitkan generasi emas. Jangan terlalu membesarkan orang lain dan jangan merendahkan diri sendiri. Jika kita bekerja sistematis dan bersabar, sebagaimana dikatakan penyair M.Akif: “Dengan satu langkah, atas inayah Allah, semua itu dapat diraih”.

Jepang, pada perang dunia kedua, mungkin kita tidak menyaksikannya secara langsung. Saat itu pun umur penulis berumur 7 atau 8 tahun, tepatnya tahun 1945, pada saat itu Jepang diratakan dengan tanah.

Pada PD 1, tepat 25 tahun setelah setengah dari negara Turki (negara asal Penulis) diratakan dengan tanah, mereka tidak hancur sebagaimana Jepang dihancurkan.  Saat itu Turki punya prajurit dan komandan yang menulis sejarah besar bangsa. Di Perjuangan Nasional, Bangsa itu berperang di seluruh penjuru negeri melawan negara-negara musuh. Belum habis, Turki lahir sebagai negara ber dikari.

Tapi Jepang diduduki USA. Pada serangan pertama sekitar 80.000 orang mati di Hirosima & Nagasaki. Dan sangat banyak orang cacat seumur hidup akibat efek radioaktif,  dalam waktu lama, Jepang tidak berhasil membangun industri perangnya di bidang lainnya juga sangat terbatas. Jerman pun merasakan hal yang sama, Mungkin setelah  tahun 1950an mereka diberi izin untuk membangun industrinya.

Namun setelahnya, dalam 25 tahun mereka mampu melewati Eropa, USA pun bekerja dengan mereka dalam beberapa proyek.

Kini mereka menjadi negara kaya raya di dunia. Bahkan setelah 1950an, Korea Utara dan Selatan, prestasinya melebihi Turki, mereka juga bersaing dengan Eropa dengan politik dumping, barang-barangnya membanjiri Afrika. Dengannya mereka jadi kaya raya. Jangan berpikir pesprestasi tersebut mustahil diraih. Hal itu dapat diraih dalam 5-10 tahun dengan inayah Allah, asal bekerja sistematis dan sabar. Jika kita bekerja kerja dan semoga Allah tidak memberi kesempatan kepada orang yang mau menghambat usaha kita. maka negara kita akan meraihnya dalam 5-10 tahun