mengembangkan diri globe-in-the-library-2021-08-26-16-01-57-utc (1)

Muhammad Ali Sulaiman Ad-Duqur – Atlas Pemikiran

Saya yakin bahwa Ustaz Fethullah Gulen merupakan representasi dari imam pembaharu dan pemikir pembaharu yang berhasil menyuguhkan proyek-proyek umat yang komprehensif, seimbang, dan bisa diterapkan.

Muhammad Ali Sulaiman Ad-Duqur, Profesor Ilmu dan Tafsir Alquran serta Fikih Islam di Universitas Yordania. Dekan Fakultas Usuluddin di Universitas Yordania. Anggota dewan pengurus Badan Asosiasi Cendekiawan Yordania. Sekretaris umum Organisasi Masyarakat Pelestari Alquran. Penulis buku “Kisah-kisah dalam Alquran”.

Saya Dr. Sulaiman Ad-Duqur. Pengajar Tafsir, Ilmu Alquran dan Hukum Islam di Universitas Yordania. Saya juga Dosen di Fakultas Syariah.

Pertama kali saya mengenal pemikiran Ustaz Fethullah Gulen dan karyanya pada tahun 2008. Sungguh saya benar-benar terpukau kala itu, saya menemukan sesosok ulama Rabbani sekaligus pemikir muslim. Gambaran pemikirannya jelas dan visinya sempurna. Beliau berhasil membangun diri dengan sangat baik. Hati beliau menanggung sebuah kegelisahan. Kegelisahan dakwah terhadap umat, Khidmat Islam dan Muslimin serta Alquran.

Alangkah mengharukan saat saya menyaksikan beliau membacakan sebuah Hadits Nabi SAW: “Sungguh Islam akan menyebar ke seluruh penjuru bumi sejauh jangkauan siang dan malam”.

Banyak orang termasuk saya memahami hadist tersebut sebagai kabar gembira. Akan tetapi karena beban dakwah yang Ustaz Fethullah Gulen rasakan, beliau memahami bahwa hadist di atas metupakan sebuah perintah dan tugas yang harus ditunaikan oleh umat Islam.

Beliau menangis seraya berkata: “Betapa banyak tempat dan wilayah yang belum pernah dikumandangkan azan, belum pernah dilantunkan nama Allah SWT dan belum pernah disampaikan sabda Nabi SAW.”

Kegelisahan dakwah dalam jiwa Ustaz Fethullah Gulen berubah menjadi semangat yang tinggi. Tinggi rendahnya semangat seseorang tergantung pada beratnya beban kegelisahan yang ia rasakan. Siapa yang memiliki kegelisahan demi memperbaiki dunia, hendaknya ia memiliki semangat yang tinggi. Ustaz Fethullah Gulen berhasil mengubah kegelisahan dakwah menjadi semangat juang, kemudian menunaikan tugas dakwah tersebut secara langsung.

Ketika saya membaca pemikiran Ustaz Fethullah Gulen, saya menemukan pemikiran yang sempurna, universal dan luas sehingga mengharuskan saya membacanya secara detail dan mendalam. Sebagaimana halnya seorang intelek atau orang yang ingin mendalami pemikiran seorang tokoh, tidak bisa ia membaca pemikiran seseorang secara parsial namun ia harus membacanya secara menyeluruh. Saya memiliki pandangan luar biasa tentang pemikiran Ustaz Fethullah Gulen ketika saya mengamati bagaimana kehidupan beliau saat muda, bagaimana cara pandang beliau, bagaimana gerak gerik beliau. Ustaz Fethullah Gulen telah menyerap Alquran, makna dan nilai Alquran telah terpatri dalam dirinya. Beliau melihat permasalahan dengan cakrawala yang luas dan universal. Beliau meyakini bahwa risalah Nabi Muhammad SAW situjukan kepada setiap makhluk.

Pemahaman ini selalu bergejolak dalam jiwanya. Semboyan beliau adalah “Dunia ditakhlukkan dengan pena”.

Dan ini merupakan representasi dari ayat Alquran yang pertama kali diturunkan, “Bacalah (Iqra) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Yaitu membaca yang dikaitkan dengan manusia yang telah Allah ciptakan dan mengajarkannya dengan pena. Jujur inilah yang pertama kali saya rasakan saat mendalami pemikiran Ustaz Fethullah Gulen.

Beliau tengah merintis jalan untuk melayani agama Islam dengan pondasi yang universal berdasarkan pemahaman beliau dari Alquran dan konsep terapan Nabi SAW. Ustaz Fethullah Gulen memahami dengan baik sirah Nabi SAW yang merupakan sosok teladan manusia sempurna. Beliau juga memahami dengan baik kehidupan generasi pertama, yaitu generasi para Sahabat yang merupakan teladan generasi sempurna. Merekalah contoh masyarakat yang sempurna, contoh negeri yang sempurna, contoh pemerintahan yang sempurna.

Oleh karena itu, bagi Ustaz Fethullah Gulen periode sahabat dan masa kehidupan Nabi SAW merupakan teladan sempurna dan contoh terapan yang dijadikan neraca. Ketika kita melihat pemahaman beliau yang mendalam akan Alquran dan kehidupan Nabi SAW serta para sahabat, kita temukan beliau mampu mewujudkan dan memancarkan pemahaman tersebut dalam membangun manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, Ustaz Fethullah Gulen selalu fokus pada nilai-nilai di atas. Inilah yang menjadikan para pemikir dan ulama mendukung pemikiran dan apa yang diterapkan Ustaz Fethullah Gulen. Beliau membangun benteng ruh dan membangun manusia. Tetapi dalam membangun manusia dimulai dari membangun ruh dan akalnya, membangun akhlak dan menanamkan nilai-nilai luhur. Poin-poin inilah yang kita temukan dan saksikan dalam kehidupan dan ceramah Ustaz Fethullah Gulen. Poin tersebut menjadi langkah awal dalam membangun benteng peradaban umat ini, peradaban yang bisa hidup harmonis dengan bangsa lain, mampu memberikan nilai-nilai luhur dan pelayanan Islam serta Iman bagi seluruh manusia.

Berbicara tentang kehidupan Ustaz Fethullah Gulen memerlukan waktu yang panjang. Anda akan berbicara tentang masa mudanya, tentang dedikasinya yang berkobar yaitu pengorbanan yang konsisten dan tanpa henti. Anda akan merasakan bahwa dalam kehidupan beliau terdapat keteguhan, kesabaran, dan kegelisahan yang memenuhi jiwanya terhadap umat dan agamanya. Anda merasakan adanya kelembutan jiwa padanya. Inilah akhlak para Nabi.

Allah berfirman: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS Ali Imran: 159)

Sungguh nilai luhur ini telah diterapkan Ustaz Fethullah Gulen dalam setiap kehidupannya. Inilah contoh ulama Rabbani sebagaimana Firman Allah: Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As Sajjah: 24).

Saya yakin Fethullah Gulen merupakan representasi dari imam pembaharu dan pemikir pembaharu yang berhasil menyuguhkan proyek umat yang komprehensif, seimbang, dan bisa diterapkan. Di sini ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan, banyak dari pemikir menjadikan gagasan pikirannya hanya seni yang terkadang bersifat sementara dan sulit dipahami oleh khalayak. Sedangkan pemikir yang benar dan tulus ialah pemikir yang memiliki sebuah gagasan yang bisa mengumpulkan khalayak dan mungkin diterapkan. Singkatnya, Ustaz Fethullah Gulen ialah pemikir yang memiliki gagasan yang jelas dan bisa diterapkan. Inilah karakteristik pemikir yang jenius seperti Ustaz Fethullah Gulen. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap usaha, dedikasi dan pemikiran beliau.

Sebagaimana disampaikan Ustaz Said Nursi, kemanusiaan sedang mengalami banyak masalah. Saat ini manusia tengah menderita berbagai permasalahan internal dan eksternal. Adapun permasalahan internal, meliputi kemiskinan, kebodohan dan perpecahan.

Inilah 3 masalah utama yang dialami umat Islam sekarang.  Adapun permasalahan eksternal, meliputi krisis identitas umat, asimilasi, tidak adanya keseimbangan peradaban dan hilangnya jati diri umat. Menyelesaikan semua masalah ini dengan berpedoman pada konsep Islam adalah hal yang dilakukan Hizmet.

Saya mengetahui Hizmet melalui Ustaz Fethullah Gulen dan karya-karyanya. Saya juga melihat Hizmet di Turki dan penyebarannya. Alhamdulillah, terapan Hizmet sudah tesebar di 160 negara lebih.

Saya pernah berkunjung ke beberapa negara, saya menyaksikan pengaruh dan penyebaran Hizmet di sana. Hal ini adalah cerminan dari perkataan Ustaz: “Jika ingin menjadi kuat di suatu tempat, hendaknya kita harus berada di semua tempat”.

Saudara-saudara kita di Hizmet berhasil mengaplikasikan gagasan tersebut menjadi proyek besar seperti dialog antar budaya bahkan dialog secara internal. Dengan dialog internal, kita mampu berdialog dengan orang lain dan mewujudkan Firman Allah: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”.

Kita perlu berdialog dengan diri sendiri terlebih dulu agar kita mampu berdialog dengan sesama. Jika hal ini berhasil, maka kita akan mampu berdialog dengan semua bangsa, golongan dan budaya. Inilah keberhasilan yang telah dicapai Hizmet, melalui berbagai institusi, sekolah dan yayasan solidaritas, Hizmet telah tersebar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Hizmet berhasil memenuhi apa yang dibutuhkan manusia. Saat ini agar bisa tersebar, engkau mesti memberikan sesuatu yang diperlukan manusia. Banyak hal-hal menarik yang saya saksikan saat berkunjung ke negara-negara Arab dan negara barat. Saat berkunjung ke Australia, saya mendapati Hizmet tersebar di sana dengan cepat berkat perjuangan orang-orang Hizmet. Teori bukanlah cara yang tepat untuk menjelaskan Hizmet. Jika anda berbicara tentang proyek-proyek di atas, apakah anda menemukannya di buku? Tidak, akan tetapi tersebarnya berbagai institusi Hizmet sebagai bukti tingginya nilai dan kedudukannya. Hizmet memenuhi berbagai kebutuhan manusia.

Sangat baik jika anda bisa melayani manusia, mengambil andil dan bekerja sama dengan mereka dalam kebajikan ini. Hal yang kita temukan saat mendalami Hizmet adalah ia memberikan pelayanan kepada manusia di bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Hizmet mengembalikan jati diri umat Islam dan memberikan pelayanan serta memberi kenyamanan pada manusia. Hizmet sebagai gerakan yang memberi palayanan keimanan kepada semua manusia, sangat dibutuhkan keberadaannya saat ini. Namun peran kita juga sangat penting dalam mengenalkan Hizmet kepada orang lain. Setelah runtuhnya kekuasaan Islam (Turki Usmani) dan penjajahan barat secara massif datang, mulailah bermunculan gerakan-gerakan Islam. Secara singkat, ada gerakan pembaharuan agama, pembaharuan pemikiran, pembaharuan politik dan gerakan pembaharuan sosial. Kita tidak bermaksud membandingkan satu gerakan dengan lainnya, karena semuanya bertujuan mengabdi untuk agama. Akan tetapi, kita temukan pada dakwah Ustaz Fethullah Gulen dan Hizmet adanya prinsip universal, moderat dan integrasi di setiap bidang, serta mampu mengubah pemikiran menjadi nyata seperti proyek-proyek besar yang tersebar di dunia Islam. Meski belum sempurna, akan tetapi saya yakin ini adalah langkah awal yang insyaAllah di masa depan Hizmet akan memiliki peran penting. Hizmet berhasil mewujudkan sebuah gambaran nyata yang saat ini sedang berproses. Saya yakin, kedepannya terapan Hizmet ini akan terus berkembang, segala usahanya akan semakin matang sehingga mampu menunjukkan gambaran sempurna yang sesuai dengan apa yang diperlukan generasi umat saat ini.

***

Disusun kembali oleh Lismawati

mengembangkandiri media-interview-journalists-interviewing-politici-2021-08-29-09-07-55-utc

Prof. Said Bouzeri (Aljazair) – Atlas Pemikiran

Atlas Pemikiran Tentang Hizmet

-Hizmet dan M. Fethullah Gulen-

Prof. Said Bouzeri (Aljazair)

Pemikiran dan teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet.

Prof. Said Bouizeri, Professor Hukum Islam di Universitas Mouloud Mammeri, Tizi-Ouzou. Pengajar di Pusat Pendidikan Berkelanjutan di Tizi-Ouzou sejak tahun 1991. Menyelenggarakan berbagai konferensi keilmuan tentang Hukum Keluarga dalam Islam, Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Teori-Teori Prediksi dalam Hukum Islam. Presiden Dewan Keilmuan dan Komisi Fatwa di Departemen Agama dan Waqaf Tizi-Ouzou. Penulis tiga buku tentang Hukum Islam, Hukum Waris serta Hak-Hak Anak dalam Islam.

Nama saya Said Bouzeri dari Aljazair, tepatnya dari daerah Kabylia. Sekarang saya dosen di Universitas Tizi Ouzou, mengajar mata kuliah hukum.

Ustaz Muhammad Fethullah Gulen (Hafidzahullah) adalah nikmat dari Allah SWT bagi umat Islam berdasarkan beberapa alasan:

Alasan Pertama, beliau adalah sosok yang memiliki kecintaan pada agama (Ghirah) dalam kalbunya. Ketika membaca tentang Ustaz Fethullah, saya terngiang sosok Khalifah pertama Sayyidina Abu Bakar r.a. saat berujar: “Apakah hakikat agama Allah berkurang sementara saya masih hidup!” Seakan Sayyidina Abu Bakar mengatakan: “Tak kan ada artinya kehidupanku serta keberadaanku jika aku melihat ada yang berkurang dari agama Allah sedangkan aku masih hidup”. Dengan demikian, alasan pertama ialah beliau memiliki kecintaan tinggi pada agama Islam.

Alasan Kedua, beliau telah mengkaji dan mendalami ilmu dari para ulama terdahulu, mengambil manfaat serta mengembangkannya, yaitu ilmu para syeikh serta guru-guru beliau, salah satunya Syeikh Said Nursi (Rahimahullah).

Alasan Ketiga, beliau berhasil menggabungkan antara gagasan dan praktik, serta iman dan amal. Sebagaimana Allah SWT dalam Alquran setiap menyebutkan kata iman selalu dibarengi dengan amal saleh, “…orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS Al Baqarah 2:82) “Dan katakanlah: Beramalah kamu, maka Allah akan melihat amalanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At Taubah: 105)

Alasan Keempat, Ustaz Fethullah Gulen berhasil menghimpun para pemuda yang setia, saleh, dan baik untuk berjuang bersamanya. Beliau membimbing, membentuk, serta mengarahkan mereka. Beliau acuan hidup mereka. Merekapun laksana benih unggul. Jadi, beliaulah tokoh perintis peradaban, tentunya bersama murid-muridnya karena suatu keberhasilan itu diraih dengan bekerjasama.

Sungguh kita membutuhkan sosok seperti beliau. Sosok yang sadar akan zaman, memiliki pemahaman yang dalam, iman yang kuat, serta kecintaan pada agama. Namun semua pencapaian itu beliau wujudkan bersama para muridnya. Maka dari itu beliau benar-benar pantas menyandang kemuliaan ini. Semoga Allah selalu menjaga mereka dari segala mara bahaya. Lebih dari itu, Ustaz Fethullah Gulen membangun generasi dengan pondasi seimbang. Beliau fokus pada pengembangan kualitas insan yang merupakan asas utama dibangunnya peradaban. Tidak mungkin suatu peradaban dapat dibangun dengan materi semata, melainkan perlu dibangun dengan asas manusia. Malik bin Nabi (Rahimahullah), tokoh ternama Aljazair, memiliki kesamaan pemikiran dengan Ustaz Fethullah Gulen (hafizahullah). Malik bin Nabi juga membahas tentang konsep peradaban. Diantara yang Malik bin Nabi sampaikan: “Manusia adalah asas utama terbentuknya sebuah peradaban.” Allah telah membukakan jalan bagi Ustaz Fethullah Gulen untuk fokus dalam membangun insan dari segi akidah, akhlak, kepribadian dan pemikiran dengan penuh keseimbangan. Fethullah Gulen adalah sosok beriman, saleh, berwawasan tinggi, serta memikul kegelisahan akan umat. Inilah sifat-sifat mencolok dari beliau. Semua itu terlihat pada pemikiran, rintihan air matanya, karya-karya tulisannya yang mencerahkan, serta tindakan-tindakannya juga pencapaiannya.

Sebenarnya gerakan Hizmet bisa dianggap sebagai “Sebuah Sekolah”. Sebagian orang berbeda-beda dalam menamakan gerakan ini. Sebagian menamakan gerakan Hizmet, yayasan Hizmet atau Hizmet saja. Tetapi saya lebih memilih menamakannya “Sekolah Hizmet”. (Poin Pertama) Pada dasarnya, gerakan yang kita banggakan ini merupakan pergerakan besar yang mengimplementasikan Islam pada masyarakat secara nyata. Di sisi lain, pemikiran serta teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet ini. Berdasarkan pengamatan kami, gerakan ini berjalan di atas landasan agama Islam yang sempurna. Landasan Islam inilah yang memberikan Hizmet kekuatan, kekokohan dan konsistensi dalam pencapaiannya.

Kemudian poin kedua, gerakan Hizmet berhasil mengimplementasikan nilai Islam secara menyeluruh. Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak mungkin sesuatu disifati paripurna kecuali jika ia memang telah sempurna. Allah SWT berfirman di awal surah Al Maidah: “Pada hari ini orang kafir telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu, maka dari itu janganlah takut kepada mereka melainkan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Ku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS Al Maidah 5:3) Oleh karena itu, Islam sudah sempurna secara akidah, ibadah, syariah, akhlak dan etika. Gerakan atau sekolah Hizmet melalui kerja kerasnya berhasil menyuguhkan kita sebuah teladan yang komprehensif. Mereka adalah orang-orang biasa, namun mereka tekun dan rajin, bekerja bagai lebah. Setiap orang di institusinya bekerja sesuai bidangnya dengan rajin laksana lebah dalam sarangnya untuk menghasilkan madu. Seperti itulah gambaran orang-orang Hizmet dan gerakan Hizmet. Sifat komprehensif pada Hizmet memberikannya kekuatan, integritas dan keseimbangan seperti yang telah kita saksikan, Alhamdulillah.

Poin ketiga, gerakan Hizmet bergerak tanpa tergesa-gesa. Hal ini sangat penting. Mereka berbuat dan bergerak dalam masyarakat di segala bidang, baik itu dibidang pendidikan, sosial, ekonomi, ataupun kesehatan. Pergerakan di segala bidang ini mengindikasikan adanya pemahaman dan kesadaran yang tinggi. Karakteristik mencolok pada Hizmet adalah ia bergerak di masyarakat dalam segala bidang dengan langkah-langkah perlahan yang membimbing dan terencana. Sifat ini terlihat sangat jelas pada Hizmet. Karakteristik lain pada Sekolah Hizmet adalah keberhasilannya mengangkat keterpurukan umat Islam saat ini. Seakan Hizmet berseru kepada seluruh umat Islam secara implisit: “Selamat datang wahai umat Islam, ambillah konsep terapan ini, jadikan ia jalan penerang kalian dan teruslah dikembangkan.” Iya, hal ini juga menjadi kekhasan Hizmet. Di setiap perkumpulan yang ada di dalamnya pemuda Hizmet, mereka senantiasa berkata: “Silahkan sampaikan saran kalian, serta pendapat kalian.” Sungguh ini teladan sangat baik.

Poin terakhir, telah terwujudnya sebuah pencapaian besar sebagaimana yang kita dengar yaitu diresmikannya channel Hira berbahasa Arab. Channel yang sangat dinanti-nanti dunia Arab.

***

Disusun kembali oleh Lismawati

mengembangkandiri spring-flowers-beautiful-dandelions-in-green-grass-2021-08-26-16-35-09-utc

Tetesan Maknawi di Kala Senja 1

Dibalik semua kesalahan kita, kita juga tidak mengikuti jalan yang terang dari Allah SWT. Dari Allah-lah cahaya langit dan bumi.

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS An Nur 24:35)

Selama manusia memiliki hubungan dengan-Nya maka dia akan tercerahkan dan mengerti. Dia akan mengatakan benar terhadap kebenaran dan berkata salah terhadap kesalahan. Jika hubungannya dengan Allah semakin jauh maka ia akan membenarkan yang salah dan menyalahkan kebenaran.

Apalagi jika orang-orang ini adalah pemimpin atau pembimbing sebuah kelompok, maka orang-orang di belakangnya akan mengikutinya tanpa bisa membedakan yang benar dan salah. Oleh karena itu, mereka akan lebih merugikan Iman, Islam, jalan Alquran dan Jalan Nabi Muhammad SAW, lebih merugikan dari pada orang-orang yang sudah jelas kafir. Kekufuran orang kafir sudah jelas, mereka tampak jelas di hadapan anda dan anda pun akan mengantisipasi sesuai dengan itu.

Lalu anda akan berkata “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” (QS Al Isra 17:84)

Setiap orang berbuat sesuai dengan karakternya dan orang kafir memiliki karakter sendiri. Tetapi orang yang salat bersama anda di masjid, berpuasa, berhaji dan berkata atas nama Allah seperti anda, bahkan mereka yang bersikap seperti akan membimbing anda, kerugian yang diberikan oleh orang-orang seperti ini lebih bahaya dari orang-orang kafir.

Sebenarnya, di balik semua permasalahan disebabkan karena lemahnya iman dan ketidakmampuan untuk memahami iman dengan benar. Oleh karena mereka menampilkan sikap munafik dan selalu bertindak sebagai orang munafik, pembicaraan mereka berbeda di setiap waktunya. Yang kemarin mereka katakan benar hari ini mereka salahkan. Yang mereka katakan hari ini pun mereka akan menghadirkan penjelasan yang berbeda di esok harinya.

Mohon maaf, dengan bahasa masyarakat umum mereka selalu “berdalih” setiap saat. Efeknya adalah bukan kepada mereka namun kepada kepercayaan orang-orang terhadap Islam. Dengan ini, akan ada retakan di benteng agama Islam karena mereka. Agama Islam akan menjadi seperti baju yang usang dan siapapun yang melihatnya dalam kondisi tersebut mereka akan merasa jijik. Oleh sebab itu, orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah dari hati, mereka membutuhkan rehabilitasi baru tentang keimanan.

“Saya berharap semua orang di dunia akan mencintai kekasihku (Allah) dan tidak ada yang perlu dibicarakan selain-Nya…”

Semua permasalahan yang paling besar kalau dibandingkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Allah tidak akan ada artinya seperti perbandingan cahaya kunang-kunang dengan cahaya matahari.

Pada saat ini dunia Islam mengalami krisis keimanan yang sangat serius. Islam menjadi yatim di tangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya, sifat-sifatnya dan kebenarannya. Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada umatnya bahwa pada akhir zaman, Islam akan kembali datang dalam keadaan terasing. Lalu Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang akan membangun ruh agama kembali dari keterasingan itu. Akan datang suatu masa di mana agama dan nilai-nilai keagamaan dalam keadaan terasing.

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.”

Pada zaman ini orang yang memegang teguh agamanya akan terasing. Dimana-mana mereka akan diserang dan dimusuhi, di mana saja mereka berada akan dikatakan: hancurkanlah mereka dan jangan biarkan mereka hidup tenang, padamkanlah cahaya mereka, basmilah mereka sampai ke akar-akarnya.

Mereka yang memperlihatkan diri sebagai muslim dan mengatakan,

“Kita akan membangkitkan Islam kembali, kita akan menjadikan Islam sebagian dari kehidupan, kita akan menjadikan Islam sebagai pemikiran dasar masyarakat.”

padahal jika mereka tidak membedakan halal dan haram, mereka melakukan maksiat, mereka tidak bisa berlepas diri dari kehidupan bohemian, mereka menghalalkan fahsya dengan nama nikah mut’ah. Bahkan sebagian dari mereka berusaha untuk memasukkan hal ini ke dalam tafsir Alquran, ini adalah kehancuran yang sangat besar.

Menurut saya, orang-orang kafir tidak memberikan kerusakan yang seperti ini kepada agama. Saya tidak mengatakan kafir kepada mereka, kita tidak boleh berkata begitu, saya menyebutnya dengan kelemahan iman. Tidak memahami agama dengan benar, tidak bisa memahami Alquran dan Sunnah, tidak bisa memahami Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, dan Para Sahabat. Tidak bisa memahami para Mujtahid dan Mujaddid dan inilah sebuah kelemahan iman yang sangat serius.

Jika hal ini terus berjalan seperti ini sebagaimana dikatakan penyair Mehmat Akif:

“Akan salah jika mereka mengatakan bahwa sebuah masyarakat bisa hidup dengan spiritualitas yang mati. Tunjukkan kepada saya sebuah umat/ bangsa yang bisa hidup dengan spiritualitasnya yang mati.”

Jika spiritualitas diratakan dengan tanah seperti ini, maka kita memiliki tugas yang sangat besar.

“Jika tidak ada keadilan di benak rakyat suatu negara, maka negara yang diagungkan itu akan rata dengan tanah.” (Ziya Paşa)

Anda akan berpikir bahwa negara anda sudah mencapai ‘Arsy karena kemuliaanya. Tetapi pada kenyataannya negara itu sudah rata dengan tanah. Ada begitu banyak contoh dalam sejarah yang berulang, di mana ada penyimpangan yang kecil maka akan diikuti oleh suatu negara secara keseluruhan. Sebagaimana di zaman sekarang sebagian besar negara Islam mengalaminya. Tetapi tugas anda adalah menunjukkan wajah Islam yang sebenar-benarnya. Menunjukkan dengan segala pesona keindahan yang dimilikinya, agar menghindari orang-orang takut dan lari darinya.

Ada sebuah pernyataan, “Tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan dengan bahasa sikap.”

Keteladanan lebih berpengaruh daripada buku yang anda baca seisi dunia. Salah satu pengaruh yang terbesar dari Kebanggaan Umat Manusia SAW di samping tablig adalah keteladanan beliau yang begitu dalam. Apa yang beliau SAW katakan beliau SAW terapkan dalam kehidupannya sendiri dengan berlipat ganda. Jika kita menganggap bahwa bahwa diri kita di jalan mereka mari bandingkan keteladanan kita dengan keteladanan beliau. Jika cocok apa yang kita lakukan maka kita adalah seorang muslim yang sebenarnya. Jika tidak, saya berharap mohon jangan kita berbohong. Semoga Allah SWT mengukuhkan Imanu Billah, Ma’rifatullah, Mahabbatullah, Dzauq rohani, Rasa Cinta dan Kerinduan.

Dengan perkataan Said Nursi; semoga Allah SWT memampukan kita keluar dari kehidupan dunia, lalu masuklah ke dalam kehidupan hati yang lapang. Jika anda ingin berbagi tempat yang sama dengan Rasulullah anda harus melakukan hal ini. Tidak bisa dengan keislaman yang palsu dan merugikannya. Jika kita melakukan sesuatu untuk Allah, memulai dengan nama Allah, bertemu karena Allah, mengerjakan sesuatu karena Allah, jika kita bergerak di seputar ini maka detik dari kehidupan kita akan menjadi bertahun-tahun, setiap detikmu akan terwujud cahaya. Semoga Al-Ghaffar mengampuni kita, memurnikan kita dan memampukan kita untuk kembali kepadaNya dalam kondisi tersebut.

***

Disusun kembali oleh Lismawati

mengembangkandiri.com-duhai masa lalu

Duhai Masa Lalu

Di masa mendatang,

ketika Anda mengkhayalkan hari-hari yang indah. Anda akan mengenang hari-hari yang telah berlalu. Banyak orang mencari hari-hari yang indah tersebut di masa yang akan datang. Namun kalian, justru mencarinya di masa lalu. Saat itu kalian akan mengenang wajah rumah-rumah siswa di masa lalu. Kalian akan mengenang asrama-asrama siswa yang didirikan dengan peluh keringat. Kalian akan merindukan wajah sekolah-sekolah yang kalian dirikan. Kalian akan merindukan wajah anak-anak yang meramaikan masjid-masjid. Akan datang hari, seperti halnya para sahabat.

Kalian akan berkata: “Duhai masa lalu…” Kalian pun akan mengatakan: “Ternyata hari yang indah itu ada di masa lalu”. Mungkin saya juga akan mengatakannya. Entah saat mengatakannya, apa saya sudah di liang lahat, ataukah masih hidup.

‘Wahai masa lalu…’

Ternyata itulah hari yang paling tepat untuk hidup. Hari-hari dimana pengabdian dilakukan tanpa kenal siang dan malam. Hari-hari penuh pengabdian, bagaikan kuda yang lari terengah-engah di tengah panasnya siang. Hari dimana penuh rasa malu dan segan. Hari dimana wajah penuh peluh keringat. Hari dimana kalian diminta untuk bersemangat, demi keridhoan Allah SWT.

Hari dimana kalian menyeru: “Berilah beasiswa…” “Berilah hewan kurban” “Dirikanlah madrasah…!” “Dirikanlah asrama…! Dirikanlah mes mahasiswa…! “Dirikanlah sekolah…! Dirikanlah…!” Hari dimana peluh keringat bercucuran. Aku akan mengatakannya. Kalian juga akan mengatakannya.

Mungkin hari ini adalah hari-hari yang penuh penderitaan. Atau mungkin hari penuh penantian. Namun suatu hari akan datang, itulah hari-hari yang dirindukan. Sayyidah Nasibah tidak gembira karena dia bisa hidup di Asr-Saadah (Masa Kebahagiaan). Namun dia senang dan tersenyum karena mengenang perjuangan di Perang Uhud. Dia merasa senang karena memiliki bekas luka perang Uhud yang amat besar di punggungnya. Dan sekali-kali bukan karena dia bisa hidup di Asr Saadah.

Abdullah Ibnu Huzafah as-Sahmi mengenang hari dimana kepalanya dimasukkan ke dalam air mendidih. Ia berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Huzaifah mengenang hari saat ia diusir dari rumah oleh ayahnya. Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Begitu juga Ammar yang berjalan terburu-buru. Dia mengenang hari dimana bara api diletakkan dipunggungnya hingga padam. Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’ Zubair bin Awwam, mengenang hari dimana dia dibungkus dalam tikar yang dibakar.

Diapun berkata: ‘Duhai Masa Lalu…’.

Itulah ‘Masa lalu…’. Karena di hari-hari itu orang-orang mukmin sedang mendaki tebing yang terjal untuk naik derajatnya. Kalbu mereka tidak terkait dengan apapun selain-Nya. Mereka tidak pernah merasa lebih berhak walaupun mereka adalah generasi awal. Tanpa merasa berhak karena telah melakukan berbagai khidmah. Kata yang terucap dari lisan mereka hanyalah: ‘Khidmah.’ Dengannya mereka melanjutkan perjalanannya.

Mereka berkata: “Duhai masa lalu…”

Mereka menyebutnya demikian karena di hari-hari yang penuh dengan kepedihan itu tidak ada hal lain yang dikejar selain keridhoan Allah SWT. Karena di hari itu tidak ada yang merasa dirinya lebih penting. Karena di hari itu semuanya sama dan kecil. Karena di hari itu semuanya adalah orang biasa. Karena di hari itu tidak ada yang merasa lebih terhormat. Karena di hari itu, tidak ada yang merasa lebih berharga karena menjadi generasi awal. Karena di hari itu, yang ada hanya: ‘Kun ‘indannasi fardan minannas’ yang artinya “Jadilah manusia biasa di antara para manusia”

Wahai nafsuku yang tidak tahu terima kasih. Kamu pun akan mengatakan: ‘Duhai masa lalu…’ Tak pernah terbersit dalam pikiranmu kan hal-hal seperti di atas? Kamu tidak merasa tersinggung entah mereka menyimak nasihat-nasihatmu atau tidak. Setelah masuk kelas sebanyak 8 jam di pagi hari, engkau pun masuk lagi 2 jam di waktu malam. Lalu di akhir pekan, engkau keliling mulai dari kampung Simav, Gediz, hingga Demirci. Lalu kamu harus segera bersiap untuk pelajaran di hari senin. Namun kamu tidak tersinggung dan kecewa. Kamu tidak sedih karena mereka tidak menyimakmu. Kamu tidak bersedih karena kamu tidak bisa menginspirasi mereka.

Duhai masa lalu!

Betapa jauh dirimu dengan posisi kami.

Betapa dirimu telah menjauhi kami.

Duhai Masa Lalu!

Betapa besarnya kami sekarang!

Duhai Masa Lalu!

Betapa kecilnya engkau kini?!

Wahai ayyamullah! Wahai bulannya Nabi!

Duhai hari-hari penuh khidmah!

Duhai hari-hari penuh perjuangan! Hari dimana tidak ada hal lain selain-Nya.

Semakin kami besar, engkau pun semakin kecil dan tertinggal di belakang.

Engkau tertinggal di gubuk kayuku di Asrama Kestane Pazari.

Duhai gubuk kayuku!

Segala sesuatu tertinggal dan hilang bersamamu.

Duhai kerendahan hati… Betapa baiknya kamu…

Kita pernah berteman…

Duhai masa lalu!

Kita bukan yang pertama…

Kita juga bukan yang terakhir…

Duhai Masa Lalu…

Duhai hari dimana shalat diimami dengan penuh rintihan air mata.

Hari dimana detak jantung nyaris berhenti ketika membaca Al Quran.

Duhai masa lalu…

Hari dimana ukhuwwah, perasaan saling mencintai dan keterikatan hati.

Hari dimana manusia satu sama lain saling berangkulan.

Sehingga orang yang melihatnya pun takjub & memuji: “Betapa indah persaudaraan mereka”. Duhai masa lalu yang kini jadi kerdil.

Demikian me-raksasa-nya kita.

Kita tak mampu melihatmu walaupun sudah membungkuk.

Kita telah meraksasa hingga setinggi puncak Everest.

Duhai hari yang kerdil…!

Engkau bagai Laut Mati, yang berada 200 meter di bawah permukaan tanah.

Celakalah rasa haus akan penghormatan!

Celakalah pangkat dan jabatannya!

Celakalah kecintaan pada pangkat dan jabatan!

Celakalah ucapan-ucapan dan pikiran berbau syirik: Akulah yang melakukannya. Akulah yang membuatnya. Akulah yang memulainya. Akulah yang membangunnya. Akulah yang memberinya. Akulah yang menginisiasinya. Akulah yang menjalankannya.

Hasya wa kalla. Tidak! Sekali-kali tidak! Allah-lah yang melakukannya. Allah-lah yang mengizinkannya terjadi.

Duhai Masa Lalu. Ketika hal tersebut terbersit dalam pikiran kita, kita telah jatuh kemana? Ketika kita memikirkannya sungguh kita terkungkung oleh mimpi-mimpi. Kita jatuh saat ia terbersit. Duhai Masa Lalu. Hari itu adalah hari yang cerah sebagaimana cemerlangnya Sayyidah Nasibah.

Mereka tegar seperti Ibnu Huzaifah yang saat diusir dari rumah orang tuanya berkata: “Syukurlah! Akhirnya aku menemukan jalan menuju Rasulullah SAW”. Mereka bahagia sebagaimana Sayyidina Huzaifah bahagia. Hari-harinya bagai hari-hari Sayyidina Hamzah yang tak kenal takut dan lalai. Hari-harinya seperti Ali, jauh dari kemalasan, kesantaian, kenyamanan.

Betapa cepatnya hari berubah. Hari-hari itu telah digantikan oleh kasur yang empuk. Hari-hari itu telah digantikan oleh rumah-rumah yang memiliki banyak ruangan. Hari itu telah digantikan oleh meja penuh hidangan yang disiapkan tiga kali sehari. Hari itu telah digantikan oleh kesibukan berumah tangga, bersama pasangan dan anak-anak. Khususnya hari sabtu dan minggu, atau mungkin hari-hari lainnya.

Setelah menunaikan pekerjaannya di hari kerja, orang-orang yang mengatakan: “2-3 hari sudah saya wakafkan di jalan Allah…” Hari-hari yang diwakafkan tersebut pun digantikan dengan perasaan dan gagasan lainnya. Hari-hari tersebut digantikan dengan cita-cita, harapan, dan keinginan yang lain.

Duhai masa lalu…

rohan-makhecha-jw3GOzxiSkw-unsplash

Orang yang Mengkritik Takdir akan Terkapar oleh Takdir Itu Sendiri

Orang yang mengkritik dirinya sendiri, orang yang bermuhasabah diri tidak akan mengkritik saudara Hizmetnya. Al-Qur’an menyebutkan, Sunnah menyebutkan, buku Risalah yang kita sering baca pun juga menyebutkan bahwa kita harus menjaga penglihatan buruk tentang saudara kita kita harus mengabaikan kekurangan mereka. Dalam menghadapi humanisme Barat yang saat ini sudah mengenal dan mengagumi aspek-aspek islam, seperti toleransi, kasih sayang yang sangat berdekatan dengan nilai kemanusiaan kita tidak mungkin menanggapinya dengan kritikan.

Saya katakan jangan mengkritik siapa pun, siapa pun. Menyampaikan pemikiran, kesalahan dengan alternatif yang tepat, dapat ditangani dengan memberikan kritik positif. Tetapi tidak akan tercapai tujuan dengan menjatuhkan (mengkritik) seseorang. Bukan hanya saudara saudari kita di Hizmet saja yang saling mengkritik, sebagian besar Ahli Iman pun satu sama lainnya saling mengkritik di televisi, mereka berbicara saling menjatuhkan satu sama lainnya, yang juga diiringi dengan kata-kata yang membombardir, saling menyakiti dan saling membahayakan seperti ini tidak sesuai metode kritik saat ini, yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antar berbagai lapisan masyarakat, dan ini merupakan suatu kesalahan. Terutama teman-teman kita, mereka seharusnya tidak mengkritik.

Ustad Badiuzzaman dalam buku Lahikalar mengatakan bahwa

meskipun benar, orang yang mengkritik adalah salah”.

Saya pikir masalah ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu saya ulangi dan kalian iingat semuanya. Tentu saja, terkadang kita semua sempat terlintas untuk mengkritik orang lain. Kritik ini bisa termasuk kategori ghibah. Hafizhanallah (semoga Allah menjaga kita). Ini mungkin terbesit dalam diri kita, tapi walaupun ada keinginan, tidak melakukannya adalah suatu fadhilah.

Ketika kita terbersit untuk mengkritik, sebenarnya yang penting adalah untuk tidak mengkritik. Seseorang ada kecenderungan untuk mengkritik tapi harusnya tidak dilakukan. Oleh karena itu dalam pandangan Hizmet kita, terkadang saya melihat bahwa, tidak mengkritik dan tidak berghibah itu sangat penting. Berghibah tentang orang lain adalah termasuk ghibah. Tetapi berghibah tentang orang yang sangat mendalami hizmet termasuk ghibah besar. Mengkritik orang lain adalah termasuk kritik. Tetapi mengkritik orang yang sangat mendalami Hizmet termasuk kritik besar.

Pendapat pribadi saya, jika anda berkenan adalah; “saya takut sebuah akhir yang buruk akan menimpa orang-orang seperti ini”. Saya khawatir terhadap mereka yang terlalu banyak mengkritik orang lain, lalu berkata mereka tidak bisa bekerja, mereka tidak mampu bekerja, pekerjaan yang mereka lakukan salah, bahkan selalu melihat kekurangan pada pekerjaan orang lain, maka dalam waktu yang tidak akan lama mereka juga akan terperangkap dalam kesalahannya sendiri. Bahkan, hafazanallah, ia mengkritik semua orang, mencari-cari kesalahan pada semua orang, maka saya khawatir suatu saat keburukan akan berbalik padanyadan sampai sekarang saya belum melihat adanya sebab yang serius, sehingga kekhawatiran saya masih berlanjut. Kekhawatiran ini pada pandanganku, saya ulangi lagi, saya khawatir suatu akhir yang buruk akan jatuh pada mereka yang sering mengkritik, mengikat dirinya dengan kebiasaan mengkritik. Hafizanallah, aku khawatir mereka akan terjatuh ke dalam kutukan dan kesesatan ini.

Oleh karena itu, mulut teman-teman kita tidak boleh dikotori. Kotornya mulut adalah pertanda hati yang kotor pula. Jika hati tidak rusak, maka mulutpun tidak akan rusak. Gunjingan dan kritikan timbul dari lisan yang memiliki hati rusak. Tidak akan ada yang percaya pada mereka jika mengatakan, “hatiku bersih”. Hati yang bersih akan menghasilkan kalimat-kalimat yang bersih pula. Menghasilkan pemikiran yang bersih. Mari menjadi alternatif pelopor pemikiran yang positif. Mari kita titik pusatkan pemikiran kita pada hal-hal untuk saling berkonsultasi dalam setiap majelis (musyawarah). Mempertahankan kesesuaian dalam setiap prosedur dan adab dalam berdebat. Pada saat mereka tidak mengindahkan pendapatmu, maka tuntun mereka dengan cara lainnya, yaitu dengan cara yang disampaikan Al-Quran.

Janganlah kita saling menggunjing, saling mengkritik. Hal ini akan melimpahkan berkah pada Hizmet. Jika ada sebuah kritikan, -seorang Jibril tidak akan menggunjing- tidak akan mengkritik, tetapi, jika kamu mempunyai pekerjaan seperti Jibril, senang dengan kehidupan, tekun bekerja, sangat tulus dan ikhlas dalam bekerja, untuk itu aku akan sedikit bersumpah, tetapi aku tetap akan bersumpah, Wallahi, Billahi, Tallahi, tidak sedikitpun hal tersebut akan menjadi berkah dalam Hizmetmu. Walaupun Hizmet diatasnamakan dengan nama malaikat Izrail, Mikail dan Jibril, apabila mereka saling mengkritik satu sama lain, saling menghibahi satu sama lain maka kalian tidak akan melihat adanya keberkahan dari Hizmet walaupun seribu. Walaupun kalian sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi kalian tidak akan mendapatkan jalan walau hanya sekecil jarum paku.

Sekarang di turki, di beberapa tempat dan berbagai bidang ilmu, di karenakan beberapa teman yang terpaut dalam pengkritikan terhadap jamaahnya sendiri, keberkahannya hanyut seperti banjir menganyutkan dahan pohon yang besar. Dan saya mengatakan, ya Allah berikanlah hidayah. Dan satu dua orang yang hati dan lidahnya busuk ini, apabila dengan menghanyutkan mereka musibah ini akan di lenyapkan, maka saya mengatakan hanyutkanlah mereka ini. Siapa yang mengatakan ini? Ini adalah perkataan hati yang menangis walaupun ia di hadapan musuh. Karena di suatu tempat, Hizmet akan mendahului segala sesuatu. Mereka tidak akan mencari pada pengaruh sikap dan hati yang rusak, mereka tidak akan mencari pada lisan yang dasarnya terpaut pada kejahatan. Mereka tidak akan mencari pada orang yang terpaut akan keuntungan, tidak juga pada orang yang melenyapkan seribu keberkahan Allah. Biarkan saya mencium tangan dan kaki kalian, dengan rambut saya yang beruban saya meletakkan kepala saya dibawah kaki kalian seperti batu trotoar.

Demi ridha Allah, demi kebesaran Rasulullah, demi Ustad bediuzzaman Said Nursi, demi orang yang syahid dalam perjalanan Hizmet, demi ridha Allah jangan saling mengkritik. Saya akan bersabar dan menahan diri saya sedikit lagi. Tetapi suatu hari apabila masih ada yang saling mengkritik, seraya mengangkat tangan saya khawatir akan mengatakan “Ya Allah sampai sekarang saya hanya mendoakan para musuh, kini saya mendoakan Hizmet tetapi memiliki perasaan layaknya musuh”. Saya khawatir akan mengatakan seperti itu.

Demi Allah saya memohon kepada kalian. Jangan kita sentuh keberkahan Hizmet, jangan kita berghibah, jangan kita mengkritik, jangan kita lipatgandakan musibah. Jangan kita patahkan upaya mereka dengan menganggap kesalahan kita seperti kekurangan mereka. Jangan kita menghardik mereka. Katakanlah hal-hal baik yang mungkin menjadi faktor dalam upaya dan usaha mereka. Mari sajikan pendapat kita sebagai alternatif hal-hal indah, ini memungkinkan mereka untuk tercermin dalam kehidupan kita.