Tak pernah putus asa adalah suatu hal yang terbesit dalam pikiran saya, yang mungkin akan menjadi wasilah ampunan dari Allah SWT bagi saya. Walaupun saya hanya melihat dua orang pemuda, mereka akan tumbuh dan berkembang di masa depan. Yang tadinya hanya dua menjadi dua ratus, dari dua ratus akan menjadi dua ribu. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, orang-orang yang beriman akan memimpin takdir manusia. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, masa depan tidak akan diarahkan oleh orang yang tidak memiliki iman, ateis ataupun orang-orang yang memiliki penyakit hati, melainkan oleh orang-orang yang hatinya penuh dengan keimanan. Cukuplah janji Allah menjadi dalil untuk kita.
Inilah permohonan saya untuk kalian. Dakwah yang sudah kalian bawa hingga saat ini, jangan sampai kalian tinggalkan di tengah jalan. Setiap orang berusahalah untuk menyalakan dan menjaga percikan dakwah yang telah mereka emban. Bangsa ini memiliki kehormatan yang luar biasa dalam sejarah, tapi ia memiliki berbagai masalah untuk masa depan. Untuk merubah masa depan bangsa yang mulia ini menjadi masa kejayaan, semua orang harus bekerja keras untuk dakwah yang sudah mereka mulai. Peristiwa-peristiwa yang menimpa diri anda seperti munculnya orang-orang yang berusaha menghentikan Anda, jangan sampai membuat anda berhenti. Dakwah ini dimulai seperti ini dan akan senantiasa seperti ini. Derita dan keprihatinan yang luar biasa itu dirasakan oleh orang yang paling dicintai oleh Allah SWT dan anda pun mungkin akan mengalami rintangan yang seperti ini. Dimanapun anda berada, tetap nyalakan api dakwah ini. Nyalakanlah dengan ruh nabi Muhammad SAW, dengan ruh al-Qur’an, dengan ridha Allah SWT dan berhati-hatilah, jangan sampai anda bercerai-berai. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d:11).
Berusahalah untuk tidak bercerai berai dan jangan sampai menjadikan dunia menjadi tujuan ataupun terbawa dengan hal-hal yang fana. Jadikanlah Allah SWT sebagai tujuan yang paling utama dan jadikanlah tujuan anda akan apa yang dikehendaki Rasulullah. Jadikanlah kematian sebagai wasilah untuk bertemu dengan Allah dan Rasul. Berdakwahlah hingga ajal datang menjemput. Jangan pernah berhenti dan janganlah cemari diri anda dengan kotoran dunia. Berkhidmahlah untuk bangsamu sampai mereka benar-benar beriman dan jangan sampai sekali-kali menyerah di jalan ini. Allah SWT akan menjadikan satu menjadi seribu. Ingatlah bahwa ketika anda menjalankan dakwah ini, anda mengikuti dakwah yang di emban oleh para Nabi dan Rasul. Jika anda menyampaikan dakwah ini dengan penuh cinta, isytiyaq (kerinduan) ilahi dan penuh dengan ikhlas, maka tak ada satupun yang bisa mencapai level tingkatan anda. Anda merepresentasikan level tersendiri di sisi Allah SWT. Anda kembali membawa pesan-pesan dari para sahabat yang punya hubungan yang erat dengan Allah SWT yang secara tidak langsung anda merepresentasikan para sahabat tersebut.
Sekarang ketika membuat jadwal dalam hidup Anda, Anda harus berkata, hari-hari saya akan terisi oleh al-Qur’an sebanyak ini dan saya harus membaca buku sejumlah ini. Saya harus berdoa dan berzikir, jika seseorang tidak berdoa dan berzikir, maka orang ini berarti tidak patuh pada Allah. Dan karenanya orang ini akan berkata: “Saya tidak memperoleh berkah dalam hidup saya.” “Saya senantiasa terjebak dalam kesalahan”.
Karena itulah seseorang harus berpaling total kepada Allah swt dengan tanpa cacat dalam penghambaannya. “Oh baiklah, saya sudah menyelesaikan tugas-tugas, sekarang saat saya menyisihkan waktu 5 jam setiap hari untuk Allah”. “Berapa lama saya habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas harian (kerja, belajar dll.)?” “Saya menghabiskan 15 jam untuk tugas-tugas saya, saya menyisihkan 5 jam di sini (untuk Allah), kemudian sisa 10 jam bagi saya”. “Tugas utama saya adalah berhubungan dengan Tuhan saya, katakanlah, mulai saat fajar, saat tahajjud, jika saya mulai dengan tahajjud…” Kemudian saya tidak harus mengorbankan waktu lain di samping waktu bagi Allah untuk kegiatan yang lain. Saya tidak harus mengorbankannya demi kelelahan hari kemarin, pun tidak juga untuk tugas-tugas di hari mendatang. Saat ini adalah hak Allah atas diri Anda dan haruslah ditunaikan dan anda tidak bisa melewatkan hak tersebut. Karena jika benar Anda melewatkannya, maka Allah akan mengambil kembali hak tersebut dari Anda. Bahkan kamu tidak sadar hak-hak tersebut telah lenyap dari rangkulan Anda.
Selanjutnya Anda akan mengisinya dengan salat subuh sebelum matahari terbit. ketika matahari melewati puncaknya, waktu untuk salat zuhur dimulai. Itulah hak Allah atas diri Anda, Anda tidak bisa merubah atau menggantikannya. Jika Anda bersungguh-sungguh melaksanakan salat dengan penuh kesadaran Anda mestilah membaca setiap kata (bacaan salat) dengan penuh perhatian. Ustadz (Said Nursi) mengatakan pada mereka yang tidak salat sama sekali, bahwa, seorang pemula hanya butuh waktu satu jam untuk salatnya, termasuk wudhu. Anda harus mengatur waktu untuk salat zuhur, karenanya Anda harus berkata, saya luangkan waktu ini untuk zuhur. Anda minimalnya harus menyisihkannya sebanyak waktu yang Anda sisihkan untuk makan.
Tibalah waktu Ashar, Anda harus menyisakan beberapa saat untuknya. Maghrib pun tiba, Anda pun harus menyisakan beberapa saat untuknya. Anda akan mengalokasikan (waktu) bagi hak Allah, dan mempergunakan selebihnya untuk kegiatan dunia sehari-hari Anda. Ketika Anda menjadwalkan waktu Anda seperti ini layaknya sebuah kalender, yang dinamakan kerangka “waktu mati” untuk kegiatan sehari-hari Anda dan pecahan-pecahannya juga akan punya nilainya dan berharga. Hal-hal yang remeh di antara dua kerangka waktu tersebut juga akan bernilai. Jika seorang beriman, yang mengatakan bahwa dia percaya Allah, mendayagunakan waktunya seperti ini kepercayaannya akan menjadi fitrah yang kedua bagi dia, kalau tidak, setiap orang harus tahu bahwa seorang Muslim melalui kehidupan budaya religius tidak bisa sembarangan menghabiskan waktu mereka dan berharap mencapai ini.
Mereka bisa jadi tidak pernah mendengar Allah, mengetahui keberadaan-Nya merasakan kehadiran-Nya atau hidup dengan cinta kasih-Nya dan takut kepada-Nya. Anda tidak melihat atau merasakan kepercayaan Islam yang sebenarnya dan nilai-nilai dalam karakter dan aktivitas sehari-hari mereka. Mereka tidak bedanya dengan patung-patung selain fakta bahwa mereka hidup. Makan, minum, duduk dan berdiri, semua hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari kita dan menjadi bagian dari fitrah kita. Jadi bagaimana jika Anda tidak sarapan? Tapi sebagai manusia kita melakukan sarapan. Faktanya, apa yang terjadi jika Anda tidak minum teh dan bahkan meminum air? Kita minum teh karena itu menjadi bagian dari sifat alamiah kita. Jika salat dan berdoa telah menjadi bagian dari sifat alamiah kita. Dan suatu hari datang ketika Anda tidak membaca Jausyan, Maka hari itu menjadi tidak nyaman karena kekurangan ini. Jika Anda merasa nyaman-nyaman saja, maka itu (berdoa) belumlah menjadi bagian sifat alamiah Anda. Syaitan akan mengganggu dia dengan menghilangkan perasaan menyesal karena tidak melakukan kegiatan-kegiatan spiritual. Menghubungkan diri dengan Allah dan beribadah haruslah menjadi bagian dari sifat alamiah manusia. Dan menjangkau ketinggian yang tidak bisa dijangkau (diganggu) oleh hal apapun. Yang seandainya iman itu adalah kunci misteri bagi kebahagiaan abadi seseorang. Maka harganya haruslah ini (pengorbanan dan bersungguh-sungguh dalam beribadah).
Apakah teh ini milik saya? Apakah air ini sudah saya bayar atau belum? Dengan penghambaan seperti inilah yang menjadi dasar, wasilah, untuk naik ke tingkat ketaatan yang lebih tinggi. Karena para nabi tidak menghubungkan tugas dakwah dengan apa pun yang bersifat duniawi sebagai imbalan atas apa yang mereka lakukan, dan tidak mengharapkan balasan apa pun. Jika aku berharap suatu imbalan seukuran jubah atas khidmahku kepada Allah, Ya Allah, ambillah nyawaku ini, biarlah jasad ini melebur dengan tanah. -Sebagaimana para sahabat- suatu hari anda pun akan berkata: “Duhai Masa Lalu”. Kemanusiaan bangkit kembali dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jagalah Hizmet ini.
Anda akan dekat dengan Allah ketika anda menafikan diri anda dihadapan Allah. Jangan Mengharapkan keuntungan apapun dalam berkhidmah. Kalau kita baca tentang wara’ dalam kitab Imam Al-Gazali yang berjudul Ihya Ulumuddin, kita bisa melihat perspektif Imam Al-Gazali tentang “wara’”. Saat anda mengulurkan tangan anda pada sesuatu, anda harus merasa ragu. Misalnya, “Apakah gelas ini milik saya? Apakah piring ini milik saya? Apakah teh ini milik saya? Apakah air ini sudah saya bayar atau belum? Atau buku yang telah anda hadiahkan kepada seseorang, lalu ketika suatu saat anda pergi ke kamarnya, -Bertanya kepada diri sendiri- “Apakah saya boleh mengambil buku itu?” Padahal buku itu anda yang menghadiahkan padanya, namun buku itu sudah menjadi miliknya. “Bisakah saya menyentuhnya?” Anda harus merasa ragu ketika akan mengambil buku tersebut. Itulah Wara’, dengan tingkat kesensitifan seperti inilah kita harus mendekatinya. Dengan penghambaan seperti inilah yang menjadi dasar, wasilah, untuk naik ke tingkat ketaatan yang lebih tinggi. Ketika haknya tidak diberikan secara penuh, maka anda tidak akan bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dari sudut pandang ini -saya akan tarik kebelakang- bahwa hal-hal yang anda lakukan adalah hal-hal yang sudah dilakukan oleh para nabi yang agung.
Itulah mengapa jalan anda disebut “Jalan Para Nabi”. Karena para nabi tidak menghubungkan tugas dakwah dengan apa pun yang bersifat duniawi sebagai imbalan atas apa yang mereka lakukan, dan tidak mengharapkan balasan apa pun. Mereka yang telah melakukan hal-hal suci pun dengan mengharap balasan duniawi, mereka tidak akan pernah berhasil dan keberhasilan semu yang telah mereka lakukan tidak akan berlangsung lama. Oleh karena itu para nabi selalu menyuarakan: “Upahku tidak lain hanyalah dari Allah”. Ungkapan yang sama juga terdapat dalam surat Yasin, Habib Najjar berkata: Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin-21).
Mereka berada di jalan hidayah, jalan para nabi dan pada saat yang sama mereka tidak meminta imbalan apa pun dari Anda. Seandainya mereka mulai tugas ini dengan memakai satu kemeja, bahkan saat untuk pergi ke kubur pun, membuat orang-orang berkata: “Karena dia tidak memiliki uang untuk membeli kain kafannya, apakah kita akan menguburnya dengan kemeja ini saja?” Sampai pada tingkat itulah mereka berkhidmah dengan semangat istigna dalam hidupnya.
Jika aku berharap suatu imbalan seukuran jubah atas khidmahku kepada Allah, Ya Allah, ambillah nyawaku ini. Biarlah jasad ini melebur dengan tanah. Berkhidmahlah atas pertimbangan ini. Tidak mempergunakan nilai-nilai suci demi meraih pangkat duniawi, bila memang benar berada di jalan Allah, maka ia takkan menautkan pengabdian yang dilakukan dengan sebuah imbalan. Jika dengan khidmah ini anda bertujuan untuk memiliki sebuah rumah, mobil dan beberapa mobil berlapis baja, atau anda berpikir lebih dari itu -seperti Namrud- untuk memiliki sebuah istana, villa di beberapa tempat, jika anda mengharapkan hal-hal seperti ini dari khidmah yang anda lakukan, maka anda sudah keluar dari jalan para nabi. Berarti anda tidak menyadari bahwa anda sudah mengikuti setan yang terlaknat langkah demi langkah. Meskipun anda sering datang ke masjid, namun anda tidak menyadari bahwa anda telah mengikuti setan yang terlaknat. Al-quran memberikan tolak ukur tentang hal ini yaitu
Orang-orang yang selangkah demi selangkah, mereka berjalan di jalan para nabi dan mereka tidak menginginkan imbalan apa pun dari Anda!”
Orang-orang yang memiliki atusiasme tinggi akan menceritakan kondisi mereka, kegembiraan dan keadaan hati mereka. Mereka akan memproyeksikan superiotas perasaan mereka ke sekitar. Mereka akan melakukannya baik dengan kata-kata atau perilaku mereka. Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah menyebutkan bahwa yang pertama adalah tentang pandai berbicara. Kita juga telah menyebutkan bahwa mereka yang menjalankan misi dakwah dengan kata-kata, mereka disebut pandai berbicara. Jika perilaku tidak sejalan dengan perkataan, dengan kata lain berwajah dua, mereka akan mencoba untuk membungkam lawan bicaranya atau menipu orang lain.
Ketika perilaku sesuai dengan perkataannya, maka segala sesuatu yang ingin diceritakan masuk ke dalam hati dan diterima. Hanya dengan begitu lingkaran cahaya akan terbentuk di sekitarnya seperti yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. Karena alasan inilah perilaku dan kemurnian hati dianggap sebagai faktor terpenting dalam menceritakan kebenaran. Hal itu membutuhkan struktur hati dan struktur spritual yang bebas dari dendam, permusuhan, amarah, iri hati dan hanya memikirkan Allah yang Maha Esa. Untuk itulah, Guru kita Ustad Said Nursi memberikan kabar gembira:
“Bila kita memperlihatkan kesempurnaan akhlak Islamiyah dan hakikat keimanan dengan perilaku, maka pasti para pengikut agama lain akan masuk Islam secara berbondong-bondong.”
Suatu ketika, Umar r.a. naik ke atas mimbar. Tanpa harus menunggu untuk khutbah di hari jumat, Umar r.a terkadang memanfaatkan waktu naik ke mimbar. Ia menjelaskan dan menceritakan beberapa masalah agama kepada publik seperti yang telah dilakukan Rasulullah Saw. Suatu hari ia naik ke mimbar dan berpidato kepada jama’ah: “Jamaah! Dengarkan dan pahami”, dia berkata. “Setelah anda mempelajarinya, bertindaklah sesuai dengan itu!”. Tiba-tiba terdengar suara yang merobek keheningan di dalam masjid. Pertahian seluruh masyarakat tertuju kepada pemilik suara. Seorang sahabat ini berdiri di depan mimbar menentang Umar: “Tidak! aku tidak akan mendengarkan dan aku juga tidak mau memahaminya!” katanya. Tidak ada yang tahu mengapa dia menolak Sayyidina Umar dan mengatakan semua hal ini. Tetapi hanya beberapa menit kemudian semuanya akan terungkap. Umar mengenakan kemeja mewah hari itu. Umar r.a sedang memberikan khutbah kepada publik dengan kemeja pertamanya. Kain baju itu adalah salah satu potongan kain yang dibagi dari hasil ghanimah perang sehari sebelumnya. Sahabat yang menolak Umar juga diberi selembar kain itu. Tapi dia tidak bisa menjahit kemeja itu karena tidak cukup untuk kemeja. Mungkin dia hanya bisa menjahit kemeja untuk salah satu anaknya. Ketika sahabat itu melihat baju utuh dipakai Umar, dia keberatan. Ini merupakan sebuah ketidakadilan, ia telah menyaksikan perlakuan penghinaan terhadap keadilan. Karena alasan ini, dia tidak mau mendengarkan Umar dan menyatakan bahwa dia tidak akan mendengarkan. Dia berkata “Saya tidak akan mendengarkan.” “Kenapa kamu tidak mau mendengarkan”, kata Umar. Khutbah tidak lagi didengarkan. Mereka fokus pada dialog antara salah satu sahabat dengan Umar. “Wahai Umar, takutlah kepada Allah”, katanya. “Kamu melakukan kezhaliman”, katanya. “Kemarin kamu memberiku sepotong kain, kamu juga mengambilnya. Kenapa saya tidak bisa menjahit kemeja untuk diri sendiri, sedangkan kamu bisa jadikan satu kemeja?Kemudian kamu berdiri di depan saya dan berkata “dengarkan saya dan pahami”. Saya tidak akan mendengarkan maupun memahami”. Umar r.a adalah orang yang tidak diam terhadap ketidakadilan. Dia sangat senang melihat sahabat seperti itu, yang blak-blakan mengatakan yang sebenarnya. Tapi dia perlu mengklarifikasi masalah tersebut. “Putraku Abdullah, berdiriilah, ceritakan tentang kisah baju ini”, kata Umar kepada putranya. Abdullah r.a pun berdiri dan menjelaskan kepada jamaah: “Ayahku mendapatkan sepotong kain, begitu pun saya, tetapi tidak ada yang cukup untuk menjadi sebuah kemeja. Oleh sebab itu, saya memberikan bagianku kepada ayahku agar dia punya baju baru saat memberikan khutbah kepada jamaah pada hari jumat. Inilah yang terjadi. Kalau tidak, bagian kain yang diperoleh ayahku tidak cukup untuk menjadi kemeja”. Sahabat yang tadi berkata dengan nada yang sama “Bicaralah Umar!Aku sedang mendengarkan sekarang” katanya. “Saya mendengarkan karena saya melihat kebenaran anda, karena saya melihat keadilan anda”, katanya.
Umar r.a menjalankan apa yang dia katakan. Satu yang dia katakan tetapi 10 yang ia lakukan. Perilakunya lebih benar dari pada perkataannya. Mungkin ada beberapa kesalahan dalam perkataannya, tetapi perilakunya adalah ekspresi, monumen kebenaran. Kita harus menjadi orang yang pandai bersikap, berteladan. Maka orang akan percaya pada kita, maka kebenaran akan menunjukkan efek yang diharapkan darinya. Maka hati akan menerima kebenaran yang mereka butuhkan dan akan menerimanya. Ketika perkataan kita ada di suatu lembah dan perilaku kita di lembah yang lain, tidak ada yang akan percaya pada kita selama kita hidup dengan cara munafik, berwajah dua, orang-orang tidak akan mengikuti kita.
Ya, saya ulangi sekali lagi perkataan yang sama. Para nabi telah meyatukan kata-kata dan perilaku. Mereka telah mempraktikkannya dalam kehidupan mereka sendiri apa yang mereka sampaikan kepada orang lain. Mereka tidak berwajah dua. Karena itu orang-orang mengikuti merekadan membentuk komunitas besar dan jamaah di sekitar mereka. Itu telah terjadi sampai abad ini. Orang-orang yang perilakunya sama jujurnya dengan perkataannya telah memobilisasi komunitas. Saat ini, jika ada seorang remaja yang kejujuran bisa dilihat dari wajah mereka, ini karena mereka yang tindakannya sama jujurnya dengan perkataannya. Ini telah disadari oleh mereka yang telah meninggalkan kesenangan duniawi, meninggalkan keinginan-keinginan mereka. Mereka yang tidak dapat menemukan apapun selain kardigan tua (pakaian yang dirajut) untuk dikenakan di punggung mereka, mereka yang meninggalkan kenikmatan duniawi, mereka yang sama sekali tidak melakukan ketidakadilan, mereka yang tindakannya bahkan lebih jujur dari perkataannya telah melakukannya dengan berkat dan pertolongan Allah SWT.
Jika anda ingin kata-kata anda memberi ruang di hati, -mungkin saya tidak akan bisa melakukannya sama sekali- tetapi jika anda benar-benar menginginkannya, maka anda harus memperhatikan penyatuan perilaku dan perkataan anda. Hindari sifat munafik dan mencoba untuk hidup dalam persatuan internal & eksternal. Jangan lupa bahwa Allah tidak mencintai mereka yang menjalani kehidupan ganda. Dalam Al-Quran mereka disebut dengan munafik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat munafik, berwajah dua, menjalani kehidupan ganda. Semoga Allah menganugerahi kita hidup dalam persatuan saat kita pergi menghadap-Nya.
Al-Qur’an Mu’jizul Bayan, memiliki narasi dan ekspresi gaya muslim sendiri. Ia menyebut mukmin dengan beberapa kualitas mereka, beberapa sisi keunggulan mereka, dan memperkenalkan gaya mukmin kepada kita. Ia menunjukkan gaya ini kepada orang-orang sebagai panduan dan pengajaran, sebagai contoh, juga sebagai pemimpin yang membimbing jemaah menuju kebenaran. Dalam hal ini, kita dan para pendahulu kita sebagai muslim, pendahulu dan pentabligh kita yakni Rasulullah SAW, memiliki dua macam cara dalam membimbing orang-orang menuju kebenaran. Pertama, kita belajar dan menceritakan masalah yang harus kita sampaikan dengan cara yang terbaik. Dalam hal ini, kita dapat menghadapi semua tantangan. Kita mengarungi lautan darah dan nanah, terbang di atas ladang yang berduri, kita berhadapan dengan kesulitan yang tak terkira. Kita berdakwah karena kita percaya kepada Allah yang membuat kita merasakan kehadiran diri-Nya dalam setiap peristiwa. Kita menggunakan lisan kita, menggunakan kepala kita, menggunakan perasaan kita dan mencoba untuk menyampaikan dakwah. Cara penyampaian yang paling hidup, paling efisien, dan paling efektif adalah bahasa sikap. Menjelaskan Allah dengan bahasa sikap, menjelaskan dan menafsirkan al-Qur’an dengan bahasa sikap dan menjadi cermin Nabi Muhammad SAW dengan bahasa sikap.
Al-Qur’an menerangkan pentingnya bahasa sikap. Selama ini jemaah al-Qur’an telah dibagi menjadi dua bagian: “Mereka yang pandai bersikap dan pandai berbicara”. Mereka yang pandai berbicara bisa berceramah dengan baik dan mengedepankan gagasan dan pernyataan yang tinggi. Tetapi mereka yang pandai bersikap selalu tampil cerah, menonjol dan membelakangi orang-orang yang pandai berbicara. Siapapun yang jujur, siapapun yang tulus, siapapun yang mengarahkan dirinya kepada Allah dengan segenap perasaannya, Allah yang Maha Kuasa telah menyerahkan semua hati kepadanya. Untuk itulah, misi yang menyulut kehebatan al-Qur’an Mu’jizul Bayan dan meningkatkan keyakinan di dalam hati adalah milik mereka yang pandai bersikap, bukan yang pandai berbicara.
Ketika al-Qur’an mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (al-Anfal: 2). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (As-Saff-11). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Dan ketika Al-Quran mengatakan: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al Furqan-63). Ia menggambarkan ciri-ciri orang yang beriman. Ia menempatkan gaya teladan di depan orang-orang. Ia menekankan di keimanan kepada Allah SWT yang menarik orang dan menjelaskan aspek mukmin ini. Mereka yang mengganggu, mereka yang berpikir bahwa mereka dapat melakukan sesuatu dengan perkataan saja, mereka yang tidak memiliki keimanan kepada Allah akan menyendiri dan tidak akan ada orang di sekitar mereka padahal mereka mengedepankan ide-ide cemerlang. Bahkan mereka tidak akan mampu memiliki jama’ah walaupun hanya semobil angkot.
Rasulullah SAW adalah pribadi yang berharga dan unik, yang bersandar pada Allah, yang memadukan perilaku dan perkataan. Dia telah menyatukan perilaku dengan perkataan. Orang-orang di sekitarnya menggambarkannya sebagai “ketika ia menjelaskan dan memberitahu kami sesuai dengan kehebatannya, bahkan air yang mengalir akan berhenti, air yang mengalir akan berhenti saat dia berbicara. Tetapi perilaku rasulullah lebih jelas, lebih berpengaruh, dan lebih manis daripada kata-katanya. Di sini saya akan mencoba menyampaikannya dengan contoh kecil, sebagai berikut.
Ketika beliau SAW memuliakan Madinah dengan kehadirannya, banyak orang berlarian untuk menemuinya. Semua orang berlari untuk melihat siapa pria yang mampu menyeret orang-orang di belakangnya, yang membuat mereka meninggalkan anak-anaknya, wanita menjadi janda, anak-anak yatim. Siapa lelaki yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya melupakan diri mereka sendiri. Semua orang bergegas untuk melihatnya gunung batu berlari melihatnya, mereka harus lari, mereka pun berlari. Seandainya bisa, kita juga berlari untuk menemuinya. Anak-anak menyambutnya di bukit dengan tepuk tangan, mereka berseru: “Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita, dari lembah Wada’” sedang menabuh genderang dan rebana, menyanyikan lagu dan melantunkan sanjungan sambil menyambutnya hanya karena penguasa zamannya telah datang. Di Madinah saat itu ada banyak orang yang telah mendalami ilmu pengetahuan, mengembangkan dunia ide mereka sendiri. Ada orang-orang yang mengetahui Taurat, mengetahui dunia, di Madinah saat itu juga ada yang mengetahui nabi-nabi. Di antara mereka adalah Abdullah bin Salam, yang dihitung oleh sebagian ulama sebagai seorang dari sepuluh sahabat dengan kabar gembira surga. Ia bercerita, “Saya sedang berada di kebun anggur saya, saya melihat bahwa para sahabat yang berlari untuk menyambutnya sedang berbicara satu sama lain. Saya melihat suku Aus dan Hazraj berlarian di Madinah dalam kegembiraan yang luar biasa ketika menuju Aqabah. Saya menanyakan alasannya, mereka menjawab: “Nabi datang ke Madinah.” Saya juga memutuskan pergi untuk melihatnya. Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Salam mangajukan 3 pertanyaan kepada Rasulullah. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini hanya seorang Nabi lah yang mengetahui jawabannya. Karena Rasulullah menjawab mereka semua jadi ia beriman dengan megatakan La ilaha illahlah. Dalail menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW sedang duduk di masjid, Abdullah bin Salam masuk. Dia melihat wajah terpancar dan bercahaya Nabi, memperhatikan pidatonya, suasana hatinya, sikap dan perilakunya. Dia mengamati Nabi yang dalam setiap perilakunya dapat dirasakan kristal-kristal iman kepada Allah. Kemudian dia datang ke hadapannya, berlutut dan berkata: “Demi Allah, aku bersumpah, tidak ada kebohongan di wajah ini ini pastilah Nabi”لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ.
Seorang ulama yahudi, orang yang sadar, dia akrab dengan kebenaran. Dia adalah seorang yang mengenal nabi dan dia pembaca al-kitab. Bahkan jika tidak ada bukti yang lain satu perilaku Rasulullah cukup menjadi sebab untuk seorang beriman dan cukup untuk membuktikan keberadaan Allah SWT. Izinkan saya menyampaikan tentang Zayd bin Sun’a. Ada banyak suku yang percaya kepada Rasulullah SAW tetapi mereka tidak dapat menemukan jalan untuk datang ke hadapannya dan tidak bisa melihat wajanya yang seperti bunga mawar, duduk di hadapannya, dan tidak bisa mengambil faedah darinya. Mereka berada di tempat yang sangat terpencil. Zayd bin Sun’a menyampaikan kepada kita: Pada suatu hari, waktu itu saya belum menjadi muslim, saya sedang menyelidiki.” “Seorang yang sangat sedih, seolah seluruh dunianya hancur. Ia mendekati Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, setelah saya memiliki keyakinan kepada Allah, saya pergi ke suku saya yang sangat membutuhkan dakwah, saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu rezeki.” Saya berkata, berimanlah kepada Allah, Dia akan memberimu kebahagiaan. “Wallahi, wahai Rasulullah, mereka semua telah beriman kepada Allah tetapi mereka masih dalam kesulitan. Saya takut, hatiku tidak tenang, saya khawatir mereka akan keluar kembali dari agama, mereka akan kehilangan Anda. Wahai Rasulullah, bisakah Anda membantu kami secara finansial dan menyelamatkan mereka dari masalah?” Rasulullah berpikir dalam, apakah dia punya sesuatu di rumahnya sendiri. Tidak ada apapun di rumahnya, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengenyangkan perut dan membahagiakan mereka walaupun untuk sementara itu saja. Dia sangat sedih dan patah hati. Saat aku pergi aku mendekatinya dan berkata: “Wahai Muhammad,” dia memanggil Nabi dengan namanya karena dia belum menjadi muslim. “Wahai Muhammad, jika Anda mau, saya akan memberikan Anda uang dan kurma sebagai ganti uang dan kurma yang akan Anda peroleh dan panen di masa depan. Sekarang saya akan memberikan kepada Anda dan Anda akan membayar kembali ke saya di masa depan.” Rasulullah pun menyetujui ketentuan dan syarat kesepakatan dengan mengikuti akad Salam. Beberapa hari telah berlalu, jangka waktu kesepakatan belum jatuh tempo. Kurma di pohon belum cukup matang untuk dipanen. Belum ada apapun yang bisa diperoleh Rasul yang akan pergi dan ambil, tetapi saya pergi. Rasulullah duduk di suatu tempat bersama Abu Bakar dan Umar, seperti biasa saya mendekatinya. Keluarga Abu Thalib adalah keluarga yang sangat terhormat. Mereka menepati kata-kata mereka “Anda membeli kurma dari saya, Anda sama sekali tidak mengeluarkan suara, apakah Anda ingin memakan hak saya? Kapan kamu akan membayarnya kembali?” tanya saya. Utusan Allah, SAW berpaling pada saya, melihat wajah saya dan tersenyum. Dia memberi isyarat kepada Umar dan berkata kepadanya: “Bawa dia dan berikan apa yang dia inginkan dan berikan kepadanya sedikit lebih banyak apa yang dia inginkan!” Umar meraih tangan saya dan membawa saya ke suatu tempat mengembalikan kurma saya dan memberikan sedikit lebih banyak dari apa yang telah saya berikan sebelumnya. Rasulullah SAW tersenyum. “Mengapa Anda memberikan kelebihan ini?”, kata saya. “Rasulullah memerintahkan begitu”, kata Umar radhiyallahu ‘anhu. “Wahai Umar, apakah Anda mengenali saya? Saya seorang Kristen atau pemuka Yahudi Zayd bin Sun’a,” kata saya. “Ya, saya kenal Dan mengapa Anda bersikap tidak hormat kepada Rasulullah? Mengapa Anda bersikap sombong?”. Kemudian ia melanjutkan, “Demi Allah, saya telah membaca kitab-kitab para nabi terdahulu, dan saya telah melihat semua ciri-ciri nabi akhir zaman ada pada dirinya. Kecuali satu hal, kelembutannya akan mengalahkan amarahnya, dia tidak akan marah atas nama dirinya walaupun dunia akan hancur atas kepalanya dia tidak akan marah atas nama dirinya. Saya berperilaku seperti itu karena saya ingin mengetahuinya.Terlepas dari semua kesombongan saya, dia tersenyum dan berkata, “beri dia sedikit lagi,” katanya. Jelaslah ini, dengan kelembutannya, kesabaran yang mengatasi amarahnya inilah yang telah dijelaskan dalam kitab-kitab itu. Kemudian Zayd bin Sun’a datang ke hadapan Rasulullah SAW dan berucap لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰه.
Ini adalah pelajaran tentang bahasa sikap, penyampaian dengan teladan. Ada banyak orang telah belajar banyak hal, membuat dialektika, mempelajari masalah dengan tujuan membungkam lawan bicara mereka. Dan mereka tidak bisa membuat diri mereka disukai oleh orang non muslim, bahkan orang mukmin saja tidak bisa. Ada orang yang berhati sempit, hatinya tidak berkembang, belum mendapatkan “alam nasyrah laka” (al-Insyirah). Yang hatinya tertutup kepada cahaya langit dan cahaya wahyu bahwa mereka mencoba berdebat dengan diri mereka sendiri ketika mereka tidak dapat menemukan orang lain. Betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan, tetapi karena cemoohnya, sikap keras dan kasarnya menjadi penghalang terlihat indahnya kemusliman dan keislaman itu sendiri.
Bahasa yang paling berpengaruh adalah bahasa sikap sekalipun hanya diam bahasa yang paling berpengaruh adalah hati. Bahasa yang paling berpengaruh adalah luapan air mata. Bahasa yang paling berpengaruh adalah adanya kepala yang mengerang yang merenung di bawah kegelapan malam.
Saat Anda mendapatkan dan menerapkannya dengan benar, komunitas bangsa lain, negara-negara di dunia akan menerima Islam dalam gerombolan-gerombolan. Meskipun banyak orang yang pendiam menyeret massa, orang-orang seperti saya yang berbicara dengan sastra berkhutbah, tidak bisa mendakwahi seorang pun tentang Allah bahkan mereka tidak mampu memiliki jemaah walaupun hanya semobil angkot.
Atas nama kebenaran, seseorang juga akan menyampaikan apa yang telah diketahui dan diperolehnya kepada orang lain. Dan mencoba memastikan bahwa mereka juga mendapat faedah sebagaimna ia mendapatkannya. Beginilah seharusnya sifat kemanusian. Kata Insan (manusia) berasal dari kata “uns” yang berarti makhluk yang mampu bergaul dengan baik dengan orang lain, berdamai dengan mereka, berkemanusian, memelihara cinta dan kasih sayang, dan makhluk yang bersosial. Insan, melihat alam semesta dalam perspektif persaudaraan. Mereka memandang satu sama lain seperti anak-anak yang tumbuh dirawat di bawah perlindungan orang tua di rumah. Jika seseorang memahami makna kemanusiaan, dia tidak hanya berhubungan dengan manusia lain, tetapi dia juga menjalin hubungan dengan hewan, pohon, hingga rumput, gunung, batu, semuanya dilihat dalam pandangan penciptaan makhluk Allah SWT. “Tuhanku Pencipta gunung-gunung, sungai-sungai, pohon-pohon, rerumputan, dedaunan, makanan, buah-buahan, makhluk-makkhluk yang tidur nyenyak dan orang-orang yang bekerjasama denganku untuk memahami makna alam semesta, Pencipta manusia”. Jika seseorang melihat alam semesta atas nama Allah, maka dia akan memiliki relevansi seperti ini.
Sementara kufur, karena memutuskan hubungan dengan Allah, ia ibarat menabur benih asing di antara makhluk lainnya, mengubahnya menjadi musuh satu sama lain. Suatu pohon, yang terikat dengan kuat pada akarnya, dahan dengan daunnya, buah dengan tangkainya, beginilah perumpamaan manusia yang seharusnya bisa membangun ikatan kasih sayang. Tetapi jika akarnya dipotong dari tempat ia bertahan, jika Allah dikeluarkan dari hati mereka, jika hati membangkang kepada Allah, maka tidak akan ada cinta dan kasih sayang di antara sesama manusia. Bom-bom akan meledak, orang-orang akan saling membunuh, yang kuat akan menindas yang lemah, tangisan dan rintihan orang-orang lemah akan menjadi melodi dan kesenangan bagi mereka.
Karena alasan inilah, seorang muslim harus menjadi pelayan (pendakwah) setelah dia mempelajarinya dari Allah dan Nabi SAW. Lalu mencoba menyebarkan pemahaman tentang persaudaraan ini di muka bumi.
Dan alasan inilah para nabi dan sahabat mereka paling menderita dalam masalah ini. Lingkaran cahaya yang berkembang di sekitar Rasulullah SAW, menelan semua kezaliman dan semua kegelapan. Nabi Muhammad SAW telah mencapai posisi itu hingga 3/4 dunia mengatakan apa yang dia katakan dan bergabung dengannya, mereka membaiatnya dan tunduk padanya. Allah telah menganugerahi mereka hari-hari yang diberkati itu. Kami memohon darinya hal yang sama. Ini semua tergantung bagaimana kita berusaha untuk mendapatkannya.
Untuk tujuan ini, Rasulullah SAW telah mengirim muridnya yang mulia yaitu Mus’ab ke Madinah. Mus’ab berasal dari salah satu anggota keluarga ternama di kota Mekah. Bahkan dia biasanya memakan makanannya sendiri dan tidak suka duduk di meja yang sama dengan orang lain. Allah telah memperkenalkan dia kepada Rasulullah SAW pada usia 17-18 tahun, yaitu di puncak hidupnya. Tiba-tiba, hatinya menjadi luluh. Mus’ab yang kasar, keras, dan yang tidak bersosial dengan orang lain tiba-tiba berubah menjadi seperti malaikat. Setelah dia mulai mengikuti majelis Rasulullah dia terus maju. Tidak ada lagi Mus’ab yang dilihat orang dari balik tirai. Tidak ada lagi wanita yang melambaikan serbet mereka, dan tidak ada lagi Mus’ab yang bangga dan bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Berbalut mentel kambing ia berdiri diam dan ia mendengar dengan khusyu pada Rasulullah yang sedang berbicara tentang alam semesta. Dia mendengarkan Rasulullah, yang merupakan burung Bulbul alam semesta. Utusan Allah yang membelah bulan dengan mengangkat jarinya, dengan jari tersebut menunjuk ke arahnya dan berkata “lihat ini”! Saat Mus’ab berkeliling di jalan-jalan Mekah, jendela-jendela terbuka dan semua orang akan melihatnya. Dia bisa membeli setengah dari Mekah dengan hartanya. Ketika dia berumur 18 tahun yang merupakan periode paling matang, dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan menerima Islam.
Mayoritas orang yang menempuh jalan kebenaran mempunyai usia yang hampir sama. Mus’ab pergi ke Madinah dan ia membimbing orang-orang menuju kepada kebenaran. Mereka tidak lama melihat keadaan Mus’ab yang seperti ini. Di Perang Uhud, dia melakukan tugas terakhirnya dan pergi ke hadapan Allah. Mungkin dia belum berusia 25 tahun, dia telah syahid dan menghadap Allah SWT. “Pedang berputar di kepalaku, pisau diasah dengan kebencian.” “Tetapi aku dengan satu pengawas berdakwah tentang Allah yang aku imani di Madinah.” “Saya mencoba untuk menceritakan tentang Allah, yang tanpa-Nya hati manusia menjadi hancur berkeping.” “Saya mencoba untuk menceritakan Allah yang dengannya kedamaian dan ketenangan dapat dicapai.”
As’ad ibn Zurarah adalah salah satu dari mereka yang menanggung banyak penderitaan dan tidak sempat melihat kejayaan islam. Dia tidak sempat melihat perang badar ataupun Uhud. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, dia sudah lebih dulu hijrah kepada Allah SWT. Tapi dia telah melindungi Mus’ab, saat itu ia hampir menjulurkan kepalanya sebagai perisai ke arah pedang yang dihunus kepada Mus’ab, karena Mus’ab saat itu sedang menjelaskan tentang Allah dan Rasulullah. Madinah tiba-tiba tergoncang, di setiap jalan kota Madinah semua orang dari yang besar hingga anak kecil mengatakan Allah, dan mengatakan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jalan yang gelap itu, bahkan jika anda pergi hari ini akan terlihat terang benderang di malam hari. Mereka telah diterangi dengan cahaya Muhammad SAW. Bahkan jika tidak ada fajar atau bulan di malam hari, cakrawala kota Madinah berkilauan. Seolah-olah semua bintang dunia sedang melihat ke sana. Mereka mencari di sana, karena bintang dari semua bintang SAW ada di sana. Semua orang datang ke Mus’ab dengan kemarahan. Mereka yang menceritakan kebenaran, mereka yang melindungi kebenaran harus memperhatikan dengan cermat penjelasan ini. Mereka perlu menyadari tanggung jawab untuk berdakwah, dan menceritakan tentang Allah dalam kondisi apapun.
Usaid bin Hudhair, pemuda terhormat suku Esyhel, segera menghunus pedangnya di hadapan Mus’ab; “Aku tidak bisa membiarkanmu menyebarkan perpecahan di dalam kaumku, aku akan tusuk kamu dengan tombakku ini.” Pelindung menceritakan tentang perilaku Mus’ab pada kondisi itu: “Duduklah disampingku, dengarkan kata-kata yang akan kuucapkan! Jika anda tidak setuju dengan apa yang kukatakan, silakan lakukan apa yang anda inginkan. Tetapi jika saya benar, tidak ada maknanya untuk berdebat di sini dengan sia-sia.” Mus’ab telah mendudukkannya dengan manis di sampingnya. As’ad ibn Zurarah menyampaikan kepada kami: “Wallahi, ia memulai membaca: “Haa Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhan – 44). Saat Mus’ab terus membaca ayat-ayat tersebut, wajah Usayd bin Hudhair mulai berubah. Orang yang datang ke sana dengan sikap kasar, liar bak hewan tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Wajahnya dan sikapnya tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Di wajahnya sudah mulai terpancar cahaya Rasulullah. Setelah ia mendengarkan Al-Qur’an dan penjelasan Mus’ab, ia bertanya: “Apa yang kamu ingin aku katakan?” Allah menginginkan dari semua orang untuk mengucapkan kalimat ini:
Penawar hati yang hancur, obat hati bagi yang jauh dari pada keyakinan kepada Allah SWT. Begitu dia bangun, Usayd memutuskan untuk pergi menemui putra pamannya Sa’ad bin Mu’adz. “Demi Allah, jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang, -ia yang akan menjadi pahlawan dalam pertempuran Perang Khandaq, Uhud dan Badar,- jika saja Sa’ad bin Mu’adz datang ia yang akan menyelesaikan permasalahan orang Anshar dan Esyhel.” Dan benar, Sa’ad bin Mu’adz juga datang dengan pedangnya. Dia juga mengancam Mus’ab, entah sudah berapa kali dia menghujamkan pedangnya ke kepala Mus’ab. Tetapi Mus’ab yang manis, Mus’ab yang terkasih, Mus’ab yang ahli di surga menjawabnya: “Duduk dan dengarkanlah terlebih dahulu, setelah itu silakan katakan apapun yang kamu mau!”
Wahai semua yang menceritakan tentang hakikat kebenaran, dengarkanlah dengan baik! Mereka semua perlu menyadari pentingnya menjalankan dakwah dalam kondisi apapun. Saya sendiri juga akan mendengarkan. Duduklah, saudaraku! Saudaraku yang terluka! Saudaraku, yang hatinya telah terkoyak! Saudaraku yang tidak percaya pada Allah! Saudaraku yang gelisah! Duduk dan biarkan aku menjelaskannya. Jika kamu tidak menerimanya silakan setelah itu lakukan apapun yang kamu mau!” Mus’ab membacakan ayat-ayat dari Al-Qur’an kepadanya. Hatinya mulai luluh. Sa’ad bin Mu’adz, ia hampir saja mencium tangan dan kaki Mus’ab. Beberapa saat kemudian, cahaya Al-Qur’an dan iman juga mulai muncul di wajahnya. Dia juga berkata dengan sepenuh hati bahwa لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰه “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.”
Dalam seminggu Mus’ab berhasil meyakinkan suku Esyhel. Sebuah kelompok bernama Anshar telah muncul. Mereka menyambut Rasulullah pada tahun berikutnya dengan 70 orang di ‘Aqabah. 70 orang berjabat tangan dengan Rasulullah. Mereka menjanjikan kepadanya dalam perjuangan untuk hidup dan mati. “Kami akan mati, tapi kami tidak akan mundur”. “Kami akan melindungi Anda dan tidak akan meninggalkan yang haq”. “Kami akan menjadi pelayan Al-quran dan agama islam, dan kami tidak akan menahan diri untuk memenuhi janji ini” kata mereka. Dan benar, mereka memenuhi janji mereka. Kami juga mengatakan “ya” dalam “Qalu bala” (langkah awal dalam penciptaan manusia). Kami juga telah mengatakan dari bagian terkecil dari tubuh kami dan jiwa kami. Kami membenarkan perkataan kami dengan datang ke masjid. Semoga Allah menganugerahkan juga kepada kita untuk berada di jalan yang sama, memenuhi janji yang sama hingga nafas terakhir. Dan menganugerahi hati kita dengan antusiasme dan cinta untuk berdakwah, menceritakan tentang Allah SWT dalam suasana kebebasan yang luas ini. Semoga Allah SWT memberkati semua orang untuk menceritakan dan menjelaskan hakikat kebenaran ini di manapun ia berada dan sesuai dengan kemampuan dan sarana yang mereka miliki.