Bagaimanapun, suatu hari matahari akan terbit. Cahaya akan menghujani seluruh alam semesta sekali lagi. Cahaya akan datang menelan kegelapan di semua segmen kehidupan. Dengan beriman, Allah akan menyelamatkan mereka yang berhasil menjadi waliyullah dari kegelapan berlapis-lapis. Allah akan menggenggam tangan mereka dan memasukkannya ke dalam cahaya-Nya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-Nur ayat 35: “Allah adalah Zat yang senantiasa menyinari langit dan bumi”. Allah SWT adalah sumber cahaya. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjalin hubungan dengan Allah SWT sang Pemilik Cahaya alam semesta. Sebab pada dasarnya, jika manusia kehilangan hubungan dengan Allah, maka ia bukan hanya akan kehilangan satu cahaya, melainkan semua cahaya. Pertama, ia akan kehilangan cahaya siang, lalu ia akan kehilangan cahaya bintang di waktu malam dan seterusnya hingga ia akan tenggelam dalam kegelapan yang berlapis-lapis.
Dalam hal ini, terdapat istilah lingkaran setan. Artinya bahwa ketika seseorang berbuat salah sekali, misalnya berbohong, maka pintu dusta pun akan terbuka untuk kebohongan berikutnya. Sekali seseorang memfitnah kawannya, maka dia akan membuat fitnah lainnya. Sekali dia melangkah ke arah keingkaran, maka dia akan menapakkan langkah lainnya, hafizanallah. Inilah lingkaran yang secara perlahan-lahan menyeret manusia ke dalam kubangan dosa dan kehilangan cahaya Allah SWT. Semoga kita bisa terlepas dari hal tersebut.
Bagaimana caranya agar seseorang bisa terbebas dari lingkaran dosa itu dan kembali mendapatkan cahaya-Nya? Caranya adalah harus ada sahabat sejati yang mendampingi dan membimbingnya. Tetapi harus dipahami bahwa hanya ada satu Sahabat sejati. Jika kamu tak menemukan sahabat yang hakiki, maka kamu akan membabi buta mengikuti puluhan sahabat yang menipu. Jalan untuk melepaskan diri dari sahabat semu dan setan itu adalah dengan menemukan Sang Sahabat Sejati, Allah SWT. Jika tidak, maka tipuan dunia dan nafsu syahwat akan melenakan dan membuat Anda mulai mengejar sahabat semu itu. Anda akan mulai melepaskan diri ke air terjun kehidupan bebas. Satu-satunya jalan melepaskan diri dari ribuan perbudakan yang demikian yaitu dengan menjadi budak-Nya.
Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 136: “Wahai orang-orang yang beriman, perbaharuilah imanmu!”. Sahabat Rasulullah yang memahami pembahasan ini dengan baik ketika bertemu satu sama lain akan saling berseru: “Datanglah! Dalam beberapa menit ke depan mari perbaharui iman kita” “Mari kita bermuhasabah! Mari menguatkan iman kita!”. Inilah resep agar kita mampu menjalin hubungan persahabatan dengan Allah SWT dan membebaskan diri dari belenggu dosa serta mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya-Nya.
Lalu apa yang menjadi masalah kita dewasa ini? Masalah utama yang kita hadapi dewasa ini adalah masalah iman. Lalu kemudian masalah menjauhnya manusia dari jati dirinya sendiri. Maka membaca zaman dengan tepat, lalu menemukan masalah dengan tepat, serta merumuskan resep dan solusi dengan tepat adalah sangat penting. Itulah permasalahan kemanusiaan masa kini.
Surga itu kekal, neraka juga kekal. Semoga Allah menganugerahi Anda, kawan-kawan Anda, saudara-saudara Anda yang merintih dalam keprihatinan, mereka yang dizalimi, menderita, bersembunyi dari pemimpin yang zalim, mereka yang hatinya terus berdetak ingin melayani umat manusia meskipun kondisinya sedang tidak memungkinkan, semoga Allah SWT menjadikan kalian semua sebagai tetangga Rasulullah SAW, membahagiakan kalian dengan surga firdaus-Nya. Semoga Allah menjauhkan Anda sejauh-jauhnya dari neraka jahannam. Aamiin Ya Rabbal’Alamiin. Wassalam
Dalam sejarah, kita mengenal kisah yang sangat menggugah hati dan perasaan. Kisah itu menjadi sumber inspirasi bagi generasi setelahnya, bahkan sampai saat ini. Ialah legenda persaudaraan kaum muslim antara Muhajirin dan Ansar. Jikalau kisah tersebut merupakan episode pertama dari legenda persaudaraan umat muslim, maka saat ini andalah yang akan menulis episode kedua legenda persaudaraan Muhajir dan Ansar tersebut yang juga akan menjadi sumber air di tengah dahaga yang melanda dan akan dikenang baik oleh generasi selanjutnya.
Sebagaimana generasi sebelum kita, dimana mereka mentaati perintah Allah dalam al-Quran Surah al-Hasyr ayat 10:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. Jadilah kalian kelompok orang yang dipuji di ayat tersebut: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajir dan anshar).
Sang pemberi kabar yang Jujur, Muhammad SAW juga bersabda:
“Barangsiapa yang tidak berempati dengan derita saudaranya, dia bukan golongan mereka”.
Dengan kata lain bahwa mereka yang tidak mempedulikan urusan kaum muslimin adalah bukan dari mereka/kaum muslimin. Dalam artian, seorang mukmin harus bergulat dengan penderitaan. Seorang mukmin harus berpilin dengan keprihatinan. Jika Anda tidak merasakan itu dalam jiwamu, Rasulullah bersabda: “mereka bukan bagian dari golongan muslim”. Begitulah cara Rasul SAW mengikat persaudaraan antar sesama muslim dengan tali ikatan yang kuat ini. Dalam al-Quran surah Ali Imran, Allah SWT juga menyeru umat manusia kepada ikatan ini:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ
“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah”. (Q.S. Ali Imran : 103). Berpegangteguhlah pada Al- Quran, itulah tali Allah yang kuat ikatannya.
Dalam hal manfaat materi yang dicintai fitrah pun kalian harus mendahulukan saudaramu sebelum dirimu. Jangan sampai lupa, kamu adalah yang kedua. Kebangkitan yang pertama telah diwujudkan oleh mereka (para sahabat). Dunia Islam sedang mengalami kebangkitan kedua, jadilah kalian sebagai pihak yang mewujudkannya berkat inayat ilahi. Dakwah agung ini tidak mungkin diemban oleh orang-orang yang lemah. Dalam segala hal, baik materi maupun maknawi, Anda harus mendahulukan saudara Anda. Bahkan dalam segi penerimaan anugerah maknawi, bahkan juga untuk masuk surga. Seandainya pintu surga terbuka lebar, surga yang Anda begitu idam-idamkan dalam setiap untaian doa. Di satu sisi, mengharapkan surga adalah tujuan agung yang hampir setara dengan rida Allah. Seandainya pintu surga terbuka lebar, dan kita bertemu dengan saudara mukmin lainnya di sana. Jika masuknya ke aku melewati pintu itu menghalangi saudaraku untuk masuk… maka Anda sanggup ikhlas berkata: “Kamu saja yang masuk…!” Inilah yang diajarkan kepada kita.
Aku tak tahu dihadapanku ada kebakaran! Di dalamnya terdapat “anak-anakku”, yaitu iman & islam yang sedang terbakar. Ketika aku berlari untuk memadamkan kebakaran & menyelamatkan anakku. Tiba-tiba ada yang berusaha menghalangi saya. Memegang kakiku hingga aku terjatuh. Di hadapan peristiwa besar seperti kebakaran, apa pentingnya halangan kecil semacam itu? Kumohon apa pentingnya? Amat besar dakwah yang Anda pikul Demi Allah amat besar! Kalian akan mengatasinya! Dengan musuh pun kalian akan temukan jalan dan berdialog kepada mereka… Apalagi kepada teman dan sahabat Anda… Baik untuk urusan materi dan maknawi, Anda akan mendahulukan saudara Anda.
Ada seorang pemuda dimasa Sayyidina Umar bin Khattab, yang beliau kenal, ketika tidak hadir di masjid dalam 2-3 hari berturut-turut, di sudah pemuda yang selalu hadir di shaf pertama tanpa mengenal panas dan dingin cuaca, siapakah yang tahu betapa sempurna rukuknya sehingga membuat Umar bin Khattab merasakan kehadirannya.
Siapakah yang tahu kekuatan yang terselip dalam pujian rukuk yang dibaca: “Rabbana wa lakal hamdu mil as samawati wa mil al ardhi wa mil ama syi’ta min syai’in ba’du” yang membuat dadanya Sayyidina Umar bergejolak.
Siapakah yang tahu, sebagaimana pandangan dari kalian telah jadi wasilah yang memberiku ilham, ia pun membuat dadaku bergejolak; sebagaimana sebagian pandangan kosong yang mengeringkan air mataku, sebagaimana sebagian pandanganpun membuatku mengalirkan air mata, siapakah yang tahu, betapa banyak diantara jamaah yang telah mengilhami beliau ra.
Inilah salah satu diantaranya sosok yang setiap hari beliau melihatnya. ketika beliau tidak melihatnya dalam 2-3 hari, dimana pemuda ini?
Biarlah aku yang menjadi kurban atas tingginya pahaman para sahabat, demikian menjaga adabnya mereka, karena beberapa alasan tertentu, mereka tidak menyebut namanya dalam buku-buku hadist. Kalau saya sangat penasaran.
Betapa tidak beruntungnya saya, tidak bisa mengetahui nama pemuda ini. Betapa banyak buku rijal (biografi para rawi hadist) yang saya teliti, namun tetap tidak dapat ditemukan. Tidak ada namanya. seorang pemuda yang majhul (tidak dikenal).
Walaupun namanya tidak ada, namun kalau puncak everest dijadikan monumen untuk mengenangnya, itu pantas baginya. seperti yang diungkapkan penyair Mehmet Akif : “Jika seandainya batu kabah dijadikan nisannya, itu masih belum pantas untuknya”.Jika seandainya puncak everest dijadikan nisannya, tidak cukup untuk menjadi monumen yang pantas untuk mengenang pemuda ini.
Masih jejaka, fisiknya sempurna, ketika dia pulang ke rumah, ada.seoramg wanita yang terpikat dengannya. Setiap hari ia melakukan hal-hal berbeda untuk menarik perhatian pemuda ini agar mau mengunjungi rumahnya. Rasulullah, beliau bersabda: sepeninggalku tidak ada fitnah yang lebih besar kecuali fitnah wanita’.
Ya tidak ada orang yang paling berbahaya selain orang yang berniat untuk membuat fitnah. ya sebuah fitnah yang seperti ini setiap hari merintangi jalannya. pada akhirnya, pemuda ini hanyalah seorang manusia. hatinya pun mulai condong kepada wanita itu.
Dikatakan seperti itu saya tidak bersama dengan dia untuk bisa mengetahui keadaan sebenarnya, apalagi hati saya. akan tetapi situasi dan kondisinya dikatakan demikian. pemuda ini lewat didepan fitnah ini selama satu, dua,tiga bulan, tetapi ia tidak memedulikannya. Akan tetapi suatu hari, sepertinya terdapat keraguan dalam langkahnya. ataukah tersandung kakinya.
Apakah terdapat sesuatu yang memasuki pikirannya. ataukah sekelebat hanya terlintas dalam benaknya. saya tidak akan bisa mengetahuinya. ketika dia sadar ayat ini terulang-ulang diantara lisannya, kondisi ini bisa terjadi pada siapapun, bahkan karena pernah terjadi pada Qitmir ini, karenanya aku pun menyaksikan ini juga terjadi pada orang lain: innalladziina ittaqwa idzaa massahum thaa-ifun mina sysyaythaani tadzakkaruu fa-idzaa hum mubshiruun.
Ketika dia sadar, dia melihat lidahnya membacanya entah mungkin ratusan kali, tanpa berhenti. Allah seakan menggerakan lidahnya untuk membaca ayat ini, lidahpun seakan terkunci dari hal lain dan hanya membaca ayat ini. Mereka yang berada didaerah takwa ini ketika berada dalam kondisi labil, saat kembali mengingat Allah, mata pun terbuka dan tersadar.
Ayat terbaca dilidahnya, namun belum masuk ke hati. Dan ketika kalbu merasakan beratnya ayat, ia pun jatuh tersungkur di depan pintu. lalu para tetangga pun berlari, membopong dan membawanya ke rumah. Akan tetapi, sungguh jiwanya telah menyaksikan keagungan ayat : irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah…
Sungguh jiwanya telah menyaksikan keagungan ayat : “wahai jiwa-jiwa yang bersih, sungguh Allah telah ridha kepadamu, engkau pun ridha kepadaNya, kembalilah kepada Rabbmu…” Mereka membawa lalu menguburkannya. Para tetangga berpikir bahwa meninggal di depan rumah wanita asing adalah hal yang memalukan.
Sayyidina Umar : “bagaimana bisa meninggal dunia? tidak ada tanda-tanda kesakitannya. Bukankah seharusnya kalian menceritakannya kepadaku? Mereka pun menceritakan peristiwanya. Sayyidina Umar pun berdiri di kubur pemuda ini.
Beliau pun berdoa tanpa henti, memohon ampunan kepada Allah. Lalu, karena besarnya ketakutannya kepada Allah, beliau pun membaca ayat : “wa li man khaafa maqama rabbihii jannataan” Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
Wahai pemuda….
Bukan satu surga melainkan dua surga. Surga Firdaus dengan segala keindahannya terhampar dibawah kakinya. Para sahabat mungkin terkesima, kepada siapa Sayyidina Umar berbicara. Jika mereka mengenal Umar ra, sebenarnya mereka tidak perlu heran. Umar adalah sosok yang berseru dari mimbar kepada komandan pasukan yang berjarak sepuluh hari darinya.
Komandan Sariyah ketika itu tidak menyadari datangnya musuh dari belakang. Lalu tabir ghaib terbuka, Allah menunjukkannya kepada Umar, beliau pun menghentikan khutbahnya dan berseru : ” Ya Sariyah, al jabal… al jabal…” Dan komandan Sariyah yang berjarak sepuluh hari mendengar seruan ini, ia pun mengatur strateginya sesuai dengan arahan ini.
Inilah suara Umat yang terdengar dari jarak yang tak terhingga. Dalam satu bagian dari sisi suara Umar berhubungan dengan dimensi lain, seperti seorang Imam yang manalqin mayit, beliau menyeru pemuda di dalam kubur ini: ” wa li man khaafa maqama rabbihii jannataan” Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
Jangankan sekedar mendengarkan suaranya, seandainya pemuda ini telah lama wafat, tulang-belulangnya telah remuk terpencar, telah ditempatkan di ujung surga, walaupun naik ke ujung langit yang menggelegar, maka ia akan menjawabnya: ” Labbayk ya Amir al Mukminin, betapa tidak beruntungnya saya, tiga hari tidak bisa shalat dibelakangmu, mereka membawaku ke tempat ini.”
Ruh-ruh yang terbuka dengan makna, telah membuat hari-hari kita merasakan tegangan metafisik. Dimasa dimana kejadian-kejadian metafisik menjadi obrolan dimana saj, tidak bisa diperdebatkan lagi apakah suara kubur bisa terdengar atau bisakah bicara dengan roh.
Setelah suara Sayyidina Umar selesai, terdapat keheningan sesaat. Tiba-tiba muncul suara yang memecah keheningan. Suara ini muncul dari dalam bumi. Suara yang bisa didengar oleh semua orang :” ya Amir al Mukminin, inni wajadtu marratain. Saya menemukan dua kali lipat dari apa yang Anda katakan.”
Dengan apa kamu temukan dua kali lipat itu? Di tempat dimana kamu harus menjaga kesucianmu, dimana kamu dapat menjaga perasaan yang mengalir dalam urat nadi dengan mengatakan : ” syahwat….syahwat’ Dimana kamu mengatakan tidak terhadap syahwat, membuatmu tiba-tiba naik ke martabat kewilayahan (kewalian) yang paling tinggi, sehingga seruannya terdengar datang dari akhirat ke dunia. demikian sebaliknya, suara yang datang dari dunia didengar di akhirat.
Walaupun kamu berada dibalik surga, tetapi kamu tetap menjawab seruan Sayyidina Umar. Peristiwa yang terjadi pada Kifl juga demikian. Para ustadz sudah menjelaskannya berulang kali. Ketika gejolak syahwat menggebu-gebu, ia berhasil meredamnya dan meninggal dunia karenanya. Tertulis di pintu rumahnya : ” Allah telah mengampuni Al Kifl.” Orang-orang yang berlalu lalang dirumahnya pun berdoa: ” Semoga Allah mengampuni Al Kifl.”
Dan Sayyidina Yusuf as pun sampai pada puncak kematangannya. Beliau menjawab ajakan “hayta laka…” yang dihiasi dengan kecantikan sempurna seorang wanita, bahkan dengan ancaman dari wanita itu: “kalau kamu tidak menerima ajakan saya, akan saya laporkan kamu!” dengan jawaban : ‘Qala ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah)’ Ia berdiri tegak sebagai monumen kesucian, ‘Qala ma’adzallah, innahu rabhi ahsana matswaaya, innahu la yuflihu adz dzalimun.’ (Q.S Yusuf)
Dalam penafsiran yang lain, kata ‘rabbi’ disitu mengarah kepada ‘tuanku’. Dia telah memberiku kedudukan dan jabatan yang layak. Dia mempercayaiku. Salah satu dari sifat para nabi adalah ‘amanah’. Baginda Nabi SAW pun dengan sifat amanahnya diterima oleh masyarkatnya. Ketika sifat amanah ini tidak dikokohkan, bagaimana bisa masyarakat menerima pesan-pesan kalian.
Nabi Yusuf as dimasa mendatang akan menyampaikan pesan-pesannya. Beliau akan bersabda : ‘ percayalah padaku’. Orang yang dasar imannya goyah, tidak akan bisa mengokohkan sifat amanah dalam setiap pesan yang disampaikannya. Amanah adalah sifat utama para Nabi. Sedemikian amanahnya para Nabi, jika kalian akan pergi ke suatu tempat, kalian bisa menitipkan istri kalian kepadanya, mereka bahkan tidak akan melihat wajahnya.
Bediuzzaman Said Nursi, sang monumen kesucian dimasanya, beliau ketika itu tinggal dikediaman Gubernur Tahir Pasha Di rumahnya juga ada dua putrinya yang berumur 12 – 13 tahun. Beliau berkata : ‘seandainya ditanyakan yang mana si A dan si B, saya bisa bersumpah bahwa saya tidak bisa membedakannya. Apa hak saya. Saya tidak punya hak untuj melihat mereka yang merupakan kehirmatan dan kesucian tuan rumah. inilah cara pandang yang suci.
Beliau adalah teladan dari iffah (kesucian). Masyarakat pun dengannya mempercayai dan mengandalkan Anda. Mereka akan mengamanahkan anak gafisnya kepada Anda. Para Ustadz menjelaskannya dengan indah dari pensyarah kitab Multaqa:’ pada suatu malam yang berkabut, ada anak gadis dari Pasa yang tersesat dijalan. Anak gadis ini lalu meminta bantuan kepada seorang pemuda yang sedang belajar dan menulis buku dengan temaram cahaya lilin.
Sesekali ia mengulurkan tangannya ke api lilin, dan menariknya ketika merasa kepanasan, ia mengulanginya hingga subuh. Ketika pagi tiba, sang ayah menjemputnya. Si gadis menceritakan peristiwa ini kepada ayahnya. Sang ayah lalu memanggil si pemuda dan bertanya kepadanya : ” kenapa kamu melakukan hal itu hingga pagi?”
Pemuda menjawab: ‘ ketika nafsu datang menggodaku, terdapat ayat Quran yang merangkum peristiwa ini: nazghun min nazaghi asy syaithan, ketika syaitan mengelincirkanku, aku pun mengulutkan tanganku ke atas api lilin sambil berujar: ‘inilah hukuman bagi orang yang menuruti nafsu jasmaninya, kalau kamu tahan, kamu boleh melakukannya. Dengannya, aku pun membuat perhitungan terhadap nafsuku sampai pagi.’
Dengannya, aku berjuang melawan nafsuku. Sang ayah: “sebenarnya, aku juga sedang mencari calon menantu yang iffahnya setinggi ini. Dalam manakibah, tidak terdapat jalur periwayatan dari fulan, dari fulan, dari fulan… dalam manakibah, tidak perlu dipertanyakan ke tsiqahan perawinya. inilah manakibah. Akan tetapi, mekarnya bunga iffah dan futuwwah (kematangan) dapat kita lihat ribuan contohnya di sekitar kita.
Sewaktu saya bertugas sebagai manajemen di suatu lembaga, ada siswa yang saya kenal, kedua siswa tersebut menghampiri teman kami. wajahnya bercahaya, ia berkata : ‘saya melihat tanpa sengaja hal yang haram. Tolong berikan uang ini sebagai sedekah kepada seseorang, dan jangan certitakan kepada siapapun.’ Teman ini pun datang dan dengan penuh haru menceritakan peristiwa ini kepada saya.
Saya bertanya: ‘apakah si fulan?’ bagaimana anda bisa mengetahuinya?’. Saya tahu, karena dia selalu menjaga pandangan pada waktu berjalan inilah momentum iffah. Diantara mereka masih ada yang hidup. Dan masyarakat memandang anda seperti ini. Dan kita yakin Anda sekalian akan menjadi sumber amanah dan kepercayaan bagi masyarakat anda. semoga Allah tidak mengecewakan prasangka kita.’
Semoga Allah menjadikan kalian sebagai sosok yang teguh pendirian, menampilkan pendirian, menampilkan futuwwahnya, dan ksatria dalam mengalahkan nafsu jasmaniahnya. Karena saya akan menjelaskan dimensi lainnya, mungkin saya membebani Anda, mohon maaf sebelumnya. Futuwwah itu apa, lalu saya sendiri apa. Jika futuwwah ingin dirangkum dalam satu majlis, sungguh amatlah susah.
Karena saya akan membahas tema lainnya, mudah-mudahan Anda mengerti dan memahamiku, inilah ufuk toleransi dan penyerahan diri kepada Allah. Dengan definisi yang lain, ia berlepas dari kehidupan pribadinya dan memilih merasakan lezatnya menghidupka orang lain. Kalaupun hidup, ia akan hidup untuk orang lain.
‘La yazalu Allahu fi ‘awnil abdi ma dama al abdu fi ‘awni akhihi’, Allah akan senantiasa menolong hambaNya yang menolong sesamanya. Dan sosok yang memiliki ‘awn (menolong) teragung adalah Baginda Nabi SAW. Kalian dan kita semua berhutang budi kepada Beliau SAW. Kita belajar segala sesuatu dari Beliau SAW.
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam Hakim dan Ahmad bin Hambal, Rasulullah membaca ayat ini dan menangis sampai pagi. Tangisannya beliau adalah sesuatu ynag berbeda. Tangisan yang menggetarkan. Ketika beliau menangis, tak ada yang bisa bertahan untuk tidak ikut menangis. Ketika melihatnnya, Sayyifina Abu Bakar datang bersimpuh dan berkata: ‘Biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusan!’
Tidak, biarlah semua ayah dan ibu kita yang menjadi tebusannya!
Ayahku telah menjadi tebusannya. Kini hanya tersisa ibuku. Semoga ibuku dan semua orang yang kita cintai menjadi tebusannya. Tetapi engkau telah pergi…
sayyidina Abu Bakar : ‘Biarlah ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu’. Saya tidak tahu, apakah ketika itu Rasulullah menghentikan tangisannya atau tidak. Beliau hingga pagi membaca ayat ini
Salah satu ayatnya merupakan kata-katanya Nabi Ibrahim as. Sedang ayat lainnya merupakan kata-katanya Nabi Isa a.s. Lalu kemudian diturunkan sebagai bagian dari ayat Al Quran : ‘Rabbi inna hunna adhlalna katsiran minannas, faman tabi’ani fainnahu minni, wa man ‘ashani fa innaka ghafurur rahim’ (Q.S Ibrahim). Nabi Ibrahim adalah sosok yang kalbunya seringkali terbakar, ketika terbakar, terbakar sejari-jadinya.
Ya Allah, berhala-hala ini menyehatkan banyak orang. Dan barangsiapa yang mengikuti saya (walaupun sedikit), adalah bagian dari saya…. Dan barangsiapa yang mengingkari saya, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Penyayang…
Beliau tidak berkata: ‘lemparkanlah mereka ke api neraka.’ Inilah kalbunya Ibrahim, inilah kalbunya futuwwah, inilah kalbunya kalian.
Kepada yang memukul tidak dibalas dengan pukulan, dan kepada yang mencaci tidak dijawab dengan cacian… tanpa sakit hati, tanpa tersinggung, berdo’a: ‘wa man ‘ashani fi innaka ghafurie rahim’. Nabi Muhammad SAW mengutip doa Nabi Ibrahim, yang tercatat juga didalam Al Quran, beliau memgangkat tangannya dan bermunajat sambil menangis: ‘ummati..
ummati’.
Para ahli kasyaf mengatakan: Suleyman Celebi, dengan telinga Ibunda Aminah, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan bayi mulia itu, ternyata sang bayi mengatakan: ‘ummati… ummati…
Menurut sebagian ahli kasyaf juga, diakhirat nanti, ketika semua orang mengatakan: ‘diriku…diriku… Beliau pun dengan meletakkan kepala mulianya untuk bersujud dan berkata: ‘ummati… ummati… ia memgatakannya sambil menangis: ummati…ummati’.
Sayyidina Al Masih as mengucapkan doa yang tercantum didalam Al Quran. Intuadzdzibhum fa innahum ‘ibaaduk, wa intaghfirlakum fa innaka antal azizul hakim (al Maidah:118)
Sayyidina Isa akan dipanggil oleh Allah, dan akan ditanyakan….
semoga jiwa saya jadi tebusannya. Allah akan bertanya: Apakah kamu yang memerintahkan agar mereka menyembahmu?
Aku ini Esa, apakah kamu yang memerintahkan agar mereka menyembah tiga tuhan(trinitas)?
Apakah kamu yang mengatakan bahwa Maryam juga Tuhan?
Dialah Nabi yang penyayang, lembut, penuh kasih, sosok yang keseluruh kehidupannya untuk umat manusia, siapa yang bisa tahub apa yang dirasakan Nabi Isa ketika menghadapi pernyayaan seperti ini?
Beliau pun menjawab: ‘ Intuadzdzibhum fa innahum ‘ibaaduk, wa in taghfirlahum fa innaka antal ‘azizul hakim (Al Maidah : 118) Ya Allah, aku ketika itu berada diantara mereka, waktu itu tidak ada hal seperti itu. Engkaulah yang lebih mengetahui apa yang terjadi setelah itu… Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka hamba-hamba Engkau. Jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Engakaulah yang menciptakan segala sesuatu dengan segala hikmahnya… Engkaulah satu-satunya Pemenang, tidak ada satupun yang bisa mengatakan sesuatu atas kata-kataMu. Rasulullah SAWA membaca ayat ini sambil mengangkat kedua tangannya, berdoa dengan tangisan yang tersedu-sedu hingga pagi tiba. Sebagaimana biasanya setiap tangisan beliau diijabah dibumi, ia pun pasti diijabah dilangit juga.
Beliau selalu menangis, Allah senantiasa mendengar dan menyaksikannya… Allah biasanya mengirimkan Jibril untuk menghiburnya. Kali ini pun Allah menyuruh malaikat Jibril untuk pergi ke kekasihNya dan menanyakan apakah gerangan yang membuatnya menangis. Rasulullah jika sudah menangis, untuk sekedar berbicarapun beliau tidak mampu.
Lalu beliau menemukan kesempatan, demikian tenggelamnya beliau dalam perasaannya, dan dalam tangisannya, seringkali beliau tidak menemukan kesempatan untuk berkata-kata. Segera setelah beliau mendapatkan kesempatan tersebut, hal yang dikatakannya adalah: ‘ummati…ummati…’ pesan yang dibawa Jibril kepada Allah tidak lain adalah kalimat ini.
Insya Allah, mereka yang meneteskan air mata, insyaa Allah mereka akan mendapatkan kebaikan yang diharapkan. Ketika kita menyampaikan suara hati kita, khususnya yang terdapat dalam hati saya tetapi saya tidak dapat mengungkapkannya, semoga dapat diijabah juga. Semoga disetiap doa anda, Allah berkenan mengulurkan bantuannya. Saya sangat jauh dari posisi tersebut, sehingga saya tidak bisa mengatakan hal seperti itu…
Ya Rasulullah saya bahkan tidak berani mengatakan : ‘ummatmu…ummatmu…’ akan tetapi saya diantara kalian. saya menjelaskan hakikat-hakikat yang terdapat pada Rasulullah SAW kepada anda… saya berharap dan memohon… semoga Allah berkenan mengampuni anda sekalian dan saya. semoga Allah tidak membiarkan kita kalah di duniandan di akhirat nanti…
Ringkasan
1. wafatnya seorang pemuda di zaman sayyidina Umar karena takut kepada Allah ketika menghadapi tawaran tidak berakhlak dari seorang wanita.
2. “sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya
3. Dan barang siapa yang takut akan menghadap Tuhannya, ada dua surga. (Q.S Rahman: 46)
Pertanyaan : Ketika membahas hadist tentang keberangkatan Muadz bin Jabal ra ke Yaman, digarisbawahi juga 4 karakteristik dari seorang mubaligh, keteladanan, memancing rasa ingin tahu, kemampuan untuk menjawab rasa ingin tahu, dan runtutan dalam cara penyampaian. Berkenan kah Anda menjelaskannya sesuai dengan kondisi masa kini?
Jawab : Muadz bin Jabal ra adalah salah satu ulama diantara para sahabat. Beliau adalah sosok manusia yang memiliki akhlak dan karakter istimewa yang membuatnya mudah berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan. Pada waktu itu penduduk Yaman baru saja mememeluk agama Islam. Dimasa yang akan datang, penduduk Yaman akan melakukan hal-hal penting untuk Islam.
Di perang Qadissiyah, tak terhitung banyaknya penduduk Yaman dari suku Bajali yang menunaikan misi penting menegakkan kalimatullah walaupun harus dibayar dengan kesyahidan. Diantara suku Bajali, terdapat sosok Jarir bin Abdullah al-Bajali ra yang merupakan tokoh terhormat dari kabilahnya. Ketika datang kehadapan Baginda Nabi SAW, karena penampilan beliau yang tak ubahnya seperti orang Badui biasa, tidak ada satupun yang memperhatikan dan mengenalnya. Tentu saja semua orang yang datang kehadapan Baginda Nabi SAW sebagai orang biasa, biarlah nyawa menjadi tebusannya SAW. Ia duduk ditempat kosong yang ditemukannya. Akan tetapi Rasulullah SAW mempersilahkannya untuk duduk disampingnya.
Diriwayatkan bahwasannya Rasulullah SAW juga menghamparkan jubah beliau diatas lantai untuk mempersilahkan Jarir ra untuk duduk diatasnya. Demikianlah kabilah ini diperang Qaddisiyah, mereka menunaikan misi yang sangat agung, seperti misi yang pernah diemban para Assabiqunal Awwalun. Mereka habis-habisan dimedan perang itu. Mereka terlibat dalam penaklukan kerajaan Persia dan menjadikan negara adikuasa ini rata dengan tanah dengan izin dari Allah SWT.
Ketika beliau mengirimkan Muadz bin Jabal ra. ketempat yang spesifik seperti ini, menunjukkan ketepatan Rasulullah SAW dalam menugaskan para sahabat. Dengan fatanahnya yang agung, jangan sebut ini sebagai kecerdasan, ataupun jenius, melainkan ini merupakan “min ‘indillah“, dukungan dari sisi Allah SWT, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan melihat potensi, kemampuan mengevaluasi. Hal ini tampak juga dalam penugasan sahabat lainnya: ketika beliau mengirim Khalid bin Walid, kemanapun ia selalu pulang membawa kemenangan. Ketika beliau mengirim sahabat yang lainnya pun mereka selalu pulang membawa kemenangan. Belum pernah terjadi sahabat yang beliau kirimkan pulang membawa kerugian kepada masyarakat muslim.
Pertama-tama kita harus menengok kondisi ketika Muadz bin Jabal ra dikirim ke Yaman. Kondisi yang sama juga terjadi ketika Mus’ab ibn Umayr ra. dikirim ke Madinah Al Munawarah, didapati pilihan yang sangat tepat. Seorang pemuda yang baru beranjak dewasa, belum pernah terjerumus dalam kegelapan dosa, berangkat dengan senang hati dan penuh suka cita. Tetapi disana ditemui perlawanan terhadap agama, yakni perlawanan terhadap Islam. Bahkan terhadap petinggi kaum Madinah yang nantinya jadi petinggi diantara kaum muslimin juga seperti Saad ibn Muadz.
Ketika mereka menodongkan senjata dilehernya, meskipun usianya masih muda Mus’ab ibn Umayr tidak canggung untuk menyapa mereka. entah, “wahai abangku” entah “wahai saudaraku“, atau sapaan lainnya yang berlaku saat itu. “kenapa Anda tidak duduk dulu bersamaku, dan mendengarkan penjelasanku. Jika Anda suka, Anda boleh menerimanya. Namun jika Anda tidak menyukainya, silahkan ambil kepala Saya.”
Merekapun duduk dan mendengarkan penjelasan Mus’ab ibn Umayr `. Seketika mereka luluh dan masuk Islam. Ya, orang-orang yang dikirim Rasulullah SAW selalu kembali dengan membawa keberhasilan. Kalau misalnya ada kegagalan sementara yang terjadi, itu disebabkan oleh kekhilafan pribadi dalam pelaksanaan arahan dari Rasulullah SAW. Sebagai contoh, anda bisa melihatnya pada keadaan orang-orang yang meninggalkan bukit pemanah di perang Uhud. Jangan sekali-kali menyalahkan mereka! Karena Al Quran Karim menyatakan: “Innama Tazallawm”, dikatakan :” Zala” dikatakan juga : Bi ba’dhima kasabu.” Disitu dikatakan : “Kasb”, bukan iktisaba,” Al Qur’an tidak menyatakan mereka kalah karena mereka melakukan kesalahan besar.’ Ya, semua mengambil ghanimah, kalau begitu, ayo kita ambil juga . Perangnya sudah berakhir, lawan-lawan sudah melarikan diri.”
Ini adalah sebuah kesalahan ijtihad, dimana mereka mendapatkan satu pahala, alih-alih mendapatkan dua pahala. Sama seperti itu, di Hunain pun kejadian yang sama juga terjadi. Sebagian dari pasukan muslim maju tanpa pengawalan, dan pasukan musuh segera memanah mereka. Dan disini sekali lagi Rasulullah SAW mengembalikan keadaan yang tadinya genting menjadi kemenangan. Sekali lagi dengan izin dan inayahnya Allah SWT, nama agung Rasulullah SAW kembali berkibar. Peristiwa tersebut harus dipahami dengan baik.
Ketika kita membahas hadist tentang peristiwa saat Rasulullah SAW mengirimkan Muadz bin Jabal sebagai seorang pemegang janji dakwah ke Yaman. Digarisbawahi juga empat karakteristik dari seorang mubaligh yaitu :
1. Tamsil (keteladanan)
Adalah seseorang yang melakukan apa yang dia katakan. Kita menyebut hal ini sebagai keteladanan. Salah satu sifat yang penting dari para Anbiya adalah Tabligh. Tabligh adalah hubungan antara Nabi dengan Allah SWT, wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada orang lain adalah misi dan tugasnya. Inilah yang disebut dengan tabligh yang sebenarnya. Mereka disebut sebagai mubaligh karena dilihat dari segi ini. Ambil dari satu tempat untuk diberikan ke tempat yang lain. Karena ini adalah misi yang sangat penting. Ini adalah misi yang sangat agung.
Barangkali menyampaikan wahyu adalah hal yang sangat penting, tetapi melakukan apa yang dikatakan sedetail mungkin jauh lebih penting. “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” Yakni jikalau kalian menyatakan sesuatu, maka kerjakanlah.
Penerimaan khalayak terhadap apa yang kamu sampaikan berhubungan erat dengan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Katakan dan lakukan! Bahkan, katakanlah sekali, lakukanlah dua kali, tiga kali, atau empat kali lipat. Rasulullah membawa wahyu dari Allah SWT. secara objektif kepada ummatnya untuk menunaikan shalat fardhu yang lima waktu. Bahkan menurut mahzab Hanafi shalat witir adalah wajib, walaupun menurut mahzab lainnya hukumnya adalah sunnah. Jika demikian totalnya ada 17 rakaat jika Anda menghitungnya.
Sekian saja kewajibannya. Lalu Jabr-i noksan, diputuskan untuk menutupi jika terdapat kekurangan dalam penunaian fardhu-fardhu itu. Jabr-i noksan bermakna menutupi dan membelit kekurangan dan patahan. Dan buat balutan ini disebut jabirah.
Mungkin ini bukan kewajiban, akan tetapi jika ia ditunaikan bersama dengan yang fardhu, maka sunnah-sunnah ini akan melipatgandakan pendekatan diri kepada Allah SWT. bagi para pelakunya. Jika ia menunaikannya dengan pendekatan fardhu, akan muncul rasa dalam menunaikan sunnah-sunnahnya.
Ini disebut sebagai Qurbu Nawafil, yakni mendekati Allah SWT. lewat ibadah-ibadah sunnah, sebuah pendekatan yang agung.
Demikian agungnya pendekatan ini, Rasulullah memyebutnya : “Allah SWT. akan menjadi mata yang dengannya melihat, menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi lidah yang dengannya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia menggenggam.“
Yakni, seolah-olah apa yang ia ingin lakukan adalah hasil dari bimbingan Allah SWT.. Kalau mereka mengulurkan tangannya tidak akan sia-sia. Kalau mereka melangkahkan kakinya ke depan, mereka merasa tidak perlu untuk mundur lagi. Mereka selalu melangkah dari kesuksesan yang satu ke kesuksesan lainnya. Inilah yang disebut sebagai Qurbu nawafil. Oleh karena itulah nafilah perlu ditunaikan.
Ketika Anda menunaikan dhuha, awwabin, tahajud, maka Anda telah menambah kedekatan kepada Allah SWT.. Namun kewajiban seorang manusia, seperti yang disampaikan Bediuzzaman Said Nursi, pelaksanaan shalat dan wudhunya hanya menghabiskan waktu satu jam. Satu jam cukup buat semuanya. Ketika kita melihat cerminan penghambaan dari Sang Kebanggaan Umat Manusia SAW, menunaikan sepuluh kali lipat dari apa yang diwajibkannya kepada kita.
Misalnya, Anda akan melihatnya SAW selalu berpuasa. Seolah-olah beliau SAW berpuasa lebih dari puasa Daud, tetapi beliau tidak memaksa kita untuk melakukannya. Sebaliknya, beliau memudahkan buat mereka yang berusaha mempersulit, mislanya kepada mereka yang berkata: “aku akan berpuasa setiap hari”, dengan berpikir bahwa mereka tidak akan bisa melanjutkannya dimasa tuanya, bahwasannya mereka tidak akan bisa menunaikan hak-hak dari keluarganya. bahwasannya mereka bisa kehilangan kekuatan mereka, barangkali akan tiba tugas lain diluar ibadah personal yang akan diberikan kepada kalian seperti misalnya anda ditempatkan di medan perang.
Dan oleh karenanya Anda tidak bisa meneruskan sepanjang usia Anda. Seperti yang terjadi pada Abu Darda ra, Abdullah Ibn Amr bin Ash, dan Abdullah ibn Umar ra. Misalnya, ada sahabat yang berkata: “Saya akan berpuasa setiap hari.” Tetapi Rasulullah SAW bersabda: “kalau memang kamu ingin berpuasa, berpuasalah setiap hari senin dan kamis. Atau hari ke 13, 14, dan 15 dari setiap bulan.”
Ada yang mengatakan: “Saya bisa lebih dari itu.” Rasulullah SAW: “kalau begitu berpuasalah seperti puasanya Nabi Daud as diluar puasa Ramadhan. Dengan catatan bahwa mereka sebenarnyabtidak berniat untuk menyelisihi saran dari Rasulullah SAW. (bahkan mereka sebenarnya telah menerima saran dari Rasulullah, tetapi dengan niat ingin mendapatkan ganjaran yang lebih besar) mereka tetap melakukan sesuai harapan mereka.
Walaupun mereka tahu bahwa Rasulullah SAW telah memperingatkan dan mempermudahnya, mereka tetap menjalankan niat mereka. Padahal diantara mereka ada sosok seperti Abdulah ibn Amr bin Ash yang notabene putra dari Amr ibn Ash ra. Demikian agungnya sosok dari ayahnya, merupakan salah satu sosok yang paling rasional dan jenius dimasa itu. Kezahidan dan keabidannya tidak perlu dipertanyakan. Diakhir umurnya Abdullah ibn Amr bin Ash menyadari bahwa janjinya ini berlebihan dan menjadi jenuh dengannya.
Ketika kita melihat pada sosok Rasulullah SAW, beliau tidak tidur, shalat hingga bengkak kakinya, puasapun demikian. Lewat penyampaian dari Ummul Mukminun Aisyah ra makan dan minum beliau menyesuaikan puasa beliau. Hal ini dijelaskna dalam hadist-hadist shahib, terkadang 1 bulan lewat, 1 bulan lagi lewat, 1 bulan lagi lewat, selama 3 bulan tiga kalai melihat bulan penuh, dirumah kami tidak ada satupun yang dimasak walaupun air.
Keponkaan Rasulullah SAW, Urwah bin Zubair ibn Awwam ra, cucu dari bibinya Rasulullah SAW, sayyidina Urwah menyampaiakan bahwa dirinya banyak meriwayatkan hadist dari Ummul Mukminin Aisyah ra. Sayyidina Urwah meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada bibinya: “Bibi, dengan apa Anda hidup sehari-hari, “bi aswadayin” yakni dengan dua hitam, al ma wa tamr” dengan air dan kurma. Sebagian orang ada yang mengatakan: “kita adalah ummatnya Rasulullah yang mengisi hidupnya dengan air dan kurma, oleh karenanya kita hidup seperti itu.” (kalau memang demikian kehidupanmu) semoga Allah SWT. memberkahi kehidupanmu. Semoga Allah SWT. membuka ufuk ini kepada semua manusia. Ya, shalatnya demikian, puasanya pun demikian.
Ketika terjadi peristiwa yang sangat sulit, misalnya di Perang Badar, pasukan musuh mengepung Rasulullah dan para sahabat. bahkan sampai mencapai tenda beliau SAW. Andai kata tidak ada sahabat yang melindungi beliau, musuh pasti akan melukai beliau. Dan itu pun terjadi, di Perang Uhud gigi Rasulullah SAW pun sampai tanggal, helmnya pecah belah dan melukai wajah mulianya.
Dalam keadaan yang penuh darah seperti itupun, beliau bersikap sesuai kedudukan kenabian beliau dan berdoa: “Ya Allah SWT, anugerahilah ummatku hidayahMu Sesungguhnya mereka tidak mengenalku .” Dalam munajatnya tersebut, Rasulullah SAW tidak merisaukan penderitaannya sendiri, seorang Nabi yang berada dalam kondisi disakiti oleh kaumnya, penuh darah yang mengalir diwajahnya, tetapi dengan ruh itsar yang agung beliau menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah SWT: “ya Allah mereka tidak mengenalku. Jika seandainya mereka mengenalku, mereka pasti tidak akan melakukannya.
Ya dalam setiap medan berbahaya beliau SAW selalu berada diposisi terdepan. yakni jika Rasulullah SAW tidak berada dalam posisi antara hidup dan mati seperti tadi, maka ummatnya tidak akan memahaminya. Saya duduk dibelakang saja biar yang lainnya saja yang maju dan mati, kemudian berkata kepada orang tua dari jenazah para syahid ini:” betapa bahagianya kalian, lihatlah kalian memiliki banyak syahid”. Sekali-kali bukan demikian! Yang pertama kali akan mempraktikannya adalah Anda sendiri! Jika para komandan berada didepan pasukannya, maka bintang masa depan kita seolah bintang kutub, senantiasa menyinari sekitarnya, tidak pernah berpindah tempat, tidak pernah terbenam, dan bisa jadi bintang-bintang lainnya akan berotasi seakan bertawaf mengelilinginya.
Bintang masa depan kita pada masa dinasti umayyah demikian, tepatnya pada masa Umar bin Abdul Aziz. Demikian pula pada masa Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan Hadi, Wahdi, Harun ar Rasyid dan Mu’tasum. Demukian pula pada masa Utsmani. Bayangkan, Osman Gazi tidak pernah turun dari kudanya dan didalam kemahnyalah ruhnya yang mulia kembali kepada Allah SWT.. Ketika datang dari Asia ke Asia kecil (Anatolia) bagaimana mereka berangkat dari kemah yang satu ke kemah yang lain. di Sogut (wilayah pertama dimana Usmani didirikan) dari kemahnya itu, ia mengisyaratkan penaklukan kota Bursa, meyakinkan para tentaranya. Oleh karena itu tamsil (keteladanan) sangat penting.
Berkhutbahlah kalian dengan kefasihan bahasa seperti Firdaus, atau kehalusan bahasa Jami, atau kedalaman penyampaian Maulana Jalaludin Rumi, itu semuanya tidak akan memberi pengaruh sekuat keteladanan. Demikianlah sosok Osman Gazi. Putranya Orhan Gazi yang melihat keteladanan ini apakah akan turun dari kudanya? Selanjutnya Balkanlah yang ditaklukkan dan Sulaimansyah kepadanya diberikan nama kakeknya, syahid disana. Putranya, Murat Hudavendigar terluka disana. Ketika ruhnya akan kembali ke rahmatullah, kata-kata yang keluar dari bibirnya kepada mereka yang ada disekatnya, juga kepada putranya Yildirim Han, “jangan turun dari kuda!”
Oleh karenanya dalam keteladanan mereka selalu yang terdepan. Ini artinya akan selalu seperti ini. Jika Saya tidak siap mati, Saya tidak bisa meyakinkan orang-orang dibelakang Saya. Kata-kata saja tidak cukup. Yakni, kata-kata Saya walaupun sastranya tinggi hanya akan jadi omong kosong. Dan Saya pun akan gagal dalam meyakinkan orang-orang dibelakang Saya.
Baginda Nabi adalah sosok teladan, demikian juga Abu Bakar, pun Umar dan Utsman serta Ali radhiyallahu an hum alfa marratin, semoga Allah SWT. ribuan kali meridhoi mereka semua. Semoga Allah SWT mendekatkan kita dengan mereka. jika demikian, kita mencium kaki mereka dengan wajah kita, dan jika kita berhasil mendapatkannya kita akan sangat senang.
Ketika Rasulullah SAW mengirim Muadz bin Jabal, artinya beliau benar-benar memilih sebuah karakter, sosok manusia, yang menghayati berkali lipat dari apa yang dikatakannya. Kita menyampaikannya dengan istilahnya Ziya Gokalp hidup dengan mukap (mengatakan satu tetapi menghayati tiga kali lipat).
Muadz bin Jabal pun ketika menasihati orang-orang disekitarnya untuk shalat lima waktu, dia sendiri melaksanakan shalat didua puluh waktu, pada saat itulah ia bisa jadi sosok yang meyakinkan.
Teman-teman Anda dalam kreiteria yang luas, selama kurang lebih 20 tahun berada diberbagai penjuru dunia, Saya tiSdak mau berbuat tidak pantas dengan membandingkan anda dengan para sahabat. Akan tetapi berapa persen yang telah mereka laksanakan, berapa persen yang telah mereka aplikasikan, dengan praktik yang sekedarnya itupun dengan izin dan inayahnya Allah SWT., demikian masuknya mereka ke hati masyarakatnya, sehingga didalam peristiwa yang campur aduk kepala didalam 2-3 tahun ini, mereka memanggil teman-teman kalian dan mengatakan : “jangan perhatikan apa yang mereka katakan, kami hanya tidak ingin merusak hubungan dengan mereka saja, lanjutkanlah pekerjaan kalian!”
Ketika fitnah tentang masalah ini semakin meluas dan makin diperbanyak, disisi lainnya mereka berkata: ” kalau Anda buka beberapa sekolah baru akan jadi lebih bagus.” Selain siswa-siswa yang belajar di sekolah kalian tidak pernah menyesal dengan pilihannya, teman-teman kalian pun tidak di tolak, dengan izin dan inayah Allah SWT. Berapa persen keteladanan ini dipraktikan oleh teman-teman kita, Saya tidak mau bersuudzan, semoga Allah SWT. menyempurnakan praktik keteladanan mereka. Keteladanan sangatlah penting, tak ada satu masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan keteladanan.
2. Memancing Rasa Ingin Tahu
Topik ini sangat penting. Pesan yang akan anda sampaiakn harus memancing rasa ingin tahu orang-orang disekitar anda. Anda membahas tentang langit dan bumi, kemanapun anda pergi, anda akan membahas keberadaan sang pencipta. Anda dengan gagasan ini pergi ke para shintois, kepada kaum budhis, brahmanis, konfusius, Saya rasa didalm hati nurani mereka walaupun sebesar zarrah, mereka merasakan adanya sosok pencipta. Diantara kaum musyr’ik pun perasaan ini ada, memang mereka menyembah latta, manna, uzza, isaf dan nayla.
Akan tetapi ketika Al Quran bertanya tentang siapa pencipta langit dan bumi dengan seketika mereka menjawab : “Allah.” Ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak mampu mereka atasi dengan kekuatan mereka maupun berhala-berhala mereka, mereka berpaling kepada Allah SWT. Ini dikatakan sebagai Tauhid Rububiyyah sebagian dari orang-orang salafi dan barangkali ISIS juga melihatnya demikian. Yakni orang yang paling tidak beragama sekalipun juga mempercayai adanya sang pencipta. Jika demikian, dari titik yang beririsan inilah kita harus memulainya. Dari sisi ini, kita memulai dialognya dari sisi yang paling memancing rasa ingin tahu, kita menggugah rasa penasaran mereka.
“Maukah kalian kuberitahu tentang hal yang lebih baik dari apa yang selama ini kalian imani : Laa ilaha illallah.” Dalam hadistnya dikatakan: ketika Rasulullah SAW masih di Mekkah al Mukarramah, beliau bersabda : “Qulu laa ilaaha illallah tuflihu ( katakanlah laa ilaaha illallah dan dapatkanlah keselamatan)” ini terdapat dalam hadist shahih (karena hocaefendi pernah dikritik oleh beberapa orang ketika membahas hadis ini).
Sebenarnya didalam kalimat tersebut secara zimni (tersirat/tersembunyi) terdapat Muhammadar Rasulullah. Ada seseorang yang datang kepada Anda dan berkata: katakanlah Laa ilaaha illallaah dan raihlah kemenangan! lalu kita berpikir: ” bagaimana seseorang bisa berkata demikian, pasti dia mengatakan ini atas sebuah perintah”. ini artinya ia membawa pesan ini dari Allah SWT. berarti dia adalah utusan Allah SWT. Tapi perhatikanlah, dalam kata yang tersirat (zimni) ini terdapat sebuah keunikan. Kenapa? mereka berpendapat tentang Rasulullah bahwa beliau adalah yatimnya Abdul Mutholib, sosok yang besar dibawah bimbingan Abu Tholib. Oleh karena itu, jika beliau mengatakan: “Qulu laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah, tuflihu,” maka masyarakatnya akan mengatakan diawal: “Oh, orang ini ingin mengedepankan dirinya atas nama agama.” tetapi beliau memulai dengan sesuatu yang memang mereka sudah yakini. karena mereka pun percaya akan Tauhid Rububiyah (keberadaan Tuhan).
Sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah akan mereka pelajari seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu dikatakanlah; Qulu laa ilaaha illallaah tuflihu. Ya dengan penyampaian seperti ini, akan memancing rasa ingin tahu, kemudian ketika akan dikatakan tentang topik berikutnya, penyampaian awal tadi akan menjadi referensi bahwa ia adalah sosok yang bisa dipercaya.
Akan menjadi referensi kalimat berikutnya yaitu: “Muhammadur Rasulullah.” ia akan menjadi referensi ketika diperintahkan untuk tunduk kepada keagungan Allah SWT.. didunia ini ayo sedikit lapar, maksudnya ayo berpuasa, agar diakhirat nanti bisa menikmati berbagai macam kesenangan. Ayo sedikit lapar disini, untuk memahami keadaan laparnya orang fakir dan miskin. Ayolah lapar, untuk memahami makna nikmat yang dianugerahkan Allah SWT, ayo kita lapar, untuk bisa menyadari arti dari kelezatan segelas air dingin ketika waktu iftar tiba, ayolah kita lapar dan haus.
Misalnya mereka bisa saja menanyakan tentang sang pencipta yang pesannya kalian bawa. tetapi Saya tidak yakin apakah ketika itu Heraklius pernah menanyakannya. Ketika Rasulullah menyampaiakn pesan melalui Dihyatul Kalb, beliau menulis : Dari Muhammad Rasulullah SAW kepad penguasa Romawi. (Disini dapat kita lihat bahwa) Rasulullah ketika menulis surat, (kalimat yang disusunnya) bagaikan kunci emas yang menaklukkan hati (pembacanya). Disini Rasululkah mengatakan: ” Dari Rasul Allah SWT. kepada penguasa Romawi,” disini bukan ditulis, “kepada Heraklius ataupun panggilan lainnya. Karena penulisan yang demikian bisa direspon negatif. Ketika surat ini disampaikan, Abu Sufyan juga hadir disitu dengan tujuan berdagang.
Heraklius ketika membaca surat ini berkata: “panggil pedagang yang berasal dari Mekkah itu.” Ketika itu, Abu Sufyan belum memeluk Islam. Tetapi kurasa Abu Sufyan ketika itu lebih jujur dari sebagaian masyarakat muslim masa kini. padahal ketika itu dia masih menyembah berhala dan bermusuhan dengan Rasulullah tetapi kejujurannya diposisi itu adalah sesuatu yang luar biasa. Heraklius : ” ada surat seperti ini datang, bagaimana pendapat anda tentang sosok pengirimnya. Abu sufyan menjawab bahwa dia adalah sosok yang jujur dan benar, sosok yang bisa dipercaya, perbuatannya tidak ada yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya. Heraklius berkata: “kalau apa yang anda katakan benar, maka tanah yang kuinjak ini pada suatu hari akan dikuasainya.” Seandainya heraklius-heraklius masa kini memiliki keinsafan (kejujuran) seperti itu juga.
Ya bisa dimisalkan, kalian sudah memancing rasa ingin tahu mereka. kalian menyebut beliau sebagai : “Baginda Rasulullah kita”, tanpa beliau kita tidak bisa membaca kitab alam semesta. Tanpanya kita tidak bisa memahami makna yang ingin dijelaskan oleh kitab ini. Tanpanya kita tidak bisa meresapi asma-asmaNya tanpanya kita tidak bisa menemukan sifat-sifat subhaniyahNya. Tanpanya kita tidak bisa merasakan keheranan akan dahsyatnya Sang Pencipta yang keagungannya tak mampu diraih oleh akal. “Apapun yang dimiliki dunia, itu disebabkan karenanya (Rasulullah); pribadi dan masyarakat berhutang kepadanya: bahkan semua umat manusia berhutang kepadanya.”
Tetapi kalian harus mengetahui dan menguasai apa yang akan kalian katakan, sehingga apa saja yang anda sampaikan selalu tepat dan memiliki landasan yang kuat. Apa yang kalian akan katakan dari sisi uslub (metode penyampaian) tidak boleh menimbulkan reaksi negatif. Saya akan mengulangi untuk menyampaiakn sebuah topik penting dengan kembali ke belakang: pesan Anda bisa jadi sangat berkah, suci, agung, itu adalah asas, dan merupakan hal penting yang berhubungan dengan ushul metodenya. Laa ilaaha illallah adalah sebuah asas, asas yang tidak boleh ditinggalkan, pun Muhammadur Radulullah adalah asas yang tidak boleh ditinggalkan.
Akan tetapi ketika kita menyampaikan asas-asas ini, satu saja kesalahan yang anda lakukan: misalnya bagaimana akan disampaikan, dengan kemasan seperti apa kita akan meletakkanya, bagaimana perasaan lawan bicaranya, yaitu empatinya, kita juga harus tahu. dan jika anda tidak melakukannya, maka artinya anda telah memusnahkan ushul (metode) atas nama uslub (kata-kata, mimik, bahasa tubuh, maksudnya cara penyampaian).
Malapetaka tidak akan bisa dihindarkan dan sekarang narkoba adalah bahaya yang amat serius. Ia menyiangi generasi baru sebagaimana menyiangi tunas yang masih muda, meratakannya dengan tanah, menjadikannya onggokan sampah. Demikian juga dengan alkohol. Pun hal-hal yang bertentangan dengan hukum lainnya. Serta pemenuhan syahwat tanpa kontrol. Jadi misalnya ketika ada anda mengatakan : “ayo kita mulai pembahasan nya dengan riba, menurutku, ketika itu anda sebenarnya tidak berhasil menangkap asas ‘memancing rasa ingin tahu’. Artinya anda gagal memancing rasa ingin tahu mereka. Anda akan langsung nenuai reaksi negatif dari sekitar anda. Pikirkanlah, bahwasannya setiap kata itu sangat berarti, sehingga dikatakan : “kalamu sayyidul basyar, sayyidul kalamul basyar.” Yang artinya: kata-kata dari sayyid (tuan) nya umat manusia adalah sayyidnya kata-kata.
Kata-kata yang Baginda Nabi sampaikan bagaikan mutiara, menaklukan hati para pendengarnya, menundukkan manusia yang mendengarnya. Namun riba dilarang setelah empat tahapan. Tepatnya di kutbah wada, kira-kira 20 tahun kemudian. Lewat empat tahapan, dengan jalan merehabilitasi berkali-kali umat manusia. Dengan memperlihatkan bahaya-bahayanya, dengan menyampaikan bahwa tanpanya pun hidup juga bisa bermanfaat.
Dalam empat tahapan alkohol dilarang. Ada banyak juga yang sudah menyadari bahayanya alkohol sedari awal, sehingga mereka pun tidak pernah meminumnya. Alkohol memiliki manfaat dan bahaya, tetapi bahayanya lebih besar. Apa saja misal manfaatnya? Anda bisa membuat semacam minuman seperti sirup dari buah anggur dan kurma, menjualnya dan anda pun bisa mendapatkan untung darinya. Barangkali, karena masih belum terjadi fermentasi, anda masih bisa meminum dan menjualnya. akan tetapi lewat penjelasan tersirat yang menakjubkan didalam Al Quran, mereka yang cerdas seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan sosok-sosok seperti mereka lainnya, penjelasan tersebut sudah cukup membuat mereka meninggalkan minuman tersebut. Hingga tiba waktu dimana larangan tersebut ditegaskan, peristiwa ini terjadi setelah Perang Badar. Bayangkanlah peristiwa ini terjadi setelah Perang Badar tepatnya ditahun kedua hijriyah. Rinciannya, 13 tahun periode Mekkah, 2 tahun periode Madinah. Artinya alkohol dengan tegas dilarang setelah 15 tahun kemudian.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Kalau uslubnya demikian, maka ketika kita menghadapi manusia yang sudah terbiasa dalam kerusakan yang tidak terlalu memperdulikan bahaya dari kesesatan, ketika kita menyampaiakn sesuatu yang mungkin tidak terlalu mereka perhatikan, maka kita akan menuai reaksi negatif. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam menentukan titik dimana kita akan memulainya.
Pikirkan bagaimana Bediuzzaman ketika memulai pekerjaan ini. Beliau lebih menitikberatkan usahanya pada topik-topik seputar iman kepada Allah SWT, ketaatan beribadah dan shalat. karena Rasulullah SAW juga memulai usaha denga wahyu pertamanya : ” اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ”. perhatiaknlah betapa lembut kalimat ini dikatakan: bacalah! Kalimat ini menjelaskan tajalli (penampakan) dari Dzat yang menciptakan, mendidik dirimu, yang menjadi sebab dari tumbuh kembangnya seorang hamba. اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ, artinya murabbik.
Dikatakan bacalah dengan nama Rabb-mu yang membimbingmu. Tidak akan ada yang menunjukkan reaksi negatif atas penjelasan ini. Dari sini jawaban yang akan anda berikan setalah anda berhasil memancing rasa ingin tahu, haruslah jawaban yang bisa diterima oleh mereka, yang tidak menimbulkan reaksi negatif yang sesuai dengan uslub kita. Karena sudah berulang-kali diulangi, penjelasan tentang topik ini aya serahkan kepada anda. Jadi ini adalah topik yang juga sangat penting.
Kita lihat, Rasulullah SAW tidak mengirimkan Abu Dzar al Ghifari kesana. Padahal ia adalah sosok ahli ibadah yang paripurna. Dia adalah sosok yang berasal dari suku Ghifar. Dimasa awal periode Mekkah, ketika pertama kali melihat sosok Baginda Nabi SAW, ia pingsan seketika. Dalam kondisi tersebut, ia berlari kehadapan kabah dan berteriak. Teriakannya ini dianggap sebuah protes. Ia pun babak belur dihajar kaum kafir di Mekkah. Sebenarnya tidak pantas dikatakan babak belur dihajar, tidak sopan kepada sayyidina Abu Dzar, jika kita mengatakannya, ini seperti membenarkan tindakan menghajar tersebut, tapi sungguh mereka telah menghajarnya. Padahal sosok ini adalah tokoh disuku Ghifari. Kejadian ini terjadi berkali-kali. Tetapi dia tetap berkata: “Saya tidak bisa diam, Saya harus meneriakkan kebenaran ini! biarlah Allah SWT. menjadi saksi! Anda adalah utusan Allah SWT! Saya akan meneriakkannya!
Kemudian Nabi bersabda kepadanya: “sekarang pulanglah kamu ke suku Ghifari, lalu ketika kamu mendengar kabar kami telah hijrah ke Madinah datanglah kembali.” Perhatikan! Sosok ini adalah sosok yang sangat salih, penjunjung kebenaran, siap berkorban, akan tetapi Rasulullah SAW tidak mengirimkannya sebagai utusan, atau mubaligh ataupun mursyid. Justru yang dikirim adalah Muadz bin Jabal. “janganlah sembarang menyerahkan dirimu ke sembarang mursyid. Serahkanlah dirimu kepada mursyid kamil yang jalannya paling mudah.”
Ya, selain harus mampu memancing rasa ingin tahu, di waktu yang sama harus mampu juga menjawab rasa ingin tahu. Muaz bin jabal menjelaskan Rasulullah SAW sebagai sosok yang bertangan dingin, sosok hamba yang agung, yang tumbuh dalam keyatimannya, Allah SWT. mengambil semua sandaran yang dimilikinya. Allah SWT. benar-benar membungkam semua sebab. Diawali dengan diambilnya ayahnya. lalu ibunya, lalu kakek yang melindunginya, lalu pamannya, yang akan menyebabkan beliau hijrah ke Madinah. Allah SWT. mengambil semua tongkat sandaranya. Akan tetapi beliau tidak pernah goyah. Selalu tegak berdiri tidak ada satupun angin topan yang mampu menggoyahkannya. Beliau adalah sosok yang demikian, jelas sayyidina Muadz bin Jabal. Beliau SAW tidak pernah memikirkan keuntungan duniawi dari semua khidmah yang ditunaikannya walaupun sekedar ujung kuku jari. Beliau Saw menjaga idealisme dari awal sampai akhir penunaian tugasnya.
Memancing rasa ingintahu, lalu penguasaan akan apa yang disampaikan kepada masyarakat dan ia harus disampaikan sesuai denga uslub (tata caranya). Jika tidak, hafizanallah (semoga Allah SWT. menjaga kita) seperti yang telah disampaikan dalam berbagai kesempatan, jangan sampai hidangan pencuci mulut disuguhkan diawal jamuan karena jika tidak, anda akan mengacaukan urutannya. Dan bisa jadi, sebagaian besar dari kita, para ustadz yang memberikan ceramah-ceramah, khususnya penceramah yang tidak tahu diri seperti Saya, seringkali membuat kesalahan dalam memilih uslub (tata cara) dalam berdakwah yang menjadikannya dasar utama dari menjauhnya masyarakat dari masjid.
Seperti yang dikatakan ulama-ulama sepuh kita, kamu pembunuh dari beberapa orang? ini maksudnya berapa orang yang karena kesalahan dalam penyampaian ceramahmu, malahan menjauh dari agama, dan membawa dirinya ke kubangan. Ya harus menguasai ilmu untuk bisa menjawab rasa ingin tahu tersebut kemudian perhatian terhadap uslub yang diambil. Lalu keruntutan dalam penyampaian (selangkah demi selangkah). Uslub melengkapi keruntutan. Yakni dari mana akan dimulai tidak bisa semuanya disampaikan dalam satu waktu. Misalnya al-Quran diturunkan selama 23 tahun. Al Quran tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab. Lalu diserahkan kepada Baginda Nabi SAW kemudian beliau pun menerimanya.
Beliau kemudian juga tidak mengatakan : ambil ini, tulis, dan bagi-bagikan biar dibaca dan menjadi insaf. Al Quran diturunkan berangsur-angsur (sesuai runtutan kebutuhannya) selama 23 tahun, sembari merehabilitasi masyarakat, dengan wasilah berbagai peristiwa, yang kita sebut sebagai asbabun nuzul.
Seperti sebuah proyektor, ia menerangi apa makna wahyu yang turun lewat semua peristiwa yang berhubungan dengannya. Sehingga membuatnya dipahami dengan benar. Keruntutan menjadi pengantar dan sebab yang penting dan kini Anda menanyakan tentang penerapan poin-poin tersebut dimasa kini.
Walaupun usaha Saya dalam menjelaskannya masih belepotan menurut Saya sepertinya asas-asas ini tidak berubah dengan kebutuhan masa kini. Mursyid-mursyid dizaman ini pun ketika pergi ke seluruh penjuru dunia, ketika berusaha menggaet orang-orang disekitarnya, dengan istilah bahasa turkinya dimulai dari tetangga disekitarnya. Mereka mengunjungi para tetangga. Lalu mereka juga menciptakan kondisi agar para tetangga juga membuat kunjungan balasan. Menyuguhkan jamuan kepada para tetangga mereka, menciptakan kondisi agar para tetangga juga berkenan menyuguhkan jamuan balasan dengan memanfaatkan beragam wasilah. Dengan membangun jembatan komunikasi dengan istilah eropanya: membangun jembatan dialog; Anda akan berusaha untuk masuk ke hati mereka. Anda akan berusaha menuangkan ilham dari maknawiyah Anda ke dalam hati sanubari mereka. Anda akan menggaet mereka seperti halnya yang telah Anda lakukan dinegara Anda, Anda akan melanjutkannya dinegara-negara lainnya diseluruh dunia.
Dengan memperhatikan kondisi umum masyarakat lokal, yakni dengan membaca secara benar karakter masyarakatnya; dengan membaca secara benar nilai kultur serts lingkungan budaya mereka, dengan memperhatikan hal apa saja yang dapat mempengaruhi mereka menentukan dari titik mana Anda akan memulainya. Berdasarkan titik mulai tersebut Anda mulai menyampaikan pesan Anda dengan runtut, perlahan-lahan, terkadang Anda mungkin akan menghadapi perlawanan. Tanpa menyerah, tanpa putus asa, dengan mengamanahkan usaha ini pada prinsip keruntutan dengan mengatakan: “barangkali waktu matangnya belum tiba, waktu penerimaannya belum datang, karena semua ini ada ditangan Allah SWT.
Karena jikalau demikian, Rasulullah SAW pun jika menginginkan sesuatu, pasti semuanya akan terwujud. Tetapi ternyata tidak demikian. Sosok agung ini diwaktu yang sama juga menampilkan keteladanan yang sangat penting. Allah SWT. karena yang berlaku kepada Baginda Nabi SAW demikian, kemudian seakan berfirman kepada kita: “perhatikanlah! sosok manusia yang paling Aku cintai, barangsiapa yang melihat wajah Rasulullah langsung mengingat Allah SWT.” Sosok yang agung seperti ini pun, Rasulullah SAW menunaikan pesan ini selama 23 tahun, beliau menghabiskan waktunya untuk meyakinkan umat manusia dengan pesan-pesannya dan potret ini adalah contoh keteladanan.
“لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ” Rasulullah adalah uswatun hasanah buat kalian semua. sebagaimana sang uswatun hasanah melakukannya, begitu juga Anda akan melakukannya. Jalan (yang benar) adalah jalannya. metode yang benar adalah metodenya. selain daripadanya hanyalah kesia-siaan.
Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari mengejar hal yang sia-sia.
Wassalam.
Pejelasan mengenai penyebab kepedihan, kelaparan, dan kekeringan di perang dunia pertama karena tidak dirasakannya lagi manisnya lapar dalam puasa, dan penjelasan mengenai qurban Rasulullah serta mengenai qurban yang di niatkan untuk mencegah bencana.
Kurasa pesan-pesan berikut yang dianjurkan sebagai resep oleh Ustaz Nursi amatlah penting. Tolong-menolong adalah kaidah untuk meringankan beban kerja. Ringkasan resepnya adalah manajemen waktu, distribusi tugas, dan yang terakhir adalah tolong-menolong untuk meringankan beban. Saya rasa sebagaimana “bastha zamaan”, resep tersebut adalah sarana mengerjakan banyak pekerjaan di waktu yang singkat.
Waktu harus dikelola dengan sangat baik. Apapun yang akan dikerjakan dan direncanakan adalah untuk kehidupan kita. Untuk itu, waktu harus dikelola dengan sangat baik. Misalnya, berapakah waktu yang akan dialokasikan untuk tinggal di rumah, untuk melayani ayah ibu, berapa alokasi waktu untuk tidur, untuk berjaga, untuk menelaah buku, serta kegiatan lainnya. Maka rekan-rekan yang mengaitkan hatinya pada hal penting seperti khidmat tidak sepatutnya sibuk dengan aktualita. Kita harus berdiri jauh dari hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan kita. Hal tersebut harus menjadi garis batas kita. Semua pekerjaan kita dari awal secara rapi harus direalisasikan di dalam perencanaan yang jelas.
Kemudian, kita juga menyebut distribusi tugas. Apa saja yang bisa ia kerjakan, apapun kecenderungannya, apapun yang ditunjuk oleh kompas kalbu dan jiwanya, saya rasa ia harus mengambil jalan itu. Jika tidak, dia akan berjalan di gang yang tidak disenangi, itu akan korbankan banyak waktunya. Saya menyaksikan bagaimana teman-teman kita menyelesaikan doktoralnya dalam 10-15 tahun. Betul-betul menghabiskan umur! Pelajaran yang bisa selesai 10 bulan dikelola 4 tahun. Selama 4 tahun mereka menyibukkan orang. Seandainya dibuat seringkas mungkin, jika disiplin dasar dapat diberikan dengan baik.
Di matematika ada rumus singkat, andai pembuatan rumus singkat pembelajaran diberikan pada mereka, pembelajaran di SMA yang 4 tahun dan SMP 3 tahun dapat diringkas total selama 2-3 tahun saja. Demikian juga pembelajaran di tingkat Universitas, jika dilihat ia bisa diringkas dalam 2-3 tahun saja. Dengannya maka manusia bisa bermanfaat bagi bangsa dan negaranya di usia paling produktifnya.
Satu lagi yang ingin kubahas lebih dalam adalah disiplin ketiga. Saya rasa ia adalah prinsip terpenting, yaitu “prinsip meringankan beban lewat tolong menolong.” Ta’awun dalam ilmu sharaf dari asalnya dijelaskan sebagai musyarakatun baynal isnayn fashaa’idan. Artinya, dua orang atau lebih bersama-sama mencari solusi dari suatu permasalahan Secara prinsip dapat dikatakan “berunding dengan pemikiran kolektif.” Misal, ada teman yang sedang doktoral. Di sisi lain, ada teman yang menguasai buku-buku referensi. Di situ yang menguasai buku-buku referensi harus membantu teman yang menempuh doktoral tersebut. Contoh lain, ada yang ahli membuat komposisi. Saat memegang pena, not demi not lancar ditulisnya. Kalau Anda lihat, Anda mengira komposisi itu ditulis oleh Ferdowsi, penyair terkenal dari Iran. Itulah bakatnya, maka di bidang komposisi ia harus membantu saudara-saudara dan rekan-rekannya. Dengan demikian, di waktu singkat tetesan air pun akan sanggup mencairkan batuan marmer. Syair ini terinspirasi dari pepatah Turki, “Bukanlah aliran air yang mengikis marmer, melainkan kontinuitasnya.”
Nasihat berikutnya saya peruntukkan kepada mereka yang menyerahkan dirinya untuk belajar. Ada beberapa yang tinggal bersama ayahnya, membantu pekerjaan keluarga. Ada yang masuk ke bidang politik, dia pun membuat beragam pengabdian yang cocok dengan kondisinya. Tetapi, karena umumnya teman-teman kita adalah manusia yang memiliki idealisme, sekali lagi mengutip istilah yang digunakan Ustaz Said Nursi, “Jika orang tak punya idealisme atau lupa maka pikirannya berputar-putar di sekitaran keakuannya.” Cita-cita yang sangat agung, Ustaz menyebutnya dengan istilah “Gaye-i Hayal.” Kita sebut dengan istilah “idealisme,” sedangkan penyair Ziya Gokalp menyebutnya “mefkure”. Mengaitkan kalbu dengan cita-cita agung, dan selalu menjadikannya sebagai tujuan Cita-cita yang demikian haruslah dimiliki.
Jika seseorang mempunya cita-cita yang agung, maka hatinya tak akan tertarik dengan hal remeh dan tak bernilai. Cita-cita agung akan menjadi “”Leyla”, sedangkan dirinya akan menjadi “Majnun”. Pada waktu melihat Leyla jika bisa ia tak boleh mengenalinya, sehingga ia selalu mencari Leyla. Ia senantiasa dalam keadaan mabuk dan ekstase sehingga tak bisa mengenali Leyla. Karenanya, teman-teman yang mau cita-cita agung harus menganggap hal lain sebagai hal rendahan. Tidak boleh terlalu dekat dengannya karena hal rendahan itu bisa menyebabkan kekacauan. Karenanya Ustaz menyebutkan “Jika orang tak punya idealisme atau lupa,” isytiqaq terlupa dari kata tanaa siy, digunakan dalam istilah lama kedokteran, “tamaarudh,” artinya pura-pura sakit. Kalau disini artinya walau tidak lupa, tetapi dia pura-pura lupa. Ketika pikiran berputar di sekitaran keakuan, maka akal berubah menjadi egosentris. Tanpa disadari si manusia pun menjadi egois, egosentris, dan narsistik. Karenanya, untuk Allah kita harus meletakkan keinginan kita demi hal-hal yang sangat agung.
Misalnya, apa yang harus kukerjakan demi meraih keridaanNya? Bagaimana aku bisa membuat Sayyidul Anam SAW bahagia? Seandainya beliau hadir dan bertahta di kalbuku, menerangi malam-malamku, andai hal itu terjadi setiap malam! Jika hati manusia terkekang oleh hal agung itu, ia akan menjadi pencinta, ia tak akan terpikir hal lain. Ia masuk ke saf Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, saf ratusan tokoh lainnya Radiyallau anhum, saf Mus’ab.
Aku membaca di kitab bahwa lengannya (Mus’ab) terputus, tetapi ada satu Ustaz dalam khutbahnya, Aku menaruh hormat kepadanya, ia berkata, “Mus’ab menerima sabetan di lehernya, ia pun tumbang.” Wajahnya menempel tanah supaya tak ada yang tahu ini wajah siapa. Jika malaikat bertanya, “Saat lehermu masih utuh bagaimana bisa mereka menyentuh Rasulullah!” Saat itu seolah Mus’ab berkata, “Ya Allah, aku malu untuk hadir di hadapanMu!” Demikianlah keterkaitan hatinya kepada Rasulullah SAW. Itu adalah tapak kaki yang dilangkahkan menujuNya. Jika kamu melangkah sekali, Dia akan mendekatimu sepuluh langkah. Pernyataan ini terdapat di Hadis Kudsi[1], “Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika hambaKu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa..” Karena itu penyerupaan, kami anggap makruh, jadi kami memilih mengartikannya “Allah membalas setimpal.”
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).