mengembangkandiri.com (2)

GURU SEJATI DALAM SOROTAN ZAMAN

Bagi mereka yang memperhatikan perkembangan zaman dengan hati dan pikiran, tentu risau melihat banyaknya sosok yang disebut “guru” justru terjerat dalam berbagai masalah sosial hingga amoral. Di masa lalu, kata “guru” begitu sakral, berakar dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna mendalam. Kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: gu dan ru. Gu berarti kegelapan, kejumudan, dan kelemahan, sedangkan ru bermakna cahaya, penyibak, pengungkap, dan pembebas. Maka, seorang guru adalah sosok yang menyibak kegelapan dengan cahaya ilmu. Sayangnya, kesakralan sosok guru kini terkikis oleh perilaku yang jauh dari moral.

Dalam terminologi Jawa, kata guru dikaitkan dengan istilah digugu lan ditiru — sosok yang dapat dijadikan teladan dalam gerak-gerik, perilaku, dan sopan santun. Namun, dalam dekade terakhir, kata “guru” kerap disandingkan dengan istilah-istilah yang merendahkan. Kini, kita tak lagi asing mendengar istilah seperti “guru cabul,” “guru gabut,” dan “guru tanpa prestasi.” Sementara itu, jarang terdengar lagi istilah “guru berprestasi,” “guru teladan,” atau “guru inspiratif.” Media sosial dan massa lebih gemar membahas perilaku negatif para guru daripada menyoroti guru-guru inspiratif. Apakah benar bahwa guru sejati kini telah menjadi langka sehingga sulit menjadi tajuk utama media?

Memahami Makna Guru

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan guru sebagai seseorang yang profesinya mendidik atau mengajar. Dalam pengertian undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dengan demikian, guru adalah orang yang berprofesi sebagai pendidik, yang bertugas mendidik, mengarahkan, mengajar, dan membimbing peserta didik.

Dalam bahasa Arab, kata “guru” memiliki beberapa padanan kata yang berbeda seperti mu’alim, mu’addib, murabbi, mursyid, dan ustadz. Meski memiliki kemiripan makna, istilah-istilah ini memiliki titik tekan yang berbeda. Mu’alim berarti orang yang mengajar dan memiliki ilmu pengetahuan luas. Murabbi adalah orang yang memelihara dan menjaga murid agar mencapai pertumbuhan moral dan intelektual. Mudarris adalah sosok yang meninggalkan bekas positif dalam hati peserta didiknya, baik dalam perilaku maupun ilmu. Mu’addib adalah orang yang melatih adab, sedangkan mursyid adalah sosok yang memberi petunjuk, mengarahkan, dan membimbing murid menuju keinsyafan serta kedewasaan berpikir.

Guru sebagai Pewaris Warisan Para Nabi

Nabi Muhammad SAW, sebagaimana nabi lainnya, diutus untuk membimbing kaum jahiliyah yang tidak memiliki harapan dan terombang-ambing dalam kebingungan. Nabi datang dengan keteguhan hati dan kelapangan dada, membimbing mereka menuju keluhuran, dan mengangkat derajat mereka dari keterbelakangan menjadi umat yang memimpin peradaban. Nabi tidak hanya mengeja hakikat iman, penciptaan, dan keberadaan, tetapi juga menekankan pentingnya pena, buku, dan membaca. Amanah pertama yang beliau terima adalah perintah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”

Nabi Muhammad SAW adalah guru sejati yang menguasai semua kompetensi hakiki seorang pendidik. Sebelum metodologi mengajar dirumuskan, Rasulullah telah mempraktikkannya, menjadikan muridnya tidak hanya cerdas, tetapi juga luhur. Kurikulum yang diterapkannya mampu mengubah pribadi bengis menjadi pribadi yang penuh kasih sayang, jauh sebelum ada standar kompetensi guru masa kini.

Pada awal masa kenabiannya, Rasulullah mengenalkan dirinya sebagai Muallim (guru), karena tugas utama sang Nabi adalah mengajar dan membangun peradaban melalui iman. Pendidikan adalah profesi yang diamanahkan kepada para Nabi karena tujuannya selaras dengan hakikat penciptaan alam semesta: mengenalkan manusia kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Walaupun para Nabi telah tiada, kewajiban mendidik tetap relevan, karena kematangan manusia membutuhkan proses panjang.

Kompetensi Guru Sejati

Profesi guru melibatkan hampir semua aspek kehidupan. Guru sejati menyerahkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan terkadang jiwa dan hartanya untuk memastikan generasi tumbuh sebagaimana mestinya. Jika pandai besi harus serius menempa pedang, maka guru harus lebih sungguh-sungguh dalam menempa pribadi. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang guru harus hidup sesuai dengan apa yang diajarkannya. Ia menggambarkan guru sebagai tongkat, dan murid sebagai bayangannya — bayangan tidak akan lurus dari tongkat yang bengkok. Al-Ghazali juga menekankan pentingnya kasih sayang, kezuhudan, menghindari dosa, serta kebijaksanaan dalam mengajar.

Muhammad Fethullah Gulen, ulama kharismatik masa ini, menjelaskan bahwa guru ideal harus terus menambah wawasan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu. Pertama, guru harus membekali diri dengan ilmu yang luas. Kedua, hati guru harus selaras dengan Al-Qur’an, sumber ilmu bagi orang beriman. Ketiga, metode yang digunakan harus sesuai dengan syariat. Keempat, guru perlu menjaga keikhlasan, hanya mengharapkan ganjaran dari Allah. Kelima, guru harus melakukan apa yang diajarkannya, karena tidak boleh ada pertentangan antara ucapan dan batin seorang pendidik.

Fethullah Gulen juga menegaskan bahwa guru teladan adalah sosok yang hatinya penuh kasih sayang, rela berkorban untuk memastikan generasi berkembang sebagaimana mestinya. Mereka selalu memanjatkan doa untuk muridnya, toleran, empati, lapang dada, dan memiliki kesucian hati tanpa prasangka, kebencian, atau iri. Guru teladan menjalankan amanah dengan penuh kerinduan, mengutamakan pendidikan generasi di atas kepentingan pribadinya.

Guru Sejati di Tengah Keramaian Zaman

Guru sejati tidak pernah hilang, meski terkadang tersembunyi dari keramaian zaman. Jika kita masih melihat generasi yang tumbuh, maka itu adalah tanda bahwa guru sejati masih ada. Guru sejati ibarat tanah yang, meski jarang dipuji, konsisten menumbuhkan bunga-bunga indah.

Terima kasih kepada para guru sejati, yang dedikasinya akan terus hidup abadi di dalam hati. “Jadilah tanah, agar kamu menumbuhkan mawar; tak ada selain tanah yang mampu menumbuhkan mawar.”

 

Referensi

Fakhrul Rijal. Guru Profesional Dalam Konsep Kurikulum 2013. Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam. Vol 8, No. 2 (2018). Hal 330. Lihat juga Amka Abdul Aziz, Guru Profesional Berkarakter, (Klaten: CempakaPutih, 2012), hlm. 1.

Badan Pengembang dan Pembinaan Bahasa. KBBI Online. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/guru. Diakses pada 22 Agustus 2023. Pukul 09.52

Undang-undang No. 14. Tahun 2005. Lihat https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40266/uu-no-14-tahun-2005.  Di akses pada 28 Agustus 2023 pukul 10.29

 Samsul Nizar, Fisafat Pendidikan Islam ( Jakarta : Ciputat Pers, 2002) , h. 43

Adib Bisri dan Munawwair A. Fatah, Kamus Bahasa Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 2012), h. 229, dan lihat Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h.139

Al-Mu‟jam al-Wasit, Kamus Arab, (Jakarta: Matha Angkasa, tt), hlm. 1

QS Al-a’laq ayat 1-5

 Hadits Ibnu Majah No 229

Mokhamad Ali Musyaffa, Hakikat Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Imam al-Ghazali. Dar al-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan Pendidikan dan Humaniora. Vol 9 No. 1 (April 2022). Hal 22. Lihat juga al-Ghazali Ihya Ulumuddin ilid I, Alih bahasa Moh. Zuhri (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993) hal 42

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Juz I, terj. Ismail Yakub, (Jakarta: CV. Faizan, 1994) hlm. 58

Abu Yahya Al Nawawi, Al Tibyan fi Adab H m l t Al Qur’ n, (Damaskus; Dar Al Bayan, 1985), h23

Lihat buku Dakwah: Jalan terbaik dalam berpikir dan menyikapi hidup. Bagian kedua dan bagian ketiga.

Syekh Sadi dalam karyanya Gulistan.

 

mengembangkandiri.com

MENYULAM PENDIDIKAN DENGAN BENANG SPIRITUAL

Ditulis Oleh : Ikhsannudin Nur Amri

Ilmu adalah sebuah kata yang memiliki marwah luar biasa. Kebersihan dan kelapangan hati sebagai wadah pengetahuan sangat penting untuk menjaga kesucian ilmu. Kebersihan ini bukan hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga kebersihan hati dan jiwa, yang menjadi tanda penghormatan terhadap ilmu. Tumpuan ilmu tidak hanya terletak pada intelektualitas, tetapi juga pada kelapangan jiwa yang mampu menerima pengetahuan. Ilmu yang sejati selalu mengarah pada hakikat hidup, pemahaman, pencerahan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.[1]

Ya, konsep sulaman pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan dunia, tetapi juga tentang keberlanjutan suburnya jiwa. Apabila hati dan jiwa tidak andil dalam pemahaman ilmu, maka kebodohanlah yang diperoleh dari hasil ilmu itu. Oleh karena itu, kendati akal dan pikiran, pendidikan juga harus mengarah pada terpenuhinya hasrat jiwa, menuntun pada tujuan yang utama, yakni mengenal dan mendekatkan diri pada-Nya.[2] Seperti alunan orkestra yang menyejukkan, integrasi ilmu duniawi dan spiritual berharmoni. Keduanya tidak dapat dipisahkan dan senantiasa beriringan.

Namun, di dunia modern ini, ilmu pengetahuan dan spiritualitas seringkali dipisahkan. Terutama pendidikan yang bertumpu pada rasionalitas dan empirisme murni yang sering mengesampingkan ajaran agama dan etika. Ketika hal ini terjadi terus-menerus dan berlangsung lama, generasi selanjutnya tidak akan merasakan harmoni yang luar biasa ini. Parameter majunya sebuah negara dilihat dari penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan kekayaan. Sangat disayangkan apabila negara-negara Islam tidak terdapat dalam jajarannya. Sebab, negara-negara mayoritas Islam tidak mengenal bahkan tidak maksimal diperkenalkan kepada ajaran sejati mereka sehingga tidak mengikuti perintah agamanya untuk membanca dan bekerja.[3]

Kemudian, pendidikan agama dihadirkan sebagai salah satu syarat terlengkapinya pendidikan karakter, tetapi seolah hanya formalitas saja sehingga kebutaan menerpa. Apa sebenarnya tujuan menempuh pendidikan di dunia? Jawabannya sudah ada di depan mata. Tidak hanya mencapai kemajuan material dari hasil mengeksploitasi alam saja, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami esensi ke-Illahian yang hadir pada setiap aspek kehidupan. Hal ini akan sangat sulit terealisasi apabila tidak ada minat yang utuh terhadap pendidikan agama. Selain sebab diatas, masih ada faktor lain sehingga minat ini mengikis setiap waktunya. Sudah semestinya situsasi ini menjadi derita untuk kita semua.

Problematika Pendidikan Agama

Peran pendidik mengambil bagian besar atas masalah ini. Pendidikan agama adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik sikap serta keterampilan untuk menerapkan ajaran Islam pada setiap aspek yang bertujuan untuk meningkatkan spiritual, pemahaman, pengalaman, dan penghayatan peserta didik tentang agama sehingga memiliki karakter taat dan berbudi pekerti luhur dalam diri mereka.[4] Dalam pendidikan akhlak, disiplin menjadi hal yang paling utama. Hal seperti ini harus menjadi identitas pada setiap pendidik. Konsep siswa dalam memperhatikan gurunya adalah melihat, memproses, dan melakukan. Siklus ini terlahir secara alamiah selama tumbuh kembang mereka. Interpretasi dari seorang guru sangat penting dalam memperkenalkan seribu satu kebaikan sebuah agama.

Selanjutnya, dalam pendidikan dan pengajaran ada dua prinsip penting yang tidak boleh diabaikan. Pertama adalah motivasi dan peringatan. Kedua adalah insentif dan peneguran.[5] Namun, sebagai seorang guru harus berhati-hati dalam menggunakan metode ini. Alih-alih membenahi, bisa saja memperkeruh keadaan. Sampaikan nasihat dan kritik dengan lembut, jangan sampai apa yang disampaikan merendahkan martabat siswa. Ini akan menjadi teladan akhlak bagaimana seorang guru, terutama guru agama dalam bersikap. Namun, jika seorang guru tidak memahami dasar-dasar ini, tentu akan menjadi masalah selanjutnya. Seorang guru agama yang tidak kompeten, terlebih bukan ahli di bidangnya, akan menurunkan kualitas pendidikan spiritual. Sedangkan guru pendidikan agama memiliki tugas yang lebih penting dibandingkan pelajaran umum lainnya dari segi hasil. Kasus seperti ini banyak ditemukan di sekolah-sekolah umum.[6]

Tidak hanya tahu mengenai tanggungannya sendiri, seorang guru harus memahami bagaimana situasi siswa. Pendidikan agama memerlukan penerimaan ruhaniah secara utuh, bukan berarti pembelajaran harus berjalan kaku dan monoton. Model pembelajaran harus bervariasi tentunya. Hanya saja, alokasi waktu dan suasana yang mendukung untuk menempatkan pelajaran agama memerlukan perencenaan ketika bersanding dengan pelajaran lainnya. Sedangkan kebanyakan sekolah umum menempatkan pelajaran ini pada waktu-waktu krusial[7] seperti di akhir jam sekolah.[8] Konsentrasi siswa tidak maksimal pada waktu ini. Sehingga pada poin ini, pendidik harus memahami bagaimana situasi siswa. Secara psikologis, perkembangan emosional siswa lebih dulu daripada perkembangan mental.[9] Memahami emosional siswa adalah hal yang penting untuk menargetkan kapan siswa dapat menyerap materi agama secara maksimal.

Selain itu, guru pertama, yaitu orang tua, berperan penting terhadap pengenalan pembelajaran agama terhadap siswa. Penanaman karakter dimulai dari sini. Pola fikir orang tua yang senantiasa mendampingi dalam setiap perkembangan anak akan memberikan dampak luar biasa terhadap cara berpikir anak. Oleh karena itu, setelah menjadi orang tua seharusnya sudah mempersiapkan ilmu dalam menjalankan peran. Karena sebagai amanah, anak harus dibesarkan dan dididik sesuai dengan kaidah agama. Seperti Luqman dalam mendidik anaknya untuk tidak menyekutukan dan tetap di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam ayat berikut:

 وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’”.[10]

Karena sejatinya apa yang orang tua telah persiapkan, kelak akan menjadi kesan pertama tentang ilmu apa yang orang tua berikan kepada anaknya.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertanyaan ini sudah memiliki jawaban. Pembenahan terhadap sistem pendidikan harus lebih ditingkatkan. Metode penyampaian dan pendidikan agama setidaknya selaras dengan situasi dan suasana siswa. Serabut generasi terdahulu akan senantiasa mengakar dan berkontribusi terhadap pembentukan fondasi generasi yang baru. Ya, yang membentuk fondasi generasi yang baru adalah generasi sebelumnya. Maka pilihlah sistem generasi terbaik diantara generasi terdahulu, yaitu sistem Baginda Nabi Muhammad SAW yang merupakan generasi terbaik sepanjang masa.

Seperti yang dikatakan oleh seorang cendekiawan mulia, “Menanamkan cahaya iman kepada generasi baru dan membantu agar iman itu mengakar kuat dalam dada mereka adalah hal teristimewa yang amat penting.”[11] Dari kutipan ini, urgensi pengenalan iman kepada anak usia dini harus dilakukan untuk meluruskan niat dari pendidikan. Penderitaan tentang tujuan yang menyimpang dari hakikatnya seharusnya melekat pada pundak para guru sebagai pengemban profesi kenabian.

[1] Şükran Vahide, Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi, terj. Sugeng Haryanto, Sukono, h. 122

[2] Ibid

[3] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h.24-25.

[4] Suprapto, “Kebutuhan Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah,” Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, Vol. 16, No. 2 (2018)

[5] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h.48

[6] Mu’allimah, Problematika pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 3 Medan, (Thesis UIN Sumatera Utara, 2014)

[7] Waktu krusial adalah momen yang dapat menentukan hasil atau arah suatu situasi

[8] Tsalitsa, A., dkk, Problematika Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum Tingkat SMA, Jurnal Ilmu Pendidikan. 2020, Vol. 04, No. 1.

[9] Vehbi Yıldız, Generasi Ilmu dan Irfan, terj. Ahmaf Gani & Imas Walijah, h. 104.

[10] Q.S Luqman (31) ayat 13

[11] Muhammad Fethullah Gulen, “Mewujudkan Cita-Cita”, Majalah Mata Air, Vol. 8, No. 29, Januari-Maret 2021, hal. 5.

mengembangkandiri.com

LIMA HARI DI PHNOM PENH

Di tulis Oleh : Muhamad Andika Saputra

Bepergian ke luar negeri merupakan salah satu mimpi yang sudah lama ku idamkan. Keluar dari zona nyaman untuk membuka cakrawala kalbu. Melihat-lihat belahan lain dari dunia fana dan mentafakuri hikmah atas penciptaan-Nya. Inilah tujuan utama yang kuinginkan ketika diberi kesempatan oleh Sang Maha Kuasa.

Hari pertama, aku berangkat ke bandara bersama ketujuh orang temanku yang berasal dari berbagai daerah. Kami berdelapan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pagi hari yang cerah. Karena ini merupakan pertama kalinya bagi kami untuk pergi ke luar negeri, kami tentu tak ingin ada halangan apapun yang menghambat perjalanan kami. Sesuatu yang ditakutkan adalah bagian imigrasi yang terdengar cukup ketat bagi individu yang pertama kali melakukan perjalanan lintas negara. Kami memasuki pengecekan barang dan paspor, kemudian melanjutkan ke pemeriksaan oleh petugas imigrasi. Syukur Alhamdulillah kami bisa melewati gerbang otomatis jadi tidak perlu melakukan wawancara seperti interogasi yang dibicarakan orang-orang. Salah seorang petugas hanya menanyakan negara tujuan ke mana dan apa alasan kami ke sana. Kami menjawab negara Kamboja dan tujuan kami ialah ingin melakukan studi banding tentang pendidikan di sana. Kami juga diundang oleh salah satu kampus terbaik di Phnom Penh, yaitu Paragon International University untuk melihat kondisi pedagogi serta fasilitasnya.

Setelah mengudara selama 4 jam, akhirnya kami mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh. Kami dijemput oleh teman kami yang merupakan mahasiswa di Paragon University yang bernama Akhyar. Selain Akhyar, ada juga Ranang yang keduanya adalah sama-sama mahasiswa Indonesia di Kamboja. Oh ya, perkenalkan namaku Andika serta ketujuh temanku dari Indonesia, yaitu Falih, Danar, Rafif, Beta, Akmal, dan Bayu. Setelah sampai di tempat penginapan yang merupakan asrama kampus tersebut, kami langsung disambut dengan teman-teman yang tidak lain adalah mahasiswa-mahasiswa internasional dari berbagai negara. Kami dijamu dengan makanan-makanan khas timur tengah. Malam ini, kami hanya berkenalan satu sama lain dan mengobrol santai.

Hari kedua, kami awali dengan membaca buku bertajuk “Etika Sosial dalam Islam” sebagai pembuka hari yang cerah nan memesona. Membaca sumber ilmu sebagai awal kegiatan adalah langkah awal untuk membuka lembaran-lembaran cahaya ilmu lainnya yang akan diperoleh sepanjang hari itu. Kami membaca buku sampai azan Zuhur tiba, lalu kami bersiap untuk salat Zuhur berjamaah. Setelah salat, kami berkeliling kota Phnom Penh dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang biasa dikunjungi oleh turis. Pertama, kami mengunjungi Euro Park, taman ala Eropa yang di dalamnya terdapat berbagai bangunan khas Eropa, seperti menara Eiffel di Paris dan Jam besar di London. Kami menghabiskan sekitar 1 jam di sana.

Setelah berkeliling di Euro Park, kami melanjutkan perjalanan ke Royal Palace, tempat bersejarah di Phnom Penh yang tidak akan dilewatkan oleh para turis yang berkunjung ke Kamboja. Royal Palace adalah istana megah berwarna emas yang sangat berkilau. Kami berfoto-foto di depannya. Kemudian seiring mentari menepi, kami menuju pinggir sungai Mekong yang terkenal sangat panjang. Kami menghabiskan petang di tepi sungai sembari menikmati pemandangan sungai dan gedung-gedung kota Phnom Penh, serta burung-burung berkicau menepikan diri ke sungai. Sungguh elok pemandangan sore ini. 

Setelah puas menikmati petang di tepi sungai, kami kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan bersiap untuk salat. Malam ini kami diundang untuk makan malam di rumah salah satu guru yang bekerja di Paragon International School. Kami memakan makanan khas Asia Tengah, tetapi suatu hal yang jarang kurasakan di Indonesia adalah budaya makan malam yang tidak hanya satu babak saja, melainkan minimal terdapat 3 babak. Pertama dimulai dengan makanan pembuka, kedua makanan berat, dan ketiga makanan penutup seperti buah-buahan dan teh. Kami sangat kenyang malam itu karena penyajian yang diberikan. Guru tersebut juga bercerita tentang hidupnya. Ia bercerita bagaimana seseorang bisa menjadi guru dan bermanfaat bagi orang lain. Ia juga berkata bahwa menjadi guru dapat menjadi ladang dakwah bagi insan cendekia untuk mengenalkan Tuhan kepada manusia lainnya. Ia seorang muslim yang mengajar di sekolah umum dengan rata-rata siswa yang juga beragama Budha, agama mayoritas di negara tersebut. Pesan yang menggugah hati ketika ia berkata bahwa pelayanan terbaik terhadap agama adalah bagaimana kita bisa membuat orang yang sebelumnya tidak mengenal agama, lalu menjadi tahu dan berkenalan dengan agama tersebut. Ada banyak cerita inspiratif yang kami dapati malam itu.

Hari ketiga, kami mempunyai agenda untuk berkunjung ke Museum Genosida di Phnom Penh. Sangat kurang rasanya bila berkunjung ke suatu daerah atau negara, tetapi tidak mengunjungi museumnya agar mengetahui sejarah tempat tersebut. Museum Genosida adalah tempat yang dulunya sekolah, lalu dijadikan sebagai tahanan oleh Rezim Pol Pot yang berkuasa saat itu. Di museum ini banyak sekali turis mancanegara yang belajar mengenai sejarah museum tersebut. Melalui secarik denah pemandu untuk pengunjung, kami memulai posnya satu demi satu. Di dalam ruangan museum ini berisikan kondisi tempat tidur dan tempat tinggal tahanan saat itu dengan properti yang asli serta ada beberapa gambar yang ditangkap. Ada juga lukisan-lukisan yang menggambarkan kondisi penyiksaan tahanan oleh Rezim Pol Pot saat itu. Jujur suasana hati ini tak sanggup untuk mengelilingi seluruh sudut ruangan yang ada di museum. Perasaan luluh nan pilu membayangkan betapa kejamnya penyiksaan yang mereka rasakan saat itu.

Setelah lama dan puas mempelajari sejarah di museum tersebut, kami melanjutkan perjalanan sejarah Rezim Pol Pot berikutnya, Lapangan Pembantaian atau biasa disebut Killing Field dalam bahasa Inggris. Berdasarkan sejarah, ada lebih dari 2 juta orang yang disiksa dan dibantai secara massal di lapangan ini. Lapangan ini hanya berisi beberapa tugu dan kuburan massal. Lagi dan lagi kami bersedih mendengar cerita pembantaian di lapangan ini melalui audio pemandu. Kami tak terlalu lama di sini.

Kami melanjutkan kunjungan ke asrama-asrama mahasiswa lainnya yang ada di Phnom Penh. Kami berkenalan satu sama lain dan berbagi cerita terkait dunia pendidikan dan dunia Islam. Tak hanya itu, kami juga berdiskusi mengenai kebudayaan negara kami masing-masing. Senang sekali rasanya dapat mengenal dan bercerita satu sama lain. 

Hari keempat, tiba waktunya kami berkunjung ke kampus-kampus Paragon yang dimulai dari tingkat TK sampai dengan universitas. Kami mengawali hari dengan mengunjungi universitasnya terlebih dahulu. Kami diajak mengelilingi ruangan yang ada di kampus dan kami juga dijamu oleh rektor kampus tersebut. Kami berdiskusi mengenai dunia pendidikan. Setelah itu, kami beranjak mengunjungi TK yang tidak jauh dari sana. Saya tidak mengira kalau itu adalah gedung taman kanak-kanaknya. Awalnya saya mengira ini adalah Sekolah Dasar. Sebab gedungnya cukup besar dan fasilitas di dalamnya lengkap. Kami diajak berkeliling ke setiap ruangan, kami takjub dengan sekolah ini. Biasanya TK di Indonesia hanya sampai jam 10 pagi atau sampai jam 12 siang, kemudian pulang. Namun, murid di sini berada di sekolah sampai jam 3 petang. 

Kemudian kami beranjak berjalan kaki mengunjungi sekolah dasarnya yang sangat dekat di sana. Sekolah dasar (SD) di sini juga sangat menakjubkan dengan fasilitas dan materi pembelajaran yang ditawarkannya. Siswa sudah diajarkan untuk mengoperasikan komputer, bahkan diajarkan untuk menjalankan aplikasi pemrograman. Di sini juga ada kelas robotik dan siswanya juga rutin mengikuti perlombaan robotik yang ada. Selain itu, ada berbagai laboratorium di sini, seperti laboratorium Komputer, Kimia, Fisika, Biologi, dan sebagainya. Selain itu, untuk menunjang aktivitas olahraganya, di sini cukup lengkap dengan berbagai fasilitas lapangan serta terdapat juga kolam renang di dalam sekolahnya. Dari segi fasilitas dan kurikulum yang ditawarkan, sekolah ini sangat modern dan canggih.

Setelah takjub dengan SD-nya, kami selanjutnya mengunjungi gedung SMP dan SMA-nya yang disatukan dalam satu gedung yang sama. Fasilitas di sekolahnya lebih lengkap daripada sekolah dasar sebelumnya tadi. Kami bertemu guru yang berasal dari Indonesia dan diajaknya berkeliling sekolah. Hari ini kami menghabiskan waktu berkeliling kampus yang membuat kami belajar banyak mengenai pendidikan yang berkualitas.

Hari kelima, kami mengawali pagi dengan membaca buku sampai jam 12 siang. Buku yang kami baca sebelumnya sungguh menginspirasi dan terkadang menyayat hati. Meresapi inti sarinya membuat air mata merintih. Membaca buku terkadang baik sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Hari ini, kami diajak jalan-jalan dan berbelanja di pusat oleh-oleh untuk persiapan kepulangan esok. Hingga hari mulai petang, kami berniat ingin bermain wahana hiburan seperti ice skating, tetapi ternyata waktu kami terlalu mepet. Kami pulang ke asrama dan malam ini kami mengadakan fun football bersama mahasiswa-mahasiswa Kamboja di sana. Seru sekali rasanya dapat mengakrabkan diri melalui permainan sepak bola. Kami dapat mengobrol dan bercerita lagi satu sama lain.

Keesokan harinya, kami menyiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Setelah selesai salat Jumat, kami bergegas menuju ke bandara. Lima hari berkunjung ke negeri orang tak terasa lamanya. Kami sangat bersyukur atas kesempatan yang kami dapatkan ini. Melalui perjalanan ini, kami dapat memahami satu sama lain. Mengunjungi belahan dunia yang lain memang memberikan pembelajaran yang berarti. Kami dapat belajar banyak hal baru yang menjadikan semangat kami untuk masa depan lebih membara. Sedih rasanya berpisah dengan teman-teman di Kamboja. Namun, setiap pertemuan adalah awal dari perpisahan. Kami tetap bisa saling berkomunikasi dan berbagi tawa meskipun melalui media daring. Terima kasih atas lima hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup ini!

mengembangkandiri.com

PARA PEWARIS GEN LUQMAN AL-HAKIM

Pernahkah kita bertanya, mengapa nama Luqman diabadikan dan diukir dalam Firman-Nya yang suci? Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Sejatinya, nama-nama yang ada dalam ukiran kalam Nya tersebut memiliki keistimewaan yang luar biasa. Kehadirannya memiliki peran penting karena kemuliaannya merupakan jembatan antara manusia dengan Sang Pencipta. Ya, ada seorang dari kalangan hamba-Nya yang mulia dan memiliki keistimewaan khusus, sehingga namanya terukir dalam firman-Nya yang mulia. Nama ini sering digunakan ketika berbicara mengenai pendidikan, terutama pendidikan pada anak.

Luqman Al-Hakim, yang memiliki nama asli Luqman Bin Unqa’ Bin Sidran, adalah seorang insan sholeh, yang mulia akhlak dan tutur katanya. Ia memiliki wawasan yang luas, kaya akan ilmu pengetahuan, dan ahli spiritual. Sosoknya menjadi pedoman dan teladan bagi banyak kalangan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Meskipun pada zamannya ia hanya seorang penggembala dan budak. Luqman memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, diiringi dengan akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Hal ini menjadikannya pribadi yang taat beragama dan pekerja keras. Mendengar ketenarannya, Nabi Daud AS segera memerintahkan ajudannya untuk menjemputnya dan menebusnya serta memerdekakannya. 

Kedalaman ruhani dan spiritual Luqman didorong oleh ilmu pengetahuan yang luas serta ketekunan dalam hal-hal kecil. Ia memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, dan dididik langsung oleh Insan yang mulia Rasulullah Saw. Nabi Daud AS, hingga menjadi sosok yang mulia karena budi pekertinya. Kharisma akan ilmu pengetahuan dan spiritualitasnya membuat pandai dalam membaca situasi dan kondisi pada zamannya. Luqman menjadi pendidik bagi keluarganya, terutama anak-anaknya, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam mendidik generasi muda. Gelar “Al-Hakim” yang disematkan pada namanya menjadi bukti bahwa ia adalah sosok yang penuh hikmah dalam menuntun anak-anak dan generasi muda pada saat itu. 

Sosok Luqman Al-Hakim seharusnya menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam mendidik generasi muda di masa depan. Ia mengayomi, menyayangi, dan melayani segala kebutuhan mereka, guna menunjang aktivitas belajar dan pertumbuhan mereka. Harapannya, mereka akan menjadi penerus yang rela mendedikasikan hidupnya seperti Luqman Al-Hakim, yang dengan tulus memberikan contoh, inspirasi, serta mendermakan hartanya demi mendidik generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan berorientasi kepada nilai-nilai Rabbani. 

Setiap insan harus memiliki tujuan dan pondasi yang kuat dalam hidupnya, karena hidup tanpa tujuan, visi dan misi hanyalah sebuah ilusi belaka. Akhirat harus menjadi fokus utama dengan berbuat banyak kebaikan di dunia. Saat ini, dunia membutuhkan sosok guru dan orang tua seperti Luqman Al-Hakim, yang tidak hanya sekedar mendidik dari segi jasmani dan duniawinya saja, atau hanya sekedar melakukan transfer of knowledge tanpa memperhatikan aspek ruhani dan spiritualitasnya. Guru dan orang tua harus mengayomi, menyayangi, serta melayani dengan ikhlas, membayangkan bahwa generasi yang dididik akan menjadi generasi pemimpin masa depan yang Rabbani, berwawasan luas, kaya akan ilmu pengetahuan serta memiliki akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Sejatinya, orang tua dan guru pasti menginginkan anak-anak atau muridnya menjadi generasi yang unggul di dunia dan akhirat. Tanpa disadari, mereka seolah mendirikan istana yang megah di akhirat dengan memiliki anak yang sholeh, berbuat baik kepada sesama, berintelektual tinggi yang diiringi dengan akhlak mulia. Setiap insan yang dikaruniai akal yang sempurna oleh Allah, dengan cakrawala pemikirannya yang luas, harus menyadari bahwa mereka memiliki amanah dan peran masing-masing. Namun, menjadi pendidik adalah tugas setiap insan, karena sejatinya, dunia ini adalah tentang toleransi, perjuangan, persaudaraan, harmoni, dan tolong-menolong, yang pada akhirnya membentuk masyarakat yang beradab dan berkemajuan.

 

REFERENCE:

Ma’shum Muhammad Khalaf_Filsafat_Mataair_September 2019

Ustadz Fethullah Gulen_Istiqamah_Bkit-Bukit Zamrud Kalbu_Mataair Maret 2019

Asyari, H. (2020). Pembentukan Spiritualistas dan Karakter Anak dalam Perspektif Lukman al-Hakim. Jurnal At-Tarbiyat: Jurnal Pendidikan Islam3(2), 159-171.

Seyda Okcu_Mendidik Pikiran Kita_Mataair Maret 2019

mengembangkandiri.com (18)

MENYAMBUT TUGAS MULIA

Ditulis Oleh: Armizal Amin Nurdin

Manusia diciptakan dengan sempurna, dikaruniai akal untuk berpikir dan kalbu untuk merasakan kondisi sekitar. Dengan panca indera, manusia dapat merasakan keindahan alam semesta ini dengan sempurna. Tentunya, penciptaan manusia bukan tanpa sebab. Allah menciptakan manusia ke dunia ini bukan semata-mata untuk mengisi bumi yang kosong tanpa makna, melainkan dengan tujuan agar makhluk hidup, termasuk manusia, beribadah kepada Sang Pencipta alam semesta yang Maha Agung, yaitu Allah SWT.

Dengan mengagungkan asma-Nya di setiap helai nafas, mentafakkuri ciptaan-Nya di setiap keyakinan kalbu, mentadabburi ayat-Nya di setiap cakrawala kehidupan, dan mensyukuri nikmat-Nya di setiap sujud dan perbuatan, manusia memenuhi tujuan utamanya diciptakan. Inilah alasan utama mengapa manusia diciptakan.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Penciptaan manusia yang disaksikan langsung oleh para malaikat dan penduduk langit lainnya membuktikan bahwa manusia bukanlah makhluk biasa. Allah memberikan tugas yang sangat mulia kepada manusia, yaitu untuk menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi yang luas ini. Allah mempercayakan tugas mulia dan agung kepada manusia bukan tanpa sebab, melainkan karena manusia memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi, bahkan melebihi malaikat sekalipun. Malaikat adalah hamba yang selalu taat kepada-Nya dan tidak pernah melakukan kesalahan atau kemaksiatan kepada Allah.

Mengapa demikian? Dengan menggunakan akalnya, manusia bisa meyakini bahwa alam semesta ini diciptakan bukan tanpa sebab, melainkan ada makna yang terukir dari setiap ciptaan Tuhan. Dengan menggunakan kalbunya, manusia bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap sujud dan doanya. Selain itu, panca inderanya dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap perjalanan cakrawala kehidupannya.

Dengan memanfaatkan kesempurnaan yang Allah berikan, manusia memiliki derajat yang agung, bahkan melebihi malaikat yang jelas-jelas tidak pernah bermaksiat kepada Allah SWT. Cinta Allah kepada setiap makhluk-Nya, yang menjadi dasar penciptaan alam semesta beserta isinya, merupakan bukti bahwa semua yang ada, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, langit, bumi, dan segala isinya, diciptakan karena rasa cinta dan kasih sayang-Nya. Maka, dasar dari tujuan tugas mulia yang diemban manusia adalah cinta dan kepercayaan Allah kepadanya.

Hadirnya tugas agung dan mulia ini tentunya harus diterima sebagai sebuah amanah besar yang Allah percayakan kepada manusia untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Dalam akhir ayat yang Allah sampaikan, disebutkan bahwa kita, sebagai makhluk-Nya, termasuk malaikat dan jin, tidak sepenuhnya memahami rahasia di balik kelayakan manusia untuk menjadi khalifah. Jawabannya terungkap ketika manusia, yang paling mulia di alam semesta ini, diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi daripada semua makhluk, termasuk malaikat. Cahayanya menyelimuti jagat raya, bumi, dan seisinya. Kasih sayangnya meliputi seluruh alam semesta, dan penciptaannya menjadi alasan mengapa alam semesta diciptakan. Cahaya inilah yang menjadi sebab diciptakannya Adam AS hingga keturunannya saat ini.

Keindahan akhlak dan kasih sayangnya seperti mentari yang menyinari alam semesta, cerah seakan-akan menutupi pandangan manusia pada zaman itu. Amanah yang sangat agung dan besar di muka bumi ini adalah untuk memberikan kesejukan dan kasih sayang kepada seluruh alam dan seisinya. Membawa agama Islam sebagai simbol keselamatan untuk seluruh manusia tentu bukan tugas yang mudah, namun inilah nilai agung dan mulia yang Allah berikan kepada Nabi dan Rasul akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadikannya manusia yang paling mulia dengan derajat yang melebihi malaikat dan penduduk langit lainnya, karena menjalankan tugas yang amat mulia dan penting: mengagungkan asma Allah Yang Mahakuasa serta menjadi pemimpin bagi umat.

Islam, yang menjadi risalah agung dan pondasi kehidupan manusia serta seluruh alam semesta, diemban di atas pundak Nabi Muhammad SAW. Hal ini memberikan arti penting bahwa tugas manusia di bumi bukan hanya untuk bersenang-senang dan bersuka ria, melainkan untuk menjadi contoh dan panutan bagi semua manusia. Tugas agung dan mulia yang diemban oleh Nabi dan para Rasul Allah dalam menyerukan kebaikan, menggaungkan asma-Nya dalam setiap aktivitas, dan menjadi teladan bagi umatnya patut kita contoh dan teladani. Sejatinya, manusia yang paling mulia di sisi Allah SWT tidak jauh dari sifat Nabi dan Rasul-Nya, yakni dengan berdakwah, menyebarkan agama-Nya, menggaungkan asma-Nya, menyebut-Nya dalam setiap aktivitas, dan mencintai makhluk-Nya.

Tujuan utama Nabi Muhammad SAW dan para Nabi lainnya adalah membangun kehidupan yang saling mencintai dan menyayangi dalam kegiatan sehari-hari, mengisi aktivitas hidup dengan beribadah kepada Rabb-nya melalui berbagai kegiatan ibadah yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah ke muka bumi ini. Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab yang patut kita lanjutkan dan teruskan sebagai umat Islam yang mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT sebagai nabi dan rasul terakhir. Dengan Islam di dada, Nabi Muhammad SAW siap menerima tanggung jawab untuk berdakwah dan menyebarkan Islam demi menciptakan kehidupan yang sesuai dengan tujuan diutusnya, yaitu rahmatan lil’alamin.

Sudah sepantasnya kita sebagai umatnya memiliki sensitivitas yang tinggi dalam mengikuti jalan Nabi yang agung dan mulia dengan melanjutkan estafet dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, tentunya dengan metode dan tata cara yang tepat dan benar. Dakwah ini harus ditanggapi oleh berbagai kalangan umat Islam sebagai tugas yang mulia dan agung, sehingga setiap menjalani dakwah serta melanjutkan estafet jalan suci Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab yang amat tinggi. Hingga timbul rasa sensitif untuk selalu mengagungkan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Menempuh dan mengarungi samudra dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin ini tidaklah mudah dan penuh tantangan, seperti dakwah Nabi saat fase sirr atau secara diam-diam. Mengapa demikian?

Di zaman saat ini, banyak dari kita yang telah menormalisasi dosa-dosa, baik kecil maupun besar, yang menyebabkan penurunan kualitas iman setiap insan. Akal tertutup dari terang benderangnya ayat-ayat Ilahi, mata buta terhadap karunia dan nikmat-Nya, lisan hanya diam melihat keindahan alam dan keagungan-Nya, dan panca indera pun sudah mati rasa terhadap ayat-ayat yang mengingatkan tentang kehidupan Islam yang sebenarnya. Tantangan dakwah Islam saat ini semakin besar karena semua hal tersebut. Oleh karena itu, perlunya dakwah melalui cinta, menaburi setiap langkah kita dengan serbuk cinta dalam dimensi dakwah yang kita jalani saat ini.

Kondisi saat ini hampir sama dengan kondisi yang dihadapi Nabi Muhammad SAW ketika pertama kali berdakwah di kalangan kaum jahiliyah Arab pada awal kedatangan Islam. Ini seharusnya menjadi tantangan bagi insan yang berakal bahwa kondisi Islam saat ini sedang dalam fase kelemahan iman dalam qalbu. Hendaknya kita bersama-sama sadar akan hal ini dan bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa kita kontribusikan untuk agama Allah, menjaganya, dan mengagungkan agamanya dalam hati kita.

Setiap insan memiliki potensi yang berbeda sesuai dengan kemampuannya dan memiliki kelebihan masing-masing. Maka, ambillah bagianmu untuk menjadi salah satu insan yang rela mendedikasikan dirinya di jalan dakwah yang mulia. Jadilah dokter yang memiliki kinerja baik dan berakhlak mulia, jadilah pengusaha agar bisa menjadikan hartanya sebagai ladang dakwah baginya, jadilah ulama yang dengan ilmunya memberikan manfaat bagi banyak orang, diiringi akhlak mulia yang menghiasi dirinya. Jadilah mata air yang banyak memberikan manfaat bagi sekelilingnya, menjadi sumber kehidupan utama bagi semua makhluk di bumi, dan jadilah lilin yang selalu menyinari sekelilingnya.

Sejatinya, hidup bukan semata-mata untuk foya-foya dan menikmati kesenangan saja. Harus ada rasa sensitif dan kepedulian dalam menyikapi kondisi akhir zaman ini.

Başkalarına hayat vermek için yaşayın (3)

TAKDIR YANG BAIK

Ditulis Oleh : Fajar Sidiq

Baiklah, satu hal yang pasti. Tidak ada yang bilang kehidupan yang kita jalani itu mudah. Semua orang selalu memiliki rintangan dan masalah yang dihadapinya masing-masing.  Namun, seiring dengan hal tersebut, manusia sebagai makhluk yang ‘rajin mengeluh’ biasanya memperburuk keadaan dengan keluhan-keluhannya. Dengan berbagai perasaan dan pikiran negatifnya. Pusing dengan masalah, ditambah pula dengan keluhan. Paket komplit.

Badiuzzaman Said Nursi memberi isyarat tersebut kepada kita bahwasanya ketika kita mengeluh terhadap ujian yang diberikan oleh Allah SWT., maka sejatinya ujian kita menjadi dua. Satu adalah ujian yang datang dari Allah SWT., satu lagi adalah keluhan-keluhan yang membuat pikiran kita semakin rumit.

Memang, manusia itu sejatinya sangatlah lemah. Rajin mengeluh, sedikit bersyukur. Allah SWT. sendirilah sebagai sang khalik yang tentu paling tahu mengenai manusia.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19) Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (20) dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij: 19-21).

Begitulah tabiat manusia, sedikit-sedikit panik, sedikit-sedikit juga mengeluh. Ketika mereka ditimpa keburukan seperti sakit, miskin, musibah, ya mereka mengeluh, protes, komplain dengan yang Allah berikan. Sementara itu, ketika mereka diberi kebaikan seperti diberi harta, umur yang panjang, mereka malah menjadi pelitnya minta ampun, mendadak lupa apa definisi sedekah. Bahkan, sebagian mereka ada yang berperilaku seperti Qarun yang berkata “sungguh ini semua adalah hasil jerih payahku”. Capek deh.

Dalam hal perkeluhan ini, ada baiknya juga kita dengarkan wejangan dari Ghandi. Dia berpendapat bahwa keep your toughts positive. Because your thoughts become your words. Jagalah pikiranmu tetap positif, karena pikiran positif akan menjadi kata-katamu. Keluhan itu adalah suatu hal yang negatif, kontrakproduktif dengan masalah yang sedang dihadapi. Sederhananya, hanya dengan mengeluh masalah yang kita hadapi tidak pernah akan selesai begitu saja. Keluhan malah memperburuk keadaan. Maka dari itu, agar kita tidak mengeluh, langkah pertama yang harus kita lakukan ialah berpikir positif. Dengan berpikir positif, maka kata-kata yang akan kita keluarkan akan sama positifnya. Alih-alih mengeluh, kita akan ber-husnuzan kepada Allah yang memberikan ujian tersebut bahwa pasti ada hikmah di balik ujian yang kita emban. Bukankah Allah SWT. sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Maka dari itu, tetaplah ber-husnuzan untuk setiap hal yang datang kepada kita.

Ghandi melanjutkan bahwasanya, keep your words positive, because your words become your behaviors. Jagalah kata-katamu, karena kata-katamu itu akan menjadi kebiasaan yang kamu lakukan. Saya adalah seorang mahasiswa yang berkuliah di Bandung. Konon katanya, ada beberapa orang Bandung yang juga mahasiswa sama seperti saya, setiap dia berbicara selalu menyisipkan kata-kata kasar. Entah itu blog, anying, dan ragam bahasa kasar lainnya. Dan ternyata, itu benar!! Kata-kata kasar sudah mendarah daging dalam dirinya. Mungkin, saat pelajaran bahasa Indonesia dulu, dia salah mengartikan fungsi koma dan malah diganti dengan kata-kata kasar. Dan bahkan, orang kata-kata kasar juga berpengaruh kepada bagaimana seseorang berperilaku. Lihatlah bagaimana para pelaku mabuk-mabukan, pelaku zina, dan pelaku maksiat lainnya saat berinteraksi, bukankah kata-kata kotor juga senantiasa menemani mereka? Aneh sekali rasanya jika ada orang mabuk-mabukkan sambil bilang alhamdulillah dalam rangka bersyukur bisa mabuk.

Hal ini sebetulnya tidak terbatas hanya pada kata-kata kasar saja. Setiap hal yang sering kita lakukan, atau bahasa yang kita ucapkan sehari-hari, berpengaruh juga kepada kebiasaan yang kita jalankan. Misalnya orang Sunda yang terbiasa berbicara bahasa Sunda. Sering sekali ketika ia berbicara bahasa Indonesia selalu menyisipkan kata-kata bahasa Sunda seperti atuh, euy, dan malah terkadang biasanya dicampur antara bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia. Karena itu, Ghandi menegaskan bahwa keep your behaviors positive, because your behaviors become your habits. Jagalah kelakuan-kelakuan kita tetap positif, karena perilaku yang senantiasa kita lakukan akan berubah menjadi kebiasaan. Kita dibiasakan shalat sejak kecil, maka insyaallah ketika kita dewasa, shalat sudah menjadi makanan keseharian kita. Sebaliknya, jika kita tidak dibiasakan shalat, mungkin untuk menjalankan satu shalat saja tantangannya luar biasa beratnya bagi kita.

Ghandi melanjutkan, keep your habits positive, because your habits become your values. Jagalah kebiasaan kita tetap positif, karena kebiasaan kita akan berubah menjadi bagaimana nilai di dalam diri kita. Menurutmu, bagaimana cara orang-orang menilai seseorang? Si A memiliki julukan sebagai seorang ustaz tentu karena kebiasaan ibadah yang dia lakukan. Si B diberi julukan tukang ngibul karena ia rajin berbohong. Kira-kira, begitulah sepintas bagaimana orang lain menilai kualitas nilai yang ada di dalam diri manusia.

Namun, tentu komentar orang lain bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi diri kita sendiri. Di sisi lain, penilaian tersebut bukanlah penilaian yang sejati. Si A dianggap ustadz karena rajin beribadah, tetapi ternyata dia hanya ingin riya saja. Maka dari itu, yang paling tahu tentang nilai diri kita adalah diri kita sendiri. Dan kebiasaan-kebiasaan baik, adalah bagaimana cara agar kita terbiasa dengan hal-hal yang baik, dengannya semoga kita bener-bener jadi orang yang baik pula.

Terakhir, Ghandi meneruskan bahwasanya keep your values positive, because your values become your destiny. Jagalah nilai diri kita positif, karena nilai diri tersebut akan berubah menjadi takdir kita. Memang betul, bahwa takdir manusia telah ada bahkan 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan. Namun, karena hal tersebut sebagian orang keliru dalam menafsirkannya. Sebagian orang berpikir karena takdir telah ditetapkan, maka untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita berbuat? Orang toh baik-buruknya semua sudah ditentukan, kita pasrah saja tanpa usaha dan biarkan semesta bekerja. Biasanya, kalimat Jabariyah seperti ini dilontarkan untuk dijadikan sebagai pembenaran saja.

Sementara itu, terkadang kita melupakan definisi dari tawakal itu sendiri. Tawakal itu tentunya berserah diri kepada Allah SWT. Namun, penyerahan diri tersebut setelah diiringi oleh ikhtiar yang kita lakukan. Kenapa saat manusia melakukan dosa itu memiliki konsekuensi untuk dihukum? Karena dosa yang dilakukan manusia memiliki campur tangan dari kehendak manusia itu sendiri. Maka dari itu, ikhtiar dan tawakal itu benar-benar penting untuk kita jalankan.

Terdapat ungkapan bahwasanya “jika kita ingin melihat seperti apa diri kita 5 tahun mendatanga, maka kita cukup melihat apa yang kita kerjakan di hari ini.” Mungkinkah ketika kita ingin menjadi seorang penulis misalnya, kita hanya bermalas-malasan saja? Mungkinkah kita menginginkan barang yang kita inginkan, kita hanya berdiam diri saja sementara itu kita tidak pergi ke toko di mana barang tersebut dijual? Maka dari itu, jawaban sederhananya, takdir kita di masa depan, bisa jadi tergantung apa yang sedang kita kerjakan hari ini. Jika kita mencita-citakan jadi orang baik, saleh, rajin shalat misalnya. Tak mungkin kita tak mengusahakannya dari sekarang dengan memperbaiki diri kita beserta amal-amal kebaikan yang menyertainya.

Seseorang yang ditakdirkan mendapatkan peran tertentu selalu beriringan dengan nilai diri yang mereka miliki. Seorang presiden misalnya, tentu sebelum-sebelumnya ia sudah belajar banyak hal. Dimulai dari kemampuan berpolitik, bersosial, public speaking, negosiasi, ekonomi, dan hal lainnya. Suatu peran selalu beriringan dengan kemampuan seseorang tersebut.

Sementara itu, jika kita melihat terdapat mereka yang menempati suatu peran, tetapi dirinya tidak memiliki kapabilitas dalam menjalankan peran tersebut, maka kata rasulullah saw. “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari).

Itulah mengapa nilai diri itu bisa jadi mengantarkan kita kepada ‘takdir kita’. Maka dari itu, untuk mengejar takdir yang baik, mulailah dari berpikiran yang baik-baik, ber-husnuzan. Agar dengan prasangka baik itu, semoga kita ditakdirkan menjadi baik. Menjadi golongan kanan. Ashabul yamin. Amiinn…

Referensi: