mengembangkandiri.com (17)

SISTEM PENDIDIKAN KITA

Alamiahnya, pikiran kita akan tertuju pada kualitas sekolah-sekolah dan beberapa guru ketika tahun ajaran baru telah dimulai. Tetapi kita tidak dapat berhenti memikirkan hal tersebut karena pendidikan sekolah adalah merupakan sesuatu yang cukup penting untuk membangun manusia yang berkualitas. Sekolah dapat dianggap sebagai sebuah laboratorium yang dimana sebuah obat mujarab yang ditawarkan dapat mencegah ataupun mengobati beberapa penyakit dalam hidup, dan guru-guru adalah orang-orang ahli yang keterampilan dan kebijaksanaannya dibutuhkan untuk menyiapkan dan meramu obat mujarab tersebut.

Sekolah adalah sebuah tempat untuk belajar, di mana segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan ini dan kehidupan setelahnya dapat dipelajari di sini. Sekolah dapat menyebarkan sinar pada gagasan-gagasan dan kejadian-kejadian penting dan membuat para muridnya mengerti tentang lingkungan alam dan kehidupan manusia di sekitar mereka. Sekolah juga dapat dengan cepat membuka jalan untuk menyibak arti dari segala sesuatu dan kejadian, yang menggiring manusia menuju keutuhan pemikiran dan perenungan. Intinya, sekolah adalah sejenis tempat ibadah di mana imamnya adalah para guru.

Sekolah-sekolah yang bagus sama berharganya dengan paviliun-paviliun para malaikat, di mana perasaan-perasaan akan kebaikan dikembangkan untuk para muridnya dan membimbing mereka untuk meraih kemuliaan pikiran dan semangat. Namun apabila terjadi sebaliknya, mereka nampak terbangun dengan sempurna, namun pada kenyataannya mereka mengalami kerusakan –mereka menanamkan ide-ide yang salah kepada murid-murid mereka– yang dapat mengakibatkan murid mereka menjadi seorang ‘monster.’ Sekolah seperti ini sama dengan sarang ular, dan kita harus merasa malu karena sekolah seharusnya merupakan sebuah tempat untuk belajar.

Seorang guru sejati adalah seseorang yang menabur benih-benih murni dan memeliharanya. Adalah merupakan tugasnya untuk selalu berada dalam kebaikan dan pikiran yang sehat, dan juga untuk selalu memimpin dan membimbing anak-anak menghadapi segala sesuatu di dalam hidup mereka. Di kehidupan nyata, yang biasanya anak-anak memiliki arah yang berbeda, mereka memperoleh karakter dan identitas mereka yang stabil, begitu juga ketika mereka berada di sekolah; seorang anak adalah merupakan bentuk dari cetakan mereka yang sebenarnya dan mencapai sebuah kepribadian yang misterius. Sama seperti sebuah sungai yang lebar dan penuh yang mendapatkan kekuatan ketika aliran sungai itu mengalir di dalam sebuah saluran yang sempit, begitu juga dengan kehidupan yang terus mengalir tak tentu arah ini yang kemudian disalurkan menuju kebersamaan melalui media sekolah. Sama halnya dengan, buah adalah merupakan perwujudan dari kebersamaan yang tumbuh dari keberagaman pohon-pohon buah.

Sekolah dianggap berhubungan dengan beberapa fase kehidupan saja. Kenyataannya lebih dari itu. Sekolah adalah sebuah ‘teater’ di mana semua hal yang tersebar di dunia ini ditampilkan di sini. Sekolah menyediakan segala kemungkinan untuk terus membaca dan berbicara kepada para murid bahkan ketika suasana hening sekalipun. Karena hal itulah, meskipun terlihat sulit untuk terlibat dalam sebuah fase kehidupan, namun sekolah mampu mengontrol semua waktu dan kejadian. Setiap murid biasanya menerapkan kembali di sepanjang hidupnya apa yang telah ia pelajari di sekolah dan selalu memperoleh efek dari pelajaran tersebut. Apa yang dipelajari ataupun diperoleh di sekolah dapat berupa khayalan dan cita-cita, atau keterampilan dan kenyataan tertentu. Namun, apa yang lebih penting adalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh haruslah, dengan beberapa cara yang misterius, menjadi kunci untuk pintu-pintu yang tertutup, dan sebagai sebuah panduan menuju jalan untuk kebaikan.

Informasi yang benar yang didapat di sekolah dan benar-benar mampu menghubungkan berbagai pribadi, adalah sebuah alat dimana sebuah individu dapat terangkat menuju awan-awan di dunia yang luas ini dan mampu mencapai batas-batas keabadian. Informasi yang tidak benar-benar menghubungkan berbagai pribadi ini adalah tidak lebih dari sebuah beban yang dipikul di atas pundak murid-murid. Ini adalah sebuah beban tanggung jawab bagi para pemiliknya, dan setan adalah pengacau pikiran. Informasi yang seperti itu, yang mudah diingat namun susah untuk dicerna, tidak menyediakan sinar menuju pikiran dan semangat yang tinggi, namun meninggalkan gangguan terhadap pribadi itu sendiri.

Jenis pengetahuan terbaik yang harus didapatkan di sekolah adalah sebuah pengetahuan yang mampu membuat para murid menghubungkan segala peristiwa yang terjadi di dunia luar dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Seorang guru harus menjadi seorang pemandu yang dapat memberikan pandangan tentang apa yang sedang mereka alami. Tidak diragukan lagi bahwa pemandu terbaik (dan ia yang selalu mengulang-ulang pelajarannya) adalah kehidupan itu sendiri. Meskipun demikian, bagi mereka yang tidak tahu bagaimana memetik langsung pelajaran dari kehidupan ini adalah mereka yang membutuhkan perantara. Perantara-perantara ini adalah para guru –adalah mereka yang mampu menyediakan penghubung antara kehidupan dan sebuah pribadi, dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa yang ada dalam kehidupan ini.

Media massa dapat menyampaikan berbagai informasi kepada seluruh umat manusia, namun media massa tidak akan pernah dapat memberi pelajaran akan kehidupan yang sebenarnya. Dalam hal ini, guru-guru adalah sosok yang tidak akan pernah tergantikan. Hanyalah guru itu sendiri yang dapat menemukan jalan menuju hati para muridnya dan menanamkan pada pikiran mereka tanda-tanda yang tidak mudah luntur. Para guru yang benar-benar mampu mencerminkan dan menyampaikan kebenaran akan juga mampu menjadi seorang panutan yang baik bagi para muridnya dan juga dapat mengajarkan kepada mereka tujuan-tujuan dari ilmu pengetahuan. Guru-guru akan menguji coba berbagai informasi yang akan mereka sampaikan kepada murid-murid mereka melalui penyaringan pikiran mereka sendiri, bukan dengan metode Barat sebagaimana yang kini sering digunakan untuk menemukan jawaban akan segala sesuatu yang terjadi.

Para murid Nabi Isa, belajar darinya tentang bagaimana mengambil resiko akan kehidupan mereka demi tercapainya tujuan mereka dan mampu bertahan ketika mereka berada di mulut singa-singa; mereka tahu bahwa guru mereka telah membekali mereka dengan pelajaran-pelajarannya meskipun mereka berada di ambang batas kematian. Mereka yang telah meletakkan harapan, dan juga memberikan hatinya kepada, Nabi Muhammad, seorang panutan terbaik akan kemanusiaan, menyadari bahwa penderitaan demi tegaknya kebenaran akan menghasilkan kedamaian dan keselamatan. Melalui pengamatan mereka, murid-murid Nabi Muhammad mengetahui bahwa beliau selalu mendoakan orang-orang yang membencinya agar mereka mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun seringkali orang-orang tersebut menyakiti Nabi Muhammad.

Sebuah pelajaran berharga adalah apa yang diajarkan di sekolah oleh para guru sejati. Pelajaran ini tidak hanya menawarkan sesuatu kepada para muridnya, namun juga mampu mengangkat mereka menuju kondisi yang baru dan lebih baik. Dengan begitu, seorang murid akan memperoleh sebuah pandangan yang mampu menembus kebenaran akan segala sesuatu dan melihat setiap kejadian sebagai sebuah tanda dari dunia-dunia yang tak terlihat.

Sekolah akan menjadi sebuah tempat yang begitu melelahkan untuk belajar dan mengajar, apabila para muridnya, melalui semangat yang makin memuncak dari para gurunya, terkadang terlalu jauh melayang menuju angkasa. Kadang-kadang kesadaran mereka terlalu meluap melewati batas kehidupan normal, membanjiri para muridnya dengan rasa keingintahuan akan apa yang mereka pikirkan atau rasakan ataupun alami.

Seorang guru sejati memahami petunjuk-petunjuk dari beberapa kejadian dan peristiwa dan mencoba untuk mengidentifikasi kebenaran-kebenaran di dalamnya, menguraikan rinciannya dengan menggunakan setiap kemungkinan yang ada.

Seorang guru Rousseau terkenal dengan kepemilikan suara hatinya; guru dari Kant memiliki suara hati beserta alasan-alasannya.. Di sekolah Maulana dan Yunus, guru mereka adalah Nabi Muhammad. Al-Qur’an adalah merupakan wahyu, dimana kata-kata di dalamnya adalah merupakan pelajaran-pelajaran akan Ketuhanan –kata-kata tersebut bukanlah kata-kata biasa namun kata-kata yang penuh misteri yang mampu menjangkau semua kalangan, dan kata-kata tersebut merupakan pembuktian akan kesatuan yang paling tinggi dari keberagaman.

Sekolah yang bagus adalah sebuah tempat suci di mana sinar Al-Qur’an akan dipusatkan, dan guru adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuatan sihir dari laboratorium misterius ini. Guru sejati yang sebenarnya adalah ia yang akan menyelamatkan kita dari luka-luka di masa lalu, dan, dengan kekuatan kebijaksanaannya, mengenyahkan kegelapan yang menyelubungi dunia kita.

mengembangkandiri.com (15)

TAHU SAJA TIDAK CUKUP

Ditulis Oleh: Fajar Sidiq

Jika kita lihat media sosial akhir-akhir ini, maka kita akan menemukan banyak sekali perdebatan di dalamnya. Bahkan, perdebatan tersebut juga terjadi di kalangan sesama Muslim. Apa saja didebatkan. Mulai dari hukum, etika, dan bahkan sampai kredibilitas keimanan seseorang. Tak jarang Muslim yang satu membabi buta menuduh Muslim yang lainnya tidak beriman. Bahkan terlampau jauh sampai mengkafirkan sesama Muslim. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Terlepas apakah umat Muslim dewasa ini mengulang kembali sejarah yang akan berujung kepada perpecahan. Fenomena ini menarik bagi kita untuk menyelami kembali sebetulnya apa hakikat sejati dari iman itu sendiri?

Iman berasal dari Bahasa Arab dari kata dasar amana yu’minu-imanan, artinya beriman atau percaya. Percaya dalam  Bahasa  Indonesia  artinya  meyakini  atau  yakin  bahwa  sesuatu  (yang  dipercaya)  itu  memang  benar  atau  nyata adanya. Abul ‘Ala al-Mahmudi menterjemahkan iman dalam Bahasa inggris faith, yaitu to know, to believe, to be convinced beyond the last shadow of  doubt yang  artinya,  mengetahui,  mempercayai,  meyakini  yang  didalamnya  tidak  terdapat  keraguan  apapun. Sedangkan secara istilah iman adalah “membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan dengan anggota badan”

Ketika rombongan Arab Badui datang kepada rasulullah saw. dan menyatakan bahwa mereka telah beriman, rasulullah saw. memberi tahu mereka bahwa sejatinya mereka baru berislam.

Allah SWT. berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Hujurat: 49).

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya Tafsir Al-Wajiz berpendapat bahwa ayat di atas diturunkan bagi pembenci dari Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka datang ke Madinah untuk berjumpa dengan rasulullah saw. saat masa-masa gersang. Mereka menampakkan ungkapan syahadatain, namun mereka belum beriman dalam hati. Mereka baru mengucapkan secara lisan saja, Iman yang benar belum merasuk kedalam hati mereka.

Namun, iman belum sampai di situ saja. Jika mengucapkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati saja sudah bisa disebut iman, bukankah seharusnya iblis itu beriman? Kenyataan tidak berkata demikian. Nyatanya iblis lebih memilih mengingkari Allah SWT. ketika ia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam a.s. Maka dari itu, keimanan harus dilakukan juga dengan anggota tubuh, dengan ketaatan. Hal mendasar seperti keimanan ini juga berdampak kepada cara kita mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari. Bahkan di tataran keilmuan, juga harus senantiasa diiringi dengan amal yang dilakukan.

Abu Abdirraḥmān As-Sulami -raḥimahullāh- meriwayatkan, ia berkata,”Sahabat-sahabat Nabi yang mengajari kami Al-Qur`an menceritakan bahwa mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat; mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya. Mereka mengatakan, ‘Kami belajar pengetahuan dan pengamalan.'”

Dua hal yang harus kita garisbawahi mengenai aplikasi iman dalam kehidupan sehari-hari ialah, ketika kita mempelajari suatu hal, entah itu ayat atau hadis, maka selalu iringilah dan usahakanlah berikut pengamalannya. Percuma kita membaca banyak buku tapi malas dalam pengamalannya. Percuma juga kita banyak mengaji, tetapi ilmu itu hanya sampai kepada memori kita saja, tidak kita amalkan isinya.

Ulama kontemporer seperti K.H. Ahmad Dahlan juga mencontohkan bagaimana pengamalan ilmu beserta pengamalannya. Diceritakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan pada beberapa waktu terus-menerus mengajarkan surat Q.S. Al-Maun kepada murid-muridnya sehingga mereka bosan. Begini terjemahan suratnya:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?/Maka itulah orang yang menghardik anak yatim/dan tidak mendorong memberi makan orang miskin/Maka celakalah orang yang salat/(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya/yang berbuat ria/dan enggan (memberikan) bantuan (Q.S Al-Maun).”

Mereka pun bertanya kepada gurunya mengapa gurunya tidak mengajarkan surat yang lain? Ahmad Dahlan kemudian bertanya kepada murid-muridnya tersebut, “apakah kalian sudah mengamalkan surat al-Maun atau belum?” Para murid menjawab, “kami sudah mengamalkan, bahkan sudah menjadikan al-Maun sebagai bacaan pada setiap salat.”

“Kalian sudah hafal surat al-Maun, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkanlah! Diamalkan, artinya dipraktekkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” ucap Ahmad Dahlan seperti dikutip Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya (2009).

Setelah itu ia menyuruh murid-muridnya untuk berkeliling mencari orang miskin dan membawanya pulang, lalu dimandikan dengan sabun, diberi pakaian yang bersih, diberi makan dan minum, serta disediakan tempat tidur yang layak. MasyaAllah, sungguh akhlak yang mulia.

Tapi sayangnya, dewasa ini orang-orang banyak terjebak baru di tahapan memperoleh ilmunya saja, belum gencar di tahap pengamalannya. Tentu banyak orang yang tahu tentang kebaikan dan keindahan, tetapi mereka tidak menjalankannya dalam kehidupan. Itu karena mereka hanya baru sampai ke tahap mengetahui, tetapi belum ke tahap menyadari. Kita tahu jika shalat tahajud itu indah, kita bisa dengan all-out bermunajat kepada Allah. Namun, justru banyak dari kita malah tidak mengerjakannya. Hal itu disebabkan oleh karena pengetahuan kita tentang suatu hal tidak seiring dengan tumbuhnya kesadaran.

Seharusnya, ketika kita mempelajari suatu kebaikan, maka kita harus mengiringi pengetahuan tersebut dengan pertumbuhan kesadaran yang kita miliki seperti contoh dari para sahabat dan K.H. Ahmad Dahlan. Atau meminjam kata-kata Fahrudin Faiz yang menyatakan bahwa, sebenarnya kita ini mengetahui banyak hal yang baik dan tidak baik. Tetapi, kita belum punya kesadaran untuk melakukan yang kita tahu sebagai kebaikan atau menjauhi yang ktia tahu sebagai keburukan.

Bahkan dalam hal ini, rasulullah saw. mengajarkan kita sebagai umatnya dengan doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Di dalam doa tersebut, kita tidak hanya meminta untuk ditunjukkan hal yang benar atau hal yang salah saja. Tapi kita juga meminta kepada Allah agar kita dibantu untuk mengikuti kebenaran, dan menjauhi hal yang batil. Sebab, sekadar tahu kebenaran itu tidak akan berarti apa-apa tanpa kesadaran untuk mengerjakannya. Bahkan kita pun mengamalkan doa di dalam Q.S. Al-Fatihah sebanyak seminimimalnya sebanyak 17x untuk meminta jalan yang lurus. Namun, setelah Allah SWT. menunjukkan jalan yang lurus kok kita mundur?

Semoga kita selalu ditunjukkan hal yang benar itu benar dan kita dibantu untuk mengikuitinya. Semoga kita selalu ditunjukkan hal yang salah itu salah dan kita dibantu juga untuk menjauhinya. Semoga, setiap ilmu yang kita ketahui, kita bisa mengamalkannya juga dengan penuh keridaan. Amin…

 

Referensi

mengembangkandiri.com (12)

JIWA PARA PEMUDA

Sebuah komunitas menjaga kehidupan dan perkembangannya melalui jiwa para pemudanya. Apabila sebuah komunitas kehilangan jiwa ini, maka komunitas tersebut akan memudar dan layu, seperti sekuntum bunga yang pembuluh batangnya dipotong, akhirnya bunga itu hancur sampai ke akarnya.

Seorang lelaki muda, pada masa sekolah maupun masa remaja, biasanya penuh dengan berbagai aktivitas, yang diliputi perasaan nasionalisme dan patriotisme, pembicaraan tentang cara mengatasi berbagai masalah yang ada di negaranya dan juga bagaimana cara memajukan negaranya tersebut, dan ia pun akan menjadi gusar apabila ada kemalasan ataupun ketidakpekaan terhadap berbagai masalah yang ada dalam komunitas itu. Meskipun demikian, ada pula beberapa anak muda yang awalnya begitu meluap-luap akan pikiran-pikiran mulia mereka, namun begitu mereka mendapatkan sebuah posisi ataupun pekerjaan yang cukup bagus beberapa tahun kemudian, mereka akan duduk diam dan kehilangan berbagai perasaan dalam aktifitas-aktifitas sebelumnya tersebut. Menjadi tergantung pada posisi barunya itu, dengan berjalannya waktu, demi untuk memenuhi semua keinginan dan kesenangan-kesenangannya yang berupa materi, mereka akan mulai melupakan tujuan-tujuan awal mereka, mulai merasa terbebani oleh berbagai kritikan yang datang kepada mereka, dan akhirnya jatuh ke dalam keterbatasan keinginan dan kemauan. Sekali mereka berada dalam keadaan bahaya, mereka tidak akan pernah dapat pulih kembali jika tidak ada tangan-tangan mulia yang datang untuk membantu mereka, dan mereka akan terbelenggu oleh keadaan-keadaan yang pernah membuat mereka gusar dahulu. Mereka menjadi sangat acuh tak acuh terhadap berbagai pemikiran awal mereka sehingga mereka merasa terhina ketika berbagai kritikan atau bahkan suara hati mereka sendiri ataupun orang lain, tentang penyalahgunaan pekerjaan ataupun tanggung jawab yang mereka lakukan.

Mulai saat itu, mereka menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk berusaha mempertahankan posisi mereka dan juga memenangkan pembuktian keunggulan diri mereka, segala hal yang dapat mempermalukan seorang manusia, dan mengakibatkan seseorang itu kehilangan posisinya perlahan-lahan. Apabila mereka menunjukkan kemampuannya untuk dapat lebih dipromosikan, mereka tidak akan memikirkan hal lain lagi selain mendapatkan promosi jabatan tersebut meskipun hal itu berarti mereka harus kehilangan kehormatan dan harga diri mereka, dan melakukan segala sesuatu yang berbeda dari apa yang diperintahkan oleh kesadaran dan iman mereka. Mereka akan membungkukkan badan mereka selama orang yang mereka anggap berguna bagi posisi mereka memberikan manfaat kepada mereka, dan menunjukkan keburukan-keburukan karakter dari seseorang yang sebelumnya mereka agung-agungkan secara berlebihan.

Sebuah kepura-puraan dan bujukan akan kembali menyerang mereka dan tipe mereka ini adalah begitu merendahkan diri mereka sendiri dibandingkan dengan karakter mereka sebelumnya sehingga kita tidak dapat lagi mengharapkan kebaikan ataupun nilai-nilai berharga dari mereka. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka mengembangkan ‘penyakit’ mental atau spiritual yang menyebabkan mereka kehilangan kepekaan dan kemampuan berpikir mereka dalam mengambil keputusan yang benar, dan hal itu adalah benar-benar sebuah kekurangan pemahaman dan kebijaksanaan, dan mereka masih menganggap diri mereka sendiri sebagai satu-satunya orang yang memiliki kemampuan berpikir lebih baik dibandingkan orang lain, yang sebenarnya orang tersebut lebih dapat membuat penilaian yang paling baik dan juga mampu berbuat sesuatu yang lebih berguna.    

Dan tentu saja, hal ini sangat tidak mudah untuk mengingatkan mereka, ataupun memberi peringatan, akan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Sejak para pemilik jiwa-jiwa yang egois seperti mereka yang biasanya lebih mengembangkan kebencian dan dendam untuk melawan mereka yang mengungkapkan kesalahan-kesalahan mereka, dan mereka cenderung menganggap diri mereka sendiri sebagai seseorang yang selalu paling benar, mereka tidak akan pernah mau meminta saran dari siapapun.

Alamiahnya, hampir setiap orang memiliki kekurangan dalam hal tertentu dan biasanya kekurangan itu nampak tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Bagaimanapun, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menyelamatkan orang-orang dari keterpurukan di dalam rawa kelemahan-kelemahan mereka. Apabila kita mampu untuk menanamkan kepada para pemuda sebuah kepercayaan yang kuat, pikiran-pikiran yang murni dan sehat, sebuah perasaan yang kuat akan azas mengutamakan orang lain dan sebuah perasaan cinta yang tak mudah padam kepada bangsa dan negara; apabila kita mampu membuat mereka untuk menyelesaikan bersama-sama sebuah alasan mulia dimana hal itu membuat mereka mendedikasikan diri mereka kepadanya; apabila kita membawa mereka untuk lebih memilih nilai-nilai berharga seperti kehormatan dan harga diri di atas kesenangan-kesenangan; dan apabila kita menanamkan di dalam diri mereka sebuah tugas kesetiaan kepada negara dan bekerja untuk kejayaan negaranya, dan meyakinkan mereka bahwa adalah merupakan rasa tidak berterima kasih yang tak terampunkan apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak begitu penting dibandingkan dengan melayani bangsa dan negara dalam hubungannya dengan alasan mulia tersebut. Apabila kita mampu melakukan semua itu, para pemuda akan memelihara identitas pokok mereka untuk melawan kebusukan mental dan spiritual. Jika tidak, setiap hari kita akan menyaksikan sebuah bintang yang perlahan-lahan hilang dari langit harapan kita karena penyakit-penyakit spiritual yang terjadi seperti cinta akan kedudukan, terlalu terikat akan kehidupan dunia, pencari ketenaran dan ketergantungan akan kesenangan-kesenangan materi, dan kita akan tunduk pada kekecewaan dan harapan yang hilang.

mengembangkandiri.com (13)

CINTA DALAM DAKWAH

Dalam perjalanan menuju cinta Ilahi, dakwah menjadi panggilan nurani yang mendorong setiap individu untuk menyelami keindahan, kejujuran, dan keyakinan yang murni. Bagi seorang pendakwah, tanggung jawab nurani ini merupakan prioritas utama untuk membantu orang lain memahami esensi jiwa dan menguatkan ikatan mereka dengan Sang Pencipta.

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membangun ikatan batin—antara seorang hamba dengan sesamanya, antara seorang hamba dengan dakwahnya, dan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mencintai sesama merupakan bagian dari pencarian akan makna hidup dan kebenaran. Dakwah mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah inti dari penyampaian pesan agama, di mana hubungan antar manusia menjadi cerminan dari kasih yang dianugerahkan Tuhan.

Cinta seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, namun juga menjadi kehadiran yang menyatu dalam segala aspek kehidupan. Dakwah sejati tidak hanya mengajarkan konsep-konsep agama, tetapi membimbing setiap individu untuk merasakan cinta Ilahi dalam setiap napas dan denyut jantung. Dakwah adalah panggilan hati yang mengajak kita menyadari bahwa cinta Ilahi adalah sumber dari segala kehidupan. Melalui dakwah, kita diajak untuk memahami bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan, memberikan kehangatan dan makna dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan diri.

Seorang ulama kharismatik pernah berkata, “Dakwah tanpa cinta adalah bagaikan tubuh tanpa jiwa.” Dakwah yang hanya mengandalkan pengetahuan tanpa disertai kelembutan dan kasih sayang bagaikan tubuh yang hidup namun tanpa ruh. Cinta dalam dakwah memberikan kehangatan dan menjadikan dakwah lebih dari sekadar penyampaian pesan—ia menjadi sarana yang penuh makna dan mampu menyentuh hati setiap individu.

Dalam keseimbangan, cinta menjadi kekuatan pendorong yang menghidupkan dakwah. Cinta ini menyentuh orang-orang yang membutuhkan, memberikan kehangatan seperti jiwa yang menghidupkan tubuh. Dakwah yang penuh cinta akan membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang mampu mengakomodasi perbedaan pandangan, serta menghadapi resistensi tanpa kehilangan esensi ajaran agama. Kelembutan membawa seseorang menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menjadi aspek penting dalam mendampingi mereka yang sedang menempuh jalan kebenaran.

Dakwah dengan kelembutan menciptakan ruang bagi dialog yang sehat dan pengertian yang mendalam. Dalam kelembutan terdapat kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan pesan agama dengan kasih sayang. Pesan dakwah dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cinta dan empati, mengingat setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Maka, dakwah yang dilandasi kelembutan bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk membangun hubungan yang erat antara pembawa dan penerima dakwah.

Cinta dalam dakwah bukanlah pelengkap, melainkan kekuatan utama. Tanpa cinta, pesan dakwah akan terasa hampa dan sulit diterima. Oleh karena itu, setiap langkah dakwah hendaknya selalu diiringi oleh cinta yang menyertakan kelembutan dan kasih sayang, sehingga pesan tersebut masuk ke dalam hati dan menginspirasi tindakan kebaikan. Cinta dalam dakwah bukan hanya tentang menyebarkan kebenaran, tetapi juga menciptakan ikatan batin yang erat dengan Allahﷻ dan sesama manusia.

mengembangkandiri.com (7)

KESADARAN DALAM KONSUMSI MAKANAN

Ditulis oleh: MSc. Nutrition, Kitaka Ashraf

Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari tentang makanan dan bagaimana makanan mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Nutrisi adalah zat yang ditemukan dalam makanan yang digunakan tubuh kita untuk tumbuh, berkembang biak, dan bertahan hidup. Tubuh manusia dapat diibaratkan sebagai sebuah mesin yang canggih, yang dirancang secara rumit untuk menjalankan berbagai fungsi dengan ketepatan yang luar biasa. Sama seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi secara efisien, tubuh manusia juga membutuhkan asupan nutrisi yang seimbang agar dapat berfungsi dengan baik. Jika mesin kekurangan bahan bakar yang diperlukan atau dipasok dengan bahan bakar berkualitas buruk, hal ini mengakibatkan mesin beroperasi pada tingkat yang tidak optimal, bahkan mesin dapat mengalami kerusakan. Demikian pula, tubuh yang kekurangan nutrisi penting atau diberi makan dengan pola makan yang tidak seimbang dapat mengalami kelelahan, kelemahan, disfungsi kekebalan tubuh, dan berbagai masalah kesehatan. Ketidakseimbangan nutrisi yang biasanya disebabkan oleh pola makan yang tidak hati-hati dan melibatkan pilihan makanan yang buruk atau mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan dengan mengorbankan makanan lainnya, juga dapat berkontribusi secara signifikan terhadap perkembangan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan kanker. 

Allahﷻ menciptakan tubuh manusia dan memproporsikannya dengan sempurna melalui keagungannya yang sejati, telah memerintahkan orang-orang beriman untuk memberi makan tubuh mereka dengan nutrisi yang optimal dengan tetap memperhatikan pilihan makanan. Fakta ini dimanifestasikan dalam Al-Quran di mana Allah berfirman;

“Hai sekalian manusia, makanlah dari apa saja yang terdapat di bumi yang halal dan baik dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” Surat Al-Baqarah (2:168).

Ayat di atas mendorong orang-orang beriman untuk mengkonsumsi makanan yang tidak hanya halal tetapi juga baik dan sehat. Ayat ini mendorong pemikiran bahwa kualitas makanan yang kita makan berdampak pada kesehatan fisik dan spiritual. Selain itu, ayat ini secara fundamental menganjurkan untuk makan dengan penuh kesadaran. Gagasan tentang makan dengan penuh kesadaran digambarkan dengan tegas dalam ayat Al-Quran lainnya di mana Allahﷻ menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika memang Dia yang kamu sembah.” Surat Al-Baqarah (2:172).

Mari kita telusuri bagaimana ayat di atas dapat dikaitkan dengan makan dengan penuh kesadaran; 

  1. Bersyukur dan Konsumsi Secara Sadar

Ayat ini dimulai dengan sebuah sapaan kepada orang-orang yang beriman, yang menekankan pada tindakan memakan “hal-hal yang baik” yang disediakan oleh Allahﷻ. Hal ini mendorong sikap bersyukur atas rezeki yang diberikan. Makan dengan penuh kesadaran melibatkan kehadiran penuh dan penghargaan terhadap makanan yang ada di hadapan Anda. Tindakan mengungkapkan rasa syukur selaras dengan pendekatan mindfulness, karena individu secara sadar mengakui dan menghargai makanan yang mereka terima.

  1. Kualitas Konsumsi

Perintah untuk makan “dari yang baik” menekankan pentingnya kualitas dalam konsumsi. Hal ini dapat dikaitkan dengan prinsip mindfulness dalam membuat pilihan secara sadar tentang makanan yang kita makan. Makan dengan penuh kesadaran mendorong individu untuk memilih makanan yang bergizi, memuaskan, dan berkontribusi pada kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan tuntunan Al-Quran untuk mengonsumsi makanan yang baik. 

  1. Hubungan dengan Ibadah

Ayat ini diakhiri dengan mengaitkan tindakan makan dengan ibadah: “Bersyukurlah kepada Allahﷻ jika memang Dia yang kamu sembah. Makan dengan penuh kesadaran dapat dilihat sebagai bentuk ibadah jika dilakukan dengan penuh rasa syukur, kesadaran, dan pemahaman akan ketentuan ilahi. Hal ini menjadi cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allahﷻ atas rezeki yang diberikan. 

Allahﷻ telah menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan memerintahkan mereka untuk berbakti kepada-Nya dengan beribadah dan berdzikir tanpa henti. Ini adalah tugas berat yang mengharuskan kita untuk selalu berada dalam kondisi mental, fisik, dan spiritual yang baik. Bagaimana kita memberi makan tubuh kita dengan nutrisi yang optimal melalui pilihan makanan yang sadar dan mempraktikkan makan dengan penuh kesadaran, dapat menjadi penentu yang kuat bagi kesehatan fisik dan spiritual kita secara keseluruhan, dan dapat menentukan sejauh mana keberhasilan kita dalam memenuhi kewajiban ilahi yang dianugerahkan kepada kita. Di dunia modern di mana kita dimanjakan dengan berbagai pilihan makanan karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi makanan dan rentan terhadap konsumsi yang berlebihan, sudah saatnya kita mulai melihat nutrisi yang tepat melalui makan secara sadar sebagai jalan menuju spiritualitas agama.

mengembangkandiri.com (2)

MEMERIKSA PIKIRAN

Liburan sekolah selesai. Liburan sekolah yang panjang karena dibarengi liburan natal dan tahun baru. Liburan yang selalu membawa cerita. Liburan yang bisa membawa seseorang menjadi lebih baik atau justru sebaliknya.

Saya sendiri mengajar di sekolah berasrama. Sebelum sekolah dimulai, siswa berdatangan  kembali ke asrama. Suasana ramai di pintu masuk asrama. Siswa mengantri dengan membawa barang bawaannya masing-masing. 

Di asrama ada sebuah aturan. Setiap siswa yang pulang, maka ketika masuk kembali harus diperiksa barang bawaannya. Hal ini dilakukan sebagai usaha preventif. Agar siswa tak membawa barang-barang yang dilarang penggunaannya.

Kakak pembina asrama memeriksa barang bawaan siswa satu per satu, didampingi siswa yang bersangkutan. Saya yang kebetulan sedang melintas di pintu masuk menyapa mereka. Sambil menoleh ke Kakak pembina asrama saya berkata, “Kak, cuma barang bawaan yang diperiksa? Pikirannya tidak diperiksa?” 

Kakak pembina dan siswa tersebut tersenyum mendengar celotehanku itu. Wajar saja, karena itu memang cuma candaan ringan. Saya pun mengatakannya spontanitas tanpa berpikir lagi. Bagaimana mungkin kita memeriksa isi pikiran seseorang.

Tapi entah mengapa, setelah saya masuk ke ruangan, terbersit di kepala akan apa yang telah saya katakan. Pikirku, sejatinya kita harus memeriksa pikiran siswa juga. Bukan memeriksa secara fisik pastinya.

Tak bisa dipungkiri, liburan terkadang mengubah pikiran siswa. Suasana santai, rileks, dan tanpa beban untuk belajar membuat siswa terkadang terlena. Mereka bermalasan dan berleha-leha, karena tidak perlu bangun pagi dan menjalani rutinitas berangkat ke sekolah. 

Setiap hari bermain dengan gadget sampai larut malam, tanpa mengindahkan waktu lagi. Smartphone ditangan telah menjauhkan siswa dari hal-hal positif yang bisa dilakukan. Padahal, ketika sekolah aktif, pikiran siswa selalu dibentuk untuk disiplin, semangat, dan termotivasi untuk melakukan hal-hal baik.

Ada hal lain lagi, bisa jadi selama liburan mereka terjerat dengan kebiasan-kebiasan buruk. Dari mulai kecanduan game online, pergaulan bebas, rokok, atau narkoba. Yang lebih bahaya lagi jika pikirannya yang terkontaminasi. Paham-paham sesat, seperti deisme atau LGBT mudah sekali merasuki mereka. Akhirnya, bisa membawa mereka kepada pemikiran anti agama dan menuhankan kebebasan. 

Jika kita pikirkan, dampak buruk kontaminasi pikiran ini justru yang lebih mengkhawatirkan daripada yang lain. Sejatinya, kontaminasi pikiran juga penyakit. Jika sudah terjangkit, maka akan sangat sulit sekali untuk diobati. Masalahnya, pikiran itu tak nampak, pikiran itu sulit diduga, pikiran itu abstrak.

Oleh karenanya, menjaga pikiran dan sikap mental itu sangat penting. Jeff Keller dalam bukunya Attitude is Everything mengatakan bahwa sukses berawal dari pikiran. Menurutnya, pikiran itu berhubungan dengan sikap mental. Bagaimana mental kita menyikapi sesuatu itu yang penting.

Misal, jika kita menyikapi liburan dengan sikap mental yang baik, maka liburan bisa menjadi sangat bermakna. Semestinya, di awal liburan kita bisa menargetkan banyak hal baik, seperti buku mana yang harus diselesaikan, skill baru apa yang harus dipelajari, atau kebiasan baik apa yang akan dibangun.

Jika itu semua telah direncanakan dari awal, maka liburan akan memiliki banyak manfaat bagi diri kita. Bukan hanya penyegaran secara jasmani tetapi juga penyegaran ruhani. Segarnya jasmani dan ruhani akan membuat pikiran menjadi baik dan positif.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi dalam kitab Risalah Nur mengatakan, “Siapa yang melihat indah, maka akan berpikir indah. Seseorang yang berpikir indah akan mendapatkan kelezatan dalam kehidupan”. Oleh karenanya, jika mau bahagia, mulailah berpikir indah. Semua keindahan bermula dari pikiran kita. Dan ingat, pikiran bisa kita kendalikan. Tergantung kita mau membawanya kemana.

Siswa yang melewati liburan dengan hal-hal baik, maka akan lebih semangat dalam menatap semester baru, lebih termotivasi untuk belajar. Karena pikirannya berisi kebaikan. Sebaliknya, jika liburannya hanya dilewatkan dengan berleha-leha, bermalas-malasan, maka memulai kembali rutinitas sekolah akan menjadi sangat memberatkan.

Sebagai pendidik, saya harus siap menghadapi siswa-siswa dengan segala kondisinya pasca liburan. Pasti akan ada siswa yang menurun semangat dan motivasinya untuk belajar. Dalam hal ini, saya harus sabar jika harus memulai kembali pembiasaan baik kepada siswa, memotivasi kembali siswa agar bisa semangat untuk belajar.

Namun, sebelum saya memotivasi siswa kembali, saya juga perlu memeriksa pikiran saya kembali.  Sudahkah saya melewati liburan saya dengan hal-hal baik?. Sudahkan pikiran saya mendapatkan penyegaran?. Apakah saya termotivasi?. Pertanyaan-pertanyaan itu yang perlu saya renungi untuk menatap semester baru dengan semangat dan motivasi baru lagi.