mengembangkandiri.com splashes-of-watercolor-paint-and-painting-supplies-2021-09-02-14-39-48-utc

Menyikapi Kesalahan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Kesalahan dan Cara Menyikapinya

Manusia adalah makhluk Tuhan yang tak bisa terhindar dari kekhilafan. Baik disengaja maupun tak disengaja, manusia melakukan kesalahan, manusia lupa dan alfa, manusia menyimpang dan melakukan dosa.

Kesalahan diidentikkan dengan perbuatan setan. Sebuah dosa atau kesalahan terjadi karena manusia mengikuti bujukan, rayuan, dan ajakan setan. Setelah manusia melakukan kesalahan, setan akan mengajak manusia melakukan pembenaran.

Bagi orang yang taat dan memiliki karakter kuat, setelah melakukan kesalahan, alih-alih mencari pembenaran, mereka akan kembali kepada Rabbnya untuk mencari pintu maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Dalam al-Quran ditegaskan,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Q.S 3:135).

Memohon ampun ketika melakukan kesalahan bukan perkara mudah. Kesalahan akan membawa manusia kepada lingkaran fasid. Fasid adalah perbuatan, pekerjaan, isi hati yang rusak atau busuk. Berada dalam lingkaran fasid membuat manusia akan selalu berada dalam lingkungan yang rusak dan busuk. Hal ini menyebabkan manusia sangat rentan untuk terus melakukan kesalahan dan sulit keluar darinya.

Seperti kita ketahui, manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Dalam diri manusia terdapat sifat berlian dan juga sifat arang. Lingkungan yang akan menentukan sifat mana yang akan lebih dikedepankan. Jika manusia berada dalam lingkaran fasid, sudah barang tentu sifat buruklah yang akan lebih menonjol. Sifat arang akan lebih terlihat dan menutupi sifat berlian yang ada pada dirinya.

Setiap kesalahan yang dilakukan manusia akan membuat noda hitam dalam diri manusia. Noda yang akan membekas di benak manusia, sekecil apapun noda itu ditorehkan. Noda kecil akan membesar jika tidak segera dibersihkan. Oleh karenanya, sekecil apapun kesalahan tidak seharusnya diremehkan. Kesalahan yang besar maupun yang kecil sekalipun, seharusnya bisa dibersihkan dengan segera melakukan taubat dan permintaan ampun kepada-Nya.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, maka yang seharusnya dilakukan adalah bermuhasabah dan kembali kepada Rabbnya, meminta maaf dan bertobat dengan sebenar-benarnya. Namun sayangnya, terkadang kita melupakannya. Terkadang kita lebih sibuk melakukan pembelaan diri, merasa diri tak bersalah, dan melakukan pembenaran.

Kita seolah tidak menyadari atas kesalahan yang kita lakukan.

Jika muhasabah benar-benar dilakukan, maka akan terbentuk perasaan bersalah dalam diri. Seseorang yang sadar atas kesalahan yang dilakukan akan fokus mengarahkan dirinya untuk bertobat dan hidup dalam pengharapan untuk mendapatkan maaf dari Rabbnya walaupun ia sendiri tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan tersebut.

Oleh karenanya, agar terhindar dari melakukan kesalahan, manusia harus terus berhati-hati. Manusia seharusnya menghindar dari lingkaran fasid yang ada dihadapannya, menjauh dari perbatasan untuk masuk kedalamnya. Berjalan di perbatasan, sewaktu-waktu bisa membuat manusia tergelincir ke dalamnya, masuk ke dalamnya tanpa ia sadari.

Ya, terkadang kita memang tak sadar dalam melakukan kesalahan, tak sadar masuk ke lingkaran fasid yang bisa membuat kita justru melakukan pembenaran terhadap kesalahan yang kita lakukan. Bahkan bisa saja kita justru sibuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan.

Hal ini sesuai dengan sebuah kaidah bahwa seseorang yang sibuk dengan menyalahkan orang lain, tak akan mampu melihat kesalahan dirinya sendiri.

Seseorang yang selalu mencari-cari noda dalam diri orang lain, tak akan menyadari dirinya yang berada dalam kubangan lumpur yang penuh dengan noda.

Alhasil, kita harus sangat berhati-hati dalam kehidupan. Kita harus berusaha menjaga diri untuk tidak melakukan kesalahan dan kekhilafan. Kita juga harus menyadari bahwa kita hidup di dalam dunia yang licin, yang sewaktu-waktu bisa membuat kita tergelincir ke dalam kesalahan.

Selain itu, kita juga seharusnya bisa mengulurkan tangan kepada orang-orang yang memiliki kemungkinan untuk tergelincir di tempat yang sama, karena inilah yang dibutuhkan dari keimanan dan kasih sayang kita kepada sesama manusia.

mengembangkandiri.com glass-of-water-with-ice-cubes-2021-08-29-06-09-57-utc

Menyikapi Kebencian

Karya Pembaca: Mahir Martin

Sebagai umat Islam, kita pasti sering mendengar kisah Nabi Adam As. dengan kedua anaknya Habil dan Qabil. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa terjadi konflik antar keduanya. Karena konflik tersebut, Qabil akhirnya membunuh Habil. Peristiwa ini yang diyakini sebagai peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi.

Banyak sudah pembunuhan terjadi di muka bumi. Tidak hanya pembunuhan, banyak juga jenis kejahatan lain yang terjadi di muka bumi ini. Jika kita perhatikan, kejahatan itu bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh rasa kebencian yang timbul dalam diri seseorang.

Rasa Benci

Tak bisa dipungkiri, nafsu manusia yang dikelilingi dengan rasa iri, dengki, hasad, atau kecemburuan akan membawa kepada kebencian. Rasa benci yang akan membuat pembenci berani melakukan tindakan apapun demi orang yang dibenci.

Pembenci tak akan melihat kebaikan orang yang dibenci, walaupun terkadang kebaikannya justru dilakukan terhadap dirinya. Misalnya, ketika orang yang dibenci menyapa, pembenci akan bermuka masam atau mungkin saja berbalik muka, tak ingin menghiraukan.

Pembenci, pemikirannya berpola tetap.

Di matanya, apapun yang dilakukan orang yang ia benci adalah salah, tak ada benarnya. Ia tak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan lagi. Ia ibarat melihat dengan kaca mata yang dipenuhi dengan kotoran sehingga tidak bisa melihat lagi dengan jernih.

Lebih jauh lagi, sikap membenci terkadang membuat pembenci melakukan tindakan yang tidak rasional, dan di luar nalar akal sehat. Mereka bahkan rela menghalalkan segala cara demi melakukan pembenaran terhadap dirinya, dan menyalahkan orang yang ia benci. Kebohongan, kemunafikan, bahkan perilaku anarkis bisa saja ia lakukan.

Rasa benci itu juga tidak melihat hubungan dan kedekatan seseorang. Kebencian bisa menjadi gunting pemutus ikatan antar sesama kita. Seseorang bisa sangat mudah membenci temannya, sahabatnya, kerabatnya, bahkan saudara kandungnya. Jika sudah kadung benci, hubungan dan ikatan sudah tak memiliki makna lagi.

Sikap Kita

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika kita dibenci?

Hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah intropeksi diri. Lihat kembali ke dalam diri kita, apakah kita benar-benar sudah menjadi insan yang baik? Apakah kita bisa menjaga tingkah laku kita sehingga orang tidak membenci kita? Jangan-jangan kebencian seseorang timbul disebabkan oleh diri kita sendiri.

Intropeksi diri ini seharusnya dilakukan setiap saat, terlepas kita mengetahui apakah ada orang yang membenci kita atau tidak. Ada atau tidak pembenci, introspeksi dan mawas diri harus terus dilakukan. Sejatinya, rasa benci itu berpotensi untuk ada pada siapapun yang ada di sekitar kita, apalagi jika kita tidak mampu menjaga sikap kita, tidak mampu mengintrospeksi diri kita.

Hal kedua yang perlu kita lakukan jika kita memiliki pembenci adalah sabar menghadapinya. Kebencian yang mengarah kepada kita adalah sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Jangan sampai kita terbawa emosi dan perasaan, yang justru bisa melahirkan kebencian juga dalam diri kita. Kebencian tak akan hilang jika dihadapi dengan kebencian juga.

Kesabaran sangat penting karena pembenci pasti akan menyerang dari berbagai sisi dalam diri kita. Jika diri kita kurang sabar, dan benteng pertahanan kita kurang kuat, kita akhirnya bisa terbawa emosi dan perasaan. Jika hal ini terjadi, diri kita sendiri yang akan menderita kerugiannya. Kita bisa saja semakin terpuruk dengan adanya kebencian itu.

Hal ketiga adalah perlu adanya kekuatan mental dalam diri kita. Kekuatan mental sangat diperlukan agar kita tidak terpengaruh dengan adanya para pembenci di sekitar kita. Hanya memikirkan para pembenci akan membuat diri kita lebih terpuruk dan tidak bisa produktif dalam kehidupan.

Memfokuskan perhatian kepada tugas dan kewajiban kita dalam kehidupan bisa menjadi kekuatan terbesar dalam melawan para pembenci kita. Kita harus bisa membuktikan diri bahwa kita masih tetap bisa move on walaupun para pembenci tidak memberikan dukungan kepada kita. Tanpa mereka, kita masih bisa memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita.

Sebuah Refleksi

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan agar tidak ada kebencian dalam kehidupan kita?

Komunikasi yang baik, yang dilakukan dari hati ke hati, akan bisa melelehkan es kebencian dalam hati manusia. Tidak mudah melakukannya ketika ada api kebencian yang membara. Terkadang diperlukan sarana mediator untuk bisa melakukannya. Dengan adanya komunikasi dua arah, kita akan bisa mengetahui apa sebenarnya sumber kebencian yang mungkin timbul dalam hati seseorang.

Kebencian baru bisa dihilangkan dengan adanya kesadaran dalam diri pembenci dan orang yang dibenci. Kesadaran akan terbentuk setelah adanya komunikasi efektif yang dilakukan secara intensif, komunikasi yang tidak hanya dilakukan sesekali atau sekali saja.

Karena kebencian adanya di hati, sebagai manusia sebaiknya kita bisa menjaga hati kita dari belenggu kebencian itu. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Menjaga hati memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Menjaga hati ibarat menjaga diri dari gigitan kalajengking dan ular kobra, yang bisa saja menyerang tanpa kita sadari.

Alhasil, bersikap seperti Habil dalam kisah Nabi Adam As. di dalam Al-Quran kiranya bisa menjadi sikap yang seharusnya dikedepankan dalam melawan kebencian. Dalam Al-Quran diabadikan bagaimana sikap yang dilakukan Habil ketika berkonflik dengan saudaranya Qabil.

Habil berkata, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (QS 3:28).

Sikap Habil ini memberikan pembelajaran kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang ingin melakukan keburukan kepada kita. Seorang ksatria adalah seorang yang mampu menjawab keburukan yang dilakukan terhadap dirinya dengan kebaikan, mampu menjawab kebencian dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Al-Quran sebagai pedoman hidup, pastinya memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Setiap ayat Al-Quran terkadang tidak langsung kita pahami, perlu penghayatan,  dan perenungan untuk bisa memahami benar-benar apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya.

Kiranya, kisah Habil dan Qabil bisa membuka perspektif kita bagaimana seharusnya kita memahami dan bersikap menghadapi kebencian yang mungkin saja terjadi kepada diri kita.

mengembangkandiri.com hand-of-child-holding-a-small-pink-gift-box-2021-08-26-17-04-34-utc

Adil dalam Memberi Hadiah

Memberikan hadiah kepada anak harus  sesuai dengan ukuran dan tingkat usia mereka. Memberi hadiah yang terlalu berlebihan menyebabkan anak memiliki harapan yang terlalu tinggi sehingga melahirkan rasa ketidakpuasan di masa depan, janganlah memberi hadiah terlalu sering kepada anak, tetapi berilah hadiah pada waktu yang tepat dan dengan ukuran yang sesuai, sehingga hadiah yang diberikan sangat berarti bagi anak.

Dalam memberikan hadiah haruslah berlaku adil, jangan sampai ada orang tua yang memberikan hadiah hanya kepada salah satu anaknya saja tanpa memberi kepada anaknya yang lain. Demikian pula dengan memberikan hadiah berlebihan kepada salah satu anak saja sedangkan anak yang lain tidak diperlakukan sama. sebagaimana  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak anak kalian.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, shahih li ghairihi). dari hadis ini dapat kita pahami bahwa, kita sebagai orang tua harus berlaku adil dalam memperlakukan anak-anak kita dalam hal apapun.

kalau kita lihat berdasarkan pengertian, Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya.

ada banyak pengertian dari kata adil yang sudah di kemukakan oleh para ulama, namun dalam hal ini  adil yang dimaksud adalah at-tawazun yang artinya keseimbangan. Seimbang di sini tidak selalu sama antara dua pihak  secara kuantitatif, tapi lebih kepada proporsional dan profesional. keadilan disini identik dengan pengertian kesesuaian, yakni kesesuaian antara ukuran, kadar dan waktu.

Baik, mari kita kembali kepada topik pembahasan kita yaitu tentang hadiah. jadi sebagai orang tua berilah hadiah kepada anak karena mereka layak menerimanya dan juga yang perlu kita ingat adalah jangan selalu memberi hadiah dalam bentuk materi saja kepada anak, karena hal ini yang dapat membuat anak menjadi ketergantungan dan hanya berfokus pada hadiah saja tidak kepada nilainya. Sebagaimana di video sebelumnya kita sudah membahas tentang apa yang perlu dipertimbangkan dalam memberi hadiah kepada anak.

Dan yang tidak kalah penting adalah Selalu berikan anak hadiah sesuai dengan yang anda janji , berikan tepat pada  waktunya. agar kita sebagai orang menjadi contoh bagi anak dalam kedisiplinan.

TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMBERI HADIAH KEPADA ANAK

Semua anak pasti suka diberikan hadiah oleh orangtuanya, hanya sekadar coklat, permen, makanan yang disukainya, mainan, barang yang sedang diinginkannya, dan lain sebagainya.

Memberikan hadiah kepada anak tentu dengan tujuan baik, agar anak termotivasi semangat dalam belajar, agar anak taat dan mematuhi perintah orang tua, agar anak berubah menjadi lebih baik, dan lain sebagainya.

Dalam pendidikan islam memberi hadiah atau saling memberi hadiah adalah sunnah. Memberi hadiah kepada anak karena keberhasilan yang dicapainya adalah sangat penting sekali. Namun, hadiah yang diberikan tidak boleh berlebih-lebihan dan jangan menjadikan anak hanya berfokus kepada hadiah saja.

Untuk itu, kita harus berhati-hati dalam memberikan hadiah kepada anak. ketika memberikan hadiah kepada anak tentunya orang tua harus memperhatikan unsur pendidikan yang ada pada hadiah tersebut namun tidak boleh juga melupakan unsur permainan pada hadiah tersebut. hadiah yang bisa diberikan kepada anak seperti buku, mainan yang edukatif, peralatan sekolah, atau jalan-jalan ke objek wisata tempat bersejarah dan lain-lain

Dengan memberikan buku maka anak bertambah pengetahuannya. Rasa ingin tahunya yang besar akan mendorongnya untuk membaca lembar demi lembar buku yang dihadiahkan kepadanya. Dengan permainan yang edukatif ini dapat meningkatkan kecerdasan anak. Dengan memberikan hadiah dalam bentuk peralatan sekolah anak-anak akan semakin semangat dalam belajar. Agar dapat memperluas wawasan dan pengalaman anak secara langsung.

mengembangkandiri.com the-child-is-happy-with-a-birthday-gift-2021-09-02-06-07-26-utc

Maksud sebuah Hadiah yang Jelas

SEBAB HADIAH YANG DIBERIKAN HARUS DINYATAKAN DENGAN JELAS

Memberikan hadiah kepada anak adalah suatu hal yang baik dan sangat bermanfaat sekali, bermanfaat bagi anak itu sendiri dan juga bermanfaat  bagi kita sebagai orang tua, misalnya: dengan memberi hadiah kepada anak dapat membantu kita sebagai orangtua dalam memotivasi mereka untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan ia untuk mencapainya atau untuk melakukan sesuatu kebaikan yang berguna bagi masa depannya kelak dikemudian hari.

Memberikan hadiah kepada anak tidak selalu harus dalam jumlah yang besar, namun memberikan hadiah kepada anak haruslah sesuai dengan kebutuhan mereka, sesuai dengan usia mereka dan pada waktu yang tepat, seperti yang sudah kita bahas pada video sebelumnya

Perlu kita  ketahui bahwa hadiah tak hanya sekedar benda atau materi yang kita berikan kepada anak, tapi lebih dari itu. Hadiah yang kita berikan merupakan suatu bentuk penghargaan kepada anak atas prestasi dan pencapaian yang sudah berhasil mereka raih. Untuk itu, saat memberikan hadiah kepada anak, kita perlu memberitahu mereka tentang apa yang sudah mereka raih dan  sebab kenapa mereka kita beri hadiah tersebut. Dengan begitu, anak memahami bahwa ia telah melakukan hal yang baik dan yang kita sukai. Maka demikian hadiah yang kita berikan kepada anak menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi mereka dan bahkan menjadi sumber motivasi bagi mereka untuk terus bersemangat menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. tidak hanya itu saja dengan memberi hadiah juga dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak.

Dalam menjelaskan sebab kenapa kita memberikan hadiah kepada anak kita bisa sampaikan kepada mereka dengan kata-kata yang lembut, agar dapat dimengerti dan dipahami oleh anak dengan baik , misalnya dengan berkata “hadiah ini ayah/ibu berikan karena kami ingin kamu bahagia dan menjadi lebih baik lagi” atau hadiah ini ayah/ibu berikan karena “usaha yang kamu lakukan sangat berharga bagi kami, jadi karena itulah kami memberikan hadiah ini kepadamu”. Dengan penjelasan seperti ini anak akan mengerti kenapa hadiah itu diberikan dan juga dapat menyebabkan hadiah yang diberikan menjadi sangat berarti bagi anak.

mengembangkandiri.com parent-and-child-in-carpentry-2021-08-26-15-47-52-utc

Mendidik dengan Cinta dan Kasih

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HARUS DIBERIKAN DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

Islam adalah agama kasih sayang, agama yang mengajarkan kedamaian, menebarkan kasih sayang, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sudah barang tentu Islam sangat menolak kekerasan dalam bentuk apapun.

Islam diajarkan untuk menunjukkan sikap kasih sayang

surat Al-Anbiya ayat 107

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Ayat di atas menjelaskan Allah mengutus Nabi Muhammad tidak lain agar menyampaikan kasih kepada ciptaan Allah. “Itu kasih sayang menjadi visi utama agama Islam juga misi agama-agama sebelum Islam,”

surat Ali Imran ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.   Ayat di atas menjelaskan berkat kasih sayang Allah kepada Rasulullah, dia bersikap lemah lembut. Jika bersikap keras atau kasar, maka niscaya orang-orang akan menjauhi dan tidak suka. Kalau pun masih begitu, maafkanlah dan mintalah ampun untuk mereka.

Dalam Islam, sosok guru (agama) sangat strategis, di samping mengemban misi keilmuan agar peserta didik menguasai ilmu-ilmu agama, guru agama juga mengemban tugas suci, yaitu misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT.

dapat kita pahami bahwa guru adalah pengemban tugas mulia, terutama guru agama islam. Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik peserta didiknya  untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan beradab.

oleh karena itu, ruh dari guru agama islam adalah cinta dan kasih-sayang, karena pada dasarnya cinta dan kasih-sayang adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang guru.

sebagaimana Imam Ghazali menyebutkan bahwa salah satu syarat menjadi guru adalah kasih sayang dan lemah lembut

Pendidikan agama islam harus diberikan dengan cinta dan kasih sayang. Sebab,  Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Sehingga,  guru agama islam  harus mampu menunjukkan dan mengekspresikan rasa sayang dan cintanya kepada peserta didik, mengajar agama islam bukan hanya berhubungan dengan pengetahuan saja, namun juga sangat berkaitan erat dengan keimanan, jika kita berbicara tentang iman maka hal ini berhubungan langsung dengan hati Karena tempat iman adalah di hati, bukan di otak. oleh karena itu pendidikan agama islam ini harus diberikan dengan cinta dan kasih-sayang karena hati tidak menerima hal-hal yang tidak disukainya,  jika mengajar agama islam tanpa cinta dan kasih sayang maka hati akan menolaknya sehingga apa yang diajarkan tidak akan bisa tertanam dan terwujudkan dalam perilaku peserta didik.

pexels-timur-weber-9127599

Kebutuhan Rohani Anak

KITA HARUS MENYADARI KEBUTUHAN JIWA ANAK

Situasi belajar sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Situasi seperti tempat dan suasana sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.

Kondisi ruangan yang bersih, nyaman, sirkulasi udara yang baik, kapasitas ruangan yang memadai, penerangan, dan kondisi tenang sangat dibutuhkan dan akan membangkitkan minat belajar peserta didik dan juga meningkatkan semangat belajar. Sikap guru, semangat di kelas, sikap keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Selain guru, dalam belajar setiap peserta didik dipengaruhi oleh banyak faktor, hal itu dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar peserta didik yaitu dari orang tua, dari guru dan dari masyarakat. Faktor intern dibagi menjadi tiga yakni faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Di dalam faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Dan faktor-faktor inilah yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik agar dapat mengendalikan dan mengatur pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif, terarah dan optimal. Guru yang baik adalah guru yang dapat mengerti dan memahami permasalahan atau kendala dari seorang peserta didik dan persoalan psikologi peserta didik. Guru yang dapat memahami persoalan peserta didiknya adalah guru yang tidak memaksakan keinginannya kepada peserta didik, yang mendengarkan keluhan dan problematika belajar dari peserta didik, dan juga tidak memaksakan tugas yang melampaui kemampuan peserta didik.

Agar dapat mendidik jiwa anak sejak usia dini, pendidikan jiwa anak harus dilakukan sama seperti halnya menjaga dan merawat fisiknya. Pendidikan agama yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat anak tidak boleh diabaikan, segala sesuatu yang diperlukan untuk pendidikannya harus dipersiapkan sebelumnya.

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah saja.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (13: 11) disebutkan, “Bapak dan ibu serta seorang wali dari anak hendaknya sudah mengajarkan sejak dini hal-hal yang diperlukan anak ketika ia baligh nanti. Hendaklah anak sudah diajarkan akidah yang benar mengenai keimanan kepada Allah, Malaikat, AL-Qur’an, Rasul dan Hari Akhir. Begitu pula hendaknya anak diajarkan ibadah yang benar. Anak mestinya diarahkan untuk mengerti shalat, puasa, thoharoh (bersuci) dan semacamnya.”

Semoga Allah menganugerahi kepada anak-anak kita sebagai penyejuk mata bagi orang tua. Mudah-mudahan kita diberi taufik untuk mendidik mereka menjadi generasi yang lebih baik