Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, “Permudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
Ada sebuah pernyataan bahwa “Islam itu agama yang mudah dan luas” (al-islamu dinun yusrun wus’atun).
Sedangkan pertanyaannya adalah mana dalil pendukung pernyataan tersebut dan bagaimana penjabarannya? Apakah pernyataan itu dibenarkan oleh nushush al-syari’ah (teks-teks syariah)?
Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita perlu melacak dari mana pernyataan itu berasal. Ternyata ia langsung dari Baginda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam. Ada dalam sebuah hadis dengan sanad sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di sana beliau menyatakan:
Artinya, “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam,” (HR. al-Bukhari [39] dan Muslim [2816]).
Maksud hadis ini adalah syariat yang Allah turunkan kepada umat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mudah dan tidak sulit. Allah telah mengangkat hal-hal yang memberatkan mereka. Sehingga ia tidak memaksa seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya.
Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. artinya Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah subhanahu wata’ala menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya’: 107]
Dengan hal ini Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
Dapat kita simpulkan sebagaimana dengan keterangan diatas bahwa Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya.
Oleh karena itu tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” HR. Al-Bukhari (no. 39),
Setiap pemikiran akan bermakna ketika ada pergerakan, sebaliknya pergerakan juga akan lebih bermakna ketika menghasilkan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran dan pergerakan, seolah, silih berganti saling menguatkan, memiliki hubungan timbal balik satu dengan yang lainnya.
Pemikiran dan pergerakan akan terhubung lebih erat dengan perasaan. Perasaan dapat berperan sebagai bumbu penyedap racikan pemikiran dalam suguhan pergerakan. Tanpa adanya perasaan, pemikiran dan pergerakan akan terasa hambar.
Memahami Perasaan
Bagaimana kita memahami perasaan, dalam pemikiran dan pergerakan di kehidupan nyata?
Bayangkan ketika kita memiliki pemikiran untuk menjadikan anak-anak kita sebagai generasi emas penerus bangsa. Pastinya, pemikiran kita ini harus diimbangi dengan pergerakan memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak calon generasi emas tersebut.
Pemikiran dan pergerakan ini saja tidaklah mencukupi. Keduanya harus juga dilengkapi dengan perasaan. Perasaan yang dikemas dalam bentuk keikhlasan, dedikasi, dan rasa syukur dalam mendidik. Keikhlasan, dedikasi, dan syukur membuat sebentuk rasa yang memberi makna ketika kita mendidik anak-anak kita menuju generasi emas anak bangsa. Beginilah kita memahami perasaan. Intinya, perasaan memainkan peran hati ketika kita berpikir dan bergerak.
Ya, perasaan memang sedikit berbeda dengan pemikiran dan pergerakan. Pemikiran bisa saja dibuat dalam bentuk tulisan. Kita biasa menuangkan pemikiran kita dalam bentuk perencanaan, program kerja, konsep, atau rancangan yang kita persiapkan dengan matang.
Di sisi lain, pergerakan bisa dilihat dengan kasat mata karena dilakukan dalam dimensi fisiknya. Pergerakan biasanya dilakukan untuk mengusung sebuah pemikiran melalui sebuah wujud aksi nyata dan tindakan fisik di lapangan.
Lantas, bagaimana dengan perasaan? Apakah perasaan juga bisa dituliskan atau dilihat secara kasat mata?
Sulit untuk bisa mengatakan “Ya”. Perasaan memang sejatinya dirasa, tidak dapat dituliskan atau digerakkan secara fisik. Bahkan, rasa itu terkadang tidak disadari keberadaannya oleh seseorang yang sebenarnya memiliki rasa tersebut.
Orang yang ikhlas, tidak merasa dirinya ikhlas. Orang yang berdedikasi, tidak merasa dirinya berdedikasi. Orang yang bersyukur, terkadang tidak merasa dirinya sudah cukup bersyukur. Jadi, perasaan seseorang apakah ikhlas, berdedikasi, atau bersyukur biasanya tidak diakui keberadaannya oleh dirinya sendiri.
Biasanya, perasaan pada diri seseorang dirasakan keberadaannya dan diakui oleh orang lain. Namun terkadang, ketika perasaan dirasakan keberadaannya oleh orang lain, maka interpretasinya bisa sangat berbeda dan memiliki subjektivitas yang tinggi. Artinya, perasaan yang dirasa mungkin akan memberikan rasa yang berbeda bagi setiap individu yang berbeda.
Misalnya saja perasaan ikhlas. Terkadang kita bisa sangat merasakan keikhlasan melekat pada diri seseorang dalam pemikiran dan pergerakannya, tetapi ternyata orang lain tidak merasakan hal yang sama dengan kita. Bahkan mungkin saja, orang lain itu justru merasa orang yang kita anggap ikhlas itu malah tidak cukup memiliki keikhlasan. Jadi, perasaan itu sulit untuk bisa ditebak keberadaannya.
Perasaan dan Pandangan Hidup
Dari tataran filosofis, perasaan sebagai bumbu pemikiran dan pergerakan itu sangat tergantung dengan bagaimana kita memandang kehidupan. Jika kita memandang kehidupan hanya dengan pemikiran nihilisme, maka perasaan dalam bentuk rasa ikhlas, berdedikasi, dan rasa syukur tidak perlu lagi kita kedepankan. Kehidupan kita akan lebih mementingkan kesenangan dunia, dan gaya hidup kita pun menjadi hedonis dan materialistis.
Penganut paham nihilisme ini berpikir bahwa adanya pemikiran dengan menggunakan akal dan rasionalitas dan adanya pergerakan dengan menggunakan fisik, sudah sangat cukup untuk bisa mengarungi kehidupan di dunia.
Bagi mereka, kehidupan dunia adalah satu-satunya kehidupan. Setelah kehidupan di dunia orang akan berhadapan dengan kematian, kenihilan, atau ketiadaan. Setelah kematian tidak akan ada ada lagi kehidupan. Kematian adalah akhir dari segala-galanya, batas akhir kehidupan.
Sebaliknya, jika kita memandang kehidupan dunia ini hanyalah sebagai salah satu bagian dari dua sisi kehidupan, dan bahwasanya akan ada sisi kehidupan lain setelah kematian, maka segala hal di dunia ini akan kita lakukan dengan tujuan mendapatkan sebuah makna. Makna untuk menggapai kehidupan hakiki kelak. Makna seperti inilah yang akan memberikan sebuah rasa dalam pemikiran dan pergerakan kita. Makna seperti inilah yang membuat kita sadar akan pentingnya mengedepankan perasaan.
Oleh karenanya, perasaan tidak boleh terlupakan dalam kehidupan kita. Meskipun perasaan bersifat immaterialistik dan tak terlihat, tetapi perasaan bisa saja diberikan penguatan agar lebih bisa kita perhatikan keberadaannya.
Ibarat rasa masakan yang bisa dikuatkan dengan menambah bumbu lebih banyak, begitu juga dengan perasaan ikhlas, berdedikasi, dan bersyukur juga bisa dikuatkan dengan membumbuinya dengan nilai-nilai yang benar.
Perasaaan dikuatkan dengan nilai-nilai spiritualisme yang dijalani dengan penuh penghayatan. Ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan dapat memupuk perasaan agar bisa menghidupi pemikiran dan pergerakan.
Pemikiran dan pergerakan yang dikuatkan dengan perasaan akan mampu memberikan warna baru bagi dunia yang kita tinggali ini. Dunia yang sejatinya bisa diisi dengan perasaan yang diliputi kedamaian, ketentraman, dan kemaslahatan.
Sebuah Refleksi
Terkait perasaan dalam pemikiran dan pergerakan, ulama Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya Bangkitnya Spiritualitas Islam menuliskan, “Sebenarnya, setiap pemikiran merupakan titik awal atau proses yang akan digunakan untuk melewati jalan menuju tujuan yang diwujudkan melalui sebuah pergerakan… Dalam rangkaian proses ini, pemikiran memiliki peran seperti layaknya benang merah yang menghubungkan antara yang awal dengan yang akhir, sementara perasaan adalah bagaikan ukiran yang menghiasi rangkaian ini.”
Ya, dari pemikiran menuju pergerakan adalah sebuah proses. Proses seharusnya memang dihiasi dengan perasaan sehingga terhindar dari kejumudan. Disinilah peran penting perasaan untuk membumbui dan memberi cita rasa dalam berproses. Yang lebih penting lagi, perasaan bisa membuat proses tersebut memiliki makna yang lebih mendalam.
Alhasil, untuk mengarungi dunia yang semakin berkembang dari segala sisinya ini, kita memang memerlukan sebuah pandangan hidup yang jelas. Pandangan hidup yang akan diterjemahkan menjadi sebuah pemikiran dan pergerakan yang dibumbui dengan perasaan.
Mari kita pikirkan kembali apa sebenarnya pandangan hidup kita, dari mana kita berasal, apa yang harus kita lakukan di dunia ini, dan kelak kemana kita akan kembali. Hiasilah itu semua dengan perasaan ikhlas, dedikasi, dan rasa bersyukur kepada-Nya.
Saya yakin bahwa Ustaz Fethullah Gulen merupakan representasi dari imam pembaharu dan pemikir pembaharu yang berhasil menyuguhkan proyek-proyek umat yang komprehensif, seimbang, dan bisa diterapkan.
Muhammad Ali Sulaiman Ad-Duqur, Profesor Ilmu dan Tafsir Alquran serta Fikih Islam di Universitas Yordania. Dekan Fakultas Usuluddin di Universitas Yordania. Anggota dewan pengurus Badan Asosiasi Cendekiawan Yordania. Sekretaris umum Organisasi Masyarakat Pelestari Alquran. Penulis buku “Kisah-kisah dalam Alquran”.
Saya Dr. Sulaiman Ad-Duqur. Pengajar Tafsir, Ilmu Alquran dan Hukum Islam di Universitas Yordania. Saya juga Dosen di Fakultas Syariah.
Pertama kali saya mengenal pemikiran Ustaz Fethullah Gulen dan karyanya pada tahun 2008. Sungguh saya benar-benar terpukau kala itu, saya menemukan sesosok ulama Rabbani sekaligus pemikir muslim. Gambaran pemikirannya jelas dan visinya sempurna. Beliau berhasil membangun diri dengan sangat baik. Hati beliau menanggung sebuah kegelisahan. Kegelisahan dakwah terhadap umat, Khidmat Islam dan Muslimin serta Alquran.
Alangkah mengharukan saat saya menyaksikan beliau membacakan sebuah Hadits Nabi SAW: “Sungguh Islam akan menyebar ke seluruh penjuru bumi sejauh jangkauan siang dan malam”.
Banyak orang termasuk saya memahami hadist tersebut sebagai kabar gembira. Akan tetapi karena beban dakwah yang Ustaz Fethullah Gulen rasakan, beliau memahami bahwa hadist di atas metupakan sebuah perintah dan tugas yang harus ditunaikan oleh umat Islam.
Beliau menangis seraya berkata: “Betapa banyak tempat dan wilayah yang belum pernah dikumandangkan azan, belum pernah dilantunkan nama Allah SWT dan belum pernah disampaikan sabda Nabi SAW.”
Kegelisahan dakwah dalam jiwa Ustaz Fethullah Gulen berubah menjadi semangat yang tinggi. Tinggi rendahnya semangat seseorang tergantung pada beratnya beban kegelisahan yang ia rasakan. Siapa yang memiliki kegelisahan demi memperbaiki dunia, hendaknya ia memiliki semangat yang tinggi. Ustaz Fethullah Gulen berhasil mengubah kegelisahan dakwah menjadi semangat juang, kemudian menunaikan tugas dakwah tersebut secara langsung.
Ketika saya membaca pemikiran Ustaz Fethullah Gulen, saya menemukan pemikiran yang sempurna, universal dan luas sehingga mengharuskan saya membacanya secara detail dan mendalam. Sebagaimana halnya seorang intelek atau orang yang ingin mendalami pemikiran seorang tokoh, tidak bisa ia membaca pemikiran seseorang secara parsial namun ia harus membacanya secara menyeluruh. Saya memiliki pandangan luar biasa tentang pemikiran Ustaz Fethullah Gulen ketika saya mengamati bagaimana kehidupan beliau saat muda, bagaimana cara pandang beliau, bagaimana gerak gerik beliau. Ustaz Fethullah Gulen telah menyerap Alquran, makna dan nilai Alquran telah terpatri dalam dirinya. Beliau melihat permasalahan dengan cakrawala yang luas dan universal. Beliau meyakini bahwa risalah Nabi Muhammad SAW situjukan kepada setiap makhluk.
Pemahaman ini selalu bergejolak dalam jiwanya. Semboyan beliau adalah “Dunia ditakhlukkan dengan pena”.
Dan ini merupakan representasi dari ayat Alquran yang pertama kali diturunkan, “Bacalah (Iqra) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.
Yaitu membaca yang dikaitkan dengan manusia yang telah Allah ciptakan dan mengajarkannya dengan pena. Jujur inilah yang pertama kali saya rasakan saat mendalami pemikiran Ustaz Fethullah Gulen.
Beliau tengah merintis jalan untuk melayani agama Islam dengan pondasi yang universal berdasarkan pemahaman beliau dari Alquran dan konsep terapan Nabi SAW. Ustaz Fethullah Gulen memahami dengan baik sirah Nabi SAW yang merupakan sosok teladan manusia sempurna. Beliau juga memahami dengan baik kehidupan generasi pertama, yaitu generasi para Sahabat yang merupakan teladan generasi sempurna. Merekalah contoh masyarakat yang sempurna, contoh negeri yang sempurna, contoh pemerintahan yang sempurna.
Oleh karena itu, bagi Ustaz Fethullah Gulen periode sahabat dan masa kehidupan Nabi SAW merupakan teladan sempurna dan contoh terapan yang dijadikan neraca. Ketika kita melihat pemahaman beliau yang mendalam akan Alquran dan kehidupan Nabi SAW serta para sahabat, kita temukan beliau mampu mewujudkan dan memancarkan pemahaman tersebut dalam membangun manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, Ustaz Fethullah Gulen selalu fokus pada nilai-nilai di atas. Inilah yang menjadikan para pemikir dan ulama mendukung pemikiran dan apa yang diterapkan Ustaz Fethullah Gulen. Beliau membangun benteng ruh dan membangun manusia. Tetapi dalam membangun manusia dimulai dari membangun ruh dan akalnya, membangun akhlak dan menanamkan nilai-nilai luhur. Poin-poin inilah yang kita temukan dan saksikan dalam kehidupan dan ceramah Ustaz Fethullah Gulen. Poin tersebut menjadi langkah awal dalam membangun benteng peradaban umat ini, peradaban yang bisa hidup harmonis dengan bangsa lain, mampu memberikan nilai-nilai luhur dan pelayanan Islam serta Iman bagi seluruh manusia.
Berbicara tentang kehidupan Ustaz Fethullah Gulen memerlukan waktu yang panjang. Anda akan berbicara tentang masa mudanya, tentang dedikasinya yang berkobar yaitu pengorbanan yang konsisten dan tanpa henti. Anda akan merasakan bahwa dalam kehidupan beliau terdapat keteguhan, kesabaran, dan kegelisahan yang memenuhi jiwanya terhadap umat dan agamanya. Anda merasakan adanya kelembutan jiwa padanya. Inilah akhlak para Nabi.
Allah berfirman: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS Ali Imran: 159)
Sungguh nilai luhur ini telah diterapkan Ustaz Fethullah Gulen dalam setiap kehidupannya. Inilah contoh ulama Rabbani sebagaimana Firman Allah: Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As Sajjah: 24).
Saya yakin Fethullah Gulen merupakan representasi dari imam pembaharu dan pemikir pembaharu yang berhasil menyuguhkan proyek umat yang komprehensif, seimbang, dan bisa diterapkan. Di sini ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan, banyak dari pemikir menjadikan gagasan pikirannya hanya seni yang terkadang bersifat sementara dan sulit dipahami oleh khalayak. Sedangkan pemikir yang benar dan tulus ialah pemikir yang memiliki sebuah gagasan yang bisa mengumpulkan khalayak dan mungkin diterapkan. Singkatnya, Ustaz Fethullah Gulen ialah pemikir yang memiliki gagasan yang jelas dan bisa diterapkan. Inilah karakteristik pemikir yang jenius seperti Ustaz Fethullah Gulen. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap usaha, dedikasi dan pemikiran beliau.
Sebagaimana disampaikan Ustaz Said Nursi, kemanusiaan sedang mengalami banyak masalah. Saat ini manusia tengah menderita berbagai permasalahan internal dan eksternal. Adapun permasalahan internal, meliputi kemiskinan, kebodohan dan perpecahan.
Inilah 3 masalah utama yang dialami umat Islam sekarang. Adapun permasalahan eksternal, meliputi krisis identitas umat, asimilasi, tidak adanya keseimbangan peradaban dan hilangnya jati diri umat. Menyelesaikan semua masalah ini dengan berpedoman pada konsep Islam adalah hal yang dilakukan Hizmet.
Saya mengetahui Hizmet melalui Ustaz Fethullah Gulen dan karya-karyanya. Saya juga melihat Hizmet di Turki dan penyebarannya. Alhamdulillah, terapan Hizmet sudah tesebar di 160 negara lebih.
Saya pernah berkunjung ke beberapa negara, saya menyaksikan pengaruh dan penyebaran Hizmet di sana. Hal ini adalah cerminan dari perkataan Ustaz: “Jika ingin menjadi kuat di suatu tempat, hendaknya kita harus berada di semua tempat”.
Saudara-saudara kita di Hizmet berhasil mengaplikasikan gagasan tersebut menjadi proyek besar seperti dialog antar budaya bahkan dialog secara internal. Dengan dialog internal, kita mampu berdialog dengan orang lain dan mewujudkan Firman Allah: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”.
Kita perlu berdialog dengan diri sendiri terlebih dulu agar kita mampu berdialog dengan sesama. Jika hal ini berhasil, maka kita akan mampu berdialog dengan semua bangsa, golongan dan budaya. Inilah keberhasilan yang telah dicapai Hizmet, melalui berbagai institusi, sekolah dan yayasan solidaritas, Hizmet telah tersebar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Hizmet berhasil memenuhi apa yang dibutuhkan manusia. Saat ini agar bisa tersebar, engkau mesti memberikan sesuatu yang diperlukan manusia. Banyak hal-hal menarik yang saya saksikan saat berkunjung ke negara-negara Arab dan negara barat. Saat berkunjung ke Australia, saya mendapati Hizmet tersebar di sana dengan cepat berkat perjuangan orang-orang Hizmet. Teori bukanlah cara yang tepat untuk menjelaskan Hizmet. Jika anda berbicara tentang proyek-proyek di atas, apakah anda menemukannya di buku? Tidak, akan tetapi tersebarnya berbagai institusi Hizmet sebagai bukti tingginya nilai dan kedudukannya. Hizmet memenuhi berbagai kebutuhan manusia.
Sangat baik jika anda bisa melayani manusia, mengambil andil dan bekerja sama dengan mereka dalam kebajikan ini. Hal yang kita temukan saat mendalami Hizmet adalah ia memberikan pelayanan kepada manusia di bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Hizmet mengembalikan jati diri umat Islam dan memberikan pelayanan serta memberi kenyamanan pada manusia. Hizmet sebagai gerakan yang memberi palayanan keimanan kepada semua manusia, sangat dibutuhkan keberadaannya saat ini. Namun peran kita juga sangat penting dalam mengenalkan Hizmet kepada orang lain. Setelah runtuhnya kekuasaan Islam (Turki Usmani) dan penjajahan barat secara massif datang, mulailah bermunculan gerakan-gerakan Islam. Secara singkat, ada gerakan pembaharuan agama, pembaharuan pemikiran, pembaharuan politik dan gerakan pembaharuan sosial. Kita tidak bermaksud membandingkan satu gerakan dengan lainnya, karena semuanya bertujuan mengabdi untuk agama. Akan tetapi, kita temukan pada dakwah Ustaz Fethullah Gulen dan Hizmet adanya prinsip universal, moderat dan integrasi di setiap bidang, serta mampu mengubah pemikiran menjadi nyata seperti proyek-proyek besar yang tersebar di dunia Islam. Meski belum sempurna, akan tetapi saya yakin ini adalah langkah awal yang insyaAllah di masa depan Hizmet akan memiliki peran penting. Hizmet berhasil mewujudkan sebuah gambaran nyata yang saat ini sedang berproses. Saya yakin, kedepannya terapan Hizmet ini akan terus berkembang, segala usahanya akan semakin matang sehingga mampu menunjukkan gambaran sempurna yang sesuai dengan apa yang diperlukan generasi umat saat ini.
Berani melakukan nahi munkar, baik kepada sesama khalayak ramai maupun (apalagi) kepada penguasa, tidak lantas secara otomatis pelakunya memperoleh predikat pemberani dan pejuang lantaran telah melakukan amalan yang dianggap sulit dan berat, berani mengambil resiko tidak disukai dan dimusuhi oleh banyak pihak.
Hal ini dikarenakan, sebagaimana setiap amalan yang lain juga selalu didahului oleh selain iman adalah juga didahului oleh ilmu, maka begitu pula dengan amalan nahi munkar. Ia memiliki ketentuan2, syarat rukun tertentu, serta tatakrama dalam menjalankannya. Inilah yang disebut dengan batas-batas agama dalam melakukan nahi munkar.
Bila dalam melakukan nahi munkar berada di dalam koridor batas-batas agama, barulah perbuatan nahi munkar termasuk bagian diantara amalan paling terpuji.
Sedangkan sebaliknya, bila dalam melakukan perbuatan nahi munkar tersebut berada di luar batas-batas agama, maka sebaliknya justru ia bisa jatuh kepada perbuatan tercela.
Ungkapan dan dalil umum “Barangsiapa diantara kamu melihat kemunkaran, hendaklah ia cegah kemunkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah ia cegah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman”, selain menunjukkan pengertian sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama secara redaksionalnya, bahwa nahi munkar itu adalah terkait dengan “kemampuan” bagaimana melaksanakannya, dan yang yang paling utama adalah “mampu” dengan tangan, lalu lisan, dan yang paling lemah adalah dengan hati, dalil umum tersebut di atas juga memiliki beberapa kandungan pengertian lainnya.
Pengertian yang pertama adalah soal, “kewenangan”.
Ada pihak, yang karena kedudukannya dalam berbangsa dan bernegara, memiliki kewenangan dalam melakukan nahi munkar hingga sampai dengan tangan atau paksaan. Diantara mereka adalah pemerintah dalam berbagai tingkatannya dan anggota dewan dalam berbagai tingkatannya, yang keduanya memiliki kewenangan membuat dan mengesahkan undang-undang dan peraturan serta sistem mengikat lainnya sebagai bagian dari norma hukum. Juga, pejabat lain yang memiliki kewenangan memerintahkan aparat untuk melakukan nahi munkar dengan dasar UU tersebut. Termasuk juga aparat penegak hukum itu sendiri meliputi polisi, jaksa dan hakim serta lembaga-lembaga lain serta perangkat institusi lain yang semisal, mereka semua adalah pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan nahi munkar dengan tangan.
Selanjutnya, ada pihak-pihak yang karena kedudukannya di masyarakat bukan bagian dari pemerintah atau anggota dewan sebagai pembuat UU, juga bukan pejabat berwenang dan aparat penegak hukum, melainkan mereka adalah masyarakat luas khalayak ramai biasa. Mereka ini tidak memiliki kewenangan melakukan nahi munkar kepada pihak lainnya dengan paksaan atau dengan tangan. Mereka bisa melakukan nahi munkar hanya sampai pada batas dengan lisan saja.
Ya. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khalayak ramai dan khususnya para ulama, da’i, kyai, habib, agamawan dan masyarakat luas lainnya tidak diperkenankan melakukan nahi munkar kepada pihak lainnya dengan paksaan.
Imam Ghozali mengatakan, bila setiap orang memiliki kewenangan dengan paksaan, apalagi dengan mengumpulkan teman dan menghunus senjata, maka yang terjadi adalah kekacauan.
Imam Ghozali menjadikan keamanan, ketertiban umum dan keselamatan, sebagai pertimbangan ketika beliau memfatwakan apakah nahi munkar tsb wajib dilakukan, sunnah, mubah, atau justru makruh atau bahkan haram dilakukan.
Dan yang terakhir, karena ada pihak yang alih-alih bisa melakukan nahi munkar dengan tangan, bahkan hanya “sekedar” dengan lisanpun ia dipandang tidak memiliki kewenangan, entah itu oleh karena kurangnya ilmu misalnya, atau ia sendiri tidak dapat melakukan khususnya tentang hal apa yang ingin dinasihatkan kepada orang lain, atau lisannya tidak ada dampak apapun kecuali kerugian atas dirinya dan apalagi kerugian atas diri orang lain, maka kewenangannya dalam nahi munkar hanya bisa sebatas berdoa dan berlepas diri dari kemunkaran tersebut. Karena kewenangan dan kemampuannya yang terbatas inilah maka ia dikatakan lemah. Lemah di sini pun bukan berarti aib atau kehinaan, melainkan adalah karena keterbatasan.
Nahi munkar dengan hati ini, yaitu dengan hanya bisa diam berdoa dan berlepas diri saja, meskipun ia kategori lemah jika dibandingkan dengan bila mampu dan berwenang dengan tangan dan lisan, nahi munkar dengan hati tetaplah pilihan yang lebih tepat dan syar’i dari 3 alternatif syar’i yang disediakan dalam melakukan nahi munkar, (yang ketiganya baik dengan tangan, lisan dan hati adalah dalam koridor syar’i), daripada memaksakan diri dengan lisan apalagi dengan tangan, namun melampaui batas-batas kemampuan, batas kewenangan dan justru menimbulkan mudhorot yang lebih besar serta jatuh pada hukum yang haram bila dilakukan.
Dalam hal ini, Sang Imam Al Hujjatul Islam juga menjadikan pertimbangan tindakan nahi munkar tersebut apakah ada manfaatnya ataukah tindakan konyol semata, merugikan pihak lainnya atau tidak, ia sendiri sudah dikenal luas dapat melakukan apa yang dinasihatkan kepada orang lain atau tidak, hal itu semua sebagai dasar menentukan hukum wajib, sunnah, mubah, makruh atau haramnya seseorang melakukan tindakan nahi munkar.
Itulah pengertian pertama dari ungkapan di atas, yaitu tentang “kewenangan”.
Pengertian yang kedua adalah tentang, “pendayagunaan kewenangan”. Maksudnya adalah, orang yang memiliki kewenangan melakukan nahi munkar dengan tangan, seyogyanya ia memaksimalkan kewenangannya tersebut. Ia tidak sepantasnya menurunkan level mengambil alih peran melakukan nahi munkar dengan lisan yang menjadi wewenang orang lain, sementara hal yang menjadi kewenangannya sendiri, yaitu melakukan nahi munkar dengan tangan, justru terbengkalai. Sebagai contohnya adalah pemerintah dan anggota dewan yang seharusnya punya wewenang membuat UU dan peraturan serta sistem mengikat lainnya sebagai bagian dari norma hukum, justru melalaikan wewenang tersebut dan sibuk hanya “menghimbau” dengan lisan saja.
Atau pejabat berwenang dan aparat penegak hukum yang seharusnya dengan dasar UU dan peraturan yang berlaku bisa memproses secara hukum para pelaku kemunkaran, justru hanya menasihati saja yang seharusnya menjadi tugasnya para ulama, da’i, kyai, habib, agamawan dan khalayak ramai.
Contoh di atas adalah sama-sama perilaku tidak amanah yang tidak mampu mendayagunakan kewenangan yang dimiliki.
Demikianlah diantara pengertian dari ungkapan dalil umum di atas dalam melakukan nahi munkar. Ia bermakna membahas tentang tingkat kemampuan dan keutamaannya, tingkat kewenangan dan pendayagunaan kewenangan dalam melakukan nahi munkar, yang semuanya merupakan bagian dari batasan agama dalam melakukan nahi munkar.
Selanjutnya, rincian dalam melakukan nahi munkar dengan tangan, kiranya sudah jelas, yaitu hal tersebut meliputi membuat dan mengesahkan UU dan aturan mengikat serta upaya menegakkan aturan tersebut oleh aparat.
Sedangkan melakukan nahi munkar dengan lisan, kami perlu menguraikan sedikit rinciannya.
Melakukan nahi munkar dengan lisan, tahap yang pertamanya adalah memberikan pengajaran, memberikan pengetahuan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan munkar.
Tahap yang kedua adalah menasihati secara halus dan lemah lembut.
Tahap yang ketiga adalah menasihati dengan kata-kata lebih keras.
Tahap yang keempat adalah menakuti-nakuti atau mengancam akan melaporkannya kepada pejabat atau aparat berwenang agar ditindak dengan tangan.
Tahap yang terakhir adalah benar-benar melaporkannya kepada aparat.
Ini adalah tahapan-tahapan melakukan nahi munkar dengan lisan.
Bila setelah dilaporkan, ternyata pejabat berwenang dan aparat tidak menindaklanjuti dengan tangan, atau malahan mereka merupakan bagian dari kegiatan munkar tersebut, maka kepada pejabat dan aparat tersebut berarti adalah ditargetkan juga untuk dilakukan nahi munkar kepada mereka.
Namun perlu digaris bawahi di sini, bahwa menurut kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Abu Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali, melakukan nahi munkar kepada pejabat dan aparat, maksimal adalah dengan lisan. Tidak dapat dengan tangan atau paksaan.
Dengan lisan itupun harus dibatasi pada menasihati dengan lembut. Dan bila terpaksa, boleh dengan kata2 kasar yang secukupnya tidak membabi buta.
Karena menurut Sang Imam Mujaddid pada masanya tersebut, melakukan nahi munkar kepada pejabat dan aparat dengan melebihi dari batasan-batasan di atas dapat menimbulkan dampak buruk yang lebih besar. Ia dapat menggerakkan fitnah dan membangkitkan kejahatan.
Akhirnya bila tahap tersebut di atas sudah dilakukan, maka tinggallah jalan nahi munkar yang terakhir yaitu dengan hati, sembari tetap mengajari manusia lain yang memerlukan pengajaran dan nasihat-nasihat.
Keterangan di atas itupun hanyalah batasan agama dan tata krama melakukan nahi munkar terhadap perbuatan yang jelas-jelas dan terang benderang sebagai perbuatan munkar. Sedangkan untuk hal-hal yang masih dalam perdebatan dan memerlukan ijtihad (yang justru paling banyak berada di tengah-tengah kita) masih perlu kajian lagi. Dan orang awwam tidak diizinkan ikut terlibat di dalamnya.
Demikianlah. Melakukan nahi munkar adalah persoalan yang luas dan pelik, tidak terbatas hanya persoalan berani saja. Imam Ghozali menulis secara khusus dalam satu buku hampir setebal empat ratus halaman, belum termasuk di kitab yang lain. Bediuzzaman Said Nursi juga membahasnya terangkum bersama dengan kajian iman dan ilmu dalam kitab Risalah Nur setebal lima ribu halaman. M. Fethullah Gulen Hoja Efendi juga menulis tentang amar makruf nahi munkar dalam satu buku setebal hampir tiga ratus halaman.
Jadi kiranya uraian kami di atas amatlah singkat, masih jauh dari membahas semuanya, karena hanya untuk keperluan praktis sebagai panduan melakukan nahi munkar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta beragama, supaya kita tidak mudah terseret dalam perbuatan nahi munkar yang melebihi batas.
Namun yang jelas, dalam melakukan nahi munkar, bila melampaui batas-batas agama, seperti melampaui batas kemampuan, melampaui batas kewenangan dan tidak memikirkan aspek keamanan, keselamatan dan ketertiban umum, serta merugikan orang lain, apalagi dilakukan dengan maksud tertentu tidak tulus karena Allah SWT, sehingga dilakukan dengan amarah dan perasaan bangga di hadapan manusia, serta memburu kemegahan dan nama, menasihati penguasa (pemerintah, anggota dewan, pejabat dan aparat) dengan kata-kata kasar, apalagi dengan mengumpulkan teman-teman (terlebih dengan menghunus senjata), berarti telah keluar dari batas-batas agama dan tata krama dalam melakukan nahi munkar.
Imam Ghozali mengatakan, bila dalam melakukan nahi munkar berada dalam koridor batas-batas agama dan tata kramanya, maka melakukan nahi munkar termasuk sebagai pendekatan diri kepada Allah, dan tertolaklah segala kemunkaran.
Sebaliknya, bila keluar dari batas-batas agama dan tata kramanya, Imam Ghozali mengatakan niscaya kemunkaran tidak akan tertolak. Malahan, terkadang melakukan nahi munkar menjadi perbuatan munkar karena melampaui batas agama. Wallahu alam.(*)
Pemikiran dan teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet.
Prof. Said Bouizeri, Professor Hukum Islam di Universitas Mouloud Mammeri, Tizi-Ouzou. Pengajar di Pusat Pendidikan Berkelanjutan di Tizi-Ouzou sejak tahun 1991. Menyelenggarakan berbagai konferensi keilmuan tentang Hukum Keluarga dalam Islam, Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Teori-Teori Prediksi dalam Hukum Islam. Presiden Dewan Keilmuan dan Komisi Fatwa di Departemen Agama dan Waqaf Tizi-Ouzou. Penulis tiga buku tentang Hukum Islam, Hukum Waris serta Hak-Hak Anak dalam Islam.
Nama saya Said Bouzeri dari Aljazair, tepatnya dari daerah Kabylia. Sekarang saya dosen di Universitas Tizi Ouzou, mengajar mata kuliah hukum.
Ustaz Muhammad Fethullah Gulen (Hafidzahullah) adalah nikmat dari Allah SWT bagi umat Islam berdasarkan beberapa alasan:
Alasan Pertama, beliau adalah sosok yang memiliki kecintaan pada agama (Ghirah) dalam kalbunya. Ketika membaca tentang Ustaz Fethullah, saya terngiang sosok Khalifah pertama Sayyidina Abu Bakar r.a. saat berujar: “Apakah hakikat agama Allah berkurang sementara saya masih hidup!” Seakan Sayyidina Abu Bakar mengatakan: “Tak kan ada artinya kehidupanku serta keberadaanku jika aku melihat ada yang berkurang dari agama Allah sedangkan aku masih hidup”. Dengan demikian, alasan pertama ialah beliau memiliki kecintaan tinggi pada agama Islam.
Alasan Kedua, beliau telah mengkaji dan mendalami ilmu dari para ulama terdahulu, mengambil manfaat serta mengembangkannya, yaitu ilmu para syeikh serta guru-guru beliau, salah satunya Syeikh Said Nursi (Rahimahullah).
Alasan Ketiga, beliau berhasil menggabungkan antara gagasan dan praktik, serta iman dan amal. Sebagaimana Allah SWT dalam Alquran setiap menyebutkan kata iman selalu dibarengi dengan amal saleh, “…orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS Al Baqarah 2:82)“Dan katakanlah: Beramalah kamu, maka Allah akan melihat amalanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At Taubah: 105)
Alasan Keempat, Ustaz Fethullah Gulen berhasil menghimpun para pemuda yang setia, saleh, dan baik untuk berjuang bersamanya. Beliau membimbing, membentuk, serta mengarahkan mereka. Beliau acuan hidup mereka. Merekapun laksana benih unggul. Jadi, beliaulah tokoh perintis peradaban, tentunya bersama murid-muridnya karena suatu keberhasilan itu diraih dengan bekerjasama.
Sungguh kita membutuhkan sosok seperti beliau. Sosok yang sadar akan zaman, memiliki pemahaman yang dalam, iman yang kuat, serta kecintaan pada agama. Namun semua pencapaian itu beliau wujudkan bersama para muridnya. Maka dari itu beliau benar-benar pantas menyandang kemuliaan ini. Semoga Allah selalu menjaga mereka dari segala mara bahaya. Lebih dari itu, Ustaz Fethullah Gulen membangun generasi dengan pondasi seimbang. Beliau fokus pada pengembangan kualitas insan yang merupakan asas utama dibangunnya peradaban. Tidak mungkin suatu peradaban dapat dibangun dengan materi semata, melainkan perlu dibangun dengan asas manusia. Malik bin Nabi (Rahimahullah), tokoh ternama Aljazair, memiliki kesamaan pemikiran dengan Ustaz Fethullah Gulen (hafizahullah). Malik bin Nabi juga membahas tentang konsep peradaban. Diantara yang Malik bin Nabi sampaikan: “Manusia adalah asas utama terbentuknya sebuah peradaban.” Allah telah membukakan jalan bagi Ustaz Fethullah Gulen untuk fokus dalam membangun insan dari segi akidah, akhlak, kepribadian dan pemikiran dengan penuh keseimbangan. Fethullah Gulen adalah sosok beriman, saleh, berwawasan tinggi, serta memikul kegelisahan akan umat. Inilah sifat-sifat mencolok dari beliau. Semua itu terlihat pada pemikiran, rintihan air matanya, karya-karya tulisannya yang mencerahkan, serta tindakan-tindakannya juga pencapaiannya.
Sebenarnya gerakan Hizmet bisa dianggap sebagai “Sebuah Sekolah”. Sebagian orang berbeda-beda dalam menamakan gerakan ini. Sebagian menamakan gerakan Hizmet, yayasan Hizmet atau Hizmet saja. Tetapi saya lebih memilih menamakannya “Sekolah Hizmet”. (Poin Pertama) Pada dasarnya, gerakan yang kita banggakan ini merupakan pergerakan besar yang mengimplementasikan Islam pada masyarakat secara nyata. Di sisi lain, pemikiran serta teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet ini. Berdasarkan pengamatan kami, gerakan ini berjalan di atas landasan agama Islam yang sempurna. Landasan Islam inilah yang memberikan Hizmet kekuatan, kekokohan dan konsistensi dalam pencapaiannya.
Kemudian poin kedua, gerakan Hizmet berhasil mengimplementasikan nilai Islam secara menyeluruh. Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak mungkin sesuatu disifati paripurna kecuali jika ia memang telah sempurna. Allah SWT berfirman di awal surah Al Maidah: “Pada hari ini orang kafir telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu, maka dari itu janganlah takut kepada mereka melainkan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Ku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS Al Maidah 5:3) Oleh karena itu, Islam sudah sempurna secara akidah, ibadah, syariah, akhlak dan etika. Gerakan atau sekolah Hizmet melalui kerja kerasnya berhasil menyuguhkan kita sebuah teladan yang komprehensif. Mereka adalah orang-orang biasa, namun mereka tekun dan rajin, bekerja bagai lebah. Setiap orang di institusinya bekerja sesuai bidangnya dengan rajin laksana lebah dalam sarangnya untuk menghasilkan madu. Seperti itulah gambaran orang-orang Hizmet dan gerakan Hizmet. Sifat komprehensif pada Hizmet memberikannya kekuatan, integritas dan keseimbangan seperti yang telah kita saksikan, Alhamdulillah.
Poin ketiga, gerakan Hizmet bergerak tanpa tergesa-gesa. Hal ini sangat penting. Mereka berbuat dan bergerak dalam masyarakat di segala bidang, baik itu dibidang pendidikan, sosial, ekonomi, ataupun kesehatan. Pergerakan di segala bidang ini mengindikasikan adanya pemahaman dan kesadaran yang tinggi. Karakteristik mencolok pada Hizmet adalah ia bergerak di masyarakat dalam segala bidang dengan langkah-langkah perlahan yang membimbing dan terencana. Sifat ini terlihat sangat jelas pada Hizmet. Karakteristik lain pada Sekolah Hizmet adalah keberhasilannya mengangkat keterpurukan umat Islam saat ini. Seakan Hizmet berseru kepada seluruh umat Islam secara implisit: “Selamat datang wahai umat Islam, ambillah konsep terapan ini, jadikan ia jalan penerang kalian dan teruslah dikembangkan.” Iya, hal ini juga menjadi kekhasan Hizmet. Di setiap perkumpulan yang ada di dalamnya pemuda Hizmet, mereka senantiasa berkata: “Silahkan sampaikan saran kalian, serta pendapat kalian.” Sungguh ini teladan sangat baik.
Poin terakhir, telah terwujudnya sebuah pencapaian besar sebagaimana yang kita dengar yaitu diresmikannya channel Hira berbahasa Arab. Channel yang sangat dinanti-nanti dunia Arab.
Dibalik semua kesalahan kita, kita juga tidak mengikuti jalan yang terang dari Allah SWT. Dari Allah-lah cahaya langit dan bumi.
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS An Nur 24:35)
Selama manusia memiliki hubungan dengan-Nya maka dia akan tercerahkan dan mengerti. Dia akan mengatakan benar terhadap kebenaran dan berkata salah terhadap kesalahan. Jika hubungannya dengan Allah semakin jauh maka ia akan membenarkan yang salah dan menyalahkan kebenaran.
Apalagi jika orang-orang ini adalah pemimpin atau pembimbing sebuah kelompok, maka orang-orang di belakangnya akan mengikutinya tanpa bisa membedakan yang benar dan salah. Oleh karena itu, mereka akan lebih merugikan Iman, Islam, jalan Alquran dan Jalan Nabi Muhammad SAW, lebih merugikan dari pada orang-orang yang sudah jelas kafir. Kekufuran orang kafir sudah jelas, mereka tampak jelas di hadapan anda dan anda pun akan mengantisipasi sesuai dengan itu.
Lalu anda akan berkata “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” (QS Al Isra 17:84)
Setiap orang berbuat sesuai dengan karakternya dan orang kafir memiliki karakter sendiri. Tetapi orang yang salat bersama anda di masjid, berpuasa, berhaji dan berkata atas nama Allah seperti anda, bahkan mereka yang bersikap seperti akan membimbing anda, kerugian yang diberikan oleh orang-orang seperti ini lebih bahaya dari orang-orang kafir.
Sebenarnya, di balik semua permasalahan disebabkan karena lemahnya iman dan ketidakmampuan untuk memahami iman dengan benar. Oleh karena mereka menampilkan sikap munafik dan selalu bertindak sebagai orang munafik, pembicaraan mereka berbeda di setiap waktunya. Yang kemarin mereka katakan benar hari ini mereka salahkan. Yang mereka katakan hari ini pun mereka akan menghadirkan penjelasan yang berbeda di esok harinya.
Mohon maaf, dengan bahasa masyarakat umum mereka selalu “berdalih” setiap saat. Efeknya adalah bukan kepada mereka namun kepada kepercayaan orang-orang terhadap Islam. Dengan ini, akan ada retakan di benteng agama Islam karena mereka. Agama Islam akan menjadi seperti baju yang usang dan siapapun yang melihatnya dalam kondisi tersebut mereka akan merasa jijik. Oleh sebab itu, orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah dari hati, mereka membutuhkan rehabilitasi baru tentang keimanan.
“Saya berharap semua orang di dunia akan mencintai kekasihku (Allah) dan tidak ada yang perlu dibicarakan selain-Nya…”
Semua permasalahan yang paling besar kalau dibandingkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Allah tidak akan ada artinya seperti perbandingan cahaya kunang-kunang dengan cahaya matahari.
Pada saat ini dunia Islam mengalami krisis keimanan yang sangat serius. Islam menjadi yatim di tangan orang-orang yang tidak memahami hakikatnya, sifat-sifatnya dan kebenarannya. Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada umatnya bahwa pada akhir zaman, Islam akan kembali datang dalam keadaan terasing. Lalu Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang akan membangun ruh agama kembali dari keterasingan itu. Akan datang suatu masa di mana agama dan nilai-nilai keagamaan dalam keadaan terasing.
“Beruntunglah orang-orang yang terasing.”
Pada zaman ini orang yang memegang teguh agamanya akan terasing. Dimana-mana mereka akan diserang dan dimusuhi, di mana saja mereka berada akan dikatakan: hancurkanlah mereka dan jangan biarkan mereka hidup tenang, padamkanlah cahaya mereka, basmilah mereka sampai ke akar-akarnya.
Mereka yang memperlihatkan diri sebagai muslim dan mengatakan,
“Kita akan membangkitkan Islam kembali, kita akan menjadikan Islam sebagian dari kehidupan, kita akan menjadikan Islam sebagai pemikiran dasar masyarakat.”
padahal jika mereka tidak membedakan halal dan haram, mereka melakukan maksiat, mereka tidak bisa berlepas diri dari kehidupan bohemian, mereka menghalalkan fahsya dengan nama nikah mut’ah. Bahkan sebagian dari mereka berusaha untuk memasukkan hal ini ke dalam tafsir Alquran, ini adalah kehancuran yang sangat besar.
Menurut saya, orang-orang kafir tidak memberikan kerusakan yang seperti ini kepada agama. Saya tidak mengatakan kafir kepada mereka, kita tidak boleh berkata begitu, saya menyebutnya dengan kelemahan iman. Tidak memahami agama dengan benar, tidak bisa memahami Alquran dan Sunnah, tidak bisa memahami Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, dan Para Sahabat. Tidak bisa memahami para Mujtahid dan Mujaddid dan inilah sebuah kelemahan iman yang sangat serius.
Jika hal ini terus berjalan seperti ini sebagaimana dikatakan penyair Mehmat Akif:
“Akan salah jika mereka mengatakan bahwa sebuah masyarakat bisa hidup dengan spiritualitas yang mati. Tunjukkan kepada saya sebuah umat/ bangsa yang bisa hidup dengan spiritualitasnya yang mati.”
Jika spiritualitas diratakan dengan tanah seperti ini, maka kita memiliki tugas yang sangat besar.
“Jika tidak ada keadilan di benak rakyat suatu negara, maka negara yang diagungkan itu akan rata dengan tanah.” (Ziya Paşa)
Anda akan berpikir bahwa negara anda sudah mencapai ‘Arsy karena kemuliaanya. Tetapi pada kenyataannya negara itu sudah rata dengan tanah. Ada begitu banyak contoh dalam sejarah yang berulang, di mana ada penyimpangan yang kecil maka akan diikuti oleh suatu negara secara keseluruhan. Sebagaimana di zaman sekarang sebagian besar negara Islam mengalaminya. Tetapi tugas anda adalah menunjukkan wajah Islam yang sebenar-benarnya. Menunjukkan dengan segala pesona keindahan yang dimilikinya, agar menghindari orang-orang takut dan lari darinya.
Ada sebuah pernyataan, “Tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan dengan bahasa sikap.”
Keteladanan lebih berpengaruh daripada buku yang anda baca seisi dunia. Salah satu pengaruh yang terbesar dari Kebanggaan Umat Manusia SAW di samping tablig adalah keteladanan beliau yang begitu dalam. Apa yang beliau SAW katakan beliau SAW terapkan dalam kehidupannya sendiri dengan berlipat ganda. Jika kita menganggap bahwa bahwa diri kita di jalan mereka mari bandingkan keteladanan kita dengan keteladanan beliau. Jika cocok apa yang kita lakukan maka kita adalah seorang muslim yang sebenarnya. Jika tidak, saya berharap mohon jangan kita berbohong. Semoga Allah SWT mengukuhkan Imanu Billah, Ma’rifatullah, Mahabbatullah, Dzauq rohani, Rasa Cinta dan Kerinduan.
Dengan perkataan Said Nursi; semoga Allah SWT memampukan kita keluar dari kehidupan dunia, lalu masuklah ke dalam kehidupan hati yang lapang. Jika anda ingin berbagi tempat yang sama dengan Rasulullah anda harus melakukan hal ini. Tidak bisa dengan keislaman yang palsu dan merugikannya. Jika kita melakukan sesuatu untuk Allah, memulai dengan nama Allah, bertemu karena Allah, mengerjakan sesuatu karena Allah, jika kita bergerak di seputar ini maka detik dari kehidupan kita akan menjadi bertahun-tahun, setiap detikmu akan terwujud cahaya. Semoga Al-Ghaffar mengampuni kita, memurnikan kita dan memampukan kita untuk kembali kepadaNya dalam kondisi tersebut.