kayra-sercan-NSwyO3jcbrA-unsplash

Kami juga Menerima Pengunduran Diri Mereka yang Telah Memberikan Pengunduran Diri Kepada Anda

Sang pujangga besar Mehmed Akif Arsoy seringkali datang ke Masjid Sultan Ahmed untuk menunaikan salat Subuh. Setiap kali beliau datang ke masjid, beliau selalu melihat seorang lelaki tua sedang menangis di sudut ruangan. Suatu hari, lelaki tua itu menceritakan pengalamannya kepada beliau yang membuatnya sangat tersentuh. Lantas  beliau menjelaskan bagaimana percakapannya dengan lelaki tua tersebut.

“Setiap harinya saya selalu datang ke masjid untuk menunaikan salat Subuh. Secepat apapun saya tiba, saya selalu melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk di sudut masjid dan terus menangis . Rambut dan jenggotnya sudah beruban dan ekspresinya terlihat sedih dan putus asa. Ia terus menangis sampai-sampai saya  tidak bisa menyaksikan ia tidak menyucurkan air mata meskipun hanya semenit. Saya tidak bisa menahan diri selain bertanya-tanya mengapa lelaki tua ini menangis seperti itu. Suatu pagi, saya mendekatinya dan bertanya “Mengapa Anda menangis tersedu-sedu? Haruskah seseorang kehilangan harapan akan ampunan Tuhannya?” Dia menatapku dengan matanya yang keriput seraya berkata:

Jangan memaksaku menjelaskannya Tuan. Hatiku terasa hancur. Aku pun terus memaksanya hingga akhirnya ia berkata : ” Wahai Tuan, saya dahulu adalah seorang pejabat militer di bawah kekuasaan Sultan Abdulhamid. Satu pasukan tentara berada di bawah komando saya.  Saya bertugas hingga kematian kedua orang tua. Setelah kejadian duka itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Harta yang saya wariskan bagi keluarga cukup banyak. Untuk mengawasi harta tersebut agar tidak disalahgunakan, akhirnya saya berpikir untuk mengelolanya dalam. Oleh karena itu, saya menulis sebuah permintaan kepada otoritas kerajaan. Permintaan tersebut berbunyi ” Kedua orang tuaku telah wafat. Kepemilikan harta dan bangunan keluarga kami sangat besar tersebar di beberapa tempat. Dengan demikian, harus ada seseorang yang mengurusnya. Mohon pertimbangkan keadaan tersebut dalam pemutusan pengunduran diri saya.”

Beberapa hari kemudian, saya menerima surat resmi dari sultan. Kubuka surat itu dengan penuh semangat. Pengunduran diri saya tertolak. Kupikir sangat jelas bahwa Sultan menerimanya secara langsung. Kutulis surat itu sekali lagi lantas kukirim kembali. Naas, hasilnya tetap sama. Akhirnya, saya putuskan untuk menemui Sultan secara langsung dan meminta persetujuan pengunduran diriku. Berbicara perihal Sultan, beliau ialah seseorang yang pemberani.  Beberapa waktu silam, saya pernah bekerja bersama asisten pribadi beliau. Ia bercerita beberapa hal mengenai Sultan. “Ketika Sultan melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda, orang yang duduk di samping kanan dan kiri beliau merasa takut bahkan untuk bernapas saja.”

Abdulhamid ialah seseorang yang saleh. Karena alasan inilah saya memutuskan untuk menceritakan semuanya secara langsung, semoga Allah mengampuni beliau. Saya bertutur :

“Wahai Yang Mulia, dengan tulus hamba meminta Anda untuk menerima pengunduran diri hamba, memang beginilah kondisinya. Beliau berhenti selama beberapa menit. Dari ekspresinya dapat kukatakan bahwa Sultan tidak ingin menerima pengunduran diri saya. Untuk alasan inilah saya menjadi lebih sedikit bersikukuh. Lantas Sultan berbalik menatap saya dan dengan amarah beliau berkata “Pengunduran dirimu diterima” seraya menyuruh saya keluar.

Sungguh hal yang membahagiakan. Saya pun akhirnya kembali ke kampung halaman dan mengelola bisnis keluarga. Pada suatu malam, saya mengalami mimpi yang sungguh luar biasa. Kulihat semua tentara Muslim berkumpul untuk diperiksa. Resimen kami yang bertugas bertempur di wilayah timur dan barat diperiksa langsung  oleh Baginda Rasulullah.

Rasulullah berdiri de depan Istana Yidiz dan para tentara berbaris dengan sangat teratur tatkala memberi hormat pada beliau. Tampak Sultan Ottoman sebelumnya bersama Sultan Abdulhamid. Sang Sultan berdiri di belakang Rasulullah dengan sikap hormat. Dalam barisan tersebut akhirnya tibalah resimen yang kupimpin dulu. Satuan itu tidak memiliki pemimpin sehingga mereka berbaris dengan sangat kacau.

Melihat hal tersebut, Rasululllah bertanya kepada Sultan Abdulhamid ” Siapakah gerangan pemimpin resimen itu?”

Abdulhamid menjawabnya dengan penuh rasa rendah hati “Ya Rasulullah, pemimpin resimen ini telah mengundurkan diri. Ia terus bersikeras  sehingga kami putuskan untuk menyetujui surat pengunduran dirinya.’

Beliau menjawab : “Kami juga menerima pengunduran diri bagi mereka yang telah memberikan pengunduran diri kepada Anda.”

Si orang tua tersebut mengakhiri ceritanya dengan berkata :” Sekarang beri tahu, apakah saya harus menangis atau tidak?

Sesungguhnya, Rasulullah selalu berjalan di setiap langkah menuju Allah. Apabila seorang hamba ingin menerima dukungan beliau, kerjakanlah tugas sebaik mungkin.

shane-rounce-DNkoNXQti3c-unsplash

TANGGUNG JAWAB DAN MELAYANI AGAMA

Mengambil langkah di jalan Allah dengan niat untuk berjuang di jalan Allah dan untuk kebaikan umat manusia lebih diberkati daripada segala sesuatu di dunia.

Apa Arti Kata “Menjadi Sadar akan Tanggung Jawab”?

Para ahli telah mendefinisikan tanggung jawab sebagai akuntabilitas dan kewajiban seseorang terhadap kewajiban tertentu seperti keyakinan, praktik, perilaku, tindakan, dan ucapan. Nyatanya, menyadari tanggung jawab adalah salah satu kualitas terpenting yang membedakan manusia dengan hewan, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kecerdasan, kemauan bebas, tanggung jawab, dan keyakinan. Orang yang beriman adalah orang yang bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, Nabi yang mulia dan saudara-saudari Muslim. Terkadang tanggung jawab ini memanifestasikan dirinya sebagai upaya di jalan Allah dan terkadang sebagai perilaku yang baik.

Semua Muslim diwajibkan untuk menepati janji mereka kepada Allah dan berperilaku dengan cara menyadari tanggung jawab mereka. Jadi, janji apa yang kita buat untuk Allah ini? Jika kita merenungkan janji yang kita buat kepada Allah, kita perlu menyadari Allah menjadi Illah kita, dan tentang alasan penciptaan kita yaitu penyembahan dan pelayanan, dengan itu kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab kita. Allah SWT menjelaskan ini dengan ayat berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (al-Baqarah 2:286).

Seseorang yang menyadari tanggung jawabnya tidak akan pernah melupakan ayat tersebut, malah akan bertindak sesuai dengannya. Karena ayat ini memberikan rambu-rambu bagi orang yang ingin mengabdi pada agamanya, ayat ini juga menjelaskan sebuah dekrit penting: Seorang manusia bertanggung jawab terhadap hal-hal yang dititipkan kepadanya.

Sudah menjadi hal yang jelas, iman adalah berkat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Rasa syukur yang sejati atas anugerah iman hanya dapat ditunjukkan dengan membawa berkat ini kepada jiwa yang membutuhkannya. Aspirasi dan perasaan ini adalah tanggung jawab terbesar seorang mukmin. Tugas mulia yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi pada suatu waktu, kini telah ditempatkan di pundak orang-orang beriman saat ini sebagai berkah dari Allah. Tentu saja, mengambil peran sebagai Sahabat adalah tugas yang sulit tetapi juga merupakan tugas yang paling mulia.

Seorang mukmin yang sadar akan tanggung jawabnya adalah orang yang tulang punggungnya berderak di bawah beban berat sebagai hamba dan menjalani kehidupannya dalam dua rangkap dalam pemahaman makna ibadah. Karenanya, Nabi kita yang mulia bersabda: “Jika kamu tahu apa yang saya ketahui, kamu akan banyak menangis dan lebih sedikit tertawa.” ‘Nabi yang mulia mengerang di bawah beban pengabdian dan tanggung jawab. Bagaimana dengan kita? Seberapa sadar kita akan tanggung jawab kita?

Kita tidak boleh lupa, seperti yang dijelaskan dengan indah oleh Fethullah Gülen Hocaefendi (diucapkan sebagai “Hodjaefendi,” sebuah kehormatan yang berarti “guru yang dihormati”), “Kita dituntut dengan tanggung jawab untuk menganugerahi dunia kita dengan semangat baru yang segar, terjalin dari cinta iman, cinta sesama manusia, dan cinta kebebasan. Kita selanjutnya telah diberi tanggung jawab untuk menjadi diri kita sendiri, terhubung dengan prinsip dari tiga cinta ini, dan untuk mempersiapkan tanah untuk tunas, akar murni dari pohon surgawi yang diberkati, sehingga akan dipelihara dan tumbuh di tanah cinta yang subur ini. Hal ini tentu saja bergantung pada keberadaan pahlawan yang akan bertanggung jawab dan melindungi nasib negara dan sejarah, agama, tradisi, budaya, dan segala hal sakral yang menjadi milik rakyat; Hal ini akan bergantung pada orang-orang hebat yang penuh dengan kecintaan pada sains dan pengetahuan, berkembang dengan pemikiran konstruktif, tulus dan saleh tanpa batas, patriotik dan bertanggung jawab, dan, oleh karena itu, selalu teliti dalam bekerja, bertanggung jawab, dan saat bertugas.

Terima kasih kepada para pahlawan ini dan upaya tulus mereka, sistem pemikiran dan pemahaman yang layaknya pohon berbuah akan selalu tumbuh bersama rakyat kita; rasa mengabdikan diri kepada orang lain dan komunitas akan menjadi terkenal; pemahaman tentang pembagian kerja, pengelolaan waktu, dan membantu serta berhubungan satu sama lain akan dihidupkan kembali; semua hubungan rakyat dengan pemerintah, majikan dengan karyawan, tuan tanah dengan penyewa, artis dengan para pengagumnya, pengacara dengan klien, guru dan murid akan menjadi aspek yang berbeda dari kesatuan secara keseluruhan; semua ini pasti terjadi setidaknya sekali lagi dan semua harapan kita dari masa lampau akan menjadi kenyataan, satu demi satu. Kami sekarang hidup di era di mana impian kami terwujud dan kami percaya bahwa dengan pengaturan waktu yang tepat, setiap tanggung jawab zaman ini akan tercapai pada saat harinya tiba.”

Karenanya, kita harus mengesampingkan kenyamanan dan kesenangan duniawi, menyucikan diri kita dari pikiran setan seperti “bodo amat” dan memenuhi tanggung jawab kita.

ines-alvarez-fdez-fBPEXawTQ7c-unsplash

Mengharap Dengan Sangat

 

Manusia merupakan ciptaan yang sempurna dari Sang Pencipta. Walaupun tergolong sempurna sejatinya manusia tetaplah makhluk yang papa, yang selalu berada dalam kelemahan dan butuh pertolongan. Di Dalam islam dijelaskan bahwa doa atau meminta merupakan salah satu senjata terbaik muslim. Karena pada hakikatnya, kita tidak akan mampu melakukan apapun tanpa kehendak-Nya. 

Didalam berdoa atau meminta kita dianjurkan untuk melembutkan suara kita. 

“Berdoa lah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-A’raf : 55)”. 

Andai kata seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya dengan suara yang keras tentulah sang anak tidak akan mendapatkan apapun bahkan orang tuanya akan marah kepadanya. Begitulah mengapa kita dianjurkan melembutkan suara ketika berdoa. 

Mintalah segala sesuatu dari Fadhilah Ilahi. Fadhilah Ilahi di sini memiliki makna bahwa “Anugerah tambahan dari sisi Ilahi”. Mintalah kepada Allah dengan perasaan harap dan cemas. Berharap doa kita akan dikabulkan serta cemas lah jikalau doa kita menjauhkan kita dari Allah Swt. 

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusu’ kepada Kami (QS. Al-Anbiya’ : 90)”. 

Bangunlah disaat kebanyakan orang terlelap dari tidurnya, bangkitlah dan berdoalah kepada Allah. Bermunajatlah berulang-ulang dan tanpa bosan. Serta yakinlah bahwa doa-doa yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah diwaktu yang tepat. Jangan pernah berpikiran mengapa doa saya tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa jadi doa yang kita minta akan membawa keburukan kepada kita bahkan orang disekeliling kita atau memang waktu untuk terkabulnya doa tersebut belum tepat. Rencana Allah diatas rencana manusia.

Dan barangkali ibadah yang paling afdhol adalah Intidhar Faraj, yang berarti “Menunggu kelapangan dengan penuh harap”. Ialah terbesit harapan untuk selamat dari kemalangan seperti jatuh ke sumur seperti nabi Yusuf, selamat saat ditelan ikan, selamat ketika dikepung pasukan Fir’aun, atau selamat dari perampokan ketika melakukan ibadah haji. 

Kita harus menyungkurkan kepala kita keatas sejadah, berbisik kepada bumi agar terdengar oleh langit. Berdoalah demi turunnya hidayah untuk orang-orang yang sibuk dengan keburukan. Berdoalah untuk orang-orang yang berjuang dijalan Ilahi. Berdoalah sebagaimana kita menangis ketika mendoakan Ibu, Ayah, dan keluarga kita yang telah meninggal. Dengan atmosfer yang sama sambil menumpahkan air mata kita berdoa: 

“Ya Rabb, kami memohon halangilah orang-orang zalim, fasik, iri, dan dengki itu dari usaha mereka untuk menghancurkan dakwah yang kami bangun ini” 

“Ya Rabb, selamatkanlah teman-teman kami yang karena kebaikan yang mereka lakukan telah menjadikannya korban, dizalimi, serta dirampas hak-haknya” 

“Ya Allah dengan anugerah ekstra-Mu bebaskanlah, kembalikanlah keadaan mereka” 

“Ya Allah, Anugerahilah kami ke-kariban dengan-Mu serta jagalah diri kami dari kejinya menjilat”. 

Kita sebagai makhluk papa yang sangat membutuhkan pertolongan Allah. Didalam kelemahan tersebut sudah seharusnya kita memohon dengan berurai air mata. Bermunajat seraya meminta dengan penuh pengharapan, memohon agar diberi anugerah ekstra. 

Berdoalah diwaktu-waktu yang mustajab karena Allah akan mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya. 

“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni (HR. Muslim)”.

Ingatlah bahwa Allah tidak butuh doa-doa kita tapi sebaliknya kita sangat membutuhkan pertolongan Allah didalam semua kegiatan kita. Berdoalah, memintalah karena Allah sangat suka diminta.

oxa-roxa-bnFuB--1lE4-unsplash

Rendah hati dan Sederhana

Rendah hati berarti mempunyai sifat malu seperti halnya menjaga kesucian dan dalam kesederhanaan. Rendah hati dan sederhana berkaitan dengan membatasi diri agar tidak berlebihan dalam segala hal. Hal ini juga berkaitan dengan penempatan diri seseorang untuk melindungi hubungannya dengan Tuhan terlebih dahulu, kemudian dengan manusia.

Rendah hati juga merupakan salah satu kualitas utama yang dapat menjadikan manusia sebagai hamba terbaik. Selain itu rendah hati ialah perhiasan spiritual yang dimiliki seseorang, yang menjadi watak utama sebagai patokan Allah melihat kualitas hambanya. Dalam hal ini berarti, rendah hati juga berkaitan dengan menghindari segala perbuatan buruk, yang mana Allah tidak menyukainya, dan membuatnya menjadi hamba berkualitas buruk.

Dalam kitab Al Mutawwa, dikatakan bahwa setiap agama mempunyai satu kode etik, dan kode etik Islam ialah kerendahan hati dan kesederhanaan. Rasulullah mencontohkan sifat mulia ini kepada umat muslim melalui keseharian beliau. Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah melarang seorang lelaki yang menyuruh saudaranya untuk tidak rendah hati, dengan berfirman kepada lelaki tersebut, ‘biarkanlah dia, rendah hati merupakan sebagian dari iman.” Di hadist lain dikatakan, “Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang, dan cabang yang paling utama ialah pernyataan,’tidak ada yang patut disembah kecuali Allah,’ sedangkan cabang yang paling bawah ialah menyingkirkan kerikil dari jalan. Rendah hati ialah salah satu cabang atau bagian dari iman.”

Lalu, kepada siapa saja kita harus bersifat rendah hati dan sederhana?

  • Rendah hati dan sederhana kepada Allah

Bentuk paling sederhana dari sikap rendah hati dan sederhana kepada Allah ialah menaati segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

  • Rendah hati dan sederhana kepada manusia

Sikap ini dapat dilakukan dalam bentuk tidak menyakiti sesama dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama.

  • Rendah hati dan sederhana kepada diri sendiri

Sikap ini dapat dilakukan dengan menghindari dosa-dosa ketika sedang dalam keadaan sendiri.

Rasulullah mengajarkan bahwa ketakutan akan sifat sederhana dan rendah hati dapat mengarahkan seseorang pada kekafiran. Sunan ibnu Majjah mengatakan, “Kerendahan hatian dan kesederhanaan ialah struktur keimanan. Apabila struktur itu diruntuhkan, maka keimananpun akan rusak dan hancur. Karena moral keislaman ialah rendah hati dan sederhana.

Suatu hari, seorang yang bijaksana dengan pengetahuan teknologinya melihat seorang laki-laki tampan yang bermasalah dengan sifat sederhananya. Menyadari hal itu, seorang bijaksana itu memberitahu laki-laki tampan yang ditemuinya dengan perkataan yang lembut dan penuh pelajaran. Dia berkata, “Ini ialah rumah yang mewah dan bagus, saya harap rumah ini juga memiliki fondasi yang kuat.”

Fondasi yang kuat ialah sifat sederhana dan rendah hati. Tanpa keduanya segala sesuatu yang indah tak akan memiliki arti. Seperti halnya bangunan yang tak memiliki fondasi maka tidak akan pernah bisa berdiri.

Beberapa orang hanya menampakkan sifat rendah hatinya saat orang lain melihatnya. Faktanya, hal ini justru akan mengarahkan orang itu kedalam perbuatan dosa. Hal ini juga menentukan level kerendahan hati orang tersebut. Seorang yang hanya menghindari dosa hanya saat di depan publik tanpa melakukannya ketika dalam keadaan sendiri, sama saja levelnya dengan kehinaan.

Dalam hal ini, marilah bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah seseorang pernah benar-benar sendiri ketika tidak ada seorang pun di sekitarnya? Tentunya tidak. Ada malaikat yang terus mengawasi kita selama 24 jam. Seseorang yang mempunyai keyakinan itu akan terus menjaga sifat sederhana dan rendah hatinya dalam keadaan apapun.

WhatsApp Image 2021-03-02 at 21.56.49

Kerja Keras

Kerja keras adalah lawan dari sikap santai. Secara fitrah manusia membutuhkan makan, minum dan istirahat. Tetapi manusia seharusnya mempunyai kemampuan berpikir dan kemauan yang kuat untuk bisa memenuhi kebutuhannya itu secara seimbang. Oleh karena itu ketika rasa santai dan malas datang menghampiri seseorang, maka orang tersebut harus mulai berpikir dan mulai menggunakan keinginan mau melakukan sesuatu yang kuat untuk melawannya. Jika ia merasa apa yang sudah dilakukannya itu belum cukup maka ia harus menerima bahwa hasil yang akan diperoleh adalah sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Sebenarnya hasil yang diperoleh dari usaha kita tidak mesti harus sesuai dengan yang kita inginkan atau berhubungan dengan apa yang kita lakukan, terkadang hasil yang diperoleh adalah berupa rasa nyaman ataupun bertambahnya semangat dan motivasi kita. Sebagai contoh, jika kita sudah bekerja keras dalam belajar untuk ujian matematika, ternyata hasil yang didapatkan kurang memuaskan, maka sikap kita seharusnya bisa menerimanya dan berusaha lebih keras lagi pada ujian selanjutnya. Bukan berarti kerja keras kita itu tidak ada artinya, tetapi justru kita mendapatkan semangat baru dalam belajar dan belajar dari kesalahan yang mungkin kita lakukan pada ujian tersebut. Jika kita bekerja keras maka motivasi kita akan meningkat, memberi pengalaman buat kita, menguatkan semangat kita dan pada akhirnya akan membawa keberhasilan pada kita

Dalam setiap keberhasilan terdapat dua kebaikan. Pertama, perasaan bersyukur kepada Tuhan YME yang telah memasukkannya ke dalam lingkaran kebaikan dengan sikap tidak menyombongkan diri terhadap apa yang telah diraihnya. Kedua, diberikannya kesempatan bagi dirinya untuk terus berjuang melawan nafsu pada dirinya yang selalu mengatakan bahwa keberhasilan ini berasal dari dirinya sendiri. Kita seharusnya bersyukur terhadap pertolongan yang diberikan Tuhan YME sehingga kita bisa mencapai semua ini. Dengan ini Tuhan YME akan melipat gandakan kebaikannya kepada kita sehingga semakin banyak kebaikan yang akan diperoleh.

Rasa malas disebabkan karena perasaan ingin selalu bersantai dan menyebabkan terjadinya ketidakteraturan. Nafsu kita selalu menginginkan ini, sehingga pada kesempatan pertama kita harus melawannya setelah kita berhasil pada kesempatan pertama, maka akan sangat mudah bagi kita untuk mengalahkannya. Rasa malas juga bisa timbul karena banyaknya hal yang harus dilakukan. Yang harus dilakukan adalah memulai segala sesuatunya dengan perencanaan, tetapkan benang merah dan point penting dari segala halnya, kemudian mulailah membagi waktu dan pekerjaan yang harus dilakukan. Pada saat kita sudah mulai melakukannya walaupun 10% darinya maka akan timbul suatu kepuasan tersendiri, kita akan mulai berpikir positif, jika 10% nya sudah bisa terselesaikan maka sisanya akan bisa terselesaikan juga. Oleh karena itu, rasa malas harus dilawan, jangan mengalah diawal, harus berjuang dengan kemauan yang keras walaupun susah, ketika kita mampu melawan itu semua maka kita akan mendapatkan kenikmatan, kepuasan dan kenyamanan yang tidak bisa didapatkan dalam kemalasan.

Setiap orang yang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan YME harus selalu aktif bergerak setiap saat. Aktif bergerak sudah menjadi prinsip dalam hidupnya baik dalam bekerja dan istirahat sekali pun. Ia pintar membagi waktunya dan tak pernah menyia nyiakannya. Di luar kebutuhan fitrahnya untuk tidur, ia mempunyai prinsip “active break” yaitu beristirahat dengan cara mengganti kegiatan yang dilakukan, ia mempunyai metode yang dinamis dalam kehidupannya, “istirahat dalam bekerja, bekerja dalam istirahat”.

Sebagaimana atom dan galaksi yang selalu bergerak dan aktif melakukan tugasnya masing-masing, begitu juga semua entitas yang lain, maka tidak bisa terpikirkan jika manusia sebagai ciptaan terbaik Tuhan memiliki sifat malas. Karena kemalasan, kemonotonan akan berujung pada ketiadaan. Sesuatu yang nikmat, jika terlalu sering dirasakan akan hilang kenikmatannya. Oleh karena itu, orang yang malas dan tidak aktif bergerak adalah orang yang rugi dan selalu membawa masalah. Sebagai kesimpulan, orang yang bekerja keras akan mencapai kebahagiaan, mewarnai dirinya dengan rasa syukur bukan hanya dengan keluhan.

Penuntut ilmu memiliki tanggung jawab kepada masyarakat, yaitu untuk menuntut ilmu, Ia harus fokus menuntut ilmu, Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya, Ia harus mengatur waktunya dengan baik, Ia harus menghayati prinsip “ta’awun,” yaitu saling membantu antar sesama penuntut ilmu. Ia akan saling membutuhkan bantuan dari sesamanya, Para penuntut ilmu harus serius dalam menuntut ilmu, tidak boleh menyalahgunakan niat baik dari masyarakat. Karena masa depan sebuah bangsa bergantung pada kualitas generasi penuntut ilmunya.

Kalau tidak diperhatikan, maka bangsa itu akan runtuh. Ia harus belajar siang malam. Kalau perlu tidur hanya 4 jam, sisa 20 jamnya harus digunakan untuk menuntut ilmu sampai otaknya berdenyut, dengan istilahnya Necip Fazil, “isi otaknya harus sampai keluar lewat hidung”. Saking seriusnya, kalau perlu kerja di laboratorium sampai pingsan, atau tertidur di atas tumpukan buku. Pekerjaan yang normalnya selesai 10 hari harus dipersingkat jadi 2 hari saja. Waktu tidak boleh disia-siakan, Tuhan YME akan meminta pertanggungjawabannya. Waktu adalah aset paling berharga bagi manusia. Kalau memang mau mengerjakannya, selesaikanlah secepat mungkin… Apa saja yang perlu digunakan, gunakanlah dengan tepat, Ambillah banyak referensi, Binalah hubungan baik dengan gurumu. Dengan loyalitas yang sempurna, agar hak masyarakat juga bisa ditunaikan serta agar tidak mengecewakan dan tidak mengotori husnuzan masyarakat. Maka para penuntut ilmu harus belajar dengan serius sehingga masyarakat pun kagum dan berkata: “Usaha kalian menuntut ilmu demi kemajuan bangsa sungguh luar biasa!”




eva-blue-2yc0Jofvezo-unsplash

Bunuh Diri

Bunuh Diri

(Diterjemahkan dari Kırk Testi artikel berjudul ‘Intihar)

Tanya: Bagaimana perspektif Islam tentang bunuh diri yang kini telah menjadi bencana sosial di zaman kita? Apa alasan yang mendasari seseorang untuk melakukan bunuh diri?

Jawab: Meskipun tidak ada pernyataan eksplisit di dalam Al-Qur’an, dapat kita katakan bahwasanya larangan menghilangkan nyawa juga berlaku bagi seseorang yang ingin menghilangkan nyawanya sendiri secara sengaja. Bunuh diri adalah pembunuhan. Bunuh diri sama halnya dengan membunuh orang lain, yakni ia juga adalah pembunuhan. Allah Subhanahu wa ta’ala menganggap menghilangkan satu nyawa kehidupan sama dengan membunuh seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” (QS Al Maidah 5: 32)

Seperti yang diketahui, kehidupan manusia adalah salah satu dari lima hal mendasar dimana seseorang bertanggung jawab untuk melindunginya. Dapat dikatakan juga – sebagaimana Imam Syathibi menguraikannya secara sistematis di dalam kitabnya Muwafaqat – semua hukum Islam didasarkan pada usaha melindungi lima hal paling mendasar tadi, yaitu untuk melindungi nyawa seseorang, agama, harta, akal, dan keturunan. Perlindungan terhadap nyawa adalah yang paling utama di antara hal-hal paling mendasar tadi. Demikian pentingnya urusan melindungi nyawa ini sehingga seseorang yang diserang diperbolehkan untuk membalasnya sebagai usaha membela diri.

Pengkhianatan terhadap Amanah

Kehidupan manusia adalah amanah penting dari Allah. Yakni, sebagaimana halnya iman, agama, serta pelayanan terhadap agama merupakan amanah yang dipercayakan kepada manusia, nyawa kehidupan yang membuat semua amanah-amanah tersebut bisa dijaga pun termasuk amanah juga. Atas dasar ini, jika seseorang menghilangkan nyawanya sendiri dengan sengaja berarti ia mengkhianati amanah Ilahi dimana nyawa tersebut seharusnya digunakan untuk memenuhi tanggungjawabnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Manusia datang ke dunia ini bagaikan seorang prajurit. Ia dikirim ke dunia dengan memikul sebuah tugas. Apa yang perlu dilakukannya adalah menunaikan tugas ini sambil bersabar menunggu datangnya waktu dimana mereka dipanggil untuk kembali ke hadirat Ilahi. Persis seperti seorang prajurit. Jika prajurit itu meninggalkan resimennya tanpa mengantongi tandatangan izin dari komandannya, ia akan dianggap sebagai buronan. Maka orang yang meninggalkan tugas kehidupannya sebelum datang panggilan Ilahi pun dapat dianggap sebagai buronan yang layak dihukum. Saat itu semua amal baiknya akan sia-sia. Bahkan adalah berdosa jika seseorang berharap agar Allah Subhanahu wa ta’ala mencabut nyawanya dikarenakan dirinya sudah tidak sabar lagi menerima musibah-musibah yang menimpanya. Ini karena permintaan seperti itu berarti menyiratkan penentangan dan penolakan terhadap qada dan kadar dari Allah. Oleh karena itu, seseorang yang lidahnya tergelincir sehingga terucap kata-kata yang mengharapkan agar Allah mengambil nyawanya disebabkan tidak tahan dengan musibah yang dialaminya, ia harus segera menyungkurkan kepalanya untuk bersujud, memohon ampun dan bertaubat dengan penuh kesadaran bahwasanya ia baru saja melakukan dosa yang amat besar. Jika keinginan seperti itu saja mengharuskan pertobatan yang demikian, maka bunuh diri, dimana perbuatan tersebut seperti seorang prajurit yang meninggalkan kewajibannya sebelum dikatakan bahwa tugasnya sudah selesai, adalah perbuatan tidak menunjukkan rasa hormat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Wewenang untuk meneruskan atau menyelesaikan tugas seorang makhluk hanya ada padaNya. Yang mengirimkan makhluk ke dunia adalah Dia, maka yang berwewenang untuk mengirimkan makhluk ke akhirat pun Dia. Tidak ada satupun anak manusia yang diberi hak untuk mengintervensiNya.

Pada kenyataannya, seseorang bisa kehilangan nyawanya saat ia membela dan mempertahankan nyawa, agama, ataupun hartanya. Meskipun dari sini tampak ada intervensi manusia yang menyebabkannya kehilangan nyawa, namun ia sebenarnya pergi menuju ke dunia berikutnya dalam kerangka perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Rasulullah menyatakan dalam sabdanya yang mulia :

منْ قُتِل دُونَ مالِهِ فهُو شَهيدٌ، ومنْ قُتلَ دُونَ دِينِهِ فهُو شهيدٌ، وَمَنْ قُتِل دُونَ دمِهِ فَهو شهيدٌ، ومنْ قُتِل دُونَ أهْلِهِ فهُو شهيدٌ

“Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR Tirmizî, Diyât 22; Nasâî, Tahrimu’d-dam 23).

Oleh karena itu, mereka yang kehilangan nyawanya dengan sebab demikian berarti meninggal dunia atas ‘seizin’ dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Beberapa ahli fikih mengatakan bahwa orang-orang yang meninggal dunia karena bunuh diri dihukumi seperti orang yang murtad. Jenazahnya tidak boleh dishalatkan. Namun, ada juga pertimbangan bahwa ada kemungkinan seseorang menderita penyakit gila sementara. Mereka ini memiliki kemungkinan melakukan tindakan bunuh diri saat penyakit gilanya sedang kambuh. Mereka yang berada dalam kondisi demikian, sebenarnya tidak dalam kondisi sadar dengan apa yang dilakukannya dikarenakan telah kehilangan keseimbangan akal sehatnya. Oleh karena tidak ada seorangpun yang dapat memastikan apa latar belakang yang menyebabkan seseorang melakukan usaha bunuh diri, maka tidak ada celaan bagi kita untuk berhusnuzan terhadapnya, dan mengerjakan perintah agama yaitu untuk menyalati jenazahnya.

Terkadang, penderitaan yang amat besar akan membuat seseorang bunuh diri. Memang, insiden semacam itu juga terjadi pada masa Nabi SAW. Seseorang bernama Quzman terluka dalam Perang Uhud. Untuk mengakhiri penderitaannya, ia bunuh diri dengan menyadarkan tubuhnya di ujung runcing pedangnya. Melihat ini, Rasulullah menyatakan bahwa orang itu adalah penghuni neraka. Bayangkanlah, ia berjuang hebat di dekat Nabi tercinta untuk membela Madinah dan menderita luka berat yang dapat membuatnya syahid. Akan tetapi manusia malang ini menjadi pecundang di saat akan menang karena tidak sabar dengan penderitaannya. Tanpa menunggu keputusan Ilahi, ia membuat keputusannya sendiri dan dengan demikian iapun layak untuk menjadi penghuni neraka. Musibah apapun yang menimpa seorang mukmin, bagaimanapun, tetap harus dilalui dengan penuh kesabaran. Seseorang seharusnya tetap bersabar menghadapi segala rintangan, sampai kehendak Ilahi memanggil mereka. Dengan kata lain, jika kita harus mati, kita akan mati karena kehendak Ilahi. Ayat suci yang tertuang di dalam Al Quran pun mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Al Imran 3: 102).

Ayat ini juga menyiratkan bahwa seseorang tidak boleh mengakhiri kehidupan mereka sendiri. Karena perbuatan bunuh diri merupakan hasil dari ketidakmampuan manusia untuk berserah diri kepadaNya. Padahal Allah telah berfirman agar tidak manusia tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepadaNya. Selain itu, bunuh diri berarti menyia-nyiakan seluruh masa lalunya. Bunuh diri berarti mengakhiri hidup dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.

Serangan Bunuh Diri: Sebuah Pembunuhan Massal

Hari ini ada kemasan lain dari perbuatan bunuh diri yang disebut ‘serangan bunuh diri.’ Serangan bunuh diri pertama kali muncul di Barat dan kemudian, sayangnya, muncul juga di beberapa negara Muslim. Mereka yang melakukan serangan bunuh diri ini menjustifikasi tindakannya tersebut dengan menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah bunuh diri yang bermanfaat. Dengan kata lain, serangan ini mereka jalankan demi membela ideologi mereka. Dengannya mereka menyematkan makna positif dan nilai mulia, jika dengan usaha ‘serangan bunuh diri’ ini mereka dapat melindungi agama. Namun, saat kita melihat ke dalam hakikat dari permasalahan ini, kita dapat melihat bahwa bom bunuh diri tersebut tidak ada bedanya dengan usaha bunuh diri yang telah dijelaskan sebelumnya.

Serangan bunuh diri bahkan bisa dianggap sebagai salah satu bentuk pembunuhan, karena perbuatannya sama seperti yang dilakukan para pembunuh keji lainnya yang tidak memahami makna kemanusiaan serta tidak memahami spirit Islam yang sebenarnya. Mereka akan dikirim ke neraka dengan kepala masuk ke dalamnya terlebih dahulu. Saat membunuh dirinya sendiri, mereka juga membunuh banyak orang tidak bersalah lainnya. Di hari perhitungan, mereka akan menghadapi pertanggungjawaban yang amat berat. Pertama dikarenakan mereka membunuh diri mereka sendiri. Kedua, karena mereka membunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap korban mereka, baik anak-anak, wanita, pria, Muslim, maupun non-Muslim satu per satu.

Dalam Islam, peraturan dan hukum secara eksplisit mendefinisikan tindakan apa saja yang boleh dilakukan, baik selama masa damai maupun masa perang. Tidak ada yang bisa menyatakan perang atau memutuskan untuk membunuh orang lain hanya dengan keputusannya sendiri, dan tak ada seorang pun memiliki hak untuk membunuh anak-anak, perempuan, atau orang tua dari pihak lawan selama masa perang. Oleh karena itu, dipandang dari manapun serangan bunuh diri atau tindakan terorisme serupa tidak pernah sesuai dengan Islam. Dalam haditsnya yang mulia Junjungan Kita Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

لَا يَزْنِي العَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهو مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ وَهو مُؤْمِنٌ، وَلَا يَقْتُلُ وَهو مُؤْمِنٌ

“Seorang hamba tidak akan berzina sebagai orang beriman, tidak akan minum alkohol sebagai orang beriman, tidak akan mencuri sebagai orang beriman, dan tidak akan melakukan pembunuhan sebagai orang beriman” (HR Nasai, Qasama 48,49).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang pembunuh ketika melakukan pembunuhan bukanlah seorang mukmin. Dengan kata lain, seseorang yang melakukan dosadosa ini tidak bisa disebut seorang Muslim. Mereka tidak disebut dengan istilah muslim ketika mereka sedang melakukan apa yang mereka maksud dan niatkan tersebut. Ketika Anda mempelajari karakter mereka pada saat itu, apa yang muncul di depan anda bukanlah potret seorang Muslim; memang, karakter tersebut tidak akan sesuai dengan kerangka Islam. Untuk alasan ini, mari kita tekankan sekali lagi bahwa seseorang yang bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri dan membunuh orang yang tidak bersalah, tidak peduli dari negara atau kelompok agama mana mereka berasal, pembunuhan yang mereka melakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan syarat untuk menjadi seorang Muslim. Seseorang yang membunuh begitu banyak orang, tidak akan selamat di akhirat. Tentu saja, selalu ada kemungkinan bagi orang yang melakukan dosa-dosa besar untuk bertobat dan meminta pengampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Tuhan Yang Mahakuasa dapat mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui bagaimana mereka akan diperlakukan di akhirat.

Di sisi lain, adalah realita bahwa pembunuhan massal tersebut mencoreng wajah indah agama Islam. Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang muncul sebagai seorang muslim dimana perbuatan tersebut diteriakkan demi membela agamanya, akan dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam di mata mereka yang tidak mengenal ajaran Islam yang asli. Oleh karena itu, mengubah citra keliru ini akan jadi lebih sulit dilakukan oleh kaum mukminin. Membersihkan pikiran orang dari citra negatif ini akan membutuhkan usaha yang intensif selama bertahun-tahun. Untuk alasan ini, tidak peduli siapa yang melakukan serangan-serangan bunuh diri, mereka bisa disebut sebagai dua kali lebih buruk, atau lebih tepatnya pembunuhan terburuk. Beberapa orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang ajaran asli Islam pernah bertanya padaku, “Apakah cinta akan surga yang memotivasi umat Islam untuk menjadi pelaku bom bunuh diri?” Aku pun menjawab pertanyaan mereka dengan berkata, “Jika orang-orang itu melakukannya disebabkan motif tersebut, maka mereka sedang mengada-ada. Para pelaku serangan bunuh diri tidak akan pergi ke surga, melainkan pergi neraka dengan kepala masuk terlebih dulu.”

Kesimpulannya, pembunuhan keji yang dibungkus dalam serangan bunuh diri membawa dimensi yang lebih berbahaya terlebih ketika dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama. Mari kita nyatakan sekali lagi bahwa tidak peduli apa pun motif yang melatarbelakanginya, atau metode apa yang digunakannya sehingga kebrutalan ini dilakukan, perbuatan itu adalah tindakan terkutuk yang tidak disukai dan diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dipandang dari sudut manapun, ia juga merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.