reborn

Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat

“Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat”

Akhir dari berbagai deformasi dan laku korupsi di atas muka bumi bergantung pada bagaimana kita bisa menemukan identitas diri yang sejati. Tanpa mengubah diri sendiri, tak ada manfaatnya kita menunggu orang lain untuk berubah. Dapat saya katakan dengan pertimbangan penuh harapan bahwasanya kita sudah memulai langkah tersebut. Akan tetapi, kita belum membuat perkembangan yang berarti. Usaha kita masih belum selesai.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: ”Aku belajar di sekolah cinta bersama Majnun. Aku telah mengkhatamkan seluruh isi Al Quran tetapi ia hanya bisa sampai di Surat al Lail”

Dengan kata lain:”aku telah meraih tujuanku tetapi si Majnun mandek dan tak henti berucap: “Kekasihku Laila, Kekasihku Laila, Kekasihku Laila”.

Rekonstruksi dunia secara menyeluruh menjadi koridor surga adalah sumber harapan bagi banyak manusia.  Di satu sisi, adalah sangat penting untuk memiliki cita-cita dan tujuan yang patut ditiru tersebut. Saya yakin, tidak ada pihak lain yang memiliki cita-cita seagung itu. Saya tidak bisa memaksudkannya ke level kepemilikan dan berkata: “Anda memiliki cita-cita ini, gerakan itu memiliki cita-cita ini, komunitas ini memiliki cita-cita ini..” Karena itu hanya akan menjadi pernyataan tanpa dasar. Tetapi jika saya tidak mengatakannya, maka hal itu seperti mengingkari anugerah suci dari Allah SWT.

Segala macam perkembangan asalnya dari Fadilat, Karim, Tawajuh, dan Kehendak Agung Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah dicapai adalah referensi tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang. Kita harus meyakininya dan selalu berjuang untuk memperbaharui diri.

Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya!” (QS An Nisa 4:136)

Ayat ini berbunyi: ”Wahai orang-orang yang beriman!” Ayat ini tidak berbunyi: ”Wahai orang-orang yang tidak beriman, munafik, pendosa, lagi fasik!” Dan secara gramatikal ayat ini berkata: ”wahai orang-orang yang senantiasa berada dalam keimanannya.” Di satu sisi, ayat ini merujuk kepada mereka yang senantiasa memperbaharui keimanan agar selalu ada dalam kesadarannya secara kontinu, yang senantiasa berlari untuk membuktikan keimanannya. Mereka melubangi hati mereka dengan makrifatullah. Mereka bergerak dengan khusyuk dan penuh rasa takut kepada Rabbnya. Dengan menggunakan akal pikiranmu di jalan ini dan mengarahkannya ke pemikiran positif, datang dan berimanlah sekali lagi.

Para sahabat memahami dengan baik ayat ini dan sering kali menyeru orang-orang yang mereka temui di pinggir jalan: “Datanglah! Mari bersama-sama memperbaharui keimanan kita kepada Allah!” Para sahabat beriman dengan level yang jauh di atas level iman kita. Mereka beriman seakan-akan telah menyaksikan Allah SWT. Mereka menunjukkan laku yang mengisyaratkan ketinggian level ihsan mereka.  Rasulullah telah menjadi contoh bagi mereka. Mereka membentuk dirinya dengan mencontoh akhlak Baginda Nabi.

Mereka mencontohnya di segala aspek. Apa yang dia lakukan, bagaimana beliau bersemangat menyebarkan pesan Tuhan, menumpahkan air mata, bagaimana menyungkurkan kepalanya di atas tanah untuk bersujud bermenit-menit, mereka berusaha mengopi Rasul SAW, mereka ada di jalannya. Berusaha menjadi seperti dirinya, berusaha untuk layak menjadi sosok disisinya, berusaha menjaga kualitas dirinya, atas izin dan inayah Allah.

Usaha ini terus berlanjut hingga waktu tertentu. Beliau SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang hidup di masaku (para sahabat). Lalu yang mengikuti mereka (Tabiin), lalu yang mengikuti mereka yang mengikut sahabatku (tabiut tabiin)[1].”

Masa terbaik adalah masa dimana banyak terdapat manfaat buat umat manusia, masa yang paling dirindukan adalah masaku. Lalu masanya para tabiin, dimana mereka masih mengikuti jalan kenabian yang terang benderang. Dia adalah Qamari Munir (Bulan Yang Cemerlang). Ustaz menggunakan istilah ini untuk mengagungkannya. Sahabatnya adalah lingkaran cahaya yang mengitarinya.

Lewat sabdanya ini Baginda Nabi mendorong umat manusia untuk mengikuti jalan para sahabatnya. Baginda Nabi bersabda:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Sahabatku bagaikan bintang gemintang. Siapa pun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing ke jalan kebenaran.[2]

Mereka seperti bintang gemintang yang mengitari matahari ataupun tata surya. Khususnya para khulafaur rasyidin.

Oleh karenanya, para sahabat adalah representasi murni dari Islam yang menampilkan sinar iman di jalan hidup yang mereka tempuh. Mereka yang mengikuti para sahabat secara otomatis berarti mengikuti jalannya Sang Nabi, dan membentuk dirinya sesuai dengan yang diarahkan sang Nabi. Mereka senantiasa mengecek apakah ada laku mereka yang bertentangan dengan arahan Nabi dan menyetel ulang kehidupannya secara kontinu.

Mereka berkata: Inilah yang dikerjakan oleh para sahabat, dan mereka pun menjunjung tingginya. Mereka membentuk detak dunia kalbunya sesuai dengan ritme yang dihentakkan oleh para sahabat.  Ketika Anda menjauhi jalan para sahabat, perlahan Anda pun dijauhkan dari cahaya sucinya. Mungkin cahayanya tidak benar-benar padam. Tetapi ia tidak mengeluarkan radiasi sekuat sebelumnya.

Di masa tabiut tabiin dan di masa-masa setelahnya, menyebar berbagai macam pemikiran dan ideologi aneh yang sanggup membuat perut kita mual: Neo Platonism, Pemikirannya Sokrates, Aristoteles, dan Filsafat Yunani membangun jalannya menuju pemikiran suci dunia intelektual kita. Mereka mulai menimbulkan kesakitan di dunia intelektual kita.

[1] HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.

[2] `Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.

alvaro-reyes-507651-unsplash

HARMONISASI PEMIKIRAN DAN AKSI

Harmonisasi Pemikiran dan Aksi

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Düşünce-Aksiyon İçİçeliği’, Dari buku Kırık Testi 11: Yaşatma Ideali)

Tanya: Rencana kegiatan yang baik disebut sebagai salah satu disiplin yang mempengaruhi kesuksesan sebuah program. Di sisi lain, dikatakan bahwasanya sebuah aksi berawal dari keberadaan pemikiran.  Bagaimana kita harus memahami dan mempraktikkan kedua hal tersebut?

Jawab: Setiap individu yang berkeinginan untuk memberikan manfaat duniawi dan ukhrawi pada umat manusia, agar manfaat yang diberikan bisa berumur panjang, maka semua kegiatan dan pekerjaan yang akan diimplementasikan harus didasarkan pada rencana program yang baik dan  memiliki tolok ukur yang jelas. Bagi orang beriman sudah jelas, tolak ukur mereka adalah adilla-i arbaah[1], yaitu Al Quran, sunnah, ijma umat, serta qiyas fukaha. Selain itu, juga terdapat adilla-i ta’liyah atau adilla-i zamaniyah yang terdiri dari maslahat, istihsan, dan urf. Keputusan yang didasarkan padanya disebut ijtihad dan istinbat[2]. Akan tetapi, perlu diketahui bahwasanya ijtihad dan istinbat hanya dapat dihasilkan dari evaluasi secara mendalam atas poin-poin kriteria yang terdapat dalam sumber-sumber rujukan. Para mujtahid kiram yang mulia tidaklah menetapkan hukum dari kepala mereka sendiri, tidak“min indi anfusihim”[3]. Istilahnya dalam kaidah ushul fikih[4], para mujtahid dengan bersandar kepada maqisun alaih[5]lalu melakukan qiyas atau ijtihad atasnya. Harus kita katakan bahwa  sosok-sosok agung tersebut telah menyelesaikan pekerjaan besar yang amat sulit dengan penuh ketelitian dan kepekaan.

Rencana Ringkas

Kita kembali pada topik awal. Ya, di awal kita harus membuat rencana yang mengikuti tolak ukur tertentu. Akan tetapi, al fakir[6] selalu melihat rencana tersebut sebagai sebuah rencana ringkas. Sebagaimana manusia ketika pertama kali beriman, awalnya ia masuk ke wilayah iman dengan pengetahuan yang ringkas. Maksudnya, di awal dengan pengetahuan yang ringkas: “Allah itu hak keberadaannya. Dialah Sang Khaliq A’zham[7] dan Khaliq Aalam[8]” lalu seseorang menerima iman. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kematangan, serta pengetahuan, seseorang akan mampu menjelaskan iman dengan berbagai argumentasinya; dengannya ia akan menemukan kedalaman dalam beriman.

            Baik, lalu apa sebenarnya rencana ringkas yang Anda maksud? Dalam diri seorang mukmin, terdapat nilai-nilai dasar yang diyakini dan dipahaminya. Seorang mukmin berkeinginan agar nilai-nilai dan keindahan-keindahan iman yang diyakininya diketahui orang lain. Ia seakan senantiasa bersyair: ‘Seandainya masyarakat dunia mencintai apa yang kucintai / Seandainya semua kata dan kalimat hanya membahas kekasihku..!’(Taslicali Yahya). Syair tersebut menunjukkan ringkasan pemikiran dan keinginan seorang mukmin untuk mengenalkan nilai dan keindahan dari apa yang diimaninya kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kalbu yang berada di muka bumi. Akan tetapi, setiap wilayah geografi memiliki kriteria, lingkungan budaya, serta adat istiadat yang unik. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut lalu bagaimana caranya agar kita berhasil merangkul masyarakatnya akan bergantung pada pemikiran yang detail serta rencana dan program yang mendetail. Inilah yang kami maksud dengan ‘pemikiran yang mendahului aksi’. Maksudnya, informasi ringkas yang dimiliki harus dikonversi menjadi pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan dan diprogramkan, yaitu menjadi gerakan dan aksi nyata. Walhasil, melakukan bimbingan dan pendampingan atas rencana dan pemikiran yang detail ada di posisi awal sebelum akhirnya gerakan dan aksi nyata dilakukan.

Mereka adalah Para Pewaris Rasullallah

Mari kita buka pembahasan ini lebih detail lagi. Katakanlah Anda pada hari ini meyakini sepenuh hati sistem nilai dari langit yang dihadiahkan kepada umat manusia ini. Anda benar-benar merasakannya meresap secara mendalam. Sebagai hasil dari iman yang meresap semakin dalam pada diri Anda, bagaikan orang yang cinta buta, Anda berkeinginan untuk memperdengarkannya kepada seluruh dunia. Dalam melakukannya, propaganda, misioner, memaksakan agama Anda untuk diyakini orang lain, dan tidak memiliki bagian dalam tujuan Anda. Namun, saat Anda tidak mampu mewakili agama yang Anda yakini dalam setiap sikap dan tingkah laku Anda, maka Anda tidak akan mampu menuai hasil kecuali menipu diri. Oleh karena itu, dikatakan: “Tinggalkan semua penjelasan-penjelasan Anda. Cukup penjelasan tersebut diwakili oleh tingkah laku Anda. Biarkan kesempurnaan serta kematangan yang terpancar dari sikap dan tingkah laku Anda mempengaruhi nurani lawan bicara Anda. Jadikan mereka yang melihat dan memperhatikan Anda, lewat perilaku, gerak-gerik, cara pandang serta cara berbicara Anda, kemudian mengingat Allah, dan selalu menyebut namaNya”; sehingga penilaian seperti:”Apa yang disampaikan orang ini bukan omong kosong. Setiap langkah mereka tidak ada yang sia-sia”  akan terfermentasi  di setiap hati orang-orang yang menyaksikan Anda. Mereka yang berdiri di atas kaidah-kaidah kokoh dan diamanahkan kepada sandaran yang tangguh, walaupun terjadi gempa sebesar 10 skala Richter sekalipun, mereka tidak akan ambruk karenanya. Teknik kata-kata sesempurna dan sepenuh sastra sekalipun tanpa didalami oleh representasi dari kata-kata yang disampaikannya akan luluh lantak diguncang gempa walau hanya berkekuatan 3 skala Richter. Oleh karena itu, dapat dikatakan jika kata tidaklah terlalu penting. Kata, selama menjadi ungkapan dari sifat dan tingkah laku pengucapnya, maka ia memiliki nilai yang mulia. Ketika ia telah menjadi tabiat dari seseorang, atau saat seseorang telah mampu menjadi representasi dari kedalaman tabiat dan budi pekerti yang luhur, maka ia akan membangkitkan rasa penasaran lawan bicaranya, ia pun akan mampu mempengaruhi orang di sekitarnya. Misalnya, Anda tidak membiarkan hal haram walau sebesar biji wijen terusap di atas tangan Anda. Meskipun Anda berada dalam keadaan amat terdesak sekalipun, Anda tetap berpegang teguh pada prinsip Anda. Anda lakukan sekali, dua kali, tiga kali, hingga akhirnya keadaan Anda tersebut mendapat perhatian dari orang lain. Bukankah ketika Bediuzzaman Said Nursi sedang menyebrangi selat Golder Horn di Istanbul bersama Sayyid Taha dan Haji Ilyas, beliau senantiasa menundukkan dan menahan pandangannya. Ketika Sayyid Taha dan Haji Ilyas menyampaikan ketakjubannya, Bediuzzaman menanggapinya dengan jawaban:”Aku tidak menginginkan penderitaan dan penyesalan akibat kelezatan sementara yang tidak terlalu penting namun diliputi dosa”[9].

            Menampilkan budi pekerti yang demikian sepanjang umur kehidupan amatlah penting. Ya, setelah 40 tahun mereka mengamati gerak-gerik Anda, mereka akan memberikan kesaksian:’Luar biasa! Orang-orang ini benar-benar layak menjadi pewaris Nabi! Mereka memiliki sifat-sifat Baginda Nabi seperti ismah[10], sidik, amanah, tablig, dan fatanah. Oleh karena tidak ada Nabi setelah Baginda Nabi Muhammad SAW, maka mereka pastilah pewarisnya!’

Apalagi di masa di mana wajah cemerlang Islam berusaha diburamkan, maka Anda harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk mampu menjadi representasi sejati dari nilai-nilai agama yang Anda sandang demi memperbaiki kesalahpahaman orang awam terhadap agama kita. Misalnya, Anda harus menjelaskan bahwasanya perbuatan seperti bom bunuh diri, mengumumkan perang sembari menyembelih kepala sandera, melontarkan satu dua roket ke sasaran yang terdiri dari orang-orang tak bersalah padahal ia idak memiliki kekuatan yang mumpuni,  tidaklah sesuai dengan identitas seorang muslim. Islam tidak meninggalkan tempat kosong dalam setiap bidang kehidupan. Islam telah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana berjuang melawan kezaliman dan ketidakadilan lewat jalan yang legal dan benar. Misalnya, dalam Perjuangan Kemerdekaan Turki (Istiklal Mucadele), pemerintah membentuk suatu komisi dan mereka memutuskan untuk mengumumkan perang. Setiap individu pun sebagai anggota masyarakat mentaati dan memenuhi panggilan untuk berjuang ini. Semua warga negara dari segala penjuru bangkit memenuhi panggilan ini. Mereka pun berjuang dengan legal.

            Demikianlah. Anda harus memiliki rencana menyeluruh untuk menunjukkan kepada dunia betapa cemerlangnya wajah Islam yang dikotori oleh pihak-pihak tertentu ini. Ketika kita mengatakan menyeluruh, maka yang dimaksud darinya adalah lewat usaha kita dalam merepresentasikan Islam dengan sebaik-baiknya, kita berkewajiban untuk membuat masyarakat nantinya berkata:’Ternyata muslim-muslim yang hakiki masih tersisa!’. Tentu jika kita mengharapkan pujian ini ditujukan kepada kita, maka itu adalah perbuatan riya. Namun jika pujian itu memiliki tujuan yang ditujukan kepada kemuslimannya, maka ia adalah kewajiban. Ya, menampilkan identitas kemusliman asli  dan hakiki ke seluruh penjuru dunia merupakan hutang budi kita kepada Manusia Kebanggaan Alam shallallahu alayhi wasallam serta para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu anhuma. Wajah Islam yang berkabut, tertutup asap hitam, dan berkarat harus dihapus. Singkatnya, kita harus menampilkan kemuslimanan sejati  yang cemerlang dan gemilang. Itulah hakikat dari kewajiban yang digantungkan di leher kita sebagai seorang muslim.

            Misalnya lewat aktivitas membuka sekolah dan pusat kebudayaan di berbagai tempat di seluruh dunia, sambil membangun jembatan dan sarana untuk mendidik siswa-siswa, serta mengirimkan siswa-siswa untuk mengunjungi keluarga para wali murid secara silang; atau misalnya lagi dengan memanfaatkan momen spesial seperti membuat bubur asyura, borek, kunefe di hari asyura dan membagikannya ke tetangga-tetangga kita, dengan menjelaskan bahwa ini semua adalah bagian dari budaya orang Turki kita berusaha menutup lubang antara kita dengan lawan bicara kita yang muncul  akibat terjadinya salah pengertian. Lewat aktivitas tersebut kita akan mampu mendekatkan jarak serta membangun jembatan antara kita dengan lawan bicara yang mungkin berasal dari budaya dan agama yang berbeda.  Dengan jalan tersebut, yaitu dengan membangun jembatan yang menyambungkan daratan yang dipisahkan oleh sungai-sungai; dengan membangun terowongan yang menembus gunung-gunung; sekali lagi kita bersiaga untuk merengkuh kalbu umat manusia serta memperkenalkan mereka kepada Penciptanya, Allah Subhanahu wa ta’ala, lewat jalan yang lebih fitri sembari menyingkirkan hal-hal yang menghalangi kalbu untuk mengenalNya.

Gagasan Alternatif serta Berbagai Proyek Kemanusiaan

Ya, orang-orang di daerah dimana Anda pergi ke sana, disadari atau tidak, akan mengamati setiap gerak-gerik serta detak jantung Anda. Misalnya, beberapa orang yang berniat buruk datang ke negara-negara tempat Anda mengabdi untuk kemudian menemui masyarakat di negara itu dan mulai menjelek-jelekkan Anda. Saat itu, masyarakat negara tersebut akan menjawab:’Kami mengamati orang-orang ini selama sepuluh tahun. Kami tidak menemukan sedikitpun dari apa yang kalian sampaikan terdapat pada diri mereka. Kami tidak menemukan aritmea[11] pada diri mereka. Detak jantung meraka selalu sama.’ Sebagaimana disaksikan bersama lewat respon tersebut, mereka seakan sedang melindungi Anda. Seandainya di beberapa tempat terdapat kebuntuan, sebabnya adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan jati diri kita, atau ketidaksempurnaan kita dalam menggambarkan jati diri kita. Di sini kita perlu memperhatikan satu hal: Setiap saat kita harus memiliki rencana dan program alternatif yang dapat membalik hasil negatif yang tadinya tidak kita perkirakan menjadi hasil yang positif.

             Ya, mengevaluasi kembali kondisi terkini pada saat faktor-faktor penentu berubah untuk kemudian membuat rencana dan proyek alternatif berdasarkan faktor-faktor penentu terkini itu kita sebut sebagai perencanaan menyeluruh. Di waktu yang sama, ia juga dapat disebut sebagai pemikiran yang berdasarkan pada aksi. Ya, di satu sisi rencana menyeluruh, di sisi lain Anda harus memiliki informasi utama yang mana gerakan dan kegiatan Anda dibangun atasnya. Di sisi lain,  Anda juga harus meninggalkan ujung yang terbuka pada perubahan zaman. Anda juga harus memiliki rencana dan proyek alternatif yang nantinya dipraktikkan sesuai perubahan kondisi dan faktor terkini. Dengan mempertimbangkan ragam kebudayaan, bahasa, agama, pemahaman, serta respon masyarakat atas setiap peristiwa, setelah Anda mengenal masyarakatnya, sembari beraksi Anda harus dapat mengatakan:”di sini program A bisa dibuat, di sana lebih cocok untuk membuat program B.” Anda harus dapat merancang berbagai program alternatif sesuai kondisi negara atau wilayah Anda dimana Anda mengabdi, dan atas izin serta inayah dari Allah, Anda harus mampu mengembangkan sistem berpikir baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat di sana.

            Kesimpulannya, orang yang biasanya berpikir sederhana dan dangkal akan berpikir sangat luas dan dalam. Meminjam istilah Ziya Gokalp ketika mengekspresikan kebodohan, mereka yang di awal berpikir dangkal dan sederhana, saat menuju akhir, mereka mulai berpikir lebih menyeluruh – Anda bisa menambahkan dengan istilah lain juga – dan akhirnya setelah ini mereka akan berpikir lebih matang lagi. Maksudnya, saat berpikir dan menganalisis suatu masalah, kalian akan memiliki keluasan ufuk dengan mempertimbangkan berbagai alternatif sembari berkata:”seperti ini juga bisa, dibuat seperti itu juga bagus, tapi seperti yang lain pun juga bisa.” Semua ini adalah faktor-faktor yang perlu ditelaah terkait pembahasan rencana dan proyek menyeluruh.

[1] Adilla-i arba’ah adalah dalil-dalil yang djadikan rujukan dalam ilmu fikih. (Penerj.)

[2] Istinbat adalah pengungkapanmakna tersembunyi dari sebuah permasalahan yang dilakukan oleh mujtahid atau alim besar melalui tatqiq sumber-sumber yang ada secara mendalam. (Penerj.)

[3] Dari pendapatmereka sendiri. (Penerj.)

[4] Metodologi fikih. (Penerj.)

[5] Sesuatu yang asli, yang atasnya dilakukan qiyas. (Penerj.)

[6] Maksudnya al fakir di sini adalah penulis, yaitu M. Fethullah Gulen. (Penerj.)

[7] Pencipta Yang Maha Besar. (Penerj.)

[8] Pencipta Alam Semesta. (Penerj.)

[9] Biografi Bediuzzaman Said Nursi, Bab Kehidupan Emirdag

[10] Terjaga dari dosa

[11]Cardiac arrhythmia, istilah yang digunakan untuk merujuk pada perubahan sekuens normal dari detak jantung manusia, dapat dipahami juga sebagai ritme detak jantung yang tidak normal. Dalam tulisan ini mungkin ditujukan pada detak jantung tidak normal orang-orang yang berbohong atau berpura-pura yang bisa tertangkap oleh lie detector.

Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

fahrul-azmi-625307-unsplash

KESALEHAN DAN KEPEKAAN DALAM BERAGAMA

Kesalehan dan Kepekaan dalam Beragama
(Artikel asli berjudul “Dindarlik ve Dini Hassasiyet”dari buku Kırık Testi 12: Yenilenme Cehdi)

Pertanyaan: Apa makna yang terkandung dalam  istilah kesalehan dan kepekaan dalam beragama?

Jawab: Kesalehan secara teoritis bermakna mengayomi prinsip-prinsip agama dengan menerima dan menjunjungnya tinggi-tinggi. Sedangkan secara praktik, kesalehan memiliki beragam derajat dan tingkatan, mulai dari belajar untuk hidup religius hingga menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, beberapa orang meyakini aspek-aspek penting beragama dalam tingkat informasi pada level bunga rampai tanya jawab seputar agama dan ia pun mempraktikkan ketaatan dan peribadatannya sesuai pengetahuannya tersebut. Beberapa yang lain menggunakan pendekatan yang lebih luas, baik secara teoritis maupun secara praktik. Dengan pendekatannya tersebut, mereka mengikuti semua yang diperintahkan serta menjauhi semua yang dilarang oleh agama. Selain menjauhi apa saja yang diharamkan dan menunaikan segala hal yang diwajibkan, mereka juga bersikap peka terhadap segala hal yang meragukan karena khawatir akan terjatuh ke jalan yang haram.

Dengan demikian, mereka senantiasa berusaha untuk menjalankan kehidupannya dengan penuh ketakwaan. Sedangkan mereka yang hidup dengan kesadaran lebih tinggi dalam beragama akan menunaikan ketaatan dan peribadatannya seakan-akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang menginspeksinya. Mereka hidup dalam ihsan[1]. Dari segi ini, terdapat banyak derajat dan tingkatan kesalehan, mulai dari level serendah tanah hingga level setinggi bintang gemintang. Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwasanya derajat kesalehan terendah sekalipun tidak dapat diremehkan karena bagi manusia ia memiliki nilai yang sangat vital.

Kepekaan dalam beragama dimulai dari menjalankan kehidupan pribadi yang kemudian dilanjutkan dengan keluarga inti, hingga lingkaran keluarga terluarnya agar dapat hidup kongruen atau sesuai dengan prinsip-prinsip agama,  serta menunjukkan kepekaan luar biasa pada kehidupan beragama orang-orang yang membentuk suatu masyarakat di sekitarnya; menjadi sensitif dan perasa; serta menunjukkan kehalusan, ketelitian, dan kecermatan dalam beragama.

Kepekaan dalam beragama oleh seorang kekasih Allah dijelaskan lewat sebuah syair:

            “Seandainya penduduk dunia mencintai Kekasihku!

                Seandainya kata-kata kita selalu menceritakan Sang Terkasih…!”

            (Taşlıcalı Yahya)

            Lewat syairnya tersebut ia menyuarakan keinginan agar seluruh dunia turut mencintai Tuhan yang dicintainyasepanjang umur kehidupan.

 

“Seandainya Aku Bisa Menyalakan ApiKecintaan Kepada Allah Di Setiap Kalbu”

Perasaan dan pikiran kaum mukmin yang memiliki kepekaan beragama terhadap orang lain di sekitarnya kira-kira adalah seperti ini: “Andai aku bisa mengenalkan Allah kepada saudaraku ini!Andai aku bisa menyalakan api cinta kepada Allah di dalam hatinya! Andai aku bisa membangkitkan keinginan untuk senantiasa bersama Allah (ma’iyyatullah) kepadanya!  Andai saat menengadahkan kedua tangannya mereka dapat dekat dengan Allah untuk kemudian bermunajat kepadaNya:”

اَللّٰهُمَّ عَفْوَكَ وَعَافِيَتَكَ وَرِضَاكَ وَتَوَجُّهَكَ وَنَفَحَاتِكَ وَأُنْسَكَ وَقُرْبَكَ وَمَحَبَّـتَـكَ وَمَعِيَّـتَكَ وَحِفْظَكَ وَحِرْزَكَ وَكِلَائَـتَكَ وَنُصْرَتَكَ وَوِقَايَتَكَ وَحِمَايَتَكَ وَعِنَايَتَكَ

Yang artinya: “Ya Allah! Aku memohon ampunanMu yang agung, sehat dan afiat dariMu, keridaanMu, tawajuhMu, wewangianMu, kekaribanMu, kedekatanMu, mahabahMu, kebersamaanMu, perlindunganMu, penjagaanMu, kemenangan berkat pertolonganMu, pemeliharaan serta inayatMu!”

            Seorang mukmin yang memiliki kepekaan seperti ini, sesuai dengan derajat keimanannya barangkali tidak hanya peduli terhadap orang-orang di sekitarnya saja. Mereka juga akan memikirkan bagaimana caranya agar semua lapisan masyarakat dalam satu negara, bahkan mungkin seluruh umat manusia di dunia, mampu memiliki kepekaan beragama yang sama. Tujuan dan cita-cita mereka adalah  mewujudkan masyarakat yang jatuh cinta dan tergila-gila kepada Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga ketika nama agung Sayyidul Anam diperdengarkan, tulang hidung mereka akan menggelenyar karena besarnya rasa cinta kepadanya. Di sisi lain, ketika melihat orang-orang yang tergelincir berjatuhan dari jalan kebenaran, mereka akan jatuh tersimpuh. Dalam simpuhnya mereka akan bergumam: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjauhkan umat manusia dari perbuatan aib dan memalukan, apa lagi yang kiranya harus ku lakukan?”  Sambil bergumam demikian, mereka juga dengan penuh semangat akan berusaha menciptakan solusi dan strategi untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan tersebut. Pada akhirnya, ia akan hidup dengan kepekaan dan sensitivitas yang tinggi dalam rangka menginspirasi masyarakat, mencegah mereka agar tidak terpeleset dan terjatuh, serta untuk mengantisipasi menjauhnya masyarakat dari nilai-nilai agama.

 

Kepekaan untuk Membangkitkan Masyarakat

Seseorang yang mengambil jalan lurus ini, tidak akan merasa cukup jika nama agung Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamhanya terdengar di menara-menara masjid di negaranya saja. Mereka menganggap hadits: “Namaku akan tersebar di tempat di mana matahari terbit dan tenggelam.”[2]  sebagai tujuan yang harus mereka capai. Hadits ini akan menjadi ufuk dimana mereka mengikat kehidupan mereka  dan mengantarkannya hingga bisa sampai pada tujuan ini. Dia sebagai sosok yang berlari untuk mencapai ufuk ini tidak akan pernah sekalipun sibuk dengan kesusahan pribadi mereka. Dia tidak akan rendah diri dengan berkata: “Orang seperti aku memangnya bisa berbuat apa?” Dia akan selalu bergerak dengan keyakinan, “Betapa banyak orang kecil yang Allah anugerahkan kesuksesan untuk menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar.” Merekapun bergerak dengan penuh semangat dan keteguhan hati. Dia memiliki keyakinan mendalam, “Jika di suatu tempat terdapat dada yang penuh dengan iman, maka dada tersebut akan menemukan jalan untuk menyampaikan ilham dalam jiwanya ke dalam kalbu orang-orang di sekitarnya.” Ya, perlu diketahui bahwasanya jika semua usaha seseorang diperuntukkan untuk kepentingan bangsanya, Allah akan menganugerahkan kepada orang tersebut kesuksesan untuk menuntaskan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh suatu negara.[3]   Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kesuksesan tersebut kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Sang Kebanggaan Kemanusiaan Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah juga dapat menjadikan orang tersebut memiliki kemampuan dan kelayakan untuk mengemban misi agung ini.

Demikianlah, semua ini lebih dari sekedar bagaimana menjadi pribadi saleh, melainkan penjelasan tentang bagaimana menjadi sosok yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menjalani kehidupan beragamanya. Kalau seandainya ingin disampaikan dengan istilah lain, mungkin Anda bisa menyebutnya sebagai membangkitkan masyarakat dan kepekaan untuk menghidupkan orang lain. Dari segi ini maka dapat dikatakan bahwasanya kesalehan dan kepekaan dalam beragama merupakan istilah yang berbeda satu sama lain.

Akan tetapi, tetap terdapat sisi-sisi yang berdampingan di antara keduanya. Batas terakhir dari kesalehan di antaranya adalah menjauhi hal-hal yang meragukan[4], dikarenakan lalai dalam menunaikan shalat pada waktunya lalu ia melihat dirinya sebagai penjahat yang seolah-olah baru saja melakukan pembunuhan, serta menunaikan pekerjaan-pekerjaan dengan sensitivitas yang sempurna. Di waktu yang sama, ketika berhasil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkan Allah, selain merasakan insyirah – kelapangan dada – sebagai bentuk tahdis nikmat – menyebutkan dan menceritakan nikmat dari Allah yang diberikan kepada kita sebagai bentuk syukur dan bukan untuk menyombongkan diri – dia juga membawa perasaan khawatir seperti: “Mudah-mudahan kesuksesan ini tidak bercampur dengan riya’. Semoga keberhasilan ini tidak terkotori oleh sum’ah” yang merupakan batas awal dari kepekaan beragama. Karena pada keluasan dan kedalaman inilah seorang mukmin yang memiliki kepekaan beragama akan merasakan perlunya menularkan kepekaan dan sensitivitas beragama kepada orang lain. Singkatnya, ia akan berkeinginan untuk menyampaikan nikmat yang dirasakannya agar dirasakan juga oleh orang lain.

 

Sebelumnya Kita Perlu Meratakan Keakuan Kita dengan Tanah

Orang-orang dengan cakrawala seperti ini senantiasa membuat lelah otaknya. Baik ketika duduk maupun saat berdiri, ia selalu memikirkan tujuannya. Otaknya pun merasakan siksaan akibat beban berpikir ini. Bahkan walaupun ia sedang – mohon maaf – berhajat, aktivitas berpikir dalam otaknya tersebut akan terus berlanjut, ia pun akan menghasilkan beragam gagasan baru. Dalam kesempatan pertama ia akan menyimpan gagasan-gagasan yang muncul dalam pemikirannya. Jika ia tidak menemukan kesempatan untuk menyimpannya, maka ia akan menyimpannya di antara neuron-neuron dalam kepalanya dengan maksud merealisasikannya kemudian. Jiwa-jiwa yang prihatin serta ruh-ruh yang menderita demikian eratnya meliputi mereka sampai-sampai kehilangan konsentrasi ketika shalat.

Walaupun tidak terdapat istilah yang tepat terkait terminologi ini, kami menghubungkan cita-cita agung tersebut dengan istilah ketergelinciran para muqarrabin. Misalnya, terkait beberapa sujud sahwi[5]  yang dilakukan Baginda Nabi dalam beberapa shalatnya, kita akan berpikir: “Siapa yang bisa tahu masalah agung seperti apa yang menggeliat di dalam benak sosok seperti Baginda Nabi, sosok yang terbuka dan dapat dilihat siapa saja, sehingga shalatpun di satu sisi nampak kecil di hadapan permasalahan tersebut.” Dan memang Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam pun menganggap mikraj sebagai hal yang kecil bila dibandingkan dengan tugas yang diembannya, sehingga setelah berhasil mencapai tempat yang tak mungkin dicapai tersebut beliau pun kembali untuk menunaikan tugasnya itu.[6]  Kata-kata dari Abdul Quddus seakan menjelaskan hakikat ini. Ia berkata: “Demi Allah, Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah berhasil mencapai yang tak mungkin dicapai, Beliaupun telah melihat apa yang tak mungkin dilihat. Demikian agungnya tempat yang telah dicapainya, orang biasa yang telah mencapainya tidak mungkin meninggalkannya. Demi Allah, seandainya aku yang mencapai tempat tersebut maka aku tidak akan kembali!” Salah satu kekasih Allah memberikan komentarnya terkait pernyataan ini: “Itulah perbedaan derajat kewalian dan kenabian!” Maksudnya, derajat kewalian akan terus menjulang lewat fana billah, baqa billah, dan ma’allah. Akan tetapi kenabian, setelah ia berhasil mencapai puncak tertinggi, mereka akan kembali ke tengah-tengah manusia demi bisa merengkuh tangan mereka dan mengangkatnya hingga mencapai puncak.

Kita dapat melihat hubungan ini juga pada sahwi yang dikerjakan oleh Sayyidina Umar. Seusai beliau menyelesaikan shalatnya, beliau menjawab para sahabat yang mengingatkannya jika ia menunaikan shalat dengan salah bahwa tadi ia sedang mengarahkan prajurit untuk I’layi kalimatullah ke Iraq[7].  Seperti yang dapat dilihat, tugas agung untuk ilayi kalimatullah telah menguasai setiap sendi kehidupan sosok agung ini, ia segera menyelinap masuk ke kepalanya saat terjadi kekosongan sejenak dalam shalatnya. Hal ini adalah penjelasan dari kepekaan luar biasa dalam mengayomi prinsip-prinsip agama. Seseorang yang demikian peka terhadap prinsip-prinsip agamanya, tidak mungkin akan tersingkir di hadapan hal-hal yang diharamkan ataupun cacat dalam menunaikan kewajiban.

Pendek kata, tidak mungkin dengan gairah yang lesu serta dengan pemikiran yang setengah-setengah seseorang akan menjadi pahlawan kebangkitan ataupun akan mampu menghidupkan kembali spiritualitas masyarakat untuk kembali menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah. Seandainya kita menginginkan terlahirnya prasasti jiwa yang akan mampu mempesona, ‘menyihir’ umat manusia, dan memberi mereka insyirah[8], sebelumnya kita harus mengambil kapak dan menghancurkan keakuan (egoisme) yang mengendap dalam diri kita. Dengan perintah dan larangan agama menjadi tanah dan batu batanya, kita harus mendirikan sebuah prasasti yang hanya mengharapkan rida Ilahi sebagai bayarannya, dan jangan sampai ia runtuh kembali. Untuk itu,  pemikiran “tunaikan saja shalat, berpuasalah, namun jangan ganggu urusan orang lain” tidak dapat dibenarkan, karena dengan pemikiran tersebut tidak mungkin tugas ilayi kalimatullah dapat ditunaikan.

[1]Ihsan, keadaan dimana seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

[2]HR Abu Dawud, Bab Fitnah, no.4252

[3] Badiuzzaman, Tarihce Hayat (Biografi Kehidupan Said Nursi), hlm. 95

[4]HR Tirmizi, Bab Kiamat; Ibnu Majah, bab zuhud

[5]Sahwi yang pertama, diriwayatkan dalam Bukhari Bab Salat dan Bab Azan; HR Muslim bab masjid. Sahwi kedua, diriwayatkan dalam Bukhari, Bab Sahwi; HR Nasai, bab Sahwi

[6]QS Isra 17:1; HR Bukhari, bad’ul halk 6 dan manaqibul ansar 42; HR Muslim, iman 264

[7]HR Bukhari, ama fis salat 18; ibnu Abi Suaybah, al Musannaf 2:186

[8]Kelapangan jiwa. (Penerj.)

aktivasi_membaca

Menjadi Pembaca yang Benar

Menjadi Pembaca yang Benar

 

Tanya: Di seluruh penjuru dunia, perhatian kepada gerakan sukarela ini semakin bertambah dari hari ke hari. Untuk itu, apa saja yang perlu dijadikan prioritas agar kesempatan ini tidak sia-sia dan lawan bicara kita dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Jawab: Pertumbuhan atensi secepat deret geometri[1] kepada gerakan sukarela benar-benar terjadi akhir-akhir ini. Teman-teman kita telah tersebar hingga  ke 150-160 negara. Seakan-akan tidak lagi tersisa tempat dimana Anda tidak menghembuskan nafas dan memperdengarkan pesan-pesan Anda. Sebagai bentuk tahadduts ni’mah[2], dapat dikatakan bahwasanya kita menerima anugerah yang dulu pernah diberikan Allah kepada para sahabat. Tentu saja apa yang tergambar disini semata-mata merupakan anugerah dan kebaikan yang berasal dari Allah SWT. Kita tidak tahu apa sebab dari segala macam anugerah dan kebaikan ini. Insya Allah anugerah ini bukanlah istidraj[3]. Semoga bukan istidraj dan semoga segala anugerah ini tidak menjadikan kita bangga diri.

Semangat Mobilisasi yang Baru

Jika pertumbuhan atensi yang seperti deret geometri ini hanya dibarengi oleh pertumbuhan kualitas dan kuantitias setara deret aritmetika dari orang-orang yang akan melakukan pendampingan dan bimbingan, maka sumber daya manusia yang ada harus kembali dibakar semangatnya dengan api yang pernah membara di dada teman-teman kalian yang dulu amat bersemangat dan bergairah untuk meraih pahala hijrah di tahun 90an.

Firman Allah di dalam Al Quran berikut ini menunjukkan target tersebut.

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya:

…dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah… (QS al Baqarag 2:218)

Maksudnya, seorang manusia dengan berhijrah ia dapat meraih derajat mulia di sisi Allah. Selain itu, di tempat tujuan hijrah, mereka berjuang untuk meruntuhkan tembok yang menghalangi manusia dari mengenal Allah. Perjuangan mereka dilatarbelakangi oleh semangat bahwasanya apa yang mereka lakukan itu semata-mata merupakan penunaian kewajiban yang diemban oleh mereka yang berhijrah. Untuk itu, agar dapat mengimbangi pertumbuhan geometrik atensi masyarakat kepada gerakan sukarela ini, usaha untuk melejitkan manusia ke dalam kehidupan kalbu dan ruh, menjauhkan manusia dari jasmaninya, serta mengeluarkan manusia dari kebutuhan hewaninya untuk kemudian memasukkan mereka ke dalam orbit kalbu dan ruh dengan pendidikan ketat ala sahabat di Era Kebahagiaan merupakan hal yang sangat penting. Disebabkan oleh ketidaksempurnaan orang-orang yang baru masuk Islam di akhir era sahabat dan di awal era tabiin dalam memahami ruh agama, maka muncullah golongan-golongan seperti Khawarij, Rafidhah, dan Kebatinan. Sabda Baginda Nabi ketika menyampaikan keadaan tersebut: “Akan muncul di antara kalian orang-orang yang akan membuat kalian menganggap shalat, puasa, dan amal kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat, puasa, dan amal mereka. Mereka membaca al Quran tetapi al Quran yang mereka baca tidak sampai melewati batas tenggorokannya. Mereka  keluar dari Islam secepat anak panah meluncur dari busurnya (HR Bukhari, bab Fadhailul Quran, 36; HR Muslim No.1773).

Anda dapat memikirkan makna hadits itu untuk masa Anda saat ini. Beberapa orang salat sedemikian rupa hingga meninggalkan bekas di dahi dan lututnya. Akan tetapi, karena ia tidak berhasil mencapai informasi-informasi prinsip di dalam salat, ia pun tidak berhasil menyelamatkan dirinya dari bahaya ifrat dan tafrit[4]. Berkebalikan dengan penampilan mereka yang mirip seperti orang yang dekat dengan Allah, dengan mudahnya mereka mengafirkan sosok-sosok seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Padahal sosok-sosok tersebut adalah sosok-sosok yang dijanjikan Baginda Nabi dengan surga. Perhatikanlah bagaimana pandangan mereka yang satu berkontradiksi dengan pandangan mereka lainnya. Rasulullah yang mana dirimu mengaitkan diri dengan agamanya telah menjanjikan sepuluh sahabatnya dengan surga, tetapi beberapa manusia kemudian bangkit dan menuduhkan hal-hal yang membuat bulu kuduk berdiri. Itulah kebodohan yang berasal dari ketidaktahuan dan ketidaksadaran pada ruh dan esensi agama.

Oleh karena itu, kita harus meneliti jalan apa saja yang bisa digunakan untuk mencetak insan kamil agar ketika mengobarkan semangat mobilisasi di kalbu-kalbu manusia untuk kedua kalinya, kita tidak menderita distorsi dan deformasi yang bersumber dari ragam kultur budaya dan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda. Untuk dapat mewujudkannya, orang-orang yang nantinya akan jadi pemandu, pembina, pembimbing, harus menguasai secara mendalam al Quran dan as Sunnah sebagai rujukan utama agama kita. Di waktu yang sama, mereka juga harus mengetahui dan mengenal karakter  para lawan bicara di tempat mereka menjalankan tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus memiliki pengetahuan memadai seputar sains dan ilmu sosial. Mereka setidaknya pernah mempelajari dasar-dasar ilmu seperti fisika, kimia, matematika, dan antropologi. Ya, seseorang yang akan melakukan tugas membimbing manusia harus berangkat sebagai seseorang yang telah matang dengan sempurna. Generasi pertama dari kawan-kawan kalian telah berangkat dengan keimanan yang murni, penuh keikhlasan, serta kesederhanaan. Berkat inayat ilahi mereka telah menjadi sarana bagi terwujudnya banyak kebaikan. Akan tetapi, mulai dari sekarang, di saat ada banyak tempat yang membuka dirinya kepada kalian, dibutuhkan kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat yang lebih baik lagi.

Manfaat yang Dijanjikan oleh Membaca secara Muzakarah[5]

Ketika kita sedang membaca buku-buku referensi untuk menutrisi kedalaman, keluasan, dan kelengkapan perangkat kita, hendaknya ia tidak sekedar dibaca begitu saja. Kita harus membacanya dengan penuh gairah, diperbandingkan satu karya dengan karya lainnya, dianalisis, dengan tekad meraih kombinasi informasi yang terbaik dan teruji.

Perhatikanlah tafsir Al Quran: betapa banyak buku tafsir yang ditulis semenjak Al Quran diturunkan hingga hari ini. Betapa banyak pula hasyiah[6] yang telah dituliskan. Ya, hari ini terdapat ribuan jilid buku yang ditulis untuk menafsirkan Al Quran. Di satu sisi, sebagai ibnuzzaman, anak-anak zaman, setiap mufasir mengambil setiap ilham yang didapatkannya serta dengan melihat kondisi terkini di lingkungan sekitarnya kemudian menuliskan: “ayat ini dipahami seperti ini, tujuan seperti ini yang ingin dicapai olehnya.” Lewat tafsiran-tafsirannya tersebut, mereka berangkat menuju pembukaan-pembukaan baru dalam memahami Al Quran. Jika kita membandingkan beberapa buku tafsir, kita akan menemukan perbedaan-perbedaan. Misalnya Imam Fakhruddin ar Razi[7] menafsirkan suatu ayat, tetapi penafsiran Zamakhsyari[8] terkait ayat yang sama berbeda dengannya. Sedangkan Imam al-Baidhawi[9] menganalisis ayat tersebut dengan jalan yang berbeda lagi. Walaupun Ebussuud Efendi[10] umumnya bersandar kepada al Baidhawi, beliau juga memiliki penafsirannya sendiri. Jadi, karya-karya tafsir al Quran terus bermunculan hingga akhirnya terbit karya tafsir abad ini yang ditulis oleh al Allamah Hamdi Yazir[11]. Tentu saja setelah karya beliau juga akan lahir karya-karya lainnya. Kita harus bergerak dengan semangat ini. Kita juga harus mendidik insan-insan yang mampu membaca dengan baik kebutuhan zaman, mampu mendeteksi dan menganalisis sesuatu dengan lebih baik, mampu melihat lebih luas makna di setiap benda dan peristiwa, mampu lebih merangkul, serta mampu melihat lebih detail. Karena para pembimbing ini akan bertemu dengan anak-anak dari beragam latar belakang budaya. Oleh karena itu, jika ia tidak bersiap dan melengkapi dirinya untuk menghadapi beragam masalah yang mungkin muncul akibat perbedaan pemahaman dan budaya, ia akan jatuh KO.

Untuk itu, kita katakan bahwasanya di tempat dimana kita pergi bertugas, Allah SWT dapat menganugerahi hati kita dengan ilham-ilhamNya lewat beragam sarana. Akan tetapi, pada saat Anda ingin memanfaatkan beragam sarana ini, hendaknya ilham-ilham ini tidak disuarakan seperti halnya ketika Anda menyuarakannya kepada lingkungan sekitar Anda, melainkan harus Anda sesuaikan dengan kultur masyarakat di tempat Anda bertugas. Hal ini sekali lagi menunjukkan betapa kita membutuhkan pembimbing yang berkalbu luas, yang mampu melihat makna di balik benda dan peristiwa lebih mendalam, serta mampu merangkul para lawan bicaranya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, suatu mobilisasi membaca dan berpikir harus dimulai sekali lagi.

Baginda Nabi SAW menyebut persoalan ini dengan istilah tazakur. Makna dari kata istilah ini adalah suatu persoalan dimuzakarahkan dengan keterlibatan sedikitnya dua orang. Mereka yang terlibat dalam proses muzakarah dan berkumpul di dalam suatu majelis yang seperti ini dikatakan oleh Baginda Nabi sedang berada di dalam rahmat dan penjagaan ilahi. Selain itu, Baginda Nabi menyebut majelis yang demikian dalam sabdanya sebagai berikut:

لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Artinya: “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” (HR Bukhari, Bab Daawat, 66)

Maksudnya, ala kulli hal, mereka yang hadir di dalam majelis itu pasti akan menerima sesuatu. Pasti sesuatu yang baik akan masuk entah ke dalam hati ataupun ke dalam kepala mereka. Bisa jadi ada seseorang yang duduk di majelis tersebut dengan niat awal yang bersifat duniawi. Bisa jadi ia menghadiri majelis tersebut dengan niatan mendapat manfaat yang sifatnya materi. Namun, karena ia berkumpul bersama orang-orang baik, akhirnya ada nilai kebaikan yang menelusuk ke dalam dirinya. Lebih tepatnya, orang itu memperoleh insibag[12] dari orang-orang saleh di sekitarnya. Syakhsiyah maknawiyah; satu kuas turut digoreskan kepadanya dan dengannya ia pun tergores dengan goresan kuas maknawiyah. Dari sisi ini, dengan inayat dan anugerah ilahi setiap pembimbing dan pembina lewat sarana muzakarah harus dapat membangun jalan keluar permasalahan paling muskil sekalipun. Ia harus mampu menghasilkan solusi bagi segala permasalahan serta mampu meraih level dimana ia bisa menjawab segala macam pertanyaan.

Sayangnya, orang-orang kita saat ini jauh dari metode membaca yang demikian. Bahkan Al Quran yang notabene merupakan firman Sang Rabbi pun terpaksa menjadi korban dari pembacaan dan pembahasan yang biasa, statis dan hanya mengupas kulit permukaannya saja ini. Barangkali saat ini Al Quran sedang tersimpan rapih di dalam sampul beludru di samping tempat tidur kita. Sebenarnya masyarakat kita memiliki penghormatan istimewa terhadap Al Quran. Aku pun memuji penghormatan tersebut. Akan tetapi, masyarakat kita saat ini awam akan makna Al Quran. Padahal ia merupakan pesan dari Allah yang dikirimkan kepada kita. Kenyataan amatlah pahit, kita tidak pernah bertanya kepada diri kita sendiri:”Apa yang sebenarnya diinginkan Allah dari kita lewat pesan-pesanNya ini?” Kita amatlah asing bahkan dengan kitab suci kita sendiri. Ya, pengemasan yang biasa dan statis telah membutakan mata kita, telah membuat kita gagal memahami makna yang terkandung di dalam kitab suci kita. Kita pun telah berpuas diri dengan penghormatan kering tersebut. Sekali lagi, saya memuji penghormatan yang seperti itu. Namun, penghormatan sejati terhadap Al Quran hanya dapat diwujudkan dengan meniti ruh, makna, dan esensi yang ada di dalamnya.

Dapat dikatakan bahwasanya kita juga buta terhadap karya-karya yang membahas hakikat Al Quran dan As Sunnah. Membacakan salah satu kitab tersebut di setiap pagi tidak dapat dikatakan cukup sebagai usaha untuk memahami hakikat-hakikat Al Quran dan Sunnah. Yang menjadi kriteria asas adalah bagaimana kita mampu memperhatikan kepadatan dan kearifan gagasan serta pikiran tokoh tersebut di dalam karyanya, berusaha memahaminya dengan membandingkan gagasan di karya yang satu dengan karya lainnya. Misalnya, terkait suatu topik pembahasan, Imam Ghazali berpendapat seperti ini. Akan tetapi, Bediuzzaman Said Nursi berpendapat berbeda. Kita harus mampu mengembangkan sistem membaca yang baru dan setidaknya kita harus mampu membaca dengan metode perbandingan seperti contoh tersebut. Mari kita pikirkan, bagaimana nama-nama sosok pilihan tersebut mampu membangkitkan semangat kita, bagaimana nama-nama mereka mampu mendiktekan semangat para sahabat kepada Anda, apakah nama-nama mereka mampu memantik dan menggerakkan diri Anda? Tetapi apa yang terjadi, karya-karya agung tersebut kemudian berubah hanya menjadi lembaran-lembaran yang dibaca karena kebiasaan belaka. Padahal karya-karya agung tersebut harus didaras lebih mendalam dengan beragam sudut pandangnya. Bahkan kita seharusnya tidak hanya mencukupkan diri dengan ungkapan-ungkapan di dalam karyanya saja, melainkan kita juga harus berusaha menangkap ufuk pandangnya. Setelahnya, cara membaca yang dipenuhi analisis dan kombinasi dari berbagai karya harus diwujudkan.

 

Kedalaman yang paralel dengan perluasan  

Kita membutuhkan pembimbing dan pembina yang dapat menerangi jalanan kita, yang membaca dan menguasai karya-karya dasar dalam Islam dengan ushul dan keluasan yang paralel dengan pertumbuhan geometrik perhatian masyarakat kepada gerakan sukarela ini. Jika kita mencukupkan diri dengan pertumbuhan aritmetika jumlah pembimbing dan pembina yang mampu menguasai karya-karya tersebut, maka malfungsi akan banyak terjadi karena kurangnya asupan nutrisi pembinaan yang adekuat. Malfungsi yang terjadi hari ini pun bersumber dari lemahnya semangat membaca dan lemahnya usaha untuk menemukan nilai serta jati diri kita. Hal-hal seperti mencukupkan diri pada apa yang tampak, dan berfokus pada hal-hal yang sifatnya permukaan adalah sebab-sebab dasar munculnya masalah-masalah ini. Bediuzzaman misalnya, membaca Risalah Ikhlas yang ditulisnya sendiri sebanyak 115 kali. Ada seorang profesor yang heran dan takjub melihat potret ini dan berkata:”Apa mungkin seseorang  membaca karya yang ditulisnya sendiri sebanyak ini?” Menurut saya, jika karya tersebut layak untuk dibaca sebanyak itu, artinya karya tersebut memang harus dibaca sebanyak itu. Bediuzzaman dalam setiap kesempatan membaca, dengan ilham dan anugerah yang terlahir di dadanya pasca membaca, seakan ada sebuah layar terkembang yang mengantarkannya berlayar menuju ufuk-ufuk yang lebih agung  dan membantunya mencapai kedalaman maknawi yang luar biasa. Sayangnya, meskipun terdapat kesempatan yang amat luas seperti ini, saya rasa kita tidak mampu membaca dan memahaminya dengan cara pandang luas sebagai berikut:”Topik ini dibahas seperti ini di karya itu. Topik yang sama dibahas dan diringkas seperti itu. Dari dua karya tersebut terdapat hubungan demikian ketika membahas topik ini…dan seterusnya”

Pada hari ini, kita sebagai anggota masyarakat membutuhkan pembimbing dan pembina yang mampu mencerna dan menginternalisasi esensi dari Al Quran, as Sunnah, serta karya-karya yang menafsirkan dan menjelaskan rujukan utama Islam ke dalam karakternya. Jika pembimbing dan pembina dengan karakteristik ini tidak tersedia, kita akan menemui banyak masalah yang tidak diharapkan ketika di sisi lain kesempatan untuk menjelaskan hakikat terbuka lebar dengan kecepatan tertingginya.  Akhirnya energi yang ada akan habis oleh usaha untuk memikirkan solusi-solusinya. Mungkin sebagian besar dari Anda tidak akan mampu memecahkan sebagian besar dari masalah yang muncul.

Ya, sekali lagi saya sampaikan, di sepanjang sejarah, manusia yang tidak matang selalu menimbulkan masalah. Ribuan orang Khawarij misalnya berkumpul dan menyampaikan tuntutan-tuntutan versi mereka. Ketika sosok yang medapat gelar Al Allamah-nya umat Sayyidina Ibnu Abbas pergi menemui mereka dan menjelaskan duduk persoalannya:”Anda mungkin menuntut hal ini. Akan tetapi, sebenarnya hal ini tidak dipahami demikian!” kemudian muncul jawaban dari ratusan orang di antara mereka:”Astagfirullah! Kita tidak pernah memahami perihal ini seperti itu!” Barangkali di antara mereka, ada orang-orang yang dalam sehari menunaikan shalat ratusan rakaat, mengkhatamkan al Quran tiga hari sekali. Akan tetapi orang yang sama, dengan santainya mengafirkan sosok-sosok agung seperti Sayyidina Ali, Muawiyah, dan Amr bin Ash.

Jika individu-individu tidak memahami suatu topik permasalahan beserta segala tetek bengeknya dengan cara yang seharusnya ia dipahami, dan jika mereka tidak bergerak dengan informasi yang benar, maka mereka akan senantiasa muncul sebagai masalah. Kuantitas yang seperti ini akan mencatatkan kualitas yang tidak jauh berbeda. Hafizanallah, demikian gentingya permasalahan yang akan terjadi, Anda akan terpaksa meresponnya dengan ungkapan:”Seandainya  pertumbuhan atensi masyarakat tidak terjadi secepat ini!”. Untuk itu, agar Anda tidak menyisakan kekosongan di antara manusia, Anda harus mengetahui dan menguasai hal-hal yang harus Anda ketahui, dan menginternalisasikannya dalam kehidupan Anda sehari-hari. Ketika menunaikan shalat, Anda harus menunaikannya dengan kesadaran penuh bahwasanya Anda sedang berada di hadapan Sang Penguasa Alam Semesta. Ketika Anda menyungkurkan diri untuk bersujud, dada Anda harus berguncang dan bergemuruh layaknya suara air mendidih yang direbus di dalam panci. Orang-orang harus melihat Anda dalam keadaan demikian. Mereka harus takjub dengan kualitas Anda dan berkata:”Orang-orang ini betul-betul orang yang mengimani Allah dengan sepenuh hati.” Tentu saja kita tidak melakukannya supaya orang-orang memuji kita. Akan tetapi, kita harus berusaha untuk meraih kedalaman dan sifat-sifat agung ini sebagai tabiat kita. Untuk itu, manusia yang berhasil menjadikan sifat-sifat agung tadi sebagai tabiatnya, seakan tenggelam ke dalam daya tarik suci mereka akan berkata:”Inilah yang aku cari! Aku telah menemukan sesuatu yang telah lama kucari!”

Pendeknya, di samping kecemerlangan dan kemilau indah gagasan serta ketepatan penyajian, daya tarik dari para representasi nilai-nilai ini memiliki  efek dahsyat dan pengaruh luar biasa kepada para pendengarnya. Dari sini, saat kita memulai kembali mobilisasi atas nama kemanusiaan, ruh dan kalbu kita harus menyerukan kalimat “Bismillah tanpa henti!” seakan-akan kita baru pertama kali memulainya. Kita harus terjun ke pekerjaan ini dengan gairah yang luar biasa. Ketika idealisme ini diperankan oleh sosok seperti Hulusi Efendi, Hafiz Ali, dan Husrev Efendi, masyarakat akan berlari menghampiri. Mereka yang datang tidak akan pernah berpaling lagi.Tidak boleh dilupakan, orang-orang akan berpaling saat mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka dapat berpikir: “mengapa aku menyia-nyiakan waktuku di sini?” dan mereka pun perlahan menjauh. Untuk itu, walaupun berat untuk nafsu kita, idealisme hidup untuk menghidupkan orang lain dan semangat berjuang sepanjang umur hingga izrail menjemput harus dicanangkan.

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Okuma Seferberligi”

[1] Barisan dan deret geometri adalah barisan bilangan yang nilai pembanding (rasio) antara dua suku yang berurutan selalu tetap. Rasio, dinotasikan dengan huruf r, merupakan nilai perbandingan dua suku berururtan. Rumus suku ke-n adalah Un = arn-1 dengan u1 adalah a, r adalah rasio, dan n adalah bilangan asli. Rasio dapat dihitung dengan rumus r = un : un-1

[2] Menyebut-nebut nikmat Allah yang dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah dan bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain.

[3] Hal atau keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada orang kafir sebagai ujian sehingga mereka semakin takabur dan lupa diri kepada Tuhan, seperti yang terjadi pada Firaun dan Karun.

[4] Ifrath: berlebih-lebihan (terlalu ketat) dalam agama

Tafrith: mengurang-kurangi (terlalu ringan) ajaran agama

[5] Pertukaran pikiran tentang suatu masalah; pengulangan pelajaran secara bersama-sama (KBBI

[6] Catatan atau keterangan yang dituliskan di tepi buku (KBBI); komentar terkait satu karya tafsir

[7] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Mafatih al Ghaibi

[8] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Al Kasysyaf

[9] Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Anwar Al Tanzil wa Asrar Al Ta’wil

[10] Syaikhul Islam Usmani, menjalankan tugasnya di masa kepemimpinan Kanuni Sultan Sulaiman dan Sultan Selim II (Sari Selim)

[11]  Salah satu karya tafsirnya yang terkenal adalah Hak Dini Kur’an Dili

[12] Celupan, terwarnai. Lihat QS al Baqarah 2:138 “Sibgah Allah.” Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Dan kepadaNya kami menyembah

berapa orang yang telah kau bunuh

Sudah Berapa Orang Yang Kau Bunuh?

“Sudah Berapa Orang Yang Kau Bunuh?”

Tanya: Apa saja ushul untuk membangun kembali hubungan dengan saudara-saudara kita yang memisahkan diri karena berbagai sebab? Apakah ada konsekuensi jika kita menjadi sebab bagi memisahkan dirinya mereka? Apakah ada tanggungjawab bagi mereka yang telah memisahkan diri?

Jawab: Ada satu ulama yang berkata kepada dirinya sendiri: “Sampai saat ini siapakah gerangan yang mengetahui berapa orang yang sudah kau bunuh?” Yang beliau maksud dari perkataannya tersebut adalah: Orang-orang datang dengan niat ingin mengambil hikmah darimu, tetapi engkau tidak berhasil menentukan karakter serta bidang apa yang mereka minati. Oleh karena kamu tidak berhasil memberikan hikmah yang ia butuhkan, ia pun membencimu serta ideologimu. Mereka lalu memunggungi hakikat agung itu. Maka hal yang demikian digambarkan dengan pertanyaan: siapa gerangan yang mengetahui berapa orang yang sudah kau bunuh!

Berdasarkan pada keadaan tersebut, maka setiap pihak yang terlibat dalam usaha irsyad, mereka sebagai individu yang harusnya merepresentasikan kebenaran berkewajiban untuk memberikan perhatian penuh agar orang-orang disekitarnya tidak antipati terhadap dakwah Islam. Mereka harus melakukan segala hal yang perlu dilakukan. Jika dibutuhkan, mereka juga harus merintih dan berusaha keras agar tidak sampai menyakiti hati lawan bicaranya.

Jika kita tidak mampu menyetel keadaan dan perilaku kita agar senantiasa bergerak sesuai akhlak yang diwariskan Nabi Muhammad,  maka akan ada lebih banyak lagi orang yang memisahkan diri dari lingkungan suci ini.  Demikianlah, dari gambaran ini entah berapa banyak darah yang telah kita tumpahkan karenanya.. Entah berapa nyawa yang telah kita babat.. Sudah berapa banyak orang yang kita jauhkan dari haknya dengan melukai kehormatannya. Orang-orang yang dijauhkan dari hak-haknya ini di kemudian hari berusaha berdalih dari kekurangan dan kekeliruannya  serta mulai mengkritik kalian. Ya, semua itu adalah konsekuensi serius yang merupakan dampak dari kekeliruan kita dalam bersikap. Akan tetapi, disini juga harus saya sampaikan bahwasanya dalam kondisi terburuk sekalipun, jumlah teman-teman yang memisahkan diri dari lingkaran kebenaran dan hakikat ini amatlah sedikit.

Terkait isu memisahkan dirinya teman-teman dari sisi kita, kekurangan kita di antaranya adalah sedikitnya kuantitas kunjungan dan lemahnya kepedulian kita kepada mereka; kurangnya perhatian kita kepada mereka; dan kurangnya kita dalam merangkul mereka. Sebagai akibatnya, mereka pun mengikuti arahan hawa nafsu dan bisikan setan sehingga perlahan-lahan menjauhi lingkungan ini. Bisa jadi perlahan mereka mulai berbuat dosa dimana dosa tersebut membuat mereka menggelinding perlahan-lahan ke lubang gayya[1]. Tempat dimana mereka hidup seiring berjalannya waktu tanpa disadari telah berubah menjadi dasar sumur kesesatan.  Dunia dengan berbagai daya tariknya seperti jabatan, harta kekayaan, kemuliaan, dapat menyihir dan mengunci mata serta hati mereka.  Sebagian lagi terkekang oleh fobia, kesukuan, keengganan untuk keluar dari zona nyaman, serta pemikiran untuk hanya memikirkan dirinya sendiri, perlahan mereka pun jadi egois. Pada hari ini, orang-orang yang mengalami kondisi seperti itu dijauhkan dari hakikat dan kebenaran. Mereka berubah menjadi boneka setan.

Menemukan kebenaran dan hakikat adalah sebuah level pencapaian, tetapi istikamah di jalan kebenaran dan hakikat adalah level pencapaian lainnya. Meraih kebenaran dan hakikat telah berhasil dicapai oleh kita dan mereka, tetapi beberapa darinya – walaupun jumlahnya sangat sedikit – tidak cukup beruntung untuk dapat meraih keistikamahan. Al Qur’an mengajarkan kepada kita sebuah doa:”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami…”[2]. Menurut riwayat yang disampaikan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah, Baginda Nabi SAW sering mengulang doa berikut:”Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap berada di atas agamaMu.” Bahkan saat ditanyakan mengapa beliau sering mengulangi doa ini, Baginda Nabi bersabda:”Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”[3]

Terkait topik pembahasan mengenai tergelincirnya hati, hal yang sangat sederhana sekalipun dapat  menjadi sebab yang mempengaruhi iradat, niat, dan keputusan seorang manusia. Keadaannya mirip seperti berjalan di atas es dimana seseorang dapat tergelincir jika tidak melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Atas sebab itu, seorang mukmin harus menunaikan hak dari iradatnya dan dia harus memperhatikan langkahnya saat berjalan di atas es. Ada peluang tergelincir jika seseorang berjalan di atas es. Memang yang menciptakan perwujudan pekerjaan kita adalah Allah SWT, tetapi iradat dan kecondongan hati seorang hamba menentukan bagaimana Allah memberi jawaban yang sesuai dengan keinginan dan keputusan hidup manusia. Dengan bahasa lain, saat terdapat usaha atau niatan untuk melakukan pekerjaan seperti dosa kecil, kesalahan, ketergelinciran, pandangan, sentuhan, makan harta haram, Allah pun akan menciptakan keinginan hambaNya tersebut yaitu berupa sikap yang menyimpang dan kekufuran. Allah adalah Pencipta hidayah sekaligus kesesatan. Akan tetapi, Allah tidak meridai kesesatan dan kekufuran. Allah SWT hanya meridai hidayah dan keimanan.

Teman-teman yang memisahkan diri dari jalan dakwah pun berpisah dengan jalan demikian. Peristiwa seperti ini pun tidak khusus terjadi pada kita saja. Di buku Maktubat karya Imam Rabbani Ahmad Sirhindi, terdapat surat-surat yang beliau tulis dengan beragam peringatan serius untuk murid-muridnya.  Sang Imam di suratnya tersebut tidak bisa menyembunyikan keheranannya pada orang-orang memisahkan diri dengan kalimat: ‘setelah mengenal, mengetahui, mempelajari, dan menyaksikan, bagaimana bisa kamu memisahkan diri?’[4] Mujadid lainnya mengungkapkan rasa herannya pada seseorang yang terkelabui oleh kata-kata orang zindik padahal ia telah menerima pelajaran-pelajaran hakikat dari dirinya.

Salah seorang bernama asli Nahar bin Unfuwa yang dikenal dengan lakab Rajjal adalah seseorang yang keluar masuk majelis ilmu yang diasuh oleh Baginda Nabi SAW. Semua daya, upaya, dan kefasihan bahasa yang dimilikinya digunakan sepenuhnya untuk mendukung Rasulullah SAW. Bertahun-tahun ia istikamah menghadiri majelis Rasulullah SAW. Akan tetapi, datang suatu hari dimana ia justru merapatkan barisan ke Musailamah al Kadzab si nabi palsu. Sayyidina Abu Hurairah r.a. menjelaskan peristiwa tragis itu sebagai berikut:

“Waktu itu kita bertiga ada di sisi Baginda Nabi SAW, yaitu aku, Rajjal, dan Furat bin Hayyan.  Baginda Nabi SAW bersabda:’Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka akan lebih besar dari Gunung Uhud.’[5] (Maksudnya, salah satu dari ketiga orang ini akan menjadi pelaku tindakan kriminal yang amat menakutkan. Tingkat ketakutan yang diakibatkan oleh tindakan kriminal ini oleh Baginda Nabi diungkapkan dengan menggunakan tabir gigi geraham). Kengerian senantiasa meliputi hatiku hingga datangnya perang Yamamah. Furat bin Hayyan telah mendahului kami dengan gugur sebagai seorang syahid. Artinya ia bukanlah orang yang tidak beruntung tersebut. Aku takut akan akhir dari nasib kehidupanku. Ketika mendengar Rajjal terbunuh di barisan Musailamah al Kadzab oleh pedangnya Zaid bin Khattab dalam Perang Yamamah, saat itu kusadari bahwa orang yang tidak beruntung tersebut bukan aku, dan atasnya kupanjatkan puji syukur kepada Allah SWT.”

Rajjal telah menjelma sebagai pembela terbesar Musailamah al Kadzab. Peristiwa tersebut sangat mengguncang kakak Sayyidina Umar, yaitu Sayyidina Zaid bin Khattab r.a. Sayyidina Zaid yang lebih dulu beriman kepada Rasulullah sebelum Sayyidina Umar beriman, tidak bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin seseorang seperti Rajjal sanggup meninggalkan Baginda Nabi demi berpaling kepada Musailamah si pembohong dan memutuskan untuk memerangi orang-orang muslim. Di hari Yamamah, matanya mengintai Rajjal. Seketika setelah menemukan kesempatan, ia segera bergerak ke arah Rajjal dan memberikan pelajaran setimpal kepadanya. Akan tetapi, di medan perang yang sama beliaupun jatuh syahid oleh pasukan musuh lainnya.

Ada orang-orang lain yang keluar dari agama sebagaimana Rajjal. Di antara mereka salah satunya adalah Tulaihah. Akan tetapi, selang beberapa waktu Allah SWT berkenan membuka mata hati Tulaihah dan memberikan kesempatan padanya untuk masuk Islam sekali lagi. Sebagaimana mereka, di hari itu terdapat orang-orang, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, yang keluar dari jalan kebenaran.

Ya, jika ternyata terdapat orang-orang yang keluar dari wilayah suci Baginda Nabi SAW sebagai pemilik daya tarik suci yang paling agung, lalu siapalah kita sehingga tidak akan ada satupun orang yang memisahkan dirinya dari kita! Aku mengetahui ada beberapa teman yang memisahkan diri karena ada tawaran jabatan untuknya. Akan tetapi, segala pujian hanya untuk Allah SWT, sebagaimana juga terjadi di masa-masa sebelumnya, di masa ini jumlah mereka yang memisahkan diri juga sangat sedikit. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, jangan sampai kita menjadi penyebab bagi terjadinya kejadian memisahkan diri ini.

Sisi lain dari masalah ini adalah: Saat orang-orang ini menunjukkan tanda-tanda akan memisahkan diri, tanggung jawab kita sebagai seorang mukmin adalah segera berlari dan mengulurkan tangan untuk membantunya layaknya Nabi Khidir. Kita harus berusaha menahan kakinya agar tidak pergi dan berseru: ’Jangan pergi!’ kepadanya. Intuisi ini amatlah penting. Sinyal memisahkan diri diawali dengan kritik. Pendapat-pendapat serta keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh tim manajemen digugat. Kemudian, pembahasan-pembahasan proyek kemanusiaan ditanggapi dingin. Di awali dengan pengabaian shalat, dilanjutkan dengan kemunculan perbedaan-perbedaan dalam pemikiran dan gagasan.

Setiap pemisahan diri dimulai perlahan dengan tahapan-tahapan kurang lebih seperti tersebut di atas. Meminjam istilah salah satu cendekiawan:’dalam setiap dosa terdapat jalan menuju kekufuran. Jika dosa tersebut tidak segera dihapus dengan tobat dan istigfar, ia akan berubah menjadi ular yang diletakkan dan dibesarkan di dalam kalbu. Ular tersebut di kemudian hari akan menelannya. Setelah itu, maka lahirlah kekufuran dan terjadilah apa yang diancamkan oleh Allah SWT: “Allah telah mengunci hati mereka…”[6]. Oleh sebab itu, teman-teman yang demikian harus dirangkul, curahan hati dan keluh kesahnya harus didengarkan, tanda tanya di kepalanya harus berusaha dicarikan jawaban yang dapat memuaskannya.

Jika semua usaha sudah dikerahkan, pekerjaan rumah berikutnya adalah melanjutkan silaturahmi. Teman-teman yang demikian tidak boleh dikecam dan dipaksa. Mereka mungkin melakukan kesalahan. Tidak perlu diberi kesempatan untuk melakukan kesalahan kedua. Kesalahan-kesalahan harus diselesaikan dengan cara yang diajarkan oleh Baginda Nabi. Rasulullah SAW meluruskan kesalahan dan kekurangan individu dengan menyampaikannya kepada para sahabat secara umum, seakan-akan kesalahan tersebut adalah kesalahan komunal. Jadi, jika seseorang melakukan kesalahan, tanpa membahas pelakunya, tanpa menyinggungnya, kesalahan dan kekeliruan tersebut harus dijelaskan. Pihak yang bersalah pun tanpa perlu merasa tersinggung bisa mengambil hikmahnya saat ia berada di tengah-tengah masyarakat. Izinkan aku menyampaikan sebuah kisah dari Masa Risalah Kenabian tentang bagaimana Baginda Nabi memperbaiki kesalahan sekelompok orang:

Saat terjadi Fathul Mekkah, secara materi Baginda Nabi SAW telah menyelesaikan perjuangannya. Dari sisi ini, tugas kenabian sebenarnya sudah selesai. Dari sisi itu, terdapat pelajaran-pelajaran terakhir dari Allah yang akan disampaikannya kepada para sahabat. Beliau mempraktikkan sendiri hukum-hukum Islam terakhir yang diturunkan kepadanya. Beliau melaksanakan hukum-hukum tersebut. Setelah itu, ganimah dari Perang Hunain sebagian besarnya dibagikan kepada tokoh-tokoh pembesar Mekkah. Tokoh-tokoh Mekkah yang menerima ganimah di antaranya adalah Aqra bin Habis, Abu Sufyan, Safwan bin Uyaina. Tokoh-tokoh ini sebelumnya adalah orang-orang yang paling keras menentang Baginda Nabi. Baginda Nabi adalah pemilik kefatanahan teragung dan kelapangan hati yang luar biasa. Dengan jalan tersebut, beliau mengunci lidah-lidah mereka, melembutkan hati mereka untuk menyukai Islam. Tokoh-tokoh tersebut disebut Al Quran sebagai muallafal qulub, yaitu orang-orang yang dilembutkan hatinya. Mereka yang melihat tindakan istimewa dari baginda Nabi ini mengeluarkan testimoninya:”Demi Allah, sosok ini pastilah seorang Nabi. Karena tidak mungkin orang biasa dapat berlaku sedermawan ini.”[7]

Aqra bin Habis sebelumnya adalah sosok manusia yang amat kasar. Banyaknya harta yang diberikan oleh Rasulullah kemudian melembutkan hatinya. Demikian juga dengan kepala kabilah lainnya, yang mana hadiah-hadiah tersebut akhirnya jadi sarana bagi tertariknya dukungan dari orang-orang di bawah kepemimpinannya. Mereka pun lewat sarana tersebut akhirnya mampu meraih cahaya abadi, yaitu kebahagiaan abadi di hari akhir kelak

Di sisi lain, pembagian ganimah yang demikan rupanya tidak memuaskan beberapa anak muda Ansar yang turut terlibat dalam perjuangan di medan perang. Anak muda yang baru saja menyelesaikan fase kanak-kanaknya ini mulai menggunjing:”Ia telah menemukan kaum dan kabilahnya. Sepertinya setelah ini beliau tidak akan kembali bersama kita ke Madinah. Padahal yang turun ke medan perang kita, tetapi ganimahnya justru dibagikan kepada mereka…”. Sayyidina Sa’ad bin Ubadah r.a. yang mendengar isu ini segera berlari menemui Baginda Nabi untuk menceritakan apa yang didengarnya. Demi mendengar kabar ini, Baginda Nabi meminta Sa’ad untuk mengumpulkan semua kaum Ansar. Beliau juga mengingatkan Sayyidina Sa’ad supaya tidak mengajak satupun orang Muhajir.

Ya, dimasa itu juga ada orang-orang yang melakukan kesalahan dan sayangnya kesalahan itu dilakukan kepada Baginda Nabi SAW. Padahal tindak-tanduk seorang Nabi bukanlah perkara yang bisa dikritik. Kesalahan yang ditujukan kepada Baginda Nabi berarti melakukan kiritk atas perilaku Sang Nabi, dimana kesalahan ini dapat disebut sebagai kesesatan. Kita tidak bisa beranggapan kesalahan seperti ini layak dilakukan oleh sahabat. Rasulullah segera bergerak untuk menghapus pemikiran ini dari kalbu kaum Ansar dan lewat satu isyarat beliau memerintahkan pengumpulan orang-orang Ansar.

Disana Baginda Nabi mengingatkan bagaimana Beliau adalah nikmat besar bagi kaum Ansar:”Bukankah saat pertama kali aku datang, kalian masih berada di dalam kesesatan? Bukankah Allah dengan mengirimku telah membukakan pintu hidayahNya kepada kalian? Bukankah dengan mengirimku, Allah telah membuat kalian menjadi kaya? Bukankah sebelumnya kalian saling bermusuhan satu sama lain? Bukankah Allah dengan perantaraanku telah mendamaikan hati kalian?”

Semua orang Ansar menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban serentak:”Benar, benar, kami berhutang budi kepada Allah dan RasulNya!” Baginda Nabi meneruskan:”Kini saat semua orang pulang ke rumahnya membawa unta dan domba, apakah kalian tidak ingin pulang ke rumah dengan membawa RasulNya?” demi mendengar kalimat ini,  maka menangislah kaum Ansar. Dengan demikian fitnah mereda. Jika Anda memperhatikannya, Anda akan menemukan bagaimana Baginda Nabi tidak menegur secara personal orang yang bersalah, melainkan menjelaskannya kepada seluruh anggota kaum secara umum.

Baginda Nabi meneruskan penjelasannya:”Jika Allah tidak menciptakanku sebagai muhajir, pasti aku akan menjadi salah satu di antara kaum Ansar. Seandainya orang-orang berjalan ke suatu bukit dan orang-orang Ansar ke bukit yang lain, pasti aku berjalan ke arah bukitnya kaum Ansar. Ya Allah, sayangilah kaum Ansar juga anak-anak dan cucu-cucu mereka.”

Ya, sebagaimana terlihat, begitu mudahnya Baginda Nabi menguraikan kesalahan-kesalahan, tidak ada satu orang pun yang tersinggung dengan solusinya. Akan tetapi, dia yang bersalah menyesali kesalahannya hingga akhir umurnya.

Jika demikian, maka kita harus mencontoh bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan kekurangan dan kesalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Apabila yang kita lakukan adalah menyakiti dan menyinggung hati orang-orang di sekitar kita, itu bersumber dari ketidakmampuan kita dalam meneladani Baginda Nabi SAW. Semoga Allah mengampuni kita!

Disini, terdapat pertanyaan yang mungkin singgah di kepala kita: Mengapa Baginda Nabi menginginkan agar semua orang dari kalangan Ansar untuk datang dan tidak mau ada satu orang saja dari kalangan Muhajir datang?

Beliau menginginkan semua orang Ansar hadir karena isu tersebut telah tersebar di tengah-tengah kaum Ansar. Jika ada yang tidak hadir, akan ada kemungkinan mereka yang menghembuskan isu ini tidak hadir dan terlibat dalam pertemuan tersebut. Andai orang-orang tersebut pada akhirnya mendengar penjelasan Baginda Nabi dari pihak-pihak yang hadir, pengaruhnya di hati tidak akan sama jika ia mendengarkan langsung kata-kata mulia dari lisan orang yang paling mulia SAW dan bisa saja kedongkolannya tidak terobati.

Lagipula tidak ada satu orang pun yang ingin kehilangan momen spesial tersebut dimana ia akan mendapat kemuliaan untuk menyimak kalimat-kalimat mulia dari lisan sang Nabi. Rasulullah SAW akan menyebutkan keagungan derajat kaum Ansar dari lisan mulianya sendiri. Untuk itu, beliau ingin agar semua orang Ansar datang. Apalagi demikian dahsyatnya Baginda Nabi menjelaskan keagungan derajat kaum Ansar, jika terdapat 2-3 orang dari kalangan Muhajirin yang turut datang, maka orang muhajir tersebut dapat lupa akan kualitas khusus yang dimilikinya dan mulai cemburu pada saudara-saudaranya dari kalangan Ansar. Karena seorang muhajir yang telah meninggalkan tanah airnya dan menjadi sarana bagi diraihnya derajat ansar oleh Kaum Ansar, dapat merasa bahwa diri mereka ternyata tidak meraih kemuliaan seagung kaum Ansar dan bisa jadi mereka akan tersinggung. Barangkali sebagian besar orang Muhajir tidak mengetahuinya bahkan tidak menyadarinya. Keagungan derajat kaum Ansar tersebut, karena disampaikan langsung oleh Baginda Nabi maka kekhususan tersebut akan terus melekat kepada mereka selamanya.

Ya, solusi dari segala masalah yang akan muncul di hadapan kita, pasti jalan keluarnya akan dapat diambil dari kehidupannya Baginda Nabi. Tugas kita adalah mempraktikkan kehidupan yang dijalani oleh Baginda Nabi di semua sisi.

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Kaç Insanın Katilsin” dari Buku Berjudul Bahar Nesidesi hlm. 198

[1] Nama sumur azab di neraka

[2] QS al Imran 3:8

[3] HR Tirmizi no. 3522, Musnad Imam Ahmad 6/135, Ibnu Abi Syaibah Musannaf 6/168

[4] Lihat Imam Rabbani, al Maktubat, hlm. 240 (surat ke-202)

[5] Al Humaidi, al Musnad 2/495

[6] QS al Baqarah 2:7

[7] Al Waqidi, Kitabul Magazi 2/854-855; Ibnu Asakir,  Dimasq, 24/114. Lihat juga HR Muslim, bab fadhail 59; HR Tirmizi, zakat 30