mengembangkandiri two-happy-girls-as-friends-hug-each-other-little-2021-08-30-02-24-00-utc

Nasihat Persahabatan

Dua Sahabat Sejati

Akif dan Ali adalah sahabat sejoli yang sangat dekat yang saling menyayangi satu sama lain. Orang-orang di sekitar mereka menginginkan hubungan persahabatan yang setia seperti mereka. 

Sepasang sahabat ini percaya bahwa dengan melakukan amalan baik akan sangat efektif untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat. Ketika seseorang saling mengajak untuk berbuat baik, itu akan menjaga mereka tetap di jalan yang lurus dan mencegah mereka menyimpang dari jalan kebenaran.

Suatu hari, Akif menulis sebuah perjanjian. 

Dia menyebutnya “perjanjian berbuat baik”, yang isinya bertujuan untuk saling mengajak untuk beramal kebaikan, memberi tahu teman tentang kesalahan, dan membantu memperbaiki kesalahan.

“Aku ingin kita berdua membuat perjanjian,” kata Akif. 

“Perjanjian seperti apa?” tanya Ali. 

“Aku membolehkan kamu untuk mengingatkan tentang kesalahanku, atau apapun dari perbuatanku yang menurutmu itu salah.” 

“Oke, tapi aku hanya bisa menerima ini dengan satu syarat. Kamu harus memberi tahu tentang kesalahanku juga. ”

“Oke, aku setuju.”

Mereka menyetujui perjanjian itu, dan menjadi “semangat berbuat baik” satu sama lain. 

Bertahun-tahun berlalu, dan hubungan mereka masih sekuat dulu. Kemudian, karena pekerjaan, Akif harus pindah ke kota lain. Perpisahan ini yang membuat sedih mereka berdua. Mereka saling menghibur dan berjanji akan tetap sering bertemu. Persahabatan mereka adalah persahabatan seumur hidup.

Setelah sebulan berlalu, Ali sangat merindukan sahabatnya itu. Setiap kali Ali menyebut nama sahabatnya dalam suatu percakapan, matanya akan berkaca-kaca. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melihat sahabatnya, jadi dia memutuskan untuk bertemu.

Di tengah jalan, dia melihat seorang pria aneh. Pria itu sedang duduk di pinggir jalan dan tampak seolah-olah dia mencoba mengatakan sesuatu padanya. Ali menghampiri pria itu dan menyapanya. Pria itu bertanya:

“Mau kemana kamu, anak muda?”

“Saya akan mengunjungi teman saya,” jawab Ali.

“Temanmu pasti sudah berbuat sesuatu yang mempermudah urusanmu, dan sekarang kamu akan berterima kasih padanya.”

“Tidak, aku tidak memiliki alasan apapun untuk berterima kasih kepadanya. Aku mencintainya karena Allah dan aku mengunjunginya karena Allah.”

“Masya Allah. Aku akan memberitahu sebuah rahasia kepadamu. Sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku adalah malaikat yang diutus oleh Allah kepadamu. Ketahuilah bahwa sama seperti kamu mencintai temanmu karena Allah, Allah juga sangat mencintaimu.”

Siapakah yang bisa dekat dengan Allah?

Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa Allah SWT adalah pelindung, penolong, dan sahabat bagi orang-orang beriman. Apakah kedekatan ini mencakup semua orang beriman? Apakah hanya sebagian orang beriman yang memiliki kualifikasi tertentu untuk menjadi dekat dengan Allah? Allah mencintai orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya dan melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah.

Dengan kata lain, Allah adalah pelindung dan penolong bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa secara sadar dan siap bertanggung jawab atas ibadah mereka kepada Allah serta ikhlas menghamba kepada-Nya. Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Manusia tidak memiliki penjaga  atau penolong sejati selain Allah.

Di atas, kami telah mencantumkan bahwa Allah akan dekat dengan orang-orang yang melakukan amal saleh. Apa saja amal saleh itu? Kitab suci Al-Quran menjawab pertanyaan ini sebagai berikut: menjadi seorang Muslim, beriman kepada Allah dan rasul sebagaimana Islam menjelaskannya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan memiliki keimanan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita.

Pada titik ini, mari kita bertanya: apakah ada orang yang kehilangan kedekatan dengan Allah? atau apakah ada orang yang kehilangan kedekatan dengan Allah karena pilihan yang salah atau perbuatan jahat mereka?

Allah bukanlah pelindung atau penolong bagi orang-orang yang meniti jalan yang menyimpang atau sesat. Ada beberapa orang yang terus-menerus berpegang pada kesalahan yang nyata, bahkan jika diturunkan para Nabi Allah untuk menyeru mereka untuk kembali ke jalan yang lurus mereka akan tetap berpegang pada prinsip sesatnya. Allah meninggalkan orang-orang seperti ini. Dengan pendirian sesat mereka ini, mereka tidak dapat menemukan satupun penjaga ataupun penolong.

Allah bukanlah sahabat atau penolong bagi orang-orang yang dengan angkuh menolak untuk menjadi hamba-Nya serta orang-orang yang melakukan perbuatan jahat.

Allah SWT bukanlah sahabat (pelindung) orang-orang yang kafir setelah masuk Islam dan orang-orang munafik yang berpura-pura beriman namun dalam hatinya tidak beriman. Mereka tidak akan menemukan wali ataupun penolong untuk diri mereka di dunia ini.

Allah bukanlah pelindung atau penolong bagi orang-orang yang kafir kepada-Nya, orang-orang yang berpaling dari agama yang benar serta orang-orang yang berbuat zalim di muka bumi.

mengembangkandiri.mother-and-child-YRN2PWM

Dengan Pengorbanan

“Bolehkah saya melihat bayi saya?” pinta seorang Ibu muda itu. Sebuntal kain yang lembut diletakkan dalam dekapannya, sang ibu yang bahagia itu bergegas membuka kain selimut itu untuk segera melihat wajah mungil si jabang bayinya.

Sang ibu tertegun tidak bisa berkata-kata dengan apa yang dilihatnya. Dokter yang memperhatikan ibu dan bayi itu bergegas memalingkan wajahnya. Sang dokter segera berpaling dari mereka dan melihat ke luar jendela.

Bayi itu tidak memiliki telinga.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa fungsi pendengaran bayi tidak terpengaruh, hanya secara fisik luar tidak memiliki daun telinga.

Tahun demi tahun telah dilalui, bayi itu tumbuh dewasa dan mulai menempuh pendidikan di sekolah. Suatu ketika, sekembalinya dari sekolah, dia bergegas berlari dan mendekapkan dirinya ke pelukan sang Ibu dan menangis tersedu-sedu.

Ini adalah kekecewaan besar pertamanya.

Sambil menangis, dia berkata, “Seorang kakak kelas memanggil saya monster, Ibu.” dan terus semakin dalam isak tangisnya.

Anak kecil itu terus tumbuh dewasa.

Dia populer di antara teman sekelasnya dan menjadi siswa yang cerdas. Bahkan dia bisa saja menjadi ketua kelas, hanya jika dia dapat berbaur dengan teman-temannya.

“Kamu harus bisa bergaul dengan anak-anak lain, Nak.” ibunya selalu berpesan, meskipun di saat yang sama sang Ibu merasa sangat kasihan dengan kondisinya. Sang Ayah sempat berkonsultasi dengan seorang dokter tentang kondisi putranya.

“Tidak adakah yang bisa dilakukan, Dok?” tanya sang Ayah. 

Dokter memberikan jawabannya, “Transplantasi daun telinga bisa saja dilakukan, jika ada seseorang yang berkenan mendonorkannya.”

Pencarian pendonor untuk transplatasi daun telinga sang pemuda pun dimulai….

Setelah dua tahun penantian, sang Ayah berkata,

“Bergegaslah pergi ke rumah sakit, Nak. Ibumu dan aku telah menemukan seseorang yang akan mendonorkan daun telinganya untukmu, tetapi ingatlah bahwa ini adalah rahasia.”

Singkat cerita, operasi itu berjalan dengan lancar. Sekarang sang Pemuda sudah memiliki telinga yang sempurna. Keadaan emosionalnya membaik dengan penampilan barunya, pemuda itu mencapai kejayaan dalam kehidupan akademik dan sosial. Ia kemudian menikah dan menjadi diplomat.

Bertahun-tahun berlalu dan suatu hari anak laki-laki itu pergi menemui ayahnya dan bertanya,

“Ayah, saya sangat ingin tahu pendonor yang telah mengubah hidup Saya kala itu? Saya tidak bisa melakukan apapun untuknya…”

“Sampai saat ini tidak ada yang dapat kamu lakukan untuknya,” kata Ayahnya.

“Kesepakatannya sudah jelas. Kamu belum bisa mengetahuinya sekarang. Belum.” imbuh sang Ayah.

Rahasia yang disembunyikan selama bertahun-tahun akhirnya akan terungkap juga. Datanglah hari dimana rahasia itu tersingkap, waktunya telah tiba untuk mengungkapkannya.

Hari itu adalahah hari terkelam dalam hidup sang Pemuda, dia menunggu bersama ayahnya di samping tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa….

Ayahnya secara perlahan mengulurkan tangannya ke arah kepala sang Ibu. Sang Ayah dengan lembut mengurai rambut cokelat keemasan sang Ibu ke belakang.

Sang Ibu tidak memiliki daun telinga.

mengembangkandiri.com-orangtua

Tugasmu Sebagai Anak

Apakah Tugas Seorang Anak terhadap Orangtuanya?

Kita dapat melihat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi bagaimana Islam sangat memperhatikan pentingnya perlakuan baik terhadap orang tua. Hal ini mendorong kita untuk memperhatikan tentang apa yang dapat kita perbuat untuk mereka secara nyata.

Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab seorang anak terhadap orang tuanya dapat dikelompokkan menjadi dua tahap: tanggung jawab terhadap orang tua selama mereka masih hidup dan tanggung jawab terhadap orangtua setelah mereka sudah meninggal.

A. Tanggung jawab utama seorang anak terhadap orang tua ketika mereka masih hidup:

    1. Mengunjungi mereka; 
    2. Memenuhi kebutuhan dan melayani mereka; 
    3. Mematuhi kata-kata mereka, selama mereka tidak menyuruh kita melakukan dosa atau melakukan tindakan yang mengarah kepada suatu dosa; 
    4. Memperlakukan mereka dengan cinta, kasih sayang dan kelembutan; 
    5. Menghormati mereka; 
    6. Tidak mengganggu tidur mereka atau membangunkan mereka sembarangan; 
    7. Meminta izin sebelum memasuki kamar mereka; 
    8. Berusaha terus menuntun orang tua tetap dalam jalan kebenaran;

B. Tanggung jawab utama kita terhadap orang tua setelah mereka meninggal:

    1. Memenuhi wasiat mereka; 
    2. Bberdoa untuk mereka dan meminta Allah untuk mengampuni mereka; 
    3. Menyumbangkan amal atas nama mereka; 
    4. Melakukan ibadah yang tidak bisa mereka lakukan, seperti pergi haji (ziarah); 
    5. Mengunjungi kerabat mereka; 
    6. Mengunjungi kuburan mereka.

Melawan atau memberontak orang tua termasuk salah satu dosa besar, dan tentu saja salah satu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT. Dengan memutus hubungan dengan orang tua, seseorang sudah termasuk melakukan perbuatan yang merupakan ciri orang yang dikutuk Allah SWT (hipokrit), bukan seorang muslim. Sebagaimana gambaran karakteristik orang-orang yang dikutuk Allah SWT dalam Ayat 22 dan 23 surat Muhammad, Al-Qur’an menyebutkan bahwa salah satunya adalah mereka yang memutus hubungan kekeluargaan mereka.

Jika seseorang memutus hubungan dengan orang tua dan kerabatnya, dia akan kehilangan rahmat dan berkah Allah dan doanya mungkin tidak bisa dikabulkan, dan akhirnya dia tidak berhak atas surga-Nya. Untuk alasan ini, siapa pun yang berusaha untuk mencapai keberkahan dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat, maka mereka yang utama adalah harus berusaha untuk mendapatkan ridha dari orang tuanya.

Perlu dicatat bahwa ketika mereka membesarkan kita, mereka tidak merawat kita hanya satu hari saja dalam setahun, tidak seperti “hari anak”. Sebaliknya, mereka merawat dan mendidik dengan penuh pengorbanan siang dan malam dan bahkan sampai kita bisa mandiri. Oleh karena itu, tugas kita adalah bersungguh-sungguh dalam memenuhi amanah agama kita, yang ada dipundak, untuk orang tua dan berusaha untuk mendapatkan ridha mereka. [1]

Apapun yang Engkau Perbuat, Tidak Ada yang Sepadan dengan Rasa Sakit yang Diderita Ibumu Saat Melahirkanmu


Muadz bin Jabal, salah seorang sahabat Nabi, seorang beruntung yang berkesempatan langsung menghadiri jamuan spiritual Nabi.

Kala itu, seseorang bertanya kepadanya, “Seberapa banyak seseorang berhutang budi kepada orang tuanya?”

Dia menjawab, “Kamu tidak akan dapat melunasi hutangmu kepada orang tuamu bahkan jika kamu menghabiskan semua kekayaanmu”


Said ibn Abu Burda meriwayatkan sebuah cerita yang didengar oleh ayahnya Abu Burda dari ibn Umar.

Suatu hari ibn Umar melihat seorang pria dari Yaman yang sedang mengelilingi Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.

“Saya adalah unta rendahan untuk ibu saya,” gumam pria itu.

“Apakah saya sudah melunasi hutang budi saya kepada ibu saya dengan melakukannya?” tanyanya pada bin Umar.

“Tidak, tidak sedikit pun. Dengan apa yang kamu lakukan, kamu tidak dapat membalas rasa sakit yang diderita ibumu saat melahirkanmu,” jawab ibn Umar.


Seorang pria bertanya kepada Umar, khalifah kedua, yang terkenal karena keadilannya: “Saya memiliki seorang ibu yang tidak mampu merawat dirinya sendiri. Saya menggendongnya di punggung saya dan saya membantunya mengambil wudhu. Selama melakukan semua ini, saya tidak pernah mengeluh atau mencelanya. Apakah saya sudah melunasi hutang budi saya kepada ibu saya?

“Tidak,” jawab Umar.

“Saya sudah menjadikan diri saya seperti binatang pelana untuknya. Saya mendedikasikan diri untuk merawatnya. Bagaimana mungkin saya masih belum melunasi hutang saya kepada ibu saya?” tanya pria itu dengan heran.

Kemudian Umar membuat pernyataan yang luar biasa ini: “Ibumu telah melakukan semua itu untukmu. Saat itu, dia melakukannya agar Engkau hidup dan tumbuh dewasa. Tapi saat Engkau merawat ibumu sekarang, engkau sedang menunggu kematiannya.”


Kala itu, Umar melihat seorang laki-laki yang sedang mengelilingi Ka’bah dengan menggendong ibunya.

Sambil menggendong ibunya, dia berkata: “Saat ini saya menggendong ibu saya di punggung saya. Tapi sebenarnya, beliaulah yang menjadi seorang pengangkat (portir). Beliau sudah menyusui saya dan memberi saya makanan yang melimpah.”

Melihat peristiwa ini, Umar berkomentar: “Melihat pengorbanan pria ini, saya lebih menyadari bahwa ibu saya memiliki hak yang sangat banyak atas saya. Melakukan perbuatan seperti orang ini akan lebih baik bagi saya daripada memiliki unta merah (jenis unta yang paling berharga).”

Dengan berucap demikian, Umar sedang mengungkapkan kerinduannya. Dia menunjukkan bahwa Beliau akan bersemangat untuk menggendong ibunya di punggungnya jika dia masih hidup. Untuk membuat analogi, dia mengatakan dia lebih suka menggendong ibunya daripada memiliki kendaraan yang mewah.


Abu Nawfal meriwayatkan:

Suatu hari seorang pria mengunjungi Umar dan berkata bahwa dia telah melakukan pembunuhan.

“Kasihan. Sayang sekali. Apakah Engkau melakukan pembunuhan itu dengan sengaja atau tidak sengaja?” tanya Umar.

Ketika pria itu mengatakan bahwa itu adalah sebuah kecelakaan. Kemudian Umar bertanya apakah orang tuanya masih hidup. Pria itu menjawab bahwa ayahnya masih hidup. Dan Umar memberinya nasihat berikut: “Segeralah pergilah ke ayahmu, rawat dan layani dia. Lakukan semua yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan ridhanya.”

Kemudian, Umar berkomentar: “Demi Allah, jika ibunya masih hidup dan jika dia merawat dan melayaninya, ini akan menjadi harapan bahwa api Neraka tidak akan pernah menyiksanya.”


Abdullah bin Abbas pernah berkata, “Saya tidak pernah tahu, bahwa ada perbuatan yang lebih baik untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada bersikap baik kepada ibu dan mendapatkan ridhanya.”


Perbuatan baik terhadap orang tua layaknya sebuah gunung yang dapat membawa kita ke surga. Seorang mukmin harus berusaha keras untuk memenangkan hati orang tuanya, agar dia berhak akan surga dan dimudahkan dalam meraihnya. Jika mereka tidak berkenan dengan kita, semakin besar kemungkinan untuk tidak dapat meraih surga-Nya.

Sebenarnya, mendapatkan ridha orang tua sama dengan mendapatkan keridhaan Allah. Mematahkan hati mereka berarti menghina Allah SWT. Seorang anak yang menyakiti perasaan orang tuanya akan ditolak masuk surga.

Aishah, ibu semua kaum mukminin,  semoga rahmat Allah SWT terus tercurahkan kepadanya, mengisahkan: Dalam mimpinya, Nabi Yang Paling Mulia masuk surga dan mendengar seseorang membaca Al-Qur’an. “Siapa ini?” dia bertanya kepada orang-orang di surga. “Ini Haritha ibn an-Numan,” jawab mereka. Beliau adalah salah satu kaum Ansar yang telah berjuang di semua pertempuran termasuk Badar, Uhud, dan Khandaq. Beliau adalah Sahabat yang dihormati, yang dikenal karena kebajikannya. Nabi kita telah memberikan penjelasan tentang sebab Beliau berhak akan surga-Nya, meskipun dia memiliki begitu banyak keutamaan lainnya:

“Itu karena kebaikannya kepada orang tua.”

Setelah mengulangi kalimat ini selama tiga kali, Beliau menambahkan: “Haritha adalah yang paling baik terhadap seorang ibu.”

Ini adalah pelajaran dari Nabi, yang menggugah pikiran kita tentang bagaimana menemukan jalan menuju surga. Untuk mendapatkan kembali surga kita yang hilang, kita harus mengulurkan tangan kita kepada orang tua kita dengan kebaikan, dan kita sangat dekat dengan mereka sehingga mereka berkenan membawa kita ke surga.

mengembangkandiri.com-orang-tua

Membesarkan Hati Orang Tua

Dikabulkannya Doa Seorang Anak yang Membesarkan Hati Orang Tuanya

Ibnu Umar meriwayatkan:

Rasulullah bersabda, Ketika tiga pemuda sedang dalam perjalanan, hujan lebat turun dan mengharuskan mereka memasuki sebuah goa di sebuah gunung. 

Tiba-tiba sebuah batu besar  berguling dan menutup mulut gua. Mereka berdiskusi antara satu sama lain, “Marilah kita masing-masing memohon kepada Allah dengan mengingat amalan terbaik yang pernah kita lakukan (dengan harapan Allah akan menyingkirkan batu di mulut goa).” 

Pemuda pertama berkata, “Ya Allah! Orang tua saya sudah lanjut usia dan saya biasa pergi menggembala (hewan-hewan ternak saya). Sekembalinya menggembala, saya akan memerah susu (hewan ternak) dan membawa pulang susu itu dengan bejana untuk diminum oleh orang tua saya. Setelah mereka meminumnya, baru saya akan memberikannya kepada anak-anak, keluarga, dan istri saya. 

Suatu hari saya terlambat pulang, dan sesampainya di rumah, saya dapati orang tua saya sudah terlelap tidur, saya tidak mau membangunkan mereka. Disisi lain, anak-anak saya menangis mendekap kaki saya (karena kelaparan). Keadaan itu berlanjut sampai fajar menyingsing.  Ya Allah! Jika Engkau memandang amalan tersebut saya lakukan hanya demi ridha-Mu, maka tolong singkirkan batu ini agar kami dapat melihat langit.” Lalu, batu itu bergeser sedikit. 

Kemudian pemuda kedua berkata, “Ya Allah! Engkau tahu bahwa saya telah jatuh cinta dengan sepupu saya, cinta yang dalam seperti yang dimiliki seorang pria dewasa kepada seorang wanita, dan dia mengatakan kepada saya bahwa hasrat saya tidak akan bisa tercapai kecuali saya membawa seratus Dinar (kepingan emas). Kemudian, saya berjuang keras untuk itu, hingga saya berhasil mengumpulkan jumlah yang diinginkan, dan ketika saya sudah di antara di kedua kakinya, dia mengatakan kepada saya untuk takut kepada Allah, dan meminta saya untuk tidak merendahkannya kecuali dengan benar (menikah). Lalu, aku bangun dan meninggalkannya. Ya Allah! Jika Engkau memandang bahwa perbuatan yang saya lakukan hanya demi ridha-Mu, tolong geserkan batu ini.” kemudian, dua pertiga dari batu itu bergeser. 

Kemudian pemuda ketiga berkata, “Ya Allah! Tanpa ada keraguan, Engkau tahu bahwa saat itu saya mempekerjakan seorang pekerja dengan imbalan satu Faraq jewawut (1 Faraq setara dengan 3 Sha, jewawut adalah salah satu jenis makanan pokok), dan ketika saya ingin memberikannya, beliau menolak untuk mengambilnya, lalu saya menabur biji jewawutnya dan hasil panennya saya gunakan untuk membeli sapi dan membayar seorang penggembala. Setelah beberapa waktu, pria itu datang dan meminta uangnya kembali. Lalu saya katakan kepadanya: Lihat dan amatilah sapi-sapi dan penggembalanya itu, lalu ambillah itu karena itu semua adalah milikmu. Beliau heran dan menganggap saya sedang bercanda. Saya jelaskan kepadanya bahwa ini semua bukan sebuah lelucon, semua benar bahwa itu miliknya. Ya Allah! Jika Engkau memandang bahwa amalan yang saya lakukan adalah ikhlas demi ridha-Mu, maka tolong singkirkan batu itu.” Lalu, batu itu tersingkir sepenuhnya dari mulut gua.

Seperti yang dijelaskan dalam Hadits Nabi tersebut, bahwa ketiga pemuda yang tidak berdaya memohon kepada Allah dengan mengingat amalan baik nan tulus mereka, yang menjadi perantara atas mereka dan Allah dalam membuka jalan keluar dari permasalahan pelik mereka. Amalan-amalan dari masing-masing mereka merupakan teladan yang paling mulia dan berbudi luhur. 

Secara spesifik, jika kita memperhatikan amalan yang berkaitan dengan orang tua, kita melihat bahwa melayani orang tua dan menyenangkan hati mereka dapat menjadi jalan dalam membuka tabir misteri dikala dihadapkan dengan masalah tersulit. Allah menerima doa seorang hamba yang tidak pernah lalai dalam mengabdi kepada orang tuanya dan yang lebih mengutamakan mereka daripada anak-anaknya sendiri, dan karena itulah mereka terbebas dari goa.

Apa yang diperintahkan Rasulullah tentang Hak Orang Tua

Hadits Nabi berikut merupakan kisah penuh makna yang menunjukan bagaimana kepekaan Rasulullah dalam memenuhi hak-hak orang tua:

Seorang sahabat datang kepada Rasul Allah meminta izin untuk mengambil bagian dalam jihad. Nabi bertanya (walaupun mengetahui jawabannya), “Apakah orang tuamu masih hidup?” Ketika Sahabat menjawab, “Ya,” dia berkata, “Maka berjerih payah lah dirimu demi mereka (melayani mereka)”

Rasulullah mengetahui bahwa orang tua sang Sahabat masih hidup dan membutuhkan perawatan. Sang Sahabat ingin melaksanakan jihad demi mengagungkan dan menyebarkan pesan dan nama Allah SWT.

Namun, ada kemungkinan terbunuh atau terluka di medan perang. Jihad adalah cita-cita agung yang bertujuan berjuang untuk mengagungkan Nama Allah, cita-cita yang tidak ada cita-cita yang lebih besar dari itu.

Kepada orang-orang yang pernah bertanya, “Ya Rasulullah, amal apa yang setara dengan jihad di jalan Allah?” dia menjawab, “Kamu tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.” 

Pertanyaan itu diulang dua atau bahkan tiga kali, tetapi setiap kali Beliau menjawab, “Kamu tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.” Kemudian Beliau bersabda, “Orang yang berjihad (mujahid) di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, berdiri dalam shalat, membaca dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak menunjukkan kelelahan dalam puasa dan yang terus shalat hingga orang yang berjihad di jalan Allah kembali.”

Meskipun memulai perjuangan seperti itu tidak akan ada padanannya, Rasulullah, dengan mempertimbangkan situasi memprihatinkan orang tua yang sakit, memerintahkan sang sahabat yang meminta izin tadi untuk, “Maka berjerih payah lah dirimu demi mereka (melayani mereka)”

Dalam riwayat lain, Muslim, seorang Sahabat berkata, “Aku berjanji setia kepadamu untuk hijrah dan jihad, mencari pahala hanya dari Allah.” Rasul berkata, “Apakah salah satu dari orang tuamu masih hidup?” Ketika Sahabat berkata, “Ya, keduanya hidup,” Nabi berkata, “Apakah Engkau yakin, Engkau ingin mencari pahala dari Allah semata?” Setelah Sahabat berkata, “Ya,” Rasulullah berkata, “Kalau begitu kembalilah ke orang tuamu dan beri mereka perlakuan yang baik (karena keridhaan Allah ada disini).”

Dalam riwayat yang lain, seorang Sahabat berkata. “Saya pergi meninggalkan kedua orang tua saya dalam kondisi mereka berlinang air mata.” Rasulullah bersabda, “Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka riang gembira karena Engkau sudah membuat mereka menangis.” Jiwa yang malang, yang sudah meninggalkan orang tua mereka, harus kembali dengan lapang dada dan harus membahagiakan orang tuanya karena sudah membuatnya berlinang air mata. Mereka tidak boleh memasrahkan orang tua mereka ke suatu tempat yang hampa pelipur lara seperti panti jompo, dan mereka juga harus mendekap kedua orang tuanya, layaknya dahulu mereka sudah dibahagiakan dan dididik waktu kecil. Menjauhkan kedua orang tua mereka dari rasa perpisahan dan kerinduan, harapan orang tua adalah bisa bersama dengan anak-anak mereka, hidup dengan penuh cinta untuk cucu-cucu mereka, dan hidup dengan penuh kehangatan dalam suatu rumah yang mereka bisa terus berbagi berbagai hal. 

Rasulullah sudah bertanya kepada banyak Sahabat-sahabat yang meminta izin untuk ikut berjihad ataupun berhijrah, tentang apakah orang tua mereka masih hidup atau tidak, dan mempertimbangkan kebutuhan orang tua mereka, rasa kesepian dan kerinduan dalam jiwa mereka, usia dan kelemahan mereka. Alhasil, Beliau mengirim beberapa diantara mereka untuk kembali dan memenuhi kebutuhan orang tua mereka, dan memberikan beragam nasihat kepada beberapa yang lain. Seperti kepada Jahima, yang mendekati Beliau dan berucap, “Wahai Rasulullah! Saya juga berkeinginan untuk ikut berjihad dan saya mendatangimu untuk meminta pendapat tentang hal ini,” Beliau membalas bertanya, “Apakah kamu memiliki seorang Ibu?” Jahima menjawab, “Ya.” Rasulullah membalas, “Lalu tetaplah bersama Ibumu, karena surga ada dibawah telapak kakinya.”

mengembangkandiri-pemuda

Demi Pemuda

Bagi mereka yang ingin memprediksi masa depan sebuah bangsa, bisa dengan mudah dan akurat mengamati sistem pendidikan yang diajarkan ke generasi mudanya.


Nafsu layaknya manisan, dan kebaikan seperti makanan yang kadang sedikit asin bahkan masam. Jikalau pemuda diberikan pilihan, yang mana akan mereka lebih sukai? Karena itulah, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan mereka menjadi sahabat bagi kebaikan dan musuh dari kebiasaan buruk dan tak bermoral.


Sampai kita menyelamatkan generasi muda kita melalui pendidikan, mereka masih akan terus tertawan oleh lingkungan, nafsu serta kesenangan dunia. Mereka hanyut tanpa tujuan, terpengaruh oleh nafsu dan jauh dari ilmu dan akal budi. Sebenarnya, mereka mampu menjadi contoh sebagai pemuda yang gagah berani yang berprinsip dan berjiwa kebangsaan, namun, hanya jika pendidikan yang mereka tempuh mampu merawat potensi mereka dan mengembangkannya dengan cermat demi masa depan.


Bayangkan, semisal masyarakat sebagai sebuah cangkir terbuat dari kristal, dan generasi mudanya adalah cairan yang dituangkan kedalamnya. Perhatikan bahwa cairan mengikuti bentuk dan warna wadahnya. Namun disisi lain, apabila ada kelompok dengan pemikiran yang melenceng menjerumuskan para pemuda untuk patuh kepada mereka ketimbang kebenaran sejati. Apakah orang seperti mereka tak pernah bertanya ke dalam benaknya sendiri? Bukankah mereka seharusnya juga berada dalam jalan kebenaran?


Maju atau mundurnya sebuah bangsa tergantung pada semangat dan kesadaran pada bidang pendidikan yang diberikan kepada para generasi muda. Bangsa yang berhasil membangun generasi mudanya dengan baik, akan selalu siap untuk maju, sedangkan bangsa yang gagal dalam mendidik generasi mudanya, akan sadar bahwa mustahil untuk maju, bahkan mustahil hanya untuk mengambil satu langkah kedepan.


Hanya sedikit perhatian yang kita berikan tantang pentingnya nilai-nilai budaya dalam pendidikan, yang sebenarnya merupakan intisari dari pendidikan. Saat kita sudah sadar dan memberikan porsinya dengan tepat, kita akan meraih tujuan utama pendidikan.


Generasi muda adalah sumber tenaga, kekuakatan dan kecerdasan masa depan suatu bangsa. Jika dilatih dan dididik dengan tepat, mereka bisa menjadi “pahlawan”, yang menghadapi rintangan dan yang berpemikiran cemerlang sebagai cahaya bagi hati dan kedamaian dunia.