mengembangkandiri-akhlak-yang-baik

8 Sebab tentang Pentingnya Akhlak yang Baik

Mengapa Akhlak yang Baik Begitu Penting?

“Warisan terbaik yang ditinggalkan orang tua kepada anaknya adalah akhlak yang baik”[1]

Mengapa Akhlak Baik?

Tidak ada agama atau sistem lain yang lebih mementingkan akhlak yang baik selain Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah akhlak yang baik.”

Memiliki akhlak yang baik adalah bukti terbaik yang bisa ditunjukan oleh setiap orang bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Ada banyak hadits (kebiasaan) Nabi SAW yang mendorong perilaku yang baik.

Misalnya, “Yang paling sempurna imannya di antara orang-orang mukmin adalah yang berakhlak baik.”

Nabi SAW, yang menekankan pentingnya perilaku baik di atas iman, menyampaikan bahwa sarana untuk menjadi dekat dengannya adalah dengan berakhlak yang baik. Seperti yang tertuang dalam hadits berikut: “Pada Hari Pembalasan, orang yang paling saya sayangi dan paling dekat dengan saya adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang terbaik.”

Di dalam Al-Qur’an, ada banyak ayat yang mendorong akhlak yang baik seperti menepati janji, memaafkan, kerendahan hati, menaati orang tua, amanah, kasih sayang, persaudaraan, kedamaian, ketulusan, kedermawanan, kasih sayang, toleransi, berbicara dengan santun, menjadi orang yang ramah, dan hati yang bersih.

Selain itu, banyak juga ayat-ayat Al-Qur’an tentang menghindari akhlak tercela dan perilaku yang buruk seperti penindasan, kesombongan, kekejaman, keserakahan, keegoisan, kecemburuan, keangkuhan, permusuhan, kecurigaan, pemborosan dan membuat kerusakan, yang juga menandakan bahwa bagaimana sangat diperlukannya iman dan keislaman dalam mewujudkan perilaku dan akhlak yang baik.

Jadi mengapa kita harus berakhlak baik? Kita dapat membahas topik ini dalam beberapa uraian berikut:

  1. Selain ibadah, aqidah Islam sangat mementingkan hubungan sosial, dan tidak mungkin bagi mereka yang tidak memiliki akhlak yang baik untuk menjalankan agamanya dengan sempurna.
  2. Nabi Muhammad SAW merepresentasikan akhlak yang baik. Untuk menjadi penghuni surga, perlu dihiasi dengan akhlak yang baik. Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan bahwa Nabi yang mulia adalah suri tauladan yang paling baik bagi setiap orang beriman. Dalam ayat lain Al-Qur’an mengungkapkan, “Kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (al-Qalam 68:4). Satu-satunya cara seseorang dapat hidup seperti Rasulullah adalah dengan meniru akhlak dan perilakunya yang baik.
  3. Ketika seorang mukmin memiliki akhlak yang baik, ia dapat diangkat ke derajat orang-orang yang muqarrabun. Nabi mulia mendefinisikan hal ini dalam salah satu hadis dengan sabdanya berikut: “Dengan akhlaknya yang baik, seorang mukmin akan mencapai derajat orang yang shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari.” Ini tidak boleh disalahartikan. Ibadah sangat penting dalam hal menampilkan pengabdian kepada Allah. Tetapi di samping itu, seorang mukmin yang hidup dalam suatu masyarakat harus mematuhi perilaku yang diperlukan dalam hubungan antara orang-orang di dalam masyarakat itu. Ketika dia mencapai ini, atau dengan kata lain, ketika dia adalah orang yang berakhlak dan berperilaku baik, maka ibadahnya akan mencapai kesempurnaan.
  4. Memiliki akhlak yang baik adalah sarana yang dengannya seorang mukmin bisa masuk surga. Suatu ketika seorang laki-laki bertanya kepada Nabi yang mulia, tentang perbuatan apa yang paling banyak membawa manusia ke surga, dia menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik”, yang menandakan pentingnya akhlak yang baik diiringi dengan ibadah.
  5. Akhlak yang baik menandakan kesempurnaan dan kedewasaan dalam beragama dan beriman. Nabi yang mulia mengidentifikasi dua karakteristik yang tidak ditemukan pada seorang mukmin—ketamakan dan akhlak yang buruk. Sekali lagi, dia menegaskan bahwa yang terbaik di antara orang-orang beriman dalam hal iman adalah mereka yang berakhlak baik.
  6. Akhlak dan perilaku yang baik juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Dengan kata lain, memiliki akhlak yang baik adalah salah satu bentuk ibadah. Bahkan Nabi SAW mengatakan bahwa bentuk ibadah yang paling sederhana adalah menahan diri dari berbicara yang tidak perlu dan perilaku yang baik.
  7. Menampilkan akhlak yang baik adalah tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini secara jelas dijelaskan dalam hadis yang menyatakan bahwa orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada Hari Pembalasan adalah orang-orang yang berakhlak baik. Ketika Allah mencintai hamba-Nya, Dia memberinya akhlak yang baik.
  8. Akhlak yang baik menghilangkan dosa sebagaimana seperti matahari menghilangkan embun beku: akhlak yang baik mencairkan dosa seperti air mencairkan es. Nabi yang mulia menjelaskan bahwa akhlak yang buruk merusak perbuatan baik seperti halnya cuka merusak madu. Oleh karena itu, kita semua harus membaca doa Nabi SAW: “Ya Tuhan! Saya memohon kepadaMu atas kesehatan, menahan diri, amanah, akhlak yang baik dan ridha terhadap takdir. Wahai Yang Maha Penyayang! Saya memohon kepada-Mu dengan kebaikan dari kasih sayang-Mu.”

[1]Sunan at-Tirmidzi, Birr, 33.

kane-reinholdtsen-LETdkk7wHQk-unsplash

Etika dalam berbicara

Dalam pergaulan sehari-hari, etika berbicara itu penting, tidak boleh asal bicara. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, biasanya semakin tinggi pula etikanya dalam berbicara. Kelas pendidikan dan sosial sering menjadi faktor pembeda dalam berbicara.

Bahkan bahasa yang digunakan dan cara berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita akan berbeda dengan bahasa dan cara berbicara kepada teman sebaya, begitu juga dengan orang yang lebih tua dari kita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berbicara :

  1. Jangan gunakan nada bicara yang tinggi

Nada bicara yang tinggi biasanya mencerminkan emosi kemarahan. Lawan bicara akan merasa seperti di marahi atau dianggap mengalami kekurangan pendengaran. Cara ini akan mengurangi respon positif dari lawan bicara. Nada bicara yang normal dan jelas akan lebih enak didengarkan dan lebih berkenan di hati lawan bicara, terutama saat berbicara dengan guru di kelas dan orang yang lebih tua. Komunikasi akan lebih lancar dan apa yang disampaikan akan lebih di pahami.

  1. Berkata baik atau diam, gunakan kata yang halus (bahasa yang baik dan benar)

Berpikir sebelum berbicara akan lebih baik dari pada harus salah bicara karena tidak dipikir dulu. Dengan berpikir, kita akan menemukan kata yang lebih halus untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Kata yang lebih halus akan lebih enak didengar dan lebih mudah mendapatkan respon positif dari pendengar. Bahasa dapat menunjukan kualitas kepribadian dan latar belakang seseorang. Dan tentunya tidak boleh menggunakan kata-kata yang kasar, apalagi yang meninggung hati lawan bicara. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Terakhir jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna atau sia-sia. Sedikit Bicara Lebih Utama

  1. Jangan memotong pembicaraan

Komunikasi yang baik adalah 2 arah. Orang yang hanya banyak bicara dan tidak mau mendengarkan pembicaraan lawan bicara akan memunculkan pikiran tentang karakter egois pada diri kita. Berilah kesempatan pada lawan bicara untuk menyampaikan pertanyaan atau opini maka dia akan merasa lebih dihargai.

  1. Tatap mata lawan bicara

Yang dimaksud disini bukan memelototi tetapi menatap dengan tatapan wajar. Lawan bicara akan merasa tidak dihargai jika kita melengos memperhatikan hal lain dalam waktu cukup lama. Orang akan merasa tidak dihargai jika yang diajak bicara membagi fokusnya pada hal lain seperti gadget.

  1. Sebut nama mereka dengan awalan Pak atau Bu

Menyebut nama akan lebih sopan dan lebih enak di dengar dari pada menggunakan kata “kamu”. Berikan panggilan Bapak, Ibu, Mas, Mbak atau Abi yang diikuti namanya.

  1. Dilarang Membicarakan Setiap yang Didengar

Dunia kata di tengah umat manusia adalah dunia yang campur aduk. Seperti manusianya sendiri yang beragam dan campur aduk; shalih, fasik, munafik, musyrik dan kafir. Karena itu, kata-kata umat manusia tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk.

  1. Jangan Senang Berdebat Meski Benar

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah bahkan malah digalakkan. Ada debat calon presiden, debat calon gubernur dan seterusnya. Pada kasus-kasus tertentu, menjelaskan argumentasi untuk menerangkan kebenaran yang berdasarkan ilmu dan keyakinan memang diperlukan dan berguna.

Tetapi, berdebat yang didasari ketidaktahuan, ramalan, masalah ghaib atau dalam hal yang tidak berguna hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

  1. Dilarang Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digemari oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah lawak. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa

  1. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba

Ghibah adalah membicarakan orang lain di belakang orang yang kita bicarakan

gabriel-gheorghe-qTi4VCx-dh0-unsplash

Rasa Tanggung Jawab yang Ditunjukkan oleh Nabi dan Para Sahabatnya

Nabi kita yang mulia merasakan beban tanggung jawab begitu besar sehingga ketika Surat Hud diturunkan, jumlah rambut abu-abu di janggutnya bertambah sangat banyak. Mereka bertanya padanya:

“Wahai Rasulullah, akhir-akhir ini warna abu-abu di janggutmu bertambah sangat banyak.”
Beliau menjawab: “Surah Hud telah membuat saya tua.”
Sekali lagi, mereka bertanya: “Ayat yang mana, yaa utusan Allah?”

Beliau menjawab: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud 11:112).

Dalam setiap jenjang ajakannya beragama, Rasulullah SAW sebagai orang yang paling bertanggung jawab selalu menekankan pentingnya rasa tanggung jawab kepada orang yang dituju, karena, orang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu berperilaku lihai dan dengan cara yang tepat. Kadang-kadang, Nabi kita menyebutkan bahwa semua Muslim memiliki tanggung jawab dan kadang-kadang Beliau menunjuk pada kelompok tertentu ketika Beliau berbicara tentang tanggung jawab manusia. Ada juga saat-saat di mana Beliau mengingatkan seseorang akan tanggung jawabnya. Sekarang, mari kita berikan beberapa contoh sehubungan dengan topik ini.

Nabi kita menunjukkan bahwa setiap individu dalam masyarakat memiliki tanggung jawab dan Beliau tidak mengecualikan siapa pun: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”1

Dalam kaitannya dengan mengajak orang-orang kepada kebaikan, setiap Muslim bertanggung jawab akan hal tersebut. “Siapa yang melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya.”2 (Ketika mempraktikkan hadits ini, Muslim tidak boleh melanggar hukum negara tuan rumah mereka.)

Nabi kita sangat mementingkan pengetahuan, pembelajaran dan pengajaran. Beliau fokus pada tanggung jawab sebelum bertindak. Perhatiannya tentang tanggung jawab berlanjut juga selama latihan. Menurut Nabi yang mulia, ini adalah perkembangan yang tidak berakhir pada titik tertentu. Alasannya, masyarakat pada masa itu tidak memiliki struktur yang kokoh; selalu mengalami perubahan. Jumlah individu dalam komunitas terus meningkat, sehingga informasi penting perlu diulangi bagi mereka yang baru bergabung dengan komunitas tersebut.

Nabi kita memiliki banyak pernyataan yang menjelaskan berbagai aspek tanggung jawab. Jelas bahwa jika suatu gerakan didisiplinkan melalui rasa tanggung jawab, hal itu akan lebih menguntungkan. Sebaliknya, gerakan yang tidak didisiplinkan melalui rasa tanggung jawab akan melahirkan anarki dan kekacauan. Utusan Allah telah mengembangkan karakter orang-orang di sekitarnya melalui sentimen tanggung jawab dan mengubah mereka menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat. Sentimen tanggung jawab yang didakwahkan oleh Nabi yang mulia dapat dilihat dalam kehidupan dan perilaku para Sahabat.

Nabi kita biasa memberikan tanggung jawab kepada para sahabatnya dalam hal menyampaikan kebenaran. Salah satu Sahabat ini adalah Mus’ab ibn Umayr. Beliau adalah putra dari keluarga Mekah yang kaya. Mus’ab adalah seorang pemuda yang lembut, beradab, dan tampan. Beliau berpaling dari semua kekayaan yang dimiliki keluarganya untuk menjadi seorang Muslim. Setelah sumpah pertama di Aqaba, Nabi mengirim Mus’ab ke Madinah untuk mengajar Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka yang telah menerima kenabiannya. Di Madinah, Mus’ab tinggal di rumah Asad ibn Zurara.

Mus’ab, seorang pria yang bertanggung jawab yang mengerahkan semua usahanya untuk menjelaskan Islam dibimbing oleh Asad ibn Zurara yang membawanya ke para pemimpin Madinah. Banyak orang di Madinah telah memeluk Islam. Namun, hal ini perlu dilakukan dalam skala yang lebih besar sehingga pertemuan dengan pimpinan sangatlah penting. Itu penting untuk mendorong beberapa pemimpin terkemuka untuk memeluk Islam.

Sa’d ibn Muaz, pemimpin suku Aws belum menjadi Muslim dan beliau khawatir dengan penyebaran Islam di Madinah. Beliau mengirim Usayd ibn Khudayr, yang juga salah satu pemimpin sukunya, menemui Mus’ab sehingga Beliau bisa menghentikannya menyebarkan Islam. Beliau juga menambahkan, “Saya tahu apa yang harus saya lakukan dengannya, jika sepupu saya Asad ibn Zurara tidak terlibat.”

Usayd bergegas ke lokasi tempat Mus’ab berkumpul dengan sekelompok kecil orang. Usayd sangat marah ketika Beliau mendekati kelompok itu. Asad telah memperhatikan Usayd sedang mendekat dan dengan cepat menoleh ke Mus’ab dan menjelaskan bahwa Beliau adalah salah satu pemimpin suku mereka. Usayd berdiri di samping mereka dan berteriak, “Mengapa kamu datang ke sini! Anda menyesatkan beberapa orang kami yang lemah dan tidak tahu apa-apa. Jika Anda tidak ingin kehilangan nyawa Anda, pergi sekarang juga! “

Mus’ab menjawab, “Tunggu, datang dan duduklah sebentar. Dengarkan apa yang saya katakan. Jika Anda setuju dengan apa yang saya katakan maka Anda akan menerimanya; jika Anda tidak melakukannya maka Anda dapat melakukan apa yang Anda inginkan dengan saya. ” Ini adalah balasan yang baik dan ramah dari Mus’ab.

Usayd berkata, “Kamu telah mengatakan yang sebenarnya.” Beliau kemudian meletakkan tombaknya di tanah dan duduk di sebelahnya. Mus’ab menjelaskan Islam kepadanya dan kemudian membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an. Usayd tidak bisa menahan dirinya lagi saat Beliau berkata, “Kata-kata indah apa ini? Bagaimana seseorang memeluk agama ini?” Mus’ab dan Asad menjelaskan bahwa pertama-tama Beliau perlu mandi, berganti pakaian, dan kemudian mendaraskan kesaksian iman. Mereka juga menambahkan bahwa Beliau harus melaksanakan Sholat. Usayd mengikuti semua instruksi dan menjadi seorang Muslim. Kemudian, Beliau berdiri dan berkata, “Saya akan pergi sekarang dan mengirim seseorang yang penting bagi Anda. Jika orang ini memeluk Islam, tidak akan ada orang di wilayah kami yang menolak agama ini. “

Dengan cepat, Beliau kembali ke Sa’d ibn Muaz. Saya bertanya, “Apa yang telah Anda lakukan dengan mereka?” Beliau menjawab, “Saya melakukan apa yang perlu dan berbicara dengan mereka tetapi saya tidak melihat ada masalah dengan keduanya.” Sa’d berkata, “Penjelasan Anda tidak memuaskan.”

Sa’d menjadi sangat kesal saat memutuskan untuk memecahkan masalah tersebut sendiri. Beliau pergi dan dengan cepat menemukan Mus’ab dan Asad. Beliau berteriak dengan marah saat Beliau berdiri di dekat mereka, “Hai Asad! Jika kami tidak berhubungan, saya tidak akan menunjukkan toleransi apapun terhadap Anda, karena Anda telah membawa kekacauan pada orang-orang kami!”

Mendengar ini, Mus’ab menjawab dengan lembut, “Silakan duduk bersama kami sebentar. Dengarkan apa yang saya katakan. Jika Anda merasa kata-kata ini dapat diterima, terimalah. Jika Anda menemukan mereka menjijikkan maka kami akan berhenti menyampaikannya.”

Sa’d diyakinkan saat Beliau duduk dan mendengarkan. Mus’ab menjelaskan arti Islam dan membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an. Saat Beliau melafalkan syair tersebut, ekspresi Sa’d berubah dan tanda-tanda iman mulai terlihat di wajahnya. Tiba-tiba, Beliau berkata, “Apa yang kamu lakukan untuk masuk ke agama ini?” Mus’ab menjelaskan esensi Islam dan nilai-nilainya. Tanpa ragu Sa’d membacakan kesaksian iman dan memeluk Islam. Melalui sikap lembut Mus’ab dan pendekatan yang tulus, tidak ada rumah di Madinah di mana Islam belum masuk.3 Orang-orang yang mirip Mus’ab saat ini dapat belajar banyak dari kejadian-kejadian ini.

Semangat Tanggung Jawab Harus Selalu Tetap Hidup

Ketika orang mengucapkan kata-kata “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini”, sebuah dialog yang terjadi antara Sultan Sulaiman yang Agung dan Yahya Efendi, yang merupakan seorang Cendekiawan berpengarauh pada zaman itu, muncul di benaknya. Sultan dan Yahya Efendi adalah saudara sepersusuan. Yahya Efendi adalah individu suci yang doanya kuat.

Suatu hari, Sultan Sulaiman merenungkan masa depan Negara Utsmaniyah dan menulis surat kepada Yahya Efendi: “Saudaraku, kamu adalah seorang cendekiawan yang bijaksana. Berkati kami dengan pengetahuanmu dan beri tahu kami apa yang akan terjadi dengan putra-putra Utsman.”

Yahya Efendi membalas dengan pesan berikut: “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini, saudara?”

Sultan Suleyman tercengang dengan jawaban itu sehingga dengan cepat Beliau memutuskan untuk mengunjungi Yahya Efendi di penginapan darwisnya di Taman Yildiz. Beliau kecewa karena tidak ada jawaban yang diberikan atas pertanyaannya. Saat Sultan masuk, Beliau bertanya, “Saudaraku, Anda belum menjawab pertanyaan saya, apakah saya telah melakukan sesuatu yang salah?”

Yahya Efendi menjawab, “Saya telah menjawab pertanyaan Anda, namun saya terkejut Anda gagal untuk mengerti.”

“Apa maksudnya itu?” tanya Sultan Suleyman.

Yahya Efendi menjawab: “Saudaraku, dalam suatu bangsa, jika ketidakadilan dan tirani menyebar luas dan jika mereka yang melihat ini berkata “Mengapa saya harus repot dengan ini” dan tidak bertindak; jika seekor domba dimangsa oleh gembala bukan serigala dan jika mereka yang tahu tidak mengatakan apa-apa; jika jeritan orang miskin dan orang tak berdosa naik ke langit dan jika tidak ada yang mendengarnya, maka tunggu sampai matinya bangsamu. Harta karunmu akan dijarah dan tentaramu akan memberontak, inilah akhir zaman.”

Beruntung adalah mereka yang sadar akan kemanusiaan mereka dan memiliki perasaan tanggung jawab yang luhur. Mereka tidak pernah bisa berkata, “Mengapa saya harus repot-repot dengan ini.” Ketika mereka melihat luka berdarah, mereka tidak mengabaikan ini karena hati mereka terbakar oleh kesakitan. Mereka merasa malu di hadapan Allah dan hati nurani mereka merasakan tekanan spiritualitas Nabi sehingga mereka tidak meninggalkan tujuan suci yang dipercayakan kepada mereka. 4

  1. Sahih Bukhari, Jumua 11; Sahih Muslim, Imarat, 20; Sunan Abu Dawud, Haraj 1
  2. Sahih Muslim, Iman, 87
  3. Ibn Hisham, As Sirah, 1/275-277
  4. Akar, Mehmet, Mesel Ufku, Istanbul: Timas, 2008, p104
corina-ardeleanu-sWlxCweDzzs-unsplash

Kesabaran

Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk mentolerir setiap jenis masalah dan kesulitan, dan mampu menanggung situasi yang tidak menyenangkan tanpa terganggu. Orang yang mengalami musibah atau malapetaka dan mampu menanti hasil tanpa mengeluh dan mampu mengatasi hambatan yang muncul di hadapan mereka untuk mencapai hasil.

Manusia dikirim ke dunia ini sebagai ujian. selama masa ujian, kemampuan seseorang berkembang dan akibatnya, dia akan menjadi layak untuk mendapatkan Ridho Allah dan melihat keindahan suci dan tak terbatas. Sebagai suatu ujian di jalan ini, melampaui masalah dan kesulitan hanya dapat dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran adalah sifat baik yang akan membawa orang beriman ke cakrawala kebersamaan dengan Tuhan dan akan memungkinkannya untuk mendapatkan kabar baik dari Tuhan. Keberadaan kesetiaan orang beriman kepada Tuhan terkait dengan kesabaran. Kesetiaan tidak bisa dicapai tanpa ada kesabaran.

Tuhan memberi tahu kita bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengetahui mereka yang sabar dan yang tidak. Dia memberi kabar baik kepada orang-orang yang sabar, memberi tahu kami bahwa penerimaan dan ridho-Nya bersama dengan mereka yang memiliki kesabaran, dan Dia menyatakan bahwa Dia akan memberikan pahala yang tidak terbatas kepada hamba yang sabar.

Bersabar adalah menerima dengan senang hati segala kehendak Tuhan yang maha bijaksana serta maha pengasih di alam semesta yang merupakan milik-Nya. Ketidaksabaran adalah penolakan dan pemberontakan. Penting untuk menunjukkan kesabaran dengan kesulitan yang Tuhan kirimkan sebagai cobaan.

Kesabaran membutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan, resolusi, kekuatan kemauan dan tekad yang kuat. Kesabaran terletak pada fondasi dari setiap jenis kesuksesan material dan spiritual. Untuk alasan ini, kesabaran adalah kunci dari setiap jenis keselamatan.

Jenis Kesabaran

Bediuzzaman Said Nursi membagi kesabaran menjadi tiga jenis:

  1. Kesabaran melawan dosa: Seorang beriman menunjukkan kesabaran untuk melawan daya tarik provokatif dari setiap jenis dosa dan berusaha untuk tidak melakukan dosa.
  2. Sabar melawan malapetaka: Jenis kesabaran ini dibuat sebelum berbagai malapetaka materi dan spiritual dan bencana yang ditemuinya dalam kehidupan duniawi.
  3. Sabar dalam beribadah: Ibadah memberi beban yang nyata pada seseorang seperti shalat lima waktu setiap hari, berwudhu, dan berpuasa. Seorang mukmin juga harus menunjukkan kesabaran terhadap ini dan mendapatkan surga.

Fethullah Gulen menambahkan jenis kesabaran lain pada tiga kategori ini yaitu kesabaran terhadap keindahan dunia yang menarik ini. Ini adalah masalah yang sangat penting terutama bagi umat Islam saat ini. Standar hidup mereka telah meningkat pesat, dan rumah, mobil, rumah musim panas, retret musim dingin, dll. Sayangnya hal ini menjauhkan beberapa orang dari perasaan memikiran tentang kehidupan lain. Ini ditunjukkan dalam ayat ini, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (Al Imran 3:14). Ungkapan “Dijadikan indah pada (pandangan)” menekankan bahwa tidak mungkin orang tidak terpesona oleh hal-hal indah ini. Mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran yang sangat kuat sehingga membuat keyakinan terus menerus dikerjakan.

Sabar terhadap kemarahan zaman, kesabaran dalam bentuk ketidakpedulian terhadap perbedaan spiritual. Nyatanya, kesabaran untuk memaksa diri tetap berada di dunia penderitaan ini sekalipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar demi pelayanan di jalan Tuhan adalah jenis lain dari kesabaran.

Ada konsep dalam literatur kami yang dikenal dengan “kesabaran aktif”. Mari kita pikirkan seekor ayam betina yang bertelur. Melihat ayam betina dalam keadaan ini, kita berkata, “Hewan ini berbaring malas di atas telurnya.” Namun, selama tiga minggu ia mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa. Ayam betina berhati-hati dalam menjaga telur pada suhu tertentu; sementara dia membaliknya, ayam betina menunjukkan usaha maksimal untuk tidak menyakiti atau menghancurkannya. Jadi, dengan sikap yang sangat sensitif, hati-hati dan aktif ini, ayam ini menunjukkan contoh kesabaran yang aktif.

Contoh lain misalkan untuk membuat makan malam, seorang ibu menyiapkan sayuran, daging, minyak, bawang, rempah-rempah … apa pun yang ada, meletakkannya di atas kompor dan mulai menunggu makanannya matang. Kesabaran aktif adalah melanjutkan keinginannya setelah makanan diletakkan di atas kompor dengan berdoa agar tujuannya didapat saat dia menunggu.

Dalam contoh yang berbeda, dua orang berbicara, setuju dan menikah. Masa menunggu buah hati adalah masa aktif sabar. Pasangan itu tidak bisa berbuat banyak, tetapi mereka berdoa agar bayinya selamat dan sehat.

Singkatnya, seseorang menyajikan makanan yang sudah dimasak, memulai makan dengan bismillah, menyusui bayi yang baru lahir, merawatnya. Ini semua membutuhkan persiapan. Pada titik ini, individu bertanggung jawab untuk melanjutkan tugasnya dengan tekad dan kesabaran, dan dengan memeluk doa dan mengenakan pakaian kesalehan, untuk berdiri kokoh di tempatnya. Mungkin beberapa peristiwa akan terjadi, badai akan mengamuk dan gelombang akan naik. Namun, seorang mukmin akan berdiri kokoh bagaikan bintang kutub dan secara aktif menunggu badai berlalu.

Terjemahan: Wildan Abi

ijaz-rafi-zrlMJyijims-unsplash

Mengapa Kita Malu

Seorang ibu mengaku amat resah saat menyadari anak laki-lakinya yang telah beranjak SMA belum juga memiliki seorang pacar. Lalu sang ibu sibuk mengajari anak tersebut bagaimana agar segera bisa memiliki kekasih hati. Belum cukup dengan hal itu ibu dan ayah dari anak ini bahkan memberikan ‘iming-iming’ tambahan uang saku dan fasilitas kendaraan bila si buah hati berhasil mendapat pacar. Keadaan ini semakin diperparah dengan banyaknya film dan tayangan televisi yang mengarahkan generasi muda untuk mengikuti pola hidup hedonis. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan adanya pesta tidak senonoh yang diadakan sebelum dan sesudah UN dalam rangka pelepas kegembiraan para remaja tersebut. Lebih miris lagi saat perayaan hari kasih sayang atau valentine day lalu, beberapa anak usia SD mengirimkan tweet atau status FB yang mengumbar status bernada mesra pada ‘teman khususnya’ dengan bahasa yang masih belum pantas mereka gunakan.

Jika ditelusuri lebih jauh kita dapat melihat mata rantai yang hilang dari pendidikan agama anak-anak dan generasi muda saat ini, dan mungkin sudah sejak lama, yaitu rasa malu atau haya yang terlupa untuk diajarkan bahkan seringkali disalah artikan. Benar adanya bahwa betapa beruntungnya anak-anak di Indonesia yang bisa belajar mengaji dan shalat sejak usia mereka amat dini, sementara mungkin di belahan bumi yang lain ‘nikmat’ ini sulit untuk didapat. Namun sayangnya pelajaran agama yang didapatkan anak dari sejak mereka kecil tidak dibarengi dengan pemahaman moral dan iman yang benar-benar terpatri di hatinya, dan sesungguhnya salah satu cabang dari iman adalah malu. (HR.Muslim, al-Iman 57,58)

Konteks malu ini sendiri seringkali salah dipersepsikan oleh masyarakat. Seringkali masyarakat kita mengartikan malu sebagai perasaan tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang tidak baik atau karena memiliki kekurangan. Sehingga sejak kecil anak-anak telah diajarkan untuk ‘berani tampil’ dan tidak merasa malu. Padahal malu yang dalam bahasa Arab disebut al-haya, al-khajal atau al-hisymah diartikan sebagai menjauhi segala yang tidak diridhai Allah karena takut dan segan kepada-Nya. Ketika sikap ini berpadu dengan perasaan malu yang telah ada secara naluriah di dalam watak manusia, maka hal tersebut akan membentuk orang tersebut memiliki hubungan erat dan jalinan kuat yang sesuai dengan nilai-nilai adab dan kehormatan. Sementara menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, haya adalah sebuah tabiat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan dan mencegahnya dari meremehkan kebaikan.

Betapa kontras kedua pemaknaan malu ini sehingga para orang tua yang belum memahami esensi dan pentingnya rasa malu justru mendorong anak-anaknya dari sejak balita untuk justru mengurangi bahkan menghilangkan rasa malu yang sesungguhnya adalah fitrah manusia. Jika dalam sabdanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Malu hanya akan mendatangkan kebaikan” (HR.Bukhari, Adab: 77). Maka bisa kita bayangkan keburukan apa yang akan menimpa sebuah generasi yang terus ditekankan untuk tidak malu. Padahal perasaan yang pertama pada seorang manusia adalah haya atau rasa malu. Begitu pentingnya rasa malu ini hingga dalam hadis yang lain beliau mengingatkan kita : “Jika kau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Bukhari, Adab:78). Maka amatlah jelas terlihat bahwa perilaku sesuka hati yang terus menggejala semakin parah akhir-akhir ini adalah karena manusia seringkali telah amat kehilangan fitrahnya dalam menjaga malu yang sesungguhnya adalah akhlak seorang mukmin sejati.

Banyak perilaku sehari-hari yang sering kita anggap sepele namun perlahan-lahan telah mengikis fitrah malu yang ada pada diri kita. Dengan gampang kita memuji wanita lain di depan suami atau sebaliknya bangga saat ketampanan suami dikagumi oleh wanita lain adalah pintu malu yang seringkali lupa kita tutup. Bahkan maraknya media sosial berbasis internet telah membuat kita menjadi-jadi dalam sikap tanpa malu massal. Di masa ini orang dapat tahu pasti apa yang kita lakukan dengan suami, kemana kita pergi dengannya dan kegiatan pribadi lain yang seharusnya menjadi batas privasi kita dan keluarga lalu justru menjadi konsumsi publik hanya dengan melihat status dan foto yang kita unggah di internet. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata : “Janganlah seorang wanita memandang dan mengagumi wanita lain, lalu ia menceritakan sifat-sifatnya kepada suaminya seakan-akan suaminya sedang memandangnya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

chris-lejarazu-08wxrVv5rp8-unsplash

10 Cara Terbaik Berbakti Kepada Orangtua

Kita lahir ke dunia ini berkat siapa? Pastinya berkat orangtua kita. Kita dapat tumbuh hingga dewasa sampai sekarang berkat siapa? pastinya berkat orangtua. Jika kita adalah seorang anak yang sering diajarkan orangtua tentang berbuat baik, tentunya pasti orang yang paling harus diutamakan dalam mengamalkan kebaikan adalah kepada mereka berdua, ya mereka adalah ayah dan ibu kita. Jika kita mendurhakai orangtua maka pasti kita akan tahu adzab yang akan diberikan. Dalam ajaran islam, berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang paling utama. Dalam menempuh hidup di dunia ini, pastinya setiap orang ingin menjadi orang yang berhasil, di dunia maupun di akhirat nanti kelak.

  1. Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orangtua.

Jagalah setiap tutur kata kepada mereka berdua. Senantiasalah berkata secara lemah lembut tatkala berbicara dengan keduanya dan jauhilah berkata dengan nada tinggi, apalagi dengan kata-kata yang kasar. Kepada bos tempat kerja atau pimpinan saja berbicara dengan sopan santun, seharusnya ketika berbicara kepada orangtua lebih sopan lagi.

  1. Membantu Meringankan Pekerjaan Rumah.

Siapa yang tahu apa saja pekerjaan orangtua ketika di rumah? Untuk yang belum tahu, mulai dari urusan kebersihan rumah, kerapihan rumah, urusan perut, dan lainnya sebagai yang kalau disebutkan pastinya banyak. Apalagi seorang ibu yang hampir setiap hari tugas hariannya berada di rumah. Jika kita bertanya kepada ibu kita tentang aktivitasnya di rumah pasti dia akan bingung menjawabnya. Kenapa bingung? Karena pekerjaan di rumah sangatlah banyak. Apakah ibu kita akan mengeluh akan pekerjaannya yang banyak? Tentu tidak, tetapi dia akan sangat senang jika anaknya mau membantu dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahnya.

  1. Gampang-Gampang Di Suruh Membantu Orangtua.

Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain. Jika orangtua memerintahkan sesuatu kepada kita, yang mana perintah itu mudah untuk dikerjakan oleh kita, maka janganlah menolak atau menunda-nunda perintah tersebut jika memang kita tidak memiliki permasalahan atau urusan lain.

Dulu waktu kita masih kecil, kita meminta apa saja kepada orangtua (selama itu baik buat kita) pastinya orangtua tidak akan menolaknya begitu saja. Sekarang kita yang sudah menjadi dewasa ketika orangtua meminta sesuatu atau meminta tolong masihkah mau menolak?

  1. Senantiasa Bersikap Sabar dan Sopan Santun.

Tidak hanya sekedar lemah lembut dalam tutur kata, tetapi kelakuan kita haruslah juga sopan santun terhadap mereka. Semisalnya memjawab salam kepada mereka ketika mereka pulang dari suatu tempat, mencium tangan mereka jika hendak pergi ke suatu tempat dan lain-lain. Jauhilah sikap keterlaluan dan kurang ajar kepada mereka berdua.

  1. Perbanyak Interaksi dengan Orangtua.

Jika kita perlu teman untuk mengobrol maka mereka pun juga membutuhkan teman untuk mengobrol. Teman terbaik mereka ketika mengobrol adalah anak-anak mereka. Sempatkanlah untuk mereka berbicara ria, menanyakan tentang keadaan, dan lainnya.

Tidak harus menatap mukanya langsung, via telepon juga sudah cukup bagi mereka. Dengan mendengar suaramu yang jauh disana mereka sudah cukup merasa senang.

  1. Menjaga Silaturrahmi dengan Orangtua Ketika Sudah Dewasa.

Dengan kedatanganmu ke rumah orangtua, kapanpun dan dimanapun itu merupakan sebuah hadiah yang terbaik bagi mereka, apalagi dengan membawa kesuksesan dan prestasi tentunya kesenangan orangtua akan bertambah. Ketika sudah mulai dewasa maka jangan pernah tinggalkan orangtua begitu saja. Mereka akan merasakan rindu yang sangat jika tidak bertemu dengan anaknya dengan kurun waktu yang lama.

  1. Mendoakan Mereka Di Setiap Ibadah.

Sudahkah kita mendoakan orangtua hari ini? Jika belum maka doakanlah mereka yang sudah mendoakan di setiap malam katika kita sedang tertidur pulas di atas kasur.

  1. Tidak menyia-nyiakan Kerja Keras Orangtua.

Namun apa daya masih banyak anak yang maih membolos ke sekolah, menghambur-hamburkan uang, malas belajar, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya sebagai anak untuk tidak menyia-nyiakan itu semua dengan begitu saja. Orangtua akan senang jika usaha mereka dalam mencari nafkah tidak sia-sia berkat prestasi dan kesuksesanmu. Sudah sering kita temui anak yang tidak menghargai perjuangan orangtuanya dalam mencari nafkah dan menafkahi anak mereka, menyekolahkan, memberikan makan dan pakaian.

  1. Berilah Hadiah Terbaik Untuk Mereka.

Orangtua kita sudah memberikan banyak untuk kita, sekarang apa yang dapat kita berikan kepada mereka, carilah yang terbaik untuk mereka. Memberi hadiah bisa berbagai macam, bisa dalam berbentuk barang bisa juga dalam bentuk sebuah yang tidak berbentuk, misalkan prestasi atau kesuksesan ketika sudah dewasa. Hadiah itu tidak harus mahal ataupun susah, cukuplah orangtua itu bangga kepadamu maka itu merupakan sebuah hadiah.

  1. Bersikap Sabar Dalam Merawat Orangtua.

Ini dipicu oleh kondisi kesehatan yang mulai sudah tidak prima, terkadang semakin rentanya seseorang maka ia akan menjadi lebih sensitiv dan cepat marah. Dalam masa-masa ini kita harus menyikapi dengan sabar dan berusaha untuk menahan diri. Layaknya orangtua kita yang bersabar dalam membesarkan kita ketika kita masih kecil, mereka pun sabar dalam menghadapi kebandelan anak mereka.

Dengan mendengar dan melihatnya langsung kita dapat berpikir bahwa orangtua kita semakin lama semakin bertambah usia mereka, mereka akan kembali lagi ke masa yang mana akan rewel kembali, seperti anak kecil.

Mungkin dari ini semua marilah kita untuk tidak lupa akan jasa-jasa mereka dalam menghidupi kita, memberi semangat kita ketika sedang berjuang, mendoakan kita setiap malam, dan yan paling terpenting ialah tidak mungkin kita bisa hidup di dunia ini tanpa ada mereka berdua, ayah dan ibu.