mengembangkandiri.com (9)

GHURABA

Akhir-akhir ini, telah banyak terjadi berbagai macam fitnah dan cobaan yang berdatangan silih berganti. Munculnya kebatilan di setiap tempat yang menyebabkan berbagai kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Banyaknya manusia yang menuruti hawa nafsu dan syahwatnya sampai mereka dikalahkan, diperbudak, bahkan berada di bawah kendali dan perintah hawa nafsunya. Terlebih banyaknya manusia yang malas dan lalai dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan sehingga menjauhkan diri mereka dari Sang Maha Pencipta. Akan tetapi sesungguhnya Allahﷻ berkuasa atas segala sesuatu dan kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Dari Anas bin Malik, Rasulullahﷺ bersabda; “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Sesungguhnya diantara mereka ada sebuah kelompok yang Allahﷻ memilih mereka dan mensucikan mereka. Mereka dijaga dari berbagai macam fitnah manakala mereka senantiasa menjaga dan melaksanakan ketaatan atas perintah-perintah Allahﷻ kepadanya. Merekalah yang dinamakan Ghuraba.

Siapakah Ghuraba itu? diantara pendapat para ulama tentang Ghuraba, ada dua pendapat yang paling kuat, yaitu: (الذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ) “orang-orang yang berbuat kebajikan dan senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak”. (أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ فِيْ أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُ) “orang-orang saleh diantara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada yang mentaatinya”. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Ghuraba adalah orang yang berpegang teguh pada ajaran islam yang murni,  di saat kondisi zaman yang semakin parah, mereka adalah sekelompok manusia yang tetap tegak, kokoh diatas kebenaran, istiqomah dengan ajaran al-Haq, menjaga ajaran Islam yang mulia.

Rasulullahﷺ bersabda,“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuroba)”. Sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya rasulallah?. Rasulullah bersabda: “Mereka adalah orang yang senantiasa memperbaiki keadaan manakala manusia telah rusak” (HR. Ahmad).

Berkata Auza’i rahimahullah, “Islam dimulai dengan keadaan asing dan Islam akan kembali asing sebagaimana dia datang”. Kemudian beliau melanjutkan “Bukan Islam yang pergi, tapi yang pergi adalah para ahlussunnah sampai-sampai tidak tersisa dari mereka kecuali satu orang saja”. Yunus Abu ubaid berkata: “Bukanlah sunnah yang asing, melainkan yang asing adalah orang yang mengetahuinya, mengikutinya dan mengamalkannya”.

Rasulullahﷺ mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang  yang memperbaiki keadaan, artinya bukan hanya orang yang saleh untuk dirinya sendiri saja. Karena orang yang saleh hanya untuk dirinya sendiri tidaklah cukup. Sedangkan salah satu dari sifat Ghuraba adalah mereka yang suka berdakwah dan memperbaiki, mereka yang mensalehkan diri mereka sendiri sekaligus meningkatkan kesalehan masyarakatnya, mereka ikut menanggung derita dari orang lain, mereka bukanlah orang yang apatis yang hanya peduli pada diri mereka sendiri, akan tetapi berusaha untuk melayani dan mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, mereka bukan orang yang gampang berputus asa dan menyerah dengan keadaan yang telah rusak. Mereka bisa saja duduk manis sambil menyeruput secangkir kopi dengan tenang di pagi hari, menikmati hasil usahanya sendiri, hidup bahagia dengan keluarganya tanpa perlu memperdulikan keadaan sekitarnya. Tapi Ghuraba berbeda, justru mereka adalah orang yang selalu berada di garda terdepan dalam urusan umat, mereka tidak bisa tinggal diam manakala terjadinya kemungkaran, mereka selalu berusaha memberikan solusi terbaik untuk perkembangan umat, bahkan kepala mereka sampai panas dan berdenyut karena memikirkan tanggung jawab dan beban umat yang begitu banyak, tidur pun hanya 3-4 jam saja selebihnya mereka gunakan untuk berkhidmah untuk agama ini. Mereka rela meninggalkan kampung halaman yang dimana tempat mereka dibesarkan, meninggalkan sanak kerabat dan saudara mereka menuju suatu negeri hanya untuk meninggikan kalimat Allahﷻ yang mulia. Karena sedikitnya mereka di antara manusia, maka mereka disebut dengan Ghuraba atau orang yang asing.

Ibnu Rajab mengatakan: “Ghuraba terbagi menjadi 2 golongan. Pertama, mereka yang memperbaiki diri ketika manusia telah rusak dan inilah kedudukan paling bawah. Kedua, adalah mereka yang berusaha berdakwah dan memperbaiki keadaan yang telah rusak oleh perbuatan manusia dan inilah yang paling tinggi dan yang paling utama.

Seorang pebisnis yang ingin menempuh cara yang halal dan tidak berbuat curang akan terasa asing di tengah-tengah pebisnis lainnya yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan. Karena dia mengetahui bahwa Islam menuntut untuk mencari rezeki dengan cara yang halal dan jujur tanpa berbuat kecurangan karena itulah yang mendatangkan keberkahan.

Seorang pemuda yang mulai istiqomah senantiasa menjaga ibadahnya, salat, sedekah, puasa dan perintah-perintah syariat agamanya, maka dia adalah orang asing di kalangan teman-temannya yang lalai dan mengabaikan perintah agamanya.

Seorang yang bersusah payah membuka matanya di waktu sepertiga malam terakhir, bangkit dari tempat tidurnya yang hangat di musim dingin kemudian membersihkan diri serta mengambil air wudhu dan berdiri dihadapan Tuhan semesta Alam adalah orang yang asing di kalangan orang yang nyaman terlelap dalam buaian tidurnya.

Mereka adalah keluarganya Allahﷻ yang sebenar-benarnya dan pada dasarnya mereka tidaklah asing. Janganlah mengira para Ghuraba itu berada dalam kesusahan dan kepayahan. Justru mereka adalah orang yang paling bahagia. Sebagaimana sabda Nabi “Beruntunglah para Ghuraba”. Merekalah orang yang paling bahagia didunia dan mereka mempunyai derajat yang sangat tinggi di akhirat setelah para Nabi.

إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“Sesungguhnya Islam itu muncul dalam keadaan asing dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah Ghuraba’ (orang-orang yang terasing), yaitu orang orang yang memperbaiki sunnahku di saat manusia merusak sunnah-sunnahku” (HR. At-Tirmidzi).

Perlu diketahui bahwa, hadits-hadits yang berkaitan dengan Ghuraba bukanlah berarti penyusutan atau kemunduran Islam dan seakan-akan tidak ada harapan kejayaan Islam kembali. Inilah yang kebanyakan orang memahaminya dari golongan orang-orang yang berputus asa. Ini adalah pendapat yang keliru karena Jika Islam dimulai dalam keadaan asing, maka dengan izin Allahﷻ, dia akan kembali dengan kekuatan sebagaimana yang didapat pada generasi Islam yang pertama. Dan inilah yang benar dalam memahami masalah ini karena banyak dalil yang memperkuatnya baik di dalam ayat Al-Qu’ran maupun hadits.

Allahﷻ berfirman yang artinya “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. “Sesungguhnya Allahﷻ Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (Al-Mujadalah : 21).

Semoga Allahﷻ senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, melimpahkan limpahan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua agar kita menjadi generasi yang senantiasa meningkatkan kesalehan diri kita, keluarga kita dan membantu meningkatkan kesalehan di masyarakat kita. Hanya Allahﷻ yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

wallahu Ta’ala A’lam.

mengembangkandiri.com-

SIFAT-SIFAT INSAN BERKUALITAS

Tanya: Jalan seperti apa yang harus kita tempuh agar sifat-sifat baik menjadi bagian dalam fitrah kita? [1]

Jawab: Baik untuk mendapatkan akhlak mulia ataupun pada kekhususannya dalam kehidupan ibadah kita, menjadi insan yang sungguh-sungguh dan berwibawa, bersikap hati-hati dan memiliki rasa kepuasan batin serta menjadikan sifat-sifat ini sebagai sebuah dimensi dalam fitrah kita, merupakan suatu keharusan untuk menyatukannya dengan jati diri kita. Bagaimanapun, meraih hal ini dan mencapai derajat tertentu serta mempertahankannya setelah menggapai tingkatan tersebut adalah suatu hal yang sangat sulit.

Untuk menunjukkan jalannya kepada kita, Rasulullah shallallāhu alaihi wasallam memberi arahan agar karakter-karakter tersebut menjadi bagian dari fitrah kita dengan sabda Beliau: “Sungguh Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kalian membacanya, menangislah. Jika kalian tidak dapat menangis, maka berusaha keraslah untuk menangis.” (HR. Ibnu Majah, Iqamah/176; Zuhud/19).

Dengan kata lain, bacalah Al-Qur’an dengan kalbu yang tenteram dan jiwa yang tenang. Berangkat dari kesimpulan ini, kita dapat mengambil langkah-langkah rekaan dahulu sebagai usaha untuk mencapai sifat yang disebutkan dalam hadis tersebut. Hanya saja pembahasan seperti ini dapat dikritik oleh orang-orang yang tidak memahami kedalaman permasalahan ini. Akan tetapi, ketika sedang berada di jalan untuk mencapai-Nya, Anda tidak boleh terpaku pada hal-hal seperti ini.

Mari kita membuka subjek pembahasan sedikit lebih dalam dengan memberikan beberapa permisalan dalam hal akhlak mulia yang sedang kita bahas ini. Saya rasa, sikap sedikit berbicara merupakan hal terdepan dalam pembahasan mengenai prinsip-prinsip terkait akhlak mulia. Berdasarkan Sabda Rasulullah, mereka yang banyak berbicara akan membuat banyak kesalahan.[2] Kesalahan-kesalahan yang banyak itu tanpa disadari dapat mengantarkan manusia masuk ke dalam neraka. Oleh karena itu, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbicara jika tidak ada yang mengajukan pertanyaan kepada Beliau atau jika tidak ada maslahat yang ingin disampaikan. Para sahabat yang senantiasa mengambil teladan dari Beliau pun selalu bertindak dengan cara yang sama.

Misalnya, dikatakan bahwa pahlawan kesetiaan, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, memasukkan sebuah batu kecil ke dalam mulutnya agar tidak terlalu sering membicarakan hal yang tak penting. Jika akan berbicara, maka beliau akan mengeluarkan batu itu. Namun, setelah selesai berbicara beliau akan meletakkan kembali kerikil itu ke dalam mulutnya. Meskipun saya belum pernah menemukan riwayat ini dalam kitab-kitab sahih, tetapi saya tidak merasa aneh dengan adanya periwayatan semacam ini, bahkan jika cerita ini tidak benar. Ya, orang yang sangat berhati-hati seperti beliau sangat mungkin melakukan hal seperti itu untuk menempatkan dirinya dalam keseriusan dan kedisiplinan. Bisa jadi kisah ini memiliki dasar dari sumber-sumber sahih di mana selepas hijrah, selama Sayyidina Abu Bakar berada di samping Baginda Nabi shallallāhu alaihi wasallam, jumlah kata yang pernah beliau (Sayyidina Abu Bakar) utarakan hanya berkisar beberapa ratus kata saja.

Saat seseorang menjelaskan sesuatu tentang kehidupan kalbu, spiritual, dan intelektualnya, serta penjelasannya tersebut berhasil membuka wawasan cakrawala lawan bicaranya, maka itu artinya pembicaraannya tersebut memiliki manfaat. Kalau tidak, semua pembicaraannya dapat dipertimbangkan sebagai israf-u kalam atau perkataan yang sia-sia belaka. Mohon maaf, sebagaimana  agama ini memerintahkan kita untuk tidak menyia-nyiakan air meskipun seseorang itu mengambil wudu di sungai yang mengalir sekalipun, maka Ia pun takkan mungkin mengizinkan kata dalam pembicaraan yang jauh lebih bernilai daripada penggunaan air secara sia-sia! Jika demikian, melakukan pembicaraan tak bermakna dan sia-sia dapat kita pandang sebagai perbuatan yang perlu dihindari. Pembicaraan kosong semisal: “Tadi kami naik taksi dari sini; Kemudian kami pergi ke kota Bekasi. Lalu dari sana kami ke kota Bogor. Ketika di Bogor, ada sebuah truk lewat… dst”, tentu saja melakukan pembicaraan yang tidak memiliki pesan dan kedalaman informasi seperti ini pastilah tidak disarankan. Jika demikian, sebagaimana kita harus penuh perhitungan atau berhemat dalam makanan, pakaian, maupun berpenampilan, maka demikian pula dalam berbicara, seharusnya ia juga diucapkan dengan penuh perhitungan. Misalnya tema atau pokok bahasan ini, kira-kira dapat dijelaskan dalam berapa kata; bagaimana cara penyampaian pembicaraannya, hal seperti ini juga harus diperhitungkan. Seperti inilah seharusnya suatu topik dibicarakan, agar jangan sampai terjadi israf-u kalam (pembicaraan yang sia-sia) dan israf-u zaman (pemborosan waktu).

Sebagaimana para waliyullah ketika menyampaikan tiga prinsip “Qillat’ul kalām (sedikit bicara), Qillat’ul taam (sedikit makan), dan Qillat’ul nāam (sedikit tidur)” yang merupakan prinsip penting bagi kehidupan dunia dan akhirat seorang manusia, mereka juga menjadikannya sebagai prinsip hidup.[3]

Demikianlah, setiap kata akan ditimbang & disaring; setiap kalimat yang keluar dari lisan akan dipertimbangkan; karena berbicara adalah bagian dari akhlak. Agar manusia berhasil meraih akhlak ini dan menjadikannya sebagai bagian dari fitrahnya sungguh membutuhkan banyak waktu dan usaha.

Seperti halnya itu, hidup zuhud yang memiliki makna meninggalkan kesenangan duniawi dan menentang kecondongan jasmani adalah juga sebuah akhlak yang sangat penting. Kerangka umum zuhud yang memiliki tempat sangat penting dalam dunia tasawuf, di mana ia menjadi salah satu cabang penting dalam pemikiran tasawuf, jauh sebelum itu ia telah muncul dengan jelas sebagai jiwa dan spirit dalam personalitas Sang Nabi. Jika kita menggunakan pendekatan Ustaz Said Nursi pada pembahasan ini, maka beliau menyampaikan: “Dünyayı kesben değil, kalben terk etme” yang bermakna: “Tinggalkan dunia bukan dengan tak melakukan apa-apa, tapi tinggalkan ia dari segi tautannya dengan kalbu”. Pernyataan ini memiliki makna tidak memberi perhatian kepada dunia dan segala isinya; menjalankan zuhud dengan orientasi akhirat tanpa memiliki harapan duniawi serta tidak meninggalkan apapun setelah kepergiannya. Sifat ini adalah sebuah karakter yang harus dimiliki dan tak bisa diabaikan oleh seorang mukmin, apalagi oleh para ksatria hizmet (jalan khidmah) yang telah menyerahkan hatinya kepada dakwah suci ini.

Pada awalnya, bersikap menjauhi harta benda, pangkat jabatan, ketenaran dan lain-lain seperti ini, serta segala sisi duniawi lainnya bisa jadi sangatlah sulit. Akan tetapi, ketika ia dimulai perlahan-lahan dari hal paling sederhana, lalu terus berlanjut hingga akhirnya akan sampai pada suatu hari di mana sikap ini telah menjadi keharusan tak terpisahkan dari diri seorang manusia. Seperti halnya seseorang yang mampu berkata, “Hari ini aku memiliki satu stel pakaian, aku tidak perlu memiliki satu stel pakaian lainnya”. Kalau tidak, besok nafsu kita akan meminta yang ketiga, lalu yang keempat, hingga akhirnya pemikiran ini dapat melilit kehidupan kita. Demikianlah, dengan cara selangkah demi selangkah pada akhirnya kita mampu mempraktikkan akhlak Sang Nabi, yaitu zuhud, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan.

Setelah dua contoh akhlak mulia ini, selanjutnya adalah bersikap sungguh-sungguh (serius), menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, tidak bersikap sombong, dan sifat-sifat serupa lainnya yang bisa disebutkan.

Adapun ketika sampai pada masalah ibadah; salat misalnya. Maka salatlah tepat pada waktunya. Tegakkan salat dengan penuh penghayatan, seakan sedang menyerap sedikit demi sedikit intisarinya, hal ini pun membutuhkan latihan atau pembiasaan. Dengan kata lain, menunaikan salat tidak dengan pemikiran untuk sekedar melepaskan beban di pundak lalu dikerjakan tanpa gairah. Sebaliknya, tegakkanlah salat seakan Anda sedang mengetuk pintu ijabah Ilahi dengan penuh rasa cinta dan semangat. Tentu saja hal ini bukanlah sebuah level puncak yang dapat diraih seketika. Akan tetapi, manusia dapat meraihnya dengan mencobanya selangkah demi selangkah, kemudian menjadikannya sebagai bagian dari fitrah dirinya; atau lebih tepatnya ia harus benar-benar mengusahakan karakter tersebut untuk berhasil dimiliki.

Sebagai kesimpulan, meski manusia memiliki nafsu dan syahwat ketika menjalani kehidupan, tetapi ia harus menjalaninya dengan jalan memenuhi hak dari potensi iradatnya. Untuk itu, sifat atau karakter-karakter yang meneguhkan manusia menjadi sebenar-benar manusia harus betul-betul dipraktikkan dan dijadikan sebagai bagian dari kehidupannya di bawah bimbingan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah.

[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/seviyeli-insanin-vasiflari

[2] “Barangsiapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka lebih pantas masuk neraka” (HR Thabrani) 

[3] Abu Ishaq Al Khowwash berkata: إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur. [HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48]

mengembangkandiri.com

JALAN AGAR ANUGERAH ILAHI TERUS BERLANJUT

Tanya: Sebagaimana yang sering disampaikan, kita telah mendapatkan banyak sekali anugerah ilahi jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dalam  perjalanan sejarah sebelumnya. Apa tugas kita sebagai individu dan masyarakat agar anugerah ini terus berlanjut?[1]

Jawab: Kita sering menyebut rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita sebagai bentuk “syukur atas nikmat” tersebut… Bahkan kita harus selalu menyebutnya. Bagaimana mungkin kita tidak mengingat-Nya, sementara kita adalah manusia yang hidup pada masa kekeringan, di mana tanah-tanah retak dan kering secara maknawi, bersimpuh merindukan turunnya setetes hujan. Sejak saat itu, berkat inayat dan anugerah Allah, kita bisa sampai pada hari ini. Memperoleh inayat dan anugerah Allah adalah suatu hal, akan tetapi menjaga keberlanjutannya juga sesuatu yang tidak kalah pentingnya.

Menurut pendapat kami, hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga keberlanjutan nikmat adalah dengan mempertahankan keistikamahan di jalan ini tanpa mundur satu langkah pun. Misalnya saat menyetel radio, pertama kita mencari saluran yang kita inginkan. Kemudian kita tetap berada pada saluran yang sudah kita tentukan tersebut dan tidak lagi memindahkan jarumnya ke saluran lain. Mungkin, kita hanya akan memindahkan jarum itu sedikit ke kiri atau kanan pada saluran tersebut, untuk mencoba menangkap gelombang yang paling jelas. Sama halnya dengan ini, maka kita harus menjaga sifat dan perilaku yang menjadi wasilah datangnya nikmat-nikmat tersebut, seperti: keprihatinan, doa dan aksi nyata, serta meningkatkan hal-hal khusus tersebut yang merupakan langkah awal bagi keberlanjutan datangnya rahmat dan karunia Allah.

Poin lainnya, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang paling ikhlas, paling bertakwa, paling zuhud, dan paling saleh dalam pekerjaan yang kita jalani. Dan tentunya dengan niat untuk selalu berusaha istikamah melakukannya seumur hidup. Sebaliknya, jika hal ini tidak kita lakukan maka ketika semangat jiwa untuk melakukan aksi nyata itu lenyap. Berbagai rintangan seperti yang dijelaskan pada artikel enam serangan[2] mutlak akan mengepung kita. Pada saat itu, kita dapat jatuh pada salah satu jerat rintangan-rintangan seperti misalnya virus ini dan tenggelam pada lingkaran keburukan yang tak berujung pangkal serta saling berhubungan erat satu sama lain itu. Dikarenakan adanya jaringan komunikasi yang begitu canggih di antara virus-virus mematikan ini, maka ketika salah satu virus berhasil menghancurkan pertahanan tubuh kita, seketika ia akan langsung mengirim sinyal “Ayo kalian ikutlah masuk”, pada virus lainnya. Sehingga, virus-virus ini seolah saling berkirim telegram satu sama lain untuk membangun kontak spiritual dan membentuk sebuah lingkaran keburukan yang penuh dengan kesia-siaan untuk mulai menghancurkan tubuh yang mereka masuki.

Jika kita menelaahnya lebih lanjut, virus rasa takut yang memasuki tubuh seseorang dapat mengundang datangnya virus narsistik. Ketika ketahanan tubuh mulai berkurang lagi, virus ketenaran yang menerima sinyal pun dapat masuk juga ke dalam tubuh… Pada akhirnya, tubuh sudah tak mampu lagi dipulihkan, semoga Allah menurunkan inayat-Nya..! Ya, tanpa anugerah dan inayat-Nya, mustahil bagi orang itu untuk bisa berdiri tegak kembali.

Kalau begitu, ketika di satu sisi kita berusaha mempertahankan limpahan anugerah yang diberikan Allah, maka di sisi lain, kita harus berusaha menaikkan derajat di hadapan Allah, dengan berkata ‘hal min mazid?’[3] agar berbagai rintangan tadi tidak menghampiri kita.

Ya, Setiap anugerah perlu disyukuri sesuai dengan jenisnya masing-masing. Seandainya Allah telah menganugerahkan kesadaran membangun iman bagi kita dan pada saat yang sama juga anugerah untuk menuntun iman bagi orang lain, bahkan jika Ia sering mengingatkan kita bahwa ini adalah tujuan hidup kita, maka anugerah ini juga akan meminta bentuk syukur dari jenisnya sendiri. Ya, inilah syukur dan keberlanjutan dari rasa syukur itu sendirilah yang akan menjadi sebab datangnya keberlanjutan anugerah-Nya pula. Allah azza wa jalla berfirman “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Q.S. Ibrahim, 14/7). Coba perhatikan bahwa pada ayat ini Allah tidak berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Aku akan menambah keingkaranmu”. Akan tetapi Allah berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, pada ayat ini diisyaratkan bahwa di satu sisi Allah mengundang kita ke jalan yang lurus, dan di sisi lain Dia menunjukkan cara untuk menjauhkan diri dari siksaan serta bagaimana cara memperoleh limpahan anugerah. Ya, layak bagi kita untuk membalas nikmat berupa kesadaran membangun iman melalui mensyukurinya dengan menjadi sebab hidayah iman bagi orang lain serta menanti limpahan hadirnya nikmat-nikmat baru lainnya. Insya Allah berkat hal ini keimanan kita akan bertambah dan membuat kita merasakan kedekatan yang lebih dengan Rabb kita… Ketika Ustaz Said Nursi menafsirkan ayat: “Mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. Al-Baqarah, 2/3) beliau melakukan pendekatan secara umum dan menjelaskan bahwa: “Sebagaimana harta ada zakatnya, maka badan, ilmu, kemampuan menghafal, kemampuan mengambil keputusan, bahkan kemampuan beretorika pun ada zakatnya.” Segala sesuatu perlu diberikan haknya. Dengan demikian untuk keberlanjutan anugerah yang telah Allah berikan, adalah penting dan wajib bagi kita untuk bersyukur dengan syukur yang sesuai jenisnya.

Dalam hal ini, sebuah metode lain yang perlu untuk diikuti adalah; memastikan kontrol internal dengan jalan memerhatikan politik pintu terbuka terhadap satu sama lain. Sama seperti halnya seperti para sahabat yang mulia. Jika sedikit kita amati masa kehidupan para sahabat, kita akan sering menyaksikan bagaimana mereka saling berbicara jujur, tegas, dan terus terang satu sama lain. Jika kita mengambil kata-kata ini sebagai contoh untuk dipertimbangkan, maka kita bisa menerapkannya dalam lingkungan kita sesuai dengan keadaan masing-masing. Yakni, kita bisa meminta peringatan dengan berkata: “Wahai teman! Jika engkau melihatku jatuh dalam suatu masalah, maka genggam tanganku dan bantu aku untuk bangkit! Peringatkan aku dengan mengatakan ‘Kondisi apa ini yang terjadi denganmu?’ Dalam hal ini aku takkan membantahmu.” Dengan cara ini, kita bisa memilih seorang teman yang ketika kita terpuruk dan jatuh ke jalan yang tidak benar, ia bisa meluruskan kita dengan hak dan wewenang yang kita berikan kepadanya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustaz Said Nursi, poin penting dalam hal ini adalah “tidak merobek tirai pembatasnya”, yang maksudnya adalah perlu menjaga batasan dan takaran yang pas. Ya, saya pikir, orang yang memohon dan berdoa dengan pinta: “Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan diriku hanya bersama nafsuku saja walau hanya sekejap mata sekali pun”, harus menerima semua peringatan teman-temannya sebagai sikap “amri bil ma’ruf nahyi anil munkar” kepadanya. Seperti ketika Sultan Salahuddin Al-Ayyubi ataupun Nuruddin Zanki[4] yang mendapatkan peringatan dari orang biasa, atau Yavuz Sultan Selim dengan Zenbilli[5], maupun Kanuni Sultan Sulaiman dengan Abu Suud[6] dan mereka patuh ketika diperingatkan seraya berkata: “semoga Allah memberkatimu, jika engkau tidak memberi peringatan, maka aku akan terpuruk dan jatuh.” Lalu siapalah kita ini yang justru menutup diri terhadap peringatan-peringatan semacam itu dan mengambil sikap menentang orang-orang yang telah menunjukkan kesalahan-kesalahan kita?

Berarti, selama kita belum merubah diri kita sendiri, maka Allah tidak akan mengubah kita. Tetapi dalam proses perubahan diri ini, kita sangat membutuhkan sahabat-sahabat yang setia dan yang tak pernah meninggalkan kita sendirian saat melawan nafsu ammarah bissu’ (nafsu yang mengajak kita pada keburukan).

mountains-5954732_1280

NIKMAT YANG PALING BERHARGA

Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah melimpahkan nikmat dan karunianya kepada seluruh hambanya. Tidak peduli hamba tersebut mengingkari maupun mengimaninya. Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya dan berbagai macam fasilitas yang Allah sediakan untuk manusia. Allah telah mengaruniakan nikmat yang begitu melimpah sampai tiada seorangpun yang kuasa untuk menghitungnya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melebihi kebaikan yang Allah berikan.

Allah memberikan nikmat sehat, sehingga kita mampu untuk melaksanakan berbagai aktivitas dengan baik. Allah memberikan nikmat berupa harta, sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Allah memberikan nikmat berupa waktu, sehingga kita bisa menggunakannya untuk beramal saleh dan memperbanyak ketaatan kepada Allah. Allah memberikan mata, untuk melihat keindahan ciptaannya yang sangat luas dan beraneka ragam. Allah memberikan nikmat akal, agar manusia menggunakannya untuk mengelola bumi yang telah Allah sediakan. Begitulah nikmat Allah yang sangat besar dan melimpah sehingga tidak akan ada yang  mampu untuk menghitungnya.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al- Nahl ayat 18).

Dari berbagai limpahan nikmat dan karunia yang Allah limpahkan kepada hambanya, nikmat manakah yang paling besar yang Allah berikan kepada para hambanya?. Mungkin saja, kita akan menjawab, nikmat waktu luang yang banyak, kesehatan yang sempurna, harta yang melimpah, tahta yang sedang diduduki, wanita yang dikasihi, ataupun uang yang digunakan untuk berpoya-poya. Jika demikian, nikmat mana yang dimaksud?, nikmat yang dimaksud adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan abadi. Nikmat yang Allah perintahkan kepada hambanya untuk selalu memintanya. Agar hambanya senantiasa berada dijalan orang-orang yang diridaiNya.

 Ketahuilah! nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah nikmat iman dan islam. Dua nikmat yang hanya diberikan kepada orang tertentu saja. Dua nikmat yang tidak bisa dinikmati oleh semua orang. Dua nikmat yang diberikan khusus kepada orang-orang yang Allah cintai dan kasihi.

“Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8).

 ”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (QS. Al Fatihah : 6-7).

Ayat inilah yang sering kita ucapkan, terutama ketika melaksanakan shalat. Agar Allah senantiasa memberikan hidayah dan bimbingannya. Meminta kepada Allah agar diberikan taufik, agar senantiasa berada dalam kebenaran dan keistiqomahan untuk setiap perkara kebaikan. Kondisi zaman ini, membuat kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berbagai fitnah terjadi. Pintu-pintu kelapangan terbuka lebar, bisa diakses dengan mudah. Selain menjadi nikmat juga bisa menjadi musibah yang akan menimpa, bagi mereka yang tidak bisa menjaga dirinya. Ramai orang yang secara terang-terangan menampakkan kefasikan dan kekafirannya. Mereka mempunyai pengikut yang sangat besar baik di media sosial maupun di dunia nyata. Untuk itu kita diperintahkan untuk selalu berdoa kepada Allah dan memperbanyak amal saleh agar hati kita tetap dalam keadaan beriman hingga ajal menjemput. jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:

 “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya dengan sedikit dari keuntungan dunia(HR.Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang diampuni segala kesalahannya baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Rasulullah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah. Seorang hamba yang paling tinggi derajatnya. Seorang rasul yang tidak mungkin akan bermaksiat kepada Allah apalagi berpaling dariNya. Rasulullah surganya sudah terjamin oleh Allah. Tapi lihatlah! Rasulallah terus menerus berdoa agar hatinya selalu ditetapkan dalam islam. Agar hatinya dipenuhi dengan terangnya cahaya-cahaya keimanan. Agar dirinya selalu mendapatkan hidayah dari Allah.

Ketika Ummul mukminin Ummu Salamah ditanya perihal doa apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering panjatkan ketika sedang bersama Rasulullah,  Ummu Salamah menjawab “Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik’ (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu).”

Sumayyah binti khubath adalah sosok muslimah yang tegar, sabar, dan memiliki keyakinan yang kuat dalam mempertahankan akidah dan keimanannya. Sumayyah dan keluarganya disiksa oleh kaum quraisy sampai suaminya yasir meninggal dunia, saking kerasnya siksaan yang dialaminya. Di tengah siksaan yang dideritanya, sumayyah istikamah melantunkan kalimat-kalimat indah nan syahdu memuji Rabb-Nya, “Rabb kami adalah Allah.” Setiap kali melihat penyiksaan yang sangat berat itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak bisa berbuat banyak, seraya bersabda, “Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.” Kaum quraisy sangat geram terhadap keteguhan hati dan keimanannya yang tidak tergoyahkan. Justru semakin kokoh layaknya gunung uhud. Sampai akhirnya sumayyah meninggal dunia akibat siksaan yang diberikan kaum quraisy. Sumayyah di daulat sebagai wanita pertama yang mati syahid dalam mempertahankan keimanannya. Betapa indah akhir hidupnya walaupun harus dibayar mahal sekali yaitu berupa siksaan sampai merenggut nyawanya beserta keluarganya. Akan tetapi Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik yaitu berupa rida, rahmat dan karunia yang telah Allah sediakan di negeri akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (At-Tahrim: 8).

Ayat tersebut menjelaskan, ada dua cahaya yang dimana seorang mukmin tidak akan tenang sampai Allah menyempurnakan keduanya. Cahaya pertama di dunia dan yang kedua di akhirat. Adapun cahaya yang ada di dunia adalah wafat di atas agama islam. Dan tidaklah orang saleh yang beriman dan bertakwa, lebih takut dari sesuatu kecuali rasa takutnya jika islam dicabut dari dirinya sebelum meninggal. Karena setiap perkara yang diambil pasti Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Akan tetapi, ketika agamamu dicabut oleh Allah, maka tidak akan ada sesuatupun yang mampu menggantikannya.

Barangsiapa yang wafat di atas agama islam, bertauhid kepada Allah dengan penuh keyakinan, dia tidak akan kekal di dalam neraka apabila dia memasukinya dan Allah pasti memasukkannya kedalam surga. Adapun cahaya kedua yaitu di akhirat. Maka Allah akan menyempurnakan nikmatnya berupa limpahan rida dan kenikmatan yang tiada terkira yaitu Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan akan mendapatkan nikmat yang hakiki yaitu bisa melihat Allah secara langsung.

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (Ali Imran:8).

Wallahu Ta’ala A’lam

mengembangkandiri.com man-gd3c40c712_1280

MENJADI PRIBADI TERBAIK DIBULAN KEAGUNGAN

Dalam Islam, Satu Muharam, disebut sebagai Tahun Baru Hijriah, merupakan waktu yang sangat bersejarah bagi kaum Muslim. Hari ini, kaum Muslim di seluruh dunia mendapati awal kalender Islam, yang dimulai dengan hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Bagi kaum Muslim, Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender Islam dan memiliki makna yang sangat mendalam.

Momen Tahun Baru Hijriah ini, kaum Muslim menganggap sebagai waktu untuk muhasabah dan tafakur. Hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekah ke Madinah adalah peristiwa yang menunjukkan keteguhan iman, keinginan yang mulia, dan pengorbanan untuk menegakkan kebenaran serta menyebarkan ajaran Islam. Tahun Baru Hijriah memberi kaum Muslim kesempatan untuk merenungkan bagaimana menjalani hidup dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.

Selama bulan Muharam, yang juga disebut sebagai bulan yang suci dan penuh berkah, kaum Muslim diminta untuk melakukan lebih banyak amal kebajikan, seperti berpuasa, berdoa, memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, dan mengingat keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hari Asyura’, yang jatuh pada tanggal 10 Muharam, adalah salah satu momen yang paling diingat dalam bulan Muharam. Hari Asyura’ memiliki banyak arti. Bagi kaum Muslim, hari ini adalah peristiwa penting karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa Alaihi Sallam dan pengikutnya dari Firaun dengan membelah Laut Merah. Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memaafkan Nabi Adam Alaihi Sallam atas kesalahannya pada hari Asyura’. Hari ini, beberapa kaum Muslim berpuasa sebagai bentuk bersyukur atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tahun Baru Hijriah adalah permulaan perjalanan baru bagi setiap orang Muslim. Saat ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan tujuan hidup, meningkatkan iman, menghapus dosa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Satu Muharam menunjukkan semangat keberanian, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan dan tantangan hidup.

Dengan berganti tahun dalam kalender Hijriah, kaum Muslim diingatkan untuk terus meningkatkan keimanan, meningkatkan kebijaksanaan, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Setiap tahun baru membawa peluang baru untuk melakukan amal kebajikan dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Di tengah kegembiraan menyambut Tahun Baru Hijriah, jangan lupa untuk mendoakan perdamaian, persatuan, dan kesejahteraan bagi seluruh kaum Muslim. Selamat menyambut bulan Muharam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi dan merahmati kita semua saat kita memulai kehidupan baru.

Aaminn…..

Muslim man praying in the mosque

MANUSIA AKAN MENEMUKAN KETENANGAN DENGAN IBADAH

Manusia butuh kepada pelaksanaan ibadah. Ketika manusia sakit maka ia akan pergi ke dokter. Kemudian setelah sang dokter mendeteksi penyakitnya barulah di berikan beberapa obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Setelah itu ia memaksa agar orang yang sakit tersebut menggunakan obat yang telah di berikan. Sama seperti ini, ibadah merupakan sebuah resep tertulis dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyembuhkan penyakit dan luka yang terdapat dalam maknawi diri. Ketentraman dan kebahagiaan anak adam hanya mungkin ada jika ibadah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Seseorang yang hatinya bersemangat dengan hamba serta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ruhnya akan mencapai pada sebuah kepuasan. Rida-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada seorang hamba yang performanya semakin meningkat, ia akan hidup dengan kebahagiaan yang mendalam dan kesenangan yang tak ter definisikan di dalam kehidupan dunianya. Dari kelezatan maknawi yang diambil oleh orang yang seperti ini, dalam kehidupannya sehari-hari bagaimanapun kesulitan yang menghadangnya ia sanggup menghadapinya dengan tegar.

Karena ia telah bersandar dan percaya kepada Sang Pencipta Yang Satu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dan kejadian. Sebagai seorang hamba bagi kita nikmat yang besar adalah usaha kita dalam melaksanakan tugas penghambaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Usaha yang seperti ini, akan menghasilkan ketentraman baik pada dirinya sendiri dan juga pada lingkungan.

Ustadz Bediuzzaman Said Nursi mengatakan, Manusia atau Insan secara jasmani kecil, lemah dan tidak berdaya namun memiliki ruh yang tinggi. Memiliki bakat yang besar. Memiliki kecondongan yang tidak bisa di batasi. Pemilik tujuan dan kebutuhan yang abadi. Memiliki pemikiran yang tidak bisa dihitung. Mempunyai syahwat dan kemarahan yang tidak menerima batasan, dan begitu hebat penciptaannya, seolah-olah diciptakan sebagai ringkasan bagi seluruh jenis dan seluruh alam.

Bagitulah ibadah memberikan kelapangan bagi ruh manusia. Mengembangkan bakat. Memisahkan dari Kecenderungan dan keinginan yang buruk lalu menjadikannya kepada sesuatu yang sangat bersih. Mewujudkan tujuan dan keinginan. Memperluas pemikiran dan menertibkannya. Perasaan syahwat dan kemarahannya di berikan batasan lalu menjaga dari keburukan dan kelewatan batas. Naik menuju puncak kedewasaan dan insan kamil. Ibadah merupakan hubungan yang memiliki keterikatan indah, antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.