mengembangkandiri.com_moon-and-clouds-in-the-night-moonlight-and-road-b-2021-09-01-21-14-33-utc

Nisfu Syaban: Malam Ampunan dan Penentuan Takdir

Karya: Cemil Tokpınar

Di hari ketika agenda duniawi dan politik membuat sibuk banyak orang, tanpa disadari kita semakin dekat dengan bulan Ramadhan. Kami berharap kita dapat memahami urgensinya dan menghidupkan kembali Malam Nisfu Sya’ban pada jumat malam ini sebagai pelita terakhir dari tiga bulan suci yang penuh berkah sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Di malam ini terdapat kesempatan untuk meraih ampunan dan magfirah universal. Untuk itu, mari kita memahami nilai dan urgensi dari malam ini untuk kemudian menyambutnya dengan beragam persiapan beberapa hari sebelumnya seperti berpuasa serta merencanakan program ibadah semalam suntuk di malam tersebut dan berpuasa di pagi harinya. Karena negara kita dan dunia Islam sedang menggeliat dalam beragam masalah serius, maka malam-malam penuh fadilah dengan puluhan ribu keutamaan ini merupakan kesempatan yang tak ternilai harganya.

Aku mempunyai kebiasaan yang mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Yang pertama kali saya lihat ketika kalender baru datang adalah mengecek hari-hari penuh berkah bertepatan dengan tanggal dan bulan apa. Jika keesokan hari setelah malam penuh berkah ini adalah hari libur, saya akan bergembira. Kebetulan keesokan hari setelah malam nisfu sya’ban pada tahun ini adalah hari sabtu. Jadi saya memiliki kesempatan untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban hingga pagi tiba.

Malam Takdir

Terkait malam ke-15 bulan Sya’ban atau disebut juga dengan istilah Lailatul Bara’ah, Allah SWT berfirman:

“Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS Ad-Dukhan: 2-4).

Beberapa ulama menyatakan bahwa malam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah lailatulqadar, sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah nisfu sya’ban. Jika digunakan metode jam’ur riwayat, yaitu mengumpulkan beberapa riwayat lain dan berusaha memberi jalan tengah pemahaman, maka pernyataan ulama bahwa takdir dan ketetapan Allah diputuskan serta dicatat di malam Nisfu Sya‘ban bisa dibenarkan.

Dari Ibnu Abbas, “Sungguh Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sya‘ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar”.

Menurut Ibnu Abbas r.a., dipisahkannya pekerjaan penuh hikmah yang satu dengan pekerjaan hikmah lainnya berarti:

  • Semua peristiwa yang akan terjadi dari tahun ini hingga tahun depan ditulis satu demi satu pada buku catatan takdir oleh malaikat.
  • Hal-hal seperti rezeki, ajal, kekayaan, kemiskinan, kematian, kelahiran dicatat selama periode waktu ini. Bahkan jumlah orang yang akan berhaji pada tahun tersebut pun ditetapkan pada periode waktu tersebut.  Nasib setiap orang dan segala sesuatu yang akan terjadi di tahun itu dicatat pada periode ini (Khulasatul Bayan, 13:5251).

“Adakah orang yang meminta ampun di malam ini?”

Malam ini disebut sebagai lailatul bara’ah karena orang-orang yang beriman berharap untuk menyucikan dirinya dari kotoran dosa serta memperoleh ampunan dan magfirah dari Sang Pencipta.

Terdapat beberapa hadis di mana Baginda Nabi memberikan perhatian khusus pada beragam berkah dan keutamaan dari Malam Nisfu Sya’ban:

“Berjagalah kalian dalam keadaan beribadah ketika malam kelima belas bulan Sya’ban datang. Berpuasalah pada siang harinya. Setelah matahari pada malam itu terbenam, Allah melalui rahmat-Nya akan termanifestasikan dan bertajali ke langit dunia dan berseru:

‘Adakah orang yang meminta ampunan-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku ampuni dan Aku maafkan. Adakah orang yang meminta rezeki-Ku di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri rezeki. Adakah orang yang meminta pertolongan dari musibah yang menimpanya di malam ini, niscaya mereka akan Aku beri kesehatan dan afiyah. Begitulah keadaannya hingga pagi tiba.” (HR Ibnu Majah, Iqamah: 191).

Pada suatu malam nisfu Sya’ban, Sayyidah Aisyah yang terbangun tidak menemukan Nabi SAW di sampingnya. Ummul Mukminin Aisyah kemudian bangun dan keluar untuk mencari beliau. Ia akhirnya menemukan Sang Rasul di pemakaman Jannatul Baqi.

Nabi SAW kemudian menjelaskan keutamaan Lailatul Bara’ah kepada istrinya yang mulia:

“Sesungguhnya (rahmat) Allah Tabaraka wa Taaala turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban. Dia kemudian memberi ampunan bagi beberapa orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu domba milik bani Kalb” (HR Tirmizi, Saum: 39).

Ungkapan “bulu domba” di sini merupakan kinayah dari jumlah yang sangat banyak. Jadi, Allah SWT pada malam ini akan mengampuni semua hamba-Nya yang dengan tulus menginginkan maaf dan pengampunan. Ampunan akan diberikan selama seorang hamba memenuhi syarat-syarat tobat dan istigfar serta melakukannya dengan benar.

Siapa Saja Yang Tidak Akan Dimaafkan pada Malam Ini

Siapa saja yang tidak mendapatkan ampunan pada malam ini dijelaskan dalam beberapa hadis berikut ini:

“Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan dan permusuhan” (HR Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal).

Malam ini telah dibukakan 300 pintu rahmat dan pintu ampunan. Allah SWT mengampuni dosa sekalian orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Kecuali seorang ahli sihir, tukang ramal, orang yang suka bermusuhan, orang yang suka mengadu domba, pemabuk, orang yang durhaka pada kedua orang tuanya, dan orang yang memutuskan silaturahim. Mereka tidak akan diampuni Allah.” (Ibnu Majah, iqamah: 191).

“Terdapat Ganjaran 50 Tahun Ibadah Bagi Mereka yang Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban”

Ustaz Badiuzzaman dalam surat yang ditulis untuk murid-muridnya menceritakan tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban sebagai berikut:

“Lailatul Bara’ah ibaratnya sebuah benih suci dari satu tahun yang komplit. Dari segi di mana ia merupakan masa diprogramkannya takdir umat manusia, nilainya setara dengan kesucian Lailatul Qadar. Apabila setiap kebajikan yang dikerjakan di Lailatulqadar memiliki nilai ganjaran sebesar tiga puluh ribu, setiap amal saleh yang dikerjakan di Lailatul Bara’ah dan setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memiliki nilai ganjaran sebesar dua puluh ribu. Apabila di waktu lain kebajikan yang dilakukan dibalas dengan 10 pahala, pada syuhuru tsalatsah (tiga bulan suci)  ganjarannya naik menjadi seratus bahkan seribu. Pada malam-malam suci yang terdapat dalam bulan suci ini ganjarannya akan naik lagi menjadi sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau hingga mencapai tiga puluh ribu. Beribadah di malam-malam yang mulia ini nilainya setara dengan beribadah selama lima puluh tahun.  Untuk itu, ia harus dihidupkan dengan membaca Al-Qur’an, beristighfar, dan salawat sebanyak mungkin.  Beribadah di Lailatul Bara’ah akan memberikan seorang ahli iman lima puluh tahun umur ibadah.  (Syualar, Syua ke- 14).

Bagaimana cara menghidupkan malam yang mulia ini?

Sebisa mungkin malam-malam yang penuh berkah ini dihidupkan dengan ibadah semalam suntuk hingga pagi tiba.  Aktivitas ibadah yang dikerjakan seorang diri akan memudahkan nafsu dan setan menghembuskan kantuk dan mengganggu semangat kita.  Oleh karena itu, sebaiknya ia dihidupkan dengan berkumpul di masjid atau suatu majelis ilmu bersama para sahabat terdekat. Dengan demikian, para peserta bisa saling memotivasi. Mereka juga bisa saling bahu-membahu dalam menyelesaikan pembacaan doa-doa.

Seperti yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, ada lima ibadah penting yang dapat dilakukan pada malam-malam ini:

  1. Bertobat dan beristigfar: Tobat dan istigfar yang paling singkat adalah “Astaghfirullah wa atubu ilaih…” Ada juga istigfar-istigfar lainnya yang lebih panjang lagi beragam variasinya.
  2. Membaca Al-Qur’an: Khususnya surat-surat pilihan seperti Yasin, Al-Fath, Ar-Rahman, Al-Mulk, An-Naba, dan sebagainya.
  3. Mendirikan salat: Di samping menunaikan salat fardhu secara berjamaah, mari kita tunaikan juga salat sunah awwabin, tahajud, tobat, tasbih, dan hajat.
  4. Membaca salawat kepada Rasulullah sebanyak-banyaknya.
  5. Berdoa: Membaca doa yang terdapat pada Al-Qur’an dan hadis, jausyan, doa-doa yang dibaca wali-wali agung, serta menyampaikan munajat dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Berpuasa di pagi harinya sangatlah utama. Waktu puasanya bukanlah sehari sebelum datangnya malam nisfu sya’ban, melainkan keesokan harinya.

Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/berat-af-ve-kader-gecesi/

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Rahasia Kekuatan – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-Salawat-

Menghadapkan diri, hanya kepada Allah ketika menjalankan tugas mereka para nabi dan rasul tak pernah menunggu upah atau imbalan tertentu baik berupa materi maupun non-materi. Salah satu semboyan mereka yang diabadikan oleh Alquran dalam beberapa ayatnya adalah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh beberapa rasul yang berbunyi “Upahku tidak lain hanyalah dari Allah saja.” Q.S. Yunus ayat 72 Hud ayat 29. 

Sementara kita, kalau pun tak mengharap imbalan materi atas sebuah amal maka kita sering mengharapkan imbalan nonmateri dalam bentuk pahala hal seperti itu sama sekali tidak pernah ada pada diri para rasul mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan dari siapapun karena apa yang mereka lakukan sepenuhnya merupakan perintah Allah. Kalaupun kita ingin membayangkan sesuatu yang mustahil seperti misalnya andai saja para nabi dan rasul tahu     bahwa mereka akan masuk ke dalam neraka, maka hal itu pastilah tidak akan membuat mereka ragu untuk menunaikan tugas mereka dan tidak akan membuat mereka lari dari tujuannya meski hanya sesaat. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang selalu siap siaga, mereka selalu mengorbankan seluruh jiwa raga mereka di jalan dakwah yang mereka tempuh. Jadi harapan masuk Surga atau takut akan Neraka bukanlah faktor yang menggerakkan mereka untuk berusaha melaksanakan tugas berat yang mereka pikul alih-alih berharap pamrih. Keridhaan Allah dan perkenan-Nya merupakan puncak dari segala yang mereka harapkan begitulah semua amal yang dilakukan para nabi memang ikhlas dilakukan hanya karena Allah terlebih pada diri Rasulullah SAW prinsip seperti ini telah mencapai puncaknya ketika masih di dunia.

 Rasulullah berkata: “Umatku.”

Dan kelak di padang mahsyar hari kiamat beliau kembali berkata: “Umatku… umatku..”

Jadi silakan Anda bayangkan betapa Tingginya tingkat keikhlasan Rasulullah. Ketika pintu Surga telah terbuka lebar merindukan beliau masuk ke dalamnya, ternyata beliau justru terus saja masgul dengan nasib umat Islam. Demi kitalah kelak Rasulullah rela berlama-lama di padang mahsyar, daripada berleha-leha di dalam Surga. Dan hebatnya Rasulullah tidak melakukan semua itu hanya untuk para kerabat Beliau saja, melainkan juga terhadap seluruh umat beliau termasuk para pendosa di antara mereka.

Demikianlah jendela-jendela jiwa para nabi dan rasul memang hanya terbuka bagi satu tujuan yang sama yaitu keridhaan Allah. Sedangkan terhadap segala yang lain itu jiwa mereka selalu tertutup rapat. Oleh sebab itu, bagi siapapun yang saat ini melakukan dakwah dan tabligh seperti yang dulu dilakukan para Rasul hendaklah mereka selalu berhati-hati dan peka terhadap masalah ini. Sebab, ia merupakan sebuah perkara yang sangat penting dan sensitif. Ingat, besar atau kecilnya efek dari ucapan yang dilontarkan seseorang tidak bergantung pada kefasihan dan kecanggihan struktur bahasanya melainkan berhubungan langsung dengan keikhlasan orang yang mengucapkannya. Al Quran menyinggung hal ini dalam ayat 

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk Quran Surat Yasin ayat 21 

Benar, ikutilah para nabi yang bertahta di ketinggian langit penyerahan diri dan hidayah Allah, karena mereka tidak pernah meminta imbalan duniawi dari kalian. Pertimbangkanlah masak-masak sebelum anda mengikuti jejak seseorang, sosok yang anda ikuti haruslah orang yang selalu berserah diri kepada Allah. Hari-harinya hanya diisi dengan amal baik di jalan Allah, tidak silau pada gemerlap dunia dan selalu mencurahkan segenap energinya demi kejayaan generasi mendatang. Sosok yang Anda jadikan panutan tidak boleh memiliki sifat hubbud dunya, cinta dunia, dan hatinya harus dilingkupi sikap berserah kepada Allah. 

Oleh sebab itu, telitilah para pemimpin Anda siapa diantara yang memiliki sifat seperti itu, sebelum Anda memilih seorang panutan. Rasulullah adalah pribadi yang selalu Berserah diri kepada Allah, perut beliau tidak pernah kenyang walau hanya dengan roti gandum kasar sekalipun. Seringkali hari, pekan, bahkan bulan berlalu tanpa ada asap yang mengepul dari dapurnya, dari dapur Rasulullah SAW. 

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan 

“Suatu ketika aku menemui Rasulullah yang sedang salat sambil duduk. 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah kulihat kau salat sambil duduk, ada apa denganmu?” 

Rasulullah menjawab, “Aku kelaparan.”

 Aku pun menangis mendengar itu. 

Tetapi, Rasulullah menukas, “Jangan kau menangis karena kerasnya hisab di hari kiamat tidak akan menyentuh orang yang kelaparan. Jika dia bersabar di dunia dan apa yang menimpanya itu.”

Ummul mukminin Aisyah r.a. meriwayatkan, “Suatu ketika seorang wanita Anshar menemuiku dan melihat alas tidur Rasulullah berupa kain kasar. Beberapa saat kemudian wanita itu mengirimkan alas tidur berlapis wol. Rasulullah lalu datang dan bertanya apa ini wahai Aisyah? 

Aku menjawab wahai Rasulullah tadi ada seorang wanita Anshor yang datang ke sini lalu melihat alas tidurmu. Setelah dia pulang dia mengirimkan ini ke sini. Rasulullah pun menukas, “Kembalikanlah alas tidur ini.” Tapi aku tidak mengembalikan alas tidur itu dan ternyata Hal itu membuat Rasulullah terkejut, sehingga Beliau kembali memerintahkan agar aku mengembalikan alas tidur itu. Beliau mengulang itu sampai tiga kali. Rasulullah SAW berkata, “Kembalikanlah alas tidur itu wahai Aisyah demi Allah Andai saja aku mau Allah pasti bersedia memberiku gunung emas dan perak.”

Benar seandainya Rasulullah SAW mau beliau sebenarnya dapat menjalani hidup yang menyenangkan dan sejahtera. Tapi beliau tidak menginginkan itu.

Abu Hurairah meriwayatkan, “Suatu ketika Jibril duduk bersama Rasulullah SAW, sesaat kemudian tampak malaikat dari langit. Jibril berkata malaikat itu tidak pernah turun sejak diciptakan kecuali hanya saat ini. Sesampainya malaikat itu di hadapan Rasulullah ia berkata, “Wahai Muhammad Tuhanmu telah mengirimkan ku padamu untuk bertanya, apakah kau ingin menjadi seorang raja yang sekaligus nabi? ataukah seorang hamba yang sekaligus Rasul? Jibril menukas, “Bertawadhu lah pada rabbmu wahai Muhammad.” Rasulullah menjawab, “Aku ingin menjadi hamba yang sekaligus Rasul.” 

Hingga akhir hayatnya tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW makan sampai kenyang.

Abu Umamah meriwayatkan, “Suatu ketika ada seorang wanita yang ucapannya busuk dan gemar mencaci kaum laki-laki. Wanita itu lewat di dekat Rasulullah yang sedang menyantap bubur di atas roti kering. Wanita itu berkata, “Lihatlah orang itu! Dia duduk seperti duduknya seorang hamba atau budak, dan makan seperti makannya seorang hamba. Rasulullah menyahut, “Apakah ada hamba yang lebih hamba dibandingkan aku?”

Lembaran kehidupan Rasulullah memang penuh dengan contoh sikap berserah diri kepada Allah. Siapapun yang ingin mempelajari contoh teladan itu dapat menemukan penjelasan di ratusan kitab yang ada ya semua nabi dengan Rasulullah menjadi yang terdepan memang hidup dalam penyerahan diri kepada Allah mereka sama sekali tidak pernah mengharapkan balasan dunia dan akhirat atas semua yang mereka lakukan. Inilah sebenarnya rahasia, dibalik kekuatan yang mereka miliki dalam mempengaruhi dan meyakinkan umat. Siapapun yang ingin ucapannya memiliki daya ubah, serta dapat menjadi obat penawar kehidupan. Hendaklah ia mengenyampingkan harapan akan imbalan atau upah dari apa yang dilakukannya.

Diambil dari Cahaya Abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia 

narrow-street-of-jerusalem-at-night-2021-08-30-02-12-28-utc

Mensyukuri Hadiah Mi’raj

Cara mensyukuri hadiah Mikraj adalah beribadah sampai pagi tiba[1]

Cemil Tokpınar

Agenda kita sangat padat. Acara-acara menarik datang satu demi satu. Coronavirus lalu datang di tengah kesibukan tak terhitung masyarakat dunia. Ia telah berhasil menarik perhatian seluruh dunia kepada dirinya. Nyawa terasa manis. Betapa indahnya hidup. Tidak ada satu pun manusia yang mau mati.

Itulah sebabnya setiap hari semua orang belajar informasi baru tentang penyakit ini. Mereka mencoba menerapkan informasi tersebut, memperhatikan kebersihan pribadi, memperkuat sistem kekebalan tubuh, berolahraga, tidak meninggalkan rumah, menyimpan makanan, dan entah apa lagi yang telah lakukan.

Meskipun semua itu dilakukan, umur kehidupan yang bisa tetap dijalani dengan produktif maksimum bisa dilakukan hingga kita berusia 70 sampai 80 tahun. Tentu saja melindungi nyawa dan kesehatan merupakan kewajiban kita sebagai manusia. Ia juga merupakan bagian dari perintah agama.

Namun, sebagaimana kita memberi perhatian besar kepada kehidupan dunia yang sementara ini bukankah seharusnya kita juga memberikan perhatian besar kepada kehidupan abadi kita nanti? Selain itu, bukankah virus ini telah menunjukkan ketidak berdayaan manusia, betapa fana-nya dunia, serta betapa besar nikmat kesehatan yang kita miliki?

Persis ketika berada di dalam pemikiran-pemikiran seperti ini, satu demi satu datang kesempatan untuk mengubah kehidupan yang fana menjadi kehidupan yang abadi. Pertama-tama, kita kedatangan rangkaian penuh kesempatan untuk meraih pahala dan berkah, yaitu Tiga Bulan Suci yang mulia.  Kita baru saja menjalani malam raghaib di awal Februari kemarin. Sedangkan hari senin lusa, insya Allah kita akan menghidupkan malam mikraj, insya Allah.

Beliau naik ke puncak kebahagiaan di tahun kesedihan (amul huzni)

Satu setengah tahun sebelum peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah, Nabi kita SAW menjalani salah satu mukjizat terbesar di malam ke-27 bulan Rajab, yaitu Isra dan Mikraj. Peristiwa mikraj yang terjadi setelah kematian sosok-sosok yang paling dicintai oleh Rasulullah yaitu wafatnya istri beliau, Sayyidah Khadijah, dan  pamannya Abu Talib sangatlah bermakna. Sang Pencipta menghibur Rasulullah dengan menjamunya di hadapan-Nya. Dia memuliakannya dengan rahmat-Nya yang paling agung.

Apabila datang masa di mana kepedihan demi kepedihan datang beruntun yang membuat diri ini menggeliat dengan kepedihan dan keprihatinannya lalu kita bertawajuh kepada Sang Pencipta memohon rahmat dan tajali inayat-Nya apakah kita akan terhalang dari pertolongan-Nya?

Demikianlah, pada malam itu Malaikat Jibril datang dan membawa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di al Quds dengan mengendarai Buraq.  Ia menjemputnya dari Masjidil Haram dan membawanya ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem dengan mengendarai Buraq. Dari sana, beliau dibawa ke langit untuk ditunjuki ayat-ayat dan bukti-bukti ke-Mahakuasa-an Allah SWT. Di setiap level langit Beliau dipertemukan dengan para nabi.

Setelah itu, beliau tiba di maqam qāba qausaini (sejarak dua ujung busur panah, An Najm 53: 9).“ Beliau diperlihatkan beragam hal luar biasa. Beliau menyimak kalam-Nya yang kita tidak bisa ketahui komposisinya, melalui cara yang tidak bisa kita pahami, dari Dia yang suci dari tempat dan waktu secara langsung. Beliau menyaksikan jamaliyah-Nya yang tanpa akhir. Mikraj menurut konsep waktu kita berlangsung begitu singkat sehingga beliau pun pulang ke kediamannya yang mulia pada malam yang sama.

Senin malam esok lusa merupakan malam terjadinya mukjizat mikraj ratusan tahun yang lalu. Malam ini adalah malam yang luar biasa, malam di mana Sang Pencipta menyambut Nabi Besar Muhammad al Mustafa SAW baik secara jasmani sekaligus secara ruhani. Malam di mana Dia mengajaknya bertemu, berbicara, serta menunjukkan  nikmat dan kabar gembira yang tak terhitung banyaknya.

Isra dan Mikraj dalam Quran

Langkah awal mukjizat mikraj hingga tiba di Masjidil Aqsa dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..” (Surah Isra’, 17:1).

Langkah kedua dari mikraj adalah ketika Nabi Muhammad SAW memulai perjalanannya dari Masjidil Aqsa menuju seluruh tingkatan langit hingga akhirnya beliau tiba di hadapan ilahi. Bagian ini juga diceritakan dalam Surat Najm sebagai berikut:

“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (Surah Najm, 53: 7-18)

Tiga anugerah besar telah diberikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW pada malam ini. Ini merupakan pertemuan terbesar dalam sejarah umat manusia. Tiga anugerah tersebut adalah: salat yang lima waktu, dua ayat terakhir surat Al Baqarah yaitu Amanarrasulu, dan yang terakhir yaitu anugerah di mana semua umat Rasulullah yang tidak syirik kepada Allah akan diampuni (HR Muslim, Iman: 279).

Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam hadisnya yang mulia, “Salat adalah mikrajnya orang mukmin”. Melalui hadisnya tersebut, beliau mengisyaratkan bahwasanya salat merupakan pertemuan, perjumpaan, dan perbincangan kita sebagai hamba dengan Sang Pencipta.

Amanarrasûlu: Ayat-ayat doa yang unik tiada banding

Kemuliaan dua ayat terakhir dari Surat Al Baqarah yang juga merupakan salah satu anugerah yang didapat dari malam mikraj dijelaskan dalam sebuah hadis sebagai berikut:

“Terdapat dua ayat di akhir surat Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya (untuk kebutuhan hidupnya di dunia maupun akhirat atau untuk Al Quran yang akan dibacakannya di malam tersebut), maka cukuplah hal tersebut baginya. (HR Bukhari, Fadailul-Qur’an: 10)

Beberapa ulama menjelaskan bahwa ungkapan “cukup” di sini adalah “menghidupkan malam”.

Rasulullah SAW dalam hadis lainnya menyampaikan urgensi dari mempelajari maupun mengajarkan dua ayat ini:

“Allah Yang Mahakuasa menutup Surat Al-Baqarah dengan dua ayat ini. Barang siapa membacanya akan diberikan pahala dari perbendaharaan Arsy A’la. Pelajarilah dua ayat ini, ajarkan ia kepada wanita-wanita dan anak-anakmu.”

Itu berarti mempelajari dan mengajarkan dua ayat tersebut merupakan perintah dari Rasulullah SAW. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk mengingatkan keluarga dan orang-orang terdekat kita dan mendorong mereka untuk mempelajarinya.

Sekali lagi terdapat berita gembira dalam hadis luar biasa berikut ini:

“Allah SWT 1000 tahun sebelum menciptakan menciptakan bumi dan langit menulis sebuah kitab. Ia menurunkan dua ayat dari kitab tersebut. Dua ayat tersebut dijadikan sebagai akhir dari surat Al Baqarah.  Jika ayat-ayat itu dibaca selama tiga malam di sebuah rumah, maka setan tidak akan mendatangi rumah tersebut. “ (Tirmizi, Sawwabul-Qur’an: 4)

Mukjizat Mikraj membuktikan bahwa semua prinsip iman, terutama keberadaan dan keesaan Sang Pencipta merupakan kebenaran dan hakikat. Ini karena Nabi Muhammad SAW yang sepanjang hidupnya senantiasa berbicara tentang kebenaran dan hakikat serta tidak pernah berbohong meski bercanda sekalipun menyampaikan bahwa dirinya menemui Sang Pencipta dan telah melihat akhirat dengan mata kepalanya sendiri.

Bagaimana mungkin Sang Muhbir Sadiq SAW yang tidak pernah berbohong bahkan dalam hal paling remeh sekali pun di sepanjang hidupnya kemudian akan berkata bohong dalam perkara besar seperti ini? Ya, sebagaimana dia telah melihat hakikat dan kebenaran, dia pun mengatakan hakikat dan kebenaran.

Ibadah apa yang harus kita lakukan di malam ini?

Kita harus menghidupkan malam mikraj dengan Al-Qur’an, salat sunah, dan doa. Sedangkan pagi harinya kita lanjutkan dengan berpuasa. Supaya kita bisa tahan begadang di malam harinya, hendaknya kita beristirahat dengan cukup sebelum malam tersebut tiba. Jika dimungkinkan, lakukan tidur qailullah. Setelah makan malam, kita bisa mengonsumsi sesuatu yang bisa mengusir kantuk seperti teh dan kopi. Saat kantuk tiba, kita bisa menyegarkan diri dengan memperbaharui wudu.

Meskipun keesokan hari dari malam mikraj adalah hari selasa, amatlah dianjurkan untuk berpuasa di hari senin dan selasanya. Mereka yang berhalangan bisa saja berpuasa hanya pada hari senin atau hari selasanya saja. Mereka yang lebih banyak berpuasa akan mendapat pahala lebih juga.

Malam tersebut yaitu senin malam harus kita hidupkan dengan Al-Qur’an, salawat, tobat dan istigfar, serta salat dan doa. Untuk ini perlu dilakukan persiapan dan perencanaan terlebih dahulu. Dari segi motivasi, alangkah baiknya jika bisa menghabiskan malam dalam sebuah program yang diikuti banyak orang. Akan tetapi, karena kita harus berhati-hati terhadap penularan virus corona, maka kita bisa membuat program tersebut di lingkup keluarga. Kita bisa memotivasi bahkan memberi penghargaan kepada anak-anak kita yang aktif sesuai proporsinya.

Dalam surat yang ditulis Badiuzzaman saat beliau dan murid-muridnya berada di Penjara Afyon, terdapat hal-hal menarik perhatian terkait ibadah-ibadah apa saja yang dapat dikerjakan di malam ini:

“Lailatul Mikraj layaknya Lailatul Qadar yang kedua. Ikhtiar maksimal yang bisa dikerjakan pada malam ini bisa diberi 1000 ganjaran.  Berkat rahasia perusahaan maknawi, insya Allah setiap diri kalian layaknya lisan 40.000 malaikat yang bertasbih, Anda pun di tempat pesakitan ini akan berdoa dan beribadah dengan lisan 40.000 orang di malam yang agung dan penuh pahala ini” (Syua ke-14)

Supaya peluang luar biasa ini tidak terlewatkan, mari kita manfaatkan malam tersebut sebagai berikut:

  1. Mari tidak mengabaikan penunaian salat fardhu secara berjamaah, yang diikuti salat sunah awwabin, tasbih, hajat, dan tahajud.
  2. Lakukan khataman Al Qur’an dengan jalan membagi-bagikan juz. Selain itu, kita juga bisa membaca surat-surat pilihan seperti Yasin, al-Fath, Ar-Rahman, Al-Mulk, An-Naba, dan Jausyan.
  3. Jika mampu, kita bisa mengkhatamkan Jausyan yang lengkap dan Al Qulubud Daria.
  4. Kita harus bertobat, beristigfar, dan mengirimkan banyak salawat kepada Baginda Nabi SAW.
  5. Di penghujung malam, kita perlu mengajak anggota keluarga bangun sahur dan membaca niat puasa bersama-sama. Dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah dan membaca tasbihat panjang.
  6. Di setiap kesempatan pada malam tersebut kita harus mendoakan negeri kita serta semua orang-orang tak berdaya, tak bersalah yang teraniaya dan terzalimi di seluruh penjuru dunia. Di setiap akhir salat dan wirid mari kita doakan kebahagiaan dan jalan keluar bagi mereka.
  7. Selain itu, mari kita bagikan informasi ini kepada teman-teman lainnya supaya kita menjadi sarana bagi orang lain untuk menghidupkan malam mikrajnya.

Sumber: Tr724 | Cemil Tokpınar

[1] Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/mirac-hediyelerine-sukur-sabaha-kadar-ibadetle-olur/

mengembangkandiri.com ramadan-kareem-greeting-photo-2022-02-02-20-57-31-utc

Tiga Bulan Suci dan Malam Raghaib

Musim Berlimpahnya Rahmat:  Tiga Bulan Suci dan Malam Raghaib

Cemil Tokpınar

Sesaat lagi kita akan memasuki musim penuh berkah yang datang untuk menyelamatkan kita di hari-hari di mana semua umat manusia, terutama masyarakat negara kita dan dunia Islam yang tengah menghadapi berbagai masalah dan bencana.

Tiga bulan suci yang bernama Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Pada hari Kamis tanggal 26 Januari 2023 biasa disebut dengan Lailatul Raghaib, malam Jumat pertama di bulan Rajab.

Tiga bulan suci merupakan musim penuh berkah dan istimewa di mana Allah SWT mencurahkan rahmat, maghfirah, dan inayat-Nya.  Kita dapat mengatakan bahwa Tiga Bulan Suci adalah rentetan peluang yang datang berturut-turut di mana bulan yang datang berikutnya nilainya semakin berharga. Ia merupakan tempat berlalu lalangnya siang dan malam penuh berkah di mana satu amalan di dalamnya akan mendapatkan 1000 ganjaran.

Sebagaimana halnya pasar dan pekan raya yang digelar pada hari dan musim tertentu memamerkan produk terbaru dan inovasi terkini serta mengobral banyak diskon dan doorprize, demikian juga bulan rajab, sya’ban dan ramadan atau lazim kita sebut sebagai dengan tiga bulan suci, di dalam hari-hari dan malam-malamnya terdapat banyak promo dan hadiah kejutan yang melebihi besaran hadiah dan diskon di hari-hari lainnya.

Ketika tiga bulan suci datang, demi mendapatkan rahmat dan berkat melimpah di dalamnya Rasulullah SAW berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (Musnad Imam Ahmad: 1: 259).

Menghidupkan tiga bulan suci dan berjumpa dengan bulan ramadan merupakan suatu nikmat luar biasa dan anugerah yang istimewa.

Badiuzzaman Said Nursi yang merupakan teladan dalam ibadah dan doa serta panutan dalam perjuangan dan iman selalu melaksanakan program khusus untuk menghidupkan Tiga Bulan Suci, khususnya di bulan Ramadhan dan malam-malam mulia di dalamnya. Beliau juga menyemangati murid-muridnya untuk melakukan hal yang sama.

Dalam sebuah surat yang beliau tulis ketika sedang berada di Penjara Afyon, tempat di mana beliau dan murid-muridnya mengalami tekanan berat dan perampasan hak-hak sebagai manusia, seolah-olah sedang merasakan kegembiraan di hari lebaran beliau tak bisa menahan diri untuk tidak memberikan kabar gembira berikut ini:

“Lima hari lagi syuhur-u tsalâsa (tiga bulan suci) yang penuh berkah dan berlimpah pahala akan datang. Jika di waktu lain setiap amal ibadah dan kebajikan mendapat ganjaran 10 pahala, di bulan Rajab yang mulia ia akan diganjar 100 pahala, di bulan Sya’ban yang istimewa akan dibalas lebih dari 300 pahala, dan di bulan Ramadhan al Mubarakah ia akan mendapatkan 1000 pahala. Pahala ini akan meningkat ribuan kali lipat pada setiap malam jumat di dalamnya dan menjadi 30.000 ganjaran di malam lailatulqadar. Tiga bulan suci ini merupakan bazar suci yang memperjualbelikan komoditas yang berguna bagi kehidupan ukhrawi. Ia merupakan pameran sempurna bagi para ahli hakikat dan ahli ibadah. Menjalani tiga bulan suci menjanjikan ganjaran besar, seakan-akan ia telah menunaikan ibadah selama 80 tahun bagi setiap ahli iman yang menghidupkannya, apalagi di dalam Madrasah Yusufiyah di mana beramal di dalamnya bernilai 10 kali lipat dibandingkan beramal di luar. Ini tentu saja merupakan suatu keberuntungan yang sangat besar.  Betapa pun sulit untuk, tetapi kesulitan yang dijalani merupakan rahmat itu sendiri.” (Kitab Syualar, Syua ke-14)

Berdasarkan hal tersebut maka dua rakaat salat yang ditunaikan di bulan Rajab akan bernilai sebesar 200 rakaat. Satu puasa yang ditunaikan di bulan Rajab akan bernilai sebesar 100 puasa. Sedangkan sedekah sebesar seribu rupiah di bulan Rajab akan bernilai sebesar 100.000 rupiah. Pada bulan Sya’ban besaran ganjaran dinaikkan tiga kali lipat bila dibandingkan dengan pahala yang diberikan di bulan Rajab. Setiap ibadah akan diganjar pahala 300 kali lipat.

Dari kalimat dalam surat ini dapat kita pahami bahwa bulan-bulan ini adalah rangkaian peluang yang sangat besar sehingga menghidupkannya bahkan dalam kondisi di dalam penjara yang keras akan menambah jumlah ganjaran dan pahala yang diberikan oleh Allah sebanyak sepuluh kali lipat lagi.

Badiuzzaman dalam kondisi di dalam penjara yang dinginnya menusuk tulang dan pada kondisi diracun serta mendapat beragam siksaan lain sekalipun tidak mengabaikan ibadah-ibadahnya meski hanya sedikit. Dalam kondisi tersebut beliau tetap meneruskan usahanya dalam menulis karya yang berjudul “Al Hujjatuz Zahra” serta memberikan pelajaran agama meski melalui metode korespondensi surat-menyurat. Beliau menyambut datangnya tiga bulan suci ini seperti menyambut kehadiran hari raya. Ini merupakan teladan bagus dan penuh pelajaran bagi kita.

Tidak hanya hari-hari di dalam tiga bulan suci tersebut yang penuh berkah. Keberadaan malam-malam istimewa seperti malam raghaib dan mikraj di bulan rajab, lalu lailatul bara’ah di nisfu sya’ban, dan lailatulqadar di bulan ramadan menambah kemuliaan dan keistimewaan dari tiga bulan suci ini.

Malam Mulia Pertama di Bulan Rajab: Malam Raghaib

Malam Raghaib adalah malam Jum’at pertama di bulan Rajab, yaitu malam yang menghubungkan hari Kamis besok dengan hari Jumat. Di dalamnya terdapat ganjaran tambahan sebanyak seratus kali lipat pahala bagi setiap amal kebajikan dan ibadah yang diamalkan.

Raghaib, adalah sebuah kata dalam bahasa Arab. Ia berarti “sesuatu yang dicari, diinginkan, dituntut, bernilai tinggi, dan berlimpah dalam kebajikan”.

Malam Regâib mendapatkan kemuliaannya berkat kehadiran Nabi Muhammad SAW di salah satu sudut alam.

Terkait hal tersebut, Badiuzzaman mengutip salah satu memorinya ketika berada di kota Emirdag sebagai berikut:

“Saya menulis dua surat untuk Anda tepat enam jam sebelum Lailatul Raghaib tiba.   Setelah menyerahkan “Hizbun Nuriye”[1], menurut hemat saya ia merupakan sejenis Mukjizat Muhammadiyah. Kekeringan dan ketiadaan hujan selama dua bulan berturut-turut, ketika di semua wilayah doa-doa yang dipanjatkan setelah salat terasa mandul, semua orang kalbunya merintih karena putus asa dengan kekhawatiran masa depan rejekinya, tiba-tiba Lailatul Ragaib – yang belum pernah saya dengar sebelumnya sepanjang hidup saya dan yang belum pernah didengar orang lain – melalui puji-pujian tasbih yang keras dan intens dari para malaikat ar-ra’d[2]  hujan rahmat pun turun sekitar seratus kali selama tiga jam lamanya. Bahkan orang yang paling keras kepala sekalipun menyaksikan kesucian malam Raghaib dan kenabian Muhammad SAW sampai tingkat tertentu. Turunnya Rasulullah ke alam syahadah[3] di satu sisi menunjukkan bahwa dirinya adalah rahmat bagi semesta alam yang akan disaksikan keagungannya di sepanjang zaman. Alam semesta pun bertepuk tangan kepada malam terjadinya peristiwa tersebut.” (Kitab Emirdağ Lahikası, hlm.638).

Dalam riwayat Abdullah ibn-i Umar (r.a.) dan Abu Umama (r.a.), Nabi Muhammad SAW menyebutkan lima malam di mana doa tidak akan ditolak:

“Terdapat lima malam di mana doa yang dipanjatkan di waktu tersebut tidak akan ditolak: Malam pertama bulan Rajab, Malam Nisfu Sya’ban, Malam Jumat, Malam Idulfitri, dan Malam Iduladha.” (Jalaluddin Suyuti, Jâmius-Saghir, 3/454)

Bagaimana Cara untuk Menghidupkan Malam Ragaib?

Alangkah baiknya jika pada malam-malam penuh berkah ini diisi dengan banyak ibadah dari awal malam hingga datangnya waktu subuh. Usaha untuk menghidupkannya sendirian biasanya akan mudah disisipi oleh kantuk yang dihembuskan nafsu dan setan. Untuk itu, usaha yang terbaik adalah menghidupkannya dalam program bersama di masjid ataupun di suatu majelis ilmu. Dengan demikian, satu sama lain bisa saling memotivasi. Satu sama lain juga bisa saling mendoakan.

Namun, karena pandemi yang terus meliputi seluruh penjuru dunia maka kita harus mengikuti rekomendasi ahli kesehatan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan kita.

Terdapat lima ibadah penting yang dapat dikerjakan di malam-malam yang penuh berkah tersebut.

Bertaubat dan beristigfar: Rasulullah SAW menyampaikan bahwa dirinya bertobat dan beristigfar sehari sebanyak 70 kali. Dari sisi ini dapat diketahui bahwasanya kapan pun itu tobat dan istigfar tetap merupakan suatu ibadah yang penting. Tobat dan istigfar yang dibacakan di malam-malam mulia ini semakin menambah kemuliaannya dan insya Allah mudah untuk diterima.

Membaca Al-Qur’an: Khataman Al-Qur’an dengan jalan membagi juz. Selain itu, membaca atau menyimak surat-surat pilihan seperti Yasin, Al Fath, Ar Rahman, Al Mulk, dan An Naba juga sangat utama.

Mendirikan salat: Selain menunaikan salat fardhu diiringi zikir tasbihat panjang, mendirikan salat sunah awwabin, tahajud, taubat, tasbih, dan hajat sangatlah berfadilah.

Membaca salawat kepada Rasulullah sebanyak mungkin adalah suatu bentuk ibadah yang sangat penting di setiap waktu. Tentu saja akan ada pahala berlipat ketika ia dibacakan di malam-malam penuh berkah ini.

Berdoa: Membaca doa yang dikutip dalam Al-Qur’an dan Hadis, membaca jausyan dan doa-doa yang dibaca oleh para wali, serta memanjatkan doa yang berasal dari pengharapan hati kepada Sang Pencipta juga penting adanya. Karena doa-doa yang dipanjatkan di malam-malam penuh berkah ini akan dikabulkan. Wabil khusus berdoa kepada-Nya hingga pagi tiba supaya kita bisa terbebas dari jeratan ifrit yang mencengkeram diri.

Berpuasa di Tiga Bulan Suci

Berpuasa di pagi hari pasca malam raghaib adalah ibadah yang penuh dengan fadhilah.  Puasa dilaksanakan bukan sebelum malam tiba, melainkan setelahnya. Ini karena kalender ibadah dalam suatu hari dimulai dengan azan maghrib. Ia berakhir pada azan maghrib berikutnya.  Misalnya awal mula Ramadan dimulai dengan tarawih di malam hari dilanjutkan dengan berpuasa di pagi harinya. Namun, mereka yang sanggup menunaikan puasa sebelum dan sesudah malam ragaib tentu saja berarti telah menunaikan amal-amal yang paling utama.

Apalagi puasa sebelum malam ragaib yang jatuh pada hari kamis memang disunahkan.  Mereka yang tidak sempat berpuasa di hari kamis, tetapi hanya mampu berpuasa di hari jumat saja pun tidak mengapa. Ini dikarenakan ia jatuh bertepatan dengan hari Jum’at, tidak bisa jatuh pada pilihan hari yang lain. Ia termasuk perbuatan makruh yang mendekati halal. Pagi setelah malam raghaib selalu bertepatan dengan hari jumat, oleh karena itu tidak ada pilihan lain. Oleh karena itu, mereka yang terpaksa hanya bisa berpuasa di hari jumat karena tidak sempat berpuasa di hari kamis sebenarnya juga tidak termasuk dalam kategori makruh tanzih.

Berpuasa di tiga bulan suci selain merupakan ibadah yang penuh dengan fadhilah, ia juga merupakan sarana bagi terkabulnya doa-doa Mereka yang mampu bisa menargetkan diri untuk berpuasa sehari dalam seminggu atau bahkan beberapa hari dalam seminggu.

[1] Hizb-i Nurî  adalah hasil tafakkur Ustaz dalam Bahasa Arab. Ia membahas hakikat-hakikat dalam Risalah Nur. RIngkasan pendeknya terdapat dalam Syua ke-15, tepatnya di makam ke-2. Saat ini ringkasan dari  Hizbi Nuriye adalah wirid Khulasatul Khulasah. Ia terdapat pada kitab wirid “Hizbu Anwaril Haqaiq Nuriyah/Hizbu Envari’l Hakaiki’n- Nuriyevcuddur.

[2] Malaikat yang di berikan tugas untuk mengatur awan dan hujan di mana ia mengaturnya dengan menggunakan petir sebagai cambuk

[3] yaitu peristiwa ditanamkannya janin Nabi Muhammad ke rahim ibunya

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Menjaga Kesucian – Cahaya Abadi Muhammad SAW

Suatu ketika datanglah seorang pemuda yang menemui Rasulullah SAW, para sahabat memang tidak pernah menyebutkan nama pemuda itu. Namun, setelah saya meneliti semua riwayat yang ada saya menemukan fakta bahwa pemuda itu bernama Julaibib r.a.

Berikut ini kutipan lengkap dari hadis yang saya maksud, diriwayatkan dari Abu umamah dia berkata:

“Seorang pemuda mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah izinkanlah aku untuk berzina!’

Beberapa orang sahabat langsung mengumpat pemuda itu dengan berseru, ‘Yaaa… Yaaah…’

‘Biarkan pemuda itu mendekat.’ pemuda itu pun mendekat dan duduk di hadapan Rasulullah SAW. 

Rasulullah lalu bertanya, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu ibumu?’

‘Tentu tidak!’ saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebus mu’

 Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah ibu-ibu mereka.’

Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu putrimu? 

‘Tentu tidak wahai Rasulullah.’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.” 

Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah putri-putri mereka.’ 

Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu saudarimu?’ 

‘Tentu tidak wahai Rasulullah.’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela Jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.’ 

Rasulullah berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah saudari-saudari mereka. 

Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu bibimu dari jalur Ayah?’ 

‘Tentu tidak!’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu. 

Rasulullah berkata lagi, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah bibi-bibi mereka dari jalur ayah. 

Lalu Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah kau senang jika yang berzina itu bibimu dari jalur ibu?’ 

‘Tentu tidak!’ Saut pemuda itu. ‘Demi Allah aku rela jika Allah menjadikan aku sebagai penebusmu.’

Rasulullah SAW berkata, ‘Demikian pula semua orang tidak ada yang suka jika yang berzina adalah bibi bibi mereka dari jalur Ibu.’ 

Rasulullah SAW lalu meletakkan tangan Beliau di tubuh si Pemuda seraya berkata, ‘Wahai Allah ampunilah dosanya. Sucikanlah hatinya. Dan jagalah kemaluannya.’”

Setelah itu si Pemuda sama sekali tidak pernah melirik apa-apa lagi.

Dengan dialog logis seperti ini, Rasulullah SAW, berhasil membuat si pemuda merasa nyaman terhadap Rasulullah, yang kemudian membimbingnya ke arah kebenaran. Rasulullah bahkan mendoakan pemuda itu dengan berkata 

‘Wahai Allah ampunilah dosanya. Sucikanlah hatinya. Dan jagalah kemaluannya.’ 

Sejak saat itu Julaibib r.a. menjadi teladan bagi umat Islam dalam menjaga kesucian dirinya. Namun rupanya, tidak ada seorangpun yang bersedia menikahkan putrinya dengan Julaibib, karena semua orang telah mengetahui betapa bejatnya pemuda itu sebelum masuk Islam. Rasulullah lalu menikahkan Julaibib dengan seorang wanita. Tapi tidak lama setelah pernikahan dilangsungkan, Julaibib gugur sebagai syahid dalam perang pertama yang diikutinya.

Setelah perang usai, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, ‘Apakah kalian kehilangan seseorang?’ 

‘Iya’ jawab para sahabat, ‘Kami kehilangan si Fulan dan si Fulan.” 

Tapi Rasulullah mengulangi lagi pertanyaannya. ‘Apakah kalian kehilangan seseorang?’ ‘Iya’ jawab para sahabat, ‘Kami kehilangan si Fulan dan si Fulan.” 

Namun kembali Rasulullah mengulangi lagi pertanyaannya, ‘Apakah kalian masih kehilangan seseorang?’ ‘Tidak…’ jawab sahabat. 

‘Tapi aku masih kehilangan Julaibib.’ kata Rasulullah.

Para sahabat pun mencari Julaibib di antara para prajurit yang tewas. Tak lama kemudian mereka menemukan jasad Julaibib tergeletak di tengah tujuh mayat prajurit musyrik. Rupanya Julaibib berhasil menghabisi ke-7 prajurit kafir itu sebelum dirinya gugur sebagai. 

Rasulullah lalu mendatangi jasad Julaibib, dan kemudian beliau bersabda, ‘Dia telah membunuh 7 orang ini, lalu musuh membunuhnya. Dia dariku…. dan aku darinya….. dia dariku….. dan aku darinya…..!’ 

Begitulah dengan kecerdasannya Rasulullah SAW telah berhasil menyelamatkan seorang pemuda dari tepi jurang perzinaan dan dosa. 

Bahkan kemudian dalam waktu yang singkat beliau berhasil mengangkat Pemuda tersebut ke ketinggian martabat. Tentu saja hal ini membuat kita takjub. Bayangkan, seandainya semua ahli pendidikan dan psikologi terhebat di dunia berkumpul di Semenanjung Arab, apakah mereka mampu membentuk pribadi-pribadi berakhlak mulia seperti yang telah dilakukan Rasulullah dalam waktu singkat? 

Tentu tidak. Mereka pasti takkan mampu melakukan itu. Bahkan para ilmuwan itu bukan hanya akan gagal mewujudkan pendidikan terbaik dan pekerti yang luhur, namun, juga tidak akan berhasil menerapkan satu atau dua prinsip pendidikan seperti yang Rasulullah terapkan. Pengalaman sejarah telah membuktikan pernyataan ini. 

Rasulullah hidup di sebuah era ketika moral umat manusia begitu busuk hingga merasuk ke dalam diri mereka dan menjadi tabiat mereka. Akan tetapi, Rasulullah ternyata bukan hanya berhasil mengalahkan moral bejat bangsa Arab kala itu, melainkan juga mengubahnya menjadi pekerti yang sangat baik. Sampai kapanpun, umat manusia tidak akan pernah menyaksikan lagi keluhuran akhlak seperti yang dimiliki umat Islam di masa Rasulullah SAW. Sejarah Islam yang panjang jadi saksi yang membenarkan pernyataan ini dan memberi kita begitu banyak contoh. 

Inspirasi Cahaya Abadi Muhammad SAW kebanggaan umat manusia. Hojaefendi