mohamed-elzalabany-XzHe46VajhE-unsplash

Setiap rumah harus menjadi cabang kiblat (Ka’bah)

Setiap rumah harus menjadi cabang kiblat (Ka’bah)

Misalkan di tengah-tengah Amerika masjid tidak dibuat dalam bentuk aslinya, tetapi dalam bentuk aula. Akan tetapi kita tidak bisa melihat realita ini dalam pandangan yang sempit, sebenarnya di setiap tempat harus dibangun masjid. Misalnya di dalam rumah, satu ruangannya harus dibuat sebagai masjid. Hal seperti ini selain merupakan langkah untuk tidak memancing orang-orang yang iri untuk mengganggu dan bertindak responsif, juga tidak membiarkan mereka mengatakan: “hancurkan mesjid itu…!”. Di satu sisi, Allah SWT pernah berfirman kepada Hz Musa dan Harun as: “waj’alu buyuutakum qiblatan…” (QS 10:87) yang artinya: “jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat salat “. Agar orang-orang cenderung menujumu di sana, agar ketika mereka datang ke rumahmu, mereka melihat dirinya seperti orang yang masuk ke masjid.

Inilah yang disebut dengan membuat nuansa masjid di dalam rumah. Ini bukanlah sebuah istikrar (keputusan) yang hanya kebetulan saja terbersit dalam pikiran. Hal yang demikian seperti melanjutkan kemurnian masa lalu ketika para sahabat memaksimalkan penuh posisi masjidil haram dan masjid nabawi. Dengan perumpamaan Hz Muhammad (SAW) dalam tahun kehidupannya di Madinah, atap masjidnya (SAW) terbuat dari serabut, batang, pohon, dan tambang-tambang. Mungkin disebagiannya menggunakan besi, kira-kira demikian perumpamaannya, dan ketika hujan turun, air pun membasahi seisi masjid. Selama 10 tahun tidak ada seorang pun yang merasa desain masjidnya harus diganti, padahal ganimah-ganimah mengalir seakan dunia datang merangkak ke arah kaki mereka (para sahabat). Ya, walaupun demikian tidak ada satu pun yang merasa diperlukan adanya pemugaran.

Setelah masa kenabian, kemudian tiba masa Sayyidina Abu Bakar ra. Pemerintahannya berlangsung kira-kira selama 2 tahun 3 bulan lebih beberapa hari. Masjid Nabawi seperti aslinya hingga masanya Sayyidina Umar yang berlangsung selama kira-kira 10 tahun. Akan tetapi karena barokah yang demikian besar, setiap orang yang masuk masjid tersebut keluar dalam keadaan full (seperti baterai yg baru dicharge). Kita lihat bagaimana kediamannya baginda Nabi, ada semacam insibar di dalamnya, mereka yang pergi kehadapan baginda Nabi, ketika keluar seperti mendapatkan bagian dari insibarnya SAW. Demikian juga dengan keadaan orang-orang yang keluar dari Masjid Nabawi, semuanya ketika keluar seperti telah mendapatkan bagian insibar di dalam dirinya.

Pertama, 10 tahun di masanya Nabi SAW, kemudian hampir 3 tahun di masa Sayyidina Abu Bakar, sehingga total menjadi 13 tahun. Setalah itu ditambah lagi 10 tahun pada masa Sayyidina Umar ra, total 23 tahun. Kemudian pada masa yang disebut sebagai “Sadr-i Awwali” di zaman Sayyidina Usman ra. Artinya selama lebih dari 1/2 masa “Hayat-i Saniyyah” masjid tersebut masih murni tak tersentuh perubahan, kemudian setelah itu barulah muncul ucapan seperti: “Aku ubah di satu bagian, akan saya tambahkan satu bagian, akan saya kembangkan, akan saya luaskan, dan seterusnya”. Hati nurani umumnya akan mengatakan: “Itu adalah masjidnya Nabi, pilar dan kolomnya dibuat oleh Nabi”, akan tetapi ada bagian yang berbeda, khususnya di bagian raudah. Di suatu waktu mereka mengganti pilar pohon dengan marmer, akan tetapi di zaman Usmani mereka sama sekali tak menyentuhnya (tetap seperti aslinya), setidaknya seperti itu, sekarang akhirnya hanya bisa melakukan sebatas itu.

Atmosfer maknawi masjid Nabawi tetap terjaga di zaman Hz Usman juga. Aura insibanya tetap hadir, mereka yang memasukinya tiba-tiba berubah kondisi maknawinya. Bagaikan terjadi mutasi dalam gen ruhnya, ia pun mencapai derajat yang lebih tinggi, sudut pandangnya berubah, langkah kehidupannya pun berubah. Anda pun akan berujar: “Apakah akan dibiarkan seperti ini saja selamanya?” atau “apakah menara-menaranya tidak perlu didirikan?”. Di zaman itu gereja-gereja raksasa juga dibangun lengkap dengan menara dan kubahnya yang megah.

Kakek moyang Anda menyaksikannya, mereka pun berujar: “Kaum muslimin tidak boleh tertinggal dibelakang mereka”. Di hadapan menara-menara mereka kita pun harus meletakkan menara khas kita yang lebih mulia dan tinggi, “Nama mulianya, ruh maknawinya Rasul Muhammad SAW harus bergaung ke seluruh sudut dunia, oleh karenanya kita pun harus memiliki menara kita, oleh karenanya kubah kita yang megah pun harus ada. Semuanya bergantung kepada sudut pengambilan keputusannya”. Dalam mazhab Hanafi, pembangunan menara ini berkaitan dengan nilai istihsan yang terkandung dalam semangat pembangunannya. Sedangkan dalam mazhab Maliki pembangunannya berkaitan dengan nilai maslahatnya atau menurut sebuah ungkapan: “Masjid-masjid megah telah dibangun lengkap dengan menara dan kubahnya yang megah juga”. Untuk mereka yg telah membangunnya: “Semoga ridha Allah menyertaimu”.

Akan tetapi kemegahan masjid-masjid tersebut, tak ada satu pun yang mampu mengalahkan fungsi dan aura maknawi yang dimiliki oleh kesederhanaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di masa lalu. Mungkin ada satu bagian yang berhasil dimiripi oleh masjid-masjid itu, akan tetapi tetap saja fungsinya sebagai penebar insiba tak bisa disamai, masjid-masjid itu tak mampu menyamai aura Masjid Nabawi terlebih lagi Masjidil Haram. Mungkin saja renovasi tersebut dapat dilihat dari sudut kecintaan kita kepada Nabi SAW, ini normal muncul di pikiran kita sebagai manusia. Ah seandainya pilar-pilarnya terbuat dari zerbejed, ah seandainya saja tiang-tiangnya terbuat dari emas, seandainya saja yang bagian ini terbuat dari zamrut, seandainya mimbarnya terbuat dari perhiasan dari surga atau: “Seandainya terbuat dari simbol kemewahan dunia seperti mutiara”. Inilah yang pasti muncul di benak kita, akan tetapi apakah hal ini yang diinginkan oleh agama kita?

Menurut saya pertanyaan ini akan membuat saya terhenti sejenak. Dalam menghadapi persoalan tersebut, kita perlu bersandar kepada ungkapan “yassiru”, mudahkanlah! “Yassiru”, janganlah engkau persulit. Permudahlah semua permasalah yang sedang engkau hadapi, dengan mudah buatlah ia sesuai karakter aslinya. Masalah ini sedikit berhubungan dengan keihlasan, tujuan untuk ridha ilahi, artinya apapun yang anda akan lakukan, anda akan memfatihkan kalbu-kalbu. Anda akan memasuki kalbu mereka, anda akan melewatkan waktu bersama mereka tanpa harus memicu reaksi  negatif dari mereka, sehingga anda pun tak perlu berhadapan dengan para reaksionis. Demikianlah hizmet yang harus dilakukan, asasnya harus dibawakan pada poros tersebut menurut saya.

Oleh karena itu Allah berfirman kepada Hz Musa dan Harun as di mesir: “Waj’alu buyutakum qiblah” yang artinya “jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat salat “. Entah apakah mereka menggunakan Masjidil Aqsa sebagai arah kiblat mereka ataukah mereka menghadap ke arah Tanah Haram yang Mulia, asasnya adalah bagaimana menjadikan rumah kita berfungsi seperti masjid, bagaimana kita bisa mengusahakan di setiap rumah bisa berjalan seperti masjid. Dan memang itulah salah satu amanat Hz Pir Mugan (Bediuzzaman) kepada anda, itulah rumah-rumah anda, rumah itu kadang anda sebut sebagai “dersane” atau mungkin “rumah cahaya” (isik evler), kalau ada banyak dan besar anda sebut sebagai “asrama”. Akan tetapi kalau seandainya ada tempat taktis, tempat yang suci di dalam setiap struktur, maka itulah tempat dimana anda berkumpul, tempat dimana anda menunaikan tanggungjawab anda sebagai hamba Allah, yaitu tempat-tempat yang difungsikan sebagai masjid. Dimana saja ada tempat tersebut, padanya terdapat barokah. Dan pada hari ini, yang membawakan ruh anda ke seluruh dunia, yang membawakan hal-hal maknawi yang berasal dari akar asal usul anda, yang mengantarkan usare-usare dan yang bersama mereka berusaha mewujudkan cita-cita anda adalah ruh dari rumah-rumah tersebut.

ty-lagalo-Sfe-nQMz2h0-unsplash

Empat Syiar Ahli Kebajikan

Empat Syiar Ahli Kebajikan

Guruku yang mulia, baginda Rasul al Akram S.A.W bersabda: “Fadhilah yang paling tinggi ialah dia yang menyambung kasih atas orang yang memotong hubungan dengan anda, berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada anda, dan santun kepada orang yang mencaci maki anda” (HR Ahmad No. 15065), dan dalam riwayat lainnya: “memaafkan mereka yang berbuat zalim kepada anda”. Berkenankah Anda menjelaskan intisari pesan dan hakikat yang terkandung di dalam hadis ini, apa yang dimaksud dengan fadhilahnya?

Fadhilah yang di zaman sekarang ini mereka katakan sebagai keutamaan atau kalau memang maknanya sepadan, anda dapat menyebutnya dengan “keutamaan yang paling utama”. Prinsipnya, di satu sisi pemilik fadhilah adalah sang pahlawannya pahlawan. Maksudnya, pahlawan dengan bakat di atas kemampuan pahlawan biasa, dengan kata lain merekalah yang dimuliakan dengan bakat kemampuan yang melampaui kemampuan orang-orang pada umumnya. Merekalah yang dimuliakan dengan berbagai macam kelebihan oleh Penciptanya (SWT).

Dari sisi pendefinisian ini, maka dapat diketahui bahwa kata “utama” tidak mungkin sepadan dengan kata “fadhilah”. Disabdakan bahwasanya fadhilahnya fadhilah (أَفْضَلُ الْفَضَائِلِ) yang pertama adalah أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ (An tashila man qatha ak). Jadi maksudnya, tugas mendasar anda adalah untuk tidak pernah memutuskan hubungan dengan yang memutuskan silaturahminya dengan anda. Sekarang bagaimana kita tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang yang memutuskan hubungan dengan kita? Kita harus tetap mempererat tali kasih sayang seerat hubungan orang-orang yang tidak bercerai-berai, sebagaimana di dalam hati nurani kita yang sebenarnya senantiasa terpatri perasaan untuk saling terhubung. Entah itu kerinduan kepada tanah air, sedangkan untuk kerinduan kita kepada ayah dan ibu, kita menyebutnya: “ikatan kepada ayah dan ibu”.

Terkadang dalam satu frame, semua tempat yang pernah kita kunjungi, hampiri, dan tinggali semuanya menjadi satu dalam sebuah keinginan, meliputi pikiran kita. Seringkali kita pun mengerang menahan kerinduan terhadap tempat-tempat itu, oleh karena itulah jangan sampai kita mengizinkan perpisahan dan perpecahan muncul di tengah kita. Prinsipnya adalah jangan sampai kita membiarkan mereka (yang memutuskan hubungan dengan kita) dalam kesendiriannya. Kalau hati mereka cenderung kepada perpisahan, mereka bagai melepaskan diri mereka, seperti dahan yang menggugurkan daunnya, hingga sang daun pun membusuk di tanah. Maka kita pun dengan segala daya yang ada di tangan, kita harus bisa menjadi penghalang terjadinya perpecahan. Jangan sampai memberi kesempatan kepada timbulnya perpecahan, kalau anda bisa melakukannya, maka itulah yg disebut “fadhilahnya fadhilah” untuk anda.

Kesendirian adalah masalah yang amat krusial, ketika anda mengatakan: “afdholul fadhooili an tashila man qatha ak…”, maka sebenarnya kalimat itu menitikberatkan pada masalah bersendiri (krn berpisah). Tetapi masalahnya tidak hanya sampai disitu, poin tadi hanyalah salah satu dari 4 asas fadhilah, akan tetapi jika ada satu orang yang memilikinya, maka itulah sifat mukmin sejati, itulah akhlaknya Al Quran, akhlak Nabawiyah SAW.

Kemudian yang kedua: “wa tu’tiya mammana ‘aka”. Ketika seseorang tidak memberi anda, baik itu berupa penghargaan atau pemuliaan, baik itu berupa pemberian satu sama lain, kalau misalnya ada kebutuhan anda mungkin berupa sedekah kalau ada keperluan yang lain, misalnya berupa zakat, kalau misalnya ketika ada sebuah pekerjaan, mungkin berupa support dukungan. Mungkin dia tidak melakukan hal tersebut, dia mungkin tidak membantu anda dalam kasus ini, dia bisa dikatakan tidak menunaikan tugasnya untuk membantu sesama muslim. Akan tetapi walaupun demikian, anda harus tetap meneruskan bantuan anda kepadanya di dalam kasus itu, demi terwujudnya perasaan memberi kepada sesama, anda harus hadir menghadapi sikapnya yang tidak mau memberi dengan tetap berbagi.

Dia mungkin tidak memperhatikanmu, acuh tak acuh, dia mungkin juga tidak menghargai anda. Meski demikian tetaplah tunjukkan perhatian anda kepadanya dan hargailah ia, pastikan tangan dan hati anda selalu terbuka untuknya. Tetaplah berprasangka baik saat berhadapan dengannya, jangan sembunyikan senyum diwajahmu saat berpapasan dengannya, jangan menyimpan uluran tanganmu untuknya, demikian juga dengan sifat suka memberimu. Inilah poin kedua hadis ini, poin ini pun membahas topik “kesendirian”. Lagi-lagi merupakan hal yang penting, ini pun adalah sifat seorang mukmin, bersamaan dengan itu inilah khuluqul Quran (akhlak Ilahi). Mengapa demikian? Karena Allah Jalla Jalaluhu, walaupun syukur kita sedikit tetapi Dia tetap senantiasa membagikan rizki-Nya, tak pernah meninggalkan kita sehingga tidak mendapat kebagian.

Mengenai hal ini saya memohon izin untuk menyampaikan sebuah riwayat, Sayyidina Hz Ibrahim as ketika ada tamu yang datang, beliau senantiasa menghidangkan jamuan, itulah Hz Ibrahim yang masyhur dengan kedermawanan dan kemuliaan hatinya. Sebagaimana beliau as masyhur dengan ketulusannya, kesetiaannya, dan kehangatannya terhadap sahabat-sahabatnya, beliau pun terkenal dengan kedermawanannya, memberi makanan kepada semua orang, beliau menyuapi masyarakatnya dengan apapun yang dimilikinya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa malaikat berkata: “Ya Rabbi, kekasihmu ini (Hz Ibrahim) kalau dilihat dari status kedekatannya dengan-Mu, bagaimana bisa mempunyai dunia (materi) begitu banyak?”. Dengan level kedekatannya yang seperti ini, bagaimana bisa beliau as mempertahankan memiliki harta duniawi yang banyak sekaligus juga menjadi khalilullah? Disini Allah SWT mengirimkan malaikatnya, sebenarnya dalam kisah ini kita tidak perlu memfokuskan pada apa yang dikatakan secara zahir oleh para malaikat, kita harus melihat hakikat apa yang sebenarnya terjadi dalam riwayat ini. Malaikat mendatanginya, kemudian para malaikat mengatakan kepada Hz Ibrahim: “Subbuhun Quddusu Rabbuna Wa Rabbil Malaikatu Warruh…”, dan tentu saja Hz Ibrahim as bukanlah sosok yang tidak paham makna dari kalimat ini. Beliau as, menghambakan diri dalam bentuk yg paling cocok dengan bayangan Zat Ilahi. Maka, demikian bersemangatnya di dalam penyucian dan penghambaan kepada Allah, Hz Ibrahim (demi mendengar tasbih yang dibacakan malaikat) mengatakan: “Biarlah 1/3 dari hewan ternakku ini untukmu saja”.

Demikian mulia hatinya, demikian dermawan dirinya. Hz Ibrahim berkata: “Bisakah anda membacakan kalimat tasbih tersebut sekali lagi?”, ini maknanya apa? Demikian besarnya pengaruh kalimat tasbih yang diucapkan dari lisan malaikat kepada hati hz Ibrahim. Kata-kata ini pasti bukan karena Hz Ibrahim tidak mengerti kedalaman maknanya sehingga minta diulangi agar bisa dimengerti, tetapi Beliau as ingin mendengarnya lagi (keluar dari lisan para malaikat). Maka ketika dibacakan kembali untuknya sekali lagi, Hz Ibrahim berkata: “Sisa ternak 1/3nya lagi untuk anda”. Sekali lagi dibacakan  untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Semua ternak saya untuk anda saja”, dan  ketika keempat kalinya dibacakan lagi untuknya, Hz Ibrahim berkata: “Biarlah saya menjadi budak anda (krn hartanya sudah habis)”. Demikianlah, demikian mulianya dan dermawannya hati hz Ibrahim as sudah memasuki tikungan ketiga.

cristian-newman-Zi8-E3qJ_RM-unsplash

Penyesalan Suci

Penyesalan Suci

Manusia masuk ke lubang dosa, terpeleset dan terjatuh ke dalamnya, seperti Hz Otube. Setiap anda mengingat dosa tersebut, anda akan merasakan kepedihan sebagaimana halnya yang terdapat dalam sebuah hadits syarif bahwasanya Allah ta’ala lebih memilih orang-orang yang merasa pedih dengan dosa-dosanya, karena di sisi Allah pendosa yang menderita tersebut bagaikan tak pernah melakukan dosa. Kalau anda tidak melakukan dosa, kemudian masuk ke lubang dosa, akan tetapi ruh anda tidak merasa pedih akan akibat dosa tersebut, maka Allah akan mengganti mereka dengan suatu kaum yang ketika berbuat dosa mereka merasa pedih, bertaubat, yang akan dicintai-Nya, yang akan menerima maghfirah-Nya.

Dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Yaa ibaadii… kullukum dhaalluun illa man hadaytuhu, fastahduuni ahdikum yang artinya “Wahai hambaKu”, demikian Allah menyapa kalian dalam hadits qudsi-Nya. “Wahai hambaKu,” sapa Allah, lihatlah bagaimana Allah memanggil hamba-Nya. Ketika saya menjelaskan hadits ini, anda akan merasakan Allah sedang membelai kepala anda. “Yaa ibaadii… kullukum dholluun illa man hadaytuhu”, “Wahai hambaKU, kalian semuanya tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah”. Artinya adalah “Kalian semua bisa tersesat, akan tetapi barangsiapa yang mendapatkan hidayahKu, barangsiapa yang berada dalam penjagaanKu, maka ia tidak akan pernah tersesat”. “Fastahduuni ahdikum”, “mintalah hidayah kepadaKu, niscaya Aku akan memberi hidayah padamu”.

“Yaa ibaadii…”, “Wahai hamba-hambaKu….”. “Inna kuntukhfahu bil layli wannahar wan naghfiru dzunuba jami’a fastaghfiru nagfirlakum”, “Kalian berbuat dosa di pagi dan malam, pagi dan malam kalian melakukan perbuatan maksiat, dan Aku adalah Al Ghafur dan Ar Rahim, Aku mengampuni semua kesalahan. Janganlah jatuh ke kesedihan tak berujung, janganlah kalian jatuh ke jurang keputusasaan, mintalah maghfirah! Akan Kuampuni semuanya!”.

Ketika anda mengingat tempat, waktu, dan perbuatan dosa yg pernah anda buat, maka anda akan menderita karena penyesalan, penderitaan akan dosa (izdirab) akan menjadi sebuah dimensi ketakwaan. Hz Adam as terpeleset, setelah memahami kedalaman ketaatan akan perintah, beliau pun membungkuk bersimpuh dan berdoa: “Rabbana dzalamna anfusana wa illam taghfirlana wa tarhamna lana kuunanna minal khosirin”, “Ya Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yg merugi”. Dan Nabi Adam, menurut sebagian penafsir, selama 30 tahun dan menurut pendapat yang lain 40 tahun setelah datangnya perintah (untuk turun ke bumi) kepada dirinya, beliau senantiasa mengangkat kepalanya ke arah langit, tapi tak mampu melihat (langit).

Hz Adam 30 tahun senantiasa mencari ampunan di bumi, akan tetapi ketika melihat sekelilingnya beliau bagaikan bunga basak yang merunduk. Taubatnya membesar, terisi penuh, bagaikan bunga basak yang gemuk kemudian merunduk ke tanah dan oleh karena memang tempat beliau adalah bumi, maka tempat akan jatuhnya beliau pun adalah tanah. Allah menciptakan beliau sebagai bunga basak, sang bunga pun merunduk jatuh ke tanah dan membusuk, dan dari sana bertunaslah pohon “Nabi Muhammad”. Wazifah (tugas) utama Hz Adam di dadanya memang adalah memang untuk mem”fermentasikan” kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan dia pun menunaikan tugasnya tepat 30-40 tahun beliau mengangkat kepalanya memohon ampunan, tapi tak mampu ia memandang langit. Semua rasa malunya akan dosanya mejadikannya dalam bahasa para nabi “Adam sang Safiyullah”.

Hz Adam adalah hamba Allah yang paling bersih dan murni, sebagaimana firman Allah: “……rabbahu fa ghawa…”. Dalam peristiwa ini, untuk level para nabi, Nabi Adam dihitung tidak mentaati perintah Tuhannya. Apakah yang beliau as perbuat? Mari kita misalkan, anda punya anak dan anda minta kepadanya: “Nak ambilkan ayah segelas air,” dan anak anda menjawab: “hari ini aku lagi enggak mood untuk bawain ayah air minum”. Anda pun pasti akan marah dan berucap: “Dasar keras kepala!”. Sesungguhnya apakah perbuatan itu masuk kategori pemberontakan ataukah ekspresi keras kepala? Bukan! Akan tetapi ketulusan anda kepada putera anda, kedekatan emosi anda dengan anak anda, kecintaan anda kepada putera anda, kebutuhan anda akan keberadaan putera anda. Demi mendengar penolakan kecil dari perintah sederhana anda, anda langsung mengatakan kepadanya: “dasar keras kepala!”

Dia, dengan kata dari Hz Adam (biarlah ruhku kukorbankan untuknya), fa’a sa’a rabbahu (maka Hz Adam berusaha kepada Tuhannya), tidak berbeda dengannya. Akan tetapi beliau as, dengan penderitaan di dalam kerangka ketakwaan sucinya yang bisa membuatnya mati, dari menara-menara kita, kita membaca doa salawat dan salam. Kita katakan: asshalatu wassalamu ‘alayka ya Rasulullah, atau ya Adam safiyullah. Hz Adam adalah Safiyullah, ya Adam safiyullah, Hz Adam adalah hamba Allah yang paling murni,  inti dan induk dari seorang hamba adalah bagaikan sebuah ketekunan dalam ibadah ketakwaan.

Misalnya lagi, Hz Yunus bin Matta meninggalkan kaumnya tanpa izin, dan di satu tempat di tengah lautan beliau dilemparkan ke tengah laut dan ditelan seekor ikan. Marilah kita tidak membuat perdebatan mengenai situasinya ketika itu, akan tetapi tasbih yang membuatnya terlempar ke pantai keselamatan memiliki peranan yang penting di dalam tabir ketersiksaan. Memohon, memanggil, dan mengerang tiada ilah yg wajib disembah selain Engkau. Punahlah harapan akan pertolongan dari sebab-sebab yang lain.

Aku mengetahuiMu, aku mengenalMu, mataku kuhadapkan kepadaMu. Engkaulah yang membolak-balikkan segala sesuatu. Segala sesuatu berputar oleh karena kekuatan dan izin dariMu, tidak ada segala sesuatu pun yang dapat melakukan sesuatu tanpa kehendakMu, dengan tasbih aku mensucikan namaMu. Tidak ada sesuatupun yng menyerupaiMu, senin ziddin yiddin yoktur, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai kekuatanMu, tidak ada yang dapat menyelamatkan diriku selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim. Bagaikan seseorang yg menumpakkan susu, bagaikan anak kecil yang melakukan suatu kenakalan, dihadapan Allah ta’ala membungkuk, menyesal, dan menderita karena dosa adalah sebuah kedalam kekhusyuan penghambaan.

Ya Allah sesungguhnya penyakit telah menimpa kami, maka ya Allah kasih sayangilah kami. Ya Allah kasih sayangilah kami. Amiin…Amiin…Amiin…

zdenek-machacek-jbe0iCwo-U0-unsplash

Dua Prinsip Penting Dalam Dakwah: Sidik dan amanah

Dua Prinsip Penting Dalam Dakwah: Sidik dan amanah[1]

 Tanya: Dapatkah Anda menjelaskan maksud dari pernyataan berikut “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran”[2]

Jawab: Pernyataan ini ketika pertama-tama tumbuh di jiwa manusia dan berkembang di dalam masyarakat, ia telah mengguncang sebab-sebab kedustaan dari pondasinya.

      Dusta dengan penjelasan paling sederhananya adalah mengklaim suatu hal yang sebaliknya. Al Quran menyebut setiap sikap dan laku mereka yang mengingkari Allah sebagai dusta disebabkan mereka mengingkari hakikat besar di alam semesta ini.

۞ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? (Az Zumar 39:32)

      Ayat tersebut dengan gamblang menjelaskan betapa perbuatan mendustakan Allah dan mendustakan kebenaran merupakan sebuah dosa yang amat menakutkan, saya tidak tahu apakah masih diperlukan untuk mengemukakan penjelasan lainnya.

        Kedua; dusta adalah sebuah karakter buruk yang dapat melenyapkan perasaan aman dan loyalitas yang terdapat pada seorang manusia. Seorang manusia yang beberapa kali berdusta lama kelamaan seperti meletakkan bayangan di hadapan segala kebenaran yang terpancar dari dirinya. Demikian pentingnya kebenaran, ketika prinsip-prinsip kenabian lainnya seperti tablig, fatanah, seimbang dan tidak jatuh kepada ifrat dan tafrit, serta kompetensi untuk senantiasa berada di atas siratal mustakim tumbuh di bawah spektrum bimbingan wahyu; karakter sidik dan amanah telah mulai tumbuh sejak Nabi masih belia dan berlanjut di sepanjang umur kehidupannya. Andaikata seorang Nabi di masa belianya sebelum diangkat menjadi nabi pernah berdusta ataupun diketahui tidak amanah, maka saat diangkat menjadi nabi orang-orang di sekitarnya akan berkata:” Kamu memang sebelumnya sudah sering berdusta. Kini dari mana kami tahu jikalau pesan-pesanmu tersebut bukanlah kedustaan lainnya?”

        Sidik adalah sifat para nabi yang paling utama, sedangkan dusta adalah sifat yang paling jauh dari kenabian. Al Quran pada surat al Anbiya ayat 58-68 menjelaskan peristiwa bagaimana Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya dimana beliau kemudian meletakkan kapaknya di leher patung yang terbesar dan setelah memberi isyarat bahwa patung besar itulah yang melakukannya, beliau berkata:

بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا

Artinya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya,

           Barangkali pernyataan metafora tersebut dengan sedikit sentuhan kecermatan adalah pernyataan yang benar. Akan tetapi, karena uslub yang demikian kurang cocok dengan tingginya derajat kenabian maka kepada mereka yang di hari akhir nanti meminta syafaat kepadanya, beliau akan berkata:” Seorang manusia yang pernah berbuat kekeliruan seperti itu tidak bisa memberi syafaat kepada kalian”. Pernyataan beliau tersebut juga memberi penekanan yang teramat penting betapa menyeramkannya dusta.

     Potret Kebanggaan Umat Manusia SAW telah masyhur dengan sifat jujur dan amanahnya jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Di antara banyak peristiwa barangkali kisah ini dapat dianggap sebagai dokumentasi penting yang menjelaskan karakteristik istimewa beliau tersebut: Suatu hari Kabah mengalami perbaikan. Ketika tiba waktu untuk meletakkan hajar aswad di tempatnya semula, muncullah ketegangan di antara kabilah. Hampir-hampir semua perwakilan kabilah mengeluarkan pedangnya dan menyatakan bahwa kabilahnyalah yang paling layak untuk mengerjakan tugas itu. Kemudian mereka membuat keputusan: Orang pertama yang memasuki Kabah akan mereka pilih sebagai hakim dimana keputusannya akan diterima oleh semua kabilah. Semua orang pun menunggu dengan penuh rasa penasaran hingga akhirnya orang yang pertama masuk adalah Nabi Muhammad. Sedangkan beliau saat itu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Ketika kawan maupun lawan menyaksikan sosok yang memberikan rasa aman ini masuk maka berserulah mereka:”Yang datang adalah al Amin!”. Semua anggota kabilah sepakat untuk menerima apapun keputusan beliau tanpa syarat atau kondisi apapun. [3]

         Terdapat satu lagi peristiwa yang mendokumentasikan keterpercayaan beliau bahkan di kalangan lawan-lawannya: Sang Nabi beberapa saat setelah turunnya kenabian mengumpulkan orang-orang. Sambil menatap Jabal Abu Qubais, beliau bersabda “Apakah kalian percaya jika kukatakan bahwa di balik bukit itu terdapat pasukan musuh yang sedang datang untuk menyerang?” Kaum musyrik demi mendengar pertanyaan ini menjawab:”Ya, kami percaya!” Menimpali jawaban tersebut, Baginda Nabi kembali bersabda:”Ketahuilah bahwa aku adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT.” Beliau menyelesaikan kata-katanya tetapi sebagian besar dari yang berkumpul tetap hidup dalam keadaan menentang kenabiannya.

        Pada hari ini, sosok yang dianggap sebagai hulubalang dakwah nabawiyah haruslah memberi perhatian besar kepada sifat sidik dan amanah sebagaimana Sang Nabi mempraktikkannya. Setiap kata yang disampaikan haruslah kata-kata yang benar. Di masa di mana dusta makin digemari dan banyak orang dengan santainya berdusta, maka kebenaran semakin mendapatkan nilai. Untuk itu, setiap murid Al Quran tidak boleh merendahkan dirinya di hadapan dusta bahkan yang terkecil sekalipun; murid Al Quran harus menyampaikan kebenaran atau jika tidak bisa maka ia lebih baik tidak berbicara.

       Ketiga, dalam beberapa keadaan, seorang manusia, bangsa, ataupun negara bisa saja berhadapan dengan kondisi dimana mereka diharuskan berbohong demi menjaga keselamatan dirinya. Dalam keadaan demikian sekalipun hendaknya kita memberi perhatian lebih spesifik lagi dan sama sekali tidak boleh menggunakan dusta sebagai jalan keluarnya. Ya, representasi dari rasa aman serta saksi kebenaran setiap saat harus berpikir dengan benar, berbicara dengan benar, dan bergerak dengan benar.

         Ya, setiap orang memang harus menyampaikan kebenaran, tetapi “Setiap kebenaran tidak harus disampaikan di setiap tempat.” Misalnya, seseorang yang memberikan informasi kepada musuh tentang posisi barak militer pertahan pasukannya sama artinya dengan memberi bara api kepada musuh dan membiarkannya menyerang pertahanan bangsanya. Untuk itu, dalam keadaan demikian hendaknya mencukupkan diri dengan kebenaran yang tidak memberikan implikasi bahaya. Tidak perlu baginya membocorkan kebenaran-kebenaran yang dapat membahayakan kelanggengan pos pertahanannya.

       Kesimpulannya, seorang manusia tidak perlu membuka pintu dusta walaupun itu tujuannya untuk masuk surga. Sambil menggenggam pernyataan “Setiap yang kamu katakan haruslah kebenaran, tetapi kamu tidak mempunyai hak untuk mengatakan semua kebenaran” sebagai prinsip, maka kita harus mengatakan kebenaran di setiap waktu.

[1] Diterjemahkan dari artikel yang berjudul: Tebligde iki Onemli Esas: Sidk ve Emanet, dari buku Prizma 4

[2] Bediuzzaman Said Nursi, Maktubat, Surat ke-22, Pembahasan Pertama

[3] Musnad Imam Ahmad, Mustadrak Imam Hakim

jaka-skrlep-I9NImPIQgso-unsplash

Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT dan Umat Manusia: Kurban

Sarana Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT dan Umat Manusia: Kurban[1]

Pertanyaan: Jiwa-jiwa berdedikasi melalui sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu kurban, telah membangun jembatan simpati, baik di dalam negeri, mulai dari bagian timur hingga barat Turki, maupun ke berbagai wilayah di luar negeri, khususnya negeri-negeri yang amat miskin di belahan benua Afrika. Apa saja ide serta nasihat Anda agar aktivitas penyelenggaraan ibadah kurban yang demikian dapat dikelola lebih baik lagi?

Jawaban: Awalnya segala sesuatu bermula dari hal kecil. Selang beberapa waktu kemudian, tumbuh rasa kepemilikan pada generasi berikutnya. Mereka memberikan pundaknya untuk dipikuli sebagian beban, mengembangkan sistem dan metode baru, serta menghasilkan beragam alternatif lainnya. Demikian juga dengan ibadah kurban. Pada satu periode waktu di negara kita ia hanya dilakukan untuk menunaikan kewajiban[2] individu dimana daging dari hewan kurban yang dipotong hanya dibagikan kepada tetangga kanan-kiri saja. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya di dalam negeri, kurban telah menjadi sarana penting untuk mendekatkan hati antar manusia di berbagai penjuru dunia.

Kurban dan Tabiat Itsar[3]

Allah SWT tepat di awal surat kedua berfirman: “…dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Al Baqarah 2:3) mengisyaratkan bahwasanya pemilik hakiki dari segala harta benda adalah Dirinya, sedangkan kita manusia hanyalah pengemban amanah yang dititipi olehNya. Yakni, apa yang kita berikan pada dasarnya merupakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita. Saat berfirman “Kamilah yang memberi rezeki” Dia mengingatkan kita untuk tidak perlu khawatir kehabisan rezeki. Topik ini dibahas lebih eksplisit pada ayat lainnya:”Sungguh Allah, dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS adz Dzariyat 51: 58).

            Sebenarnya bagi seorang manusia, baik itu zakat, sedekah, ataupun ibadah kurban, terkait bahasan memberikan harta yang dimiliki kepada orang lain, ibadah tadi hanyalah sisi minimum dalam menunaikannya. Maksudnya adalah Dia seolah mengatakan “Jika hal tadi pun kalian tidak menunaikannya, kalau begitu carilah sendiri tempat untuk kalian tinggali!.” Sisi maksimum dari bahasan tersebut ditunjukkan oleh ayat lainnya:”Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (QS al Hasyr 59:9).” Seseorang yang bergerak dengan semangat ini, waktunya, kelapangan kesempatannya, ilmunya, pengetahuannya, kekayaannya, pikirannya, pendeknya, segala sesuatu yang dianugerahkan Allah SWT kepada dirinya dipersembahkan untuk turut dinikmati oleh seluruh umat manusia hingga tetes terakhir. Istilah populernya, membagikan segala apa yang ada di tangannya kepada orang lain.

            Demikian juga di musim kurban, kaum muslimin setidaknya melalui ibadah kurban akan menampilkan jiwa kedermawanannya, menakhlukkan kalbu-kalbu, dan membuat mereka yang tak pernah menikmati daging akan merasakannya melalui daging hewan-hewan kurban yang dipotong di hari itu. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa Allah SWT akan menjadikan hewan-hewan kurban yang disembelih tersebut sebagai hewan tunggangan di hari dimana mereka akan sangat membutuhkannya.[4] Mereka yang berkurban di hari akhir kelak akan berkata:”Hewan manakah yang akan kutunggangi?” dimana ujaran ini menggambarkan ketakjuban mereka pada besarnya ganjaran dari penunaian ibadah kurban tersebut.

            Rasulullah SAW pernah bersabda:”Barangsiapa mampu tetapi tidak menyembelih hewan kurban hendaknya ia tidak mendekati tempat salat kami.”[5] Lewat sabdanya ini beliau berharap agar semua yang memiliki kelapangan untuk memotong hewan kurban. Oleh karena dalam teks hadis tersebut perintah berkurban diikuti oleh ancaman yang amat berat, maka para fukaha Hanabilah mengatakan bahwa lafal hadis menjadi dalil bahwa setidaknya berkurban adalah wajib[6]. Sebagaimana pada zakat terdapat nisab dimana bagi mereka yang memiliki harta telah sampai nisab maka hukumnya membayar zakat bagi mereka adalah fardhu ‘ain, demikian juga bagi mereka yang memiliki kelapangan juga wajib memotong hewan kurban. Oleh karena kurban adalah ibadah yang hukumnya wajib, maka mereka yang memiliki kelapangan juga wajib memotong hewan kurban. Tidak ada orang yang mau masuk ke dalam golongan orang-orang yang dilarang mendekati tempat salat sebagaimana terucap dalam ancaman Baginda Nabi. Kalimat “yang memiliki kelapangan” juga berarti dalam masyarakat juga terdapat orang-orang yang tidak memiliki kelapangan. Dalam keadaan tersebut, mereka yang memiliki kelapangan tidak boleh melupakan hak para fakir miskin yang terdapat di dalam nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada dirinya. Dengan demikian, mereka yang memiliki kelapangan harus mengayomi mereka yang tidak memiliki kelapangan. Orang-orang yang berkurban, dari hewan kurban yang dipotongnya dapat membuat orang-orang yang level ekonominya lebih bawah bisa merasakan kenikmatan daging.

            Pembahasan dalam ayat lainnya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.”[7]memberi kita motivasi untuk berinfak. Jika demikian maka manusia harus memilih hewan paling baik karena nantinya ia akan menjadi tunggangannya di akhirat kelak. Hewan yang bisa digunakan untuk ibadah kurban sendiri sebenarnya memiliki kriteria tertentu seperti tidak boleh buta, cacat, tuli, dan syarat lainnya. Segala sesuatu yang dikerjakan di dunia akan kembali kepada kita manfaatnya sesuai dengan dimensi yang akan diwujudkan oleh alam berikutnya.  Oleh karena kita tidak mengetahui alam akhirat serta oleh sebab tidak mungkin bagi kita meletakkan segala sesuatu di alam akhirat ke dalam suatu pola, kita pun tidak bisa mengetahui seperti apa ganjaran yang akan kita dapatkan. Barangkali ia akan tersimulasi di hadapan kita dalam bentuk sebuah pesawat, kapal, sampan, ataupun kuda yang perkasa. Jika kita melihat pembahasannya dari sudut luasnya rahmat Ilahi serta kebenaran dari semua janji-janjiNya, maka dapat kita katakan bahwa segala hal tersebut secara mutlak akan kembali kepada kita.

            Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra, Rasulullah SAW membagikan 2/3 daging dari hewan kurban yang disembelihnya. Agar kebutuhan keluarganya juga terpenuhi, beliau menyisakan 1/3 bagian daging kurban untuk dikirim kepada keluarganya. Demikianlah takaran bagi seseorang yang ingin memanfaatkan daging kurban yang dipotongnya sesuai tuntunan sunah. Akan tetapi, jika dalam satu kepala keluarga dipotong hewan kurban sebanyak jumlah anggota keluarganya maka pembagiannya bisa berbeda. Misalnya salah satu hewan kurban, atau separuhnya, atau sepertiganya dapat dikirimkan ke rumah pengkurban, sedangkan sisanya bisa didistribusikan ke orang lain. Orang yang melakukan pembagian seperti ini di satu sisi tidak meninggalkan anggota keluarganya dalam keadaan melarat, membuat mereka mencicipi daging kurban, serta melunasi hak/hutang mata, di sisi lain lewat kurban kita mengulurkan tangan kepada mereka yang papa, sekaligus membangun jembatan kasih dan sayang antar anggota masyarakat.

Mendarah Dagingnya Tabiat Kepahlawanan

            Sebagaimana dijelaskan di awal, pada satu periode di negeri kita[8] semua orang memotong kurban, sebagian daging dikirim ke rumahnya sedangkan sisanya dibagi-bagikan ke tetangga. Akan tetapi, datang suatu hari dimana ibadah kurban tidak hanya dilakukan untuk desa dan kampung kita saja. Ia telah menjadi sarana untuk menjangkau saudara-saudara kita yang membutuhkan di wilayah yang lebih luas. Mereka yang memiliki kelapangan menanggung amanah tersebut. Setelah itu, satu teman tidak hanya mencukupkan dirinya untuk mengeluarkan satu hewan kurban, melainkan dua, tiga, sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh ekor hewan kurban. Hal tersebut di waktu yang sama merupakan ekspresi bagi berkembangnya tabiat kepahlawanan dan mendarah dagingnya jiwa kedermawanan. Di sisi lain, diumumkannya jumlah hewan kurban dari masing-masing individu membawakan pengaruh berupa tambahan motivasi bagi jiwa-jiwa manusia yang mendengarnya. Dengan demikian, kurban yang diberikan dari negeri kita telah mengayomi kaum fakir miskin di seluruh penjuru dunia. Mereka yang menyaksikan semangat itu kali ini akan berujar:”Ayolah, dengan izin dan inayat Allah SWT mari kita usahakan kegiatan ini untuk jangkauan yang lebih luas lagi!”.  Dan pelayanan kurban yang dimulai dengan benih kecil kini telah membentuk lingkaran raksasa. Jiwa-jiwa yang rela berkorban ini tidak menyisakan satu pun negeri dengan kemiskinan serius tidak dijangkau di mana sebagian besarnya terdapat di  negeri-negeri di Benua Afrika. Demikian seriusnya kemiskinan di sana, masyarakatnya barangkali juga tidak bisa menemukan daging untuk dimakan walau hanya setahun sekali. Begitulah rekan-rekan berjiwa itsar mulai menegakkan komitmennya dan menjangkau negeri-negeri tersebut dengan ibadah kurban mereka.

            Tentu saja tidak hanya Afrika, rekan-rekan kita yang rela berkorban juga memotong hewan kurban serta membagikan dagingnya kepada masyarakat dimanapun mereka berada. Pengabdian kemanusiaan yang demikian terlihat menarik bagi masyarakat setempat yang memiliki latar belakang budaya dan pemikiran berbeda. Daging kurban yang Anda hantarkan baik yang sudah dimasak ataupun masih segar merupakan panorama indah yang baru pertama kali mereka saksikan.  Tidak ada budaya demikian dalam kultur mereka. Ya, di daerah dimana jamuan berupa segelas teh tidak akan disuguhkan tanpa adanya barang jaminan dominan, apa yang rekan kalian lakukan adalah suara dan nafas baru bagi mereka. Lewat sarana tersebut, masyarakat itu menyadari nilai-nilai indah yang terdapat pada diri kalian, menyadari kedermawanan Islam, kemurahan hati saudara-saudara muslim, semangat itsar, serta menyaksikan peristiwa memberi makan orang lain walaupun dirinya sendiri belum makan. Pada akhirnya, mereka pun mulai mencintai dan memiliki ikatan hati kepada pondasi yang menjadi dasar gerak dan semangat kalian. Menurut pendapat saya, di dunia yang tengah mengalami globalisasi dewasa ini, kegiatan-kegiatan semacam ini adalah sarana penting bagi terbangunnya jembatan cinta dan dialog antara kultur yang berbeda. Kegiatan yang diselenggarakan di jalan tersebut telah meraih posisi tertentu. Oleh karena mencukupkan diri dengan apa yang sudah dikerjakan merupakan bagian dari kemalasan[9], maka kita harus bergerak sambil selalu menaikkan target di setiap program yang diselenggarakan di masa mendatang.

            Penjelasan lain dari point tersebut adalah: Setiap tahun, Anda harus membuat program tersebut selalu menarik dengan jalan memainkan format acara serta menambahkan warna dan pola baru di dalamnya. Misalnya, selain membagikan daging, Anda juga bisa membuka posko pengumpulan pakaian layak pakai dimana orang-orang dapat menyumbangkan pakaian ataupun barang layak pakai yang sudah tidak digunakan lagi. Selain paket kurban yang sudah disiapkan, barang-barang tersebut setelah disortir dapat juga Anda bagikan kepada kaum fakir dan miskin penerima paket kurban. Karena di tempat Anda pergi berkurban, masyarakatnya tidak memiliki pakaian yang layak untuk dikenakan. Anda dapat menyaksikan di satu sisi terdapat gedung-gedung raksasa pencakar langit, tetapi di sisi lain terdapat orang-orang yang kondisinya lebih buruk dari mereka yang tinggal di pinggiran kota. Apalagi di Afrika, demikian buruknya kondisinya, bantuan sederhana pun menjadi sebuah sumbangsih yang amat berarti bagi mereka. Untuk itu, dengan menambah warna dan kedalaman makna di setiap kegiatan atau program yang diselenggarakan, kita harus berusaha mengukir senyum di wajah masyarakat setempat. Apalagi senyuman di wajah mereka akan menjadi sarana bagi terukirnya senyum di wajah kita juga.

            Bagaimana Allah SWT memberikan inayatNya serta pintu kebaikan apalagi yang akan dibukaNya di depan kita, kita tak bisa mengetahuinya. Oleh sebab itu, dalam beragam kesempatan kita harus memainkan format acaranya, memberinya variasi dan  tambahan yang bakal menarik perhatian, serta harus membangun dan membangkitkan kalbu-kalbu setiap anggota masyarakat yang kita temui. Apa yang akan dikehendaki Allah SWT setelah kita maksimal dalam berikhtiar adalah hak prerogratifNya. Meminjam istilah yang digunakan Ustaz Said Nursi:”Kita kerjakan apa yang menjadi tugas kita, tidak usah mencampuri wilayah rububiyah Ilahi.”[10]

Kejutan-Kejutan yang Datang Bersama Kurban

            Sebenarnya di dalam semua ketaatan ibadah, ungkapan lisan seperti: “Ya Allah, saya mengerjakan ibadah ini semata-mata hanya untukMu” serta ketulusan mengucapkannya dari hati yang paling dalam haruslah menjadi asas. Setiap insan harus mengantarkan hidupnya pada pemikiran ini dan menguncinya erat-erat. Dari sisi ini, ketika menunaikan ibadah kurban kita harus menggenggam niat kita dengan kokoh seperti yang diharapkan dari kasdul kalb[11]. Kita harus bisa mengatakan kalimat berikut dengan tulus:”Ya Alah, Engkau memerintahkanku untuk memotong hewan kurban, aku pun memenuhi perintahmu. Andaikan Engkau memerintahkanku untuk memotong leherku sendiri, aku pun dengan senang hati melaksanakannya. Jika untuk mempertahankan agamaku, harga diri dan martabatku, jiwaku, hartaku, serta negaraku diperlukan dibentuknya front pertahanan, aku pun siap melaksanakannya.” Seseorang ketika menyerahkan hartanya yang juga merupakan bagian dari jiwanya, di waktu yang sama ia juga harus mengingat hal apa lagi yang bisa diberinya sambil menunjukkan sikap bahwasanya dia siap untuk melaksanakan perintah berikutnya. Dengan demikian, ketika Al Qur’an menjelaskan keadaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s.:”Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya)[12], mengisyaratkan rahasia ubudiyah dan pemahaman keduanya akan kehalusan yang terdapat dalam  ketaatan kepada perintah Ilahi sehingga mereka pun mengambil sikap yang paling cocok dengannya.

            Jika seseorang sedari awal mengikatkan ibadah kurbannya kepada niat yang kokoh seperti itu, maka segala yang dia lakukan untuk mewujudkan ibadah kurbannya akan bernilai ibadah, amal-amal lain yang dikerjakan di jalan kebaikan tersebut pun akan kembali kepada pelakunya sebagai pahala layaknya amalan-amalan salih dan kebajikan. Jadi aktivitas seperti pergi ke pasar hewan untuk membeli hewan kurban, mengikatkannya di kandang sementara, menaikkannya ke truk untuk dibawa ke rumah potong hewan, menjaga dan merawatnya hingga hari pemotongan tiba, memberinya makan dan minum, membagikan daging kepada yang membutuhkan setelah hewan kurban selesai dipotong, dan pekerjaan lain yang dikerjakan ketika menunaikan ibadah kurban akan dicatat dalam kitab amal Anda. Di sisi lain hal-hal seperti sentuhan pisau ke leher hewan kurban, hentakan kaki hewan kurban ketika disembelih, dan mengalirnya darah hewan ke tanah; meski rasa sayang dan kasihan menyelimuti tetapi kehalusan yang terdapat dalam amal yang berdasar pada ketaatan Ilahi juga akan ditulis dalam buku kebaikan sebagai tambahan pahala.

            Segala amal kebaikan yang dilakukan di sini bisa saja Anda memandangnya sebagai hal yang kecil dan remeh. Akan tetapi, di alam lainnya saat ia ditunjukkan kepada Anda, dengan penuh takjub dan heran Anda akan berkata:”Ya Allah, betapa Pemurahnya Engkau. Amal-amal remeh seperti itu Engkau terima, Engkau agungkan, Engkau perluaskan, Engkau tambahkan, Engkau abadikan, dan kini Engkau tunjukkan kepada kami!” Maka dari sisi ini, seseorang harus mengerjakan ibadah kurbannya dengan penuh kekayaan jiwa dan keyakinan hati. Ayat berikut mengisyaratkan penjelasan tersebut:

Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.[13]

Ya, jika seeorang menunaikan ibadah ini dengan mengaitkan hatinya dengan pemikiran untuk menghamba kepada Allah SWT, untuk menyambung hubungan serta keterkaitan dengan Allah SWT, maka mereka akan disambut oleh beraneka ragam kejutan dan kekayaan yang amat istimewa di dunia berikutnya.

[1] Diterjemahkan dari artikel berjudul Hakk’a ve Insanlara Yakinlasmanin Vesilesi: Kurban, dari Buku Kirik Testi 12: Yenilenme Cehdi

[2] Di mazhab hanafi berkurban hukumnya wajib bagi yang mampu

[3] Mendahulukan kebutuhan orang lain walaupun dirinya sendiri juga membutuhkannya

[4] “Perbaguslah hewan kurban kalian karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati sirat” (HR Dailami dalam Musnad al Firdaus:268)

[5] HR Ibnu Majah; Ahmad bin Hambal al Musnad 2/321

[6] Dalam mazhab hanafi ada hukum wajib yang berbeda dengan hukum fardhu ‘ain.

[7] QS Al Imran 3: 92

[8] Negeri sang penulis, yaitu Turki

[9] Al Maktubat, Benih-Benih Hakikat, Benih ke-95

[10]  Cahaya ke-17, catatan ke-13, Masalah Pertama

[11] Kasdul kalb tidak hanya melewatkan sesuatu melalui akal dan kalbu smeata, melainkan seseorang bertekad sangat kuat untuk mewujudkan apa yang diniatkannya menjadi suatu amal nyata.

[12] QS As Saffat 37:103

[13] QS al Hajj 22:37

david-marcu-14AOIsSRsPs-unsplash

Menjadi Jiwa Berdedikasi

“Menjadi Jiwa Berdedikasi[1]

Bisakah Anda menjelaskan ungkapan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”

 

Mungkinkah bagi kita untuk tidak berharap menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu, walaupun sekedar menjadi prajurit rendahannya saja? Ketika membahas masa lalu kita yang amat mulia itu, pikiran kita secara otomatis akan meluncur ke sana.  Untuk itu, penyair besar yang juga mengalami masa-masa pahit kemunduran peradaban kita di masa ini, yaitu Mehmet Akif Ersoy berkata:

Aku menatap burung-burung hantu yang meratapi puing-puing peradaban

Kulihat juga tanah air layaknya surga ini sedang berada di musim gugur

Andai Periode Mawar kuketahui, kurela menjadi bulbul

Ya Allah, andai Engkau ciptakan aku terlahir di masa itu!

 

Ya, siapakah di antara kita yang tidak mau berbagi masa kehidupan dengan Kanuni Sultan Sulaiman?[2] Siapakah dari kita yang tidak mau berada di sisi Yavuz Sultan Selim[3], dimana bersamanya kita menyenandungkan mars Yeniceri[4]? Siapakah dari kita yang enggan untuk mendampingi di sisi kiri ataupun kanan dari sultan-sultan seperti mereka di medan pertempuran seperti Mercidabik, Ridaniye, dan Caldiran[5]. Siapakah dari kita yang tidak suka untuk membusungkan dada kita demi menjadi perisai bagi sultan-sultan seperti mereka. Ya, sejarah cemerlang tersebut senantiasa menjadi fokus otonom alam bawah sadar kita.

Di sisi lain, terdapat janji Sang Nabi dan pengingatan dari para wali, dimana ketika memikirkan masa depan penuh kebahagiaan yang dinanti dengan penuh harapan itu kita pun senantiasa ingin segera tiba di masa tersebut.

Pemikiran yang seperti itu sebagaimana dapat disebut sebagai pendekatan nostalgia; sambil mengeluhkan banyaknya kekurangan di periode masa ini yang penuh kesempitan serta menjemukan, kita seperti seorang pelukis ataupun penyair, singkatnya seperti seniman yang mengkritik subjek-subjek dan objek-objek di hadapannya sembari membandingkannya dengan masa lalu ataupun masa yang akan datang.

Ya, sebagian dari kita barangkali pernah masuk ke dalam pemikiran tersebut. Meskipun hal tersebut bukanlah tugas serta tanggungjawab kita, meskipun hal tersebut dapat mendatangkan arti menawar takdir Ilahi, hal-hal seperti itu tetap dapat mendatangi pikiran kita. Kemudian dengan keikhlasan dan ketulusan yang tersisa, kita pun memperbaiki pemikiran tersebut: “Mohon ampun Ya Rabb, hal tersebut bukanlah perhatian utama kami… Siapalah kami kemudian berhak mengatakan hal seperti itu! Kami hanya berkewajiban mengerjakan tugas dan tanggungjawab kami. Kami tidak turut campur dalam wilayah kuasa RububiyahMu.” Akan tetapi, sekuat apapun tekad kita untuk senantiasa istikamah, sekokoh apapun kita menapakkan langkah kaki, dunia pikiran dan khayalan terkadang membawa kita menuju pemikiran bengkok sehingga hati pun terpeleset olehnya.   Segera kami sampaikan bahwasanya hal tersebut layaknya tergelincirnya hati dalam beriman, ia bukanlah dosa yang tak dapat dimaafkan. Barangkali ia adalah keburukan yang tidak berakibat ditulisnya dosa.

Sebenarnya bagi kita maupun bagi orang lain, kejayaan masa lalu bukanlah hal yang tak boleh diimpikan. Semoga masa depan kita pun seiring berkembangnya akar kejayaan akan setara dengan kejayaan masa lalu, insya Allah.

Akan tetapi, saya dengan pendekatan ala Qitmir, tidak merasa layak untuk berharap dapat menjadi seorang Kanuni dan Yavuz yang jaya di masa lalu, ataupun bermimpi untuk menjadi pimpinan bagi sosok-sosok suci yang menjadi representasi pekerjaan ini di masa mendatang. Sebaliknya, saya lebih suka untuk memilih menjadi salah satu unsur kecil lagi sederhana dari kumpulan mereka yang berhizmet pada masa ini. Mengapa demikian?

Karena:

  1. Kesuksesan di masa mendatang, bersama capaian-capaian keberhasilan juga akan membawa unsur seperti gibah, hasad, serta kebencian. Terdapat ganimah yang dipandang wajib untuk dibagikan. Kecintaan pada pangkat dan jabatan akan menyerang jiwa-jiwa manusia. Ambisi, kebencian, serta kedengkian akan menggelembung. Dari mana Anda tahu? Saya mengetahuinya karena hal-hal itu terdapat pada tabiat manusia. Sejarah manusia telah menjadi saksi bahwa hampir di setiap zaman di masa kesejahteraan dan kebahagiaan yang mengikuti permasalahan dan penderitaan muncul, manusia tidak mampu menjaga kebersihan hati serta ketulusannya. Kemarin mereka yang berada dan berjuang di satu barisan lalu ketika sukses berhasil diraih mereka akan saling hantam satu sama lain demi pangkat dan manfaat pribadi. Keistimewaan yang dicapai di masa sulit satu demi satu akan hilang seiring datangnya keluasan dan kenyamanan. Sebenarnya saya tidak mau hidup di masa pasca hizmet, yaitu di masa kekacau balauan, kebinasaan, dan kemusnahan akan datang, wassalam.

Semoga Allah senantiasa membuat kita selalu berhizmet. Untuk sawerannya, siapapun yang akan membagikannya bagikanlah ia. Buat saya itu tidak terlalu penting. Asal masyarakat jadi bahagia, hidup tenteram dan rukun, itu cukup buat kita. Kalau mereka mau, mereka dapat merekrut kita sebagai buruh tani. Atau mungkin mengasingkan kita ke tempat-tempat terpencil. Sama sekali tidak masalah. Kita bisa pergi ke atas gunung dan hidup zuhud di sana. Maka jika dilihat dari penjelasan ini, maka saya dapat mengatakan: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang, yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”

  1. Kita adalah anak-anak dari masa kini. Tidak mungkin kita masuk ke masa lalu ataupun lompat ke masa depan. Barangkali sebagian dari kita akan menemui masa depan, tetapi yang paling penting adalah hidup dan mengisi masa ini. Artinya kita tidak akan mengatai masa lalu kita sebagai dongeng. Tidak juga melihat masa depan sebagai mimpi di siang bolong. Atau dengan ungkapan lain: masa lalu bukanlah pemakaman raksasa; demikian juga masa mendatang, bukanlah negeri para gergasi[6]. Memang bukan, tetapi untuk menyiapkan masa depan yang setara dengan kejayaan masa lalu hanya dapat dilakukan dengan mengisi hari ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, dengan gambaran ini, mereka yang pada hari ini bangkit dan duduknya senantiasa dihiasi dengan pikiran hizmet, hulubalang kecil yang kedipan matanya diperuntukkan hanya untuk hizmet dan bukan untuk pikiran lainnya, mereka itu lebih baik dibandingkan para raja dan penguasa di masa lalu. Bahkan dapat dikatakan jika mereka bisa lebih baik daripada para wali, para kutub, bahkan para ghauts.
  2. Orang-orang yang berhizmet dalam periode waktu dan kriteria tertentu bisa jadi membawa kebanggaan di dalam jiwa-jiwanya. Kebanggaan tersebut dapat menyapu bersih pahala-pahala dari pekerjaan baik mereka di periode tersebut. Untuk itu, seorang muslim sebaiknya sehari setelah meraih sukses, seperti halnya pergi bermigrasi setelah waktu asar lewat, maka pergi berpisah dari dunia ini adalah yang terbaik untuknya. Ya, waktu itu adalah waktu paling tepat untuk berdoa: “Ya Allah, ambillah amanahmu (nyawaku) ini!”

Dengan pemikiran demikianlah aku kemudian berkata: “Yang aku inginkan bukanlah menjadi bagian dari kemuliaan masa lalu ataupun menjadi bagian dari kesuksesan di masa mendatang; yang aku inginkan hanyalah menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang berdedikasi di masa ini”. Saya pun mengucapkannya kembali pada hari ini. Akan tetapi, tetap saja kita tidak bisa mengetahui manakah hal yang paling hakiki. Saya tidak tahu, dan saya juga tidak bisa memutuskan apakah pemikiran ini berasal dari bisikan setan ataukah ilham dari Ilahi. Karena nafsu sangatlah menipu dan setan terkadang mendatangi manusia dari sebelah kanan. Pemikiran  seperti itu bisa jadi merupakan hasil pendekatan setan dari sebelah kanan. Allahlah sebaik-baik yang Mahamengetahui kebenaran.

 


 

[1] Diterjemahkan dari artikel https://fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/prizma-serisi/fethullah-gulen-prizma/11647-fethullah-gulen-adanmis-ruh-olabilmek di akses pada tanggal 4 Oktober 2019, pukul 10.45

[2] Kanuni Sultan Sulaiman dikenal di barat dengan julukan Suleiman the Magnificent. Dia adalah sultan kesepuluh Usmani. Dia adalah sultan terlama selama sejarah Usmani, memerintah dari tahun 1520 hingga wafatnya pada tahun 1566, atau 46 tahun (hampir setengah abad). Masanya adalah salah satu masa paling cemerlang dari Usmani. Kepemimpinannya dibantu oleh Perdana Menteri brilian seperti Ibrahim Pasa dan Rustem Pasa sedangkan di bidang agama ada sosok seperti Seyhul Islam Ebussuud Efendi.

[3] Di Barat dikenal dengan julukan Selim The Grim. Terkenal dengan kisah bagaimana beliau turun dari kudanya saat perjalanan dalam menakhlukkan Kesultanan Mamluk di Mesir. Saat dimohonkan untuk naik kuda oleh Panglimanya dikarenakan semua pasukan kelelahan karena turut turun dari kuda, ia menjawab:”Bagaimana aku bisa naik di atas punggung kudaku sedangkan di depan kita terdapat Baginda Nabi SAW yang berjalan kaki memimpin pasukanku.” Beliau adalah ayah dari Kanuni Sultan Sulaiman.

[4] Yeniceri adalah korps elit dari pasukan infanteri Kesultanan Usmani. Yeniceri dikenal sebagai model pasukan modern pertama di Eropa. Diperkirakan Yeniceri dibentuk di masa Sultan Murad I (1362-1389)

[5] 3 perang tersebut adalah 3 fase pertempuran Usmani dengan Mamluk

[6] Jembalang: raksasa besar yang suka makan orang (KBBI)