mengembangkandiri.com feather-g8127c7e69_1920

AKTIVASI MEMBACA

Pertanyaan: Penghormatan terhadap “Gerakan Hati” terlihat meningkat berlipat ganda dari hari ke hari di seluruh penjuru dunia. Dari segi ini hal apa saja yang sebelumnya harus dianjurkan guna tidak membuang kesempatan yang ada dan mempersiapkan kebahagiaan dunia-akhirat seorang lawan bicara?

Jawaban: Esensinya perluasan geometri dewasa ini menjadi pokok pembicaraan. Pribadi kita dalam kondisi sudah mencapai ke 150-160 negara di seluruh wilayah muka bumi. Layaknya hampir tidak ada suatu tempat yang kalian tidak perdengarkan hempasan suara kalian. Sebagai pengutaraan nikmat bisa dikatakan bahwa, kita mendapatkan penghargaan anugerah yang serupa dengan anugerah yang dimuliakan kepada para sahabat. Secara mutlak bahwa skema ini, seutuhnya merupakan sebuah anugerah dan karunia Allahﷻ.

Mengapa anugerah dan karunia ini -diberikan- kepada kita, kita tidak tahu?

Insyallah ini bukanlah sebuah istidraj; ialah bukan karena secara hasil tidak memikat hati kita begitu mengarahkannya kedalam kebanggaan diri.

SEBUAH AKTIVASI RUH YANG BARU  

Berlawanan dengan ukuran ini yakni perluasan geometri saat ini, jika kuantitas dan kualitas orang-orang yang akan melakukan bimbingan masih dalam kondisi matematis (masih bisa dihitung), ketika itu rasa cinta dan kerinduan akan sebuah aktivasi baru dalam hati mereka perlu dihias kembali saat meninjau kondisi yang ada, sama seperti teman-teman di awal tahun 90-an yang mengorganisir kolonisasi ke luar negeri begitu menuturkan pahala hijrah. Al-Quran berpesan وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ “Orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah,” menunjukkan kepada kita tujuan ini. Yakni, orang-orang mendapatkan sebuah nilai di sisi Allahﷻ dengan berhijrah. Setelah itu saat mengungkapkan inilah hak sebuah perjalanan hijrah, mereka berjuang di jalan untuk mempertemukan kembali hati orang-orang dengan Allahﷻ begitu menyisihkan hambatan-hambatan yang berada diantara Sang Pencipta dengan hambanya di tempat mereka berhijrah. Oleh karena itu, berhubungan dengan adanya perluasan geometri, merunduk kedalam kehidupan kalbu dan ruh dengan bimbingan yang akurat sama seperti di Periode Kebahagian, kerja keras dalam poin untuk mengarahkannya secara langsung kepada Allahﷻ dalam orbit kalbu dan ruh begitu menggeliat dari kejasmanian, mengeluarkannya dari perihal hewani merupakan hal yang sangat penting. Di masa terakhir sahabat, di awal periode tabiin beberapa pendatang baru yang masuk Islam karena tidak mampu menelaah ruh agama menyebabkan keluarnya aliran seperti Khawarij, Rafidhi dan Batini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ketika mengungkapkan kondisi ini, bersabda; “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Quran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Quran padahal yang mereka baca tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”

Kalian juga bisa berpikir dalam makna ini untuk periode kalian sendiri yang diungkapkan didalam Hadits Syarif. Beberapa orang bisa jadi dahi dan lutut mereka berbelulang karena sholat; tetapi karena tidak mampu sampai kedalam intisari pemahaman hakikatnya mereka tidak bisa lepas dari ifrath dan tafrith. Berlawanan dengan tampilan mereka layaknya mendekatkan diri secara hakikat kepada Allahﷻ dengan tenangnya, mereka mampu mengatakan kafir kepada para paduka seperti Abu Baqar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib yang Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam limpahkan kabar gembira dengan Surga. Lihatlah bagaimana mereka berada dalam sebuah kontradiksi. Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang kalian kaitkan kedalam agama memberikan kabar gembira -kepada- sepuluh orang dengan Surga, tetapi beberapa menggerutu akan mereka dengan keluhan yang mampu membuat bulu kuduk merinding begitu melontarkannya. Ini merupakan sebuah kejahilan yang bersumber dari ketidaksadaran akan ruh dan intisari agama serta ketidaktahuan akan masalahanya.

Oleh karena itu, ketika sebuah ruh aktivasi yang kedua kembali dipaparkan, supaya tidak terjerumus kedalam deformasi dan perubahan dalam perbedaan kultur dan pemahaman, kita harus mencari celah menumbuhkan insan kamil. Untuk itu yang pertama, individu yang bisa kita katakan sebagai mursyid dan pembimbing harus mengetahui dengan baik Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sumber utama agama. Pada waktu yang sama mereka harus mengetahui lawan bicara yang berada di tempat mereka pergi dengan skema karakteristik dan garis dasar mereka. Disamping ini semua, dalam ukuran tertentu mengetahui akan ilmu sains, yakni sedikit banyak mereka harus meneguk ilmu-ilmu seperti fisika, kimia, matematika dan antropologi. Ya, seorang insan yang akan menjadi pembimbing, harus pergi sebagai seorang individu yang terdidik secara sempurna ketempat ia pergi. Mereka yang pergi sebagai perintis telah pergi dengan iman yang murni, nyata dan tulus dan dengan inayah Allahﷻ menjadi wasilah untuk banyak kebaikan. Namun setelah ini ketika terbuka ke seluruh penjuru dunia maka akan di perlukan sebuah kedalaman, keluasan dan atribut yang berbeda.

YANG MEREKA JANJIKAN DARI MEMBACA DENGAN BERTUKAR PIKIRAN

Ketika karya-karya tuntunan yang kita miliki dibaca untuk kedalaman, keluasan dan atribut ini bukan seperti adat/kebiasaan, melainkan dengan perspektif yang komparatif dan analitik, kita harus membacanya dengan kegigihan dan kerja keras untuk sampai kedalam analisis dan sintesis yang baru.

Lihatlah akan sejarah tafsir; dari hari Al-Quran turun hingga sekarang terdapat banyak tafsir yang telah ditulis, terdapat banyak hasyiah yang disusun. Ya, tafsir yang ditulis tentang Al-Quran kini sudah sampai hingga ribuan jilid. Di satu sisi setiap mufassir yang merupakan “ibnu zaman” sambil memperkukuh tafsiran yang ia ilhamkan sesuai dengan kondisi di masanya berkata, “Dari ayat ini dipahami seperti itu, sampai kedalam kesimpulan yang seperti itu.” ; mengatakannya dan demi pemahaman Al-Quran menawarkan beberapa inisiatif yang baru. Jika kita sudah pernah memadukan beberapa tafsir yang berbeda, kita akan melihat perbedaan ini. Misalkan Razi, menafsirkan sebuah ayat, tetapi Zamakhsyari mengutarakan sebuah makna yang berbeda darinya. Sedangkan al-Bayzawi mengambilnya dengan analisis yang lain. Meskipun biasanya Abu Suud bertopang kepada al-Bayzawi, ia juga memiliki tafsiran khasnya sendiri. Yakni tafsir Al-Quran terus berlanjut tanpa henti hingga ulama Hamdi Yazar yang ada di abad ini dan secara pasti akan terus berlanjut setelahnya. Kita semua harus bergerak dengan cara pandang ini dan kita harus menumbuhkan insan-insan yang membaca dengan baik buah -yang diperoleh dari- eranya, yang sanggup sampai kedalam determinasi dan analisis yang berbeda, yang mampu melihat kedalam makna dengan lebih luas, lebih merangkul dan lebih tajam. Karena para pembina ini akan berhadapan dengan anak-anak dalam atmosfer kultur yang berbeda. Oleh karena itu seorang manusia, jika tidak memiliki persiapan dan berkapasitas terhadap permasalahan beragam yang pemahaman dan kultur itu lontarkan kehadapannya maka ia akan terkena pukulan knockout.

Oleh sebab itu kita mengatakan bahwa, Allahﷻ bisa saja menganugerahkan wasilah yang berbeda yang kalian dapat suarakan petunjuk hati kalian ditempat yang dituju. Tetapi kalian, ketika mengevaluasi wasilah ini, petunjuk ruh kalian, bukan menurut Turki dan kondisi kultur kalian, melainkan harus menyuarakannya menurut kondisi kultur yang kalian pijak didalamnya. Menunjukkan bahwa perlunya pembimbing yang mampu melihat benda dan peristiwa secara lebih komperehensif, yang bisa merangkul lawan bicara lebih luas, yang memiliki hati nurani yang lapang. Untuk memenuhi kebutuhan ini harus dimulai kembali aktivasi membaca dan berpikir.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mendekati permasalahannya dengan kosa kata “tadzakur.” Makna kosa kata ini ialah bertukar pikiran atas beberapa permasalahan dengan keikutsertaan paling sedikit dua atau lebih orang. Dari segi ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengungkapkan juga apakah orang-orang yang berada dalam tukar pikiran akan terangkul dengan rahmat ilahi begitu membentuk halaqah diantara mereka dan ditempatkan di bawah perlindungan. Di sisi lain Ia Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan kabar gembira, untuk majlis yang seperti ini لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ “Tidak akan rugi orang-orang yang bermajelis dengan mereka.” Yakni mau tidak mau sesuatu dari kelompok masyarakat mampu tercampur ke semua yang berada dalam majlis tersebut, masuk kedalam kepala atau kalbunya. Mungkin juga individu tersebut masuk dengan pertimbangan duniawi kedalam perhimpunan tersebut, berupaya untuk mengikat dan memutuskan beberapa manfaat material. Tetapi sambil bertukar pikiran bersama orang-orang itu sesuatu pun akan tercampur kedalam dirinya. Lebih tepatnya individu tersebut, akan merasakan celupan perhimpunan. Satu kuas Syakhsiah Ma’nawiyah pun terambang kepadanya dan dengan ini ia pun akan tercelup dengan celupan ma’nawiyah. Dari segi ini dengan pertolongan dan anugerah Allahﷻ, para mursyid dan pembimbing, dengan wasilah bertukar pikiran, harus ditunjukkan kedalam tingkatan untuk mampu meletakan jalan keluar setiap permasalahan, mencari solusi setiap persoalan, menjawab setiap pertanyaan.

Namun sayangnya kini kita sebagai masyarakat menjauh dari metode membaca seperti ini. Bahkan kalamullah Al-Quran pun menjadi korban kebiasaan, habituasi dan keteledoran. Mungkin ia, tertata dalam sarung beludru di samping tempat tidur kita. Bangsa kita memiliki sebuah rasa hormat dan takzim yang mutlak seperti ini terhadapnya. Aku pun mengapresiasi rasa hormat tersebut. Namun kini orang-orang kita tidak mengetahui akan maknanya. Sedangkan itu adalah sebuah pesan yang datang dari Allahﷻ kepada kita. Namun sayangnya, kita tidak berusaha untuk memahaminya begitu berkata: “Kira-kira dalam pesan ini apa yang diinginkan Allahﷻ dari kita?.” Kita menjadi asing seperti ini terhadap kitab kita sendiri. Ya, kebiasaan dan habituasi telah membutakan mata kita, tidak mengetahui makna kitab agung kita, hanya mencukupi dengan sebuah rasa hormat yang datar seperti ini. Aku sampaikan kembali bahwa aku pun mengapresiasi rasa hormat yang seperti itu. Namun rasa hormat yang sebenarnya akan terwujud dengan menyelusuri ruh, makna dan intisarinya.

Di era ini, bisa dikatakan bahwa kita pun merasakan kebutaan yang sama terhadap karya-karya yang menggambarkan kepada kita akan hakikat Al-Quran dan Sunnah. Melakukan pelajaran secara rutin begitu mengambil salah satu dari karya-karya tersebut pada waktu subuh, tidaklah cukup guna memahaminya. Hakikat yang seharusnya ialah melihat kedalaman hikmah pemikiran dan pemahaman yang dikemukakan dalam karya-karya tersebut dan berusaha untuk memahaminya dengan cara melakukan perbandingan dengan bahasan yang lain. Misalkan kita bisa melakukan interpretasi komparatif dalam ukuran sanggup mengatakan “Imam Ghazali di topik ini mengatakan seperti ini, tetapi Bediüzzaman Said Nursi mendekatkan permasalahan ini dengan sudut pandang yang berbeda” dan meningkatkan sebuah sistem interpretasi yang baru. Pikirkanlah, karya yang memiliki nilai yang agung ini, pertama kali di periode kalian mendengarnya bagaimana ia menggugah perasaan hati kalian, memacu dan menggerakkan kalian? Namun apa yang telah terjadi sehingga karya-karya itu berubah menjadi layaknya sebuah adat? Padahal karya-karya ini yang merupakan kebutuhan pokok bak roti dan air seharusnya diambil lebih dalam lagi dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan harus berusaha juga untuk menangkap cakrawala yang ia tunjukkan begitu merasa tidak cukup dengan yang ia ungkapkan; meningkatkan cara membaca dengan analisa dan sintesis saat berusaha.

KEDALAMAN YANG BERBANDING LURUS DENGAN PERLUASAN

Kita membutuhkan pembimbing dan mursyid yang mampu menerangi jalan kita saat membaca karya-karya dalam metode dan keluasan ini yang sebanding dengan perluasan geometri. Sedangkan ketika kita mencukupi dengan kondisi matematis, karena tidak adanya penyaluran (bimbingan) yang serius bisa jadi terbentuk banyak sekali kerusakan. Bahwasanya kerusakan yang sering keluar pun secara prinsip bersumber dari kealfaan akan kerja keras untuk membaca dengan sungguh-sungguh akan intisari dan perolehan nilai-nilai pribadi kita. Terpaku terhadap simbol dan bentuk, bersandar hanya kedalam lapisan luarnya saja, merupakan perkara pokok yang terletak di dasar permasalahan yang seperti ini. Ustad Said Nursi, membaca 115 kali Risalah Ihlas yang ia tulis sendiri. Seorang profesor sambil menyatakan keheranannya berkata: “Apakah mungkin seorang manusia membaca karya yang ia tulis sendiri sebanyak ini?” Menurut saya karya itu harus dibaca, jika memang ia mengimplementasikannya sebanyak itu. Ustad Said Nursi, di setiap membacanya, terbuka kedalam cakrawala lain dengan mawarid dan mawahib (pemberian dan anugerah Allahﷻ) yang lahir kedalam hati dan mengitari layar kedalaman yang berbeda. Namun sayangnya, meski terdapat kesempatan yang luas saat ini, saya merasa bahwa kita tidak sanggup membaca dengan sudut pandang yang tajam dalam keluasan “Topik ini disana dibahas seperti ini. Sedangkan ditempat yang lain dalam bentuk rangkuman mengemukakannya seperti ini. Diantara yang disana dengan yang disini memiliki hubungan yang seperti ini.”

Kini sebagai masyarakat, kita membutuhkan mursyid dan pembimbing yang menjadikannya sebagian dari tabiatnya sambil memasukkan, menyerap dan mencerna karya-karya yang telah dilakukan penafsiran dan penjelasan dalam esensi yang khas baik itu menurut Al-Quran, Sunnah atau era kita. Jika tidak, ketika di satu sisi terwujud perluasan dengan kecepatan akhir, di sisi lain kita berhadapan dengan lima puluh permasalahan yang berbeda di lima puluh tempat dalam bentuk yang tidak kita tunggu. Kali ini kalian akan berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan itu, menghabiskan energi kalian dengan hal tersebut dan mungkin sebagian besar tidak akan mampu untuk mencari solusinya.

Ya, saya ungkapkan sekali lagi bahwa, sepanjang sejarah, orang-orang yang belum terdidik matang selalu mengeluarkan masalah. Ribuan Khawarij memiliki anggapan menurut mereka sendiri begitu berpadu. Ketika Ibnu Abbas yang dimuliakan dengan julukan ulama ummat berkata saat pergi kehadapan mereka “Kalian mengklaim seperti ini namun masalah yang sebenarnya ialah seperti itu” ratusan dari mereka menjawab, “Benarkah? Kita tidak pernah memahami permasalahannya seperti ini!.” Mungkin ada beberapa diantara mereka ini yang sholat seratus rakaat setiap hari, menghatamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari. Namun orang mereka memandang kafir para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr Ibnu Ash.

Topik yang perlu diketahui oleh setiap orang jika tidak diketahui dengan benar dan utuh dan jika tidak berjalan menurut maklumat yang benar itu dapat keluar sebagai masalah setiap saat. Dalam kondisi ini kuantitas akan menunjukan perkembangan meskipun serampangan dan hafidzanallah permasalahan akan masuk kedalam sebuah titik yang mana mengharuskan kalian mengatakan “Seandainya tidak terdapat sebuah perkembangan kuantitas dalam ukuran ini!.” Oleh karena itu untuk tidak memberikan celah kepada orang lain, kalian perlu mengetahui hal-hal yang harus kalian ketahui, membangkitkan kedalam kehidupan kalian sesuatu yang seharusnya kalian bangkitkan. Ketika kalian menunaikan sholat kalian harus menunaikan dalam tamkin (mencapai ketenangan) dan kesadaran berada dihadapan Allahﷻ; ketika kalian bersujud hati kalian harus mendidih layaknya panci panas yang mendidih.  Orang-orang harus melihat kalian seperti itu; berkata “Mereka ini benar-benar orang yang beriman dari dalam hati kepada Allahﷻ,” dan mengagumi sholat kalian. Secara pasti kita tidak melakukan ini semua supaya mereka mengatakannya. Tetapi kita harus menjadikannya salah satu dari tabiat dan kedalaman kita. Oleh karena itu ketika orang-orang mengetahui banyak akan kedalaman dan kuantitas ini yang dijadikannya sebagai tabiat, layaknya terperangkap ke dalam jazibah kudsiyah (tarikan suci) mereka akan mengatakan “Inilah sesuatu yang aku cari, aku telah menemukan yang aku cari!”

Akhirnya disamping kecerahan pikiran, kejernihan dan pengungkapan permasalahannya dengan benar, daya tarik yang ada dalam tamsil (contoh) memiliki pengaruh dan kedalaman tersendiri. Dari segi ini ketika memulai aktivasi yang baru atas nama kemanusiaan, kita harus berdedikasi dengan penuh semangat layaknya baru memulainya kembali secara dunia ruh dan alam jiwa begitu berkata “Bismillah.” Keidealan ini, ketika dimisalkan dalam contoh Hulusi Efendi, Hafiz Ali dan Husrev Efendi, orang-orang yang melihatnya akan datang sambil berlari dan seorang yang datang pun tidak akan pergi begitu berpaling. Kita harus tahu bahwa orang-orang yang pergi begitu berpaling, pergi karena tidak menemukan yang mereka cari. Yakni dia akan masuk kedalam pertimbangan “Mengapa saya harus membuang waktu dengan sia-sia? dan menjauh. Oleh karena itu meski diri kita dan hawa nafsu, dalam topik ini yang seharusnya kita lakukan ialah harus hidup untuk menghidupkan, bangkit begitu jatuh dan sepanjang hidup meletakkan kerja keras dan harapan yang sungguh-sungguh.

(Diterjemahkan dari artikel “Okuma Sefebirliği” dari buku Kırık Testi 11; Yaşatma İdeali)

sandis-helvigs-509166-unsplash

Dinamika Batin : Taat dan Setia

Ketaatan dan Kesetiaan

Mereka yang menjaga hubungan persahabatan dengan seseorang yang sedang terpuruk, kesusahan adalah sahabat yang sesungguhnya. Mereka yang tidak mendukung temannya saat sedang tidak beruntung tidak pantas disebut sebagai sahabat.1

Apa yang dapat Kita pahami dari Ketaatan dan Kesetiaan?

Ketaatan (loyalitas) merupakan salah satu dinamika batin yang mendasar dari manusia. Ketaatan berarti menepati janji, berkeinginan kuat melaksanakan nya, dan menunjuk kan rasa hormat serta menghargai nya sebagai bentuk syukur untuk rahmat dan nikmat Tuhan.

Dinamika mendasar lainnya adalah kesetiaan, yang berarti berkata benar, jujur dan dapat dipercaya saat memberikan janji. Kesetiaan juga berarti memiliki harapan besar untuk saudara dan saudari nya, yang saling mendampingi di jalan Allahﷻ. Lebih dalam lagi, saling setia berarti saling melengkapi dalam tugas, menjaga janji, membina kepercayaan, dan saling membantu menyelesaikan tugas yang belum terlaksana.

Rasa taat (loyal) dan setia merupakan perasaan yang begitu kuat, sehingga membuat seseorang menjadi terhormat di pengawasan Allahﷻ dan juga di mata manusia. Ini menjadi tugas penting untuk setiap orang beriman, agar mereka menjadi loyal dan setia kepada tujuan dan nilai luhur mereka, sehingga dapat di percaya oleh mereka yang memberikan kesempatan untuk nya hidup dalam nilai-nilai luhur tersebut.

Ketaatan dan kesetiaan memberikan rasa percaya bahwa pasti ada suatu level kebaikan dalam setiap kalbu manusia, yang kemudian ini menjadi landasan setiap sikap dan prilaku kita. Ada banyak generasi yang mengharapkan petunjuk dari manusia-manusia yang jujur dan dapat dipercaya. Tidak menjawab panggilan mereka dan meninggalkannya bukanlah ciri-ciri manusia yang taat, bukan ciri-ciri manusia yang loyal dan setia.

Kisah: Ketaatan Sejati hanya ditujukan kepada Tuhan.

Shams At-Tabrizi pernah berbincang dengan teman-temannya yang diketahui sedang mencari rida Allahﷻ. Beliau membicarakan tentang hal-hal yang tidak umum, setelah beberapa saat beliau berkata, “Jika seseorang menunjuk kan ketaatan kepada kita di jalan Allahﷻ, sekali dan kemudian menunjuk kan sikap jahat kepada kita seribu kali setelahnya, kita menghargai sikap taat nya yang sekali tersebut, dan memaafkan sikap jahatnya. Karena ketaatan sejati, yang mana ditujukan untuk Tuhan, tidak ter nilai. Mereka yang paham tentang ketaatan sejati, maka akan menafikan kejahatan”.

Tuhan adalah sahabat yang paling setia. Satu ketaatan dalam meraih rida-Nya, melampaui ribuan sifat jahat. Karena ketaatan sejati adalah ketaatan dalam meraih rida-Nya, dan rida Allahﷻ di atas segalanya, tidak mungkin dapat di ukur.

Jika Shams menuntun kepada jalan seperti itu, bahwa satu sikap setia melampaui ribuan sikap jahat, kita tidak akan mampu membayangkan bagaimana Tuhan akan memberi ganjaran kepada sikap setia meraih rida-Nya. Kita tidak akan mampu membayangkan bagaimana Tuhan akan mengampuni dosa-dosa kita yang begitu banyaknya. Selama seseorang pernah menunjukkan kesetiaan sejati dengan ketulusan yang sempurna, sekali dalam hidupnya, itu menjadi kesuksesan yang besar: “Satu momen kehidupan yang ter pancar karena hubungan dengan Tuhan lebih mulia daripada jutaan tahun kehidupan tanpa cahaya tersebut.”2 Dengan kata lain, satu sinar cahaya akan selalu lebih disukai daripada ribuan jam kegelapan, karena hasil dari secercah cahaya akan sangat signifikan.

Diterjemahkan dari buku Inner Dynamic of the People of Hizmet, Fatih Degirmenli.

Tulisan lain tentang ketaatan dapat dibaca pada artikel Tentang Kesetiaan dan Ketaatan

  1.  Gulen, M. Fethullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, p.81
  2. Nursi, Said, The Letters, New Jersey: The Light, 2007, p. 310
Mengembangkandiri.com[Downloader.la]-635797bdc99ab

Prioritas Membaca dan Menjadi Mentor

Artikel pertama dari seri artikel ini membahas tentang “Rumah”. Oleh karena itu, di artikel seri kedua, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana seharusnya orang-orang yang tinggal di Rumah tersebut dididik dan dibina, serta apa saja buku-buku yang harus mereka dibaca?.

Fungsi utama dari Rumah adalah untuk mendidik dan membina orang-orang yang tinggal didalamnya, agar mengagungkan sang pencipta mereka, serta berkomitmen penuh dalam mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sehingga, mereka yang tinggal di Rumah ini adalah “individu” yang telah menetapkan hati mereka pada i’lâ-ı kalimatullah (mengagungkan Allah), yang berempati kepada sesama dimanapun ia berada, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, mengorbankan kenyamanan pribadi demi terciptanya perdamaian umat manusia dan berdiri di garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Sebagai relawan Hizmet, panduan utama kita adalah Risalah Nur. Tanpa membaca dan memahami Risalah Nur dengan baik, mustahil untuk bisa memahami Hizmet secara mendalam.

APA ITU RISALAH NUR?

Risalah Nur bukanlah sekedar sumber pengetahuan yang biasa saja. Tidaklah cukup hanya menganggapnya sebagai karya yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara logika saja. Risalah Nur adalah sumber yang menjelaskan tentang ‘ma’rifatullah‘ secara rinci. Risalah Nur adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Risalah Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang menerangi zaman ini. Oleh karena itu, ia berisi ilham serta memiliki pesona dan celupan dari Al-Quran. Sebagai contoh, jika anda membaca Risalah Ikhlas anda akan menemui setiap kalimatnya adalah kata-kata mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti itulah setiap bagian dari Risalah Nur. Risalah Nur ditulis dengan kezuhudan yang tinggi dan dengan rahmat Allahﷻ, sehingga Risalah Nur menjadi sumber inspirasi Ilahi.

Apakah ada mahakarya yang seperti Risalah Nur ini dalam sejarah?

Selama lebih dari 60 tahun telah dibaca dan didiskusikan ribuan kali bahkan ratusan ribu kali dan bahkan sampai jutaan kali, baik di Rumah-rumah di Turki maupun di seluruh dunia dan hal ini masih terus berlanjut hingga hari ini.

Penerimaan yang baik ini merupakan anugerah Ilahi atas kebulatan tekad, kebaikan, dan kezuhudan serta keikhlasan penulisnya.

Allahﷻ menganugerahkan pesona yang luhur kepada “Risalah Nur”. Disaat anda membacanya dan pikiran anda sibuk dengan kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia memperbaiki hati anda. Disaat anda mencoba memahami kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia merekonstruksi pikiran anda. Bahkan ketika anda menyelesaikan suatu topik pembahasan dalam Risalah Nur, namun anda tidak mengerti apa-apa, pada hakikatnya tanpa anda sadari ia memenuhi alam pikiran anda dengan cahaya. Dan dengan cahaya itu akan memberikan panduan yang sempurna kepada jiwa anda untuk berperilaku positif. Semua ini akan terwujud selama Risalah Nur dijadikan wasilah dan sarana menuju Allahﷻ.

Tetapi, ketika anda mendekati teks-teks Risalah Nur dengan kesombongan, kefanatikan, dan keinginan menjadi orang ternama dalam masyarakat, maka pesonanya akan hilang. Ketika anda menjadikan Risalah Nur sebagai tujuan bukan sebagai sarana, mengubahnya menjadi komoditas komersial, atau menjadikan Risalah Nur hanya sebagai alat untuk mempublikasikan pengetahuan yang anda miliki, maka Risalah Nur yang luar biasa ini menutup pintunya bagi anda. Sihir dan celupannya akan hilang, penunjuk arahnya akan buram. Jika seperti ini, meskipun Risalah Nur ada dalam hafalan anda, namun anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari Risalah Nur.

BUKU PIRLANTA

Setelah Risalah Nur menenangkan jiwa dan menjadikan tawajjuh kepada Allahﷻ sebagai sifat serta karakternya, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mewujudkannya dalam bentuk amal saleh. Untuk melakukan amal saleh dan kedisiplinan ada seri buku Prisma, seperti: Buku Dakwah, Cahaya Al-Qur’an, Cahaya Abadi dan Kriteria.. Namun sebelum membaca buku-buku yang disebutkan di atas, buku pertama yang perlu dibaca dan diselesaikan terlebih dahulu adalah seri buku Pirlanta.

Menjaga keikhlasan saat menulis sesuatu, mudah jika hanya dalam ucapan saja, namun dalam pelaksanaanya sangatlah sulit. Prinsip dalam meneliti sebuah karya adalah seseorang tidak boleh mencampurkan keinginan pribadinya pada sebuah karya yang ia teliti. Cobalah telaah kumpulan ceramah yang sudah disampaikan 50 tahun yang lalu dan telitilah dengan prinsip tersebut diatas. Jika anda adalah orang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, anda akan dapat membedakan kalimat-kalimat yang bercampur dengan keinginan pribadi pembicara. Sosok yang sudah berbicara selama puluhan tahun dan apa yang ia sampaikan tidak ada unsur keinginan diri pribadinya meskipun satu kalimat, hal ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembicara tersebut berbicara dengan keikhlasan dan ketulusan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan celupan keikhlasan yang sama, membukukan dan membacanya adalah wasilah yang sangat membahagiakan.

Seperti yang diajarkan oleh Risalah Nur kepada kita yaitu perbedaan antara “makna huruf” dan ” makna ismi”, dalam pandangan kami, karya-karya ini juga demikian:

“Alam semesta harus dimaknai dengan makna huruf dan melihatnya berdasarkan pandangan tersebut. Adalah suatu kesalahan jika memahami alam semesta dengan makna ismi dan sebab-sebabnya.”

Merupakan suatu hal yang berbahaya, jika memuliakan karya-karya ini dan penulisnya dengan makna ismi. Memuliakannya dengan sebutan wali atau sosok yang bebas dari kesalahan, bahkan menyebutnya dalam setiap majelis sebagai manusia luar biasa dan mengagungkannya dengan makna ismi sebagai manusia suci. Pernyataan-pernyataan ini dan yang serupa dengannya dapat berujung pada kemusyrikan. Hal ini juga menyebabkan hilangnya cahaya dari karya-karya ini.

Selain daripada itu, jika hanya berfokus pada bagian luar saja, bukan pada makna yang terkandung didalamnya. Hanya terpaku pada satu dari delapan Risalah atau hanya terpikat dengan pola formal buku yang dibaca, terpesona dengan fiksi teksnya, tertarik pada sajak-sajak puisinya. Hal ini ibaratkan memakan madu yang ada dalam sebuah botol dengan menjilati bagian luar botolnya saja.Ketika perhatian hanya terfokus pada sastra, gaya bahasa dan kefasihannya saja, maka esensi yang ada didalamnya akan terlupakan.

Setelah membangun sebuah pondasi yang kokoh dengan semua karya-karya ini, setiap orang harus mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah secara proporsional sesuai dengan cakrawala mereka. Lalu setiap orang perlu membaca karya klasik dunia dan karya klasik lokal dari negara asal mereka masing-masing agar dapat mengenal dan memahami manusia lain yang ada disekitarnya. Namun hal-hal yang juga perlu diingat adalah, bahwa setiap orang perlu menguasai sejarah, filsafat, ilmu logika dan bidang ilmu pengetahuan lainnya pada tingkatan tertentu.

KAKAK PEMBINA

Membaca sangatlah penting, tetapi membaca bukanlah segalanya. Jika karya yang dibaca tidak dihayati dalam kehidupan, jika semua sikap dan tingkah laku tidak berubah menjadi amal saleh, maka menjadi nyata kebenaran ayat berikut: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat- ayat Allahﷻ. Dan Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Jumu’ah ayat 5).

Seorang kakak pembina harus mengisi waktunya dengan amal saleh agar tidak terlena oleh godaan hawa nafsu.

Siapa yang akan mendidik dan membina kakak pembina?

Seperti yang disebutkan dalam sebuah paradoks “Apakah ayam yang keluar dari telur atau telur yang keluar dari ayam”. Sama halnya, bahwa siswa yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kakak pembina (mentor) yang berwibawa dan berkualitas atau dalam arti kiasan “idola” yang mendidik dan membimbing mereka dengan baik. Kakak pembina (mentor) yang berkualitas hanya dapat dibentuk oleh sosok yang berkualitas juga. Jika tidak ada siklus yang benar seperti ini, rumah- rumah tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat ini, kakak pembina (mentor) adalah aspek yang sangat dibutuhkan, terutama bagi siswa yang pergi ke luar negeri dan mencoba untuk belajar bahasa dan beradaptasi dengan sekolah asing.

Membina generasi tidak bisa dilakukan secara paketan. Membina secara paketan sama seperti membuat patung secara grosir. Patung buatan bisa diproduksi secara langsung dalam jumlah yang banyak tetapi tidak memiliki nilai seni. Membina secara paketan tidak bisa melahirkan “Individu” yang dapat menjadi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia.

Apakah Kamp itu mesin cetak?

Kamp adalah program kolektif yang sangat penting dan tak tergantikan. Sudah barang tentu program ini memberikan nilai-nilai yang positif. Tetapi kamp bukanlah “mesin cetak”. Jika tidak ada bimbingan terhadap siswa secara individu, mendengarkan permasalahan yang mereka alami satu persatu, memahami apa yang mereka inginkan dan membangun ukhuwah yang kokoh, maka efek kamp akan seperti api yang membakar daun kering yang membesar seketika lalu habis dengan sekejap. Jika kamp yang dilakukan selama 10 hari merupakan kelanjutan atau bagian dari apa yang dilakukan pada 355 hari lainnya dalam setahun, maka efisiensi nyata akan dapat diperoleh. Jika tidak, bimbingan yang dilakukan selama kamp akan seperti hujan dimusim panas yang turun tiba-tiba kemudian deras sekejap lalu mengering dengan cepat.

Pertanyaan tes kualitas pembinaan

Apakah pembinaan atau Hizmet di kota tersebut ada atau tidak?

Tes ini dapat dilakukan dengan mudah, ada dua aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur:

Pertama: Ada berapa Rumah yang sesuai dengan ketentuan ideal ?

Kedua: Berapa banyak pembina yang memenuhi syarat yang anda miliki?

Aspek-aspek lainnya adalah data statistik saja.

Jika tidak ada pembinaan seperti ini, maka sekolah maupun lembaga lain yang kita miliki tidak lebih berharga daripada sekolah biasa atau lembaga biasa. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa Rumah yang ideal lebih berharga daripada sekolah yang besar atau institusi yang megah sekalipun.

********

Makna Huruf (Simbolik): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah dari Allahﷻ dan Allahﷻ lah yang menciptakan itu semua. Artinya, segala sesuatu tidak memiliki makna jika tidak dinisbatkan kepada sang penciptanya yaitu Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel, maka ada ratusan simbol yang menunjukkan bahwa sang penciptanya adalah Allahﷻ. Maka dari itu, ratusan simbol yang menunjukan adanya sang maha pencipta disebut dengan makna huruf.

Makna Ismi (Hakiki): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah sebuah hakikat dan bukan dari Allahﷻ. Dengan kata lain, melihat makhluk dan alam semesta atas nama mereka sendiri dan tidak menisbatkannya kepada Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel dan menilai bahwa apel itu ada dengan sendirinya, maka hal ini adalah peniadaan terhadap ribuan simbol yang menunjukan sang maha pencipta yaitu Allahﷻ. Makna ismi (hakiki) hanya milik Allahﷻ.

ilustrasi-potret-said-nursi-_mengembangkan_diri

Membaca Risalah Nur Setiap Hari

Sebaiknya Dalam Sehari Kita Baca Risalah Nur Berapa Halaman?[1]

Penulis | Cemil Tokpınar

Beberapa tahun yang lalu, kami pernah bertamu ke rumah salah satu teman yang berprofesi sebagai seorang guru. Di rak bukunya terdapat set risalah nur.

Ketika senggang, kami membaca sebuah pelajaran dari buku tersebut.

Buku terlihat baru, masih mulus. Mungkin baru dibeli.

Karena penasaran, aku pun bertanya:

“Apakah Anda telah selesai membaca semua set buku risalah nur?”

“Belum” jawabnya.

“Apakah Anda telah menyelesaikan seri-serinya yang paling tebal? Misalnya al Kalimat, al Maktubat, atau judul risalah lainnya?” tanyaku lagi.

“Saya belum pernah menyelesaikan buku-buku yang tebal. Di program-program membaca, saya biasanya membaca atau menyimak buku-buku risalah yang tipis.

Rupanya ia sudah berkenalan dengan buku-buku Risalah Nur sepuluh tahun lamanya.  Apabila ia membaca sedikitnya sepuluh halaman per hari, pastilah dalam setahun ia telah menyelesaikan semua set setidaknya sebanyak satu kali.

Sebenarnya, ada beberapa contoh serupa yang saya temui. Pada diri pribadi, keluarga, dan lingkaran pertemanan dapat ditemui mereka yang sudah mengenal risalah nur tetapi belum cukup dalam membacanya.

Pada hari ini saya ingin membahas kuantitas dalam memaksimalkan pelajaran-pelajaran iman secara harian.

Waktu mengalir seperti air.

Hari-hari ketika kita tidak mampu menyisihkan waktu untuk membaca risalah nur akan ditulis sebagai kerugian dalam hidup kita. Karena membaca karya-karya tersebut menjadi sarana bagi peningkatan kualitas iman, ibadah, ikhlas, ketakwaan, dan akhlak, maka tidak membacanya akan meninggalkan kerugian yang amat serius.

Seberapa banyak kita membaca dalam sehari tergantung pada target yang kita tentukan. Pada hari ini, coba kita mulai dari target yang paling rendah.

Seperti yang Anda ketahui, setetes demi setetes lama-lama menjadi samudera.  Meskipun sedikit, apabila kita tidak mencicil apa yang kita targetkan maka kita akan kehilangan samudera.

Orang-orang di masa kini memiliki banyak kesibukan. Terdapat nasihat dan motivasi penting dari Ustaz Said Nursi tentang berapa banyak waktu yang harus kita curahkan untuk membaca atau menyimak Risalah Nur di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.

Dalam sebuah surat yang dikutip dalam Lampiran Emirdag (Emirdağ Lâhikası), Ustaz membahas sebuah peringatan spiritual yang diterimanya. Ketika memberikan motivasi untuk membaca setiap hari, Beliau memberikan kabar gembira yang luar biasa:

“Apabila seorang lelaki di rumahnya terdapat 4-5 anak, hendaknya ia mengubah rumahnya tersebut menjadi Madrasah Nuriyah. Apabila ia tinggal sendirian, ia bisa mengundang 3-4 tetangganya yang paling akrab dan mengondisikan tempatnya berkumpul sebagai Madrasah Nuriyah mini. Jika itu juga tidak memungkinkan, setidaknya ia menyisihkan waktu meskipun hanya 5-10 menit untuk membaca, menyimak, atau menulis risalah nur. Dengan demikian ia bisa mendapat pahala dan kemuliaan penuntut ilmu yang hakiki. Ia juga bisa meraih lima jenis ibadah seperti yang ditulis di risalah ikhlas. Dalam hatiku muncul peringatan bahwa sebagaimana para penuntut ilmu yang hakiki, muamalah agung yang mereka kerjakan untuk mendapat penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari pun dapat dianggap sebagai salah satu jenis ibadah.”

Apabila pernyataan tersebut memerlukan penjelasan ringkas, kita dapat melihat aktivitas membaca ini akan dilakukan dengan siapa, dimana, bagaimana, minimal seberapa banyak, dan kabar gembira bagi mereka yang melaksanakannya.

Bagaimana membaca buku dan dengan siapa saja:

Pertama-tama, ia disarankan untuk dilakukan bersama keluarga. Apabila ia tinggal sendirian, disarankan untuk membacanya bersama para tetangga. Apabila cocok, aktivitas menuntut ilmu ini bisa dilakukan baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman lainnya. Pernyataan ini juga dapat kita pahami bahwasanya proses membaca disarankan menggunakan metode muzakarah. Cara membaca yang demikianlah yang dianggap memenuhi kriteria membaca harian. Namun, apabila kesempatan seperti itu sulit untuk dilaksanakan, maka aktivitas membaca bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun ketika sempat.

Aktivitas membaca baiknya dilakukan di mana: 

Apabila ruang institusi resmi seperti pusat kebudayaan atau pun ruang belajar tidak tersedia, aktivitas membaca bisa dilaksanakan di rumah-rumah atau di mana saja boleh dilakukan, menyesuaikan dengan kondisi. Sebagai langkah antisipasi pandemi global yang sedang kita hadapi, alangkah indahnya jika kita berhasil mengkreasikannya dengan sistem digital dan menggubah seluruh penjuru bumi menjadi dershane.

Dalam satu hari sebaiknya membaca berapa halaman:

Dalam surat yang ditulis Ustaz tersebut, disampaikan sedikitnya membaca selama 5-10 menit. Bila kita konversi waktu 5-10 menit tersebut menjadi jumlah halaman, kita dapati dalam durasi waktu tersebut kita telah membalik 2-4 halaman. Apabila kebiasaan ini bisa dilakukan secara kontinu, maka ia bisa digunakan sebagai target harian. Ungkapan “setidaknya” menyampaikan pesan bahwa durasi ini bisa ditambah jika sedang senggang.

Apa saja kabar gembira yang bisa diraih:

Mereka yang membaca secara rutin setiap hari akan meraih kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu. Selain itu, mereka juga meraih lima jenis ibadah yang dijelaskan dalam risalah ikhlas.

Kemuliaan dan keutamaan para penuntut ilmu telah dijelaskan dalam banyak hadis.  Demikian banyak kemuliaannya, tidurnya para penuntut ilmu yang hakiki dan ikhlas pun bernilai ibadah, apabila meninggal mereka meraih derajat syahid, amalan duniawi yang mubah akan terhitung sebagai ibadah.

Sedangkan lima jenis ibadah yang dibahas dalam risalah ikhlas adalah sebagai berikut:

  1. Ia merupakan bentuk jihad maknawi yang merupakan perjuangan terpenting dalam menghadapi kaum yang sesat.
  2. Ia merupakan pengabdian dalam bentuk bantuan bagi ustadz untuk menyebarluaskan kebenaran
  3. Ia merupakan pengabdian bagi seluruh kaum muslimin dari sisi keimanan
  4. Ia merupakan bentuk pemerolehan ilmu lewat tulisan
  5. Ia merupakan bentuk ibadah tafakkur yang satu jam darinya senilai dengan satu tahun ibadah.

Kini mari kita melakukan muhasabah dan menanyakan pertanyaan berikut kepada diri kita sendiri:

Berapa tahun kita telah mengenal Risalah Nur? Berapa kali kita mampu menyampaikan Risalah Nur? Melalui kehidupan dan ilmu, seperti apa kita telah menjadi teladan bagi anggota keluarga dan lingkungan masyarakat? Apakah kita memiliki jadwal membaca dan menyimak harian yang rutin? Apabila masih belum ada, kira-kira kapan akan dimulai?

Umur akan segera berlalu layaknya angin. Apabila kita menyisihkan 5-10 menit waktu yang dimiliki untuk membaca Risalah Nur, dalam 5 tahun kita akan menyelesaikan membaca semua setnya setidaknya sekali. Dalam 50 tahun, artinya kita akan menyelesaikan semua setnya sebanyak 10 kali. Dengannya kita akan meletakkan pelajaran-pelajaran dan tafsir dari ribuan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas iman ke dalam akal, kalbu, dan perasaan kita. Apakah kita tidak memiliki setidaknya 5-10 menit dalam sehari untuk meraih iman dan makrifat, mendaki anak tangga ketenteraman dan ihsan, menyelamatkan iman diri kita sendiri serta menjadi sarana bagi terselamatkannya iman orang lain?

Kita sedang hidup di periode masa di mana semua set risalah baik dalam bentuk tulisan ataupun audio dapat diakses melalui telepon genggam. Di mana pun kita bisa temukan kesempatan, ia dapat segera digunakan untuk membaca risalah sebanyak 3-4 halaman. Apalagi, setiap hari terdapat lebih dari 5-10 menit yang kita gunakan untuk singgah pada hal-hal tidak perlu yang bahkan merugikan.

Apabila saat ini kita tidak mengatakan “cukup” pada kebiasaan kita yang absen dari rutinitas membaca, lalu akan kita mulai kapan?

[1] Diterjemahkan dari: https://www.tr724.com/gunde-kac-sayfa-risale-i-nur-okuyalim/

mengembangkandiri.com glass-of-water-with-ice-cubes-2021-08-29-06-09-57-utc

Menyikapi Kebencian

Karya Pembaca: Mahir Martin

Sebagai umat Islam, kita pasti sering mendengar kisah Nabi Adam As. dengan kedua anaknya Habil dan Qabil. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa terjadi konflik antar keduanya. Karena konflik tersebut, Qabil akhirnya membunuh Habil. Peristiwa ini yang diyakini sebagai peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi.

Banyak sudah pembunuhan terjadi di muka bumi. Tidak hanya pembunuhan, banyak juga jenis kejahatan lain yang terjadi di muka bumi ini. Jika kita perhatikan, kejahatan itu bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh rasa kebencian yang timbul dalam diri seseorang.

Rasa Benci

Tak bisa dipungkiri, nafsu manusia yang dikelilingi dengan rasa iri, dengki, hasad, atau kecemburuan akan membawa kepada kebencian. Rasa benci yang akan membuat pembenci berani melakukan tindakan apapun demi orang yang dibenci.

Pembenci tak akan melihat kebaikan orang yang dibenci, walaupun terkadang kebaikannya justru dilakukan terhadap dirinya. Misalnya, ketika orang yang dibenci menyapa, pembenci akan bermuka masam atau mungkin saja berbalik muka, tak ingin menghiraukan.

Pembenci, pemikirannya berpola tetap.

Di matanya, apapun yang dilakukan orang yang ia benci adalah salah, tak ada benarnya. Ia tak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan lagi. Ia ibarat melihat dengan kaca mata yang dipenuhi dengan kotoran sehingga tidak bisa melihat lagi dengan jernih.

Lebih jauh lagi, sikap membenci terkadang membuat pembenci melakukan tindakan yang tidak rasional, dan di luar nalar akal sehat. Mereka bahkan rela menghalalkan segala cara demi melakukan pembenaran terhadap dirinya, dan menyalahkan orang yang ia benci. Kebohongan, kemunafikan, bahkan perilaku anarkis bisa saja ia lakukan.

Rasa benci itu juga tidak melihat hubungan dan kedekatan seseorang. Kebencian bisa menjadi gunting pemutus ikatan antar sesama kita. Seseorang bisa sangat mudah membenci temannya, sahabatnya, kerabatnya, bahkan saudara kandungnya. Jika sudah kadung benci, hubungan dan ikatan sudah tak memiliki makna lagi.

Sikap Kita

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika kita dibenci?

Hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah intropeksi diri. Lihat kembali ke dalam diri kita, apakah kita benar-benar sudah menjadi insan yang baik? Apakah kita bisa menjaga tingkah laku kita sehingga orang tidak membenci kita? Jangan-jangan kebencian seseorang timbul disebabkan oleh diri kita sendiri.

Intropeksi diri ini seharusnya dilakukan setiap saat, terlepas kita mengetahui apakah ada orang yang membenci kita atau tidak. Ada atau tidak pembenci, introspeksi dan mawas diri harus terus dilakukan. Sejatinya, rasa benci itu berpotensi untuk ada pada siapapun yang ada di sekitar kita, apalagi jika kita tidak mampu menjaga sikap kita, tidak mampu mengintrospeksi diri kita.

Hal kedua yang perlu kita lakukan jika kita memiliki pembenci adalah sabar menghadapinya. Kebencian yang mengarah kepada kita adalah sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan pikiran jernih. Jangan sampai kita terbawa emosi dan perasaan, yang justru bisa melahirkan kebencian juga dalam diri kita. Kebencian tak akan hilang jika dihadapi dengan kebencian juga.

Kesabaran sangat penting karena pembenci pasti akan menyerang dari berbagai sisi dalam diri kita. Jika diri kita kurang sabar, dan benteng pertahanan kita kurang kuat, kita akhirnya bisa terbawa emosi dan perasaan. Jika hal ini terjadi, diri kita sendiri yang akan menderita kerugiannya. Kita bisa saja semakin terpuruk dengan adanya kebencian itu.

Hal ketiga adalah perlu adanya kekuatan mental dalam diri kita. Kekuatan mental sangat diperlukan agar kita tidak terpengaruh dengan adanya para pembenci di sekitar kita. Hanya memikirkan para pembenci akan membuat diri kita lebih terpuruk dan tidak bisa produktif dalam kehidupan.

Memfokuskan perhatian kepada tugas dan kewajiban kita dalam kehidupan bisa menjadi kekuatan terbesar dalam melawan para pembenci kita. Kita harus bisa membuktikan diri bahwa kita masih tetap bisa move on walaupun para pembenci tidak memberikan dukungan kepada kita. Tanpa mereka, kita masih bisa memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kita.

Sebuah Refleksi

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan agar tidak ada kebencian dalam kehidupan kita?

Komunikasi yang baik, yang dilakukan dari hati ke hati, akan bisa melelehkan es kebencian dalam hati manusia. Tidak mudah melakukannya ketika ada api kebencian yang membara. Terkadang diperlukan sarana mediator untuk bisa melakukannya. Dengan adanya komunikasi dua arah, kita akan bisa mengetahui apa sebenarnya sumber kebencian yang mungkin timbul dalam hati seseorang.

Kebencian baru bisa dihilangkan dengan adanya kesadaran dalam diri pembenci dan orang yang dibenci. Kesadaran akan terbentuk setelah adanya komunikasi efektif yang dilakukan secara intensif, komunikasi yang tidak hanya dilakukan sesekali atau sekali saja.

Karena kebencian adanya di hati, sebagai manusia sebaiknya kita bisa menjaga hati kita dari belenggu kebencian itu. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Menjaga hati memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Menjaga hati ibarat menjaga diri dari gigitan kalajengking dan ular kobra, yang bisa saja menyerang tanpa kita sadari.

Alhasil, bersikap seperti Habil dalam kisah Nabi Adam As. di dalam Al-Quran kiranya bisa menjadi sikap yang seharusnya dikedepankan dalam melawan kebencian. Dalam Al-Quran diabadikan bagaimana sikap yang dilakukan Habil ketika berkonflik dengan saudaranya Qabil.

Habil berkata, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (QS 3:28).

Sikap Habil ini memberikan pembelajaran kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang yang ingin melakukan keburukan kepada kita. Seorang ksatria adalah seorang yang mampu menjawab keburukan yang dilakukan terhadap dirinya dengan kebaikan, mampu menjawab kebencian dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Al-Quran sebagai pedoman hidup, pastinya memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Setiap ayat Al-Quran terkadang tidak langsung kita pahami, perlu penghayatan,  dan perenungan untuk bisa memahami benar-benar apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya.

Kiranya, kisah Habil dan Qabil bisa membuka perspektif kita bagaimana seharusnya kita memahami dan bersikap menghadapi kebencian yang mungkin saja terjadi kepada diri kita.

mengembangkandiri.com decorative-moon-and-stars-on-color-background-spa-2021-09-02-15-10-21-utc

Telah Tiba! Hari yang Lebih Baik dari Seribu Hari!

“Hari yang lebih baik dari seribu hari telah tiba!” 

Menyebutnya sebagai ‘hari yang lebih baik dari seribu hari’ saja rasanya kurang. Karena saat kita memasuki musim tersebut, di dalamnya terdapat malam dan hari-hari yang nilainya setara dengan seribu, sepuluh ribu, bahkan sepuluh ribu hari.

Hari-hari tersebut adalah hari-hari di tiga bulan suci dan kita telah dekat dengannya. Di tahun 2022 ini, hari pertama di bulan Rajab jatuh pada hari Kamis, tanggal 3 Februari 2022.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita kemampuan untuk menyucikan, memuliakan, dan memenuhi hak-hak bulan suci tersebut, khususnya hak dari bulan Ramadhan.

Lalu mengapa tulisan ini diterbitkan hari ini?

Kami menginginkan agar hari-hari dan malam-malam yang keutamaannya setara dengan seluruh umur kita ini tidak tenggelam oleh hiruk pikuk kesibukan agenda-agenda harian.

Mari kita menyambut datangnya tiga bulan suci ini layaknya kita menyambut hari raya!

Mari kita menghidupkannya seakan ia adalah rahasia untuk meraih kemenangan!

Mari kita menganggap tiga bulan suci ini seakan ia adalah tiga bulan suci kita yang terakhir!

Sebagaimana yang Anda ketahui, kita sangat membutuhkan hadiah dan anugerah-anugerah kejutan dari Allah SWT. Kita menantikan kejutan tersebut dengan penuh hasrat dan gairah. Kita juga menginginkan pertolongan dan perlindungan yang luar biasa dariNya.

Demikianlah, tetapi segala sesuatu ada harganya. Hadiah dan anugerah istimewa dari Sang Rabb menginginkan ibadah dan usaha keras dari si hamba.

Dan kesempatan tersebut datang tepat di hadapan kita.

Bukankah kita seharusnya mengarungi bulan-bulan yang seperti samudera kesempatan ini tidak dengan kelalaian, melainkan dengan penuh persiapan, terencana, dan terprogram?

Jangankan kita kaum muslim akhir zaman yang penuh dengan kesalahan, sultannya umat manusia SAW saja menunggu datangnya bulan-bulan suci ini dengan penuh harapan. Agar bisa menemui tiga bulan suci ini, beliau berdoa:

“Ya Allah berkahilah kami dengan bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan! (Musnad 1:259)

Karena sampai ke tiga bulan suci ini dengan menghidupkannya, sampai ke bulan ramadhan dan memuliakannya dengan ibadah, merupakan anugerah luar biasa baik bagi Baginda Nabi maupun bagi umatnya.

Tantangan tokoh-tokoh besar juga besar. Baginda Nabi di setiap waktunya senantiasa memikirkan kebahagiaan dunia dan akhirat umatnya yang akan datang. Beliau juga memikirkan masalah-masalah yang menimpa seluruh umat manusia. Beliau berusaha keras dan berdoa demi turunnya hidayah bagi mereka.

Jembatan Kesempatan

Demikianlah Baginda Nabi SAW, sosok yang memiliki kredit agung serta wibawa mulia di sisi Allah SWT telah menganggap tiga bulan suci serta bulan Ramadhan ini sebagai kesempatan di atas kesempatan. Beliau memusatkan konsentrasinya untuk beribadah dan berdoa di bulan ini.

Para sahabat dan kekasih-kekasih Allah yang meneladaninya juga melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Bediuzzaman Said Nursi. Dalam suratnya kepada murid-muridnya, walaupun hidup di bawah siksaan berat ketika tinggal di Penjara Afyon selama 20 bulan, beliau memberikan kabar gembira yang dibawa oleh tiga bulan suci ini:

Lima hari lagi bulan-bulan yang penuh pahala ibadah dan penuh keberkahan yaitu  tiga bulan suci akan tiba. Jika ganjaran setiap kebaikan di luar waktu tesebut hanya bernilai sepuluh, di bulan Rajab nilainya mulai dari  seratus, di bulan Syaban nilainya mulai dari tiga ratus, sedangkan di bulan Ramadhan yang penuh  berkah nilainya mulai dari seribu. Ganjaran di malam-malam jumatnya dimulai dari seribu, sedangkan di malam lailatul qadar bisa mencapai 30.000 kali lipat.

Pasar suci dimana terjadi perdagangan ukhrawi yang memberikan keuntungan berupa banyak faedah-faedah ukhrawi;  serta masyhar atau perkumpulan sempurna bagi ahli hakikat dan ahli ibadah; melewati waktu di madrasah Yusufiyah yang mana satu kebaikan diberi 10 ganjaran ditambah adanya garansi kepada ahli iman berupa ganjaran sepanjang umur sebanyak 80 tahun untuk ibadah  yang dilakukan di dalam tiga bulan ini; tentu saja hal tersebut adalah keuntungan yang amat besar. Seberapa pun besar kesusahan di dalamnya, ia tetaplah bulan rahmat (Sinar ke-14).

Ya Allah! Dapatkah Anda cermati sudut pandang tersebut! Walaupun kondisi beliau sangat kurus, sangat tua, dan sangat sensitif, beliau bertahan dengan ibadah dan doa dalam menghadapi cuaca dingin dan penyakit bertubi-tubi. Tak cukup dengannya, beliau juga diracun. Pahlawan ibadah yang bersabar ini telah menganggap segala macam kesusahan sebagai rahmat, tidak mengeluh, dan tidak mencari-cari alasan. Malahan menyambutnya seakan yang akan datang adalah hari raya!

Karena tiga bulan suci merupakan rantai yang merangkai kesempatan-kesempatan besar seperti itu, ketika ia dihidupkan di bawah kondisi penjara yang amat berat, maka ganjaran dan pahala yang dianugerahkan Allah SWT sepuluh kali lipat lebih banyak.

Dari kabar gembira yang diberikan oleh Ustaz tersebut dapat kita pahami bahwasanya tiga bulan suci, khususnya bulan Ramadhan, setiap hari-harinya, apalagi malam Ragaib, malam Mikraj, malam Nisfu Syaban, dan malam Lailatul Qadar merupakan jembatan kesempatan yang memfasilitasi diraihnya ribuan, sepuluh ribu, dua puluh ribu, bahkan tiga puluh ribu  ganjaran.

Angka-angka ini bukanlah kinayah, melainkan hakikat. Pahala-pahala melimpah dan ganjaran-ganjaran berkali lipat di bulan-bulan suci ini seperti buah jagung yang penuh berkah dimana ia menghasilkan banyak biji atau mengingatkan kita pada promosi toko dimana mereka memberi hadiah tambahan bagi konsumen yang membeli salah satu produk yang dijualnya.

Kita yang memberikan perhatian berlebih kepada promosi-promosi sementara yang ada di dunia, bukankah kita seharusnya memberikan perhatian lebih lagi pada hari-hari dan malam-malam penuh berkah yang menjadi sarana bagi diraihnya rida Ilahi serta dihadiahkannya istana-istana surga yang abadi.

Malam Jumat Pertama di Bulan Rajab

Mari kita mulai menghidupkan tiga bulan suci ini dengan malam jumat pertama di bulan rajab. Setiap ibadah yang dilakukan di malam ini akan ditulis dengan ganjaran pahala lebih banyak seratus kali lipat.

Dalam istilah arab, istilah ini dimaknai sebagai malam yang sangat diinginkan, diharapkan, nilainya agung, anugerahnya melimpah.

Malam ini kemuliaannya ibarat kemuliaan malam saat ditanamkannya benih janin dari Nabi Muhammad di rahim ibundanya yang mana ia menjadi sebab bagi datangnya Rasulullah ke alam dunia ini.

Perhatikanlah!

Doa-doa di malam ini akan dikabulkan. Dalam sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra dan Abu Umamah ra, beliau menyebutkan terdapat lima malam dimana doa-doa tidak ditolak:

Ada lima malam dimana doa-doa yang dipanjatkan di malam tersebut tidak ditolak. Doa-doa tersebut akan dikabulkan: malam pertama di bulan Rajab, malam ke-15 di bulan Sya’ban, malam jumat, malam Idul Fitri, serta malam Idul Adha. (Lihat Jalaluddin as Suyuti, Jami’us Saghir, 3/454)

Mari kita manfaatkan kesempatan ini. Mari isi agenda kita dengan program-program untuk mengisi hari-hari dan malam-malam istimewa di dalam tiga bulan suci ini. Mari kita informasikan kesempatan ini kepada keluarga dan lingkungan kita dengan memanfaatkan segala macam sarana dan media sosial. Mari kita motivasi mereka untuk bersemangat dalam meraih keistimewaan-keistimewaan di dalamnya.

Bagaimana Menghidupkan Malam Jumat Pertama di bulan Rajab

Kita sebisa mungkin menghidupkan malam penuh berkah ini dengan doa dan ibadah hingga pagi tiba. Sayangnya di tengah-tengah usaha untuk menghidupkan malam mulia ini, setan dan nafsu akan mendorong mata kita untuk lekas mengantuk. Untuk itu, yang terbaik adalah menghidupkan malam ini di dalam majelis zikir ataupun dalam program yang dikelola bersama oleh masjid. Jika tidak memungkinkan, bisa juga dengan berkumpul di salah satu rumah anggota keluarga ataupun anggota masyarakat yang dirasa memungkinkan. Jika memungkinkan, kita usahakan programnya berlanjut hingga waktu sahur tiba. Dengan teh dan kopi kita coba usir rasa kantuk. Bisa juga menggunakan air dingin ketika memperbaharui wudu kita sehingga diri ini tetap terjaga.

Kita harus merencanakan program untuk menghidupkannya sedari sekarang. Pertama-tama, kita harus menjelaskan urgensi acara ini kepada mereka yang akan hadir. Kita juga harus mengumumkan rangkaian kegiatan apa saja yang akan dijalankan di dalam program. Bahkan kita juga harus memotivasi dan mengingatkan teman-teman yang bertugas memberi pengumuman kepada rekan-rekan lainnya. Kita jangan sampai menyia-nyiakan malam mulia ini dengan kesibukan jalan-jalan, bertamu, dan mengobrol kesana-kemari. Waktu mulia ini hanya akan kita isi dengan taubat, istigfar, salawat, salat, membaca al Quran, doa, zikir, dan wirid.

Ketika menghidupkan malam mulia ini, tidak cukup dengan orang tua, anak-anak dan remaja juga harus dilibatkan. Isi program tidak hanya diperhatikan dari susunan ibadah dan doa-doa yang akan dipanjatkan saja, melainkan jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih istimewa. Jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih menarik hati para pesertanya. Untuk menyiapkan hal tersebut, di siang ataupun sore harinya kita perlu berbelanja segala macam persiapannya. Malam penuh berkah ini harus kita sambut layaknya malam hari raya.

Ya, kita harus menangis dan merintih karena kita adalah pendosa, karena ada banyak saudara-saudara kita yang merintih karena ditindas. Akan tetapi, kalbu kita harus penuh dengan kebahagiaan, karena setiap doa akan dikabulkan, setiap taubat akan diterima di malam ini, insya Allah.

Mungkin beberapa orang tidak bisa menghidupkan malam ini semalam suntuk karena ada aktivitas kerja dan sekolah di keesokan hari. Jika memungkinkan, ia bisa mengambil izin atau cuti. Jika tidak, mungkin ia perlu berusaha menyedikitkan tidurnya di malam itu.

Bukankah kita pun terkadang begadang untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang menjaga rekan atau anggota keluarga kita yang sedang sakit?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang menantikan pesawat pertama lepas landas di bandara?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang untuk menonton kesebelasan kesayangan kita bertanding di liga champion?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang karena mengobrol dengan sahabat kita semalam suntuk?

Malam-malam ini adalah malam dimana kesempatan emas bertabur berlian dihamparkan layaknya ganimah. Ia adalah baskom untuk menyucikan diri sekaligus roket pendorong untuk mencapai derajat yang lebih agung.

Mereka yang terlibat dalam acara menghidupkan malam ini harus kita motivasi untuk berpuasa di keesokan harinya, termasuk di dalamnya remaja dan anak-anak. Untuk itu, kita juga harus menyiapkan hidangan sahur dengan menu makanan yang dapat memikat hati mereka.

Ibadah apa saja yang bisa dikerjakan? 

Di malam mulia ini terdapat lima ibadah penting yang dapat dikerjakan:

  1. Taubat dan beristigfar, taubat dan istigfar yang dipanjatkan di malam ini insya Allah akan diterima
  2. Membaca al Quran, khususnya surat-surat istimewa seperti Yasin, al Fath, ar Rahman, al Mulk, dan an Naba
  3. Menunaikan salat sunah, khususnya awwanin, tahajud, taubat, tasbih, dan hajat
  4. Salawat, kita harus banyak mengirimkan salawat kepada Baginda Nabi di malam yang mulia ini.
  5. Berdoa, kita harus memanjatkan doa kepada Sang Rabbi misalnya dengan doa-doa yang terdapat di al Quran dan hadis, jausyan, tauhidname, serta doa-doa yang pernah dibaca oleh sosok-sosok dan wali-wali agung. Terlebih lagi kita harus mendoakan saudara-saudara kita yang sedang terpojok dan dizalimi sehingga mereka dapat selamat dari kesulitan itu.

Kapan kita bisa berpuasa? 

Berpuasa di hari yang berhubungan dengan malam jumat pertama di bulan rajab sangatlah berfadilah. Puasa dijalankan tidak di hari sebelum malam, melainkan di hari setelah malam. Ini karena kalender ibadah dalam satu hari dimulai dengan azan magrib hingga masuk waktu azan magrib berikutnya. Sebagaimana di waktu Ramadhan, kita memulai ibadahnya dengan salat tarawih, baru berpuasa di keesokan harinya. Akan tetapi, karena hari sebelumnya adalah kamis, maka berpuasa di dalamnya juga merupakan perbuatan sunah.

Boleh juga berpuasa hanya di hari jumatnya. Karena kita melakukannya bukan karena sengaja, melainkan karena kebetulan waktu mulia tersebut jatuh di hari jumat yang sebenarnya makruh tetapi dekat dengan halal. Karena waktu mulia ini akan selalu jatuh di hari jumat, maka tidak ada pilihan lainnya. Untuk itu, bagi mereka yang tidak bisa berpuasa di hari kamis, maka berpuasa di hari jumat tidaklah makruh. Bagi mereka yang menghendaki, sebagaimana bisa berpuasa di hari kamis, jumat, dan sabtu, ia juga bisa berpuasa di hari jumat dan sabtunya.

Demikianlah kawan! Mari segera undang kawan-kawan kita untuk memuliakannya.

Sebagaimana yang Anda ketahui, penginspirasi juga akan meraih pahala dari amal yang dilakukan oleh orang yang terinspirasi darinya. Siapa yang tahu barangkali lewat pengumuman yang Anda lakukan akan menjadi sebab bagi diraihnya pahala di seantero dunia.

Diterjehkan dari artikel berjudul: Biri bine bedel günler Geliyor!|Penulis: Cemil TokpInar.| www.tr724.com