mengembangkandiri.com decorative-moon-and-stars-on-color-background-spa-2021-09-02-15-10-21-utc

Telah Tiba! Hari yang Lebih Baik dari Seribu Hari!

“Hari yang lebih baik dari seribu hari telah tiba!” 

Menyebutnya sebagai ‘hari yang lebih baik dari seribu hari’ saja rasanya kurang. Karena saat kita memasuki musim tersebut, di dalamnya terdapat malam dan hari-hari yang nilainya setara dengan seribu, sepuluh ribu, bahkan sepuluh ribu hari.

Hari-hari tersebut adalah hari-hari di tiga bulan suci dan kita telah dekat dengannya. Di tahun 2022 ini, hari pertama di bulan Rajab jatuh pada hari Kamis, tanggal 3 Februari 2022.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita kemampuan untuk menyucikan, memuliakan, dan memenuhi hak-hak bulan suci tersebut, khususnya hak dari bulan Ramadhan.

Lalu mengapa tulisan ini diterbitkan hari ini?

Kami menginginkan agar hari-hari dan malam-malam yang keutamaannya setara dengan seluruh umur kita ini tidak tenggelam oleh hiruk pikuk kesibukan agenda-agenda harian.

Mari kita menyambut datangnya tiga bulan suci ini layaknya kita menyambut hari raya!

Mari kita menghidupkannya seakan ia adalah rahasia untuk meraih kemenangan!

Mari kita menganggap tiga bulan suci ini seakan ia adalah tiga bulan suci kita yang terakhir!

Sebagaimana yang Anda ketahui, kita sangat membutuhkan hadiah dan anugerah-anugerah kejutan dari Allah SWT. Kita menantikan kejutan tersebut dengan penuh hasrat dan gairah. Kita juga menginginkan pertolongan dan perlindungan yang luar biasa dariNya.

Demikianlah, tetapi segala sesuatu ada harganya. Hadiah dan anugerah istimewa dari Sang Rabb menginginkan ibadah dan usaha keras dari si hamba.

Dan kesempatan tersebut datang tepat di hadapan kita.

Bukankah kita seharusnya mengarungi bulan-bulan yang seperti samudera kesempatan ini tidak dengan kelalaian, melainkan dengan penuh persiapan, terencana, dan terprogram?

Jangankan kita kaum muslim akhir zaman yang penuh dengan kesalahan, sultannya umat manusia SAW saja menunggu datangnya bulan-bulan suci ini dengan penuh harapan. Agar bisa menemui tiga bulan suci ini, beliau berdoa:

“Ya Allah berkahilah kami dengan bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan! (Musnad 1:259)

Karena sampai ke tiga bulan suci ini dengan menghidupkannya, sampai ke bulan ramadhan dan memuliakannya dengan ibadah, merupakan anugerah luar biasa baik bagi Baginda Nabi maupun bagi umatnya.

Tantangan tokoh-tokoh besar juga besar. Baginda Nabi di setiap waktunya senantiasa memikirkan kebahagiaan dunia dan akhirat umatnya yang akan datang. Beliau juga memikirkan masalah-masalah yang menimpa seluruh umat manusia. Beliau berusaha keras dan berdoa demi turunnya hidayah bagi mereka.

Jembatan Kesempatan

Demikianlah Baginda Nabi SAW, sosok yang memiliki kredit agung serta wibawa mulia di sisi Allah SWT telah menganggap tiga bulan suci serta bulan Ramadhan ini sebagai kesempatan di atas kesempatan. Beliau memusatkan konsentrasinya untuk beribadah dan berdoa di bulan ini.

Para sahabat dan kekasih-kekasih Allah yang meneladaninya juga melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Bediuzzaman Said Nursi. Dalam suratnya kepada murid-muridnya, walaupun hidup di bawah siksaan berat ketika tinggal di Penjara Afyon selama 20 bulan, beliau memberikan kabar gembira yang dibawa oleh tiga bulan suci ini:

Lima hari lagi bulan-bulan yang penuh pahala ibadah dan penuh keberkahan yaitu  tiga bulan suci akan tiba. Jika ganjaran setiap kebaikan di luar waktu tesebut hanya bernilai sepuluh, di bulan Rajab nilainya mulai dari  seratus, di bulan Syaban nilainya mulai dari tiga ratus, sedangkan di bulan Ramadhan yang penuh  berkah nilainya mulai dari seribu. Ganjaran di malam-malam jumatnya dimulai dari seribu, sedangkan di malam lailatul qadar bisa mencapai 30.000 kali lipat.

Pasar suci dimana terjadi perdagangan ukhrawi yang memberikan keuntungan berupa banyak faedah-faedah ukhrawi;  serta masyhar atau perkumpulan sempurna bagi ahli hakikat dan ahli ibadah; melewati waktu di madrasah Yusufiyah yang mana satu kebaikan diberi 10 ganjaran ditambah adanya garansi kepada ahli iman berupa ganjaran sepanjang umur sebanyak 80 tahun untuk ibadah  yang dilakukan di dalam tiga bulan ini; tentu saja hal tersebut adalah keuntungan yang amat besar. Seberapa pun besar kesusahan di dalamnya, ia tetaplah bulan rahmat (Sinar ke-14).

Ya Allah! Dapatkah Anda cermati sudut pandang tersebut! Walaupun kondisi beliau sangat kurus, sangat tua, dan sangat sensitif, beliau bertahan dengan ibadah dan doa dalam menghadapi cuaca dingin dan penyakit bertubi-tubi. Tak cukup dengannya, beliau juga diracun. Pahlawan ibadah yang bersabar ini telah menganggap segala macam kesusahan sebagai rahmat, tidak mengeluh, dan tidak mencari-cari alasan. Malahan menyambutnya seakan yang akan datang adalah hari raya!

Karena tiga bulan suci merupakan rantai yang merangkai kesempatan-kesempatan besar seperti itu, ketika ia dihidupkan di bawah kondisi penjara yang amat berat, maka ganjaran dan pahala yang dianugerahkan Allah SWT sepuluh kali lipat lebih banyak.

Dari kabar gembira yang diberikan oleh Ustaz tersebut dapat kita pahami bahwasanya tiga bulan suci, khususnya bulan Ramadhan, setiap hari-harinya, apalagi malam Ragaib, malam Mikraj, malam Nisfu Syaban, dan malam Lailatul Qadar merupakan jembatan kesempatan yang memfasilitasi diraihnya ribuan, sepuluh ribu, dua puluh ribu, bahkan tiga puluh ribu  ganjaran.

Angka-angka ini bukanlah kinayah, melainkan hakikat. Pahala-pahala melimpah dan ganjaran-ganjaran berkali lipat di bulan-bulan suci ini seperti buah jagung yang penuh berkah dimana ia menghasilkan banyak biji atau mengingatkan kita pada promosi toko dimana mereka memberi hadiah tambahan bagi konsumen yang membeli salah satu produk yang dijualnya.

Kita yang memberikan perhatian berlebih kepada promosi-promosi sementara yang ada di dunia, bukankah kita seharusnya memberikan perhatian lebih lagi pada hari-hari dan malam-malam penuh berkah yang menjadi sarana bagi diraihnya rida Ilahi serta dihadiahkannya istana-istana surga yang abadi.

Malam Jumat Pertama di Bulan Rajab

Mari kita mulai menghidupkan tiga bulan suci ini dengan malam jumat pertama di bulan rajab. Setiap ibadah yang dilakukan di malam ini akan ditulis dengan ganjaran pahala lebih banyak seratus kali lipat.

Dalam istilah arab, istilah ini dimaknai sebagai malam yang sangat diinginkan, diharapkan, nilainya agung, anugerahnya melimpah.

Malam ini kemuliaannya ibarat kemuliaan malam saat ditanamkannya benih janin dari Nabi Muhammad di rahim ibundanya yang mana ia menjadi sebab bagi datangnya Rasulullah ke alam dunia ini.

Perhatikanlah!

Doa-doa di malam ini akan dikabulkan. Dalam sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra dan Abu Umamah ra, beliau menyebutkan terdapat lima malam dimana doa-doa tidak ditolak:

Ada lima malam dimana doa-doa yang dipanjatkan di malam tersebut tidak ditolak. Doa-doa tersebut akan dikabulkan: malam pertama di bulan Rajab, malam ke-15 di bulan Sya’ban, malam jumat, malam Idul Fitri, serta malam Idul Adha. (Lihat Jalaluddin as Suyuti, Jami’us Saghir, 3/454)

Mari kita manfaatkan kesempatan ini. Mari isi agenda kita dengan program-program untuk mengisi hari-hari dan malam-malam istimewa di dalam tiga bulan suci ini. Mari kita informasikan kesempatan ini kepada keluarga dan lingkungan kita dengan memanfaatkan segala macam sarana dan media sosial. Mari kita motivasi mereka untuk bersemangat dalam meraih keistimewaan-keistimewaan di dalamnya.

Bagaimana Menghidupkan Malam Jumat Pertama di bulan Rajab

Kita sebisa mungkin menghidupkan malam penuh berkah ini dengan doa dan ibadah hingga pagi tiba. Sayangnya di tengah-tengah usaha untuk menghidupkan malam mulia ini, setan dan nafsu akan mendorong mata kita untuk lekas mengantuk. Untuk itu, yang terbaik adalah menghidupkan malam ini di dalam majelis zikir ataupun dalam program yang dikelola bersama oleh masjid. Jika tidak memungkinkan, bisa juga dengan berkumpul di salah satu rumah anggota keluarga ataupun anggota masyarakat yang dirasa memungkinkan. Jika memungkinkan, kita usahakan programnya berlanjut hingga waktu sahur tiba. Dengan teh dan kopi kita coba usir rasa kantuk. Bisa juga menggunakan air dingin ketika memperbaharui wudu kita sehingga diri ini tetap terjaga.

Kita harus merencanakan program untuk menghidupkannya sedari sekarang. Pertama-tama, kita harus menjelaskan urgensi acara ini kepada mereka yang akan hadir. Kita juga harus mengumumkan rangkaian kegiatan apa saja yang akan dijalankan di dalam program. Bahkan kita juga harus memotivasi dan mengingatkan teman-teman yang bertugas memberi pengumuman kepada rekan-rekan lainnya. Kita jangan sampai menyia-nyiakan malam mulia ini dengan kesibukan jalan-jalan, bertamu, dan mengobrol kesana-kemari. Waktu mulia ini hanya akan kita isi dengan taubat, istigfar, salawat, salat, membaca al Quran, doa, zikir, dan wirid.

Ketika menghidupkan malam mulia ini, tidak cukup dengan orang tua, anak-anak dan remaja juga harus dilibatkan. Isi program tidak hanya diperhatikan dari susunan ibadah dan doa-doa yang akan dipanjatkan saja, melainkan jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih istimewa. Jamuan-jamuannya juga perlu dibuat lebih menarik hati para pesertanya. Untuk menyiapkan hal tersebut, di siang ataupun sore harinya kita perlu berbelanja segala macam persiapannya. Malam penuh berkah ini harus kita sambut layaknya malam hari raya.

Ya, kita harus menangis dan merintih karena kita adalah pendosa, karena ada banyak saudara-saudara kita yang merintih karena ditindas. Akan tetapi, kalbu kita harus penuh dengan kebahagiaan, karena setiap doa akan dikabulkan, setiap taubat akan diterima di malam ini, insya Allah.

Mungkin beberapa orang tidak bisa menghidupkan malam ini semalam suntuk karena ada aktivitas kerja dan sekolah di keesokan hari. Jika memungkinkan, ia bisa mengambil izin atau cuti. Jika tidak, mungkin ia perlu berusaha menyedikitkan tidurnya di malam itu.

Bukankah kita pun terkadang begadang untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang menjaga rekan atau anggota keluarga kita yang sedang sakit?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang menantikan pesawat pertama lepas landas di bandara?

Apakah kita sebelumnya belum pernah begadang untuk menonton kesebelasan kesayangan kita bertanding di liga champion?

Apakah sebelumnya kita belum pernah begadang karena mengobrol dengan sahabat kita semalam suntuk?

Malam-malam ini adalah malam dimana kesempatan emas bertabur berlian dihamparkan layaknya ganimah. Ia adalah baskom untuk menyucikan diri sekaligus roket pendorong untuk mencapai derajat yang lebih agung.

Mereka yang terlibat dalam acara menghidupkan malam ini harus kita motivasi untuk berpuasa di keesokan harinya, termasuk di dalamnya remaja dan anak-anak. Untuk itu, kita juga harus menyiapkan hidangan sahur dengan menu makanan yang dapat memikat hati mereka.

Ibadah apa saja yang bisa dikerjakan? 

Di malam mulia ini terdapat lima ibadah penting yang dapat dikerjakan:

  1. Taubat dan beristigfar, taubat dan istigfar yang dipanjatkan di malam ini insya Allah akan diterima
  2. Membaca al Quran, khususnya surat-surat istimewa seperti Yasin, al Fath, ar Rahman, al Mulk, dan an Naba
  3. Menunaikan salat sunah, khususnya awwanin, tahajud, taubat, tasbih, dan hajat
  4. Salawat, kita harus banyak mengirimkan salawat kepada Baginda Nabi di malam yang mulia ini.
  5. Berdoa, kita harus memanjatkan doa kepada Sang Rabbi misalnya dengan doa-doa yang terdapat di al Quran dan hadis, jausyan, tauhidname, serta doa-doa yang pernah dibaca oleh sosok-sosok dan wali-wali agung. Terlebih lagi kita harus mendoakan saudara-saudara kita yang sedang terpojok dan dizalimi sehingga mereka dapat selamat dari kesulitan itu.

Kapan kita bisa berpuasa? 

Berpuasa di hari yang berhubungan dengan malam jumat pertama di bulan rajab sangatlah berfadilah. Puasa dijalankan tidak di hari sebelum malam, melainkan di hari setelah malam. Ini karena kalender ibadah dalam satu hari dimulai dengan azan magrib hingga masuk waktu azan magrib berikutnya. Sebagaimana di waktu Ramadhan, kita memulai ibadahnya dengan salat tarawih, baru berpuasa di keesokan harinya. Akan tetapi, karena hari sebelumnya adalah kamis, maka berpuasa di dalamnya juga merupakan perbuatan sunah.

Boleh juga berpuasa hanya di hari jumatnya. Karena kita melakukannya bukan karena sengaja, melainkan karena kebetulan waktu mulia tersebut jatuh di hari jumat yang sebenarnya makruh tetapi dekat dengan halal. Karena waktu mulia ini akan selalu jatuh di hari jumat, maka tidak ada pilihan lainnya. Untuk itu, bagi mereka yang tidak bisa berpuasa di hari kamis, maka berpuasa di hari jumat tidaklah makruh. Bagi mereka yang menghendaki, sebagaimana bisa berpuasa di hari kamis, jumat, dan sabtu, ia juga bisa berpuasa di hari jumat dan sabtunya.

Demikianlah kawan! Mari segera undang kawan-kawan kita untuk memuliakannya.

Sebagaimana yang Anda ketahui, penginspirasi juga akan meraih pahala dari amal yang dilakukan oleh orang yang terinspirasi darinya. Siapa yang tahu barangkali lewat pengumuman yang Anda lakukan akan menjadi sebab bagi diraihnya pahala di seantero dunia.

Diterjehkan dari artikel berjudul: Biri bine bedel günler Geliyor!|Penulis: Cemil TokpInar.| www.tr724.com

mengembangkan-diri-toleransi

Toleransi, Agama dan Integrasinya Dalam Kehidupan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Semua agama pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Dalam membahas tentang agama dan nilai kehidupan, ada salah satu nilai yang paling penting yang perlu diperhatikan, yaitu toleransi. Setiap agama dengan pendekatannya masing-masing memiliki cara untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan, yang dari sana menuntut kita untuk bersikap saling toleransi antar umat beragama. Bisa dimaknai bahwa agama dan toleransi adalah dua hal yang bisa diibaratkan seperti dua sisi pada koin yang sama.

Agama dan Toleransi

Indonesia, sebagai negara yang mengakui keberagaman agama, menuntut pemahaman masyarakat yang kuat dan benar tentang makna toleransi antar umat beragama. Masyarakat harus benar-benar memahami bahwa toleransi adalah salah satu cara memaknai agama di dalam kehidupan. Toleransi merupakan nilai yang perlu dikedepankan di setiap sendi kehidupan, di negara kita. Pendidikan bertoleransi pun seharusnya bisa dilakukan sedini mungkin di institusi-institusi pendidikan, baik formal maupun non formal. Pemerintah dan masyarakat pun harus bahu membahu menanamkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Lantas, bagaimana sebenarnya kedudukan toleransi itu sendiri dalam agama?

Semua agama menjunjung tinggi toleransi. Tak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk bertindak intoleransi yang bisa mengarah kepada paham radikalisme. Yang menjadi permasalahan adalah, terkadang, masih ada segelintir umat yang mengaku beragama, telah salah memahami makna dari toleransi yang diajarkan agamanya. Akhirnya, paham radikalisme dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat di berbagai belahan dunia.

Paham radikalisme, sebagai perwujudan gagalnya penganut agama memahami toleransi, tidak hanya tertuju kepada satu agama. Tak bisa dipungkiri, setiap agama memiliki potensi dimana penganutnya bisa saja salah dalam memahami ajaran agamanya. Yang pada akhirnya akan memabawa mereka pada paham radikalisme.

Jadi, radikalisme itu tidak identik pada satu agama. Radikalisme bukan hanya musuh satu agama atau golongan tertentu. Justru, paham radikalisme adalah musuh kita bersama, musuh semua umat beragama, musuh kemanusiaan umat manusia di seluruh belahan dunia. Dan, radikalisme hanya akan hilang, jika ada kebersamaan antar umat beragama untuk melawannya.

Agama dan Integrasi Dalam Kehidupan

Solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan intoleransi yang mengarah kepada paham radikalisme adalah dengan mengajak para penganut agama untuk memahami ajaran agama dengan baik. Selain itu, nilai-nilai agama juga seharusnya bisa benar-benar diintegrasikan di dalam kehidupan.

Jika saja, nilai-nilai toleransi yang diajarkan agama bisa benar-benar diintegrasikan dalam kehidupan, maka tidak akan ada lagi paham radikalisme yang tumbuh dan berkembang dalam beragama. Para penganut paham radikalisme pun tidak akan memiliki tempat untuk hidup di dunia kita.

Akhirnya, meskipun dunia diisi dengan beragam agama dan penganutnya yang berbeda-beda, namun dengan adanya integrasi agama dalam kehidupan, para penganut agama yang berbeda-beda itu akan memiliki tujuan kehidupan yang sama, nilai-nilai kebaikan yang sama, dan keyakinan yang sama berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Intinya ada pada cara seorang penganut agama -apapun agamanya- mampu memahami agamanya dengan baik dan benar. Setelah memahaminya, maka para penganut agama tersebut seharusnya bisa menghidupi agama tersebut, dan yang tak kalah pentingnya mereka juga akan berjuang mengintegrasikan agama dalam kehidupan.

Dalam artikel “Makna Agama dan Kehidupan” dikatakan, “Religiusitas umat manusia harus memiliki perwujudan konkritnya dalam kehidupan sehari-hari manusia. Kebenaran agama akan kosong dan menjadi candu ketika agama hanya sebatas doktrin yang berada di luar kehidupan keseharian.”

Ya, beragama memang memerlukan perwujudan konkrit dalam kehidupan. Beragama tidak cukup hanya dilakukan dengan mengunci diri, menutup pintu rumah untuk beribadah kepada Tuhan. Beragama perlu berintegrasi dengan kehidupan. Prinsipnya, dalam beragama perlu ada aksi nyata dalam kehidupan. Jika tidak, beragama akan terasa hampa, bahkan bisa menjadi candu, seperti halnya yang dikatakan filusuf Karl Marx dengan Marxismenya.

Sebuah Refleksi

Ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi dalam bukunya “Islam Rahmatan Lilalamin” merangkum semua ini dari sudut pandang agama Islam yang dipeluknya. Beliau berkata, “Hanya ada dua jalan untuk lepas dari beban tanggung jawab pada Hari Kiamat: hidup bersama Islam secara sempurna atau berjuang mengembalikan Islam ke dalam kehidupan.”

Artinya, agama harus dihidupi dengan sempurna dengan keimanan dan keyakinan yang hakiki, bukan hanya sebagai identitas belaka. Lalu, agama harus diperjuangkan untuk diintegrasikan ke dalam kehidupan. Integrasi agama dalam kehidupan inilah yang bisa kita interpretasikan dalam berdakwah ataupun melayani agama (khidmah). Alhasil, agama dan toleransi memang akan selalu menjadi perbincangan hangat selama masih ada paham intoleransi, paham radikalisme di dalam kehidupan.

Agama yang diintegrasikan dan diwujudkan secara konkrit dalam kehidupan akan menjadi solusinya. Jika ini terjadi, maka dunia akan terbebas dari konflik dan polarisasi, dan kita semua akan bisa hidup dalam suasana yang diliputi dengan kedamaian. Semoga.

Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

fahrul-azmi-625307-unsplash

KESALEHAN DAN KEPEKAAN DALAM BERAGAMA

Kesalehan dan Kepekaan dalam Beragama
(Artikel asli berjudul “Dindarlik ve Dini Hassasiyet”dari buku Kırık Testi 12: Yenilenme Cehdi)

Pertanyaan: Apa makna yang terkandung dalam  istilah kesalehan dan kepekaan dalam beragama?

Jawab: Kesalehan secara teoritis bermakna mengayomi prinsip-prinsip agama dengan menerima dan menjunjungnya tinggi-tinggi. Sedangkan secara praktik, kesalehan memiliki beragam derajat dan tingkatan, mulai dari belajar untuk hidup religius hingga menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, beberapa orang meyakini aspek-aspek penting beragama dalam tingkat informasi pada level bunga rampai tanya jawab seputar agama dan ia pun mempraktikkan ketaatan dan peribadatannya sesuai pengetahuannya tersebut. Beberapa yang lain menggunakan pendekatan yang lebih luas, baik secara teoritis maupun secara praktik. Dengan pendekatannya tersebut, mereka mengikuti semua yang diperintahkan serta menjauhi semua yang dilarang oleh agama. Selain menjauhi apa saja yang diharamkan dan menunaikan segala hal yang diwajibkan, mereka juga bersikap peka terhadap segala hal yang meragukan karena khawatir akan terjatuh ke jalan yang haram.

Dengan demikian, mereka senantiasa berusaha untuk menjalankan kehidupannya dengan penuh ketakwaan. Sedangkan mereka yang hidup dengan kesadaran lebih tinggi dalam beragama akan menunaikan ketaatan dan peribadatannya seakan-akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang menginspeksinya. Mereka hidup dalam ihsan[1]. Dari segi ini, terdapat banyak derajat dan tingkatan kesalehan, mulai dari level serendah tanah hingga level setinggi bintang gemintang. Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwasanya derajat kesalehan terendah sekalipun tidak dapat diremehkan karena bagi manusia ia memiliki nilai yang sangat vital.

Kepekaan dalam beragama dimulai dari menjalankan kehidupan pribadi yang kemudian dilanjutkan dengan keluarga inti, hingga lingkaran keluarga terluarnya agar dapat hidup kongruen atau sesuai dengan prinsip-prinsip agama,  serta menunjukkan kepekaan luar biasa pada kehidupan beragama orang-orang yang membentuk suatu masyarakat di sekitarnya; menjadi sensitif dan perasa; serta menunjukkan kehalusan, ketelitian, dan kecermatan dalam beragama.

Kepekaan dalam beragama oleh seorang kekasih Allah dijelaskan lewat sebuah syair:

            “Seandainya penduduk dunia mencintai Kekasihku!

                Seandainya kata-kata kita selalu menceritakan Sang Terkasih…!”

            (Taşlıcalı Yahya)

            Lewat syairnya tersebut ia menyuarakan keinginan agar seluruh dunia turut mencintai Tuhan yang dicintainyasepanjang umur kehidupan.

 

“Seandainya Aku Bisa Menyalakan ApiKecintaan Kepada Allah Di Setiap Kalbu”

Perasaan dan pikiran kaum mukmin yang memiliki kepekaan beragama terhadap orang lain di sekitarnya kira-kira adalah seperti ini: “Andai aku bisa mengenalkan Allah kepada saudaraku ini!Andai aku bisa menyalakan api cinta kepada Allah di dalam hatinya! Andai aku bisa membangkitkan keinginan untuk senantiasa bersama Allah (ma’iyyatullah) kepadanya!  Andai saat menengadahkan kedua tangannya mereka dapat dekat dengan Allah untuk kemudian bermunajat kepadaNya:”

اَللّٰهُمَّ عَفْوَكَ وَعَافِيَتَكَ وَرِضَاكَ وَتَوَجُّهَكَ وَنَفَحَاتِكَ وَأُنْسَكَ وَقُرْبَكَ وَمَحَبَّـتَـكَ وَمَعِيَّـتَكَ وَحِفْظَكَ وَحِرْزَكَ وَكِلَائَـتَكَ وَنُصْرَتَكَ وَوِقَايَتَكَ وَحِمَايَتَكَ وَعِنَايَتَكَ

Yang artinya: “Ya Allah! Aku memohon ampunanMu yang agung, sehat dan afiat dariMu, keridaanMu, tawajuhMu, wewangianMu, kekaribanMu, kedekatanMu, mahabahMu, kebersamaanMu, perlindunganMu, penjagaanMu, kemenangan berkat pertolonganMu, pemeliharaan serta inayatMu!”

            Seorang mukmin yang memiliki kepekaan seperti ini, sesuai dengan derajat keimanannya barangkali tidak hanya peduli terhadap orang-orang di sekitarnya saja. Mereka juga akan memikirkan bagaimana caranya agar semua lapisan masyarakat dalam satu negara, bahkan mungkin seluruh umat manusia di dunia, mampu memiliki kepekaan beragama yang sama. Tujuan dan cita-cita mereka adalah  mewujudkan masyarakat yang jatuh cinta dan tergila-gila kepada Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga ketika nama agung Sayyidul Anam diperdengarkan, tulang hidung mereka akan menggelenyar karena besarnya rasa cinta kepadanya. Di sisi lain, ketika melihat orang-orang yang tergelincir berjatuhan dari jalan kebenaran, mereka akan jatuh tersimpuh. Dalam simpuhnya mereka akan bergumam: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjauhkan umat manusia dari perbuatan aib dan memalukan, apa lagi yang kiranya harus ku lakukan?”  Sambil bergumam demikian, mereka juga dengan penuh semangat akan berusaha menciptakan solusi dan strategi untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan tersebut. Pada akhirnya, ia akan hidup dengan kepekaan dan sensitivitas yang tinggi dalam rangka menginspirasi masyarakat, mencegah mereka agar tidak terpeleset dan terjatuh, serta untuk mengantisipasi menjauhnya masyarakat dari nilai-nilai agama.

 

Kepekaan untuk Membangkitkan Masyarakat

Seseorang yang mengambil jalan lurus ini, tidak akan merasa cukup jika nama agung Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallamhanya terdengar di menara-menara masjid di negaranya saja. Mereka menganggap hadits: “Namaku akan tersebar di tempat di mana matahari terbit dan tenggelam.”[2]  sebagai tujuan yang harus mereka capai. Hadits ini akan menjadi ufuk dimana mereka mengikat kehidupan mereka  dan mengantarkannya hingga bisa sampai pada tujuan ini. Dia sebagai sosok yang berlari untuk mencapai ufuk ini tidak akan pernah sekalipun sibuk dengan kesusahan pribadi mereka. Dia tidak akan rendah diri dengan berkata: “Orang seperti aku memangnya bisa berbuat apa?” Dia akan selalu bergerak dengan keyakinan, “Betapa banyak orang kecil yang Allah anugerahkan kesuksesan untuk menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar.” Merekapun bergerak dengan penuh semangat dan keteguhan hati. Dia memiliki keyakinan mendalam, “Jika di suatu tempat terdapat dada yang penuh dengan iman, maka dada tersebut akan menemukan jalan untuk menyampaikan ilham dalam jiwanya ke dalam kalbu orang-orang di sekitarnya.” Ya, perlu diketahui bahwasanya jika semua usaha seseorang diperuntukkan untuk kepentingan bangsanya, Allah akan menganugerahkan kepada orang tersebut kesuksesan untuk menuntaskan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh suatu negara.[3]   Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kesuksesan tersebut kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Sang Kebanggaan Kemanusiaan Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah juga dapat menjadikan orang tersebut memiliki kemampuan dan kelayakan untuk mengemban misi agung ini.

Demikianlah, semua ini lebih dari sekedar bagaimana menjadi pribadi saleh, melainkan penjelasan tentang bagaimana menjadi sosok yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menjalani kehidupan beragamanya. Kalau seandainya ingin disampaikan dengan istilah lain, mungkin Anda bisa menyebutnya sebagai membangkitkan masyarakat dan kepekaan untuk menghidupkan orang lain. Dari segi ini maka dapat dikatakan bahwasanya kesalehan dan kepekaan dalam beragama merupakan istilah yang berbeda satu sama lain.

Akan tetapi, tetap terdapat sisi-sisi yang berdampingan di antara keduanya. Batas terakhir dari kesalehan di antaranya adalah menjauhi hal-hal yang meragukan[4], dikarenakan lalai dalam menunaikan shalat pada waktunya lalu ia melihat dirinya sebagai penjahat yang seolah-olah baru saja melakukan pembunuhan, serta menunaikan pekerjaan-pekerjaan dengan sensitivitas yang sempurna. Di waktu yang sama, ketika berhasil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkan Allah, selain merasakan insyirah – kelapangan dada – sebagai bentuk tahdis nikmat – menyebutkan dan menceritakan nikmat dari Allah yang diberikan kepada kita sebagai bentuk syukur dan bukan untuk menyombongkan diri – dia juga membawa perasaan khawatir seperti: “Mudah-mudahan kesuksesan ini tidak bercampur dengan riya’. Semoga keberhasilan ini tidak terkotori oleh sum’ah” yang merupakan batas awal dari kepekaan beragama. Karena pada keluasan dan kedalaman inilah seorang mukmin yang memiliki kepekaan beragama akan merasakan perlunya menularkan kepekaan dan sensitivitas beragama kepada orang lain. Singkatnya, ia akan berkeinginan untuk menyampaikan nikmat yang dirasakannya agar dirasakan juga oleh orang lain.

 

Sebelumnya Kita Perlu Meratakan Keakuan Kita dengan Tanah

Orang-orang dengan cakrawala seperti ini senantiasa membuat lelah otaknya. Baik ketika duduk maupun saat berdiri, ia selalu memikirkan tujuannya. Otaknya pun merasakan siksaan akibat beban berpikir ini. Bahkan walaupun ia sedang – mohon maaf – berhajat, aktivitas berpikir dalam otaknya tersebut akan terus berlanjut, ia pun akan menghasilkan beragam gagasan baru. Dalam kesempatan pertama ia akan menyimpan gagasan-gagasan yang muncul dalam pemikirannya. Jika ia tidak menemukan kesempatan untuk menyimpannya, maka ia akan menyimpannya di antara neuron-neuron dalam kepalanya dengan maksud merealisasikannya kemudian. Jiwa-jiwa yang prihatin serta ruh-ruh yang menderita demikian eratnya meliputi mereka sampai-sampai kehilangan konsentrasi ketika shalat.

Walaupun tidak terdapat istilah yang tepat terkait terminologi ini, kami menghubungkan cita-cita agung tersebut dengan istilah ketergelinciran para muqarrabin. Misalnya, terkait beberapa sujud sahwi[5]  yang dilakukan Baginda Nabi dalam beberapa shalatnya, kita akan berpikir: “Siapa yang bisa tahu masalah agung seperti apa yang menggeliat di dalam benak sosok seperti Baginda Nabi, sosok yang terbuka dan dapat dilihat siapa saja, sehingga shalatpun di satu sisi nampak kecil di hadapan permasalahan tersebut.” Dan memang Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam pun menganggap mikraj sebagai hal yang kecil bila dibandingkan dengan tugas yang diembannya, sehingga setelah berhasil mencapai tempat yang tak mungkin dicapai tersebut beliau pun kembali untuk menunaikan tugasnya itu.[6]  Kata-kata dari Abdul Quddus seakan menjelaskan hakikat ini. Ia berkata: “Demi Allah, Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah berhasil mencapai yang tak mungkin dicapai, Beliaupun telah melihat apa yang tak mungkin dilihat. Demikian agungnya tempat yang telah dicapainya, orang biasa yang telah mencapainya tidak mungkin meninggalkannya. Demi Allah, seandainya aku yang mencapai tempat tersebut maka aku tidak akan kembali!” Salah satu kekasih Allah memberikan komentarnya terkait pernyataan ini: “Itulah perbedaan derajat kewalian dan kenabian!” Maksudnya, derajat kewalian akan terus menjulang lewat fana billah, baqa billah, dan ma’allah. Akan tetapi kenabian, setelah ia berhasil mencapai puncak tertinggi, mereka akan kembali ke tengah-tengah manusia demi bisa merengkuh tangan mereka dan mengangkatnya hingga mencapai puncak.

Kita dapat melihat hubungan ini juga pada sahwi yang dikerjakan oleh Sayyidina Umar. Seusai beliau menyelesaikan shalatnya, beliau menjawab para sahabat yang mengingatkannya jika ia menunaikan shalat dengan salah bahwa tadi ia sedang mengarahkan prajurit untuk I’layi kalimatullah ke Iraq[7].  Seperti yang dapat dilihat, tugas agung untuk ilayi kalimatullah telah menguasai setiap sendi kehidupan sosok agung ini, ia segera menyelinap masuk ke kepalanya saat terjadi kekosongan sejenak dalam shalatnya. Hal ini adalah penjelasan dari kepekaan luar biasa dalam mengayomi prinsip-prinsip agama. Seseorang yang demikian peka terhadap prinsip-prinsip agamanya, tidak mungkin akan tersingkir di hadapan hal-hal yang diharamkan ataupun cacat dalam menunaikan kewajiban.

Pendek kata, tidak mungkin dengan gairah yang lesu serta dengan pemikiran yang setengah-setengah seseorang akan menjadi pahlawan kebangkitan ataupun akan mampu menghidupkan kembali spiritualitas masyarakat untuk kembali menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah. Seandainya kita menginginkan terlahirnya prasasti jiwa yang akan mampu mempesona, ‘menyihir’ umat manusia, dan memberi mereka insyirah[8], sebelumnya kita harus mengambil kapak dan menghancurkan keakuan (egoisme) yang mengendap dalam diri kita. Dengan perintah dan larangan agama menjadi tanah dan batu batanya, kita harus mendirikan sebuah prasasti yang hanya mengharapkan rida Ilahi sebagai bayarannya, dan jangan sampai ia runtuh kembali. Untuk itu,  pemikiran “tunaikan saja shalat, berpuasalah, namun jangan ganggu urusan orang lain” tidak dapat dibenarkan, karena dengan pemikiran tersebut tidak mungkin tugas ilayi kalimatullah dapat ditunaikan.

[1]Ihsan, keadaan dimana seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

[2]HR Abu Dawud, Bab Fitnah, no.4252

[3] Badiuzzaman, Tarihce Hayat (Biografi Kehidupan Said Nursi), hlm. 95

[4]HR Tirmizi, Bab Kiamat; Ibnu Majah, bab zuhud

[5]Sahwi yang pertama, diriwayatkan dalam Bukhari Bab Salat dan Bab Azan; HR Muslim bab masjid. Sahwi kedua, diriwayatkan dalam Bukhari, Bab Sahwi; HR Nasai, bab Sahwi

[6]QS Isra 17:1; HR Bukhari, bad’ul halk 6 dan manaqibul ansar 42; HR Muslim, iman 264

[7]HR Bukhari, ama fis salat 18; ibnu Abi Suaybah, al Musannaf 2:186

[8]Kelapangan jiwa. (Penerj.)

david-monje-671441-unsplash

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Getaran Jiwa dan Akal Sehat

Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan salabatud diniyah dan bagaimana ia harusnya dipraktikkan?

Jawab: Tidaklah tepat jika kosakata salabatud diniyah dimaknai sebagai fanatik buta, keras kepada yang berbeda pendapat dengannya, serta merasa dirinya paling benar dengan menyalahkan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat yang diyakininya. Kita menggunakan kosakata kefanatikan lebih kepada keras kepala, berpikiran tertutup, membela pendapat pribadinya dengan membabi buta, tanpa adanya dalil dan sumber yang mendasarinya. Kata kefanatikan juga dapat dimaknai sebagai tidak toleran dan menghargai, serta menolak pendapat lain tanpa ampun. Dari penjelasan ini, maka istilah salabatud diniyah tidak bermakna fanatik buta dan berpikiran tertutup, melainkan bermakna memegang erat prinsip agama dengan teguh dan konsisten. Perihal tersebut digambarkan surat ِAl Baqarah sebagai berikut :

لَٓا اِكْرَاهَ فِي الدّ۪ينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ لَا انْفِصَامَ لَهَاۜ وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS  Al Baqarah 2: 256)

Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu alayhi wasallam lewat hadis mulianya menyampaikan amanatnya kepada kita,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّوَاجِذِ

Artinya: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.”[1]

“Gigitlah dengan geraham” yang terdapat dalam hadis tersebut adalah sebuah gaya bahasa atau idiom yang digunakan dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu, ketika berusaha untuk memahaminya, ia harus dipahami sebagai orang Arab memahaminya.

Idiom “Gigitlah dengan geraham” dapat dipahami sebagai: “Pegang eratlah prinsip–prinsip agamamu, seperti kamu memegang erat sesuatu dengan alat catut”.Jadi, dari teks hadis tersebut dapat dipahami bahwasanya yang dimaksud dengan salabatud diniyyah adalah: memegang teguh perintah–perintah agama, loyal dan setia kepadanya; konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur seperti iman, akhlak, dan kehormatan diri; serta menjaga diri dari kelalaian dan keteledoran. Sedangkan berpikiran tertutup serta fanatisme buta dalam beragama, memaksa orang lain untuk menerima pendapat dan keyakinannya, sebagaimana kami sampaikan di awal, ia  bukanlah salabatud diniyah, melainkan fanatik buta belaka.

Jangan Jadi Sebab Seseorang Membenci Agamamu ketika Dirimu Berusaha Mengabdi kepada Agama

Jika seseorang  merasa bahwa memaksakan pendapat, bersikeras dengan pandangan pribadinya, dan berlaku kasar kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya adalah bagian dari salabatud diniyyah;  dan jika dengan pemahaman tersebut ia berpikir bahwa ia telah berkhidmat kepada agamanya, sungguh ia sedang berada dalam kekhilafan yang nyata. Laku tersebut dapat memancing reaksi  negatif. Bukannya simpati dan diterima dengan hangat, lakunya tersebut justru akan membuat lawan bicaranya benci dan semakin menjauhkan diri dari agama.  Oleh sebab itu, jika Anda tidak menjelaskan kedalaman ruh serta esensi pokok dalam agama; Jika Anda tidak menyampaikan makna dan intisari serta kebaikan dan keindahan seperti apa yang bisa umat manusia capai dengan agama; Jika Anda tidak mampu membangkitkan rasa ketertarikan pada agama dalam hati mereka; maka Anda akan mendapati respon yang mungkin tidak Anda bayangkan sebelumya. Ketika Anda bermaksud mengabdi kepada agama, tanpa disadari, Anda sedang membuat orang–orang di sekitar Anda menjauhi agama. Ya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan pikiran tertutup dan pemaksaan kehendak lebih besar kerugiannya daripada keuntungannya.

Ya, semua orang tahu bagaimana hasil akhir dari pelaksanaan beragam “isme” yang berusaha dikukuhkan lewat kekuatan dan kekuasaan di abad ke-20. Seperti Anda ketahui, ada satu negara di mana 40-50 juta orang dibunuh demi dipraktikkannya “isme” ini. Seakan sistem tersebut dibangun di atas tengkorak – tengkorak rakyatnya. Apa yang disisakan dari kezaliman, penindasan, dan kekerasan tersebut hanyalah kebencian dan dendam. Ya, walaupun sistem tersebut berusaha ditegakkan lewat kekerasan, kebengisan, dan penindasan, 50-60 tahun kemudian sistem tersebut akhirnya runtuh. Setelah sistem runtuh, orang – orang yang ditekan itu kemudian kembali ke keyakinan lamanya.  

Kriteria Hakiki Loyalitas kepada Agama

Jika demikian, seorang mukmin pemilik salabatud diniyah tidak boleh melakukan kesalahan semisal hanya menggunakan perasaannya saja, tanpa diimbangi pertimbangan lain seperti akal dan logika, lalu menyampaikan pesannya dengan teriakan–teriakan.  Metode seperti ini hanya akan memicu kebencian dari lawan bicara serta menambah resistensinya kepada agama. Kebencian dan resistensinya tersebut perlahan menumpuk di dalam dirinya, bahkan bisa berubah menjadi permusuhan dan agresi. Agar jalan bagi reaksi-reaksi negatif serta komplikasinya tidak terbuka, maka kita harus mengambil asas gerakan positif, memegang teguh nilai-nilai suci agama kita, berkonsentrasi padanya, memposisikan diri sebagai petugas pengundang agar lawan bicaranya berkenan melirik nilai–nilai mulia agamanya, dan di waktu yang sama, ia harus berupaya untuk menampilkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang paling indah dengan bahasa sikap dan kalbu. Pada masa dimana ilmu pengetahuan, mantik, dan logika berada di garda terdepan serta pada zaman dimana penaklukan peradaban diwujudkan dengan jalan persuasif, seorang manusia yang religius serta memiliki salabatud diniyyah harus mengetahui dengan baik nilai–nilai suci dalam agamanya. Ia harus mempelajarinya dengan baik serta mempraktikkan dalam kehidupan sehari–hari sampai nilai–nilai tersebut menjadi sifat tabiatnya. Jika usaha ini mengharuskan seseorang untuk membaca seratus judul buku, maka seseorang yang ingin berkhidmat kepada agamanya harus mendedikasikan 2–3 tahun dari umur kehidupannya untuk mempelajari serta memahami isi dari buku–buku tersebut. Jika diperlukan, buat ringkasannya, lakukan analisis atasnya, dan praktikkan hasil temuan Anda dari buku–buku tersebut. Selain itu, jangan lupa dimensi maknawiyahnya. Dengan keteguhan serta konsistensi tinggi, dirikanlah salat tahajud dan hajat selama empat puluh tahun. Panjatkanlah doa dalam sujud–sujudnya: “Ya Allah, hanya kepada-Mulah aku berserah diri! Kumohon lembutkanlah hati orang-orang ini untuk beriman!”

Jika untuk mempelajari nilai–nilai suci dan meresapinya sebagai sifat tabiat membutuhkan usaha yang demikian keras, maka sesuai dengan kriteria itulah Anda harus membaca dan mendedikasikan diri. Di waktu yang sama, gentingnya persoalan ini tidak hanya membutuhkan usaha perseorangan. Jadi ia tidak cukup disiapkan dengan usaha membaca perseorangan saja. Anda harus mengundang teman–teman Anda untuk bermusyawarah dan berdiskusi dengannya terkait persoalan ini, serta mengevaluasinya bersama–sama. Anda akan terjun ke lapangan dakwah berbekal motivasi dan kekuatan maknawi yang dihasilkan lewat diskusi bersama dan proses tukar pikiran tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Anda juga harus memelihara hubungan Anda dengan Sang Pencipta serta senantiasa berusaha menjadi hamba-Nya yang baik demi diraihnya inayat Ilahi. Dengannya, Allah Subhanahu wa ta’ala  akan mendukung usaha–usaha yang tulus serta akan memberi pengaruh pada tutur kata Anda, sehingga setiap kata yang keluar akan meniupkan semangat kebangkitan serta membangunkan motivasi diri di hati para pendengarnya. Seperti yang dapat dilihat, persoalan yang ada tidak diselesaikan dengan emosi–perasaan– belaka. Ia harus diselesaikan dengan mantik logika serta pemikiran yang mendalam. Bukankah ini jalannya Nabi Muhammad SAW? Beliau dalam kurun waktu 23 tahun menyajikan  pesan-pesannya dalam bentuk yang dapat diterima oleh lawan bicaranya. Beliau senantiasa bergerak dengan akal dan logika dari Al Quran. Beliau menyampaikan wahyu Ilahi ke setiap hati pendengarnya tanpa perlu membangkitkan reaksi negatif dari orang–orang yang menerima pesannya.

Khususnya di zaman ini, tanpa mengikuti kaidah mantik dan logika, tanpa kerangka dari kitabullah, kita tidak bisa menjelaskan sesuatu ataupun menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan menggunakan kekerasan, kekuasaan, dan perilaku kasar. Ya, jika Anda bertekad untuk melakukan pengabdian kepada agama dan bangsa walau ia harus mengorbankan kehidupan Anda, maka Anda harus dilengkapi dengan pemikiran dan spiritualitas yang luhur. Anda harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah  Subhanahu wa ta’ala, keprihatinan, dan kepedulian yang tinggi atas segala permasalahan umat. Perkara representasi Islam yang semakin langka di permukaan bumi telah menjadikannya sebagai masalah bagi seluruh umat Islam. Hal yang demikian tentunya tidak bisa ditangani secara individu. Seringkali laku individu berujung pada kesalahan fatal yang aibnya harus ditanggung oleh seluruh umat Islam di seantero dunia. Misalnya, seseorang menduga bom bunuh diri adalah jalan untuk membela Islam. Sayangnya apa yang diperbuatnya itu telah mencoreng wajah Islam. Hal tersebut membuat masyarakat Islam di berbagai penjuru dunia pun akhirnya kesulitan untuk menjelaskan keagungan dan keluhuran agama Islam yang sebenarnya. Apa yang mereka lakukan telah membuat masyarakat dunia berpersepsi negatif kepada kaum muslimin lainnya: “Pelaku bom bunuh diri itu mengaku sebagai muslim. Gaya pakaiannya pun menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.” Agama yang merupakan representasi dari kebenaran, keadilan, dan rahmat pun mendapatkan stigma negatif dari masyarakat dunia. Kesalahan yang akibatnya harus ditanggung oleh semua umat muslim ini bersumber dari tidak dipahaminya semangat agama, tidak dianalisisnya definisi dari siratalmustakim, ditinggalkannya mantik dan logika Al Quran serta didahulukannya emosi dan perasaan. 

Dinamisme Emosi Jiwa yang Diperbaiki dengan Akal dan Logika

Dari apa yang saya katakan ini, janganlah dipahami bahwasanya saya sedang mendorong Anda untuk meminggirkan emosi dan perasaan. Perasaan tentu saja merupakan sebuah faktor yang sangat penting untuk menjelaskan dan membela agama Islam. Seorang manusia, harus sangat bersemangat ketika menjelaskan nilai–nilai yang diyakininya kepada orang lain. Jika terdapat musibah yang akan menimpa agamanya, ia harus gemetar seakan dirinya yang akan menemui ajal. Namun di waktu yang sama, ia harus senantiasa menjaga keseimbangan motivasinya dengan akal dan logika. Ia juga harus mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan motivasinya tersebut dengan benar.

Izinkan saya menjelaskannya dengan sebuah contoh: Bayangkan terdapat sebuah pemukiman di tepi puncak gunung yang tinggi. Di musim dingin, salju lebat menutupi puncak gunung tersebut. Saat musim semi datang, salju yang mencair menciptakan potensi banjir dahsyat yang dapat menyapu bersih seluruh pemukiman. Secara logika, hal yang harus dikerjakan dengan segera adalah membuat bendungan. Bendungan tersebut nantinya menampung salju yang mencair. Setelah itu, saluran irigasi juga harus dibangun untuk mengalirkan air di bendungan ke wilayah–wilayah yang membutuhkannya. Seperti halnya masyarakat di pemukiman tersebut yang sangat bergairah membangun bendungan demi menyelamatkan pemukimannya dari banjir, seorang mukmin juga harus memiliki gairah yang sama untuk menyelamatkan agamanya. Jika ada sesuatu yang mengancam agamanya, ia harus diselimuti rasa khawatir yang amat sangat. Rasa kantuknya akan segera hilang. Ia akan segera bangkit dari ranjangnya dan jalan mondar–mandir di koridor seperti orang gila. Ia tidak akan melakukan laku sia–sia seperti berteriak tanpa gerak. Demikianlah, ia akan berusaha melakukan hal yang harusnya dilakukan, yakni solusi logis dan masuk akal, untuk mengatasi masalah tersebut. Ia akan mengubah gairahnya yang membara menjadi aksi dan gerakan positif. Akan tetapi, saat melakukannya ia sama sekali tidak diperbolehkan melakukan gerak secara individu, hanya berdasar pada perasaan belaka, serta tanpa pemikiran yang matang.

Meskipun emosi dan semangat merupakan rasa yang layak dipuji, ia tetap harus diletakkan di bawah kendali akal dan logika sehingga manfaatnya dapat dimaksimalkan. Segala peristiwa yang menimpa dunia Islam dewasa ini atau bahkan segala peristiwa yang menimpa kemanusiaan dewasa ini seharusnya sudah cukup membuat kita gemetar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki serta membuat kita sangat bergairah untuk segera memberikan kontribusi. Akan tetapi, jika seseorang bergerak hanya sebatas karena faktor emosional belaka, maka orang–orang di sekitarnya akan terancam terkena dampak turbulensi dari gerakannya. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya justru bisa jadi antipati dan membencinya. Lebih buruk lagi, gerakannya tersebut dapat memancing orang–orang di sekitar untuk memusuhi bahkan menyerangnya. Ya, jika perasaan dan emosi jiwa tidak diselaraskan dengan pertimbangan akal dan logika; jika ia tidak disalurkan melalui kanal yang telah dievaluasi keamanannya oleh akal dan logika; perasaan dan emosi tersebut akan berubah banjir bandang yang siap menyapu bersih apa yang dilewatinya. Bukannya memberi manfaat, ia justru akan mendatangkan mara bahaya yang teramat besar bagi lingkungan sekitarnya.

Dari sini, tidaklah mungkin bagi kita untuk melupakan respon hebat yang ditunjukkan oleh Ustaz Said Nursi. Seperti yang Anda ketahui, beliau adalah sosok manusia yang penuh semangat dan bermotivasi tinggi. Bisa dikatakan pada masa itu sudah tidak tersisa lagi orang dengan semangat dan motivasi yang setara frekuensinya dengan beliau. Di waktu yang sama, juga tidak ada orang yang mampu bergerak seseimbang dirinya. Ya, walaupun seluruh umur kehidupannya dipersembahkan untuk kemajuan bangsanya sehingga harusnya ia layak untuk dimuliakan dan diapresiasi perjuangannya, ia malah menghabiskan sisa umur kehidupannya di penjara, tepatnya saat umur beliau di kisaran 75–80an tahun. Walau perlakuan seperti ini yang diterimanya, beliau tidak pernah bertindak gegabah dan emosional. Sosok agung ini selain tahu kapan harus mengerem dirinya, beliau juga mengetahui bagaimana cara mengerem orang–orang di sekitarnya. Padahal di sekitarnya berjajar sosok–sosok pemberani nan gagah berani yang siap membela dan melindunginya. Ustaz Said Nursi mengetahui dengan baik bahwasanya bergerak secara perseorangan dan reaktif tidak akan menuai hasil yang baik. Sebaliknya, beliau mengarahkan potensi emosi dan semangat ini dengan mantik dan logika Al Quran serta menstimulasinya ke berbagai saluran. Semua perkembangan dan kemajuan pada hari ini di bidang ilmu pengetahuan dan agama tak mungkin dilepaskan dari strategi–strategi yang dikembangkannya di masa itu.

Pada akhirnya dapat kita katakan bahwasanya emosi jiwa dan semangat merupakan dinamika yang sangat penting untuk menyampaikan pesan–pesan agama ke setiap relung jiwa serta melindungi nyalanya agar tak padam. Akan tetapi, dinamika tersebut harus dimodifikasi dengan ilmu pengetahuan, akal salim, mantik, pemikiran yang mendalam, musyawarah untuk mencapai mufakat, serta keputusan kolektif. Lewat modifikasi ia diubah menjadi bentuk yang paling efektif dan efisien sehingga bisa memberikan manfaat maksimal.

[1] Tirmizi Kitab Ilm 16, Abu Dawud Kitab sunnah 5, Ibnu Majah Kitab Mukaddimah 6