mengembangkandiri-tahun-baru-niat-baru

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Karya Pembaca: Mahir Martin

Niat Dalam Beragama dan Berorganisasi

Dalam agama, niat merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami. Ketika seseorang melakukan ibadah, maka ibadah harus diawali dengan niat. Meskipun ada perbedaan bagaimana cara mengucapkan atau melafalkan niat, tetapi tak ada yang menafikan pentingnya kedudukan niat dalam ibadah.

Terkait niat ini, Rasulullah SAW pernah bersabda,

”Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan).

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Niat, tidak hanya penting dalam amalan beragama. Dalam berorganisasi niat juga memiliki peran yang sangat penting. Mungkin sebagian kita tidak menyadarinya. Hal ini disebabkan karena biasanya kita terlalu fokus pada hal-hal yang bersifat formal. Dan niat bukan suatu hal yang formal untuk dilakukan.

Sebagai contoh, dalam berorganisasi, formalnya ada tiga fase penting yang perlu dilewati. Ada fase perencanaan (planning), fase aksi (action), dan fase evaluasi (evaluation). Berbagai macam teori, metode, dan model tentang ketiga hal tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita bisa mempelajarinya baik melalui buku, internet, maupun sumber-sumber lainnya.

Lantas, apa korelasi niat dengan rencana, aksi, dan evaluasi?

Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan perkataan ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang dikutip dari bukunya yang berjudul Islam Rahmatan Lil Alamin.

Beliau berkata, “Segala sesuatu bermula dalam bentuk gambaran di dalam benak, yang kemudian berkembang menjadi rencana, kemudian beralih kepada upaya untuk mewujudkannya dengan tekad dan kesungguhan.”

Artinya, sebuah rencana harus didahului oleh bentuk gambaran yang ada di dalam benak. Bentuk gambaran dalam benak inilah yang diartikan dengan niat. Tanpa adanya niat, tak ada satu pekerjaan pun yang bisa dimulai dan diselesaikan dengan baik. Sejujurnya, dapat dikatakan bahwa niat itulah sumber kekuatan yang tersimpan yang akan membuat sesuatu bisa terjadi.

Jarang sekali para ahli ilmu manajemen organisasi yang menjelaskan dan membahas tentang niat ini. Padahal, kunci berjalannya perencanaan, aksi, dan evaluasi terletak pada motivasi dan semangat pada individu-individu yang memiliki tekad, dan kesungguhan untuk menjalankannya. Dengan kata lain individu-individu yang memiliki niat yang kuat.

Yang sering terjadi, sistem berorganisasi yang telah dirancang sempurna dengan fase perencanaan, aksi, dan evaluasi yang dipersiapkan dengan begitu matang, ternyata dalam pelaksanaanya terdapat banyak kendala disebabkan karena tidak adanya motivasi dan semangat dari individu dalam menjalankan organisasi.

Inilah apa yang dimaksud dengan niat adalah sumber kekuatan dari segala sesuatu untuk terwujud. Tanpa adanya niat, segala sesuatu tak akan berjalan dengan lancar dan sempurna.

Sejatinya, niatlah yang akan menimbulkan motivasi dan semangat yang tak akan pernah luntur pada diri seseorang dalam berorganisasi.

Niat dan Proses Dalam Berorganisasi

Di sisi lain, selain niat itu penting sebelum perencanaan, adanya niat yang kuat juga penting agar individu dalam organisasi memahami dan mencermati proses dalam berorganisasi.

Lantas, bagaimana niat seseorang bisa mempengaruhi seluruh proses dalam organisasi?

Dengan niat yang kuat dalam benaknya, seseorang akan memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan hakiki dirinya melakukan kegiatan dalam berorganisasi. Sejatinya, proses perencanaan, aksi, dan evaluasi hanyalah dijadikan wasilah baginya untuk menggapai niat dan maksud yang paling tinggi.

Niat dan maksud yang tidak bisa dibandingkan dengan niat dan maksud yang bersifat duiniawi.

Dengan pemahaman seperti ini, maka tak akan ada rasa kecewa, takut, dan khawatir ketika menjalankan kegiatan dalam berorganisasi tersebut.

Intinya, niat yang kuat menyebabkan individu-individu yang ada di dalam organisasi mampu menyandarkan segalanya kepada Zat yang menjadi niat dan maksud yang paling tinggi dalam kehidupan.

Oleh karenanya, dalam sebuah organisasi, sebelum memulai sebuah proses, bukan perencanaan yang harus didahulukan, tetapi terlebih dahulu perlu dilakukan penanaman niat, kehendak, kemauan, tekad, dan kesungguhan bagi individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut.

Setelah semua individu dalam organisasi memiliki kekuatan niat yang sama, barulah proses perencanaan dibuat. Perencanaan yang didasari niat yang kuat akan mempermudah berjalannya proses aksi. Pada akhirnya, proses evaluasi yang dilakukan pun akan berjalan dengan baik. Inilah gambaran nyata bagaimana proses dalam berorganisasi dipengaruhi oleh niat yang kuat.

Sebuah Refleksi

Niat, ibarat dinamo sentral dalam sebuah organisasi. Niat ini yang akan menentukan arah sebuah organisasi untuk bergerak. Niat ini yang akan terus menjaga kobaran motivasi dan semangat yang ada di dalam proses berorganisasi.

Ya, dengan niat, yang kecil dapat bernilai besar. Sebaliknya yang besar bisa tak bernilai apa-apa, apabila salah niatnya. Niat juga yang sangat menentukan baik tidaknya sesuatu. Jika sudah ada niatan baik, walaupun jalan yang harus ditempuh terkadang berkelok, namun hasilnya pasti akan membawa kebaikan.

Jika niat itu bersih, yang diharapkan pasti akan terealisasi.

Yang perlu kita ingat bersama adalah bahwasanya hanya mengandalkan niat saja tidaklah cukup.

Seperti halnya perkataan Imam Al-Ghazali, niat harus diikuti dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu dan amal, niat yang baik pun bisa menjadi bagaikan harapan hampa yang tidak akan menghasilkan apa-apa dalam realitanya, melainkan hanya pahala niat melakukan kebaikan.

Oleh karenanya, yang terbaik untuk dilakukan adalah mengamalkan setiap niat baik yang ada di dalam benak kita. Mengamalkannya dengan cara yang benar, dan dengan ilmu yang dipelajari dengan benar.

Alhasil, membahas tentang niat dalam beragama dan berorganisasi dapat membuat kita memahami bahwa betapa pentingnya memahami ilmu agama.

Ilmu agama terlalu sempurna jika dibandingkan dengan ilmu duniawi. Banyak hal penting dan krusial yang terkadang tidak bisa diakomodir oleh ilmu duniawi. Perlu ada sentuhan nilai agama di dalamnya.

Seperti halnya, rencana, aksi, dan evaluasi yang perlu didahului dengan niat yang baik, yaitu niat yang diajarkan oleh ilmu agama.

Oleh karenanya, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh sekali-kali meninggalkan agama. Agama harus selalu menjadi titik pusat dalam mempertimbangkan proses dalam setiap kegiatan yang akan kita lakukan.

jeremy-bishop-iftBhUFfecE-unsplash

BERAKSI DAN BERGERAK DENGAN DINAMIKA-DINAMIKA DASAR

Tanya: Dalam berhizmet kepada agama, apakah rahasia untuk bisa selalu menjadi manusia aksi dan penuh semangat yang cocok dengan kebutuhan dan kondisi dewasa ini? Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?

Pentingnya Menyandarkan Segala Daya Kepada Pemiliknya, yaitu Allah SWT

Aksi adalah kata yang diserap dari bahasa Perancis. Berikutnya, kita bisa menggunakan istilah gerakan untuk menggantikannya. Di dalam hizmet-hizmet yang dibuat demi agama kita, ketika kita menyebut aksi ataupun gerakan, kita dapat memikirkan makna-makna seperti: tidak melihat cukup apa yang sudah ada; menggenggam usaha di posisi tertinggi; tidak pernah berhenti, jenuh, dan bosan dalam usaha mengubah dunia menjadi koridor surga, ataupun mengantarkan pekerjaan ini hingga tercapai tujuan akhirnya.  Sedangkan akhir dari pekerjaan ini adalah – sesuatu  sehingga jawaban rahasia dari pertanyaan di atas adalah – untuk  menangkap titik ufuk yang dijelaskan oleh ayat:

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ 

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”[1]

Jadi, maksudnya adalah mengantarkan penghambaan dengan semua ketulusan dan keaktifan sehingga ia menjadi kokoh sampai ajal datang nanti. Ya, mengantarkan penghambaan hingga ajal datang adalah gerakan dan aksi yang sebenarnya. Baik secara individu maupun secara kelompok masyarakat, jika seorang hamba memikirkan tugas dan kewajiban yang diharapkan dari dirinya dengan sepenuh jiwa dan hatinya serta berjuang untuk menunaikannya, maka sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, ia telah memahami dan hidup dengan gerakan dan aksi yang sejati. Sebaliknya, jika permasalahannya hanya diambil dari satu dimensi tunggal belaka dan dengan pengabdian-pengabdian materi yang mereka kerjakan sejak awal, walaupun nantinya mereka berhasil membawa Turki menjadi negara paling makmur di dunia serta, sebagaimana disampaikan dalam beberapa karya tulis, andai pedang-pedang digantung di atas menara Masjid Blue Mosque, pekerjaan itu akan tergelincir. Sedangkan sisanya akan mundur dengan teratur. Bahkan andai dalam satu gerakan mereka menyelamatkan dunia lalu mereka yakin dan percaya pada kapasitas perbuatannya, dapat dengan mudah saya sampaikan bahwa segala yang mereka kerjakan tersebut tidak akan dianggap sedikitpun di sisi Sang Haq.

Di bagian kedua pertanyaan dikatakan “Apa saja solusi untuk bisa senantiasa menghidupkannya?” Pertama-tama, untuk bisa melanjutkan semangat dan ruh tersebut berhubungan dengan faktor-faktor berikut ini:

1. Amaliyatul Fikriyah :

 Ya, tampaknya kekurangan terbesar kita adalah jauhnya dan lalainya kita dari tafakur dan tadqiq[2]. Selebihnya disebabkan oleh jauhnya kita dari muraqabah (autokontrol) kehidupan hati dan kubur.

2. Rabitatul Maut :

Yaitu senantiasa memikirkan kematian, bersatu dengannya; mempersiapkan diri untuk memenuhi janji pertemuan dengan Malaikat Izrail. Untuk itu, rumah sakit harus dijenguk…, berempati dan menyatu dengan para pasien pengidap berbagai penyakit. Harus mengingat kembali bahwasanya dunia ini fana dan senantiasa mengalami dekadensi dengan menziarahi kuburan serta memikirkan kondisi di liang lahat di mana di sana kita tinggal tulang belulang mengering belaka. Di sisi lain, mengingat pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” kita harus berjuang meninggalkan karya dan jasa, dengannya kita berusaha memenuhi umur kehidupan kita. Perhatikanlah kehidupan Sang Kebanggaan Alam Semesta! Di akhri kehidupannya, di waktu perjumpaan dengan Sang Rafiq al Ala semakin dekat pun beliau menyiapkan pasukan untuk melawan Bizantium.[3] Beliau juga mengangkat putra dari syuhada Mu’tah[4], yang dicintainya seperti cintanya kepada cucu-cucu kandungnya, yaitu Sayyidina Usamah bin Zaid[5] r.a. sebagai komandan pasukan. Di waktu-waktu akhir saat sakitnya semakin parah, beliau pingsan, sadar, pingsan lagi, dan setiap sadar beliau selalu bertanya apakah pasukan sudah berangkat atau belum. Saya mohon izin, apakah hal tersebut lazim dipikirkan dan dikalutkan oleh orang-orang yang sedang menghadapi sakaratul maut? Tetapi tidak bagi para pegiat dakwah. Dibutuhkan pekerja magang yang layak untuk disandingkan dengan Sultan seperti Beliau! Dan dari negeri ini muncul satu jenius yang amat cemerlang: Murad Hudavendigar[6]. Beliau membatasi hidupnya dengan jalan meletakkan ganjal di perut sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi. Sebelum menyerahkan ruhnya kepada Tuhannya di medan perang, orang-orang terdekatnya, yaitu Gazi Mihal[7] dan Gazi Evranos[8] bertanya: “Sultan, apa ada permintaan terakhir Anda?” Jawaban Sang Sultan adalah jawaban yang nanti  ditulis oleh tinta emas dalam lembaran sejarah manusia:”Attan inmeye inmeyesüz, kılıcınızı kınına koymayasuz! ~ Kita tidak boleh turun dari punggung kuda, kita tidak boleh sarungkan pedang!”. Beliau tidak berwasiat untuk memakamkan jasadnya di Bursa ataupun supaya penerusnya membalaskan dendamnya. Sebaliknya, dengan apa yang disampaikannya tersebut beliau sedang menghembuskan semangat aksi di jalan dakwah dimana beliau jatuh syahid. Salah satu jalan untuk bisa meraih titik ufuk tersebut adalah dengan menghadapi kematian dengan senyuman serta menerima kematian sebagai hari raya dan pesta resepsi purna tugas kita di muka bumi.

3. Tidak tertinggal dari profit yang didapat dari hasil kerja kolektif.

Barangkali sebagian dari kita telah runtuh kehidupan kalbuya. Kita harus memperbaikinya dengan jalan hadir di dalam atmosfer yang penuh berkah, yaitu tempat di mana orang-orang baik berkumpul. Terkadang di dalam atmosfer negatif dimana kita terdapat di dalamnya, mata kita, telinga kita, tangan hingga kaki kita sendiri tidak cukup bagi kita. Di waktu itulah genggaman tangan, tatapan mata, serta perhatian dari telinga para sahabat dapat mewujudkan apa yang kita butuhkan serta membantu kita meraih keadaan di atas kekuatan dan kemampuan kita.

4. Untuk bisa selalu berada dalam skema hizmet kepada bangsa yang hidup dan aktif, secara mutlak kita harus ambil bagian dalam tugas dengan penuh semangat tanggungjawab

            Ya, sejumlah orang yang berniat untuk melakukan hizmet kepada bangsanya berkumpul dalam frekuensi sering; mereka sibuk menelaah dan membahas hasil kerja serta program lanjutannya, seminggu penuh mereka bangun dan tidur dengan kesibukan tersebut; tanpa membiarkan waktu berlalu percuma mereka hembuskan nafas-nafas hizmet. Ketika mereka berlaku demikian, maka Allah SWT pun memberkahi gairah dan semangatnya, atau dengan kata lain memberkati gerakan dan aksinya. Barangkali ini adalah ungkapan hakikat dari hadis qudsi:”…Jika ia datang kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari...”[9]

            Kesimpulan; ketika penindasan disungkurkan ke tanah; para ksatria yang menyumbangkan bahunya untuk memikul pekerjaan yang amat indah ini pertama-tama melalui tafakur akan menyadari betapa berharganya nilai-nilai yang mereka miliki… dengan rabitatul maut, mereka akan melampaui fana dan dekadensi dunia… bahkan mereka akan menunjukkan jalan untuk menjadi eksis di tengah-tengah kefanaan dan dekadensi dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka akan menunjukkan kepada orang lain jalan untuk menjadi eksis di dalam kumpulan rekan-rekan yang membersamainya bahu-membahu di jalan hizmet kepada bangsa. Bersama mereka melewati setiap kesulitan, cobaan, ujian, juga kebahagiaan di setiap tempat dan waktu. Dengan jalan ini angka satu akan mencapai seribu. Para pahlawan futuwah yang menjadi representasi dari loyalitas akan berlari menuju hizmet-hizmet berikutnya dengan penuhsemangat dan gairah seolah berangkat menuju pertemuan dengan tokoh-tokoh besar nan jadi panutan di dunia pembimbing dan penunjuk jalan keselamatan. Betapa banyak pahlawan yang akan menampilkan gerakan di atas gerakan untuk mewujudkan kabar gembira yang telah dikirimkan ke alam dunia berabad-abad yang lalu.

            Ya Allah, angkatlah generasi kami dengan anugerah, kemurahan, serta inayatMu! Berkat Kemahakuatan serta KeperkasaanMu, dukunglah kami di jalan dan perjuangan besar yang mana ia tak mampu kami lalui dengan kekuatan dan kemampuan kami! Jadikanlah kami dan generasi kami sebagai bagian yang melanjutkan tugas besar ini! Ya Allah, selama agama ini eksis di muka bumi, bahagiakanlah mereka baik yang ada di atas maupun di dalam permukaan bumi!

 

Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Temel Dinamikleri Ile Aksiyon”, yang terdapat di buku Prizma 1, hlm. 24


[1]Surat al Hijr 15:99

[2] Pemeriksaan secara seksama dan detil

[3] Bukhârî, mağâzî 87; Müslim, fazailü’s-sahâba 63.

[4] Bukhârî, mağâzî 44; Müslim, janâiz 30

[5] Bukhârî, adab 22, Ahmad Ibn Hanbal, al-Musnad 5/205.

[6] Murat Hudavendigar adalah Sultan Murad I. Hudavendigar berasar dari bahasa Persia yang bermakna “Yang Taat Kepada Tuhannya”. Tetapi dalam konteks ini bermakna Khalifahnya Allah. Adalah sultan ke-3 Usmani setelah Osman Gazi dan Orhan Gazi. Beliau syahid setelah berhasil menakhlukkan Kosovo

[7] Abdullah Mihal Gazi adalah sahabat seperjuangan Sultan Murad. Beliau adalah komandan bizantium pertama yang memilih Islam dan bergabung dengan pasukan Usmani. Bernama asli Mikhael Kosses, setelah bersyahadat beliau menerima nama yang diusulkan oleh Sultan Muran, yaitu Abdullah. Beliau kemudian dikenal dengan nama Abdullah Mihal Gazi

[8] Komandan Perang di masa Sultan Murad I, Bayezid I, Suleyman Celebi, dan Mehmed I

[9] عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”(HR Bukhari no 6970 dan Muslim no. 2675)

alvaro-reyes-507651-unsplash

HARMONISASI PEMIKIRAN DAN AKSI

Harmonisasi Pemikiran dan Aksi

(Diterjemahkan dari artikel yang berjudul ‘Düşünce-Aksiyon İçİçeliği’, Dari buku Kırık Testi 11: Yaşatma Ideali)

Tanya: Rencana kegiatan yang baik disebut sebagai salah satu disiplin yang mempengaruhi kesuksesan sebuah program. Di sisi lain, dikatakan bahwasanya sebuah aksi berawal dari keberadaan pemikiran.  Bagaimana kita harus memahami dan mempraktikkan kedua hal tersebut?

Jawab: Setiap individu yang berkeinginan untuk memberikan manfaat duniawi dan ukhrawi pada umat manusia, agar manfaat yang diberikan bisa berumur panjang, maka semua kegiatan dan pekerjaan yang akan diimplementasikan harus didasarkan pada rencana program yang baik dan  memiliki tolok ukur yang jelas. Bagi orang beriman sudah jelas, tolak ukur mereka adalah adilla-i arbaah[1], yaitu Al Quran, sunnah, ijma umat, serta qiyas fukaha. Selain itu, juga terdapat adilla-i ta’liyah atau adilla-i zamaniyah yang terdiri dari maslahat, istihsan, dan urf. Keputusan yang didasarkan padanya disebut ijtihad dan istinbat[2]. Akan tetapi, perlu diketahui bahwasanya ijtihad dan istinbat hanya dapat dihasilkan dari evaluasi secara mendalam atas poin-poin kriteria yang terdapat dalam sumber-sumber rujukan. Para mujtahid kiram yang mulia tidaklah menetapkan hukum dari kepala mereka sendiri, tidak“min indi anfusihim”[3]. Istilahnya dalam kaidah ushul fikih[4], para mujtahid dengan bersandar kepada maqisun alaih[5]lalu melakukan qiyas atau ijtihad atasnya. Harus kita katakan bahwa  sosok-sosok agung tersebut telah menyelesaikan pekerjaan besar yang amat sulit dengan penuh ketelitian dan kepekaan.

Rencana Ringkas

Kita kembali pada topik awal. Ya, di awal kita harus membuat rencana yang mengikuti tolak ukur tertentu. Akan tetapi, al fakir[6] selalu melihat rencana tersebut sebagai sebuah rencana ringkas. Sebagaimana manusia ketika pertama kali beriman, awalnya ia masuk ke wilayah iman dengan pengetahuan yang ringkas. Maksudnya, di awal dengan pengetahuan yang ringkas: “Allah itu hak keberadaannya. Dialah Sang Khaliq A’zham[7] dan Khaliq Aalam[8]” lalu seseorang menerima iman. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kematangan, serta pengetahuan, seseorang akan mampu menjelaskan iman dengan berbagai argumentasinya; dengannya ia akan menemukan kedalaman dalam beriman.

            Baik, lalu apa sebenarnya rencana ringkas yang Anda maksud? Dalam diri seorang mukmin, terdapat nilai-nilai dasar yang diyakini dan dipahaminya. Seorang mukmin berkeinginan agar nilai-nilai dan keindahan-keindahan iman yang diyakininya diketahui orang lain. Ia seakan senantiasa bersyair: ‘Seandainya masyarakat dunia mencintai apa yang kucintai / Seandainya semua kata dan kalimat hanya membahas kekasihku..!’(Taslicali Yahya). Syair tersebut menunjukkan ringkasan pemikiran dan keinginan seorang mukmin untuk mengenalkan nilai dan keindahan dari apa yang diimaninya kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kalbu yang berada di muka bumi. Akan tetapi, setiap wilayah geografi memiliki kriteria, lingkungan budaya, serta adat istiadat yang unik. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut lalu bagaimana caranya agar kita berhasil merangkul masyarakatnya akan bergantung pada pemikiran yang detail serta rencana dan program yang mendetail. Inilah yang kami maksud dengan ‘pemikiran yang mendahului aksi’. Maksudnya, informasi ringkas yang dimiliki harus dikonversi menjadi pelaksanaan dari apa yang sudah direncanakan dan diprogramkan, yaitu menjadi gerakan dan aksi nyata. Walhasil, melakukan bimbingan dan pendampingan atas rencana dan pemikiran yang detail ada di posisi awal sebelum akhirnya gerakan dan aksi nyata dilakukan.

Mereka adalah Para Pewaris Rasullallah

Mari kita buka pembahasan ini lebih detail lagi. Katakanlah Anda pada hari ini meyakini sepenuh hati sistem nilai dari langit yang dihadiahkan kepada umat manusia ini. Anda benar-benar merasakannya meresap secara mendalam. Sebagai hasil dari iman yang meresap semakin dalam pada diri Anda, bagaikan orang yang cinta buta, Anda berkeinginan untuk memperdengarkannya kepada seluruh dunia. Dalam melakukannya, propaganda, misioner, memaksakan agama Anda untuk diyakini orang lain, dan tidak memiliki bagian dalam tujuan Anda. Namun, saat Anda tidak mampu mewakili agama yang Anda yakini dalam setiap sikap dan tingkah laku Anda, maka Anda tidak akan mampu menuai hasil kecuali menipu diri. Oleh karena itu, dikatakan: “Tinggalkan semua penjelasan-penjelasan Anda. Cukup penjelasan tersebut diwakili oleh tingkah laku Anda. Biarkan kesempurnaan serta kematangan yang terpancar dari sikap dan tingkah laku Anda mempengaruhi nurani lawan bicara Anda. Jadikan mereka yang melihat dan memperhatikan Anda, lewat perilaku, gerak-gerik, cara pandang serta cara berbicara Anda, kemudian mengingat Allah, dan selalu menyebut namaNya”; sehingga penilaian seperti:”Apa yang disampaikan orang ini bukan omong kosong. Setiap langkah mereka tidak ada yang sia-sia”  akan terfermentasi  di setiap hati orang-orang yang menyaksikan Anda. Mereka yang berdiri di atas kaidah-kaidah kokoh dan diamanahkan kepada sandaran yang tangguh, walaupun terjadi gempa sebesar 10 skala Richter sekalipun, mereka tidak akan ambruk karenanya. Teknik kata-kata sesempurna dan sepenuh sastra sekalipun tanpa didalami oleh representasi dari kata-kata yang disampaikannya akan luluh lantak diguncang gempa walau hanya berkekuatan 3 skala Richter. Oleh karena itu, dapat dikatakan jika kata tidaklah terlalu penting. Kata, selama menjadi ungkapan dari sifat dan tingkah laku pengucapnya, maka ia memiliki nilai yang mulia. Ketika ia telah menjadi tabiat dari seseorang, atau saat seseorang telah mampu menjadi representasi dari kedalaman tabiat dan budi pekerti yang luhur, maka ia akan membangkitkan rasa penasaran lawan bicaranya, ia pun akan mampu mempengaruhi orang di sekitarnya. Misalnya, Anda tidak membiarkan hal haram walau sebesar biji wijen terusap di atas tangan Anda. Meskipun Anda berada dalam keadaan amat terdesak sekalipun, Anda tetap berpegang teguh pada prinsip Anda. Anda lakukan sekali, dua kali, tiga kali, hingga akhirnya keadaan Anda tersebut mendapat perhatian dari orang lain. Bukankah ketika Bediuzzaman Said Nursi sedang menyebrangi selat Golder Horn di Istanbul bersama Sayyid Taha dan Haji Ilyas, beliau senantiasa menundukkan dan menahan pandangannya. Ketika Sayyid Taha dan Haji Ilyas menyampaikan ketakjubannya, Bediuzzaman menanggapinya dengan jawaban:”Aku tidak menginginkan penderitaan dan penyesalan akibat kelezatan sementara yang tidak terlalu penting namun diliputi dosa”[9].

            Menampilkan budi pekerti yang demikian sepanjang umur kehidupan amatlah penting. Ya, setelah 40 tahun mereka mengamati gerak-gerik Anda, mereka akan memberikan kesaksian:’Luar biasa! Orang-orang ini benar-benar layak menjadi pewaris Nabi! Mereka memiliki sifat-sifat Baginda Nabi seperti ismah[10], sidik, amanah, tablig, dan fatanah. Oleh karena tidak ada Nabi setelah Baginda Nabi Muhammad SAW, maka mereka pastilah pewarisnya!’

Apalagi di masa di mana wajah cemerlang Islam berusaha diburamkan, maka Anda harus mengerahkan segala daya dan upaya untuk mampu menjadi representasi sejati dari nilai-nilai agama yang Anda sandang demi memperbaiki kesalahpahaman orang awam terhadap agama kita. Misalnya, Anda harus menjelaskan bahwasanya perbuatan seperti bom bunuh diri, mengumumkan perang sembari menyembelih kepala sandera, melontarkan satu dua roket ke sasaran yang terdiri dari orang-orang tak bersalah padahal ia idak memiliki kekuatan yang mumpuni,  tidaklah sesuai dengan identitas seorang muslim. Islam tidak meninggalkan tempat kosong dalam setiap bidang kehidupan. Islam telah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana berjuang melawan kezaliman dan ketidakadilan lewat jalan yang legal dan benar. Misalnya, dalam Perjuangan Kemerdekaan Turki (Istiklal Mucadele), pemerintah membentuk suatu komisi dan mereka memutuskan untuk mengumumkan perang. Setiap individu pun sebagai anggota masyarakat mentaati dan memenuhi panggilan untuk berjuang ini. Semua warga negara dari segala penjuru bangkit memenuhi panggilan ini. Mereka pun berjuang dengan legal.

            Demikianlah. Anda harus memiliki rencana menyeluruh untuk menunjukkan kepada dunia betapa cemerlangnya wajah Islam yang dikotori oleh pihak-pihak tertentu ini. Ketika kita mengatakan menyeluruh, maka yang dimaksud darinya adalah lewat usaha kita dalam merepresentasikan Islam dengan sebaik-baiknya, kita berkewajiban untuk membuat masyarakat nantinya berkata:’Ternyata muslim-muslim yang hakiki masih tersisa!’. Tentu jika kita mengharapkan pujian ini ditujukan kepada kita, maka itu adalah perbuatan riya. Namun jika pujian itu memiliki tujuan yang ditujukan kepada kemuslimannya, maka ia adalah kewajiban. Ya, menampilkan identitas kemusliman asli  dan hakiki ke seluruh penjuru dunia merupakan hutang budi kita kepada Manusia Kebanggaan Alam shallallahu alayhi wasallam serta para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu anhuma. Wajah Islam yang berkabut, tertutup asap hitam, dan berkarat harus dihapus. Singkatnya, kita harus menampilkan kemuslimanan sejati  yang cemerlang dan gemilang. Itulah hakikat dari kewajiban yang digantungkan di leher kita sebagai seorang muslim.

            Misalnya lewat aktivitas membuka sekolah dan pusat kebudayaan di berbagai tempat di seluruh dunia, sambil membangun jembatan dan sarana untuk mendidik siswa-siswa, serta mengirimkan siswa-siswa untuk mengunjungi keluarga para wali murid secara silang; atau misalnya lagi dengan memanfaatkan momen spesial seperti membuat bubur asyura, borek, kunefe di hari asyura dan membagikannya ke tetangga-tetangga kita, dengan menjelaskan bahwa ini semua adalah bagian dari budaya orang Turki kita berusaha menutup lubang antara kita dengan lawan bicara kita yang muncul  akibat terjadinya salah pengertian. Lewat aktivitas tersebut kita akan mampu mendekatkan jarak serta membangun jembatan antara kita dengan lawan bicara yang mungkin berasal dari budaya dan agama yang berbeda.  Dengan jalan tersebut, yaitu dengan membangun jembatan yang menyambungkan daratan yang dipisahkan oleh sungai-sungai; dengan membangun terowongan yang menembus gunung-gunung; sekali lagi kita bersiaga untuk merengkuh kalbu umat manusia serta memperkenalkan mereka kepada Penciptanya, Allah Subhanahu wa ta’ala, lewat jalan yang lebih fitri sembari menyingkirkan hal-hal yang menghalangi kalbu untuk mengenalNya.

Gagasan Alternatif serta Berbagai Proyek Kemanusiaan

Ya, orang-orang di daerah dimana Anda pergi ke sana, disadari atau tidak, akan mengamati setiap gerak-gerik serta detak jantung Anda. Misalnya, beberapa orang yang berniat buruk datang ke negara-negara tempat Anda mengabdi untuk kemudian menemui masyarakat di negara itu dan mulai menjelek-jelekkan Anda. Saat itu, masyarakat negara tersebut akan menjawab:’Kami mengamati orang-orang ini selama sepuluh tahun. Kami tidak menemukan sedikitpun dari apa yang kalian sampaikan terdapat pada diri mereka. Kami tidak menemukan aritmea[11] pada diri mereka. Detak jantung meraka selalu sama.’ Sebagaimana disaksikan bersama lewat respon tersebut, mereka seakan sedang melindungi Anda. Seandainya di beberapa tempat terdapat kebuntuan, sebabnya adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan jati diri kita, atau ketidaksempurnaan kita dalam menggambarkan jati diri kita. Di sini kita perlu memperhatikan satu hal: Setiap saat kita harus memiliki rencana dan program alternatif yang dapat membalik hasil negatif yang tadinya tidak kita perkirakan menjadi hasil yang positif.

             Ya, mengevaluasi kembali kondisi terkini pada saat faktor-faktor penentu berubah untuk kemudian membuat rencana dan proyek alternatif berdasarkan faktor-faktor penentu terkini itu kita sebut sebagai perencanaan menyeluruh. Di waktu yang sama, ia juga dapat disebut sebagai pemikiran yang berdasarkan pada aksi. Ya, di satu sisi rencana menyeluruh, di sisi lain Anda harus memiliki informasi utama yang mana gerakan dan kegiatan Anda dibangun atasnya. Di sisi lain,  Anda juga harus meninggalkan ujung yang terbuka pada perubahan zaman. Anda juga harus memiliki rencana dan proyek alternatif yang nantinya dipraktikkan sesuai perubahan kondisi dan faktor terkini. Dengan mempertimbangkan ragam kebudayaan, bahasa, agama, pemahaman, serta respon masyarakat atas setiap peristiwa, setelah Anda mengenal masyarakatnya, sembari beraksi Anda harus dapat mengatakan:”di sini program A bisa dibuat, di sana lebih cocok untuk membuat program B.” Anda harus dapat merancang berbagai program alternatif sesuai kondisi negara atau wilayah Anda dimana Anda mengabdi, dan atas izin serta inayah dari Allah, Anda harus mampu mengembangkan sistem berpikir baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat di sana.

            Kesimpulannya, orang yang biasanya berpikir sederhana dan dangkal akan berpikir sangat luas dan dalam. Meminjam istilah Ziya Gokalp ketika mengekspresikan kebodohan, mereka yang di awal berpikir dangkal dan sederhana, saat menuju akhir, mereka mulai berpikir lebih menyeluruh – Anda bisa menambahkan dengan istilah lain juga – dan akhirnya setelah ini mereka akan berpikir lebih matang lagi. Maksudnya, saat berpikir dan menganalisis suatu masalah, kalian akan memiliki keluasan ufuk dengan mempertimbangkan berbagai alternatif sembari berkata:”seperti ini juga bisa, dibuat seperti itu juga bagus, tapi seperti yang lain pun juga bisa.” Semua ini adalah faktor-faktor yang perlu ditelaah terkait pembahasan rencana dan proyek menyeluruh.

[1] Adilla-i arba’ah adalah dalil-dalil yang djadikan rujukan dalam ilmu fikih. (Penerj.)

[2] Istinbat adalah pengungkapanmakna tersembunyi dari sebuah permasalahan yang dilakukan oleh mujtahid atau alim besar melalui tatqiq sumber-sumber yang ada secara mendalam. (Penerj.)

[3] Dari pendapatmereka sendiri. (Penerj.)

[4] Metodologi fikih. (Penerj.)

[5] Sesuatu yang asli, yang atasnya dilakukan qiyas. (Penerj.)

[6] Maksudnya al fakir di sini adalah penulis, yaitu M. Fethullah Gulen. (Penerj.)

[7] Pencipta Yang Maha Besar. (Penerj.)

[8] Pencipta Alam Semesta. (Penerj.)

[9] Biografi Bediuzzaman Said Nursi, Bab Kehidupan Emirdag

[10] Terjaga dari dosa

[11]Cardiac arrhythmia, istilah yang digunakan untuk merujuk pada perubahan sekuens normal dari detak jantung manusia, dapat dipahami juga sebagai ritme detak jantung yang tidak normal. Dalam tulisan ini mungkin ditujukan pada detak jantung tidak normal orang-orang yang berbohong atau berpura-pura yang bisa tertangkap oleh lie detector.