mengembangkandiri.com hand-of-child-holding-a-small-pink-gift-box-2021-08-26-17-04-34-utc

Adil dalam Memberi Hadiah

Memberikan hadiah kepada anak harus  sesuai dengan ukuran dan tingkat usia mereka. Memberi hadiah yang terlalu berlebihan menyebabkan anak memiliki harapan yang terlalu tinggi sehingga melahirkan rasa ketidakpuasan di masa depan, janganlah memberi hadiah terlalu sering kepada anak, tetapi berilah hadiah pada waktu yang tepat dan dengan ukuran yang sesuai, sehingga hadiah yang diberikan sangat berarti bagi anak.

Dalam memberikan hadiah haruslah berlaku adil, jangan sampai ada orang tua yang memberikan hadiah hanya kepada salah satu anaknya saja tanpa memberi kepada anaknya yang lain. Demikian pula dengan memberikan hadiah berlebihan kepada salah satu anak saja sedangkan anak yang lain tidak diperlakukan sama. sebagaimana  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak anak kalian.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, shahih li ghairihi). dari hadis ini dapat kita pahami bahwa, kita sebagai orang tua harus berlaku adil dalam memperlakukan anak-anak kita dalam hal apapun.

kalau kita lihat berdasarkan pengertian, Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut kamus bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya.

ada banyak pengertian dari kata adil yang sudah di kemukakan oleh para ulama, namun dalam hal ini  adil yang dimaksud adalah at-tawazun yang artinya keseimbangan. Seimbang di sini tidak selalu sama antara dua pihak  secara kuantitatif, tapi lebih kepada proporsional dan profesional. keadilan disini identik dengan pengertian kesesuaian, yakni kesesuaian antara ukuran, kadar dan waktu.

Baik, mari kita kembali kepada topik pembahasan kita yaitu tentang hadiah. jadi sebagai orang tua berilah hadiah kepada anak karena mereka layak menerimanya dan juga yang perlu kita ingat adalah jangan selalu memberi hadiah dalam bentuk materi saja kepada anak, karena hal ini yang dapat membuat anak menjadi ketergantungan dan hanya berfokus pada hadiah saja tidak kepada nilainya. Sebagaimana di video sebelumnya kita sudah membahas tentang apa yang perlu dipertimbangkan dalam memberi hadiah kepada anak.

Dan yang tidak kalah penting adalah Selalu berikan anak hadiah sesuai dengan yang anda janji , berikan tepat pada  waktunya. agar kita sebagai orang menjadi contoh bagi anak dalam kedisiplinan.

TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMBERI HADIAH KEPADA ANAK

Semua anak pasti suka diberikan hadiah oleh orangtuanya, hanya sekadar coklat, permen, makanan yang disukainya, mainan, barang yang sedang diinginkannya, dan lain sebagainya.

Memberikan hadiah kepada anak tentu dengan tujuan baik, agar anak termotivasi semangat dalam belajar, agar anak taat dan mematuhi perintah orang tua, agar anak berubah menjadi lebih baik, dan lain sebagainya.

Dalam pendidikan islam memberi hadiah atau saling memberi hadiah adalah sunnah. Memberi hadiah kepada anak karena keberhasilan yang dicapainya adalah sangat penting sekali. Namun, hadiah yang diberikan tidak boleh berlebih-lebihan dan jangan menjadikan anak hanya berfokus kepada hadiah saja.

Untuk itu, kita harus berhati-hati dalam memberikan hadiah kepada anak. ketika memberikan hadiah kepada anak tentunya orang tua harus memperhatikan unsur pendidikan yang ada pada hadiah tersebut namun tidak boleh juga melupakan unsur permainan pada hadiah tersebut. hadiah yang bisa diberikan kepada anak seperti buku, mainan yang edukatif, peralatan sekolah, atau jalan-jalan ke objek wisata tempat bersejarah dan lain-lain

Dengan memberikan buku maka anak bertambah pengetahuannya. Rasa ingin tahunya yang besar akan mendorongnya untuk membaca lembar demi lembar buku yang dihadiahkan kepadanya. Dengan permainan yang edukatif ini dapat meningkatkan kecerdasan anak. Dengan memberikan hadiah dalam bentuk peralatan sekolah anak-anak akan semakin semangat dalam belajar. Agar dapat memperluas wawasan dan pengalaman anak secara langsung.

mengembangkandiri.com the-child-is-happy-with-a-birthday-gift-2021-09-02-06-07-26-utc

Maksud sebuah Hadiah yang Jelas

SEBAB HADIAH YANG DIBERIKAN HARUS DINYATAKAN DENGAN JELAS

Memberikan hadiah kepada anak adalah suatu hal yang baik dan sangat bermanfaat sekali, bermanfaat bagi anak itu sendiri dan juga bermanfaat  bagi kita sebagai orang tua, misalnya: dengan memberi hadiah kepada anak dapat membantu kita sebagai orangtua dalam memotivasi mereka untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan ia untuk mencapainya atau untuk melakukan sesuatu kebaikan yang berguna bagi masa depannya kelak dikemudian hari.

Memberikan hadiah kepada anak tidak selalu harus dalam jumlah yang besar, namun memberikan hadiah kepada anak haruslah sesuai dengan kebutuhan mereka, sesuai dengan usia mereka dan pada waktu yang tepat, seperti yang sudah kita bahas pada video sebelumnya

Perlu kita  ketahui bahwa hadiah tak hanya sekedar benda atau materi yang kita berikan kepada anak, tapi lebih dari itu. Hadiah yang kita berikan merupakan suatu bentuk penghargaan kepada anak atas prestasi dan pencapaian yang sudah berhasil mereka raih. Untuk itu, saat memberikan hadiah kepada anak, kita perlu memberitahu mereka tentang apa yang sudah mereka raih dan  sebab kenapa mereka kita beri hadiah tersebut. Dengan begitu, anak memahami bahwa ia telah melakukan hal yang baik dan yang kita sukai. Maka demikian hadiah yang kita berikan kepada anak menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi mereka dan bahkan menjadi sumber motivasi bagi mereka untuk terus bersemangat menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. tidak hanya itu saja dengan memberi hadiah juga dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak.

Dalam menjelaskan sebab kenapa kita memberikan hadiah kepada anak kita bisa sampaikan kepada mereka dengan kata-kata yang lembut, agar dapat dimengerti dan dipahami oleh anak dengan baik , misalnya dengan berkata “hadiah ini ayah/ibu berikan karena kami ingin kamu bahagia dan menjadi lebih baik lagi” atau hadiah ini ayah/ibu berikan karena “usaha yang kamu lakukan sangat berharga bagi kami, jadi karena itulah kami memberikan hadiah ini kepadamu”. Dengan penjelasan seperti ini anak akan mengerti kenapa hadiah itu diberikan dan juga dapat menyebabkan hadiah yang diberikan menjadi sangat berarti bagi anak.

mengembangkandiri.com parent-and-child-in-carpentry-2021-08-26-15-47-52-utc

Mendidik dengan Cinta dan Kasih

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HARUS DIBERIKAN DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG

Islam adalah agama kasih sayang, agama yang mengajarkan kedamaian, menebarkan kasih sayang, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sudah barang tentu Islam sangat menolak kekerasan dalam bentuk apapun.

Islam diajarkan untuk menunjukkan sikap kasih sayang

surat Al-Anbiya ayat 107

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Ayat di atas menjelaskan Allah mengutus Nabi Muhammad tidak lain agar menyampaikan kasih kepada ciptaan Allah. “Itu kasih sayang menjadi visi utama agama Islam juga misi agama-agama sebelum Islam,”

surat Ali Imran ayat 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.   Ayat di atas menjelaskan berkat kasih sayang Allah kepada Rasulullah, dia bersikap lemah lembut. Jika bersikap keras atau kasar, maka niscaya orang-orang akan menjauhi dan tidak suka. Kalau pun masih begitu, maafkanlah dan mintalah ampun untuk mereka.

Dalam Islam, sosok guru (agama) sangat strategis, di samping mengemban misi keilmuan agar peserta didik menguasai ilmu-ilmu agama, guru agama juga mengemban tugas suci, yaitu misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT.

dapat kita pahami bahwa guru adalah pengemban tugas mulia, terutama guru agama islam. Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik peserta didiknya  untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa dan beradab.

oleh karena itu, ruh dari guru agama islam adalah cinta dan kasih-sayang, karena pada dasarnya cinta dan kasih-sayang adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang guru.

sebagaimana Imam Ghazali menyebutkan bahwa salah satu syarat menjadi guru adalah kasih sayang dan lemah lembut

Pendidikan agama islam harus diberikan dengan cinta dan kasih sayang. Sebab,  Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Sehingga,  guru agama islam  harus mampu menunjukkan dan mengekspresikan rasa sayang dan cintanya kepada peserta didik, mengajar agama islam bukan hanya berhubungan dengan pengetahuan saja, namun juga sangat berkaitan erat dengan keimanan, jika kita berbicara tentang iman maka hal ini berhubungan langsung dengan hati Karena tempat iman adalah di hati, bukan di otak. oleh karena itu pendidikan agama islam ini harus diberikan dengan cinta dan kasih-sayang karena hati tidak menerima hal-hal yang tidak disukainya,  jika mengajar agama islam tanpa cinta dan kasih sayang maka hati akan menolaknya sehingga apa yang diajarkan tidak akan bisa tertanam dan terwujudkan dalam perilaku peserta didik.

pexels-timur-weber-9127599

Kebutuhan Rohani Anak

KITA HARUS MENYADARI KEBUTUHAN JIWA ANAK

Situasi belajar sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Situasi seperti tempat dan suasana sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar.

Kondisi ruangan yang bersih, nyaman, sirkulasi udara yang baik, kapasitas ruangan yang memadai, penerangan, dan kondisi tenang sangat dibutuhkan dan akan membangkitkan minat belajar peserta didik dan juga meningkatkan semangat belajar. Sikap guru, semangat di kelas, sikap keluarga dan masyarakat juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Selain guru, dalam belajar setiap peserta didik dipengaruhi oleh banyak faktor, hal itu dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar peserta didik yaitu dari orang tua, dari guru dan dari masyarakat. Faktor intern dibagi menjadi tiga yakni faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Di dalam faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Dan faktor-faktor inilah yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik agar dapat mengendalikan dan mengatur pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif, terarah dan optimal. Guru yang baik adalah guru yang dapat mengerti dan memahami permasalahan atau kendala dari seorang peserta didik dan persoalan psikologi peserta didik. Guru yang dapat memahami persoalan peserta didiknya adalah guru yang tidak memaksakan keinginannya kepada peserta didik, yang mendengarkan keluhan dan problematika belajar dari peserta didik, dan juga tidak memaksakan tugas yang melampaui kemampuan peserta didik.

Agar dapat mendidik jiwa anak sejak usia dini, pendidikan jiwa anak harus dilakukan sama seperti halnya menjaga dan merawat fisiknya. Pendidikan agama yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat anak tidak boleh diabaikan, segala sesuatu yang diperlukan untuk pendidikannya harus dipersiapkan sebelumnya.

Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah saja.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (13: 11) disebutkan, “Bapak dan ibu serta seorang wali dari anak hendaknya sudah mengajarkan sejak dini hal-hal yang diperlukan anak ketika ia baligh nanti. Hendaklah anak sudah diajarkan akidah yang benar mengenai keimanan kepada Allah, Malaikat, AL-Qur’an, Rasul dan Hari Akhir. Begitu pula hendaknya anak diajarkan ibadah yang benar. Anak mestinya diarahkan untuk mengerti shalat, puasa, thoharoh (bersuci) dan semacamnya.”

Semoga Allah menganugerahi kepada anak-anak kita sebagai penyejuk mata bagi orang tua. Mudah-mudahan kita diberi taufik untuk mendidik mereka menjadi generasi yang lebih baik

mengembangkandiri.com kid-with-toy-2021-08-27-00-02-45-utc

Jumlah Anak Ideal

JUMLAH ANAK YANG IDEAL UNTUK SUATU KELUARGA

Jika tujuan suatu keluarga memiliki anak adalah untuk melanjutkan keturunannya, maka hal yang terpenting adalah kualitas. Banyak atau sedikitnya anak bagi seorang muslim, selain mempertimbangkan kualitas ia juga harus selalu menghubungkan segala sesuatunya kepada Allah SWT.” Dengan kata lain, dianjurkan untuk memiliki anak dalam jumlah yang sekiranya sebagai orang tua mampu untuk memberikan tingkat pendidikan yang ideal untuk mereka.

-Prof. Dr. Ibrahim Canan-

Aqidah yang benar bagi keluarga ideal merupakan pondasi yang amat penting untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia dan penuh dengan keberkahan. Kebahagiaan yang hakiki dan ketenangan hidup hanya akan terasa bagi orang-orang yang memiliki pondasi agama yang kuat dan keimanan yang tinggi. Jadi, keluarga bahagia yang penuh berkah tentu menerapkan kehidupan sesuai dengan ajaran dan kokoh dalam memegang akidah Islam.

Menjalani aktifitas kehidupan tidak akan pernah terlepas dari segala masalah dan ujian. Keluarga bahagia pasti akan terus berupaya untuk melakukan usaha dan doa yang jauh lebih baik dengan lebih giat lagi dalam beribadah. Dalam hidupnya akan terus berorientasi pada peningkatan kualitas ibadah.

Keluarga yang taat pada agama tentu memiliki semangat juang yang tinggi dalam melakukan amalan shalih. Orangtua yang selalu semangat dalam mengajarkan ilmu agama pada anak-anaknya, semangat menerapkan pola hidup Islami seperti membiasakan membaca al-qur’an setelah sholat lima waktu, rutin sholat malam, semangat untuk mendatangi masjid, semangat dalam mengikuti kajian Islam serta semangat dalam hal-hal yang berkaitan dengan amal shalih. Keluarga seperti inilah yang akan mendapatkan keberkahan hidup dan ketenangan jiwa sehingga keharmonisan keluarga yang dibangun akan lebih terasa.

Selain itu keluarga harus memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan, keluarga yang mampu menjaga kesehatan dan kebersihan pasti hidupnya akan terasa tenang, nyaman dan penuh bahagia. Penting bagi setiap anggota keluarga menjaga kebersihan hati, kebersihan badan, tempat tinggal, barang-barang yang dimiliki dan lingkungan sekitar agar hidup terasa indah, nyaman, bahagia dan berkah.

Anak bisa menjadi ujian juga anugrah bagi orangtua. Memiliki anak-anak yang shalih adalah sebuah kunci kesuksesan dunia dan akhirat. Keberkahan dalam sebuah rumah tangga akan sangat terasa jika memiliki generasi yang islami, shalih dan shalihah.

pexels-gabby-k-5996871

Perlu Diketahui Setiap Orang Tua

HAL-HAL YANG HARUS DIKETAHUI SEBAGAI ORANG TUA

Dalam keluarga yang ideal, orang tua harus menjadi ahli pendidikan, dan mereka harus memiliki rasa tanggung jawab serta pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak. Siapapun yang ingin menjadi orang tua harus memiliki pengetahuan  tentang psikologi dan pedagogi pada level tertentu, atau setidaknya mengetahui prinsip-prinsip Al-Qur’an tentang hal ini. Mereka harus mengetahui dan mempelajari cara-cara membesarkan generasi dengan baik.

Orangtua dan anak harus mengerti dan paham terhadap tugas dan kewajibannya masing-masing, memiliki tanggung jawab sesuai dengan fitrah dan perintah-Nya. Jika sebuah keluarga dapat menjalankan semua tugas dan kewajibannya masing-masing, dapat menciptakan suasana keharmonisan dan penuh keakraban, maka inilah yang menjadi salah satu keberkahan dalam keluarga.

Jika orangtua kurang peduli atau respek pada anak-anak, kurang memperhatikan atau abai, maka anak-anak akan merasa diacuhkan oleh orangtua sehingga terjadilah amarah dalam diri mereka. Jika dalam sebuah keluarga sudah menerapkan kepedulian yang tinggi dan saling memberikan perhatian, maka insya Allah keluarga yang dibina akan menjadi harmonis dan rahmat Allah pun akan datang pada keluarga tersebut.
Jika antar sesama anggota keluarga saling memiliki satu sama lain, tentu akan menambah kebahagiaan dan keeratan hubungan kekeluargaan.
Selain itu hal yang sangat penting adalah bahwa orangtua juga harus memperhatikan dari mana dan bagaimana memperoleh nafkah, tidak ada keberkahan pada suatu apapun yang diperoleh dari harta yang tidak halal. Jadi, salah satu tanda keluarga ideal adalah memastikan harta atau rezeki yang diperolehnya halal. Rezeki yang halal akan mendatangkan keberkahan dari Allah SWT.

Harta yang dimiliki digunakan untuk sesuatu yang baik. Bukan untuk berfoya-foya dan memenuhi kesenangan yang sifatnya haram maupun makruh. Membelanjakan harta sesuai dengan aturan yang diajarkan, maka akan membuat kebahagiaan bagi keluarga tersebut dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Itulah beberapa tanda-tanda keluarga bahagia, penuh kebahagiaan, tentram dan damai. Semoga kita semua dapat membangun keluarga yang bahagia dengan menerapkan hal-hal yang ma’ruf dan sesuai dengan ajaran Islam.