mengembangkandiri.com (18)

MENYULAM CINTA DALAM SETIAP AYAT-NYA

Ditulis Oleh : Febrian Suhud

Di dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur’an terukir petunjuk hidup yang abadi, sebuah permata yang tak terperi indahnya, yang diterangi oleh cahaya Ilahi. Khidmah kepada Al-Qur’an bukanlah sekadar tindakan, tetapi sebuah perjalanan batin yang mengalir dalam denyut nadi umat manusia, sebuah rasa yang menyelimuti jiwa dan meresap dalam kalbu. Sebuah pengabdian yang sejatinya adalah pengorbanan tanpa pamrih, yang tiada akhir, yang menuntun umat menuju jalan kebahagiaan yang hakiki.

Khidmah kepada Al-Qur’an bermula dari sebuah cinta yang murni dan tulus, cinta yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terasa dalam setiap hela nafas yang kita hirup. Cinta kepada Al-Qur’an adalah cinta yang melampaui waktu, yang tidak mengenal batas ruang dan zaman. Ia adalah cinta yang menjelma dalam setiap titian langkah, dalam setiap detik yang kita jalani, sebuah hubungan antara hamba dan Tuhan yang tiada terungkap oleh dunia. Seperti lautan yang dalam, cinta ini tak terukur, tak ternilai harganya, tetapi ia mampu menenangkan gelora jiwa dan menyegarkan raga yang letih.

Di setiap ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, terdapat gema suara Ilahi yang menyapa jiwa kita. Bagaikan sebuah angin damai yang mengalun lembut, tiap kata dalam Al-Qur’an menyentuh relung-relung terdalam hati, mengundang nurani untuk merenung dan menghayati betapa Maha Agung-Nya Allah. Inilah cinta yang tak tampak dengan kasat mata, namun terasa dalam getaran hati yang bergetar setiap kali kita membacanya, dan setiap kali kita menghayati maknanya.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah amanah yang disandangkan kepada setiap hati yang beriman. Sebagaimana bumi yang menjaga tanaman dan bunga-bunga dengan penuh kasih sayang, begitu pula kita harus menjaga kemurnian wahyu ini dengan segenap jiwa raga. Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang abadi, yang tidak pernah lekang oleh zaman. Setiap hurufnya adalah cahaya yang memancar dari Tuhan, dan menjaga Al-Qur’an berarti menjaga api tersebut agar tetap menyala dengan terang di setiap relung hidup kita.

Salah satu bentuk khidmah yang paling mulia adalah menghafal Al-Qur’an, sebuah ibadah yang bukan hanya melibatkan ingatan, tetapi juga jiwa dan hati. Menghafal Al-Qur’an adalah menanamkan cahaya Ilahi dalam diri, sebuah komitmen untuk mengingat-Nya dalam setiap helaan nafas, untuk menghidupkan kata-kata-Nya dalam setiap langkah hidup. Sebab, dalam setiap ayat yang terpatri di dalam dada seorang penghafal, terdapat cahaya yang tidak akan pernah padam, dan itulah pengabdian yang tiada bandingannya.

Khidmah kepada Al-Qur’an tidak hanya tertuang dalam kata-kata atau sekadar hafalan. Ia adalah sebuah perjalanan hidup yang mengalir dalam setiap tindakan. Sebagaimana bunga yang mekar dengan indah, setiap amalan yang terinspirasi oleh Al-Qur’an adalah buah dari cinta yang kita tanam dengan penuh kesungguhan. Setiap petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah bimbingan bagi kehidupan yang penuh tantangan ini. Dalam setiap persoalan hidup, Al-Qur’an adalah penyuluh yang tidak pernah pudar, memberikan kita cahaya untuk menapaki jalan yang gelap.

Al-Qur’an mengajarkan kita tentang kebijaksanaan yang tiada tara, tentang kesabaran yang mengalir seperti sungai yang tenang, tentang kejujuran yang menghiasi setiap tindakan. Ia bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi juga kitab yang harus dihidupkan. Menjadi seorang yang berakhlak mulia, meneladani sifat-sifat Rasulullah yang terpatri dalam Al-Qur’an, adalah bentuk nyata dari khidmah kita kepada kitab yang mulia ini. Kita menjadikan setiap ajaran-Nya sebagai pedoman hidup, menyelami maknanya dalam setiap langkah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama, sebagaimana Al-Qur’an yang selalu menyapa hati manusia dengan kedamaian.

Khidmah kepada Al-Qur’an juga terwujud dalam sikap kita yang senantiasa ingat kepada-Nya, dalam setiap hembusan angin kehidupan. Di tengah deru gelombang dunia yang tak terduga, Al-Qur’an adalah jangkar yang menenangkan, pelita yang tak pernah padam. Setiap ayat yang terukir di dalamnya adalah sumber kekuatan yang tiada terhingga. Ia menjadi obat bagi luka-luka batin, penghibur bagi hati yang gundah, dan cahaya bagi jiwa yang tersesat.

Khidmah yang terakhir, yang tak kalah penting, adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi yang akan datang. Sebagaimana seorang pelita yang memberikan cahaya kepada yang lain, begitu pula kita harus menjadi penyebar cahaya wahyu Allah kepada orang lain. Mengajarkan Al-Qur’an adalah tugas mulia yang membawa pahala yang tiada terhingga, dan dengan mengajarkannya, kita menanamkan benih-benih kebaikan yang akan berkembang hingga ke anak cucu kita. Mengajarkan Al-Qur’an adalah menyebarkan kasih sayang-Nya, membimbing umat menuju kehidupan yang penuh berkah.

Khidmah kepada Al-Qur’an adalah pengabdian yang tiada batas. Sebagaimana langit yang tak mengenal ujung, begitu juga pengabdian ini, yang terus mengalir dan menghidupkan dunia. Setiap langkah kita dalam mengikuti Al-Qur’an adalah langkah menuju kebahagiaan abadi, sebuah kebahagiaan yang melampaui dunia, yang hanya bisa diraih dengan cinta yang mendalam kepada kitab-Nya. Al-Qur’an adalah petunjuk yang selalu menemani, sebuah cahaya yang tak akan pernah padam, dan khidmah kita kepadanya adalah perjalanan yang tiada akhir, yang akan membawa kita menuju kasih-Nya yang tak terhingga.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, “Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” Di situlah letak hakikat khidmah yang sebenarnya: menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap detik kehidupan, menjadikannya sebagai pelita, dan melaksanakan ajarannya dengan hati yang penuh cinta. Inilah pengabdian yang sejati, yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

mengembangkandiri.com (16)

CINTA DAN KASIH SAYANG

DITULIS OLEH: FETHULLAH GÜLEN

Cinta adalah bagian terpenting dari setiap makhluk. Ia adalah sinar paling cemerlang dan kekuatan paling dahsyat yang dapat melawan dan mengatasi segala hal. Cinta mengangkat setiap jiwa yang meresapinya, dan mempersiapkan jiwa itu untuk perjalanan menuju keabadian. Jiwa yang mampu membangun hubungan dengan keabadian melalui cinta, memacu dirinya untuk mengilhami jiwa-jiwa lain untuk memperoleh hal yang sama. Jiwa itu membaktikan hidupnya untuk tugas suci ini, yang demi tugas tersebut, ia rela memikul segala penderitaan yang paling pedih, dan seperti ketika ia melafalkan “cinta” pada hembusan nafas terakhirnya, ia juga akan mengucapkan “cinta” ketika diangkat pada Hari Pembalasan kelak.

Tidaklah mungkin jiwa yang tak memiliki cinta dapat naik ke horison kesempurnaan manusia. Meskipun ia hidup beribu tahun, ia tak akan mampu melangkah menuju kesempurnaan. Mereka yang kehilangan cinta, seperti orang-orang yang terperangkap dalam sikap mementingkan diri sendiri, tidak mampu mencintai orang lain dan benar-benar tidak menyadari cinta yang tertanam dalam-dalam pada setiap yang ada.

Seorang anak disambut dengan cinta ketika ia lahir, dan tumbuh dalam suasana hangat dari jiwa-jiwa yang penuh kasih sayang. Meskipun anak-anak mungkin tidak merasakan cinta dengan kadar yang sama pada fase kehidupan berikutnya, mereka selalu merindukan dan mengejarnya selama hidup mereka.

Ada banyak bias cinta pada paras matahari; air menguap, naik membubung tinggi, dan setelah mengembun dalam tetasan-tetasan di bubungan tinggi itu, tetesan-tetesan itu jatuh dengan riangnya ke bumi pada sayap-sayap cinta. Lalu, ribuan kuntum bunga bermekaran bersamaan dengan cinta, menawarkan senyuman indah ke sekeliling. Embun menetes pada dedaunan membiaskan cinta dan berkelap-kelip dengan jenakanya. Domba dan anak-anaknya mengembek dan berjingkrakan dengan cinta, dan burung-burung serta anak-anak ayam bercicitan dengan cinta memadukan suara cinta.

Setiap makhluk ambil bagian dalam orkestra paripurna cinta di dunia dengan simponi khasnya dan mencoba mendemonstrasikannya, dengan bebas semaunya atau dengan sifat bawaannya, aspek cinta yang begitu dalam yang ada pada kehidupan.

Cinta melekat pada jiwa manusia sebegitu dalam sehingga banyak orang rela meninggalkan rumah untuk mengejarnya, banyak rumah tangga hancur, dan, di tiap sudut seorang Majnun mendesah dengan cinta, merindukan Layla.[1]Bagi mereka yang belum menemukan cinta yang ada pada diri mereka, penjelmaan cinta seperti itu dianggap sebagai keganjilan!

Mementingkan orang lain adalah sikap mulia yang dimiliki manusia, dan sumbernya adalah cinta. Siapapun yang memiliki andil terbesar dalam masalah cinta ini, mereka lah pahlawan kemanusiaan paling hebat; orang-orang ini telah mampu mencabut perasaan benci dan dendam pada diri mereka. Pahlawan-pahlawan cinta ini akan senantiasa hidup bahkan setelah mereka tiada. Jiwa-jiwa agung ini, yang tiap hari menyalakan suluh cinta yang baru dalam alam batiniah mereka dan menjadikan hati sebagai sumber cinta dan altruisme, akan disambut dan dicintai masyarakat. Mereka berhak untuk memasuki kehidupan abadi atas ridha Yang Mahaadil.

Seorang ibu yang rela mati demi anaknya adalah pahlawan cinta; orang-orag yang membaktikan hidup untuk kebahagiaan orang lain adalah “pejuang yang gagah berani”, dan mereka yang hidup dan mati untuk kemanusiaan diabadikan dengan monumen-monumen yang tak kenal mati yang pantas untuk disematkan ke dalam hati kemanusiaan. Di tangan para pahlawan ini, cinta menjadi obat mujarab untuk mengatasi setiap hambatan dan kunci untuk membuka setiap pintu. Mereka yang memiliki obat mujarab dan kunci demikian ini lambat atau cepat akan dapat menguak gerbang semua belahan dunia dan menyebarkan semerbak wangi kedamaian di mana pun, dengan menggunakan “pedupaan” cinta di tangan.

Cara paling langsung untuk sampai pada hati umat manusia adalah cara cinta, jalan para Nabi. Mereka yang menempuh jalan ini jarang sekali ditolak, kalaupun ditolak oleh segelintir orang, mereka disambut dengan gembira oleh ribuan lainnya. Sekali mereka diterima dengan cinta, tak akan ada yang mampu menghalangi mereka untuk meraih cita-cita gemilang, keridhaan Tuhan.

Betapa bahagia dan melimpahnya mereka yang mengikuti petunjuk cinta. Sebaliknya, betapa malangnya mereka yang melakoni kehidupan “tuli dan bisu,” tidak menyadari hakikat cinta yang dalam pada jiwa mereka!

Ya Allah Yang Mahaagung! Hari ini ketika benci dan dendam meruap di mana-mana seperti gumpalan-gumpalan kegelapan, kami berlindung di bawah Cinta-Mu yang tak berbatas dan memohon dengan sangat di pintu-Mu, agar Engkau memenuhi hati hamba-hamba-Mu yang jahat dan bengis dengan rasa cinta dan kasih sayang!

 

Referensi

[1] Layla dan Majnun adalah dua sejoli yang dimabuk cinta dalam kisah legendaries literatur Timur.

mengembangkandiri.com (13)

CINTA DALAM DAKWAH

Dalam perjalanan menuju cinta Ilahi, dakwah menjadi panggilan nurani yang mendorong setiap individu untuk menyelami keindahan, kejujuran, dan keyakinan yang murni. Bagi seorang pendakwah, tanggung jawab nurani ini merupakan prioritas utama untuk membantu orang lain memahami esensi jiwa dan menguatkan ikatan mereka dengan Sang Pencipta.

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang membangun ikatan batin—antara seorang hamba dengan sesamanya, antara seorang hamba dengan dakwahnya, dan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mencintai sesama merupakan bagian dari pencarian akan makna hidup dan kebenaran. Dakwah mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah inti dari penyampaian pesan agama, di mana hubungan antar manusia menjadi cerminan dari kasih yang dianugerahkan Tuhan.

Cinta seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya menjadi bentuk ibadah, namun juga menjadi kehadiran yang menyatu dalam segala aspek kehidupan. Dakwah sejati tidak hanya mengajarkan konsep-konsep agama, tetapi membimbing setiap individu untuk merasakan cinta Ilahi dalam setiap napas dan denyut jantung. Dakwah adalah panggilan hati yang mengajak kita menyadari bahwa cinta Ilahi adalah sumber dari segala kehidupan. Melalui dakwah, kita diajak untuk memahami bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap detik kehidupan, memberikan kehangatan dan makna dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan diri.

Seorang ulama kharismatik pernah berkata, “Dakwah tanpa cinta adalah bagaikan tubuh tanpa jiwa.” Dakwah yang hanya mengandalkan pengetahuan tanpa disertai kelembutan dan kasih sayang bagaikan tubuh yang hidup namun tanpa ruh. Cinta dalam dakwah memberikan kehangatan dan menjadikan dakwah lebih dari sekadar penyampaian pesan—ia menjadi sarana yang penuh makna dan mampu menyentuh hati setiap individu.

Dalam keseimbangan, cinta menjadi kekuatan pendorong yang menghidupkan dakwah. Cinta ini menyentuh orang-orang yang membutuhkan, memberikan kehangatan seperti jiwa yang menghidupkan tubuh. Dakwah yang penuh cinta akan membawa kedamaian dan kebijaksanaan yang mampu mengakomodasi perbedaan pandangan, serta menghadapi resistensi tanpa kehilangan esensi ajaran agama. Kelembutan membawa seseorang menuju pemahaman yang lebih dalam, dan menjadi aspek penting dalam mendampingi mereka yang sedang menempuh jalan kebenaran.

Dakwah dengan kelembutan menciptakan ruang bagi dialog yang sehat dan pengertian yang mendalam. Dalam kelembutan terdapat kemampuan untuk mendengarkan dengan perhatian, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan pesan agama dengan kasih sayang. Pesan dakwah dapat lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan cinta dan empati, mengingat setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Maka, dakwah yang dilandasi kelembutan bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk membangun hubungan yang erat antara pembawa dan penerima dakwah.

Cinta dalam dakwah bukanlah pelengkap, melainkan kekuatan utama. Tanpa cinta, pesan dakwah akan terasa hampa dan sulit diterima. Oleh karena itu, setiap langkah dakwah hendaknya selalu diiringi oleh cinta yang menyertakan kelembutan dan kasih sayang, sehingga pesan tersebut masuk ke dalam hati dan menginspirasi tindakan kebaikan. Cinta dalam dakwah bukan hanya tentang menyebarkan kebenaran, tetapi juga menciptakan ikatan batin yang erat dengan Allahﷻ dan sesama manusia.

mengembangkandiri.com_four-gingerbread-cookies-on-green-childrens-hand-2022-02-24-06-34-41-utc

Kasih Sayang dan Kekerasan

Karya Pembaca: Mahir Martin

Dunia memang selalu berubah, bergerak dengan dinamis untuk mencari keseimbangan baru. Beragam peristiwa silih berganti, datang dan pergi membuat kita terkadang harus berada pada kondisi terjepit antara hitam dan putih, gelap dan terang, peperangan dan perdamaian, permusuhan dan persahabatan.

Di tengah kondisi yang terkadang begitu memilukan, hanya ada satu obat penawar bagi segala kemuraman, cahaya bagi kegelapan, kesepakatan bagi peperangan, dan persaudaraan bagi permusuhan. Obat penawar itu adalah rasa kasih sayang. Rasa kasih sayang yang akan menggerus kekerasan yang terjadi di masyarakat.

Pancaran Kasih Sayang

Kasih sayang adalah pancaran dari cahaya akhlak Ilahi yang direpresentasikan dengan hati. Layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya, seorang guru kepada murid-muridnya, seorang atasan kepada bawahannya.

Seseorang yang sanubarinya diliputi oleh rasa kasih sayang, tidak akan pernah meminta balasan apapun darinya. Kasih sayang akan menjadi kekuatan bagi yang lemah, penghangat bagi yang kedinginan, teman bagi yang kesepian, dan kehadiran bagi seseorang yang tak memiliki siapapun dalam kehidupannya.

Bukankah Nabi berkata bahwa barangsiapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, maka bukanlah bagian dari kita? Ya, begitu pentingnya nilai kasih sayang, sampai-sampai Nabi pun memberikan peringatan ini.

Dengan kekuatan kasih sayang, hati yang keras pun akan menjadi lembut, kepedulian sosial akan muncul, dan saling tolong-menolong akan tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan kekuatan kasih sayang juga, negara akan menjadi tempat dimana ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, hikmat dan kebijaksanaan, dan keadilan sosial akan dielu-elukan oleh rakyatnya.

Ya, kasih sayang adalah pancaran suci dari langit kepada kita semua. Jika kita ada pada hari ini dan mampu bertahan dalam kehidupan ini, itu karena kasih sayang-Nya; Jika kita saling menyayangi dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, itu juga karena rahmat-Nya.

Nabi kita juga mengajarkan dan mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup dan bermuamalah dengan penuh kasih sayang, kecintaan, dan kelembutan dalam beragama. Dalam beragama tidak boleh ada paksaan, penekanan, menyusahkan dan menyulitkan.

Kekerasan dalam Beragama

Ajaran dan teladan Nabi dalam beragama tersebut memang seharusnya bisa kita terapkan dalam kehidupan. Namun sayangnya, ada sebagian dari kita yang gagal memahami ajaran agama, gagal merepresentasikannya. Sehingga karena rasa takut yang dirasakan dari paksaan dan kekerasan yang dilakukan, banyak orang-orang yang akhirnya salah mengenali kita. Bukankah pepatah mengatakan bahwa manusia akan memusuhi sesuatu yang tidak dikenalinya?

Ya, hal ini terjadi karena kita tidak mampu untuk keluar dari daerah kita, kita cenderung menutup diri, dan gagal mengedepankan komunikasi dan dialog yang sehat dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Akhirnya akan selalu muncul percikan api pertikaian antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak memiliki keimanan yang sama.

Orang-orang yang beragama terkadang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kekerasan sangat bertolak belakang dengan fitrah manusia yang memiliki iradah dan kebebasan berpikir.

Cara seperti itulah yang sangat bertentangan dengan akal dan logika manusia. Cara itu bukanlah cara yang berdasarkan dengan hasil pemikiran yang benar. Cara itu bisa saja menjadi bumerang yang justru dampak buruknya akan kembali kepada siapa yang melakukannya.

Hal ini yang akhirnya menyebabkan profil seseorang yang beragama menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengkhawatirkan. Jika ini terjadi, maka kedepannya untuk merubah keadaan ini akan semakin sulit dilakukan, dan mungkin kekuatan kita tidak akan mampu menghadapinya.

Sebuah Refleksi

 Bagi orang yang beriman, menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya, sebenarnya menunjukkan betapa lemah keimanannya. Artinya, ia tidak benar-benar yakin dengan keimanannya sehingga ia harus membuktikannya dengan memaksakannya kepada orang lain.

Seorang mukmin sejati akan begitu percaya dengan nilai-nilai yang ia miliki dan yakini. Ia akan mengubahnya menjadi pandangan hidup sehingga ia tidak akan takut untuk hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki pandangan keimanan yang berbeda.

Ia berani untuk berdialog dengan mereka, meskipun terkadang berada di bawah naungan mereka. Karena seseorang yang tidak ragu dengan nilai-nilai keimanan dalam dirinya, ia tidak akan merasa tertekan dengan melihat kehidupan dan keimanan orang lain.

Apakah ini berarti bahwa nilai-nilai keimanan tidak bisa kita jelaskan kepada orang lain yang belum mendapatkan petunjuk keimanan?

Sudah menjadi tabiat manusia ingin menjelaskan atau mengajak orang lain kepada sesuatu yang ia yakini kebenarannya. Jika hal ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, dengan adab dan cara yang benar, dengan tetap menghormati iradah dan kebebasan berpikir yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan sangat salut, menghargai, dan mengambil contoh dari nilai-nilai keimanan tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka akan mengakui nilai-nilai keimanan tersebut dengan menggunakan iradah dan kebebasan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Alhasil, setiap orang berhak memiliki nilai-nilai yang ia yakini, hidupi, dan mungkin ia ingin bagikan kepada orang lain. Yang menjadi permasalahan adalah ketika cara-cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan telah digantikan dengan kekerasan dan paksaan dalam menyikapinya.

Oleh karenanya, yang perlu kita kedepankan adalah iradah dan kebebasan berpikir manusia dalam memandang sesuatu. Seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai-nilai yang kita anggap benar adalah suatu kewajaran dan menjadi kekayaan keberagaman yang ada di kehidupan bermasyarakat.