Mengembangkandiri.com[Downloader.la]-635797bdc99ab

Prioritas Membaca dan Menjadi Mentor

Artikel pertama dari seri artikel ini membahas tentang “Rumah”. Oleh karena itu, di artikel seri kedua, topik yang akan kita bahas adalah bagaimana seharusnya orang-orang yang tinggal di Rumah tersebut dididik dan dibina, serta apa saja buku-buku yang harus mereka dibaca?.

Fungsi utama dari Rumah adalah untuk mendidik dan membina orang-orang yang tinggal didalamnya, agar mengagungkan sang pencipta mereka, serta berkomitmen penuh dalam mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Sehingga, mereka yang tinggal di Rumah ini adalah “individu” yang telah menetapkan hati mereka pada i’lâ-ı kalimatullah (mengagungkan Allah), yang berempati kepada sesama dimanapun ia berada, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, mengorbankan kenyamanan pribadi demi terciptanya perdamaian umat manusia dan berdiri di garda terdepan dalam menentang ketidakadilan.

Sebagai relawan Hizmet, panduan utama kita adalah Risalah Nur. Tanpa membaca dan memahami Risalah Nur dengan baik, mustahil untuk bisa memahami Hizmet secara mendalam.

APA ITU RISALAH NUR?

Risalah Nur bukanlah sekedar sumber pengetahuan yang biasa saja. Tidaklah cukup hanya menganggapnya sebagai karya yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara logika saja. Risalah Nur adalah sumber yang menjelaskan tentang ‘ma’rifatullah‘ secara rinci. Risalah Nur adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan. Risalah Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang menerangi zaman ini. Oleh karena itu, ia berisi ilham serta memiliki pesona dan celupan dari Al-Quran. Sebagai contoh, jika anda membaca Risalah Ikhlas anda akan menemui setiap kalimatnya adalah kata-kata mulia yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti itulah setiap bagian dari Risalah Nur. Risalah Nur ditulis dengan kezuhudan yang tinggi dan dengan rahmat Allahﷻ, sehingga Risalah Nur menjadi sumber inspirasi Ilahi.

Apakah ada mahakarya yang seperti Risalah Nur ini dalam sejarah?

Selama lebih dari 60 tahun telah dibaca dan didiskusikan ribuan kali bahkan ratusan ribu kali dan bahkan sampai jutaan kali, baik di Rumah-rumah di Turki maupun di seluruh dunia dan hal ini masih terus berlanjut hingga hari ini.

Penerimaan yang baik ini merupakan anugerah Ilahi atas kebulatan tekad, kebaikan, dan kezuhudan serta keikhlasan penulisnya.

Allahﷻ menganugerahkan pesona yang luhur kepada “Risalah Nur”. Disaat anda membacanya dan pikiran anda sibuk dengan kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia memperbaiki hati anda. Disaat anda mencoba memahami kata-kata yang ada didalamnya, disaat bersamaan ia merekonstruksi pikiran anda. Bahkan ketika anda menyelesaikan suatu topik pembahasan dalam Risalah Nur, namun anda tidak mengerti apa-apa, pada hakikatnya tanpa anda sadari ia memenuhi alam pikiran anda dengan cahaya. Dan dengan cahaya itu akan memberikan panduan yang sempurna kepada jiwa anda untuk berperilaku positif. Semua ini akan terwujud selama Risalah Nur dijadikan wasilah dan sarana menuju Allahﷻ.

Tetapi, ketika anda mendekati teks-teks Risalah Nur dengan kesombongan, kefanatikan, dan keinginan menjadi orang ternama dalam masyarakat, maka pesonanya akan hilang. Ketika anda menjadikan Risalah Nur sebagai tujuan bukan sebagai sarana, mengubahnya menjadi komoditas komersial, atau menjadikan Risalah Nur hanya sebagai alat untuk mempublikasikan pengetahuan yang anda miliki, maka Risalah Nur yang luar biasa ini menutup pintunya bagi anda. Sihir dan celupannya akan hilang, penunjuk arahnya akan buram. Jika seperti ini, meskipun Risalah Nur ada dalam hafalan anda, namun anda tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari Risalah Nur.

BUKU PIRLANTA

Setelah Risalah Nur menenangkan jiwa dan menjadikan tawajjuh kepada Allahﷻ sebagai sifat serta karakternya, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mewujudkannya dalam bentuk amal saleh. Untuk melakukan amal saleh dan kedisiplinan ada seri buku Prisma, seperti: Buku Dakwah, Cahaya Al-Qur’an, Cahaya Abadi dan Kriteria.. Namun sebelum membaca buku-buku yang disebutkan di atas, buku pertama yang perlu dibaca dan diselesaikan terlebih dahulu adalah seri buku Pirlanta.

Menjaga keikhlasan saat menulis sesuatu, mudah jika hanya dalam ucapan saja, namun dalam pelaksanaanya sangatlah sulit. Prinsip dalam meneliti sebuah karya adalah seseorang tidak boleh mencampurkan keinginan pribadinya pada sebuah karya yang ia teliti. Cobalah telaah kumpulan ceramah yang sudah disampaikan 50 tahun yang lalu dan telitilah dengan prinsip tersebut diatas. Jika anda adalah orang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, anda akan dapat membedakan kalimat-kalimat yang bercampur dengan keinginan pribadi pembicara. Sosok yang sudah berbicara selama puluhan tahun dan apa yang ia sampaikan tidak ada unsur keinginan diri pribadinya meskipun satu kalimat, hal ini menunjukan sebuah fakta bahwa pembicara tersebut berbicara dengan keikhlasan dan ketulusan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan celupan keikhlasan yang sama, membukukan dan membacanya adalah wasilah yang sangat membahagiakan.

Seperti yang diajarkan oleh Risalah Nur kepada kita yaitu perbedaan antara “makna huruf” dan ” makna ismi”, dalam pandangan kami, karya-karya ini juga demikian:

“Alam semesta harus dimaknai dengan makna huruf dan melihatnya berdasarkan pandangan tersebut. Adalah suatu kesalahan jika memahami alam semesta dengan makna ismi dan sebab-sebabnya.”

Merupakan suatu hal yang berbahaya, jika memuliakan karya-karya ini dan penulisnya dengan makna ismi. Memuliakannya dengan sebutan wali atau sosok yang bebas dari kesalahan, bahkan menyebutnya dalam setiap majelis sebagai manusia luar biasa dan mengagungkannya dengan makna ismi sebagai manusia suci. Pernyataan-pernyataan ini dan yang serupa dengannya dapat berujung pada kemusyrikan. Hal ini juga menyebabkan hilangnya cahaya dari karya-karya ini.

Selain daripada itu, jika hanya berfokus pada bagian luar saja, bukan pada makna yang terkandung didalamnya. Hanya terpaku pada satu dari delapan Risalah atau hanya terpikat dengan pola formal buku yang dibaca, terpesona dengan fiksi teksnya, tertarik pada sajak-sajak puisinya. Hal ini ibaratkan memakan madu yang ada dalam sebuah botol dengan menjilati bagian luar botolnya saja.Ketika perhatian hanya terfokus pada sastra, gaya bahasa dan kefasihannya saja, maka esensi yang ada didalamnya akan terlupakan.

Setelah membangun sebuah pondasi yang kokoh dengan semua karya-karya ini, setiap orang harus mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah secara proporsional sesuai dengan cakrawala mereka. Lalu setiap orang perlu membaca karya klasik dunia dan karya klasik lokal dari negara asal mereka masing-masing agar dapat mengenal dan memahami manusia lain yang ada disekitarnya. Namun hal-hal yang juga perlu diingat adalah, bahwa setiap orang perlu menguasai sejarah, filsafat, ilmu logika dan bidang ilmu pengetahuan lainnya pada tingkatan tertentu.

KAKAK PEMBINA

Membaca sangatlah penting, tetapi membaca bukanlah segalanya. Jika karya yang dibaca tidak dihayati dalam kehidupan, jika semua sikap dan tingkah laku tidak berubah menjadi amal saleh, maka menjadi nyata kebenaran ayat berikut: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat- ayat Allahﷻ. Dan Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Jumu’ah ayat 5).

Seorang kakak pembina harus mengisi waktunya dengan amal saleh agar tidak terlena oleh godaan hawa nafsu.

Siapa yang akan mendidik dan membina kakak pembina?

Seperti yang disebutkan dalam sebuah paradoks “Apakah ayam yang keluar dari telur atau telur yang keluar dari ayam”. Sama halnya, bahwa siswa yang berkualitas tidak akan hadir tanpa kakak pembina (mentor) yang berwibawa dan berkualitas atau dalam arti kiasan “idola” yang mendidik dan membimbing mereka dengan baik. Kakak pembina (mentor) yang berkualitas hanya dapat dibentuk oleh sosok yang berkualitas juga. Jika tidak ada siklus yang benar seperti ini, rumah- rumah tidak dapat menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat ini, kakak pembina (mentor) adalah aspek yang sangat dibutuhkan, terutama bagi siswa yang pergi ke luar negeri dan mencoba untuk belajar bahasa dan beradaptasi dengan sekolah asing.

Membina generasi tidak bisa dilakukan secara paketan. Membina secara paketan sama seperti membuat patung secara grosir. Patung buatan bisa diproduksi secara langsung dalam jumlah yang banyak tetapi tidak memiliki nilai seni. Membina secara paketan tidak bisa melahirkan “Individu” yang dapat menjadi diri mereka sendiri dan berkontribusi pada dunia.

Apakah Kamp itu mesin cetak?

Kamp adalah program kolektif yang sangat penting dan tak tergantikan. Sudah barang tentu program ini memberikan nilai-nilai yang positif. Tetapi kamp bukanlah “mesin cetak”. Jika tidak ada bimbingan terhadap siswa secara individu, mendengarkan permasalahan yang mereka alami satu persatu, memahami apa yang mereka inginkan dan membangun ukhuwah yang kokoh, maka efek kamp akan seperti api yang membakar daun kering yang membesar seketika lalu habis dengan sekejap. Jika kamp yang dilakukan selama 10 hari merupakan kelanjutan atau bagian dari apa yang dilakukan pada 355 hari lainnya dalam setahun, maka efisiensi nyata akan dapat diperoleh. Jika tidak, bimbingan yang dilakukan selama kamp akan seperti hujan dimusim panas yang turun tiba-tiba kemudian deras sekejap lalu mengering dengan cepat.

Pertanyaan tes kualitas pembinaan

Apakah pembinaan atau Hizmet di kota tersebut ada atau tidak?

Tes ini dapat dilakukan dengan mudah, ada dua aspek yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur:

Pertama: Ada berapa Rumah yang sesuai dengan ketentuan ideal ?

Kedua: Berapa banyak pembina yang memenuhi syarat yang anda miliki?

Aspek-aspek lainnya adalah data statistik saja.

Jika tidak ada pembinaan seperti ini, maka sekolah maupun lembaga lain yang kita miliki tidak lebih berharga daripada sekolah biasa atau lembaga biasa. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa Rumah yang ideal lebih berharga daripada sekolah yang besar atau institusi yang megah sekalipun.

********

Makna Huruf (Simbolik): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah dari Allahﷻ dan Allahﷻ lah yang menciptakan itu semua. Artinya, segala sesuatu tidak memiliki makna jika tidak dinisbatkan kepada sang penciptanya yaitu Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel, maka ada ratusan simbol yang menunjukkan bahwa sang penciptanya adalah Allahﷻ. Maka dari itu, ratusan simbol yang menunjukan adanya sang maha pencipta disebut dengan makna huruf.

Makna Ismi (Hakiki): yaitu melihat segala sesuatu yang ada pada makhluk dan seluruh alam semesta adalah sebuah hakikat dan bukan dari Allahﷻ. Dengan kata lain, melihat makhluk dan alam semesta atas nama mereka sendiri dan tidak menisbatkannya kepada Allahﷻ. Jika melihat pada sebuah apel dan menilai bahwa apel itu ada dengan sendirinya, maka hal ini adalah peniadaan terhadap ribuan simbol yang menunjukan sang maha pencipta yaitu Allahﷻ. Makna ismi (hakiki) hanya milik Allahﷻ.

Mengembangkandiri.com [Downloader.la]-632809c0b3d45

Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

Tidaklah ada bangunan yang dibangun tanpa pondasi. Jika anda ingin membangun gedung 10 lantai, anda perlu menggali sedalam mungkin dan meletakkan pondasinya dengan kokoh. Sehingga tidak rusak dan roboh pada saat terjadi gempa atau bencana lainnya. Basis gerakan Hizmet adalah manusia, yaitu manusia yang terampil. Sebagaimana yang Mulia Alvarlı Efe ia selalu berdoa, “Semoga Allah menjadikan kita manusia yang mulia!” Dasar utama Hizmet adalah “manusia” dalam kualitas ini. Manusia dengan kualitas ini hanya dididik dan dibina di Rumah-rumah. Jika orang-orang yang tinggal di Rumah-rumah memiliki kualitas seperti ini maka Hizmet akan ada, Jika tidak, maka Hizmet tidak akan ada.

Rumah, tapi rumah yang bagaimana?

Sebuah rumah di mana lima atau enam orang tinggal didalamnya. Sebuah rumah di mana penghuninya menghabiskan waktu bersama-sama sebanyak mungkin dengan salat berjamaah dan berdoa bersama serta membaca buku, setidaknya setiap hari tiga dari mereka yang tinggal di rumah ini salat berjamaah bersama dan kemudian membaca buku. Rumah yang di mana semua kamar dan ruangannya bersih dan tertata dengan sangat rapi serta dapur yang juga sangat rapi dan bersih. “Cahaya” Allahﷻ tidak termanifestasikan di tempat-tempat yang kotor, berantakan dan kumuh. Cahaya iman tidak dapat terpancar di tempat yang berantakan dan kumuh.

Mendekatkan diri dan dzikir kepada Allahﷻ adalah anugerah yang sangat berharga. Rumah-rumah ini adalah tempat istimewa di mana nikmat berharga ini terus turun.

Al-Qur’an menyebut rumah ini dengan sebutan “Rumah Cahaya”:

(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allahﷻ untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (mensucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allahﷻ, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). (QS. An- Nur Ayat 36 dan 37)

Rumah yang tidak memenuhi persyaratan diatas bukanlah Rumah Cahaya tapi “kos-kosan”, Ini adalah kebenaran yang menyedihkan. Jika rumah-rumah yang memenuhi persyaratan diatas ada, maka Hizmet akan tetap ada. Jika tidak, Hizmet tidak akan ada meskipun kelihatannya ada.

Hocaefendi menggambarkan rumah-rumah ini sebagai berikut:

“Rumah Cahaya adalah bangunan suci yang pernah ada; rumah yang paling efektif untuk generasi yang bercahaya yang menyibak kegelapan. Di rumah-rumah ini, setiap paginya dipenuhi dengan semangat kemenangan dan harapan baru. Di setiap sudutnya, evrad-u ezkar digaungkan, penghuni rumah yang diberkati ini setiap hari bagun dengan perasaan dan semangat baru yang penuh dengan rasa percaya diri. Semua sisi kehidupan mereka dipenuhi cahaya. Saat berkumpul, mereka berkumpul untuk belajar dan tarbiah diri; Saat mereka berpisah, mereka berpisah untuk memperoleh keutamaan dari perasaan yang bersih, pemikiran yang jernih, akhlak yang baik, iman yang kokoh, dan kedekatan dengan sang pencipta Allahﷻ yang sudah mereka dapatkan dari majlis belajar dan tarbiah.”

Rumah adalah universitas kecil kehidupan. Rumah adalah laboratorium di mana ma’rifatullah, manajemen kehidupan dan empati serta “bermuamalah dengan orang lain” dipelajari dan dipraktekkan. Sekolah maupun asrama tidak dapat menggantikan peran rumah. Manusia tidak tumbuh dan dididik dengan cara paketan. Sebuah perusahaan bisa memproduksi “patung” dalam jumlah yang banyak secara langsung namun tidak dengan manusia.

Saya pernah mencoba menguji kualitas rumah. Saya bertanya kepada salah satu lulusan yang tinggal di rumah.

Dialognnya sebagai berikut:

– Berapa lama anda tinggal di rumah? Apa yang anda lakukan?

– 5 tahun. Selama 3 tahun ini saya sebagai “imam rumah” .

– Apakah anda sudah menyelesaikan buku Ar-Risalah?

– Secara keseluruhan saya belum menyelesaikannya, tapi bisa dikatakan saya sudah menyelesaikannya.

– Apa yang dimaksud dengan ijtihad?

– … Aku tidak bisa menjelaskannya.

– Baik, ada di buku manakah Risalah icraat?

– Saya tidak ingat secara pasti, tapi bisa jadi ada di buku Al-Lama’at.

– Apakah ada kalimat yang anda ingat dari Risalah Ikhlas?

– Ya, itu Risalah yang harus dibaca setiap 15 hari sekalikan ya?

– Ya, betul sekali?

– Aku tidak

Saat dialog semakin memburuk, saya harus mengajukan pertanyaan berikut:

– Manakah yang lebih tebal antara Al-Kalimat dengan Al-Maktubat?

– Kalau tidak salah Al-Kalimat lebih tebal.

Saya tidak berbicara tentang satu contoh saja, tetapi ada banyak contoh dialog yang serupa. Dan anda menjadikan orang-orang ini sebagai penanggung jawab. Anda menjadikannya sebagai guru, kemudian anda mengharapkan pekerjaan yang sesuai dengan yang dijelaskan dalam Risalah ikhlas dari mereka.

Izinkan saya menambahkan satu kisah lagi.

Sebuah rumah yang sudah 20 tahun saya tidak datang dan melihatnya. Saat saya mengantar seorang kerabat saya yang baru memulai sekolah hukum ke rumah tempat ia tinggal. Saat itu sekitar jam 11 malam, saya berpikir untuk keluar dan melihat rumah tersebut. Lalu saya keluar dan melihat rumah Itu, saya melihat rumah itu adalah rumah yang mewah. Rumah Itu sebesar rumah tempat kami dahulu yang mana dihuni oleh 11 orang siswa. Kami menggunakan tempat tidur kayu seperti peti dengan penutupnya. Sedangkan mereka memiliki set sofa dan tempat tidur yang lengkap. Di rumah sebesar itu hanya dihuni oleh 4 orang saja. Imam rumahnya sudah menikah, oleh karena itu ia jarang datang ke rumah tersebut. Dua orang lainnya, di akhir pekan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Rumah itu persis seperti kos-kosan. Kemudian saya bertanya “Apakah ada tamu yang datang?”. Tidak ada, jawab mereka. Bahkan dalam istilah kebiasaan mereka tidak ada kata tamu. Rumah itu mungkin akan bisa dikata bersih setelah disapu dan dipel selama tiga jam. Yang paling menakutkan adalah dapur. Di atas kompornya ada sisa-sisa bekas makanan yang sudah lama dan mengeras. Di satu sisi dapurnya terdapat sampah yang bertumpuk-tumpuk. Kulkasnya kotor dan penuh dengan bekas makanan yang sudah lama. Saya perkirakan jika saya membersihkan rumah itu mungkin sampai waktu subuh datang baru selesai.

Dikatakan bahwa “bagian dari sesuatu menunjukan keadaan keseluruhannya”. Ada berapa jumlah rumah yang sama dengan yang saya sebutkan diatas? Bahkan jika ada 20 % dari 100% rumah dengan keadaan seperti diatas, maka ini adalah sebuah bencana besar. Bagaimana jika anda memiliki ribuan rumah seperti itu sekarang? Apalah artinya meskipun puluhan ribu orang di rumah yang seperti itu? Jika dikumpulkan ratusan rumah yang ada, apakah ratusan rumah itu bisa menggantikan satu rumah dengan kualifikasi yang saya sebutkan di awal? jika hanya fokus kepada angka dan jumlah yang banyak maka membuka rumah hanya akan menjadi perlombaan

banyak-banyakan tanpa memperhatikan kualitas isinya. Berkaitan dengan hal ini disebutkan dalam Al-Quran dengan sangat jelas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur ayat 1). Di rumah ini adalah tempat “mengagungkan Allah” serta “memuliakan dan menghormati manusia”

RUMAH ADALAH YANG UTAMA

Jika kita memiliki sepuluh sekolah dan dua puluh asrama di sebuah kota, namun jika tidak ada rumah yang merupakan pondasi Hizmet seperti yang saya jelaskan sebelumnya, maka bisa dikatakan Hizmet tidak ada di kota tersebut. Hal terpenting yang diajarkan oleh Risalah adalah untuk tidak terpaku pada sebab-sebab saja. Jika kita berhasil memahami sebab-sebab ini, kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita dimulai dengan hilangnya rumah-rumah. Institusi dapat bertahan jika bersandar pada rumah-rumah yang menjadi pondasi dasarnya. Institusi yang dibangun oleh individu- individu yang belum mematangkan jiwanya di rumah, maka ini adalah institusi yang tidak berdasar. Institusi yang tanpa “dasar” menjadi rentan terhadap kehancuran dan serangan musuh yang sebanding dengan ukuran dan tingginya. Tidak ada institusi yang akan maju ke masa depan jika kita tidak membangun pondasi serta tiang bangunannya dengan orang-orang yang terampil dan terlatih di rumah-rumah.

Sebelum ‘Rumah yang berkualitas di setiap tempat’ menjadi target utama bagi setiap penanggung jawab, maka Hizmet yang dilakukan tidak mungkin sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat Al-Quran. Jika kriteria sukses di Hizmet adalah institusi, jumlah dan ekonomi, bukan kualitas, Maka diperlukan koreksi yang sangat serius.

Ini adalah target yang bagus untuk anda:

Tempat dimana anak-anak dari semua suku, bangsa dan negara bisa datang, belajar, membaca buku…

Tempat yang selalu dikunjungi oleh pria, wanita, pengusaha dan orang tua minimal satu kali dalam seminggu….

Dan rumah-rumah dimana nama Allahﷻ selalu di agungkan …

Institusi yang terbuat dari batu bata tentu saja berharga, tetapi rumah yang seperti ini lebih berharga dari pada emas yang bertumpuk- tumpuk.

mengembangkandiri media-interview-journalists-interviewing-politici-2021-08-29-09-07-55-utc

Prof. Said Bouzeri (Aljazair) – Atlas Pemikiran

Atlas Pemikiran Tentang Hizmet

-Hizmet dan M. Fethullah Gulen-

Prof. Said Bouzeri (Aljazair)

Pemikiran dan teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet.

Prof. Said Bouizeri, Professor Hukum Islam di Universitas Mouloud Mammeri, Tizi-Ouzou. Pengajar di Pusat Pendidikan Berkelanjutan di Tizi-Ouzou sejak tahun 1991. Menyelenggarakan berbagai konferensi keilmuan tentang Hukum Keluarga dalam Islam, Sunnah Nabi Muhammad SAW dan Teori-Teori Prediksi dalam Hukum Islam. Presiden Dewan Keilmuan dan Komisi Fatwa di Departemen Agama dan Waqaf Tizi-Ouzou. Penulis tiga buku tentang Hukum Islam, Hukum Waris serta Hak-Hak Anak dalam Islam.

Nama saya Said Bouzeri dari Aljazair, tepatnya dari daerah Kabylia. Sekarang saya dosen di Universitas Tizi Ouzou, mengajar mata kuliah hukum.

Ustaz Muhammad Fethullah Gulen (Hafidzahullah) adalah nikmat dari Allah SWT bagi umat Islam berdasarkan beberapa alasan:

Alasan Pertama, beliau adalah sosok yang memiliki kecintaan pada agama (Ghirah) dalam kalbunya. Ketika membaca tentang Ustaz Fethullah, saya terngiang sosok Khalifah pertama Sayyidina Abu Bakar r.a. saat berujar: “Apakah hakikat agama Allah berkurang sementara saya masih hidup!” Seakan Sayyidina Abu Bakar mengatakan: “Tak kan ada artinya kehidupanku serta keberadaanku jika aku melihat ada yang berkurang dari agama Allah sedangkan aku masih hidup”. Dengan demikian, alasan pertama ialah beliau memiliki kecintaan tinggi pada agama Islam.

Alasan Kedua, beliau telah mengkaji dan mendalami ilmu dari para ulama terdahulu, mengambil manfaat serta mengembangkannya, yaitu ilmu para syeikh serta guru-guru beliau, salah satunya Syeikh Said Nursi (Rahimahullah).

Alasan Ketiga, beliau berhasil menggabungkan antara gagasan dan praktik, serta iman dan amal. Sebagaimana Allah SWT dalam Alquran setiap menyebutkan kata iman selalu dibarengi dengan amal saleh, “…orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS Al Baqarah 2:82) “Dan katakanlah: Beramalah kamu, maka Allah akan melihat amalanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At Taubah: 105)

Alasan Keempat, Ustaz Fethullah Gulen berhasil menghimpun para pemuda yang setia, saleh, dan baik untuk berjuang bersamanya. Beliau membimbing, membentuk, serta mengarahkan mereka. Beliau acuan hidup mereka. Merekapun laksana benih unggul. Jadi, beliaulah tokoh perintis peradaban, tentunya bersama murid-muridnya karena suatu keberhasilan itu diraih dengan bekerjasama.

Sungguh kita membutuhkan sosok seperti beliau. Sosok yang sadar akan zaman, memiliki pemahaman yang dalam, iman yang kuat, serta kecintaan pada agama. Namun semua pencapaian itu beliau wujudkan bersama para muridnya. Maka dari itu beliau benar-benar pantas menyandang kemuliaan ini. Semoga Allah selalu menjaga mereka dari segala mara bahaya. Lebih dari itu, Ustaz Fethullah Gulen membangun generasi dengan pondasi seimbang. Beliau fokus pada pengembangan kualitas insan yang merupakan asas utama dibangunnya peradaban. Tidak mungkin suatu peradaban dapat dibangun dengan materi semata, melainkan perlu dibangun dengan asas manusia. Malik bin Nabi (Rahimahullah), tokoh ternama Aljazair, memiliki kesamaan pemikiran dengan Ustaz Fethullah Gulen (hafizahullah). Malik bin Nabi juga membahas tentang konsep peradaban. Diantara yang Malik bin Nabi sampaikan: “Manusia adalah asas utama terbentuknya sebuah peradaban.” Allah telah membukakan jalan bagi Ustaz Fethullah Gulen untuk fokus dalam membangun insan dari segi akidah, akhlak, kepribadian dan pemikiran dengan penuh keseimbangan. Fethullah Gulen adalah sosok beriman, saleh, berwawasan tinggi, serta memikul kegelisahan akan umat. Inilah sifat-sifat mencolok dari beliau. Semua itu terlihat pada pemikiran, rintihan air matanya, karya-karya tulisannya yang mencerahkan, serta tindakan-tindakannya juga pencapaiannya.

Sebenarnya gerakan Hizmet bisa dianggap sebagai “Sebuah Sekolah”. Sebagian orang berbeda-beda dalam menamakan gerakan ini. Sebagian menamakan gerakan Hizmet, yayasan Hizmet atau Hizmet saja. Tetapi saya lebih memilih menamakannya “Sekolah Hizmet”. (Poin Pertama) Pada dasarnya, gerakan yang kita banggakan ini merupakan pergerakan besar yang mengimplementasikan Islam pada masyarakat secara nyata. Di sisi lain, pemikiran serta teori sering kita temui dalam banyak buku, namun khususnya pada zaman ini, kita sangat membutuhkan sebuah teladan dan gambaran nyata pengaplikasian pemikiran tersebut. Hal inilah yang kita temui di gerakan atau sekolah Hizmet ini. Berdasarkan pengamatan kami, gerakan ini berjalan di atas landasan agama Islam yang sempurna. Landasan Islam inilah yang memberikan Hizmet kekuatan, kekokohan dan konsistensi dalam pencapaiannya.

Kemudian poin kedua, gerakan Hizmet berhasil mengimplementasikan nilai Islam secara menyeluruh. Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak mungkin sesuatu disifati paripurna kecuali jika ia memang telah sempurna. Allah SWT berfirman di awal surah Al Maidah: “Pada hari ini orang kafir telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu, maka dari itu janganlah takut kepada mereka melainkan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Ku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS Al Maidah 5:3) Oleh karena itu, Islam sudah sempurna secara akidah, ibadah, syariah, akhlak dan etika. Gerakan atau sekolah Hizmet melalui kerja kerasnya berhasil menyuguhkan kita sebuah teladan yang komprehensif. Mereka adalah orang-orang biasa, namun mereka tekun dan rajin, bekerja bagai lebah. Setiap orang di institusinya bekerja sesuai bidangnya dengan rajin laksana lebah dalam sarangnya untuk menghasilkan madu. Seperti itulah gambaran orang-orang Hizmet dan gerakan Hizmet. Sifat komprehensif pada Hizmet memberikannya kekuatan, integritas dan keseimbangan seperti yang telah kita saksikan, Alhamdulillah.

Poin ketiga, gerakan Hizmet bergerak tanpa tergesa-gesa. Hal ini sangat penting. Mereka berbuat dan bergerak dalam masyarakat di segala bidang, baik itu dibidang pendidikan, sosial, ekonomi, ataupun kesehatan. Pergerakan di segala bidang ini mengindikasikan adanya pemahaman dan kesadaran yang tinggi. Karakteristik mencolok pada Hizmet adalah ia bergerak di masyarakat dalam segala bidang dengan langkah-langkah perlahan yang membimbing dan terencana. Sifat ini terlihat sangat jelas pada Hizmet. Karakteristik lain pada Sekolah Hizmet adalah keberhasilannya mengangkat keterpurukan umat Islam saat ini. Seakan Hizmet berseru kepada seluruh umat Islam secara implisit: “Selamat datang wahai umat Islam, ambillah konsep terapan ini, jadikan ia jalan penerang kalian dan teruslah dikembangkan.” Iya, hal ini juga menjadi kekhasan Hizmet. Di setiap perkumpulan yang ada di dalamnya pemuda Hizmet, mereka senantiasa berkata: “Silahkan sampaikan saran kalian, serta pendapat kalian.” Sungguh ini teladan sangat baik.

Poin terakhir, telah terwujudnya sebuah pencapaian besar sebagaimana yang kita dengar yaitu diresmikannya channel Hira berbahasa Arab. Channel yang sangat dinanti-nanti dunia Arab.

***

Disusun kembali oleh Lismawati

david-werbrouck-5GwLlb-_UYk-unsplash

Penjelasan tentang Bagaimana Ketulusan Berhizmet Perlahan Pudar

Penjelasan tentang Bagaimana Ketulusan Berhizmet Perlahan Pudar


Ketulusan & sensitivitas yang amat kuat pada tahun-tahun pertama kita di dalam hizmet perlahan pudar seiring berubahnya status kita dari mahasiswa menjadi pekerja. Idealisme itu perlahan diganti urusan duniawi dan kekhawatiran akan situasi di masa depan. Bagaimana dan apa saja kriteria yang harus diambil agar bisa menjaga keseimbangannya?

Jika rekan-rekan bisa membagi tugasnya dan tetap membela agama Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal itu dan akan selalu menjaga mereka. Yang saya katakan ini bukanlah omong kosong ataupun basa-basi belaka. Bagi orang yang sudah ambil bagian, merasakan, dan melihat tugas dalam hizmet, jika mereka jemu ataupun bosan dalam tugasnya, jika mereka mulai lalai dan lebih condong pada urusan dunianya, jika urusan dunia itu muncul, sebagai misalnya tawaran gaji yang lebih menarik, muncul sebagai tawaran jabatan, muncul sebagai rasa takut, sebagai rasa malas dan nyaman dengan kesantaian. Jika sebelumnya dan hingga sekarang, mereka meyakini dan menjalankan idealisme hizmet, Allah akan menjadi saksi, sekali lagi kami mengingatkan Anda. Wallahi, demi Allah, saya memberi Anda jaminan. Anda tidak akan bisa tersenyum, dunia Anda akan hancur lebur tak keruan.

Dalam 24 jam ini, saya sendiri merasakan hantaman-hantaman dalam pikiran saya, seakan saya baru saja melakukan pembunuhan. Ketika saya sedikit membayangkan pembunuhan tersebut muncul keinginan untuk bersembunyi di dalam gua & sepenuhnya beribadah di sana. Seakan dihantamkan tinju “kamu adalah pengkhianat” ke wajahku. Seakan saya dihujat: “Bagaimana bisa kamu sembunyi di gua!”. Orang yang telah meninggalkan kecintaannya kepada hizmet iman dan Al Quran. Serta orang-orang yang mengejar dunia, mereka tidak akan bisa meraih dunia. Dunia ini penuh tantangan dan tak punya belas kasih. Berdasarkan peringatan dari Allah, larilah kalian sehingga dunia tak bisa menangkapmu. Akan tetapi, kejarlah mereka yang hendak melarikan diri darimu sehingga mereka tidak bisa lepas dari kalian. Mereka yang meninggalkan hizmet, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Mereka yang cenderung kepada dunia mereka akan merintih disebabkan oleh tingkah anak-anaknya, mereka akan merintih disebabkan oleh ujian dari rumah tangganya, mereka akan merintih disebabkan oleh penyakit dan bala yang menimpanya.

Namun, mereka tak akan bisa mendapatkan kembali hari-hari yang telah berlalu. Untuk apa saya menyampaikan poin-poin ini? Saya tidak berpikir bahwasanya  kata-kata saya bisa meyakinkan Anda. Saya juga tidak menuntut supaya Anda menerima penjelasan saya. Namun, saya memiliki pengalaman terkait hal tersebut. Saya pernah menyaksikan seseorang yang karena kesalahan kecilnya terpaksa menerima hantaman musibah ribuan kali lipat. Orang yang telah keluar dari dosa-dosa, terdapat tanda bahwasanya mereka tidak bisa disebut kafir ataupun murtad. Namun, setelah seseorang berhasil meraih puncak keikhlasan jika ia kemudian terperosok ke lembah kesalahan yang amat dalam, terdapat tanda dan indikasi bahwa mereka akan mengalami kehancuran. Mereka yang menemukan jalan kebenaran tetapi berlaku seakan belum menemukannya. Mereka terancam bahaya yaitu kehilangan hidayah yang telah mereka temukan itu. Dia terancam bahaya besar, yaitu oleh Allah dibuat lupa akan diriNya dan Rasulullah. Dari situ,

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

“Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu” (Q.S. Muhammad : 7).

Jika Anda menolong agama-Nya, maka Dia pun akan menolong Anda, takkan membiarkan kaki Anda tergelincir, serta membusuk oleh kemalasan dan kejenuhan dan semangat Anda berhizmet terus menyala. Mereka yang melarikan diri dari hizmet sebenarnya berlari menuju bencana. Simaklah nasihat Qurani di dalam Masnawi Nur: Jika kamu ingin melarikan diri, maka larilah menuju Allah. Carilah Dia! Ikutilah Dia di setiap tempat, carilah jalan untuk menemukan-Nya.