Desain tanpa judul

Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Sya’ban, Ramadhan)

“Waktunya Mendengarkan Ruh Kita: Tiga Bulan Suci (Rajab, Syaban, Ramadhan)”

Tanya: Untuk bisa mendengarkan gairah tiga bulan suci di dalam jiwa kita, serta agar kita dapat memanfaatkan secara maksimal amosfer maknawi dan rohani tiga bulan suci tersebut, apa saja nasihat dari Anda?

Jawab: Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan, perlu saya sampaikan kembali bahwasanya pada tiga bulan suci ini manusia memiliki kesempatan terbaik untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT, meraih rahmatNya yang luas, melepaskan diri dari cengkeraman dosa dan melakukan perjalanan ruh dan kalbu di dalamnya. Dalam usaha tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, untuk mentarbiyah ruh dan membersihkan kalbunya, manusia memang pada dasarnya membutuhkan sebuah periode rehabilitasi samawi setiap tahunnya. Tiga bulan yang penuh berkah ini merupakan periode waktu paling penting dalam usaha rehabilitasi  tersebut.

Tidak ada keraguan bahwasanya manusia memerlukan tafakkur dan tazakkur yang amat serius agar dalam periode waktu yang penuh berkah ini mereka dapat meninggalkan beban jasmani dan nafsu syahwatnya sehingga mereka pun bisa berhasil naik ke ufuk yang lebih tinggi. Namun ketika melakukannya, mereka harus senantiasa membuka kalbu dan ruhnya ke sisi maknawi. Maksudnya, ia di satu sisi dengan akal dan pikirannya harus berusaha memahami topik-topik seputar iman dan Al Quran lewat aktivitas muzakarah; di sisi lainnya, ia juga harus berusaha meraih tetes demi tetes hujan maknawi yang sedang turun dengan derasnya dalam periode waktu yang penuh keberkahan tersebut.

Tawajjuh Ilahi Harus Dibalas dengan Tawajjuh Lagi

            Betapa banyak tokoh agama yang menggambarkan keutamaan periode waktu ini dengan berbagai penjelasannya yang indah. Betapa banyak ungkapan yang mereka gunakan untuk menarik hati kaum yang beriman agar bersemangat meraih banyak keutamaan dalam tiap siang dan malam yang mengiringinya. Agar mampu mendengar serta memahami keberadaan dan keutamaan dari tiga bulan yang penuh berkah ini, adalah sangat penting bagi kita meluangkan waktu  untuk menganalisis karya-karya para ulama besar yang mengulas keutamaan bulan-bulan ini, lalu mencerna setiap kata yang digunakan di dalamnya dengan metode muzakarah. Ya, agar kita mampu mengambil manfaat secara maksimal dari karya-karya tersebut, kita harus menjauhi cara membaca biasa yang hanya menampakkan permukaannya saja; kita harus mengetahui cara membuka kedalaman setiap topik yang dibahas di dalamnya. Jika jiwa dan pikiran kita tidak dipersiapkan,  tidak mungkin kita dapat meraih manfaat maksimal dari setiap pembahasan yang kita baca dan dengarkan seputar kemuliaan tiga bulan ini.

            Selain itu, untuk dapat merasakan kelezatan dan keindahan khusus yang dimiliki periode waktu ini secara sempurna di dalam hati kita, di awal kita harus  mengetahui dan menyadari bahwa tiga bulan mulia ini adalah “bulan-bulan ghanimah”, lalu diikuti dengan tekad untuk tidak menyia-yiakan setiap detik yang berlalu dalam siang dan malamnya. Misalnya, bagi mereka yang tidak bertekad untuk menemui Tuhannya di waktu sepertiga malam terakhir serta bagi mereka yang tidak meneguk kesadaran untuk memuliakan waktu malamnya; tidak mungkin mereka dapat merasakan dan menikmati keindahan mendalam yang mengiringi tiga bulan mulia ini. Ya, jika mereka memasuki bulan-bulan mulia ini dengan tegangan metafisik yang tinggi; tidak menyerahkan dirinya dalam suatu penghambaan yang serius; dan tidak menyeburkan diri ke dalamnya; walaupun keutamaan yang dibawa oleh bulan mulia ini ditumpahkan seperti gelas penuh berisi air yang dibalik, mereka tidak akan mampu mendengar dan merasakannya. Bahkan mereka bisa menganggap orang-orang yang sibuk mengumpulkan dan meraih keutamaan bulan mulia ini sebagai fantasi belaka.

            Ya, kemampuan mendengar ilham yang mengalir dengan derasnya di hari-hari yang penuh berkah tersebut sangat berkaita dengan sejauh mana kita meyakini dan bertawajjuh kepadanya. Karena tawajjuh harus dibalas dengan tawajjuh lagi. Jika Anda tidak bertawajjuh atau mengalihkan pandangan kita kepada ruh dan makna dari bulan-bulan yang istimewa ini, mereka pun tidak akan membukakan pintunya kepada Anda. Bahkan ungkapan dan penjelasan terbaik seputar keutamaan tiga bulan mulia ini pun bisa jadi hanya bernilai seperti seonggok jasad tak bernyawa nan redup tak bercahaya di mata Anda. Penjelasan Ibnu Rajal al Hanbali yang menyentuh dawai hati ataupun penggambaran Imam Ghazali yang mengguncang kalbu pun akan memberi efek kebalikan di hati Anda. Mungkin Anda akan mengatakan:”Ngomong apa sih mereka?!” lalu pergi dan mengabaikannya. Karena kekuatan pengaruh dalam setiap kata, selain bergantung pada nilai yang dibawa oleh pilihan katanya, juga dipengaruhi oleh perspektif, niat, sera keterbukaan pikiran dan perasaan pendengarnya terhadap masalah yang dibahas.

            Dengan demikian, umat manusia harus menyadari pentingnya tiga bulan tersebut, sampai-sampai mereka pun berubah menjadi bulan rajab, syaban, dan ramadhan itu sendiri. Demikian sempurnanya mereka melebur di dalamnya, sehingga mereka pun mampu mendengar apa yang dibisikkan bulan suci ini kepada jiwa manusia. Jika tidak maka Anda tetap menjadi Anda yang tidak berkembang, tidak mampu melepaskan diri dari superfisial; kata penjelasan dan pembahasan terbaik seputar keutamaan bulan mulia nan agung ini pun hanya akan masuk ke telinga kanan, dan keluar lewat telinga kiri Anda. Mereka yang tidak menghormati bulan ini; mereka yang tidak memiliki semangat dan tekad untuk memperbaharui diri mereka di musim ghanimah ini; mereka yang tidak mampu menangkap keseriusan dalam setiap sikap dan perilakunya; mereka yang demikian akan sulit mendapat manfaat dan kemuliaan dari bulan-bulan yang mulia ini.

Program-Program yang Cocok diadakan di Waktu Mulia ini

            Terkait topik ini, terdapat sisi dimana ia diterima oleh pandangan masyarakat secara umum. Adalah sebuah fakta bahwasanya kedalaman dan keluasan makna dari bulan-bulan mulia ini hanya bisa didengar serta dirasakan oleh ufuk ruh dan kalbu yang secara istimewa dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Namun, juga merupakan sebuah kenyataan bahwasanya masyarakat secara umum juga menyambut serta mengagungkan berkah dan nilai dari bulan-bulan mulia ini, dimana mereka berbondong-bondong ke masjid dan mengarahkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyambut kedatangannya.  Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, penyelenggaraan berbagai program dan aktivitas di bulan-bulan mulia ini dapat dijadikan sebagai sarana penting dalam usaha menyampaikan pesan Ilahi  ke dalam hati manusia. Program dan kegiatan yang sesuai dengan nafas agama dapat diselenggarakan untuk mengisi malam-malam mulia seperti Ragaib, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar. Lewat jalan tersebut, kita bisa memaksimalkan malam-malam tersebut sebagai sarana untuk memperdengarkan hakikat agama ke setiap kalbu dan mendekatkan umat manusia kepada Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana hakikat ini bisa disampaikan kepada hati manusia lewat beragam program yang diselenggarakan di masjid, ia pun bisa disampaikan dengan berkumpul dan menyelenggarakan berbagai majelis sohbet dan muzakarah di tempat-tempat lainnya. Dengan jalan demikian, tawajjuh serta harapan orang-orang beriman untuk bisa meraih keberkahan dan keutamaan di bulan-bulan mulia ini bisa difasilitasi dengan tepat.

            Sebelumnya, jika diperkenankan, saya ingin menarik perhatian Anda terkait satu hal yang saya pandang penting terkait dengan penyelenggaraan program di waktu-waktu mulia tersebut. Visi dari setiap program yang kita fasilitasi haruslah bertujuan untuk membuat pikiran dan perasaan manusia selangkah lebih dekat kepada Penciptanya. Jika program-program yang mana kita disibukkan dengannya tersebut tidak menjadikan kita sebagai pemandu bagi tercapainya tujuan tersebut, artinya kita sedang sibuk dengan hal-hal hampa dan tak berarti. Ya, jika program-program yang kita selenggarakan tidak menyampaikan hakikat dari Sang Pencipta, jika ia tidak membuat orang-orang selangkah lebih dekat dengan Junjungannya shallallahu alayhi wasallam; bahkan jika ia hanya dirancang untuk memuaskan nafsu manusia belaka supaya dikatakan: “betapa indahnya waktu yang kita habiskan disini,” bisa jadi kita telah menyia-nyiakan waktu, bisa jadi kita berdosa karenanya. Semua jalan yang tidak mengantarkan pejalannya menuju Allah subhanahu wa ta’ala da dan  Junjungan kita shallallahu alayhi wasallam adalah ‘penipuan.’ Dan memang tugas dan pekerjaan dari mereka yang kalbunya beriman bukanlah untuk menghibur orang-orang dengan festival belaka.

Sebagai tambahan, perlu untuk disadari bahwa orang-orang di zaman modern ini mempunyai gaya hidup yang condong pada program yang bersifat hiburan. Untuk alasan ini, respon positif mereka bisa jadi menipu. Dengan melihat respon positif mereka, bisa jadi Anda berpikir telah melakukan pekerjaan yang baik. Padahal kriteria utama kita bukan sekadar pada bagaimana membuat mereka senang, melainkan apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kriteria Al Quran dan sunnah atau belum. Berkenaan dengan hal ini, meskipun acara-acara tersebut nantinya tidak didatangi banyak orang, Anda harus selalu mengejar kebenaran. Dengan kata lain, hal yang paling penting tidak terletak pada pujian dan tepuk tangan orang-orang. Melainkan apakah program tersebut berisi hal-hal yang berarti bagi perkembangan kehidupan spiritual kita atau tidak.

Pada waktu yang penuh berkah ini, ketika langit dipenuhi anugerah dan di bumi terhampar hidangan-hidangan langit, kita haruslah terus menunjukkan kepada orang-orang jalan untuk memperdalam dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual mereka; kita harus mengejar tujuan ini di setiap hal dan program yang kita selenggarakan. Kita harus mampu menyampaikan arti dan semangat baru pada orang-orang setiap saat. Dengannya kita membantu mereka mengibarkan layar perahunya untuk mengarungi cakrawala maknawi tanpa batas.

Untuk mewujudkannya, barangkali nasyid, syair, kasidah, dan puji-pujian kepada Allah dan RasulNya bisa disenandungkan. Komposisi dan melodi baru pun bisa diciptakan. Apapun itu, yang terpenting kita harus selalu memicu kerinduan akan kehidupan abadi yang bahagia pada semua peserta yang hadir ke program-program kita. Tak cukup dengan itu, kita juga harus menghembuskan rasa khawatir akan kehilangan kebahagiaan abadi tersebut. Pada kesimpulannya, kita harus senantiasa memberi pengingatan dan peringatan pada ruh spiritual setiap insan yang menjadi lawan bicara kita.

Akhirnya, masjid-masjid, jamaah-jamaah, hari-hari jumat, malam-malam di bulan rajab, syaban, dan ramadhan, malam ragaib, isra mikraj, nisfu syaban, nuzulul quran, dan lailatul qadar harus menjadi sarana bagi kita untuk mengarahkan umat manusia bertawajjuh kepada Allah  subhanahu wa ta’ala. Semua kegiatan yang disusun di waktu-waktu yang suci ini, harus diarahkan untuk mewujudkan tujuan mulia dan agung tersebut.

(Diterjemahkan dari ‘Ruhumuzu Dinleme Zamani:

Uc Aylar’ dari buku Kirik Testi 13: Mefkure Yolculugu)

oase air wudu

OASE AIR WUDU

Para pembaca yang terhormat, ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat. Kunci untuk membuka pintu ibadah shalat adalah persiapan ruhani serta persiapan jasmani, yaitu dengan berwudu. Mengambil wudu merupakan penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya, dan mengembangkan sisi kemalaikatan.

Berwudu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana tersebut memiliki penjelasan secara ilmiah, demikian juga dengan wudu, ia membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siap menerima berbagai anugerah Ilahi.

Penyucian dengan level dan kualitas semacam ini akan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin’ “, umat Muhammad akan diseru sebagai Ghurran Muhajjaliin. Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Mereka adalah orang-orang  yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, hakikat cahaya yang muncul dari anggota wudu ini adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW.

 

  • Ringkasan dan ikhtisar segala penghambaan yang kita lakukan kepada Allah adalah shalat
  • Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi
  • Ghurran Muhajjaliin adalah orang-orang yang dahinya cemerlang menyebarkan cahaya ke sekelilingnya dari anggota wudu

 

Anggota wudunya bercahaya. Di satu sisi  sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudunya jadi cemerlang karena bekas wudu, barangsiapa hendak menambah cahayanya, hendaklah ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan secara lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Suatu ketika Rasulullah mengajak sahabat untuk pergi ke Baqiul Gharqad, sejarawan mengungkapkan bahwa terdapat 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini. Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu saat memasuki Baqiul Gharqad, “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini! InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!”. Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya.

Saat itu tampaknya terjadi musyahadah, pandangan Rasulullah SAW lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian melalui bibir mulianya beliau berkata, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami ini saudaramu ya Rasulullah?”, “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih, saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”, jawab Nabi. Kemudian para sahabat bertanya dengan heran, “Bagaimana anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang?”, baginda Nabi bersabda, “Bayangkan, jika seorang laki-laki memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang, kakinya jenjang dan berwarna putih bersih, jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?”, “Tentu” jawab sahabat.

 

  • Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya, beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud
  • Barangkali karena keagungan dan ketinggian derajat baginda Nabi di akhirat nanti, beliau tak bisa menemui mereka hingga kiamat tiba. Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia.
  • “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku,” “saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku”

 

Rasululllah bersabda, “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”, aku akan melihat mereka saat berjalan ke hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya. Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya. Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya. Aku adalah farat haudh dari mereka. Akulah yang paling dahulu menuju haudh! Makna dari Farat adalah “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya sebagaimana tuan rumah menjamu tamu. Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti.” Kurang lebih seperti itulah yang ingin disampaikan Rasulullah.

“Akulah farat dari umatku di Haudhku”. Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya. Akulah farat dari mereka yang berwudu di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya. Akulah farat bagi mereka, umatku  yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudunya ketika banyak orang terusir dari haudhku. “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya, kepada merekalah aku memberi syafaat! Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku.” Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan baginda Nabi, tetapi dikarenakan oleh wudu dan shalatnya, karena senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri.

Kepada orang-orang yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut, maka ketika Nabi menemui penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan mengirimkan salam kerinduan, “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad, seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian dengan jasmaninya. Sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya seperti panggilan terakhir dari komandan tertinggi kepada umatnya, “Bersiap siagalah!”

 

  • Aku akan menyaksikan anggota wudu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya
  • “Akulah farat dari umatku di Haudhku”
  • Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca

 

Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya, memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya, beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku.” Para pembaca yang budiman! Ini adalah isytiak dari baginda Nabi, sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan  sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya.

Apakah anda merindukan kami ya Rasulullah? Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringat kami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai mulianya hati sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu. Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah, ketika kita mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam maka kita telah menjawab salam Nabi tersebut. Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,”  kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah.

 

  • Isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudu agar ia bersinar di akhirat
  • Saat baginda Nabi bersabda “Assalamu’alaikum,” kita menjawab: “Wa’alaikum salam” lewat ketaatan beribadah kita
  • Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat baginda Nabi.

 

Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut, masjid menjadi sarana agar  tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar menjadi sarana agar nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Ka’bah dan menziarahi makam baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Ya Allah, jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut[1]. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.

 

[1] Alam Lahut adalah salah satu istilah pembagian alam dalam ilmu sufi, ia adalah alam ghaibul ghaib yang maksudnya ialah alam yang lebih bersifat ghaib di dalam ghaib.