mengembangkandiri.com friends-3408314

SAHABAT DAN TEMAN MENURUT HADIST

Jika kita perhatikan hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kita bisa melihat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat memerhatikan persahabatan dan pertemanan. Seorang mukmin dengan saudaranya, harus rida terhadap persahabatan mereka. Yang artinya, ia harus mampu mencintai saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan oleh karenanya mereka membangun persahabatan dan persaudaraan. Didalam salah satu hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam disebutkan :

”Tali iman yang paling kuat adalah bersahabat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bermusuhan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan juga cinta karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan benci karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Pada kenyataannya, persahabatan yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berlanjut hingga berabad-abad, sebaliknya jika persahabatan di dasari oleh landasan untuk saling memanfaatkan maka persahabatan itu bisa kandas di dunia ini. Orang yang saling mencintai dan bersahabat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan ada rasa untuk saling memanfaatkan sama sekali, dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Az-Zukhruf, 43/67)

Jelas bahwa pertemanan yang dilakukan selain dari cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka di akhirat kelak akan menjadi musuh yang nyata.

Disamping itu tidak ada naungan selain naungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, di padang mahsyar salah satu dari mereka yang akan mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah “Orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala” yang di nukilkan di dalam hadist berupa penghargaan bagi mereka yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang mukmin harus membangun persahabatan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan seorang sahabat akan membawa sahabatnya untuk saling mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena persahabatan yang terbaik adalah persahabatan yang membawa kita untuk mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadist-Nya menjelaskan sebuah persamaan yang memukau tentang sahabat :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”.

Hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya” yang menganjurkan kita agar lebih berhati-hati dan memperhatikan ketika memilh teman. Karena teman yang baik akan membawa kita ke surga dan teman yang buruk akan membawa ke neraka.

Persahabatan seperti dua tubuh yang bekerjasama dalam satu roh. Teman dan sabahat adalah modal dunia dan akhirat kita. Mereka merupakan nilai-nilai berharga untuk memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadist-Nya menjelaskan tentang hal ini :

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah Ta’ala terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Ta’ala. ” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih. ”Dan beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

reborn

Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat

“Rasa dari Iman: Membarui Iman Layaknya Para Sahabat”

Akhir dari berbagai deformasi dan laku korupsi di atas muka bumi bergantung pada bagaimana kita bisa menemukan identitas diri yang sejati. Tanpa mengubah diri sendiri, tak ada manfaatnya kita menunggu orang lain untuk berubah. Dapat saya katakan dengan pertimbangan penuh harapan bahwasanya kita sudah memulai langkah tersebut. Akan tetapi, kita belum membuat perkembangan yang berarti. Usaha kita masih belum selesai.

Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair: ”Aku belajar di sekolah cinta bersama Majnun. Aku telah mengkhatamkan seluruh isi Al Quran tetapi ia hanya bisa sampai di Surat al Lail”

Dengan kata lain:”aku telah meraih tujuanku tetapi si Majnun mandek dan tak henti berucap: “Kekasihku Laila, Kekasihku Laila, Kekasihku Laila”.

Rekonstruksi dunia secara menyeluruh menjadi koridor surga adalah sumber harapan bagi banyak manusia.  Di satu sisi, adalah sangat penting untuk memiliki cita-cita dan tujuan yang patut ditiru tersebut. Saya yakin, tidak ada pihak lain yang memiliki cita-cita seagung itu. Saya tidak bisa memaksudkannya ke level kepemilikan dan berkata: “Anda memiliki cita-cita ini, gerakan itu memiliki cita-cita ini, komunitas ini memiliki cita-cita ini..” Karena itu hanya akan menjadi pernyataan tanpa dasar. Tetapi jika saya tidak mengatakannya, maka hal itu seperti mengingkari anugerah suci dari Allah SWT.

Segala macam perkembangan asalnya dari Fadilat, Karim, Tawajuh, dan Kehendak Agung Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah dicapai adalah referensi tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang. Kita harus meyakininya dan selalu berjuang untuk memperbaharui diri.

Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Quran) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya!” (QS An Nisa 4:136)

Ayat ini berbunyi: ”Wahai orang-orang yang beriman!” Ayat ini tidak berbunyi: ”Wahai orang-orang yang tidak beriman, munafik, pendosa, lagi fasik!” Dan secara gramatikal ayat ini berkata: ”wahai orang-orang yang senantiasa berada dalam keimanannya.” Di satu sisi, ayat ini merujuk kepada mereka yang senantiasa memperbaharui keimanan agar selalu ada dalam kesadarannya secara kontinu, yang senantiasa berlari untuk membuktikan keimanannya. Mereka melubangi hati mereka dengan makrifatullah. Mereka bergerak dengan khusyuk dan penuh rasa takut kepada Rabbnya. Dengan menggunakan akal pikiranmu di jalan ini dan mengarahkannya ke pemikiran positif, datang dan berimanlah sekali lagi.

Para sahabat memahami dengan baik ayat ini dan sering kali menyeru orang-orang yang mereka temui di pinggir jalan: “Datanglah! Mari bersama-sama memperbaharui keimanan kita kepada Allah!” Para sahabat beriman dengan level yang jauh di atas level iman kita. Mereka beriman seakan-akan telah menyaksikan Allah SWT. Mereka menunjukkan laku yang mengisyaratkan ketinggian level ihsan mereka.  Rasulullah telah menjadi contoh bagi mereka. Mereka membentuk dirinya dengan mencontoh akhlak Baginda Nabi.

Mereka mencontohnya di segala aspek. Apa yang dia lakukan, bagaimana beliau bersemangat menyebarkan pesan Tuhan, menumpahkan air mata, bagaimana menyungkurkan kepalanya di atas tanah untuk bersujud bermenit-menit, mereka berusaha mengopi Rasul SAW, mereka ada di jalannya. Berusaha menjadi seperti dirinya, berusaha untuk layak menjadi sosok disisinya, berusaha menjaga kualitas dirinya, atas izin dan inayah Allah.

Usaha ini terus berlanjut hingga waktu tertentu. Beliau SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

 “yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang hidup di masaku (para sahabat). Lalu yang mengikuti mereka (Tabiin), lalu yang mengikuti mereka yang mengikut sahabatku (tabiut tabiin)[1].”

Masa terbaik adalah masa dimana banyak terdapat manfaat buat umat manusia, masa yang paling dirindukan adalah masaku. Lalu masanya para tabiin, dimana mereka masih mengikuti jalan kenabian yang terang benderang. Dia adalah Qamari Munir (Bulan Yang Cemerlang). Ustaz menggunakan istilah ini untuk mengagungkannya. Sahabatnya adalah lingkaran cahaya yang mengitarinya.

Lewat sabdanya ini Baginda Nabi mendorong umat manusia untuk mengikuti jalan para sahabatnya. Baginda Nabi bersabda:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Sahabatku bagaikan bintang gemintang. Siapa pun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing ke jalan kebenaran.[2]

Mereka seperti bintang gemintang yang mengitari matahari ataupun tata surya. Khususnya para khulafaur rasyidin.

Oleh karenanya, para sahabat adalah representasi murni dari Islam yang menampilkan sinar iman di jalan hidup yang mereka tempuh. Mereka yang mengikuti para sahabat secara otomatis berarti mengikuti jalannya Sang Nabi, dan membentuk dirinya sesuai dengan yang diarahkan sang Nabi. Mereka senantiasa mengecek apakah ada laku mereka yang bertentangan dengan arahan Nabi dan menyetel ulang kehidupannya secara kontinu.

Mereka berkata: Inilah yang dikerjakan oleh para sahabat, dan mereka pun menjunjung tingginya. Mereka membentuk detak dunia kalbunya sesuai dengan ritme yang dihentakkan oleh para sahabat.  Ketika Anda menjauhi jalan para sahabat, perlahan Anda pun dijauhkan dari cahaya sucinya. Mungkin cahayanya tidak benar-benar padam. Tetapi ia tidak mengeluarkan radiasi sekuat sebelumnya.

Di masa tabiut tabiin dan di masa-masa setelahnya, menyebar berbagai macam pemikiran dan ideologi aneh yang sanggup membuat perut kita mual: Neo Platonism, Pemikirannya Sokrates, Aristoteles, dan Filsafat Yunani membangun jalannya menuju pemikiran suci dunia intelektual kita. Mereka mulai menimbulkan kesakitan di dunia intelektual kita.

[1] HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533.

[2] `Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.

Lokasi Kejadian Bi'ru Maunah

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Bi’ru Ma’unah dan Para Sahabat yang Mati Syahid

Tahun Kenabian           : 17
Tahun Hijriah                : 4
Bulan                                 : Safar
Hari                                    : –
Hari dalam Minggu     : –

Di bulan Safar tahun keempat Hijriah datang seorang pemuka kabilah Banu Amir bin Sa’sa yang bernama Abu Barra’ Amir bin Malik ke kota Madinah. Rasulullah SAW menjelaskan tentang Islam dan mengajaknya untuk menjadi seorang muslim. Namun Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan penolakan terhadap ajakan tersebut. Ia tampak bimbang dan ragu. Mungkin Ia membutuhkan wakt. Walaupun Ia tidak mengatakan “Aku menerima” namun Ia menginginkan agar orang-orang terdekatnya bertemu dengan agama yang di bawa Rasulullah SAW ini. Oleh karenanya Ia mengatakan :

“Wahai Rasulullah, jika seandainya engkau mengutus sahabat-sahabatmu kepada penduduk Najd untuk menjelaskan Islam, Aku merasa mereka akan menyambut ajakan ini.”

Rasulullah SAW berkata : “Aku khawatir penduduk Najd akan berlaku buruk terhadap mereka”. Lalu Amir bin Malik menjawab :

“Aku yang akan menjamin (keamanan) mereka. Kirimlah mereka untuk mengajak kepada Islam.”[1]

Sikap umum yang di ambil Rasulullah SAW adalah memanfaatkan segala kesempatan dan mengetengahkan segala usaha untuk menjelaskan sesuatu (Islam) kepada seluruh manusia. Disamping itu hingga hari ini kabar yang datang ke madinah dari daerah tersebut menjelaskan tentang masalah dari segi keamanan yang di hadapi oleh muslim-muslim yang menetap disana. Bahkan kabilah-kabilah seperti Ri’l, Zakwan, Usayyah dah Lihyan mengirimkan kabar dan tentang masalah keamanan ini mereka meminta bantuan dari Rasulullah SAW.[2]

Setelah itu Rasulullah SAW memilih 70 orang sahabat agar berangkat ke penduduk Najd untuk menjelaskan Islam didaerah tersebut. [3] juga dititipkan surat untuk diberikan kepada para pembesar kaum ditempat-tempat yang mereka singgahi. Selanjutnya Munzir bin Amr r.a di ta’yin sebagai pemimpinnya.[4] Semua yang dipilih adalah para sahabat yang sangat bagus pemahamannya terhadap Firman Allah dan Hadis Rasulullah SAW. Mereka adalah para Qari dari Ashabus Suffah.[5]

Setelah melakukan perjalanan mereka tiba di sebuah tempat untuk istirahat, tempat tersebut bernama Bi’r Ma’unah. [6]  Amr bin Umayyah r.a dan Munzir bin Amr r.a memperistirahatkan unta mereka dan membiarkannya untuk mencari makan.[7] Saat itu juga mereka ingin mengirim surat-surat yang diberikan Rasullah SAW kepada orang-orang yang di tuju. Kemudian Haram bin Milhan r.a dengan dua orang sahabat bersedia untuk mengirim surat tersebut.

Pertama sekali mereka memberikan kepada Amir bin Malik dan Ia pun membaca suratnya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kepada keponakannya yang bernama Amir bin Tufail. Ketika mendekati kediaman Amir, Haram r.a mengatakan kepada dua orang sahabat yang bersamanya :

“Kalian tetaplah berada disini sampai Aku berada disisi mereka! Jika mereka memberikan keamanan kepadaku maka kalian akan mengetahuinya; akan tetapi jika mereka membunuhku, maka segeralah pergi dan kabari kepada para sahabat-sahabat yang lain.”

Kemudian Ia berjalan sendiri. Setelah tiba di hadapan Amir bin Tufail Ia memberikan surat Rasulullah SAW dan mengajak mereka masuk islam. Amir yang menerima surat dari Rasulullah SAW, tanpa membaca surat tersebut Ia langsung memberikan perintah untuk membunuh Haram. Setelah itu Jabbar bin Sulma mengambil tombak dan menusukkannya dari belakang. Utusan Rasulullah SAW tersebut bersimbah darah, tombak yang menusuk dari belakangnya menembus dadanya.  Haram megusap wajahnya dengan tangan yang penuh darah, dan diwaktu itu juga ketika sedang menangani ujung tombak yang ada di dadanya, dengan hati yang senang Ia mengucapkan kata-kata yang mengambil perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya :

“Allahu Akbar! Aku bersumpah kepada Rabbnya Ka’bah bahwa Aku telah selamat!” [8]

Haram bin Malik r.a syahid dengan seketika. Namun kebencian Amir bin Tufail tidak bisa di tenangkan dengan mudah. Ia memerintahkan kepada kabilahnya (Banu Amir) untuk menuju kepada para sahabat yang lain. Akan tetapi Banu Amir tidak menuruti permintaan tersebut karena janjinya Amir bin Malik kepada Rasulullah SAW.

Oleh Karena itu Amir bin Tufail meminta bantuan kepada kabilah Usayyah, Ri’l, Kare dan Zakwan untuk menyerang utusan Rasulullah SAW. Mereka menerima ajakan tersebut dan mengepung para sahabat.

Sahabat-sahabat yang melihat mereka mengatakan :

“Wallahi Kami tidak memiliki urusan dengan kalian! Kami hanya berangkat untuk melaksanakan tugas yang di berikan Rasulullah SAW. Kami adalah utusan Rasulullah SAW.”

Akan tetapi mereka adalah para bandit yang telah merah matanya  dan tidak mau mendengarkan apapun lagi sehingga dengan segala rasa kebencian itu juga mereka menyerang para sahabat Rasulullah SAW. Di tempat yang tidak ada keseimbangan kekuatan ini para sahabat yang dipilih khusus untuk menyampaikan pesan Allah SWT dan Rasulullah SAW, pesan yang memberikan kehidupan. Ya, walaupun mereka ingin melakukan pertahanan namun hingga akhirnya semuanya di hunus pedang dan mati syahid  kecuali Amr bin Umayyah r.a.[9]

Para Syahid Bi’ru Ma’unah

Berikut adalah beberapa nama para sahabat dari 69 sahabat “Qurra” pilihan Rasulullah SAW dari Ashabus Suffah yang dikirim untuk menyampaikan pesan-pesan universal islam ke kabilah Najd dan di jebak di Bi’ru Ma’unah hingga mati syahid :

Munzir bin Amr al-Ansari r.a,

Aus bin Muaz bin Aus al-Ansari r.a,

Hakam bin Kaysan al-Mahzumi r.a,

Haris bin Simmah al-Ansari r.a,

Sahl bin Amir al-Ansari r.a,

Pamannya Sahl bin Amr r.a,

Haram bin Milhan r.a,

Saudaranya Sulaim bin Milhan r.a,

Urwah bin Asma’ bin Salt as-Sulami r.a,

Nafi’/Rafi’ bin Budail bin Warqa’ al-Huzai r.a,

Amir bin Fuhairah r.a,

Qutbah/Dahhak bin Abdu Amr bin Mas’ud r.a,

Malik bin Sabit al-Ansari r.a,

Saudaranya Sufyan bin Tsabit al-Ansari r.a,

Mas’ud bin Sa’ad bin Qais r.a,

Muaz bin Mais/Nais r.a,

Munzir bin Muhammad r.a,

Abu Syaikh/Ubay bin Tsabit r.a,

Abu Ubaidah bin Amr r.a,

Abu Amr bin Ka’ab bin Mas’ud r.a,

Ubay bin Muaz bin Anas r.a,

Saudaranya Anas bin Muaz bin Anas r.a,

Basyir al-Ansari r.a,

Tsabit bin Khalid r.a,

Khalid bin Tsabit r.a,

Khalid bin Ka’ab bin Amr r.a,

Ri’ab bin Hunaif bin Ri’ab r.a,

Sa’ad bin Amr bin Saqf r.a,

Anaknya Tufail r.a,

Sufyan bin Khatib bin Umayyah r.a,

Suhail bin Amir bin Sa’ad al-Ansari r.a,

Aiz bin Mais bin Qais r.a,

Ubadah bin Amr r.a,

Abdullah bin Qais bin Sirmah r.a,

Atiyyah bin Amr al-Ansari r.a,

Al-Muttalib as-Sulami r.a,

Mas’ud bin Khalid r.a


[1] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabari, Tarikh 3/85, 86; Wakidi, Maghazi 261; Tabrani, Kabir 20/356 (841)

[2] Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064)

[3] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12088); Baihaqi, Kubra 9/377 (18822); Waqidi, Maghazi 261; Tabari, Tarikh 2/86. Ada yang mengatakan 40. Lihat. Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357(841)

[4] karena Munzir r.a adalah seseorang yang terbakar dengan keinginan untuk mati syahid, maka hari itu untuknya di sebut Mu’iqu li Yamuta, yang artinya orang yang menyerahkan dirinya untuk mati. Lihat Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hajar, Isabah 6/217 (8230)

[5] Bukhari, Maghazi 28; Muslim, Masajid 54; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119, 141 (12064, 12087); Waqidi, Maghazi 261.

[6] Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262.

[7] Waqidi, Maghazi 262

[8] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 20/420 (13195); Nasa’I, Kubra 7/367 (8239), 9/377 (18823); Tabrani, Kabir 20/357 (841); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86. Haram bin Milhan, merupakan saudara dari (Ibunda Kita) Ummu Sulaim. Lihat, Baihaqi, Sunan 9/225; Ibnu Abdilbarr, Isti’ab, 1/337.

[9] Bukhari, Maghazi 28; Ibnu Hanbal, Musnad 19/119 (12064); Tabrani, Kabir 6/125 (5724), 20/357 (841); Baihaqi, Kubra 2/284 (3096); Ibnu Hisyam, Sirah 2/117; Waqidi, Maghazi 262; Tabari, Tarikh 3/86.

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a Masuk Islam

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a Masuk Islam

Tahun Kenabian          : 1
Tahun Hijriah               : -1
Bulan                                : Tidak di ketahui
Hari                                   : Tidak di ketahui
Hari dalam Minggu    : Tidak di ketahui

Sayyidina Waqid bin Abdullah r.a masuk Islam sebelum masuk ke dalam Darul Arkamnya Rasulullah SAW.[1]

 

[1] Ibnu Sa’d, Tabaqat 3/298; Ibnul Asir, Usdul Ghaba 5/403; Ibnu Abdilbarr, Istiab 4/1550