Mengembangkandiri.com (4)

BERPIKIR POSITIF DAN BERSYUKUR DI TAHUN BARU

Menjelang akhir tahun, saya mengajak keluarga untuk rekreasi. Mumpung liburan, kami ingin menikmati udara segar tanpa polusi. Duduk santai sambil berteduh di bawah pohon nan rindang. Karena udara di Jakarta yang panas, membuat kami mencari tempat yang sejuk dan dingin.

Kami memutuskan untuk pergi ke tempat wisata alam. Daerah pegunungan, hutan, atau taman perkebunan menjadi pilihan. Namun, dari rumah kami yang di pinggiran Jakarta, tak ada banyak pilihan. Berdasarkan info yang kami peroleh, ada sebuah tempat wisata keluarga yang baru saja dibuka. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Berada di perbatasan kota Depok dan Bogor. 

Kami lihat lokasinya di google. Gambar-gambarnya sangat meyakinkan. Tempatnya sesuai dengan yang kami inginkan. Asri, hijau, sejuk, dan menyegarkan. Ada jejeran pohon rindang, hamparan rerumputan luas, danau dengan sepeda bebek di atasnya, dan kolam renang untuk anak-anak.

Terlintas di benak suasana tenang yang menentramkan. Gemericik air, semilir angin, dan cicitan burung kecil nan merdu terngiang di kepala. Saya membayangkannya sambil menyiapkan buku untuk dibaca. “Ini tempat yang tepat untuk membaca, merenung dan merefleksikan diri di akhir tahun,” pikirku.

Esok harinya, kami berangkat agak sedikit siang. Kami berpikir tempatnya akan sepi. Belum banyak orang yang tahu tempat ini, karena tempatnya masih baru. Ternyata kami salah. Setibanya di lokasi, kami dikagetkan dengan ramainya tempat parkiran. Orang-orang berlalu-lalang memadati jalan menuju lokasi wisata. Antrian loket tiket pun terpantau mengular panjang.

Kami beruntung masih bisa mendapat tiket dan masuk ke dalam. Di dalam, semua sudut sudah dipenuhi orang-orang. Ada yang sedang makan bersama, bernyanyi bersama, dan bersenda gurau santai bersama keluarga. Kami kesulitan untuk sekedar mencari tempat duduk yang nyaman dan sedikit tenang.

Terlintas dalam pikiran, “Buyar sudah semua bayangan lokasi wisata yang menyegarkan, buyar sudah rencana membaca buku dengan tenang.” Dengan jumlah pengunjung sebanyak itu, suasana menjadi lebih seperti pasar daripada tempat wisata. Pergerakan menjadi sangat terbatas. Perlu mengantri dan menunggu lama untuk bermain di setiap wahana yang tersedia.

“Senyumin aja, nikmati aja, syukuri aja” itu yang terbesit di benakku. Kebetulan saya sedang membaca buku tentang stoikisme, sebuah filosofi Yunani kuno yang mengajarkan kita untuk mengendalikan diri. Dalam prinsip stoikisme dikatakan bahwa ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak.

Jika kita ingin hidup bahagia, maka kita seharusnya fokus kepada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Bagian utama yang bisa kita kendalikan adalah pikiran kita. Kita bisa mengendalikannya ke arah baik dan positif. Ini yang saya artikan The power of positive or good thinking.

Ramainya suasana di lokasi wisata tidak bisa saya kendalikan. Yang bisa saya kendalikan adalah bagaimana saya bisa berpikir positif, mencoba mengendalikan pikiran dan menikmati kondisi itu. Daripada mengeluh dengan ramainya suasana, lebih baik keliling mencari wahana yang bisa dinikmati. 

Itu yang saya lakukan. Membawa anak-anak keliling sambil melihat-lihat wahana yang ada. Benar saja, ternyata kami menikmatinya, ternyata suasana tak ideal ini bisa menyenangkan juga. Berbagai wahana kami coba. Tak terasa, kami bermain sampai sore hari tiba. Kami pun harus pulang  walau masih ingin bermain lama lagi. Meskipun singkat, liburan ini sudah cukup membawa kebahagian bagi kami sekeluarga.

Begitulah caranya kita menikmati kehidupan. Selalu melihat apapun dari sisi baiknya, sisi positifnya. Selalu memfokuskan kepada yang bisa kita kendalikan. Selalu hidup dengan menghilangkan aura negatif dalam pikiran kita. Dengan ini, hidup kita akan menjadi lebih produktif, lebih bermakna, dan lebih bermanfaat.

Bukankah seharusnya hidup kita seperti itu? Liburan akhir tahun ini sejatinya memang bisa dijadikan sebagai momentum. Momentum kita untuk berpikir seperti para stoa (penganut filosofi stoikisme). Sebelum kita memasuki tahun yang baru, mari kita renungi sejenak kehidupan kita pada tahun lalu! Apakah kita sudah cukup bahagia? Atau kita selalu hidup dalam kecemasan?

Dalam agama, kita juga diajarkan untuk berpikir positif, agar tidak selalu cemas. Caranya dengan memperbanyak bersyukur. Jika kita bersyukur, maka hidup kita akan bahagia, apapun keadaannya, apapun kondisinya. Syukur adalah bagian penting dalam penghambaan kita kepada Tuhan. Tanpa adanya syukur, kita tak akan memahami betapa besar nikmat Tuhan yang telah dicurahkan kepada kita.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi dalam salah satu koleksi bukunya Risalah Nur menjelaskan pentingnya bersyukur. “Zikir, Syukur, dan Fikir” katanya. Di awal “Basmallah” sebagai zikir. Di akhir “Hamdallah” sebagai syukur. Di tengah-tengah adalah memikirkan asma-asma Tuhan melalui segala nikmat yang diberikan-Nya.

Ustad Badiuzzaman Said Nursi menjelaskan hal ini pada bab pertama kitab pertama koleksi Risalah Nur. Pada bab awal ini, sebenarnya beliau mengangkat pembahasan tentang Basmallah. Basmallah adalah awal dari setiap perbuatan baik. Semua perbuatan yang dimulai dengan Basmallah, pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Basmallah memiliki kaitan erat dengan bersyukur.

Ya, di awal tahun sudah semestinya kita membuka lagi lembaran baru kehidupan dengan penuh rasa syukur, dengan ucapan Basmallah. Basmallah bukan hanya dilapalkan, tetapi diarungi makna di dalamnya. Di dalamnya kita akan memahami pentingnya bersyukur. Dengan syukur hidup kita akan aman, tentram, dan penuh kedamaian.

mengembangkandiri-tahun-baru-niat-baru

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Karya Pembaca: Mahir Martin

Niat Dalam Beragama dan Berorganisasi

Dalam agama, niat merupakan salah satu hal penting yang perlu dipahami. Ketika seseorang melakukan ibadah, maka ibadah harus diawali dengan niat. Meskipun ada perbedaan bagaimana cara mengucapkan atau melafalkan niat, tetapi tak ada yang menafikan pentingnya kedudukan niat dalam ibadah.

Terkait niat ini, Rasulullah SAW pernah bersabda,

”Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mendefinisikan makna niat sebagai kehendak atau maksud, atau satu kondisi dan suasana hati yang dikelilingi dua hal yakni ilmu dan amal (perbuatan).

Niat, Rencana, Aksi, dan Evaluasi

Niat, tidak hanya penting dalam amalan beragama. Dalam berorganisasi niat juga memiliki peran yang sangat penting. Mungkin sebagian kita tidak menyadarinya. Hal ini disebabkan karena biasanya kita terlalu fokus pada hal-hal yang bersifat formal. Dan niat bukan suatu hal yang formal untuk dilakukan.

Sebagai contoh, dalam berorganisasi, formalnya ada tiga fase penting yang perlu dilewati. Ada fase perencanaan (planning), fase aksi (action), dan fase evaluasi (evaluation). Berbagai macam teori, metode, dan model tentang ketiga hal tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita bisa mempelajarinya baik melalui buku, internet, maupun sumber-sumber lainnya.

Lantas, apa korelasi niat dengan rencana, aksi, dan evaluasi?

Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan perkataan ulama dan cendekiawan muslim Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi yang dikutip dari bukunya yang berjudul Islam Rahmatan Lil Alamin.

Beliau berkata, “Segala sesuatu bermula dalam bentuk gambaran di dalam benak, yang kemudian berkembang menjadi rencana, kemudian beralih kepada upaya untuk mewujudkannya dengan tekad dan kesungguhan.”

Artinya, sebuah rencana harus didahului oleh bentuk gambaran yang ada di dalam benak. Bentuk gambaran dalam benak inilah yang diartikan dengan niat. Tanpa adanya niat, tak ada satu pekerjaan pun yang bisa dimulai dan diselesaikan dengan baik. Sejujurnya, dapat dikatakan bahwa niat itulah sumber kekuatan yang tersimpan yang akan membuat sesuatu bisa terjadi.

Jarang sekali para ahli ilmu manajemen organisasi yang menjelaskan dan membahas tentang niat ini. Padahal, kunci berjalannya perencanaan, aksi, dan evaluasi terletak pada motivasi dan semangat pada individu-individu yang memiliki tekad, dan kesungguhan untuk menjalankannya. Dengan kata lain individu-individu yang memiliki niat yang kuat.

Yang sering terjadi, sistem berorganisasi yang telah dirancang sempurna dengan fase perencanaan, aksi, dan evaluasi yang dipersiapkan dengan begitu matang, ternyata dalam pelaksanaanya terdapat banyak kendala disebabkan karena tidak adanya motivasi dan semangat dari individu dalam menjalankan organisasi.

Inilah apa yang dimaksud dengan niat adalah sumber kekuatan dari segala sesuatu untuk terwujud. Tanpa adanya niat, segala sesuatu tak akan berjalan dengan lancar dan sempurna.

Sejatinya, niatlah yang akan menimbulkan motivasi dan semangat yang tak akan pernah luntur pada diri seseorang dalam berorganisasi.

Niat dan Proses Dalam Berorganisasi

Di sisi lain, selain niat itu penting sebelum perencanaan, adanya niat yang kuat juga penting agar individu dalam organisasi memahami dan mencermati proses dalam berorganisasi.

Lantas, bagaimana niat seseorang bisa mempengaruhi seluruh proses dalam organisasi?

Dengan niat yang kuat dalam benaknya, seseorang akan memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan hakiki dirinya melakukan kegiatan dalam berorganisasi. Sejatinya, proses perencanaan, aksi, dan evaluasi hanyalah dijadikan wasilah baginya untuk menggapai niat dan maksud yang paling tinggi.

Niat dan maksud yang tidak bisa dibandingkan dengan niat dan maksud yang bersifat duiniawi.

Dengan pemahaman seperti ini, maka tak akan ada rasa kecewa, takut, dan khawatir ketika menjalankan kegiatan dalam berorganisasi tersebut.

Intinya, niat yang kuat menyebabkan individu-individu yang ada di dalam organisasi mampu menyandarkan segalanya kepada Zat yang menjadi niat dan maksud yang paling tinggi dalam kehidupan.

Oleh karenanya, dalam sebuah organisasi, sebelum memulai sebuah proses, bukan perencanaan yang harus didahulukan, tetapi terlebih dahulu perlu dilakukan penanaman niat, kehendak, kemauan, tekad, dan kesungguhan bagi individu-individu yang ada dalam organisasi tersebut.

Setelah semua individu dalam organisasi memiliki kekuatan niat yang sama, barulah proses perencanaan dibuat. Perencanaan yang didasari niat yang kuat akan mempermudah berjalannya proses aksi. Pada akhirnya, proses evaluasi yang dilakukan pun akan berjalan dengan baik. Inilah gambaran nyata bagaimana proses dalam berorganisasi dipengaruhi oleh niat yang kuat.

Sebuah Refleksi

Niat, ibarat dinamo sentral dalam sebuah organisasi. Niat ini yang akan menentukan arah sebuah organisasi untuk bergerak. Niat ini yang akan terus menjaga kobaran motivasi dan semangat yang ada di dalam proses berorganisasi.

Ya, dengan niat, yang kecil dapat bernilai besar. Sebaliknya yang besar bisa tak bernilai apa-apa, apabila salah niatnya. Niat juga yang sangat menentukan baik tidaknya sesuatu. Jika sudah ada niatan baik, walaupun jalan yang harus ditempuh terkadang berkelok, namun hasilnya pasti akan membawa kebaikan.

Jika niat itu bersih, yang diharapkan pasti akan terealisasi.

Yang perlu kita ingat bersama adalah bahwasanya hanya mengandalkan niat saja tidaklah cukup.

Seperti halnya perkataan Imam Al-Ghazali, niat harus diikuti dengan ilmu dan amal. Tanpa ilmu dan amal, niat yang baik pun bisa menjadi bagaikan harapan hampa yang tidak akan menghasilkan apa-apa dalam realitanya, melainkan hanya pahala niat melakukan kebaikan.

Oleh karenanya, yang terbaik untuk dilakukan adalah mengamalkan setiap niat baik yang ada di dalam benak kita. Mengamalkannya dengan cara yang benar, dan dengan ilmu yang dipelajari dengan benar.

Alhasil, membahas tentang niat dalam beragama dan berorganisasi dapat membuat kita memahami bahwa betapa pentingnya memahami ilmu agama.

Ilmu agama terlalu sempurna jika dibandingkan dengan ilmu duniawi. Banyak hal penting dan krusial yang terkadang tidak bisa diakomodir oleh ilmu duniawi. Perlu ada sentuhan nilai agama di dalamnya.

Seperti halnya, rencana, aksi, dan evaluasi yang perlu didahului dengan niat yang baik, yaitu niat yang diajarkan oleh ilmu agama.

Oleh karenanya, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh sekali-kali meninggalkan agama. Agama harus selalu menjadi titik pusat dalam mempertimbangkan proses dalam setiap kegiatan yang akan kita lakukan.