marion-michele-779368-unsplash

SEMANGAT PENGABDIAN SEPANJANG KEHIDUPAN

 

Semangat Pengabdian Sepanjang Kehidupan

(Diterjemahkan dari artikel “Bir Ömür Boyu Adanmışlık Ruhu”dari buku  Kırık Testi 14; Buhranlı Günler ve Umit Atlasımız)

Pertanyaan: Apa saja prinsip-prinsip pokok agar dapat menjaga semangat pengabdian tetap menyala di dalam kalbu ?

Jawab: Orang-orang yang sudah mengabdikan dirinya secara menyeluruh harus menjauhkan diri dari segala macam sikap dan perbuatan yang dapat menjatuhkan nama baik atau kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Menurut saya,  orang-orang yang sudah memberikan hatinya kepada sebuah cita-cita mulia dengan tulus dan tanpa pamrih, tidak akan pernah sengaja untuk melakukan hal-hal yang menghancurkan jamaahnyaserta tidak akan pernah sengaja melakukan perbuatan yang membuat kecewa teman seperjuangannya. Namun, kadangkala langkah yang diambil tanpa dipikir matang atau tanpa pertimbangan yang hati-hati dalam suatu persoalan dapat membuat seseorang tergelincir dan akan menyebabkan hilangnya kepercayaan orang lain atas dirinya. Dalam hal ini, maka yang perlu dilakukan adalah suatu tindakan yang sigap dari teman-teman seperjuangannya, yang memiliki pemikiran dan perasaan serupa untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tindakan yang sigap ini tidak hanya menyelamatkan orang tersebut dari rasa malu, tetapi juga mencegah pikiran negatif orang lain terhadap jamaah tersebut.

Ya Allah, Jangan Biarkan Hamba Membuat Malu Sahabat-Sahabatku!”

Seorang tokoh ulama, Mawlana Khalid al-Baghdadi, sangat berhati-hati dalam menjaga martabat dirinya dengan tidak meminta-minta dari siapapun dan mampu memberikan contoh yang baik bagi kita semua. Dalam mencegah persepsi negatif orang-orang di zamannya, beliau mengingatkan para murid dan pengikutnya sejak awal: “Jangan pernah terlalu dekat dengan orang-orang kaya, penguasa, dan pemerintah. Mereka bisa saja menawarkan makanan yang lezat, memberikanmu kedudukan terhormat, dan juga berwajah manis untuk melakukan korupsi di belakang. Jika sudah berada di bawah pengaruh mereka, kalian akan tunduk kepada mereka sepanjang hidup. Oleh karena itu, merasa cukuplah dengan apa yang kamu miliki dan jangan pernah meminta kepada siapapun. Jangan lupa bahwa para penguasa dan pemerintah berkeinginan untuk menguasaimu agar tunduk kepada mereka.”

Orang-orang yang memprioritaskan filosofi hidup dalam mengabdi kepada Rabbnya, harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menimbulkan rasa curiga terhadap jamaahnyadan tidak pernah mendekati tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan terhadap mereka. Contohnya, mereka tidak boleh meskipun hanya sekedar melewati sebuah bar agar orang-orang tidak memiliki pikiran bahwa mereka baru saja keluar dari bar, karena ada  kemungkinan mereka bisa mendapatkan fitnah dari orang lain. Oleh sebab itu, diperlukan sikappenuh kehati-hatian.

Seteliti apapun dalam bertindak, perlu diingat bahwa selalu ada kemungkinan bagi kita untuk menjadi sasaran fitnah. Meskipun kalian selalu menjaga persaudaraan, menyebarkan perasaan cinta, memiliki sifat lapang dada, dan tidak memiliki musuh dengan siapapun, jika ada orang-orang yang memiliki rasa dengki dan benci, mereka tidak akan pernah mengulurkan tangan dan tidak melapangkan dada kepada kalian. Sebaliknya,mereka akan membalas senyuman kalian dengan wajah masam. Pada saat itu, tidak ada hal selain meminta kepada Rabb dan memohonlah pertolongan kepadaNya. Jangan pernah lupa, kejadian seperti ini sudah terjadi sejak masa Nabi Adam Alaihissalam hingga sekarang dan akan terus berlangsung. Apa yang menjadi perhatian di sini adalah jiwa-jiwa pengabdi harus menjauhkan diri dari kondisi dan perilaku yang dapat menodai pergerakan mereka sendiriserta kehidupan keluarga dan sosial.Kalian harus memiliki tekad dan selalu memohon kepadaNya seraya berdoa, “Ya Rabbi jangan membuat malu teman-teman atas perbuatan kami, dan jangan membuat kami malu atas perbuatan teman-teman kami.” Jangan pernah berhenti mencari perlindungan Allah dan meminta pertolonganNya. Karena sangatlah mungkin bagi seseorang jatuh kepada nafsu duniawi dan setan terus-menerus memperindah angan-angan dan membuat lupa dirinya, selalu membuat dosa-dosa nampak indah bagi manusia.

Seseorang yang tidak berhati-hati akan bahaya dosa, mungkin akan masuk ke salah satu dosa tersebut tanpa sadar dan (semoga Allah melindungi kita) dapat membuat malu. Oleh sebab itu, orang-orang yang berada dalam sebuah gerakan yang jutaan orang memandangnya dengan penuh harapan harus sangat waspada untuk menghindari segala hal yang dapat membahayakan akhlak dan kesucian, teguh melawan godaan setan dan nafsu, serta tidak pernah memberikan kelonggaran atas nilai kejujuran dan amanah (dapat dipercaya). Mereka harus takut bila melanggar hak-hak dari rekan relawan yang bersama mereka dalam melangkah di jalan ini. Mereka harus mengangkat tangan seraya berucap, “Ya Rabbi, jika hamba membuat teman-teman merunduk malu, dengan segenap hati hamba lebih suka dikubur dalam tanah sebagai gantinya.” Itulah ungkapan kesetiaan dan loyalitas kepada teman-temannya. Agar tidak membiarkan orang lain berpikiran negatif dan kesalahan sekecil apapun terjadi, setiap jiwa yang mengabdi harus berusaha seperti seorang duta kejujuran, kesetiaan, dan kesucian. Sepanjang waktu, mereka harus dengan hormat menahan diri dari meminta-minta, mengemis dari orang lain, serakah, bersyukur atas apa yang diberikan Allah, dan menjauhkan diri dari segala hal yang merusak kehormatannya.

Sebelum Menasehati Berikanlah Contoh

Siapapun yang berusaha menyampaikan kebenaran dan kebajikan, jangan pernah lupa bahwa dengan sikap tulus dan teladan dapat mengajak orang-orang kepada kebaikan, daripada sekedar kata-kata yang diucapkan. Kata-kata yang tidak mencerminkan kebenaran atau jauh dari makna hakiki karena terlalu berlebihan, mungkin dapat membuat orang-orang terpesona namun itu hanya sementara. Bukan menjadikannya tertanam abadi di dalam kalbu, justru mengganggu kredibilitas/kepercayaan dari orang lain. Sedangkan perbuatan yang terus-menerus dilakukan, tidak mungkin sebuah kepalsuan. Dia akan terus mengalir di alurnya. Seseorang yang selalu jujur, setia sepanjang waktu, tidak pernah bermain-main dengan kesucian, dan terus menerus menginspirasi kejujuran akan sangat meyakinkan bagi orang-orang sekitarnya. Dari sudut pandang ini kita dapat berkata bahwa di dalam Islam, teladan perbuatan lebih utama daripada perkataan.

Salah satu tugas kenabian dari Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, yang sangat kita cintai bagaikan raja bagi kita, adalah menyampaikan wahyu yang beliau terima dari Allah. Oleh karena itu, jika wahyu tidak disampaikan melalui sosok yang dirahmati seperti beliau, mukjizat wahyu Ilahi tidak akan terasa hingga masa ini dan kalbu tidak akan menerimanya. Untuk alasan inilah, Al-Qur’an yang kita taruh di rak dinding rumah-rumah kita yang dibalut dengan sampul beludru yang indah, telah dan akan selalu diwakilkan oleh orang-orang yang pantas mewakilinya. Dalam hal ini, kedalaman tingkat keteladanan Rasulullah memiliki hak tertinggi untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Beliau diangkat ke langit saat Mi’raj, tidak hanya karena beliau telah menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga karena beliau telah memberikan contoh teladan melalui akhlak dan kepribadiannya.

Kerendahan Hati dan Berusaha Tidak Membuat Iri

Rasululullah bersabda, “Tuannya dari orang-orang adalah dia yang melayani mereka.” Salahuddin Ayyubi, seorang pahlawan Islam yang merupakan teladan dari sikap ini, adalah penguasa pertama yang diberi gelar “Pelayan Dua Tempat Suci”, yaitu Makkah dan Madinah. Beberapa abad kemudian, Sultan Selim I, yang juga memiliki semangat yang sama merasa kurang nyaman mendapat gelar “Penguasa Dua Tempat Suci”, lalu segera mengubahnya menjadi “Pelayan Dua Tempat Suci” seraya berlutut dari singgasananya, sebagai tanda hormat. Mereka yang menjadi pewarisnya pun menggunakan sebutan “Pelayan Dua Tempat Suci.” Dalam hal ini, tanpa melihat status sosialnya, para jiwa yang semangat mengabdi harus menyadari bahwa sebuah kehormatan terbesar adalah dengan melayani orang lain. Bahkan mereka akan mengatakan, “Dibutuhkan seseorang untuk membawakan minuman dan melayani mereka yang sedang duduk bersama untuk berbagi pemikiran, cita-cita, dan ide,” dan selalu menjadi yang terdepan dalam melayani orang lain.

Selain itu, keberhasilan seseorang pada bidang tertentu dapat menimbulkan rasa iri hati pada orang lain. Beberapa orang dengan karakter yang lemah dapat menjadi sangat cemburu, terbawa perasaan persaingan. Pada masalah ini, perlu melihat prinsip-prinsip mulia yang diajarkan agama Islam dalam mendisiplinkan nafsu. Bediuzzaman Said Nursi, yang membuat pedoman di bawah cahaya prinsip-prinsip tersebut, menyatakan bahwa murid sejati Al-Qur’an tidak boleh menyebabkan rasa iri pada para pengikutnya. Secara umum, perasaan iri yang manusiawi masih bisa diterima dalam Islam. Tetapi mengingat faktanya, perasaan iri adalah tetangga dekat dari hasad (rasa iri yang menimbulkan kemarahan), seseorang yang memendam perasaan iri, suatu saat dapat melampaui batas tanpa disadari. Atas alasan inilah Bediuzzaman menyatakan untuk tidak berbuat yang menimbulkan perasaan iri hati kepada orang lain sebagai sebuah tanggung jawab sebagai murid Al-Qur’an. Cara untuk mewujudkan ini, seseorang harus menghargai setiap manusia yang mengabdi atas nama Allah dan lebih mengutamakan orang banyak daripada dirinya sendiri. Selain itu, setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda, misalnya berkeinginan untuk mendapatkan tepuk tangan, meraih penghargaan, dan mendapat kenaikan pangkat.  Oleh karena itu, diperlukan seseorang dalam bidang tertentu untuk menyiapkan lahan dalam berkarya dalam lingkup yang luas, membiarkan berbagai individu untuk melayani dengan tepat dalam bidang yang beragam, dan juga merasa puas atas hasil jerih payahnya. Selain itu, perlu untuk menjaga orang lain agar tetap dalam keimanan dan moralitas, menjaga ikatan yang kuat kepada Rabb nya, dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah.

Bahaya ketika Berada di Derajat Tinggi

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah berada dalam jalan yang lurus dengan teguh. Allah yang Maha Kuasa mungkin sedang membawa kita ke jalanNya; namun mencari jalan yang lurus saja tidaklah cukup; yang paling utama adalah untuk berjalan lurus hingga garis akhir dengan pandangan waspada. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Setiap manusia dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali yang berilmu. Orang yang berilmu juga dapat terjatuh dalam  kebinasaan, kecuali mereka yang mengamalkan berdasarkan pengetahuan mereka. Mereka yang mengamalkan pengetahuan juga dapat terjatuh dalam kebinasaan, kecuali bagi mereka yang ikhlas. Mereka yang ikhlas juga menghadapi bahaya yang besar.”[1] Mungkin bahaya besar ini bisa disebut “bahaya ketika berada di derajat tinggi.” Dalam hal ini, tidak peduli seberapa tinggi Allah menaikkan derajat, kita harus selalu merasa takut bahwa kita dapat terjatuh kapan saja. Allah telah membimbing beberapa kaum pada jalan yang benar, tetapi saat mereka tidak fokus kepada titik di tengah “lingkaran”, mereka tersesat hingga garis luar dan sulit untuk kembali. Karenanya sebuah kaum menjadi tersesat dan menyimpang, dan ada juga kaum yang mendapat azab dan menerima murka Allah. Dengan demikian, meskipun mencari jalan yang lurus adalah tugas yang sulit dan sangat diutamakan, berada di jalan yang lurus terus-menerus tentu lebih sulit. Sama ketika menghadapi kesulitan saat mendaki tebing, mempertahankan diri di puncak jauh lebih sulit. Atas dasar itulah Bediuzzaman mengingatkan kembali bahwa seseorang yang terjatuh dari ketinggian dari keikhlasan akan menghadapi bahaya jatuh ke lubang yang dalam.

Memberikan Tugas Sesuai dengan Keahlian

Ada sebuah hal penting lain yang harus diperhatikan oleh jiwa-jiwa pengabdi agar bisa berbakti dengan tepat dalam jangka waktu yang lama yaitu mengenali apa saja sumber daya manusia yang tersedia dan menempatkan dengan benar, dan tidak bertentangan dengan bakat alami. Allah yang Maha Kuasa menciptakan manusia dengan bakat yang beragam dan memberkahi manusia dengan berbagai keahlian. Ada beberapa orang yang kurang efektif dalam menyampaikan pesan secara langsung kepada khalayak karena kemampuan sosialisasinya yang kurang. Misalnya, ada beberapa orang yang sanggup menyuarakan kebenaran ketika menggoreskan pena pada kertas, yang dapat membujuk orang lain, mengobarkan kembali semangat di dada. Saat mereka diminta untuk menyampaikan khutbah, bisa jadi mereka kehilangan kepercayaan diri yang biasanya mereka dapatkan dengan adanya buku-buku disampingnya pada saat di atas mimbar, karena Allah mungkin tidak memberikan keahlian berbicara yang sama baiknya dengan keahlian menulisnya. Tetapi orang tersebut bisa sangat berhasil dalam menyampaikan kebenaran yang diyakininya dengan buku-buku, artikel, dan tulisan-tulisan karyanya. Jadi seorang pimpinan yang memiliki wewenang untuk membimbing dan mengelola bawahan harus menyadari fakta ini dan memberikan pekerjaan pada setiap orang dengan tugas yang sesuai keahliannya. Seperti kisah yang banyak diketahui ini, ada permintaan yang ditujukan kepada Khalid ibn al-Walid, Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam pun mengirimnya ke Yaman sebagai pengajar ilmu agama. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Abu Musa al-Ash’ari, hari dan bulan berlalu tetapi tidak ada kabar mengenai perkembangannya. Dan sebenarnya, Khalid ibn al-Walid bukanlah pembicara yang baik. Allah yang Maha Kuasa tidak memberkahinya dengan keahlian untuk menjadi seorang yang terpilih menjadi pembimbing melainkan menjadi seorang komandan prajurit. Ya, Allah telah memberkahinya dengan keunggulan di bidang lain. Kebijaksanaan Allah melampaui akal kita. Seandainya Khalid ibn al-Walid menjadi rajanya sastra yang jumlahnya sangat jarang sepanjang sejarah – sama seperti para sahabat lainnya – lalu siapa yang akan memimpin pasukan melawan kekuatan besar musuh kala itu? Setelah tinggal beberapa lama di Yaman, beliau kembali ke Madinah, lalu Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam mengirimkan Ali ibn Abi Talib ke Yaman sebagai gantinya. Sosok Ali ibn Abi Talib, adalah pengkhutbah dan orator yang bagus, kata-katanya sangat menyentuh jiwa, suaranya menjangkau semua usia, dan Allah telah memberkahi beliau dengan keahlian khusus di bidang ini, maka jumlah penduduk yang menyatakan keimanan pun tumbuh pesat. Beliau sosok mulia yang sangat mengenal dengan baik bagaimana menjangkau ke dalam jiwa-jiwa orang ketika sedang berbicara dan mengetahui apa yang harus disampaikan. Dengan demikian, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin adalah mampu membedakan bakat dan keahlian dan menempatkan setiap orang pada posisi yang tepat sehingga dapat bekerja dengan efisien. Seperti memberikan beban tugas seekor gajah kepada seekor semut justru akan menginjaknya, sebaliknya mempekerjakan seekor gajah yang mampu mengangkut batang pohon dengan sebuah beban yang sanggup dipikul oleh seekor semut adalah mubazir. Sangat penting untuk menilai keahlian dan karakter setiap individu, dan tidak pernah lupa bahwa semua itu bergantung pada kekuasaan Allah. Misalnya, saya mengenal beberapa orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik, dia yang mengalami kesulitan saat berbicara meskipun hanya beberapa kalimat, tetapi sanggup melunakkan hati orang-orang setelah berbicara beberapa patah kata. Kalian tidak bisa menjelaskan hal tersebut ketika hanya melihat penampilan fisik seseorang, kualitas, kapasitas, batas pemikiran, dan kemampuan berekspresi, selama hati ada di tangan Allah. Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Untuk itu, demi Allah para relawan tidak bisa menganggap remeh segala tanggung jawab yang mereka emban. Mereka harus berusaha menunaikan tanggung jawabnya, meski sekedar membuatkan secangkir teh, makanan, atau melakukan kunjungan. Singkat kata, kita perlu memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk memenangkan hati orang lain.

Keseimbangan antara Cita-cita dan Realita

Agar dapat membedakan antara cita-cita dan realita, sangat perlu untuk menjaga standar yang tinggi dan mengejar tujuan yang luhur – maka mereka yang berhijrah demi mewujudkan cita-citanya harus benar-benar mengejar cita-cita yang tinggi yaitu mengubah wajah dunia. Jika seseorang menyimpan impian yang tinggi dengan penuh semangat, bahkan jika mereka tidak berhasil meraihnya dengan usaha sendiri, Allah yang Maha Kuasa akan mengganjar niat dan memberikan pahala sesuai apa yang di dalam hati mereka. Setiap orang akan diganjar pahala atas niat baiknya meskipun dia tidak berhasil dalam meraih tujuan. Atas hal ini, setiap orang harus selalu memiliki cita-cita yang tinggi dan menjaga harapan besar mereka. Bersamaan dengan ini, cita-cita harus disadari juga dengan mempertimbangkan waktu, tempat, kemungkinan, dan faktor manusia. Rencana yang baik harus dipertimbangkan sesuai kondisi riil sehingga langkah yang kita ambil tidak akan salah dan mengalami kegagalan. Kadang-kadang, banyak orang pergi untuk mengubah warna dunia, tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi tentang sebuah utopia semacam “Negeri Saleh” karya Al Farabi atau “The City of The Sun” karya Campanella. Pada dunia hasil imajinasi mereka, masyarakat saling berpelukan di manapun mereka berjumpa. Kawanan singa dan serigala datang menawarkan bantuan pada domba-domba. Pasar menjadi tempat yang sangat sempurna dimana sebagian besar pedagang adalah malaikat. Di dunia tersebut, tidak ada satupun yang bertindak asusila dan melakukan korupsi. Anak-anak memasuki proses pertumbuhan dan pendewasaan dengan baik tanpa ada masalah pendidikan dan pendisiplinan yang serius, lalu mereka seperti menjadi sosok malaikat ketika berusia lima belas tahun. Meskipun sangat mudah memiliki hal-hal tersebut dalam pikiran dan imajinasi, kenyataannya sangatlah berbeda. Kita harus memperhatikan perangai manusia dan hubungan interpersonal. Kehidupan di suatu tempat yang bukan di lingkungan Rasulullah tinggal, sebuah pasar tidak pernah menjadi tempat yang penuh kebaikan, serigala dan domba tidak pernah berdamai, dan singa tidak pernah meninggalkan daging untuk menjadi vegetarian. Menurut saya, melihat apa yang realita yang terjadi, kita tidak bisa acuh dalam mempertimbangkan apakah mencari kebenaran bisa terwujud atau tidak. Bahkan jika kita mengharapkan teman seperjuangan kita memikul beban kebajikan untuk mengubah warna dunia, kita akan mengalami kekecewaan karena membangun cita-cita kita dengan sebuah mimpi kosong dan larut dalam mengejar kesia-siaan, yang juga akan menghancurkan harapan mereka yang menaruh harapan kepada kita. Agar tidak memikul beban dosa itu, sekali lagi sangat perlu untuk menilai potensi dan bakat setiap orang, mendistribusikan tugas dengan tepat, dan menyadari cita-cita mulia kita dengan mempertimbangkan waktu, tempat, dan ketersediaan sumber daya manusia.

[1]Lihat Kasyf al-Khafa (2796)

tj-k-349056-unsplash

MASA DEPAN DAN KEWAJIBAN KITA

Masa Depan dan Kewajiban Kita

 

Tanya: “Di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam”. Usaha apa yang harus kita kerjakan agar pernyataan ini dapat terwujud?

Jawab: Sebelum hal lainnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar umat Nabi Muhammad tidak menanti lebih lama lagi dan semoga nikmat ini segera dianugerahkan-Nya kepada kita. Terkait permasalahan ini, di satu sisi merupakan tugas bagi seorang hamba, di sisi lainnya merupakan keharusan dari perwujudan sifat Rububiyah Allah SWT. Kita akan berusaha menjawab pertanyaan ini dari sisi kedua.

Pertama-tama, di antara perubahan di masa depan, suara yang paling tinggi dan paling lantang akan berupa suara Islam merupakan kabar yang disampaikan Allah SWT di dalam al Quran. Dalam sebuah ayat yang mulia, Allah SWT berfirman bahwasanya nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada Nabi Daud dan Sulaiman juga akan dianugerahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah  berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai (QS An Nur 24:55).

Ini adalah aturan Ilahi. Demikianlah, terkait permasalahan tersebut, ketika hal-hal yang diinginkan Allah dapat kita penuhi, suara teragung dan terlantang yang akan terdengar dalam perubahan-perubahan masa depan akan berupa suara Islam. Ayat mulia lain yang menguatkan makna tersebut di antaranya adalah:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِـُٔوا۟ نُورَ اللَّهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ

”Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai (QS at Taubah 9:32).

Tanpa bersandar pada asas yang kokoh, dengan slogan kosong yang hanya bergulir di lidah, mereka berusaha memadamkan Islam ad dinul mubin (Islam, agama yang jelas). Allah sama sekali tidak mengizinkan hal itu untuk terjadi. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, kehendak Allah adalah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka ingin memadamkannya dengan segenap daya, upaya, gagasan, dan ungkapan.

Allah SWT, mengirimkan Sang Habibi SAW dengan hidayah-Nya yang murni, dengan asas-asas yang akan mengeluarkan umat manusia menuju cahaya, dengan agama yang benar dan sangat cocok dengan fitrah manusia, serta dengan prinsip-prinsip yang cocok dengan agama, tabiat, dan syariat fitriah. Allah mengirim dan di waktu yang sama menjaganya. Allah pun melanjutkan penjagaan-Nya. Sebagaimana bintang-bintang lenyap setelah terbitnya matahari, ketika pemiliknya telah merentangkan sayap agungnya, agama ini dengan maknanya yang hakiki akan mengalahkan segala macam ideologi. Dengan istilah lain, saat Allah mengecambahkan benih di suatu tempat, saat Allah menyiapkan telur-telur untuk dierami dan kemudian menetaskan anak-anak ayam, Allah akan menjaga mereka dari kekuatan-kekuatan jahat. Penjelasan lain dalam makna yang sama terdapat pada ayat mulia lainnya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya” (QS Ash Shaf 61:9)”.

Suatu hari Baginda Nabi SAW bersabda, ”Seandainya aku bisa menyaksikan saudara-saudaraku!”. Para sahabat dengan sedikit heran bertanya kepada Baginda Nabi, ”Ya Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudaramu?”. Baginda Nabi menjawab, ”Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku belum datang, mereka akan datang setelahku…”[1]. Dari sini dapat dipahami bahwasanya Allah SWT  akan menganugerahkan kemuliaan-kemuliaan yang setara baik kepada umat terdahulu maupun untuk umat yang akan datang kemudian.

Di hadits lainnya, Baginda Nabi bersabda, “Jihad dimulai denganku dan akan berlanjut hingga datang hari pertempuran umat terakhirku dengan Dajjal.”[2] Dari hadits ini dapat dipahami bahwa umat terakhir yang memanggul kewajibannya kepada Allah di pundaknya akan menjunjung tinggi agama ini. Mereka akan melawan orang-orang yang mengingkari keilahiatan Allah, orang-orang yang mengaku sebagai nabi, orang-orang yang menentang kenabian, baik dari kalangan orang-orang lugu maupun dari kalangan mereka yang telah keluar dari agama. Dengan demikian, representasi agama ini sekali lagi akan berlanjut dengan kecemerlangannya. Ya, Baginda Nabi lewat haditsnya membahas tentang adanya kumpulan orang yang akan terus mendukung agama ini hingga datangnya hari kiamat. Tidak bisa dibayangkan jika orang-orang yang demikian tidak ada. Komunitas itu mungkin di suatu periode waktu tertentu melemah, tetapi seiring berjalannya waktu kekuatan mereka akan kembali terpulihkan. Mereka akan memikul agama ini hingga sangkakala kiamat dibunyikan.

Jika kita melihat semua sisi tersebut, di tengah-tengah terjadinya pergolakan masa depan, akan nampak bahwa suara Islam akan menjadi suara yang teragung dan terlantang, keadaan yang ada saat ini pun seakan membenarkan dan mengonfirmasinya. Kita telah menjadi saksi terurai dan mundurnya dunia Islam di abad ke-18 hingga abad 19.  Angin topan nilai-nilai asing betul-betul bertiup kencang dan orang-orang kita selangkah demi selangkah menjauhi nilai-nilai mulianya sendiri. Ada banyak intelektual yang menganggap tindakan menjauhi agama sebagai kemuliaan dan kebajikan. Sedangkan sisanya, yaitu mereka yang terpengaruh oleh intelektual-intelektual itu sayangnya kemudian terperangkap oleh perasaan rendah diri dan lebih memilih untuk mengikuti langkah para intelektual tersebut. Akan tetapi, di seperempat akhir abad ke-20, kita melihat kecemerlangan dari sebagian kilatan cahaya menuju arah kita. Orang-orang beriman sekali lagi bersatu dan bangkit untuk melawan ateisme dan keingkaran terhadap keilahiatan Allah. Kaum muslimin yang ada di masa ini bukan lagi sosok seperti kaum muslimin di abad 18-19. Kaum muslimin di masa ini, walaupun  sendirian, mereka memiliki iradat, merasa kuat, dan memiliki harapan untuk memanggul tugas dakwahnya Baginda Nabi SAW.

Penjelasan saya adalah salah satu sisi dari permasalahan yang sedang kita bahas. Sisi lainnya adalah sebagai berikut: Kita memiliki kewajiban untuk menghidupkan Islam yang menjadi garansi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Inilah yang disyaratkan oleh keikhlasan kepada kita. Kewajiban kita adalah menunaikan tugas, sedangkan untuk hasilnya kita tidak memiliki ruang untuk ikut campur. Kita tidak bisa mengetahui apa saja yang terjadi dan diperdebatkan di alam malaikat. Baginda Nabi bersabda, ”Saya bangun pada suatu malam dan salat semampu saya, kemudian saya mengantuk dan merasa berat. Tiba-tiba Rabb-ku muncul dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan berfirman: Wahai Muhammad, tahukah kamu tentang apa para malaikat itu berdebat? Aku menjawab: Tidak, Ya Rabb.  Kemudian tangannya diletakkan di antara dua bahuku, aku merasakan kesejukan di antara dua belikat atau di dadaku. Peristiwa itu terjadi di antara waktu magrib dan isya. Setelahnya, aku jadi mengetahui segala macam hal. Kemudian datang suara: ”Wahai Muhammad!” Aku jawab: ”Aku dengar dan aku taat, wahai Tuhanku”. Dia melanjutkan firman-Nya: ”Saat ini apakah kamu tahu hal apa saja yang diperdebatkan di alam malaikat?” Aku menjawabnya: ”Derajat dan kafarat, berjalanlah menuju jamaah dan masjid, mengambil wudu dengan sempurna walaupun kondisinya amat sulit, dan tentang menantikan salat dengan penuh semangat setelah menunaikan satu waktu salat.” Barangsiapa yang mengerjakannya, ia akan hidup dalam kebaikan, mati di dalam kebaikan, dia akan disucikan dan dibersihkan dari beragam kesalahan dan dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.”[3]

Seorang manusia akan menunjukkan gairahnya untuk mati di jalan Allah dan dalam semangat tersebut ajal akan menemuinya sehingga ia pun bisa bertemu dengan Tuhannya. Mereka yang melewati kuburnya tidak akan lewat tanpa mengirimkan pahala surat Al-Fatihah untuknya. Balasan dari derajat yang diraihnya tersebut akan diberikan di akhirat. Sedangkan orang lainnya mungkin tidak bisa selamat sepenuhnya dari dosa-dosa. Akan tetapi, sedari awal ia bagaikan bara dari api unggun, ia memeluk erat agamanya, ia mungkin akan kehilangan pangkat dan jabatannya, perniagannya mungkin akan merugi, beberapa di antaranya mungkin akan menerima perlakuan buruk. Walaupun demikian, ia tetap memegang erat agamanya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia tidak sekali-kali berkenan untuk melepaskan agamanya begitu saja. Terkait mereka, pembahasannya juga akan dilakukan oleh Allah dan para malaikatnya. Baik kita ketahui ataupun tidak, itulah yang akan terjadi. Kewajiban kita adalah berusaha dan berikhtiar sebaik-baiknya. Itulah tugas kita satu-satunya.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul “Istikbal ve Bize Dusen” di buku Bahar Nesidesi, hlm. 161-165

[1] HR Muslim, bab taharah, 39; HR Nasai, bab taharah, 113

[2] HR Abu Daud, Jihad 35

[3] HR Tirmizi, bab tafsirul quran, surat Shad

luka-vovk-1311079-unsplash

SAAT SALJU MULAI MENCAIR

Para pembaca sekalian, Allah SWT membangun alam semesta untuk memperkenalkan dirinya kepada kita. Allah SWT telah menjadikan makhluk berakal dan tak berakal untuk berzikir dan memuji nama agung-Nya. Keteraturan, harmoni, dan alam semesta membicarakan keagungan Allah SWT. Karena manusia adalah makhluk yang berakal, maka ia berkewajiban untuk menjadi penerjemah keagungan-Nya.

Sebagai mahkluk yang memiliki kemampuan berbicara, manusia diciptakan untuk menceritakan keagungan nama Allah SWT. Manusia adalah makhluk istimewa yang mengandung intisari segala ciptaan. Allah SWT ingin memperkenalkan diri-Nya melalui keteraturan megah dan tatanan harmonis spektakuler yang diciptakan-Nya. Allah ingin memperkenalkan diri lewat kesempurnaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu manusia, serta lewat Al Qur’an-Nya dan melalui lisan mulia Rasul-Nya.

Saat waktu itu tiba, yaitu saat salju mulai mencair, mulai bermunculan orang-orang yang mengenal-Nya. Seperti pengikut Nabi Adam, pengikut Nabi Nuh, serta ratusan pengikut nabi-nabi lainnya. Pengikut dan umat Nabi Muhammad SAW dimana para nabi pun menjadi pengikutnya SAW bagaikan salju yang mencair, mereka seperti sungai yang mengalir deras menuju hak dan hakikat. Ketika diserukan kepada mereka, “Allah!”, mereka pun berseru: “Allah”. Begitu juga ketika diminta untuk mengucapkan, “La ilaha illallah”, mereka pun mengucapkannya, “La ilaha illallah”.

Namun, salju mencair di musim semi, burung bulbul pun berkicau di musim semi. Waktu digemakannya kalimat tauhid “La ilaha illallah” pun akan terjadi saat musim semi tiba. Benih akan ditaburkan dan tunas akan berkecambah. Musim semi  tiba selangkah demi selangkah, saat itulah anda mendengar ribuan “La ilaha illallah” di tiap lembah. Era yang mengingatkan pada era kebahagiaan, adegan yang serupa dengan adegan ketika orang-orang di sekitar Nabi Muhammad mulai mencair hatinya. Anda akan melihat, mungkin itu adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup.

Saat itu, anda akan melihat ratusan ribu tangan diangkat untuk memanjatkan doa dan mengemis asa sembari meggemakan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah…”. Seandainya saya bisa mengintip dari lubang kecil peristiwa agung nan manis tersebut, sungguh saya akan merasa teramat senang seolah-olah saya berada di surga. Peristiwa manis saat kalimat suci “La ilaha illallah”  bergema di setiap lembah.

Era Nabi Muhammad adalah era kesabaran dan berlapang dada menghadapi ujian. Era dimana terjadi ribuan kesulitan, era dimana nyawa dipertaruhkan demi hidupnya Islam. Mereka terus bertahan, kesabaran pun melewati batasnya dan berada di atas level yang diperkirakan. Akhirnya, musim semi itu pun tiba, semua lembah Makkah dipenuhi orang-orang yang menggemakan kalimat “La ilaha illallah”. Betapa banyak tokoh yang tidak diperkirakan kemudian luluh hatinya kepada Islam. Apa rahasianya? Tak ada satu pun yang tahu. Tetapi, peristiwa ini menjelaskan banyak hal untuk kalimat tauhid .

Peristiwa ini juga menjelaskan urgensi kalimat tauhid di muka bumi. Hakikat peristiwa ini memiliki nilai amat penting di hadapan Allah. Apa arti peristiwa ini di masa depan, saya serahkan kepada alam pikir para pembaca sekalian di masa depan. Perang Badar telah dimenangkan, kaum kafir tak lagi bisa menyombongkan diri. Islam pun sudah mulai bisa berjalan seperti mesin yang berfungsi dengan harmonis. Orang-orang kafir marah dan ingin membalas dendam karena mereka telah dipermalukan.

Safwan bin Umayyah bin Khalaf, yang akan masuk Islam setelah Pertempuran Hunain, menahan kemarahannya kepada Nabi Muhammad SAW. Umair ibn Wahb pun tidak kalah marahnya, dia adalah sepupu Safwan, mereka siap berbuat keburukan apapun untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW. Setelah Badar usai, mereka duduk dan berbicara dengan hati yang sedih dan penuh duka. Sedangkan di Madinah, para sahabat merayakan kemenangan dengan hati gembira dan ungkapan-ungkapan manis. Mereka berdoa semoga Allah berkenan menganugerahi kembali nikmat-nikmat yang seperti ini.

Rekan-rekan Umair serta Safwan ibn Umayyah menceritakan kesedihan-kesedihannya pasca Perang Badar, putra Amr ibn Wahb ditawan, sedangkan ayah Safwan terbunuh dalam pertempuran Badar. Keduanya menahan dada penuh dendam di masa jahiliyah,  Umair ibn Wahb dijuluki sebagai iblisnya kaum Quraisy, dialah setan dari kaum Quraisy. Tetapi perhatikanlah, saat takdir berkehendak, iblisnya Quraisy pun menjadi penolong Sang Nabi SAW. Ia berbicara dengan Safwan dan merencanakan rencana mereka; dia akan pergi ke Madinah untuk menengok putranya, ia berencana mendekati Nabi dengan dalih untuk menebus putranya. Jika berhasil, ia akan membunuh Nabi Muhammad dengan pedang yang telah dilumuri dengan racun.

Dengannya ia akan membalaskan dendam semua orang Quraisy, dia pergi ke Madinah dengan niat itu. Ketika ia mengikat untanya di depan Masjid, Umar ibn al-Khattab melihat orang berjulukan setan Quraisy ini. “Berlindunglah ke masjid sebelum sosok buas ini masuk!” serunya kepada para sahabat. Dia akan menyakiti Nabi, ada tanda-tanda pedang di balik pakaiannya. Betapa dahsyatnya kepekaan, kehati-hatian, dan kewaspadaannya! Orang berjiwa buas itu masuk, tetapi Umar sudah masuk sebelum dia masuk. “Ya Rasulullah, seseorang yang buas akan datang ke sini, semoga dia tidak menyakitimu!”, kata Umar kepada baginda Nabi. Nabi tersenyum dan berkata, “Tinggalkan aku bersamanya, wahai Umar! Biarkan dia masuk!”.

Umair ibn Wahb mendekati Nabi, kemudian Nabi pun bertanya, “Umair, kenapa kamu kemari?”. “Aku datang ke sini untuk membayar uang tebusan dan menjemput putraku.”, jawab Umair. Percakapan antara Nabi dan Umair pun berlanjut:

 

Nabi       : “Katakan padaku alasan sebenarnya! Kenapa kamu datang ke sini?”

Ketika Umair terus berbicara tanpa menyatakan alasan sebenarnya, Nabi Muhammad pun berkata,

Nabi      : “Jika kamu mau, saya dapat memberitahumu! Anda berdiskusi dengan Safwan ibn Umayyah di pinggir Ka’bah. Rencanamu adalah datang kemari sambil menyuguhkan alasan ingin menebus putramu, lalu membunuhku dengan pedang yang telah kau rendam dengan racun selama berhari-hari.”

Rasulullah belum selesai berbicara, tetapi setannya Quraisy ini tiba-tiba bangkit terkaget-kaget, kemudian berkata,

Umair   : “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Apakah anda mengizinkan ya Rasulullah jika saya tinggal bersamamu? Izinkan saya menggunakan pedang tajam ini di jalan Allah!”

Nabi       : “Pelajarilah Al Qur’an!”

Ia pun mempelajari Al-Qur’an di Masjid Nabawi. Setannya Quraisy menjadi murid Sang Nabi,  ia mengambil tempat di samping Umar. Akhirnya dia mempelajari Al-Qur’an sebanyak yang dia bisa. Sementara itu di Makkah, Safwan berjalan mondar-mandir, ia menyusuri jalanan Makkah sambil menunggu kejadian luar biasa yang akan terjadi di Madinah. Berita yang akan datang itu penting baginya, bagi orang-orang Makkah dan bagi sejarah. Ia menantikan kabar kematian Sang Nabi, dia menanyakan setiap kafilah yang lewat, tetapi berita yang dinanti tak kunjung datang. Apa yang dia harapkan tidak terjadi.

“Ada apa di Madinah? Apakah ada berita?”, pada suatu hari dia bertanya pada seorang pria. Dia menjadi sangat bersemangat dan lega ketika pria itu berkata “Ada berita besar ini!”. Dia berpikir bahwa peristiwa yang akan membuat Quraisy sangat senang telah terjadi. “Bagaimana itu bisa terjadi? Bisakah kamu memberitahuku kejadian hebat itu?”,  “Ya, coba saya jelaskan!” jawab si pria.

Umair ibn Wahb mengunjungi Nabi, kemudian ia meninggalkannya seperti bola salju yang berpisah dari gunung esnya. Setelah mendengarkan sabda Sang Nabi, hatinya mencair dan berubah menjadi air terjun. “Ketika dia kembali, anda akan berada dalam kesulitan! Itulah kejadiannya.” kata pria tadi kepada Safwan. Dia pun bagai disambar petir di siang bolong, berita yang didengarnya tidak sesuai dengan harapannya. Sementara itu, kalbu Umair ibn Wahb begitu penuh. Ia tak tahan hanya berdiam diri di Madinah, seseorang yang tadi hatinya penuh dendam kini berubah menjadi tambang emas yang amat berharga, ia ingin menunaikan kewajibannya. “Jika anda izinkan, saya ingin kembali ke Makkah dan menuntaskan tugas dari pedang ini.”

Sang Nabi mengetahui reputasi Umair. Beliau tahu takkan ada orang yang sanggup melawannya. Umair ibn Wahb adalah seorang yang pemberani mengingat namanya berarti Umar kecil, akhirnya Nabi mengizinkannya. Safwan adalah orang yang paling pertama bertemu dengan Umair ketika dia tiba di Makkah sepulangnya dari Madinah. Safwan tidak mampu berkata dan bertanya apapun kepadanya. Dia menantang masyarakat Makkah, dia akan menunaikan tugas pedangnya sama seperti yang Umar lakukan ketika dia meninggalkan Makkah. Dia juga menjelaskan agama kepada orang-orang, dia menyampaikan keterikatan dirinya dengan kalimat “La ilaha illallah.”

Setelah satu atau dua tahun kemudian, dia kembali ke Makkah bersama kumpulan orang yang mengikutinya. Di sisi lain, Safwan masih bertahan, dia seperti es batu yang tidak akan pernah mencair dan tetap membeku. Makkah ditaklukkan, banyak hati pun turut takluk, tetapi Safwan masih menolak panggilan itu. Dia menyiapkan barang-barangnya dan menata diatas untanya. Dia memutuskan untuk melarikan diri dan menghilang di negeri yang jauh. Hati Umair ibn Wahb terasa sedih karena sepupunya belum beriman, dia menemui Nabi dan berkata,

Umair    : “Ya Rasulullah, Safwan adalah orang yang memiliki kebanggaan diri”.

Nabi       : “Mungkin ia memiliki egoisme. Tolong beri tahu dia bahwa dia aman di negeri ini.”

Umair    : “Saya percaya bahwa dia akan sangat berarti bagi Islam. ”

Nabi       : “Dia benar-benar aman untuk tinggal di sini.”

Umair    : “Tapi dia tidak akan tahu keputusanmu, bagaimana dia tahu?”

Nabi       : “Apa lagi yang bisa saya lakukan?”, tanya Nabi.

Umair       : “Semua orang melihat sorban hitam di kepala anda yang anda kenakan saat memasuki Makkah.  Jika anda berkenan, tolong berikan kepada saya, akan saya bawa kepadanya. Itu merupakan tanda bahwa anda membolehkannya tinggal di sini.”

Setelah itu dia mengambil sorban Nabi dan memakainya. Dia berbicara dengan Safwan, menjelaskan situasinya dan meyakinkannya untuk mengunjungi Nabi. Safwan pun akhirnya menemui Nabi SAW, dia sangat malu dan selalu menatap ke bawah, tidak bisa melihat ke wajah Nabi.

Safwan    : “Ya Rasulullah, dia mengatakan bahwa anda mengizinkan aku tinggal di sini, apa itu benar?”

Nabi          : “Ya itu benar.”

Safwan    : “Ya Rasulullah, aku menerima bahwa apa yang anda bawa dan katakan itu benar, tapi beri aku waktu dua bulan, jadi aku bisa berpikir.”

Nabi          : “Aku memberimu empat bulan!”, Nabi tersenyum karena beliau bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nabi bisa melihat bagaimana Safwan nanti bertempur dalam Perang Yarmuk di perbatasan Roma. Nabi bisa melihat bagaimana putra bangsawan Quraisy bertempur sebagai prajurit biasa tanpa mengharap posisi komandan. Dia tersenyum dan berkata, “Kamu ingin dua bulan tapi ini empat bulan untukmu, ambillah!”. Ketika dia melihat kebaikan dan kemurahan hati Nabi, beberapa hari kemudian dia mendekati Sang Nabi dan mengucapkan kata-kata yang membuat Umair menangis, “Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, saya bersaksi, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”. Safwan bin Umayyah membuka dadanya, menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta Mutlak yang berhak disembah.

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ  * وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, 110: 1-2). Kini yang masuk bukan satu per satu lagi, melainkan berbondong-bondong. Laju orang yang menerima agama ini kini berlipatganda seperti deret geometrik, lebih dalam, lebih luas, lebih berdimensi. Kata-kata “La ilaha illallah” pun kini bisa didengar di setiap lembah. Kita sekarang dalam keadaan gembira di lingkaran atmosfer majelis Sang Nabi. Pujian hanya kepada Allah karena menunjukkan jalan Sang Mawar saat kita berada dalam kubangan lumpur. Pujian hanya bagi Allah yang telah memberikan awan rahmat saat topan kekufuran menyelimuti kami. Pujian bagi Allah yang menunjukkan manifestasi kebangkitan saat bunga dan pepohonan tercabut bersama akarnya. Berbagai peristiwa telah kita hadapi, bibir terkulai karena putus asa, hati penuh luka.

Kini hati penuh dengan harapan, setelah wajah-wajah penuh hakikat yang mengingatkan Eranya Sang Nabi mulai terlihat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan dimana memori-memori indah itu akan kembali muncul. Semoga Allah membimbing generasi kita ke jalan yang benar. Semoga Dia memberkati kita, hamba-Nya yang lemah, dengan keberanian dan keamanan dalam perjuangan besar ini. Semoga Dia membuat kita termasuk orang-orang yang tunduk pada kalimat tauhid. Jika kita bersandar padanya, kita dapat menunaikan tugas dan membuat zaman ini bekerja membantu kita. Jika kita mengandalkan diri sendiri, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Semoga Allah tidak membiarkan diri kita sendirian dengan nafsu kita, walau hanya sekejap mata.

 

rembesan 2 cober

Rembesan 2

rembesan 1 cover

Rembesan 1

luca-baggio-112868-unsplash (1)

Guru di Perantauan