Manusia merupakan ciptaan yang sempurna dari Sang Pencipta. Walaupun tergolong sempurna sejatinya manusia tetaplah makhluk yang papa, yang selalu berada dalam kelemahan dan butuh pertolongan. Di Dalam islam dijelaskan bahwa doa atau meminta merupakan salah satu senjata terbaik muslim. Karena pada hakikatnya, kita tidak akan mampu melakukan apapun tanpa kehendak-Nya.
Didalam berdoa atau meminta kita dianjurkan untuk melembutkan suara kita.
“Berdoa lah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-A’raf : 55)”.
Andai kata seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya dengan suara yang keras tentulah sang anak tidak akan mendapatkan apapun bahkan orang tuanya akan marah kepadanya. Begitulah mengapa kita dianjurkan melembutkan suara ketika berdoa.
Mintalah segala sesuatu dari Fadhilah Ilahi. Fadhilah Ilahi di sini memiliki makna bahwa “Anugerah tambahan dari sisi Ilahi”. Mintalah kepada Allah dengan perasaan harap dan cemas. Berharap doa kita akan dikabulkan serta cemas lah jikalau doa kita menjauhkan kita dari Allah Swt.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusu’ kepada Kami (QS. Al-Anbiya’ : 90)”.
Bangunlah disaat kebanyakan orang terlelap dari tidurnya, bangkitlah dan berdoalah kepada Allah. Bermunajatlah berulang-ulang dan tanpa bosan. Serta yakinlah bahwa doa-doa yang kita minta akan dikabulkan oleh Allah diwaktu yang tepat. Jangan pernah berpikiran mengapa doa saya tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa jadi doa yang kita minta akan membawa keburukan kepada kita bahkan orang disekeliling kita atau memang waktu untuk terkabulnya doa tersebut belum tepat. Rencana Allah diatas rencana manusia.
Dan barangkali ibadah yang paling afdhol adalah Intidhar Faraj, yang berarti “Menunggu kelapangan dengan penuh harap”. Ialah terbesit harapan untuk selamat dari kemalangan seperti jatuh ke sumur seperti nabi Yusuf, selamat saat ditelan ikan, selamat ketika dikepung pasukan Fir’aun, atau selamat dari perampokan ketika melakukan ibadah haji.
Kita harus menyungkurkan kepala kita keatas sejadah, berbisik kepada bumi agar terdengar oleh langit. Berdoalah demi turunnya hidayah untuk orang-orang yang sibuk dengan keburukan. Berdoalah untuk orang-orang yang berjuang dijalan Ilahi. Berdoalah sebagaimana kita menangis ketika mendoakan Ibu, Ayah, dan keluarga kita yang telah meninggal. Dengan atmosfer yang sama sambil menumpahkan air mata kita berdoa:
“Ya Rabb, kami memohon halangilah orang-orang zalim, fasik, iri, dan dengki itu dari usaha mereka untuk menghancurkan dakwah yang kami bangun ini”
“Ya Rabb, selamatkanlah teman-teman kami yang karena kebaikan yang mereka lakukan telah menjadikannya korban, dizalimi, serta dirampas hak-haknya”
“Ya Allah dengan anugerah ekstra-Mu bebaskanlah, kembalikanlah keadaan mereka”
“Ya Allah, Anugerahilah kami ke-kariban dengan-Mu serta jagalah diri kami dari kejinya menjilat”.
Kita sebagai makhluk papa yang sangat membutuhkan pertolongan Allah. Didalam kelemahan tersebut sudah seharusnya kita memohon dengan berurai air mata. Bermunajat seraya meminta dengan penuh pengharapan, memohon agar diberi anugerah ekstra.
Berdoalah diwaktu-waktu yang mustajab karena Allah akan mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya.
“Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni (HR. Muslim)”.
Ingatlah bahwa Allah tidak butuh doa-doa kita tapi sebaliknya kita sangat membutuhkan pertolongan Allah didalam semua kegiatan kita. Berdoalah, memintalah karena Allah sangat suka diminta.
Rendah hati berarti mempunyai sifat malu seperti halnya menjaga kesucian dan dalam kesederhanaan. Rendah hati dan sederhana berkaitan dengan membatasi diri agar tidak berlebihan dalam segala hal. Hal ini juga berkaitan dengan penempatan diri seseorang untuk melindungi hubungannya dengan Tuhan terlebih dahulu, kemudian dengan manusia.
Rendah hati juga merupakan salah satu kualitas utama yang dapat menjadikan manusia sebagai hamba terbaik. Selain itu rendah hati ialah perhiasan spiritual yang dimiliki seseorang, yang menjadi watak utama sebagai patokan Allah melihat kualitas hambanya. Dalam hal ini berarti, rendah hati juga berkaitan dengan menghindari segala perbuatan buruk, yang mana Allah tidak menyukainya, dan membuatnya menjadi hamba berkualitas buruk.
Dalam kitab Al Mutawwa, dikatakan bahwa setiap agama mempunyai satu kode etik, dan kode etik Islam ialah kerendahan hati dan kesederhanaan. Rasulullah mencontohkan sifat mulia ini kepada umat muslim melalui keseharian beliau. Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah melarang seorang lelaki yang menyuruh saudaranya untuk tidak rendah hati, dengan berfirman kepada lelaki tersebut, ‘biarkanlah dia, rendah hati merupakan sebagian dari iman.” Di hadist lain dikatakan, “Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh cabang, dan cabang yang paling utama ialah pernyataan,’tidak ada yang patut disembah kecuali Allah,’ sedangkan cabang yang paling bawah ialah menyingkirkan kerikil dari jalan. Rendah hati ialah salah satu cabang atau bagian dari iman.”
Lalu, kepada siapa saja kita harus bersifat rendah hati dan sederhana?
Rendah hati dan sederhana kepada Allah
Bentuk paling sederhana dari sikap rendah hati dan sederhana kepada Allah ialah menaati segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Rendah hati dan sederhana kepada manusia
Sikap ini dapat dilakukan dalam bentuk tidak menyakiti sesama dan melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama.
Rendah hati dan sederhana kepada diri sendiri
Sikap ini dapat dilakukan dengan menghindari dosa-dosa ketika sedang dalam keadaan sendiri.
Rasulullah mengajarkan bahwa ketakutan akan sifat sederhana dan rendah hati dapat mengarahkan seseorang pada kekafiran. Sunan ibnu Majjah mengatakan, “Kerendahan hatian dan kesederhanaan ialah struktur keimanan. Apabila struktur itu diruntuhkan, maka keimananpun akan rusak dan hancur. Karena moral keislaman ialah rendah hati dan sederhana.
Suatu hari, seorang yang bijaksana dengan pengetahuan teknologinya melihat seorang laki-laki tampan yang bermasalah dengan sifat sederhananya. Menyadari hal itu, seorang bijaksana itu memberitahu laki-laki tampan yang ditemuinya dengan perkataan yang lembut dan penuh pelajaran. Dia berkata, “Ini ialah rumah yang mewah dan bagus, saya harap rumah ini juga memiliki fondasi yang kuat.”
Fondasi yang kuat ialah sifat sederhana dan rendah hati. Tanpa keduanya segala sesuatu yang indah tak akan memiliki arti. Seperti halnya bangunan yang tak memiliki fondasi maka tidak akan pernah bisa berdiri.
Beberapa orang hanya menampakkan sifat rendah hatinya saat orang lain melihatnya. Faktanya, hal ini justru akan mengarahkan orang itu kedalam perbuatan dosa. Hal ini juga menentukan level kerendahan hati orang tersebut. Seorang yang hanya menghindari dosa hanya saat di depan publik tanpa melakukannya ketika dalam keadaan sendiri, sama saja levelnya dengan kehinaan.
Dalam hal ini, marilah bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah seseorang pernah benar-benar sendiri ketika tidak ada seorang pun di sekitarnya? Tentunya tidak. Ada malaikat yang terus mengawasi kita selama 24 jam. Seseorang yang mempunyai keyakinan itu akan terus menjaga sifat sederhana dan rendah hatinya dalam keadaan apapun.
Allah Swt menunjukkan diri-Nya kepada alam semesta dengan menciptakan manusia untuk mengamati kenikmatan seni-Nya, membuat mereka bertepuk tangan, dan memberi makna pada pengamatan mereka. Dia menciptakan manusia agar mereka dapat mengetahui alam semesta Di alam semesta mereka dapat mengerti arti ma’rifatullah sehingga dapat beribadah kepada-Nya. Karena mata manusia tidak mampu melihat dengan cermat anugerah melimpah di alam semesta, mereka tidak dapat memahami banyak kebenaran yang telah Dia perlihatkan kepada mereka. Dan menyatakan diri-Nya kepada mereka di alam semesta dengan nama Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Dia maha peyayang bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Al-Ahzab; 43).
Dia mengutus Nabi Muhammad SAW dan semua nabi lainnya ke bumi ini untuk mengajari manusia dan untuk menjelaskan arti alam semesta bagi mereka. Para nabi menjelaskan kepada manusia makna alam, makna manusia dan berusaha menunjukkan kepada manusia jalan menuju kepada Allah SWT. Jika seseorang tidak memasuki jalan menuju Allah seperti yang ditunjukkan, dijelaskan dan diarahkan oleh para nabi. Berarti dia telah menyimpang dari jalan dan masuk ke dalam hal yang bertentangan dengan ciptaan dan fitrahnya. Orang itu akan dikatakan sesat. Jika seseorang memasuki jalan sebagaimana yang telah ditunjukkan, diarahkan, dan menuju jalan hidayah melalui wasilah nabi, maka dia telah memasuki jalan yang diridhai Allah SWT dan merupakan jalan tujuan diciptakannya alam semesta. Seperti bahasa Al Quran, seperti juga dalam kitab-kitab yang lain, Allah SWT memerintahkan para nabi, memerintahkan nabi-Nya, untuk menjadi penunjuk dan penuntun bagi jalan-Nya. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran (nasihat) yang baik” (Qs. An Nahl; 125).
Ajaklah orang-orang ke jalan Allah. Jalan Allah adalah jalan untuk memahami tujuan Allah menciptakan alam semesta, untuk memahami keagungan Allah, untuk bersimpuh di hadapan kebesaran ini, bersujud, dan mengakui peghambaan kepada-Nya. “Ajaklah orang-orang ke jalan ini”. Begitulah Ia memerintahkan nabi-Nya. “Ajaklah dengan hikmah” (penuh kebijaksanaan). Firman-Nya, “Ajaklah mereka dengan menjelaskan kepada mereka tujuan penciptaan mereka, dengan menjelaskan makna alam semesta, dengan menunjukkan kebijaksanaan-Ku di alam semesta, dengan menunjukkan manfaat maslahat pada objek benda, dengan menguraikan isi suatu objek hingga ke bagian terkecilnya, dengan menceritakan makna pergerakannya, kelebihan-kelebihan dan kapasitasnya, panggil mereka ke jalan-Ku dengan menanamkan makna semua ini sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka!” Perintah Allah. Rasulullah saw, telah menyampaikan Hakikat kepada orang-orang yang berada pada zamannya dengan tingkat pemahaman mereka. Faktanya adalah bahwa beliau telah melakukan tugasnya dengan cara yang menyenangkan semua hati. Hati kami juga senang. Semoga Allah memberinya tempat terpuji, menganugerahkan beliau lingkaran cahaya syafaat, dan membuat kita mencapai syafaatnya.
Rasulullah SAW menyampaikan al-Quran dengan cara yang diperintahkan al-Quran, dalam waktu singkat menjadi wasilah pembentukan lingkaran yang terbuat dari cahaya di sekitarnya. Lingkaran cahaya ini terus mengembang tiap harinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Naabi (penyair Turki terkemuka 1642-1712), “Dia bukan bulan yang telah mengumpulkan lingkaran cahaya di sekelilingnya dan duduk di dalamnya. Ia adalah bintang.” Nabi Muhammad saw adalah seorang pengkhutbah yang menjelaskan kebenaran kepada orang-orang. Beliau menjelaskannya dengan ungkapan, “Para sahabatku bagaikan bintang-gemintang.” Sebagaimana juga beliau menjelaskan hakikat kebenaran kepada bintang-bintang. Bintang-bintang ini seperti kilau di sekitar bulan, telah menunjukkan kompetensi berkembang di sekelilingnya setiap hari. Banyak potongan es mencair, banyak batuan padat melebur menjadi tanah, dan padang rumput mulai berfungsi menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga.
Anak dari Abu Jahal (Ikrimah), hatinya penuh dengan permusuhan dan kebencian. Dulunya adalah batuan padat. Tetapi di hadapan Rasulullah SAW, dari mulut beliau yang menuangkan kebijaksanaan dan kebenaran. Ketika beliau membuka mulut, hati Ikrimah yang keras pun luluh dan berubah menjadi padang rumput dan menjadi pot bunga untuk mawar dan bunga-bunga. Salah satu dari mereka yang menentang Rasulullah, yang menutupi telinga dan hatinya dari hikmah, adalah Khalid ibn Al Walid yang tumbuh dalam ras itu dan seorang politikus besar lainnya Amr ibn Al Ash.
Setelah Hudaibiyah, Khalid ibn Al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash juga luluh hatinya. Sebenarnya sudah lama petir melintas di kedua pikiran mereka, tetapi karena keras kepala mereka bertahan, tetap menentang Rasulullah. Amr ibn Al ‘Ash telah pergi ke Abyssinia bertahun-tahun yang lalu. Dia telah melihat Amr bin Umayyah ra di sana. Dia meminta izin dari Negus untuk memenggal sahabat Rasulullah. Dan kemudian dinukilkan kepada kita: “Perkenankan saya wahai raja yang mulia untuk memukul kepala ummat shabiin ini. Biarkan aku memenggal Amr bin Umayyah!” Saat dia mengangkat tangannya dan hendak memukul hidungnya dengan keras, dalam kebingungan dan kemarahan itu, jantungku mau loncat karena kaget, takut aku pikir dia akan memenggal aku. Lalu dia berkata; “Bagaimana bisa! Seorang nabi yang menceritakan apa yang dikatakan Nabi Musa, seorang nabi yang adalah pertanda kabar gembira dari Isa, seorang nabi penguasa alam semesta, seorang nabi yang aku imani ini, bagaimana mungkin aku serahkan kepadamu?” “Tuanku yang mulia, apakah anda percaya padanya?” “Aku percaya padanya” katanya. Bahkan Amr ibn Al ‘Ash berkata; “Aku mengulurkan tanganku di sana, memberi penghormatan kepada penguasa.” Setelah itu, menyalalah di benaknya kebenaran cahaya di sana.
Adapun Khalid ibn Al Walid menceritakan situasinya di Hudaibiyah: Ketika utusan Allah membuat kesepakatan di sana, saya memutuskan untuk menyerang dari belakang dengan pasukan berkuda saya. Mereka berdiri untuk shalat, mereka melaksanakan shalat khauf. Sebagian tentara berdiri di hadapan kami dan sebagian lagi shalat bersama jamaah lainnya di belakang. Kemudian mereka bertukar. Saya tidak diberikan kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bingung tentang apa yang harus dilakukan ketika muslim dan musyrik mencapai kesepakatan. Sampai hari itu, selama 5-6 tahun saya selalu menarik tirai ke matahari, kututup mataku, tutup telingaku pura-pura tidak mengenalnya. Rasa kantuk seketika hilang, saya merasa tidak nyaman dengan berpikir kemana harus pindah, ke Abyssinia atau Damaskus. Suatu hari, Walid ibn Al Walid, yang adalah saudara saya, lebih duluan pergi dari pada saya mencapai kebahagiaan cahaya. Dia pergi sebelum saya dan masuk ke dalam lingkaran cahaya Rasulullah. Dia menulis surat untuk saya. Dalam surat itu, saudara saya berkata: “Ketika Rasulullah telah melakukan umrah pada tahun berikutnya yang tidak bisa dia lakukan di Hudaybiyah, Dia mengatakan kepadaku “Kenapa orang seperti Khalid yang cerdas berakal masih musyrik? Bukankah seharusnya orang seperti Khalid masuk ke dalam lingkaran cahaya ini? Bukankah seharusnya dia berada di pasukan ini? Bukankah seharusnya dia termasuk di antara para utusannya? Dia menulis dalam suratnya. Ketika saya mendengar ini, saya merasa seperti dunia diberikan kepada saya. Saya telah diliputi oleh kegelisahan, saya lelah pergi ke kedai minum setiap hari, saya lelah melakukan hal-hal kekufuran, saya lelah tanpa sujud, tidak mengingat Allah, hati nurani saya membuat saya malu. Saya akhirnya memutuskan untuk pergi. Saya memutuskan untuk pergi, tetapi bagaimana saya bisa pergi sendiri? Saya pikir saya akan pergi, namun saya akan membawa orang lain. Saya pergi ke Safwan bin Umayyah yang cerdas. Dia telah banyak menentang. “Demi Allah, walaupun aku akan tinggal sendirian aku tidak akan percaya padanya” katanya. Dan saya katakan kepadanya: “Dunia sedang berantakan, pelan-pelan semua orang akan mengikutinya.”
Seolah-olah dia telah melihat hari ini. Seolah-olah dia telah melihat bahwa dua pertiga dari dunia akan berada di bawah kedaulatannya SAW. Es akan mencair, bebatuan akan berubah menjadi tanah lunak. “Semua orang akan tunduk kepadanya, ayuk kita pergi”. Khalid bin Walid kemudian mendatangi Ikrimah dan mencoba meyakinkannya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa selain kata-kata Safwan. Akhirnya, beliau pergi ke Talhah bin Utsman, dan menawarkan ajakan, dia menerima untuk ikut Bersama Khalid bin Walid. “Kami pergi dalam gelap di malam hari tanpa terlihat. Saya khawatir apa yang akan terjadi jika mereka berada di hadapan kami, jika kami tidak bisa mencapai kapal (hidayah), atau jika mereka menghalangi kita untuk menjangkaunya, bagaimana jika kematian menangkap kita sebelum kita mencapainya. Pada malam hari kami meluncur di kegelapan, kami mendirikan tenda di lembah yang gelap, kami mulai beristirahat.”
Utusan Allah juga pernah melewati lembah-lembah gelap di malam yang begitu gelap. Beberapa tahun kemudian, Khalid al Walid bersama Thalhah mengikutinya dalam kondisi pikiran yang sama, di udara yang sama, melewati lembah yang sunyi. Saat mereka bisa berhenti dan istirahat di sana. Malam itu dalam kekhawatiran yang sama Amr bin Al ‘Ash juga berangkat, “Aku muak dengan kekufuran ini, aku jenuh dengan kondisi tanpa shalat ini, aku bosan dengan keadaan hatiku ini yang tiada Allah di dalamnya. Aku mau pergi untuk merasakan ketenangan di kota Madinah. Aku akan bergabung mengikutinya (Rasulullah).”
Semua orang bergabung dengannya dan menemukan kebahagiaan. Dia juga muncul dari lembah gelap lain dalam sensasi dan emosi yang sama. Amr ibn Al ‘Ash berkata: “Ketika aku melihat bayangan di depan dalam kegelapan, aku berkata ‘Duh, aku tertangkap!’ Perlahan aku mendekati tenda, untuk memeriksa siapa yang ada di dalamnya. Aku berhadapan dengan Khalid ibn Al Walid. Kami telah berhadapan dengan Rasulullah di Badr. Kami berperang melawannya. Dulu kami menentang orang Muslim di Badr. Di Uhud, bersama-sama kami telah menyerang Rasulullah dari belakang. Di Khandaq kami juga bersama. Di Hudaibiyah kami juga dalam permainan yang sama, kami bermain bersama (perang).” Kami terkejut ketika kami bertemu. “Pergi kemana kamu, Khalid?” “Tidak, aku hanya keluar jalan-jalan” “Dan bagaimana denganmu?” “Aku juga lagi jalan-jalan” Seorang yang lalai, seseorang yang tidak percaya kepada Allah, mengembara, berjalan dan hanya berkeliling sia-sia. Perlahan hati mereka terbuka, “Wahai Khalid, aku sudah bosan, aku sudah bosan dengan hidup dalam kekufuran. Aku juga ingin pergi ke Rasulullah untuk mengikutinya, aku akan pergi dan mengatakan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, yang menyembuhkan segala penyakit.” “Betulkah? Aku juga keluar karena itu, aku juga sedang pergi ke arah sana.” Kedua komandan saling berpelukan. Mereka menangis di pundak mereka dan berjalan beriringan bersama dalam perjalanan mereka menuju kekekalan.
Berita itu sudah sampai ke Rasulullah. Allah, yang kebesaran-Nya menghubungkan langit dan bumi, memusatkan dan menentukan barat dan timur. Allah telah mengirim malaikat-Nya dan telah memberitakan kabar ini. Khalid bertemu dari jauh, dan mengatakan bahwa dia sedang ditunggu oleh Rasulullah. Khalid begitu bahagia. “Kami tinggal di Aqabah, ada orang yang datang menemui kami, lalu kami pergi ke Madinah, memasuki hadirat Rasulullah. Beliau Saw. menyambut kami dengan senyum di wajahnya. Ketika duduk langsung saya ucapkan: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Khalid ibn al Walid mengatakan: “Saya merasa seolah-olah memasuki surga, tetapi ada masalah dalam diriku. Baik saya maupun Amr ibn Al ‘Ash tidak dapat mengangkat kepala dan memandang wajah beliau.” Terutama yang dikatakan Amr ibn Al ‘Ash, “Wahai Rasulullah, saya telah melakukan banyak hal jahat kepadamu sehingga tak mampu melihat wajahmu, doakan saya!” Begitupun Khalid al Walid juga mengatakan hal yang sama, meminta dimohonkan ampunan dari Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya: “Ya Allah, ampunilah Khalid.” Sejak hari itu, Rasulullah menggambarkan Khalid sebagai pedang yang ditempatkan melawan kekufuran. Ia menjulukinya Saifullah. Tentara ciut di hadapannya, batu-batu melebur. Nama Allah berkibar di bahu dan di embara. Nama Allah adalah yang tertinggi, ditunjukkan di alam semesta sebagai yang tertinggi oleh Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al ‘Ash.
Ya, ceritakan kebenaran dengan kebijaksanaan, ceritakan Al-Quran dengan kebijaksanaan. Ceritakan nabi kita Muhammad SAW yang mulia yang telah melakukan misinya dengan kebijaksanaan. Es akan mencair, gunung-gunung akan meleleh, batu-batu akan melebur, semua orang dan segala sesuatu di alam semesta akan datang dan mengatakan ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Rahasia “tidak ada yang tidak memuliakan Dia dengan pujian-Ny” akan dipahami. Dia yang ditinggikan dan dimuliakan oleh segala hal akan dinyatakan, semuanya akan berlutut di hadapan Allah. Anda hanya perlu memberitahu tentang-Nya kepada semua orang di mana pun anda berada. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi hati dari petunjuk yang buruk, hasrat kepada-Nya, dan memberikan semangat ini kepada mereka yang hatinya telah terjepit dan membusuk di abad ini. Terutama Muslim yang menderita, dengan memberi mereka makan dengan inspirasi ini. Semoga Dia memberi kepercayaan kepada hati. Semoga Dia menganugrahkan antusiasme menjadi orang yang percaya setelah mendengar kebenaran iman dan menceritakannya kepada yang lain!
Bagi sebagian orang, memeluk Islam dan menjalankan tugas sucinya adalah sama seperti proses pertumbuhan pohon bambu. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa dan bagaimana bisa? Kita dapat dengan baik menjawab pertanyaan ini dengan memperhatikan langsung bagaimana pohon bambu itu tumbuh dan berkembang. Pertama, benihnya ditabur, disirami dan diberikan pupuk. Tidak ada perubahan yang bisa diamati pada benih tersebut selama satu tahun pertama. Kemudian benih disirami dan diberikan pupuk lagi. Hasilnya tetap sama, benih bambu itu tetap tidak muncul ke permukaan selama tahun keduanya. Langkah yang sama terus diulangi pada tahun ketiga dan keempat, benih bambu terus disirami dan diberikan pupuk, tapi ia tetap pada kondisinya semula, tidak ada tanda-tanda pertumbuhan padanya.
Sang petani tetap lanjut memberikan penyiraman dan pupuk yang cukup dengan kesabaran tinggi selama menjalani tahun kelima bambunya. Hingga pada akhirnya, menjelang akhir tahun kelima, bambu tersebut mulai tumbuh dan muncul ke permukaan, dan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar enam minggu, ketinggiannya mencapai 27 meter. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, manakah yang lebih tepat dan lebih diterima akal, bambu itu tumbuh dan berkembang hingga mencapai ketinggian 27 meter dalam waktu hanya enam minggu atau lima tahun? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah, sudah barang tentu lima tahun. Jika saja benih tidak disirami dan diberikan pupuk selama lima tahun, jika saja kesabaran dan ketekunan yang tinggi tidak diterapkan, mestinya kita sama sekali tidak membicarakan tentang pertumbuhannya, alih-alih bambu tersebut tidak menemui wujudnya. Oleh karena itu, masa tunggu selama lima tahun diisi dengan perlakuan perlahan tapi pasti, yaitu dengan terus memberikan makanan bagi unsur kimia dan fisika yang terkandung dalam tanah, terus menyirami, serta membiarkan matahari menghangatkan benih yang selanjutnya membentuk embrio dari bambu tersebut.
Tentu saja, hal ini tidak bisa terjadi secara spontan. Bisa dipastikan itu terjadi dan terus terjadi karena adanya Yang Maha Pemberi Sebab, Allah SWT, yang telah membawa sebab-sebab tersebut bersama-sama dan memberikan urutan waktu tumbuhnya. Dialah yang telah memberikan nafas kehidupan yang menyebabkan benih bambu tersebut tumbuh.
Beberapa kepribadian mirip dengan bambu ini: sangat keras, kasar, mereka menunggu, menciptakan satu masa tunggu, yang namun pada akhirnya mereka menebus keterlambatannya dengan sangat cepat. Periode ini bisa berlangsung 3 sampai 30 tahun, mereka menunggu yang lain, atau pun barangkali mereka sedang menunggu dirinya sendiri. Mereka menyerap airmata kita, usaha dan keringat kita, seperti halnya vacuum yang tiada hentinya. Hingga waktu yang tepat datang dan mereka muncul dengan kecepatan tinggi yang bahkan bisa melangkahi mereka yang di depan. Sama seperti atlet, begitu dia mendekati garis finish, usahanya yang begitu besar sudah cukup untuk menutupi berbagai jarak dan mereka pun menyelesaikan lomba sebagai yang pertama.
Tingkat kelamaan seseorang menunggu orang lain atau orang tersebut menunggu dirinya sendiri sebelum menerima kebenaran adalah tergantung pada keinginan, karakter dan situasi yang sedang dijalani. Sudah barang tentu, bahwa karakter memainkan perannya di sini. Jika seseorang tidak dididik dengan apa yang mereka butuhkan dimana hal itulah yang menjadi dominan dalam karakternya, mereka tidak merasakan kepuasan. Sebagai contoh, jika karakter dominan seseorang adalah sebagaimana dicerminkan oleh asma Allah, Yang Maha Mengasihi dan Maha Mencintai, sebelum mereka bisa menerima sesuatu atau mengundang yang lainnya ke hati mereka, mereka membutuhkan dan mendambakan kasih sayang. Inilah kunci mereka untuk membuat perubahan. Mereka hanya akan mengalah ketika kasih sayang sudah cukup ditunjukkan bagi mereka. Sebaliknya, jika tidak, maka mereka tidak akan menyerah.
Ini bisa diamati dari konversi sebagian orang ke Islam. Kadang ada kejutan yang luar biasa, setelah waktu berinvestasi yang lama, orang tersebut memeluk Islam hanya dengan hal-hal yang sepele. Sebuah permasalahan kecil sanggup menyebabkan perubahan yang besar ini, dan itu bukanlah keharusan kita untuk mengetahui apa kuncinya. Fokus perhatian kita hanya untuk melanjutkan investasi, terus menyirami dan memberi makan, serta memeliharanya dengan menampilkan pokok-pokok ajaran agama kita. . .
Hampir bisa dipastikan, diantara mereka yang pertama sekali melaksanakan aksi-aksi tersebut adalah mereka yang telah mengeluarkan tenaga yang besar dan banyak mengalami penderitaan. Terdapat banyak pahlawan tanpa tanda jasa, merekalah yang telah menyirami benih masa depan dengan air mata dan kucuran keringat dari pundak mereka. Orang-orang tersebut tidak disebutkan dimana-mana, mereka tidak pernah didengarkan keberadaannya. Mereka tidak beristirahat, mereka tidak menghabiskan waktu hanya sekedar untuk mencium aroma bunga atau memakan buah usahanya, mereka hanya melakukannya demi Allah semata. Sebuah pergerakan kecil dengan usaha yang ringan terkadang bisa membuahkan hasil, namun tidak hanya orang yang memetik buah yang akan mendapatkan penghargaan. Semua yang terlibat dalam proses pertumbuhan pohon dan mematangkan buah akan diberikan penghargaan. Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana tidak menghukumi hanya dengan penampilan fisik saja, Dia menghukumi berdasarkan esensi dan realitasnya. Dengan alasan ini, Dia tidak membiarkan serta mengabaikan siapa pun, Dia tidak melupakan apapun, Dia memberikan imbalan atas usaha yang dilakukan setiap orang dengan adil.
Penduduk Makkah yang menjadi Muslim setelah Penaklukan Makkah pada 11 Januari 630 M atau bertepatan dengan 20 Ramadhan 8 H adalah sejalan dengan bambu Islam. Nabi mengajak mereka beriman selama 13 tahun di Makkah, yaitu dari tahun 610 sampai 622. Dia menyirami hati mereka dengan air mata sucinya dan keringat dari keningnya. Kemudian, dia menunggu di Madinah dengan penuh kesabaran selama delapan tahun. Pada akhirnya, di tahun 630, yaitu berselang 21 tahun dari awal mula kenabian, di dalam hati keras mereka yang telah dipelihara dan disirami oleh Nabi dan para sahabat yang mulia dengan usaha dan semangat pantang menyerah, benih keimanan mulai tumbuh, bercabang dan bunganya bermekaran hingga menghasilkan buah. Sudah dikatakan bahwa bambu membutuhkan waktu lima tahun untuk tumbuh, tapi orang-orang yang semula tidak beriman tersebut membutuhkan hampir 21 tahun untuk tumbuh berkembang. Alhamdulillah mereka mulai tumbuh dan bisa mempelajari Islam langsung dari Nabi.
Sebagai kesimpulan, kita menuai apa yang kita tanam. Kita tidak seharusnya memposisikan diri sebagai orang yang mengumpulkan buah, itu bukanlah peran kita. Kita adalah orang yang harus merawat benih dan menyiraminya penuh kasih sayang. Memberikan usaha dan meluangkan waktu untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar akan membuat Allah ridha, inilah yang seharusnya menjadi pokok tujuan kita. Mereka yang dipersiapkan untuk menunggu orang-orang agar menjadi matang, yaitu selama 21 tahun, dengan penuh kesabaran berharap menaklukkan hati untuk membawa mereka ke jalan yang benar yang sesungguhnya merupakan usaha mengikuti jalan Nabi, jalan memberikan penerangan dan ajakan. Seseorang yang beranjak dari perjalanan ini tanpa adanya kesabaran akan sia-sia belaka.
Seseorang yang sifat kemanusiaannya belum padam, belum hilang hati nuraninya, yang masih memiliki hati di dadanya, apa saja yang ia gunakan, ia rasakan, ia lihat, dan ia peroleh, maka ia pasti akan memikirkan orang lain agar dapat memperoleh manfaat dari hal-hal berguna yang indah dan berharga. Jika ia pergi dan melihat surga, ia pun mengundang orang lain ke sana, dan meyakinkan orang lain. Itulah yang menjadi masalah utamanya. Jika ia melihat taqdir, melihat pena taqdir, buku catatan nasib, tentang pena, tentang buku catatan, membujuk orang-orang adalah menjadi masalah penting baginya. Entah dia mendengar ayat-ayat Allah dari bahasa alam semesta, jika dia melihat-Nya dengan pandangan dan pemahamannya yang khas, menunjukkan-Nya, memperdengarkan kepada mereka yang perlu mendengarkan-Nya adalah menjadi tugas penting baginya. Ini untuk manusia yang hati nuraninya belum pudar, yang memiliki suara dalam hatinya. Inilah keprihatinan dan masalahnya Rasulullah Saw. Beliau percaya seperti beliau melihat Allah, beliau melihat surga dan beliau percaya. Takdir beliau melihat pena takdir dan beliau percaya, beliau berbicara dengan malaikat secara lisan hal, melihat mereka dan percaya. Beliau melihat, mendengar, percaya dengan diri beliau sendiri bahwa kitab yang turun kepada beliau berasal dari Allah dan kemudian beliau meninggalkan surga, beliau meninggalkan bidadari-bidadari, beliau meninggalkan para pelayan surga dan kembali ke dunia manusia untuk memberitahu dan membawa mereka semua keindahan itu. Ketika beliau mencapai puncak tertinggi di sana, beliau kembali berada di antara orang-orang untuk memegang tangan mereka dan menaikkan mereka ke surga yang telah beliau saksikan sebelumnya.
Dalam hal ini, Rasulullah Saw sangat menderita, karena manusia menolak untuk memahami apa yang beliau katakan, mereka lari dari beliau dan menghindar untuk mendengarkan kebenaran-kebenaran yang agung itu. Hati beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran.
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ
Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling (Al-Kahfi; 6)
Beginilah Al-Quran menggambarkan kondisi Rasulullah SAW dalam penderitaan. Setelah melihat Allah dengan segala bukti, mendengarkan Dia dari alam semesta, setelah masuk ke jiwa dan memahami-Nya di sana, dan mendengarkan suara-Nya dalam hati nuraninya. Masalah penting bagi seseorang adalah memperdengarkan suara ini kepada siapa saja yang belum mendengarkannya, untuk bahwa mereka berada di jalan yang benar, mencerahkan mereka dengan cahaya ini, untuk memastikan yang mengarahkan mereka ke surga Darussalam dalam keadaan aman. Ini adalah masalah manusia yang sebenarnya.
Suatu ketika Umar ra. berada di samping seseorang sedang menangis tersedu-sedu. Ketika sang khalifah lewat di depan sebuah biara dan melihat seorang pendeta yang mengeluarkan kepalanya dari kanopi. Pendeta malang ini telah hidup zuhud mengabdikan dirinya, tidak makan tidak minum dan lelah. Ketika melihat ini, Umar ra. tidak bisa menahan isaknya dan mulai menangis. “Wahai Khalifah Nabi Allah, dia orang Kristen” kata mereka. “Karena itulah aku menangis” kata Umar. “Dia telah mengubah dunia menjadi neraka bagi dirinya sendiri, tidak ada penderitaan yang belum ia derita, tetapi dia ketinggalan kapal. Dia tidak dapat menemukan utusan Allah; dia akan pergi ke neraka, karena itu aku menangis sedih.”
Rasulullah Saw juga menderita dan berlutut di ujung kepala anak yahudi sesaat sebelum ia meninggal. Anak yahudi yang beliau layani ketika ia menghembuskan nafas-nafas terakhirnya. Jika ia memanfaatkan saat-saat terakhir hidupnya dengan benar, ia akan masuk surga Darussalam dan di sana ia akan melayani nabi dari semua nabi. Jika tidak ia memanfaatkannya, ia akan masuk neraka. Rasulullah Saw memberikan pandangan yang penuh kasih sayang kepada anak itu dan semanis katanya: أ سلم يا ولد “Jadilah seorang muslim nak”. Anak itu sudah melekatkan hatinya pada Rasulullah, tetapi karena keganasan ayahnya dan takut pada ibunya, ia tidak bisa mengikuti ajakan Rasulullah Saw. Dapat terlihat bagaimana menderita Rasulullah dari raut wajahnya, dalam menghadapi kemungkinan penolakan dari anak itu, jika saja tiba-tiba ia katakan “aku tidak mau”. Melihat Rasulullah begitu menderita, anak itu mengalihkan pandangannya dari Rasulullah dan memandang ayahnya yang non-muslim. Ayahnya berkata; أ طع أبا القا سم “Anakku sayang! Taatilah Abu Qasim!” Dalam hembusan nafas terakhirnya, saat bernafas yang terakhir kalinya, seolah-olah dia menggambarkan spiral ke atas yang bercahaya dan ruhnya naik ke dalamnya sambil mengatakan: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ. Rasulullah Saw pun pulang kembali ke rumah, beliau merasakan seolah-olah baru saja menaklukkan dunia, tidak bisa dibayangkan bagaimana hati beliau begitu senang dan gembira.
Begitu pula ketika Nabi di hadapan Abu Quhafa, beliau dalam penderitaan dan kekhawatiran. Sampai hari penaklukan Mekkah, Abu Quhafa masih menutup dirinya dari makna hakiki Ilahi. Kilau kenabian pertama sekali menyala di rumahnya, dan cucunya adalah istri Rasulullah. Putranya, Abu Bakar telah menjadi lukisan kebanggaan yang akan terus berada dalam ingatan umat manusia sampai hari kiamat. Namun sayang sekali, Abu Quhafa tidak bisa melihat cahaya ini sampai penaklukan kota Mekkah. Dia tidak bisa melihat cahaya di rumahnya sendiri, dia tidak bisa melihat cahaya Rasulullah Saw. yang memancar di jalan-jalannya. Pada hari itu, ketika Mekkah ditaklukan, bongkahan es yang ada dalam diri Abu Quhafah mencair dan terjadilah juga penaklukan dalam dirinya. Ini adalah sumber kegembiraan bagi putranya. Sang anak pun memegang tangan ayahnya dan membawanya ke hadapan Rasulullah; Ia adalah ayah dari mertuanya, ayah dari ayah istrinya, ayah dari sahabat setianya, ayah sahabatnya di Raudhah. Rasulullah berkata: “Kamu telah menyusahkan orang tua, saya akan mengunjungi dan mentalqinnya…” Abu Bakar menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, dia seharusnya datang dan bersimpuh di hadapanmu.” Sang ayah yang sudah tua renta pun ada di sana, beliau pun mengucapkan kalimat yang memiliki kekuatan paling besar: لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّٰهِ
Lihatlah, satu-satunya putra Abu Quhafa, Abu Bakar, yang bergeser ke samping dan menangis terisak-isak. “Kenapa Anda menangis wahai Abu Bakar?”“Ayahku datang dan menyerah kepadamu, dan mendapat hidayah. Saya akan sangat menginginkan melihat Abu Thalib di posisi ayah saya wahai Rasulullah! Karena itulah aku menangis. Sedekat mana ayah saya dengan saya, segitulah dekat ia (Abu Thalib) dengan anda.” Dekat tetapi dia juga telah ketinggalan kapal dan dia tidak bisa mengucapkan kalimat suci itu.
Hakikat kalimat “La Ilaha Illallah” yang coba dijelaskan oleh alam semesta dengan bahana gemuruhnya, yang terus-menerus digelombangkan oleh manusia bagai ombak lautan yang dalam dengan penuh kesenyapan merupakan hakikat agung dimana ragat raya tunduk di hadapannya. Setiap hakikat kebenaran yang ia ciptakan dalam kalbu setiap individu, beginilah antusiasmenya, menjadi sangat antusias. Di hadapan orang yang tidak beriman, hatinya akan sangat hancur.
Jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang tidak beriman. Banyak asrama pelajar yang akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak beriman. Jika kita tidak sedih melihat orang-orang yang tidak beriman dengan gambaran yang mengerikan ini, berarti hati kita telah padam, hati nurani dalam diri manusia itu sudah tidak ada lagi. Semoga Allah menganugerahkan kita hati nurani, kesadaran dan pemahaman. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjelaskan dan menerangkan kebenaran yang kita yakini dengan sepenuh hati kepada orang lain.