Adult and children hands holding paper family cutout, family home, foster care, homeless support concept

Lindungi Generasi Penerusmu

Mus’ab Bin Umair telah meninggalkan hidupnya yang nyaman dan serba berkecukupan dan pergi ke Madinah. Saran saya, jika kalian ingin menyelamatkan dunia, maka kalian harus menjadi seperti Mus’ab, Khabbab Bin Al-Aratt ataupun Ibnu Jahsy. Suatu beban yang hanya bisa diangkat dengan tangan yang dapat mengangkat beban lima kilogram, tak akan bisa diangkat dengan tangan yang hanya kuat mengangkat beban tiga kilogram. Orang-orang yang kesana-kemari berjibaku dalam isu-isu dunia dan lebih mencintainya daripada akhirat, memilih untuk menikmati kasurnya yang empuk daripada melayani al-Qur’an dan umat, serta tidak merasa sedih dan kehilangan ketika agamanya roboh ataupun ketika anak mudanya telah termabuk akan dunia, tak ada yang bisa diharapkan dari mereka untuk perjuangan dakwah ini. Tapi ingatlah, pintu Allah akan selalu terbuka, selalu menunggu kedatangan kalian entah muda atau tua dan menyambut dengan sangat gembira ketika kalian datang menghadap-Nya. Allah akan menjaga kalian dari petaka yang menyakitkan dan penderitaan ini. Dan Dia pun akan menjaga kalian dari konflik dan kerisauan batin.

Jikalau kalian menjadikan rasa kebertuhanan, iman dan makrifat kepada Allah lebih dominan dalam hidup, maka kalian akan diliputi oleh rahmat Allah yang tak terbatas tanpa bisa kalian sangka-sangka. Tunjukkanlah kepada orang lain cara untuk lebih menyukai pengabdian kepada al-Qur’an daripada kenyamanan ranjang tidur. Saya memberikan penekanan pada masalah ini karena dua alasan. Pertama, saya akan membungkam rasa putus terhadap asa orang-orang yang menatap masa depan dengan pandangan pesimis. Kedua, saya akan menghilangkan rasa cemas dari sebuah penghinaan. Saya sepenuhnya percaya dan menyatakan kepada dunia bahwa suara mereka yang mencintai, menghormati, dan melayani orang banyak, suara Islam, suara Nabi Muhammad SAW, suara suci al-Qur’an yang merupakan kalam ilahi, akan menjaga dan melindungi keistimewaan suara yang kuat dan merdu mereka pada skala manusia.

Hanya ada satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia kita ini. Ialah dengan menjaga generasi muda kalian. Seorang individu, keluarga, komunitas ataupun seluruh bangsa harus menyadari pentingnya menjaga anak-anak kita. Mereka akan mengenal Allah dan Utusan-Nya. Kemudian hati dan kepala mereka akan terisi dengan sains modern di sekolah-sekolah sehingga mereka akan tumbuh menjadi manusia yang sempurna. Kita akan membangun masa depan dunia berlandaskan kepercayaan, perdamaian dan kebahagiaan dengan membekali anak kita akan penggabungan sains barat, ilmu agama, kebenaran Rasulullah SAW dan al-Qur’an yang mulia. Saya tidak percaya mereka yang berkelahi di jalanan bisa mengerti misi ini. Saya tidak percaya mereka yang mengklaim bahwa akan mendirikan Turki yang hebat dengan suara lantang bisa menghasilkan sesuatu. Lindungilah generasi kalian dan Allah Yang Maha Kuasa akan menjadikan kalian mulia. Pada saat ini, Allah telah melimpahkan nikmat dan anugerah-Nya pada kalian yang bahkan tidak ada pada abad sebelumnya. Kalian berada pada posisi untuk meninggikan agama Islam sampai pada titik tertinggi kemanusiaan dan meninggikannya sampai pada titik puncak kemanusiaan. Kalian telah memasuki jalan menuju langit dengan bantuan dan rahmat Allah. Allah Yang Maha Kuasa telah menganugerahi kalian keberkahan ini. Dia tidak mengambil kembali nikmat yang telah Ia berikan setelah Ia limpahkan keberkahan-Nya.

adrian-dascal-6gGSIRRNlJc-unsplash

Kualitas Para Manusia Khidmah

Dalam salah satu artikelnya, Fethullah Gulen merangkum kualitas orang-orang yang mengabdikan diri pada Khidmah (kata yang berasal dari bahasa Arab, digunakan juga dalam bahasa Turki –Hizmet- yang berarti kesukarelaan dan bermanfaat bagi orang lain):

  1. Orang yang berkhidmah harus meneguhkan diri, demi tujuan yang telah mereka percayai dengan hati, bahkan untuk menyeberangi lautan “darah dan nanah”.
  2. Ketika mereka mendapatkah hal yang diinginkan, mereka harus cukup dewasa untuk menghubungkan segala sesuatu dengan Pemiliknya yang Sah, menghormati serta berterima kasih kepada-Nya. Suara dan nafas mereka digunakan memuliakan dan mengagungkan Allah, Pencipta yang Agung. Orang-orang seperti itu sangat menghormati dan menghargai setiap orang, serta menerima apapun Kehendak Allah sehingga mereka tidak mengidolakan orang-orang yang melakukan hal baik sekalipun.
  3. Mereka memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas pekerjaan yang tidak terselesaikan, penuh pertimbangan dan berpikiran terbuka kepada semua orang yang mencari bantuan mereka, serta selalu hidup untuk membela kebenaran.
  4. Mereka sangat teguh dan penuh harapan bahkan ketika institusi mereka dibubarkan, rencana mereka gagal, dan pasukan mereka dikalahkan.
  5. Orang-orang yang melayani, bersikap moderat dan toleran ketika mereka mengambil pemahaman baru dan akhirnya bisa melambung ke puncak, dan sangat rasional dan bijaksana sehingga mereka mengakui sebelumnya bahwa jalannya sangat curam. Begitu bersemangat, tekun, dan percaya diri sehingga mereka rela melewati semua lubang neraka yang ditemui di jalan.
  6. Orang yang begitu tulus dan rendah hati sehingga mereka tidak pernah mengingatkan orang lain tentang pencapaian mereka. 1

Itu Tidak Dapat Dicapai tanpa Kesulitan dan Penderitaan

Salah satu kualitas orang beriman yang menganggap melayani agama sebagai tujuan hidupnya adalah kesulitan dan penderitaan. Seperti diketahui, tujuan para nabi adalah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar melalui undangan dan pengawasan. Tidak ada momen dalam hidup mereka di mana misi Ilahi ini tidak terjadi. Kegiatan paling nyata yang diamati dalam kehidupan para Nabi adalah mengingatkan orang-orang tentang iman; merencanakan dan memunculkan strategi untuk memenuhi misi Ilahi ketika mereka sendirian; meminta bantuan dari Allah agar apa yang diusahakan bisa tercapai; berdoa dan memohon keselamatan bagi mereka yang melepaskan diri dari Allah dan mengalami kesulitan dan penderitaan di jalan ini.

Tentu, tidak berbeda dengan Nabi kita. Beliau memiliki perhatian dan kasih sayang yang besar terhadap rakyatnya. Beliau menanggung banyak kesulitan dan segala bentuk penderitaan agar orang lain bisa memeluk Islam. Al-Qur’an menjelaskan situasinya dengan ayat berikut: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah 9:128).

Sama seperti yang Beliau lakukan di bumi, Nabi kita yang mulia juga akan berusaha menyelamatkan orang-orang beriman di Hari Penghakiman dengan menggunakan hak syafaatnya, dia akan memohon belas kasihan Allah untuk keselamatan mereka yang layak diampuni. Di zaman sekarang ini, seorang Muslim harus peka tentang situasi orang lain, sama seperti Rasulullah, mereka harus berharap agar mereka memiliki iman, mempelajari kebaikan universal dan mengamalkannya sesuai sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan di kedua dunia. Selain itu, berdoa untuk keselamatan mereka dan peduli tentang masa depan mereka adalah jalan kenabian. Untuk alasan ini, setiap jiwa yang telah memiliki tanggung jawab ini telah membiasakan untuk melafalkan doa berikut: “Allahummarham ummata Muhammad“, ya Allah, kasihanilah umat Muhammad, damai dan berkah besertanya.

Sebagaimana dijelaskan di atas, doa ini mencakup sekilas pandangan para nabi yang luhur karena juga membagikan pandangan-pandangan mereka yang bermartabat. Orang-orang yang memiliki cita-cita luhur seperti itu kadang-kadang berkata, “Ya Allah, pada Hari Penghakiman, buatlah tubuhku begitu besar sehingga memenuhi seluruh Neraka, dengan cara ini tidak akan ada celah kosong untuk orang lain!” Ada juga yang mengatakan: “Saya telah mengorbankan dunia saya dan akhirat untuk kepercayaan rakyat saya. Saya bersedia membara di api neraka jika saja saya bisa melihat keselamatan dari iman umat saya. ” Orang-orang seperti itu telah menunjukkan tindakan pengorbanan diri ini dengan terus hidup dalam kerangka pikiran ini.

Mari kita coba memperkuat argumen kita dengan analogi: Suatu ketika, seseorang berpikir dalam hati, “Saya ingin tahu apakah ada orang suci di zaman-zaman ini?”. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Ya ada seseorang. Dia adalah pandai besi di tempat ini dan itu dan namanya Ahmad Efendi. “

Jadi orang ini mencari Ahmad Efendi dan menemukannya. Dari kejauhan dia mengamati gaya hidupnya. Ia ingin melihat kualitas luar biasa apa yang dimiliki Ahmad Efendi. Namun, dia tidak bisa melihat sesuatu yang mencolok tentang dia.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengunjunginya dan menceritakan pengalamannya. Setelah mendengarkan, Ahmad Efendi menjawab: “Seperti yang Anda lihat, saya tidak memiliki kehidupan religius yang intens. Saya tidak terjaga setiap malam dan saya tidak berpuasa setiap hari. Namun, ketika saya meletakkan besi saya di atas api dan berubah menjadi merah, dan siap untuk saya tempa, umat Muhammad, semoga Allah memberikan sholawat dan salam kepadanya, muncul di benak saya. Saya berpikir tentang bagaimana mereka hidup terpisah dari Allah dan ditemani oleh dosa. Ini adalah saat saya berdoa, “Ya Allah, ampunilah Muslim dan kasihanilah mereka. Selamatkan mereka dari situasi yang memalukan ini.” Saya sangat tersesat dalam pikiran ini sehingga kadang-kadang saya mengambil baja dari sisi yang panas dan saya bahkan tidak merasakan panas di tangan saya. Orang satunya menjawab, “Baik, sekarang saya tahu mengapa Anda begitu berharga di sisi Allah.”

Memang, seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani agama harus merasakan kepedihan dan penderitaan mereka yang membutuhkan bimbingan. Setelah kematian Abu Ali Dakkak, seorang hamba Allah yang tercinta, mereka melihatnya dalam mimpi dimana dia menangis dan berharap dia kembali ke bumi. Mereka bertanya mengapa dia menginginkan hal seperti itu dan dia menjawab:

“Saya ingin kembali ke bumi dan mengenakan pakaian bagus saya. Kemudian ambil tongkat saya dan bergegas ke jalan saat saya mengetuk setiap pintu. Saya ingin meneriaki setiap rumah tangga, “Saya harap anda tahu bahwa anda semakin jauh dengan Allah!”

Pikiran untuk menyentuh setiap jiwa dan mengetuk setiap pintu dan berseru, “Beriman kepada Allah dan selamatkan dirimu!” selalu terlintas di pikiran semua Nabi dan orang alim. Sayangnya, manusia tidak menyadari permainan yang mereka mainkan, hal-hal yang mereka lewatkan dan di mana mereka akan berakhir. Seseorang tidak dapat memahami manusia yang tidak berpikir untuk menggunakan kehidupan yang diberikan kepada mereka, sebagai modal untuk mendapatkan kehidupan kekal mereka.

1.Gulen, M. Fethullah, Pearls of Wisdom, New Jersey: Tughra Books, 2012, hal. 103-104

photo-1419833173245-f59e1b93f9ee

Jangan Menyerah Terhadap Peristiwa yang Terjadi

Tak pernah putus asa adalah suatu hal yang terbesit dalam pikiran saya, yang mungkin akan menjadi wasilah ampunan dari Allah SWT bagi saya. Walaupun saya hanya melihat dua orang pemuda, mereka akan tumbuh dan berkembang di masa depan. Yang tadinya hanya dua menjadi dua ratus, dari dua ratus akan menjadi dua ribu. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, orang-orang yang beriman akan memimpin takdir manusia. Dengan taufik dan inayah (rahmat) Allah SWT, masa depan tidak akan diarahkan oleh orang yang tidak memiliki iman, ateis ataupun orang-orang yang memiliki penyakit hati, melainkan oleh orang-orang yang hatinya penuh dengan keimanan. Cukuplah janji Allah menjadi dalil untuk kita.

Inilah permohonan saya untuk kalian. Dakwah yang sudah kalian bawa hingga saat ini, jangan sampai kalian tinggalkan di tengah jalan. Setiap orang berusahalah untuk menyalakan dan menjaga percikan dakwah yang telah mereka emban. Bangsa ini memiliki kehormatan yang luar biasa dalam sejarah, tapi ia memiliki berbagai masalah untuk masa depan. Untuk merubah masa depan bangsa yang mulia ini menjadi masa kejayaan, semua orang harus bekerja keras untuk dakwah yang sudah mereka mulai. Peristiwa-peristiwa yang menimpa diri anda seperti munculnya orang-orang yang berusaha menghentikan Anda, jangan sampai membuat anda berhenti. Dakwah ini dimulai seperti ini dan akan senantiasa seperti ini. Derita dan keprihatinan yang luar biasa itu dirasakan oleh orang yang paling dicintai oleh Allah SWT dan anda pun mungkin akan mengalami rintangan yang seperti ini. Dimanapun anda berada, tetap nyalakan api dakwah ini. Nyalakanlah dengan ruh nabi Muhammad SAW, dengan ruh al-Qur’an, dengan ridha Allah SWT dan berhati-hatilah, jangan sampai anda bercerai-berai. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d:11).

Berusahalah untuk tidak bercerai berai dan jangan sampai menjadikan dunia menjadi tujuan ataupun terbawa dengan hal-hal yang fana. Jadikanlah Allah SWT sebagai tujuan yang paling utama dan jadikanlah tujuan anda akan apa yang dikehendaki Rasulullah. Jadikanlah kematian sebagai wasilah untuk bertemu dengan Allah dan Rasul. Berdakwahlah hingga ajal datang menjemput. Jangan pernah berhenti dan janganlah cemari diri anda dengan kotoran dunia. Berkhidmahlah untuk bangsamu sampai mereka benar-benar beriman dan jangan sampai sekali-kali menyerah di jalan ini. Allah SWT akan menjadikan satu menjadi seribu. Ingatlah bahwa ketika anda menjalankan dakwah ini, anda mengikuti dakwah yang di emban oleh para Nabi dan Rasul. Jika anda menyampaikan dakwah ini dengan penuh cinta, isytiyaq (kerinduan) ilahi dan penuh dengan ikhlas, maka tak ada satupun yang bisa mencapai level tingkatan anda. Anda merepresentasikan level tersendiri di sisi Allah SWT. Anda kembali membawa pesan-pesan dari para sahabat yang punya hubungan yang erat dengan Allah SWT yang secara tidak langsung anda merepresentasikan para sahabat tersebut.