Mengembangkandiri.com qibla001

Barometer Keimanan

Urgensi Beriman

Tujuan dari penciptaan manusia salah satunya adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allahﷻ. Untuk menuju penghambaan yang sempurna maka setiap manusia wajib memiliki keimanan yang kuat. Iman merupakan satu satunya perkara yang tidak bisa dihadirkan kehadapan Allahﷻ dalam keadaan cacat. Jika salat wajib belum sempurna maka masih bisa disempurnakan dengan salat sunnah, jika puasa belum sempurna maka bisa ditutupi dengan puasa sunnah, jika zakat belum sempurna maka bisa disempurnakan dengan sedekah. Namun, jika seseorang mukmin menghadap Allahﷻ dengan iman yang tidak sempurna, maka tertolak semua amalnya.

Lalu Bagaimana Cara Menjaga dan Memperbaiki Iman?

Jauh–jauh hari baginda Muhammad ﷺ telah mengabarkan pada kita bahwa selagi Ruh belum melewati tenggorokan maka potensi iman bertambah atau berkurang senantiasa ada. Namun bersamaan dengan itu beliau juga memberitahukan kita solusi meningkatkan iman, Sabdanya.

Perbaharuilah iman kalian dengan kalimat laa ilaaha illAllaah”. Hadits ini dapat dimaknai secara tersurat maupun tersirat, secara tersurat hadits ini menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dengan memperbanyak zikir dan menyebut Allahﷻ, sementara makna tersuratnya iman dapat bertambah dengan mengaplikasikan lafadz “laa ilaaha illAllaah” ada dua substansi yang terkandung dalam lafadz tersebut. Pertama penafian, maksudnya adalah menafikan keterkaitan segala sesuatu dalam hidup kita dan substansi kedua adalah penyandaran yaitu menyandarkan segala sesuatu pada Allahﷻ. Maksudnya setelah kita menafikan keterkaitan Zat lain selain Allahﷻ kemudian kita menyandarkanya kepada Allahﷻ.

Contoh sederhana pengaplikasian lafadz “laa ilaaha illAllah“ dalam kehidupan kita sebagai berikut. Suatu hari terjadi kecelakaan di depan halte bus, secara kebetulan di dalam halte ada 3 orang yang sedang menunggu bus. Orang pertama seorang dokter karena profesinya seorang dokter maka ia mengambil kesimpulan awal “mungkin sang driver sedang kurang sehat sehingga terjadi kecelakaan“, sementara orang kedua yang merupakan seorang mekanik bliaupun berkesimpulan “mungkin ada yang tidak beres dengan mesin nya“. orang ketiga berpendapat “bisa jadi kecelakaan ini terjadi karena faktor jalan yang bergelombang atau kontruksi jalan yang tidak pas” hal ini wajar karena latar belakang orang ke tiga ini seorang insinyur kontruksi.

Lalu siapakah yang benar? Tentu kita tidak bisa mengatakan semua benar atau semua salah karena ini hanya kesimpulan sementara berdasarkan latar belakang keahlianya, namun jika kita ingin mengaplikasikan substansi hadits di atas maka yang seharusnya dipikirkan di awal adalah “ kecelakaan ini terjadi karena kehendak dan takdir dari Allahﷻ, namun sebab yang menjadi wasilahnya adalah bisa jadi karena faktor kesehatan driver, faktor kondisi mesin atau factor kontruksi jalan” jika kita senantiasa mengaitkan segala sesuatu yang terjadi kepada Allahﷻ terlebih dahulu baru kemudian mencari sebab atau faktor lain yang menjadi asbab.

Menakar keimanan

Keikhlasan dan kesabaran bagaikan saudara kembar yang senantiasa mendampingi iman. Bagaikan mustahil seseorang mendeklarasikan keimananya tanpa ada ujin dari Allahﷻ. Ujian bagi orang yang beriman bagaikan stempel dan sekaligus barometer untuk mengukur kadar keyakinan seorang mu’min. Dalam QS. Al -Angkabut Allahﷻ berfirman :

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Dari ayat ini seolah Allahﷻ ingin mengabarkan kepada orang–orang yang berkeluh kesah terhadap ujian setelah beriman, agar berhenti berkeluh kesah dan bersabarlah, karena ujian adalah tabiat keimanan, maka semakain seseorang ikhlas, ridho dan sabar atas ujian yang ada maka hal itu menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Kualitas keimanan sesorang tidak bisa dilihat dari seberapa besar wawasanya terhadap pengetahuan agama, juga tidak bisa diukur berdasarkan ilmu dan pakaiannya. Jika barometer iman adalah wawasan, ilmu dan pakaian , maka kenapa iblis yang wawasanya melebihi Nabi Adam, dan yang lebih dahulu diciptakan Allahﷻ justru menolak printah Allahﷻ untuk bersujud kepada Adam?

Ujian dapat berupa sesuatu yang terlihat buruk seperti musibah, kesulitan dan kefakiran, dan dapat juga berupa segala sesuatu yang terlihat baik seperti kemudahan, kelapangan kekayaan. Keduanya tetaplah ujian keimanan, keridhoan, keikhlasan dan kesabaranlah barometernya. Jadi barometer bagi keimanan adalah kesabaran, semakin tinggi kadar keyakinan seseorang terhadap Tuhan-nya maka semakin besar pula tingkat kesabarnya, semoga kita semua dimasukkan kedalam golongan orang–orang yang beriman dan bersabar.

Mengembangkandiri.com dca685fbf929e5e3d4397dcdc3ab54b6

Kemerdekaan Bangsa, Kemerdekaan Diri

Karya Pembaca : Ferghi Yusuf

Ufuk fajar menyambut berkahnya hari penuh suka cita. Digaungkan bendera merah putih kebanggaan simbol jati diri bangsa. Alhamdulillah, dengan izin-Nya, hari kemerdekaan telah tiba. Hari ulang tahun Indonesia dengan 270 juta orang yang merayakannya.

Tak dipungkiri hari kemerdekaan merupakan hari bersejarah bagi Nusantara, hari di mana NKRI lahir dan terlepas dari cengkeraman penjajah durjana. Hari di mana rakyat bersorak ria tiap kali ia menyerta. Kendati demikian, kebanyakan enggan untuk memaknai makna kemerdekaan sejati. Mereka menutup pintu qolbu yang sepatutnya diusahakan untuk sebuah memakna hakikat hari.

Kemerdekaan bangsa Indonesia seyogianya dijadikan momentum untuk memerdekakan diri. Kurang afdal bukan jika yang merdeka hanya bangsanya, tidak dengan individunya? Dengan begitu, mari rayakan hari kemerdekaan sebagai ajang kebangkitan hati. Apa maknanya?

Maknanya, Hari Kemerdekaan merupakan sarana bersyukur dan bersimpuh kepada Allah Ta’alla. Qolbu yang rapuh dan haus akan iman harus segera diisi kembali dengan maknawi penuh rohani. Qalbu yang menderita, meronta, meminta karunia kepada Sang Pemilik Segalanya yang mencurahkan rahmat ke dunia fana. Qolbu yang terkorek hitamnya dosa harus bersujud memohon ampun pada-Nya, bertaubat seolah tak ada waktu tersisa.

Tidak berhenti semata, jadikan kemerdekaan sebagai cermin diri bagaimana pendiri bangsa berjuang membela tanah air dengan nyawa mereka. Jadikan pengorbanan mereka sebagai motivasi intrinsik untuk mengabdi tanpa pamrih kepada sesama sesuai tuntunan agama. Jadikan celotehan mereka sebagai prinsip hidup yang terpatri dalam raga. Jadikan tetes darah mereka sebagai pemantik spirit ukhuwah islamiyah kita. Begitu kiranya…

Masih belum kelar, kenyataan pahit memang, Hari Kemerdekaan justru diperingati sebagai momentum berfoya-foya yang tidak semestinya. Banyak orang melakukan maksiat yang dibenci oleh Sang Pencipta. Kita harus berani berbeda. Rayakan hari kemerdekaan dengan melakukan amalan yang membuat malaikat turun berdoa. Isi hari dengan membaca buku, tilawah Al-Qur’an, dan mengembangkan kemampuan yang sekiranya berguna. Terus terang ajakan ini untuk semua pembaca, termasuk penulis juga. Jadi, kita berjuang bersama, ya. Bismillah

ochimax-studio-N5bKG8C93Uw-unsplash

Kemerdekaan Ibarat Sepertiga Dunia Seisinya

Karya Pembaca : Habib A.S

Yang perlu diingat, tiga setengah abad bukanlah waktu yang singkat, bukan pula waktu yang penuh akan nikmat. Nikmat untuk dapat menikmati hidup yang singkat, nikmat untuk sekadar menikmati hasil jeri payah dan keringat. Sejarah telah mencatat hampir tanpa cacat, perihal kehidupan leluhur kita di bawah kuasa kolonial yang jahat. Entah apa yang Tuhan maksudkan, kita hanya dapat menjadikannya sebagai bahan renungan. Renungan yang mengantarkan kita kepada sikap syukur atas kemerdekaan yang telah diberikan. Renungan yang memicu semangat kita untuk terus berjalan ke depan. Renungan yang mendorong kita untuk menadahkan tangan ke atas, memohonkan ampun mereka atas semua kesalahan. Itulah yang semestinya kita lakukan.

Ya. Tujuh puluh tujuh tahun negara ini mendapatkan kemerdekaannya, dimana sebelumnya dirampas oleh mereka yang hanya mementingkan kepentingannya. Begitu banyak hal yang sebenarnya dapat kita jabarkan tentangnya, baik sebelum dan selama dijajah, serta sebelum dan selama merdeka. Tentu tidaklah cukup, apabila semuanya dituangkan hanya pada satu tulisan saja. Begitu pula dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sangatlah banyak hal yang kiranya dapat kita petik dan kita amalkan dalam kehidupan. Sampai-sampai, tak satupun yang dapat kita ingat, kecuali pada saat hari besar kenegaraan saja.

Memang tidaklah salah, jika kita benar-benar demikian, mengingat nikmat kemerdekaan ini hanya pada hari peringatan yang tertanggalkan. Itu menunjukkan bahwa, hari peringatan benar-benar berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan, guna memupuk kembali rasa cinta tanah air dan menguatkan ingatan kita akan para leluhur yang telah berjuang habis-habisan.

Terlepas dari itu semua, baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sang panutan umat manusia, yang kecintaannya kepada tanah airnya tidaklah lagi diragukan, sebagaimana disebutkan pada hadist-hadist shahih yang ada, pernah bersabda demikian yang kiranya dapat kita jadikan wallpaper di handphone kita, agar kita ingat selalu tentangnya, agar kita termasuk menjadi seseorang yang senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Tuhan berikan, tidak hanya pada hari peringatan saja. Demikianlah sabdanya,

“Barangsiapa di antara kalian yang bangun tidur dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan mendapatkan makanan (pokok) pada harinya, seakan-akan telah diberikan kepadanya dunia dan semua isinya” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadist tersebut, mari kita renungi sejenak diri kita sekarang. Apakah kita terbangun dari tidur karena adanya suara ledakan? Apakah kita terbangun dari tidur akibat teriakan manusia yang kencang? Atau apakah ada suatu gangguan lainnya yang membangunkan kita dari tidur nyenyak? Jika tidak ada, beruntunglah kita menjadi seorang hamba yang diberikan kenikmatan ini. Kenikmatan kemerdekaan atas negeri dimana kita tinggal yang membuat kita bangun dari tidur dalam keadaan yang aman. Tak perlu beranjak pada poin kedua dan ketiga hadist tersebut, kita sudah diberi nikmat yang begitu besar, nikmat yang dapat diibaratkan dengan sepertiga dunia seisinya, nikmat yang tidak akan kita sanggup beli kepada-Nya, jika Dia menetapkan harga pada setiap nikmat yang Dia berikan.

“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya”. (QS. A Nahl : 18)

Demikianlah, Tuhan Sang Maha Pemurah memberikannya kepada kita, dimana ada diantara hamba-hambanya yang belum berkesempatan merasakannya. Terlebih, jika kita mengikuti berita perkembangan dunia, bahwa semakin banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Oleh karena itu, kita sangat perlu untuk bersyukur. Bersyukur karena termasuk golongan hambanya yang beruntung, beruntung karena menjadi hamba yang diberikan nikmat tersebut. “kemerdekaan”

“dan bersyukurlah kamu akan nikmat Allah, jika memang hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. An Nahl :114)

Namun, janganlah kita terlampau bangga dulu, janganlah kita menganggap diri kita taat karena diberikan nikmat tersebut. Mari coba renungkan, apakah Dia memberikannya kepada kita secara cuma-cuma tanpa maksud?

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu`minun : 115)

Dan mari kita renungkan sekali lagi, apakah nikmat kemerdekaan ini justru menjadi sebuah ujian dan musibah bagi kita? Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm,

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu hanyalah musibah”. (Jaami`ul Ulum wal Hikam, 2:82)

Demikianlah. Kemerdekaan yang tengah kita rasakan ini, tidaklah lain adalah pemberian-Nya. Pemberian yang menuntut kita untuk merawatnya sebagai salah satu bentuk syukur kita. Pemberian yang tidak diberikannya secara percuma, melainkan mengandung maksud tertentu dari-Nya agar kita benar-benar memanfaatkannya dengan baik dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita rawat bersama kemerdekaan yang telah Dia berikan kepada kita, yang menjadikan perjuangan dan pengorbanan leluhur kita sebagai perantaranya. Satukan rasa, sampingkan perbedaan, hadapi lawan, dan selesaikan masalah secara bersama. Buktikan kepada-Nya bahwa kita bisa melakukannya, sebagai bentuk mensyukuri nikmat-Nya. Lebih dari itu, kita dapat menjadikannya sebagai sarana untuk menolong saudara kita yang belum seberuntung kita.

Dan yang terpenting, setiap nikmat akan ada pertanggungjawabannya, dengan apa dan bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dalam ketaatan kepada-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berdoa untuk kelanggengan kemerdekaan negara ini sebagaimana yang Nabi Ibrahim Alaihis Salam telah contohkan kepada kita. Tak lupa, selipkan doa kita untuk mereka yang belum seberuntung kita, yang masih berjuang untuk kemerdekaan.

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. Al Baqarah : 126)

Sekian. Selamat hari kemerdekaan untuk kita semua, Indonesia.

Referensi

M.A Tuasikal, “Akan Dipertanyakan Segala Nikmat”, 2012.

levi-meir-clancy-Y2oE2uNLSrs-unsplash

Salat: Cahaya Jalan Miraj

Shalat merupakan ringkasan penghambaan kita kepada Allah. Sebuah ikhtisar dari segala penghambaan yang kita lakukan untuk Allah. Kuncinya adalah persiapan ruhani, serta persiapan jasmani, dengan berwudhu. Mengambil wudhu adalah penyegaran jiwa, mempertemukan ruh dengan kekuatannya serta mengembangkan sisi kemalaikatan. Berwudhu artinya memasuki atmosfer penantian terhadap datangnya anugerah Ilahi. Ketika air dingin menyentuh badan, bagaimana sengatannya menyegarkan tubuh kita. Ketika air dingin menyentuh persendian, bagaimana kekuatannya membangkitkan kita. Sebagaimana ia memiliki penjelasan ilmiah. Demikian juga dengan wudhu yang membuat ruh menjadi muda, segar, dan bangkit. Sehingga si hamba berhasil meraih level dimana ia siapakan menjadi sarana bagi umat Muhammad SAW dipanggil dengan panggilan khusus di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda: “Di hari kiamat umatku akan dipanggil dengan sebutan ‘Ghurran Muhajjaliin‘ “Umat Muhammad akan dipanggil sebagai ‘Ghurran Muhajjaliin’ Apa itu ‘Ghurran Muhajjaliin’? Yaitu mereka yang dahinya cemerlang, menyebarkan cahaya ke sekelilingnya, tanda dari eksisnya hakikat. Cahaya yang muncul dari anggota wudhu adalah bukti bahwa mereka adalah umat Muhammad SAW. Anggota wudhunya bercahaya. Di satu sisi sangat bersih, bening, dan cemerlang. Di sisi lain, ia menyebarkan cahaya cemerlang yang menandakannya sebagai umat Muhammad SAW. “Anggota wudhunya jadi cemerlang karena bekas wudhu”. “Siapa hendak menambah cahayanya, hendaknya ia menyempurnakan wudunya” (Muttafaqun Alaih).

Topik ini diriwayatkan lebih luas dan mendalam oleh sahabat lainnya. Rasulullah & sahabatnya pergi ke Baqiul Gharqad, Sejarawan berkata ada 10.000 sahabat dimakamkan disana. Ketika Rasulullah menjalani hari-hari terakhirnya. Beliau berpamitan kepada penghuni Baqiul Gharqad dan Syuhada Uhud. Terdapat makna ladunni dalam peristiwa ini bahwa barangkali, karena keagungan dan ketinggian derajat Baginda Nabi di akhirat nanti, Beliau tak bisa temui mereka hingga kiamat tiba.  Beliau pun berpamitan dengan mereka saat di dunia. Dengan jasmaninya, beliau temui mereka. Sekali lagi disampaikannya salam kepada ruh-ruh agung itu. Saat memasuki Baqiul Gharqad: “Salam untuk kalian wahai penghuni kubur ini!” “InsyaAllah dalam waktu dekat saya juga akan bergabung!” Dan sejak saat itu, mengucapkan kalimat yang sama menjadi hal yang disunahkan kepada umatnya. Dan sepertinya terjadi musyahadah. Pandangannya lebih dalam, penglihatannya meluas, kemudian kata-kata ini keluar dari bibir mulianya: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku” “Bukankah kami ini saudaramu, Ya Rasulullah?” “Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku yang setia dan terkasih”. “Saudaraku masih belum tiba, mereka akan datang setelahku…”Jamaah yang mulia, umat yang mulia, serta bangsa yang mulia…”Bagaimana Anda bisa mengenali mereka yang masih belum datang…? Baginda Nabi bersabda: “Bayangkan seorang laki-laki…” “Laki-laki itu memiliki kuda-kuda yang wajahnya putih cemerlang” “Kakinya jenjang dan berwarna putih bersih” “Jika kuda itu ada di tengah kumpulan kuda hitam nan pekat, bukankah ia akan mengenali kudanya?” “Tentu,” jawab sahabat Rasul Allah bersabda “Umatku akan datang sebagai ‘Ghurran Muhajjalin'”Aku akan melihat mereka saat berjalan ke Hadapan Allah. Aku mengenali mereka dari cahaya di dahinya”. Aku akan menyaksikan anggota wudhu mereka menebarkan cahaya ke sekelilingnya “Aku akan mengenali umatku sebagaimana laki-laki itu mengenali kudanya” “Aku adalah farat haudh dari mereka.  Akulah yang paling dahulu menuju haudh!”

Makna dari Farat adalah: “Biar kusiapkan tempat untuk mereka, demikian juga dengan kautsar dan cawannya...” “Sebagaimana tuan rumah menjamu tamu…,” “…Aku ingin menjamu mereka dengan sebaik-baiknya ketika mereka datang nanti…” “Akulah farat dari umatku di Haudhku” “Akulah farat dari mereka yang memiliki bekas sujud di keningnya…” “Akulah farat dari mereka yang berwudu…” “…di hari penuh kesulitan dimana semua orang hanya memikirkan keselamatan dirinya”. “Akulah farat bagi mereka, umatku yang kukenali dari pancaran cahaya anggota wudhunya” “Ketika banyak orang terusir dari haudh-ku…” “Ada wajah yang menandakan cahaya, ada nurani yang meroket ke langit karena anggota wudunya” “Kepada merekalah aku memberi syafaat…!”

“Aku adalah Farat mereka di tepi telagaku”. Apapun yang dijelaskan oleh berbagai riwayat ini, pesan utama yang harus kita ambil adalah walaupun terpisah berabad-abad yang lalu dengan Baginda Nabi disebabkan oleh wudhu dan salatnya,d engan senantiasa mengingat Allah dan Rasul-Nya, dihasilkanlah kecemerlangan di dalam diri. Kepada jamaah yang berhasil meraih kemurnian jiwa tersebut.

Ketika Nabi mengirim salam kepada Penghuni Baqiul Gharqad, beliau menembus batas waktu dan kirimkan salam: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”. Betapa utamanya mereka, sebelum Nabi wafat, sebagaimana Allah memperlihatkan penghuni Jannatul Baqi, seakan-akan kepadanya Allah juga tunjukkan umat Muhammad yang akan datang di sebuah layar kaca. Beliau juga melakukan pengecekan terakhirnya di Baqiul Gharqad. Seakan beliau sedang mengecek kondisi semua umat terdahulu yang kini mendiami alam kubur. Beliau juga mengecek ruh umat yang akan datang kemudian. Dengan jasmaninya, sekali lagi beliau mengeluarkan seruannya. Seperti panggilan terakhir dari Komandan Tertinggi kepada umatnya: “Bersiap siagalah!” Beliau mengunjungi Baqiul Ghargad untuk terakhir kalinya. Beliau memberikan salam sebagaimana memberi salam kepada ahli kubur. Ketika beliau menyaksikan wajah umatnya yang akan datang nanti penuh dengan cahaya. Dengan makna kagum pada cahayanya, yang bersumber dari cahaya kenabiannya. Beliau pun bersabda: “Betapa rindunya aku untuk melihat saudara-saudaraku…”.

Jamaah muslim yang terhormat! Ini adalah isytiak dari Baginda Nabi. Sedang isytiak yang diharapkan dari kita adalah mentaati perintahnya untuk membasuh anggota wudhu agar ia bersinar di akhirat, serta menghiasi kening dengan tanda sujud. Dengan harapan menjadi umatnya, dengan harapan dibangkitkan sebagai umatnya. Dengan kerinduan untuk dapat melihatnya “Apakah Anda merindukan kami, Ya Rasulullah?”. Kami juga rindu untuk bertemu denganmu. Kami berjuang lewat ketaatan beribadah demi meraih kedekatan denganmu. Sebagaimana engkau jelaskan di hadits, kami pun mengambil wudhu dengan sempurna. Walaupun panas dan berkeringatkami tetap mendirikan salat di masjid. Kami berpuasa demi dapat berkumpul bersamamu nanti. Waktu siang semakin panjang dan suhu udara semakin panas, sebagian orang puasanya batal. Tetapi kami mencoba bersabar untuk tetap setia kepada warisanmu. Jika kita sanggup untuk melakukannya, betapa beruntungnya kita!

Duhai sosok agung yang keterikatan pada umatnya digambarkan lewat ucapan salam 14 abad yang lalu! Dengan meraih sensitivitas dalam ubudiyah dan ketaatan beribadah dengan mengerjakan semua itu dengan keseriusan mendalam. Dengan begitu, artinya kalian telah menjawab salam tersebut dengan jawaban: “Wa’alaikum salaam“. Jika ada cinta, kerinduan, dan isytiak untuk bertemu dengannya, kamu akan berada di jalan Sang Nabi. Betapa banyak orang yang dibangkitkan di padang mahsyar, tetapi tidak bisa melihat Baginda Nabi. Betapa banyak orang akan dihisab, tetapi tidak bisa melihat Rasulullah. Mereka melihat mizan, tetapi tak bisa melihat Sang Nabi. Mereka mungkin melihat Allah ketika dihisab, tetap tidak bisa melihat Rasulullah untuk meminta syafaat. Di antara mereka yang buta dan terhalang dari nikmat tersebut. Masjid jadi sarana supaya kamu tidak menjadi bagian dari yang buta dan terhalang. Puasa dan menahan lapar jadi sarana supaya nanti tidak buta dan terhalang. Bayarlah zakat dari sebagian hartamu supaya tidak termasuk dalam golongan merugi tersebut. Pergilah berhaji, bersabarlah terhadap kesulitannya, supaya kamu tidak menjadi yang buta dan terhalang. Dengan bertawaf di Kabah dan menziarahi makam Baginda Nabi, perbaharuilah kesetiaanmu. Semoga Allah SWT membuka mata umat Muhammad yang tertutup debu selama 14 abad serta membuka mata mereka ke alam lahut yang penuh senyum. Semoga Allah melindungi kita dari dunia yang penuh kelalaian. Jadikanlah pandangan kami sebagai pandangan abadi dan agung. Celupkanlah diri kami ke dalam celupan alam lahut. Jadikanlah kami sebagai sosok yang layak mendiami alam sebenarnya di akhirat nanti.