mengembangkandiri.com paper-with-brain-shape-as-dementia-symbol-on-black-2021-08-30-01-45-10-utc

Teori Kecerdasan

Karya Pembaca: Rio A.

Apa itu kecerdasaan?

Bagaimana seseorang bisa dikatakan cerdas?

Apakah kecerdasaan adalah sebuah anugrah? sebuah kualitas yang memang nilainya tetap.

Atau, kecerdasaan adalah buah dari usaha seseorang dalam mempelajari sesuatu?

Dua pandangan ini sah-sah saja untuk dimiliki. Tetapi, tahukah anda kalau cara pandang kita terhadap kecerdasan mampu berimplikasi pada cara pandang kita terhadap hal lain?

Ada dua teori dalam memandang kecerdasan, teori kecerdasan tetap dan teori kecerdasan berubah. Teori kecerdasaan tetap dapat disebut juga dengan teori kecerdasaan entitas. Dikatakan entitas karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu entitas dalam diri kita yang tidak bisa diubah. Teori kecerdasaan berubah dapat disebut juga sebagai teori kecerdasaan inkremental. Dikatakan inkremental karena teori ini memandang kecerdasaan sebagai suatu kualitas yang dapat ditingkatkan melalui proses belajar. Lantas, bagaimana teori yang dipercayai seseorang tentang kecerdasan mampu mempengaruhi pandangannya terhadap hal lain?

Dalam buku berjudul Self Theories yang ditulis oleh Carol S. Dweck, guru besar psikologi Universitas Stanford, Profesor Dweck melakukan penelitian-penelitian tentang teori kecerdasaan. Hasil dari penelitian tersebut sangat menarik. Anak-anak sekolah dasar yang teori kecerdasan entitas lebih cepat menyerah ketika menghadapi soal sulit ketimbang anak-anak teori kecerdasan inkremental.

Kenapa bisa demikian?

Saat anak-anak teori kecerdasaan entitas menjumpai soal sulit, mereka memandang soal-soal yang diberikan sebagai penilai kepintaran mereka. Artinya, kalau mereka tidak bisa menjawab soal yang diberikan, mereka berasumsi bahwa mereka tidak cukup pintar. Sebaliknya, anak-anak teori inkremental sangat suka dengan soal-soal sulit yang diberikan oleh peneliti. Mereka memandang soal sulit sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan baru. Pola-pola ini tidak hanya ditemui pada siswa sekolah dasar saja, tetapi penelitian yang dilakukan kepada mahasiswa juga menunjukan pola yang sama.

Jadi, anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah suatu entitas yang tetap akan lebih mudah menyerah daripada anak-anak yang percaya bahwa kecerdasan adalah hal yang dapat ditingkatkan melalui belajar.

Apakah kita bisa melihat fenomena “menyerahnya” anak-anak teori entitas karena persoalan yang sulit di luar penelitian?

Tentu.

Pernah dengar cerita kolega atau saudara anda yang mengatakan bahwa seseorang dulunya brilian di kelas, tetapi prestasinya menurun setelah naik ke kelas yang lebih tinggi?

Misalnya, transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah. Pada sekolah dasar, tingkat kesulitan soal atau pekerjaan dijaga minimal agar dapat memastikan pekerjaan tersebut dapat diselesaikan oleh siswa, dan siswa memperoleh banyak kesuksesan. Lebih tepatnya, kesuksesan yang mudah. Ketika mendapat kesuksesan yang mudah, baik anak teori entitas dan teori inkremental tidak terdapat perbedaan performa yang signifikan. Tetapi, saat transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah, soal-soal dan pekerjaan menjadi lebih sulit serta instruksi menjadi lebih umum. Anak-anak teori entitas yang tidak adaptif akan kaget dan percaya bahwa mereka memang tidak cukup cerdas. Anak-anak teori inkremental akan menganggap bahwa transisi tersebut memang bagian dari proses belajarnya. Selanjutnya bisa diduga, setelah transisi, prestasi anak-anak teori entitas menurun dan prestasi anak-anak teori inkremental cenderung tetap.

Saya pernah membaca cuitan seseorang di internet yang isinya kurang lebih, “Apakah benar? Saat masa SMA, perempuan yang ambisius. Tetapi waktu kuliah malah
sebaliknya?”.

Di Kamus Besar bahasa Indonesia, ambisius memiliki arti berkeinginan keras mencapai sesuatu. Mungkin yang dirujuk penulis cuitan tersebut adalah perbedaan prestasi antara masa SMA dan kuliah berdasarkan gender tertentu. Saya tidak terlalu yakin dengan hal tersebut, tentu terdapat perbedaan kasus di setiap tempat. Hal yang saya ketahui, Profesor Dweck memiliki istilah “Paradoks Gadis-gadis Pintar”. Singkatnya, paradoks tersebut berbicara tentang menurunnya prestasi gadis-gadis yang dulunya dicap pintar di bangku kuliah.

Adakah penjelasan mengenai hal tersebut?

Anak-anak yang sering dipuji karena kepintaranya, bukan kerja kerasnya, akan membentuk pola pandangan kecerdasaan teori entitas. Seiring berjalannya waktu, anakanak akan mendambakan pujian akan kepintarannya. Mereka akan memandang soalsoal yang mereka kerjakan sebagai pengukur kecerdasan mereka.

Bagaimana agar kita “tidak pernah” gagal mengerjakan soal?

Sederhana.

Kerjakan soal mudah, atau dengan kata lain, hindari soal-soal sulit. Menghindari soal-soal sulit menurunkan kemungkinan anak-anak untuk belajar hal baru. Maksudnya, kalau kita hanya melakukan apa yang kita bisa lakukan, bagaimana kita bisa belajar hal baru lebih banyak?

Fenomena ini, ditambah pandangan masyarakat bahwa laki-laki lebih baik di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menggiring “gadis-gadis pintar” untuk memilih bidang lain. Hal ini agar mereka dapat menghindari kegagalan. Kalau mereka memasuki bidang STEM pun, kegagalan akan membuat, kepercayaan diri mereka akan lebih cepat hilang dan mereka akan mempertanyakan kecerdasan mereka. Stigma masyarakat tentang dominasi laki-laki menjadi katalis menurunnya performa mereka saat menjumpai kegagalan.

Pandangan tentang teori kecerdasaan mempengaruhi seberapa cepat seseorang melabeli orang lain. Orang teori entitas melabeli orang lain lebih cepat daripada orang teori inkremental. Label di sini tidak hanya label negatif, tetapi berlaku juga pada label positif. Dari argumen-argumen pada paragraf sebelumnya, dapat dipahami kenapa fenomena tersebut dapat muncul. Ketika seseorang percaya bahwa kita memiliki sebuah kualitas yang berada di dalam diri kita yang tidak dapat diubah, maka kita hari ini adalah kita besok (dan kemarin). Satu cuplikan dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana seseorang berperilaku ke depannya. Itulah mengapa orang teori entitas cenderung melabeli orang lebih cepat. Hasil penelitian konsisten dengan hal tersebut. Orang-orang teori inkremental, sebaliknya, melabeli orang lain relatif lebih lambat. Sangat mengesankan bagaimana cara pandang seseorang mengenai kecerdasan mampu mempengaruhi seberapa cepat penilaian seseorang kepada orang lain.

Dua pandangan teori kecerdasan , baik kecerdasan tetap maupun berubah, wajar dimiliki seseorang. Tetapi, dari hasil penelitian, pandangan bahwa kecerdasan manusia dapat dikembangkan melalui proses belajar atau kerja keras adalah pandangan yang lebih baik. Kita mungkin diberi anugrah otak yang cemerlang, tetapi, sebagian orang lupa bahwa kita juga diberi anugerah untuk berusaha. Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, sebelum dia mengubah nasibnya sendiri.

Referensi:
Dweck, Carol S. (2000). “Self Theories”.

Artikel ini sudah dimuat dalam Buletin Yayasan RUBIC bulan Februari 2022

mengembangkandiri.com masjid hassan

Sosiolinguistik: Menyoal Diglosia dalam Ranah Dakwah Islam

KARYA PEMBACA: F. YUSUF

Dakwah yang merupakan khazanah istimewa Islam diperintahkah dalam firman-Nya yang berbunyi,

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (Ali Imran / 4:104).

Dalam menunjang keberhasilan dakwah, seseorang harus merancang strategi dakwah yang sesuai dengan objek dakwah. Mengutip dari Moh. Ali Aziz, strategi dakwah dapat dipahami sebagai perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan guna mencapai tujuan dakwah [1]. Terlebih, strategi dakwah harus diaplikasikan dengan beragam asas yang menuntun dai menuju arah dakwah yang efektif lagi efisien. Salah satunya ialah asas sosiologis yang mencakup situasi dan kondisi sasaran dakwah seperti kemampuan linguistik masyarakat sasaran dakwah. Dengan demikian, seorang dai wajib memahami sosiolinguistik masyarakat sehingga tingkat persentase kesuksesan dakwahnya menjadi lebih tinggi.

Mengapa demikian?

Bahasa pada hakikatnya merupakan proses interaksi verbal antara penutur dengan pendengar [2]. Saat seorang dai hendak berbicara, terbentuk suatu gagasan terkait materi dakwah yang mengalir dalam benaknya. Jika telah tiba waktunya, pesan tersebut disampaikan dalam bentuk ujaran yang nantinya ditransformasikan ke telinga pendengar. Dalam proses umpan balik tersebut, seorang dai seyogianya memperhitungkan faktor sosiokultural dan sosiosituasional di samping faktor linguistik yang cenderung mengarah kepada tata gramatikal [2].

Sosiolonguistik merupakan cabang linguistik empiris yang bersifat interdisipliner yang mengkaji masalah kebahasaan terkait dengan aspek sosial dan budaya masyarakat [2]. Keduanya saling bersinergi mengingat struktur sosial dapat mempengaruhi tingkah laku linguistik dan begitu pula sebaliknya [3]. Pemahaman akan disiplin sosiolinguistik begitu esensial mengingat bahasa menunjukkan variasi internal dan tidak akan menemukan seseorang dengan satu gaya bahasa sama [3]. Perbedaan tersebut mungkin terjadi pada pilihan kata, ucapan bunyi, dan struktur kalimat. Dengan memahami berbagai variasi tersebut, seorang dai diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan struktur bahasa di manapun ia berdakwah. Salah satunya berhubungan dengan diglosia. Diglosia merupakan salah satu gejala sosial yang bersangkut paut dengan situasi linguistik sasaran dakwah. Istilah tersebut mengacu kepada eksistensi dua ragam bahasa yang tumbuh berdampingan dengan bahasa lain dengan fungsi sosial yang khusus dalam skema komunikasi antarindividu [2]. Masyarakat dengan kondisi linguistik tersebut disebut diglosik. Lebih spesifik, masyarakat diglosik mengganggap adanya bahasa yang tinggi dan bahasa yang rendah. Bahasa pertama dinilai lebih bermartabat dan biasanya digunakan dalam situasi formal, sementara yang kedua memiliki karakteristik sebaliknya [2].

Diglosia dalam konsep linguistik cenderung mengarah kepada kontak bahasa. Artinya, ada berbagai bahasa yang saling bersinggungan dalam situasi pemakaian bahasa sehari-hari [4]. Menegaskan penjelasan sebelumnya, masyarakat diglosik memiliki ciri pembagian berbagai bahasa sesuai fungsi kemasyarakatan. Ranah tinggi biasanya diterapkan dalam bidang agama, pendidikan, dan pekerjaan. Adapun ranah rendah berkaitan dengan keluarga dan pertemanan. Keduanya tak boleh menerobos penggunaan yang semestinya guna menciptakan kondisi diglosia stabil. Jika sebaliknya, setiap bahasa justru tidak dapat mempertahankan fungsinya dan akhirnya berujung kepada ketirisan diglosia [4]. Ketirisan diglosia tentu akan menimbulkan kondisi sosial yang tidak kondusif mengingat masyarakat mengalami keguncangan budaya secara mendadak terkait pemakaian bahasa. Dalam situasi tersebut, seorang dai akan merasa kesulitan dalam menyampaikan dakwah sebab pengajaran Islam tak luput dari pemakaian bahasa yang baik dan benar.

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang dai tatkala terjerembap dalam lubang musibah tersebut?

Seorang dai setidaknya mawas terhadap kondisi diglosia sasaran dakwahnya. Ia harus bijaksana dalam menggunakan ragam bahasa yang sesuai ketika proses dakwah berlangsung. Ketika menghadiri majelis formal, tentu ia diharapkan menggunakan bahasa formal yang dianggap elite oleh masyarakat sekitar. Misalnya, ketika berdakwah di ibu kota Jakarta yang dihadiri oleh golongan kelas atas, berbahasalah dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak luput pengucapan kata sesuai dengan PUEBI. Sebaliknya, tatkala mendakwahi sekelompok pemuda, usahakan gunakan bahasa yang gaul namun tetap sopan. Jangan sampai terbawa suasana sehingga melampaui batas! Penggunaan bahasa yang sesuai tentu akan menarik hati sasaran dakwah seakan-akan gelombang sinyal yang memperoleh media elektronik dengan frekuensi sama. Tak lupa, seorang dai tidak boleh menganggap eksistensi hierarki bahasa. Ia diharuskan menilai diglosia sebagai fenomena linguistik belaka tanpa mengganggu kondisi mentalnya. Jika tidak demikian, ia justru akan menggunakan bahasa yang dianggap lebih elite dan lebih akademik dengan tujuan memamerkan tingkat keilmuannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang harus mengucapkan sesuatu sesuai tingkat pemahaman pendengarnya?

Tak hanya berdampak positif terhadap keberhasilan dakwah, adaptasi diglosia yang dilakukan dai ternyata mampu menghindari kematian suatu bahasa. Bayangkan jika dai hanya menggunakan bahasa gaul di situasi apapun, tentu pendengar akan merasa ganjil. Efek setelahnya akan lebih buruk jika sasaran dakwah kelak juga menjadi seorang dai. Ia akan terus berdakwah menggunakan ragam bahasa sama di mana hal tersebut justru memperburuk citra dai.

Mengapa demikian?

Penggunaan bahasa yang monoton dalam jangka waktu panjang menyiratkan kedunguan pembicara. Apakah kematian ragam bahasa hanya berdampak pada dai? Jawabannya tentu tidak. Fenomena kebahasaan tersebut harus dihindari sebab hilangnya sebuah bahasa akan memiskinkan pengetahuan dan pemikiran masyarakat [4]. Masyarakat yang bodoh berakibat pada sulitnya menerima ajaran Islam yang penuh logika.

Intinya, seorang dai sudah sepatutnya mengaplikasikan strategi dakwah secara efisien. Sebagai ilustrasi, ia diharuskan mengetahui situasi linguistik sasaran dakwah. Ia setidaknya memahami garis besar fenomena kebahasaan yang terjadi dan bagaimana ia menghadapinya dengan bijak. Salah satunya ialah diglosia di mana dalam sebuah struktur sosial masyarakat terdapat dua atau lebih ragam bahasa. Yang satu dianggap lebih tinggi sementara yang lainnya dianggap rendah. Dengan pendekatan objektif yang tepat, seorang dai harus menerapkan penggunaan bahasa yang tepat dengan menyesuaikan situasi. Dengan demikian, dengan izin Allah, dakwahnya akan memberikan hasil yang gemilang. Pahalanya akan terus mengalir hingga ruhnya diangkat keharibaan-Nya kelak. Semoga Allah memudahkan para dai tak terkecuali demi tegaknya kalimat syahadat. Amin.

Daftar Pustaka

[1]      E. H. Husnah, “Metode dan Strategi Dakwah,” Banten, 2016.

[2]      Abdurrahman, “Sosiolinguistik: Teori, Peran, dan Fungsinya Terhadap Kajian Bahasa Sastra,” pp. 18–35.

[3]      T. Nugroho, “Apa itu sosiolinguistik?,” Ekspresi, Jakarta, pp. 26–32, Jun. 2006.

[4]      D. Susilawati, “Bahasa Masyarakat Perkotaan: Tantangan Pemerintahan Bahasa Palembang,” Magister linguistik, pp. 1–4, May 2010.

mengembangkandiri.com Fethullah Gülen’s Teaching and Practice

Fethullah Gülen’s Teaching and Practice Book

  • Discusses the ‘distinctive normativity’ of the teaching and practice of Fethullah Gülen
  • Informed by interviews with Gülen, his close associates, and others in the Hizmet movement
  • Explores the development of Gülen’s teaching and practice in its interaction with the Hizmet movement

 

mengembangkandiri.com_Hizmet In Transition

Hizmet In Transition Book

  • Informed by interviews with Hizmet participants from Europe, the United Kingdom, and beyond
  • Analyses and evaluates the past, present, and possible future trajectories of the Hizmet movement in Europe
  • Based on research conducted since the 2016 events in Turkey

 

mengembangkan diri cahaya-abadi-muhammad-1-768x1178

Menepati Janji – Cahaya Abadi Muhammad SAW

-salawat-

Al Quran memuji orang-orang yang memiliki sifat Sidiq

Quran surat al-ahzab ayat 23 yang artinya di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya

Anas bin Malik r.a. menjadi pelayan Rasulullah SAW melalui sebuah peristiwa unik, yaitu ketika ibunya menggendongnya saat ia berusia 10 tahun ke kediaman Rasulullah SAW untuk diserahkan sebagai pelayan kalau itu sang Ibu berseru wahai Rasulullah ini pelayanmu Anas lalu wanita itu meninggalkan Anas begitu saja dan beranjak pulang. Anas bin Malik r.a. berkata ayat ini turun disebabkan Pamanku Anas bin Nadhar dan orang-orang yang seperti dia. Sejak Anas bin Nadhar r.a melihat Rasulullah SAW pada peristiwa Baitul Aqabah, paman Anas bin Malik itu sudah amat mencintai Beliau hanya sayangnya disebabkan adanya beberapa hal, Anas bin Nadhar tidak dapat ikut Perang Badar. Padahal Perang Badar memiliki posisi khusus yang sangat istimewa di kalangan umat Islam. Semua sahabat yang mengikuti perang ini mendapatkan predikat khusus diantara para sahabat yang lain bahkan menurut Jibril Alaihissalam yang menjadi panglima golongan malaikat dalam Perang Badar para malaikat yang ikut dalam Perang Badar juga mendapatkan kedudukan istimewa diantara para malaikat yang lain 

Tentang pamannya Anas bin Malik r.a. menuturkan, pamanku yang namaku berasal dari namanya tidak ikut berperan di Badar bersama Rasulullah SAW sungguh hal itu telah membuatnya gelisah Pamanku berkata pada peperangan pertama yang harus dihadapi rasulullah aku tidak ikut serta. Seandainya saja Allah berkenan menyampaikan aku pada perang yang terjadi nanti bersama Rasulullah pastilah Allah akan melihat Apa yang kulakukan. 

Rupanya Pamanku berkata begitu karena dia tidak sanggup mengatakan yang lebih dari itu, maka kemudian dia ikut berperang bersama Rasulullah dalam Perang Uhud. 

Saat itu dia bertemu, Saad bin Muadz, yang bertanya padanya, “Wahai Abu Amr hendak kemanakah Engkau?”

Ia menjawab, “Semerbak aroma surga, sudah kucium di kaki gunung uhud!”

Maka dia pun maju bertempur sampai akhirnya syahid.

Ketika mengenang kembali Perang Uhud kita pasti tak akan bisa menahan sesak yang mendadak terasa di dada. Sebab, itulah perang, yang dalamnya 70 sahabat Rasulullah gugur sebagai syahid. 

Tampaknya itulah penyebab yang membuat Rasulullah SAW, setiap hari melintas di dekat Uhud selalu berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” 

Maksud ucapan Rasulullah SAW ini adalah agar umat Islam tidak membenci Uhud. Uhud memang sebuah gunung yang sulit didaki, tapi Perang Uhud jauh lebih sulit dihadapi. Pada saat itu sebagian sahabat meninggalkan pos yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW selama beberapa saat sebagai bentuk perubahan strategi, itulah sebabnya kita tidak dapat menyebut Perang Uhud sebagai sebuah kekalahan. Penghormatan kita terhadap para sahabat dan sudut pandang kita sebagai Muslim lah yang mengharuskan hal itu. 

Dalam pertempuran Uhud, Rasulullah terluka dan giginya patah, bahkan ada dua buah mata rantai topi besi Rasulullah yang menancap di wajah Beliau hingga berdarah. Tapi karena Rasulullah telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Beliau pun segera melepas baju besinya, seraya berseru kepada Allah, “Wahai Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahuinya 

Dalam Perang Uhud inilah Anas bin Nadhar bergerak tangkas ke sana kemari untuk memenuhi janji yang pernah diucapkannya kepada Rasulullah beberapa tahun sebelumnya. Dalam tempo singkat sekujur tubuh Paman Anas bin Malik ini telah penuh dengan hujanan tombak dan sabetan pedang sampai akhirnya ia pun gugur sebagai Syahid. Demikianlah sejak awal pertempuran Anas bin Nadhar rupanya telah menyadari bahwa hidupnya akan segera berakhir. 

Tapi ketika Saad bin Muadz bertanya kepadanya tentang pertempuran dengan enteng Anas menjawab sembari tersenyum semerbak aroma surga di kaki gunung uhud 

Dalam peperangan uhud, banyak Syuhada yang sulit dikenali wajahnya, Hamzah r.a. Mushab Bin Umair r.a. Abdullah bin Jahs r.a. Anas bin Nadhar.a. Bahkan Anas bin Nadhar hanya dapat dikenali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya sebab tampaknya hanya bagian itulah yang tidak rusak oleh senjata musuh. Mari kita lanjutkan penuturan dari Anas bin Malik, “Dia ada seminar bertempur sampai gugur pada saat itu di sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 80 luka sabetan pedang dan tikaman tombak serta anak panah, Bibiku yang bernama Rumbai binti Nadhar berkata, “Aku tidak dapat mengenali saudaraku kecuali hanya lewat jari tangannya!”” 

Pada saat itulah turun ayat yang berbunyi, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.” alahzab ayat 23 

Para sahabat menyakini bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Anas bin Nadhar dan para syuhada uhud lainnya, benar, ayat ini memang menjelaskan kepahlawanan orang-orang seperti Anas bin Nadhar. ada orang yang menepati janji yang telah diikrarkan pada dirinya, bahwa, ia akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Akhirnya ia memang terbunuh, sebab rupanya bahkan maut pun tak mampu menghalanginya untuk menepati janji, ya, dia telah menepati janjinya kepada Allah, ketika sebuah ayat memuji para syuhada seperti mereka. Maka maksud sebenarnya dari ayat itu adalah untuk menunjukkan bahwa para syuhada itu adalah teladan bagi setiap orang yang bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, lailahailallah. 

Agar mereka tidak mudah menyia-nyiakan agama, menyurutkan keimanan, atau merendahkan syariat Allah. Sungguh Anas bin Nadhar telah menepati janjinya sebagaimana beberapa sahabat lainnya juga telah menepati janjinya dan semua itu mereka lakukan karena mereka telah dididik 

 Jadi sebagaimana halnya sosok yang mereka cintai adalah seorang sadiq yang terpercaya maka para sahabat dan murid-murid beliau pun menjadi orang-orang yang sodiq dan terpercaya inspirasi cahaya abadi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kebanggaan umat manusia 

mengembangkandiri.com_fresh-white-tulips-on-pink-background-symbol-of-p-2022-03-18-00-27-24-utc

Sarana Meraih Keikhlasan dan Keistikamahan

Sarana Meraih Keikhlasan dan Keistikamahan di Masa Kemunafikan dan Keegoisan[1]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tempat kaum munafik adalah di lapisan neraka paling bawah, bahkan lebih rendah daripada orang-orang kafir sekalipun. Ini karena mereka bermuka dua: mengaku muslim, tetapi perbuatannya justru menguntungkan orang kafir. Mereka bahkan menggunakan nilai-nilai suci agama sebagai argumen demi meraih keuntungan pribadi. Karenanya, kemunafikan lebih berbahaya dari kekafiran. Tugas kita di masa ini adalah menjauhi kemunafikan dan waspada kepada orang-orang munafik. Mereka bisa muncul kapan dan di mana saja.

Saya rasa, orang munafik lebih berkembang di tempat di mana pemikiran islami menjadi mayoritas. Hal ini karena ketika yang sedang jaya dan berkuasa adalah orang-orang yang kufur dan ingkar, mereka—orang-orang munafik—dapat melakukan kekufuran secara terang-terangan. Misalnya, Abu Jahal, Utbah, Syaibah, Uqbah bin Abi Mu’aith, dan Walid tidak merasa perlu melakukan kemunafikan. Karena berkuasa dan kuat, maka mereka mampu melakukan segala yang diinginkannya. Misalnya, mereka berkuasa untuk merantai orang yang menentangnya. Namun, di Madinah, saat kaum muslimin berkuasa, kemunafikan mulai berkembang. Sebelum Madinah diubah Sang Nabi menjadi pusat peradaban, mereka punya harapan untuk berkuasa. Harapan mereka hanyalah bagaimana bisa berkuasa dan mengekalkannya. Saat mahkota menemukan pemilik sejatinya, yaitu Rasulullah, mereka sama sekali tak rela dengan kenyataan itu. Kriteria ini berlaku di setiap waktu. Sebagian menanti pamrih agar seisi dunia memuja mereka, baik pujian dari dunia Islam maupun dari dunia non-Islam. Namun, sebagaimana dikatakan Ustaz Badiuzzaman: “Masa ini adalah Masa Keegoisan”. Sebagai konsekuensinya, masa ini pun masa kemunafikan. Orang-orang munafik akan menunaikan misinya, di tempat di mana pemikiran dan praktik Islam sedang menjadi mayoritas dan sedang bergelora dilakukan. Maksudnya, saat praktik islami menjadi tren, di saat manusia mudah mengikuti arusnya, di sanalah benih kemunafikan tumbuh dan berkembang pesat. Itu karena kondisinya mendukung. Orang munafik ini memanfaatkan argumen agama sehingga kaum muslimin pun sering tertipu. Untuk itu, Ustaz berkata: “Kita adalah seorang muslim, mungkin saja tertipu. Namun, kita tidak sekali-kali menipu”.

Menurutku, walau kita puluhan kali ditipu, kita tetap harus berhusnuzan sambil terus waspada. Kita tetap harus berhusnuzan kepada mereka yang sudah menipu kita. Namun, kita tetap harus waspada agar tak ditusuk dari belakang. Nasihat dari Badiuzzaman: “Berhusnuzan dan tetaplah waspada…”

Di satu sisi: “Kita ini muslim yang mungkin saja tertipu, tetapi kita tidak sekali-kali menipu”. Mengapa? Karena kita membuat kesimpulan dari apa yang terlihat secara lahiriah saja. Kita hanya bisa menilai dari apa yang dikatakan oleh lisannya saja, kita tak mampu membelah dada dan membaca isi hatinya. Rasulullah lah yang mengatakannya. Kepada siapa? Putra Zaid, Usamah, anak yang amat dicintainya[2]. Sosok yang sangat agung, Sayyidina Usamah saat itu berhasil memojokkan musuh. Saat terdesak, si musuh pun bersyahadat. Beliau radhiyallahu anhu berijtihad: “Kita berada di dalam perang. Ia adalah musuh. Ia bersyahadat karena terdesak belaka”. Beliau radhiyallahu anhu pun membunuhnya. Saat kabar ini didengar Nabi, Beliau bertanya: “Mengapa kamu membunuhnya?” Usamah: “Dia bersyahadat karena terdesak” Nabi bersabda: “Apa kamu telah membelah dan membaca dadanya?!”

Perhatikanlah! Kriteria ini selalu berlaku bagi kita. Jika dari lisannya masih keluar kata: “Allah, Rasulullah, Islam”. Anda tak bisa berkata: “Saya tidak percaya”. Karena mereka, yaitu Nabi dan penduduk langit berkata: “Apa kamu sudah membelah dan membaca isi dadanya”. “Bagaimana jika ia bersyahadat dengan tulus?” Inilah husnuzan. Namun, jika terdapat keraguan atas pernyataannya, setelah berhusnuzan, lakukanlah adam-i itimad (waspada). Janganlah Anda lalai memberikan suatu amanah penting kepada seseorang yang belum teruji. Punggung Anda dapat tertusuk belati. Jangan sekali-kali Anda lalai, karena punggung Anda dapat tertusuk belati.

Dikatakan juga: “Di hatimu harus selalu tersedia kursi di mana semua tipe orang dapat duduk di sana”. Mengenal, menganalisa, dan mengelola orang-orang munafik amatlah sulit. Jika Anda tak bisa tepat menganalisanya, Anda tak boleh membuat kesimpulan instan. Pertama, analisis harus dilakukan sebelum amanah nantinya diberikan. Anda pasti menemui kesulitan dalam prosesnya. Kadang Anda melihatnya menyungkurkan wajah dengan mata sembab di Multazam, atau melihatnya mengusap wajah ke Hajar Aswad dan berkata: “Biar aku jadi tebusanmu!”. Namun hatinya lebih kotor dari hati Abu Jahal, Utbah, dan Syaibah. Tak peduli di depan Ka’bah, mereka menanti suitan dan tepuk tangan pujian kepada mereka. Pujian seperti: “Jayalah! Engkau tak memiliki tandingan! Biar aku jadi tebusanmu!” Ketika orang-orang memujinya, ia pun membesar seperti kalkun.

Kembali ke pembahasan, zaman ini zaman kemunafikan dan keegoisan. Manusia ibarat setetes air, tetapi ia melihat dirinya seakan samudra. Mereka mulai suka terlihat seperti matahari, padahal kita hanyalah zarah, sehingga pamrihnya pun amat besar. Misal mereka berkata: “Kalau kita lewat, kita harus disambut tepuk tangan”. “Dalam posisi berdiri takzim, seperti posisi saat salat di hadapan Allah”. Nauzubillah! Sebentar lagi mungkin mereka mengaku sebagai Tuhan! Firaun mengaku sebagai tuhan secara terang-terangan karena dia lebih jentelmen dibanding mereka. Karena Firaun menunjukkan kebiadabannya terang-terangan, demikian juga dengan Qarun dan Haman, maka Nabi Musa dan Harun pun mengetahuinya. Sedangkan mereka, orang-orang di masa ini berkata, “minal kalalisy“. Ini adalah istilah translasi campuran dari bahasa Turki ke bahasa Arab. Anda bisa menanyakan makna “kalalisy[3] pada mereka yang tahu bahasa Arab. Karena itu mereka selalu menipu dan menempatkan orang lain di posisi hulubalang. Ia memandang semua masyarakat berada di kasta paria. “Kamu dibanding aku hanyalah makhluk yang levelnya 10 tingkat di bawahku.” Lalu jika ada orang yang berkata kepadanya: “Menyentuhmu adalah bagian dari ibadah”. Maka ia menjawab: “Terima kasih, Kamu sangat tahu cara mengapresiasi saya!”

Jika dikatakan: “Ia memiliki semua sifat Allah”. Ia menjawab lagi: “Kamu sangat tahu cara mengapresiasiku!” Tidak ada yang berani mengatakan, “sungguh itu merupakan ucapan yang bisa mengantarkan pada kekafiran mereka yang mengatakannya”. Namun, mereka dengan mudah mengafirkan dan menyesatkan para sukarelawan Hizmet yang menyebar ke seluruh dunia demi rida Allah, demi berkibarnya bendera agama dan bangsa, serta demi dikenalnya nama agung Baginda Nabi Muhammad Saw.

Ketika mengafirkan, isyarat mereka tidak mengarah kepada perseorangan seperti Ustaz Osman Simsek, Ustaz Ergun Capan, Ustaz Rasyid Haylamaz. Namun, yang dikatakan adalah: “Saya meragukan keimanan mereka!”. Mereka meragukan iman para sukarelawan yang mengibarkan bendera Sang Nabi di seluruh dunia. Namun, mereka tak meragukan iman orang yang mengatai Al-Qur’an, tak meragukan iman orang yang bilang “menyentuhnya adalah ibadah”. Saya rasa dengan contoh ini Anda dapat memahami ciri orang munafik. Anda akan memahaminya. Walau nanti akan tertipu lagi, suatu saat Anda akan selamat dari tipuannya.

Apapun yang terjadi, ingatlah ayat Al Quran surat An-Nisa 4:45:

وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

“Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu).

Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu)”

Abu Hasan as Syazili menjadikannya bagian dari wiridnya dengan mengulangnya 10 kali. Aku tak tahu apa hikmahnya. Setelah membaca: يَا غَارَةَ اللهِ، حُثِّي السَّيْرَ مُسْرِعَةً “Ya Allah, kumohon segera turunkan pertolongan-Mu!”. Lalu beliau membaca: وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

Beliau mengulangnya sebanyak 10 kali. Cukuplah Allah sebagai Wakil dan Penolong kalian…! Serahkan pada Allah, rangkul pertolongan Allah, dan taatilah hikmah-Nya. “Jika ada jalan keluar, pastilah ini, aku tak tahu jalan keluar lainnya.” Inilah nasihat dari Mehmet Akif, penyair abad ini yang memiliki jiwa dan cara pandang yang luas.

[1] Sebagian terjemahan dari:

http://fgulen.com/tr/ses-ve-video-tr/bamteli/nifak-ve-enaniyet-caginda-ihlas-ve-istikamet-vesileleri dan teks ceramah dari video https://www.youtube.com/watch?v=-oUqFf_gwQU&t=112s

[2] Demikian cintanya Rasulullah kepada Usamah dan ayahnya sangat menginspirasi Sayyidina Umar. Pada Masa kekhalifahannya, Sayyidina Umar memberikan gaji kepada Sayyidina Usamah lebih tinggi dibanding siapapun, termasuk kepada anaknya. Hingga akhirnya, anaknya yaitu Abdullah bin Umar bertanya kepada Amirul Mukminin karena penasaran. Abdullah berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Engkau memberikan gaji kepada Usamah 4000 sedangkan engkau memberikan aku hanya 3000. Padahal ayahnya tidak lebih utama dari dirimu, dan ia juga tidak lebih mulia daripadaku.”

Umar Al Faruq berkata: “Engkau keliru… Ayahnya lebih dicintai oleh Rasul daripada ayahmu. Dan ia lebih dicintai Rasul daripada dirimu!”

Maka Abdullah bin Umar rela menerima pemberian gaji yang diberikan untuknya. Dan Umar bin Khattab setiap kali ia berjumpa dengan Usamah bin Zaid akan berkata: “Selamat datang, Amirku!” Jika ada orang yang merasa aneh dengan tingkah Umar ini, ia akan berkata kepada orang itu: “Rasul ﷺ telah menjadikan dia sebagai amirku!”

Ya, Rasulullah telah menjadikan Sayyidina Usamah bin Zaid sebagai amir pasukan yang di dalamnya terdapat sahabat-sahabat senior seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Sa’d bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan sahabat besar lainnya.

[3] Ia merupakan bentuk jamak dari istilah yang artinya pengkhianat