TAWAKAL KEPADA ALLAH
Dunia merupakan tempat bagi seorang mukmin untuk mengabdikan diri kepada Tuhan-Nya. Selain sebagai ladang amal bagi kehidupan kekal di akhirat kelak, dunia juga menjadi tempat ujian yang harus dilalui dalam rangka memantaskan diri meraih predikat taqwa. Karena itu, seorang mukmin selalu mengaitkan segala macam perilakunya agar sesuai dengan tuntunan Allahﷻ. Dalam setiap gerak-geriknya, ia memiliki kesadaran utuh bahwa Allahﷻ senantiasa mengawasinya dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari kemudian.
Kesadaran semacam ini akan mengantarkan seorang mukmin kepada tingkatan ihsan. Ia selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Ia selalu saja menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam hal yang dilarang-Nya. Karena ia percaya bahwa tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Tuhannya. Bahkan dalam suasana spiritual seperti ini, ia tidak pernah berkata sia-sia atau menginjak seekor serangga karena takut akan tanggung jawab kelak di hadapan Tuhannya. Bagi mukmin seperti ini, jelas orientasinya adalah mencari rida Ilahi.
Sejarah membuktikan bahwa sosok-sosok agung seperti inilah yang telah mewarnai zaman keemasan Islam. Mereka merupakan sosok pelita yang ditunggu kehadirannya untuk menerangi dan memajukan peradaban. Mereka adalah pribadi-pribadi yang telah berhasil menempatkan kepentingan Allahﷻ, Rasul-Nya serta umat manusia jauh melebihi keunggulan dirinya. Mereka bukanlah pribadi egois dan oportunis yang hanya mengharapkan pujian dan tepuk tangan manusia, bahkan sebaliknya sosok-sosok agung itu mampu merangkul manusia zamannya untuk bersama menggapai rida Allahﷻ.
Dalam sejarah perjalanannya, bukan berarti mereka tanpa halangan dan cobaan. Jauh sebelum mereka bergerak, mereka sadar bahwa tugas yang diemban tersebut merupakan perkara agung dan akan menghadapi risiko yang harus dilalui. Dengan memantapkan diri dan berserah diri di hadapan Tuhan, mereka terus bergerak menyebarkan nilai-nilai luhur Islam yang mereka yakini. Padahal ada banyak para penentang yang tidak menginginkan keagungan nilai-nilai itu tersebar dan membumi. Namun sosok agung itu berujar tegas, “Apapun pendapat mereka tentang kita, dengan izin dan inayah Allahﷻ, kita tetap berpikir tentang Islam.”
Mereka tidak sedikit pun terpengaruh oleh halangan-halangan itu, bahkan tidak ada rasa dendam dan permusuhan yang justru menghalangi gerak niatnya mencari rida Allahﷻ. Sebaliknya mereka tetap menjalankan tugas untuk menegakkan keharmonisan di bumi, membangun perdamaian, memberantas kebodohan, dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan ke tengah-tengah umat. Harus kita akui, mereka telah menjalaninya dengan sukacita dan penuh cinta kepada sesamanya.
Sungguh dengan kondisi umat yang ditinggal berantakan selama beberapa abad sekarang ini, betapa kita merindukan sosok-sosok agung itu. Mereka adalah ksatria cinta yang memenuhi relung batin kita yang saling bermusuhan, penuh kebencian, dan hampa kasih sayang. Mereka adalah mentari yang menyinari dan membakar semangat hidup beragama dan persaudaraan sesama manusia. Dan bagaikan mesin, mereka menggerakkan kejumudan berpikir, kemandekan langkah berbuat, dan kekosongan peradaban seperti yang kita rasakan saat ini.
Sekarang, kita berharap sosok itu adalah kita, kalau bukan kalian atau mereka. Karena itu, tugas kita saat ini adalah memantaskan diri untuk bersama meraih rida-Nya. Mari bersama kita tumbuhkan semangat beragama, serta semangat berbakti kepada nusa dan bangsa. Hingga kita pun dapat meraih kehidupan yang mulia, baik di dunia yang sementara maupun di akhirat kelak yang kekal selama-lama. Wassalam.
SEMUA TENTANG CAMBODIA
Ini tentang Cambodia, sebuah negeri berurat sungai Mekong,1 bagi para wisatawan, Cambodia tak semenarik Jepang atau Korea. Namun bagi kami yang diperjalankan oleh takdir, Cambodia menjelma menjadi negeri yang penuh inspirasi, mengajarkan tentang makna kehidupan. Dari sana kami belajar bersyukur, dari sana kami belajar bersabar, dari Cambodia kami diajari makna toleransi.
Menginjakkan kaki di tanah Khmer2 serasa pulang ke kampung sendiri, cuaca, suasana bahkan waktu tak jauh berbeda dengan kota-kota kebanyakan di Indonesia, jika Indonesia punya Borobudur sebagai maha karya warisan dunia, maka Cambodia berbangga dengan kemegahan Angkorwatnya, masyarakat yang ramah sederhana dan murah senyum, menambah kuat citra Indonesia pada wajah Cambodia.
Ketika kami berada di Ibu Kota Negara, Phnom Penh menjadi kota nostalgia, yang menawarkan perjalanan masa lalu untuk menyambut cerahnya masa depan. Memang, Phnom Penh tak segemerlap Jakarta, namun mereka punya alasan di balik segala ketertinggalan itu, perang saudara 53 tahun silam menjadi penyebab mengapa Cambodia tertinggal secara ekonomi dan pendidikan. Masa itu tepatnya pada tahun 1970 – 1975 sekitar dua juta nyawa meregang. Dua juta merupakan angka, seperempat dari populasi masyarakat Cambodia saat itu. Pol Pot3 dan tentara merahnya bertanggung jawab atas hilangnya jutaan generasi terpelajar dan kaum cendekiawan di sana. Saat itu, mereka yang bertangan halus, berkaca mata, menguasai bahasa asing, agamawan serta pemilik ijazah atau diploma, menjadi golongan nomor satu yang harus disingkirkan, hari ini mereka berbaring dalam damai di bawah prasasti di taman “Killing Fields”.4
Dengan semua kisah kelam masa lalunya, Cambodia berusaha bangkit dengan terus melakukan pembenahan, diawali dengan menguatkan fondasi masyarakat, Cambodia mencoba mereunifikasi antara pelaku dan keluarga korban genosida. Cambodia sangat mengerti, bahwa tak ada masa depan cerah di atas puing-puing kebencian dan permusuhan, itulah mengapa narasi reunifikasi, antar suku, golongan, ras dan agama, menjadi agenda utama mereka. Cambodia telah menjelma menjadi negara yang ramah dan pemaaf, dan karakter toleran inilah yang membuat kawasan muslim peninggalan kerajaan Champa masih tetap ada5.
Masa depan cerah negeri ini semakin terlihat kala kami berkunjung ke Paragon International University6 dan Paragon International School.7 Meski secara umum kualitas pendidikan di Cambodia masih tergolong rendah, namun di sekolah grup Paragon ini, putra putri Cambodia mendapatkan pelayanan pendidikan terbaiknya. Model Pendidikan bertaraf internasional yang disuguhkan lembaga pendidikan tersebut, menjadi oase di tengah gersangnya pendidikan berkualitas di sana. Mereka sedang disiapkan, untuk mengeja negeri di masa depan. Dari sekolah-sekolah seperti inilah puzzel masa depan Cambodia yang cerah sedang disusun kembali.
Lima tahun terakhir, negeri laluan sungai Mekong ini, berusaha mengejar ketertinggalan ekonomi, gedung-gedung pencakar langit bermunculan, bak jamur di musim semi. Namun di balik derap gemuruh pembangunan, selalu ada kaum yang termarjinalkan. Sepertinya, kita dan Cambodia memiliki PR yang sama. Dan sepertinya sungai Mekong membutuhkan sebuah jembatan, ya, sebuah jembatan kemanusiaan yang dapat menghubungkan antara sisi yang dihuni manusia perahu8, dan sisi elit “Riverside” 9. Namun jangan berkecil hati, karena masyarakat Cambodia selalu punya caranya sendiri untuk bertemu. Mari kita belajar dari bapak Chanthou10 bagaimana jembatan hati itu dibangun.
Namanya Chanthou, orang-orang memanggilnya Bapak Chan, berprofesi sebagai sopir Tuk- tuk11 tidaklah mudah, perlu kesabaran, ketekunan dan keikhlasan. Mengingat, menjadi sopir Tuk-tuk bukanlah profesi yang bergengsi. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Bapak Chan terkadang harus pulang hingga larut malam. Meski hidup terasa berat, namun berat dan kerasnya kehidupan tak membuat hati Bapak Chan membatu. Di tengah padatnya jalan 372 Toul Kork Boeng Kok 2 Quarter, Bapak Chan selalu hadir, menginfakkan waktu dan tenaganya untuk membantu mengurai kemacetan jalan. Berdiri berjam-jam menghadap mentari setiap pagi, mengurai kemacetan tanpa pamrih. Meski ia harus kehilangan pelanggan Tuk-tuk di pagi hari, namun ia tetap konsisten untuk tidak menerima imbalan dari kegiatannya mengurai kemacetan. Bagi Bapak Chan, berderma tidak hanya dengan harta, namun bagi mereka yang berketerbatasan harta, maka waktu dan tenaga dapat juga dijadikan derma, senyum pengendara mobil mewah, ketertiban jalan setiap pagi, adalah kebahagiaan besar baginya. “Memastikan anak-anak sekolah tidak terlambat, membantu karyawan kantor tidak telat, adalah kebaikan besar yang saya dapat dengan sebuah pengorbanan kecil”, Pungkas Bapak Chan. Bapak Chan percaya bahwa sedikit pengorbanannya akan memberi kontribusi bagi terbentuknya jembatan kemanusian.
Dari Bapak Chan kita belajar makna ketulusan, dan arti pengorbanan, ketulusan dan pengorbanan merupakan fondasi kokoh bagi terbentuknya jembatan kemanusiaan. Jika Bapak Chan sudah memulai membangun jembatan ini dari sisi kiri, maka perlulah memulai membangun jembatan yang sama dari sisi kanan, agar suatu hari jembatan kemanusiaan ini dapat bertemu di suatu titik keharmonisan. Sekali lagi kita belajar dari Cambodia, karena hidup adalah tempat belajar, maka belajarlah dari kehidupan.
1 Sungai Mekong merupakan sungai terpanjang ke-12 di dunia, dan ke-10 terbesar dalam volume (melepas 475 km³ air setiap tahunnya), dengan wilayah seluas 795.000 km². Dari Tibet, sung ini mengalir melalui Cina provinsi Yunnan, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Sumber Wikipedia.
2 Tanah Khmer mempunyai arti Tanah Kemakmuran atau Tanah Kedamaian. Julukan ini di berikan karena akar Sejarah bangsa Cambodia berasal dari Kerajaan Khmer
3 Pol Pot adalah seorang politikus dan pemimpin gerakkan komunis di Cambodia, pemerintahan Pol Pot secara paksa memindahkan masyarakat kota ke wilayah pedesaan untuk bekerja di pertanian kolektif. Demi mengupayakan kesetaraan penuh, uang dihapuskan dan seluruh warga negara diperintahkan untuk mengenakan busana hitam yang sama. Pembantaian terhadap para lawan pemerintahan, ditambah dengan malnutrisi dan layanan kesehatan yang buruk, menewaskan antara 1,5 hingga 2 juta orang, sekitar seperempat populasi Kamboja saat itu. Sumber Wikipedia.
4 Killing Field adalah sebuah lokasi di Kamboja di mana secara kolektif lebih dari 1.000.000 orang dibunuh dan dikuburkan oleh rezim Khmer Merah (Partai Komunis Kampuchea) selama pemerintahannya di negara tersebut dari tahun 1975 hingga 1979.
5 Kawasan muslim yang di maksud adalah daerah Kampong Cham, dahulu kala di daerah yang sekarang menjadi Cambodia, berdiri dua kerajaan besar, kerajaan Khmer dan Champa/Cham. Wilayah Champa terbentang dari Vietnam hingga Cambodia, kerajaan Champa awalnya bercorak Hindu-Budha, namun kemudian berubah menjadi kerajaan Islam, yang pengaruh penyebaran agamanya hingga ke Indonesia. Khmer dan Champa merupakan musuh di masa lalu, runtuhnya kerajaan Champa adalah akibat dari serangan bangsa Khmer, yang sekarang menjadi klompok masyarakat mayoritas di Cambodia, meski keduanya saling berperang di masa lalu, namun saat ini kedua etnis bangsa ini saling bergandengan tangan dalam harmony dan toleransi. masyarakat Cham mayoritas beragama Islam, dan menjadi kelompok minoritas di Cambodia. Lihat
https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/08/090000279/kerajaan-champa–sejarah-kejayaan-keruntuhan-dan- peninggalan?page=4
6 Merupakan universitas swasta terbaik di Cambodia, lebih lengkapnya bisa lihat Home – Paragon International University – Leading Your Way… (paragoniu.edu.kh)
7 Grup sekolah swasta berstandar Internasional, yang mengelola mulai dari Kindergarten, Primary dan Secondary. Lihat About Paragon ISC – Paragon International School
8 Manusia perahau adalah kelompok masyarakat Cambodia yang tidak dapat memiliki hunian di daratan karena masalah ekonmi, sehingga mereka memilih hidup di atas perahu di sepanjang sungai Mekong.
9 Sebuah kawasan elit di tepian sungai mekong di Phnom Penh Cambodia.
10 Bukan nama sebenarnya, kisah ini di kisahkan oleh masyarakat setempat. Tentang seorang supir Tuk-tuk yang setiap pagi membantu mengurai kemacetan lalulintas, namun bliau selalu menolak jika ada orang yang ingin memberi imbalan.
11 Sebuah alat transportasi roda tiga khas Cambodia, jika di Indonesia serupa bajai.
SIFAT-SIFAT INSAN BERKUALITAS
Tanya: Jalan seperti apa yang harus kita tempuh agar sifat-sifat baik menjadi bagian dalam fitrah kita? [1]
Jawab: Baik untuk mendapatkan akhlak mulia ataupun pada kekhususannya dalam kehidupan ibadah kita, menjadi insan yang sungguh-sungguh dan berwibawa, bersikap hati-hati dan memiliki rasa kepuasan batin serta menjadikan sifat-sifat ini sebagai sebuah dimensi dalam fitrah kita, merupakan suatu keharusan untuk menyatukannya dengan jati diri kita. Bagaimanapun, meraih hal ini dan mencapai derajat tertentu serta mempertahankannya setelah menggapai tingkatan tersebut adalah suatu hal yang sangat sulit.
Untuk menunjukkan jalannya kepada kita, Rasulullah shallallāhu alaihi wasallam memberi arahan agar karakter-karakter tersebut menjadi bagian dari fitrah kita dengan sabda Beliau: “Sungguh Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kalian membacanya, menangislah. Jika kalian tidak dapat menangis, maka berusaha keraslah untuk menangis.” (HR. Ibnu Majah, Iqamah/176; Zuhud/19).
Dengan kata lain, bacalah Al-Qur’an dengan kalbu yang tenteram dan jiwa yang tenang. Berangkat dari kesimpulan ini, kita dapat mengambil langkah-langkah rekaan dahulu sebagai usaha untuk mencapai sifat yang disebutkan dalam hadis tersebut. Hanya saja pembahasan seperti ini dapat dikritik oleh orang-orang yang tidak memahami kedalaman permasalahan ini. Akan tetapi, ketika sedang berada di jalan untuk mencapai-Nya, Anda tidak boleh terpaku pada hal-hal seperti ini.
Mari kita membuka subjek pembahasan sedikit lebih dalam dengan memberikan beberapa permisalan dalam hal akhlak mulia yang sedang kita bahas ini. Saya rasa, sikap sedikit berbicara merupakan hal terdepan dalam pembahasan mengenai prinsip-prinsip terkait akhlak mulia. Berdasarkan Sabda Rasulullah, mereka yang banyak berbicara akan membuat banyak kesalahan.[2] Kesalahan-kesalahan yang banyak itu tanpa disadari dapat mengantarkan manusia masuk ke dalam neraka. Oleh karena itu, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbicara jika tidak ada yang mengajukan pertanyaan kepada Beliau atau jika tidak ada maslahat yang ingin disampaikan. Para sahabat yang senantiasa mengambil teladan dari Beliau pun selalu bertindak dengan cara yang sama.
Misalnya, dikatakan bahwa pahlawan kesetiaan, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, memasukkan sebuah batu kecil ke dalam mulutnya agar tidak terlalu sering membicarakan hal yang tak penting. Jika akan berbicara, maka beliau akan mengeluarkan batu itu. Namun, setelah selesai berbicara beliau akan meletakkan kembali kerikil itu ke dalam mulutnya. Meskipun saya belum pernah menemukan riwayat ini dalam kitab-kitab sahih, tetapi saya tidak merasa aneh dengan adanya periwayatan semacam ini, bahkan jika cerita ini tidak benar. Ya, orang yang sangat berhati-hati seperti beliau sangat mungkin melakukan hal seperti itu untuk menempatkan dirinya dalam keseriusan dan kedisiplinan. Bisa jadi kisah ini memiliki dasar dari sumber-sumber sahih di mana selepas hijrah, selama Sayyidina Abu Bakar berada di samping Baginda Nabi shallallāhu alaihi wasallam, jumlah kata yang pernah beliau (Sayyidina Abu Bakar) utarakan hanya berkisar beberapa ratus kata saja.
Saat seseorang menjelaskan sesuatu tentang kehidupan kalbu, spiritual, dan intelektualnya, serta penjelasannya tersebut berhasil membuka wawasan cakrawala lawan bicaranya, maka itu artinya pembicaraannya tersebut memiliki manfaat. Kalau tidak, semua pembicaraannya dapat dipertimbangkan sebagai israf-u kalam atau perkataan yang sia-sia belaka. Mohon maaf, sebagaimana agama ini memerintahkan kita untuk tidak menyia-nyiakan air meskipun seseorang itu mengambil wudu di sungai yang mengalir sekalipun, maka Ia pun takkan mungkin mengizinkan kata dalam pembicaraan yang jauh lebih bernilai daripada penggunaan air secara sia-sia! Jika demikian, melakukan pembicaraan tak bermakna dan sia-sia dapat kita pandang sebagai perbuatan yang perlu dihindari. Pembicaraan kosong semisal: “Tadi kami naik taksi dari sini; Kemudian kami pergi ke kota Bekasi. Lalu dari sana kami ke kota Bogor. Ketika di Bogor, ada sebuah truk lewat… dst”, tentu saja melakukan pembicaraan yang tidak memiliki pesan dan kedalaman informasi seperti ini pastilah tidak disarankan. Jika demikian, sebagaimana kita harus penuh perhitungan atau berhemat dalam makanan, pakaian, maupun berpenampilan, maka demikian pula dalam berbicara, seharusnya ia juga diucapkan dengan penuh perhitungan. Misalnya tema atau pokok bahasan ini, kira-kira dapat dijelaskan dalam berapa kata; bagaimana cara penyampaian pembicaraannya, hal seperti ini juga harus diperhitungkan. Seperti inilah seharusnya suatu topik dibicarakan, agar jangan sampai terjadi israf-u kalam (pembicaraan yang sia-sia) dan israf-u zaman (pemborosan waktu).
Sebagaimana para waliyullah ketika menyampaikan tiga prinsip “Qillat’ul kalām (sedikit bicara), Qillat’ul taam (sedikit makan), dan Qillat’ul nāam (sedikit tidur)” yang merupakan prinsip penting bagi kehidupan dunia dan akhirat seorang manusia, mereka juga menjadikannya sebagai prinsip hidup.[3]
Demikianlah, setiap kata akan ditimbang & disaring; setiap kalimat yang keluar dari lisan akan dipertimbangkan; karena berbicara adalah bagian dari akhlak. Agar manusia berhasil meraih akhlak ini dan menjadikannya sebagai bagian dari fitrahnya sungguh membutuhkan banyak waktu dan usaha.
Seperti halnya itu, hidup zuhud yang memiliki makna meninggalkan kesenangan duniawi dan menentang kecondongan jasmani adalah juga sebuah akhlak yang sangat penting. Kerangka umum zuhud yang memiliki tempat sangat penting dalam dunia tasawuf, di mana ia menjadi salah satu cabang penting dalam pemikiran tasawuf, jauh sebelum itu ia telah muncul dengan jelas sebagai jiwa dan spirit dalam personalitas Sang Nabi. Jika kita menggunakan pendekatan Ustaz Said Nursi pada pembahasan ini, maka beliau menyampaikan: “Dünyayı kesben değil, kalben terk etme” yang bermakna: “Tinggalkan dunia bukan dengan tak melakukan apa-apa, tapi tinggalkan ia dari segi tautannya dengan kalbu”. Pernyataan ini memiliki makna tidak memberi perhatian kepada dunia dan segala isinya; menjalankan zuhud dengan orientasi akhirat tanpa memiliki harapan duniawi serta tidak meninggalkan apapun setelah kepergiannya. Sifat ini adalah sebuah karakter yang harus dimiliki dan tak bisa diabaikan oleh seorang mukmin, apalagi oleh para ksatria hizmet (jalan khidmah) yang telah menyerahkan hatinya kepada dakwah suci ini.
Pada awalnya, bersikap menjauhi harta benda, pangkat jabatan, ketenaran dan lain-lain seperti ini, serta segala sisi duniawi lainnya bisa jadi sangatlah sulit. Akan tetapi, ketika ia dimulai perlahan-lahan dari hal paling sederhana, lalu terus berlanjut hingga akhirnya akan sampai pada suatu hari di mana sikap ini telah menjadi keharusan tak terpisahkan dari diri seorang manusia. Seperti halnya seseorang yang mampu berkata, “Hari ini aku memiliki satu stel pakaian, aku tidak perlu memiliki satu stel pakaian lainnya”. Kalau tidak, besok nafsu kita akan meminta yang ketiga, lalu yang keempat, hingga akhirnya pemikiran ini dapat melilit kehidupan kita. Demikianlah, dengan cara selangkah demi selangkah pada akhirnya kita mampu mempraktikkan akhlak Sang Nabi, yaitu zuhud, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan.
Setelah dua contoh akhlak mulia ini, selanjutnya adalah bersikap sungguh-sungguh (serius), menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, tidak bersikap sombong, dan sifat-sifat serupa lainnya yang bisa disebutkan.
Adapun ketika sampai pada masalah ibadah; salat misalnya. Maka salatlah tepat pada waktunya. Tegakkan salat dengan penuh penghayatan, seakan sedang menyerap sedikit demi sedikit intisarinya, hal ini pun membutuhkan latihan atau pembiasaan. Dengan kata lain, menunaikan salat tidak dengan pemikiran untuk sekedar melepaskan beban di pundak lalu dikerjakan tanpa gairah. Sebaliknya, tegakkanlah salat seakan Anda sedang mengetuk pintu ijabah Ilahi dengan penuh rasa cinta dan semangat. Tentu saja hal ini bukanlah sebuah level puncak yang dapat diraih seketika. Akan tetapi, manusia dapat meraihnya dengan mencobanya selangkah demi selangkah, kemudian menjadikannya sebagai bagian dari fitrah dirinya; atau lebih tepatnya ia harus benar-benar mengusahakan karakter tersebut untuk berhasil dimiliki.
Sebagai kesimpulan, meski manusia memiliki nafsu dan syahwat ketika menjalani kehidupan, tetapi ia harus menjalaninya dengan jalan memenuhi hak dari potensi iradatnya. Untuk itu, sifat atau karakter-karakter yang meneguhkan manusia menjadi sebenar-benar manusia harus betul-betul dipraktikkan dan dijadikan sebagai bagian dari kehidupannya di bawah bimbingan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah.
[1] Diterjemahkan dari artikel: https://fgulen.com/tr/eserleri/prizma/seviyeli-insanin-vasiflari
[2] “Barangsiapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka lebih pantas masuk neraka” (HR Thabrani)
[3] Abu Ishaq Al Khowwash berkata: إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur. [HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48]
JALAN AGAR ANUGERAH ILAHI TERUS BERLANJUT
Tanya: Sebagaimana yang sering disampaikan, kita telah mendapatkan banyak sekali anugerah ilahi jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dalam perjalanan sejarah sebelumnya. Apa tugas kita sebagai individu dan masyarakat agar anugerah ini terus berlanjut?[1]
Jawab: Kita sering menyebut rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita sebagai bentuk “syukur atas nikmat” tersebut… Bahkan kita harus selalu menyebutnya. Bagaimana mungkin kita tidak mengingat-Nya, sementara kita adalah manusia yang hidup pada masa kekeringan, di mana tanah-tanah retak dan kering secara maknawi, bersimpuh merindukan turunnya setetes hujan. Sejak saat itu, berkat inayat dan anugerah Allah, kita bisa sampai pada hari ini. Memperoleh inayat dan anugerah Allah adalah suatu hal, akan tetapi menjaga keberlanjutannya juga sesuatu yang tidak kalah pentingnya.
Menurut pendapat kami, hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga keberlanjutan nikmat adalah dengan mempertahankan keistikamahan di jalan ini tanpa mundur satu langkah pun. Misalnya saat menyetel radio, pertama kita mencari saluran yang kita inginkan. Kemudian kita tetap berada pada saluran yang sudah kita tentukan tersebut dan tidak lagi memindahkan jarumnya ke saluran lain. Mungkin, kita hanya akan memindahkan jarum itu sedikit ke kiri atau kanan pada saluran tersebut, untuk mencoba menangkap gelombang yang paling jelas. Sama halnya dengan ini, maka kita harus menjaga sifat dan perilaku yang menjadi wasilah datangnya nikmat-nikmat tersebut, seperti: keprihatinan, doa dan aksi nyata, serta meningkatkan hal-hal khusus tersebut yang merupakan langkah awal bagi keberlanjutan datangnya rahmat dan karunia Allah.
Poin lainnya, kita harus berusaha untuk menjadi orang yang paling ikhlas, paling bertakwa, paling zuhud, dan paling saleh dalam pekerjaan yang kita jalani. Dan tentunya dengan niat untuk selalu berusaha istikamah melakukannya seumur hidup. Sebaliknya, jika hal ini tidak kita lakukan maka ketika semangat jiwa untuk melakukan aksi nyata itu lenyap. Berbagai rintangan seperti yang dijelaskan pada artikel enam serangan[2] mutlak akan mengepung kita. Pada saat itu, kita dapat jatuh pada salah satu jerat rintangan-rintangan seperti misalnya virus ini dan tenggelam pada lingkaran keburukan yang tak berujung pangkal serta saling berhubungan erat satu sama lain itu. Dikarenakan adanya jaringan komunikasi yang begitu canggih di antara virus-virus mematikan ini, maka ketika salah satu virus berhasil menghancurkan pertahanan tubuh kita, seketika ia akan langsung mengirim sinyal “Ayo kalian ikutlah masuk”, pada virus lainnya. Sehingga, virus-virus ini seolah saling berkirim telegram satu sama lain untuk membangun kontak spiritual dan membentuk sebuah lingkaran keburukan yang penuh dengan kesia-siaan untuk mulai menghancurkan tubuh yang mereka masuki.
Jika kita menelaahnya lebih lanjut, virus rasa takut yang memasuki tubuh seseorang dapat mengundang datangnya virus narsistik. Ketika ketahanan tubuh mulai berkurang lagi, virus ketenaran yang menerima sinyal pun dapat masuk juga ke dalam tubuh… Pada akhirnya, tubuh sudah tak mampu lagi dipulihkan, semoga Allah menurunkan inayat-Nya..! Ya, tanpa anugerah dan inayat-Nya, mustahil bagi orang itu untuk bisa berdiri tegak kembali.
Kalau begitu, ketika di satu sisi kita berusaha mempertahankan limpahan anugerah yang diberikan Allah, maka di sisi lain, kita harus berusaha menaikkan derajat di hadapan Allah, dengan berkata ‘hal min mazid?’[3] agar berbagai rintangan tadi tidak menghampiri kita.
Ya, Setiap anugerah perlu disyukuri sesuai dengan jenisnya masing-masing. Seandainya Allah telah menganugerahkan kesadaran membangun iman bagi kita dan pada saat yang sama juga anugerah untuk menuntun iman bagi orang lain, bahkan jika Ia sering mengingatkan kita bahwa ini adalah tujuan hidup kita, maka anugerah ini juga akan meminta bentuk syukur dari jenisnya sendiri. Ya, inilah syukur dan keberlanjutan dari rasa syukur itu sendirilah yang akan menjadi sebab datangnya keberlanjutan anugerah-Nya pula. Allah azza wa jalla berfirman “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Q.S. Ibrahim, 14/7). Coba perhatikan bahwa pada ayat ini Allah tidak berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Aku akan menambah keingkaranmu”. Akan tetapi Allah berfirman “Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”, pada ayat ini diisyaratkan bahwa di satu sisi Allah mengundang kita ke jalan yang lurus, dan di sisi lain Dia menunjukkan cara untuk menjauhkan diri dari siksaan serta bagaimana cara memperoleh limpahan anugerah. Ya, layak bagi kita untuk membalas nikmat berupa kesadaran membangun iman melalui mensyukurinya dengan menjadi sebab hidayah iman bagi orang lain serta menanti limpahan hadirnya nikmat-nikmat baru lainnya. Insya Allah berkat hal ini keimanan kita akan bertambah dan membuat kita merasakan kedekatan yang lebih dengan Rabb kita… Ketika Ustaz Said Nursi menafsirkan ayat: “Mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. Al-Baqarah, 2/3) beliau melakukan pendekatan secara umum dan menjelaskan bahwa: “Sebagaimana harta ada zakatnya, maka badan, ilmu, kemampuan menghafal, kemampuan mengambil keputusan, bahkan kemampuan beretorika pun ada zakatnya.” Segala sesuatu perlu diberikan haknya. Dengan demikian untuk keberlanjutan anugerah yang telah Allah berikan, adalah penting dan wajib bagi kita untuk bersyukur dengan syukur yang sesuai jenisnya.
Dalam hal ini, sebuah metode lain yang perlu untuk diikuti adalah; memastikan kontrol internal dengan jalan memerhatikan politik pintu terbuka terhadap satu sama lain. Sama seperti halnya seperti para sahabat yang mulia. Jika sedikit kita amati masa kehidupan para sahabat, kita akan sering menyaksikan bagaimana mereka saling berbicara jujur, tegas, dan terus terang satu sama lain. Jika kita mengambil kata-kata ini sebagai contoh untuk dipertimbangkan, maka kita bisa menerapkannya dalam lingkungan kita sesuai dengan keadaan masing-masing. Yakni, kita bisa meminta peringatan dengan berkata: “Wahai teman! Jika engkau melihatku jatuh dalam suatu masalah, maka genggam tanganku dan bantu aku untuk bangkit! Peringatkan aku dengan mengatakan ‘Kondisi apa ini yang terjadi denganmu?’ Dalam hal ini aku takkan membantahmu.” Dengan cara ini, kita bisa memilih seorang teman yang ketika kita terpuruk dan jatuh ke jalan yang tidak benar, ia bisa meluruskan kita dengan hak dan wewenang yang kita berikan kepadanya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustaz Said Nursi, poin penting dalam hal ini adalah “tidak merobek tirai pembatasnya”, yang maksudnya adalah perlu menjaga batasan dan takaran yang pas. Ya, saya pikir, orang yang memohon dan berdoa dengan pinta: “Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan diriku hanya bersama nafsuku saja walau hanya sekejap mata sekali pun”, harus menerima semua peringatan teman-temannya sebagai sikap “amri bil ma’ruf nahyi anil munkar” kepadanya. Seperti ketika Sultan Salahuddin Al-Ayyubi ataupun Nuruddin Zanki[4] yang mendapatkan peringatan dari orang biasa, atau Yavuz Sultan Selim dengan Zenbilli[5], maupun Kanuni Sultan Sulaiman dengan Abu Suud[6] dan mereka patuh ketika diperingatkan seraya berkata: “semoga Allah memberkatimu, jika engkau tidak memberi peringatan, maka aku akan terpuruk dan jatuh.” Lalu siapalah kita ini yang justru menutup diri terhadap peringatan-peringatan semacam itu dan mengambil sikap menentang orang-orang yang telah menunjukkan kesalahan-kesalahan kita?
Berarti, selama kita belum merubah diri kita sendiri, maka Allah tidak akan mengubah kita. Tetapi dalam proses perubahan diri ini, kita sangat membutuhkan sahabat-sahabat yang setia dan yang tak pernah meninggalkan kita sendirian saat melawan nafsu ammarah bissu’ (nafsu yang mengajak kita pada keburukan).
Perjalanan Kekariban, Keamanan Jalan, dan Pertolongan
Ketika kita melihat apa yang terjadi melalui lensa akhirat dan konsekuensinya, yang muncul adalah gambaran yang benar-benar berbeda…!
Melibatkan harapan duniawi pada pekerjaan-pekerjaan ukhrawi selain menyebabkan kegagalan, ia juga mengisyaratkan syirik. Segala puji dan sanjungan hanyalah bagi Sang Pencipta, ketika sedang memperjelas posisi kita dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya meskipun prosesnya penuh dengan masalah Dia melalui sebuah lereng, wilayah, pelabuhan, dan dermaga yang tersedia lagi cocok menghentikan kita seakan berfirman: “Tunggu di sini!”. Barangkali salah satu di antaranya akan terbang di angkasa. Atau mungkin seperti cerita yang dikarang Jules Verne, dia akan melakukan perjalanan melintasi bintang-gemintang. Namun, jika hasilnya adalah kegelapan di hari kiamat maka untuk apa semua capaian itu? Al-Ustaz Badiuzzaman Said Nursi menyampaikan di banyak tempat tentang asas dari benih tersebut: “Iman secara maknawi sedang mengandung benih yang akan melahirkan pohon tuba di surga nanti. Sementara kekufuran secara maknawi sedang mengandung benih dari pohon zaqqum dari neraka jahanam.” Maka sebenarnya mereka senantiasa menelan benih pohon zaqqum sepanjang umurnya, hafizanallah.
Untuk itu, apapun masalah yang menyekat tenggorokan kita, setelah kita menolehkan pandangan mata kita ke alam berikutnya ia akan hilang berkat izin dan inayat ilahi. Apalagi jika jalannya mendatar tanpa rintangan dan penghalang!
Ketika Sang Potret Kebanggaan Umat Manusia menutup mata dan rohnya bersiap untuk mengembangkan sayap layaknya merpati untuk terbang menuju ke rahmatullah, segala sesuatu tak lagi bernilai di depan mata ini. Tenaga menjadi hilang hingga tak sanggup lagi untuk berdiri. Semoga nyawaku pun turut dicabut…! Demi melihat kerumunan orang berkumpul dalam semangat penghambaan sebagaimana mereka berkumpul di sekitar Ka’bah, maka Sayidina Abu Bakar beranjak untuk mengimami salat… Barangkali peristiwa tersebut terjadi di Madinah. Namun, menggunakan istilah yang digunakan Badiuzzaman, di mana pun manusia berada, ketika ia bertawajuh ke arah Ka’bah dalam bentuk lingkaran halakah, maka ujung jalan akan terhampar hingga Sidratul Muntaha… Ya, ketika memandang pemandangan yang menyiratkan harapan, manis, nan lembut ini Rasulullah pun tersenyum. Meskipun energinya bahkan tak sanggup untuk menyiratkan senyuman, tetapi sungguh beliau sedang tersenyum.
Insya Allah Sang Maha Pengasih menakdirkan Anda semua untuk menyaksikan menit-menit yang lezat, manis, indah, nan legit ini. Ya, Dia bisa menggubah dunia layaknya surga bagi Anda. Ketika menatap dunia dengan pandangan ini sungguh ia akan jadi sangat berbeda.
Bukankah dalam suatu kesempatan terdapat sebuah kalimat yang disandarkan kepadanya, Rasulullah bersabda: اَلدُّنْيَا جِيفَةٌ، وَطَوَالِبُهَا كِلاَبٌ yang artinya “Dunia itu adalah bangkai, yang mencarinya (dunia), adalah anjing.” Apabila dunia diucapkan demikian oleh Sang Pemilik lisan yang Suci, itu pasti karena adanya kesepakatan yang secara lahiriah menuntutnya demikian. Setelah sabda tersebut, penjelasan apapun yang dirangkai guna menerangkan makna dunia tak akan sebanding dengannya. Semua yang beliau katakan selaras dengan hakikatnya. Dalam hal ini, beliau menyebutnya “qilabun (anjing)”.
Mereka yang menjalankan kehidupan dengan kesadaran bahwasanya dunia adalah ladang yang hasilnya akan dipanen di akhirat sekaligus sebagai cermin manifestasi nama-nama ilahi, di hari akhir nanti akan menyaksikan Jamalullah dari peraduannya.
Untuk itu, pada dunia terdapat sisi-sisi lahiriah cerminan dari asma-asma ilahi. Sebagaimana disampaikan oleh Badiuzzaman, dunia adalah mazraatul akhirah, ladang akhirat. Anda dapat menyaksikan nama-nama-Nya yang agung ketika memperhatikan seluruh sisi dunia.
تَأَمَّلْ سُطُورَ الْكَائِنَاتِ فَإِنَّهَا * مِنَ الْمَلَإِ اْلأَعْلَى إِلَيْكَ رَسَائِلُ
“Tafakkurilah baris-baris alam semesta sedalam mungkin. Itu karena mereka adalah pesan-pesan ilahi yang diturunkan dari Tempat Tertinggi untuk kalian semua.” “Seluruh alam semesta adalah suatu kitabullah yang agung/huruf mana pun yang kau eja di situ muncul Nama Allah.” (R.M. Ekrem)
Apabila kita melihat sisi-sisi ini, pada prinsipnya mereka pun menyiratkan-Nya. Mereka ibarat lensa dan proyektor yang disesuaikan dengan level-level setiap manusia. Sekali lagi, di satu sisi seorang manusia akan berkata: “Aku ingin melihat-Nya!” ketika berkontemplasi tentang-Nya. Aku sendiri terlihat. Karena aku terlihat, aku yakin akan bisa melihat-Nya, insya Allah. Semoga Allah menganugerahkan level dan derajat pada dua ufuk tersebut, insya Allah. Mari kita menjalani hidup dengan mengaitkan diri dari kesadaran bahwasanya kita “disaksikan”. Semoga di waktu berikutnya Allah memuliakan kita dengan kesempatan untuk mampu “menyaksikan-Nya”.
Sebagaimana disampaikan pada kitab Bad’ul Amali,
يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ
وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ
“Orang mukmin melihat-Nya tanpa melalui sarana/alat. Padanya juga tidak dapat dicarikan padanannya. Dalam bahasa hadis: “Kaum mukminin menyaksikan-Nya tanpa sarana ataupun alat seperti saat mereka menyaksikan bulan purnama.’ Ini merupakan ungkapan yang menyatakan kemudahan memandang. Ungkapan ini tidak menyatakan bahwasanya Allah mirip dengan purnama, matahari, atau apapun yang bisa dilihat oleh mata kita1. Semua manusia akan mampu melihat Zat Allah Yang Maha Agung, Sang Pengelola alam semesta ini dengan kapasitasnya masing-masing.
Bait tersebut ada kelanjutannya, berikut sambungannya:
يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِ كَيْفٍ
وَإِدْرَاكٍ وَضَرْبٍ مِنْ مِثَالٍ
فَيَنْسَوْنَ النَّعِيمَ إِذَا رَأَوْهُ
فَيَا خُسْرَانَ أَهْلَ الْاِعْتِزَالِ
“Mukminin mampu menyaksikan-Nya tanpa alat dan tanpa sarana. Tak ada permisalan yang sepadan dengannya. Begitu menyaksikan-Nya, mereka akan lupa pada segala nikmat surga. Betapa meruginya kaum muktazilah yang mengatakan “Allah tak bisa disaksikan”. Ketika mereka menyaksikan-Nya, mereka akan melupakan nikmat-nikmat surga. Meskipun ada istana, di mana sungai mengalir di kakinya, di mana para bidadari menantikannya, .. menyaksikan-Nya, di hadapan pemandangan yang sanggup membuat pingsan akan membuat ahli surga berkata: “apa pentingnya nikmat-nikmat tersebut” .. Demikian kira-kira…
Apabila kesempatan menyaksikan-Nya telah diraih, artinya tidak ada lagi hal yang perlu dikejar. Demikianlah takaran posisinya. Biarlah nyawa ini menjadi tebusan bagi Zat yang memberikan urgensi pemosisian ini…! Pemandu kita dalam perkara ini adalah pemandu yang tak menyesatkan, shallallahu alaihi wasallam. Pada masa ini, penerjemah Rasulullah, yang mengikuti langkah-langkahnya senti demi senti, adalah Ustaz Said Nursi. Beliau akan berbahagia di Firdaus-Nya, insya Allah. Tangannya akan memegang bahu kita, beliau menyokong kita dari belakang, insya Allah. Apabila kita meniti jalannya dengan memegang Risalah Ikhlas, Ukhuwah, dan semangat untuk meninggikan kalimat Allah, insya Allah Anda telah berada di bawah panduan tangan dan garansi yang kuat. Setelah ini tidak ada lagi hal yang perlu dicoba.
Kita tidak perlu mengaku sebagai orang suci. Apabila semua saudara-saudara kita melakukan muhasabah mendalam dan merenungi makna tanggung jawab yang diembannya, serta memisahkan diri dari keakuan untuk kemudian berlindung di bawah kekuatan dan kewenangan Allah, itu sudah cukup.
Adalah tidak tepat untuk melihat permasalahannya dari satu sisi saja. Terdapat sekelompok orang yang pada periode waktu tertentu tak mampu menahan kecemburuannya kepada Anda. Mereka berusaha mendirikan institusi-institusi sosial sesuai kebutuhan mereka. Ketika Anda muncul dengan beberapa perbedaan, mereka kemudian mengamuk karena cemburu. Misalnya terdapat kejadian seperti ini. Namun, ketika kita memahami permasalahannya seperti itu, dalam hati kita kemudian membuih perasaan untuk menyalahkan mereka. Meskipun ini salah, kita dapat menyebutnya sebagai “kesalahan ijtihad”. Karena saat ini kezaliman, keburukan, dan kemaksiatan menunjukkan demikian. Ini adalah lapisan diryah yang paling dasar. Ziya Gokalp menyebutnya sebagai “merajalelanya dosa”
Permasalahan kedua sebagai berikut: Allah jalla jalaluhu telah memberi kita banyak kesempatan. Ketika sedang membahas saudara kita yang baik ini, saya tidak pernah ingin mengungkapkan pikiran-pikiranku tentang dirinya. Namun, sebagai pengingat dengan menautkan permasalahannya kepada diriku sendiri, maka saya berkata: “Seandainya saya mampu bersikap logis lagi tepat, barangkali tawajuh orang-orang ini akan bertansformasi menjadi pengabdian-pengabdian yang indah! Sayangnya, dikarenakan diriku memotong permasalahannya sedemikian rupa, pengabdian ini pun tersendat…!
Aku tak bisa menilai saudaraku dengan pendekatan ini. Namun, terdapat satu hal yang ingin aku ingatkan: “Tidak masalah bagi saudara-saudara kita untuk bertawajuh kepada Allah dengan pendekatan seperti tadi.” Sebagaimana Anda ketahui Al-Ustaz Said Nursi berkata: “Lakukan tazkiyah nufus dengan tidak melakukan tazkiyah nufus (Lihat An Najm: 32).” Jangan anggap diri kita suci. Terdapat penjelasan dalam kata ke-31:
إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِيَدِ الرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Beliau berkata: “ Terkadang Allah meninggikan agama ini melalui tangan orang-orang fajir (pendosa)”. “Karena Anda tidak suci, barangkali Anda perlu menganggap diri sebagai seorang fajir,” lanjutnya. Dari sisi ini, setiap pribadi perlu memandang dirinya demikian. Pendekatan ini selain penting dalam rangka membersihkan diri, ia juga penting untuk menyadarkan bahwa dirinya tidak memiliki kontribusi apa-apa. Semakin kita memisahkan diri dari kekuatan, kehendak, dan kebajikan kita sendiri, maka semakin kita mengandalkan dan berlindung pada kekuatan, kekuatan, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya. Memang inilah pendekatan yang tepat.
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
Tiada daya dan upaya kecuali terwujud berkat izin dan kehendak Allah.
Selain itu, kita juga perlu memandangnya seperti ini: “Di mana kiranya kita membuat kesalahan!” Misalnya: “Apakah ia terjadi karena kurangnya analisis kita? Apakah kita bergerak sendirian? Seandainya sedari awal kita membuat keputusan melalui keputusan kolektif dan musyawarah! Ini persoalan yang berbeda tentu… Terkait hal ini kita bisa membuat daftar lainnya… Namun, permasalahan ini secara khusus perlu mempertimbangkan tiga hal fundamental sebagai bahasan utama.
“Bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Pada setiap peristiwa-peristiwa sulit kita juga perlu melihat beragam anugerah ilahi lainnya.
Terdapat sisi-sisi baik dari setiap permasalahan. Memang segala hal bermula dari kebaikan. Misalnya di suatu negara praktik agama dilarang. Sebagaimana Anda ketahui, TPA Al Qur’an pun dilarang. Pada masa itu, aku tetap berangkat ke TPA Al-Qur’an. Mereka membuat terowongan dari kandang sapi menuju ruangan pengajar Al Qur’an. Di situlah kami, anak-anak, belajar mengaji. Saya ingat bagaimana Satpol PP membongkarnya. Dalam masa yang demikian, apa yang dilakukan Ustaz Said Nursi? Pada masa itu tidak terlalu buruk, terdapat 2-3 orang yang berkumpul di rumah-rumah belajar… Jadi masalah-masalah itu di satu sisi menunjukkan jalan keluar yang luar biasa bagi kita, insya Allah. Apa yang kita capai pada hari ini bermula dari kondisi sulit tersebut…
Demikianlah sisi-sisi positifnya. Barangkali saat ini Allah sedang menekan kita, tetapi dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . Demikian firman Allah dalam Surat Al Insyirah. Artinya di periode Mekkah kalbu mulia Nabi Muhammad sangat tersiksa. Untuk itu Al-Qur’an berkata: وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ
“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu? (Al Insyirah 2-3).” “Beban yang dapat meremukkan tulang punggungmu…” Beliau menghadapi kondisi yang demikian. “Namun, kamu harus tahu bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan”
Selain kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, ternyata Allah juga mendorong kita untuk menemukan hal-hal baik dan indah lainnya. Dia menebarkan kita ke seluruh penjuru dunia. Pada satu masa mereka bertebaran secara sukarela.. Ini pun pasti ada hikmah yang tak mampu dicerna akal kita.. Jika mereka di masa itu tidak berangkat, jika mereka tidak menerjemahkan perasaan, pemikiran, serta prinsip-prinsip Anda, barangkali para “muhajir” yang datang kemudian tidak akan disambut sehangat ini… Di negara-negara tujuan, teman-teman Anda telah membangkitkan profil yang sangat bagus di tengah masyarakat lokal. Masyarakat lokal pun menyambut teman-teman yang datang kemudian dengan rangkulan erat yang hangat. Ini adalah contoh hal-hal positif di masa yang sulit.
Setelah ini, kita harus bersikap sesuai situasi dan kondisi. Terdapat teman-teman yang telah berangkat dan tinggal di sana. Apabila terdapat pihak-pihak tertentu yang berusaha merusak kedamaian dan merusak perencanaan Anda, Anda tetap harus mengerjakan tugas ini, insya Allah. Mereka datang dengan agenda untuk merusak tatanan ini. Merusak itu mudah. Namun, mereka pasti berada dalam golongan yang kalah di sisi Allah. Ya, demikianlah kita harus memahaminya. Dalam satu jangka waktu tertentu kita perlu melihatnya seperti ini.
Gangguan-gangguan tadi menyebabkan tetesan darah. Darah itu juga membasahi kalbuku, ia mengusir kantukku, dan memicu penyakit-penyakit baru bagiku. Namun, kita harus mengencangkan geraham dan bersabar. Kita perlu menyambut ujian-ujian ini dengan wirid yang biasa kita baca pagi dan sore hari:
رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) رَسُولاً
Dalam beberapa riwayat terdapat lafal: رَسُولاً نَبِيًّا
“Aku rida bahwa Allah adalah Rabb-ku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul“.
Dengan wirid ini kita tebas segala perasaan, pemikiran, takhayul, dan imajinasi negatif, insya Allah.
Di satu sisi kita menjalankan hidup sesuai ufuk rida dengan senantiasa berharap akan rida dan membuat Allah senang dengan pekerjaan kita, di sisi lain kita merencanakan beragam aksi sesuai kebutuhan, situasi, dan kondisi dunia tempat kita hidup saat ini, mudah-mudahan dengan demikian kita menjadi orang-orang yang berjalan lurus menuju Allah, insya Allah. Kita adalah pejalan kekariban (kedekatan dengan Allah).
Para sufi mempraktikkannya di majelis-majelis zikir: “Fana fis syaikh”, “ Fana fir rasul”, “Fana fillah”, Baqabillah-ma’allah”, “Sayir anillah”… Anda akan berangkat serta mengalami naik dan turun. Anda akan pergi, Anda akan kenyang, Anda akan puas; benar-benar akan marem, Anda akan meluap, luapan ini terjadi dengan izin Allah. Anda akan berkata: “Saya wajib menyampaikan kebaikan-kebaikan ini”. Pahamilah semangat menghidupkan orang lain seperti ketika Abdul Quddus menerangkan kondisi Rasulullah: “Demikian tingginya derajat yang dicapai dan kualitas yang dilihat! Jika aku yang meraihnya, sungguh aku tak akan pulang ke bumi. Namun, beliau memutuskan untuk pulang ke bumi!”. Waliullah lainnya berkata :”Inilah perbedaan level antara kenabian dan derajat-derajat lainnya, pahamilah ini baik-baik!”
Inilah semangat menghidupkan orang lain.. Selain itu adalah semangat untuk melanjutkan hidup. Itu pun tidak hina. Jika masuk surga, dirimu akan menjadi bidadari yang awet muda. Demikianlah penjelasan Allah dalam Al-Qur’an. Namun, tidak ada satu pun yang setara dengan semangat menghidupkan orang lain. Dengannya Anda akan merengkuh tangan dan mengangkat derajat orang lain dan seterusnya…
Perasaan ini akan terus datang dan pergi. Ketika perasaan terus menghantam kita bertubi-tubi, bersegeralah kita ambil resep solusinya sembari memanjatkan munajat: “Ya Rasulullah! Aku menghadapi masalah pelik. Kira-kira apa solusinya?” Barangkali beliau akan menjawab: “Apakah kamu tidak membaca sirahku..?!”
Ketika memulai kehidupan baru di negara tujuan, yang harus menjadi target selain kemampuan berintegrasi dengan masyarakat lokal, kita juga tak boleh longgar dalam menjalankan perintah agama.
Bahasan lainnya adalah puji syukur kita bisa berhijrah, bermigrasi. Ada yang di Kanada, California, Jerman, Inggris, Belanda, Amerika, bahkan Afrika! Yang perlu diperhatikan, di sana terdapat orang-orang yang tumbuh dengan matang setelah membaca dengan benar seluk beluk budaya lokal. Maka, apabila kita bergotong royong dalam prinsip:
مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ
“Orang yang bermusyawarah tidak akan merugi.”
Dengan prinsip ini kita akan menjadi orang beruntung. Berkat izin dan inayat ilahi kita akan berhasil mendapatkan untung, kemungkinan merugi akan dapat diturunkan semaksimal mungkin.
Kita perlu membaca legenda geografis dengan benar. Oleh karena itu, di dunia bagian mana pun kita berada, kita perlu untuk menentukan hal-hal yang akan kita katakan serta gestur apa yang digunakan ketika kontak langsung dengan orang-orang di sana sembari memperdalamnya dengan semangat representasi. Dengan kata lain, selain ekspresi kenabian – saya katakan “di samping ekspresi kenabian” – tempatkan “sikap” dan “representasi” dalam baris-baris pembahasan ini. Maksudnya, pada prinsipnya setiap sikap kita harus sama senti demi senti dengan apa yang kita sampaikan. Demikian cara kita berintegrasi dengan masyarakat lokal. Masyarakat tersebut pun akan melihat kita sebagai individu bahkan komunitas yang merupakan bagian dari entitas mereka..!
Selain itu, ketika berada di negeri yang asing akan terdapat sesuatu yang dominan dan berasal dari luar dunia kita di mana hal-hal tersebut bisa mempengaruhi kita. Ia dapat berupa uslub, gaya hidup, maupun sistem kepercayaan. Contoh lain adalah nilai-nilai kemanusiaan. Ia bisa berada di barisan terdepan… Namun, terdapat beberapa perintah agama. Kita diharuskan mampu berdiri teguh menentang gaya hidup bohemian, membuat semacam konservatori, di mana kita bisa hidup aman di dalamnya… Poin-poin ini sangat penting bagi kita dan bagi generasi penerus kita. Buku-buku yang dibaca pemuda-pemudi kita adalah buku-buku yang berasal dari latar belakang negeri itu. Kita perlu melakukan upaya untuk menjunjung nilai-nilai kita sendiri setinggi langit serta membuat para pemuda-pemudi mencintainya. Adakah orang yang melihat gaya hidup hampir utopis masyarakat Asr Saadah yang tak jatuh cinta padanya? Demikian baiknya nilai ini diselipkan dan disampaikan, sehingga anak-anak kita kemudian mampu membangun konservatori yang melindunginya dari asimilasi negatif, insya Allah.
Himmat adalah praktik yang dilaksanakan sejak masa Asr Saadah. Pada hari ini namanya, wilayah jangkauannya, dan bentuknya sedikit berubah menjadi “muawanah2”. Apapun nama dan sebutannya, membantu mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari hutang budi yang ingin kita bayar.
Rasulullah ketika memulai usaha ini mengawalinya dengan mengumpulkan himmat dari orang-orang. Ketika itu, mereka akan pergi ke Tabuk. Mereka memerlukan beragam perbendaharaan yang amat serius. Bagaimana ia dijalankan berarti ia diwujudkan sesuai dengan kebutuhan di masa itu. Maka Rasulullah pun mengumpulkan himmat.
Apa yang kumpulkan pada hari ini pun disebut “himmat”. Anda mengumpulkan “himmat” hampir di setiap kesempatan. Dari situ Anda memberi beasiswa, membangun asrama, membuka pusat bimbingan belajar, dan sebagainya.
Rasulullah kemudian membukanya dengan pidato yang paling berpengaruh. Demi sabdanya, gunung, bebatuan, pepohonan, bahkan hewan sekalipun akan memberi jawaban. Apabila Anda memperhatikan risalah Al-Ustaz Said Nursi yang membahas mukjizat Rasulullah, demi mendengar panggilannya segala sesuatu menjawab “Labbaik (Aku penuhi panggilanmu, Ya Rasulullah)!” dan berlari ke arahnya.
Terdapat hal-hal menarik dari peristiwa tersebut. Sayidina Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bertindak sesuai karakter mereka yang agung. Sayidina Abu Bakar menyerahkan semua hartanya. Sayidina Umar memberikan setengah hartanya. Sayidina Ali menyerahkan separuh donasinya secara sembunyi-sembunyi dan separuhnya lagi secara terang-terangan. Sayidina Usman seperti diketahui memberi 500 unta. Apa yang mereka lakukan telah menjadi legenda.
Namun, ada saja orang-orang yang tak memahaminya. Misalnya terdapat orang yang berbicara: “Jadi sekarang kita harus memberikan harta yang dikumpulkan dengan peluh keringat ini ke sakunya..?”. Lalu ada orang yang memahami pesan ini, ia kemudian berlari ke rumahnya. Ia keluar membawa semaksimal mungkin yang bisa dibawa dan berkata: “Ambil ini, Ya Rasulullah!” Demi melihatnya orang yang pertama kemudian berkata: “Ternyata yang diharapkan adalah pendekatan seperti itu.” Demikian kira-kira.
Dari situ ternyata kita tidak bisa paham begitu saja. Semoga Allah meridai teman-teman dan guru-guru yang telah menanamkan semangat berinfak dalam benak kita. Demikian berkembangnya semangat ini berkat izin dan inayat ilahi, saya ingin menyampaikan satu kisah dari banyak peristiwa yang saya saksikan, bahkan saya ingin menyebut nama tempatnya:
Dalam sebuah aula di Bozyaka. Sekali lagi al-fakir menyampaikan pesan ini tanpa sistematika sebagaimana saya membuat kepala Anda sakit saat ini. Kemudian rekan-rekan yang bertugas mengambil buku tulis dan pensil. Mereka menanyai satu per satu: “Kamu bisa kasih berapa? Kalau kamu berapa?” Orang-orang kemudian menyebut janji seakan ia dipetik dari kalbunya. Setelah berbicara saya mundur karena merasa sedikit malu. Saya merasa seperti meminta-minta, tetapi apa boleh buat. Kalau tidak demikian turbinnya tak berputar. Dibutuhkan kekuatan air terjun untuk bisa menggerakkannya. Saya mundur ke kamar. Kemudian seorang purnawirawan militer yang juga terlibat dalam usaha pengabdian ini datang tergopoh-gopoh sambil menyerahkan kunci. Matanya sembab dan berkata: “Ustaz, saya tak punya uang. Ini saya kasih kunci rumah yang baru saya beli dari uang pesangon saya.” ini adalah peristiwa yang tak mungkin saya lupakan…
Namun, betapa banyaknya peristiwa yang tak bisa kulupakan. Donasi di suatu tempat sayangnya berjumlah sedikit. Ini membuat saya gelisah. Saya pun berkata: “Kekurangannya dari saya. Saya janji akan berdonasi 100ribu lira!” Aku menyebutnya tanpa berpikir bagaimana bisa mendapatkannya. 1-2 hari kemudian seseorang yang kalian kenal, ipar-iparnya juga dermawan, mereka di dalam hizmet. Entah bagaimana saya datang sarapan di rumah mereka. Saya tak meminta apa-apa. Mereka pun jarang muncul. Lalu mereka berkata: “Ustaz, Anda menyampaikan janji donasi sebesar 100ribu lira. Jika diizinkan, biar saya yang membayar donasi itu.” Ya, di satu tempat Anda melangkah dengan berani. Allah-lah yang kemudian menjawabnya. Pada hakikatnya Anda malu melakukannya dan meringkuk seperti tongkat bengkok.
Sebagaimana terbiasa dengan himmat, demikian juga dengan muawanah. Namanya saja yang berubah, demikian juga tujuan penyalurannya. Dulu kita mengerjakannya di Turki. Kini, kita ke luar negeri. Terdapat banyak orang yang harus dirawat dan diperhatikan, orang-orang yang perlu dibantu, dari kalangan wanita dan anak-anak. Ada banyak orang yang syahid, meninggal dunia di tengah perjalanan. Mereka perlu dirawat dan diperhatikan.
Bagaimana kita melakukannya di luar, misal di Amerika, atau di Jerman? Barangkali di LSM dan yayasan di luar sana mereka mempunyai anggaran untuk membantu orang-orang ini. Bisa saja mereka yang menunaikan tugas ini. Namun, kita harus yakin dan percaya bahwa kita juga bisa.
Jika kemarin kita melakukannya melalui kata, hari ini kita membungkusnya dengan sikap dan representasi. Kita bergerak bersama layaknya paduan suara, berkat izin dan inayat ilahi. Semua orang akan mendengar dan menyambut undangan ini, insya Allah.
- Selengkapnya baca: https://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/melihat-allah/
- Konsep al-Muawanah dalam al-Qur’an diartikan sebagai bentuk tolong menolong atau bantu membantu untuk meringankan beban serta kesukaran. Dalam Al-Qur’an, term al-Muawanah terkadang dimaksudkan sebagai sarana untuk memelihara sifat kemanusiaan antar sesama






