WhatsApp Image 2023-06-15 at 19.28.00

A Life of Hizmet

mengembangkandiri.com pexels-kampus-production-7414102

BUKANKAH MEMBACA BUKU SESUATU YANG KHUSUS BAGI ORANG YANG BISA MELIHAT?

Gemar membaca merupakan hal yang sangat penting yang bisa membawa manusia kepada hakikat, dan hati lebih menginginkannya dibandingkan dengan mata. Kejadian di bawah ini akan menggambarkan sebuah bukti yang bagus.

“Aku keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Dengan langkah sedikit berlari aku menuju ke stasiun metro sambil menyiapkan rancangan pelarajan yang akan aku ajarkan ke siswa-siswaku nanti, di samping itu aku juga berusaha untuk tetap berjalan di bawah atap trotoar jalan agar tidak basah dari hujan yang sedang gerimis. Aku turun ke stasiun menggunakan eskalator. Suara “tak.. tak.. tak..” yang keluar dari tongkat salah seorang yang berjalan searah denganku menghilangkan kepanikan dan semua pikiran yang ada di kepalaku. Jelas bahwa dia juga sedang buru-buru. Meskipun ia memiliki tas besar di punggung dan tongkat di tangannya, ia melaju hampir sepadan dengan kecepatanku. Ketika ku melihatnya dengan sedikit perhatian, barulah ku ketahui bahwa dia seorang wanita dan disaat yang sama juga ia merupakan seseorang yang ‘tunanetra’.

Aku bergumam dengan sendiriku “kira-kira kenapa dia buru-buru?”

Barangkali juga ia belum pernah melihat dunya ini. Walaupun berada dalam keadaan memiliki kekurangan melaju dengan sendirinya namun sikap dan cara berjalannya meninggalkan kesan ke setiap orang yang melihatnya bahwa ia adalah seorang yang percaya diri. Seketika aku lupa segalanya. Dia mulai bergerak secara perlahan seolah-olah berada dalam kamera slowmotion. Dia mengontrol kanan dan kiri dengan tongkatnya untuk mengetahui penghalang yang ada di depannya, agar bisa membuka jalan untuknya dan mungkin juga itu merupakan sebuah pertunjukan dari tekad hidup.

Aku merasakan bahwa kami akan mendekati tangga. “Apa ku tolong saja ketika turun dari tangga?”pikiranku.

Diapun kemudian mulai turun dari tangga dengan sendirinya. Seolah-olah dunia ini datar dan tidak ada halangan yang menghadang di depannya.

Apa ada sesuatu di ujung tongkat itu yang mengarahkannya atau wanita ini sedang bercanda?

Ketika aku sedang mengumpulkan semua pikiran yang ada dikepalaku, aku baru menyadari bahwa ia telah tiba di stasiun kereta api.

Rasa penasaran membawaku ke wanita ini dan aku menaiki gerbong yang sama dengannya. Setelah menempati dan duduk di kursinya, dia melipat tongkatnya dan memasukkannya ke bagian depan tasnya secara cepat. Ia membuka bagian tasnya yang lain. Aku mengira apakah ia akan membuka tasnya untuk mengambil walkman atau sejenis makanan dan minuman, aku merasa kasihan melihatnya. Tidak ada yang tau, mungkin ia sangat ingin melihat dunia ini; pepohonan, rumah, kendaraan, manusia dan mata. Sangat banyak hal yang bisa dilihat.

Dan saat itu juga aku merasa keistimewaan diriku. Mata adalah sebuah jendela yang terbuka untuk dunia dan aku masih belum mengetahui betapa berharganya sebuah mata. Yang dikeluarkan dari dalam tas wanita ini adalah sebuah buku tebal yang seketika mengganggu penglihatan dan menggores pikiran-pikiranku ini. Seseorang yang tidak bisa melihat akan membaca buku, tiba-tiba ia meraba-raba bukunya dengan ujung jari dan berhenti di suatu tempat. Kemungkinan ia telah menemukan halaman yang ia cari. Kemudian jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kanannya mulai bergerilya di atas tulisan bercetak timbul tersebut.

Ia sedang membaca, tapi ia tidak bisa melihat. Aku melamun beberapa detik.

Bukankah membaca buku sesuatu yang khas untuk orang-orang yang bisa melihat?

Aku mengerti. Ia sudah tidak membaca dengan matanya lagi, namun dengan hati, perasaan dan dengan jiwanya. Dan akupun malu pada diriku sendiri. Aku teringat sebuah buku yang selalu ku bawa selama berbulan-bulan dan baru ku baca beberapa lembarnya saja dan orang yang tidak pernah membaca buku selama bertahun-tahun. Andaikan saja mereka juga menyaksikan kejadian ini yang membuat manusia berfikir dan malu terhadapnya.

Di dunia ini ada berjuta-juta manusia. Kenapa aku? Aku lagi-lagi tertegun dengan pikiranku yang tiba-tiba macet. Ia telah menyelesaikan satu halaman dan berpindah ke halaman selanjutnya. Jari-jarinya yang bergerilya dengan lihainya di atas tulisan bercetak timbul itu mengisyaratkan bahwa ia adalah orang yang ahli dalam hal ini. Yang artinya bahwa ia adalah pembaca yang handal.

Tapi apa yang bisa ia baca?

Karena tidak mungkin ribuan buku, majalah dan koran diterbitkan setiap hari dan setiap minggu hanya untuk mereka yang tidak bisa melihat.

Dari peringatan masinis aku menyadari bahwa aku telah tiba di stasiun yang aku tuju. Hanya empat menit berlalu dan membaca buku merupakan sesuatu yang penting walaupun di waktu yang sesingkat ini. wanita yang memberikan pelajaran padaku itu memasukkan bukunya kedalam tas, ia bersiap-siap untuk turun. Dan sesaat kemudian kereta apipun berhenti. Aku menunggu hingga ia turun. Ia melaju dengan suara tongkatnya diantara orang-orang yang turun. Aku melihat dari belakang beberapa detik. Suara tongkat yang berbunyi “tak” tersebut menggema di dalam otakku sambil berkata baca.. baca.. baca.. dan bersyukurlah.

mengembangkandiri.com pexels-rodrigo-arrosquipa-14579361

BIARLAH ADABMU BERBICARA DAN LIDAHMU DIAM

Dalam Islam tindakan dan perilaku adalah prinsip-prinsip penting. Dua elemen yang paling mempengaruhi orang adalah perilaku dan sikap. Dalam menyampaikan kebenaran dan kesalehan kepada orang-orang, alat utama bagi umat Islam bukan hanya kata-kata, melainkan tindakan atau perilaku yang mengarahkan pada jalan keimanan. Di balik tuntunan orang yang menjalankan iman, ada hal yang lebih efektif dari sekedar kata-kata dan ini adalah representasi Islam melalui kehidupan spiritualnya. Ketika para murid Nabi Isa Alaihissalam dan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai bangsa dan menjelaskan kebenaran kepada mereka, mereka tidak tahu bahasa mereka dan mereka adalah orang asing bagi kebiasaan mereka. Namun, mereka memasuki hati orang-orang ini dengan tata krama mereka dan perilaku yang baik.

Ini berarti bahwa perilaku seorang muslim harus didahulukan sebelum ucapannya. Perbuatannya harus meneguhkan ucapannya, agar tidak dicap sebagai pendusta di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak kehilangan reputasinya di mata manusia. Dalam agama kita, terlihat sebagai orang yang benar bukanlah hal yang terpenting, tetapi menjadi orang yang benar adalah hal yang paling penting. Dalam Al-Qur’an-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Hud 11:112). Ayat diatas tidak mengatakan: “Jujurlah dalam kata-katamu dan cobalah untuk meyakinkan orang lain dengan kebenaranmu.” Dikatakan: “Jadi tetaplah di jalan yang benar seperti yang telah diperintahkan” dengan tindakan dan perilaku anda.

Memang, dalam agama kita, memaparkan itu tidak penting, “keberadaan” itu penting; berdakwah dan mengadvokasi tidak penting tetapi menghidupkan dan role model itu penting. Untuk alasan ini, menjadi efektif dalam berceramah bergantung pada representasi. Jadi kata-kata hanya dapat berdampak jika tercermin pada perilaku dan juga jika diucapkan dengan niat untuk mendapatkan keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

mengembangkandiri.com

ORANG-ORANG YANG BERIMAN SEPERTI ORGAN-ORGAN DARI TUBUH YANG SAMA

Suatu hari organ tubuh mengadakan pertemuan di antara mereka sendiri. Mereka semua mengeluh tentang pekerjaan untuk perut. Perut tampaknya tidak melakukan banyak hal dan tanpa istirahat ia tidak dapat melakukan apa-apa. Semua organ tampak sangat kesal. Di akhir pertemuan, semua organ memutuskan bahwa mereka tidak akan lagi memenuhi semua permintaan perut. Mereka tidak akan menghabiskan semua upaya mereka untuk perut.

Mata mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat lagi, tangan menekankan bahwa mereka tidak akan menggenggam, mulut menyatakan bahwa ia tidak akan menyantap lagi, gigi memutuskan untuk tidak mengunyah dan kaki mengklaim bahwa mereka tidak akan lagi berjalan untuk perut.

Mereka melakukan apa yang mereka klaim dan meninggalkan perut tanpa makanan. Namun, tak lama kemudian, mata mulai kabur, tangan mulai bergetar, mulut mengering, gigi mulai rusak dan kaki bahkan tidak bertenaga untuk melangkah. Jelas bahwa meski perut tidak bisa bertahan tanpa mereka, untuk bertahan hidup mereka juga membutuhkan perut.

Mereka menyadari bahwa semua organ tubuh saling mendukung satu sama lain dan tidak mungkin mempertahankan kehidupan tanpa keharmonisan dan kesatuan tersebut. Ini berarti bahwa setiap orang bekerja untuk satu sama lain dan ketiadaan satu organ akan dirasakan oleh yang lainnya.

Dalam sabda Nabi kita, keadaan orang beriman dalam hubungannya satu sama lain sama dengan hubungan antara organ dan sel-sel tubuh. Seperti halnya ketika ada rasa sakit di satu bagian tubuh, seluruh tubuh merasakannya dan dengan demikian berusaha untuk menyingkirkannya, semua muslim juga harus merasakan sakit yang dirasakan saudaranya dan karenanya mereka harus bertindak dengan tanggung jawab dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah.  Keburukan yang terjadi kepada seorang muslim mendorong semua muslim untuk saling membantu dalam segala situasi.